Anda di halaman 1dari 157

BUKU AJAR

MATAKULIAH
HEMATOLOGI VETERINER
(Patologi Klinik Veteriner/KH-5051)

OLEH
drh. BAMBANG HARIONO, Ph.D.

BAGIAN PATOLOGI KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2005

1
KATA PENGANTAR

Bahan Ajar Matakuliah Hematologi veteriner (patologi Klinik veteriner


KH-5851) ini disusun sebagai panduan bagi para mahasiswa dalam rangka
mempelajari ilmu tersebut. Untuk mempelajari lebih seksama dan mendalam
tentang Hematologi Veteriner, para mahasiswa diwajibkan memperdalam dan
mengembangkan sendiri lewat buku-buku yang telah direkomendasikan.
Disamping itu, bahan ajar ini dilengkapi dengan sebuah makalah seminar
yang berkaitan dengan pengaruh penggunaan antikoagulan
ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) terhadap morfologi darah untuk
menambah wawasan para mahasiswa.
Akhir kata, demi kesempurnaan bahan ajar ini dimasa depan maka segala
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan.

Yogyakarta, 1 Juni 2005

BAMBANG HARIONO

2
PERANAN PATOLOGI KLINIK DALAM DIAGNOSA,
PROGNOSA DAN TERAPI DI KLINIK

PENYAKIT

AHLI LAB. PATOLOGI KLINIK


(konsultasi)

Pemeriksaan khusus: - anamnesa


- Encephaloelectrograph (EEG) - diagnosa fisik
- Electrocardiograph (ECG)
- X-Ray
- Ultrasonic
- Sinar Laser - diagnosa sementara - pemeriksaan laboratorium
- dll. - diferensial diagnosa secara terperinci

Hasil pemeriksaan

DIAGNOSA/
PROGNOSA INTERPRETASI TERAPI

Berhasil
Diagnosa salah Tidak berhasil

Diagnosa benar

Terapi koreksi SEMBUH

3
PATOLOGI KLINIK :
Ilmu kedokteran yang mempelajari cara-cara meramalkan hasil dari
pemeriksaan dan pengamatan laboratorium tertentu yang nantinya penting
guna menetapkan diagnosa suatu penyakit.
Tugas pokok patologi klinik: mencari dan membuat diagnostik
Penanganan pasien :
1. Anamnesa : Tanya jawab dengan klien, riwayat atau data pasien
2. Pemeriksaan laboratorik
3. Pemeriksaan fisik
4. Interpretasi data pemeriksaan pasien
5. Prognosa penyakit : fausta, dubius, infausta
6. Diagnosa penyakit
7. Terapi atau pengobatan penyakit
8. Evaluasi hasil terapi : - sembuh
- tidak sembuh

Diagnosa: kesimpulan penyakit yang terjadi


Macam Diagnosa : - Diagnosa anatomik
- Diagnosa fungsionil
- Diagnosa etiologik
Prognosa : - Fousta (baik)
- Infousta (tidak baik)
- Dubius (ragu-ragu)
Terapi : pengobatan atau perawatan
Diferensial diagnosa : diagnosa penyakit lebih dari satu macam diagnosa, sebab
ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala-gejala serupa.
Contohnya, penyakit dengan gejala kejang-kejang bias: encephalitis
(radang otak), meningitis (radang selaput otak), infeksi tetanus, defisiensi
tyamine, hipokalsemia dan hipomagnesemia.

4
GARIS BESAR PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIK
- Eritrosit
- Leukosit
- Sumsum tulang (bone marrow)
- Hemostasis dan koagulasi darah
- Kimia klinik
- Tes fungsi hati
- Metabolisme karbohidrat dan pankreas dan traktus digestivus
- Tes fungsi ginjal
- Air, elektrolit dan keseimbangan asam-basa
- Tes fungsi adrenal dan pituitaria
- Tes fungsi thyroid
- Tes fungsi parathyroid dan keseimbangan mineral
- Diagnosa sitologi, cairan synovial, transudat dan eksudat
- Cairan cerebrospinal
- Pemeriksaan parasit dalam darah dan feses
- Toksikologi

PERLENGKAPAN DASAR LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK


- Mikroskop
- Microhematocrit centrifuge, kecepatan 12.000 rpm
- Standard clinical centrifuge, tabung 15 ml
- Refractometer ● B.J. Urine
● Total protein
● Kadar fibrinogen
- Differensial cell counter
- Interval time, freezer, refrigerator
- Hemocytometer
- Macro dan micro pipette
- Reagen untuk pemeriksaan eritrosit dan leukosit

5
- Reagen pewarnaan untuk darah :
 pewarna Wright
 pewarna Giemsa
 pewarna Leishman
 pewarna New Methylene Blue
- Reagen kit untuk pemeriksaan :
 alkaline phosphatase
 SGPT dan SGOT
 lipase
 amylase
 kreatinin
 Blood Urea Nitrogen (BUN)
 kalsium darah
 glukosa darah
 kolesterol
 prothrombin time
 bilirubin
 dll.
- Reagen yang lain :
 formalin
 antikoagulan, misalnya ethylenediaminetetraacetic acid
atau EDTA
 oli emersi
 aquades, demineralized water (aquades bebas mineral)

Catatan :
SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase)
= ALT (Alanine Amine Transferase) nama baru
SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase)
= AST (Aspartate Amine Transferase) nama baru

6
ANTIKOAGULAN UNTUK PEMERIKSAAN DARAH
1. Heparin
Bekerja sebagai antithrombin dan antithromboplastin
Dosis : 0,1 – 0,2 mg/ml darah
Tidak baik untuk test aglutinasi
2. Natrium sitrat
Bekerja mengikat Ca darah membentuk Ca-sitrat yang bersifat tidak larut
Dosis : 2 – 4 mg/ml darah
3. Kalium oksalat
Bekerja mengikat Ca darah membentuk Ca-oksalat yang tidak larut
Dosis : 2 mg/ml darah
Keuntungan : antikoagulan ini mudah larut
Kejelekan : menyebabkan penyusutan volume sel darah.
Bila berlebihan menyebabkan presipitasi protein darah.
4. Natrium oksalat
Bekerja mengikat Ca darah membentuk Ca-oksalat yang tidak larut.
Dosis : 2 mg/ml darah
5. Ammonium dan Kalium oksalat
Bekerja mengikat Ca darah membentuk Ca-oksalat yang tidak larut.
Dosis : (1,2 g Ammonium oksalat dan 0,8 g Kalium oksalat dalam 100 ml
aquades).
0,1 ml antikoagulan di atas untuk 1 ml darah.
6. Litium sitrat
Bekerja menginaktifkan ion Ca darah.
Dosis : 3 mg/ml darah
Antikoagulan ini tidak praktis untuk pemeriksaan rutin.
7. Litium oksalat
Bekerja mengikat Ca darah membentuk Ca-oksalat yang tidak larut.
Dosis : 2 mg/ml darah
8. Natrium fluorida (NaF)

7
Dosis : 5 mg/ml darah
Bermanfaat sebagai antikoagulan dan pengawet (untuk pemeriksaan
glukosa darah)
9. EDTA (ethylendiaminetetraacetic acid)
Yang dipakai : Na, K, EDTA
Dosis : 1-2 mg/ml darah
> 2 mg/ml darah eritrosit, leukosit mengkerut.
1 tetes dari 10% larutan untuk 5 ml darah .
Antikoagulan ini baik pula untuk pemeriksaan : kadar kreatinin,
Ureum, Cl, P dalam darah.

8
DARAH

Sifat umum darah:


Darah ikut serta dalam setiap fungsi utama badan, di dalam setiap orang
dan dalam setiap jaringan.

Fungsi utama darah:


1. Nutrisional : membawa makanan dari traktus digestivus + O2
ke jaringan
2. Ekskretorik : mengangkut hasil metabolik, CO2, dll, ke
jaringan ekskretorik (ginjal, kelenjar keringat)
3. Integratif : mengangkut hormon-hormon dari kelenjar
endokrin dan bahan-bahan intermedier dari satu tempat
ke tempat lain, misalnya hormon tyroxin oleh glandula
thyroidea

Fungsi darah yang lain, memelihara:


- keseimbangan asam basa darah
- keseimbangan osmotik darah
- distribusi elektrolit
- distribusi panas tubuh
- dll.

Neutrofil
Eritrosit granulosit Eosinofil
Benda-benda Basofil
Korpuskuler Leukosit
DARAH Limfosit
Trombosit agranulosit

9
Plasma/serum Monosit

Plasma

didiamkan/
albumin
darah + EDTA plasma globulin
disentrifus fibrinogen
eritrosit

Serum

didiamkan Serum albumin


darah globulin
disentrifus eritrosit

Pemeriksaan darah:
1. Materi : darah, tabung (venoject), kanul/jarum, spuit, mikroskop,
gunting bulu, antikoagulan, alkohol, dll.
2. Metode : - vena dibendung ditusuk dengan kanul darah
ditampung.
- lokasi vena
- aspirasi sumsum tulang (bone marrow)

Lokasi pengambilan darah:


- Vena jugularis (kuda, sapi, kerbau, domba, kambing, kadang-kadang anjing
dan kucing)

10
- Vena cava anterior (babi)
- Vena cephalica dan Vena saphena (anjing dan kucing)
- Vena marginalis telinga (kucing, anjing kecil, babi, kelinci)
- Vena ekor (mencit, tikus besar/rat)
- Plexus retro orbitalis (mencit, tikus besar/rat)
- Vena cubiti, Vena brachialis, jengger (ayam, itik, burung)
- Jantung (kebanyakan hewan)
- Pangkal kuku (anjing, sebagai variasi saja)

Pemeriksaan sampel darah:


- warna darah
- daya beku : - waktu prothrombine (prothrombine time)
- waktu koagulasi (coagulation time)
- waktu perdarahan (bleeding time)
darah keseluruhan (whole blood)
- berat jenis
Plasma, serum
- kadar hemoglobin
- pemeriksaan plasma, serum: - warna
- protein plasma
- bilirubin
- Ca, P, kreatin
- Kreatinin, ureum
- Mg, Fe, Ca
- dll
- Kecepatan sedimentasi darah
- Pemeriksaan PCV, MCV, MCH, MCHC
- Jumlah total eritrosit dan leukosit
- Preparat apus : - parasit darah (parasitemia)
- bakteri dalam darah (bakteriemia)
- leukogram (blood profile)

11
Protein : - albumin
- globulin (, β, γ) dapat dipisahkan dengan
- fibrinogen alat elektroforese
Plasma serum Non protein N (NPN) : - ureum
- kreatinin
- kreatin
Non protein - asam urat
- amonia
Non protein non N : Ca, P, Mg, K, N
Cl, Mn, Fe, dll.

Turun : - diet yang jelek


- protein break down meningkat
Total protein - sintesis protein yang jelek
- penyakit ginjal
Naik : - dehidrasi
- penyakit tumor
- syok

Defisiensi Ca & P : - penyakit milk fever


- penyakit osteoporosis
- penyakit osteo malacia (pada hewan dewasa)
- penyakit osteitis fibrose
- penyakit osteo distrofia (rubber jaw)
- penyakit rachitis (pada hewan muda)

1. albumin : BM ± 69.000
2. globulin :  = 200.000 – 300.000 1 globulin

12
Protein plasma β = 150.000 – 350.000 α2 globulin
γ = 150.000 – 300.000
3. fibrinogen : BM ± 400.000
1. Albumin : 40–60% dari total protein serum tergantung :
- spesies, umur, lingkungan, gizi.
- peranan penting dalam memelihara tekanan osmose darah
- sebagai cadangan asam amino untuk protein jaringan
- “pengikat” berbagai zat : - penisilin, aspirin, barbiturat
- histamin, bilirubin, porfirin,
ketosteroid
- membantu inaktifasi zat-zat toksik (detoksikasi)
- pengangkutan asam lemak bebas, asam-asam empedu
2. Globulin : , β globulin sebagai “pembawa” : - lipida
- hormon
- vitamin
contoh : globulin + lipida lipoprotein
 globulin + gugus karbohidrat ceruloplasmin

mengikat Cu
 globulin + gugus Karbohidrat haptoglobulin

mengikat Hb
(100-130 mg/100ml plasma)
β globulin + Fe++ transferin/ bila Hb > 130 mg/100ml plasma
siderophilin (disimpan
dalam hati, Lien/Limpa) diekskresikan lewat ginjal

Hemoglobinuria
γ globulin + anti body
misal : - leptospirosis
- piroplasmosis

13
- Cl. hemoliticum
- Cl. perfringens tipe A

hexose
Glycoprotein : protein + komponen karbohidrat hexosamin
asam sialic
3. Fibrinogen
- fungsi dalam proses koagulasi darah
- diproduksi di hepar
- produksinya ditunjang oleh vitamin K yang cukup
- “turn over time” ± 50 jam
- BM : ± 400.000
perubahan petologik
Indikasi pemeriksaan protein plasma perubahan fisiologik
faktor-faktor lain : gizi
tidak spesifik

Kepentingan pemeriksaan total protein :


1. keadaan nutrisi hewan
2. keadaan metabolisme protein, melibatkan hati hepatitis
ginjal nephritis

proteinuria
(albuminuria)
3. pemberian fluid therapy pada : - syok (total protein meningkat)
- perdarahan (total protein menurun)
- dehidrasi (depresi total protein meningkat)

Penurunan albumin plasma karena :


1. hambatan sintesa albumin
2. break down albumin yang berlebihan : penyakit

14
3. peningkatan konsentrasi globulin

infeksi viral
↑↑ γ globulin infeksi bakterial
infeksi protozoal
bakteri
 globulin meningkat : pada keradangan virus
β globulin meningkat : pada kasus hiperlipemia (kadar lemak darah meningkat)
, β globulin meningkat: pada anaplasmosis
γ globulin meningkat : berhubungan dengan kenaikan titer antibodi dalam
tubuh
misal: infeksi bakterial, viral, parasit, penyakit-penyakit
hepar.
- Immunoglobulin (Ig) G : mengandung antibakterial, antiviral, antitoxin.
- Immunoglobulin (Ig) A : mangandung antitoxin, antibakterial, agglutinin, iso-
agglutinin, antinuklear.
- Immunoglobulin (Ig) M : mengandung antibodi terhadap bakteri Gram negatif.

15
ERITROSIT

Berasal dari kata : erythro = merah ; cyte = sel


Erythron terdiri atas : - eritrosit yang bersirkulasi dan
- erythropoietic tissue (sumsum tulang)

Pada kondisi normal : erythron dapat mempertahankan keseimbangan produksi,


destruksi eritrosit SRE (Sistema Retikulo Endothelial)
dalam hati, lien dan sumsum tulang.
Sel-sel yang tua akan didestruksi oleh SRE di dalam hati, lien, sumsum
tulang Fe masih digunakan oleh sumsum tulang untuk
pembentukan darah.
Lifespan (jangka hidup) rata-rata eritrosit dalam hari:
- Bovine : 160
- Ovine (dewasa) : 70-153
- Ovine (muda) : 46
- Caprine : 125
- Equine : 140-150
- Porcine : 62
- Canine : 107-115
- Feline : 68
58
Teknik untuk mengetahui lifespan eritrosit, dengan menggunakan isotop Fe,
59
Fe, 15N, 14C, 51Cr.

Eritrosit terdiri dari: - 60-70% air (H2O)


- 28-35% haemoglobin (Hb)
- matrik anorganik dan organik

16
- membran sel non-elastik tetapi fleksibel (merupakan
bentuk khusus atau biconcave)
- eritrosit mamalia tidak berinti sedang eritrosit unta dan
unggas berinti
Erythron dapat dipengaruhi oleh keadaan patologik dan fisiologik, sebagai akibat
terjadi: - hypertrophy atau polycythemia
- atropy atau anemia
- hydremia atau hemodilution (pengenceran darah)
- dehydration atau hemoconcentration (pemekatan darah)

Anoksia: kurang oksigen darah

Eritrosit suplai O2 keperluan O2

renal regulation
Proses eritropoisis
dalam sumsum tulang Renal erythropoietine factor
(REF)

α2 globulin substrate
Hormon erythropoietine (eritropoitin)

GINJAL

17
Hormon eritropoitin meningkat pada keadaan:
- anemia
- hypoxia (kekurangan oxygen)
- pemberian CO
- pemberian h. testosteron
Hormon eritropoitin menurun pada keadaan:
- hypertransfusi
- hyperoxia
- penurunan kebutuhan jaringan
akan O2
Macam-macam anoksia
1. Anoxic – anoxia, pada keadaan :
- pneumonia
- pneumothorax
- udema pulmonum
- abses paru
- gangrena paru
2. Anaemic-anoxia, pada keadaan :
- defisiensi Hb
- keracunan CO
3. Stagnant-anoxia, pada keadaan :
 penyempitan lumen arteri, bisa bersifat :
- langsung thrombus
- tidak langsung (desakan dari luar arteri)
tumor
- gangguan jantung kongesti
4. Histotoxic-anoxia, pada keadaan :
- keracunan CN (cyanide) terjadi gangguan pada enzim
cytochrome oxydase, akibatnya terjadi gangguan proses oksidasi
jaringan

18
Fase-fase pembentukan eritrosit (menurut Schalm)

Rubriblast/Proerythroblast muda/Pronormoblast

Pada sapi 10 jam

Prorubricyte/Erythroblast muda/Normoblast muda

17 jam
Basophilic rubricyte/Basophilic erythroblast/Normoblast

31 jam
Polychromatophilic rubricyte/Polychromatopilic
Erythroblast/Normoblast/Erythroblast tua

42 jam
Normochromic (Orthochromic) rubricyte

Metarubricyte/Erythroblast tua/Normoblast tua

52 jam
Reticulocyte

Erythrocyte

19
20
1 Rubriblast/Pronormoblast membelah menjadi 8-16 eritrosit

eritrosit

Rubriblast/Pronormoblast

Pada sapi: dari rubriblast eritrosit butuh 4-5 hari


Pada anjing: dari rubriblast eritrosit butuh 7 hari

CARA MENGEVALUASI ERITHRON

- Jumlah total eritrosit/Packed Cell Volume (PCV)


- Kadar Hb
- Mean Corpuscular Volume (MCV)
- Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
- Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)

Jumlah total eritrosit memakai alat :

21
- Hemocytometer
- Automatic Cell Counter

Kadar Hb dengan metode: - Sahli


- Talquist
- Spectrophotometer

Packed Cell Volume (PCV) dengan metode :


- Macrohematocrit (Wintrobe)
- Microhematocrit

PCV x 10
Mean Corpuscular Volume (MCV) : = µ3/fL
Eritrosit

43 x 10
Misalnya: = 66,2 fL (femto-liter)
6,5

Interpretasi:
MCV normal: - perdarahan
- kasus hemolisis

normocytic (besar/diameter sel normal)

MCV naik: - terjadi peningkatan aktivitas sumsum tulang sebagai kelanjutan


hemorrhagi/perdarahan akut/hemolisis bukti adanya respon
regeneratif
- defisiensi faktor hemolitik : vitamin B12 dan asam folat

22
macrocytic (sel-sel dengan diameter besar meningkat
jumlahnya)

MCV turun: - defisiensi Fe - penyakit cacing kronis


- gangguan absorpsi Fe
- defisiensi Cu

microcytic (sel-sel dengan diameter kecil meningkat


jumlahnya)

Hb x 10
MCH = = µµg/pg (picogram)
Eritrosit

13,5 x 10
Misalnya: = 20,8 pg
6,3

Hb x 100
MCHC: = %
PCV

41 x 100
Misalnya: = 31 %
45

Interpretasi:
MCHC normal : normochromic
MCHC naik : hyperchromic
Misalnya pada kasus auto-immune disease

spherocyte

23
MCHC turun : hypochromic

KECEPATAN SEDIMENTASI DARAH


(applicable untuk darah anjing)

Memakai macrohematocrit dari Wintrobe


10
9- Pada temperatur kamar selama 1 jam
8- plasma
7-
6-
5- buffy coat
4- eritrosit muda (BJ lebih rendah daripada BJ eritrosit
3- dewasa)
2- diphasic sedimentation
1- sedimen eritrosit (PCV dalam %)

Pada kasus radang (degenerasi dan nekrosis)

Kecepatan sedimentasi darah meningkat

Ada hubungannya dengan :


1. Sifat fisiko-kimia dari permukaan sel eritrosit berubah
pembentukan rouleaux meningkat agregat
meningkat

24
2. Perubahan-perubahan pada plasma peningkatan kadar
fibrinogen pembentukan agregat meningkat
rouleaux : seperti tumpukan mata uang coin

Sumber error/kesalahan dalam pemeriksaan:


- konsentrasi antikoagulan tidak tepat
- tabung tidak bersih
- jika tabung tidak berdiri vertikal
- jika ada gelembung udara dalam tabung
- darah mengalami hemolisis
- koleksi sampel darah terlalu lama/kadaluwarsa
- darah yang telah dimasukkan ke dalam refrigerator harus disesuaikan
terlebih dahulu dengan temperatur kamar
- dapat dipakai metode Wintrobe atau Westergren

FIBRINOGEN
- adalah protein plasma yang dihasilkan oleh organ hati
- merupakan parameter yang baik untuk kasus keradangan kadar
fibrinogen meningkat sekali

plasma fibrinogen

presipitasi

disentrifus

25
microhematocrit waterbath (56-580C) selama
kira-kira 3 menit

potongan
potong disini

Refractometer/TS meter

Kadar fibrinogen = TPP - kadar TPP setelah direbus (56-580C)

Data normal :
Sapi : 300-700 mg/dL
Kucing : 100-300 mg/dL
Anjing & kuda : 100-500 mg/dL
Pada keadaan dehidrasi kadar fibrinogen maupun total protein dapat
meningkat secara relatif
Plasma protein (PP) : Fibrinogen (F)
15 : 1 atau lebih besar normal
10 : 1 atau kurang kenaikan fibrinogen plasma
secara absolut
perlu dipertimbangkan pula terhadap
hipoproteinemia berat

26
Pemeriksaan kadar protein plasma atau fibrinogen perlu diperbandingkan dengan
pemeriksaan total leukosit dan sel neutrofil apabila total leukosit dan sel
neutrofil meningkat ada proses keradangan (PP : F = 10 : 1)

Pada kuda : 500-600 mg/dL inflamasi


601-1.000 mg/dL inflamasi lebih berat
> 1.000 mg/dL inflamasi berat
Pada sapi : 300 - 700 mg/dL normal
800 mg/dL inflamasi/lesi jaringan
1.000 atau lebih inflamasi dan nekrosis

Pada domba : 100-500 mg/dL normal


600-900 mg/dL inflamasi

Disini masih diperlukan:


Evaluasi pemeriksaan hematology yang lain :
 pemeriksaan jumlah leukosit
 pemeriksaan diferensial leukosit

MORFOLOGI ERITROSIT

Pemeriksaan preparat apus : - morfologi eritrosit


- diferensial leukosit

Morfologi abnormal : 1. abnormalitas besar/size


2. abnormalitas bentuk
3. adanya inclusion bodies

Diameter eritrosit (µm) :

27
sapi : 4,0 - 9,6
domba : 3,5 - 6,0
kambing : 3,2 - 4,2 3,2 batas bawah paling kecil
babi : 4,0 - 8,0
kuda : 5,6 - 8,0
anjing : 6,9 - 7,3 6,9 batas bawah paling besar
kucing : 5,4 - 6,5
1. Abnormalitas besar/size
Eritrosit hewan piaraan besar eritrosit bervariasi sesuai dengan
spesies hewan

Kelainan-kelainan itu antara lain :


Anisocytosis besar eritrosit bervariasi, umumnya dijumpai pada darah sapi
normal (3,6-9,6 µm) terutama pada sapi muda

Anisocytosis meningkat : pada anemia regeneratif, banyak dijumpai


macrocyte dalam sirkulasi darah perifer.
Perkembangan selanjutnya akan dijumpai
poikilocytosis.
macrocyte
normal microcyte

2. Abnormalitas bentuk.
Kelainan-kelainan itu antara lain :
Poikilocytosis: iregularitas bentuk eritrosit
Perubahan-perubahan yang terjadi seperti :
normal - elliptocyte (a)
- sickle cell (b)
b - bentuk-bentuk seperti buah pear (c)
a e dan tear drop/tetes air mata (d)

28
d c - bentuk tidak beraturan (e)
bentuk-bentuk tersebut merupakan indikasi
adanya abnormalitas eritrogenesis

Leptocyte : eritrosit dengan bentuk pipih, dengan luas permukaannya meningkat


tetapi volumenya tetap.
Konsekuensinya :
normal - membran sel dapat melipat atau distorsi, lebih resisten terhadap
hemolisis dalam larutan hipotonik
- tidak mudah membentuk rouleaux atau saling melekat (clump) sel
yang satu dengan yang lain
leptocyte - laju endap darah/kecepatan sedimentasi darah menurun
- sel-sel ini biasanya menempati daerah buffy coat berwarna
pinkish tinge (agak pink)

Target cell (sel target) atau codocyte : karakteristik dengan daerah agak gelap di
bagian sentral dan dikelilingi daerah yang jernih.
Sering terlihat pada darah anjing.
normal
target cell

Spherocyte: - mempunyai rigid membrane (membran sel yang agak


“keras/kaku”) sehingga lebih resisten atau tahan terhadap
perubahan-perubahan bentuk (deformation).
spherocyte - sel ini segera didestruksi oleh SRE, oleh sebab itu
lifespannya pendek
- sel ini tidak umum terdapat pada domestic animals, terlihat
pada darah anjing yang menderita autoimmune hemolytic
anaemia

29
- pada manusia, spherocytosis merupakan penyakit kongenital
(penyakit congenital spherocytosis)
normal

Fragmentasi eritrosit terjadi pada anemia hemolitik atau penyakit-penyakit


dimana terjadi perubahan dalam mikrosirkulasi.
Ada 2 cara fragmentasi :
1. Fragmentasi secara alami : merupakan metode normal destruksi darah
2. Fragmentasi eritrosit yang lain bisa terjadi pada :
- kehilangan sifat elastisitas membran sel sebagai konsekuensi :
- antibody coating
- immune-mediated anaemia
- defisiensi Fe, pembentukan Heinz bodies, sickle cells
- hypercholesterolemia, lipemia

membran sel lebih kaku mudah terjadi fragmentasi

Hasil fragmentasi eritrosit bisa terjadi dengan koagulasi intravascular (tersebar)


pada pemeriksaan apus darah fragmen eritrosit tersebut bisa terlihat
sebagai bagian dari eritrosit : - keratocyte ( 1 atau lebih incomplete cut )
- schizocyte ( a complete cut )
- knizocyte ( bentuk triconcave )

lebih sering terlihat pada anemia hemolitik

Acanthocyte : eritrosit dengan rounded projections/tonjolan pada permukaan sel


- pada anjing dengan liver disease
- pada manusia, adanya abnormalitas plasma

30
misalnya abnormalitas pada metabolisme fosfolipida,
dimana pada penyakit ini terjadi penurunan kadar
fosfolipida dan kholesterol, demikian pula penurunan
kadar trigliserida dan free fatty acid

Crenation : tonjolan-tonjolan pada permukaan eritrosit bukan karena perubahan-


perubahan klinik, tetapi merupakan kesalahan teknis misalnya :
- pengeringan yang tertunda
- tercemar lytic agent (detergent)
- tercemar larutan hypertonic
- umur sampel terlalu lama
Oleh karena bentuk acanthocyte dan crenation serupa maka harus dibedakan
(baca makalah pada kursus Penyegaran Dokter Hewan Mandiri Suatu tinjauan
tentang pengaruh EDTA terhadap morfologi darah, 1991 ).

Anulocyte : akibat rendahnya kandungan Hb, maka terjadi daerah pucat yang luas
pada bagian sentral eritrosit.

anulocyte

Schistocyte : merupakan produk fragmentasi eritrosit, dapat berbentuk :


- triangular
- small elliptical form
- irregular crenated cells
Pada kasus anemia hemolitik
schistocyte

31
Siderocyte : eritrosit mengandung 1 atau lebih granula besi (pewarnaan dengan
Prussian blue)
Pada kasus dengan hambatan sintesis Hb misalnya :
 thalassemia (manusia)
 Pb poisoning
‘;’.
‘‘` siderocyte
Sickle cell (sel sabit)

Pada kasus sickle cell anaemia

sickle cell

Stomatocyte : eritrosit dengan area biconcave di bagian sentral

Pada kasus hereditary hemolytic anaemia

stomatocyte

3. Adanya inclusion bodies (benda-benda inklusi) dalam eritrosit

Reticulocyte : - tidak dijumpai pada pemeriksaan darah perifer atau dalam jumlah
yang kecil (normal).
- spesifik (macrocytic, polychromatophilic)
`; ‘

.
,;
.’
,;
,.
;.
;.
;.
,.

`‘; reticulocyte

- MCV meningkat
- Berat jenis rendah

32
- Lebih resisten terhadap larutan hipertonik
- Lebih resisten terhadap krenasi
- Tidak berpartisipasi dalam pembentukan rouleaux

Catatan :
Pada anjing dan kucing : 0,5 - 1% dalam darah perifer
Pada babi : sampai dengan 2%
Pada marmot, kelinci, tikus, mencit : 2 - 4%

Pewarnaan reticulocyte : sebelumnya preparat apus tidak difiksasi terlebih dulu


dengan methanol/metil alcohol.

Reagen : - 1% larutan brilliant cresyl blue dalam larutan fisiologik


- 0,5% larutan new methylene blue dalam 1,6% larutan potassium
oxalate
- Kemudian larutan-larutan tersebut di atas dicampur.

Tipe-tipe reticulocyte :

Tipe I terlihat titik-titik kromatin yang tercat dengan new


methylene blue
;’;’

Tipe II terlihat granula gelap, satu atau dua membentuk reticulum


,.
‘`

Tipe III terlihat granula lebih gelap, dan membentuk reticulum


,,
‘‘

33
Kalkulasi reticulocyte secara absolut:

observed PCV
Absolute % retic. count = observed % retic. count x
normal PCV

Misalnya : anjing dengan PCV 20% ( PCV normal = 45% )


Retic. = 32%
20
Maka reticulocyte absolut = 32 x = 14,2%
45

Reticulocytosis :
- hemoragi akut erytropoiesis naik
- anemia hemolitik
Penghitungan reticulocyte sebagai metode untuk mengevaluasi terapi
terhadap anemia.
Kondisi optimal jumlah reticulocyte sangat tinggi (4-5 hari setelah
terapi) kemudian maksimum 9-10 hari setelah terapi
kembali normal pada akhir minggu ke 2
atau 3 setelah terapi.
Kalau ada kelainan respon perlu pemeriksaan detail sebab-sebab
penyakitnya.

Penurunan reticulocyte persisten pada hewan yang alami anemia prognosa


jelek dugaan adanya gangguan sumsum tulang.

Respon reticulocyte :
Kucing : Tahap awal respon aktif reticulocyte peningkatan eritrosit dengan
mengandung banyak reticulum. Kemudian tahap akhir terlihat punctata

34
form (bentuk titik atau granul) dari reticulum. Pendewasaan reticulocyte
lebih lama pada kucing.
Reticulocyte naik pada saat ini tidak mesti adanya peningkatan
aktivitas sumsum tulang.
Terapi epinephrin reticulocyte naik (kucing) seperti kucing yang alami
eksitasi selama sampling darah dilakukan (60-80% reticulocyte).

Respon reticulocyte ringan pada anjing : 1 - 4%


kucing : 0,5 - 2%
Respon reticulocyte moderate pada anjing : 5 - 20 %
kucing : 3-4%
Respon reticulocyte berat pada anjing : 21 - 50 %
kucing : >5%
( tipe I + II )
Reticulocytosis - sapi :
- blood loss (perdarahan)
- destruksi eritrosit meningkat
- stimulasi erythrogenic bisa disertai basophilic stippling dalam
sel (stippled cell) respon terhadap anemia

Punctata basophilia (basophilic stippling)


- Adanya punctata aggregate dari basophilic staining materials
sebagai granul kasar dalam eritrosit.
- Warna biru gelap dengan Wright’s stain.
- Kadang dijumpai pula eritrosit berinti.
- Adanya stippling adalah perubahan degeneratif dari sitoplasma
yang melibatkan ribonucleic acid (RNA) pada eritrosit muda.
- Contoh kasus :
Pb-poisoning ( 94%) pada anjing dan sapi.

35
- Pemakaian EDTA berlebihan + potassium oxalate
mengurangi stippled cells yang terdeteksi.
- Basophilic stippling kadang-kadang dijumpai pada eritrosit anjing
normal, tetapi jumlahnya sedikit.

Polychromasia (reticulocyte): adanya warna basophilia pada eritrosit secara difus,


karakteristik dengan warna biru-kemerahan yang difus pada
eritrosit.

Metarubricyte kehilangan inti ( proses pendewasaan )

masih ada substansi basophilic dalam sitoplasma

mengandung RNA + protoporphyrin

warna kebiruan ( polychromatophilia )

Anemia

Howel –Jolly bodies :


o merupakan sisa-sisa inti
o dengan Wright’stain terlihat :
- benda refractile ( single/double )
- bentuk spheris/bulat kebiruan
- bentuknya bisa bervariasi

o Harus dibedakan dengan Anaplasma marginale, dimana :


- bentuk uniform
- letak di bagian perifer eritrosit

36
H.J. bodies meningkat pada anemia

Keadaan normal terdapat H.J. bodies hanya :


- 1% pada kucing
- kadang-kadang pada anjing
- sering pada babi muda (3 bulan)
- kadang-kadang pada kuda, bentuk bervariasi warna hitam dan letak
eksentrik.

Heinz bodies :
- Bentuk kecil, bulat, irreguler, refracticle, bisa single, multiple
dalam 1 sel eritrosit.
- Keracunan phenothiazine, wild onion poisoning.
- Benda-benda ini merupakan denaturasi protein, agen-agen toksik
terhadap eritrosit anemia (indikasi terhadap erytrocyte
injury/anemia hemolitik).
- Terlihat dalam reticulocyte.
- Terlihat pada unfixed dan unstained smears/preparat darah.
- Benda-benda ini hilang setelah fiksasi dengan etil dan metil
alkohol.
- Pada manusia (pada keracunan):
- Napthalene
- Sodium nitrate
- Sodium chlorate
- Sulfanilamide
- Paramino salicylic acid
- Isoniazid
- Nitrofurantoin
- Obat anti malaria tertentu
- Phenacetin

37
- Heinz bodies kadang dapat dijumpai pada kucing normal, dimana
terjadi destruksi aktif eritrosit.
- Heinz bodies tidak terdestruksi dengan reagen yang dipakai
dalam pemeriksaan Hb.
- Heinz bodies dapat ditemui pada kucing (cystitis, urolithiasis)
yang biasanya diobati antiseptik methylene blue.
- Heinz bodies dapat dijumpai pada anjing diberi prednisolone
setiap hari.

Kristal Hb.
- Dilaporkan pada anjing dan kucing :
 di dalam erittrosit
 di luar eritrosit
Dengan Wright’s stain akan nampak gelap dengan bentuk
kristal :
 persegi
 polygonal
 rectangular
- Pada anjing : - cyclic neutropenia
- Pada kucing : setelah splenectomy/operasi pengambilan
spleen/limpa.

Eritrosit berinti
- Tidak terdapat pada hewan piara normal kecuali babi menyusui
(3 bulan), kadang-kadang terdapat pada anjing normal.
- Sebagai respon terhadap kebutuhan akan darah anemia
regeneratif : - reticulocyte naik
- eritrosit berinti/normoblast sangat tinggi.
- Adanya eritrosit berinti naik tanpa kenaikan jumlah eritrosit
abnormal eritrogenesis

38
- Eritrosit berinti sangat tinggi :
 pada extra medullary erythropoiesis
 neoplasia erythron megaloblastoid
rubriblast naik

TES FRAGILITAS ERITROSIT

- Tes fragilitas eritrosit bukan merupakan pemeriksaan rutin hematologi.


- Pada penyakit tertentu fragilitas eritrosit meningkat atau menurun.
- Tes fragilitas eritrosit dilakukan sehubungan dengan gangguan sistema
hemopoitik.

Cara :
Eritrosit atau darah dimasukkan ke dalam larutan NaCl dengan berbagai
konsentrasi. Misalnya larutan hipotonik mulai dari 1% NaCl kemudian meningkat
dengan interval 0,02 %.

1 2 3 4 5 6 7 8
tetes ˜˜15-18 tbg
darah

1% 0,98 0,96 0,94 0,92 0,90 0,88 0,86 dst

Rata-rata nilai fragilitas osmotik pada hewan normal


Hewan Resistensi min. Resistensi max.

39
% larutan NaCl % larutan NaCl
Sapi 0,59 – 0,66 0,40 – 0,50
Domba 0.60 - 0,76 0,40 – 0.55
Kambing 0,62 - 0,74 0,48 – 0,60
Babi 0,70 - 0,74 0,45
Kuda 0,42 - 0,59 0,31 – 0,45
Anjing 0,45 - 0,50 0,32 – 0,36
Kucing 0,69 - 0,72 0,46 – 0,50
Ayam 0,41 - 0,42 0,28 – 0,32
Tes fragilitas osmotik meningkat pada :
- Anaplasmosis (sapi)
- Isoimmune hemoliytic anaemia pada new born pups (anak anjing
baru lahir)
- Autoimmune hemolytic anaemia (anjing)
- Injeksi intra-vena anti-canine red cell immune serum

Tes fragilitas osmotik menurun (ini berarti pula resistensinya meningkat) pada :
- eritrosit sapi yang mengalami porphyria dimana terjadi
peningkatan jumlah eritrosit muda yang relatif lebih resisten

ANEMIA

- Adalah penurunan jumlah eritrosit, Hb, atau keduanya dalam sirkulasi darah.
- Pada hewan piaraan (domestic animals), jarang yang bersifat primer, sering
bersifat sekunder.
- Treatment atau pengobatan anemia tanpa mengetahui lebih dahulu sebab-
sebabnya adalah tidak benar/tidak berhasil.
- Dokter hewan perlu tahu klasifikasi anemia dan hubungannya dengan kondisi
penyakit yang lain.

40
Pendekatan diagnostik anemia.

Anemia : - bukan diagnosa


- harus dicari etiologinya atau penyebabnya
Metode :
I. Fisik
A. Klinis :- mukosa pucat
- lemah
- tachycardia dan polypnea (bernafas cepat dan frekwen) terutama
setelah kerja
- peka terhadap dingin
- pada pemeriksaan auskultasi terdengar bising jantung karena :
- viskositas darah menurun
- turbulence meningkat
- bilamana sepertiga volume darah hilang, maka hewan akan syok
- terlihat ikterus (jika ada hemolisa darah), hemoglobinuria,
hemoragi dan demam
B. Gejala kurang jelas jika kejadiannya pelan-pelan hewan lama-kelamaan
dapat adaptasi.

II. Konfirmasi laboratorium adalah penting.


A. PCV : - paling mudah dan tepat
- perlu diingat tingkat dehidrasinya
B. Pemeriksaan Hb dan eritrosit untuk menentukan klasifikasi anemianya.

III. Apakah tipe anemianya regeneratif atau degeneratif.


Ini adalah langkah pertama untuk mempersempit diagnosa.
A. Anemia regeneratif
1. Dugaan ini ke arah adanya perdarahan atau destruksi eritrosit, jika
cukup waktu untuk respon regeneratif (2-3 hari).

41
2. Pemeriksaan sumsum tulang jarang dilakukan, biasanya adanya
erythropoietic hyperplasia.
3. Respon regeneratif pada saat proses kesembuhan dari anemia non
regeneratif dapat dilihat pada pemeriksaan hemogram secara
serial/berturutan.
B. Anemia non regeneratif
1. Dugaan terhadap gangguan sumsum tulang.
2. Pemeriksaan sumsum tulang diwajibkan untuk menguatkan diagnosa
dan klasifikasi anemianya.
3. Pada perdarahan akut/perakut atau kasus hemolisis pada hewan yang
mengalami gangguan sumsum tulang tanda–tanda non regeneratif
terlihat setelah 2-3 hari kemudian.

IV. Perdarahan (anemia hemoragi)

V. Destruksi eritrosit meningkat (anemia hemolitik)

VI. Gangguan eritropoiesis

Klasifikasi anemia :
- morfologi : dibutuhkan penghitunghan MCV, MCH, MCHC..
- etiologi, ada 4 kategori :
1. perdarahan (blood loss)
2. peningkatan destruksi eritrosit atau penurunan lifespan
eritrosit
3. depresi sumsum tulang
4. defisiensi nutrisi
Anemia : - responding anemia makrositik
- non-responding anemia normositik

42
Anemia mikrositik bisa bersifat: - responding
- non responding

Anemia perdarahan (blood loss anaemia)


Pada keadaan: - perdarahan akut
- perdarahan sub akut
- perdarahan kronis

Perdarahan akut :
- trauma, operasi pembedahan
- defek-defek koagulasi yang parah perdarahan akut pada
keracunan sweet clover, warfarin/bracken fern
- coagulopathies (defek-defek koagulasi yang tidak diketahui sebab-
sebabnya) pada hewan

Perdarahan kronis :
- biasanya mikrositik hipokromik (kekurangan elemen-elemen untuk
pembentukan atau sintesis hemoglobin)
- ciri-ciri : - mikrosit meningkat jumlahnya
- penurunan kadar Hb
- peningkatan jumlah retikulosit dan eritrosit berinti, ini
menandakan adanya peningkatan proses eritrogenesis
- penyebab : - infestasi parasit, misalnya :
- cacing kait (hookworms)
- cacing perut (stomach worms)
- coccidia
- cacing bungkul (nodular worms)
- cacing hati
- parasit eksternal : - kutu
- pinjal

43
Perdarahan kronik (pada kasus cacingan)

karena lesi-lesi gastrointestinal

gastritis enteritis
ulserasi traktus digestivus

gradual blood loss


(kehilangan darah secara kronis)
Pemeriksaan laboratorik untuk hemoragi akut dan subakut agak menciri :
- pertama kali terlihat gambaran normocytic.
- eritrosit berinti terlihat pada pemeriksaan darah perifer dalam
waktu 72-96 jam.
- peningkatan retikulosit pada hari ke 4-7.
- tidak menciri adanya perubahan bentuk yaang menyolok
terhadap morfologi eritrosit, walaupun regenerative reticulocyte
berhubungan dengan anisocytosis dan polychromasia.
- derajat penurunan kadar Hb total tergantung pada kuantitas
eritrosit yang hilang.

Perdarahan perakut pada rongga abdominal dan rongga dada. Sifat


regenerasi perdarahan akut biasanya berjalan progresif, dengan jumlah eritrosit
kembali normal dalam waktu 4-5 minggu. Perubahan-perubahan morfologik
eritrosit (anisocytosis dan poikilocytosis) menghilang kira-kira dalam waktu 10
hari. dan peningkataan jumlah leukosit ke batas normal dalam waktu 2-4 hari.
Adanya retikulositosis dan leukositosis persisten mungkin merupakan indikasi
masih berlangsungnya proses perdarahan. Pada perdarahan ke rongga abdominal
atau rongga dada, maka cairan darah pada kasus ini mengalami resirkulasi dan
volume darah secara pelan-pelan akan kembali normal. Perdarahan ke dalam
jaringan eritrosit akan mengalami destruksi sebelum proses reabsorpsi.

44
Segera setelah perdarahan perakut exterior (perdarahan keluar tubuh),
mungkin pada pemeriksaan dengan parameter eritrosit masih nampak normal,
akan tetapi adanya hypovolemia (berkurangnya volume darah) akan segera
dikoreksi dengan bergesernya cairan tubuh dari extracellular ke intracellular.

Anemia hemolitika :
- berhubungan dengan proses destruksi besar-besaran atau
pendeknya lifespan eritrosit oleh berbagai penyakit.

- Misalnya pada: - infeksi parasit darah


- infeksi bakterial
- infeksi viral
- agen kimia
- intoksikasi racun tanaman
- penyakit metabolik

Parasit darah : - anaplasma


- piroplasma adanya inklusi atau
- haemobartonella parasit dalam eritrosit
- eperythrozoon

Infeksi bakterial: - Clostridium haemolyticum


- Leptospira (anjing, domba, sapi)
misalnya : L. icterohaemorrhagiae (L. canicola
tidak menyebabkan hemolisis darah)
Gejala-gejala yang nampak adalah ikterus,
hemoglobinuria, kecepatan sedimentasi darah
meningkat, inflamasi dan melanjut dengan anemia.

Penyakit infeksi virus (Equine infectious anaemia)


- bersifat kronis

45
- demam intermiten/selang-selang
- Jaundice indirect bilirubin meningkat
- udema (oedema)
- perdarahan petechiae pada mukosa
- kematian setelah 10 – 14 hari
- jumlah total leukosit sangat menurun
- lifespan eritrosit berkisar antara 28–113 hari (normal 136 hari)
- kadar haptoglobulin plasma menurun

Agen kimia
- Intoksikasi copper (Cu) pada domba, babi dan sapi
Domba sensitif keracunan terhadap Cu (dari tanaman yang
mengandung Cu berlebihan) diakumulasi dalam hati,
kemudian dibebaskan ke sirkulasi darah, akhirnya Cu
menyebabkan hemolisis sel-sel darah
- Akibatnya yang terjadi : - hemoglobinuria
- hiperplasia sumsum tulang
- Intoksikasi plumbum/Pb/timah hitam/timbal.
- Pb menyebabkan gangguan pada enzim δ-aminolevulinic acid
dehydratase (δ-ALAD), sehingga terjadi gangguan pembentukan
Hb dan akibatnya terjadi anemia makrositik hipokromik (Untuk
informasi lebih lanjut, bacalah makalah-makalah seminar tentang
intoksikasi Pb). Lihat pula skema tentang pengaruh Pb terhadap
sintesis Hb.
- Terjadi peningkatan jumlah stippled cells .
- Terbentuknya inclusion bodies pada sel-sel tubulus proksimal
ginjal dan sel hati.
inclusion body
sel
inti

46
- Intoksikasi phenothiazine, pada penggunaan obat cacing yang
berlebihan (kuda) mendorong terjadi lisis sel-sel darah,
biasanya timbul Heinz bodies.
- Intoksikasi methylene blue (sebagai antiseptik), bisa
menyebabkan anemia hemolitik dan terbentuk Heinz bodies.

Intoksikasi racun tanaman, misalnya :


- biji jarak (castor beans)
- akar pohon oak (oak shoots)

- broom
- wild onion anemia, terbentuk Heinz bodies

Penyakit metabolik
- post pasturient hemoglobinuria pada sapi perah (3 minggu
setelah melahirkan), penyebabnya belum diketahui.

47
48
Led effects on the biosynthesis of haem.
(From: National Academy Sciences 1972)

Klasifikasi secara morfologik dan etiologik pada anemia


Klasifikasi morfologik Klasifikasi etiologik
Normositik-normokromik Depresi eritrogenesis
- radang kronis
- nepritis dengan uremia
- defisiensi endokrin (thyroid, hormon yang
dihasilkan oleh gld. adrenal bagian medulla)
- neoplasia
- hipoplasia sumsum tulang, karena :
- racun braken fern
- radiasi
- ehrlichiosis
- toksisitas chlorampenicol
- perdarahan akut (setelah volume cairan banyak
keluar dan sebelum terjadi respon regenerasi)
Makrositik-normokromik Defisiensi : - vitamin B12
- asam folat
- cobalt (ruminansia)
Erythemic myelosis (kucing)
Poodle macrocytosis
Makrositik-hipokromik Masa kesembuhan dari perdarahan besar
- perdarahan karena trauma atau defek-defek
koagulasi
- destruksi secara masif dengan :
- immune mediated anaemia
- infeksi hemoprotozoa
- toksisitas obat
- anemia kongenital pada anjing
basenji
Mikrositik-hipokromik Defisiensi Fe (besi)

49
- kurang diet Fe
- perdarahan kronis (exterior)
Defek-defek dalam kebutuhan dan penyimpanan Fe
- defisiensi Cu
- keracunan molybdenum
Defisiensi vitamin B6

IMMUNO HEMOLYTIC DISEASE OF THE NEWBORN


(Penyakit hemolitik pada hewan baru dilahirkan)

Terjadi pada: - kuda


- babi
- anjing
- kucing
- pedet

Penyakit ini menyerupai penyakit erythroblastosis fetalis pada manusia.

Pada manusia :
Ibu dan anak dipisahkan oleh a single placental barrier (barrier placental
tunggal) sehingga antibodi ibu mudah memasuki badan fetus.
Konsekuensimya, antibodi ibu berhadapan dengan Rh factor fetus yang didapat
dari ayahnya dapat melalui barrier placenta di atas akibatnya terjadi
destruksi darah fetus.

Pada hewan :
Induk dan anak dipisahkan oleh beberapa membran placenta, sehingga antibodi
tidak dapat melalui membran placenta tadi konsekuensi fetus bebas dari

50
ancaman antibodi induk. Pada hewan yang baru lahir ini menerima antibodi induk
dari kolostrum (beberapa jam setelah lahir) destruksi darah fetus
terjadi anemia. Pada anak kuda terjadi pada 12-96 jam setelah lahir ikterus
hemolitik.

AUTO IMMUNE HEMOLYTIC ANAEMIA


(AIHA)

kejadian pada : - anjing


- kucing
- kuda

Antibodi AIHA terdapat permukaan eritrosit. Eritrosit yang diselubungi oleh


antibodi ini menyebabkan eritrosit akan dibawa ke tempat phagositosis lebih cepat
dari keadaan normal.
Penyakit ini dapat dideteksi dengan tes antiglobulin (Coombs’test) dapat
dideteksi IgG dan IgM (IgG : antibodi serum, IgG : antibodi sebagai respon
terhadap antigen).
Perlu diperhatikan Coombs’test dapat bereaksi positif pada anemia anjing dan
kucing yang disebabkan oleh :
- Lypmhoid dan myeloid neoplasia
antibodi - Hemosangio sarcoma
eritrosit - Feline leukemia virus infection
- Haemobartonelliosis
- Ehrlichiosis
- Leishmaniasis
- Piroplasmosis

51
- Penyakit autoimunitas yang lain :
- systemic lupus erythematosus
spherocyte - immune-mediated thrombocytopenia

Akibat yang terjadi :


- anemia hemolitik, spherocyte meningkat, bersifat anemia regeneratif,
polycromatophilia, anisocytosis, poikilocytosis, reticulocytosis.
- MCH, MCHC (anjing) biasanya normal.
- Bila ada respon regenerasi MCV meningkat dan MCHC bisa
agak turun sebab banyak eritrosit muda (kurang mengandung Hb).
- Bisa bersifat anemia non regeneratif bila menyangkut kerusakan
precursor eritrosit dalam sumsum tulang perlu pemeriksaan
sumsum tulang seperti pada penyakit gangguan sumsum tulang atau
penyakit myeloproliferative.
- Bisa terjadi leukosistosis, sel neutrofil meningkat, sel neutrophil
band meningkat.
- Gejala klinis :
- membrana mukosa pucat
- kelemahan
- anorexia
- kelesuan (lethargy)
- tachycardia
- tachypnea
- ikterus
- Hb uria

52
AUTOIMMUNE HEMOLYTIC ANAEMIA (AIHA)

Pada anjing dengan kasus AIHA, dapat dijumpai gambaran


erythrophagocytosis dalam darah. Biasanya eritrosit difagositosis oleh sel
neutrofil atau monosit. Hal ini sebagai indikator adanya reaksi autoimunitas.
erythrophagocytosis

inti monosit

spherocyte
poikilocytosis
inti sel neutrofil
macrocyte

Selain itu dapat terjadi gambaran systemic lupus erythematosus (SLE), ini
disebabkan oleh adanya antinuclear antibody (antibodi bersifat anti nukleus) atau
anti nucleoprotein. Ini yang dimaksud dengan fenomena terjadinya SLE pada
kasus AIHA. Biasanya antinuclear antibodies adalah IgG, IgM dan kadang-
kadang IgA. Antibodi tersebut menyebabkan depolimerisasi DNA nukleus,
akibatnya nukleus membengkak, menyebabkan ruptur sel dan akhirnya terbatas

53
sebagai massa amorph disebut LE (lupus erythematosus) body. Hal ini menarik
bagi sel neutrofil untuk mendekati massa tersebut dan kadang-kadang
memfagositosis.

sel neutrofil

massa nukleus amorph

DEPRESI SUMSUM TULANG

Penurunan eritropoisis sumsum tulang biasanya bersamaan dengan


penurunan secara progresif terhadap jumlah total eritrosit dan kadar Hb. Kadang-
kadang terjadi secara simultan dengan penurunan jumlah total leukosit.
Bersifat anemia non-regeneratif, bisa disebabkan oleh :
- agen fisik
- agen khemikalia
- agen infeksi/anemia sekunder

Contoh : - anemia hipoplastika


- anemia aplastika depresi total terhadap sumsum tulang,
menciri dengan tidak adanya respon
retikulosit, pada tabung hematokrit nampak
jernih, tidak berwarna, plasma nampak cair.
Kadang-kadang dijumpai leptocyte,
sehubungan dengan malfungsi sumsum
tulang dan gangguan pendewasaan eritrosit.

Agen fisik :
- irradiasi sinar Rontgen, radium, isotop radioaktif

54
- ciri anemia dengan granulocytopenia, lymphopenia dan
thrombocytopenia.
Contoh : anjing disinari 300x Rontgen leukosit turun sampai
900 sel/µL (mm3).
Agen khemikalia :
- Trichloroethylene-extracted feeds
- bracken ferm
- antibiotik tertentu (chloramphenicol)
- estrogen
- phenylbutazone
Keracunan trichloroethylene-extracted soybean oil
- temperatur tubuh meningkat
- anorexia
- depresi
- perdarahan pada lubang-lubang tubuh
- trombosit sangat turun
- leukosit menurun
- anemia
- pemeriksaan sumsum tulang :
inactive dan ditemukan banyak sel-sel muda

Keracunan chloramphenicol (oral atau parenteral)


 Kucing : 50 mg chloramphenicol/kg bb.
Selama 21 hari menyebabkan vakuolisasi sel-sel
precursor dari erythrocytic dan granulocytic series.
vakuola
 Anjing : 225-275 mg/kg bb/hari
depresi sumsum tulang.

Keracunan estrogen
- Diethylstilbestrol - depresi sumsum tulang

55
- thrombocytopenia
- leukopenia

Keracunan phenylbutazone
- menyebabkan dyscrasia darah anjing
- thrombocytopenia
- leukopenia
- mekanisme dyscrasia belum diketahui

Anemia sekunder :
- infeksi kronik
- nephritis kronik
- penyakit liver kronik
- defisiensi endokrin
- penyakit parasiter
- penyakit myeloproliferative
- hematopoietic malignancies

Infeksi kronik
Infeksi kronik bisa menyebabkan :
- anemia normocytic normochromic
- anemia microcytic hypochromic
- anemia microcytic normochromic
(Total eritrosit + kadar Hb tidak ekstrem rendah, tapi bisa sedikit di bawah kadar
normal).
Mekanisme anemianya belum tegas dapat dijelaskan tapi ada hipotesa
mengatakan bahwa akibat proses inflamasi, banyak zat besi (Fe) beralih ke
jaringan sehingga tidak dapat dipakai dalam sintesa Hb.

Nephritis kronik

56
- anemia normocytic normochromic
- uremia meracuni tubuh
- sintesa hormon erythropoietine turun ada kerusakan ginjal
Penyakit hati kronik
- anemia macrocytic defisiensi faktor hematopoietik
- misalnya pada chirrosis hepatis eritrosit aplasia (anjing)
- Bila jaringan hati banyak yang rusak, maka produksi faktor-
faktor koagulasi darah menurun ikut interferensi
dalam proses koagulasi darah terjadi gangguan.

Defisiensi endokrin
Contoh : - hypothyroidismus anemia (anjing)
- hypopituitarismus anemia makrositik
- hyperthyroidismus anemia normocytic normochromic (anjing)

Infestasi parasit
- Anemia normocytic normochromic terjadi apabila ada depresi selektif
pada proses eritrogenesis akibat infestasi trichostrongylus (domba dan
sapi).
Terlihat PCV : < 12%, jumlah reticulocyte meningkat
- Ehrlichiosis : - non-regenerative anaemia
- thrombocytopenia
- leukopenia

Penyakit myeloproliferative dan hematopoietic malignancies

Myeloproliferative disease pada kucing :


- anemia berat abnormal erythrogenesis
- PCV : 8 - 12%
- hewan diobati tetapi tidak menunjukkan respon

57
- ada normal dan abnormal nucleated erythrocytes (eritrosit berinti) pada
pemeriksaan darah perifer.

Lymphocytic leukemia pada kucing : (penyebab virus)


- PCV :10 - 20% disertai adanya eritrosit berinti.
- anemia non-regenerative normocytic normochromic
- granulocytic anaemia

Erythremic myelosis dan erythro leukemia


- anemia berat
- proliferasi neoplastik dari sel-sel eritrosit muda misalnya rubriblast
meningkat dengan besar sel yang tidak normal pada sirkulasi perifer.
- kadang-kadang ada eritrosit berinti ganda pada darah perifer dan
sumsum tulang.

Lymphocytic neoplasia (anjing)


- moderate anaemia kronik
- bila sumsum tulang sudah terinfiltrasi sel-sel neoplastik ini maka
terjadi anemia aplastika.

Idiopathic aplastic anaemia


- terjadi erythrocyte aplasia dengan tidak diketahui sebabnya.
- Anemia non-regenerative depresi sumsum tulang.

Anemia herediter
- Tidak umum pada manusia, tapi dilaporkan terjadi pada hewan.
- Anemia herediter : - porphyria (sapi dan babi) (defek sintesa haem)
- Macrocytic normochromic :
- polychromasia
- anisocytosis
- basophilic stippling

58
- reticulocytosis
- eritrosit berinti
Anemia nutrisi
Defisiensi mineral : - Fe (sering pada anak babi)
- Co
- Cu
- tanaman yang mengalami defisiensi mineral-mineral
tersebut di atas

Anemia-defisiensi vitamin
Defisiensi vitamin B12 + asam folat gangguan eritropoisis

digunakan dalam pendewasaan eritrosit

gangguan pendewasaan (defisiensi)

sel megaloblast meningkat

MCV meningkat macrocytic.

Defisiensi protein
Produksi Hb menurun anemia (Hb dibentuk dari protein).
- defisiensi lysine pada babi anemia normocytic normochromic.

POLISITEMIA (POLYCYTHEMIA)

59
(Peningkatan jumlah eritrosit)

sejati (absolut/ total eritrosit meningkat)


- polycythemia vera (anjing, kucing, sapi)
Polisitemia - hypoxia-stimulated erythropoiesis

relatif (dehidrasi/puasa)
- hemokonsentrasi.

Polycytemia vera : adalah penyakit yang menciri dengan naiknya jumlah total
eritrosit sehubungan dengan meningkatnya volume total
darah.
Polisitemia karena hypoxia-stimulated erythropoiesis :
Ada hubungan adanya hypoxia dengan stimulasi sumsum tulang.
Contoh :
1. Hewan ditempatkan pada tempat yang tinggi
menyebabkan polisitemia sedang
2. Penyakit-penyakit yang ada interferensi dengan proses oxygenasi,
misalnya lesi-lesi obstruksi saluran pernafasan.
3. Penyakit jantung kongenital
4. Insufisiensi sirkulasi stagnasi darah dan menyebabkan
hypoxia.

Polisitemia relatif : hewan syok, kurang minum, muntah, diare


hemo- konsentrasi sebagai
bahan pertimbangan dalam mengevaluasi anemia.

LEUKOSIT
60
aliran darah
Sumsum tulang Jaringan

total leukosit
pemeriksaan darah
diferensial leukosit

dapat diinterpretasikan (untuk melihat) :


1. Kerentanan terhadap penyakit (susceptibility of the host)
2. Derajat virulensi dari organisme
3. Derajat keparahan dari proses penyakit
4. Respon sistemik dari individu
5. Lamanya proses penyakit.

Pemeriksaan akan lebih bermanfaat apabila :


- Dilakukan pemeriksaan darah secara seri (berurutan) misalnya lebih
dari 1x (pemeriksaan total dan diferensial leukosit)
- Juga dilakukan pemeriksaan fisik hewan.

Indikasi pemeriksaan leukosit


- Pemeriksaan total dan diferensial leukosit merupakan bagian dari
pemeriksaan fisik rutin hewan sakit.
- Pemeriksaan awal pada hewan yang akan dilakukan imunisasi rutin dan
yang akan dilakukan operasi.
- Dari pemeriksaan total dan diferensial leukosit, riwayat penyakit dan
pemeriksaan fisik dapat diketahui abnormalitas gambaran leukosit
untuk penegasan diagnosa, prognosa dan memilih terapi yang

61
tepat. Dalam hal ini dapat menentukan: penyakit bersifat umum,
sistemik atau lokal.
Diagnosis secara absolut adalah jarang, kecuali penyakit leukemia,
proses penyakit pyogenik lokal dan penyakit viral pada tahap inkubasi.

Limitasi pemeriksaan leukosit


1. Kesalahan (error) selama koleksi sampel.
- Penggunaan antikoagulan cair menyebabkan pengenceran darah.
- Dosis dan homogenitas antikoagulan dan darah perlu dijaga untuk
mencegah penjendalan.
- Hemolisis syringe basah
- Jendalan darah dalam jarum (needle)
- Kontaminasi khemikalia pada syringe dan tabung penampung.
- Dihindari pengkocokan sampel bisa hemolisis.
2. Kesalahan dalam pengenceran.
human error : dalam menghisap darah ke dalam pipet leukosit.
3. Kesalahan hitung
-Harus tahu betul tentang ciri-ciri sel-selnya.
-Preparat apus terlalu tebal.
-Pilih daerah yang populasi leukosit merata.

daerah pemeriksaan diferensial leukosit

62
Leukosit normal

Spesies Total leukosit Rata-rata total leukosit


x 103/µL x 103/µL
Bovine (sapi) 4 - 12 7,6
Ovine (domba) 4 - 12 7,6
Caprine (kambing) 4 - 13 12,0
Porcine (babi) 10 - 22 16,0
Equine (kuda)
through breed 5,5 - 14 10,0
draft 6 - 12 8,8
Canine (anjing) 6 - 15 11,0
Feline (kucing) 5,5 - 18 12,5

BLOOD

Skema granulopoisis

Leukosit meliputi : - sel neutrofil semua berpartisipasi dalam

63
- sel eosinofil pertahanan tubuh dan tiap-
- sel basofil tiap sel secara kinetik dan
- limfosit fungsional independen (tidak
- monosit terikat satu sama lain)

I. SEL NEUTROFIL
A. Fungsi sel neutrofil
1. Aktivitas phagocytosis dan bacteriocidal sebagai fungsi primer.
a) Beberapa proses yang mendukung fungsi tersebut,
(1) Stickiness (perlekatan) dan emigrasi (perpindahan) melalui
dinding pembuluh darah.
(2) Chemotaxis, respon motilitas menuju attractant (penyebab
daya tarik, misal toksin bakteri).
(3) Ingesti dan degranulasi.
(4) Aktivitas bacteriocidal.
b) Fungsi-fungsi tersebut dimungkinkan apabila terjadi defisiensi
komponen-komponen humoral dan seluler, aksi obat-obatan, produk
toksin dari bakteri menyebabkan hewan lebih rentan terhadap
penyakit.
1. Sel neutrofil mampu mensekresikan pyrogen secara endogenous apabila
ada bakteri atau produk toksin bakteri.
2. Sel neutrofil mempunyai kontribusi pada kejadian patologik tertentu,
misalnya immune complex glomerulo nephritis dan rheumatoid arthritis.

B. Produksi sel neutrofil


1. Morfologik kompartemen seluler pada granulopoiesis (lihat skema
granulopoiesis)
a) Kompartemen hematopoietic stem cell.
b) Proliferasi dan maturasi (pendewasaan) kompartemen.
(1) Myeloblast

64
(a) Sel ini berasal dari Unipotensial Stem Cell Specific untuk sel
neutrofil, tapi tidak dapat dibedakan dengan sel-sel dari
granulocytic series yang lain.
(b) Myeloblast hanya membelah satu kali, kemudian dewasa dan
menjadi progranulocyte.
(2) Progranulocyte
(a) Sel ini dapat diidentifikasi dengan adanya granula sitoplasmik
terwarnai purple (sebagai primary granules) tapi secara
morfologik tidak dapat dibedakan dengan sel granulocytic yang
lain.
(b) Progranulocyte membelah satu kali dan disebut myelocyte.
(3) Myelocyte
(a) Sel ini dapat diidentifikasi dengan adanya granula spesifik
dalam sitoplasmanya, yaitu neutrophilic, eosinophilic,
basophilic. Tiap-tiap myelocyte spesifik dapat dibedakan.
(b) Pada kondisi normal, terjadi 8 generasi myelocyte (3x
pembelahan). Sel anak dapat diidentifikasi sebagai
metamyelocyte.
(c) Rata-rata waktu pembelahan dari myeloblast menjadi
metamyelocyte adalah 60 jam.
c) Pendewasaan dan penyimpanan (storage) kompartemen.
(1) Pendewasaan sel neutrofil melalui beberapa tahap, metamyelocyte,
band dan segmented.
(2) Sel tadi tidak membelah lagi dan proses pendewasaan terlihat
adanya kondensasi kromatin dan pemanjangan nukleus, lebih kurus
atau kecil dan terjadi segmentasi.
(3) Waktu transit pada kompartemen ini makan waktu 50-70 jam.
(4) Kira-kira 5 hari sel neutrofil terdapat dalam penyimpanan.
(5) Pembebasan sel-sel dari sumsum tulang ke dalam sirkulasi darah
berhubungan dengan umur, sel tertua akan dibebaskan lebih

65
dahulu. Pada peningkatan pembebasan sel-sel biasanya terjadi
kenaikan jumlah neutrofil muda/band (disebut left shift).

2. Mekanisme peningkatan produksi sel neutrofil


a) Peningkatan stem cell input.
(1) Ini terjadi pada kebutuhan akan sel neutrofil.
(2) Kira-kira 4-5 hari dibutuhkan untuk melibatkan jumlah sel neutrofil
dalam darah.
b) Peningkatan efektivitas granulopoiesis dalam proses proliferasi dan
pendewasaan kompartemen.
(1) Penambahan (ekstra) pembelahan bisa terjadi dalam kompartemen.
(2) Peningkatan output proliferasi dan pendewasaan kompartemen
dengan menurunkan waktu yang dibutuhkan oleh myelocyte
(kejadian normal pada anjing).
(3) Pengaruh peningkatan efektivitas granulopoiesis terlihat adanya
neutrofilia 2-3 hari setelah awal stimulus/rangsangan.

3. Kontrol produksi sel neutrofil.


Regulasi diatur oleh granulopoietin yang mana sebagai Colony
stimulating factor (CSF).
a) CSF adalah pertama-tama diproduksi oleh macrophage sumsum
tulang. Sintesis ini distimulasi oleh adanya produksi bakterial.
b) CSF adalah merupakan kebutuhan utama untuk stimulasi mitosis dari
Unipotensial stem cells.
c) CSF mempengaruhi jumlah pembelahan sel yang berproliferasi dan
pendewasaan kompartemen.

4. Pembebasan (release) sel neutrofil dari sumsum tulang.


Pelepasan ini dipromosikan oleh plasma factor yaitu Leukocytosis-
inducing factor (LIF)

66
a) Konsentrasi LIF meningkat oleh produk bakterial dan pada gangguan
neutropenic tertentu (penyebab tak diketahui).
b) Peningkatan pelepasan dari storage compartment merupakan alasan
akan peningkatan neutrofilia dengan cepat (lebih cepat 2 hari).

BONE MARROW

proliferation maturation
and (non prolife
maturition ration)
pool pool

Skema kinetik sel neutrofil

MNP : Marginal Neutrophil Pool


CMP : Circulating Neutrophil Pool

C. Kinetik sel neutrofil pada hewan sehat


1. Sel neutrofil dapat bergerak/berpindah lebih lambat dari pada eritrosit
dalam plasma pada post capillary venules.
a) Sel neutrofil cenderung melekat pada endothel pembuluh darah
membentuk Marginal Neutrophil Pool (MNP). Sel-sel ini tidak ikut
terhitung pada penghitungan leukosit.
b) Sel neutrofil bergerak secepat eritrosit dalam plasma di dalam arteri
dan vena membentuk Circulating Neutrophil Pool (CNP).
(1) Jumlah sel neutrofil, berasal dari pemeriksaan leukosit rutin dan
pemeriksaan diferensial, adalah berkisar seperti dalam Circulating
Neutrophil Pool (CNP).
(2) CNP + MNP = Total Blood Neutrophil Pool (TBNP)

67
c) Besar jumlah sel pada MNP adalah sama (equal) dengan CNP pada
anjing dan sapi. MNP pada kucing berkisar 3x lebih besar dari pada
CNP (lain hewan belum dipelajari).
2. Waktu transit per sel neutrofil dalam darah berkisar 10 jam, semua sel
neutrofil darah diganti sekitar, 5 x perhari.
3. Sel neutrofil berpindah dari darah ke jaringan secara random, tidak
dipengaruhi oleh umur sel.
4. Dalam keadaan sehat, lepas dalam peristiwa sekresi dan ekskresi dan
mampu melalui membran mukosa. Mereka tidak dapat kembali masuk
dalam sirkulasi.

D. Kinetik sel neutrofil pada hewan sakit


Beberapa tipe respon sel neutrofil dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Neutrofilia karena epinephrine (neutrofilia fisiologik atau
pseudoneutrophilia).
a) Neutrofilia ini (ada peningkatan CNP) disebabkan mobilisasi sel-sel
pada MNP. Rata-rata pembebasan oleh sumsum tulang adalah normal
dan sel neutrofil muda tidak ditemukan dalam sirkulasi darah.
b) Respon ini berlangsung singkat hanya 20-30 menit setelah pembebasan
epinephrine endogenous.
c) Respon tersebut di atas adalah konsekuensi dari rasa takut, latihan,
kegelisahan karena penanganan secara kasar, tachycardia, hypertensi,
kelahiran.
d) Respon tersebut di atas hanya pada hewan sehat.
2. Neutrofilia karena corticosteroid (neutrofilia karena stress).
a) Waktu transit dalam sirkulasi dan jumlah sel neutrofil (CNP)
meningkat karena corticosteroid menurunkan perlekatan sel neutrofil
pada dinding pembuluh darah dan emigrasi sel neutrofil dari darah.
b) Kecepatan pelepasan sel neutrofil oleh sumsum tulang meningkat tapi
biasanya storage pool adalah cukup dan sel-sel neutrofil muda tidak
dilepaskan.

68
c) Stress dan pembebasan endogenous corticosteroid adalah konsekuensi
dari adanya rasa nyeri, anestesia, operasi, trauma, neoplasia dan
hyperadrenocorticism.
d) Stress bisa berkaitan dengan gangguan-gangguan yang karakteristik
dengan kebutuhan jaringan akan sel neutrofil, tapi adanya limfopenia
merupakan perubahan leukogram sebagai indikasi adanya pembebasan
corticosteroid karena faktor-faktor lain dapat mempengaruhi sel
neutrofil.
e) Exogenous Corticosteroid dapat menyebabkan respon yang sama.
(1) Respon terlihat dalam waktu 4-8 jam (single dose therapeutic) dan
kembali ke keadaan pretreatment setelah 12-24 jam.
(2) Pengobatan corticosteroid dalam waktu panjang menyebabkan
respon resisten selama 48-72 jam setelah pengobatan dihentikan.
3. Neutrofilia sehubungan dengan kebutuhan jaringan untuk fungsi fagositik
(penyakit radang)
a) Derajat neutrofilia karena radang dapat diketahui dari imbangan antara
pelepasan sel oleh sumsum tulang dan emigrasi sel ke jaringan. Jika
kecepatan pelepasan oleh sumsum tulang lebih besar daripada
kecepatan emigrasi sel, maka neutrofilia terjadi; bila kecepatan
pelepasan sel oleh sumsum tulang maka terjadi neutropenia.
b) Peningkatan sel neutrofil muda ke dalam sirkulasi darah (left shift)
sebagai konsekuensi kebutuhan jaringan dalam peningkatan pelepasan
sel oleh sumsum tulang terjadi selama ada penyakit inflamatorik.
(1) Neutrofilia dengan left shift sebagai tanda adanya kebutuhan
jaringan akan sel neutrofil.
(2) Macam respon yang lain, dijumpai pada penyakit-penyakit
inflamatorik atau keradangan seperti ;
a) Jumlah sel neutrofil muda sama atau melebihi jumlah sel
neutrofil dewasa. Kebutuhan jaringan menyebabkan
peningkatan suplai.

69
b) Left shift terjadi tanpa adanya neutrofilia. Kebutuhan jaringan
sangat meningkat (neutropenia).
c) Neutrofilia yang sangat, dengan terjadinya left shift
(metamyelocyte dan myelocyte sangat meningkat). Ini
merupakan indikasi adanya penyakit inflamatorik yang serius
disebut reaksi leukemoid sebab menyerupai leukemia
granulositik (tumor darah dengan menciri peningkatan atau
pelepasan sel-sel granulosit yang abnormal).
c) Derajat neutrofilia inflamatorik bervariasi sesuai dengan :
(1) Spesies (misalnya anjing lebih responsif daripada sapi).
Perlu diperhatikan perbandingan sel neutrofil dengan limfosit
(N:L) :
- Anjing N:L = 7:2
- Kucing N:L= 9:5
- Kuda N : L = 11 : 10 (muda)
- Sapi N:L= 1:2
Tingkat respon terhadap infeksi atau stress sebagai berikut : anjing,
kucing, kuda, kemudian sapi.
(2) Lokasi peradangan
Pada radang purulen dan supuratif (misalnya: pyometra, dermatitis
purulen) biasa responnya lebih mencolok daripada radang yang
bersifat umum (misalnya : septikemia, penyakit infeksius yang
sifatnya umum).
(3) Virulensi, agen pyogenik dan adanya nekrosis jaringan
menyebabkan responnya lebih mencolok daripada infeksi
organisme non pyogenik.
d) Kadang-kadang terjadi neutrofilia persisten atau intensif setelah
operasi pyometra, karena respon sumsum tulang belum mereda atau
menurun dan kebutuhan jaringan akan sel neutrofil sudah tidak ada.
e) Perdarahan akut dan kasus hemolisis berhubungan dengan neutrofilia,
tapi mekanismenya tidak diketahui.

70
71
Penyebab peningkatan kebutuhan jaringan akan sel neutrofil untuk
proses fagositosis dan neutrofilia.

Bakteri : Actinobacillus spp.


Actinomyces spp.
Corinebacterium spp.
Nocardia sp.
Spherophorus sp.
Stapylococcus spp.
Streptococcus spp.
Pasteurella spp.
Pseudomonas sp.

Virus : Canine Distemper


Feline Rhinotracheitis
Infectious Bovine Rhinotracheitis
Pox

Fungus : Blastomyces sp.


Coccidioides sp.

Parasit : Fasciola sp.


Paragonimus sp.
Stephanurus sp.
Toxoplasma sp.

Nekrosis : Terbakar, infark, infeksi, malignansi, trombosis, uremia.


Lain-lain : Endotoksin, benda asing, hemolisis, penyakit immune complex,
toksisitas estrogen (tahap awal).

4. Neutropenia disebabkan adanya peningkatan penggunaan sel neutrofil oleh


jaringan dalam proses fagositosis.
a) Neutropenia yang mencolok (CNP sangat meningkat). Waktu transit
dalam darah turun mencolok karena emigrasi sel neutrofil ke jaringan
meningkat menyebabkan peningkatan pembebasan sel tersebut oleh
sumsum tulang.
b) Sel neutrofil muda meningkat proporsinya dalam sirkulasi darah.
Normal maupun peningkatan aktivitas granulopoiesis dapat dilihat
pada pemeriksaan sumsum tulang.
c) Penyebab neutropenia biasanya infeksi bakterial pyogenik perakut.

72
5. Neutropenia disebabkan adanya hipoplasia granulopoietik.
a) Penurunan produksi sumsum tulang dan pembebasan sel dan emigrasi
sel dalam keadaan normal neutropenia
b) Kejadian sel neutrofil muda dalam sirkulasi darah bervariasi,
pemeriksaan sumsum tulang memperlihatkan hypoplasia myeloid.
c) Macam-macam gangguan yang dapat menyebabkan neutropenia
(contoh lihat pada tipe dan penyebab neutropenia).
d) Penyakit-penyakit yang menyebabkan hipoplasia granulopoiesis
biasanya serius, dan hewan penderita mudah terkena infeksi sekunder.
6. Neutropenia disebabkan oleh ineffective granulopoiesis (granulopoiesis
tidak efektif).
a) Neutropenia persisten dengan adanya hyperplasia myeloid.
b) Pada penyakit Feline leukemia virus-sub leukemic granulocytic
leukemia (kucing)
7. Sequestrasion neutropenia (pseudo neutropenia).
a) Terjadi neutropenia dengan tiba-tiba karena terjadi peningkatan
marginal neutrophil pool (lihat skema mekanisme neutropenia).
b) Contoh syok anafilaktik dan infeksi endometrium. Endotoksin
menyebabkan neutropenia selama 1-3 jam kemudian diikuti neutrofilia
sedang dalam waktu 8-12 jam setelah exposure/injeksi endotoxin.

73
Tipe dan Penyebab Neutropenia

74
Neutropenia karena kebutuhan sel neutrofil meningkat:
Perakut, infeksi bakteri yang hebat
- Canine peritonitis, pneumonia aspirasi, metritis
- Feline peritonitis, metritis, cellulites
- Bovine mastitis, metritis, reticuloperitonitis
- Equine salmonellosis

Immune-mediated (?)

Viremia (?)
- Canine distemper dan hepatitis infeksiosa (tahap preklinik)

Neutropenia karena penurunan produksi.


Infeksi
- Feline infectious panleukopenia, feline leukemia virus-associated
panleukopenia-like syndrome, toxoplasmosis
- Canine erlichiosis
Kimiawi
- Intoksikasi bracken fern (sapi)
- Intoksikasi estrogen pada anjing (tahap akhir), cancer chemotherapy
Genetik
- Canine cyclic hematopoiesis (grey collie neutropenia).
Ineffective granulopoietic
- Feline leukemia virus-associated subleukemic granulocytic leukemia (?)
Sequestration neutropenia
- Anaphylaxis
- Endotoxemia

II. MONOSIT
A. Fungsi dan distribusi monosit.
1. Monosit berasal dari sumsum tulang, masuk sirkulasi darah, dan berubah
menjadi makrophag di dalam jaringan.
a) Makrophag mempunyai lebih banyak granula dan enzym proteolitik
dibandingkan “precursor” monosit.
b) Makrophag dapat servis dalam waktu yang lama di dalam jaringan,
dan mampu membelah diri.

2. Makrophag meliputi :

75
a) Makrophag atau histosit dalam eksudat
b) Makrophag dalam pleura dan peritoneal
c) Makrophag dalam paru
d) Histiosit dalam jaringan
e) Makrophag dalam limpa, nodus limfatikus, dan sumsum tulang.
f) Kupffer cells dalam hati
3. Monocyte-macrophage disebut pula reticuloendothelial system (tidak ada
hubungannya dengan pembentukan serabut retikulum dan bukan sel
endothel).
4. Fungsi makrophag meliputi :
a) Fagositosis dan digesti makromolekuler, partikulat dan sel debris.
b) Mensintesis komponen-komponen tertentu, transferin, endogenous
pyrogen, lysozyme dan interferon.
c) Imunitas seluler.
B. Monocytopoiesis
1. Monocyte precursors berasal dari uni potensial stem cells.
2. Monosit dilepaskan dalam sirkulasi darah langsung dari pembelahan
promonocyte dalam sumsum tulang.
C. Kinetik monosit
1. Perpindahan monosit dan distribusinya pada keadaan sehat.
a) Monosit didistribusikan ke dalam darah beberapa hal tidak seperti sel
neutrofil, yaitu Circulating Monocyte Pool (CMP)/Marginal Monocyte
Pool (MMP) = 1/3,5 (pada manusia).
b) Rata-rata waktu transit monosit dalam sirkulasi tidak dilaporkan pada
hewan piaraan (12 jam manusia).
2. Monositosis
Contoh : - Painful episodes (anjing, kucing)
- Hyperadrenalcorticism
- Supurasi/pernanahan (dalam rongga tubuh)
- Nekrosis
- Perdarahan internal

76
- Penyakit hemolitik (yang ada hubungannya dengan
reticuloendothelial phagocytosis)
- Radang granulomatous (Aspergillus flavus)
- Penurunan produksi sel neutrofil (neutropenia)
menyebabkan naikya jumlah monosit secara relatif.
a) Hormon corticosteroid menyebabkan monositosis pada anjing,
kadang-kadang pada kucing dan jarang pada spesies hewan yang lain.
(1) Monositosis stress ada hubungannya dengan neutrofilia tanpa left
shift, limfopenia, dan eosinopenia.
(2) Exogenous corticosteroid atau ACTH menyebabkan respon identik
dengan stress dan keadaan kembali normal 24 jam setelah
pemberian.
b) Monositosis terjadi selama ada gangguan-gangguan yang menciri
dengan meningkatnya kebutuhan jaringan untuk proses fagositosis
makromolekul/partikel, atau pada kondisi yang berhubungan dengan
imunitas seluler, respon ini bisa berjalan akut atau kronis (penyakit
kronis).
c) Monositosis dapat dijumpai bersama neutropenia disebabkan
hipoplasia granulopoietik.
3. Monositopenia tidak mempunyai arti klinik pada pemeriksaan leukogram.

Free macrophage (dalam sirkulasi darah) :


- sel monosit

Fixed macrophage (dalam jaringan) :


- Histiosit jaringan
- Macrophage dalam pleura, paru, peritoneal
-
Macrophage dalam lien, nodus lymphaticus, sumsum tulang.
-
Kupffer cells – dalam hati

Transferrin : - protein serum


-
berat molekul 76.000
-
fungsi mentranspor Fe3+

Pyrogen ; - Substansi yang dapat menyebabkan demam


Pyrogenicx infection : infeksi bakteri penyebab terbentuknya pus (nanah)

77
Missal : - Staphylococcus sp. (S. aureus)
- Streptococcus sp. (S. pyogenes)

Lysozyme (muramidase; peptidoglycan N-acetylmuramoylhydrolase; EC 3.2.1.17)


Enzym ini mampu menghidrolisa ikatan ß-1, 4 glycosidic di antara N-acetyl
muramic acid dan N-acetyl glucosamine pada peptidoglycan (muco peptide)
dari dinding bakteria, sehingga menyebabkan osmotic lysis bacteria.
Lysozyme mempercepat aktivitas fagositik mononuclear phagocytes dan
polymorphonuclear leukocytes.
Interferon : Kelompok protein (interferon alpha, beta dan gamma) yang berfungsi
dalam proses resistensi terhadap infeksi virus (dihasilkan oleh monosit dan
SRE).

III. SEL EOSINOFIL


A. Fungsi sel eosinofil
1. Sel eosinofil akan tertarik pada peristiwa hipersensitivitas, misalnya kasus
alergik dan reaksi anafilaksis.
a) Mediator kimiawi (histamin) dibebaskan oleh mast cell yang telah
sensitif terhadap IgE (equivalent antibody) selama kontak dengan
antigen spesifik.
b) Eosinofil (antihistamin) mempunyai peranan dalam mengatasi respon
hipersensitif proses netralisasi histamin.
2. Sel eosinofil mempunyai parasiticidal properties yaitu antibodi.
3. Granula sel eosinofil mengandung profibrinolysin (plasminogen),
antihistamin.
4. Mempunyai kemampuan fagositik dan bakteriosidal menyerupai sel
neutrofil.
B. Produksi dan kinetik sel eosinofil
1. Produksi sel eosinofil dalam sumsum tulang paralel dengan sel neutrofil.
2. Eosinophilic unipotensial stem cells adalah responsif terhadap colony
stimulating factor (granulopoietin).
3. Sel eosinofil cadangan dalam sumsum tulang adalah minimum dan bila
keadaan darurat (emergency) terjadi peningkatan input stem cells adalah
lebih cepat dari pada sel neutrofil.

78
4. Waktu transit dalam darah 24-35 jam.
5. Eosinofilia (lihat penyebab eosinofilia).
a) Stimulus/rangsangan yang menyebabkan terjadinya eosinofilia belum
dapat dijelaskan secara persis.
b) Kejadian eosinofilia adalah dimungkinkan adanya interaksi antigen-
antibody (IgE atau yang ekuivalen) dalam jaringan yang kaya atau
banyak mengandung mast cell yaitu: di kulit, paru, traktus
gastrointestinal, traktus genitalis betina.
c) Infestasi parasit dimana proses sensitisasi terjadi, atau dimana kontak
antara jaringan hospes dengan parasit dalam waktu yang lama akan
merangsang (promote) eosinofilia. Penemuan telur parasit dalam feses
hewan dewasa adalah kurang menjamin terjadinya eosinofilia.
d) Corticosteroid (endogenous dan exogenous), mempunyai pengaruh
moderat atau lumayan terjadi gangguan eosinofilogenik
terjadi gambaran eosinofilia.

Penyebab eosinofilia

- Kasus alergik :
* Asma
* Alergi bronchitis, sinusitis
* Alergi dermatitis
* Alergi makanan dan anafilaksis.
- Kasus infestasi parasit (pada hospes yang sensitif):
* Aeleurostrongylosis
* Ancylostomiasis (tahap migrasi)
* Ascariasis (tahap migrasi)
* Demodecosis
* Dirofilariasis (cacing jantung)
* Ctenocephalidiosis
- Gangguan Eosinofilogenik (spesifik) :
* Eosinophilic granuloma (kucing)
* Eosinophilic enterocolitis (anjing Herder)
* Lactational milk allergy (sapi perah)
* Estrus (anjing)
* Metastatic neoplasia (kadang-kadang)

79
- Fase kesembuhan pada beberapa infeksi akut
- Leukemia granulositik
- Reticulitis traumatik
- Eosinophilic myositis
- Agen kimiawi :
* Keracunan copper sulfat (kronis)
* Keracunan fosfor
* Keracunan camphor
* Keracunan pilocarpine

6. Eosinopenia
a) Eosinopenia umunya berhubungan dengan efek corticosteroid.
b) Exogenous corticosteroid menyebabkan eosinopenia 2-3 jam setelah
pemberian, dan kembali normal setelah 24 jam (72 jam jika pemberian
dalam waktu panjang).
c) Terapi corticosteroid dalam waktu lama menyebabkan penurunan
produksi sel eosinofil maupun pembebasan sel eosinofil.
d) Jumlah sel eosinofil kembali ke proporsi normal menandakan prognosa
baik.

IV. SEL BASOFIL


A. Fungsi sel basofil
1. Degranulasi (pecah granula) sel basofil dan mast cell jika terjadi ikatan
kompleks antigen dan IgE (atau equivalent antibody) pada permukaan sel-
sel tersebut. Agen fisik dan kimiawi dapat juga menyebabkan degranulasi.
2. Sel basofil dan mast cell merupakan sumber mediator reaksi
hipersesitivitas.
3. Sel basofil dan mast cell adalah merupakan sumber heparin dan aktivator
plasma lipoprotein lipase (plasma lipemia clearing agent).

B. Produksi dan kinetik sel basofil

80
1. Sel basofil adalah jarang sekali pada kebanyakan hewan, spesies hewan
yang mempunyai lebih banyak mast cell jaringan juga mempunyai lebih
banyak sel basofil. Mast cell bukan berasal dari sel basofil.
2. Produksi sel basofil paralel dengan sel neutrofil, tetapi penyimpanan
dalam sumsum tulang adalah minimal.
3. Basofilia
a) Jumlah sel basofil meningkat sehubungan dengan hiperlipemia.
b) Basofilia bisa bersamaan dengan eosinofilia selama stimulasi IgE (atau
equivalent antibody), misalnya dirofilariasis kronik.

Macam tipe imunoglobulin


Nama Berat % karbo- Konsentrasi Fungsi
mol hidrat plasma (g/l)
IgG -150.000 3 8 - 16 Imunoglobulin utama : responsible
dalam humoral immunity

IgA -160.000 8 1,4 - 4 - ada dalam sekresi


- defends body surfaces

IgM -900.000 12 0,5 - 2 - reseptor B lymphocyte


- memantapkan humoral
immunity

IgD -185.000 13 < 0,5 - reseptor limfosit

-
IgE -200.000 12 <0,001 pembebasan histamin, humoral
sensitivity
- sebagian besar berikatan
dengan sel basofil dan mast cell.

V. LIMFOSIT
- Sel ini mempunyai peranan dalam respon imunitas.

81
- Bentuk sel spheris atau ovoid, diameter 8-12 µm.
- Nukleus berbentuk ovoid atau menyerupai bentuk ginjal ; dengan
kromatin densely packed dan terwarnai biru jelas dengan
pewarnaan rutin (Giemsa atau Wright).
- Sitoplasma terwarnai biru terang dan mengandung sedikit organela.
- Dengan scanning electron microscopy, limfosit mempunyai vili-vili
permukaan yang menutupi 70-90% permukaan sel.
- Limfosit dibagi 2 : - grup limfosit B
- grup limfosit T
Kedua macam limfosit ini tidak dapat dibedakan dengan
pewarnaan rutin atau secara morfologik, perbedaannya adalah
dalam peranan reaksi imunologiknya.
- Dapat ditambahkan pada limfosit B dan T, ada populasi kecil dari
large lymphocyte (limfosit besar) diameter ˜15 µm yang
mempunyai granula prominen dalam sitoplasma disebut
limfosit bergranula besar atau disebut Natural Killer Cells.
- Limfosit yang berasal dari thymus disebut thymocyte. Limfosit ini
yang menduduki jumlah terbanyak dalam tubuh.

ONTOGENI (ASAL USUL)

Pada kehidupan prenatal dan postnatal, lymphoid stem cells berasal dari
sumsum tulang dan secara kontinyu sebagai sumber limfosit pada thymus dan
bursa fabricius pada burung (unggas). Kemudian dikenal adanya T cell precursor
(mengalami perkembangan pada tymus), dan B cell precursor (mengalami
perkembangan pada sumsum tulang).

* Primary/central lymphoid organs : - thymus


supply immature - bursa fabricius

82
lymphoid precursor - sumsum tulang
* Secodary/peripheral lympoid organs :
- nodus lymphaticus
- lien
- plexus-Peyer (pada traktus digestivus)

THYMU
S
83
1
LIEN

SSM 1 1
TULAN DARA
G 4
H
3
1

1 NODUS
LIMPH.

2
JARINGA
N YANG
LAIN

Ductus afferent Ductus efferent

Resirkulasi melalui :
1. darah N. lymphaticus
2. lymphe afferent
3. lymphe efferent SIRKULASI DARAH
4. gabungan 2 dan 3 Ductus
thoracicus

Resirkulasi limfosit melalui


Darah, Sumsum tulang, Limphoid organs
dan Jaringan tubuh yang lain

84
I. INDUKSI
+ Ribonucleic acid/RNA
antigen macrophage/SRE atau RNA-antigen complex : Thymic factor

II. PROLIFERASI
RNA atau
RNA-antigen complex Plasma cell
Pembelahan dan pendewasaan sel
unsensitized T lymphocyte lymphoblast/immunoblast
sensitized lymphocyte
III. PRODUKSI ANTIBODI

plasma cell humoral antibody

cellular immunity
sensitized lymphocyte

85
Humoral immunity terhadap :
-
staphylococcus (humoral antibody; IgG, IgA, IgM, IgD, IgE)
-
streptococcus
-
pneumococcus
-
virus influenza
-
netralisasi bahan toksik yang terlarut dalam darah

Cellular immunity terhadap :


-
penyakit viral
-
penyakit fungal
-
penyakit protozoa
-
tuberkulosis
-
kanker
-
penyakit auto-imunitas
-
penolakan trasplantasi jaringan

86
Sekresi lymphokine
- Stimulated T lymphocytes mampu memproduksi secara in vitro atau in vivo
beberapa substansi terutama yang bersifat imunologik dan mempunyai
kemampuan dalam proses inflamasi atau keradangan. Substansi – substansi ini
disebut lymphokine.
- Activated B lymphocytes juga memproduksi lymphokine. Hampir 100
lymphokine yang berbeda telah dilaporkan. Lymphokine ini dibebaskan setelah
terjadi stimulasi antigenik. Lymphokine dapat dijumpai dalam sirkulasi selama
terjadi respon imunitas.
- Secara fungsional lymphokine dapat diklasifikasikan atas dasar pengaruhnya
terhadap sel-sel sasaran/target cells: menghambat atau cytotoxic, stimulasi atau
proliferasi, dan inflamasi. Lymphokine yang bersifat menghambat termasuk
substansi yang dapat menyebabkan lysis misalnya lymphotoxin atau mampu
menghambat proliferasi misalnya immune interferon terhadap sel-sel sasaran.
Lymphokine yang bersifat menstimulasi meliputi faktor-faktor mitogenik yang
ditujukan pada limfosit dan monosit, colony stimulating factors dan lymphokine
yang bersifat menginteraksikan T-B dan T-T lymphocyte.
Lymphokine yang bersifat inflamasi meliputi faktor-faktor yang berhubungan
dengan cell-mediated immunity meliputi produksi, migration inhibition factor
(MIF), macrophage activating factor (MAF), chemotactic factor, faktor-faktor
yang melibatkan permeabilitas kapiler dan sistem pembekuan darah.
Lymphokine tersebut antara lain:
- Transfer factor adalah antigen-specific, BM < 10.000, dibebaskan setelah 1 jam
terjadi stimulasi antigen. Substansi ini mempunyai kemampuan membuat
sensitif individu normal untuk mengadakan respon imun seluler tahap awal
(initiate cellular immune response) jika telah kontak dengan antigen. Hal ini
merupakan species-specific.
- Migration inhibition factor (MIF) berfungsi menghambat migrasi monosit dan
macrophage. Substansi ini diproduksi dalam waktu beberapa jam setelah terjadi
interaksi antigen specific dengan limfosit. MIF merupakan protein atau
glycoprotein dengan BM 23.000 – 65.000. MIF ini mempunyai sasaran pada

87
surface receptor dari monosit dan macrophage dan menyebabkan sel-sel ini
sticky, dengan adanya hambatan migrasi sel tersebut. Substansi ini juga
meningkatkan kemampuan fagositik maupun kemampuan oksidatif sel monosit
dan macrophage. Substansi sejenis tersebut leukocyte inhibiting factor (LIF)
berfungsi menghambat migrasi sel neutrofil.
- Macrophage activating factor (MAF) berfungsi meningkatkan aktivitas
metabolik dan fungsi sel macrophage misalnya memperbesar sintesis protein,
pembentukan lysosome, pinocytosis, phagocytosis dan kapasitas bakterisidal dan
tumorisidal. Juga berpartisipasi dalam proses transformasi awal dari
macrophage menjadi epitheloid dan giant cells. Proses aktivasi MAF terhadap
macrophage umumnya terjadi 1-3 hari interaksi.
- Mitosis stimulating factor (lymphocyte mitogenic factor atau blastogenic factor).
Substansi ini dibebaskan dalam waktu 18-24 jam setelah stimulasi T-
lymphocyte. Substansi merupakan protein dengan BM 15.000-50.000. substansi
ini meningkatkan blastogenesis. T-lymphocyte, terutama B-lymphocyte sensitif
terhadap efek substansi ini; meningkatkan respon humoral antibody.
- Lymphotoxin merupakan substansi protein yang diproduksi oleh reactive
lymphocyte 2-5 hari setelah kontak dengan antigen specific atau stimulasi yang
bersifat non-spesifik misalnya mitogen. Lymphotoxin mempunyai BM 35.000-
150.000 tergantung spesies hewan.
- Interferon merupakan glycoprotein dengan BM 20.000-160.000 diproduksi oleh
limfosit termasuk B-lymphocyte setelah terjadi infeksi virus. Interferon
mempunyai fungsi antiviral activity dan aktivitas biologik lain misalnya
menghambat pertumbuhan tumor dan pengaturan cellular dan humoral
immunity response dan peningkatan fungsi macrophage.
- Interleukin-2 merupakan glycoprotein, BM 30.000-35.000 bekerja sama dengan
T-helper cells. Substansi ini ikut berpartisipasi dalam produksi lymphokine in
vitro dan cytotoxin T-lymphocyte.
- Interleukin-1 disekresikan oleh activated macrophage.

88
PLASMA CELL (SEL PLASMA)

- Sebagai sel yang memproduksi humoral antibody.


- Biasanya tertambat dalam jaringan lympho-reticular, jadi tidak ada dalam
sirkulasi darah.
- Dianggap sebagai turunan limfosit.
- Plasna cell dewasa/belum dewasa mampu mensintesis protein antibody.
- Plasma cell meningkat pada:
- infeksi berat
- penyakit kronis ditandai dengan adanya sel-sel plasma
dalam sirkulasi darah (biasanya kalau ada stimulasi antigen secara
kontinyu)
- sel-sel yang mempunyai respon imunologik disebut immunocytes
meningkat pada hewan setelah divaksinasi.
- Bila ada stimulus antigen yang bersifat lokal, maka plasma cell banyak
terdapat pada daerah dimana antigen itu berada atau pada nodus lymphaticus
terdekat.
- Bila ada stimulus antigen yang bersifat sistemik, plasma cell terdapat dalam
organ limfoid terutama lien.

LIMFOSITOSIS
a) Limfositosis fisiologik : - kucing eksitasi, takut
- anjing eksitasi, takut
b) Infeksi kronik stimulasi antigenik terhadap T-lymphocyte.
c) Lymphosarcoma atau infeksi virus leukemia.
d) Pembengkakan nodus lymphaticus sehubungan dengan reactive
hyperplasia tidak pasti ada perubahan jumlah limfosit.

89
Penyebab Limfopenia

Pembebasan Endogenous Corticosteroid


- Penyakit-penyakit debilitas: amyloidosis, penyakit endokrin, infeksi,
neoplasia, penyakit hati, ginjal, pankreas, penyakit pencernaan.
- Exposure panas dan dingin.
- Hyperadrenocorticism.
- Obstruksi : - saluran pencernaan
- saluran respirasi
- saluran urinasi
- saluran empedu
- Kejang
- Syok
- Operasi
- Trauma

Exogenous Corticosteroid & terapi ACTH


Hambatan limfopoiesis
- Khemoterapi kanker
- Terapi corticosteroid dalam jangka panjang
- Irradiasi
Congenital T-cell Immunodeficiency.

Note: Corticosterosis immunosuppresive effect and lympholysis in


steroid-sensitive animals.

EVALUASI LEUKOSIT

I. Menghitung jumlah leukosit


A. Metode penghitungan.
1. Tehnik pengenceran secara manual.
Nilai kesalahan bisa mencapai 20%.
2. Memakai alat automatic cell counters baik dengan cara pengenceran
manual atau otomatis, merupakan cara standar dan nilai kesalahan
sangat kecil.

90
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi penghitungan leukosit.
1. Semua sel yang berinti dalam darah terhitung, ini meliputi eritrosit
berinti (misalnya normoblast).
a) Deteksi eritrosit berinti memerlukan pemeriksaan apus darah;
jumlah eritrosit berinti dalam 100 leukosit dicatat.
b) Jumlah leukosit kemudian dikoreksi sebagai berikut:
Jumlah leukosit terkoreksi dan jumlah leukosit terhitung x 100
dibagi (100 + eritrosit berinti/ 100 leukosit).
2. Leukositosis
a) Neutrofilia leukositosis
b) Limfositosis dan eosinofilia
3. Leukopenia
a) Leukopenia adalah pararel dengan neutropenia.
b) Limfopenia dan eosinopenia biasanya tidak akan menyebabkan
leukopenia apabila jumlah sel neutrofil cukup.
II. Preparat apus darah perifer.
A. Pendekatan sistemik, untuk mengevaluasi pemeriksaan apus darah telah
diterangkan.
B. Pemeriksaan morfologi leukosit.
1. Morfologi sel neutrofil.
a) Sel neutrofil normal, perbedaan spesies.
(1) Sel neutrofil anjing: biasanya mempunyai jarak yang pendek
diantara segmen inti tanpa filamen. Sitoplasmanya berwarna
pink pucat dengan granulasi lembut.
(2) Sel neutrofil kucing menyerupai sel neutrofil anjing.
(3) Membran nukleus sel neutrofil sapi, satu atau lebih melekuk
tanpa filamen. Granula terlihat jelas.
(4) Membran nukleus sel neutrofil kuda terlihat multi segmentasi.

91
b) Peningkatan sel neutrofil muda disebut left shift.
(1) Inti dari sel neutrophil band lebih tebal/gemuk daripada yang
dewasa. Sel neutrophil band kuda mempunyai membran inti
yang kasar daripada spesies yang lain.
(2) Peningkatan sel neutrofil muda secara progresif
(metamyelocyte, myelocyte, progranulocyte). Intinya lebih
bulat, khromatin kurang padat dan sitoplasmanya lebih
berwarna basofilik (lebih gelap).
c). Toxemia dapat mengganggu pendewasaan sel neutrofil, perubahan
sitoplasmik.
(1) Adanya Döchle bodies merupakan inclusion kebiruan dalam
sitoplasma. Biasanya pada kucing sedang pada spesies lain
adalah akibat toxemia.
(2) Sitoplasma berwarna basophilia difus dan adanya vakuola-
vakuola sitoplasmik (nampak berlobang-lobang/seperti busa)
adalah akibat perubahan toksik yang berat. Dapat terjadi pada
infeksi bakterial yang hebat pada banyak spesies hewan tapi
tidak spesifik pada kucing.
(3) Granula toksik adalah karakteristik dengan granula sitoplasmik
keunguan dan indikasi adanya toxemia hebat. Sering terjadi
pada kuda.
d) Hipersegmentasi inti menjadi 4 atau lebih.
(1) Hipersegementasi sebagai indikasi perpanjangan waktu
transit yang terjadi pada terapi corticosteroid,
hyperadrenocorticism, stadium akhir penyakit radang kronik.
(2) Sel neutrofil mengalami hipersegmentasi raksasa, sebagai
manifestasi defisiensi vitamin B12, asam folat dan defisiensi Co
pada ruminansia.
e) Asinkronisasi proses pendewasaan inti dan sitoplasma pada
granulopoiesis giat kembali dan leukemia granulositik.

92
2. Morfologi monosit
a) Monosit selnya besar dan dapat dibedakan dengan metamyelocyte
neutrophil dan limfosit besar.
b) Kriteria untuk identifikasi monosit meliputi :
(1) Inti yang besar memanjang atau berlobus tiga dengan kromatin
seperti tali dan membran inti jelas
(2) Sitoplasma biru abu-abu
(3) Kadang-kadang sitoplasma bervakuola.
(4) Inti bisa berbentuk seperti ginjal, seperti band atau
metamyelocyte.
(5) Kadang-kadang punya pseudopodia pendek.
c) Monosit yang berubah menjadi macrophage jarang terdapat dalam
darah, tetapi bisa terdapat dalam darah kapiler pada :
- ehrlichiosis
- histoplasmosis
- leishmaniasis
Macrophage adalah sangat besar, banyak sitoplasma, sitoplasma
bergranuler dan bervakuola.
3. Morfologi sel eosinofil
a) Perbedaan spesies hewan sagat menonjol.
(1) Granula sel eosinofil anjing bervariasi bentuknya, besarnya dan
jumlahnya, dan granula tidak memenuhi sitoplasmanya;
granula terwarnai oranye. Vakuola sitoplasmik mungkin
ditemukan.
(2) Granula sel eosinofil kucing sangat kecil dan ellipsoid atau
tipis, granula ini memenuhi sel dan terwarnai oranye.
(3) Granula sel eosinofil sapi nampak kecil dan bulat, granula
memenuhi sel dan terwarnai oranye terang.
(4) Granula sel eosinofil kuda besar, bulat dan berwarna oranye
menyala.

93
b) Identifikasi sel eosinofil adalah sulit dengan pewarnaan methylene
blue; granula tidak terwarnai dan nampak sebagai benda-benda
refraktil berwarna kehijauan.
4. Morfolgi basofil
a) Granula sel basofil anjing berwarna keunguan dan tersebar
dibandingkan dengan mast cell dimana granulanya memenuhi
sitoplasmanya.
b) Sel basofil kucing, dilaporkan granulanya mengalami degranulasi
sebelum sel ini dibebaskan dari sumsum tulang, tetapi bisa juga
granula tadi mengalami perubahan biokimiawi sehingga tidak
terwarnai. Dalam darah, sel ini nampak lebih besar daripada
neutrofil dan sitoplasmanya berwarna keabuan.
c) Granula sel basofil sapi dan kuda mempunyai granula berwarna
keunguan.
5. Morfologi limfosit
a) Limfosit normal, perbedaan antara spesies.
(1) Limfosit anjing adalah kecil dengan sitoplasma berwarna
kebiruan, kadang-kadang sedikit mengandung granula
sitoplasmik berwarna merah gelap. Inti bulat dengan kromatin
yang padat, nucleoli biasanya tidak terlihat dengan pewarnaan.
(2) Limfosit kucing serupa dengan anjing, inti kadang-kadang
sedikit bercelah dan bergranula sitoplasmik jarang.
(3) Pada leukosit sapi proporsi limfosit adalah dominan. Morfologi
limfosit besar punya lebih banyak sitoplasma, ada celah nuclei
dan kromatin terwarnai terang. Sering ditemukan granula
sitoplasmik.
(4) Limfosit kuda serupa dengan pada anjing.
b) Transformed lymphocytes (immunocytes) kadang-kadang
jumlahnya sedikit dalam darah pada periode stimulasi antigenik.
(1) Mungkin sebagai T-cells atau B-cells.

94
(2) Morfologi immunocyte karakteristik dengan sitoplasma
basofilik. Inti seperti pada limfosit normal.

c) Penghitungan diferensial leukosit.


(1) Buat preparat apus : - fiksasi
- pewarnaan
- pemeriksaan :
- lemah
- kuat
- metode :
- straight-edge
- cross-sectional
- battlement

(2) Persentase tiap macam leukosit x jumlah leukosit


jumlah tiap macam leukosit per µL darah.
(3) Interpretasinya harus berdasarkan jumlah sel/µL dan
tidak berdasarkan persentase.

III. Pemeriksaan sumsum tulang


A. Teknik
1. Aspirasi darah melalui cresta illiaca, fossa trochanterica, sternum
atau tulang iga dengan jarum spesial pemeriksaan sumsum tulang atau
dengan jarum cerebrospinal 18 gauge (ukuran jarum).
2. Buat preparat apus darah sampel yang terambil.
B. Pemeriksaan preparat apus yang sudah diwarnai.
1. Perhatikan jumlah relatif, besar dan sel-sel yang ada dan proporsi dari
sel-sel lemak. Pemeriksaan histologik dari hasil biopsi ini lebih bagus
untuk memeriksa sel-sel sumsum tulang.

95
2. Rasio myeloid dan erythroid (M/E ratio) dapat diestimasikan dengan
menghitung 300-500 sel dengan kemudian dikategorikan sebagai
erythroid atau myeloid. Hasil interpretasi ini (ratio M/E) dapat
berhubungan dengan nilai PCV dan jumlah leukosit; misalnya ratio
M/E naik dalam jumlah leukosit normal. Ini menunjukkan adanya
erythroid hypoplasia.
3. Persentase relatif dari variasi fase-fase leukosit harus diteliti. Pada
kondisi sehat 80% dari kelompok myeloid hendaknya mengandung
metamyelocyte, band, dan segmented cell. Kemudian 90% dari
kelompok erythroid hendaknaya mengandung rubricyte,
metarubricyte. Presentase yang tinggi sel-sel yang muda dapat
merupakan indikasi adanya hiperplasia, neoplasia, keabnormalan
pendewasaan sel.
4. Perlu diidentifikasi adanya sel abnormal.
5. Apakah jumlah megakaryocyte cukup.
6. Evaluasi terhadap level Fe dan observasi RE-Fe bermanfaat untuk
evaluasi anemia disebabkan defisiensi Fe (Fe menurun) atau anemia
karena penyakit kronis (Fe meningkat).

96
REAKSI LEUKEMOID

Suatu keadaan disertai dengan munculnya leukosite bentuk muda mirip


dengan regenerave left shift di dalam darah perifer tanpa atau dengan leukositosis.
Karena gambaran darah perifernya sedikit banyak menyerupai gambaran darah
pada kasus leukemia, maka keadaan ini dimasukkan dalam golongan yang
disebut: reaksi leukemoid. Berbeda dengan leukemia sejati, maka reaksi
leukemoid ini hanya berlangsung untuk waktu yang pendek dan biasanya memang
ada kausa primernya sebagai penyebab adanya stimulasi leukositik misalnya
adanya iritasi sumsum tulang.

LEUKEMIA

Adanya penyakit jaringan pembentuk leukosit baik akut maupun kronis


yang tersifat dengan hyperplasia dari leukosite (baik granulocyte, limfosite,
monosit maupun sel-sel induknya). Tumor jaringan pembentuk darah ini dapat
mengadakan infiltrasi ke dalam jaringan lain misalnya limfoglandula dan lien.
Pada umunya leukemia dipandang sebagai neoplasia malignan dari jaringan
pembentuk darah.

Hasil pemeriksaan tulang


Pada kebanyakan kasus leukemia, diagnosa penyakit sudah cukup kuat
dengan hasil pemeriksaan darah perifernya, tetapi kasus-kasus akut dan leukemia
aleukemik dimana hasil pemeriksaan darah perifer kurang jelas bila digunakan
untuk menetapkan diagnosa. Keadaan sumsum tulang pada semua jenis leukemia
adalah hiperplastik, jadi ada peningkatan konsentrasi leukositnya dalam tiap
satuan bahan sumsum tulang yang diperiksa. Pada kasus leukemia ini bagian-
bagian yang ditempati eritrosit berinti berkurang karena terdesak oleh leukosit
yang proliferatif amat cepat. Pada kebanyakan kasus terdapat peningkatan jumlah

97
limfosit yaitu 30-90% dan kalau ditemukan jumlah sampai 50% atau lebih, maka
ini akan memperkuat dugaan adanya leukemia limfositik.
Anemia dari derajat sedang sampai berat selalu menyertai leukemia ini.
Derajat anemianya dapat digunakan sebagai kriteria yang penting untuk
menentukan hebatnya leukemia. Adanya anemia yang jelas sekali merupakan ciri
yang menonjol dari leukemia akut dan tahap-tahap yang sudah melanjut leukemia
kronis. Etiologi yang khas dari anemia yang menyertai leukemia begitu
bermacam-macam, oleh karenanya manifestasinyapun berbeda-beda. Adanya
penyerbuan ke dalam sumsum tulang dan pergeseran bentuk muda dari eritrosit
adalah merupakan sebab anemia pada kasus leukemia. Pada manusia, leukemia
akut kadang-kadang ditemukan eritrosit yang cacad yang mempunyai masa hidup
(life span) yang pendek, dan ini kadang-kadang disertai adanya factor hemolitik
dalam plasma. Kasus yang nyata dari anemia ialah adanya kehilangan darah yang
disebabkan trombositopenia atau cacad/kelainan pada mekanisme koagulasi
darah.

Menurut jalannya penyakit (lamanya penyakit/sakit)


Dibagi : 1. Leukemia kronis, bias leukemik, sub-leukemik dan aleukemik
2. Leukemia akut biasanya sub-leukemik.

Menurut jenis sel dapat di bagi :


1. Granulositik, bisa eosinofilik atau basofilik
2. Limfositik
3. Monositik
4. Plasmositik

Menurut jumlah leukosite daerah tepi dan jumlah leukosit yang abnormal :
1. Leukemia leukemik
- jumlah leukosite jelas tinggi/naik disertai adanya sel-sel yang
abnormal dan belum dewasa (seperti blast cell)

98
2. Leukemia aleukemik
- jumlah leukosit normal, sedang blast cell tidak ada atau sangat
sedikit.
3. Leukemia sub-leukemik
- blast cell sedikit dengan jumlah leukosit yang normal atau naik
sedikit

Sebab-sebab leukemia :
a. Agen transmisibel
- dapat dipindahkan atau ditularkan, pada permulaan diketemukan
agen ini sangat spesifik, misalnya pada perubahan beban tertentu
memerlukan strain tikus tertentu
- kemudian telah terbukti bahwa pada hewan-hewan lain
- sebagai penyebab adalah virus (misalnya pada sapi dan kucing).
b. Genetik
- inbred line pada ayam dan tikus (mice) menyebabkan sangat peka
terhadap leukemia.
c. Radiasi :
- menyebabkan proses ionisasi
- sinar X dan radioaktif (bom atom)
- kepekaan dengan penularan agen transmisibel meningkat jika tikus
disinari dengan sinar X (400-600 r).
- pada manusia bila sering disinari (sinar X) maka akan lebih peka
terhadap tumor leukemia.
d. Zat-zat lain :
- misalnya methyl cholanthrene.
- merupakan zat karsinogenik, juga akan menyebabkan lebih peka
jika sebelumnya disinari dengan sinar X

99
Leukemia pada sapi :
- Hampir selalu limfositik dan pernah dilaporkan granulositik
- Yang dimaksud dengan limfositik adalah jumlah limfoblas dan limfosit
sangat tinggi.
- Contoh kejadian granulositik :
Blast cell 27, progranulocite 13, myelocyte 27, metamylocyte 3, band
neutrophil 1, segmented neutrophil 1, lymphocyte 15, unclassified
(smudge cell) 13.
Sel-sel leukemia mudah mengalami kerusakan, oleh karenanya smudge
cell akan naik jumlahnya, di samping tidak mudah mengenal sel-sel
muda.
Para penyelidik melaporkan bahwa kejadian leukimia karena adanya
lympho-sarcoma, lymphocytoma, lymphoblastoma.

Gejala-gejala klinis:
- semua umur bisa kena
- yang sering umur 5 tahun atau lebih
- tidak demam, cepat mengurus kemudian mati, tetapi keadaan ini bisa
berbulan-bulan.
- nodus limfatikus membesar bilateral pada umumnya, tapi kadang-
kadang saja satu nodus limfatikus yang membesar.
- kadang-kadang tidak ada nodus limfatikus yang membesar (n.
lymphaticus external) tetapi sewaktu diadakan pemeriksaan rektal, nodus
limfatikus pelvis dan abdominal terdapat suatu masa neoplastik yang
ekstensif.
- terjadi indigesti yang kronis karena abomasum biasa mengalami
infiltrasi tumor ini.
- jantung abnormal karena miokardium merupakan tempat yang sering
menjadi sasaran infiltrasi, maka sering dikira terserang penyakit
perikarditis traumatik.

100
- paresis dan paralisis terjadi jika nervusnya yang terkena infiltrasi.
- neoplastic cell dapat diketemukan di dalam air susu.

Leukimia pada anjing:


- yang paling sering adalah leukimia lymphocytik;
- disamping nama tersebut dimuka ada yang menyebut dengan malignan
lymphoma.

Gejala-gejala klinis:
- bedanya disini tidak ada nodus limfatikus yang membesar;
- jika ada, nodus limfatikus yang membesar bilateral dan tidak sakit;
- kadang-kadang glandula tonsil yang membesar;
- mula-mula kesehatan umum baik, hewan tidak tenang, tidak mau makan,
muntah, diare, dyspnea, batuk, makanan berhenti di esofagus karena ada
udem di bagian muka, leher, kaki dan sebagainya. Tanda-tanda ini
sebagai akibat terjadinya obstruksi makanis karena lympho-adenopathy.

Leukemia pada kucing :


- terutama limfositik tetapi ada granulocitik, reticulum cell, myeloma,
basofilik, eosinofilik, monositik leukemia.

Gejala-gejala klinis :
- temperatur tubuh naik, anemia yang berat dan tidak sembuh dengan
pengobatan Fe dan vitamin B12.
- depresi, bersin, batuk dyspnea.
- Glandula Thymus dan nodus limfatikus mediastinalis sering merupakan
tempat utama pertumbuhan sel tumor, kemudian akan timbul
hydrothorax dan jika di pungsi akan ditemukan sel-sel tumor.
- Tempat lain di usus halus dekat ileo-coeca valve beserta nodus
limfatikus mesenterika.

101
Leukemia pada kuda :
- Sering limfositik

Gejala-gejala klinis :
- kondisinya jelek
- terjadi tonjolan-tonjolan pada kulit
- tonjolan-tonjolan daerah/pada nodus limfatikus
- udem di bagian abdomen sebelah bawah
- berat badan cepat menurun

102
PLASMA DARAH

PROTEIN PLASMA

Plasma mengandung sangat banyak protein terpisah dari susunan kimia


yang berbeda misalnya urutan dan komposisi asam amino. Sehingga mereka juga
berbeda dalam sifat-sifat fisik seperti berat molekul, berat jenis, kelarutan dan
muatan listrik, serta dalam identitas imonologik. Dengan alat elektroforese telah
dapat diidentifikasi kurang lebih 22 macam protein plasma yang berbeda.
Plasma protein menduduki posisi utama dan dominan dalam metabolisme
protein karena erat hubungannya dengan proses metabolisme dalam organ hati
dan interaksinya dengan jaringan di seluruh bagian tubuh. Oleh karena begitu
eratnya hubungan protein plasma dengan jaringan tubuh, maka dari sini dapat
diambil sejumlah informasi tentang status umum metabolisme protein dalam
tubuh pasien berdasarkan hasil pemeriksaan protein plasma.
Plasma protein merupakan kelompok senyawa kimia yang heterogen dan
keheterogenan ini telah dapat diperlihatkan dengan analisis menggunakan alat
ultrasentrifus. Dengan mengevaluasi berdasarkan berat molekul dari variasi
komponen protein plasma dan berat molekulnya adalah :
- albumin : sekitar 69.000
- globulin misalnya alpa (α) globulin : 200.000-300.000
beta (β) globulin : 150.000-350.000
gama (γ) globulin : 150.000-300.000
- fibrinogen : 400.000
Dari sejumlah macam protein plasma yang berfungsi dalam memelihara tekanan
osmotik, maka albumin merupakan protein plasma yang paling terlibat. Oleh
karena albumin mempunyai berat molekul yang paling kecil maka ia yang
pertama kali dapat lolos dari aliran darah apabila terjadi peningkatan
permeabilitas dinding kapiler, misalnya pada kondisi keradangan.

103
Dengan alat elektroforese identifikasi fraksi-fraksi albumin dan globulin
dari protein plasma dapat ditelusuri, misalnya alpa 1, alpa 2, beta dan gamma
globulin.

Albumin
Dalam plasma hewan normal, albumin merupakan 40-60% dari protein
plasma total, walaupun konsentrasi rata-rata albumin tergantung pada spesies
hewan dan faktor-faktor lain seperti adanya dehidrasi. Sehubungan dengan fungsi
albumin dalam tekanan osmotik, maka albumin berfungsi sebagai sumber asam
amino bagi protein jaringan. Albumin juga mempunyai kemampuan mengadakan
ikatan dengan macam-macam substansi. Albumin bertanggung jawab bagi
pengangkutan kebanyakan bilirubin dan kalsium yag terikat protein (tak
terionisasi) di dalam plasma. Albumin mengikat zat warna yang dimasukkan ke
dalam sirkulasi (misalnya bromsulftalein; biru Evans) dan banyak obat-obatan
(misalnya salisilat), metabolit (misalnya asam lemak bebas) dan hormon
(misalnya hormon tiroidea). Kemampuan ini dapat mencegah cepatnya ekskresi
obat-obatan dan membantu dalam proses detoksifikasi dan inaktivasi terhadap
bahan-bahan tertentu yang dapat menyebabkan toksis terhadap tubuh hewan.
Albumin juga memegang peran penting dalam transportasi asam-asam lemak. Di
samping itu albumin mempunyai kerja penstabilisasi atas sistem koloid (seperti
yang dipergunakan untuk tes fungsi hati flokulasi dan atas kecepatan sedimentasi
darah).
Albumin disentesis di dalam hati dan mempunyai masa paruh (half life)
sekitar 15 hari. Albumin yang bersirkulasi di dalam plasma mungkin tidak
mempunyai nilai nutritife jaringan secara langsung.

Globulin
Globulin merupakan kelompok protein yang tidak larut dalam air tetapi
dapat larut dalam larutan asam, basa, dan larutan garam dengan konsentrasi
rendah. Seperti yang telah disebutkan di muka bahwa globulin plasma terdiri dari
alpa, beta dan gamma globulin dan masing-masing globulin tersebut masih dapat

104
digolongkan dalam fraksi-fraksi yang lebih kecil. Kadar alpha dan beta globulin
adalah tergantung pada macam spesies hewan. Fungsi utama alpha dan beta
globulin adalah sebagai pembawa (carrier) macam-macam lipid, vitamin dan lain-
lain substansi yang mirip dengan lipid. Lipida-lipida ini tidak secara bebas dalam
plasma sewlama transportasi, akan tetapi terikat oleh globulin dan disebut
lipoprotein.
Alpha globulin lain termasuk komponen glikoprotein yaitu ceruloplasmin,
berfungsi sebagai pembawa ion tembaga (Cu). Contoh lain yang termasuk alpha
globulin yaitu haptoglobulin yang berfungsi sebagai pembawa Hb yang kemudian
akan mengedarkannya dalam plasma.
Pengangkutan besi (Fe) rupanya berhubungan erat dengan beta globulin.
Suatu glikoprotein yang terlibat dalam pengangkutan Fe ini disebut transferin
atau sideropilin. Pengangkutan pertama terjadi pada tempat-tempat absorpsi Fe
pada traktus intestinal ke tempat-tempat penyimpanan dalam tubuh termasuk
organ hati dan limpa.
Gamma globulin atau immunoglobulin terutama berhubungan erat dengan
antibodi. Pada umumnya kenaikan kadar gamma globulin selalu diikuti oleh
kenaikan titer antibodi, akan tetapi hal ini tidak selalu berlaku.

Fibrinogen
Firinogen merupakan protein plasma yang mempunyai fungsi utama dalam
proses pembekuan darah. Fibrinogen disentesis oleh organ hati dimana diproduksi
oleh mikrosom dalam sel-sel parenkim hati atau hepatosit. Penyimpanan
fibrinogen terjadi pada sel-sel parenim hati sampai nanti dibutuhkan oleh tubuh.
Fibrinogen mempunyai turn over time lebih cepat dari pada protein plasma yang
lain yaitu sekitar 50 jam. Turn over time yang cepat ini diperlukan untuk
mensuplai fibrinogen baru untuk melindungi pembuluh darah. Ada kemungkinan
fibrinogen diperlukan dalam suatu proses metabolisme tertentu akan tetapi hal ini
belum dapat dibuktikan secara eksperimental.

105
Glikoprotein
Senyawa ini merupakan protein alami yang mengandung sejumlah
komponen karbohidrat, misalnya hexose, hexosamine, asam sialic dan sejumlah
kecil fructose. Ikatan dengan komponen karbohidrat ditemukan pada semua
protein plasma, akan tetapi alpha globulin terikat lebih banyak dengan
karbohidrat.
Glikoprotein nampaknya diproduksi oleh hati, namun protein ini diduga
dihasilkan pula atau dibebaskan langsung ke dalam darah oleh jaringan-jaringan
yang mengalami perubahan. Ada kemungkinan juga glikoprotein plasma disintesis
sebagai respon kerusakan jaringan karena terjadi proses proliferasi. Jaringan yang
mengalami proliferasi tersebut memerlukan protein yang mengandung karbohidrat
rendah, sehingga protein yang mengandung karbohidrat lain dibebaskan ke
peredaran darah.

Haptoglobulin
Haptoglobulin mempunyai kemampuan berikatan dengan Hb yaitu secara
ekstraseluler Hb. Setelah berikatan maka akan menjadi susunan yang kompleks
dan dipindahkan dari sirkulasi oleh sistem retikuloendotelial. Pada kasus dimana
terjadi pembebasan Hb yang berlebihan pada sirkulasi darah, maka akan terjadi
ikatan yang lebih banyak dengan haptoglobulin plasma. Haptoglobulin ini dapat
diekskresi lewat ginjal, sehingga akibatnya akan terjadi hemoglobinuria. Sebagian
besar hemoglobin dalam plasma mengalami kehancuran dan terbebaskan haem
yang kemudian akan teroksidasi menjadi hematin. Hematin akan berikatan pula
dengan hemopexin (dijumpai pada beta globulin zone). Namun terbentuknya
hematin yang berlebihan, maka tidak akan seluruhnya berikatan dengan
hemopexin, oleh karena sebagian terikat dengan albumin plasma, dan bentuk
kompleks ini disebut ferihemalbumin atau methemalbumin. Konsentrasi
haptoglobulin dijumpai sangat rendah pada anemia hemolitika. Kemampuan
haptoglobulin dalam mengikat Hb sekitar 100-130 mg/100 mL plasma.

106
Lipoprotein
Dua macam fraksi lipoprotein dalam plasma yaitu alpha 1 dan beta 1
globulin. Senyawa protein ini berfungsi sebagai pembawa hormon-hormon
steroid, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, gliserida, kolesterol dan bentuk
esternya, fosfolipida dan bahan-bahan yang larut dalam lemak. Alpha dan beta
globulin ini terutama disintesis oleh sel-sel retikuloendotelial.

Metabolisme
Gamma globulin disintesis oleh sel-sel limfoid dari nodus limfatikus,
limpa dan sumsum tulang, yang mana albumin, fibrinogen dan protrombin
dibentuk di hati, di samping itu sebagai tempat pembentukan alpha dan beta
globulin.
Status nutrisional dari seekor hewan mempunyai pengaruh dalam sintesis
protein plasma. Pengaruh secara langsung adalah sebagai sumber bahan dalam
sintesis; pengaruh secara tidak langsung yaitu apabila terjadi defisiensi protein
maka akan merugikan bagi hati. Kekurangan atau diet protein akan sangat
mempengaruhi level gamma globulin dan albumin plasma. Kekurangan albumin
plasma yang sangat akan menyebabkan terjadinya udema. Penurunan gamma
globulin akan berakibat hambatan resistensi tubuh terhadap agen-agen infeksius.
Pada anjing normal yang kekurangan protein plasma, diketahui bahwa
90% dari protein plasma total dapat diregenerasi setiap minggunya. Pada kondisi
optimal, meliputi suplai protein yang cukup dan rangsangan sintesis, protein
plasma yang dapat dibentuk dalam waktu yang relatif singkat.
Seperti yang telah diterangkan di muka, protein plasma juga sebagai
sumber nutrisi bagi jaringan. Terjadilah keseimbangan dinamis antara protein dari
plasma dan dalam jaringan. Pada peristiwa kehilangan protein, level protein
plasma sering mengalami degradasi untuk menjaga keseimbangan level protein
plasma. Sebagai konsekuensinya, kehilangan sejumlah protein jaringan misalnya,
maka akan terjadi perubahan kecil pada konsentrasi protein plasma. Kejadian
hipoproteinemia pada manusia oleh karena semata-mata kehilangan protein, maka

107
dapat diperhitungkan bahwa penurunan 1 g protein plasma dalam sirkulasi sejajar
dengan kehilangan 30 g protein jaringan.
Pengamatan pada hewan percobaan menunjukkan bahwa ada suatu arus
protein plasma yang berkesinambungan dari plasma dan cairan ekstraselluler ke
dalam limfe atau sebaliknya. Hal ini telah diperkirakan bahwa rata-rata 50% dari
protein plasma total melintasi duktus toraksikus setiap harinya. Kejadian secara
eksperimental menunjukkan bahwa protein plasma intravaskuler adalah dalam
keseimbangan dinamik dengan protein plasma ekstravaskuler. Adanya penurunan
protein plasma dari satu kompartemen menghasilkan pergeseran protein plasma
dari kompartemen yang mengandung lebih tinggi protein plasma ke kompartemen
yang lebih rendah.

Indikasi untuk pemeriksaan protein plasma


Setiap abnormalitas protein plasma merupakan petunjuk adanya perubahan
patologik, fisiologik atau faktor lain yang mempengaruhi penyimpanan kadar
protein plasma tersebut. Meskipun penyimpangan protein plasma tersebut tidak
spesifik untuk penyakit-penyakit tertentu, tetapi dalam protein plasma total
maupun fraksi-fraksinya dapat merupakan petunjuk penting untuk diagnosa
maupun prognosa suatu penyakit.
Dari status keseimbangan air pada hewan dapat dievaluasi perkiraan
kebutuhan akan protein plasma. Tes ini dapat dilakukan dengan penentuan packed
cell volume (PCV) atau Hb atau keduanya adalah bermanfaat dalam menentukan
ada tidaknya maupun derajat dehidrasi.
Perkiraaan jumlah protein plasma total (dalam satuan g/gL) sering
dibutuhkan dalam memperkirakan keadaan nutrisional hewan. Keadaan
nutrisional bisa tergantung pada pemasukan bahan-bahan protein yang cukup dan
tepat atau bahan-bahan pembentuk protein. Hal ini dapat merefleksikan
perubahan-perubahan dalam proses metabolisme. Perubahan-perubahan
konsentrasi protein plasma mungkin dapat digunakan untuk indikasi penyakit.
Perkiraan jumlah protein plasma total juga dapat merupakan petunjuk akan
metabolisme protein, dalam hubungannya dengan aktivitas organ-organ tertentu

108
misalnya hati dan ginjal. Perubahan-perubahan protein plasma secara drastis dapat
dijumpai pada penyakit hati, dan perkiraan kadar protein plasma mempunyai nilai
diagnostik dan prognostik. Pada penyakit hati akut atau berat atau kronis, sintesis
albumin melemah. Penurunan albumin plasma yang terjadi setelah trauma dan
pada penyakit atropi yang lain yang berlangsung lama serta kontinyu, ataupun
pada infeksi akut atau kronis dan pada penyakit sistemik lain, sebagian karena
kerusakan hati, sebagian karena kelemahan masukan dan sebagian karena
distruksi protein toksik yang belum bisa dijelaskan.
Masukan, pencernaan atau absorpsi protein yang tidak adekuat,
peningkatan katabolisme protein dan kehilangan protein, selain menyebabkan
defisiensi albumin, juga menyebabkan keseimbangan nitrogen yang negatif.
Penurunan masukan protein tidak segera menurunkan albumin plasma, protein
jaringan terdeplesi sebelum kadar protein plasma menurun dan penurunan
konsentrasi albumin plasma tiap 10 g/L menunjukkan deplesi sekitar 30 g protein
jaringan. Kehilangan albumin ke dalam cairan udema atau asites dari plasma tidak
dengan sendirinya merubah kandungan albumin tubuh total.
Penurunan albumin boleh jadi karena gangguan berupa hambatan sintesis
albumin atau kenaikan konsentrasi globulin atau adanya indikasi terhadap
kerusakan besar-besaran atau banyak kehilangan albumin. Perubahan-perubahan
terhadap gamma globulin biasanya merupakan refleksi respon dari sistema
retikuloendotelial terhadap rangsangan antigenik. Infeksi sehubungan dengan
invasi benda-benda asing dalam tubuh apakah itu berupa bakteri, virus, protozoa,
atau sebab parasit biasanya menyebabkan peningkatan gamma globulin.
Perkiraan nilai protein plasma total akibat syok, dehidrasi atau hemoragi
adalah sangat bermanfaat sebagai pedoman pemberian cairan dalam keadaan
darurat. Level protein total dalam hal ini bervariasi pada beberapa kondisi. Syok
dan dehidrasi keduanya meningkatkan protein plasma total, sedangkan pada
hemoragi menyebabkan penurunan protein plasma total jika keseimbangan air
antara intravaskuler dan ekstravaskuler telah kembali mantap.

109
Nilai normal
Perbedaan metode pemeriksaan protein plasma kadang-kadang
menyebabkan adanya variasi hasil.

Tabel 1. Nilai normal protein plasma pada berbagai spesies hewan.

Spesies Sex Umur Konsentrasi absolut g/dL


PPT Albumin Alpa Beta Gamma
Sapi Betina 18 – 30 bl 6,97±0,53 3,20 0,98 0,61 2,18
Sapi Jantan 5 – 9 th 7,56±0,5 3,40 0,85 1,08 2,16
Domba - 122 hari 5,81 2,96 1,10 0,45 1,30
Kambing jtn,btn 7 – 9 bl 6,25 3,95 0,42 1,24 0,97
Kuda - - 6,72 2,60 2,63 0,81 0,68
Babi - 5 – 6 bl 7,40 3,40 1,50 1,10 1,40
Anjing - - 6,1 – 7,8 3,1-4,0 1,20 1,30 0,80

PPT = protein plasma total

Pengukuran protein total

Pemeriksaan nitrogen. Tindakan standar didasarkan atas teknik


Kjeldahl. Protein dicernakan dan nitrogen dikonversikan menjadi amonia yang
dapat diukur dengan teliti. Pengukuran fraksi-fraksi protein dalam serum atau
plasma dapat diketahui dengan cara elektroforesis atau ultra-sentrifus. Dasar dari
metode elektroforesis adalah bahwa aliran listrik yang melalui suatu larutan
protein akan menyebabkan fraksi-fraksi protein akan bergerak ke arah elektroda
positif dengan kecepatan yang berbeda-beda.

Pemeriksaan Biuret. Ini lazim digunakan untuk pekerjaan klinis dan


tergantung atas reaksi warna antara tembaga alkali dan rantai peptida CO-NH.
Metode berdasarkan atas terdapatnya jumlah rantai CO-NH yang tetap per satuan
massa protein apapun sifatnya.

Berat jenis. Jika serum diteteskan ke dalam larutan tembaga sulfat yang
diketahui densitasnya, tetesan ini akan terapung atau tenggelam sesuai dengan

110
densitasnya, yang sangat tergantung atas konsentrasi proteinnya. Metode ini
berguna untuk pekerjaan lapangan.

Metode Refraktometrik. Merupakan metode yang paling mudah dan


cepat, sedang hasilnya diakui sebagai sebanding dengan cara-cara kuantitatif
kimiawi. Sebuah alat yang biasa dipakai adalah TS-meter. Konsentrasi protein
tercatat dalam satuan g/dL, dapat langsung dibaca pada alat tersebut. Pengukuran
protein plasma dalam plasma yang lipemik (banyak mengandung lemak) tidak
cocok menggunakan TS-meter.

SUBSTANSI NON PROTEIN DALAM PLASMA

Dalam plasma dikenal adanya nitrogen bukan protein darah (NPN = non
protein nitrogen) terdiri dari urea, urat, kreatin dan kreatinin, asam-asam amino,
dan substansi non protein non nitrogen misalnya kalsium (Ca), fosfor (P),
magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K) dan kolesterol.

Urea

Hampir seluruh urea dibentuk di dalam hati, dari katabolisme asam-asam


amino dan merupakan produk ekskresi metabolisme protein yang utama.
Konsentrasi urea dalam plasma darah (BUN = blood urea nitrogen) terutama
menggambarkan keseimbangan antara pembentukan urea dan katabolisme
protein serta ekskresi urea oleh ginjal, sejumlah urea dimetabolisme lebih lanjut
dan sejumlah kecil hilang dalam keringat dan feses.

Metode klasik untuk pemeriksaan urea yang memerlukan konversi


menjadi amonia oleh enzim urease yang spesifik dan pengukuran amonia dengan
suatu metode kolorimetri berdasarkan atas reaksi dengan diasetil monoksim yang
sekarang banyak dipakai. Di samping itu ada tes lajur komersial yang cepat
(Urastrat: William R. Warner; Azostix: Ames) berdasarkan atas reaksi urease,
karena mendekati pemeriksaan urea plasma.

Adanya gangguan fungsi ginjal maka akan terjadi pula gangguan ekskresi
urea. Seperti telah diketahui bahwa urea dalam plasma akan disaring oleh

111
glomerulus ginjal dan di bawah kondisi normal kira-kira 40% dari jumlah urea
berada kembali ke dalam sirkulasi darah. Kegunaan pemeriksaan urea darah
mempunyai manfaat dalam mendiagnosa kelainan ginjal, membantu dalam
menentukan diferensial diagnosa, membantu dalam menentukan prognosa namun
pemeriksaan BUN disini harus secara serial, dan dengan demikian akan dapat
diketahui perkembangan suatu penyakit.

Kenaikan urea darah dapat disebabkan 3 kemungkinan:

Prerenal

Peningkatan katabolisme protein jaringan disertai dengan


keseimbangan nitrogen yang negatif. Misalnya pada keadaan demam, penyakit
yang menyebabkan atrofi, tirotoksikosis, koma diabetika atau setelah trauma
ataupun operasi besar. Karena sering kasus peningkatan katabolisme protein itu
kecil, dan tidak ada kerusakan ginjal primer atau sekunder, maka ekskresi ke
urina akan membuang kelebihan urea dan tidak ada kenaikan bermakna dalam
urea plasma.

Pemecahan protein darah yang berlebihan. Pada kasus leukemia,


pelepasan protein leukosit menyokong urea plasma yang tinggi. Hemoglobin,
eritrosit dan protein plasma dapat dilepaskan ke dalam usus karena perdarahan
dan penyakit gastrointestinalis dan dicernakan, sering disertai volume darah yang
rendah dengan kelemahan fungsi ginjal yang sekunder.

Pengurangan ekskresi urea. Ini merupakan penyebab yang umum dan


terpenting serta bisa prerenal, renal atau postrenal. Penurunan tekanan darah
perifer seperti syok atau bendung vena pada keadaan payah jantung, kongesti
atau volume plasma yang rendah dan hemokonsentrasi seperti pada deplesi
natrium oleh sebab apapun termasuk penyakit Addison, mengurangi aliran darah
ke ginjal. Di samping itu hewan dalam keadaan dehidrasi (misalnya pada
keadaan muntah-muntah, diare, diuresis) akan memperlihatkan peningkatan
sedikit kandungan urea darah. Pada penyakit hati juga dapat meningkatkan kadar
urea darah akan tetapi sifatnya ringan, misalnya pada penderita hepatitis

112
infeksiosa anjing yang mana akan terjadi peningkatan katabolisme protein dan
demam yang hebat. Peningkatan katabolisme jelas akan meningkatkan proses
pemecahan protein.

Renal

Kerusakan pada nefron ginjal bisa disebabkan oleh terjadinya lesi-lesi di


beberapa tempat misalnya pada glomeruli dan tubuli. Perubahan-perubahan
patologik pada jaringan interstitial ginjal juga dapat menyebabkan perubahan
fungsi nefron.

Penyakit ginjal yang disertai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus


menyebabkan urea plasma tinggi. Ini secara khas terlihat pada glomerulonefritis
akut dan pada kegagalan ginjal destruktif yang berat, kegagalan ginjal akut atau
sindroma hepatorenal. Urea plasma normal pada sindroma nefrotik yang tak
berkomplikasi.

Pada kasus leptospirosis bentuk ikterus, terlihat kadar urea darah yang
meningkat jelas, sedang pada leptospirosis bentuk hemoragi, nampaknya kadar
urea darah masih dalam batas normal atau sedikit mengalami kenaikan.

Postrenal

Obstruksi saluran keluar urina (ureter) misalnya oleh kelenjar prostata


yang membesar atau adanya neoplasma menyebabkan urea plasma yang tinggi
dengan menyebabkan peningkatan reabsorpsi urea melalui tubulus dan
pengurangan filtrasi.

Pada sapi yang mengalami ruptur kandung kencing akibat adanya batu
kencing, akan terjadi kenaikan kadar urea darah yang nyata. Keadaan serupa
dijumpai pula pada obstruksi uretra akibat adanya batu kencing.

Azotemia merupakan istilah yang digunakan untuk konsentrasi urea


plasma/darah yang tinggi. Uremia merupakan nama yang diberikan bagi

113
sindroma klinis yang timbul bila terdapat retensi nitrogen yang jelas karena
kegagalan ginjal.

Kadar urea darah dapat mengalami penurunan tetapi ini jarang terjadi,
sekali-sekali terjadi pada insufisiensi hati, nekrosis hati yang mana asam-asam
amino tidak dimetabolisme lebih lanjut. Pada serosis hepatis, urea plasma yang
rendah sebagian disebabkan oleh pengurangan sintesis dan sebagian karena
retensi air, retensi air oleh sekresi hormon antidiuretika yang tidak sepantasnya
merendahkan urea plasma. Urea plasma turun pada malnutrisi protein jangka
panjang. Penggantian kehilangan darah jangka panjang, dekstran, glukosa atau
saline intravena bisa merendahkan urea plasma oleh pengenceran. Kadang-
kadang urea darah terlihat menurun pada akhir suatu kebuntingan, ini bisa karena
peningkatan filtrasi glomerulus, diversi nitrogen ke fetus atau karena retensi air.

Karena begitu banyak alasan mengapa urea plasma bisa meningkat, maka
pemeriksaan mempunyai nilai diagnostik yang kecil jika dilakukan sebagai
tindakan acak --- tetapi peningkatan urea plasma selalu abnormal. Kepentingan
analisis urea plasma dalam menyelidiki penyakit ginjal primer atau sekunder.

Pemeriksaan urea dalam urina dengan sendirinya mempunyai nilai yang


kecil. Jika masukan nitrogen diketahui, maka bisa didapat petunjuk kasar
keseimbangan nitrogen. Jika urea plasma diketahui, maka ia dapat berlaku
sebagai ukuran fungsi ginjal, dengan mengkalkulasikan clearence urea.

HEMOSTASIS

114
Darah, jika keluar dari lapisan endotel kapiler darah akan menjendal.
Penjendalan ini akan lebih cepat dalam pembuluh terbuat dari gelas daripada
pembuluh yang dilapisi silikon atau bahan serupa, hal ini merupakan indikasi
bahwa apabila darah mengadakan kontak dengan gelas, mekanisme penjendalan
darah teraktivasi. Fenomena ini disebut contact activation dan ini merupakan
indikasi bahwa semua komponen yang diperlukan dalam penjendalan sebenarnya
terdapat dalam darah normal. Tipe penjendalan ini bila terjadi disebabkan karena
ada faktor intrinsik atau adanya sistem endogenous. Dengan kata lain,
penjendalan dapat pula dipercepat dengan adanya tromboplastin, yang berasal
dari jaringan yang rusak, atau memang ditambahkan ke dalam plasma. Sistem
penjendalan yang melibatkan faktor jaringan disebut ekstrinsik atau sistem
exogenous. Kedua sistem itu diperlukan dalam mempertahankan proses
hemostasis normal, yaitu mencegah kehilangan darah akibat dari kerusakan
pembuluh darah.

Prinsip hemostasis

Hemostasis sendiri melibatkan rangkaian kompleks yang melibatkan


peristiwa fisiologik dan biokimiawi termasuk promotor dan inhibitor dari
penjendalan/koagulasi darah.

Hemostasis awal ini terjadi apabila terjadi kerusakan pembuluh darah


sampai pada lapisan endotel, sampai jaringan penyokong subendotel. Ada 3
macam komponen utama dalam hemostasis yaitu pembuluh darah, trombosit dan
protein atau faktor-faktor koagulasi darah. Gangguan perolehan maupun
herediter dari satu atau lebih dari ketiga komponen di atas, dapat menyebabkan
cacat hemostasis.

Mekanisme untuk menahan perdarahan ada perbedaan, tergantung pada


besarnya pembuluh darah. Selama menit-menit pertama setelah ada sayatan kecil
pada kulit, terjadi vasokonstriksi. Interaksi trombosit dan endotel pembuluh

115
darah dapat mengatasi peristiwa perdarahan ini. Pada kejadian yang lebih parah
pada pembuluh darah yang lebih besar, maka akan melibatkan mekanisme yang
lebih kompleks seperti pembentukan platelet/thrombocyte plug dan aktivasi
sistem koagulasi darah. Mekanisme hemostasis ini berjalan cepat dan bersifat
lokal tetapi sistem ini kadang-kadang menimbulkan resiko, yaitu apabila terjadi
hemostasis yang berlebihan pada tempat sekitar luka maka justru mendorong
trombosit menghasilkan sumbatan dan terjadi ischemia.

Trombosit sendiri tidak melekat pada lapisan endotel yang utuh atau
normal. Endotel yang utuh tidak mengaktivasi terjadinya hemostasis.
kemampuan/aktivasi endotel ini melibatkan proses aktif dan pasif. Mekanisme
aktif sehubungan dengan partisipasi langsung atau tidak langsung dari sel-sel
endotel yang utuh dan sintesis prostacyclin (PGI2), plasminogen activator, dan
thrombomodulin; pemakaian dan degradasi adenosinediphosphate (ADP) dan
proaggregating vasoactive amine; dan inaktivasi trombin. Mekanisme pasif
meliputi endothelial proteoglycan, terutama heparin sulfat dengan sifat
antikoagulasinya, dan terjadinya muatan listrik negatif permukaan/menolak
muatan listrik sejenis dari se-sel darah. PGI 2 menstimulasi adenylcyclase
membran dan meningkatkan konsentrasi cyclic adenosin monophosphate
(cAMP) trombosit. Peningkatan cAMP menghambat kohesi trombosit yang satu
dengan yang lain (agregasi) dan menghambat pembebasan ADP dan kandungan
trombosit yang lain. Stimulasi cAMP, protein kinase mediated phosphorylation
dari membran trombosit atau protein sitoplasmik dapat menyebabkan efek
hambatan/inhibitor. Kerusakan sel endotel kapiler menyebabkan renggangnya
daya perlekatan trombosit dan terjadi pembebasan collagen promoting
coagulation. Darah dapat lolos dari pembuluh darah melalui dinding pembuluh
yang rusak, trombosit mengalami adhesi/perlekatan dengan collagen
subendothelial melalui interaksi surface factor mereka dengan endothelial factor
VIII-related von Willebrand’s factor (factor VIII : VFW). Proses ini disebut
sebagai platelet/thrombocyte adhesion (lihat Gambar 1). Kolagen harus tersedia
dalam konfigurasi fibriller untuk mempromosikan ikatan dengan trombosit dan
untuk mengaktivasi proses koagulasi.

116
Fibrinoectin dan thrombospondin, dibebaskan dari granula trombosit, dan
akan terlibat juga dalam proses adhesi trombosit. Trombosit yang mengalami
adhesi akan terjadi perubahan bentuk dari bentuk diskus (bulat) menjadi bentuk
ireguler dan mulai membebaskan kandungan internalnya. Reaksi pembebasan
tadi menyebabkan daya tarik pada trombosit yang lewat di situ untuk membentuk
agregat trombosit, sehingga terbentuk bentukan massa yang besar melingkupi
daerah yang mengalami kerusakan; dalam waktu yang pendek lobang pada
pembuluh darah akan tertutup, dan darah tidak akan lolos lagi. Agregasi
trombosit itu dapat bersifat reversible. Agregat trombosit yang bersifat reversible
ini sering lepas dan terbawa pergi via aliran darah; dan selanjutnya agregat baru
bisa terbentuk lagi. Agregat trombosit yang irreversible disebut viscous
metamorphosis.

Interaksi trombosit dengan serabut kolagen menyebabkan reaksi kontraksi


pembuluh kemudian menyebabkan granula-granula trombosit menuju ke bagian
sentral trombosit dan akhirnya granula-granula mengeluarkan isinya melalui
sistem kanal terbuka. Selama proses aktivitas dan respon trombosit ini, banyak
faktor dibebaskan dalam microenviroment. Faktor-faktor ini berasal dari organela
trombosit atau baru disintesis sebagai hasil dari rangsangan metabolik dan
meliputi adenosine diphosphate (ADP), adenosin triphosphate (ATP), serotonin,
platelet factor 3 (PF-3) dan platelet factor 4 (PF-4), platelet fibrinogen,
thromboxane (Tx) A2, platelet-derivate growth factor, -thromboglobulin, dan
acid hydrolase. Pembebasan ADP dan generasi TxA2 menarik lebih banyak
trombosit ke daerah pembuluh darah yang luka dan membanyak/memperbesar
hemostatic plug. ADP berinteraksi dengan membran trombosit mengekspos
spesific fibrinogen binding receptor site bergabung dengan glycoprotein IIb-IIIa
complex pada membran trombosit. Ikatan fibrinogen ini merupakan primary
recognation site bagi interaksi trombosit yang satu dengan yang lain selama
proses agregasi.

Langkah selanjutnya, faktor terpenting dalam/pada terjadinya viscous


metamorphosis, yaitu terjadi apabila protrombin dalam plasma diubah

117
(converted) menjadi trombin. Perlekatan antar trombosit dan proses agregasi
menyebabkan/merupakan kondisi yang serasi untuk aktivitas lokalisasi sistem
penjendalan. Trombosit dapat mengaktivasi intrinsic clotting system melalui
interaksi dengan factor XII receptor dan high-moleculer-weight (HMW)
kininogen, melalui pembebasan platelet factor-3 (PF-3) melalui penarikan
coagulation factor pada permukaan trombosit. Pembebasan tromboplastin
jaringan dari endotel yang rusak dan jaringan penyokong subendotelial ikut
mengaktifkan extrinsic clotting system pada permukaan trombosit (lihat Gambar
2).

Trombin terbentuk dengan rangkaian aktivasi koagulasi dengan adanya


agregasi trombosit dan pembebasan faktor-faktor yang terlibat di dalamnya.

Langkah selanjutnya melibatkan pembentukan fibrin, menjaring


trombosit, dan produksi massa yang kompak (lihat Gambar 2). Peristiwa ini
memberikan gambaran bahwa actomycin-like contractile protein,
thrombosthenin, ada bersama-sama dengan microfilament/benang-benang
lembut, menghasilkan kontraksi trombosit dan terbentuknya benang-benang
fibrin yang lebih kuat yang berguna untuk melokalisasi hemostatic plug.

Aktivitas trombin terbatas pada daerah yang mengalami hemostasis


dengan adanya aksi dari plasma protease inhibitor, thrombin-antithrombin III
complex, dan endothelial activation of protein “C”, yang mampu merusak
coagulation factor V dan VIII. Proses pelarutan hemostatic plug setelah tidak
diperlukan lagi, terjadi setelah ada aktivasi sistem fibrinolitik (proses
fibrinolisis).

CATATAN:

PF-2 : heat-stable protein membantu memperlancar konversi fibrinogen


menjadi fibrin oleh trombin. PF-2 juga menghambat
antithrombin III dan menginduksi proses agregasi trombosit.

PF-3 : thermostable lipoprotein sangat erat hubungannya dengan membran


trombosit. PF-3 akan tersedia dan siap aktif dalam proses aktivasi

118
trombosit dan bereaksi. PF-3 diperlukan dalam proses aktivasi factor X
oleh factor IXa dan VIIIa dan dalam konversi protrombin menjadi
trombin oleh factor Xa dan Va (lihat Gambar 3).

PF-4 : thermostable glycoprotein (BM: 9.600-21.000) pada alpha-granule dan


pada membran trombosit. PF-4 berfungsi menetralisasi heparin, dan
menyokong ADP menginduksi agregasi trombosit.

C-Reactive protein :

- BM: 105.000

- Merupakan trace constituent dalam sera normal, meningkat secara cepat


sebagai respon terhadap kerusakan jaringan dan keradangan.

- Walaupun belum diketahui fungsi dari C-reactive protein secara pasti,


tapi protein ini ikut memperlancar proses fagositosis bakteria atau
eritrosit.

- Juga berikatan dengan cara berinteraksi dengan T-lymphocyte dan


menghambat agregasi dan membebaskan mediator.

- Mempunyai kemampuan seperti pada imunoglobulin dan mungkin


mempunyai peranan dalam meningkatkan respon organisme terhadap
rangsangan radang/inflamasi.

- C-reactive protein disintesis oleh hepatosit.

- Immunoreactive C-reactive protein tidak dapat dideteksi pada hewan


normal, tetapi sintesis protein ini terlihat pada hewan yang mengalami
keradangan yang terjadi pertama kali pada hepatosit di daerah
sentrolobular apabila rangsangan radang berlangsung.

- Tempat dan mekanisme kontrol terhadap degradasi C-reactive protein


tidak diketahui.

119
Peran utama trombosit dalam hemostasis adalah adhesi, agregasi dan
viscous metamorphosis seperti yang telah didiskusikan terdahulu dan lihat
Gambar 1 dan 2. gangguan hemostasis adalah akibat adanya thrombocytopathy
dan thrombocytopenia.

Catatan: Informasi detail tentang Hemostasis harap dibaca buku Schlam’s


Veterinary Hematologi – oleh Jain, 1986, hal.388-430.

Major functional regions of thrombocyte platelet

120
121
Gambar 1 . Peristiwa hemostasis sehubungan dengan kerusakan pembuluh darah.
Kolagen menyebabkan aktivasi trombosit oleh adenosin diphosphate
(ADP) dan thromboxane (Tx)A2 dan permulaan proses penjendalan
melalui aktivasi sistem intrinsik (mulai factor XII) dan sisitem
ekstrinsik (mulai factor VII). (Baca keterangan dahulu).

Gambar 2 . Peristiwa hemostasis sehubungan dengan kerusakan pembuluh darah.


Organisasi dari thrombocyte/platelet plug, deposisi fibrin, dan
pengaturan/regulasi prostacyclin (PGI2) dan heparin-antithrombin III
(AT III) complex. (Baca keterangan terdahulu).
Negative Surface Charge
Kellikrein
HMW-Kininogen

122
XII XIIa Tissue factor
(Hageman Kelikrein
factor) Plasmin
Factor XIIa,
XI XIa IX, and Xa
INTRINSIC
++
Ca SYSTEM
IX IXa

IIa
VIII VIIIa PF-3 VII VIIa
++
Ca

(IXa + PF-3 + VIIIa + Ca++ complex) Tissue factor Ca++

Ca++
(VIIa+Tissue factor+ Ca++Complex)

EXTRINSIC
X Xa SYSTEM

Ca++
IIa
V Va PF-3
(Xa + Va + PF-3 + Ca++ complex)
(Prothrombinase)
COMMON PATHWAY

Protrombin (II) Thrombin (IIa)

Ca++
Fibrinogen Soluble fibrin

IIa
XII XIIIa Ca++
Stable fibrin

Gambar 3. MECHANISM OF BLOOD COAGULATION


Stimulu
s

Blood and/or tissue injury

123
Exposure of collagen Blood coagulation
Sequence

Platelet metamorphosis (Intrinsic and Entrisic


pathway)
Pain
Nervus reflex Serotonin Adhesiveness Aggregation Coagulation
Myogenic spasm release (stick to vassel) (stick to each factors released
other)

Platelet plug Thrombin


+
Vascular constriction Fibrin Fibrinogen

Clot formation
(stable)

Hemostasis
HEMOSTATIC MECHANISM

Intrinsic activation Extrinsic avtivation


(damage to blood) (injury to tissue)

Factor X activated

Prothrombin Thrombin

Fibrinogen Fibrin

Clot matrix

COMMON PATHWAY OF BLOOD COAGULATION

EXTRINSIC CLOTTING
MECHANISM

TISSUE THROMBOPLASTIN

CALCIUM, II,
124V, VII, X
PROTHROMBIN THROMBIN

INTRINSIC CLOTTING
MECHANISM

PLATELETS

CALCIUM, V, VIII, IX, X, XI, XII

FIBRINOGEN FIBRIN GEL

FIBRIN STABILIZING FACTOR

FIBRIN CLOT

PHASES OF COAGULATION

125
SEQUENCE OF EVENTS IN THE CLOTTING PROCESS

126
EVALUASI HEMOSTASIS DI LABORATORIUM

I. Urutan evaluasi perdarahan

A. Sebelum melakukan terapi, perlu skrining yang bisa meneguhkan adanya


gangguan hemostasis, penggolongan mekanisme dan diagnosis.

Prosedur skrining: 1. Bleeding time (BT).

2. Clotting time (CT).

3. Jumlah trombosit.

4. Kadar fibrinogen

B. Diambil dan simpan plasma sitrat beku dengan cara sebagai berikut:

1. Pakai tabung plastik, ambil 9 bagian darah segar dan tambahkan 1


bagian Na3-sitrat 3,8%, campur, sentrifus, pisahkan plasma, dan
disimpan dalam keadaan beku.

2. Prosedur untuk plasma sitrat

a. Thrombin time (TT)

b. Partial thromboplastin time (PTT)

c. Prothrombin time (ProT)

d. Specific factor analysis

e. Platelet factor 3 test (PF3)

C. Plasma kontrol berasal dari hewan normal hendaknya disuntikkan


bersama-sama sampel dari pasien untuk laboratorium yang tidak biasa
melakukan pemeriksaan rutin.

II. Interpretasi data hemostasis

A. Evaluasi jumlah dan fungsi trombosit.

1. Jumlah trombosit.

a. Bila jumlahnya <100.000/µL, ini merupakan indikasi


trombositopenia.

b. Perdarahan jarang teramati sampai jumlahnya <40.000/µL.

127
c. Trombosit meningkat selama trombositosis aktif, kontraksi lien,
perdarahan traumatik akut, perdarahan kronik, misalnya
ancylostomiasis.

2. Evaluasi trombosit pada preparat apus.

a. Pemeriksaan preparat apus yang diwarnai dapat sebagai pengganti


perhitungan trombosit.

b. Pemeriksaan dengan minyak emersi memperlihatkan 3-4


trombosit/bidang oli emersi atau beberapa kelompok trombosit
pada pemeriksaan dengan perbesaran lemah, dan rasio berkisar 1
trombosit per 20 eritrosit merupakan indikasi jumlah trombosit
masih dalam batas normal.

c. Rata-rata ukuran trombosit meningkat, menunjukkan produksi


yang meningkat. Adanya giant thrombocyte (trombosit raksasa)
merupakan indikasi adanya stress trombosit.

3. Pemeriksaan preparat apus sumsum tulang terdapat megakariosit


dapat membantu evaluasi kelainan trombosit.

a. Pemeriksaan preparat apus terhadap megakariosit (pemeriksaan


apus sumsum tulang) menunjukkan jumlah megakariosit normal
atau meningkat (pada pasien yang mengalami trombositopenia),
ini sebagai indikasi adanya peningkatan konsumsi atau destruksi
trombosit jika sembuh, jumlah trombosit akan kembali normal.

b. Megakariosit terlalu sedikit atau tidak ada, tetapi jumlah trombosit


turun pada penderita trombositopenia, hal ini merupakan indikasi
adanya penurunan produksi. Kesembuhan bisa tidak terjadi
walaupun penyebab utamanya sudah hilang.

4. Fungsi trombosit dapat diuji dengan uji bleeding time; demikian juga
pengujian terhadap jumlah trombosit yang menurun.

128
5. Jika serum tidak dapat dipisahkan (tanpa antikoagulan), ini
merupakan indikasi gangguan fungsi trombosit atau jumlah trombosit
turun.

6. Platelet factor 3 (PF3) test.

a. Uji ini untuk mengetahui adanya anti thrombocyte antibody dalam


serum.

b. PF 3 test positif, ini merupakan indikasi terhadap


immunemediated thrombocytopenia.

B. Bleeding Time (BT).

1. Mengukur lamanya perdarahan dengan cara insisi standar pada kulit


yang berambut atau membrana mukosa (selaput lendir).

2. Bleeding time naik bisa terjadi pada gangguan hemostasis sebagai


berikut:

a. Trombositopenia

b. Gangguan fungsi trombosit

c. Gangguan dinding pembuluh darah

3. Bleeding time normal terjadi pada keadaan sehat dan hemostasis


berikut ini:

a. Defisiensi atau hambatan faktor penjendal intrinsik (intrinsic


clotting factors).

b. Defisiensi atau hambatan faktor sistem gabungan.

c. Defisiensi factor VII extrinsic

C. Clotting (coagulation) time (CT)

1. Mengukur waktu pembentukan jendalan fibrin dalam darah tanpa


antikoagulan in vitro. Beberapa prosedur dapat dipakai yaitu Lee-
White activated dan coagulation-capillary tube, dan nilai normal
bervariasi pada masing-masing metode tadi.

129
2. Clotting time naik dapat terjadi pada gangguan hemostasis berikut ini:

a). Defisiensi atau hambatan tiap faktor intrinsik.

b). Defisiensi atau hambatan tiap faktor sistem gabungan.

c). Hipofibrinogenemia (jika level <50 mg/dL)

3. Clotting time normal pada keadaan sehat dan beberapa gangguan


hemostasis berikut ini:

a). Trombositopenia

b). Gangguan fungsi trombosit

c). Gangguan dinding pembuluh darah

D. Partial thromboplastin time (PTT).

1. Mengukur waktu pembentukan jendalan fibrin (fibrin clot) pada


plasma sitrat segar yang telah diberi Ca2+ sesudah ditambah contact
activator in vitro.

2. Hasil pemeriksaan PTT adalah sama bahkan lebih tepat dari pada
clotting time.

3. Peningkatan PTT terjadi hanya apabila defisiensi faktor sebesar


kurang dari 30% normal. Misalnya pada hemophilia carrier dengan
40-60% factor VIII activity normal tidak terdeteksi
dengan PTT test.

4. PTT meningkat pada gangguan hemostasis berikut ini:

a). Defisiensi setiap faktor intrinsik.

b). Defisiensi setiap sistem faktor gabungan.

c). Hipofibrinogenemia (<50 mg/dL).

d). Hambatan pembentukan fibrin oleh pengobatan dengan heparin.

Misal: plasma pasien dicampur dengan plasma normal (1:1), akan


menghasilkan PTT normal jika gangguan berupa defisiensi, tetapi PTT
tetap tinggi jika gangguannya disebabkan oleh hambatan heparin.

130
E. Prothrombin time (Pro T)

1. Waktu yang diperlukan untuk pembentukan fibrin dalam plasma sitrat


segar yang diberi Ca2+ lagi, sesudah ditambah dengan tissue
tromboplastin in vitro.

tissue tromboplastin

Plasma sitrat segar + Ca2+ fibrin

2. Pro T meningkat pada gangguan hemostasis berikut ini:

a). Defisiensi factor VII.

b). Defisiensi setiap sistem faktor gabungan.

c). Hipofibrinogenemia (level <50 mg/dL).

d). Hambatan heparin (adanya terapi heparin).

F. Kadar fibrinogen

1. Hipofibrinogenemia, (kurang dari 100 mg/dL) akan terjadi gangguan


hemostasis berikut ini:

a). Fibrinolisis yang berlebihan.

b). Defisiensi fibrinogen kongenital.

2. Hiperfibrinogenemia terjadi pada kasus keradangan, penyakit


neoplasia dan dehidrasi (bersifat relatif).

a). Perubahan tersebut paling konsisten pada sapi.

b). Dehidrasi dapat menyebabkan kenaikan yang sedang dan dapat


dibedakan dengan hiperfibrinogenemia sejati dengan menghitung
rasio plasma protein (PP) dan fibrinogen (F) (PP/F).

Misal: PP = 8,4 g/dL

F = 600 mg/dL

PP/F = 8,4 : 0,6 = 14

131
(1) PP/F > 15, konsistensi dengan dehidrasi atau normal.

(2) PP/F < 10, kadar fibrinogen benar-benar meningkat.

G. Thrombin time (TT)

1. Waktu yang diperlukan untuk pembentukan jendalan fibrin dalam


plasma sitrat segar yang telah diberi Ca2+ lagi, sesudah ditambah
trombin in vitro.

trombin

Plasma sitrat segar + Ca2+ jendalan fibrin

2. TT meningkat pada:

a). Hipofibrinogenemia

b). Hambatan polimerisasi fibrinogen.

Misalnya, konsentrasi produk degradasi fibrin meningkat,


heparinisasi.

H. Konsentrasi produk degradasi fibrin.

1). Dapat diukur kualitatif dan kuantitatif.

2). Konsentrasi produk degradasi fibrin meningkat terjadi pada waktu


fibrinolisis meningkat atau berlebihan.

132
ARTERI

133
SUATU TINJAUAN TENTANG PENGARUH
ETHYLENEDIAMINETETRAACETIC ACID (EDTA)
TERHADAP MORFOLOGI DARAH
drh. Bambang Hariono, PhD.

PENDAHULUAN

Adanya perubahan-perubahan patologi tertentu pada preparat apus darah


perifer sering membantu dalam menyimak etiopatogenesis suatu penyakit
(Schalm et al . 1975; Rich 1974; Walton 1973; Napoli et al. 1980). Evaluasi
terhadap perubahan-perubahan patologi preparat apus darah sering kali bersifat
subyektif, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan besar adanya bias atau
individual judgment. Untuk menghindari hal itu perlu adanya pengalaman dan
proses pemahaman yang benar-benar mendalam dalam menginterpretasikan
perubahan-perubahan yang terjadi itu memang bersifat patologis atau disebabkan
oleh adanya artifact.

Pada pembuatan preparat apus darah memang direkomendasikan


mempergunakan sampel darah segar tanpa diberi antikoagulan macam apapun.
Tetapi dalam prakteknya banyak orang membuat preparat apus darah berasal dari
sampel darah yang mengandung antikoagulan misalnya EDTA, heparin, sitrat
dan lain-lain. Namun hal ini perlu disadari bahwa kualitas atau morfologi
eritrosit maupun leukosit sangat erat hubungannya dengan macam antikoagulan
yang ditambahkan dan waktu lamanya sampel darah disimpan.

Tujuan dari paper ini adalah menyajikan pengaruh samping dari


antikoagulan darah EDTA yang mungkin dengan tidak disadari terjadi dalam
praktek sehingga dengan demikian dapat dipergunakan sebagai bahan
pertimbangan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan apus darah secara optimum.

134
TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh antikoagulan EDTA terhadap eritrosit

Pada keadaan normal, eritrosit senantiasa akan mempertahankan


bentuknya yang bulat bikonkaf. Untuk mempertahankan bentuk ini melibatklan
persoalan yang kompleks yaitu adanya ketergantungan pada proses metabolisme
dalam sel itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. Perubahan-perubahan bentuk
eritrosit secara umum misalnya pada darah anjing ada 4 tipe: echinocyte,
stomatocyte, acanthocyte dan fragmentasi. Adanya fragmentasi dan acanthocyte
adalah akibat perubahan-perubahan bentuk patologis, echinocyte dan stomatocyte
mungkin karena keadaan patologis, fisiologis atau artifact sewaktu memproses
sampel darah (Schall dan Perman 1975; Lessin et al. 1976; Mohandas et al.
1980; Clark et al. 1981; Reinhart dan Chein 1987).

Bentuk-bentuk echinocyte dan acanthocyte bisa dikacaukan dengan


eritrosit yang mengalami crenation, yaitu eritrosit yang mengalami perubahan-
perubahan disebabkan adanya kesalahan dalam proses pembuatan preparat apus.
Perubahan bentuk eritrosit terjadi misalnya pada proses pengeringan preparat
yang lambat, pemakaian EDTA apalagi dengan dosis yang berlebihan, gelas
obyek yang kotor mengandung lemak-lemak atau mengandung agen-agen yang
menyebabkan lisis darah dan sampel disimpan terlalu lama (Benjamin 1972).

Pengaruh EDTA pada basophillic stippling eritrosit

Basophillic stippling dari eritrosit (BSE) adalah terbentuknya agregasi


secara invitro dari ribosom selama proses pengeringan preparat apus darah
(Jensen et al. 1965). Pada kebanyakan spesies hewan, BSE merupakan
ribonucleic acid (RNA) dari retikulosit, terlihat bagus dengan menggunakan
pewarna Romanowsky. Retikulosit lebih sering terwarnai sebagai eritrosit
polikromatofilik (Gilmer dan Koepke 1976). Pada hewan yang mengalami
keracunan plumbum (Pb) baik ruminansia atau non ruminansia sering terlihat
BSE sebagai respon terhadap anemia regeneratif (Schalm et al. 1975; George dan

135
Duncan 1979; Hariono 1990). Pemakaian EDTA dan pengeringan preparat apus
yang cepat, prefiksasi dengan alkohol disertai pewarna Wright, sebagai
pengganti pewarna Romanowsky, yang mana bisa menurunkan jumlah sel BSE
pada kasus keracunan Pb (anjing dan manusia) (Zook et al. 1970; Albahary
1972), dan bahkan dapat merusak BSE pada darah anjing (Kowalczyk 1976).
Menurut George dan Duncan (1981) pewarnaan Wright-Leishman pada preparat
apus lebih baik daripada pewarnaan Wright untuk pewarnaan BSE. Prefiksasi
dengan alkohol juga akan menurunkan jumlah BSE jika dikombinasikan dengan
pewarna Romanowsky dan pewarna Wright (Zook et al. 1970; Albahary 1972).
Bahkan pewarna yang sudah mengandung fiksatif akan lebih baik daripada
menggunakan alkohol sebagai prefiksatif untuk pewarna tertentu (Zook et al.
1970; Albahary 1972). Keasaman dari bufer dilaporkan dapat menurunkan
jumlah BSE pada darah anjing daripada bufer basis (Zook et al. 1970). Menurut
George dan Duncan (1981) penggunaan kombinasi antikoagulan EDTA dan
proses pengeringan yang cepat terhadap preparat apus darah dapat menghasilkan
jumlah BSE lebih baik daripada pewarna Wright untuk mendemonstrasikan BSE.

Pengaruh EDTA pada leukosit

EDTA sebagai antikoagulan darah untuk pemeriksaan hematologi rutin


mempunyai keunggulan dari pada heparin, sitrat dan oxalat (Schmidt et al.
1953), walaupun leukosit normal akan mengalami perubahan degeneratif setelah
beberapa jam dalam EDTA (Schmidt et al. 1953; Nelson 1979). Perbedaan antara
degenerasi in vitro dan degenerasi yang berhubungan dengan proses keradangan
adalah sulit. Gossett dan Caracostas (1984) mengatakan bahwa perubahan-
perubahan in vitro pada sel neutrofil darah anjing sehat dengan antikoagulan
EDTA meliputi terjadinya vakuola yang menciri, jernih, jumlahnya sedikit dalam
sitoplasma, distribusi granula sitoplasmik tidak seperti biasanya, iregularitas
membran sel dan piknosis. Biasanya sel neutrofil kurang bersifat basofilik dan
mempunyai jumlah vakuola yang minimal. Sedangkan pada proses keradangan

136
atau inflamasi terlihat peningkatan basofilia dan vakuola menyerupai busa
(foamy vacuolation) pada sitoplasma.

Seperti diketahui bahwa adanya peningkatan basofilia, foamy vacuolation


atau blue-gray inclusions (Döhle bodies) dalam sitoplasma sel neutrofil adalah
merupakan indikasi adanya proses keradangan yang berat (Schalm et al. 1975).
Hal ini menunjukkan adanya immaturity dari sitoplasma dan degenerasi sel
(Gossett dan MacWilliams 1982).

Pengaruh EDTA pada trombosit

EDTA menyebabkan trombosit menjadi bulat, spheris atau oval. Perlu


diketahui adanya pembentukan trombosit biasanya juga ada hubungannya dengan
trombositopenia sehubungan dengan peningkatan kebutuhan atau peningkatan
distribusi trombosit (Weiss 1984).

KESIMPULAN

1. Dalam pembuatan preparat apus darah sangat direkombinasikan


menggunakan sampel darah segar tanpa pemberian antikoagulan..
Pemberian antikoagulan EDTA dan lamanya sampel darah dalam
penyimpanan jelas mempengaruhi morfologi eritrosit maupun leukosit
sehingga dapat mengganggu hasil interpretasi.

2. Perlu diperhatikan metode standar dalam pembuatan preparat apus darah.

Makalah disajikan pada Kasus Penyegaran Dokter Hewan Mandiri dalam rangka
Konggres XI dan Konfrensi Ilmiah Nasional V PDHI Yogyakarta, 9-13 Juli 1991.

DAFTAR PUSTAKA

137
Albahary, C. 1972. Lead and Hemopoiesis: The Mechanism and Consequences
of the Erythropathy of Occupational Lead Poisoning. Am. J. Med. 52 :
367-378.

Benjamin, M.M 1978. Outline Veterinary Clinical Pathology. The Iowa State
University Press, Ames, Iowa, USA. pp. 25-28.

Clark, M.R., Mohandas, N., Feo, C., et al. 1981. Separate Mechanisms of
Deformability Loss in ATP Depleted and Calcium-Loaded Erythrocytes.
J. Clin. Invest. 67: 531-539.

George, J.W. and Duncan, J.A. 1979. The Hematology of Lead Poisoning in Man
and Animals. Vet. Clin. Path. 8: 23-30.

George, J.W. and Duncan, J.R. 1981. Effect of Sample Preparation on Basophilic
Stippling in Bovine Blood Smears. Vet. Clin. Path. 10(1): 37-39.

Gilmer, P.R.Jr. and Koepke, J.A. 1976. The Reticulocyte: An Approach to


Definition. J. Clin. Path. 66(1): 262-266.

Gossett, K.A. and Caracostas, M.C. 1984. Effect of EDTA on Morphology of


Neutrophils of Healthy Dogs and Dogs with Inflanmation. Vet. Clin.
Path. 13(2): 22-25.

Gossett, K.A. and MacWilliams, P.S. 1982. Ultrastructure of Canine Toxic


Neutrophils. Amer. J. Vet. Res. 43: 1634-1637.

Hariono, B. 1990. A Study of Lead (Pb) Levels in Animals and the Environment
with Particular Referenceto the Fruit Bat (Pteropus sp.). A Ph.D. Thesis
in the University of Queensland, Brisbane, Australia.

Jensen, W.N., Moreno, G.D. and Bessis, M.C. 1965. An Electron Microscopic
Description of Basophilic Stippling in Red Cells. Blood 25(6): 933-943.

Kowalczyk, D.F. 1976. Lead Poisoning in Dogs at the University of


Pennsylvania Veterinary Hospital. JAVMA 168(5): 428-432.

Lessin, L.S., Klug, P.P., Jensen, W.N. 1976. Clinical Implications of Red Cells
Shape. Adv. Intern. Med. 21: 451-500.

138
Mohandas, N., Clark, M.S., Jacobs, M.S. et al. 1980. Analysis of Factors
Regulating Erythrocyte Deformability. J. Clin. Invert. 66: 563-573.

Napoli, V.M., Nicholas, C.W., and Fleck, S. 1980. A Semiquantitative Estimate


Method for Reporting Abnormal RBC Morfology. Am. Soc. Clin. Path.
11: 111-116.

Nelson, D.A. 1979. Basic Methodology. In: Clinical Diagnosis and Management
by Laboratory Methods, ed. 16, ed. by J.B. Henry. Philadelphia, WB
Saunders Co., pp. 858-917.

Reinhart, W.H. and Chein, S. 1987. Echinocyte-Stomatocyte Transformation and


Shape Control of Human Red Blood Cells : Morphologic Aspects. Am.
J. Hematol. 24: 1-14.

Rich, L.J. 1974. The Morphology of Canine and Feline Blood Cells. Ralston
Purina Co.

Schall, W.D., and Perman, V. 1975. Diseases of the Red Blood Cells. In:
Textbook of Veterinary Internal Medicine, Vol. 2. ed. by S.J. Ettinger,
Philadelphia, WB Saunders, pp. 88-95.

Schalm, O.W., Jain, N.C., and Carroll, E.J. 1975. Veterinary Hematology, ed. 3.
Philadelphia, Lea & Febiger, pp. 20-101

Schmidt, C.H., Hane, M.E., and Gomez, D.C. 1953. A new Anticoagulant for
Routine Laboratory Procedures-A Comparative Study. US Armed
Forces Med. J. 4: 1556.

Walton, J.R. 1973. Uniform Grading of Hematologic Abnormalities. Am. J. Med.


Tech. 38:517-523.

Weiss, D.J. 1984. Uniform Evaluation and Semiquantitative Reporting of


Hematologic Data in Veterinary Laboratories. Vet. Clin. Path. 13(2): 27-
31.

Zook, B.C., McConnell, G., and Gilmore, C.E. 1970. Basophilic Stippling of
Erythrocytes in Dogs with Special Reference to Lead Poisoning.
JAVMA 157(12): 2092-2100.

baik dan standart hasil baik interpretasi

139
Pembuatan
Preparat apus
jelek dan tidak hasil baik interpretasi
standar kacau, bias

Preparasi apus darah:


- gelas obyek hendaknya baru, tapi gelas/kaca masih tajam
- gelas obyek dimasukkan dalam alkohol 95% agar bebas lemak
- dipakai darah segar paling ideal
- kalau dipakai EDTA, maka pembuatan preparat apus tidak lebih dari 15
menit setelah pencampuran EDTA dengan darah
- preparat apus dikeringkan dengan cepat, dengan diayun-ayunkan atau
memakai bantuan fan (kipas angin)
- untuk mendapatkan hasil yang terbaik, preparat diwarnai dalam waktu 1
jam setelah difiksasi dahulu dengan metil alkohol.

300

Metode Slide Preparat apus darah

makrosit
Abnormallitas besar: anisositosis

140
Morfologi eritrosit mikrosit
Abnormalitas Bentuk: ~ poikilositosis:
- elliptocyte
- sickle cells
- burr cells
- leptocyte
~ target cells/codocyte
~ spherocyte
~ fragmentasi:
- keratocyte
- schizocyte
- knizocyte
~ acanthocyte
~ crenation
~ stomatocyte
Adanya inclusion bodies:
~ reticulocyte
~ basophilic stippling
Pemeriksaan ~ polychromasia
preparat apus ~ Howell jolly bodies
~ kristal Hb
~ siderocyte
~ eritrosit berinti
Morfologi leukosit: - neutrofil
- eosinofil
- basofil
- monosit
- limfosit
- perubahan toksik pada sel-sel tersebut
diatas
Adanya parasit darah: - anaplasma
- babesia
- hemoproteus
- eperythrozoon
- trypanosoma
- ehrlichia
- hepatozoon
- dirofilaria, dll.
Adanya bakteri

Eritrosit: - crenation (eritrosit rusak)

141
- merusak basophilic stippling erythrocyte
(BSE), misalnya pada keracunan Pb

Efek Leukosit: - leukosit bervakuola, spheris, jernih dan jumlah tidak


EDTA banyak
- distribusi granula sitoplasmik tidak seperti biasanya
- perlu dibedakan vakuola pada kasus radang
berat: - leukosit dengan foamy vacuolation
- sitoplasmik lebih berwarna basofilik
- adanya blue-grey inclusions (Döhle bodies)

Trombosit: - trombosit menjadi bulat, spheris atau oval


- perlu dibedakan dengan trombosit raksasa
(biasanya disertai pula trombositopenia) pada
kasus perdarahan kronis, sebagai respon
peningkatan produksi trombosit

Acanthocyte; - eritrosit dengan rounded projections (tonjolan-tonjolan pada


permukaan sel)
- pada kasus: liver disease (anjing)

142
~ Abnormalitas dalam metabolisme fosfolipida dan
kolesterol darah
~ Penurunan kadar trigliserida dan asam lemak bebas

acanthocyte

Crenation: tonjolan-tonjolan pada permukaan eritrosit bukan karena perubahan-


perubahan patologik, tetapi merupakan kesalahan teknis:

- pengeringan yang lambat

- tercemar zat-zat pelisis (lytic agent)

- tercemar larurtan hipertonik

- umur sampel terlalu lama (kadaluwarsa)

- dosis EDTA berlebihsn (dosis yang direkomendasikan 1-2mg/mL


crenation darah)

PENGIRIMAN BAHAN KE LABORATORIUM

143
DIAGNOSA

Pem. laboratorium DOKTER


HEWAN

membantu
TERAPI/PENGOBATAN

Bahan/sampel yang dikirim harus dicantumkan :


1. Nama, alamat Dokter Hewan/nomor telepon
2. Penyakit yang dicurigai
3. Pemeriksaan yang diinginkan
4. Keterangan mengenai hewan : - umur
- spesies
- jenis kelamin
- dll.
5. Riwayat penyakit
6. Tanda-tanda klinis
7. Jumlah hewan yang menunjukkan tanda-tanda klinis
8. Kecepatan kematian
9. Hasil nekropsi
10. Bahan pengawet yang digunakan
11. Apabila laporan segera diperlukan, diminta laporan melalui
telepon/telegram

Cara pengambilan DATA DIAGNOSA YANG


sampel/pengiriman sampel PEMERIKSAAN BENAR
yang benar YANG BENAR

144
- etiket ditempel pada tabung sampel
- beri pengawet

A. PENDINGINAN

PENGAWETAN BAHAN

B. BAHAN KIMIA

A. PENDINGINAN
- Tabung sampel dimasukkan ke dalam termos es (untuk darah dan air susu)
- Dengan dry ice (CO2 padat)
Tabung sampel dibungkus kertas dahulu untuk menghindari singgungan
langsung dengan dry ice yang dapat menyebabkan pembekuan yang tidak
diinginkan.
- Sebagai catatan, jangan menggunakan tabung gelas yang bertutup rapat,
sebab dapat pecah.

B. BAHAN KIMIA
1. Pengiriman untuk pemeriksaan histopatologi
- Formalin 10%
Jaringan dipotong kecil-kecil, dimasukkan ke dalam larutan tersebut.
Volume larutan 10x volume jaringan.
- Alkohol 96%
Alkohol kurang baik daripada formalin.
Alkohol 50-70% tidak baik untuk pengawet, dapat mengeraskan dan
mengakibatkan dehidrasi jaringan.
2. Bahan pengawet yang menghambat pertumbuhan bakteri

145
- Asam borat powder. Digunakan untuk melapisi jaringan apabila sampel
dalam waktu singkat sampai ke laboratorium
- Gliserina 50-100%. Untuk mengisolasi virus dari jaringan.
3. Larutan bakterisidal (untuk mengawetkan serum)
- Mertiolat (dalam air)
Mertiolat 1% dalam air sebanyak 1 bagian untuk mengawetkan 9 bagian
serum.

PENGIRIMAN SAMPEL KE tergantung berbagai macam


LABORATORIUM keadaan spesifik

ABSES
- Sejumlah eksudat yang bebas dari bagian yang segar, dimasukkan ke dalam
tempat yang steril. Buat preparat yang tipis pada gelas obyek yang bersih.

ACTINOBACILLOSIS/ACTINOMYCOSIS
- Eksudat jaringan dikuret dari dinding yang segar dari luka terbuka, masukkan
ke dalam tabung steril. Hindari pengambilan eksudat dari pusat abses, sebab
mungkin berisi debris yang dapat mengganggu pemeriksaan.

ANAPLASMOSIS
1. Bentuk akut: Preparat yang tipis difiksasi dengan metil alkohol, diwarnai
(preparat darah)
2. Bentuk kronis/carrier: Serum dengan pengawet fenol untuk percobaan
fiksasi-komplemen

ANTHRAX
- Apabila hewan tidak diseksi, ambil darah dengan kain kasar, masukkan ke
dalam tabung steril.

146
- Apabila hewan diseksi, ambil beberapa jaringan yang berisi darah, misalnya
limpa (lien).

BLUE TONGUE
- Darah dikumpulkan dari hewan pada fase-fase pertama dari penyakit, dimana
ada kenaikan temperatur.
Bahan pengawet terdiri atas: - fenol 5 gr
- kalium oksalat 5 gr
- gliserina 500 gr
- akuades 100 mL
Campur 1 bagian darah dengan 1 bagian reagen tersebut di atas.

BLACKLEG (Udema maligna)


- Ambil bagian jaringan yang menderita, kemudian dibawa ke laboratorium.
- Darah dari vena jugularis kurang baik.

DISTEMPER
- Ambil jaringan paru-paru, bronchi, vesica urinaria dalam formalin untuk
memeriksa adanya inclusion bodies (benda-benda inklusi).

ENTEROTOXEMIA
- Ambil 100 mL isi usus kecil bagian belakang, kirimkan dengan pengawetan
pendinginan. Buat preparat apus feses.
Contoh: - Clostridium perfringens
- Escherichia coli

BRUCELLOSIS
- Serum untuk uji aglutinasi.
Fetus yang gugur untuk perbenihan kuman.

147
ABORTUS PADA KUDA
- Abortus kena virus
Jaringan hati, limpa dari fetus yang gugur dalam formalin untuk memeriksa
adanya inclusion bodies.
- Salmonella abortiv equina
Fetus, eksudat uterus, plasenta untuk perbenihan.
Serum untuk uji aglutinasi.

ANEMIA INFEKSIONA EQUINA


- Serum dikirim untuk melihat perbandingan antara albumin dan globulin.
Darah dikirim untuk inokulasi pada hewan percobaan.
Hati dikirim untuk pemeriksaan histopatologik.

ERYSIPELAS
- Bentuk akut : ginjal, hati, limpa, jantung untuk kultur.
- Bentuk kronis : - cairan articulatio (sendi) apabila ada gejala arthritis
- jantung apabila ada gejala endocarditis.

ECTOPARASIT
- Parasit yang besar dimasukkan ke dalam botol bekas obat
- Parasit yang kecil dikirimkan bersama keropeng dari tepi luka/potongan-
potongan jaringan yang terserang.

ENTERITIS PADA KUCING ATAU PANLEUKOPENI


- Sedikit bagian intestinum (usus) dimasukkan ke dalam formalin untuk
pemeriksaan inclusion bodies.

INGUS JAHAT (MALEUS)


- Serum dikirim untuk fiksasi komplemen.

148
HEMOBARTONELLOSIS
- Preparat apus darah yang difiksasi dengan metil alkohol.

ENTOPARASIT
- Feses dikirim secepatnya dengan pendinginan.
- Apabila proses pengiriman memakan waktu beberapa hari supaya diawetkan
dengan 5-10% formalin.

HEPATITIS INFEKSIOSA CANINA


- Jaringan hati untuk memeriksa adanya inclusion bodies.

LEPTOSPIROSIS
- Serum non hemolisis untuk uji aglutinasi
- Jaringan ginjal, hati dalam formalin 10% untuk pemeriksaan histopatologik.

MASTITIS
- Ambil air susu dari tiap kwartir secara aseptik ke dalam tabung steril dan
kemudian didinginkan.

PEMERIKSAAN RACUN
a. Deteksi jumlah racun tergantung pada: - tipe racun
- waktu sesudah masuk ke tubuh
hewan
Diperlukan anamnesa yang mendetail, racun yang dicurigai, tanda-tanda
klinis dan hasil nekropsi.

 Logam berat (Pb, Hg, As, Bi)


- Sampel berupa : jaringan hati, ginjal, isi lambung, urina.
 Asam sianida (asam biru)
- Sampel berupa : isi lambung, darah, jaringan hati, material
makanan.

149
 Strihnin
- Sampel berupa : isi lambung, jaringan hati, ginjal dan urina.
 Alkaloid
- Sampel berupa : jaringan hati, otak dan isi lambung.
 Insektisida
- Sampel berupa : isi lambung, jaringan hati, darah (untuk memeriksa
aktivitas enzim kolinesterase).
 Natrium sitrat
- Sampel berupa : isi lambung dan darah.
b. Sampel darah harus didinginkan dengan es batu dan dry ice karena tidak
ada bahan pengawet yang dapat digunakan.
c. Tabung dengan mulut besar dengan tutup plastik.

AYAM
- Memeriksa 2 ekor untuk memberikan keyakinan tentang kelompok ayam yang
terpengaruh.
- Pada penyakit pullorum, ambil serum untuk uji aglutinasi.

UJI KEBUNTINGAN PADA KUDA


- Antara 49-84 hari sesudah perkawinan.
Kirimkan 20 mL serum dengan pendinginan untuk deteksi hormon
gonadotrpin chorion (HCG).
- Sesudah 120 hari dari perkawinan.
Kirimkan 5 mL urina tanpa pengawet untuk deteksi kadar hormon estrogen.

RABIES

150
- Sampel jaringan otak (hypocampus) dimasukkan ke dalam tabung. Masukkan
tabung tersebut ke dalam tabung yang lebih besar berisi es, kemudian tutup
rapat-rapat.
- Jangan menggunakan dry ice/bahan pengawet kimia.
- Perlu diberi keterangan tentang:
 Nama, alamat yang mengirimkan jaringan otak/kepala
 Nama, alamat pemilik hewan
 Nama, alamat orang yang digigit
 Lokasi gigitan
 Nama Dokter
 Apakah hewan telah divaksin rabies?
 Pernah bersinggungankah hewan ini dengan hewan-hewan yang lain?

TUBERCULOSIS
- Nodus limfatikus/organ yang berisi nodulus, didinginkan dan diberi larutan
formalin 10%.

VESICULER EXANTHEMA
- Sampel diinokulasikan pada hewan percobaan

VIBRIONIC ABORTION
- Fetus yang gugur untuk bahan perbenihan

GAMBARAN DARAH PADA KONDISI SPESIFIK

151
A. ANJING
1. Babesiasis

Anemia bersifat progresif

Babesia canis di dalam eritrosit
2. Defisiensi tembaga (Cu)

Anemia normositik normokromik
3. Cystitis

Leukositosis dengan peningkatan sel neutrofil muda
4. Dermatosis, allergi

Peningkatan sel eosinofil
5. Distemper (virus)

Jumlah leukosit total bervariasi tergantung stadium penyakit
a. stadium akut (permulaan): leukopenia
b. stadium lebih lanjut: leukositosis (terjadi infeksi sekunder oleh
bakteri sehingga jumlah sel neutrofil meningkat)

Shift to the left dengan peningkatan sel neutrofil muda dan disertai
leukositosis, kadang-kadang terjadi leukopenia

Anemia bersifat sedang pada stadium akhir
6. Endocarditis

Leukositosis dengan peningkatan sel neutrofil, tetapi dapat pula
leukopenia jika sudah terjadi septikemia

Shift to the left, peningkatan sel-sel mieloblas

Trombosit normal, kadang-kadang terjadi trombositopenia
7. Defisiensi vitamin B6

Anemia mikrositik hipokromik
8. Hepatitis infeksiosa canis

Leukositosis, kadang-kadang leukopenia dengan penurunan berat badan
dengan cepat pada hari ke-35 setelah inokulasi
a. Total leukosit di bawah 7.000/mm3 sampai 2.000/mm3

152
b. Jumlah sel neutrofil sangat menurun, sel-sel jenis yang lain dapat
terjadi penurunan

Selama periode kesembuhan (± 6 hari kemudian) mulai terjadi
leukositosis dengan limfositosis, jumlah limfosit muda meningkat
(selama 2-3 hari)

Nilai hematokrit (PCV) turun
9. Keracunan Pb

Leukositosis dengan shift to the left

Anemia bervariasi dengan ditandai:
- eritrosit berinti, polikromatofilia, terdapat Howell Jolly bodies
- basophillic stippling
- jumlah total trombosit meningkat
10. Leptospirosis
a. Tipe hemoragi, ikterik (L. icterohemoraghica):
- hemokonsentrasi
- leukositosis (50.000 mm3)
- shift to the left dengan peningkatan sel neutrofil muda (50%)
- trombositopenia
b. Tipe uremik (L. canicola):
- anemia
- leukositosis, kadang-kadang tidak
11. Metritis

Leukosit total >25.000/mm3, biasanya normal, naik sedang

Peninhkatan jumlah leukosit disertai nutrophilic shift to the left
(peningkatan sel neutrofil muda)
12. Parasit

Anemia

Eosinofilia

153
13. Pneumonia
a. Sedang
- anemia sedang
- leukositosis (sangat meningkat) : - neutrofilia relatif
- neutrofilia absolut
- eosinopenia dan limfopenia menyolok
b. Berat
- anemia hebat
- leukopenia menyolok: - neutrofilia relatif
- shift to the left
- jumlah sel eosinofil sangat menurun dan juga jumlah limfosit
14. Pyometra

Leukositosis sangat meningkat (leukosit total >50.000/mm3)

Neutrophilic shift to the left

Apabila sudah terjadi radang bernanah terjadi monositosis menyolok
15. Rabies

Leukositosis (jumlah leukosit total 15.000-19.000/mm3) kemudian
mengalami penurunan ketika hewan akan mati

Sel neutrofik naik 90% dari saat gejala-gejala nampak sampai dengan
hewan mati
16. Infeksi traktus urinaria

Jumlah total eritrosit normal

Leukositosis tingkat sedang dengan shift to the left nyata

B. KUCING
1. Feline enteritis

Leukopenia menyolok (1.350-2.000/mm3) atau panleukopenia
2. Feline infectious anemia

Total eritrosit, PCV, Hb turun

Leukositosis tingkat sedang

154

Ditemui parasit darah bentuk coccus (Haemobartonella felis)
3. Pneumonia

Total leukosit normal sampai dengan meningkat
4. Infeksi streptokokus

Leukositosis dengan neutrofilia

C. SAPI
1. Anaplasmosis

Pertama-tama jumlah eritrosis total 4 juta/mm3 kemudian menurun
segera menjadi 2 juta/mm3

Nilai PCV dan kadar Hb menurun

Leukositosis, peningkatan sel neutrofil muda
2. Aspergilosis

Leukopenia menyolok

Limfopenia
3. Brucellosis

Total eritrosit menurun (anemia)

Total leukosit sangat menurun (leukopenia)

Persentase sel neutrofil, monosit dan basofil naik

Persentase limfosit dan eosinofil menurun
4. Mastitis akut

Leukopenia dengan sel neutrofil, limfosit menurun (pertama-tama),
setelah beberapa jam terjadi peningkatan leukosit (leukositosis) disertai
peningkatan sel neutrofil

Setelah gejala klinis hilang (sembuh) terjadi leukositosis dan kemudian
kembali ke jumlah normal
5. Parasit

Cacing traktus digestivus (Hookworm/cacing kait/Anchylostoma sp.)
- anemia
- leukositosis neutrophilic

155

Cacing paru-paru
-eosinofilia sangat menyolok
6. Kelahiran

Total leukosit meningkat, terutama peningkatan sel neutrofil, limfosit,
monosit dan eosinofil

Total leukosit dapat menurun atau meningkat 1 hari setelah partus.
Penurunan total leukosit bersama-sama dengan penurunan sel neutrofil
dan limfosit
7. Rinder pest

Leukopenia pada waktu temperatur tubuh naik (demam), setelah 2 hari
demam. Total leukosit menurun menjadi 4.000/mm3

Pada masa kesembuhantotal leukosit kembali normal (5 minggu setelah
gejala-gejala terakhir terlihat)

2-3 hari setelah leukopenia terjadi shift to the left dengan sel neutrofil
muda banyak beredar
8. Pericarditis traumatika

Total leukosit naik pada permulaan proses penyakit, kemudian
jumlahnya menurun

Neutrofilia dengan shift to the left
9. Reticulitis traumatika

Yang kronis: total leukosit normal dan apabila ada komplikasi maka total
leukosit meningkat

Nampak sel neutrofil muda dengan neutrofilia

Kadang-kadang jumlah sel eosinofil meningkat
10. Diare karena penyebab virus

Leukopenia pada stadium permulaan infeksi (1.500/mm3)

Limfositosis relatif pada periode demam

Nilai PCV menurun

156
157