Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang
Pitiriasis Rosea adalah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya yang
dimulai dengan sebuah lesi inisial berbentuk eritema dan skuama halus. Kemudian disusul
oleh lesi-lesi yang lebih kecil di badan, lengan dan paha atas yang tersusun sesuai dengan
lipatan kulit dan biasanya menyembuh dalam waktu 3-8 minggu.(1,2)
Insiden tertinggi pada usia antara 15 – 40 tahun. Wanita lebih sering terkena
dibandingkan pria dengan perbandingan 1.5 : 1. Kekambuhan pada penyakit ini tidak
diketahui, hanya sekitar 1-3% kasus yang terjadi. Keterkaitan Human Herpes Virus (HHV)
enam dan tujuh sebagai penyebab penyakit ini masih dalam kontroversi.(3,4,5)
Istilah Pitiriasis Rosea pertama kali dideskripsikan oleh Robert Willan pada tahun
1798 dengan nama Roseola Annulata, kemudian pada tahun 1860, Gilbert memberi nama
Pitiriasis Rosea yang berarti skuama berwarna merah muda ( rosea ).Pitiriasis Rosea biasa
didahului dengan gejala prodromal (lemas, mual, tidak nafsu makan, demam, nyeri sendi,
pembesaran kelenjar limfe). Setelah itu muncul gatal dan lesi di kulit. Banyak penyakit yang
memberikan gambaran seperti Pitiriasis Rosea seperti dermatitis numularis, sifilis sekunder,
dan sebagainya (6,7)
Gejala klinis dimulai dari lesi inisial yang berupa “herald patch”, kemudian disusul
oleh lesi-lesi yang lebih kecil. Umumnya herald patch ini terdapat di lengan atas, badan atau
leher, bias juga pada wajah, kepala atau penis.(8)
Pitiriasis Rosea merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri, oleh karena itu,
pengobatan yang diberikan adalah pengobatan suportif. Obat yang diberikan dapat berupa
kortikosteroid, antivirus, dan obat topikal untuk mengurangi pruritus.(6)

1
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PASIEN
Nama : AN.Arifatul Rafika
Umur : 13 tahun
Alamat : Perum bukit alam blok E 05 02/11 Suwayuwo
sukorejo
Agama : Islam
Status : Lajang
Pekerjaan :-
Tanggal Kunjungan ke Poli : 24 Juni 2015
No. Med Rec : 00-26-45-11

2.2 ANAMNESA
1. Keluhan Utama :
Timbul bintik-bintik merah dan gatal seluruh tubuh

2. Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke poli kulit dengan keluhan timbul bintik-bintik merah dan gatal
pada seluruh tubuh kecuali wajah, keluhan ini di rasakan sejak 1 minggu yang lalu,
awalnya muncul sedikit-sedikit, semakin lama dirasakan semakin membanyak.

3. Riwayat penyakit dahulu :


Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

4. Riwayat penyakit keluarga :


Dikeluarga tidak ada yang menderita sakit seperti ini

5. Riwayat obat :
Pasien mengaku Belum pernah berobat sebelumnya

2.3 PEMERIKSAAN FISIK (STATUS LOKALIS)


2.3.1. Status General
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
TD : -
Nadi : -
Suhu : -
RR : -
Kepala : Dalam batas normal

2
Leher : Dalam batas normal
Thorax : Makula hiperpigmentasi
Abdomen : Makula hiperpigmentasi
Ekstremitas : Makula hiperpigmentasi
Genitalia : Tidak dievaluasi

2.3. 2 Status Dermatologi


Lesi berupa macula hiperpigmentasi, berbentuk lonjong, mengikuti garis tubuh di
regio dada, abdomen, punggung, extremitas atas dan bawah.

2.4DIAGNOSA
Ptiriasis Rosea

2.5 PLANNING
- Loratadin 1x1
- Pehaclor mg (1x1)
- Desokximetason cream sebagai terapi topical 2x/hari
- Oleum coccos 2x/hari

3
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Pitiriasis rosea ialah penyakit akut, kelainan kulit berupa timbulnya papuloskuamosa
yang dapat hilang dengan sendirinya, umumnnya menyerang anak-anak dan dewasa muda
yang sehat, walaupun sebenarnya dapat ditemukan pada semua umur. Penyebabnya belum
diketahui, diduga virus sebagai penyebab timbulnya erupsi.(5)
Menurut Andrew ( 2006 ), Pitiriasis Rosea adalah peradangan kulit berupa eksantema
yang ditandai dengan lesi makula-papula berwarna kemerahan ( salmon colored ) berbentuk
oval, circinate tertutup skuamacollarette, soliter dan lama kelamaan menjadi
konfluen. Ketika lesi digosok menurut aksis panjangnya, skuama cenderung terlipat melewati
garis gosokan ( hanging curtain sign ). (3)

2.2. Epidemiologi3
Kurang lebih 75% kasus pitiriasis rosea didapatkan pada usia antara 10-35 tahun. Puncak
insidensnya terdapat pada usia antara 20-29 tahun. Namun ada juga yang mengatakan
puncak insidensinya terdapat pada usia antara 15-40 tahun. Namun bagaimanapun penyakit
ini bisa muncul dari usia 3 bulan.(2,3,9)
Prevalensi yang dilaporkan dari pusat dermatologi adalah 0,3 -3 %.Penyakit ini
terdapat di seluruh dunia dan didapatkan kira-kira sebanyak 20% dari setiap kunjungan
pasien yang berobat jalan pada ahli penyakit kulit. Insidens pada pria dan wanita hampir
sama, walaupun sedikit lebih banyak ditemukan pada wanita.(6,8)

2.3 Etiologi
Penyebab dari penyakit ini belum diketahui, demikian pula cara penyebaran infeksinya.
Ada yang mengemukanan hipotesis bahwa penyebabnya adalah virus karena merupakan
penyakit swasima (self limiting disease) yang umumnya sembuh sendiri dalam waktu 3-8
minggu.(1)
Watanabe et al melakukan penelitian dan mempercayai bahwa Pitiriasis Rosea
disebabkan oleh virus. Mereka melakukan replikasi aktif dari Herpes Virus ( HHV )-6 dan -7
pada sel mononuklear dari kulit yang mengandung lesi, kemudian mengidentifikasi virus
pada sampel serum penderita. Dimana virus-virus ini hampir kebanyakan didapatkan pada
masa kanak-kanak awal dan tetap ada pada fase laten dalam sel mononuklear darah perifer,
terutama CD-4 dan sel T, dan pada air liur.(3)
Menurut Broccolo dkk 2005, DNA HHV-7 dan sedikit DNA HHV-6 ditemukan pada
plasma bebas dalam plasma atau sampel serum dari banyak penderita pityriasis rosea, dan
tidak ditemukan pada individu yang menderita penyakit inflamasi kulit lainnya. Protein dan
mRNA HHV-7 dan sedikit mRNA HHV-6 dan protein, dideteksi pada kumpulan leukosit
yang ditemukan di regio perivaskular dan perifolikular pada lesi PR, tetapi tidak ditemukan

4
pada pasien dengan penyakit inflamasi kulit lainnya. Peningkatan imunoglobulin spesifik
HHV-6 dan HHV-7 pada kondisi tidak adanya antibodi imunoglobulin G spesifik terhadap
virus tidak terjadi pada pasien PR, sementara pada peningkatan infeksi virus primer terhadap
antibodi IgM sendiri merupakan tanda khas. Kemudian penemuan terakhir bahwa terdapat
DNA HHV-6 dan HHV-7 pada saliva pasien dengan PR, yang tidak ditemukan pada pasien-
pasien dengan infeksi primer oleh virus-virus ini. Berdasarkan pada penemuan-penemuan ini,
kesimpulan yang dapat diambil adalah pityriasis rosea ini berkaitan erat dengan reaktivasi
HHV-7 dan sedikit HHV-6.(6)
Chlamydia pneumonia, Mycoplasma pneumonia dan Legionella pneumonia telah
dikemukakan sebagai agen penyebab pitiriasis rosea yang berpotensi kuat, namun belum ada
penelitian yang menunjukkan kenaikan kadar antibodi yang signifikan terhadap
mikroorganisme yang telah disebutkan di atas pada penderita pitiriasis rosea.(2)
Erupsi kulit yang mirip dengan pitiriasis rosea dapat timbul sebagai akibat dari reaksi
obat. Macam-macam obat yang berhubungan dengan munculnya erupsi kulit mirip pitiriasis
rosea antara lain:(3)

2. 4 Patofisiologi3
Para ahli masih berbeda pendapat tentang faktor-faktor penyebab timbulnya PR. Ada
yang menduga penyebabnya adalah virus, dikarenakan penyakit ini dapat sembuh dengan
sendirinya (self limited). Keterlibatan dua virus herpes yaitu HHV-6 dan HHV-7, telah
diusulkan sebagai penyebab erupsi. Dilaporkan terdapat DNA virus dalam peripheral blood
mononuclear cell (PBMC) dan lesi kulit dan hal ini tidak terpengaruh dari banyaknya orang
dengan PR akut. HHV-7 terdeteksi sedikit lebih banyak daripada HHV-6, tetapi sering
kedua virus ditemukan. Namun, bukti dari adanya HHV-6 atau HHV-7 dan aktivitasnya
juga ditemukan dalam proporsi (10-44%) dari individu yang tidak terpengaruh, hal ini
menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan infeksi, di mana virus tidak selalu
menyebabkan penyakit..(4)
Sementara ahli yang lain mengaitkan dengan berbagai faktor yang diduga berhubungan
dengan timbulnya PR, misalnya faktor penggunaan obat-obat tertent

2.6 Gambaran Klinis


Kurang lebih pada 20-50% kasus, bercak merah pada pitiriasis rosea didahului dengan
munculnya gejala mirip infeksi virus seperti gangguan traktus respiratorius bagian atas atau
gangguan gastrointestinal. Sumber lain menyebutkan kira-kira 5% dari kasus pitiriasis rosea
didahului dengan gejala prodormal berupa sakit kepala, rasa tidak nyaman di saluran
pencernaan, demam, malaise, dan artralgia. Lesi utama yang paling umum ialah munculnya
lesi soliter berupa makula eritem atau papul eritem pada batang tubuh atau leher, yang secara
bertahap akan membesar dalam beberapa hari dengan diameter 2-10 cm, berwarna pink
salmon, berbentuk oval dengan skuama tipis.3,4,6

5
Lesi yang pertama muncul ini disebut dengan Herald patch/Mother
plaque/Medalion. Insidens munculnya Herald patch dilaporkan sebanyak 12-94%, dan pada
banyak penelitian kira-kira 80% kasus pitiriasis rosea ditemukan adanya Herald patch. Jika
lesi ini digores pada sumbu panjangnya, maka skuama cenderung untuk melipat sesuai
dengan goresan yang dibuat, hal ini disebut dengan “Hanging curtain sign”. Herald
patch ini akan bertahan selama satu minggu atau lebih, dan saat lesi ini akan mulai hilang,
efloresensi lain yang baru akan bermunculuan dan menyebar dengan cepat. Namun
kemunculan dan penyebaran efloresensi yang lain dapat bervariasi dari hanya dalam
beberapa jam hingga sampai 3 bulan. Bentuknya bervariasi dari makula berbentuk oval
hingga plak berukuran 0,5-2 cm dengan tepi yang sedikit meninggi. Warnanya pink salmon
(atau berupa hiperpigmentasi pada orang-orang yang berkulit gelap) dan khasnya terdapat
koleret dari skuama di bagian tepinya. Umum ditemukan beberapa lesi berbentuk anular
dengan bagian tengahnya yang tampak lebih tenang.(3,4,6)

Pada pitiriasis rosea gejalanya akan berkembang setelah 2 minggu, dimana ia mencapai
puncaknya. Karenanya akan ditemukan lesi-lesi kecil kulit dalam stadium yang berbeda. Fase
penyebaran ini secara perlahan-lahan akan menghilang secara spontan setelah 3-8 minggu.
Lesi-lesi ini muncul terutama pada batang tubuh dengan sumbu panjang sejajar pelipatan
kulit.Susunannya sejajar dengan kosta, sehingga tampilannya tampak seperti pohon natal
yang terbalik (inverted christmas tree appearance) yang merupakan lesi patognomonik dari
pitiriasis rosea.(1)

Lokasinya juga sering ditemukan di lengan atas dan paha atas. Lesi-lesi yang muncul
berikutnya jarang menyebar ke lengan bawah, tungkai bawah, dan wajah. Namun sesekali
bisa didapatkan pada daerah tertentu seperti leher, sela paha, atau aksila. Pada daerah ini lesi
berupa bercak dengan bentuk sirsinata yang bergabung dengan tepi yang tidak rata sehingga
sangat mirip dengan Tinea corporis. Gatal ringan-sedang dapat dirasakan penderita, biasanya
saat timbul gejala. Gatal merupakan hal yang biasa dikeluhkan dan gatalnya bisa menjadi
parah pada 25% pasien. Gatal akan lebih dirasakan saat kulit dalam keadaan basah,
berkeringat, atau akibat dari pakaian yang ketat. Akan tetapi, 25% penderitanya tidak
merasakan gatal. Relaps dan rekurensi jarang sekali ditemukan. Ekskoriasi jarang ditemukan.
Efek dari terapi yang berlebih atau adanya dermatitis kontak, umum ditemukan.(1,3)

6
2.6 Diagnosa
Penegakan diagnosis PR didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan
penunjang.
1. Anamnesis
Anamnesis dibutuhkan untuk mendukung penegakan diagnosis PR yaitu:
a.Pada PR klasik, pasien biasanya menggambarkan onset dari timbulnya lesi kulit tunggal
pada daerah badan, beberapa hari sampai minggu kemudian diikuti timbulnya berbagai lesi
kecil.(6)
b.Gatal hebat dirasakan pada 25% pasien PR tanpa komplikasi, 50% lainnya merasakan gatal
dari yang ringan sampai sedang, dan 25% lainnya tidak mengeluhkan rasa gatal.(6)
c. Sebagian kecil pasien menunjukkan gejala prodromal seperti gejala flu, demam, malaise,
arthralgia, dan faringitis.(6,12)
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan terlihat:
a. Kelainan berupa bercak berskuama dengan batas tegas berbentuk oval atau bulat (“herald
patch”) yang meluas ke perifer, terlihat erupsi makulopapular berwarna merah-coklat
berukuran 0,5-4 cm.(6,12)
b. Bagian tepi lesi terlihat lebih aktif, meninggi, eritematosa dengan bagian tengah
berupa central clearing.(12)
c.Terlokalisasi pada badan, leher, dan daerah poplitea atau pada area yang lembab dan hangat
misalnya di area lipatan kulit.(6,12)
d. Erupsi sekunder mengikiuti garis Langer, berbentuk pola pohon natal atau pola pohon
cemara.(6,12)
Biopsi biasanya tidak selalu diindikasikan untuk menggevaluasi pasien dengan suspek
PR. Karena bisa terjadi kesalahan untuk beberapa penyakit kulit, diagnosis klinis PR
mungkin kadang-kadang sulit, terutama di varian atipikal.(12)

2.7 Pemeriksaan Penunjang


a.Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan ini jarang diperlukan dalam kasus PR. Pemeriksaan fisik, hitung darah sel,
biokimia dan analisis urin dalam rentang normal, kadang ditemukan leukositosis,
neutrophilia, basophilia dan limfositosis. (2,12)
Tes VDRL dan uji fluorescent antibody trepenomal dilakukan untuk menyingkirkan
adanya sifilis.(2)
b.Biopsi kulit
Superfisial peri infiltrasi vaskular dengan limfosit, histiosit, dengan eosinofil jarang
terlihat. Sel epidermis menunjukkan sel darah merah diskeratosis dan ekstravasasi RBCs
dapat dilihat.(2)

7
2.8 Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari pitiriasis rosea mencakup:
1. Sifilis stadium II (yang paling penting)(6,11)
Sifilis stadium II dapat menyerupai pitiriasis rosea, namun biasanya pada sifilis
sekunder lesi juga terdapat di telapak tangan, telapak kaki, membran mukosa, mulut,
serta adanya kondiloma lata atau alopesia. Tidak ada keluhan gatal (99%). Ada
riwayat lesi pada alat genital. Tes serologis terhadap sifilis perlu dilakukan terutama
jika gambarannya tidak khas dan tidak ditemukan Herald patch.
2. Psoriasis gutata(6)
Kelainan kulit yang terdiri atas bercak-bercak eritem yang meninggi (plak) dengan
skuama diatasnya. Eritem sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan
sering eritem yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama
berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan
bervariasi, jika seluruhnya atau sebagian besar lentikuler disebut sebagai psoriasis
gutata. Umumnya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian atas sehabis
influenza atau morbili, terutama pada anak dan dewasa muda.
3. Lichen planus(11)
Dapat menyerupai pitiriasis rosea papular. Lesinya memiliki lebih banyak papul dan
berwarna violet/lembayung, ditemukan di membran mukosa mulut dan bibir.
4. Dermatitis numularis(6)
Gambaran lesinya berbentuk seperti koin dengan skuama yang dapat menyerupai
pitiriasis rosea. Namun tidak terdapat koleret dan predileksi tempatnya pada tungkai,
daerah yang biasanya jarang terdapat lesi pada pitiriasis rosea.
5. Parapsoriasis (Pitiriasis lichenoides kronik)(6,11)
Penyakit ini jarang ditemukan, pada bentuk yang kronis mungkin
didapatkan “cigarrete paper” atrofi. Penyakit ini dapat berkembang menjadi mikosis
fungoides.
6. Dermatitis seboroik(11)
Pada dermatitis seboroik, kulit kepala dan alis mata biasanya berskuama dan ruam
kulitnya ditutupi skuama yang berminyak dengan predileksi tempat di sternum, regio
intercapsular, dan permukaan fleksor dari persendian-persendian.
7. Tinea corporis(1,6)
Herald patch atau bercak yang besar pada pitiriasis rosea dapat menyerupai tinea
corporis. Tinea corporis juga memiliki lesi papuloeritemaskuamosa yang bentuknya
anular, dengan skuama, dancentral healing. Namun pada tepinya bisa terdapat papul,
pustul, skuama, atau vesikel. Bagian tepi lesi yang lebih aktif pada infeksi jamur ini
menunjukkan adanya hifa pada pemeriksaan sitologi atau pada kultur, yang
membedakannya dengan pitiriasis rosea. Tinea corporis jarang menyebar luas pada
tubuh.
8. Erupsi kulit mirip pitiriasis rosea oleh karena obat(6,11)

8
Senyawa emas dan captopril paling sering menimbulkan kelainan ini. Setelah
diketahui macam-macam obat yang bisa menginduksi timbulnya erupsi kulit mirip
pitiriasis rosea, kasusnya sudah berkurang sekarang. Gambaran klinisnya ialah
lesinya tampak lebih besar dengan skuama yang menutupi hampir seluruh lesi, sedikit
yang ditemukan adanyaHerald patch, umumnya sering didapatkan adanya lesi pada
mulut berupa hiperpigmentasi postinflamasi. Sebagai tambahan, erupsi kulit mirip
pitiriasis rosea karena obat yang berlangsung lama dikatakan ada hubungannya
dengan AIDS.

2.12 Penatalaksanaan5
Kebanyakan pasien tidak memerlukan pengobatan karena sifatnya yang asimptomatik.
Penatalaksanaan pada pasien yang datang berobat pertama kali:(11)
a. Tenangkan pasien bahwa ia tidak memiliki penyakit sistemik dalam tubuhnya,
penyakit ini tidak menular, dan biasanya tidak akan berulang kembali.
b. Colloidal bath
1 bungkus bubur gandum Aveeno dituangkan ke dalam bak mandi atau ember besar
yang berisi 6-8 inci air yang hangatnya suam-suam kuku. Pasien diminta untuk mandi
selama 10-15 menit setiap harinya. Hindari sabun dan air panas sebisanya untuk
mengurangi rasa gatal yang ada.
c. Lotion kocok putih non-alkohol atau Calamine lotion digunakan 2 kali sehari pada lesi
kulit.
d. Antihistamin jika ada keluhan gatal.
e. Terapi UVB dapat diberikan pada kasus dengan peningkatan suberitem, sebanyak 1-2
kali seminggu. Gejala klinis yang berat akan berkurang namun tidak akan
berpengaruh terhadap rasa gatal dan lamanya sakit.
Kunjungan berikutnya:(11)
a. Jika kulitnya menjadi terlalu kering karena Colloidal bath dari lotionnya, hentikan
pemakaian lotion atau diganti dengan krim atau salep hidrokortison 1%, gunakan 2
kali sehari pada daerah yang kering.
b. Teruskan fototerapi.
Jika disertai dengan gatal hebat:(11)
a. Selain obat-obat di atas diberikan pula prednison 5 mg. Diberikan 4 kali 1 tablet
selama 3 hari, kemudian 3 kali 1 tablet selama 4 hari, kemudian 2 tablet setiap pagi
selama 1-2 minggu, sampai gatalnya menghilang.
b. Eritromisin 250 mg, diberikan 2 kali sehari selama 2 minggu, telah dicoba oleh
beberapa penulis.
Dari suatu penelitian diketahui eritromisin dosis 250 mg yang diberikan 4 kali
sehari pada orang dewasa dan dosis 25-40 mg/kgBB dibagi dalam 4 dosis untuk anak-
anak, dalam waktu 2 minggu semua gejala klinis yang nampak sebelumnya telah
hilang.(3)

9
Fototerapi dapat bermanfaat pada kasus-kasus yang lama penyembuhannya.
Fototerapi UVB dapat mempercepat hilangnya erupsi kulit yang ada. Satu-satunya efek
samping dari terapi ini ialah kulit yang terasa sedikit perih dan kekeringan pada kulit.
Namun risiko terjadinya hiperpigmentasi postinfeksi dapat meningkat dengan terapi ini.(2

10
BAB IV
PEMBAHASAN

3.1 Kesimpulan
Gejala klinis meneurut teori Gejala klinis pada pasien
Pada PR klasik, pasien biasanya menggambarkan +
onset dari timbulnya lesi kulit tunggal pada
daerah badan, beberapa hari sampai minggu
kemudian diikuti timbulnya berbagai lesi kecil.(6)

Gatal hebat dirasakan pada 25% pasien PR tanpa +


komplikasi, 50% lainnya merasakan gatal dari
yang ringan sampai sedang, dan 25% lainnya
tidak mengeluhkan rasa gatal.(6)

Sebagian kecil pasien menunjukkan gejala +


prodromal seperti gejala flu, demam, malaise,
arthralgia, dan faringitis
Kelainan berupa bercak berskuama dengan batas +
tegas berbentuk oval atau bulat (“herald patch”)
yang me
luas ke perifer, terlihat erupsi makulopapular
berwarna merah-coklat berukuran 0,5-4 cm
Bagian tepi lesi terlihat lebih aktif, meninggi, +
eritematosa dengan bagian tengah berupa central
clearing
Terlokalisasi pada badan, leher, dan daerah -
poplitea atau pada area yang lembab dan hangat
misalnya di area lipatan kulit
Erupsi sekunder mengikiuti garis Langer, berbentuk +
pola pohon natal atau pola pohon cemara.(6,12)

11
PUSTAKA

Djuanda Adhi. Dermatosis Eritriskuamosa. Dalam: Djuanda Adhi, Hamzah Mochtar, Aisah Siti,
editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin; edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007: 189-
200.
Vijayabhaskar C. Pityriasis Rosea. Journal of the Indian Society of Teledermatology. 2008. Vol
2(3): 1-5.
James William D, Berger Timothy G, Elston Dirk M. Andrew’s Disease of The Skin Clinical
Dermatology; edisi ke-10. Philadelphia, USA: Elsevier. 2006: 208-9.
Sterling, J.C. Viral Infections. Dalam: Rook’s textbook of dermatology; edisi ke-7. 2004: 79-82.
Sankararaman S, Velayuthan S. Multiple Recurrence in Pityriasis Rosea. Indian J Dermatol
2014. 2012. 59: 316
Blauvelt, Andrew. Pityriasis Rosea. Dalam: Dermatology in General Medicine Fitzpatrick’s. The
McGraw-Hill Companies, Inc. 8 ed. 2012: 362-65.
Zawar V. Giant Pityriasis Rosea. Indian J Dermatol. 2010. 55(2): 192-4
Polat M, Yildirim Y, Makara A. Palmar Herald Patch in Pityriasis Rosea. Australian Journal of
Dermatology. 2012. 55: 64-5.
Relhan V, Sinha S, Garg VK, Khurana N. Pityriasis Rosea with Erythema Multiforme- Like
Lesions: An Observational Analysis. Indian J Dermato 2013. 2012. 58: 242.
Elder D, Johnson B, Elenitsas R. Lever’s Histopathology of the Skin; edisi ke-9. 2006:193-4.
Hall John C. Sauer’s Manual of Skin Disease; edisi ke-9. Philadelphia, USA: Lippincott William
and Wilkins. 2006: 157-61.
Ermertcan AT, Özgüven A, Ertan P, Bilaç C, Temiz P, eds. Childhood pityriasis rosea inversa
without herald patch mimicking cutaneous mastocytosis. Iranian Journal of Pediatrics,
Jun 2010;20(2):237241
Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin /Bagian SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin-Ed.2-Cet.5
Surabaya: Airlangga Universitas Press,2013

12