Anda di halaman 1dari 31

BAB V

PERENCANAAN BATANG TEKAN

Bab ini menguraikan detail perencanaan batang tekan dengan topik


meliputi; (1) Elemen batang tekan, (2) Persyaratan desain batang tekan, (3)
Tahanan tekan nominal, (4) Panjang tekuk, (5) Masalah tekuk lokal, (6)
Komponen struktur tekan tersusun, (7)Tekuk torsi dan tekuk lentur torsi. Topik
bahasan ini bertujuan agar mahasiswa dapat menerapkan criteria dan prosedur
perencanaan batang tekan berdasarkan metode LRFD.

5.1 Elemen Batang Tekan


Komponen struktur tekan dapat terdiri dari profil tunggal seperti; profil
IWF, Tee, Hollow, Pipa atau profil tersusun yang digabung dengan menggunakan
pelat kopel. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5.1.

Gambar 5.1 Bentuk-bentuk tipikal batang tekan (Salmon, 1995)

Elemen batang tekan dapat dijumpai pada batang atas (top chord) dari
struktur rangka dengan pembebanan gravitasi.

5.2 Persyaratan Desain Batang Tekan


Suatu komponen struktur yang mengalami gaya tekan konsentris, akibat
beban terfaktor Nu. Menurut SNI 03-1729-2002, pasal 9.1 harus memenuhi:
≥ 5.1

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-1


dimana ;
= kuat tekan nominal terfaktor atau kuat desain atau
kuat rencana dari penampang batang tekan
= gaya ultimat/beban tekan maksimum terfaktor
= faktor reduksi kekuatan (= 0,85)
Selain parameter kekuatan penampang, standar perencanaan (pasal 7.6.4)
juga menetapkan batas kelangsingan ( = ⁄ ) sebagai persyaratan kekakuan
yang bertujuan mengurangi problem yang terkait dengan lendutan besar, vibrasi
dan tekuk. Untuk batang-batang yang direncanakan terhadap tekan, nilai
kelangsingan batang (λ) dibatasi sebesar 200.
Syarat kestabilan dalam mendesain komponen struktur tekan sangat perlu
diperhatikan, mengingat adanya bahaya tekuk (buckling) pada komponen-
komponen tekan yang langsing.
Kelangsingan penampang yang diwakili oleh perbandingan lebar dengan
tebal (b/tf atau h/tw) pada profil tipis dapat menimbulkan masalah tekuk local pada
penampang, persyaratan ini dibahas dalam pasal 5.5.

5.3 Tahanan Tekan Nominal (Nn)


Daya dukung nominal Nn struktur tekan dihitung sebagai berikut:

Nn = Ag .fcr = Ag. 5.2

Dengan besarnya ω ditentukan oleh λc , yaitu :


Untuk λc < 0,25 maka ω = 1 5.3a
,
Untuk 0,25 < λc < 1,2 maka ω = 5.3b
, ,

Untuk λc > 1,2 maka ω = 1,25 λc2 5.3c


Dimana λc merupakan nilai kelangsingan batang tekan pada saat
penampang mengalami tegangan kritis untuk daerah elastic, dituliskan sebagai :
2

1
= 5.4

sehingga : λc = 5.5

dengan ;
= luas penampang bruto batang tekan

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-2


= tegangan kritis batang tekan
= tegangan leleh
= factor tekuk
= kelangsingan batang tekan =

5.4 Panjang Tekuk (Lk)


Kolom dengan kekangan yang besar terhadap rotasi dan translasi pada
ujung-ujungnya (contohnya tumpuan jepit) akan mampu menahan beban yang
lebih besar dibandingkan dengan kolom yang mengalami rotasi serta translasi
pada bagian tumpuan ujungnya (contohnya adalah tumpuan sendi). Selain kondisi
tumpuan ujung, besar beban yang dapat diiterima oleh suatu komponen struktur
tekan juga tergantung dari panjang efektifnya, semakin kecil panjang efektif suatu
komponen struktur tekan, maka semakin kecil pula risikonya terhadap masalah
tekuk.
Panjang efektif suatu kolom secara sederhana dapat didefenisikan sebagai
jarak di antara dua titik pada kolom tersebut yang mempunyai momen sama
dengan nol, atau didefenisikan pula sebagai jarak di antara dua titik belok dari
kelengkungan kolom. Dalam perhitungan kelangsingan komponen struktur tekan
(λ = L/r), panjang komponen struktur yang digunakan harus dikalikan suatu faktor
panjang tekuk (k) untuk memperoleh panjang efektif dari kolom tersebut.
Besarnya faktor panjang efektif sangat bergantung dari kondisi perletakan pada
ujung-ujung komponen struktur tersebut. Prosedur penentuan nilai k dilakukan
dengan analisa tekuk terhadap suatu kolom, dan cara analisa tekuk terhadap suatu
kolom, dan cara analisa tersebut tidak dibahas dalam buku ini.
SNI 03-1729-2002 pasal 7.6.3.1 memberikan daftar nilai faktor panjang
tekuk untuk berbagai kondisi tumpuan ujung dari suatu kolom. Nilai k ini
diperoleh dengan mengasumsikan bahwa kolom tidak mengalami goyangan atau
translasi pada ujung-ujung tumpuannya, kondisi-kondisi tumpuan ujung yang
ideal seperti ditunjukkan dalam Gambar 5.2.

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-3


Gambar 5.2 Panjang Tekuk untuk Beberapa Kondisi Perletakkan (SNI 03-1729-2002
Gbr.7.6.1)
Untuk komponen struktur tekan yang merupakan bagian dari suatu
struktural portal kaku seperti dalam gambar 5.3, maka nilai k harus dihitung
berdasarkan suatu nomogram. Tumpuan-tumpuan pada ujung kolom tersebut
ditentukan oleh hubungan antara balok dengan kolom-kolom lainnya. Portal
dalam Gambar 5.3.a dinamakan sebagai portal bergoyang sedangkan portal dalam
Gambar 5.3.b disebut sebagai portal tak bergoyang (goyangan dicegah dengan
mekanisme kerja dari bresing-bresing yang dipasang).

Gambar 5.3 Portal Kaku Bergoyang dan Tanpa Goyangan

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-4


Nilai k untuk masing-masing sistem portal tersebut dapat dicari dari
nomogram dalam Gambar 5.4, dimana nilai k merupakan fungsi dari GA dan GB
yang merupakan perbandingan antara kekakuan komponen struktur yang dominan
terhadap tekan (kolom) dengan kekakuan komponen struktur yang relatif bebas
terhadap gaya tekan (balok). Nilai G ditetapkan berdasarkan persamaan:
∑⦋LI ⦌c
G= 5.6
∑⦋LI ⦌b

Persamaan 5.6 dapat dikecualikan untuk kondisi_kondisi berikut:


a. Untuk komponen struktur tekan yang dasarnya tidak terhubungkan secara
kaku pada pondasi (contohnya tumpuan sendi), nilai G tidak boleh diambil
kurang dari 10, kecuali bila dilakukan analisa secara khusus untuk
mendapatkan nilai G tersebut.
b. Untuk komponen struktur tekan yang dasarnya terhubungkan secara kaku
pada pondasi (tumpuan jepit), nilai G tidak boleh diambil kurang dari 1,
kecuali dilakukan analisa secara khusus untuk mendapatkan nilai G tersebut.

Gambar 5.4 Nomogram factor panjang tekuk, k (SNI 03-1729-2002 Gbr.7.6.2)

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-5


Besaran ∑ ⦋ ⦌ c dihitung dengan menjumlahkan kekakuan semua

komponen struktur tekan (kolom) dengan bidang lentur yang sama yang
terhubungkan secara kaku pada ujung komponen struktur yang sedang ditinjau.

Besaran ∑ ⦋ ⦌ b dihitung dengan menjumlahkan kekakuan semua

komponen struktur lentur (balok) dengan bidang lentur yang sama yang
terhubungkan secara kaku pada ujung komponen struktur yang sedang ditinjau.

 Contoh 5.1 :
Hitunglah nilai k untuk masing-masing kolom dalam struktur berikut:

Jawab :

Faktor kekakuan masing-masing elemen:

Elemen Profil I(cm) L (cm) I/L


AB WF 200.200.8.12 4720 350 13,486
BC WF 200.200.8.12 4720 350 15,73
DE WF 250.125.6.9 4050 350 11,57
EF WF 250.125.6.9 4050 300 13,5
GH WF 200.200.8.12 4720 350 13,486
HI WF 200.200.8.12 4720 300 15,73
BE WF 450.200.9.14 33500 600 55,83
CF WF 400.200.8.13 23700 600 39,5
EH WF 450.300.11.18 56100 900 62,33
FI WF 400.300.10.16 38700 900 43

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-6


Faktor G tiap-tiap joint:

Joint Σ (I/L)c / Σ (I/L)b G


A - 10
B (13,486+15,73) / 55,83 0,523
C 15,73 / 39,5 0,398
D - 10
E (11,57+13,5) / (55,83+62,33) 0,212
F 13,5 / (39,5+43) 0,164
G - 10
H (13,486+15,73) / 62,33 0,469
I 15,73 / 43 0,366

Faktor panjang efektif, k, masing-masing kolom:


Kolom GA Gb k
AB 10 0,523 1,80
BC 0,523 0,398 1,15
DE 10 0,212 1,72
EF 0,212 0,164 1,07
GH 10 0,469 1,79
HI 0,469 0,366 1,18

5.5 Masalah Tekuk Lokal


Jika penampang melintang suatu komponen struktur tekan cukup tipis,
maka akan ada kemungkinan timbul tekuk lokal terjadi maka komponen struktur
tersebut tidak akan lagi mampu memikul beban tekan secara penuh, dan ada
kemungkinan pula struktur tersebut akan mengalami keruntuhan. Profil-profil WF
dengan tebal flens yang tipis cukup rawan terhadap bahaya tekuk lokal, sehingga
penggunaan profil-profil demikian sebaiknya dihindari.
SNI 03-1729-2002 membatasi rasio antara lebar dengan ketebalan suatu
elemen, dan penampang suatu komponen struktur dapat diklasifikasikan menjadi
penampang kompak, tak kompak dan langsing dengan persyaratan seperti
diuraikan dalam table 5.1. Suatu penampang yang menerima beban aksial tekan
murni, kekuatannya harus direduksi jika penampang tersebut termasuk
penampang yang langsing. Rasio antara lebar dengan tebal suatu elemen biasanya
dinotasikan dengan simbol λ. Untuk profil WF maka kelangsingan flens dan web

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-7


dapat dihitung berdasarkan rasio bf/2tf dan h/tw dengan bf dan tf adalah lebar dan
tebal dari flens sedangkan h dan tw adalah tinggi dan tebal dari web. Jika nilai λ
lebih besar dari suatu batas yang ditentukan λr maka penampang dikategorikan
sebagai penampang langsing dan sangat potensial mengalami tekuk lokal.
Batasan-batasan λr untuk berbagai tipe penampang ditunjukkan dalam Gambar
5.5.
Tabel 5.1 Batas kelangsingan penampang, λr (SNI 03-1729-2002 Tabel.7.5.1)

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-8


Tabel 5.1 Batas kelangsingan penampang, λr (lanjutan)

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-9


Gambar 5.5 Nilai batas λr untuk berbagai tipe penampang

5.6 Komponen Struktur Tekan Tersusun


Komponen struktur tekan dapat tersusun dari dua atau lebih profil, yang
disatukan dengan menggunakan pelat kopel. Analisis kekuatannya harus dihitung
terhadap sumbu bahan dan sumbu bebas bahan. Sumbu bahan adalah sumbu yang
memotong semua elemen komponen struktur tersebut, sedangkan sumbu bebas

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-10


bahan adalah sumbu yang sama sekali tidak, atau hanya memotong sebagian dari
elemen komponen struktur tersebut. Analisis dilakukan sebagai berikut :
Kelangsingan pada arah sumbu bahan (sumbu x) dihitung dengan :
.
λx = 5.7
dan pada arah sumbu bebas bahan harus dihitung kelangsingan ideal λiy
λiy = + 5.8
dan
.
λy = dan λl = 5.9
dengan :
Lx, Ly = panjang komponen struktur tekan arah x dan arah y
k = faktor panjang tekuk
rx, ry, rmin = jari-jari girasi komponen struktur
m = konstanta yang besarnya ditentukan dalam peraturan
L1 = jarak antar kopel pada arah komponen struktur tekan
Pelat kopel yang digunakan harus cukup kaku sehingga memenuhi
persamaan :

≥10

dengan :
Ip = momen inersia pelat kopel, untuk pelat kopel di muka dan di
belakamg yang tebalnya t dengan tinggi h, maka
I1 = momen inersia minimum satu buah profil
a = jarak antar dua pusat titik berat elemen komponen struktur
Selain ketentuan tersebut di atas, untuk menjaga kestabilan elemen-elemen
penampang komponen struktur, maka harga λx, λiy, dan λ1 harus memenuhi :
λx ≥ 1,2 λ1
λiy ≥ 1,2 λ1 5.10
λi ≥ 50
Pelat kopel harus dihitung dengan menganggap bahwa pada seluruh
panjang komponen struktur tersusun tersebut bekerja gaya lintang yang besarnya :
Du = 0,02 Nu 5.11

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-11


 Contoh 5.2 :
Rencanakan komponen struktur tekan berikut dengan memakai profil WF
Kondisi perletakan jepit-sendi. Beban aksial tekan terfaktor Nu = 120 ton.
Mutu baja B 37 (fy = 240Mpa, fu = 370 Mpa). Panjang batang L = 4500 mm.

Coba profil WF 300.200.9.14


d = 298 mm
b = 201 mm
tw = 9 mm
tf = 14 mm
r0 = 18 mm
h = d-2(tf+r0) = 234 mm
rx = 126 mm
ry = 47,7 mm
Ag = 8336 mm2

Jawab :
Periksa kelansingan penampang :

Flens = = 7,18

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-12


665
= = = 42,92

< λr

Web = = 26
665
= = = 42,92

< λr

Penampang ….. OK !
Kondisi tumpuan jepit-sendi, k = 0,8
Arah sumbu kuat (sumbu x) :
. ,
λx = = = 28,57

,
λcx = = = 0,3149
,
0,25 < λcx < 1,2 → ωx =
, ,
,
ωx = = 1,0295
, ( , , )

Nn = Ag . fcr = Ag . = 8336 = 194,3 ton


,

= = 0,73 < 1
∙ , ,

Arah sumbu lemah (sumbu y) :


. ,
λy = = = 75,47
,

,
λcy = = = = 0,832

,
0,25 < λcy < 1,2 → ωy =
, ,
,
ωy = = 1,372
, ( , , )

Nn = Ag . fcr = Ag . = 8336 = 145,82 ton


,

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-13


= = 0,97< 1 OK
∙ , ,

Jadi, profil WGF 300.200.9.14 cukup untuk memilkul beban tekan terfaktor
120 ton.

 Contoh 5.3 :
Rencanakan komponen struktur tekan berikut, yang menerima beban aksial
tekan terfaktor, Nu = 60 ton. Gunakan profil T . panjang batang 4000 mm,
dengan kondisi tumpuan jepit-jepit. Mutu baja BJ 37

Jawab :
Periksa kelansingan penampang :
Flens = = 8,93
250
= = = 16,14

< λr OK
.

Web = = 13,88
335
= = = 21,62

< λr Penampang ….. OK

Kondisi tumpuan jepit-jepit, faktor panjang tekuk k = 0,65


Arah sumbu lemah (sumbu x) :
. ,
λx = = = 87,25
,

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-14


,
λcx = = = 0,9617
,
0,25 < λcx < 1,2 → ωx =
, ,
,
ωx = = 1,4963
, ( , , )
Nn = Ag . fcr = Ag . = 4600 = 73,93 ton
,

= = 0,955 < 1 OK
∙ , ,

Arah sumbu kuat (sumbu y) :


. ,
λy = = = 41,335
,
,
λcy = = = =0,4556
,
0,25 < λy < 1,2 → ωy =
, ,
,
ωy = = 1,1043
, ( , , )
Nn = Ag . fcr = Ag . = 4609 = 100,16 ton
,

= = 0,705< 1 OK
∙ , ,

Jadi, profil T 125.250 cukup untuk memikul beban terfaktor Nu= 60 ton

5.7 Tekuk Torsi dan Tekuk Lentur Torsi


Jika sebuah komponen struktur tekan dibebani beban aksial tekan sehingga
terjadi tekuk terhadap keseluruhan elemen tersebut ( bukan tekuk lokal), maka ada
tiga macam potensi tekuk yang mungkin terjadi di antaranya :
a. Tekuk lentur, pada umumnya kekuatan komponen struktur dengan beban
aksial tekan murni ditentukan oleh tekuk lentur. Hingga komponen struktur
tekan yang dibahas adalah komponen struktur tekan yang mengalami tekuk
lentur. Tekuk lentur yang menghasilkan defleksi terhadap sumbu lemah
(sumbu dengan rasio kelangsingan terbesar). Setiap komponen struktur tekan
dapat mengalami kegagalan akibat tekuk lentur.

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-15


b. Tekuk torsi, model tekuk ini terjadi akibat adanya puntir dalam sumbu
memanjang komponen struktur tekan. Tekuk torsi hanya terjadi pada elemen-
elemen yang langsing dengan sumbu simetri ganda. Bentuk profil standar
hasil gilas panas umumnya tidak mempunyai resiko terhadap tekuk torsi,
namun profil yang tersusun dari pelat-pelat tipis harus diperhitungkan
terhadap tekuk torsi. Sebagai contoh, penampang yang riskan terhadap tekuk
torsi adalah penampang berbentuk silang dalam gambar 5.6.b. penampang
dapat disusun dari empat buah profil siku yang diletakkansaling membelakngi.
c. Tekuk lentur torsi, yang terjadi akibat kombinasi dari tekuk lentur dan tekuk
torsi. Batang akan terlentur dan terpuntir secara bersamaan. Tekuk lentur torsi
dapat terjadi pada penampang=penamoang dengan satu sumbu simetri saja
dapat terjadi pada penampang-penampang tanpa sumbu simetri seperti profil
siku tunggal tak sama kaki dan profil Z.

(a) Tekuk lentur (b) Tekuk Torsi (c) Tekuk Lentur Torsi

Gambar 5.6 Tiga macam Model Komponen Struktur Tekan

Gambar 5.7.a menunjukkan sebuah komponen struktur tekan dengan


penampang melintang berbentuk silang, sedangkan gambar 5.7b adalah sebuah
potongan sepanjang dz dari komponen struktur tersebut. Pada suatu potongan
elemen dA bekerja gaya tekan f.dA. pada awalnya tegangan yang terjadi adalah

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-16


seragam pada seluruh panjang elemen sebab beban tekan yang bekerja adalah
konsentris. Akibat beban yang bekerja akhirnya suatu titik terletak sejarak z dari
ujung elemen akan tertekuk seperti pada Gambar 5.7.b. perpindahan pada titik
tersebut dari posisi awalnya adalah sebesar u + du, dari gambar 5.7.a diperoleh
hubungan :
u =r.ф 5.12
dengan f adalah sudut puntir dan r adalah jarak dari pusat geser ke dA.
Jumlahkan momen-momen terhadap sumbu z dalam gambar 5.7.c :
dTv = ∫ . . =0 5.13
jumlahkan pula momen-momen dalam gambar 5.7.d :
dM.dr + Q.dr.dz + f.dA.du =0 5.14

Gambar 5.7 Tekuk Lentur Torsi pada Penampang Berbentuk Silang

dari persamaan 5.14, selesaikan untuk Q dan kemudian diferensialkan ke –z:

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-17


Q.dr = - .dr – f.dA 5.15

.dr = - .dr – f.dA 5.16

Bagilah persamaan 5.13 dengan dz, dan subtitusikan hasilnya ke dalam


persamaan 5.16

+ ∫ r. ∙ dr = 0 5.17

+∫ . − . . =0 5.18
2 2
- +∫ . 2 . − . . 2 . =0 5.19

Karena M adalah momen persatuan r, maka momen pada elemen dA


(=t.dr) adalah M.dr, sehingga :
.
M.dr = EI = E. . 5.20

Dengan I = t3.dr/12 adalah momen inersia dari elemen dA. Diferensiasikan


persamaan 5.20 dua kali ke-z dan subtitusikan d2 M/dz2 ke dalam persamaan 5.19,
sehingga diperoleh hubungan :

- + . ∫ . dr +f ∫ . . =0 5.21

karena Te = G.J ,sehingga =G.J . subtitusikan dTv/dz dalam


persamaan 5.21:
.
- G.J.ф” + . фiv . ∫ . + . ϕ" ∫ . =0 5.22

Dengan mengingat bahwa :


.
∫ . =4 . = 5.23

Dan ∫ . = Ip (Ip adalah inersia polar) 5.24


Maka persamaan 5.22 dapat disederhanakan menjadi :
. .
- G.J. ф” + . ф iv . + . ϕ" . p = 0 5.25

. .
. ф iv . +( f.Ip –G,J). ф “ = 0 5.26

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-18


. . iv
Atau . ф + +( f.Ip –G,J). ф “ = 0 5.27

Faktor b3.t3/9 disebut sebagai konstanta torsi warping, Cw untuk


penampang berbentuk silang. Masalah konstanta torsi warping merupakan bagian
pembahasan tentang torsi. Persamaan 5.27 dapat disederhanakan menjadi :
. – ,
Φw + ф “ =0 5.28
.

Atau Φw + K2 . ф” = 0 5.29
. – ,
Dengan K2= 5.30
.
Persamaan 5.29 merupakan suatu persamaan diferensial linear homogen
order keempat, yang mempunyai solusi
Φ = A.sin Kz + B.cos Kz + C.z +D 5.31
Konstanta A, B, C dan D dapat ditentukan dengan menggunakan kondisi batas
yang ada. Jika tumpuan pada ujung-ujung kolom adalah jepit, maka dapat
digunakan empat buah kondisi batas sebagai berikut :
ΦL = 0 = 0 0=B+D
ΦL = L = 0 0 = A.sin KL + B.cos KL +CL +D

z =0 = 0 0 = A.K + C

z=L=0 0 = A.K.cos KL – B.K.sin KL + C

Eliminasi C dan D dari keempat persamaan tersebut sehingga diperoleh dua buah
persamaan linear :
A(sin KL – KL) + B (cos KL – 1) = 0 5.32a
A(cos KL – 1) - B.sin KL =0 5.32b
Solusi dari sistem persamaan linear tersebut eksis jika determinan dari persamaan
tersebut sama dengan nol, jika evaluasi terhadap determinan dilakukan dan
disamakan dengan nol, maka akan diperoleh persamaan :

Sin . 2. sin − . cos =0 5.33

Persamaan 5.33 terpenuhi, jika KL/2 = π atau KL/2 = 4,49. Substitusikan nilai
akar terkecil ke dalam persamaan 5.30, sehingga didapat tegangan kritis
minimum:

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-19


. .
fcr = + 5.34
.

Jika ujung-ujung kolom adalah tumpuan sendi, maka kondisi batas yang ada
adalah d2u/dz2 = 0 pada z = 0 L, serta ф = 0 pada kedua ujung kolom, maka
diperoleh besar tegangan kritis :
. .
fcr = + 5.35
.

Secara umum fcr dapat dituliskan menjadi :


. .
fcr = +( ).
5.36

Dengan k adalah faktor panjang efektif yang tergantung pada tumpuan ujung
kolom, k = ½ untuk jepit k = 1 untuk sendi. Persamaan 5.36 berlaku untuk profil-
profil dengan dua sumbu simetri (sebagai contoh adalah profil silang dan profil
WF). Selanjutnya dapat ditentukan jari-jari girasi profil yang dapat menimbulkan
tekuk lentur torsi, yaitu dengan cara menyatakan fcr dari Pcr/Ag = ∙ ⁄( . / )
dan fcr dari persamaan 5.36 :
. .
( . / )
= +( ).
5.37

, . ( . )
= 5.38

Jika rt dari persamaan 5,38 lebih kecil dari rx atau ry profil, maka keruntuhan profil
akan ditentukan oleh tekuk lentur torsi dalam persamaan 5.37 adalah momen
inersia polar terhadap pusat geser.

 Contoh 5.4 :
Tentukan tipe keruntuhan komponen
struktur tekan berikut ini, jika diketahui
bahwa panjang kolom tersebut adalah
4,5 m dan pada ujung-ujung kolom
tidak terjadi momen torsi (kekangan
jepit).

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-20


Jawab :
Ix = Iy = 2. .b3 . t
,
= = 2700 cm3

= Ix + Iy = 5400 cm4

= 4. . b3 . t = 4. .15 (12)3

= 34,56 cm4
. ( , )
Cw = = = 648 cm6

= ry = = 6,124 cm

, ( , )( ⁄ )
= = 13,08 cm2
= 3,62 cm
Jadi, profil tersebut akan mengalami keruntuhan akibat tekuk lentur torsi.

 Contoh 5.5 :
Periksalah apakah keruntuhan tekuk
lentur torsi dapat terjadi pada profil WF
400.200.8.13 di samping ini :

Jawab :
J = 1/3 [2 (200)(13) + (375)(8) ]
= 2140576 mm4
Cw = h2 . Iy / 4
= (400 – 13)2 (1740 .104) / 4
= 65149515 . 104 mm4
Ip = Ix + Iy = (23700 + 1740) .140 = 25440, 104 mm4
, . . ,
rt = + = +
. .

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-21


= 2560,91 + 0,000336 .
rt min = 50,60 mm (dicapai jika L = 0)
karena rt min > ry (=45.4 mm), maka profil ini tidak akan mengalami tekuk
lentur torsi, dan keruntuhannya ditentukan oleh tekuk lentur terhadap sumbu
y.
SNI 03-1729-2002 pasal 9.2 mensyaratkan pemeriksaan terhadap tekuk
lentur torsi untuk profil-profil siku ganda dan profil T. Dinyatakan bahwa kuat
tekan rencana akibat tekuk torsi, фn.Nnlt dari komponen struktur tekan yang terdiri
dari siku ganda atau berbentuk T, harus memenuhi :
Nu < фn.Nnlt 5.39
Dengan :
фn = 0,85
Nnlt = Ag . fnlt

. . .
fnlt = 1− 1− 5.40

dan
.
= 5.41

= + + 5.42

H = 1- 5.43

Keterangan :
a. x0, y0 merupakan koordinat pusat geser terhadap titik berat, x0 = 0
untuk siku ganda dan profil T.
b. fcry = fy /ωiy

c. G adalah modulus geser, G =


( )

d. J adalah konstanta puntir, J = ∑ .

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-22


 Contoh 5.6 :
Periksalah apakah profil ⊥ 60.90.10 berikut cukup kuat menahan beban aksial
terfaktor Nu = 30 ton, jika penampang batang 3 m dan kondisi perletakan jepit-
sendi. Mutu baja BJ 37.

Jawab :
Periksa kelansingan penampang :

Flens ; = =9

= = 12,91

< → penampang tidak kompak

Web ; tidak ada syarat


Kondisi tumpuan jepit-sendi, k = 0,8
Dicoba menggunakan 6 buah pelat kopel

L1 = - 600

λ1 = = = 46,875 < 50 OK
,

Arah sumbu bahan (sumbu x) :


. ,
λ1 = = = 85,10
,

λ1 (= 85,10) > 1,2 λ1 (= 56,25) OK


arah sumbu bebas bahan (sumbu y):
λy = 2 (λy1 + Ag(ey + tp/2)

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-23


λy = 2 (39,6.104 + 1410 (15,6 +4)2) = 1.875.331,2 mm4
Aprofil = 2 x 1410 = 2820 mm2

,
ry = = = 25, 7878 mm

. ,
λ1 = = = 93,06
25,7878

kelangsingan ideal:

λiy = +

λiy = 93,06 + 46,875 = 104,1989

λiy (= 104,1989) > 1,2 λi (=48,696) OK


karena λiy > λx tekuk terjadi pada sumbu bebas bahan

,
λcy = = = 1,1489
,
0,25 < λcy <1,2 → ωy =
, ,
,
ωy = =1,722
, ( , , )

Nn = Ag. fcr = Ag = 2820 = 39,3 ton


,

Periksa terhadap tekuk lentur torsi :


Nult = Ag . felt
. . .
Felt = 1− 1−

. . .
Felt = 1− 1−

.
=

G=
( )
== (
= 76923 Mpa
, )

J=∑ . = 2 . 60. 10 + . (90 − 10). 10 = 93333,3 mm4

Y0 = ex – t/2 = 30,5 –(10/2) =25,5 mm

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-24


X0 = 0
( , ).
= + + = + 0 + 25,5 = 1187,84 mm2
,
= = 2143,314 Mpa
,
,
H = 1- = 1- = 0,4526
,

fcry = fy /ωiy = 240 / 1,722 = 139, 373 Mpa


felt = 134,41 Mpa
Nult = Ag . felt = 2820 x 134,41 = 37,9 ton
Jadi, tekuk lentur torsi menentukan
Φc.Nnlt = 0,85 x 37,9 = 32,2 ton

= = 0,93 <1
. ,

Dengan demikian, Profil ⊥ 60.90.10 cukup kuat

 Contoh 5.7 :
Sebuah komponen struktur tekan dengan beban aksial terfaktor Nu = 80 ton
dan memiliki panjang batang 4,5 m. Rencanakan komponen struktur tersebut
dari dua buah profil kanal tersusun, rencanakan pula dimensi pelat kopelnya.
Mutu baja BJ 37.
Jawab :
Dicoba profil kanal CNP 20 :

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-25


Kondisi tumpuan jepit-sendi k =0,65
Periksa kelangsingan penampang ;

Flens ; = = 6,52
,

= = 16,137

< OK

Web ; = = 23,53
,

= = 42,92

< λr OK

Dicoba pasang 10 pelat kopel

L1 = = 500

λ1 = = = 23,36 < 50 OK
,

arah sumbu x :
. ,
λ1 = = = 37,99

λ1 (= 37,99) > 1,2 λ1 (= 28,031) OK


arah sumbu bebas bahan (sumbu y):
Iy = 2 (Iy1 + Ag(ey + tp/2)
Iy = 2 (148.10 + 3220 (20.1 +5)2) = 7.017.264,4 mm4
Aprofil = 2 x 3220= 6440 mm2

7.017.264,4
ry = = = 33,01 mm

. ,
λ1 = = = 88,61
33,01

kelangsingan ideal:

λiy = +

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-26


λiy = 88,61 + 23,36 = 91,64

λiy (= 91,64) > 1,2 λi (=28,032) OK


karena λiy > λx tekuk terjadi pada sumbu bebas bahan

,
λcy = = = 1,0105
,
0,25 < λcy <1,2 → ωy =
, ,
,
ωy = =1,549
, ( , 1,0105 )

Nn = Ag. fcr = Ag = 6440 = 99,78 ton


,

Φc.Nnlt = 0,85 x 99,78 = 84,8 ton

= = 0,94 <1 OK
. ,

Perhitungan dimensi pelat kopel :


Syarat kekuatan pelat kopel, adalah harus dipenuhinya :

≥ 10 .a

I1 = Imin = 148.104 mm4


L1 = 500 mm
a =2e +tp = (2 x 20,1) +10 =50,2 mm

Ip ≥ 10 .a

.
Ip ≥ 10 .50,2

Ip ≥ 1485920 mm4
Bila Ip = 2. t.h3 hubungan tebal pelat (t = 8 mm) diperoleh h> 103,6 mm

gunakan h = 110 mm.


Cek kekuatan pelat kopel :
Du = 0,02 Nu = 0,02 x 80 ton = 1,6 ton
Gaya sebesar 1,6 ton dibagi untuk 10 pelat kopel, sehingga masing-maisng
kopel memikul 0,16 ton.

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-27


Kuat geser plat kopel :

λw = = = 13,75

kn = 5 + =5+ =29
( ∕ ) ( , ∕ )

.
1,1 = 1,1 = 171

.
λw < 1,1 sehingga

Vn = 2 . 0,6 . fy. Aw = 2(0,6) (240) (110) (8) = 25,344 ton


Φ Vn = 0,9 Vn = 0,9 (25,344) = 22,8 ton
,
= = 0,009 < 1
,

 Contoh 5.8 :
Sebuah kolom dari profil baja (BJ 37) dengan panjang batang 5m, mempunyai
tumpuan ujung sendi-sendi. Pada arah sumbuh lemah diberi sokongan lateral
di tengah bentang. Beban aksial terfaktor, Nu = 75 ton. Pilihlah profil WF
yang mencukupi kebutuhan kolom tersebut.
Jawab :
Coba profil INP 30, dengan data penampang ;

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-28


Periksa kelangsingan penampang ;

Flens ; = = 3,858
,

= = 10,97

< → penampang kompak

Web ; = = 22,31
,

= = 108,44

< → penampang kompak

arah sumbu x :
.
λx = = = 42,017

arah sumbu bebas bahan (sumbu y):


.
λy = = = 97,656
,

λy > λx (batang menekuk kearah sumbu lemah)

,
λcy = = = 1,0768
,
0,25 < λcy <1,2 → ωy =
, ,
,
ωy = =1,6277
, ( , 1,0768)

Nn = Ag. fcr = Ag = 6910 = 101,88 ton


,

= = 0,866 <1 OK!


. ,

 Latihan 5.1 :
Hitunglah tahanan tekan rencana dari masing-masing komponen struktur tekan
yang ditunjukkan dalam gambar 5.8.

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-29


(a) (a) (a)
Gambar L.5.1

 Latihan 5.2 :
Periksalah bahaya tekuk lokal dari masing-masing komponen struktur tekan
dalam soal Latihan 5.1 !

 Latihan 5.3 :
Jika masing-masing komponen struktur tekan dalam soal 5.1 diberi pengekang
lateral dalam arah sumbu lemah, hitunglah besarnya tahanan tekan
rencananya!

 Latihan 5.4 :
Profil WF 350.175.7.11 digunakan sebagai suatu komponen struktur tekan
dengan panjang 9 m. Pada tiap interval 3 m dipasang pengekang lateral dalam
arah sumbu lemah. Ujung-ujung komponen struktur tekan tersebut berupa
tumpuan sendi dan mutu baja BJ 37. Jika rasio D/L = 0,5 hitunglah beban
kerja yang dapat dipikul oleh komponen struktur tekan tersebut !

 Latihan 5.5 :
Sebuah komponen struktur tekan didesain agar mampu menahan beban tekan
aksial yang terdiri dari beban mati 500 kN dan beban hidup 1000 kN, batang
ini memiliki panjang 8,5 m dann pada jarak 3,5 m dari tepi atas di pasang

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-30


pengekang lateral dalam arah sumbu lemah. Dengan menggunnakan mutu baja
BJ 41 pilihlah profil WF yang ekonomis ! ( tumpuan ujung adalah sendi).

 Latihan 5.6 :
Suatu portal bergoyang terdiri dari kolom WF 200.200.8.12 dan balok WF
250.125.6.9, mutu baja BJ 37. Tiap batang disusun sedemikian rupa sehingga
lentur terjadi dalam arah sumbu kuat. Asumsikan ky = 1,0. hitunglah besarnya
kx untuk kolom-kolom portal tersebut dengan menggunakan nomogram yang
ada. Hitunglah pula tahanan tekan rencana dari kolom tersebut.

Gambar L.5.6

as/mk-konstruksi baja I/ponefak/2014 V-31

Anda mungkin juga menyukai