Anda di halaman 1dari 17

MIKROBIOLOGI

DAN
PARASITOLOGI

DISUSUN OLEH ;

NAMA : ELISA DEWI SEPTRIANA

NIM (A171024)

POLITEKNIK MEDICA FARMA HUSADA MATARAM


PRODI D III FARMASI
TA. 2017 – 2018
A. Trematoda Paru

(Paragonimus westermani)

Pertama ditemukan berparasit pada harimau Bengali di kebon binatang di Eropa tahun
1878. Pada dua tahun kemudian infeksi cacing ini pada manusia dilaporkan di
Formosa. Ditemukan cacing pada organ paru-paru, otak dan viscera pada orang di
Jepang, Korea dan Filipina. Sekarang parasit ini telah menyebar ke India Barat, New
Guenia, Salomon, Samoa, Afrika Barat, Peru, Colombia dan Venezuela.
Paragonimiasis termasuk dalam penyakit zoonosis. Paragonimus westermani
merupakan Trematoda paru-paru yang mempunyai beberapa nama lain, yaitu:

· The Lung Fluke

· Distoma wetermani

· Paragonimus ringeri

Trematoda paru jenis ini menyebar didaerah Asia Timur, antara lain RRC, Jepang,
Korea, Taiwan, juga ditemukan di Indonesia, Filiphina, Vietnam, India, Afrika dan
Amerika.

Species-species yang lain adalah:

· Paragonimus africanus (Afrika)

· Paragonimus mexicanus (Mexico dan Amerika Latin)

· Paragonimus uterobilateralis (Nigeria)

· Paragonimus kellicotti (Jepang)

HOSPES

Hospes definitif : Manusia, kucing, anjing

Hospes perantara I : Keong air tawar/ siput (Melania/Semisulcospira sp)

Hospes perantara II : Ketam / kepiting

HABITAT: Di jaringan paru-paru

PENYAKIT: Paragonimiasis

MORFOLOGI:
Telur:

Telur berukuran 80-120 x 50-60 mikron

Bentuk oval

Memiliki operculum khas yang berdinding tebal

Berwarna kuning kecoklatan

Berisi sel-sel ovum yang belum matang

Cacing dewasa:

Bersifat hermaprodit.

Sistem reproduksinya ovivar.

Bentuknya menyerupai daunberukuran 7 – 12 x 4 – 6 mm dengan ketebalan tubuhnya


antara 3 – 5 mm.

Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.Uterus pendek berkelok-kelok.Testis
bercabang, berjumlah 2 buah.

Ovarium berlobus terletak di atas testis.

Kelenjar vitelaria terletak di 1/3 tengah badan.

SIKLUS HIDUP

Telur dikeluarkan bersama feses . Telur yang masuk dalam air akan menetas
mirasidium akan keluar dan mencari hospes perantara pertama yaitu keong air (siput
Bulinus / Semisulcospira). Dalam tubuh keong mirasidium berkembang menjadi
sporokista dan kemudian menjadi redia. Redia akan menghasilkan serkaria. Serkaria
akan akan keluar dari tubuh siput dan mencari hospes perantara ke-2, yiatu
ketam/kepiting. Setelah masuk ke tubuh kepiting, serkaria akan melepaskan ekornya
dan membentuk kista (metaserkaria.) didalam kulit di bawah sisik. Metaserkaria akan
masuk ke tubuh manusia yang mengkonsumsi kepiting yang mengandung metaserkaria
yang dimasak kurang matang.Metaserkaria akan mengalami proses ekskistasi di
duodenum dan keluarlah larva. Larva menembus dinding usus halus rongga perut
diafragma menuju paru –paru.

CARA INFEKSI:

Manusia dapat terinfeksi oleh Paragonimus westermani karena memakan hospes


perantara II yang mengandung metaserkaria.
PATOLOGI dan GEJALA KLINIK:

Penyakit akibat infeksi cacing ini dinamaan Paraginiasis. Selama invasi hanya
memberi sedikit gangguan. Cacing dewasa dapat memberi gangguan di:

Paru-paru:

1. Berupa kerusakan jaringan


2. Tampak juga infiltrasi sel jaringan
3. Reaksi jaringan membentuk kapsul fibrotik (kista), di dalamnya terdapat cacing
dan juga telur, jika kista ini berada di bronchus maka akan dapat pecah. Gejala
mula-mula batuk kering, kemudian batuk darah.

Ektopik infeksi:

Telur-telur yang berada di jaringan organ merupakan pusat dari pseudo tuberculosis
(TB palsu).

· Di otak = gejala cerebral (epilepsi)

· Di usus = abses dengan gejala diare

· Di jaringan otot = ulcersa

· Di hepar, dinding usus, pulmo, otot, testis, otak, peritoneum, pleura terdapat
bentuk kista

DIAGNOSA:

Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura. Kadang-
kadang telur juga di temukan dalam tinja.

PENGOBATAN:

Klorokuin 0,75 gr/hari sampai 40gr bhitional.

PENCEGAHAN:

Tidak memakan ikan/kepiting mentah. Apabila menkonsumsi harus sudah dimasak


secara sempurna sehingga tidak terinfeksi oleh metaserkaria yang ada dalam
ikan/kepiting tersebut.

Cacing dewasa Paragonimus westermani

metaserkaria
B. Trematoda darah
Trematoda darah memiliki perbedaan dengan trematoda lainnya, diantaranya
cacing dewasa tidak memiliki otot faring serta memiliki kelamin terpisah (ada cacing
jantan dan betina). Saluran pencernaan setelah caecum bercabang dua, di sebelah
distal, caecum bersatu kembali dan buntu. Pada trematoda darah hanya memerlukan
satu hospes perantara. Telur tidak beroperkulum, menetas saat kontak dengan air.
Serkaria ekornya bercabang, masuk ke dalam tubuh hospes definitif dengan cara
serkaria menembus kulit. Perubahan yang terjadi pada hospes perantara miracidium
menjadi sporokista I dan sporokista II akhirnya menjadi serkaria.
Penamaan Schistosoma berasal dari bentuk cacing jantan dewasanya, yang
tampak pada tubuhnya memiliki saluran genitalia memanjang berlekuk-lekuk, yang
merupakan tempat kontak dengan cacing betina pada saat kopulasi. Schistosoma terdiri
atas tiga spesies pathogen yang terutama menginfeksi manusia yaitu : Schistosoma
japonicum; habitatnya adalah pada vena mesentrika superior, Schistosoma mansoni;
habitatnya adalah pada vena mesentrika interior, Schistosoma haematobium;
habitatnya adalah pada vena mesentrika inferior, terutama pada vena sebelum vesica
urinaria.
Terdapat spesies pathogen lainnya yang mirip Schistosoma japonicum yaitu
Schistosoma. mekongi yang merupakan cacing dengan penyebaran terbatas pada
lembah sungai di daerah Mekong dan Schistosoma intercalatum dengan telur mirip
Schistosoma haematobium tetapi secara klinis gejalanya seperti S.mansoni, merupakan
cacing endemis di daerah Afrika barat dan Afrika tengah. Siklus hidup Schistosoma
tidak memerlukan hospes perantara kedua untuk penularan penyakitnya.
Schistosoma japonicum habitatnya pada vena mesenterica superior.
Schistosoma mansoni habitatnya pada vena mesentrica inferior, sedangkan
Schistosoma haematobium pada vena mesentrica inferior, vena haemorrhoidalis, vena
pudendalis dan sering terdapat pada plexus vena vesicalis.
Secara umum penyakitnya disebut schistosomiasis (Bilharziasis). Ada dua
macam schistosomiasis , yaitu schistosomiasis intestinalis yang disebabkan oleh
Schistosoma mansoni dan Schistosoma japonicum dan schistosomiasis vesikalis yang
disebabkan oleh Schistosoma haematobium.
Distribusi geografik bagi schistosomiasis berlainan bagi trematoda darah, antar
lain untuk Schistosoma japonicum di daerah Formosa (hanya enzootic/terbatas pada
binatang) daerah lain di Timur Jauh yang bersifat endemik dan enzootic. Untuk
Schistosoma mansoni di daerah Mesir, Afrika barat, Puertorico, Venezuela dan Brazil.
Sedangkan untuk Schistosoma haematobium di daerah Mesir, Afrika Barat, Maroko
dan Portugal.
Schistosomiasis di Indonesia, terdapat disekitar danau Lindu, Lembah Napu
dan daerah Besoa (propinsi Sulawesi Tengah) yang merupakan daerah penyebaran
endemis di Indonesia. Penyakitnya Schistosomiasis japonica dengan hospes perantara
Oncomelania hupensis lindoensis yang ditemukan oleh Davis dan Carney, 1973.

Siklus Hidup
Telur yang sudah matang diletakkan dalam kapiler darah dan vena kecil dekat
permukaan mukosa usus dan kandung kencing (tergantung spesies cacing). Telur dapat
menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi ke jaringan untuk kemudian sampai
pada lumen usus dan kandung kencing, akhirnya telur akan ditemukan dalam tinja atau
urine. Telur segera menetas dalam air dan keluar miracidium. Didalam tubuh keong,
miracidium berkembang menjadi sporokista I dan sporokista II akhirnya menjadi
serkaria. Serkaria memiliki kemampuan menembus kulit, masuk ke dalam kapiler
darah, akhirnya sampai ke dalam vena kecil usus atau kandung kencing.

Siklus hidup Schistosoma spp


Telur keluar bersama urne atau faeces. Pada kondisi optimum ( berada dalam
air ) telur menetas menjadi miracidia, miracidia masuk ke dalam hospes perantara
yaitu keong air tawar. Dalam tubuh keong (moluska) miracidium berkembang dalam
dua tahapan menjadi sporokista sporokista berkembang menjadi serkaria. Ketika
serkaria keluar dari tubuh keong, serkaria infektif berenang bebas dan menginfeksi
manusia dengan cara penetrasi ke dalam melalui kulit, serkaria melepaskan ekornya
dan menjadi schistosomulae. Schistosomulae bermigrasi melewati beberapa jaringan
dan menetap pada habitatnya dalam vena mesentrica atau vena saluran kemih. Cacing
dewasa tinggal pada lokasi vena spesifik yang berbeda sesuai spesies S. japonicum
lebih sering ditemukan pada vena mesentrica superior pada usus halus dan S. mansoni
biasa terjadi ditemukan pada vena mesentrika superior pada usus besar. S.
haematobium biasa ditemukan pada vena flexus vesicalis, tetapi dapat pula ditemukan
pada vena sekitar retum.

a) Schistosomiasis japonica

Etiologi

Schistosoma japonicum (Katsurada, 1904)

Penyebaran geografi

Cacing terbatas penyebarannya di daerah Timur Jauh, Jepang, China, Taiwan,


Philipina, Thailand. Fokus infeksi ditemukan oleh Brug dan Tesch (1937) dipertegas
oleh Faust dan Boone (1948) di daerah Palu, Sulawesi Tengah (Indonesia).
Hospes definitif selain manusia juga anjing, kucing, tikus, sapi, kerbau, babi, kuda,
kambing dan biri-biri. Membutuhkan hospes perantara siput air tawar spesies
Oncomelania nosophora, O.hupensis, O.formosana, O.hupensis linduensis di Danau
Lindu (Sulawesi Tengah) dan O. quadrasi. Siput berukuran kecil, operculate, amphibi
serta dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam keadaan relatif kering.

Morfologi dan siklus hidup

Cacing dewasa, menyerupai S. mansoni dan S. haematobium akan tetapi tidak


memiliki integumentary tuberculation. Cacing jantan, panjang 12-20 mm, diameter
0,50-0,55 mm. integument ditutupi duri-duri sangat halus dan lancip, lebih menonjol
pada daerah batil isap dan kanalis ginekoporik, memiliki 6-8 buah testis.

Cacing betina panjang ±26 mm dengan diameter ±0,3 mm. Ovarium dibelakang pada
pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria terbatas si daerah lateral; pada ¼ bagian
posterior tubuh. Uterus merupakan saluran panjang dan lurus berisi 50-100 butir telur.

Telur berhialin, subsperis/oval dilihat dari lateral, dekat salah satu kutubnya terdapat
daerah melekuk tempat tumbuh semacam duri rudimenter (tombol) . telur berukuran
70-100 x 50-65 µm.

Telur khas diletakkan dipusatkan pada vena kecil pada submukosa atau mukosa organ
yang berdekatan. Tempat telur S. japonicum biasa pada percabangan vena mesentrica
superior yang mengalirkan darah dari usus halus. Telur keluar menembus submukosa
dan mukosa, kemudian dibebaskan ke dalam lumen usus bersama-sama darah.
Tebalnya dinding dan jaringan parut pada mukosa usus merupakan penghambat bagi
telur untuk menembus jaringan tersebut sehingga ini merupakan saringan dari dinding
usus.

Miracidium menyerupai S. mansoni dan S. haematobium, perbedaannya ukuran yang


lebih kecil serta beberapa struktur kecil internal lainnya. Selanjutnya jika kontak
dengan siput yang sesuai, larva menembus jaringan lunak dalam 5-7 minggu,
membentuk generasi pertama dan kedua sporokista. Pada perkembangan selanjutnya
dibentuk serkaria bercabang. Serkaria ini dikeluarkan jika siput berada pada atau
dibawah permukaan air.

Dalam waktu 24 jam, serkaria menembus kulit sebagai hasil kerja kelenjar penetrasi
yang menghasilkan enzim proteolitik, menuju jalinan kapiler, ke dalam sirkulasi vena
menuju jantung kanan dan paru-paru terbawa ke jantung kiri menuju sirkulasi
sistemik. Tidak sepenuhnya rute ini dilalui oleh schistosomula (muda). Pada migrasi
mereka dari paru-paru ke hati. Mungkin seperti S. mattheei, schistosomula merayap
melawan aliran darah sepanjang dinding arteri pulmonalis, jantung kanan, dan vena
cava menuju ke hati melalui vena hepatica. Infeksi dapat bertahan untuk jangka waktu
yang tidak terbatas, dapat mencapai 47 tahun.

Epidemiologi

Strain bersifat geografikal. Telah diketahui ada dua strain yaitu strain Thailand-
Malaysia dan strain Sulawesi. Perbedaan dari dua strain tersebut, yaitu hospes siput
yang sesuai. Di Indonesia, di pulau Sulawesi, keadaan endemik tinggi di daerah Danau
Lindu. Pada tahun 1971 dari pemeriksaan tinja terdapat S japonicum 53% dari 126
penduduk pada usia 7 sampai 70 tahun (Pinardi, dkk, 1972) dan dilembah Napu
dilaporkan infection rate 8 dan 12% pada dua desa serta 7% pada Rattus exulans, tikus
liar (Carney,dkk, 1978). Pada tahun 1972, dari hasil survey Departemen Kesehatan.
Sub-Direktorat Schistosomiasis dari beberpa desa di sekitar danau lindu, Lembah
Napu dan daerah Besoa prevalensi S. japonicum antara 1-67%. Setelah melalui
program pemberantasan secara terpadu di daerah Danau Lindu dan Lembah Napu,
terlihat sekali penurunan prevalensi di Danau Lindu menjadi 1,9% dan di Napu
menjadi 1,5% (1993).

Patologi dan klinik

Penyakit oleh spesies ini disebut schistosomiasis japonica atau dinamakan juga
oriental schistosomiasis atau penyakit Katayama. Organ yang paling serius diserang,
saluran pencernaan makanan dan hati. Jika terjadi infeksi oleh ketiga spesies bersama-
sama, parahnya penyakit tergantung kepada parasit yang utama. Penyakit ini
memperlihatkan tiga stadium, yaitu stadium inkubasi, stadium peletakkan telur dan
ekstrusi serta stadium proliferasi jaringan dan perbaikan.

Selama terjadi migrasi dan pematangan (stadium inkubasi), lesi yang mungkin timbul
terdiri atas:

1) Dermatitis, pada tempat penetrasi serkaria, tampak pada 24-36 jam setelah
infeksi, tidak diikuti infiltrasi seluler yang istimewa,

2) Perubahan pada paru-paru akibat trauma dan infiltrasi, berupa perdarahan pada
paru-paru serta penimbunan lokal eosinofil, terdapat sel epiteloid dan giant cells
sekeliling pembuluh darah pulmoner pada migrasi larva yang lemah,

3) Hepatitis akut mengikuti masuknya larva serta selama pertumbuhannya dalam


pembuluh darah portal intrahepatik,
4) Hiperemi pada dinding usus halus mengikuti masuk serta pematangan cacing
pada vena mesentrica superior,

5) Trauma dengan perdarahan setelah telur diletakkan oleh cacing betina,


melepaskan diri dari venule kemudian menembus sub mukosa dan mukosa intestinal
masuk ke dalam lumen usus,

6) Biasanya ditandai dengan meningkatnya eosinofil dalam perdaran darah sebagai


akibat perkembangan proses sensitizing-toxic patologi akibat absorbsi sistemik dari
metabolit cacing.

Sekali peletakkan telur dimulai, telur akan ditimbun dalam kelompok kecil-kecil,
pendek dalam rangkaian seperti sosis atau berupa gumpalan pada pembuluh venule
mesentrica terkecil dalam sub mukosa. Terjadi penyumbatan aliran darah sehingga
telur muncul dari vena mesentrica. Saat ini terjadi hipermotiliti dari segmen intestinal
yang mengandung parasit dan terjadi rangsangan sekresi lendir oleh larva yang sedang
mengalami pematangan di dalam telur, yang mengakibatkan telur melepaskan diri dari
pembuluh darah masuk ke jaringan perivaskuler disertai pengeluaran darah, untuk
kemudian dilepaskan ke lumen usus dan dikeluarkan bersama tinja.

Sementara itu dengan semakin banyaknya jumlah telur, mukosa dan submukosa
mengalami infiltrasi sel hospes, infiltrasi eosinofil yang jelas, akan menimbulkan
terbentuknya granuloma makroskopis yang disebut pseudotuberkel. Diameter
pseudotuberkel beberapa kali lipat dari diameter sebuah telur atau gumpalan telur
yang terletak di sentral yang kesemuanya bertanggung jawab terhadap pembentukkan
lesi. Sementara telur diletakkan terus menerus, induk cacing cenderung untuk
meninggalkan tempat lama untuk bermigrasi pada vena mesentrica yang baru pada
usus, sedangkan telur yang berada pada venule yang lebih besar akan menjadi bebas
dan terbawa ke dalam pembuluh porta intrahepatik dan kemudian mereka akan
disaring dan akan ditemukan perivaskular yang akan merangsang pembentukan
pseudotuberkel milier.

Pengobatan

S. japonicum lebih pathogen dan lebih resisten terhadap pengobatan dibanding S.


mansonia dan S. haematobium. Agar pengobatan schistosomiasis japonica berhasil
dengan baik, dianjurkan untuk memperhatikan beberapa hal:

1. Penderita diusahakan dalam stadium awal dari penyakit sebelum menyerang hati
dengan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki ataupun menyerang organ-organ vital.
2. Mencegah terjadinya reinfeksi.

3. Meningkatkan daya tahan tubuh misalkan dengan pemberian makanan dengan


gizi tinggi.

4. Dapat diberikan pengobatan dengan tartar emetik serta pengobatan ulang pada
kekambuhan ringan. Karena tartar emetik bersifat hepatotoksik, selama pengobatan
dianjurkan untuk dilakukan tes fungsi hati. Pemberian tartar emetik (kalium
antimonium tartrat) dengan suntikan intravena serta dalam waktu lama merupakan
obat efektif dan obat pilihan pada pengobatan penyakit ini.

Praziquantel merupakan obat schistosomiasis yang baru dari komponen


pyrazinoquinoline, diberikan per-oral dalam sehari pemberian, ternyata cukup efekif
dengan toleransi yang relatif baik diberikan per-oral dalam 3 dosis, masing-masing 20
mg/kgBB dengan waktu antara 4 jam, menghasilkan angka penyembuhan 80%. Efek
sampingan terdapat pada 50-60% penderita yang diberi pengobatan dengan dosis ini,
tetapi efeknya ringan serta sementara, tidak enak perut, sakit kepala, sakit punggung,
demam , berkeringat dan pening. Kemoterapi lainnya, yaitu oxamniquine dan
metrifonate, memiliki efektifitas tinggi, berturut-turut terhadap schistosomiasis
mansoni dan schistosomiasis haematobia sedangkan untuk schistosomiasis japonica
tidak efektif, sedangkan niridazole dapat mengurangi jumlah telur tetapi tidak
mengurangi infeksi.

Pencegahan dan kontrol

Kontrol pada schistosomiasis japonica dipersulit dengan dipergunakannya secara


umum tinja manusia untuk pupuk pada daerah endemik. Dianjurkan tinja terlebih
dahulu disimpan dalam waktu lebih lama dalam penampungan tinja atau dengan
penambahan desinfektan dengan garam pupuk seperti ammonium nitrat yang dapat
membunuh telur sebelum disebarkan ke ladang. Petani dan pekerja di air kanal, di
sungai secara prinsip tertulari, akan tetapi dapat pula manusia pada semua usia
terutama anak-anak, tertulari selama mandi atau menyebrang daerah ini, demikian juga
pada orang yang menggunakan air yang telah terinfeksi untuk mencuci pakaian. Banjir
membawa siput yang terinfeksi ke hilir dengan melewati perkotaan. Faktor lain adalah
hospes perantara siput yang memiliki operculum, bersifat amphibi dan dapat bertahan
terhadap pengeringan selama sebulan atau lebih. Siput yang terinfeksi dapat bertahan
hidup beberapa minggu dalam kekeringan dan jika terkena air kembali, akan menjadi
aktif dan mengeluarkan serkaria yang infektif.
Strategi pemberantasan schistosomiasis di Indonesia (Adyatma, 1980) sebagai berikut:

1. Meningkatkan pemberantasan penyakit untuk mencegah kemungkinan penyebaran


ke daerah lain.
2. Metode intervensi , yaitu metode kombinasi pengobatan penderita, pemberantasan
keong, perbaikan sanitasi lingkungan dan agroengineering (mengeringkan daerah
rawa-rawa) yang merupakan focus keong.
3. Mengadakan kerjasama lintas sektoral khususnya untuk agroengineering,
kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian untuk menunjang pemberantasan.
Pemberantasan Schistosomiasis di Sulawesi Tengah telah dilakukan sejak 1988
secara terpadu yang melibatkan semua instansi terkait yaitu Departemen PU,
Pertanian, Kehutanan, Dalam Negeri, Transmigrasi, Kesehatan Tingkat 1 Sul-Teng
serta Tim Penggerak PKK. Hasil yang dicapai dari pemberantasan secara terpadu
ini adalah turunnya prevalensi penderita Schistosomiasis menjadi 1,5% di dataran
tinggi Napu dan 2,5% di Danau Lindu (1993).

b) Schistosomiasis mansoni

Etiologi

Schistosoma mansoni (Sambon,1907)

Epidemiologi

Penyakit oleh S. mansoni dinamakan schistosomiasis mansoni, Manson’s intestinal


schistosomiasis atau bilharziasis. Infeksi pada manusia hampir semua berasal dari
sumber manusia yang lain, walaupum kera dan baboon pada daerah endemik kadang-
kadang ditemukan terinfeksi. Cacing ini terutama tersebar di Afrika dan Brazil serta
daerah lainya yaitu Mesir, Puerto Rico dan Venezuela.

Habitat dan hospes

Habitat pada vena mesentrica inferior yang mengalirkan darah dari usus besar dan
segmen posterior ileum. Telur ditimbun pada venule di submukosa usus, sebagai
hospes definitif, disamping pada manusia juga pada kera dan rodensia. Sedangkan
sebagai hospes perantara siput air tawar genus Biomphalaria, Australorbis, Tropicobis,
terutama Biomphalaria glabrata dan Biomphalaria alexandrina.
Morfologi

Morfologi cacing jantan panjangnya 6,4-12 mm, tuberkulasi jelas, duri kasar, testis 6-9
buah, pinggir lateral saling mengunci oleh duri acuminate, pada tempat ini lebih
panjang dari tepat lain. Cacing betina panjangnya 7,2-17 mm, letak ovarium di anterior
pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria memenuhi pinggiran lateral dan pertengahan
tubuh, uterus pendek diisi beberapa butir telur (1-4 butir).

Telur : Berukuran 114-175 x 45-68 µm, berwarna coklat kekuningan, transparan, dekat
salah satu kutubnya terdapat duri lateral yang spesifik. Telur menghasilkan enzim
untuk memudahkan keluar melewati jaringan masuk ke dalam lumen usus. Telur sudah
matang, akan segera pecah setelah kontak dengan air karena sifatnya yang menyerap
air.

Siklus hidup

Siklus hidup S mansoni, pada kondisi yang menguntungkan, waktu minimum yang
dibutuhkan ± 4 minggu. Serkaria memiliki beberapa pasang kelenjar penetrasi pada
bagian kepalanya, menembus kulit hospes pada lipatan, lubang rambut atau dibawah
selaput tanduk. Perjalanan selanjutnya sama dengan S. japonicum.

Gejala klinik

Granuloma oleh S. japonicum lebih besar, lebih eksudatif, lebih destruktif serta
meninggalkan sisa jaringan parut yang lebih besar. Organ yang lebih serius diserang
kolon dan rectum, akan tetapi pada hati juga akan terjadi proses patologis terutama
fibriosis hati. Sama seperti S. japonicum, S.mansoni juga menunjukkan tiga stadium :

1) Periode inkubasi

2) Periode deposisi dan ekstrusi telur

3) Periode proliferasi jaringan dan perbaikan.

Ekstrusi telur yang pertama terjadi pada 5-7 minggu setelah infeksi, diikuti disentri
schistosomiasis yang klasik dengan lendir dan darah pada tinjanya. Hati dan limpa
juga sangat membesar dengan perabaan lunak, mula-mula disebabkan oleh infiltrasi
telur. Telur mungkin masuk ke jaringan paru-paru, pankreas, limpa, ginjal, adrenal,
miokardium atau kadang-kadang sumsum tulang belakang dan memulai proses
patologi dari organ-organ ini dengan gejala-gejala yang sesuai. Pada sekitar 0,1%
penderita, telur dengan duri lateral sampai pada vesica urinaria yang akan dikeluarkan
bersama urine. Komplikasi pulmoner pada schistosomiasis mansoni termasuk tipe
bronchopulmoner menyerupai TBC lanjut, dengan enarteritis pembuluh darah
pulmoner serta bentuk cardiopulmoner yang berakhir dengan lemah jantung
kongestif.

Diagnosis

Selama fase prodromal sampai akhir periode prepaten, diagnosis dapat dilakukan
dengan tes serologis. Segera setelah ekstrusi telur dimulai, diagnosis dengan
menemukan telur dalam tinja dengan metode konsentrasi jika telur tidak ditemukan
pada sediaan langsung atau pada “Kato thick fecal film”. Dilakukan dengan
sedimentasi pada 0,5% gliserin dalam air atau dengan metode konsentrasi lain.
Penderita dengan disertai komplikasi pulmoner yang disebabkan oleh schistosomiasis,
maka diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, visualisasi dari lesi pada sinar
rontgen dan pada waktunya menemukan telur dalam sputum. Jika telur pada
pemeriksaan tidak dapat ditemukan, dilakukan pemeriksaan serologis. Untuk survey di
masyarakat, dapat digunakan metode Kato dengan hasil yang cukup baik.

Pengobatan

Tartar emetik seperti pada S japonicum cukup efektif, hanya sulit dalam pemberian
dan toleransinya rendah sehingga bukan merupakan obat pilihan. Obat-obat lainnya
yaitu Stibofen (Fuadin), pemberian intramuscular dalam larutan 6,3% 40-75 ml yang
diberikan dalam 10-16 kali pemberian. Niridazole (CIBA 32.644 Ba atau Ambilhar)
efektif mengobati Schistosomiasis mansoni dengan dosis perhari 25 mg/kg BB,
diberikan dalam waktu 5-10 hari. Obat lainnya yang cukup baik adalah nitroquinoline,
Oxamniquine,yang diberikan per-oral. Dosis optimim belum dapat ditentukan,
disarankan dosis 15 mg/kgBB dalam dosis tunggal. Niridazole lebih efektif pada anak-
anak daripada Oxamniquine yang efektif pada orang dewasa. Pengobatan dengan
Praziquantel aman dan efektif pada dosis tunggal 40 mg/kgBB. Oltripaz merupakan
obat baru yang dilaporkan juga efektif untuk Schistosomiasis mansoni.

Pencegahan

Pencegahan sama dengan S japonicum, pada prinsipnya penggunaan Moluscisida pada


beberapa keadaan dapat efektif mengurangi atau secara lengkap memutuskan transmisi
parasit, akan tetapi membutuhkan waktu lama. Program kesehatan masyarakat dengan
menyediakan tempat mandi umum, mencuci pakaian serta system pembuangan yang
sehat memberikan pencegahan yang baik terhadap penyakit ini.

c) Schistosomiasis haematobium

Etiologi

Schistosoma haematobium (Bilharz, 1852 dan Weiland, 1858)

Epidemiologi

Merupakan trematoda darah yang dapat menyebabkan Schistosomiasis vesikalis


(penyakit parasit pada organ genitourinari), schistosomiasis haematobia, vesical atau
urinary bilharziasis, Schistosomal hematuria. Schistosomiasis haematobium sering
terjadi di hulu sngai Nil. Sebagian besar Afrika termasuk kepulauan di Pantai Timur
Afrika, ujung Selatan Eropa, Asia barat dan India.

Habitat dan hospes

S. haematobium dewasa hidupnya terutama di flexus vena vesikalis dan pelvic,


mungkin pada aliran darah porta, vena mesentrica inferior, vena pudendalis, vena
haemorroidalis, jarang pada venula lainnya. Hospes definitif selain manusia juga kera
(Cercocebus torquatus atys), baboon (Papio doguera dan Papio rhodesiae),
Chimpanzee (Pan satirus). Hospes perantara siput air dari genus Bulinus dan
Planorbarius.

Morfologi dan siklus hidup

Cacing jantan gemuk, berukuran 10-15 x 0,8-1 mm, ditutupi integument tuberkulasi
kecil, memiliki dua batil isap berotot, yang ventral lebih besar. Di belakang batil isap
ventral, melipat ke arah ventral sampai ekstremitas kaudal, membentuk kanalis
ginekoporik. Persis di balakang batil isap ventral terdapat 4-5 buah testis besar. Porus
genitalis tepat dibawah batil isap ventral.

Cacing betina panjang silindris, ukuran 20 x 0,25 mm, batil isap kecil, ovarium terletak
posterior dari permukaan tubuh. Uterus panjang sekitar 20-30 telur berkembang pada
satu saat dalam uterus. Oviposisi biasa terjadi dalam venule kecil pada vesica urinaria
dan pelvicus seperti venule rectalis. Tempat-tempat ektopik ditemukan pada kelenjar
prostat dan jaringan subkutan lipat paha dan scrotum, jaringan kulit sekitar umbilicus,
conjunctiva dan kelenjar lakrimalis. Telur dapat menembus dinding pembuluh darah
menembus mukosa sampai ke lumen bersama darah yang keluar dari luka, keluar
bersama urine terutama pada akhir miksi atau pada tinja disentri.
Morfologi telur Schistosoma haematobium

Berwarna coklat kekuningan, memiliki duri terminal, transparan, berukuran 112-170 x


40-70 µm. pada siput yang sesuai dalam 4-8 minggu terbentuk sporokista generasi
pertama dan kedua, akhirnya akan menjadi serkaria yang setiap hari akan lolos dari
tubuh siput secara berkelompok selama beberapa minggu atau bulan, setelah
meninggalkan siput serkaria berenang aktif mencari hospes. Serkaria kontak dengan
kulit, air menguap, menembus kulit, ekornya dilepaskan.

Keadaan hidup bebas ini tidak lebih dari 3 hari (biasanya 24 jam atau kurang), selama
dapat bertahan tidak makan. Kemudian menembus ke bawah permukaan epidermis
dengan lincah dalam waktu kurang dari 30 menit. Biasanya dalam 1-2 hari, larva telah
sampai venule perifer, terbawa ke jantung kanan, masuk ke dalam pembuluh darah
pulmoner. Menjelang dewasa memerlukan waktu 20 hari sejak penetrasi ke dalam
kulit. Mereka masuk ke dalam vena mesentrica inferior, tinggal dan matang dalam
vena rektalis, akan tetapi biasanya bermigrasi melalui vena haemorroidalis dan vena
pudendalis menuju vena vesicalis dan plexus pelvicus, mereka sampai dalam waktu 3
bulan setelah menembus kulit. Periode prepaten biasanya memerlukan waktu 10-12
minggu.

Gejala klinik

Setelah kontak dengan kulit manusia, serkaria masuk ke dalam pembuluh darah kulit.
Lebih kurang 5 hari setelah infeksi, cacing muda mulai menjangkau vena porta dan
hati. Kira-kira tiga minggu setelah infeksi, pematangan cacing dimulai sejak keluar
dari vena porta. Setelah 10-12 minggu cacing betina mulai meletakkan telur pada
venule.

Pada schistosomiasis vesicalis, primer kerusakan jaringan pada dinding vesica urinaria,
sekunder pada bagian distal ureter, organ urinarius dan genital yang berdekatan atau
rectum dan akhirnya pada paru-paru dan organ yang lebih jauh. Bila jumlah telur lebih
banyak maka akan diinfiltrasi dan ditahan dalam jaringan, menjadi pusat
pembentukkan pseudoabses. Abses dekat lumen vesica urinaria atau organ lain,
mungkin pecah dan mengeluarkan telurnya , berlanjut dengan pembentukkan jaringan
fibrosis berakhir dengan pembentukkan pseudotuberkel yang akhirnya akan terjadi
fibrosis seluruh organ.

Efek S.haematobium terdiri atas:

1. Reaksi lokal dan umum terhadap metabolit cacing yang sedang tumbuh dan
matang,
2. Trauma dengan perdarahan akibat telur keluar dari venule,

3. Pembentukkan pseudoabses dan psudotuberkel mengelilingi telur terbatas pada


jaringan perivaskular

4. Obstruktif uropati. Aspek klinik infeksi terbagi menjadi tiga periode : masa
inkubasi, deposisi dan ekstruksi telur, proliferasi jaringan dan perbaikan.

Deposisi dan ekstrusi telur, inflamasi dan pembentukkan pseudotuberkel pada


sekeliling telur diikuti:

(1) Hyperplasia dan fibrosis umum dinding vesica dan ureter bagian bawah

(2) Infeksi sekunder. Gejalanya berupa sistitis kronis. Pemeriksaan sitoskopis


menjadi lebih sulit. Lesi yang terjadi pada laki-laki dapat sampai penis dan
elephantiasis organ akibat penyumbatan limphaticus scrotalis. Lesi pada wanita
biasanya kurang berat meskipun cervix, vagina dan vulva mungkin dikenai.

Diagnosis

Diagnosis spesifik hanya dapat dibuat :

1. Setelah telur dilepaskan ke dalam lumen vesica urinaria dan muncul dalam urine.

2. Setelah telur dilepaskan ke dalam lumen usus dan ditemukan bersama tinja.

3. Dari bahan aspirasi atau biopsi yang diperoleh melalui cytoscope atau
proctoscope dan diperiksa secara mikroskopik terhadap adanya telur.
Immunodiagnosis umumnya hanya merupakan group specific sering dilakukan pada
kasus dengan gejala-gejala selama prepaten yang terlambat.

Telur S. haematobium biasanya terdapat dalam urine, meskipun pada infeksi berat
dapat ditemukan pada faeces. Bahan pemeriksaan urine hematuri dapat terdiri dari
banyak telur terperangkap dalam lendir dan nanah. Puncak eksresi telur terjadi antara
siang dan jam tiga sore. Specimen yang dikumpulkan pada waktu tersebut atau urine
24 jam tanpa pengawet,dapat digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis setelah
disentrifuge atau sedimentasi. Yang harus diperhatikan dalam diagnosis Schistosoma
haematobium : Telur tidak terdapat dalam urine sampai cacing dewasa ( memerlukan
waktu 5 sampai 13 minggu setelah awal infeksi).

Pada infeksi ringan atau kronis telur akan sulit didapat dalam urine, sehingga
dibutuhkan pemeriksaan berulang-ulang atau pemeriksaan serologis akan sangat
membantu. Kadangkala terdapat juga dalam faeces sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan urine dan faeces. Teknik membrane filtrasi menggunakan saringan
nukleopore akan sangat membantu dalam penegakkan diagnosa. Pasien yang telah
menjalani pengobatan harus di follow-up dan pemeriksaan terus dilakukan sampai 1
tahun untuk mengevaluasi pengobatan. Pada infeksi aktif, telur dapat mengandung
miracidia.

Pengobatan

Obat merrifonate (Bilarcil), organoposfor cholinesterase inhibitor, tidak efektif


terhadap S japonicum dan S mansoni tetapi unggul dalam pengobatan terhadap
Schistosomiasis vesikalis karena murah, manjur dan mudah diterima oleh penderita.
Dengan dosis 5-15 mg/kgBB diberikan dengan interval 2 minggu untuk 3 dosis
membutuhkan waktu 4 minggu. Oxamniquine tidak efektif untuk schistosomiasis
vesikalis.

Pencegahan

Mengurangi sumber infeksi dari cacing ini dilakukan dengan pengobatan penderita,
terutama pengobatan massal di daerah endemik. Dapat dilakukan pencegahan dengan
tiga program, yaitu:

1. Eradikasi tuan rumah molusca, paling sedikit untuk satu siklus transmisi,
dengan penanganan air dan kampanye moluscasida pada daerah endemic.
2. Perbaikan sanitasi lingkungan untuk mengurangi kepadatan habitat siput
dimana telur schistosoma dikeluarkan pada urine dan faeces manusia yang
merupakan sumber infeksi untuk siput.
3. Pengobatan secara efektif pada penderita terutama carrier untuk mengurangi
kontaminasi pada air.