Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tambang Terbuka adalah suatu metode penambangan


yang segala kegiatan dan aktivitas penambangannya
dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan
bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan
udara luar. Sebagian besar tambang yang terdapat di
Indonesia adalah tambang terbuka yang mempunyai
kontribusi besar untuk memproduksi emas, perak,
tembaga, nikel, aluminium, phospat, bijih besi, batubara
dan hampir semua bahan galian industri dan lain-lain.

Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan


metoda tambang terbuka, oleh karena sebagian besar
cadangan batubara terdapat pada dataran rendah atau
pada daerah pegunungan dengan topografi yang landai
dengan kemiringan lapisan batubara yang kecil
(<30°). Untuk cebakan mineral yang berada di bawah
permukaan tetapi relatif masih dangkal, maka metoda
penambangan terbuka umumnya akan lebih ekonomis
dibandingkan dengan tambang bawah tanah. Dan bila
cebakan itu berada jauh di bawah permukaan dengan
bentuk yang tidak beraturan, maka mungkin penambangan
dengan cara tambang bawah tanah yang masih dianggap
ekonomis.

Ada kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar untuk


penentuan pemilihan apakah suatu cadangan (lapisan
batubara) akan ditambang dengan metoda tambang
terbuka atau tambang bawah tanah yaitu dengan
membandingkan besarnya nilai tanah penutup (waste)
yang harus digali dengan volume atau tonase batubara
yang dapat ditambang. Perbandingan ini dikenal dengan
istilah “stripping ratio”. Apabila nilai perbandingan ini
(stripping ratio) masih dalam batas-batas keuntungan,
maka metoda tambang terbuka dianggap masih
ekonomis. Sebaliknya apabila nilainya di luar batas
keuntungan, maka metoda penambangan tambang bawah
tanah yang dipilih.

Secara umum tambang terbuka dapat dikelompokkan


kedalam 4 (empat) metode yaitu :
1. Open pit/open cast/open cut/open mine
2. Quarry
3. Strip Mine
4. Alluvial Mine
B. Deskripsi Singkat

Dalam mata pelajaran ini akan dibahas mengenai rencana


persiapan penambangan terbuka, perencanaan peralatan
penambangan terbuka, sarana, prasarana dan tata letak
(layout) fasilitas penambangan terbuka.

C. Tujuan Pembelajaran

Mampu mengevaluasi laporan kelayakan penambangan


terbuka (surface mine).

D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

Selanjutnya isi atau materi pokok dan sub materi pokok


dari modul ini akan membahas tentang :

1. Menilai rencana persiapan penambangan terbuka;


a. Pertimbangan pemilihan metode penambangan,
yaitu tambang terbuka dan tambang bawah tanah,
b. Pertimbangan penetapan rencana target produksi,
baik jangka pendek maupun panjang,
c. Kualitas endapan bijih (mineral berharga) atau
kualitas batubara dan cut off grade (COG) serta
break even stripping ratio (BESR),
d. Desain penambangan sesuai dengan sifat fisik dan
mekanik bijih serta batuan disekitarnya untuk
mencapai target produksi secara periodik
(tahunan) yang direncanakan,
e. Jadual penambangan yang memperlihatkan
sekuen penambangan serta alasannya,
f. Rencana penanganan bahan galian berkadar
rendah (tidak ekonomis masa sekarang),
g. Rencana pemanfaatan bahan galian dan mineral
ikutan.

2. Menilai rencana peralatan penambangan terbuka;


a. Rencana penggunaan alat utama penambangan
yang meliputi alat gali, muat dan angkut serta alat
bantu proses penambangan dengan kapasitas
yang memadai untuk mencapai target,
b. Rencana penggunaan alat pendukung tambang
diantaranya kendaraan ringan (light vehicle) dan
alat perkantoran,
c. Daftar alat (master list) penambangan dan
pendukung yang mencakup jenis, kapasitas, merk
dan tipe, jumlah unit, tahun pembelian dan
estimasi umur layanan,

3. Menilai sarana, prasarana dan tata letak (layout)


fasilitas penambangan ;
a. Jaringan jalan tambang yang meliputi jalan utama
masuk ke lokasi tambang di permukaan dan jalan
lainnya di wilayah sekitar tambang termasuk
adanya jembatan, jembatan timbang dan drainage
jalan,.
b. Tempat penumpukan (stockpile) produk akhir dan
kelengkapannya, misalnya dermaga (pelabuhan)
sungai atau laut,
c. Tata letak fasilitas penambangan disekitar lokasi
izin usaha penambangan yang meliputi
perkantoran, gudang, bengkel, pabrik pengolahan,
pelabuhan, stock pile, waste dump, perumahan,
dan fasilitas lainnya.
BAB II
MENILAI RENCANA PERSIAPAN
PENAMBANGAN TERBUKA

A. Indikator keberhasilan

Parameter di bawah ini merupakan indikator baik apabila


peserrta diklat:
1. Mengetahui pertimbangan pemilihan metode tambang
terbuka
2. Mengetahui pertimbangan penetapan rencana target
produksi jangka pendek dan jangka panjang
3. Mengetahui kualitas endapan bijih (mineral berharga)
atau kualitas batubara dan Break Even Cut Off Grade
(BECOG) serta Break Even Stripping Ratio (BESR)
4. Mengetahui desain penambangan sesuai dengan sifat
fisik dan mekanik bijih serta batuan disekitarnya,
5. Mengetahui jadual penambangan yang
memperlihatkan sekuen penambangan,
6. Mengetahui rencana penanganan bahan galian
berkadar rendah (tidak ekonomis masa sekarang),
7. Mengetahui rencana pemanfaatan bahan galian dan
mineral ikutan.

B. Pertimbangan Pemilihan Metode Tambang Terbuka

Agar diperoleh hasil yang diharapkan maka sebelum


membuka suatu tambang perlu dipahami terlebih dahulu
konsep penambangan beserta prosedur rencana
penambangan yang benar.

Sejumlah kriteria untuk mendesain tambang harus


ditentukan melalui data (informasi) yang diperoleh dari
penyelidikan eksplorasi rinci (detil).
Faktor-faktor yang mempengaruhi analisis apakah suatu
endapan mineral akan ditambang dengan metoda tambang
terbuka atau tambang bawah tanah, adalah sebagai
berikut:
1. Ketebalan dan sifat fisik dari overburden dan country
rock.
2. Ketebalan, bentuk, konfigurasi, serta struktur dari
mineral deposit.
3. Posisi terhadap ground surface, sudut kemiringan
4. Kondisi hidrologi
5. Kemudahan mendapatkan fasilitas teknik untuk
pelbagai pekerjaan tambang (energi dan peralatan)
misal drilling, alat muat dan alat transport.
6. Keadaan iklim yang lazim pada daerah penambangan
harus dikaji secara cermat.

Pada waktu ini isu tentang lingkungan perlu diterapkan


dipelbagai bentuk usaha termasuk usaha pertambangan
yang cukup dikenal sangat merusak lingkungan. Upaya
untuk menerapkan teknologi penambangan yang
berwawasan lingkungan harus diperhitungkan pada tahap
kegiatan “feasibility study” (studi kelayakan) untuk
pembukaan suatu tambang.

Reklamasi tambang (pendayagunaan kembali lahan yang


rusak akibat penambangan) haruslah direncanakan pada
awal sebelum kegiatan tambang dimulai.

Beberapa endapan berikut cocok ditambang dengan


menggunakan metoda tambang terbuka:
1. Endapan elluvial, yaitu cebakan mineral yang
mengalami pelapukan, erosi, transportasi dan
diendapkan dekat dari tempat asalnya (<10 km).
Umumnya diketemukan dekat permukaan bumi, jumlah
cadangan sedikit.
2. Endapan alluvial, yaitu cebakan mineral yang
mengalami pelapukan, erosi, transportasi dan
diendapkan jauh dari tempat asalnya, bersifat lepas
(loose), contoh endapan pasir. Umumnya diketemukan
dekat permukaan bumi, jumlah cadangan banyak.
3. Endapan mineral yang letaknya horizontal atau sedikit
miring dengan kemiringan 1-5%, contoh endapan
batubara. Umumnya diketemukan dekat permukaan
bumi sampai kedalaman tak tentu, jumlah cadangan
banyak.
4. Endapan yang berbentuk vein yang tebal dan
tersingkap dengan overburden yang tipis (1-2m).
Keadaan daerah penambangan, terutama kondisi endapan
dan batuan sekitarnya sangat perlu diketahui secara rinci
dan cermat (dengan melalui kajian geologi dan geoteknik)
sebelum membuka suatu tambang.

Desain penambangan yang cermat dan bersifat


menyeluruh (yang menyangkut aspek teknik, ekonomi, dan
lingkungan) merupakan syarat utama yang harus dipahami
dengan baik dalam merencanakan pembukaan suatu
tambang.

Ultimate pit slope design (desain bukaan tambang akhir)


yang baik (ekonomis , memiliki recovery tinggi, aman)
sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi dan geoteknik
daerah penambangan. Kemiringan bukaan tambang (pit
slope) hendaklah berdasarkan analisis kemantapan lereng
yang cermat (slope stability analysis).

Data yang perlu diketahui dalam prencanaan (desain)


suatu tambang terbuka diantaranya:
1. Kedalaman dan ukuran tambang pada akhir operasi,
2. Umur tambang,
3. Laba yang diinginkan,
4. Kemiringan lereng tambang (pit slope) yang diijinkan,
5. Cut off grade yang boleh ditambang,
6. Stripping ratio ekonomis yang ditentukan,
7. Mengetahui sifat-sifat batuan (ore, country rock),
8. Peta topografi yang tepat (terakhir),
9. Keadaan endapan bijih, bentuk, ukuran, kadar,
cadangan
10. Keadaan lapisan tanah penutup / over burden (sifat
fisik/mekanik, jumlah),
11. Harga pasaran produk yang akan ditambang,
12. Macam-macam alat yang diperlukan.

Semua data tersebut di atas hendaknya dimiliki secara


lengkap untuk dapat memulai pekerjaan pembukaan
tambang agar perolehan tambang maksimum. Juga
beberapa hal berikut perlu dicermati dalam perencanaan
pembukaan suatu tambang terbuka :
1. Ultimate and operational pit slope (operasi dan akhir
bukaan tambang),
2. Pekerjaan development,
3. Penentuan target produksi
4. Jadwal produksi endapan mineral dan lapisan penutup
(waste),
5. Rencana penggalian dan pembuangan waste
6. Rincian kebutuhan peralatan dan tenaga kerja
7. Perhitungan ongkos
C. Pertimbangan Penetapan Rencana Target Produksi
Jangka Pendek Dan Panjang

Penjadwalan produksi adalah bagian yang sangat penting


dalam proses penambangan, dimana target dari
penjadwalan produksi adalah menentukan keuntungan
yang paling optimal dengan menentukan pengaturan
produksi per periode waktu tertentu. Penjadwalan produksi
dilakukan secara konvensional dengan coba-coba,
membuat berbagai skenario produksi dan menentukan
skenario yang paling menguntungkan berdasarkan nilai
uang sekarang. Secara mudah adalah semakin cepat kita
menghasilkan untung maka nilai uang akan semakin baik,
maka penjadwalan produksi akan mengarah bagaimana
cara mendapatkan bahan galian secepat mungkin.

1. Perencanaan Produksi Jangka Panjang

Suatu penjadwalan produksi tambang menyatakan ton


bahan galian, kadar, dan pemindahan material total
yang akan dihasilkan oleh tambang tersebut dalam
periode waktu (tahun atau bulan). Sasarannya adalah
menghasilkan suatu jadwal untuk mencapai beberapa
sasaran/kriteria ekonomi seperti memaksimumkan Net
Present Value (NPV) atau Rate of Return (ROR).
Kriteria lain misalnya menghasilkan sejumlah material
dengan biaya semurah mungkin dan lain-lain. Data
masukan dasar penjadwalan produksi adalah tonase
dari tahap-tahap penambangan, yaitu tabulasi ton dan
kadar per jenjang dari material yang akan ditambang
untuk tiap tahapan. Fokus dalam perencanaan jangka
panjang adalah menyusun jadwal produksi dan
menentukan kebutuhan peralatan untuk
mengoperasikan jadwal tersebut.
Asumsi awal yang diperlukan untuk mengembangkan
suatu jadwal :
a) Tingkat produksi bijih atau batubara untuk tiap
periode waktu
1) Dapat ditentukan dengan studi
perbandingan tingkat produksi
2) Tingkat produksi dapat berubah atau
meningkat dengan waktu
b) Cut-off grade untuk tiap periode waktu, beberapa
jadwal sering dibuat untuk mengevaluasi strategi
cut-off grade yang berbeda.
c) Dua butir di atas hingga tingkat tertentu akan
mempengaruhi jadwal pengupasan tanah/material
penutup.
2. Perencanaan Produksi Jangka Pendek

Perencanaan ini digunakan sebagai acuan oleh orang


operasional di mana jangka waktu rencananya adalah
lebih kecil dari jangka waktu rencana jangka panjang,
misalnya triwulanan (quarterly), bulanan (mounthly),
biweekly (dwimingguan), mingguan (weekly), harian
(daily), atau per shift.. Dari perencanaan tambang yang
besar (ultimate pit limit) kemudian membagi pit menjadi
bagian unit-unit kecil (push back), selanjutnya untuk
pengaturan operasional maka rencana dibuat menjadi
unit-unit yang lebih kecil lagi yang membatasi
pekerjaan dalam jangka waktu mingguan dan bulanan.
Berikut contoh rencana produksi jangka pendek
(bulanan) pada tabel 6.4.

Tabel……… Contoh Tabel Jadwal Produksi Tahunan

Tahun
Overburden (BCM) Batubara (ton) SR
ke-
1 6,000,000 500,000 12
2 10,000,000 1,000,000 10
3 9,600,000 1,200,000 8
4 8,400,000 1,200,000 7
5 8,400,000 1,200,000 7
6 8,400,000 1,200,000 7
7 8,400,000 1,200,000 7
8 8,400,000 1,200,000 7
9 8,400,000 1,200,000 7
10 8,400,000 1,200,000 7
11 8,400,000 1,200,000 7
12 7,200,000 1,200,000 6
13 7,200,000 1,200,000 6
14 7,200,000 1,200,000 6
15 7,200,000 1,200,000 6
16 7,200,000 1,200,000 6
17 7,200,000 1,200,000 6
18 6,000,000 1,200,000 5
19 6,000,000 1,200,000 5
20 4,800,000 1,200,000 4
21 4,800,000 1,200,000 4
22 3,600,000 1,200,000 3
23 3,600,000 1,200,000 3
24 2,400,000 1,200,000 2
25 800,000 800,000 1
Total 168,000,000 28,700,000 6
Tabel ….. Contoh Rencana Produksi Jangka Pendek
D. Kualitas Endapan Bijih (Mineral Berharga) Atau
Kualitas Batubara Dan Break Even Cut Off Grade
(BECOG) Serta Break Even Stripping Ratio (BESR)

1. Kadar Batas Pulang Pokok (Break Even Cut-Off


Grade = BECOG)
Dalam teori ekonomi, analisis pulang pokok terdiri dari
penentuan nilai parameter yang diinginkan (misalnya :
berapa jumlah produk yang harus dijual) sedemikian
rupa sehinga pendapatan tepat sama dengan ongkos
atau biaya yang dikeluarkan (keuntungan = nol)
Dalam pertambangan, yang ingin kita ketahui adalah
berapa kadar bijih yang menghasilkan angka yang
sama antara pendapatan yang diperoleh dari penjualan
bijih tadi dengan biaya yang dikeluarkan untuk
menambang serta memprosesnya. Kadar ini dikenal
dengan nama kadar batas pulang pokok atau break
even cut-off grade.
BECOG =
Ongkos (Mine  Mill  G & A)
(Harga jual - SRF) x Mill Rec. x Smelter Rec. x Faktor

Biasanya hanya biaya atau ongkos operasi langsung


yang diperhitungkan dalam penentuan cut-off grade.
Ongkos-ongkos kapital dan biaya tak langsung seperti
penyusutan (depresiasi) pada umumnya tidak
dimasukkan.
Untuk keperluan perancangan batas akhir
penambangan (pit design) asumsi yang diambil adalah
bahwa umur tambang cukup panjang sehingga
depresiasi tidak lagi merupakan faktor yang penting.
Karena pada tahap terakhir dari penambangan dimana
batas lereng akhir dari tambang telah dicapai, kapital
dan peralatan telah terdepresiasi secara penuh.

2. Nisbah Pengupasan Pulang Pokok (Break Even


Stripping Ratio = BESR)

Nisbah pengupasan didefinisikan sebagai nisbah dari


jumlah material penutup (waste) terhadap jumlah
material bijih (ore). Pada tambang bijih, nisbah ini
biasanya dinyatakan dalam ton waste/ton ore. Di
tambang batubara sering dipakai BCM waste/ ton
batubara.

Ton waste
SR = (tambang bijih ) atau
Ton ore

SR =
BCM overburden (tambang batubara)
Ton batubara
Untuk geometri penambangan yang ditetapkan, nisbah
pengupasan merupakan fungsi dari kadar batas.
Break Even Stripping Ratio (BESR) adalah jika semua
keuntungan bersih dari menambang bijih pada kadar
tertentu, dipakai untuk mengupas tanah penutup
(waste stripping).

BESR =
(Pendapata n - Ongkos Produksi Penambanga n) / Ton Bijih
Ongkos Pengupasan / Ton Waste
(tambang bijih)
BESR =
(Pendapata n - Ongkos Produksi Penambanga n) / Ton Batubara
Ongkos Pengupasan / BCM Overburden
(tambang batubara)

E. Desain Penambangan Sesuai Dengan Sifat Fisik Dan


Mekanik Bijih Serta Batuan Di Sekitarnya

Desain penambangan tergantung faktor-faktor yang tidak


dapat ditentukan oleh perancang, yaitu : batas geometri
badan bijih, sebaran bijih, kedalaman badan bijih, topografi,
sudut lereng maksimum yang aman, dan sebagainya.
Sementara ekonomi rencana penambangan tergantung
penentuan stripping rasio penambangan, laju produksi,
peralatan, dan hal lainnya yang dapat ditentukan
perencana.

Ketersediaan data eksplorasi penting untuk development


tambang dan meningkatkan keyakinan tentang keberadaan
dan nilai endapan bahan galian. Keputusan-keputusan
mengenai ukuran pit dan tata letak, tingkat produksi, dan
diagram alir pengolahan bahan galian sangat tergantung
pada input data eksplorasi. Keberhasilan kegiatan
eksplorasi dalam pemboran dan informasi sampling,
berguna untuk menetapkan parameter operasi
penambangan, rancangan geoteknik, kondisi
hidrologi/hidrogeologi, dan pengolahan bahan galian atau
peleburan bijih.

Pit limit adalah luas vertikal dan lateral open pit di mana
pelaksanaan kegiatan penambangan masih ekonomis.
Perbandingan antara nilai bijih dengan biaya pengupasan
overburden atau waste merupakan faktor utama dalam
penentuan batas pit. Faktor lain yang berpengaruh adalah
infrastruktur di permukaan, seperti kota, sungai, batas izin
usaha pertambangan, dll.

Penambangan biasanya dimulai dari bagian endapan yang


paling dekat dengan permukaan bumi, maka cropline akan
menjadi batas penambangan di bagian low wall.
Kedalaman suboutcrop menyatakan kedalaman waste
yang harus dibongkar sebelum bijih tersingkap (exposed).
Waste yang harus dibongkar tersebut biasanya dikenal
sebagai preproduction stripping (pengupasan pra
produksi).

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam


membuat desain bukaan tambang adalah geometri jenjang
termasuk di dalamnya kemiringan jenjang (bench slope),
lebar jenjang (bench width), tinggi jenjang (bench height),
dan jalan masuk untuk operasional (ramp).

1. Bench (Jenjang)
Jenjang (bench) didefinisikan sebagai undakan di
antara level tunggal di mana bahan galian dan
pengotornya ditambang pada muka jenjang (bench
face). Beberapa jenjang dapat dikerjakan secara
bersamaan pada elevasi berbeda. Tinggi jenjang
adalah jarak vertikal antara titik tertinggi (crest) dan
terendah (toe). Tinggi jenjang biasanya menyesuaikan
dengan spesifikasi alat yang beroperasi, misalnya alat
bor dan alat gali-muat. Kemiringan jenjang (bench
slope) adalah sudut antara garis horizontal dan garis
muka jenjang, biasanya dinyatakan dalam derajat.

Untuk menambah kestabilan lereng pit dan dengan


alasan keselamatan, dibuat berms. Berm adalah lebar
horizontal di batas lereng akhir. Interval, sudut lereng,
dan lebar berm ditentukan berdasar aturan geoteknik.
Berm disebut pula dengan jenjang penangkap. Overall
pit slope angle (sudut kemiringan lereng keseluruhan)
adalah sudut di mana lereng tambang terbuka dapat
bertahan, diukur antara garis horizontal dengan garis
imajiner yang menghubungkan crest teratas dan toe
terbawah. Baguan-bagian jenjang dapat dilihat pada
Gambar 5.3.
Gambar ….. Bagian-bagian jenjang

2. Jenjang Kerja (Working Bench)

Jenjang yang terbentuk saat proses penambangan


masih berjalan, bersifat temporer, dimana pada
tahapan penambangan berikutnya kemungkinan akan
terpotong lagi oleh aktivitas penambangan. Lebar
jenjang ini akan sangat dipengaruhi oleh kebutuhan
ruang alat operasi penambangan sehingga alat dapat
beroperasi produktif dan aman.
Working Bench

SB

Cut

SB
C

WB

Gambar ……. Jenjang kerja


SB = Safety Bench
WB = Working Bench
Tinggi jenjang pada jenjang kerja tergantung
jangkauan maksimal ketinggian alat muat (maximum
digging height), dan tidak terlalu rendah sehingga alat
muat bisa bekerja dengan efektif.

3. Ramp

Selama proses penambangan berlangsung, jalan


angkut di dalam pit (ramp) harus dibuat. Pemilihan
ramp tergantung pada bentuk dan ukuran badan bijih,
ekonomis alat angkut, dan kestabilan lereng pit. Lebar
ramp dibuat berdasarkan jumlah jalur jalan dan alat
angkut
Roadway Widht ≥ 4 X Truck Width
Untuk dua jalur jalan

Ditch
Safety berm (W)

½ ½ ½
1 1

3 ½ Lebar truck
belum termasuk safety berm dan parit

Total lebar jalan


Roadway Width

Berdasarkan bentuknya ada dua macam ramp, yaitu :

a) Sistem spiral ialah jalan angkut yang disusun


bertingkat sepanjang wall (sisi pit), digunakan jika
kemiringan jalan yang disyaratkan sama dengan
atau kurang dari kemiringan yang dapat dibuat dari
atas sampai bawah pit.
b) Sistem switcback atau zig-zag digunakan jika
kemiringan pit dari atas sampai bawah lebih besar
dari kemiringan jalan yang disyaratkan, sehingga
jalan dibuat bertahap secara zig-zag, umumnya
ditempatkan di foot wall.
b'
b' Cross section a - a'
a'

b b a'
Cross section a - a'
a

Kemiringan dapat diartikan sebagai sudut penunjaman


jalan, dapat dinyatakan dalam sudut () yang diukur
dari horizontal atau dalam persen kenaikan per jarak
datar. Kemiringan jalan yang dapat dilalui truk atau
trailer sebesar 8%.

4. Lereng akhir tambang (Final Pit Slope)

Penentuan sudut lereng akhir tambang dipengaruhi


oleh sifat fisik batuan, ketinggian jenjang, kondisi
cuaca, dan lamanya lereng tersebut akan berdiri.
Struktur batuan juga sangat berpengaruh terhadap
kestabilan lereng, berpengaruh juga terhadap tipe
longsorannya. Kemiringan lereng (slope) sangat
penting dalam pembuatan rancangan tambang, sangat
berpengaruh terhadap besarnya stripping ratio.
Semakin landai lereng semakin banyak material yang
harus dikupas, ini berarti stripping ratio makin besar,
sebagaimana gambar di bawah ini.

Prinsip dalam penentuan lereng adalah lereng dibuat


seterjal-terjalnya tetapi harus aman untuk bekerja.
Hubungan antara sudut lereng jenjang dengan sudut
keseluruhan lereng diilustrasikan dalam gambar dan
rumus di bawah ini.

Gambar …. Gemetri lereng dalam desain tambang


5. Penentuan batas penambangan (Pit limit)

Batas penambangan ditentukan oleh faktor ekonomi


dan faktor keamanan lereng penambangan (overall
slope). Dengan kata lain, pit dibuat jika
menguntungkan secara ekonomi dan secara teknis
bisa dikerjakan dan aman.
Pada tambang batubara penentuan pit limit didasarkan
nilai stripping ratio yang masih menguntungkan.
Sedangkan pada tambang bijih, penentuan lit limit
didasarkan pada jumlah cadangan dan kadar yang
memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih.

Gambar…. Contoh desain tambang terbuka tahun ke 2


Gambar…. Contoh desain tambang terbuka tahun ke 8

Gambar…. Contoh desain tambang terbuka tahun ke 12


F. Tahapan Penambangan Yang Memperlihatkan Sekuen
Penambangan

Tahapan penambangan (pushback) adalah bentuk-bentuk


penambangan (mineable geometries) yang menunjukkan
bagaimana suatu pit akan ditambang, dari titik masuk awal
hingga ke bentuk akhir pit. Nama-nama lain adalah phases,
slices, stages. Tujuan utama dari pentahapan ini adalah
untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit ke
dalam unit-unit perencanaan yang lebih kecil sehingga
lebih mudah ditangani. Dengan demikian, problem
perancangan tambang tiga dimensi yang amat kompleks
dapat disederhanakan.

Arah kemajuan penambangan adalah dari daerah


singkapan ke arah tegak lurus jurus lapisan batubara
sampai lereng akhir penambangan, kemudian bergerak
maju ke daerah penambangan tahun berikutnya mengikuti
penyebaran lapisan batubara. Tahapan penambangan ini
biasanya dirancang mengikuti urutan penambangan
dengan algoritma floating cone untuk berbagai skenario
harga komoditas. Bentuk tahapan penambangan ini tidak
akan persis sama dengan geometri yang dihasilkan floating
cone karena kendala operasi seperti lebar tahapan
penambangan minimum. Tahapan-tahapan penambangan
yang dirancang secara baik akan memberikan akses ke
semua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang
cukup untuk operasi peralatan yang efisien.

Push back sering disebut juga sequences, expansions,


phases, working pit, slices ataupun stage, adalah tahapan
awal perencanaan tambang dimana dilakukan pembagian
pit menjadi unit yang lebih kecil dengan tujuan untuk

mempermudah pengaturan penambangan. Dalam kalimat


yang berbeda dapat juga diartikan bentuk-bentuk
penambangan yang menunjukkan bagaimana suatu pit
akan ditambang, dari bentuk awal hingga akhir pit. Contoh
ilustrasi pusback dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar …….. Ilustrasi Pushback

Langkah-langkah dalam membuat push back adalah :

1. Pertama adalah menentukan design pit total (ultimate


pit limit)
2. Tahapan penambangan yang akan dibuat mengacu
kepada keseragaman stripping ratio atau perubahan
yang beraturan.
3. Pembentukan design push back. Hal yang harus
diperhatikan adalah lebar jenjang kerja minimal, slope
dan ketinggian jenjang serta lebar jalan.
Lebar push back sangat ditentukan oleh ukuran unit
operasi yang dipergunakan. Untuk unit kecil minimal
lebar push back adalah 60m sedangkan untuk unit
besar (truck kelas 150-200 ton) lebar push back antara
100 – 130 m.

Gambar ……. Contoh Rencana Perubahan Bentuk


Tambang (Pushback)

Terdapat beberapa kriteria dalam melakukan perancangan


tahapan penambangan yaitu sebagai berikut :
1. Harus cukup lebar agar peralatan tambang dapat
bekerja baik. Untuk truk dan eksavator besar, lebar
pushback minimum adalah 100-130 meter. Untuk
loader dan truk berukuran sedang 60 meter sudah
cukup lebar. Jumlah eksavator yang diperkirakan akan
bekerja bersama-sama pada sebuah pushback juga
mempengaruhi lebar minimum ini.
2. Paling tidak satu jalan angkut untuk setiap pushback,
untuk memperhitungkan jumlah material yang diangkut
dan memungkinkan akses ke luar. Jalan angkut ini
harus menunjukkan pula akses ke seluruh permuka
kerja.
3. Perlu diperhatikan pula bahwa kondisi tambang tidak
akan pernah sama bentuknya dengan rancangan
tahap-tahap penambangan (phase design). Ini karena
dalam kenyataannya, beberapa pushback akan aktif
pada waktu yang sama (dikerjakan secara bersamaan).

Beberapa cara untuk menampilkan rancangan tahapan


penambangan dalam laporan yaitu sebagai berikut :
1. Peta penampang horizontal tampak atas (plan/level
map) memperlihatkan bentuk pit pada akhir tiap tahap.
Bila mungkin ditandai setiap perubahan.
2. Peta penampang horizontal yang menunjukkan batas
seluruh pushback pada satu atau dua elevasi jenjang.
Lihat gambar.......
3. Peta penampang vertikal tampak samping (cross
section) yang menunjukkan geometri seluruh pushback
4. Tabel jumlah ton bahan galian, kadarnya, jumlah
material total dan nisbah pengupasan untuk setiap
pushback. Tabulasi jumlah dan kadar material per
jenjang untuk tiap pushback diperlukan untuk
penjadwalan produksi.
Gambar ……..Pushback dalam Pandangan Peta
Gambar ……. Contoh Peta Batas Pushback
Gambar …. Pushback dalam 3 Dimensi

Gambar ……. Cross Section Geometri Batas Pushback

G. Rencana Penanganan Bahan Galian Berkadar Rendah


(Tidak Ekonomis Masa Sekarang)

Pada pelaksanaan penambangan, tidak semua bahan


galian (kadar rendah, marginal dan mineral ikutan)
dimanfaatkan, sehingga dianggap waste yang hanya untuk
material reklamasi bahkan sering terbuang begitu saja.
Untuk mengantisipasi kecenderungan harga dan
permintaan komoditas bahan galian yang sewaktu-waktu
dapat berubah, maka perusahaan tambang perlu
melakukan penangan bahan galian berkadar rendah (tidak
ekonomis masa sekarang) dalam rangka konservasi
endapan mineral. Penanganan tersebut antara lain
menimbun di lokasi tertentu dengan melakukan perlakuan
khusus. Sebagai contoh, menyimpan bahan galian tersebut
di tempat penimbunan (stockpile) khusus untuk bahan
galian berkadar rendah. Persyaratan teknis penimbunan
yang harus dipenuhi adalah tidak mencemari lingkungan,
tidak terkontaminasi, dapat ditambang kembali dengan
mudah, dsb).

H. Rencana Pemanfaatan Bahan Galian Dan Mineral


Ikutan

Kandungan mineral ikutan di dalam bijih pasir timah seperti


monazite, zircon, elminit, senotim dan rutil masih cukup
besar dan sampai saat ini potensi tersebut belum tergarap
secara maksimal. Adapun manfaat mineral ikutan seperti
Monazite, Elminit dan Senotim itu bisa digunakan sebagai
bahan mineral radio aktif sedangkan rutil bisa digunakan
sebagai bahan ornamen keramik.

Pengolahan mineral ikutan bisa dilakukan oleh


perusahaan-perusahaan yang memiliki izin usaha
pertambangan (IUP) pasir timah karena mineral yang
diolah itu merupakan mineral ikutan dari hasil tambang
timah. Nilai ekonomis yang terdapat pada mineral ikutan
bila dijual atau dieskport cukup tinggi, tetapi harus ada
aturan pemerintah khusus yang mengaturnya.
BAB III
MENILAI RENCANA PERALATAN
PENAMBANGAN TERBUKA

A. Rencana Penggunaan Alat Utama Dan Alat Bantu


Proses Penambangan

Karakteristik fisik material yang akan digali baik tanah


penutup maupun endapan mineral harus diketahui secara
pasti. Hal ini untuk menentukan tipe alat yang cocok
digunakan serta untuk memperkirakan produktivitasnya.
Yang paling utama diketahui dalam pekerjaan pemindahan
tanah mekanis adalah :
1. Kemudah-galian (Excavability)
2. Massa Jenis (densitas)
3. Faktor pengembangan (swell factor)
Dalam penggalian tanah mekanis kemudah-galian
biasanya dikatagorikan kedalam : free dig, rippable dan un-
rippable. Ketiga kriteria ini sangat berpengaruh terhadap
penetuan jenis dan tingkat produktivitas alat gali-muat.
Untuk menentukan kriteria tersebut biasanya diketahuai
dari analisis geotechnik, sehingga sebelum proses
penggalian perlu dilakukan penelitian :
1. Analisis log bor, untuk mengetahui batas atara batuan
asli dan batuan lapukan
2. Survey seismik untuk mengetahui kecepatan seismik
dari batuan yang akan digali
3. Analisis kondisi air tanah, tipe batuan, kekuatan
batuan, spasi bidang pecah batuan
Massa jenis batuan harus ditentukan dengan pasti, hal ini
untuk memastikan agar tidak terjadi kekurangan beban dan
kelebihan beban muatan, karena keduanya dapat
menyebabkan kerugian. Kalau terjadi kekurangan beban
produktivitas alat tidak optimum, sedangkan kelebihan
muatan alat akan cepat rusak.
Apabila tanah asli digali atau diberaikan, maka terjadi
perubahan volume karena adanya pengembangan.
Perbandingan volume asli (bank cubic metre (bcm)),
dengan volume gembur (loose cubic metre (lcm)), disebut
dengan faktor pengembangan. Faktor pengembangan
sangat penting diketahui dalam pemindahan tanah mekanis
karena material yang dimuat dan diangkut adalah dalam
bentuk terberai (loose), sedangkan kemajuan penggalian
dihitung dalam kondisi tanah asli (bcm). Misal kalau faktor
pengembangan tinggi maka produktivitas alat dalam bcm
akan menurun.

Secara garis besar pemilihan alat ditentukan oleh :


1. Karakterisitik material (sifat fisik, kekerasan dll.)
2. Bentuk endapan, kemiringan, perlapisan
3. Tingkat produksi
4. Metoda penambangan
5. Jarak angkut, kemiringan, dimensi jalan
1. Alat pemberaian batuan

Metoda yang umum digunakan untuk pemberaian


material overburden, bijih (ore) dan batubara adalah
ripping menggunakan bulldozer-ripper dan drilling –
blasting.

a. Bulldozer-ripper

Bulldozer-ripper digunakan untuk pemberaian


material sebelum dimuat oleh shovel/ Backhoe/
Loader/ Dragline ke dalam Truck atau ke alat lain.

Gambar …… Contoh Bulldozer-ripper (ripper)

b. Mesin bor
Mesin bor digunakan untuk membuat lubang ledak.
Prinsip dari metoda pemboran adalah “Rotary-
Percussion drilling and Rotary drilling”
Gambar …… Mesin bor rotary

2. Alat gali/muat

a. Excavator
Excavator merupakan salah satu alat berat
multifungsi yang banyak digunakan pada pekerjaan
konstruksi dan kehutanan. Sedangkan dalam
pertambangan alat ini berfungsi sebagai
pengangkat material seperti tanah dan batuan.
Pada tambang terbuka, excavator tergolong dalam
alat berat gali dan muat.
Gambar Excavator

b. Dragline

Dragline adalah alat untuk menggali tanah dan


memuatkan pada alat-alat angkut. misalnya truk atau
ke tempat penimbunan yang dekat dengan tempat
galian.Untuk beberapa proyek. power shovel atau
dragline digunakan untuk menggali, tetapi dalam
beberapa hal, dragline mempunyai keuntungan yang
umumnya disebabkan oleh keadaan medan dan bahan
yang perlu digali. Dragline biasanya tidak perlu masuk
ke dalam tempat galian untuk melaksanakan
pekerjaannya, dragline dapat bekerja dengan
ditempatkan pada lantai kerja yang baik, kemudian
menggali pada tempat yang penuh air atau berlumpur
Jika hasil galian terus dimuat ke dalam truk, maka truk
tidak periu masuk ke dalam lubang galian yang kotor
dan berlumpur yang menyebabkan teriebaknya truk
tersebut. Dragline sangat baik untuk penggalian pada
parit-parit, sungai yang tebingnya curam, sehingga
kendaraan angkut tidak periu masuk ke lokasi
penggalian.

Gambar Dragline

c. Bucket-wheel excavator (BWE)


Bucket-wheel excavator (BWE) adalah alat berat yang
digunakan pada surface mining, dengan fungsi utama
sebagai mesin penggali terus menerus (continuous
digging machine) dalam skala besar pada
penambangan terbuka.

Komponen utama BWE adalah roda besar berputar


yang dipasang pada sebuah lengan raksasa. Ujung
roda ini kemudian dipasangi bucket dengan gigi-gigi
logam dipinggiran bucket yang digunakan untuk
menggali tanah. Bucket ini terus berputar seiring
putaran roda (wheel) yang kemudian dirancang untuk
menumpahkan muatannya pada belt conveyor yang
terdapat di badan BWE.

BWE disebut juga sebagai continuous excavators


karena dapat menggali secara menerus tanpa terputus.
Bucket yang terus berputar akan memberikan tingkat
penggalian maksimal plus tidak diperlukannya lagi alat
angkut tambahan seperti dump truck, karena mineral
yang digali langsung diangkut oleh belt conveyor.

Ini jelas sangat menguntungkan karena akan


memberikan tingkat produksi yang tinggi (high
productivity) dan penghematan biaya pembelian alat
angkut tambahan. Kelemahan BWE terutama
disebabkan oleh harga alat yang sangat tinggi (high
investment cost) serta karakteristik BWE yang hanya
cocok digunakan di tanah yang relatif lunak. Umumnya,
BWE digunakan di tambang batubara, seperti yang ada
pada PT. Bukit Asam (persero) Tbk, digunakan untuk
menambang cadangan batubara di Airlaya.

Jerman adalah negara yang paling banyak BWE pada


pertambangannya, dan di Jerman pulalah BWE
terbesar di dunia dibuat dan dioperasikan. BWE
terbesar ini dibuat dengan biaya sekitar US$100 juta,
membutuhkan 5 tahun pengerjaan serta memerlukan 5
orang untuk mengoperasikannya.

Berat alat mencapai 12.000 ton dengan kapasitas


produksi 220.000 ton perhari. Maka tercatatlah alat
raksasa ini di Guinnes Book of Records (2001-2006)
sebagai alat bergerak terbesar di dunia.
Bucket-wheel excavator

3. Alat angkut
a. Dump Truck
Alat angkut ini banyak dipakai untuk mengangkut :
tanah, endapan bijih, batuan untuk bangunan dll.
Pada jarak yang dekat dan sedang. Karena
kecepatannya yang tinggi maka truk mempunyai
produksi yang tinggi, sehingga ongkos per ton
material menjadi rendah.selain itu dump truck juga
fleksibel, artinya dapat dipakai untuk mengangkut
bermacam-macam barang yang mempunyai
bentuk dan jumlah yang beraneka ragam pula.,
dan tidak terlalu tergantung pada jalur jalan .
Gambar…… Dumptruck

b. Conveyor
Conveyor Belt merupakan alat yang digunakan
untuk memindahkan tanah, pasir, kerikil batuan
pecah beton. Kapasitas pemindahan material oleh
belt conveyor cukup tinggi karena material
dipindahkan secara terus menerus dalam
kecepatan yang relative tinggi. Bagian dari belt
conveyor adalah belt atau ban berjalan, idler, unit
pengendali, pulley, dan struktur penahan.
Belt conveyor

4. Alat bantu proses penambangan


a. Bulldozer
Bulldozer adalah salah satu alat berat yang
menggunakan roda rantai (track shoe), bisa
digunakan untuk mengali (digging), mendorong
(pushing), meratakan (spreading), menarik beban,
menimbun (filling), dan lain lain.
Fungsi dari bulldozer :
1) membersihkan medan dari kayu-
kayuan,tonggak-tonggak pohon dan batu-
batuan.
2) pembukaan jalan kerja di pegunungan maupun
pada daerah yang berbatu-batu.
3) memindahkan tanah yang jauhnya hingga 300
ft.
4) menarik scraper.
5) menghamparkan tanah irisan atau urugan
6) menimbun kembali trencher.
7) membersihkan medan.
8) pemeliharaan jalan kerja.
9) menyiapkan material-material dari soil borrow
pit dan quarry pit atau tempat pengambilan
material.
10) sebagai alat gali, alat angkut dan alat dorong.

Bulldozer
b. Wheel-loader

Wheel loader adalah alat yang dilengkapi dengan


bucket untuk memuat material ke dalam truk atau
aplikasi lain seperti waste handling, yang memuat
batu ke dalam crusher. Alat ini menggunakan ban
sebagai penggeraknya, yang memudahkan
mobilitas dan fungsi artikulasi yang memberikan
ruang gerak fleksibel. Dalam pertambangan wheel
loader termasuk dalam alat angkut material
tambang.

Wheel-loader
B. Rencana Penggunaan Alat Pendukung Tambang
1. Alat pemeliharaan jalan
a. Grader
Berfungsi memperbaiki jalan, meratakan jalan
secara terus menerus untuk menguranngi Rolling
Resistance.

Grader

b. Compactor
Berfungsi untuk memadatkan material lapisan
badan jalan, agar daya dukung meningkat sesuai
dengan desain.
Compactor

c. Water sprayer truck

Digunakan untuk menjaga permukaan jalan tetap


lembab (tidak basah), sehingga mengurangi
adanya debu, mengurangi gangguan jarak
pandang dan memelihara permukaan jalan agar
tetap padat.

Jumlah keperluan air tergantung pada :

1) Type material permukaan jalan


2) Kelembaban alami
3) Curah Hujan
4) Penguapan
5) Kepadatan lalu lintas
6) Jumlah Water Sprayer Truck dihitung
berdasarkan cycle time truck, pengisian tank
dan pompa penyemprotan.

Water Sprayer Truck

C. Daftar (master list) alat penambangan dan pendukung

Daftar (master list) alat penambangan dan pendukung


mencakup jenis, kapasitas, merk dan tipe, jumlah unit,
tahun pembelian, dan estimasi umur layanan. Contoh
daftar alat penambangan dan pendukung, seperti terlihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel…., Contoh daftar alat penambangan dan pendukung

Umur TAHUN
Uraian Model Alat 1 2 3 4 5
(Tahun) 2014 2015 2016 2017 2018
PERALATAN UTAMA PENAMBANGAN
A. Peralatan di Lokasi Penambangan
Penanganan Tanah Pucuk
Ripping & Dozing D-85 10 1 1 1 1 1
Penanganan Lapisan Penutup
Excavator PC 750 10 2 2 2 2 2
Hauling Truck HD465 10 4 5 6 6 6
Penanganan Batubara
Excavator PC 200 10 1 1 2 2 2
B. Peralatan Pengangkutan Batubara
Hauling Truck HINO 20T 10 2 3 3 3 3
C. Peralatan di Lokasi Pengolahan Batubara
Wheel Loader CAT C-980G 10 1 1 1 1 1
Peralatan Pengolahan (Crushing Plant ) 10 1 1 1 1 1

Umur TAHUN
Uraian Model Alat 1 2 3 4 5
(Tahun) 2014 2015 2016 2017 2018
PERALATAN PENDUKUNG PENAMBANGAN
Mesin Bor Lubang Ledak Merk Tamrock CHA550 10 1 1 1 1 1
Blasting Machine / Exploder 10 1 1 1 1 1
Motor Grader GD 510 R 10 1 1 1 1 1
Water Truck CKA 12 10 1 1 1 1 1
Fuel / Lube Trucks CKA 12 10 1 1 1 1 1
Pit Water Pump Multiflow 390S 5 2 2 2 2 2
Pit Water Pip/Metre 5 1 1 1 1 1
Electricity Generator 110 - 500 KVA 5 2 2 2 2 2
Light Plants 5 10 10 10 10 10
Welder 300 W 5 1 1 1 1 1
Passenger Bus CKA 12 5 1 1 1 1 1
Coal Sampling & Analysis Equipment 10 1 1 1 1 1
Parts Inventory 5 1 1 1 1 1
PERALATAN TEKNIK DAN MANAJEMEN
General Manager Vehicles 4WD 5 1 1 1 1 1
Mine Manager Vehicle 4WD 5 1 1 1 1 1
Safety Vehicle 4WD 5 1 1 1 1 1
Pool Vehicle 4WD 5 1 1 1 1 1
Computer Pentium IV 5 5 5 5 5 5
Telephone Communication Equipment Panasonic 5 5 5 5 5 5
Mine Radio Motorola 5 10 101 10 10 10
Engineering & Survey Equipment 10 1 1 1 1 1
BAB IV
SARANA PRASARANA DAN TATA LETAK
(LAYOUT)
FASILITAS PENAMBANGAN

A. Jaringan Jalan Tambang

Kelancaran transportasi dari front kerja tambang ke ROM


Stockpile dan ke stockpile pelabuhan/dermaga sangat
menentukan pencapaian target produksi. Perkembangan
produksi sesuai permintaan pasar, harus diimbangi oleh
kesiapan prasarana jalan dan perencanaan jalur
transportasi yang tepat. Jalur tersebut diharapkan dapat
mengakomodasi frekuensi transportasi yang semakin besar
seiring dengan perkembangan kegiatan penambangan.

Kondisi jalan angkut sangat mempengaruhi kelancaran


produksi, sehingga harus dibuat sedemikian rupa untuk
meminimalkan kondisi yang mengakibatkan gangguan.
Salah satu usaha adalah dengan meminimalkan daerah
yang berpontensi mengakibatkan slip/tergelincir namun
tidak menimbulkan terlalu banyak pekerjaan earthmoving,
yaitu dengan meminimalkan kemiringan yang terlalu curam
dan meminimalkan jalan kelokan. Masalah drainage
menjadi faktor penting pada konstruksi jalan terutama pada
jalan di daerah bekas rawa.
Jaringan jalan kegiatan penambangan, meliputi jalur
pengangkutan sebagai berikut:

1. Dari Tambang ke ROM Stockpile


Bahan galian hasil produksi penambangan (ROM) akan
diangkut dari setiap lokasi tambang melalui jalan angkut
utama (main hauling road), dan dikumpulkan pada lokasi
penimbunan (stockpile) yang lokasinya telah ada yaitu di
ROM stockpile atau Crushing plant.

2. Dari ROM Stockpile atau Crushing Plant ke


Pelabuhan/Dermaga
Produk pengolahan bahan galian diangkut dari Stockpile
Product ke pelabuhan/dermaga atau loading
point/tongkang, melewati jalan angkut utama (main hauling
road) atau dengan menggunakan ban berjalan (belt
conveyor).
Gambar …. Contoh Peta tata-letak (Layout) tambang
B. Tempat Penumpukan (Stockpile) Produk Akhir Dan
Kelengkapannya, Misalnya Dermaga (Pelabuhan)
Sungai Atau Laut

1. Port Stockpile

Tempat penumpukan (stockpile) produk akhir terletak


di titik muat (loading pont) di dermaga sungai atau di
pelabuhan pantai. Stockpile ini merupakan tempat
penyimpanan sementara produk akhir sebelum dimuat
ke tongkang (barge) untuk diangkut ke kapal
(shipment) di tengah laut.

Lokasi stockpile dan loading point harus diperhatikan


daya dukung tanah agar dapat diketahui daya dukung
tanah terhadap alat-alat berat. Untuk itu diperlukan
penimbunan dan pemadatan. Penimbunan dilakukan
dengan memperhatikan banjir tertinggi yang pernah
terjadi di daerah tersebut agar area stockpile dan
loading point terbebas dari genangan air pada saat
banjir.

Agar tidak terjadi erosi dan longsoran tebing sungai


atau tebing pantai, maka perlu dilakukan turap
sepanjang daerah yang akan dipakai untuk loading ke
tongkang.

2. Fasilitas Barge Loading Conveyor


Fasilitas barge loading conveyor adalah sistem
pemuatan dengan ban berjalan (conveyor loading
system). Pemilihan fasilitas ini untuk kapasitas muatan
yang lebih besar dan bersifat kontinyu. Dengan
demikian, sistem pemuatan bahan galian ke atas
tongkang akan menggunakan peralatan belt conveyor
dan stacking conveyor. Peralatan ini berupa rangkaian
ban berjalan dimana produk akhir dari hopper akan
jatuh ke atas ban berjalan yang akan membawa produk
akhir tersebut ke tepi dermaga. Di tepi dermaga ini
sudah tersedia tongkang yang siap diisi menggunakan
stacking conveyor dengan sistem curah. Conveyor
loading system ini dapat beroperasi secara fleksibel,
karena arah pengambilan produk akhir dari
tumpukannya dapat diatur sedemikian rupa melalui
stacking conveyor yang dapat mengatur posisi untuk
mencurahkan ke atas tongkang.

Pada waktu pemuatan ke dalam tongkang atau vessel


(barge loading conveyor), produk akhir ditimbang
dengan menggunakan timbangan otomatis (belt scale)
untuk mengetahui jumlah yang sudah dicurahkan.
Untuk kontrol kualitas pada pemuatan ke tongkang,
dilakukan pengambilan contoh secara representatif
untuk setiap lot sesuai dengan kapasitas tongkang
yang digunakan dengan pengambil contoh mekanik.
Preparasi dan analisis contoh dari timbunan sebelum
dan sesudah dimuat ke tongkang/vessel dilakukan di
laboratorium.

C. Tata Letak Fasilitas Penambangan Di Sekitar Lokasi


Izin Usaha Penambangan Yang Meliputi Perkantoran,
Gudang, Bengkel, Pabrik Pengolahan, Pelabuhan,
Stockpile, Waste Dump, Perumahan Dan Fasilitas
Lainnya

Pengadaan fasilitas penunjang sangat perlu untuk


mendukung kegiatan utama penambangan sehingga dapat
berjalan sesuai rencana. Lokasi fasilitas penunjang
dikonsentrasikan pada daerah tertentu agar memudahkan
pengaturan dan pengawasannya, biasanya dibangun dekat
dengan daerah penambangan.

Lokasi dan tata letak fasilitas penunjang penambangan :


1. Outside Dump
Outside dump diperlukan sebagai tempat penimbunan
lapisan penutup pada awal dibukanya pit. Lokasi
outside dump yang direncanakan maksimum berjarak ±
1 km dari lokasi penambangan pada awal dibukanya
sebuah pit untuk memudahkan pengangkutan dan
menekan biaya operasi.
2. Bengkel & Gudang
Bengkel merupakan tempat perawatan dan perbaikan
peralatan tambang sehingga alat-alat tersebut dapat
beroperasi secara kontinu dan tidak mengalami
penurunan produktivitas, ukuran bengkel akan
disesuaikan dengan jumlah dan ukuran alat yang
digunakan.
Gudang berfungsi menyimpan suku cadang dan
peralatan yang digunakan, bangunan gudang biasanya
menyatu dengan bengkel dan luasnya rata-rata
sepertiga luas bengkel.
3. Sarana Perkantoran
Merupakan pusat pengendalian kegiatan-kegiatan
penambangan, baik kegiatan administrasi maupun
kegiatan operasional di lapangan.
4. Perumahan/Mess
Sarana penting sebagai tampat tinggal para pekerja
selama kegiatan penambangan berlangsung. Sarana
air bersih, kawasan recreation hall, dan kantin
sebaiknya disediakan dekat perumahan/mess.
5. Pos Keamanan
Lokasinya terletak di tempat yang menjadi jalan masuk
keluar daerah tambang.
6. Poliklinik
Lokasinya terletak dekat dengan fasilitas perumahan
karyawan, sedangkan keperluan P3K disediakan di
dalam bangunan-bangunan yang ada, seperti kantor,
bengkel, dan fasilitas lainnya.
7. Unit Pemadam Kebakaran/Rescue
8. Masjid & Mushala
Masjid dibuat dekat dengan fasilitas perumahan
karyawan, sedangkan mushala dibangun di dekat
kantor dan bengkel.
9. Tangki Bahan Bakar & Garasi
Lokasi tangki bahan bakar dipilih dekat dengan lokasi
penambangan dan terlindungi dari bahaya petir.
Kapasitas tangki bahan bakar dibuat untuk stok bahan
bakar selama kira-kira 1 bulan produksi.
10. Fasilitas lainnya yang harus disediakan yaitu tempat
pembibitan tanaman untuk reklamasi daerah bekas
tambang.

Anda mungkin juga menyukai