Anda di halaman 1dari 24

BAB V

PERANCANGAN BATAS AKHIR PENAMBANGAN


(PIT LIMIT DESIGN)

5.1. KONSEP DASAR

1) Data yang ada :


Model blok cebakan bijih
Data tekno-ekonomik (termasuk sudut lereng)
Pertanyaannya :
Bagaimana menentukan batas akhir penambangan (bentuk/geometri
dari final pit) ?

2) Kadar Batas Pulang Pokok ( Break Even Cut-off Grade ) dan Nisbah
Pengupasan Pulang Pokok (Break Even Stripping Ratio ) : berdasarkan
data ekonomik dan perolehan (recovery) kita dapat menghitung
BECOG dan membuat suatu tabel yang menunjukkan BESR untuk
berbagai kadar batas.

3) Beberapa algoritma perancangan (penentuan pit limit)


a. Metoda penampang (Manual Cross Section / 2-D)
b. Pemrograman dinamik 2 Dimensi (2-D Dynamic Programming
atau Metoda Lerchs-Grossmann)
c. Metoda Kerusut mengambang (Floating cone) 3-D
d. Metoda tiga dimensi lainnya :
 Teori grafik (Graph theory)
 3-D Dynamic programming
 Aliran Jaringan (Network Flow)

V-1
5.2. PERANCANGAN TAMBANG : DEFINISI DAN DASAR
PEMIKIRAN

1) Istilah perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai bagian


dari proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-
masalah geometrik. Di dalamnya termasuk perancangan batas akhir
penambangan, tahapan (pushback), urutan penambangan tahunan/
bulanan, penjadwalan produksi dan waste dump.

2) Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan masalah


geometrik meliputi kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya
kapital dan biaya operasi.

3) Penentuan Batas Penambangan (final pit limit)

a. Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan batas-batas


penambangan pada suatu cebakan bijih (yakni jumlah cadangan
dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari
cebakan bijih tersebut sebelum memasukkan faktor nilai waktu
dari uang.
i. Tidak diperhitungkannya nilai waktu dari uang akan
menghasilkan bentuk pit yang paling besar untuk suatu set
parameter ekonomik tertentu.
ii. Dengan menambahkan faktor bunga (interest), besar
pit akan berkurang.

b. Mengapa faktor nilai waktu dari uang tidak dimasukkan ? Beberapa


alasan :
i. Untuk proyek dengan jangka waktu panjang (misal :
lebih dari 15 tahun), tahap-tahap penambangan terakhir akan
memiliki dampak yang minimal terhadap tingkat pengembalian
modal atau rate of return.
ii. Selain itu, untuk proyek yang berjangka waktu
panjang seperti ini, cukup masuk akal bahwa faktor teknologi

V-2
yang semakin canggih akan mengimbangi faktor nilai waktu
dari uang.

c. Walaupun butir (a) di atas merupakan tujuan yang paling


umum, ada beberapa kasus terutama pada cebakan bijih dengan
nisbah pengupasan yang tinggi–dimana nilai waktu dari uang
perlu dipertimbangkan pada tahap awal dari evaluasi.

4) Berapa banyak energi yang harus dicurahkan untuk menentukan batas


penambangan ?

a. Pada fase kelayakan suatu proyek yang berjangka panjang,


tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki dampak yang
minimal terhadap rate of return. Karena itu, mencurahkan terlalu
banyak waktu untuk perancangan batas penambangan barangkali
kurang memiliki alasan yang kuat.
i. Usaha yang tidak begitu memakan waktu dapat meliputi
penggunaan program floating cone atau 3-D Lerchs-
Grossmann untuk menentukan pit limit, dan melakukan
pengecekan awal apakah hasilnya masuk akal.
ii. Studi sensitivitas dengan melakukan perubahan-perubahan
kecil pada parameter pokok seperti sudut lereng, harga
komodits, ongkos-ongkos, dan lain-lain. Akan membantu
dalam pemilihan skenario untuk dasar perancangan.

b. Untuk proyek penambangan dengan jangka waktu yang relatif


singkat, misalnya kurang dari 15 tahun, diperlukan energi dan
waktu lebih banyak untuk menentukan batas penambangan,
terutama bila lereng akhir (final pit walls) akan dibuat pada tahap-
tahap awal.
Usaha yang lebih serius dapat meliputi perancangan dua geometri
pit yang berbeda, lengkap dengan jalan angkutnya dan dengan
lereng akhir pada berbagai posisi yang berlainan, kemudian dipilih
alternatif mana yang terbaik.

V-3
c. Pada tahap-tahap belakangan, khususnya ketika lereng akhir
dengan nisbah pengupasan yang relatif besar akan dibuat, energi
yang besar perlu dicurahkan untuk perancangan pit limit ini.
Studi kelayakan yang memakan waktu beberapa bulan dapat
dilakukan. Beberapa alternatif rancangan dapat dibuat untuk
melihat detail dari penjadwalan produksi, kebutuhan alat serta
ongkos-ongkos.

5.2.1. Metoda Penampang 2 Dimensi

1) Penentuan batas penambangan secara manual membutuhkan


pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya subyektif. Dua orang yang
berbeda mungkin akan memperoleh batas-batas penambangan ( pit
limit) yang tidak persisi sama.

2) Deskripsi metoda penampang (2-D manual cross-sectional method)

a. Mulai dengan model blok (skala horisontal = skala vertikal).


Tentukan sudut lereng keseluruhan. Hitung BECOG dan buat tabel
yang menunjukkan BESR untuk berbagai kadar batas.

b. Untuk setiap penampang tentukan batas penambangan ( trial pit


limit) pada sudut lereng tersebut. Tentukan posisi lereng akhir
dimana BESR kumulatif dari blok-blok bijih akan dapat membayar
pengupasan tanah penutupnya.

c. Pindahkan trial pit limit dari penampang vertikal (cross section) ke


horisontal (level/plan map). Dalam memindahkan rancangan pit,
hanya titik-titik pada level dimana terjadi perubahan rancangan
yang berarti perlu dipindahkan.
Level atau jenjang yang penting meliputi bagian atas dan bawah
dan lereng yang panjang, dan jenjang dimana sudut lereng
berubah. Tidak semua titik pada setiap jenjang perlu dipindahkan.

V-4
d. Buat kontur batas penambangan pada penampang horisontal.
Rancangan batas akhir penambangan harus cukup halus.
Menghubungkan setiap titik secara kaku pada level map tidak
akan memberikan hasil yang diinginkan. Beberapa titik pada level
map ini mungkin harus diabaikan.
e. Untuk penampang-penampang (sections) di dekat ujung cebakan
bijih, sudut lereng dapat dibuat sedikit lebih landai.
f. Kuantitas dan kadar cadangan yang terdapat di dalam batas
penambangan dapat ditabulasikan dari jumlah, berat dan kadar
blok di tiap-tiap jenjang.

3) Asumsi Implisit metoda penampang 2-D


a. Walau bagaimanapun, penambangan di bagian tengah dari
cadangan pasti akan terjadi. Kita hanya perlu menetapkan batas
penambangan yang paling luar saja.
b. Cebakan bijih memiliki bentuk cukup memanjang ke arah yang
tegak lurus dari penampang-penampang vertikal yang digunakan.

4) Pedoman pokok dalam menentukan batas penambangan


a. Setiap blok bijih yang akan ditambang harus dapat membayar
atau mendukung pengupasan (stripping) dirinya sendiri.
b. Jika sebuah blok bijih dapat ditambang karena kontribusi dari
blok-blok bijih lain yang terletak diatasnya (dan pada jalur
penambangan blok ini), maka blok bijih ini harus ditambang.
Kontribusi dari tiap-tiap blok dapat dijumlahkan, jadi rata-rata
untuk beberapa blok diperbolehkan.
c. Jika dua blok bijih yang terpisah satu sama lain dapat ditambang
karena kontribusi simultan dari pengupasan waste yang sama,
maka kedua blok ini harus ditambang.
d. Tidak ada blok waste yang boleh ditambang kecuali bila ia terletak
pada jalur penambangan dari suatu blok bijih yang terletak di
bawahnya.

V-5
5.2.2. Pemrograman Dinamik 2-D (Metoda Lerchs-Grossman)

1) Pemrograman Linier vs. Pemrograman Dinamik


a. Pemrograman linier (linier programing) dirancang untuk proses
suatu tahap. Biasanya di dalamnya tidak terlibat elemen waktu
atau urut-urutan berdasarkan waktu (one shot decision).
T (D,S) S’
Masukan Keputusan D keluaran
S S’
Return R1
Solusi optimal (yaitu nilai-nilai keputusan) diperoleh dengan
mengikuti algoritma simplex.
Tujuan : mengoptimalkan R1.
b. Pemrograman dinamik (dynamic programming) ditujukan untuk
proses beberapa tahap (multi-stage process). Biasanya melibatkan
elemen waktu dari keputusan-keputusan yang berurutan
(sequential decisions). Critical Path Method atau CPM adalah
suatu contoh baik. Proses multi tahap merupakan uatu masalah
dimana keputusan yang berurutan harus diambil, dansetiap
keputusan akan mempengaruhi ruang lingkup pengambilan
keputusan berikutnya.

n
Tujuan : mengoptimalkan R =  RI dengan memilih secara tepat
i=1
nilai-nilai variabel keputusan. Solusi optimal diperoleh dengan
mengikuti prinsip Optimalitas Dinamik dari Bellman yang intinya:
apapun yang telah kita lakukan dimasa yang lalu, keputusan-

V-6
keputusan mendatang harus optimal relatif terhadap situasi saat
ini. Solusi optimal ini merupakan suatu kumpulan-kumpulan
keputusan yang berurutan, misalnya sebuah kebijakan (policy)

2) Pemrograman Dinamik 2- Dimensi (Metoda Lerchs-Grossman)


Memiliki motivasi bahwa pada dasarnya penentuan batas
penambangan yang ‘optimum’ menggunakan penampang (2-D cross
section) mudah dilakukan.

3) Asumsi-asumsi dasar
a. Nilai ekonomik tiap blok diketahui/dapat dihitung.
b. Sudut lereng keseluruhan diberikan sebagai masukan.
c. Tujuan : memaksimalkan keuntungan total (nilai material yang
ditambang dikurangi ongkos penambangan)

4) Algoritma
a. Sudut lereng
i. Jika ukuran blok dalam model sudah pasti, tentukan
jumlah blok ke atas dan ke bawah untuk setiap blok (pada
penampang) yang paling mendekati kendala sudut lereng.
ii. Jika ukuran blok masih dapat diatur, pilihlah
sedemikian rupa sehingga geometri ukuran blok sesuai
dengan sudut lereng.

b. Hitung nilai ekonomik dari tiap blok, yaitu pendapatan dari


nilai jual dikurangi ongkos penambangan blok tersebut, ongkos
pengolahan dan ongkos G&A (general & administrative costs =
overhead). Nilai ekonomik ini kita sebut sebagai nilai pertama dari
blok atau mij. Pada penampang 2-dimensi, blok (i,j) terletak pada
baris i dan kolom j.

c. Hitung jumlah nilai ekonomik dari blok-blok yang berada di satu


kolom dengan blok (i,j). Ini kita definisikan sebagai nilai kedua
dari blok atau Mij.
i

V-7
Mij =  mkj
k=1
d. Pada penampang kita tambahkan baris 0, lalu hitung nilai ketiga
dari blok atau Pij sebagai berikut.
Poj = 0

Kemudian, untuk tiap kolom mulai dari kolom 1 :


Pij = Mij + max (Pi+k,j-1) untuk k = -1,0,1

e. Beri tanda panah untuk menandai maksimum dari blok (i,j) ke


blok (i+k,j-1) tanda panah ini harus mengarah dari kanan ke kiri.
i. Untuk kolom pertama (j = 1), buatlah Pij = Mij
ii. Pij mewakili nilai paling besar yang dapat diperoleh
dari penambangan blok (i,j) dan semua blok di atasnya, serta
blok-blok di sebelah kirinya

f. Pilih jalur optimal (yang akan menandai kontur permukaan


tambang atau batas penambangan) dengan mencari kolom j yang
memiliki nilai Pij positif dan terbesar di permukaan (di baris 1).
i. Kontur batas penambangan akan diperoleh dengan
mengikuti arah anak panah dari kanan ke kiri, mulai dari blok
ini.
ii. Jika nilai Pij di permukaan (baris 1) semua negatif,
berarti tidak ada blok yang ekonomik untuk ditambang pada
penampang yang bersangkutan.

Langkah-langkah tersebut di atas dapat direpresentasikan sebagai berikut.

V-8
Gambar 5.1. Geometri Badan Bijih Untuk Contoh
Lerchs-Grossman 2-D (Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.2. Nilai Ekonomik Mula-Mula dari Setiap Model Blok


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.3. Nilai Ekonomik Akhir dari Setiap Model Blok


(Hustrulid & Kutcha,1995)

V-9
Gambar 5.4. Perhitungan dari Penjumlahan Kumulatif Untuk
Kolom 6 (Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.5. Kumulatif Penjumlahan Yang Lengkap


(Hustrulid & Kutcha,1995)

V - 10
Gambar 5.6. Prosedur Penentuan Arah Nilai Kumulatif Maksimum
dan Minimum (Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.7. Pergerakan Proses penjumlahan Pada Kolom 7


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.8. Penentuan Pit dan Nilai Total Dengan Anak Panah
(Hustrulid & Kutcha,1995)

V - 11
Gambar 5.9. Nilai Blok Individu Untuk Dua Bagian Pit

(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.10. Proses Penjumlahan Pada Seluruh Bagian


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.11. Penentuan Pit Yang Optimum


(Hustrulid & Kutcha,1995)

V - 12
Gambar 5.12. Perpaduan Batas akhir Pit Yang Optimum Pada

Blok Model (Hustrulid & Kutcha,1995)

5.2.3. Metoda Kerucut Mengambang (Floating Cone 3-Dimensi)

1) Tujuan
a. Menentukan batas akhir satu tambang terbuka ( ultimate pit limit)
dengan menggunakan analisis ekonomik pulang pokok ( break
even economic analysis).
b) Sasaran yang ingin dicapai dalam penentuan batas akhir
penambangan mengharuskan batas akhir tersebut dihitung
menggunakan dasar ekonomik pulang pokok.
c) Keuntungan dari menambang tahapan bijih terakhir harus tepat
membayar biaya pengupasan lapisan penutupnya.

2) Masukan Data Yang diperlukan


a) Model Blok Cadangan Bijih
i. Model komputer yang membagi cebakan bijih menjadi blok-
blok yang seragam
ii. Tiap blok memiliki informasi tentang tofografi, geologi dan
taksiran kadar mineral
iii. Informasi yang disimpan dalam tiap blok cukup untuk
menghitung nilai ekonomiknya dari data ekonomi yang ada
b) Data Ekonomik
i. Harga komoditas (Cu, Au, Ag, Mo, ...... dll)

V - 13
ii. Semua ongkos-ongkos yang berkaitan dengan penambangan
dan pengolahan bijih :
 Ongkos penambangan per ton bijih
 Ongkos penambangan/pengupasan per ton lapisan penutup
 Ongkos pengolahan (penggerusan, milling/leaching) per ton
bijih
 Perolehan (recovery) dari proses pengolahan
 Ongkos peleburan, pemurnian dan pengangkutan (SRF) per
unit produk akhir komoditas
 Perolehan (recovery) dari peleburan dan pemurnian
 Ongkos umum dan administrasi (G&A) per ton bijih
 Ongkos royalti
c) Data Sudut Lereng
i. Satu sudut lereng yang sama untuk pit , atau
ii. Sudut lereng yang bervariasi dengan zona-zona di pit
d) Lebar Pit Bottom Minimum – cukup untuk ruang kerja peralatan

3) Algoritma floating cone bekerja dalam dua tahap :


a) Pada tahap pertama, taksiran kadar blok dan parameter ekonomik
(harga komoditas, ongkos penambangan dan pengolahan,
perolehan dan royalti) digunakan untuk membuat suatu model
blok ekonomik. Setiap blok memiliki nilai moneter, blok bijih
nilainya positif dan blok lapisan penutup ( waste) negatif. Nilai
uang ini mewakili keuntungan bersih dari penambangan blok yang
bersangkutan.
b) Pada tahap kedua analisis kerucut mengambang dilakukan
terhadap blok-blok dalam model, dari atas ke bawah. Dasar
(bagian lancip) dari suatu kerucut terbalik diletakkan di pusat
setiap blok bijih (blok yang nilainya positif)
i. Suatu analisis ekonomik kemudian dilakukan dengan
menjumlahkan nilai uang dari seluruh blok di dalam kerucut

V - 14
terbalik ini. Jika hasilnya positif, semua blok ini harus
ditambang/dikeluarkan dari model dan tidak lagi
diperhitungkan dalam analisis berikutnya.
ii. Kerucut ini digerakkan secara sistematis dalam model blok
hingga semua material yang ekonomis habis ditambang.
Kerucut dimulai dari atas dan bergerak ke bawah, kemudian
mulai lagi dari atas model blok untuk mengambil blok-blok
yang mungkin sekarang menjadi ekonomis karena pengupasan
material waste oleh blok-blok bijih di bawahnya. Ini akan
berlangsung hingga tak ada lagi material yang dapat
ditambang.
iii. Dinding lereng dari kerucut ini memililki sudut yang sama
dengan sudut lereng tambang yang ditentukan.
iv. Jari-jari penambangan minimum atau lebar minimum pada pit
bottom merupakan salah satu masukan. Biasanya jari-jari ini
dibuat berukuran 1,5 kali ukuran blok, sehingga lebar
minimum di pit bottom adalah 9 blok (cukup untuk
beroperasinya peralatan).
v. Analisis kerucut mengambang ini menggunakan pendekatan
blok utuh terdekat. Jadi, jika pusat blok berada di dalam
kerucut maka seluruh blok itu dianggap berada dalam kerucut.
vi. Sembarang bentuk pit dapat didekati dengan membuat
kerucut-kerucut overlapping satu sama lain. Overlap
dimungkinkan karena blok-blok yang ditambang pada kerucut
sebelumnya berubah statusnya menjadi blok udara, sehingga
tidak lagi diperhitungkan dalam analisis ekonomik kerucut
berikutnya. Jika semua kerucut terbalik ini kita gabungkan,
sebuah geometri pit akan terbentuk. Selubung paling luardari
bentu pit ini berada pada posisi pulang pokok relatif terhadap
data masukan (input) yang kita berikan.

V - 15
4) Aspek lain : Penerapan metoda kerucut mengambang untuk
perancangan penahapan penambangan (pushback)
a) Jika harga komomditas diturunkan, BECOG akan naik dan BESR
akan turun. Geometri kerucut mengambang yang diperoleh akan
menjadi lebih kecil dan cadangan tertambangnya lebih kecil pula.
b) Jika harga komoditas terus diturunka, akan diperoleh suatu serial
geometri pit (bentuk/geometri open pit dari besar ke kecil).
Proses penambangannya akan mentargetkan dulu blok-blok
dengan potensi keuntungan paling besar (untuk harga komoditas
paling rendah). Blok-blok yang merupakan target berikutnya
secara bertahap akan ditambang hingga batas akhir dari pit
tercapai (pada harga komoditas yang diproyeksikan)
c) Serial geometri ini menjadi indikator atau pedoman urutan
pengambilan bijih. Hal ini amat berguna dalam merancang tahap-
tahap penambangan (phase/pushback design).

Berikut ini adalah cara mengoptimasi pit limit dengan cara floating cone
3D dengan data nilai ekonomik dari setiap blok model yang sama dengan
pada Lerch-Grossman 2D.

Gambar 5.13. Nilai Ekonomik Model Blok Untuk Floating Cone


(Hustrulid & Kutcha,1995)

V - 16
Gambar 5.14. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 2 Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.15. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 3 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.16. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 4 Baris

V - 17
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.17. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 5 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.18. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 6 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Pada Gambar 5.18 terlihat bahwa hasil penentuan pit yang optimum
dengan cara floating cone memberikan hasil yang sama dengan cara
Lerchs-Grossman.

Contoh Soal :

Dengan menggunakan pendekatan kerucut mengambang ( floating cone)


yang benar, hitunglah keuntungan bersih yang akan diperoleh dari
penampang tambang terbuka di bawah ini. Tunjukan pula blok-blok yang
akan ditambang/tidak akan ditambang.

V - 18
Permukaan

45o sudut lereng

1 2
3

nilai blok 1 = Rp. 80 juta


nilai blok 2 = Rp. 100 juta
nilai blok 3 = Rp. 20 juta
Ongkos Penggalian/penambangan = Rp. 10 juta/blok

Catatan :
Nilai blok adalah gross income dikurangi biaya pengolahan dan biaya
tak langsung, tetapi tidak termasuk biaya penambangan.

Jawaban :

1 2

Blok yang ditambang

Blok yang tidak ditambang

Net profit = nilai blok 1 + nilai blok 2 - ongkos penggalian/penambangan


= 80 juta + 100 juta - (12 x 10 juta)
= 180 juta – 120 juta
= 60 juta

V - 19
PEKERJAAN RUMAH 4

Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Manual


Buatlah Resume mengenai Metode Penampang 2 Dimensi Secara Manual.

PEKERJAAN RUMAH 5

Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Lerchs-


Grossman

Suatu penampang blok model dengan Net Value untuk tiap-tiap blok
sebagai berikut

-2 -2 -2 -2 -2 -2 -2 -2
-8 3 3 3 3 3 3 -8
-15 1 1 1 1 1 1 -15
-23 -7 -7 -7 -7 -7 -7 -23

V - 20
1. Tulis prosedur dasar untuk penggunaan metode Dynamic Programming
(Lerchs-Grossman) bagi penentuan Ultimate Pit Limit!
2. Berikan komentar atas hasil yang diperoleh!

PEKERJAAN RUMAH 6

Topik : Evaluasi Ekonomi Pit dengan metode Kerucut


Mengambang (Floating Cone)

Wakil Direktur operasi suatu perusahaan pertambangan emas skala kecil


meminta Saudara untuk memeriksa kembali pit yang dihasilkan oleh
stafnya dengan mennggunakan metode floating cone. Data-data ekonomi
yang digunakan untuk floating cone adalah sebagai berikut :

Biaya penambangan per total ton $ 0.591


Biaya pengolahan per ton bijih $ 1.80
Biaya Umum dan Administrasi per ton bijih $ 0.50
Perolehan emas 85.6 %
Harga emas per troy ounce $ 400
Kemiringan lereng 45°
Saudara melakukan perhitungan menggunakan metode floating cone
dengan parameter yang sama dan mendapatkan geometri pit yang lebih
kecil. Gambar 1 menunjukkan pit klien anda dan gambar 2 menunjukkan
hasil perhitungan anda. Dengan perbandingan sebagai berikut:

Perbandingan Hasil Floating Cone.

V - 21
Dengan Cutoff Grade 0.007 oz/ton
Kton bijih Emas (oz/ton) Total Kton
Pit klien 3.160 0.0207 11.010
Pit anda 2.656 0.0219 7.686

Saudara sangat yakin bahwa hasil perhitungan saudara betul, tetapi perlu
didemonstrasikan secara analitis pada kasus ini. Anda memutuskan untuk
melakukan suatu analisis ekonomi pada material pada pit dan pada selisih
perbedaannya.
1. Lakukan analisis ekonomi pada material pit dan increment dengan
melengkapi tabel terlampir. Kadar selisih adalah 0.0144 oz/ton.
Darimana kadar selisih tersebut berasal?
2. Apakah pit klien anda memiliki geometri yang layak pada harga emas
$ 400? Jika ya mengapa? Dan jika tidak mengapa?

Pit Pit anda Selisih


klien
Kton bijih
Kadar emas (oz/ton)
Emas yang dikandung (koz)
Perolehan pengolahan
Emas yang diperoleh (koz)
Kton total yang ditambang
Harga emas ($ per troy oz)
Pendapatan kotor ($x1000)
Biaya penambangan per total ton
Biaya pengolahan per ton bijih
Biaya umum & administrasi per ton
bijih
Biaya penambangan total ($x1000)
Biaya pengolahan total ($x1000)
Biaya umum & administrasi total
($x1000)
Biaya total ($x1000)
Keuntungan bersih ($x1000)
Biaya total per oz yang diperoleh ($)

V - 22
Gambar 1.
Pit Klien

V - 23
Gambar 2.
Pit Anda

V - 24