Anda di halaman 1dari 31

TUGAS PEMBEKALAN GIZI MASYARAKAT

DESAIN PROGRAM KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU


(BEHAVIOUR CHANGE COMMUNICATION)
“PERILAKU KONSUMSI MAKANAN BERLEMAK DAN BERKOLESTEROL TINGGI, SERTA MAKANAN DIGORENG
TERHADAP KEJADIAN OBESITAS DI KABUPATEN PEKALONGAN, JAWA TENGAH”

Untuk memenuhi tugas Pembekalan Praktik Profesi Gizi Mata Kuliah BCC

Dosen Pengampu:
Ibu Dr. Nurul Muslihah, SP., M.Kes

Disusun oleh:
Mustika Arum Hamengku WPJ. NIM. 170070100111010

PROGRAM STUDI DIETISIEN


JURUSAN GIZI - FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I
ANALISIS SITUASI

1.1. Analisis Masalah


Besaran Masalah (prevalensi dan Perilaku Pencegahan dan Perlakuan
Masalah Kesehatan/Gizi Tingkat Keparahan Sumber
insiden) yang Diharapkan
Meningkatnya prevalensi - Proporsi nasional penduduk Konsumsi makanan berlemak Prevention: Riskesdas, 2013
perilaku konsumsi makanan dengan perilaku konsumsi dan berkolesterol tinggi, serta a. Memberikan edukasi maupun
berlemak dan berkolesterol makanan berlemak, makanan digoreng berlebih konseling terhadap masyarakat Riskesdas, 2007
tinggi, serta makanan digoreng berkolesterol, dan makanan dapat menyebabkan: terkait efek samping konsumsi
dari tahun 2007-2013. gorengan ≥1 kali per hari pada a. Overweight dan obesitas makanan berlemak dan Riskesdas, 2010
tahun 2007 adalah 12,8% dan (Winarno, 2012; Dreon, berkolesterol tinggi, serta
meningkat pada tahun 2013 2008) makanan digoreng berlebih, Riskesdas Jawa
sebesar 40,7%. b. Hipertensi, Diabetes Mellitus melalui media edukasi yang Tengah, 2013
- Menurut Riskesdas 2013, (Winarno, 2012) tepat.
provinsi tertinggi yang memiliki c. Hiperkolesterolemia, b. Membuat inovasi makanan Dreon et al., 2008
perilaku konsumsi makanan aterosklerosis, dan CVD sehat bergizi tinggi dengan
berlemak dan berkolesterol di (Meyes, 2013) proses yang praktis Mela & Saccheti,
atas rerata nasional adalah d. Meningkatkan faktor resiko c. Memperbaiki gaya hidup 2001
Jawa Tengah (60,3%). Dengan mortalitas akibat berbagai seperti rutin melakukan
daerah tertinggi di Jawa penyakit kardiovaskular, aktivitas fisik, mengatur Handayani, 2000
Tengah adalah Kab.Pekalongan degeneratif, dan kronis konsumsi makanan berlemak
(82,4%). (Winarno, 2012; WHO, dan berkolesterol tinggi, serta Winarno, 2012
- Menurut umur, perilaku sering 2005). makanan digoreng , pola
mengonsumsi makanan e. Penyebab utama munculnya makan yang sehat seperti Meyes, 2013
berlemak paling banyak terjadi masalah meningkatnya makan makanan bergizi dan
pada rentang usia 20-24 tahun prevalensi tingkat konsumsi seimbang, selalu memantau WHO, 2005
(62,4%), dan terbanyak kedua makanan berlemak dan berat badan untuk menghindari
pada rentang usia 14 – 19 berkolesterol tinggi, serta overweight atau obesitas
tahun (61,8%) (Riskesdas makanan digoreng berlebih, d. Memberikan pelatihan kepada
Jateng, 2013). adalah: tenaga kesehatan daerah dan
- Menurut jenis kelamin, pola f. Kurangnya edukasi maupun kader desa terkait komunikasi
prevalensi untuk konsumsi konseling terhadap dalam menyampaikan
makanan yang berlemak, masyarakat terkait efek informasi yang sesuai dengan
perempuan (61,7%) lebih besar samping konsumsi makanan pemasalahan.
daripada laki-laki (58,9%) berlemak dan berkolesterol e. Meningkatkan koordinasi
(Riskesdas Jateng, 2013). tinggi, serta makanan antara tenaga kesehatan (baik
- Kondisi obesitas berhubungan digoreng berlebih. di pusat maupun di masing-
dengan diet tinggi lemak g. Mudahnya akses untuk masing daerah/desa) dengan
(Dreon et al., 2008) dan mendapatkan makanan kader di tiap desa.
preferensi pada makanan berlemak dan berkolesterol f. Pendekatan dan strategi mulai
berlemak (Mela & Sacchetti, tinggi, serta makanan dari tingkat provinsi/daerah
2001). digoreng karena seringnya hingga tingkat desa melalui
- Penelitian Handayani (2000) disajikan di rumah dan pendekatan ToT (Training of
menunjukkan bahwa wanita lingkungan sekitar. Trainers).
yang obes (33,3%) lebih h. Kurangnya aktifitas fisik
Treatment:
menyukai makanan tinggi dapat menyebabkan berat
Memberikan edukasi dan konseling
lemak seperti gulai, rendang badan berlebih atau obesitas
kepada masyarakat (remaja puteri
dan tunjang dibandingkan i. Kurangnya kesadaran pada dan wanita usia subur awal) dengan
wanita tidak obes (16,7%) serta diri sendiri akan bahaya rentang usia 13 – 25 tahun yang
hanya sedikit dari mereka yang konsumsi makanan sudah atau beresiko
menyukai buah (6,7%) dan berlemak tinggi dan overweight/obesitas beserta anggota
sayur (13,3%). digoreng yang umumnya keluarga terdekat (istri/suami/orang
- Prevalensi obesitas sentral mengandung lemak , tua/teman/tetangga) terkait pola
dengan IMT ≥ 25 (faktor resiko kolesterol, dan energi yang hidup dan makan yang sehat serta
yang berkaitan erat dengan sangat tinggi yang dapat dampak buruk dari kebiasaan
beberapa penyakit degeneratif meningkatkan kelebihan mengonsumsi makanan berlemak
dan kronis) di Kabupaten berat badan dan berkolesterol tinggi, serta sering
Pekalongan, Jawa Tengah pada j. Kurangnya koordinasi antara mengonsumsi makanan digoreng
tahun 2013 adalah sebesar tenaga kesehatan pusat dengan menggunakan berbagai
20,3%. dengan tenaga kesehatan di media seperti flipchart dan
- Pada tahun 2013, prevalensi daerah dalam mengusung kegiatan yang
obesitas perempuan dewasa menyampaikan informasi mengutamakan pada peningkatan
(>18 tahun) 32,9 persen, naik terkait konsumsi makanan pengetahuan dan pengalaman
18,1 persen dari tahun 2007 berlemak dan berkolesterol sehingga mampu mempraktikkan
(13,9%) dan 17,5 persen dari tinggi, serta makanan sendiri materi-materi edukasi yang
tahun 2010 (15,5%). digoreng berlebih. telah diberikan.
k. Belum ada atau kurangnya Edukasi tersebut terdiri dari :
pendekatan dan strategi a. Memberikan contoh makanan
mulai dari tingkat makanan yang sehat seperti
provinsi/daerah hingga makan makanan bergizi
tingkat desa. seimbang beserta cara
pengolahannya yang
dianjurkan
b. Menjelaskan mengenai dampak
buruk dari mengonsumsi
makanan berlemak dan
berkolesterol tinggi.
c. Menjelaskan bahaya dari
obesitas seperti dapat
menurunkan derajat kesehatan
dan lebih beresiko mengalami
penyakit degeneratif
d. Melakukan aktifitas fisik seperti
berolahraga minimal 30 menit
setiap hari
e. Menjelaskan manfaat dari pola
hidup dan makan yang sehat
bagi tubuh dan kesehatan.
f. Memantau berat badan agar
terhindar dari obesitas
1.2. Analisis Target Sasaran
1.2.1. Identifikasi Target Sasaran
a. Target sasaran utama/primer
Sasaran utama/prioritas yang akan mendapatkan informasi, edukasi dan
konseling terkait konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta makanan
digoreng adalah remaja puteri dan wanita usia subur awal dengan rentang usia 13 –
25 tahun, diutamakan yang memiliki status gizi overweight dan obesitas. Jumlah
target sasaran dalam program ini adalah minimal 15 orang remaja putri dan 15 orang
wanita usia subur awal.
Apabila sasaran utama sudah dapat merubah perilakunya untuk tidak
mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta makanan digoreng
secara berlebih, maka dapat dipastikan bahwa kejadian tingkat konsumsi makanan
berlemak dan berkolesterol tinggi, serta makanan digoreng berlebih, bahkan resiko
atau tingkat obesitas akan menurun prevalensinya.
Motivasi secara interpersonal menjadi sangat penting sekali guna keberhasilan
program karena sasaran utama membutuhkan pendekatan yang mampu
mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya dalam menjalankan edukasi yang
telah diberikan. Dalam hal ini, motivasi dapat diberikan mulai dari kepada orang
terdekat yaitu keluarga yang tinggal satu atap dengan sasaran utama, namun yang
dapat memberikan informasi terkait edukasi dan konseling yang tepat yaitu dari
tenaga kesehatan setempat dan juga trainers yang telah terlatih (kader). Koordinasi
yang baik antara kader dan tenaga kesehatan baik di pusat, daerah/provinsi, maupun
masing-masing desa dapat meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi sasaran
utama untuk menjalankan edukasi yang telah diberikan.
Selain itu, diharapkan teman-teman maupun tetangga di satu desa atau satu
sekolah dengan sasaran utama juga memiliki antusiasme tinggi untuk mempelajari
informasi dan menerima materi edukasi sehingga dapat menjadi bentuk dukungan
untuk satu sama lain.
b. Target sasaran sekunder/pendukung
Sasaran sekunder/pendukung yang akan mendapatkan pelatihan terkait
informasi, edukasi dan konseling terkait konsumsi makanan berlemak dan
berkolesterol tinggi, serta makanan digoreng adalah tenaga kesehatan yang berada di
tingkat provinsi maupun tenaga kesehatan dan kader yang berada di tingkat desa.
Pelatihan ini dilakukan melalui pendekatan ToT (Training of Trainers),
pelatihan BCC dimulai dari tingkat provinsi untuk mendapatkan fasilitator provinsi.
Kurang lebih 15 – 20 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan institusi di
Provinsi Jawa Tengah, di antaranya: Dinas Kesehatan, BKKBN, Biro Pemberdayaan
Perempuan, Bappeda, Tim Penggerak PKK, dan tokoh agama, mengikuti pelatihan
yang berlangsung selama lima hari kerja.
Selanjutnya para fasilitator provinsi ini diberi kesempatan untuk melatih diri
dengan cara memfasilitasi perlatihan BCC di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah,
terutama di Kabupaten Pekalongan.

1.2.2. Karakteristik Target Sasaran Utama


Sosio-Demografi Geografi Psikografik Jalur Komunikasi Peluang lainnya
- Perempuan Kabupaten - Menginginkan - Sumber informasi - Sasaran sering
- Usia 13-25 tahun Pekalongan, bentuk badan yang yang digunakan meluangkan
- Diutamakan Provinsi Jawa ideal. dalam kurun waktu bersama
memiliki status gizi Tengah - Menginginkan lebih waktu: keluarga di
overweight/obesit banyak informasi a. Sering: rumah dan
as terkait kesehatan televisi, bersosialisasi
- Berbahasa yang diberikan. informasi dengan teman-
Indonesia atau - Menginginkan dari orang teman sekolah,
Jawa adanya informasi terdekat teman satu
- Suku Jawa terkait pemanfaatan (keluarga permainan di
- Tingkat bahan pangan lokal dan desa, dan
pengetahuan yang dapat dijadikan tetangga), tetangga.
beragam makanan sendiri di media sosial - Sasaran aktif
rumah  merajuk (twitter, mengikuti
ke penghematan facebook, kegiatan yang
biaya pengeluaran instagram, diadakan oleh
untuk makan dsb) kepala desa,
maupun jajan. b. Jarang: sekolah, dan
media instansi terkait.
lainnya
- Sumber informasi
secara umum:
keluarga
- Sumber informasi
kesehatan: kader
kesehatan
desa/daerah,
fasilitator provinsi
(termasuk sangat
jarang)
Sumber: Sumber: Sumber: Sumber:
Data Kependudukan Wawancara langsung Wawancara Wawancara
kepada sasaran langsung kepada langsung kepada
sasaran sasaran
Faktor Pendukung
Karakteristik Faktor Penghambat
Sasaran Media yang Peluang Perilaku Saat untuk
Demografi & Pengetahuan, Sikap dan Persepsi untuk Meningkatkan
Prioritas Disarankan Lainnya Ini Meningkatkan
Psikografik Perilaku
Perilaku
- Remaja putri - Perempuan - Media lini - Sasaran (Terlampir) Terdapat keragaman terkait (Terlampir) (Terlampir)
- Wanita usia - Usia 13-25 tahun atas: sering pengetahuan sasaran utama jika
subur awal - Diutamakan melalui meluangka dikaitkan dengan konsumsi
memiliki status radio dan n waktu makanan berlemak, berkolesterol
gizi overweight/ televisi bersama tinggi dan makanan digoreng.
obesitas dan (radio spot, keluarga di Ada beberapa sasaran utama
yang berisiko talk show, rumah dan yang sudah mengetahui contoh
- Berbahasa dan DBU bersosialisa makanan dan pengolahan yang
Indonesia atau (Developm si dengan baik namun belum memiliki
Jawa ent teman- motivasi untuk menerapkannya,
- Suku Jawa Broadcasti teman dan ada juga sasaran yang belum
- Tingkat ng Unit)) sekolah, mengetahui.
pengetahuan - Media teman satu Namun jika disamakan secara
beragam cetak: permainan keseluruhan, sasaran utama ingin
- Menginginkan flipchart, di desa, dan menerima informasi baru terkait
bentuk badan booklet, tetangga. peningkatan kesehatan bagi
yang ideal. poster, - Sasaran dirinya.
- Menginginkan banner, aktif
lebih banyak komik, dan mengikuti
informasi terkait cerita kegiatan
kesehatan yang bergambar. yang
diberikan. - Food diadakan
- Menginginkan model oleh kepala
adanya informasi - Media desa,
terkait sosial sekolah,
pemanfaatan (twitter, dan instansi
bahan pangan facebook, terkait.
lokal yang dapat instagram,
dijadikan dsb)
makanan sendiri
di rumah 
merajuk ke
penghematan
biaya pengeluaran
untuk makan
maupun jajan.
1.2.3. Analisis Perilaku Saat Ini pada Target Sasaran Utama
Analisis perilaku saat ini pada target sasaran utama adalah sebagai berikut:
- Saat ini sasaran utama masih kurang memperhatikan kebutuhan zat gizi sehari-harinya.
Hal ini disebabkan karena kurang adanya informasi yang diterima oleh sasaran utama.
Keterbatasan informasi terkait contoh bentuk makanan dan pengolahan bahan
makanan yang tepat pun menjadi salah satu masalah mengapa sasaran utama kurang
termotivasi untuk memperbaiki pola makannya.
- Keterbatasan informasi mengenai bahaya dari mengonsumsi makanan berlemak dan
berkolesterol tinggi, serta makanan digoreng berlebih.
- Keterbatasan informasi mengenai kurangnya aktifitas fisik yang dapat menyebabkan
obesitas.
- Keterbatasan informasi mengenai pola makan yang sehat dengan makan makanan
sehat dan gizi seimbang.
- Belum pernah berkoordinasi dengan konsultasi ke ahli gizi puskesmas, dokter atau
tenaga kesehatan lainnya.

1.2.4. Analisis Hambatan (Barrier) dan Pendukung (Fasilitator)


a. Faktor Pendukung (Fasilitator)
- Keluarga yang tinggal satu atap dengan sasaran utama dapat memberikan
dukungan nyata seperti membantu mempraktikkan bentuk makanan dan cara
mengolah makanan yang tepat dan bergizi seimbang.
- Kader dan tenaga kesehatan yang sudah dipercaya di daerah/desa sudah terlatih
dalam memberikan informasi dan melaksanakan praktik.
- Teman-teman maupun tetangga di satu desa atau sekolah juga memiliki
antusiasme tinggi untuk mempelajari informasi dan menerima materi maupun
manfaat dari edukasi sehingga dapat menjadi bentuk dukungan untuk satu sama
lain.

b. Faktor Penghambat (Barrier)


Seleksi Peserta Pelatihan (Fasilitator)
Salah satu kesulitan dalam seleksi peserta pelatihan KPP adalah memilih peserta dari
mitra kegiatan BCC. Kriteria peserta pelatihan yang disyaratkan untuk mengikuti
pelatihan BCC terkadang sulit untuk dipenuhi. Salah satu sebabnya adalah karena
rekomendasi calon peserta pelatihan terkadang bukan kepada staf yang sesuai dengan
bidang yang terkait dengan komunikasi. Akibatnya peserta yang bersangkutan
mengalami kesulitan untuk memahami konsep komunikasi yang diberikan dalam
pelatihan.
Jalan Keluar: Calon pelatih harus diberi informasi yang jelas terlebih dahulu tentang
apa itu BCC, manfaat untuk institusinya, siapa staf yang bisa mengikuti pelatihan BCC,
dan sebagainya. Dengan demikian, peserta pelatihan akan lebih sesuai dengan bidang
dan minatnya.

Hambatan lain:
- Adanya mutasi pegawai yang merupakan calon fasilitator atau fasilitator resmi
kegiatan BCC.
(Jalan Keluar: Alternatif jalan keluar untuk masalah ini adalah dengan
memanfaatkan tenaga ahli lokal, misalnya tenaga pensiunan dari Dinas
Kesehatan/BKKBN. Pengetahuan dan pengalaman mereka akan dapat memperkaya
implementasi program BCC yang dikembangkan. Alternatif lainnya adalah
melibatkan tenaga widyaiswara yang sesuai dari BAPELKES (Balai Pelatihan
Kesehatan) di Dinas Kesehatan setempat).
- Keterbatasan dana untuk mengimplementasikan program BCC di kabupaten.
(Jalan Keluar: Diperlukan upaya advokasi dari staf Promkes Dinas Kesehatan
kabupaten/kota untuk memasukkan dana implementasi program KPP ke dalam
APBD kabupaten/kota. Advocacy tools, seperti leaflet, booklet dan film bisa
digunakan untuk mengubah pola pandang anggota dewan terhadap perlunya
upaya promosi kesehatan yang dilakukan secara terfokus, sistematis, dan terus
menerus).
- Masih kuatnya ego sektoral, dan tidak adanya data pendukung untuk membaca”
situasi lapangan, misalnya data epidemiologi di tingkat Kabupaten/kota terkait PSP
(Pengetahuan, Sikap dan Perilaku) sasaran utama.
- Jenis bahan pangan lokal yang terbatas membuat sasaran utama kesulitan untuk
memvariasikan dan menyesuaikan kebutuhan zat gizi setiap harinya.
- Terbatasnya akses pangan daerah/desa terhadap makanan sehat dan bergizi.
- Sasaran utama tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk dapat menerima
informasi, edukasi, dan konseling dari tenaga kesehatan dan fasilitator provinsi
maupun daerah.
- Keluarga dari sasaran utama yang masih mempercayai food taboo yang dianut oleh
warga sekitar dimana sasaran utama tersebut tinggal.
- Kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat sasaran utama.
- Fasilitator yang kurang terampil atau terlatih dalam melaksanakan BCC terkait
permasalahan.
- Belum adanya atau sulitnya perijinan terkait kegiatan BCC.
1.2.5. Analisis Segmentasi Target Sasaran
1.2.5.1. Identifikasi segmentasi target sasaran utama berdasarkan perbedaan sosio-demografi, geografi, tahapan perubahan perilaku, psikografik
(kebutuhan, harapan, keinginan, aspirasi)
Possible Segment by:
Potential Audience(s) Socio-demographic
Geographic Differences Behavioral Differences Psychographic Differences
differences
Remaja putri yang sudah 13-18 tahun, sedang - Sekolah Sudah mengetahui namun belum Sulit merubah kebiasaan,
atau beresiko overweight/ sekolah/kuliah, belum - Universitas menerapkan pola hidup yang sehat terutama dalam hal pola
obesitas menikah makan dan gaya hidup

13-18 tahun, sudah - Tempat kerja Belum mengetahui dampak buruk Ingin lebih baik kondisi
bekerja/tidak bekerja, - Rumah tempat dari konsumsi makanan berlemak kesehatan seperti memliki
sudah menikah tinggal dan berkolesterol tinggi, serta berat badan yang ideal
makanan digoreng berlebih
Belum mengetahui bahaya dari
obesitas
Wanita usia subur awal 19-25 tahun, sedang Universitas Sudah mengetahui namun belum Sulit merubah kebiasaan,
yang sudah atau beresiko sekolah/kuliah, belum menerapkan pola hidup yang sehat terutama dalam hal pola
overweight/obesitas menikah makan dan gaya hidup
19-25 tahun, sudah Tempat kerja Belum mengetahui dampak buruk Ingin lebih baik kondisi
bekerja/tidak bekerja, Rumah tempat tinggal dari konsumsi makanan berlemak kesehatan, baik dirinya dan
sudah menikah dan berkolesterol tinggi, serta keluarganya
makanan digoreng berlebih
Belum mengetahui bahaya dari
obesitas

Possible Segments by Possible Segments by Possible Segments


Possible Segments by Possible Segments by Demographic
Potential Audiences Stage of Behavioral Sociocultural by Other
Geographic Differences** Differences***
Change* Differences**** Differences

Remaja putri yang sudah Peduli Sekolah, Universitas 13-18 tahun, sedang sekolah/kuliah, belum mempunyai
atau beresiko belum menikah penghasilan sendiri
overweight/obesitas Peduli Tempat kerja, Rumah 13-18 tahun, sudah bekerja/tidak Sudah mempunyai
bekerja, sudah menikah penghasilan sendiri
Wanita usia subur awal Peduli Sekolah, Universitas 19-25 tahun, sedang sekolah/kuliah, belum mempunyai
yang sudah atau belum menikah penghasilan sendiri
beresiko Peduli Tempat kerja, Rumah 19-25 tahun, sudah bekerja/tidak Sudah mempunyai
overweight/obesitas bekerja, sudah menikah penghasilan sendiri
* knowledge, approval, intention, practice, advocacy
** region, city, urban/rural
*** age, gender, marital status, number of children, education, occupation
**** language, culture, religion, ethnicity, social class
Potential Audience Estimate how many Does this group require How important is it to How likely is it that they Does the program have
Segment people are in this specially prepared achieving the program will change in the the resources for a
audience communication messages goals that this group timeframe of the behavior change
and materials? changes its behavior? communication program? communication program
for this group?
Sasaran Target Utama : 30 Ya Sangat penting Cukup dapat merubah Ya
Remaja putri dan wanita perilaku
usia subur awal yang
sudah atau beresiko
overweight/obesitas
Keluarga terdekat : orang 30 Ya Sangat penting Cukup dapat merubah Ya
tua, suami, istri perilaku
Ahli gizi yang berwenang 1 Ya Sangat penting Cukup dapat merubah Ya
perilaku
Tenaga kesehatan lainnya 5 Ya Sangat penting Cukup dapat merubah Ya
perilaku
Kader atau fasilitator 15 Ya Sangat penting Cukup dapat merubah Ya
perilaku
1.2.5.2. Analisis segmentasi target sasaran berdasarkan ukuran/besar (%populasi), kepentingan kesehatan masyarakat (public health), peluang
responsive pada upaya komunikasi dan buat ranking dari masing-masing kategori
Likelihood that Based on these
Based on these
Audience will be considerations, will
Size of Audience Importance to Public considerations, is it necessary
Audience responsive to Rating focusing only on this
Segment Health that we include this audience
communication audience be enough to
in our strategy?
efforts achieve our program goals?
A B C =A+B+C
Rating %Pop Rating Importance Rating Likely
1 1–5 1 Not at all 1 Not at all
2 6 – 10 2 2
3 11 – 15 3 Somewhat 3 Somewhat
4 16 – 20 4 4
5 >20 5 Very 5 Very
Target sasaran 5 5 5 15 Yes No
utama
Keluarga terdekat 5 5 5 15 Yes No
Ahli gizi yang 1 5 5 11 Yes No
berwenang
Tenaga kesehatan 1 5 5 11 Yes No
Kader atau 3 5 5 13 Yes No
fasilitator
1.2.5.3. Strategi setiap tahap/fase dari setiap segmentasi target sasaran utama
Audience Segments Phase 1 Strategy Phase 2 Strategy Phase 3 Strategy Rationale for Phasing
Pengambil kebijakan, Membuat keputusan atau peraturan Mengajak kepala dinas atau kepala Mendukung warga untuk -
audien primer mengenai program ini demi kesehatan desa, atau orang yang berpengaruh mengikuti program serta
warganya, terutama yang sudah atau pada desa tersebut untuk mendukung dan mendampingi
beresiko overweight/obesitas membantu warga dalam mengikuti warga dalam melaksanakan dan
dan menerapkan program yang menerapkan program
dilakukan
Praktisi (tenaga Memberitahukan kepada praktisi Melaksanakan program edukasi Melanjutkan program dengan Dalam pelaksanaan program,
kesehatan) dan tenaga kesehatan lain (tenaga dinas dan konsultasi gizi untuk warga mengajak atau mengundang praktisi dan tenaga lainnya yang
yang membantu dalam kesehatan, ahli gizi, dokter , kader kabupaten Pekalongan yang sudah praktisi lain, seperti ahli gizi bergabung dalam pelaksanaan
melaksanakan program posyandu) untuk bekerjasama dalam atau beresiko obesitas serta yang sudah berpengalaman di program berusaha membuat
melaksanakan program ini, yaitu mengubah kebiasaan puskesmas, untuk memberikan model atau media edukasi yang
bekerjasama dalam pemberian edukasi mengonsumsi makanan berlemak edukasi kepada warga di sesuai dan dapat dipahami oleh
ataupun kegiatan yang lain untuk dan berkolesterol tinggi, serta kabupaten Pekalongan audien. Media edukasi tersebut
mengubah perilaku warganya, yaitu makanan digoreng berlebih dapat menggambarkan maksud
merubah kebiasaan mengonsumsi dari penyampaian atau isi edukasi
makanan berlemak dan berkolesterol yang akan disampaikan ke
tinggi, serta makanan digoreng audiens.
berlebih
Kader atau fasilitator Secara langsung memberikan edukasi Memfasilitatori kegiatan Mendampingi dan mengawasi Dalam pelaksanaan program,
program dan konseling gizi terkait materi perubahan perilaku langsung target sasaran utama dalam kader/fasilitator yang bergabung
komunikasi perubahan perilaku pada kepada target sasaran utama. pelaksanaan monitoring dan dalam pelaksanaan program
target sasaran utama. evaluasi pasca kegiatan berusaha membuat model atau
komunikasi perubahan perilaku. media edukasi yang sesuai dan
dapat dipahami oleh audien.
Media edukasi tersebut dapat
menggambarkan maksud dari
penyampaian atau isi edukasi
yang akan disampaikan ke
audiens.
Keluarga Mendorong atau memotivasi Mendorong atau memotivasi - Dalam pelaksanaan program ini,
keluarganya yang sudah atau beresiko keluarganya yang sudah atau keluarga dapat bergabung dalam
obesitas untuk menghindari konsumsi beresiko obesitas untuk pelaksanaan program dengan
makanan berlemak dan berkolesterol mengontrol berat badan dan memberikan motivasi dan
tinggi, serta makanan digoreng melakukan aktifitas fisik seperti dukungan kepada target sasaran
berlebih olahraga utama untuk mengubah pola
hidupnya
Remaja putri dan wanita Memberikan edukasi dan konseling Mengusung kegiatan yang -
usia subur awal yang terkait pola hidup dan makan yang mengutamakan pada peningkatan
sudah atau beresiko sehat serta dampak buruk dari pengetahuan dan pengalaman
overweight/obesitas kebiasaan mengonsumsi makanan sehingga mampu mempraktikkan
berlemak dan berkolesterol tinggi, sendiri materi-materi edukasi yang
serta sering mengonsumsi makanan telah diberikan.
digoreng dengan menggunakan
berbagai media seperti flipchart, dll
1.2.6. Analisis Pihak Pemberi Pengaruh Target Sasaran Utama
Pelaksanaan intervensi gizi perilaku konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol
tinggi, serta makanan digoreng berlebih terhadap kejadian obesitas di Kabupaten Pekalongan

Jawa Tengah membutuhkan koordinasi dan kerjasama dengan tenaga kesehatan lain, baik
dari puskesmas maupun dari pihak dinas kesehatan. Dalam hal ini, dietitien dan tenaga
kesehatan lainnya diharapkan bisa berkomunikasi serta melatih kader/fasilitator terkait
permasalahan yang ada. Sehingga dietitien dapat memberikan konseling atau mengadakan
penyuluhan terkait obesitas. Sebelum melakukan konseling atau penyuluhan akan lebih baik
jika dietitien berdiskusi dan memberikan informasi kepada tenaga kesehatan lainnya agar
dapat membantu program yang nanti akan diadakan. Selain itu, kerjasama dan diskusi
dengan dokter maupun tenaga kesehatan lainnya juga penting untuk saling membantu
dalam pelaksanaan intervensi. Pihak yang akan memberikan intervensi mengenai obesitas
yaitu dietiten. Namun dalam pelaksanaanya intervensi ini dokter, tenaga kesehatan, dan dari
pihak dinas kesehatan dapat ikut serta dalam pelaksanaan intervensi yang dilakukan kepada
warga kabupaten Pekalongan.
Pelatihan kader/fasilitator dilakukan melalui pendekatan ToT (Training of Trainers),
pelatihan BCC dimulai dari tingkat provinsi untuk mendapatkan fasilitator provinsi. Kurang
lebih 15 – 20 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan institusi di Provinsi Jawa
Tengah, di antaranya: Dinas Kesehatan, BKKBN, Biro Pemberdayaan Perempuan, Bappeda,
Tim Penggerak PKK, dan tokoh agama, mengikuti pelatihan yang berlangsung selama lima
hari kerja. Selanjutnya para fasilitator provinsi ini diberi kesempatan untuk melatih diri
dengan cara memfasilitasi perlatihan BCC di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah,
terutama di Kabupaten Pekalongan.
Sasaran utama/prioritas yang akan mendapatkan informasi, edukasi dan konseling
terkait konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta makanan digoreng
adalah remaja puteri dan wanita usia subur awal dengan rentang usia 13 – 25 tahun,
diutamakan yang memiliki status gizi overweight dan obesitas. Jumlah target sasaran dalam
program ini adalah minimal 15 orang remaja putri dan 15 orang wanita usia subur awal.
Apabila sasaran utama sudah dapat merubah perilakunya untuk tidak mengonsumsi
makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta makanan digoreng secara berlebih, maka
dapat dipastikan bahwa kejadian tingkat konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol
tinggi, serta makanan digoreng berlebih, bahkan resiko atau tingkat obesitas akan menurun
prevalensinya.
Motivasi secara interpersonal menjadi sangat penting sekali guna keberhasilan
program karena sasaran utama membutuhkan pendekatan yang mampu mengembangkan
pengetahuan dan kemampuannya dalam menjalankan edukasi yang telah diberikan. Dalam
hal ini, motivasi dapat diberikan mulai dari kepada orang terdekat yaitu keluarga yang
tinggal satu atap dengan sasaran utama, namun yang dapat memberikan informasi terkait
edukasi dan konseling yang tepat yaitu dari tenaga kesehatan setempat dan juga trainers
yang telah terlatih (kader). Koordinasi yang baik antara kader dan tenaga kesehatan baik di
pusat, daerah/provinsi, maupun masing-masing desa dapat meningkatkan kepercayaan diri
dan motivasi sasaran utama untuk menjalankan edukasi yang telah diberikan.
Selain itu, diharapkan teman-teman maupun tetangga di satu desa atau satu sekolah
dengan sasaran utama juga memiliki antusiasme tinggi untuk mempelajari informasi dan
menerima materi edukasi sehingga dapat menjadi bentuk dukungan untuk satu sama lain.
1.3. Analisis Jalur Komunikasi
Category of
Communication Manager Channel/Format Key Messages Intended Audiences
Communication*
Interpersonal Kader/fasilitator, bidan Posyandu atau - Hindari konsumsi makanan berlemak dan Warga atau penduduk
penyuluh, ahli puskesmas berkolesterol tinggi, serta sering mengonsumsi yang sudah atau berisiko
gizi/dietisien puskesmas Media cetak makanan digoreng overweight/obesitas,
dan dokter seperti (leaflet, - Contoh makanan makanan yang sehat seperti khususnya remaja putri
poster, flipchart, makan makanan bergizi seimbang beserta cara dan wanita usia subur
dll) pengolahannya yang dianjurkan. awal
- Dampak buruk dari mengonsumsi makanan Keluarga responden
berlemak dan berkolesterol tinggi. (suami/istri/orang tua)
- Bahaya dari obesitas seperti dapat menurunkan
derajat kesehatan dan lebih beresiko
mengalami penyakit degeneratif.
- Anjuran beraktifitas fisik seperti berolahraga
minimal 30 menit setiap hari
- Manfaat dari pola hidup dan makan yang sehat
bagi tubuh dan kesehatan.
- Pemantauan berat badan agar terhindar dari
obesitas
Community-oriented NGO Media sosial - Hindari konsumsi makanan berlemak dan Warga atau penduduk
(twitter, instagram, berkolesterol tinggi, serta mengonsumsi yang sudah atau berisiko
facebook, dll) makanan digoreng berlebih overweight/obesitas,
Pembuatan aplikasi - Contoh makanan makanan yang sehat seperti khususnya remaja putri
telepon seluler makan makanan bergizi seimbang beserta cara dan wanita usia subur
Media massa (TV, pengolahannya yang dianjurkan. awal
radio, dll) - Dampak buruk dari mengonsumsi makanan Keluarga responden
berlemak dan berkolesterol tinggi. (suami/istri/orang tua)
- Bahaya dari obesitas seperti dapat menurunkan
derajat kesehatan dan lebih beresiko
mengalami penyakit degeneratif.
- Anjuran beraktifitas fisik seperti berolahraga
minimal 30 menit setiap hari
- Manfaat dari pola hidup dan makan yang sehat
bagi tubuh dan kesehatan.
- Pemantauan berat badan agar terhindar dari
obesitas
BAB II
RANCANGAN STRATEGIS PROGRAM

2.1. Tujuan Program dan Perubahan Perilaku


2.1.1. Tujuan Komunikasi Perubahan Perilaku
Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) atau Behaviour Change Communication (BCC)
adalah model pendekatan komunikasi untuk mengubah perilaku masyarakat secara sukarela
dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi. Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP)
dikatakan penting karena faktor perilaku sangat berkontribusi pada baik buruknya kualitas
kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat. Sementara itu, di sisi lain, masih banyak
perencana program kesehatan baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten yang kurang
memahami secara mendalam tentang perilaku masyarakat yang akan diintervensi. Bagi para
perencana program itu, mengubah perilaku masyarakat dilakukan dengan memberi paparan
melalui satu-dua media informasi secara terus-menerus tentang "perilaku ideal". Kesalahan
kedua yang sering ditemukan adalah memuat banyak pesan dalam satu kemasan. Akibatnya,
media yang dipakai menjadi sesak pesan, dan hasilnya masyarakat sasaran kurang dapat
menangkap tawaran "perilaku ideal" yang ingin diperkenalkan. Kurangnya pemahaman para
perencana program terhadap perilaku kelompok sasarannya ini, utamanya yang berkaitan
dengan faktor penghalang, motivasi, dan pendukung, serta kurangnya keahlian dalam
memanfaatkan media dalam konteks model perubahan perilaku, sering membuat desain
program menjadi kurang tajam (Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal
Health, 2013).
Komunikasi yang dilakukan pada kegiatan ini adalah komunikasi pada saat konseling
ataupun penyuluhan yang dilakukan kader, dietitien, dokter atau tenaga kesehatan lainnya
bertujuan ntuk memberikan pengaruh secara langsung dan tidak langsung terkait
pengetahuan dan perilaku sikap target sasaran utama untuk menjaga status gizi dan
kesehatannya. Responden yang sudah atau berisiko overweight/obesitas diharapkan dapat
mengubah pola hidup dengan tidak mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol
tinggi, serta mengonsumsi makanan digoreng berlebih serta lebih rajin untuk melakukan
aktifitas fisik untuk mengurangi berat badan. Responden yang beresiko obesitas dapat
meningkatkan aktifitas fisik dan mengurangi konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol
tinggi, serta mengonsumsi makanan digoreng berlebih.
Perubahan perilaku pada sasaran bertujuan untuk menurunkan prevalensi obesitas
akibat sering mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta mengonsumsi
makanan digoreng berlebih serta diharapkan dapat memberikan pengaruh kepada
masyarakat agar menjalani pola hidup yang sehat dengan cara menghindari konsumsi
makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta mengonsumsi makanan digoreng berlebih
dan meningkatkan aktivitas fisik agar tidak memiliki berat badan berlebih dan obesitas.

2.1.2. Tujuan Program/Project BCC


Tujuan diadakannya program komunikasi perubahan perilaku ini diantaranya adalah sebagai
berikut.
- Secara umum, menurunkan prevalensi obesitas akibat sering mengonsumsi makanan
berlemak dan berkolesterol tinggi, serta mengonsumsi makanan digoreng berlebih di
Indonesia pada umumnya dan kabupaten Pekalongan khususnya.
- Secara khusus, menurunkan prevalensi konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol
tinggi, serta mengonsumsi makanan digoreng berlebih di Indonesia pada umumnya dan
kabupaten Pekalongan khususnya.
- Untuk memperbaiki perilaku target sasaran utama yaitu remaja putri dan wanita usia
subur agar rutin memperhatikan pola hidup sehat, terutama asupan makan sehari-hari
dengan menghindari makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta mengonsumsi
makanan digoreng berlebih, serta rutin beraktifitas fisk.
- Memberikan informasi terkait pola makan yang tepat dengan memperhatikan asupan
zat gizi, sehingga dapat memperbaiki status gizi target sasaran utama.
- Meningkatkan pengetahuan terkait contoh makanan makanan yang sehat seperti
makan makanan bergizi seimbang beserta cara pengolahannya yang dianjurkan,
dampak buruk dari mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, bahaya
dari obesitas seperti dapat menurunkan derajat kesehatan dan lebih beresiko
mengalami penyakit degeneratif, anjuran beraktifitas fisik seperti berolahraga minimal
30 menit setiap hari, manfaat dari pola hidup dan makan yang sehat bagi tubuh dan
kesehatan, dan pemantauan berat badan agar terhindar dari obesitas.
2.2. Kerangka Strategis Program
Underlying Startegic Comms
Initial Outcomes (Process) Behavioral Outcomes Sustainable Outcomes
Conditions Approach
Context Social Political - Adanya koordinasi dan kerjasama - Adanya dukungan dari masyarakat  Meningkatkan
Environment antar pihak mengenai program pola hidup sehat pengetahuan target
- Adanya strategi untuk mengurangi - Adanya media yang mendukung. sasaran utama
konsumsi makanan berlemak dan  Menurunkan
berkolesterol tinggi, serta prevalensi perilaku
konsumsi makanan digoreng konsumsi makanan
berlebih berlemak dan
Education Service - Tenaga kesehatan mengetahui - Terbentukya tenaga kesehatan yang berkolesterol tinggi,
Delivery System cara penyampaian edukasi yang professional serta konsumsi
baik. - Meningkatnya hubungan baik antar makanan digoreng
- Adanya hubungan yang baik antara masyarakat dan tenaga kesehatan berlebih
tenaga kesehatan dan masyarakat  Menurunkan
Community - NGO setempat dapat memaparkan - Masyarakat mengetahui dampak prevalensi obesitas
data hasil penelitian mengenai yang terjadi akibat sering  Menurunkan
gambaran kebiasaan makan mengonsumsi makanan berlemak prevalensi konsumsi
masyarakat kabupaten Pekalongan dan berkolesterol tinggi, serta makanan berlemak
- NGO setempat ikut berpartisipasi konsumsi makanan digoreng dan berkolesterol
dalam kegiatan. berlebih serta dampak dari tinggi, serta
obesitas.
Individual - Masyarakat mengetahui dampak - Masyarakat mampu bertahap konsumsi makanan
penyakit yang dapat timbul akibat meninggalkan kebiasaan konsumsi digoreng berlebih
sering mengonsumsi makanan makanan berlemak dan  Meningkatkan
berlemak dan berkolesterol tinggi, berkolesterol tinggi, serta konsumsi derajat kesehatan
serta konsumsi makanan digoreng makanan digoreng berlebih serta di wilayah
berlebih dapat meningkatkan aktifitas fisik kabupaten
- Masyarakat mengetahui dampak dan melakukan hidup sehat dengan Pekalongan, Jawa
dari penyakit degeneratif / METS mengatur pola makan sesuai Tengah
yang dapat timbul akibat obesitas. dengan pilar tumpeng gizi
- Masyarakat termotivasi untuk seimbang.
memperbaiki perilaku.
2.3. Rencana Implementasi
2.3.1. Aktifitas dan Timeline
Pengambilan Data Dasar
Hari : Senin - Jumat
Tanggal : 8 – 12 Januari 2018
Tempat : Puskesmas, seluruh kantor kecamatan dan kelurahan, rumah masing-masing
target sasaran utama
Waktu : menyesuaikan

Pelaksanaan Pembekalan Kader/Fasilitator


Hari : Senin - Jumat
Tanggal : 15 – 19 Januari 2018
Tempat : Ruang pertemuan kantor Kabupaten Pekalongan
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB

Penyusunan dan Uji Coba Media dan Materi Pesan Edukasi


Tanggal : 22 Januari – 4 Februari 2018
Tempat : menyesuaikan
Waktu : menyesuaikan

Pelaksanaan Kegiatan Komunikasi Perubahan Perilaku


Tanggal : 12 - 25 Februari 2018
Tempat : Ruang pertemuan kantor Kabupaten Pekalongan
Waktu : menyesuaikan

Pelaksanaan Monitoring Evaluasi


Tanggal : 12 Februari – 12 April 2018 (minimal 3 bulan)
Tempat : menyesuaikan
Waktu : menyesuaikan
2.3.2. Budget
No. Keterangan Anggaran Dana
PEMASUKAN
1. Sponsorship Rp 50.000.000,-
2. APBD Dinkes Kabupaten Pekalongan Rp 70.000.000,-
Total Pemasukan Rp 120.000.000,-
PENGELUARAN IMPLEMENTASI DAN MONEV BCC
1 Akomodasi (transportasi dan konsumsi) dan
honorarium tenaga enumerator
15 orang x 2 x 5 hari x Rp 100.000,- Rp 15.000.000,-
2 Akomodasi (transportasi dan konsumsi) dan
honorarium tenaga kesehatan: Dietisien, Dokter,
Perawat
6 orang x 2 x 5 hari x @Rp 200.000,- Rp 12.000.000,-
3 Akomodasi (transportasi dan konsumsi) dan
honorarium tenaga kader/fasilitator
30 orang x 2 x 14 hari x Rp 50.000 Rp 42.000.000,-
4 Anggaran Implementasi (media pesan edukasi dan BCC, Rp 25.000.000,-
dll)
5 Anggaran Monitoring Evaluasi (3 bulan) Rp 10.000.000,-
6 Lain-lain (ATK, perijinan, dll) Rp 5.000.000,-
Total Pengeluaran Rp 109.000.000,-

2.4. Pengembangan Pesan dan Material


Pesan dan material yang akan digunakan untuk kegiatan komunikasi perubahan perilaku
pada masyarakat yaitu berupa Informasi dasar terkait dampak mengonsumsi makanan
berlemak dan berkolesterol tinggi, serta konsumsi makanan digoreng berlebih, resiko penyakit
yang akan muncul apabila memiliki berat badan berlebih dan obesitas, jenis makanan yang
tergolong makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, menjelaskan mengenai pola hidup yang
sehat diantaranya merubah pola makan sesuai tumpeng gizi seimbang dan melakukan aktifitas
fisik.
a. Uji Coba Pesan dan Material
Pesan dan media yang telah dibuat akan di uji cobakan pada beberapa target sasaran dan
akan dilihat keefektifan dari pesan dan media tersebut.
b. Revisi Pesan dan Material
Apabila pada saat uji coba pesan dan media ditemukan tidak efektifnya pesan yang
disampaikan atau terdapat informasi yang kurang saat penjelasan, maka akan dilakukan
revisi pesan dan materi agar kemudian penyampaian informasi menjadi lebih baik.
c. Outline Pre-Test Objectives
Materials: Leaflet, Poster dan Iklan (terdapat 3 alternatif)
Priority Masyarakat yang memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak
Audience: dan berkolesterol tinggi, serta konsumsi makanan digoreng berlebih,
masyarakat yang memiliki berat badan berlebih dan obesitas
Promoted Informasi dasar terkait dampak mengonsumsi makanan berlemak dan
Behavior: berkolesterol tinggi, serta konsumsi makanan digoreng berlebih, resiko
penyakit yang akan muncul apabila memiliki berat badan berlebih dan
obesitas, jenis makanan yang tergolong makanan berlemak dan
berkolesterol tinggi, menjelaskan mengenai pola hidup yang sehat
diantaranya merubah pola makan sesuai tumpeng gizi seimbang dan
melakukan aktifitas fisik.
Objectives:
1. Untuk menentukan apakah pesan, cara penulisan dan cara komunikasi dalam
penyampaian informasi dapat diterima oleh masyarakat terutama dengan masyarakat
yang bekerja
2. Memastikan apakah isi dari leaflet, poster, dan iklan tersebut (gambar, ukuran tulisan
dan cara penyampaian) mudah ditangkap dan dapat menarik perhatian masyarakat.
3. Untuk mengetahui apakah leaflet, poster, dan iklan tersebut dapat memotivasi
masyarakat untuk merubah perilakunya.
4. Untuk menentukan leaflet, poster, dan iklan mana yang dapat ditampilkan dan dapat
dibagikan pada masyarakat

Metode Pre-test
Metode Pre- Jumlah Sampel Jenis Sasaran Kelebihan atau Kekurangan
Test
FGD (Focus Membutuhkan Tema program Kelebihan:
Group minimal 5 target yang akan Dapat mengetahui apa saja faktor
Discussion) sasaran dalam dijalankan, yang menyebabkan perilaku
dengan FGD gambar, isu konsumsi makanan berlemak dan
dipimpin oleh 1 yang beredar, berkolesterol tinggi, serta konsumsi
fasilitator atau dan media makanan digoreng berlebih, dapat
moderator edukasi yang dilihat dari hasil interaksi antar
akan digunakan partisipan

Kekurangan:
Kemungkinan adanya partisipan
yang pasif dan cenderung mengikuti
pendapat orang lain

2.5. Indikator Monitoring dan Evaluasi


a. Indikator Monitoring
- Apakah kegiatan dilaksanakan sesuai rencana dan jadwal yang telah direncanakan?
- Apakah terdapat kendala yang muncul selama pelaksanaan kegiatan?
- Apakah terdapat program yang tidak dapat terlaksana? Apa penyebabnya?
- Apakah pesan yang disampaikan saat kegiatan sesuai dengan kebutuhan, keyakinan,
sikap, praktik, dan kesiapan peserta untuk berubah?
- Bagaimana tanggapan sasaran saat pelaksanaan kegiatan?

b. Indikator Evaluasi
- Bagaimana hasil dan dampak dari pelaksanaan program implementasi BCC?
- Apakah terdapat keinginan untuk melakukan perubahan pada sararan?
- Seberapa besar perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang terjadi pada
sasaran?
- Bagaimana terkait dengan penyebaran hasil program implementasi BCC?
- Bagaimana rekomendasi strategi untuk keberlanjutan program implementasi BCC?