Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH DASAR TELEKOMUNIKASI

(BASE TRANSCEIVER STATION)

DISUSUN OLEH :

1. ANGGI SUKMADI 5160711138


2. FANDU SEFRI PRATAMA 5160711105
3. I GUSTI NGURAH AGUNG 5160711127

DOSEN PENGAMPU :

1. JOKO SUTOPO, S.T., M.T.


2. TAUFIK QORIADI, S.T., M.SC.

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN ELEKTRO
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca dalam memahami tentang Base Transceiver
Station (BTS).

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 26 Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................................. i

Daftar Isi .............................................................................................................................. ii

Bab 1 Pendahuluan ..........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...................................................................................................1


1.2 Perumusan Masalah ........................................................................................2
1.3 Tujuan.....................................................................................................................2

Bab II Pembahasan .........................................................................................................3

2.1 Base Transceiver station (BTS).........................................................3


2.1.1 Pengertian BTS.....................................................................3
2.1.2 Sejarah BTS ...........................................................................4
2.1.3 Perkembangan BTS............................................................5
2.1.4 Jenis-jenis BTS.....................................................................5
2.1.5 Topologi....................................................................................9
2.1.6 Komponen ............................................................................. 10
BAB III Penutup ............................................................................................................. 14

3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 14
3.2 Saran .............................................................................................................. 14

Dafta Pustaka ................................................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan akan komunikasi dewasa ini sangan penting, baik


dalam komunikasi pribadi maupun secara bersama-sama (group).
Dengan begitu maka membuthkan koneksi yang memadai, lalu
bagaimana komunikasi/telekomunikasi itu dapat pekerja dengan
baik.
Kapasitas menara yang tersedia tentunya akan diatur agar
penggunaannya menjadi lebih efisien, tetapi masalah timbul karena
tidak teraturnya menara yang dibangun menjadikan tidak indahnya
pemandangan dan mengurangi nilai estetika yang ada di kota
Surabaya.
Pada awalnya sistem telepon bergerak menggunakan sebuah
stasiun pemancar di tempat yang tinggi dan berada di tengah-tengah
wilayah pelayanan. Masalah pertama yang dihadapi sistem ini
adalah keperluan akan menara antena yang tinggi. Sistem ini juga
memiliki kapasitas pelayanan yang relatif kecil karena terbatasnya
kanal frekuensi yang tersedia. Masalah lain adalah sistem ini harus
mempunyai daya pancar antena yang besar untuk menjangkau
wilayah yang cukup luas. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi
dengan membagi-bagi wilayah cakupan menjadi beberapa wilayah
yang kecil (sel).
Pada umumnya layanan sistem komunikasi wireless tersusun
dari bagian-bagian area layanan kecil yang dikenal dengan sel.
Masing-masing sel memiliki alikasi jalur frekuensi operasi tertentu
sebagai media penyampai informasi antar pemakai. Permasalahan

1
akan muncul ketika bagaimana merencanakan sel-sel agar menjadi
efektif terhadap wilayah cakupan yang direncanakan.

Dengan penerapan konsep selular ini, diharapkan kapasitas


pelayanan dan sistem menjadi bertambah. Hal ini dimungkinkan
karena adanya pengulangan kembali kanal frekuensi yang sama
secara berulang, sehingga BTS (Base Transceiver Station) yang
terpisah pada jarak yang memenuhi carrier to interference ratio (C/I)
tertentu dapat menggunakan kanal frekwensi yang sama. Disamping
itu, karena wilayah cakupan suatu sel relatif kecil, sehingga tidak
diperlukan daya pancar yang tidak harus besar

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apa pengertian Base Transceiver Station?


2. Bagaimana sejarah dan perkembangan Base Transceiver
Station?
3. Apa saja tipe-tipe Base Transceiver Station?
4. Komponen dalam Base Transceiver Station?

1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai adalah terwujudnya sebuah


memahami deskripsi dengan jelas mengenai Base Transceiver
station (BTS).

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Base Transceiver Station (BTS)


2.1.1 Pengertian Base Transceiver station (BTS)

Base Transceiver station (BTS), Terminologi ini termasuk


baru dan mulai populer di era kenaikan seluler saat ini. BTS
berfungsi sebagai perantara perangkat komunikasi pengguna dengan
jaringan menuju jaringan lain. Satu cakupan pancaran BTS dapat
disebut sel. Komunikasi seluler adalah komunikasi modern yang
mendukung mobilitas yang tinggi. Dari beberapa BTS kemudian
dikontrol oleh satu Base Station Controller (BSC) yang
terhubungkan dengan koneksi microwave ataupun serat optik.
Base Transceiver Station atau disingkat BTS adalah sebuah
infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi
nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator. Piranti
komunikasi penerima sinyal BTS bisa telepon, telepon seluler,
jaringan nirkabel sementara operator jaringan yaitu Global System
for Mobile (GSM) , Code Division Multiple Access (CDMA), atau
platform Time Division Multiple Access (TDMA). BTS
mengirimkan dan menerima sinyal radio ke perangkat mobile dan
mengkonversi sinyal-sinyal tersebut menjadi sinyal digital untuk
selanjutnya dikirim ke terminal lainnya untuk proses sirkulasi
pesan atau data. Nama lain dari BTS adalah Base Station (BS),
Radio Base Station (RBS), atau node B (eNB).Hingga saat ini
masyarakat belum bisa membedakan antara perangkat BTS dan
menara BTS padahal menara BTS bukanlah BTS itu sendiri.

3
Meskipun istilah BTS dapat diterapkan ke salah satu
standar komunikasi nirkabel, biasanya dan umumnya terkait
dengan teknologi komunikasi mobile seperti Global System for
Mobile (GSM) yang beroperasi di frekuensi 900 MHz dan
CDMA (Code Division Multiple Access) yang beroparasi di
frekuensi 800 MHz / 1900 MHz. Dalam hal ini, BTS merupakan
bagian dari base station subsystem (BSS) perkembangan untuk
sistem manajemen. Ini juga mungkin memiliki peralatan untuk
mengenkripsi dan mendekripsi komunikasi, spektrum
penyaringan alat (band pass filter), dll. Antena juga dapat
dipertimbangkan sebagai komponen dari BTS dalam arti umum
sebagai mereka memfasilitasi fungsi BTS. (Hidayatullah, 2008)

2.1.2 Sejarah Base Transceiver Station

Base Transceiver Station adalah hasil karya dua ilmuwan


jenius asal Korea Selatan bernama Seong Ik Park dan Hae Sik
Kim. Dua ilmuwan ini dengan bantuan Hyundai Electronics
Industries akhirnya berhasil mendapatkan hak paten terkait Base
Transceiver Station pada akhir 1999.
Base Transceiver Station sendiri terdiri dari dua bagian
utama, yaitu sebuah sebuah menara yang dilengkapi dengan
teknologi pemancar penunjang sambungan wireless untuk
menghubungkan beberapa user equipment dengan sebuah
jaringan. User equipment ini bisa berupa perangkat mobile
seperti ponsel, telepon WLL, komputer, dan semua perangkat
yang tersambung dengan jaringan tanpa kabel.

4
2.1.3 Perkembangan Base Transceiver Station

Seiring perkembangannya sendiri, kemudian turut


diciptakan pula Open Base Transceiver Station yang mampu
memangkas berbagai kekurangan dari Base Transceiver Station
konvensional selama ini. Lewat Open Base Transceiver Station,
nantinya diharapkan jaringan telekomunikasi nirkabel akan bisa
diakses di mana saja tanpa harus terjangkau dengan menara Base
Transceiver Station. Teknologi Open Base Transceiver Station
ini sendiri memanfaatkan sebuah software yang menggunakan
bahasa pemrograman C++ yang bisa dipasang dalam sebuah
ponsel. Nantinya, ponsel ini yang akan menggantikan fungsi
menara Base Transceiver Station.

2.1.4 Jenis Menara BTS

Menara terbuat dari rangkaian besi atau pipa baik segi


empat atau segi tiga, atau hanya berupa pipa panjang (tongkat),
yang bertujuan untuk menempatkan antena dan radio pemancar
maupun penerima gelombang telekomunikasi dan informasi.
Menara BTS sebagai sarana komunikasi dan informatika,
berbeda dengan menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
(SUTET) listrik PLN dalam hal konstruksi, maupun resiko yang
ditanggung penduduk di bawahnya. Menara BTS komunikasi dan
informatika memiliki derajat keamanan tinggi terhadap manusia
dan mahluk hidup di bawahnya, karena memiliki radiasi yang
sangat kecil sehingga sangat aman bagi masyarakat di bawah
maupun disekitarnya. (Hidayatullah, 2008)

5
Menara juga dibedakan berdasarkan jenis lokasinya, ada
dua jenis yaitu:
1) Rooftop : menara yang berdiri di atas sebuah gedung,

Gambar 2.1. Menara pada rooftop gedung.

(2) greenfield : Tower yang berdiri langsung di atas tanah.

Gambar 2.2. Menara di atas tanah

6
Diklasifikasikan berdasarkan bentuk, menara dapat dibagi
menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Menara dengan 4 kaki (Rectangular)
Menara 4 kaki sangat jarang dijumpai roboh,
karena memiliki kekuatan tiang pancang serta sudah
dipertimbangkan konstruksinya. Menara ini mampu
menampung banyak antena dan radio. Jenis menara ini
banyak dipakai oleh perusahaan - perusahaan bisnis
komunikasi dan informatika yang terkenal seperti
(Indosat, Telkom, Xl, dll). (Hidayatullah, 2008)

Gambar 2.3. Menara 4 kaki. (www.tower-bersama.com)

2. Menara dengan 3 kaki (Triangle)


Menara 3 kaki dibagi dua macam, pertama
menara 3 kaki diameter besi pipa 9 cm keatas, atau yang
lebih dikenal dengan nama triangle, menara ini juga
mampu menampung banyak antena dan radio.
Kedua, menara 3 kaki diameter 2 cm ke atas.
Beberapa kejadian robohnya menara jenis ini karena
memakai besi dengan diameter dibawah 2 cm. Ketinggian
maksimal menara jenis ini yang direkomendasi adalah 60
meter. Ketinggian rata-rata adalah 40 meter.
(Hidayatullah, 2008)

7
Gambar 2.4. Menara 3 kaki. (www.tower-bersama.com)

3. Menara dengan 1 kaki (Pole)

Menara 1 kaki dibagi dua macam, pertama


menara yang terbuat dari pipa atau plat baja tanpa
spanner, diameter antara 40 cm s/d 50 cm, tinggi
mencapai 42 meter, yang dikenal dengan nama monopole.
Menara kedua lebih cenderung untuk dipakai secara
personal. Tinggi menara pipa ini sangat disarankan tidak
melebihi 20 meter (lebih dari itu akan melengkung).
Teknis penguatannya dengan spanner. Kekuatan pipa
sangat bertumpu pada spanner. Menara ini bisa dibangun
pada areal yang dekat dengan pusat transmisi / Network
Operation Systems (NOC) (maksimal 2 km), dan tidak
memiliki angin kencang, serta benar - benar
diproyeksikan dalam rangka emergensi biaya.

8
Gambar 2.5. Menara berbentuk pipa. (www.tower-
bersama.com)

2.1.5 Topologi BTS

BTS & handphone sama-sama disebut transceiver karena


sifatnya yang sama-sama bisa mengirim informasi & menerima
informasi. Pada saat BTS mengirim informasi kepada
handphone, saat itu pula handphone juga bisa mengirim
informasi kepada BTS secara bersama-sama yang dapat disebut
Full Duplex. Dalam topologinya BTS berfungsi untuk
menyediakan jaringan berupa sinyal radio gelombang
elektromagnetik untuk penggunanya dalam hal ini adalah telepon
genggam, modem, fax dll. Frekuensinya mengikuti alokasi yang
telah diberikan pemerintah kepada masing-masing operator, ada
yang di band 450Mhz, 800Mhz, 900Mhz, 1800 Mhz maupun
frekuensi diatas itu. Komunikasi dari arah

BTS ke pengguna disebut downlink, sedangkan jalur


frekuensi yang digunakan mengirim informasi dari pengguna
ke BTS disebut uplink. (William, 2007)

9
Gambar 2.6. Alur komunikasi selular secara sederhana.

2.1.6 Perlengkapan dan Komponen pada Menara

Pada sebuah menara BTS terdapat komponen - komponen


dan perlengkapan lainya yang harus ada pada menara
telekomunikasi. Yaitu, terdapat antena sektoral, antena
microwave, penangkal petir, lampu, shelter dan komponen yang
ada didalamnya. Berikut penjelasannya. (Wildan, 2010)

2.1.6.1 Antena Sectoral


Antena didefinisikan sebagai suatu struktur yang
berfungsi sebagai pelepas energi gelombang
elektromagnetik di udara dan juga bisa sebagai penerima /
penangkap energi gelombang elektromagnetik diudara,
Karena merupakan perangkat perantara antara saluran
transmisi dan udara, maka antena harus mempunyai sifat
yang sesuai dengan saluran pencatunya.

Antena adalah alat yang digunakan untuk mengubah


sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik lalu

10
Meradiasikannya. Antena sectoral merupakan
antena yang memancarkan dan menerima sinyal sesuai
dengan sudut pancar sektornya. Antena yang digunakan
adalah antena 3 sektor dengan kombinasi Distributed
Control System (DCS). (Wildan, 2010)

Gambar 3.7. Antena pemancar (Sectoral).

2.1.6.2 Antena Microwave

Microwave system adalah sebuah sistem pemancaran


dan penerimaan gelombang mikro yang berfrekuensi sangat
tinggi. Microwave system digunakan untuk komunikasi antar
BTS atau Base Station Controller (BSC). Microwave System
yang digunakan merupakan sistem indoor, namun antena
microwave tetap terpasang pada menara.

Pada antena Microwave Radio, yang bentuknya


seperti rebana genderang, itu termasuk jenis high
performance antenna, biasanya ada dua brand, yaitu
Andrew dan Radio frequency System (RFS). Ciri khas dari
antena high performance ini adalah bentuknya yang seperti
gendang dan terdapat penutupnya yang disebut radome.

11
Fungsi radome antara lain untuk melindungi komponen
antena tersebut, dari perubahan cuaca sekitarnya. (Wildan,
2010)

Gambar 3.8. Antena penerima (Microwave). (www.tower-


bersama.com)

2.1.6.3 Penangkal Petir

Penangkal petir adalah semacam rangkaian jalur


yang difungsikan sebagai jalan bagi petir menuju ke
permukaan bumi, tanpa merusak benda - benda yang
dilewatinya. (Wildan, 2010)

2.1.6.4 Lampu
Lampu adalah peralatan yang dapat mengubah
energi listrik menjadi energi cahaya. Lampu digunakan
untuk penerangan di sekitar lingkungan BTS. (Wildan,
2010)

2.1.6.5 Shelter
Shelter BTS adalah suatu tempat yang terdapat
perangkat - perangkat telekomunikasi. Untuk letaknya,
biasanya juga tidak akan jauh dari suatu menara karena

12
adanya ketergantungan sebuah fungsi diantara keduanya,
yakni shelter BTS dan Menara. (Wildan, 2010)

Gambar 3.9. Shelter yang ada pada menara. (www.tower-


bersama.com)

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Base Transceiver Station (BTS) berfungsi menjembatani perangkat


komunikasi pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain. BTS
berhubungan langsung dengan mobile station (MS) dengan melalui
interface, banyak sekali faktor pendukung untuk kinerja BTS seperti:
antena,tower, penangkal petir, lampu, combiner, duplexer, alarm, shelter.
BTS sebagai menyediakan jaringan (interface) berupa sinyal radio
gelombang elektromagnetik. Dalam proses koneksi ke BTS lain harus
melalui tahapan koneksi, tidak memungkinkan BTS langsung
berkomunikasi ke BTS lainnya meski bertetangga.

3.2 Saran
Penulis atau pembaca dapat memahami dengan baik makalah ini,
seerta pembaca dapat memberikan kritik dan saran guna memperbaiki
karya ini sehingga tercipta makalah yang lebih baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. sir.stikom.edu/213/5/BAB%20III.pdf. Diakses pada tanggal 26


Oktober 2017 Pukul 15.24 WIB
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Base_Transceiver_Station. Diakses
pada tanggal 26 Oktober 2017 Pukul 15.20 WIB
3. http://adindrraf.blog.st3telkom.ac.id/2016/01/04/6/. Diakses pada
tanggal 26 Oktober 2017 Pukul 15.36 WIB
4. http://www.esru.strath.ac.uk/EandE/Web_sites/10-
11/Mobile_mast/bts.htm. Diakses pada tanggal 26 Oktober
2017 Pukul 15.44 WIB
5. https://www.techopedia.com/definition/2927/base-transceiver-
station-bts. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2017 Pukul 16.00
WIB
6. www.tower-bersama.com. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2017
Pukul 16.30 WIB

15
Pertanyaan :
1. Kriteria pemasangan komponen di menara BTS ? A.Zaenuri ()
2. Perbedaan jenis-jenis menara serta penggunaanya ? Aldo (104)
3. Apakah pemasangan menara berdasarkan koordinat ? Afiq (136)
4. Jelaskan maksud dari antena sectoral mengubah sinyal listrik menjadi
elektromagnetik !Andi Pandedi
5. Apakah berbeda menara berbeda juga frekuensinya ? Atha (042)
6. Apa perbedaan jenis jenis menara ? Arba (124)
7. Apakah perbedaan tinggi menara BTS berpengaruh ke sinyal ? Nugroho (133)
8. Apa fungsi dari antena microwave ? Fajar

Jawaban :
1. Pemasangan komponen sudah di atur sedemikian rupa dengan atuan yang ada.
2. Ada 3 macam jenis menara :
a. Menara dengan 4 kaki, menara jenis ini sangat jarang sekali roboh dikarnakan
kekuatan konstruksinya sudah dipertimbangkan. Menara jenis ini mampu
menampung banyak antena dan radio namun perlu biaya yang mahal dalam
pembuatanya sehingga hanya perusahaan-perusahaan yang besar saja yang
menggunakanya.
b. Menara dengan 3 kaki atau biasa disebut tri angel. Tower Segitiga disarankan
untuk memakai besi dengan diameter 2 cm ke atas. Beberapa kejadian
robohnya tower jenis ini karena memakai besi dengan diameter di bawah 2
cm. Ketinggian maksimal tower jenis ini yang direkomendasi adalah 60 meter.
Ketinggian rata-rata adalah 40 meter. Tower jenis ini disusun atas
beberapa stage(potongan). 1 stage ada yang 4 meter namun ada yang 5 meter.
Makin pendek stage maka makin kokoh, namun biaya pembuatannya makin
tinggi, karena setiap stage membutuhkan tali pancang/spanner. Jarak
patok spanner dengan tower minimal 8 meter. Makin panjang makin baik,
karena ikatannya makin kokoh, sehingga tali penguat tersebut tidak makin
meruncing di tower bagian atas.
c. Menara dengan satu kaki. Tower jenis ketiga lebih cenderung untuk dipakai
secara personal. Tinggi tower pipa ini sangat disarankan tidak melebihi 20
meter (lebih dari itu akan melengkung). Teknis penguatannya dengan spanner.
Kekuatan pipa sangat bertumpu pada spanner. Sekalipun masih mampu
menerima sinyal koneksi, namun tower jenis ini tidak direkomedasi untuk
penerima sinyal informatika (internet dan intranet) yang stabil, karena jenis ini
mudah bergoyang dan akan mengganggu sistem koneksi datanya, sehingga
komputer akan mencari data secara terus menerus (searching).Tower ini bisa
dibangun pada areal yang dekat dengan pusat transmisi/ NOC = Network
Operation Systems (maksimal 2 km), dan tidak memiliki angin kencang, serta
benar-benar diproyeksikan dalam rangka emergency biaya. Dari berbagai
fakta yang muncul di berbagai daerah, keberadaan Tower memiliki
resistensi/daya tolak dari masyarakat, yang disebabkan isu kesehatan (radiasi,
anemia dll), isu keselamatan hingga isu pemerataan sosial. Hal ini semestinya
perlu disosialisasikan ke masyarakat bahwa kekhawatiran pertama (ancaman
kesehatan) tidaklah terbukti. Radiasinya jauh diambang batas toleransi yang
ditetapkan WHO.

3. Ya, dalam pemasangan menara harus ada koordinat yang sesuai dengan satelit yang di
pancarkan.
4. Fungsi antena adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik,
lalu meradiasikannya (Pelepasan energy elektromagnetik ke udara / ruang bebas). Dan
sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik
(Penerima energy elektromagnetik dari ruang bebas ) dan mengubahnya menjadi
sinyal listrik.
5. Frekuensi sudah diatur dari pihak provider dan sudah ditetapkan berdasarkan
satelitnya masing masing. Jadi perbedaan jenis menara tidak berpengaruh terhadap
frekuensi.
6. Jawabanya sama dengan nomer 2
7. Ya, perbedaan tinggi menara sangat berpengaruh terhadap sinyal
8. Antena microwave bergua untuk komunikasi antar BTS atau BSC. Microwave system
yang digunakan merupakansistem indoor namun antena microwave tetap terpasang
pada menara.