Anda di halaman 1dari 32

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

LAPORAN KASUS

disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik madya


SMF Ilmu Penyakit Obstetri dan Ginekologi RSD dr. Soebandi Jember

Oleh
Aditha Fitrina Andiani
122011101049

Pembimbing
dr. Yonas Hadisubroto, Sp. OG

SMF ILMU PENYAKIT OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSD dr. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2017
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 2
2.1 Definisi........................................................................................... 2
2.2 Epidemiologi.................................................................................. 2
2.3 Etiologi .......................................................................................... 4
2.4 Klasifikasi...................................................................................... 7
2.5 Patofisiologi ................................................................................... 9
2.6 Gejala Klinis ................................................................................. 12
2.7 Diagnosis ....................................................................................... 13
2.8 Penatalaksanaan ........................................................................... 18
2.9 Diagnosis Banding. ........................................................................ 21
2.10 Prognosis ..................................................................................... 22
BAB 3. LAPORAN KASUS ........................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 26

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Kehamilan ektopik merupakan masalah yang besar bagi wanita yang sedang dalam
usia reproduktif karena hal ini merupakan gangguan pada sistem reproduksi dimana hasil
konseptus (kantung gestasi) berimplantasi dan matang diluar kavitas endometrium (di luar
rongga rahim atau kehamilan di dalam rahim yang bukan pada tempat seharusnya, misalnya
kehamilan yang terjadi pada cornu uteri) dan dapat berakhir pada kematian janin. Tanpa
dilakuan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat, kehamilan ektopik ini dapat menjadi
keadaan yang membahayakan jiwa bagi janin dan ibu.3 Kehamilan ektopik menjadi penyebab
utama kematian yang berhubungan dengan kehamilan dalam trimester pertama kehamilan di
Amerika Serikat. Frekuensi kehamilan ektopik adalah 1% dari seluruh kehamilan dan 90%
kasus terjadi pada tuba Fallopi. Selain di tuba Fallopi, kehamilan ektopik dapat juga terjadi di
ovarium, serviks, atau rongga abdomen.8 Kehamilan ektopik terutama akibat gangguan
transportasi ovum yang telah dibuahi dari tuba Fallopii ke rongga rahim, selain akibat
kelainan ovum yang dibuahi itu sendiri adalah predisposisi kehamilan ektopik.6
Bila kehamilan tersebut mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut
kehamilan ektopik terganggu (KET). KET dapat menyebabkan terjadi abortus maupun ruptur
yang menyebabkan penurunan keadaan umum pasien. Trias gejala dan tanda dari kehamilan
ektopik adalah riwayat keterlambatan haid atau amenorrhea yang diikuti perdarahan abnormal
(60-80%), nyeri abdominal atau pelvik (95%). Biasanya kehamilan ektopik baru dapat
ditegakkan pada usia kehamilan 6–8 minggu saat timbulnya gejala tersebut di atas. Gejala lain
yang muncul biasanya sama seperti gejala pada kehamilan muda, seperti mual, rasa penuh
pada payudara, lemah, nyeri bahu, dan dispareunia. Selain itu pada pemeriksaan fisik
didapatkan pelvic tenderness, pembesaran uterus dan massa adneksa.10
Riset World Health Organization (WHO) 2007 menunjukkan bahwa, KET merupakan
penyebab satu dari 200 (5-6%) mortalitas maternal di negara maju.Dengan 60.000 kasus
setiap tahun atau 3% dari populasi masyarakat, angka kejadian KET di Indonesia diperkirakan
tidak jauh berbeda dengan negara maju,. Kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa oleh
karena itu deteksi dini dan pengakhiran kehamilan merupakan tatalaksana yang disarankan
yaitu dengan obat-obatan atau operasi.12

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kehamilan ektopik adalah semua kehamilan dimana sel telur yang dibuahi oleh
spermatozoa berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uterus.1Tuba falopii
merupakan tempat tersering terjadinya implantasi kehamilan ektopik dan dapat juga terjadi
pada ovarium, kavum abdomen,kanalis servikalis uteri, kornu uterus yang rudimenter dan
divertikel pada uterus.4Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah kehamilan ektopik disertai
terjadi abortus atau pecah, dan apabila terjadi ruptur di lokasi implantasi kehamilan, maka
akan terjadi keadaan perdarahan masif dan nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan
ektopik terganggu.12

2.2 Epidemiologi
Frekuensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan intrauteri dalam satu konsepsi yang
spontan terjadi dalam 1 dalam 30.000 atau kurang. Angka kehamilan ektopik per 1000
diagnosis konsepsi, kehamilan atau kelahiran hidup telah dilaporkan berkisar antara 2,7
hingga 12,9. Angka kejadian kehamilan ektopik dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
Diantara faktor-faktor yang terlibat adalah meningkatnya pemakaian alat kontrasepsi dalam
rahim, penyakit radang panggul, usia ibu yang lanjut,pembedahan pada tuba, dan pengobatan
infertilitas dengan terapi induksi superovulasi. 1
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumurantara 20-40 tahun
dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan
berkisar antara 0-14,6%. Sekurangnya 95 % implantasi ektopik terjadi di tuba Fallopii. Di
tuba sendiri, tempat yang paling sering adalah pada ampulla, kemudian berturut-turut pada
pars ismika, infundibulum dan fimbria, dan pars intersisialis. Implantasi yang terjadi di
ovarium, serviks, atau cavum peritonealis jarang ditemukan.
Angka kejadian kehamilan ektopik di Amerika Serikat meningkatdalam dekade
terakhir yaitu dari 4,5 per 1000 kehamilan pada tahun 1970 menjadi 19,7 per 1000 kehamilan
pada tahun 1992. Kehamilan ektopik masih menjadi penyebab kematian utama pada ibu
hamil di Kanada yaituberkisar 4% dari 20 kematian ibu pertahun. Pada tahun 1980-an
kehamilan ektopik menjadi komplikasi yang serius dari kehamilan,terhitung sebesar 11%
kematian maternal terjadi di Amerika Serikat.7 Pada perkembangan terbaru di daerah Inggris

2
Raya, kehamilan ektopik masih merupakan penyebab terbesar kematian ibu hamil pada
trimester pertama. Hampir 32.000 kehamilan ektopik tercatat setiap tahunnya di Inggris Raya.
Di Amerika Serikat, jumlah kejadian setiap tahunnya menurun dari 58.178 pada tahun1992
menjadi 35.382 pada tahun 1999. Di Norwegia, diperkirakan angka kejadian ini menurun
seiring dengan menurunnya angka kejadian Pelvic Inflammatory Disease (PID).8

2.3 Etiologi
Etiologi dari KET belum diketahui secara pasti. Pada tiap kehamilan akan dimulai
dengan pembuahan dalam tuba fallopi pars ampullaris kemudian dalam perjalanan hasil
konseptus mengalami hambatan sehingga pada saat masa nidasi masih berada di tuba. Resiko
terjadinya kehamilan ektopik ini meningkat dengan adanya beberapa faktor antara lain adanya
riwayat infertilitas, riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, operasi pada tuba, infeksi pada
pelvis, paparan Diethylstilbestrol (DES), penggunaan IUD, dan fertilisasi in vitro pada
penyakit tuba. Sampai saat ini masih sangat sulit untuk menilai penyebab dari implantasi
ektopik dengan tidak adanya alat pendeteksi kelainan tuba.6

Faktor Risiko Risiko Relatif


Riwayat Kehamilan Ektopik 3-13
Bedah korektif tuba 4
Sterilisasi tuba 9
Alat Kontrasesi dalam rahim 1 - 4,2
Patologi tuba 3,8 – 2,1
Infertilitas 2,5 – 3
Assisted Repproductive Technology 2-8
Riwayat infeksi genital : 2-4
a. Klamidia 2
b. Salpingitis 1,5 - 6
Merokok 1,7 – 4
Riwayat Abortus 0,6 – 3
Banyak mitra seksual 1,6 – 3,5
Riwayat bedah Caesar 1 – 2,1

Tabel 1. Beberapa Faktor Risiko untuk Kehamilan Ektopik (Cunningham,2012)

3
Kehamilan di ovarium dapat terjadi apabila spermatozoa memasuki folikel de Graaf
yang baru pecah danmembuahi sel telur yang masih tinggal dalam folikel atau jika sel telur
yang dibuahi bernidasi di ovarium. Kehamilan intraligamenter biasanya terjadi sekunder dari
kehamilan tuba atau kehamilan ovarial yang mengalami ruptur dan mudigah masuk di antara
dua lapisan ligamentum latum. Kehamilan servikal berkaitan dengan faktor multiparitas yang
beriwayat pernah mengalami abortus atau operasi pada rahim termasuk seksio sesarea.
Sedangkan kehamilan abdominal biasanya terjadi sekunder dari kehamilan tuba, walau ada
yang primer terjadi di rongga abdomen.9 Secara ringkas dapat dipisahkan faktor-faktor pada
tuba yang dapat mendukung terjadinya kehamilan ektopik: 6
1. Faktor dalam lumen tuba :
a. Endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping, sehingga lumen tuba
menyempit atau membentuk kantong buntu;
b. Lumen tuba sempit dan berlekuk-lekuk yang dapat terjadi pada hipoplasia uteri. Hal
ini dapat disertai kelainan fungsi silia endosalping;
c. Lumen tuba sempit yang diakibatkan oleh operasi plastik tuba dan sterilisasi yang
tidak sempurna.
2. Faktor pada dinding tuba :
a. Endometriosis tuba, dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba;
b. Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang
dibuahi ditempat itu.
3. Faktor diluar dinding tuba :
a. Perlekatan peritubal dengan distorsiatau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan
telur;
b. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba.
4. Faktor lain :
a. Migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovum kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya-
dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. Pertumbuhan telur
yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature.
b. Fertilisasi in vitro.
Diantara faktor-faktor tersebut diatas, salpingitis akut merupakan penyebab utama.
Sequele morfologik berpengaruh pada setengah dari episode awal kehamilan ektopik. Tempat
keluar ovum pada ovulasi di ovarium juga disinyalir mempunyai peran dalam kehamilan
ektopik. Ovulasi yang berasal dari arah kontralateral dari ovarium telah dianggap sebagai

4
penyebab dari terlambatnya transport blastokist, dan oleh Breen, dilaporkan bahwa ovulasi
dari arah kontralateral ditemukan pada sepertiga dari gestasi tuba yang diobati dengan
laparatomi. Bagaimanapun juga, Saito dkk. mengamati bahwa bagian dari tuba dimana terjadi
implantasi pada wanita dengan kehamilan ektopik adalah sama pada apakah korpus luteum
berada di ipsilateral atau kontralateral. Jika transmigrasi adalah salah satu faktor, hipotesis
dari mereka adalah ada banyak insiden terjadinya kehamilan di distal tuba dengan ovulasi dari
kontralateral ovarium. 11

Gambar 2.1. Gambaran mikroskopik dari saluran tuba

Penyebab lain yang lebih fisiologik adalah ketidakseimbangan hormonal, yang mana
peningkatan kadar estrogen atau progesteron yang beredar dapat merusak kontraktilitas
normal tuba. Kenaikan rata-rata kehamilan ektopik dilaporkan terjadi pada wanita yang
digambarkan secara fisiologis dan farmakologis mempunyai kadar progestin yang meningkat.
Secara iatrogenik, dapat terjadi peningkatan estrogen dan progesteron setelah induksi ovulasi
baik itu dengan clomiphene citrate atau human menopausal gonadotrophins, dan dilaporkan
terjadi kenaikan angka kehamilan ektopik pada wanita dengan kondisi tersebut. Kemungkinan
penyebab lainnya adalah perkembangan embrionik yang abnormal. Stratford memeriksa pada
44 hasil konseptus dari gestasi ektopik dengan mikrodiseksi dan potongan histologik dan
menemukan sekitar duapertiga abnormal dan setengahnya mempunyai binormalitas struktural
umum. Kelainan abnormal-abnormal ini dapat mengganggu transport normal di tuba.4
Kehamilan yang muncul yang dikarenakan kegagalan beberapa metode kontrasepsi
mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menjadi ektopik dibandingkan pada wanita
yang hamil karena tidak memakai alat kontrasepsi. Wanita yang menjadi hamil sewaktu
memakai IUD Copper T380 atau kontrasepsi oral progestin saja, mempunyai kemungkinan

5
5% lebih tinggi untuk mengalami kehamilan ektopik. Wanita yang menjadi hamil selama
memakai progesterone-releasing IUD bahkan lebih tinggi, sekitar 25%, bahkan bila
dibandingkan dengan wanita yang tidak memakai alat kontrasepsi sama sekali, kemungkinan
terjadi kehamilan ektopik lebih besar dua lipat. Hal ini disebabkan progesteron menghambat
kontraksi tuba. Walaupun pada banyak laporan mengatakan bahwa riwayat aborsi yang
diinduksi meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik, penelitianmenunjukkan metode
statistik yang digunakan untuk mengontrol efek dari faktor-faktor resiko, riwayat dari satu
aborsi yang diinduksi tidak meningkatkan secara bermakna kemungkinan terjadi kehamilan
ektopik. Efek itu baru akan nyata bila sudah pernah mengalami dua atau lebih aborsi.10
Metode IUD/ Spiral, alat ini istilahnya adalah Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR) dan sering juga disebut IUD, singkatan dari Intra Uterine Device. AKDR biasa
dianggap tubuh sebagai benda asing menimbulkan reaksi radang setempat. AKDR yang
dililiti kawat tembaga dalam konsentrasi kecil dalam rongga uterus menimbulkan reaksi
radang dan menghambat khasiat anhidrase karbon sertasalkali fosfatase. IUD yang
mengeluarkan hormon juga menebalkan lendir serviks sehingga menghalangi jalur sperma.10
Beberapa produk IUD saat ini terbuat dari bahan yang tidak kondusif bagi zigot
sehingga bisa membunuhnya dan proses kehamilan tidak terjadi. Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan penghargaan terhadap fatwa Majelis
Ulama Indonesia (MUI) yang memperbolehkan vasektomi, asalkan dengan tujuan yang tidak
menyalahi syariat. Fatwa MUI memperbolehkan vasektomi dengan syarat untuk tujuan yang
tidak menyalahi syariat, tidak menimbulkan kemandulan permanen, dan ada jaminan dapat
dilakukan rekanalisasi. Selain itu, dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula
serta tidak menimbulkan bahaya atau mudarat bagi yang bersangkutan.10

2.4 Klasifikasi
Macam - macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain3,9:
1. Tuba Fallopii (95%-96% dari seluruh kehamilan ektopik), yaitu pada:
- Pars interstisialis (2-3%)
- Istmus (12%)
- Ampulla (70%)
- Infundibulum (1%)
- Fimbria (11%)

6
2. Uterus, yaitu pada :
- Kanalis servikalis (<1%)
- Divertikulum
- Kornu (2-3%)
- Tanduk rudimenter
3. Ovarium (<1%)
4. Intraligamenter (<1%)
5. Abdominal (1-2%)
- Primer
- Sekunder
6. Jaringan Parut sesar <1%
7. Kehamilan ektopik multijanin :
- Kehamilan Ektopik Heterotopik
- Kehamilan Tuba Multijanin

Gambar 2.2 Lokasi terjadinya kehamilan ektopik

Ada beberapa pendapat yang menggolongkan kehamilan ektrauterin, namun pendapat


ini tidaklah tepat karena kehamilan di kornu, servik uterus termasuk dalam kehamilan
ektopik.4

7
2.5 Patofisiologi
Kebanyakan dari kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii. Tempat yang paling
menjadi situs kehamilan ektopik adalah pada pars ampullaris, sekitar 80 %. Kemudian
berturut-turut adalah isthmus (12%), fimbriae (5%), dan bagian kornu dan daerah intersisial
tuba (2%), dan seperti yang disebut pada bagian diatas, kehamilan ektopik non tuba sangat
jarang. Kehamilan pada daerah interstisial berhubungan dengan gejala nyeri progresif karena
baru mengeluarkan gejala yang muncul lebih lama dari tipe yang lain, sulit terdiagnosis, dan
menghasilkan perdarahan yang banyak.9
Proses implantasi hasil konsepsi yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan pada
kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pertama telur
berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Selanjutnya dibatasi oleh kurangnya
vaskularisasi pada sel telur dan biasanya telur mati secara dini dan diresorbsi kembali oleh
tubuh. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping.6
Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan
jaringan menyerupai desidua yang disebut pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di
tuba tidak sempurna dengan mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk dalam
lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin
selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding
tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi akibat invasi trofoblas. Dibawah pengaruh dari
hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum serta trofoblas uterus jadimembesar dan
lembekserta endometrium berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan-
perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella. Sel epitel membesar
dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel
dapat berlubang-lubang atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan ini
hanya terjadi pada sebagian kehamilan ektopik.6,9
Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik dalam
tuba. Karena tuba bukan merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan hasil konsepsi,
tidak mungkin janin dapat tumbuh secara utuh seperti di uterus. Sebagian besar kehamilan
tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 minggu sampai 10 minggu.9

8
Kemungkinan itu antara lain :9
a. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi
kurang, dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh
apa-apa, hanya haidnya saja yang terlambat untuk beberapa hari.
b. Abortus tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi koriales
pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari koriales pada dinding
tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi
sebagian atau seluruhnya, tergantung dari derajat perdarahan yang timbul. Bila pelepasan
menyeluruh, mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dan kemudian
didorong oleh darah kearah ostium tuba abdominal. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung
pada implantasi telur yang dibuahi. Abortus tuba lebih umum terjadi pada kehamilan tuba
pars ampullaris, sedangkan penembusan dinding tuba oleh villi koriales ke arah peritoneum
biasanya terjadi pada kehamilan pars isthmika. Perbedaan ini disebabkan karena lumen pars
ampullaris lebih luas sehingga lebih mudah jadi tempat pertumbuhan hasil konsepsi
dibandingkan dengan bagian isthmus dengan lumen sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tidak sempurna karena abortus, perdarahan akan terus
berlangsung dari sedikit-sedikit oleh darah sampai berubah menjadi mola. Perdarahan akan
keluar melalui fimbriae dan masuk rongga abdomen dan terkumpul secarakhas di kavum
Douglas dan akan membentuk hematokel retrouterina. Bila fimbriae tertutup, tuba fallopii
dapat membesar karena darah dan membentuk hematosalping.6
c. Ruptur tuba
Penyusupan dan perluasan hasil konsepsi mengakibatkan rupturjalan lahir di beberapa
tempat. Sebelum metode pengukuran kadar korionik gonadotropin tersedia, banyak kasus
kehamilan tuba yang berakhir pada trimester pertama dengan ruptur intraperitoneal. Pada
kejadian ini lebih sering terjadi bila ovum berimplantasi pada isthmus dan biasanya muncul
pada kehamilan muda, sedangkan bila berimplantasi di pars intersisialis, maka muncul pada
kehamilan yang lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma akibat
koitus atau pemeriksaan vagina.

9
Gambar 2.3. Ruptur tuba

Ruptur sekunder dapat terjadi bila terjadi abortus dalam tuba dan ostium tuba tertutup.
Dalam hal ini dinding tuba yang sudah menipis karena invasi dari trofoblas, akan pecah
karena tekanan darah dalam tuba. Kadang-kadang ruptur terjadi diarah ligamentum latum dan
terbentuk hematoma intraligamen. Jika janin hidup terus terjadi kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke arah rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba tetapi bila robekan kecil,
perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila janin mati dan masih kecil
maka dapat diresorbsi kembali namun bila janin sudah besar kelak dapat diubah oleh tubuh
menjadi litopedion. Bila janin yang dikeluarkan tidak mati dengan masih diselubungi oleh
kantong amnion dan dengan plasenta utuh kemungkinan dapat tumbuh terus menuju rongga
abdomen sehingga terjadi kehamilan abdominal sekunder.10
Pada wanita dengan faktor resiko kehamilan ektopik, penggunaan tes hormonal dan
USG awal kehamilan dimungkinkan untuk menegakkan diagnosis kehamilan ektopik sebelum
keluar gejala. Namunjika usia gestasi sudah meningkat dan perdarahan intraperitoneal muncul
karena keluar dari fimbriae atau ruptur, maka dapat timbul gejala. Bila memang terjadi
kehamilan ektopik namun belum muncul gejala, maka kita sebut kehamilan ektopik belum
terganggu.1

10
2.6 Gambaran Klinis
Gambaran klinik klasik untuk kehamilan ektopik adalah trias nyeri abdomen,
amenore, dan perdarahan pervaginam. Gambaran tersebut menjadi sangat penting dalam
memikirkan diagnosis pada pasien yang datang dengan kehamilan di trimester pertama.
Namun sayangnya, hanya 50% pasien dengan kehamilan ektopik ini yang menampilkan
gejala-gejala tersebut secara khas, gejala dan tanda sering samar atau bahkan tidak ada.3,7
a. Kehamilan ektopik belum terganggu
- Kehamilan ektopik belum terganggu sulit diketahui, karena biasanya penderita tidak
menyampaikan keluhan yang khas.
- Amenorea atau gangguan haid ( keterlambatan haid) dilaporkan oleh 75%-95% penderita.
- Spotting atau perdarahan ringan per vagina.
- Tanda-kehamilan muda seperti nausea hanya dilaporkan oleh 10%-25% kasus. masa
kehamilan awal termasuk mual, lelah, nyeri abdomen ringan, nyeri bahu, dan riwayat
disparenu baru-baru ini.
- Gangguan vasommotor, berkisar vertigo-sinkop.
- Disamping gangguan haid,keluhan yang paling sering disampaikan ialah nyeri diperut
bawah yang tidak khas,walaupun kehamilan ektopik belum mengalami rupture. Kadang-
kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Keadaan ini
pun masih harus dipastikan dengan alat bantu diagnostik yang lain,seperti Ultrasonografi
dan Laparoskopi.
b. Kehamilan ektopik terganggu
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak(akut) biasanya tidak sulit.
Keluhan yang sering disampaikan ialah haid yang terlambat untuk beberapa waktu atau terjadi
gangguan siklus haid disertai nyeri perut bagian bawah dan penesmus. Dapat terjadi
perdarahan pervaginam. Yang menonjol ialah penderita tampak kesakitan,pucat,dan pada
pemeriksaan ditemukan tanda-tanda syok serta perdarahan dalam rongga perut. Pada
pemeriksaan fisik harus difokuskan pada pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan abdomen
serta pelvis. Hipotensi dan takikardi terjadi akibat perdarahan akibat ruptur tuba tidak dapat
menjadi dasar aadanya kehamilan ektopik walau tanda itu menunjukkan perlunya dilakukan
resusitasi segera, bahkan faktanya kedua hal tersebut lebih khas pada komplikasi kehamilan
intrauterin. Lebih jauh lagi, tanda vital yang normal tidak dapat menyingkirkan adanya
kehamilan ektopik.

11
Pada pemeriksaan dalam, dapat teraba kavum douglas yang menonjol dan terdapat
nyeri gerakan serviks. Adanya tanda-tanda peritoneal, nyeri gerakan serviks, dan nyeri lateral
atau bilateral abdomen atau nyeri pelvis meningkatkan kecurigaan akan kehamilan ektopik
dan merupakan temuan yang bermakna. Disisi yang lain, ketiadaan tanda dan gejala ini tidak
menyingkirkan kehamilan ektopik. Terabanya massa adneksa juga tidak dapat memperkirakan
kehamilan ektopik secara tepat. Dalam penelitian ini massa adneksa hanya muncul kurang
dari 10% pada pasien yang di diagnosis dengan kehamilan ektopik. Satu yang harus diingat
juga adalah pemeriksaan pelvis benar-benar normal pada kira-kira 10% pasien dengan
kehamilan ektopik. Kesimpulannya, beberapa riwayat dan penemuan pemeriksaan fisik
menngkatkan kecurigaan terhadap kehamilan ektopik. Untuk itu, bagaimanapun juga, tidak
ada kombinasi penemuan yang boleh dianggap oleh seorang dokter di ruang gawat darurat
yang menyimpulkan adanya kehamilan ektopik berdasarkan penemuan klinik saja.5
Kesulitan diagnosis biasanya terjadi pada kehamilan ektopik terganggu jenis atipik
atau menahun. Kelambatan haid tidak jelas,tanda dan gejala kehamilan muda tidak
jelas,demikian pula nyeri perut tidak nyata dan sering penderita tampak tidak terlalu pucat.

2.7 Diagnosis
Kesulitan diagnosis KET terjadi pada fase awal karena belum timbulnya gejala. Dalam
menegakkan diagnosis KETdiperlukan anamnesis yang teliti dibantu dengan pemeriksaan
fisik yang cermat dan alat bantu diagnostik.2Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan
terlambat haid untuk beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala subjektif kehamilan
muda. Terdapat nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, dan kadang-kadang tenesmus.
Perdarahan pervaginam dapat terjadi, dan biasanya terjadi setelah muncul keluhan nyeri perut
bagian bawah tanyakan pula berapa jumlah perdarahannya, warna darahnya, dan apakah darah
mengalir seperti air atau hanya berupa tetesan saja, dan apakahkeluar gumpalan-gumpalan.
Ditanyakan juga riwayat kehamilan sebelumnya, bila sudah pernah hamil, riwayat
menstruasinya.4
Pada pemeriksaan umum, penderita tampak pucat dan kesakitan. Jika ada perdarahan
aktif dalam rongga perut dapat ditemukan tanda-tanda syok dan pasien merasakan nyeri perut
yang mendadak. Pada jenis yang tidak mendadak, mungkin hanya terlihat perut bagian bawah
yang sedikit menggembung dan nyeri tekan.2

12
Berikut ini adalah klasifikasi dari kehamilan ektopik, yaitu :6,10
a. Kehamilan ektopik belum terganggu
Kehamilan ektopik belum terganggu sulit dideteksi,karena belum muncul keluhan khas
pada pasien.2Amenorea atau gangguan haid dilaporkan muncul pada 75-95% pasien.
Gejala pada kehamilan muda seperti nausea muncul pada 10%-25% kasus. Disamping
gangguan haid,keluhan yang paling sering muncul adalah nyeri perut bawah yang tidak
khas,walaupun kehamilan ektopik belum mengalami ruptur. Kadang-kadang teraba tumor
disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Keadaan ini pun masih harus
dipastikan dengan alat bantu diagnostik yang lain,seperti USG dan laparoskopi.
b. Kehamilan ektopik terganggu
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada onset yang mendadak atau akut biasanya
tidak sulit. Keluhan yang sering disampaikan ialah terlambat haid untuk beberapa waktu
atau gangguan siklus haid disertai nyeri perut bagian bawah dan tenesmus diikuti oleh
perdarahan pervaginam.Yang menonjol ialah penderita tampak kesakitan,pucat,dan pada
pemeriksaan ditemukan tanda-tanda syok serta perdarahan rongga perut. Pada
pemeriksaan ginekologik ditemukan nyeri gerak serviks dan kavum douglas yang
menonjol dan nyeri jika diraba.Kesulitan diagnosis terjadi pada kehamilan ektopik
terganggu jenis apitik atau menahun. Gangguan siklus haid, kemudian tanda dan gejala
kehamilan muda tidak jelas,demikian pula nyeri perut tidak nyata dan seringkali pasien
tampak tidak terlalupucat. Hal ini dapat terjadi apabila perdarahan pada kehamilan
ektopik yang terganggu berlangsung lambat. Dalam keadaan demikian,alat bantu
diagnostik amat diperlukan untuk memastikan diagnosis.
c. Kehamilan ektopik lanjut
Kehamilan ektopik diman janin dapat tumbuh terus karena mendapat makanan dan
oksigen yang cukup dari plasenta dan meluaskan implantasinya ke jaringan
sekitarmisalnya ligamentum latum, uterus, dasar panggul,dan sebagainya.Pada
pemeriksaan dalam mungkin ditemukan tanda-tanda kehamilan muda. Perabaan serviks
menyebabkan nyeri. Bila uterus dapat diraba maka akan teraba sedikit membesar dan
kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan.
Kavum Douglas juga teraba menonjol dan adanya nyeri raba yang menunjukkan adanya
hematokel retrouterina. Kadang suhu tubuh naik sehingga dikaitkan dengan infeksi
pelvik.6

13
Pemeriksaan laboratorium biasanya menggunakan beta-human chorionic gonadotropin
(β-hCG) untuk mendiagnosis kehamilan dan untuk membantu menentukan potensi pasien
mengalami kehamilan ektopik. β-hCG diproduksi oleh trofoblas dan dapat dideteksi dalam
serum pada kira-kira 1 minggu sebelum haid berikutnya. Jika serum β-hCG negative,
kemunkinan besar tidak terjadi kehamilan. Hanya ada sedikit sekali kasus yang dilaporkan
pasien dengan tes serum β-hCG negative dengan kehamilan ektopik. Dinamika normal
kenaikan kadar β-hCG biasanya sebanyak dua kali lipat kira-kira setiap 1,4 sampai 2,1 hari
dan mencapai puncaknya pada kadar 100.000 mIU/ml.
Kenaikan ini akan melambat bila sudah mencapai nilai puncaknya, dan pada saat itu
sudah harus dilakukan diagnosis dengan USG. Pemeriksaan tunggal β-hCG kuantitatif
berguna untuk diagnosis kehamilan, namun tidak dapat membedakan antara kehamilan
ektopik atau kehamilan intrauterin. Pemeriksaan laboratorium umum lainnya adalah
pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui kadar hemoglobin yang hasilnya dapat rendah bila
terjadi perdarahan menahun. Pemeriksaankadar leukosit berguna untuk membedakan apakah
terjadi infeksi yang bisa disebabkan oleh kehamilan ektopik ini atau dugaan adanya infeksi
pelvik. Pada infeksi pelvik biasanyakadar leukositbisa mencapai >20.000 gr/dL.8

14
Gambar 2.4 Alur Diagnosis KET

Pada saat ini, yang merupakan batu acuan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik
adalah Transvaginal Ultrasonography (USG) dan pemeriksaan kadar hCG secara serial.
Transvaginal Ultrasonographysaat ini telah menggantikan posisi laparaskopi karena lebih
menguntungkan.9Perkembangan alat USG transvaginal dengan frekuensi 5.0 sampai 7.0
MHz, lebih mampu melihat lebih tepat kondisi pelvis pada awal kehamilan dibandingkan
USG transabdominal. Dengan alat ini memungkinkan mengidentifikasi kantong gestasi
intrauterin saat kadar hCG mencapai 1500 sampai 2000 mIU/ml pada sekitar 5 atau 6 minggu
setelah haid terakhir. Karena kombinasi kehamilan intrauterin dan ekstrauterin hampir
merupakan kejadian yang jarang, maka penemuan kantong gestasi intrauterin hampir selalu
15
dapat menyingkirkan adanya kehamilan ektopik. Bila kantong gestasi tidak ditemukan dan
kadar hCG >1500 mIU/ml, lebih mungkin terjadi kehamilan patologisentah kehamilan
ektopik atau kehamilan intrauterin non viable harus dipikirkan kemungkinannya. Biasanya
massa adneksa dengan struktur menyerupai kantong gestasi dapat dikenali pada saluran telur
saat kehamilan ektopik muncul yang menghasilkan kadar hCG diatas 2500 mIU/ml.9

Gambar 2.5 USG Kehamilan Ektopik

16
2.8 Penatalaksanaan
Ada banyak opsi yang dapat dipilih dalam menangani kehamilan ektopik, yaitu terapi
bedah dan terapi obat. Ada juga pilihan tanpa terapi, namun hanya bisa dilakukan pada pasien
yang tidak menunjukkan gejala dan tidak ada bukti adanya rupture atau ketidakstabilan
hemodinamik. Namun pada pilihan ini pasien harus bersedian diawasi secara lebih ketat
dansering dan harus menunjukkan perkembangan yang baik. Pasien juga harus menerima
segala resiko apabila terjadi ruptur harus dioperasi.3,6
a. Terapi Bedah
Sebagian besar wanita dengan kehamilan ektopik akan membutuhkan tindakan bedah.
Tindakan bedah ini dapat dilakukan secara radikal dengan salpingektomi atau secara
konservatif dengan salpingotomi dan tindakan itu dilakukan dengan jalan laparaskopi atau
laparatomi. Laparatomi merupakan teknik yang lebih dipilih bila pasien secara
hemodinamik tidak stabil, operator tidak terlatih untuk melakukan laparaskopi, fasilitas
dan persediaan untuk melakukan laparaskopi kurang, dan ada hambatan untuk melakukan
laparaskopi. Pada banyak kasus, pasien ini membutuhkan salpingektomi karena kerusakan
tuba yang banyak, hanya beberapa kasus saja salpingotomi dapat dilakukan. Pada pasien
kehamilan ektopik yang hemodinamiknya stabil dan dikerjakan salpingotomi dapat
dilakukan dengan teknik laparaskopi. Salpingotomi laparaskopik diindikasikan pada pasien
hamil ektopik yang belum rupture dan besarnya tidak lebih dari 5 cm pada diameter
transversa yang terlihat komplit melalui laparaskopi.
Bedah tuba dianggap konservatif jika tuba diselamatkan, contohnya adalah
salpingostomi, salpingotomi, dan ekspresi kehamilan ektopik melalui fimbria. Bedah
radikal didefinisikan sebagai salpingektomi. Bedah konservatif dapat meningkatkan angka
keberhasilan kehamilan uterus berikutnya tetapi menyebabkan peningkatan angka
persistensi fungsi trofoblas.
1) Salpingostomi
Tindakan ini digunakan untuk mengangkat kehamilan kecil yang panjangnya
biasanya kurang dari 2 cm dan terletak di 1/3 distal tuba uterina. Dibuat sebuah
insisi linier 10-15 mm dengan kauter jarum unipolar di tepi antimesenterik di atas
kehamilan. Hasil kehamilan biasanya akan menyembul dari insisi dan mudah
dikeluarkan atau dibilas dengan menggunakan irigasi tekanan tinggi yang
menghilangkan jaringan trofoblastik secara lebih bersih. Perdarahan ringan
dikontrol dengan elektrokoagulasi atau laser, dan insisi dibiarkan tidak dijahit agar

17
sembuh dengan secondary intention. Dari penelitian kadar B-hcg serum >6000
mlU/ml berkaitan dengan peningkatan risiko implantasi di muskularis dan
karenanya terjadi kerusakan tuba yang lebih berat.
2) Salpingotomi
Kini sudah jarang dilakukan, serupa dengan proosedur salpingostomi, kecuali
bahwa insisi ditutup dengan jahitan menggunakan benang yang dapat diserap.
Tidak terdapat perbedaan dalam prognosis dengan atau tanpa jahitan.
3) Sapingektomi
Reseksi tuba mungkin dilakukan untuk kehamilan ektopik ruptur dan tak ruptur.
Ktika mengeluarkan tuba uterina, perlu dilakukan eksisi baji di 1/3 luar bagian
interrstitium tuba. Tindakan yang disebut sebagaii reseksi kornu dilakukan sebagai
upaya untuk meminimalkan angka kekambuhan kehamilan di puntung tuba.
Namun bahkan dengan reseksi kornnu, kehamilan interstitium berikutnya tidak
selalu dapat dicegah.

Gambar 2.6 Terapi bedah Teknik Laparatomi

18
Gambar 2.7 Salpingostomi linier untuk kehamilan ektopik

Pasien dengan implantasi pada isthmus akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari
reseksi segmental dan anastomosis lanjut. Pada kehamilan ektopik berlokasi pada ujung
fimbriaedapat dilakukan gerakan memeras atau milking untuk mengeluarkan jaringan
trofoblas melalui fimbriae.2 Komplikasi bedah yang paling sering adalah kehamilan
ektopik berulang atau Trofoblas Persisten (5-20 %) dan pengangkatan jaringan
trofoblastik yang tidak komplit. Pengangkatan trofoblas yang tidak sempurna dapat
menyebabkan kehamilan ektopik persisten, oleh karena itu disarankan pemberian dosis
tunggal methotrexate (1 mg/m2) post operasi sebagai profilaksis para pasien resiko tinggi.
Trofoblas persisten merupakan penyulit 5-20% salpingostomi dan dapat diketahui oleh
kadar hCG yang menetap atau meninggi. Kadar β-hCG biasanya segera turun dan pada
hari ke-12 kadarnya 10% dari kadar praoperasi. Jika pada hari ke-1 pascaoperasi kadar
β-hCG serum <50% kadar praoperasi maka trofoblas persisten jarang terjadi.11

b. Terapi Obat
Keuntungan dari dapat dilakukannya diagnosis dini KET adalah dapat menghindari
tindakan bedah beserta segala resiko yang mengikutinya, mempertahankan patensi dan
fungsi tuba, dan merawat KE dengan biaya yang lebih murah. Zat-zat kimia yang telah
diteliti dapat digunakan sebagai terapi KE termasuk glukosa hiperosmolar, urea, obat-obat
sitotoksik misalnya methotrexate dan actinomycin, kemudian prostaglandin, serta obat
mifeproston (RU486).

19
Methotrexate biasanya dipakai sebagai terapi obat untuk kehamilan ektopik pars
interstisial. Perdarahan intraabdominal aktif merupakan kontraindikasi bagi pemakaian
methotrexate. Ukuran dari massa ektopik juga penting dan methotrexate tidak digunakan
pada massa kehamilan itu lebih dari 4 cm. Pemakaian methotrexate cenderung berhasil
baik bila usia gestasi kurang dari 6 minggu, massa tuba kurang dari 3,5 cm diameter, janin
sudah mati, dan β-hCG kurang dari 15.00 mIU. Kontraindikasi lainnya termasuk ibu
menyusui, imunodefisiensi, alkoholisme, penyakit hati atau ginjal, penyakit paru aktif,
dan ulkus peptik 4.Methotrexate merupakan suatu obat anti neoplastik yang bekerja
sebagai antagonis asam folat dan poten apoptosis induser pada jaringan trofoblas. Pasien
yang akan diberikan methotrexate harus dalam keadaan hemodinamika yang stabil dengan
hasil laboratorium darah yang normal dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati.
Methotrexate diberikan dalam dosis tunggal (50 mg/m2 IM) atau dengan menggunakan
dosis variasi 1 mg/kgBB IM pada hari ke 1,3,5,7 ditambah Leukoverin 0,1 mg/kgBB IM
pada hari ke 2,4,6,8. Setelah pemakaian methotrexate yang berhasil, β-hCG biasanya
menghilang dari plasma dalam rata-rata antara 14 dan 21 hari. Kegagalan terapi bila tidak
ada penurunan β-hCG, kemungkinan ada massa ektopik persisten atau ada perdarahan
intraperitoneal.10

2.9 Diagnosis Banding


a. Salpingitis
Terjadi pembengkakan dan pembesaran tuba bilateral, demam tinggi dan tes
kehamilan negatif. Dapat ditemukan getah serviks yang purulen.4
b. Abortus (imminens atau inkomplitus)
Gejala klinik yang dominan adalah perdarahan, umumnya terjadi sebelum ada nyeri
perut. Perdarahan berwarna merah, bukan coklat tua seperti pada kehamilan ektopik.
Nyeri perut umumnya bersifat kolik dan kejang (kram). Uterus membesar dan lembek,
terdapat dilatasi serviks. Hasil konsepsi dapat dikenali dari pemeriksaan vagina.9,10
c. Appendisitis
Daerah yang lunak terletak lebih tinggi dan terlokalisir di fossa iliaka kanan. Bisa
ditemukan pembengkakkan bila ada abses apendiks, namun tidak terletak dalam di pelvis
seperti pada pembengkakan tuba. Demam lebih tinggi dan pasien terlihat sakit berat. Tes
kehamilan menunjukkan hasil negatif. 9,10

20
d. Torsio kista ovarium
Teraba massa yang terpisah dari uterus, sedangkan kehamilan tuba umumnya terasa
menempel pada uterus. Perut lunak dan mungkin terdapat demam akibat perdarahan
intraperitoneal. Tanda dan gejala kehamilan mungkin tidak ditemukan namun ada
riwayat serangan nyeri berulang yang menghilang dengan sendirinya.
e. Ruptur korpus luteum
Sangat sulit dibedakan dengan kehamilan tuba, namun ruptur korpus luteum sangat
jarang ditemukan.

2.10 Prognosis
Kematian ibu karena kehamilan ektopik terganggu cenderung menurun dengan
diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Namun bila pertolongan terlambat, maka
angkakematian akan meningkat. Sedangkan janin pada kehamilan ektopik biasanya akan mati
dan tidak dapat dipertahankan karena tidak berada pada tempat dimana ia seharusnya tumbuh.
Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian
wanita dapat menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik atau dapat mengalami
kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan ektopik yang berulang
dilaporkan antara 0-14,6% kasus. Dengan kemajuan terapi yang ada sekarang, kemungkinan
ibu untuk dapat hamil kembali membesar, namun ini harus didukung kemampuan untuk
menegakkan diagnosis dini sehingga dapat diintervensi secepatnya.

21
BAB 3
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. NY
No. RM : 187276
Jenis Kelamin : Perempuan
Tgl.lahir/ Umur : 10 Maret 1988 / 29 tahun
Status Nikah : Menikah
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa
Pekerjaan : Pedagang
Pendidikan : SMA
Alamat : Imam Bonjol Bangsalsari Jember
MRS : 23 Oktober 2017

ANAMNESA
1. Keluhan Utama : Nyeri perut
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang rujukan dari RS Citra Husada dengan keluhan nyeri perut suspect KET.
Nyeri perut dirasakan sejak 2 minggu yang lalu (Sabtu,14-10-2017) , awalnya nyeri terasa
di ulu hati lalu tersebar ke seluruh perut diikuti rasa mual, muntah, dan tidak enak satu
badan. Beberapa hari pasien mengatakan keluar flek-flek berwarna kecoklatan.Pasien ke
klinik dikatakan sakit lambung, pasien rawat inap. Hari Senin, 16-10-2017, pasien cek
darah klinik, hasilnya Hb 7,5 dan dilakukan transfusi 2 kantong di klinik, hari Selasa
pasien pulang. Pasien merasa telat datang bulan, dilakukan test pack sampai 7x di hari
yang berbeda, hasilnya tetap (-).
Pada tanggal 23-10-2017, jam 05.00 terasa kram di perut bagian bawah, bisa ditahan
dan tetap dapat beraktifitas. jam 08.00 pasien pingsan  dibawa ke RS Citra Husada,
dilakukan tes kencing, hasilnya (+) hamil, karena pasien sangat nyeri dan anemis  di
rujuk ke RSD dr Soebandi karena suspect KET.

23
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi : (-)
Diabetes mellitus : (-)
Asma : (-)
Alergi : (-)
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Hipertensi : (-)
Diabetes mellitus : (-)
Asma : (-)
Alergi : (-)
5. Riwayat Haid
Menarche : 14 tahun
Siklus : ± 28 hari, teratur
Lama : 7 hari
Dismenorhea : (-)
HPHT : 15 September 2017
6. Riwayat Marital
Menikah : 1 kali
Usia saat menikah : 23 tahun
Lama menikah : 6 tahun
7. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
1) Laki-laki/ usia 5,5 tahun/ aterm/ SC a.i. Plasenta Previa Totalis/ BBL: 2600 gr
2) Hamil ini

8. Riwayat KB
KB suntik selama 1 tahun, Pil KB Kombinasi 3 tahun.

PEMERIKSAAN UMUM
Tinggi badan : 159 cm
Berat badan : 55 kg
Keadaan umum : Cukup
A/I/C/D : +/ - / - / -
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 120 / 80 mmHg
24
Nadi : 88 x / menit
Suhu (axiller) : 36,3 °C
RR : 20 x / menit

PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
Kepala : Oedem kelopak mata - / -
Konjunctiva anemis + / +
Sclera icterus - / -
Leher : Pembesaran KGB (-), Bendungan Vena Leher (-)
Thorax : Bentuk normal, gerak simetris
Pulmo : Suara nafas Vesikuler +/+, Rh - / - , Whz - / -
Cor : S1S2 tunggal, extrasystol (-), murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Flat, BU (+),pekak pada regio kanan bawah dan kiri bawah, soepel.
Ekstremitas : Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -

b. Status Ginekologi
Abdomen
Inspeksi : Flat, Bekas SC (+), BSO (-)
Auskultasi : DJJ (-)
Perkusi : Pekak/dullness pada regio kanan bawah dan kiri bawah.
Palpasi : TFU tidak teraba, soepel,
nyeri tekan pada regio iliaka dextra- hipogastrik - iliaka sinistra.

Genetalia eksterna
Labium mayor : normal, simetris.
Labium minus : normal, simetris, peradangan (-)
VT : V/V fluksus (-), fluor (-)
POMP tertutup licin,
CVAF dbn
APD/S massa (-), slingerpain (+)
CD dbn

25
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium :
Tanggal 23-10-2017, pukul 14.15
Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal
Hematologi Lengkap
Hemoglobin 8,6 12.0 – 16.0
Leukosit 12,9 4.5 – 11.0
Hematokrit 24,7 36 – 46
Trombosit 270 150 – 450
Urin Lengkap
Warna Kuning agak keruh Kuning jernih
Ph 6.0 4.8-7.5
BJ 1.020 1.015-1.025
Protein Positip 2 ~ 75 mg/dl Negatip
Glukosa Positip 1 ~ 50 mg/dl Normal
Urobilin Normal Normal
Bilirubin Negatip Negatip
Nitrit Negatip Negatip
Keton Positip 2 Negatip
Lekosit Makros Negatip Negatip
Blood Makros Positip 1 Negatip
Serologi-Imunologi
BHCG Urin Positip lemah -

b. USG :
- Tampak Gestasional Sack pada extrauterine (di corpus)
- Tampak cairan bebas di fossa hepatorenal
- Tampak cairan bebas di adneksa Dextra

26
RESUME
Pasien wanita datang merupakan rujukan dari RS Citra Husada dengan keluhan nyeri
perut disertai dengan anemis. Dari pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri pada regio
abdomen kanan bawah dan kiri bawah. Pada pemeriksaan dalam didapatkan adanya
slingerpain. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8,6 dan B-HCG urin positip
lemah. Pemeriksaan USG didapatkan adanya GS extrauterine, tampak cairan bebas di fossa
hepatorenal dan adneksa D, kesan kehamilan Ektopik Terganggu (KET).

DIAGNOSA KERJA
Kehamilan Ektopik Terganggu + G2P1001Ab000 8-10 minggu + Bekas SC 5,5 tahun yang lal

PLANNING
a. Diagnosik : DL, UL, Plano test, USG
b. Terapi:
- MRS
- Pro Explorasi Laparotomi Cito
- Persiapan Operasi
c. Monitoring: Observasi TTV dan keluhan

LAPORAN OPERASI

Telah dilakukan operasi laparotomi Partial Salphingektomi Dextra a/i KET+ Bekas SC+
Anemia didapatkan pada hasil eksplorasi:
a. Perdarahan disertai clot ± 500 cc.
b. Didapatkan massa kehamilan di bagian isthmus tuba dextra.
c. Dilakukan partial salphingektomi dextra.
d. Uterus mengalami perlengketan dengan dinding anterior abdomen.
e. Tuba dan adneksa sinistra dalam batas normal

27
FOLLOW UP

a. Follow Up hari ke-0 (23-10-2017)


S/ Post Operasi
O/ KU : Cukup TD : 108/67 mmHg RR : 20 x/menit
Kes : Composmentis N : 88 x/menit Tax: 36,5 C
K/L : a/i/c/d +/-/-/-
Thorax : Simetris, Cor S1S2 tunggal e/g/m -/-/-, Pulmo Ves +/+ Rh -/- Wh -/-
Abdomen : Flat, BU +, timpani, soepel, luka OP tertutup kassa kering
Genitalia : Fluxus (-)
Extremitas: AH +, OE –
A/ Post Parsial Salphingektomi Dextra a.i KET + Bekas SC + Anemia H0
P/ Diagnostik : Cek DL 2 jam post op
Terapi :
 Puasa sampai flatus/ BU (+)  MSS
 Bila Hb < 10 gr/dl, pro tranfusi PRC s/d Hb > 10 gr/dl
 IVFD RL 20 tpm
 Inj Cefotaxime 3x1 gr
 Inj. Ranitidin 2x1 amp
 Inj. Kalnex 3x1 amp
 Inj. Ketorolac 3x1 amp

Hasil Laboratorium 2 jam Post Operasi

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal


Hematologi Lengkap
Hemoglobin 10,9 12.0 – 16.0
Leukosit 11,8 4.5 – 11.0
Hematokrit 31,4 36 – 46
Trombosit 198 150 – 450
Faal Hati
SGOT 27 10-31
SGPT 640 9-36
Albumin 2,7 3,4-4,8

28
Gula Darah
Glukosa Sewaktu 104 <200
Elektrolit
Natrium 137,6 135-155
Kalium 3,79 3,5-5,0
Chlorida 107,6 90-110
Calsium 2,18 2,15-2,57
Magnesium 0,57 0,77-1,03
Fosfor 1,20 0,85-1,60

b. Follow Up hari ke-1 (24-10-2017)


S/ Nyeri bekas operasi (skala nyeri 5), Flatus (-), BAB (-), BAK via DC 1200 cc/24 jam.
O/ KU : Cukup TD : 110/70 mmHg RR : 18 x/menit
Kes : Composmentis N : 80 x/menit Tax: 36,8 C
K/L : a/i/c/d +/-/-/-
Thorax : Simetris, Cor S1S2 tunggal e/g/m -/-/-, Pulmo Ves +/+ Rh -/- Wh -/-
Abdomen : Flat, BU +, timpani, soepel, nyeri tekan pada luka (+), luka OP taa.
Genitalia : Fluxus (-)
Extremitas: AH +, OE –
A/ Post Parsial Salphingektomi Dextra a.i KET + Bekas SC + Anemia H1
P/ Diet TKTP, Mobilisasi bertahap
Terapi :
 Pro Transfusi Albumin 20% sampai Albumin ≥ 3 gr/dl
 Tx injeksi dilanjutkan

c. Follow Up hari ke-2 (25-10-2017)


S/ Nyeri bekas operasi (skala nyeri 2), Flatus (+), BAB (-), terasa kembung, BAK spontan.
O/ KU : Cukup TD : 110/60 mmHg RR : 18 x/menit
Kes : Composmentis N : 82 x/menit Tax: 36,2 C
K/L : a/i/c/d +/-/-/-
Thorax : Simetris, Cor S1S2 tunggal e/g/m -/-/-, Pulmo Ves +/+ Rh -/- Wh -/-
Abdomen : Flat, BU +, hipertimpani, soepel, nyeri tekan pada luka (+), luka OP taa.
Genitalia : Fluxus (-)
29
Extremitas: AH +, OE –
A/ Post Parsial Salphingektomi Dextra a.i KET + Bekas SC + Anemia H2
P/ Diet TKTP, Mobilisasi bertahap
Aff infus  Tx oral : Cefadroxil 3 x 50 mg
Asam Mefenamat 3 x 50 mg
Roborantia 1x1

Hasil Laboratorium Post Transfusi Albumin (25-10-2017)


Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal
Faal Hati
Albumin 3,4 3,4-4,8

d. Follow Up hari ke-3 (26-10-2017)


S/ Tidak ada keluhan
O/ KU : Cukup TD : 110/70 mmHg RR : 18 x/menit
Kes : Composmentis N : 84 x/menit Tax: 36,5 C
K/L : a/i/c/d -/-/-/-
Thorax : Simetris, Cor S1S2 tunggal e/g/m -/-/-, Pulmo Ves +/+ Rh -/- Wh -/-
Abdomen : Flat, BU +, hipertimpani, soepel, nyeri tekan pada luka (+), luka OP taa.
Genitalia : Fluxus (-)
Extremitas: AH +, OE –
A/ Post Parsial Salphingektomi Dextra a.i KET + Bekas SC + Anemia H3
P/ Pro KRS. Tx oral : Cefadroxil 3 x 50 mg
Asam Mefenamat 3 x 50 mg
Roborantia 1x1
Kontrol ke Poli 1 minggu lagi.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius, Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Budi, Anthonius. 2001. Kehamilan Ektopik. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
3. Cunningham, F. G. 2012. Williams Obstetrics 23rd. Jakarta: EGC.
4. Murah, M. 2012. Pedoman Diagnosa Dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, Makasar:
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
5. Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Edisi
III. 2008. Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya.
6. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Bedah Kebidanan Edisi 1 Cetakan Ketiga.
Jakarta: PT Bina Pustaka
7. Rustam. M. 2011. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
8. Sepilian,Vicken;EllenW.EctopicPregnancy.www.emedicine.com/health/topic
3212.html
9. Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Kehamilan Ektopik. Ilmu Kebidanan Edisi ketiga.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Hal 323-338.
10. Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Gangguan Bersangkutan Dengan Konsepsi. Ilmu
Kandungan Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Hal
250-260.
11. Wiknjosastro, Hanifa. 2000. Kehamilan Ektopik. Ilmu Bedah Kebidanan Edisi
Pertama. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Hal 198-210.
12. WHO. 2013. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. .
Jakarta: WHO Country Office for Indonesia.

31