Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR HADIR KELOMPOK

PEMBELAJARAN INDUSTRI FARMASI

A. JADWAL PELAKSANAAN KULIAH


PERTEMUAN KE 1
TOPIK KE 1
HARI/TANGGAL
PUKUL

B. IDENTITAS KELOMPOK
KELAS
KELOMPOK A
KETUA KELOMPOK
DOSEN

C. DAFTAR HADIR
No No. Urut No. BP Nama Tanda Tangan
Absen
1
2
3
4
5
6
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Lembar Catatan Pertanyaan

A. JADWAL PELAKSANAAN KULIAH


TOPIK 1
HARI/TANGGAL
KELOMPOK A
(Tempat presentasi)

B. IDENTITAS PRESENTER DAN COPRESENTER (nama dan no. Urut absen)


KELOMPOK A
(Kelompok asal)
PRESENTER
COPRESENTER

C. CATATAN PERTANYAAN (Nama penanya dan pertanyaan)


Lembar Penilaian Kelompok

A. JADWAL PELAKSANAAN KULIAH


TOPIK
HARI/TANGGAL
KELOMPOK PENILAI

B. IDENTITAS PRESENTER DAN COPRESENTER (nama dan no. Urut absen)


KELOMPOK
PRESENTER
COPRESENTER

C. RUBRIK PENILAIAN

No Aspek Penilaian Skor Nilai


Baik Baik Agak Kurang Kurang
sekali baik/Cukup sekali/Rendah
5 4 3 2 1
A Presenter
1 Penguasaan materi
2 Sikap
3 Komunikasi
B Peta Konsep
4 Kerapian dan daya
tarik
5 Kejelasan konsep
Total Skor (TS)

Nilai Angka (Konversi)


= TS/25 x 100

CATATAN:
Lembar Catatan Aktivitas Mahasiswa

A. JADWAL PELAKSANAAN KULIAH


TOPIK
HARI/TANGGAL
KELOMPOK

B. IDENTITAS PRESENTER DAN COPRESENTER


PRESENTER 1
PRESENTER 2
COPRESENTER 1
COPRESENTER 2

C. CATATAN PENGAMATAN (SOFT SKILLS)

No Nama Aspek Pengamatan (Diberi skor 1 – 5)


Urut Mahasiswa Kepemimpinan Tanggung Kerjasama Sikap Komunikasi
Absen jawab

Keterangan:

5 : baik sekali, 4 : baik, 3 : agak baik, sedang (cukup), 2 : kurang, 1 : kurang sekali (rendah)
CATATAN (termasuk nilai peta konsep kelompok):

NAMA DOSEN DAN TANDA TANGAN:


MATRIK PEMBELAJARAN MATA KULIAH

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

Pertemuan Bentuk Pembelajaran Pokok Bahasan


Ke
1 Kuliah pengantar ke-1 Kontrak perkuliahan
Review pokok bahasan mata kuliah bagian I
2 Kuliah pengantar ke-2 Review pokok bahasan mata kuliah bagian II
3 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-1
4 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-2
5 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-3
6 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-4
7 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-5
8 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-6
9 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-7
10 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-8
11 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-9
12 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-10
13 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-11
14 Studi kasus Pokok bahasan/topik ke-12
15 Kuliah penutup Review dan resume matakuliah
LEMBARAN KERJA MAHASISWA

MATA KULIAH UU DAN ETIKA PROFESI

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UIVERSITAS ANDALAS

IDENTITAS
Nama
No BP
Kelompok
Pertemuan ke 1
Hari/Tanggal
Pokok Bahasan a. Konsep promosi kesehatan a. determinan
Subpokok Bahasan kesehatan
b. Perilaku kesehatan
c. Masalah kesehatan di Indonesia

A KASUS

Penyakit stroke merupakan penyakit utama di Indonesia. Penderita penyakit stroke


bukan hanya orang dewasa (lanjut usia) tapi juga banyak ditemukan pada masa remaja
(anak-anak)

Instruksi:
a. Carilah data terkait penyakit ini (prevalensi, insidensi, dan lain-lain)
b. Identifikasilah kasus di atas dengan menggunakan diagram tulang ikan atau
pohon masalah.
c. Jelaskan determinan kesehatan untuk kasus ini
d. Jelaskan perilaku penderita dalam pencegahan, kekambuhan penyakit ini
menurut teori green

B KEY WORDS/TERMINOLOGI FARMASI

1. Stroke : Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun general secara akut, lebih
dari 24 jam kecuali pada intervensi bedah atau meninggal, berasal dari gangguan sirkulasi
serebral.
2. Prevalensi : Prevalensi adalah konsep statistic yang mengacu pada jumlah kasus penyakit
yang hadir dalam populasi pada waktu tertentu
3. Insidensi : insidensi mengacu pada jumlah kasus baru yang berkembang dalam periode
waktu tertentu
4. Determinan : faktor penentu dalam kesehatan.
C RUMUSAN KASUS

1. Tingkat prevalensi penyakit stroke


2. Penyebab peningkatan prevalensi
3. Promosi kesehatan dilakukan sebagai solusi dalam penyakit stroke

D PENYELESAIAN KASUS
1. Pengertian
Stroke adalah menifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik loka maupun
mneyeluruh yang berlangsung dengan cepat, dimana gangguan peredaran darah otak
dapat mengakibatkan fungsi otak terganggu dan bila gangguan yang terjadi cukup
besar akan mengakibatkan kematian sebagian otak (infark) (Sustrani, 2004)
2. Patofisiologi
Tekanan darah yang terlalu tinggi pada hipertensi dapat menyebabkan pembuluh
darah yang sudah lemah menjadi pecah, bila hal ini terjadi pada pembuluh darah otak
maka terjadi perdarahan otak yang dapat mengakibatkan kematian. Stroke juga dapat
terjadi akibat gumpalan darah yang macet dan pembuluh darah yang menyempit
(Sustraini, 2004)
3. Tanda dan Gejala
Menurut Soeharto (2002) tanda dan gejala dari stroke :
a. Hilangnya kekuatan (timbulnya gerakan canggung) disalah satu bagian tubuh,
terutama di satu sisi, termasuk wajah, lengan atau tungkai.
b. Rasa baal (hilangnya sesasi) atau sensasi tidak lazim di suatu bagian tubuh
terutama jika hanya satu sisi
c. Hilangnya penglihatan total atau parsial di salah satu sisi
d. Tidak mampu berbicara dengan benar atau memahami bahasa
e. Hilangnya keseimbangan dengan benar, berdiri tidak mantap atau jatuh tanpa
sebab
f. Serangan sementara jenis lain, seperti vertigo, pusing, kesulitan menelan,
kebingungan akut atau gangguan daya ingat
g. Nyeri kepala yang terlalu parah, muncul mendadak
h. Perubahan kesadaran atau kejang
4. Faktor Resiko
Menurut Murni Indrasti (2004) faktor resiko stroke antara lain :
a. Hipertensi
Hipertensi mempercepat arterosklerosis sehingga mudah terjadi kolusi emboli
pada pembuluh darah besar
b. Penyakit jantung
Penyakit jantung koroner, penyakit jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri,
aritmia jantung dan terutama fibrilasi merupakan faktor resiko dari stroke karena
terdapat gangguan pemompaan atau irama jantung, sehingga emboli yang berasal
dari bilik jantung atau vena pulmoner dapat menyebabkan terjadinya infark serebri
yang mendadak
c. Diabetes mellitus
Merupakan faktor resiko dari stroke iskemik dan bila disertai dengan hipertensi
resikonya akan menjadi lebih besar. Diabetes mempunyai keseimbangan internal
ke arah trombogenik.
d. Arterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah sehingga aliran darah terganggu)
e. Viskositas darah
Meningkatnya viskositas atau kekentalan darah baik disebabkan karena
meningkatnya hematokrit dan fibrinogen akan meningkatkan resiko stroke
f. Pernah stroke sebelumnya atau TIA (Transient Iscemia Attack)
Dari semua penderita stroke 50% diantaranya pernah TIA. Beberapa laporan
menyatakan bahwa penderita dengan TIA kemungkinan 1/3 nya akan mengalami
TIA, 1/3 nya tanpa gejala dan 1/3 akan mengalami stroke
g. Peningkatan kadar lemak darah
h. Merokok
i. Obesitas
j. Alkohol

5. Klasifikasi stroke
a. Stroke Iskemia : terjadi karena aliran darah berkurang pada pembuluh darah otak.
Bila darah pasien kental atau aliran lambat maka akan terbentuk bekuan /
trombosis. Trombosis inidapat menghalangi aliran darah otak
b. Stroke haemoragik : terjadi akibat pecahnya dinding pembuluh darah.
6. Prevalensi
Prevalensi penyakit stroke di Indonesia pada tahun 2013 menurut Nakes : Pasien yang
telah didiagnosa stroke : 1.236.825 orang, dan pasien yang diduga gejala penyakit
stroke : 2.137.941 orang.
1. Berdasarkan provinsi :
Provinsi dengan tingkat stroke tertinggi pada provinsi Jawa Barat dengan pasien
penyakit stroke 238. 001 orang dan pasien dengan gejala stroke 533. 895.
Provinsi dengan tingkat stroke terendah pada provinsi Papua Barat dengan pasien
penyakit stroke 2.007 orang dan pasien dengan gejala stroke 2.955 orang.
2. Berdasarkan umur :
Rentang umur pasien dengan penyakit stroke : 45 – 74 tahun
Rentang umur pasien dengan gejala penyakit stroke : 15 – 24 tahun.
3. Berdasarkan jenis kelamin :
Prevalensi penyakit stroke pasien laki – laki lebih banyak dibandingkan
perempuan, namun tingkat kematian yang diakibatkan stroke prevalensi
perempuan lebih tinggi dibandingkan laki – laki. (Riskesdas, 2013)

7. Upaya pencegahan serangan stroke


Menurut Narjanto (200) :
a. Olahraga yang teratur
Dengan melakukan olahraga yang teratur dan dinamis dapat memperbaiki aliran
darah ke otot – otot dan memperbaiki metabolisme otot itu sendiri. Olahraga
seperti jalan kaki dengan cepat, bersepeda sehingga membantu terjadinya
pelebaran pembuluh darah sehingga menurunkan tekanan darah.
b. Diet yang rendah garam
Kemungkinan terjadi stroke pada penderita hipertensi sangat tinggi bila penderita
mengkonsumsi garam dapur terlalu banyak. Orang yang normal bisanya
mengkonsumsi garam dapur antara lain 5-15 gram perhari. Pada penderita
hopertensi dianjurkan makan garam seminimal mungkin sekitar 2 – 3 gram per
hari mengurangi penggunaan garam baik dari garam dapur maupun bahan adiktif
seperti monosodium glutamat, natriumbenzoat, dan natrium bikarbonat dapat
mengurangi terjadinya serangan stroke karena bahan – bahan tersebut dapat
mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam otak dan dapat mengakibatkan
stroke.
c. Mengurangi kegemukan
Orang yang gemuk yang banyak mengonsumsi kalori tinggi mempunyai resiko
besar terjadi hipertensi dan akhirnya biasanya terjadi stroke. Dengan mengurangi
berat badan dapat menurunkan tekanan darah dengan jalan mengurangi asupan
kalori dengan makanan yang kandungan lemaknya rendah, gunakan susu krim
untuk menambah kandungan protein dalam sereal dan sup, serta tidak
menggunakan santan.
d. Autotherapy hipertensi
Menanggulangi stroke pada pasien hipertensi bisa dilakukan dengan cara meditasi,
syaratnya harus dilakukan secara rutin dalam waktu kurang lebih 3 – 4 bulan.
Meditasi dilakukan setiap hari kurang lebih 20 menit, boleh dilakukan pada pagi
hari atau waktu luang.
e. Hentikan merokok
Pengapuran atau pengerasan pembuluh darah yang disebut arterosklerosis
meruapakan akibat pertama kali dari merokok dan juga terjadi kurangnya volume
pasca darah, rokok dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah 2 – 10 menit
setelah dihisap. Karena merangsang saraf untuk mengeluarkan hormon yang bisa
menyebabkan pengerutan pembuluh darah sehingga tensi menjadi naik dan
menyebabkan faktor resiko terjadinya stroke.
f. Memanajemen stress
Perubahan pola hidup yang serba otomatis menyebabkan tubuh kurang gerak dan
perubahan yang meliputi lingkungan, fisik, dan sosial mempengaruhi manusia
menimbulkan stress dengan berbagai menifestasi diantaranya hipertensi, dan dapat
mengakibatkan stroke. Hal ini dapat dicegah dengan cara berusaha relaksasi dalam
menghadapi masalah, melakukan refreashing dan dapat juga dengan mendalami
agama dan berusaha menciptakan keluarga yang bahagia.
8. Determinan kesehatan stroke
D. Perilaku Penderita dalam Pencegahan Kekambuhan Penyakit Stroke menurut Teori
Green

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta
lingkungan.

Teori Lawrence Green (1980)


Perilaku itu ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu :
1.Faktor yang mempermudah (presdisposing factor) yang mencakup pengetahuan dan sikap
masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat
sosial ekonomi, dan sebagainya.
2. Faktor pendukung (Enabling factor) antara lain ketersediaan sarana dan prasarana atau
fasilitas kesehatan bagi masyarakat.
3. Faktor pendorong (Reinforcing factor) yaitu faktor yang memperkuat perubahan perilaku
seseorang yang dikarenakan sikap suami/istri, orang tua tokoh masyarakat atau petugas
kesehatan.

Studi Kasus  Perilaku Penderita dalam Pencegahan Kekambuhan Penyakit Stroke


menurut Teori Green

a. Faktor yang mempermudah (presdisposing factor)


- Diperlukan pengetahuan dan kesadaran penderita stroke tentang manfaat pemeriksaan
kesehatan, yaitu:
i. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaankesehatan (health
promotion behavior), misalnya makan makananyang bergizi, olah raga dan
sebagainya.
ii. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior) adalahrespon untuk
melakukan pencegah penyakit. Misalnya : tidakminum kopi, tidak minum
beralkohol, tidak makan berlemak,menghentikan kebiasaan merokok dan
sebagainya.
iii. Pemeriksaan kadar lemak darah pada penderita hipertensi usia pertengahan dan
usia lanjut mempunyai permasalahan yang berhubungan dengan lemak.
iv. Permasalahan atau problem pembuluh darah pada penderita yang pernah
mengalami serangan iskemik sepintas atau penyempitan pembuluh arteri karotis
harus menjalani pemeriksaan antara lain pemeriksaan gelombang suara ultra untuk
mengetahui keadaan arteri karotis juga dijumpai kelainan dilakukan pemeriksaan
(Murni, 2000).
v. Dengan melakukan olah raga yang teratur dan dinamis dapat memperbaiki aliran
darah ke otot-otot dan memperbaiki metabolisme otot itu sendiri. Olah raga yang
tidak mengeluarkan banyak tenaga misalnya jalan kaki dengan cepat, jogging dan
bersepeda, yang memabantu terjadinya pelebaran pembuluh darah sehingga tensi
menjadi turun, sealin itu menambah kesegaran dan kebugaran jasmani yang nanti
akan meningkatkan daya tahan tubuh penderita menghadapi serangan komplikasi
penyakit hipertensi antara lain stroke.
vi. Kemungkinan terjadi stroke pada penderita hipertensi sangat tinggi bila penderita
mengkonsumsi garam dapur terlalu banyak.

b. Faktor pendukung (Enabling factor)


- perilaku untuk melakukan ataumencari pengobatan. Misalnya : usaha-usaha
mengobati sendiripenyakitnya, atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitaskesehatan
modern (puskesmas, mantri, dokter praktek dansebagainya), maupun ke fasilitas
kesehatan tradisional (dukun,sinshe, dan sebagainya).

- Sumber-sumber dan fasilitas kesehatan harus digali dan dikembangkan dari


masyarakat itu sendiri.Faktor pendukung ada dua macam, yaitu : fasilitas fisik dan
fasilitasumum. Fasilitas fisik yaitu fasilitas-fasilitas atau sarana kesehatan,misalnya
puskesmas, obat-obatan, dansebagainya. Sedangkan fasilitas umum yaitu media
informasi, misalnya TV, koran, majalah.
c. Faktor pendorong (Reinforcing factor)
- D iperlukan sikap saling pengertian antara dokter, perawat, fisioterapist, tim
rehabilitasi lainnya dengan keluarga perihal keadaan penderita.
- Keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan
lingkungannya.
- Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem, maka gangguan yang terjadi pada salah
satu anggota dapat mempengaruhi seluruh sistem, sebaliknya disfungsi keluarga dapat
pula merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan pada anggota.
- Berbagai pelayanan kesehatan bukan tempat penderita seumur hidup tetapi hanya
fasilitas yang membantu pasien dan keluarga mengembangkan kemampuan dalam
mencegah terjadinya masalah, menanggulangi berbagai masalah dan mempertahankan
keadaan adaptif.
- Salah satu faktor penyebab terjadinya stroke berulang adalah keluarga tidak tahu cara
menangani perilaku penderita di rumah (Irdawati, 2009).

Bentuk dukungan keluarga:


1) Dukungan informasional Keluarga berfungsi sebagai kolektor dan diseminator
informasi munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat
menyumbangkan aksi sugestiyang khusus pada individu. Aspek-aspek dalam
dukungan ini adalah nasehat saran, petunjuk dan pemberian informasi. Untuk
pasien stroke diberikan informasi oleh keluarganya tentang: penyakit stroke serta
pengelolaannya.
2) Dukungan penilaian
Keluarga memberikan support, penghargaan, perhatian kepada anggota keluarga
yang pernah mengalami stroke.
3) Dukungan instrumental
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya
keteraturan menjalani terapi, kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan
minum, istirahat, dan terhindarnya penderita dari kelelahan.
4) Dukungan emosional
Keluarga memberikan dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya
kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan sehingga penderita pasca
stroke merasa nyaman dan aman, perasaan dimiliki dan dicintai dalam situasi-
situasi stress.

E PETA KONSEP/MIN MAP


(harus dibuat pada satu halaman khusus dan boleh ditulis tangan)

F RESUME/KESIMPULAN
hipertensi Jantung

Ateroskler
DM
osis

Etiologi dan
patofisiologi Gejala klinik

Pengertian Faktor resiko

Stroke
Determinan
Klasifikasi stroke Kesehatan Stroke

Non-
farmakologi
Iskemik Haemoregik Prevalensi Upaya pencegahan

farmakologi

Jenis
Umur Provinsi
kelamin