Anda di halaman 1dari 73

DISEMINASI SPAP

UNTUK DOSEN AUDITING PROGRAM SARJANA

Godang P. Panjaitan
Anggota DSPAP

JAKARTA
23 – 24 APRIL 2015
2

MATERI PEMBAHASAN

• Prinsip Dasar Audit Berdasarkan SPAP/ISA


• Perencanaan Audit dan Penilaian Risiko
• Respons atas Risiko Teridentifikasi
• Evaluasi Bukti Audit

2
PRINSIP DASAR AUDIT BERDASARKAN SPAP/ISA
4

AUDIT BERBASIS RISIKO


5

TUJUAN AUDIT
Dalam melaksanakan suatu audit atas laporan keuangan, tujuan keseluruhan
auditor adalah:
a. Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara
keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan
oleh kecurangan maupun kesalahan, dan oleh karena itu memungkinkan
auditor untuk menyatakan opini atas apakah laporan keuangan disusun,
dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku; dan

b. Menerbitkan laporan tentang laporan keuangan dan mengomunikasikannya


(sebagaimana yang disyaratkan oleh SA) berdasarkan temuan auditor.

SA 200.11
6

SALAH SAJI MATERIAL


Kesalahan penyajian: suatu selisih atas angka, klasifikasi, penyajian, atau
pengungkapan suatu pos laporan keuangan, antara yang dilaporkan
dalam laporan keuangan dengan yang seharusnya menurut kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku. Kesalahan penyajian dapat
diakibatkan oleh kesalahan maupun kecurangan.

Kerangka pelaporan keuangan yang berlaku: kerangka pelaporan


keuangan yang diterapkan oleh manajemen dan, jika relevan, pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola, dalam penyusunan laporan
keuangan yang dapat diterima dari sudut pandang sifat entitas dan
tujuan laporan keuangan, atau yang diharuskan oleh peraturan
perundang-undangan atau regulasi.

SA 200.13
7

RISIKO AUDIT
• Risiko audit: risiko bahwa auditor menyatakan suatu opini yang tidak tepat
ketika laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material.
• Tujuan auditor: mengurangi risiko audit pada suatu tingkat rendah yang
dapat diterima (acceptably low level).

Risk of Material Mistatement (RMM)

Audit Risk Inherent Risk Control Risk Detection Risk


(AR) (IR) (CR) (DR)

Terletak pada Entitas` Pada Auditor


8

KETERBATASAN AUDIT
• Auditor tidak diharapkan untuk, dan tidak dapat, mengurangi risiko audit
hingga tidak ada sama sekali dan oleh karena itu auditor tidak dapat
memperoleh keyakinan absolut bahwa laporan keuangan bebas dari
kesalahan penyajian material karena kecurangan atau kesalahan.
• Keterbatasan bawaan suatu audit timbul dari:
– Sifat pelaporan keuangan;
– Sifat prosedur audit; dan
– Kebutuhan agar audit dilaksanakan dalam jangka waktu dan biaya
yang wajar.
9

RISIKO SALAH SAJI MATERIAL (RMM)


• Risiko Salahsaji Material (RSM): risiko bahwa laporan keuangan
mengandung kesalahan penyajian material sebelum dilakukan audit.

• ISA biasanya tidak mengacu ke risiko inheren dan risiko pengendalian


secara terpisah, namun mengacu ke penilaian gabungan RMM.

• Penilaian RMM material dapat dinyatakan dalam bentuk kuantitatif,


seperti dalam persentase, atau dalam bentuk nonkuantitatif.
10

AUDIT RISK COMPONENTS - SUMMARY


11

PENGELOMPOKAN STANDAR AUDIT

Pengelompokkan Standar Audit Lama:


1. Standar Umum
2. Standar Pekerjaan Lapangan
3. Standar Pelaporan
12

DAFTAR STANDAR AUDIT


Standar Audit

Penilaian Risiko Penggunaan


Prinsip Umum Kesimpulan
dan Respons Hasil
dan Tanggung Bukti Audit Audit dan Area Khusus
terhadap Risiko Pekerjaan
Jawab Pelaporan
yang Dinilai Pihak Lain
SA 500 SA 600 SA 700 SA 800
SA 200 SA 300
SA 501
SA 610 SA 705 SA 805
SA 210 SA 315 SA 505
SA 620
SA 220 SA 510 SA 706 SA 810
SA 320
SA 520
SA 230
SA 330 SA 530 SA 710
SA 240 SA 540
SA 402
SA 720
SA 250 SA 550
SA 450
SA 560
SA 260
SA 570
SA 265
SA 580
PERENCANAAN AUDIT DAN PENILAIAN RISIKO
14

TAHAPAN AUDIT
15
TUJUAN AUDITOR DALAM TAHAP
PERENCANAAN DAN PENILAIAN RISIKO
Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan

Tujuan auditor adalah untuk merencanakan audit agar audit tersebut dapat
dilaksanakan dengan efektif. (SA 300.04)

Pengidentifikasian dan Penilaian Risiko Salah Saji Material melalui


Pemahaman atas Entitas dan Lingkungannya

Tujuan auditor adalah untuk mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji
material, apakah karena kecurangan atau kesalahan, pada tingkat laporan
keuangan dan asersi, melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya,
termasuk pengendalian internal entitas, oleh karena itu menyediakan suatu
dasar untuk merancang dan mengimplementasikan respons terhadap risiko
yang ditetapkan atas salah saji material tersebut. (SA 315.03)
16

PENILAIAN RISIKO
17

AKTIVITAS AWAL PERIKATAN


PENERIMAAN DAN KEBERLANJUTAN 18

HUBUNGAN DENGAN KLIEN


19

PRAKONDISI SUATU AUDIT


Auditor harus:
 Menentukan apakah kerangka pelaporan keuanganyang akan diterapkan dalam
penyusunan laporan keuangan dapat diterima, dan
 Memperoleh persetujuan dari manajemen bahwa manajemen mengakui dan
memahami tanggung jawabnya:
 Untuk menyusun laporan keuangan sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku, termasuk jika relevan, penyajian wajar laporan
tersebut;
 Untuk menetapkan pengendalian intern tertentu yang menurut manajemen
diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan
penyajianmaterial, baik karena kecurangan maupun kesalahan; dan
 Memberikan auditor:
 Akses ke semua informasi yang dianggap relevan
 Informasi tambahan yang diminta oleh auditor
 Akses tidak terbatas ke personel dalam entitas yang dipandang perlu.

SA 210.6
20

PERENCANAAN AUDIT
21

PENERAPAN KONSEP MATERIALITAS


Auditor menerapkan konsep materialitas dalam:
• Tahap perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan (SA
350);
• Pada saat mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang teridentifikasi
dalam suatu audit dan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada,
terhadap laporan keuangan (SA 450); dan
• Pada saat merumuskan opini dalam laporan auditor (SA 700).
22

MATERIALITAS

Materialitas untuk laporan


keuangan secara keseluruhan

Specific
Materiality Performance
Materiality
Specific
Materiality
Performance
Clearly
Trivial

Perbedaan dengan SPAP Lama:


1. Menggunakan konsep materialitas pelaksanaan (performance materiality) yang sebelumnya
disebut salah saji maksimum pada saldo atau kelompok transaksi (tolerable error).
2. Clearly trivial tidak dikenal sebelumnya.
MATERIALITAS PADA TINGKAT 23

LAPORAN KEUANGAN KESELURUHAN


• Penentuan materialitas oleh auditor membutuhkan pertimbangan
profesional, dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang kebutuhan
informasi keuangan oleh para pemakai laporan keuangan [SA 320 par. 4];
• Faktor kualitatif juga harus dipertimbangkan saat menetapkan
materialitas, seperti sifat dari unsur dan dampak dari unsur yang terlibat
[Collings, hal.122]; dan
• Sebagai langkah awal dalam menentukan materialitas untuk laporan
keuangan secara keseluruhan, persentase tertentu seringkali diterapkan
pada suatu tolok ukur yang telah dipilih.
24
MATERIALITAS PADA TINGKAT LAPORAN
KEUANGAN SECARA KESELURUHAN
25

MATERIALITAS SPESIFIK
• Dalam kondisi spesifik entitas, terdapat satu atau lebih golongan transaksi,
saldo akun atau pengungkapan tertentu yang mengandung kesalahan
penyajian yang jumlahnya lebih rendah dari pada materialitas laporan
keuangan secara keseluruhan diperkirakan secara masuk akal akan
mempengaruhi keputusan ekonomi yang dibuat oleh para pemakai
berdasarkan laporan keuangan tersebut:

• Auditor harus menetapkan materialitas yang akan diterapkan terhadap


golongan transaksi, saldo akun atau pengungkapan tertentu tersebut.
ILUSTRASI PENERAPAN 26

MATERIALITAS SPESIFIK
27

MATERIALITAS PELAKSANAAN
TOLOK UKUR 28

MATERIALITAS PELAKSANAAN
29
MATERIALITAS DALAM KONTEKS LAPORAN
KEUANGAN GRUP
MATERIALITY REPRESENTS USED FOR
1.
Group auditor’s assessment of
Group
general information needs of Group audit strategy
materiality
financial statement users

2.
Group auditors assessment of Component audit strategy
Component aggregation risk for all Evaluation whether uncorrected
DECREASING

detected misstatements in components


materiality components and consolidation
financial information are material,
process individually or in aggregate

Reduce risk that aggregate of


Performance Component auditor’s uncorrected and undetected
materiality at assessment of aggregation risk at misstatements in components financial
component level component level information exceed component
materiality
3.
All misstatements above clearly trivial
Clearly trivial threshold must be communicated to group
threshold engagement team
30

PENETAPAN RENCANA AUDIT RINCI


31

PROSEDUR PENILAIAN RISIKO


 Prosedur penilaian risiko adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk
memperoleh suatu pemahaman tentang entitas dan lingkungannya, termasuk
pengendalian intern entitas… [SA 315 par. 4d];
 Auditor harus melaksanakan prosedur penilaian risiko untuk menyediakan suatu
dasar bagi: [SA 315 par 5]
 Pengidentifikasian risiko kesalahan penyajian material; dan
 Penilaian risiko kesalahan penyajian material pada tingkat (i) laporan
keuangan,dan (ii) asersi.
 Prosedur penilaian risiko harus mencakup berikut [SA 315 par. 6]:
1) Permintaan keterangan dari manajemen, dan personel lain dalam entitas yang
menurut pertimbangan auditor kemungkinan memiliki informasi yang mungkin
membantu dalam mengidentifikasi risiko kesalahan penyajian material karena
kecurangan atau kesalahan.
2) Prosedur analitis.
3) Observasi dan inspeksi.
32

PROSEDUR PENILAIAN RISIKO


33

PROSEDUR PENILAIAN RISIKO


34

MODEL AUDIT BERBASIS RISIKO


Audit
Risk

Inherent Control Detection


Risk Risk Risk

Understanding Preliminary Understanding Controls Audit Engagement


The Entity Analitycal Internal Matrix Plans Level
Review Control Responses
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS 35

DAN LINGKUNGANNYA
 Prosedur penilaian risiko adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk
memperoleh suatu pemahaman tentang
1. entitas dan lingkungannya, termasuk;
2. pengendalian intern entitas… [SA 315 par. 4d]
 Auditor harus memperoleh suatu pemahaman berikut:
1. Faktor-faktor industri, peraturan, dan eksternal lain termasuk kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku.
2. Sifat entitas, termasuk:
a. Operasinya
b. Struktur kepemilikan dan tata kelolanya
c. Jenis investasi yang dilakukan dan yang rencananya akan dilakukan oleh
entitas, termasuk investasi dalam entitas bertujuan khusus; dan
d. Cara entitas tersebut distrukturisasi dan bagaimana entitas tersebut
dibelanjai,
e. Sehingga auditor dapat memahami golongan transaksi, saldo akun, dan
pengungkapan yang diharapkan ada dalam laporan keuangan.
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS 36

DAN LINGKUNGANNYA
 Auditor harus memperoleh suatu pemahaman berikut:(lanjutan…)
3. Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi oleh entitas, termasuk
alasan perubahannya.
4. Tujuan dan strategi entitas, dan risiko bisnis terkait yang dapat
menimbulkan risiko salah saji material.
5. Pengukuran dan penelahaan atas kinerja keuangan entitas.

 Pemahaman atas entitas dan lingkungannya dapat dibagi menjadi:


 Pengidentifikasian risiko (menanyakan“what could go wrong”); dan
 Penilaian risiko (menentukan signifikansi dari masing-masing risiko).

 Terdapat dua klasifikasi risiko:


 Risiko bisnis.
 Risiko kecurangan.
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS 37

DAN LINGKUNGANNYA
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS 38

DAN LINGKUNGANNYA
39
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS
DAN LINGKUNGANNYA
Risiko Salahsaji Material (RSM) RSM Signifikan
Normal
Risiko bahwa laporan keuangan RSM yang begitu besar, sehingga menurut auditor,
mengandung salah saji material memerlukan pertimbangan audit khusus.
sebelum diaudit.
Hal-hal yang memerlukan pertimbangan khusus,
misalnya:
• risiko kecurangan,
• perkembangan terkini signifikan dalam bidang
ekonomi dan akuntansi,
• kompleksitas transaksi,
• transaksi signifikan dengan pihak berelasi,
• subjektivitas pengukuran yang luas,
• Transaksi signifikan di luar bisnis normal.
40

PENILAIAN RISIKO
41
DUA TINGKAT
RISIKO SALAH SAJI MATERIAL
PEMAHAMAN ATAS PENGENDALIAN 42

INTERN ENTITAS
 Auditor harus memperoleh suatu pemahaman atas pengendalian intern
yang relevan dengan audit. [SA 315 par 12]
 Prosedur penilaian risiko untuk memperoleh bukti audit tentang
rancangan dan implementasi pengendalian yang relevan dapat
mencakup: [SA 315 par A67]
 Meminta keterangan dari personel entitas;
 Mengamati penerapan pengendalian tertentu;
 Menginspeksi dokumen dan laporan;
 Menelusuri (satu atau dua) transaksi melalui sistem informasi yang
relevan dengan pelaporan keuangan [“walkthrough”]
PEMAHAMAN ATAS PENGENDALIAN 43

INTERN ENTITAS
Pengendalian intern dapat dibedakan menjadi yang bersifat pervasif (entity-
level control) untuk meng-addressed risiko pervasif; dan yang bersifat spesifik
(transactional) untuk meng-addressed risiko spesifik.
PEMAHAMAN ATAS PENGENDALIAN 44

INTERN ENTITAS
Harus diingat bahwa sesuaiSA 315 par 12, auditor hanya diwajibkan untuk
memperoleh suatu pemahaman atas pengendalian intern yang relevan
dengan audit.
PEMAHAMAN ATAS PENGENDALIAN 45

INTERN ENTITAS
46

PENILAIAN RISIKO
RESPONS ATAS RISIKO TERIDENTIFIKASI
48

RESPONS ATAS RISIKO TERIDENTIFIKASI


MERANCANG RESPONS AUDIT 49

YANG EFEKTIF
• Tujuan auditor adalah untukmemperoleh bukti audit cukup dan tepat yang
berkaitan dengan penilaian risiko kesalahan penyajian material, melalui
pendesainan dan penerapan respons yang tepat terhadap risiko tersebut.
[SA 330 par 3]

• Merancang dan mengimplementasikan respons keseluruhan untuk


menanggapi risiko kesalahan penyajian material yang telah dinilai pada
tingkat laporan keuangan. [SA 330 par 5];

• Merancang dan mengimplementasikan prosedur audit lanjutan yang sifat,


saat, dan luasnya didasarkan pada dan merupakan respons terhadap risiko
kesalahan penyajian material yang telah dinilai pada tingkat asersi. (SA 330
par 7)
50

RESPONS ATAS RISIKO TERIDENTIFIKASI


51

RESPONS AUDIT – FAKTOR KEANDALAN


Significant RMM Level
R=3 Normal RMM Level
R=2

SAPs/
SAPs/
OSPs
OSPs

TOCs TOCs SAPs/


OSPs

51
52
RESPONS PADA TINGKAT ASERSI
FAKTOR KEANDALAN
PROCEDURE ASSURANCE
(R FACTOR)
Walkthrough 0
Test of controls 0 or 2.0
PAR 0
SAPs
• Limited 0.5
• Enhanced 1.5
• Detailed 2.0
OSPs up to 3
53

PROSEDUR AUDIT LANJUTAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF
TOC: Test of Control SAP: Substantive Analytical OSP: Other Substantive
Procedures Procedures
Kombinasi dari: Kategori prosedur analitis: Prosedur yang dirancang untuk
 Mengajukan  Simple comparison; mendapatkan bukti yang
pertanyaan ke personel  Predictive model mendukung jumlah-jumlah
yang tepat–Inquiry; dalam laporan keuangan.
 Menginspeksi dokumen (SA 520 par 5):
yang relevan–Inspect  Menentukan kecocokan Pengujian rinci digunakan
 Mengamati operasi prosedur analitis substantif; untuk mendapatkan bukti
entitas–Observe  Mengevaluasi keandalan data audit atas asersi, seperti
 Melaksanakan ulang yang dijadikan dasar eksistensi, akurasi dan
penerapan pengembangan ekspektasi; penilaian.
pengendalian–  Mengembangkan ekspektasi
Reperformance atas jumlah tercatat atau rasio; Prosedur pengujian rinci yang
dan lazim a.l.: pemeriksaan fisik,
 Menentukan jumlah konfirmasi, pemeriksaan
perbedaan antara jumlah dokumen.
tercatat dengan nilai
ekspektasi.
TANGGUNG JAWAB AUDITOR TERKAIT 54

DENGAN KECURANGAN
• Kecurangan: suatu tindakan yang disengaja oleh suatu individu atau lebih
dalam manajemen, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, karyawan,
atau pihak ketiga, yang melibatkan penggunaan tipu muslihat untuk
memperoleh keuntungan secara tidak adil atau melanggar hukum (SPAP lama:
tidak eksplisit).

• Tanggungjawab utama pencegahan dan pendeteksian kecurangan berada


pada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas dan manajemen;

• Tanggungjawab auditor adalah memperoleh keyakinan memadai apakah


laporan keuangan secara keseluruhan beban dari salah saji material yang
disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.

SA 240
55
SALAH SAJI YANG RELEVAN DENGAN
KECURANGAN
Fraudulent in Financial Reporting Misappropriation of Assets
SA: Kecurangan Pelaporan Keuangan SA: Penyalahgunaan Aset
Dikenal juga dengan istilah “cooking the Dilakukan terhadap entitas
book”. Biasanya dilakukan oleh entitas.
Contoh: pengelolaan laba. Contoh: pencurian aset.
Cara melakukan kecurangan pelaporan Cara melakukan penyalahgunaan aset:
keuangan: • Penggelapan penerimaan
• Manipulasi, pemalsuan (termasuk • Pencurian aset fisik atau kekayaan
peniruan), atau pengubahan catatan intelektual
akuntansi atau dokumentasi pendukung. • Pembayaran untuk barang dan jasa yang
• Pernyataan salah, atau penghilangan tidak pernah diterima
secara sengaja atas peristiwa, transaksi, • Penggunaan aset entitas untuk
atau informasi signifikan lainnya. kepentingan pribadi
• Penerapan salah yang disengaja atas
prinsip akuntansi.
PROSEDUR PENILAIAN RISIKO 56

KECURANGAN
1. Meminta keterangan (inquiries) dari manajemen dan pihak lain dalam
entitas:
– Penilaian manajemen tentang kemungkinan RSM yang diakibatkan
oleh kecurangan.
– Proses yang dilakukan manajemen untuk mengidentifikasi dan
merespons risiko kecurangan.
2. Prosedur analitis
• Hubungan yang tidak biasa atau tidak terduga dapat mengindikasikan
adanya RSM yang diakibatkan oleh kecurangan.
• Kelompok akun (cycle) yang paling sering terkait dengan kecurangan:
pendapatan.
3. Evaluasi faktor risiko kecurangan: peristiwa atau kondisi (symptons) yang
sering ada dalam kondisi dimana telah terjadi kecurangan (opportunity;
pressure; rationalization)
RESPONS TERHADAP RISIKO 57

KECURANGAN
Risiko Prosedur yang Responsif
Kecurangan
Respons - Menugasi dan mengawasi personil dengan pengetahuan
keseluruhan dan pengalaman yang sesuai;
- Evaluasi kebijakan akuntansi;
- Memasukkan prosedur audit yang tidak dapat diprediksi.
Tingkat asersi Sesuai dengan asersi yang terdampak
Misalnya:
SIFAT: observasi fisik terhadap aset tertentu, penggunaan
CAAT, konfirmasi pihak III tidak hanya atas jumlah tetapi
rincian perjanjian;
WAKTU: pelaksanaan prosedur substantif lebih awal,
selama periode berjalan atau di akhir periode;
LUAS: penigkatan ukuran sampel atau penggunaan CAAT.
RESPONS TERHADAP RISIKO 58

KECURANGAN
Risiko Kecurangan Prosedur yang Responsif
Rebuttable presumption: Terbantah: misal, hanya satu model transaksi
terdapat risiko pengakuan pendapatan (pendapatan sewa dari
kecurangan dalam satu unit properti yg disewakan).
pengakuan pendapatan
Risiko kecurangan dalam  Lakukan substantive analytical review
pengakuan pendapatan procedures. Pertimbangkan penggunaan CAAT;
 Pengujian pisah batas (cut –off test);
 Uji pemenuhan syarat-syarat spesifik
pengakuan pendapatan sesuai SAK (misal,
PSAK 44);
 Konfirmasi ke konsumen terkait dengan
persyaratan kontrak;
RESPONS TERHADAP RISIKO 59

KECURANGAN
Risiko Kecurangan Prosedur yang Responsif
Wajib dilakukan tanpa - Menguji ketepatan entri jurnal dan penyesuaian
memperhatikan penilaian dalam penyusunan LK.
atas risiko pengabaian - Menelaah estimasi akuntansi untuk
pengendalian oleh menemukan hal bias.
manajemen - Mengevaluasi basis transaksi di luar aktivitas
bisnis normal atau tidak biasa,
Risiko pengabaian Pertimbangkan prosedur audit tambahan atas
pengendalian manajemen prosedur spesifik di atas
EVALUASI BUKTI AUDIT
61

EVALUASI BUKTI AUDIT


62

TUJUAN TAHAP EVALUASI


• Tahap akhir dari audit adalah untuk menilai bukti audit yang diperoleh dan
menentukan apakah itu sudah cukup dan tepat untuk mengurangi risiko
audit ke tingkat yang cukup rendah.

• Hal ini penting selama fase ini audit untuk menentukan:


• Perubahan dalam tingkat RSM yang dinilai;
• Apakah kesimpulan yang diambil dari pekerjaan yang dilakukan sesuai;
• Jika ada keadaan yang mencurigakan apakah telah ditemukan; dan
• Bahwa RSM tambahan (tidak teridentifikasi sebelumnya) telah tepat
dinilai dan prosedur audit lanjutan telah dilakukan.
PERTIMBANGAN SPESIFIK ATAS 63

UNSUR PILIHAN
Tujuan auditor adalah untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
berkaitan dengan:
a) Eksistensi dan kondisi persediaan;
b) Kelengkapan informasi tentang litigasi dan klaim yang melibatkan entitas;
dan
c) Penyajian dan pengungkapan informasi segmen sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku.

SA 501.4
64

PERSEDIAAN
 Jika persediaan berjumlah material, auditor harus memperoleh bukti audit
tentang eksistensi dan kondisi persediaan dengan:
 Menghadiri penghitungan fisik persediaan, kecuali jika tidak praktis
 Melaksanakan prosedur audit atas catatan persediaan final untuk
menentukan apakah catatan tersebut mencerminkan hasil penghitungan
fisik aktual.
 Jika auditor tidak dapat menghadiri penghitungan fisik persediaan, auditor
harus melakukan atau mengobservasi penghitungan fisik pada suatu tanggal
alternatif, dan melaksanakan prosedur audit terhadap transaksi yang terjadi
dalam periode di antara dua tanggal tersebut.
 Jika kehadiran fisik tidak praktis, auditor harus melaksanakan prosedur audit
alternatif tentang eksistensi dan kondisi persediaan. Jika tidak mungkin
melakukan hal itu, auditor harus memodifikasi opini dalam laporan auditor.

SA 500. 4 - 8
65

LITIGASI DAN KLAIM


 Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur audit, termasuk:
 Meminta keterangan dari manajemen dan penasihat hukum internal;
 Menelaah risalah rapat dan korespondensi dengan penasihat hukum
eksternal; dan
 Menelaah akun biaya hukum.
Dalam situasi tertentu, auditor juga harus melakukan komunikasi langsung
dengan penasihat hukum eksternal entitas.

 Auditor harus memodifikasi opini dalam laporan auditor jika auditor tidak
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat melalui pelaksanaan
prosedur di atas atau prosedur alternatif.

 Auditor harus meminta representasi tertulis dari manajemen mengenai


litigasi dan klaim.
SA 501. 9 - 11
66

INFORMASI SEGMEN
 Auditor harus memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang
penyajian dan pengungkapan informasi segmen sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dengan:

 Memperoleh suatu pemahaman tentang metode yang digunakan


oleh manajemen dalam menentukan informasi segmen, dan

 Melaksanakan prosedur analitis atau prosedur audit lainnya yang


sesuai dengan keadaan.

SA 501.13
67

PENENTUAN LUAS PENGUJIAN


 Penentuan luas pengujian antara lain dipengaruhi oleh:
 Materialitas (yakni, materialitas pelaksanaan);
 Risiko yang dinilai (yakni, risiko kesalahan penyajian material; dan
 Tingkat asurans yang ingin diperoleh auditor (yakni, confidence level)
dari prosedur audit lanjutan.

 Auditor dapat: (SA 500 par A52)


 Memilih semua unsur (pemeriksaan100%);
 Memilih unsur tertentu; dan
 Menggunakan sampling audit
68

PEMERIKSAAN SALDO AWAL


 Dalam melaksanakan perikatan audit tahun pertama, tujuan auditor yang
berkaitan dengan saldo awal adalah untuk memperoleh bukti audit ttg apakah:
 Saldo awal mengandung kesalahan penyajian yang berdampak material
terhadap laporan keuangan periode berjalan; dan
 Kebijakan akuntansi yang tepat dalam saldo awal telah diterapkan secara
konsisten dalam periode berjalan, atau perubahannya telah dicatat serta
disajikan dengan tepat .
 Jika auditor:
1. tidak dapat memperoleh bukti audit berkaitan dengan saldo awal, maka
auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau opini
tidak menyatakan pendapat.
2. menyimpulkan bahwa saldo awal mengandung kesalahan penyajian yang
material, dan tidak diperbaiki, maka auditor harus menyatakan opini wajar
dengan pengecualian atau opini tidak wajar.
SA 510
69

MEMILIH SEMUA UNSUR (100%)


 Pemeriksaan 100% tepat digunakan misalnya jika (SA 500 par A53):
 Populasi terdiri dari sejumlah kecil unsur yang masing-masing memiliki
nilai besar;
 Terdapat risiko signifikan, dan cara lain tidak dapat memberikan bukti
audit yang cukup dan layak; atau
 Sifat pengulangan suatu perhitungan atau proses lain yang dilakukan
secara otomatis oleh suatu sistem informasi membuat pemeriksaan
100% menjadi efektif dari segi biaya.
70

MEMILIH UNSUR TERTENTU


 Unsur spesifik pilihan dapat meliputi:
 Unsur-unsur kunci bernilai tinggi atau karena unsur-unsur tersebut
memperlihatkan beberapa karakterisik lain (misalnya, mencurigakan,
tidak biasa, rawan risiko tertentu, atau memiliki jejak-rekam kesalahan).
 Semua unsur yang memiliki nilai di atas jumlah tertentu, sehingga dapat
digunakan untuk memverifikasi proporsi total jumlah suatu golongan
transaksi atau saldo akun.
 Unsur-unsur untuk memperoleh informasi, seperti informasi mengenai
sifat entitas atau sifat transaksi.
 Memilihunsurtertentubukan merupakan sampling audit.
 Hasil prosedur audit yang diterapkan untuk unsur-unsur yang telah dipilih
melalui cara ini tidak dapat diprojeksikan untuk keseluruhan populasi; oleh
karena itu, pemeriksaan secara selektif unsur-unsur spesifik tidak
memberikan bukti audit atas sisa populasi yang tidakdiperiksa.

SA 500 par A54 -55


71

SAMPLING AUDIT
• Sampling audit: penerapan prosedur audit terhadap kurang dari 100%
unsur dalam suatu populasi audit yang relevan sedemikian rupa sehingga
semua unit sampling memiliki peluang yang sama untuk dipilih untuk
memberikan basis yang memadai bagi auditor untuk menarik kesimpulan
tentang populasi secara keseluruhan.
72

DOKUMENTASI AUDIT
Dokumentasi audit memberikan :
• Bukti sebagai dasar bagi auditor untuk menarik suatu kesimpulan tentang
pencapaian tujuan keseluruhan auditor, dan
• Bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan SA dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Godang P. Panjaitan
Anggota DSPAP IAPI
Partner Audit KAP Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
godang.panjaitan@yahoo.com