Anda di halaman 1dari 6

LINGKUNGAN SEBAGAI PEMEROLEH BAHASA PADA ANAK

Oleh: Ferdian Achsani


Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta
E-mail: dwikurniawan219@gmail.com

PENDAHULUAN

Bahasa adalah system lambang berupa bunyi, bersifat arbiter, digunakan oleh suatu
masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Sebagai sebuah
system, bahasa terbentuk oleh suatu aturan, kaidah atau pola-pola tertentu, baik dalam bidang
tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat. fungsi bahasa yang utama ialah sebagai alat
komunikasi atau bekerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk memperoleh suatu bahasa, manusia mempelajarinya melalui proses pemerolehan


bahasa. Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak
seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya (Ahwy,
2017). ( Strazny dalam Tussolekha, 2015) memaparkan bahwa pemerolehan bahasa adalah
kajian ilmu yang mempelajari perkembangan bahasa seseorang. Umumnya berkenaan dengan
cara manusia mendapatkan bahasa ibu mereka, bahasa kedua atau bahasa yang lainnya.
Pemerolehan bahasa anak sejalan dengan perkembangan kematangan artikulator dan proses
berpikir .

Ada dua proses yang terjadi ketika seseorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa
pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua
proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung
secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses perfomansi
yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses
menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian
mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan
melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri.
setiap diri anak manusia telah dibekali oleh sebuah kemampuan berbahasa dalam dirinya
yang tersimpan sebagai bawaan semenjak lahir. Dalam pemerolehan bahasa pertama biasanya
seorang anak akan memperolehnya pada masa perkembangan pertama (0-3 tahun). Seorang
kanak-kanak biasanya dapat berbicara mulai umur 11 hingga 14 bulan. Biasanya anak yang baru
dapat berbicara hanya mampu mengucapkan satu kata yang sering di dengar oleh anak. Misalnya
kata “maem”, “bapak”, “ibu” sesuai dengan bahasa yang di dengar sehari-hari. Sesuai yang di
jelaskan sebelumnya bahwa otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa
pertamanya adalah bahasa ibu, maka peran orang tua dan lingkungan dalam pemerolehan bahasa
pada kanak-kanak sangat besar.

Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama
yang sering kali disebut bahasa ibu (B1). Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai
manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya,
seperti keluarga dan masyarakat lingkungan (Ahwy, 2017).

Seorang bayi hanya akan merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari
lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibunya yang sering didengar oleh anak. Menurut
pandangan teori Behavioristik bahwa bahasa akan dapat diperoleh dan dikuasai karena faktor
kebiasaan. Seorang orang tua yang sering mengajak anak untuk berkomunikasi, maka akan
membuat anak terbiasa untuk berkomunikasi dan memperoleh kosa kata bahasa.

Dalam pemerolehan bahasa, baik bahasa pertama maupun bahasa kedua banyak teori
yang mendasari bagaimana proses pemrosesan itu terjadi. Teori yang paling umum dan mendasar
adalah teori behaviorisme dan teori kognitivisme. Konsep dasar teori behaviorisme dilandasi
anggapan bahwa seseorang setelah lahir tidak memiliki apa-apa, sehingga dalam pemerolehan
bahasa lingkungan sangat berperan penting. Dengan kata lain, lingkunganlah yang banyak
memberi sumbangan kepada seseorang sehingga dapat memperoleh bahasa. Lain halnya dengan
teori nativisme, bahwa seseorang sejak lahir sudah memiliki suatu alat pemerolehan bahasa yang
disebut Language Acquistition Device (LAD). Melalui alat ini seseorang dapat memperoleh
bahasa. Namun demikian, alat pemerolehan bahasa tersebut dapat berfungsi apabila ada
lingkungan yang mendukungnya (Purba, 2013).
Lingkungan merupakan suatu hal yang penting bagi seseorang dalam proses pemerolehan
bahasa. Lingkungan bahasa itu adalah segala hal yang dapat didengar dan dilihat yang turut
mempengaruhi proses komunikasi berbahasa. Untuk lebih jelas, yang termasuk lingkungan
bahasa adalah seperti situasi di kelas saat proses pembelajaran berlangsung, di pasar, pusat
perbelanjaan, restoran, percakapan sekelompok orang, saat menonton televisi, ketika membaca
media masa atau berbagai bahan bacaan lain serta situasi-situasi lingkungan lainnya (Purba,
2013)

Dari uraian diatas penulis ingin mengkaji peran lingkungan dalam pembentukan bahasa
terutama yang terjadi di desa banaran-bugel, tegalsari, weru, sukoharjo. Alasan pemilihan tempat
dikarenakan bahasa yang digunakan anak-anak kceil yang berada di desa tersebut sudah
mengalami perkembangan dengan bahasa anak kecil zaman dahulu. Hal ini disebabkan karena
factor lingkungan yang mempengaruhi bahasa pada anak-anak tersebut.

Penelitian yang sama pernah di lakukan oleh Rohmah Tussolekha. dalam penelitiannya
yang berjudul Mekanisme Pemerolehan Bahasa Pada Anak Usia Satu Dan Lima Tahun, sampel
diambil dari dua anak yang berada di kecamatan pringsewu dan gading rejo. Hasil penelitian
yang dilakukan Rohmah Tussolekha menyimpulkan bahwa Anak akan menirukan kata-kata yang
diajarkan oleh ibunya, meskipun kata-kata yang diucapkan sang anak belum jelas dan tepat. Hal
ini disebabkan beberapa faktor, seperti usia dan pelafalan yang belum sempurna. Sementara itu,
anak usia lima tahun sudah memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Kalimat-kalimat yang
disampaikannya sudah bisa dimengerti oleh orang lain.

Persamaan pada penelitian tersebut adalah sama-sama mengkaji pemerolehan bahasa


pada anak. Perbedaannya yaitu terletak pada objek kajiannya. Rohmah Tussolekha mengkaji
bahasa pada anak usia satu tahun dan lima tahun. Sedangkan objek kajian penulis adalah peran
lingkungan dalam pembentukan bahasa pada anak usia dini.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, Moleong (2007:
11) menyebutkan bahwa penelitian deskriptif kualitatif adalah suatu penelitian dengan data yang
dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Metode deskriptif ini
digunakan untuk menggambarkan hasil dari pengumpulan data yang telah dilakukan oleh
peneliti, melalui wawancara (orang tua, anak) dan observasi secara langsung tentang kemampuan
bahasa anak. Sumber data dalam penelitian ini adalah 2 orang anak bernama Radit umur 2.5
tahun dan Arsil berumur 3 tahun. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu berupa
teknik observasi dan wawancara. Adapun langkahnya yaitu : melihat secara langsung bagaimana
proses perkembangan bahasa anak, melakukan wawancara terhadap orang tua dan melakuakn
interaksi terhadap anak (objek penelitian). Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian
ini adalah ketekunan. Adapun yang dimaksud dengan ketekunan yaitu melakukan pengamatan
secara lebih cermat dan berkesinambungan (Sugiyono , 2010: 370-371). Metode analisis data
dalam penelitian ini adalah content analisis.

PEMBAHASAN

Seperti yang telah dipaparkan beberapa teori diatas, pada baba ini peneliti akan
melakukan observasi terhadap anak-anak. Pada tahap ini peneliti melakukan wawancara terhadap
orang tua, sekaligus emngajak anak untuk berinteraksi.

Data pertama anak bernama Radit. diusia nya yang baru menginjak umur dua tahun ia
sudah mampu menyusun kata-kata meskipun hanya sederhana dan pengucapan vocal nya masih
kurang sempurna. Kedua orang tua adit mengajarkan bahasa pertama atau bahasa ibu kkepada
Radit yaitu bahasa jawa. Dalam kesehariannya, Radit selalu menggunakan bahasa jawa dalam
berkomunikasi. Misalnya ketika dia ditaya “arep nang di le?” “arep tumbas alem-alem ning gona
atun (arep tumbas arem-arem ning gone natun/ mau beli arem-arem ke tempat natun). Dalam
pengucapan bahsa Radit memang belum begitu fasih.

Selain itu Radit juga memperoleh bahasa lain selain bahasa ibu yaitu kata
“assalamualaikum wr. Wb.” Berbeda dengan anak-anak yang lain di usia nya masih dua tahun
dia sudah bisa mengucapkan kata tersebut. Data ini ditemukan ketika Radit sedang bermain dan
mengucapkan kalimat “assalamualaikum wr. Wb.”. namun ketika peneliti mencoba untuk
meminta Radit dan sudah memancingnya untuk mengucapkan kata tersebut, ia malah malu dan
pergi.

Setelah di lihat dan dilakukan observasi terhadap orang tua, ternyata kedua orang tua nya
tidak pernah mengajarkan bahsa tersebut terhadap anak. Jika dilihat dari lingkungan keluarga,
memang kedua orang tuanya tidak termasuk keluarga religious walaupun rumahnya dekat
dengan masjid. Namun setelah di teliti proses pemerolehan kalimat “assalamualaikum wr. Wb.”
oleh anak ini berasal dari kedua orang tua yang sering memperlihatkan tayangan upin ipin
kepadanya. Kedua orang tua Radit sering memutarkan video upin ipin baik di tv maupun di vcd.
Pemilihan upin ipin dikarenakan kanak-kanak lebih suka menonton serial kartun sebagai hiburan
untuk anak-anak. Selain itu, masyarakat desa banaran-bugel, setiap ada pengumuman selalu
diumumkan dengan pengeras suara di masjid. Pada pembuka pengumuman, sering mengucapkan
kalimat assalamualaikum wr. Wb.”. selain itu anak-anak TPA setiap sore pun juga sering
mengumumkan pengajian lewat pengeras suara di masjid. Pada awal pengumuman pun juga
sering mengucapkan kalimat assalamualaikum wr. Wb.”.

melalui 3 hal tersebut, Radit pun dapat menyerap kalimat tersebut sehingga ia mampu
menyimpan kalimat tersebut dan mampu mengucapkannya. Hal ini sejalan dengan Teori
kognitif yang memandang pemerolehan bahasa sebagai hasil kerja mental dan berdasarkan
kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur bahasa melalui lingkungan sekitarnya.
Ligkungan adit yang sering menontonkan serial upin ipin membuat nya dapat mencerna kalimat-
kalimat dalam serial tersebut. Dengan begitu teori bahwa Lingkungan berperan besar dalam
pemerolehan bahasa kanak memang benar terbukti. Lingkunganlah yang membentuk
kemampuan berbahasa lewat proses perangsang-perangsang yang terjadi antara manusia dengan
lingkungan Commented [a1]: Kurang daftar pustaka

objek kajian kedua yaitu seorang anak kecil bernama Arsil. Usianya sudah menginjak 3
tahun. Namun pemerolehan bahasa yang di tangkap oleh anak ini sudah luar biasa. Sama halnya
dengan Radit, Dalam kesehariannya Arsil menggunakan bahasa jawa. Namun ketika ia
memanggil bapaknya, ia memanggilnya dengan sebutan ayah. Panggilan ini didapatkan dari
kebiasaanya menonton sinetron tv. Dalam berkomunikasi Arsil sudah baik dalam berbahasa.
Namun ketika ditanya sesuatu, ia masih susah dalam menjawab dan menyusun kalimat.

hasil yang menarik ditemukan dalam penelitian menunjukkan bahwa Arsil sering
menyanyi dengan bahasa jawa. Bahkan lagu yang dinyanyikan bukan lagu anak-anak melainkan
lagu-lagu dangdut jaman sekarang. Misalnya lagu Sayang, Bojo Galak, Kanggo Riko, Dan Jaran
Goyang. Pemerolehan bahasa lagu pada Arsil di latar belakangi oleh ayahnya yang sering
memutar lagu-lagu dangdut dengan pengeras suara. Secara tanpa disadari Arsil pun menirukan
apa yang ia dengar meskipun kadang yang ia nyanyikan masih belum jelas.

Selain menyanyikan lagu-lagu dangdut, Arsil juga sering mengucapkan kata-kata kotor
yang tidak sepatutnya di ucapkannya. Pengucapan kata-kata kotor ini dikarenakan factor
lingkungan yang notabennya bergaul dengan anak-anak remaja yang sering mengucapkan kata-
kata kotor. Kedua orangtua Arsil sering memarahi ketika anaknya mengucapkan kata-kata kotor.
Namun kembali lagi bahwa proses berfikir pada anak kecil maish belum matang. Jadi mereka
masih sulit untuk dinasihati.

KESIMPULAN

Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa dapat diperoleh oleh anak melalui
factor lingkungan. Lingkungan membentuk perilaku bahasa pada anak-anak. Untuk itu orang tua
harus pandai dalam memilih lingkungan kepada anak. Lingkungan yang baik akan membawa
bahasa dan kepribadian yang baik pula terhadap anak. Bahkan sebaliknya. Pemilihan
lingkungan yang salah juga akan membentuk perilaku dan bahasa yang salah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahwy, O. (2017). Tarbiyatuna. Tarbiyatuna, 4(1), 236.

Miasari, N., AnitaWidjajanti, & Mujiman Rus Andianto. (2015). Pemerolehan Bahasa Indonesia
Anak Usia Balita ( 4 — 5 Tahun ): Analisis Fonem dan Silabel Analysis of Phonemes and
Syllable ). EDUKASI UNEJ, 3(2), 39–43.

Purba, A. (2013). Peranan Lingkungan Bahasa Dalam Pemerolehan Bahasa Kedua. Pena, 3(1),
13–25.

Tussolekha, R. (2015). Mekanisme Pemerolehan Bahasa. Pesona, 1(2), 59–70.