Anda di halaman 1dari 5

Jakarta – Pengadaan obat-obatan di instansi pemerintah sekarang sudah tidak menggunakan

proses tender. Instansi seperti rumah sakit hingga puskesmas yang membutuhkan obat-
obatan tinggal membelinya melalui website e-katalog LKPP.

“Bagi dinas kesehatan atau rumah sakit yang membutuhkan obat generik tinggal pilih saja di
katalog LKPP, tidak perlu lelang lagi. Sementara, bagi para penyedia, tentunya tinggal
menunggu pesanan saja. Jika dinas/instansi terkait membutuhkan produk anda, mereka
nantinya akan menghubungi anda. Jadi sistemnya beli langsung,” demikian keterangan
Kepala LKPP Agus Rahardjo saat memberikan penjelasan kepada rombongan Indonesia
Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) di kantor LKPP, Jakarta, Rabu (19/06).

Agus menambahkan, jumlah obat yang tercantum di katalog LKPP baru mencapai 300 jenis.
Ke depan diharapkan jumlahnya akan terus bertambah. “kontraknya memang baru dengan
300 jenis obat, tapi nanti pasti akan bertambah, “ terang Agus.

Sistem tersebut dapat diakses melalui website www.lkpp.go.id di bagian menu e-katalog. Di
dalamnya memuat informasi seputar daftar nama obat, nama penyedia beserta distributornya,
jenis kemasan, satuan harga terkecil, kontrak payung, dan area provinsi yang terkover.

Pengadaan obat generik dalam e-katalog dilaksanakan melalui mekanisme e-purchasing.


Harga yang tercantum dalam e-katalog ialah harga satuan terkecil yang sudah termasuk pajak
dan biaya distribusi dan tidak diperlukan lagi negosiasi harga. “Harga obat-obatan di katalog
LKPP sudah merupakan harga fix, tidak ada lagi nego dengan penyedia. Ketentuan tersebut
tercantum di dalam kontrak payung antara penyedia dengan LKPP, “tambah Agus.

Penentuan harga e-katalog obat-obatan memang sedikit berbeda dengan barang lain yang
tercantum di katalog LKPP lainnya. Untuk jasa internet, kendaraan bermotor maupun alat
pertanian masih dimungkinkan negosiasi harga antara penyedia dengan pemerintah meskipun
harganya sudah tercantum di katalog, sedangkan untuk katalog obat-obatan negosiasi harga
tidak diperbolehkan.

Hal ini dikarenakan proses penentuan harga untuk obat-obatan melalui mekanisme lelang
itemized. Penyedia yang tercantum di katalog merupakan pemenang lelang untuk setiap jenis
obat di tiap provinsi.

Setiap instansi pemerintah yang akan membeli obat melalui katalog diharuskan membeli
sesuai dengan wilayahnya masing-masing. Pembelian jenis obat tertentu dengan cara lintas
provinsi tidak diperbolehkan, meskipun harganya bisa lebih murah. “Setiap dinas diharuskan
membeli melalui jaringan distributor yang terdaftar di provinsinya masing-masing.
Permenkes melarang distributor menjual obat lintas propinsi,” Tegas Kasubdit Kementerian
Bidang Polhukam, LPND dan Lembaga lain Dwi Satrianto.

SJSN 2014

Dengan adanya e-katalog, rencana Pemerintah untuk penerapan Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) di tahun 2014 mendatang menjadi lebih mudah. Selain harga yang
tercantum sudah transparan, proses pengadaannya juga menjadi lebih cepat, karena tidak
memerlukan proses lelang,” e-katalog mampu memotong proses lelang yang bisa memakan
waktu berbulan-bulan karena bisa beli langsung,” terang Agus.
Terkait kekhawatiran IPMG soal preferensi obat yang akan dibeli oleh pemerintah, Agus
menekankan bahwa LKPP tidak memiliki kewenangan akan hal tersebut. “LKPP hanya
menyediakan kebijakan pengadaannya saja. Soal obat mana yang akan dipilih oleh dinas
terkait, tentunya terserah mereka karena dinas terkait yang memiliki kompetensi dalam
memilih yang terbaik.“ tutup Agus. (fan)

PERSYARATAN DAN KETENTUAN PENGGUNAAN E-PURCHASING OBAT


PEMERINTAH

A. KETENTUAN UMUM

Definisi e-Purchasing Obat Pemerintah


Semua definisi tetap mengacu pada definisi yang tercantum dalam Pasal 1 Peraturan
Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
barang/Jasa Pemerintah dan Peraturan Kepala Nomor 17 Tahun 2012 Tentang
Pedoman e-Purchasing di Lingkungan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat
Daerah/Instansi Lainnya.

1. Pengguna (user) adalah pemakai aplikasi e-Purchasing yang memiliki User ID


dan Password yang telah ter-registrasi di LPSE;
2. User ID adalah nama dan pengenal unik sebagai identitas diri dari Pengguna
yang digunakan untuk beroperasi dalam website LPSE;
3. Password adalah kumpulan karakter yang digunakan oleh Pengguna untuk
memverifikasi User ID pada website LPSE;
4. User ID dan Password yang masih aktif dapat digunakan oleh Pengguna untuk
mengikuti pengadaan melalui aplikasi e-Purchasing;
5. Dengan menjadi Pengguna aplikasi e-Purchasing maka Pengguna dianggap
telah memahami, mengerti dan menyetujui semua isi di dalam Persyaratan dan
Ketentuan Pengguna Sistem e-Purchasing Obat Pemerintah, Petunjuk
Penggunaan, dan ketentuan lain yang diterbitkan oleh Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

B. KEANGGOTAAN PENGGUNA
1. Registrasi Pengguna

Panitia Pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (ULP), mengajukan permintaan


sebagai Pengguna SPSE kepada pengelola LPSE bagi Panitia Pengadaan atau
ULP suatu paket pekerjaan tertentu.

2. Persyaratan Registrasi Pengguna

Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Panitia Pengadaan / ULP.

3. Kewajiban Pengguna
a. Memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan
yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa pemerintah;
b. Masing-masing penyedia barang/jasa hanya diperkenankan memiliki 1
(satu) User ID dan Password;
c. Setiap Pengguna bertanggung jawab melindungi kerahasiaan hak akses
dan aktivitas lainnya dalam e-Purchasing;
d. Setiap penyalahgunaan hak akses oleh pihak lain menjadi tanggung
jawab pemilik User ID dan Password;
e. Menjaga kerahasiaan dan mencegah penyalahgunaan data dan
informasi yang tidak diperuntukkan bagi khalayak umum.
4. Ketentuan Pengguna
a. Pengguna setuju bahwa transaksi yang dilakukan melalui e-Purchasing
tidak boleh melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia;
b. Pengguna wajib tunduk dan taat pada semua peraturan dan komunikasi
data baik di wilayah Indonesia maupun dari dan keluar wilayah
Indoensia melalui website e-Purchasing;
c. Pengguna bertanggung jawab penuh atas isi transaksi (contents of data)
yang dilakukan dalam e-Purchasing;
d. Pengguna dilarang saling mengganggu proses transaksi dan/atau
layanan lain yang dilakukan dalam e-Purchasing;
e. Pengguna setuju bahwa usaha untuk memanipulasi data, mengacaukan
sistem elektronik dan jaringannya adalah tindakan melanggar hukum.
5. Pembatalan Keanggotaan Pengguna
a. Pengelola e-Purchasing berhak membatalkan/menunda/menghalangi
sementara hak akses Pengguna apabila ditemukan adanya
informasi/transaksi/aktivitas lain yang tidak dibenarkan sesuai
ketentuan yang berlaku;
b. Pengguna mengundurkan diri dengan cara mengirimkan surat
permohonan dan disampaikan kepada pengelola e-Purchasing yang
dapat dikirimkan melalui sarana elektronik (email).

C. PROSES E-PURCHASING
1. Persiapan e-Purchasing

Panitia Pengadaan / ULP wajib melihat e-Catalogue Obat Pemerintah melalui


Portal Pengadaan Nasional (INAPROC) untuk melihat daftar obat yang dapat
dibeli melalui e-Purchasing. Data-data yang dapat dilihat antara lain : Nama
Penyedia, Nama Obat, Wilayah, Harga, Jaringan Distribusi, dan Kontrak
Payung.

2. Proses e-Purchasing
a. Panitia Pengadaan / ULP membuat paket pekerjaan dalam e-
Purchasing. Panitia Pengadaan / ULP memasukkan data yang diminta
dalam e-Purchasing untuk pembuatan paket pekerjaan. Satu Paket
Pekerjaan dapat terdiri dari beberapa jenis dan jumlah obat, serta
beberapa Penyedia obat.
b. Setelah Paket dibuat, Panitia Pengadaan / ULP memasukkan data-data
obat yang akan dibeli sesuai dengan e-Catalogue obat yang ada dalam
Portal Pengadaan Nasional (INAPROC);
3. Kontrak

Setelah data-data obat yang akan dibeli lengkap, PPK mengunduh format
Kontrak Pengadaan dan melakukan kontrak dengan Distributor yang ditunjuk
oleh Penyedia. Kesepakatan yang sudah ada dalam contoh format kontrak
dapat ditambah maupun dikurangi sesuai dengan perjanjian yang disepakati
antara PPK dengan Distributor tersebut.

4. Cetak Surat Pesanan

Panitia Pengadaan / ULP mengunduh format Surat Pesanan pada aplikasi e-


Purchasing. Format Surat Pesanan dapat ditambah maupun dikurangi sesuai
dengan kebutuhan Panitia Pengadaan / ULP. Setelah Surat Pesanan dicetak,
Panitia Pengadaan / ULP dapat memberikan Surat Pesanan tersebut kepada
Penyedia untuk ditandatangani oleh Panitia Pengadaan / ULP dan Penyedia.

5. Pembayaran serta Serah Terima Obat

Setelah Surat Pesanan disampaikan kepada Penyedia, Penyedia/Distributor


akan mengirimkan tagihan pembayaran. PPK memasukkan tanggal tagihan,
tanggal pembayaran, dan tanggal datang obat ke dalam e-Purchasing Obat
Pemerintah.

D. TANGGUNG JAWAB DAN AKIBAT


1. LKPP dan afiliasinya tidak bertanggung jawab atas semua akibat karena
keterlambatan/kesalahan/kerusakan penerimaan data pengadaan yang terjadi
pada e-Purchasing yang dilakukan Pengguna dan Pihak lain;
2. LKPP dan afiliasinya tidak bertanggung jawab atas semua akibat adanya
gangguan infrastruktur yang berakibat pada tertanggungnya proses
penggunaan e-Purchasing;
3. LKPP dan afiliasinya tidak bertanggung jawab atas segala akibat
penyalahgunaan yang dilakukan oleh Pengguna atau Pihak lain;
4. LKPP dan afiliasinya tidak menjamin e-Purchasing berlangsung terus tanpa
adanya gangguan. LKPP berusaha terus meningkatkan dan memperbaiki
performance aplikasinya;
5. LKPP dan afiliasinya tidak bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi,
yang mengakibatkan tidak tersedianya barang atau timbulnya biaya;
6. Pengguna e-Purchasing dengan tidak mengindahkan ketentuan ini,
mengakibatkan penerimaan segala resiko yang ditimbulkan dari penggunaan
e-Purchasing yang tidak terbatas pada tidak dapat dilanjutkannya proses
pengadaan barang/jasa.

E. PERSELISIHAN

Pengguna setuju bahwa perselisihan yang terjadi antara Pengguna dan LKPP dan/atau
afiliasinya diselesaikan melalui musyawarah untuk mufakat. Apabila musyawarah
tidak dapat mencapai mufakat, pengguna dan LKPP sepakat untuk membawa kasus
tersebut ke pengadilan yang berada di wilayah Indonesia.

F. HAK CIPTA
1. Dilarang mengutip atau meng-copy sebagian atau seluruh isi yang terdapat di
dalam e-Purchasing tanpa ijin tertulis dari LKPP. Pelanggaran atas ketentuan
ini akan dituntut dan digugat berdasarkan peraturan hukum pidana dan perdata
yang berlaku di Indonesia;
2. Pengguna setuju tidak akan dengan cara apapun memanfaatkan,
memperbanyak, atau berperan dalam penjualan/menyebarkan setiap isi yang
diperoleh dari e-Purchasing untuk kepentingan pribadi dan/atau komersial.

G. PERUBAHAN
1. LKPP dan afiliasinya berhak/dapat menambah, mengurangi, memperbaiki
aturan dan ketentuan e-Purchasing ini setiap saat, dengan atau tanpa
pemberitahuan sebelumnya;
2. LKPP dan afiliasinya berhak/dapat menambah, mengurangi, memperbaiki
fasilitas yang disediakan aplikasi ini setiap saat, dengan atau tanpa
pemberitahuan sebelumnya;
3. Pengguna wajib taat kepada aturan dan ketentuan yang telah ditambah,
dikurangi, diperbaiki tersebut. Apabila pengguna tidak setuju dapat
mengajukan keberatan dan mengundurkan diri dari keikutsertaannya sebagai
Pengguna e-Purchasing;
4. Dengan maupun tanpa alasan, LKPP dan afiliasinya berhak menghentikan
penggunaan, e-Purchasing dan akses jasa ini tanpa menanggung kewajiban
apapun kepada pengguna apabila penghentian operasional ini terpaksa
dilakukan.