Anda di halaman 1dari 17

http://siakinformasi.blogspot.

com/2011/04/melacak-asal-usul-keris-
dan-perannya.html

siak informasi

Keris Melayu

Keris Cantik

Senin, 25 April 2011


Melacak Asal-Usul Keris dan Perannya dalam Sejarah Nusantara
Keris adalah senjata, sekaligus karya seni yang bernilai tinggi. Nilai sebuah keris terletak pada keindahan
bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang memerlukan waktu lama dan
membutuhkan ketekunan serta ketrampilan khusus. Orang yang memiliki taste (cita rasa) seni tinggi
niscaya mengagumi keris sebagai sebuah benda budaya yang berharga. Sebagai sebuah benda budaya,
keris adalah warisan khas kebudayaan Nusantara atau Melayu. Oleh karena itu, keris lazim dipakai
orang-orang di Riau, Bugis, Jawa, dan Bali, sebagai pelengkap bagi busana yang mereka kenakan (Al-
Mudra, 2004). Seiring berjalannya waktu, budaya keris kemudian menyebar ke kawasan-kawasan di Asia
Tenggara lainnya, terutama yang memiliki basis kebudayaan Melayu, seperti Malaysia, Brunei, Filipina
Selatan, Singapura, dan Thailand Selatan (Wooley, 1998).

Keris adalah termasuk jenis senjata tikam, namun tidak semua senjata tikam dapat disebut sebagai keris.
Untuk itu, sebelum membahas lebih lanjut, perlu dijelaskan kriteria apa saja yang harus dipenuhi sebuah
benda sehingga ia layak disebut sebagai keris. Sebuah benda dapat digolongkan sebagai keris bilamana
benda tersebut memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

Keris harus terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian bilah keris (termasuk pesi[1]) dan bagian ganja.[2]
Bagian bilah dan pesi melambangkan wujud lingga, sedangkan bagian ganja melambangkan wujud yoni.
Dalam falsafah Hindu, persatuan antara lingga dan yoni adalah simbol kesuburan, keabadian, dan
kekuatan.
Bilah keris harus membuat sudut tertentu terhadap ganja, tidak tegak lurus. Kedudukan bilah keris yang
miring atau condong ini adalah lambang sifat yang terpuji, bahwa apapun kedudukan dan pangkat
seseorang, harus senantiasa tunduk dan hormat, bukan hanya pada Sang Pencipta, namun juga pada
sesamanya. Hal ini sesuai dengan filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Berdasarkan filosofi ini,
pendapat yang mengatakan bahwa keris adalah dibuat semata-mata untuk membunuh dengan
sendirinya tertolak (Soekiman, 1983).

Ukuran panjang bilah keris yang lazim adalah antara 33 cm sampai 38 cm. Namun bilah keris luar Jawa
panjang bilahnya bisa mencapai 58 cm, bahkan keris buatan Filipina Selatan panjangnya ada yang
mencapai 64 cm. Mengenai senjata tikam menyerupai keris yang panjangnya di bawah ukuran yang
lazim, menurut banyak ahli belum bisa dikategorikan sebagai keris, tetapi keris-kerisan.

Keris yang baik harus dibuat dan ditempa dari tiga macam logam, minimal dua, yaitu besi, baja, dan
bahan pamor[3]. Keris-keris tua, atau lebih tepatnya prototipe keris, misalnya keris Buda, belum
menggunakan pamor (Harsrinuksmo, 2004).

Meskipun ada beberapa kriteria lainnya yang dapat disandangkan pada keris (misalnya sarung
(warangka) keris, bentuk keris[4], dan lain-lain), namun keempat kriteria di atas adalah yang paling
utama. Dengan demikian, benda yang menyerupai keris yang terbuat dari tembaga, kuningan, dan
logam-logam selain disebut di atas, tidak dapat digolongkan sebagai keris. Begitu juga keris yang dibuat
bukan melaui proses penempaan melainkan dicor, meskipun terbuat dari besi atau baja, juga belum bisa
dikatakan sebagai keris sesungguhnya (Harsrinuksmo, 2004).

Namun, tulisan ini tidak bermaksud membahas aspek material, bentuk, dan nilai estetik dari keris,
melainkan lebih fokus pada aspek sejarah dan fungsi-fungsi tertentu yang diperankan olehnya.
Mengenai penyebutan kriteria-kriteria tertentu yang melekat pada keris seperti di atas, hanyalah untuk
menegaskan bahwa tidak semua jenis senjata tikam atau tusuk dapat disebut sebagai keris, atau benda
yang menyerupai keris tapi proses pembuatan dan bahan yang digunakan tidak sama dengan keris yang
sebenarnya, karena keris adalah benda budaya yang khas dan memiliki fungsi-fungsi tertentu. Untuk itu,
di bawah ini akan dipaparkan secara berturut-turut tentang asal-usul keris dan peran yang dimainkannya
dalam telatah sejarah nusantara (khususnya di Jawa).

2. Asal-Usul Keris

Ada beberapa teori yang berusaha menjelaskan tentang asal-usul penggunaan keris di Nusantara. Teori
yang pertama dikemukakan oleh G.B. Gardner dalam bukunya yang berjudul Keris and Other Malay
Weapon (1936). Oleh Gardner, keris dianggap sebagai perkembangan tingkat lanjut dari jenis senjata
tikam zaman prasejarah yang terbuat dari tulang ikan pari. Cara membuatnya adalah dengan memotong
tulang ikan pari tersebut pada pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain pada tangkainya, sehingga
dapat digenggam dan mudah dibawa ke mana-mana (Hill, 1998). Menurut Harsrinuksmo (2004), teori
Gardner ini mengandung banyak kelemahan, karena tradisi pembuatan keris tertua di Indonesia tidak
berkembang di kawasan pesisir, namun di kawasan pedalaman Pulau jawa.

Teori yang kedua dikemukakan oleh Griffith Wilkens, yang menganggap budaya keris baru muncul pada
abad ke-14 dan ke-15 M sebagai perkembangan dari senjata tombak –senjata yang lazim digunakan oleh
suku-suku yang tinggal di kawasan Asia dan Australia. Dari mata lembing itulah kelak lahir jenis senjata
tikam yang lebih pendek, yang kemudian dikenal dengan nama keris. Alasan terjadinya perubahan
bentuk dari tombak ke keris didasarkan atas pertimbangan bahwa tombak tidak mudah untuk dibawa
kemana-mana, terlebih lagi untuk menyusup hutan. Karena pada waktu itu bahan besi masih susah
dijumpai, maka lembing tombak kemudian dilepas dari tangkainya sehingga dapat digenggam
(Harsrinuksmo, 2004).

Teori yang ketiga dikemukakan oleh A.J. Barnet Kempers, yang menyebutkan bahwa munculnya tradisi
pembuatan keris di Nusantara dipengaruhi oleh kebudayaan perunggu yang berkembang di Dongson,
Vietnam sekitar abad ke-3 M. Dia menduga bahwa keris merupakan perkembangan lebih lanjut dari
jenis senjata penusuk pada zaman perunggu. Senjata tikam pada zaman ini bentuknya menyerupai
manusia berdiri pada gagangnya, yang menyatu dengan bilahnya (Harsrinuksmo, 2004).

Namun jika merujuk pada prasasti-prasasti dan gambar-gambar pada relief di candi-candi Jawa, dapat
diduga bahwa keris sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak abad ke-5 M. Pada prasasti batu yang
ditemukan di Desa Dakuwu, Grabag, Magelang, Jawa Tengah, ditemukan relief yang yang
menggambarkan peralatan besi. Prasasti ini dibuat sekitar tahun 500 M yang ditulis dalam huruf Pallawa
menggunakan bahasa Sansekerta. Prasasti ini menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih
dan jernih, terdapat beberapa gambar yang diantaranya trisula, kapak, sabit, kudi, dan belati atau pisau
yang bentuknya mirip dengan keris (Purhita,--).

Ketrampilan mengolah logam di Jawa semakin berkembang ketika pengaruh kebudayaan India mulai
masuk ke Nusantara sejak sekitar abad ke-5 M. Pengaruh kebudayaan India tersebut dapat dilihat pada
gambar-gambar yang terdapat di relief-relief candi di Jawa, terutama Candi Borobudur dan Candi
Prambanan. Pada relief-relief tersebut terdapat gambar senjata tikam menyerupai lembaran daun –
sebuah model senjata tikam yang telah berkembang lebih dahulu di India. Oleh para ahli, senjata
tersebut kemudian dinamai ‘Keris Buda‘, dan dianggap sebagai prototipe senjata keris.

Pada relief di Candi Borobudur, Jawa Tengah, tepatnya di sudut bawah bagian tenggara, tergambar
beberapa prajurit yang membawa senjata tajam menyerupai keris (Maisey, 1998; Harsrinuksmo, 2004).
Di Candi Prambanan juga terdapat gambar serupa, terutama di candi utama yang disebut Candi Shiva. Di
candi ini terdapat relief monyet yang menghunus sejenis belati mirip keris dan Laksmana yang sedang
bertempur sambil memegang senjata serupa. Jenis senjata tikam yang terdapat di Candi Prambanan
tidak berbeda dengan yang ada di Candi Borobudur, di mana keduanya tergolong jenis keris buda.
Dilihat dari bentuknya keris buda berukuran pendek, gemuk, dan agak tebal, mirip dengan senjata tikam
yang berkembang di India.
Relief tentang senjata menyerupai keris juga terdapat di candi-candi yang berada di Jawa Timur,
misalnya di Candi Singosari (dibangun pada tahun 1300 M), Candi Jawi, dan Candi Panataran. Pada Candi
Singasari terdapat relief yang menggambarkan senjata mirip keris –bentuknya masih sama dengan yang
terdapat di Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Di Candi Jawi, juga terpahat relief Dewi Durga
sedang menggenggam belati yang juga mirip dengan yang ada di Candi Prambanan. Hanya saja, gambar
belati yang ada di Candi Jawi terlihat lebih halus, lebih terang, daripada yang ada di Candi Prambanan.
Hal ini menunjukkan telah terjadi peningkatan kualitas dalam seni pembuatan keris. Di Candi Panataran
juga terdapat relief yang menggambarkan Hanoman sedang memegang senjata yang bentuknya tidak
jauh berbeda dengan yang terdapat di candi-candi lainnya (Maisey, 1998).

Meskipun senjata –yang disebut ‘keris buda‘ di atas wujud aslinya jarang-- bahkan sulit dijumpai, hal ini
bukan berarti senjata tersebut secara nyata tidak ada. Jika merujuk pada pendapat J.J. Honnigmann
dalam bukunya The World of Man (1959), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, yang
termanifestasikan menjadi tiga wujud, yaitu ideas, activities, dan artefacts. Ketiga wujud kebudayaan
tersebut oleh Koentjaraningrat (1979) dinyatakan sebagai sistem-sistem yang saling berkaitan satu sama
lainnya, dan dalam hal ini sistem yang paling abstrak (ideas) seakan-akan berada di atas untuk mengatur
aktivitas sistem sosial yang lebih kongkrit, sedangkan aktivitas dalam sistem sosial menghasilkan
kebudayaan materialnya (artifact). Sebaliknya sistem yang berada di bawah dan yang bersifat kongkrit
memberi energi kepada yang di atas. Pendapat tersebut memberikan gambaran bahwa kebudayaan
merupakan interaksi timbal-balik di antara sistem-sistem dalam wujud kebudayaan tersebut, yaitu
hubungan antara idea, aktivitas dan artifact. Pendapat ini dapat dijadikan sebagai landasan untuk
memperkuat gagasan bahwa keris buda –sebagai sebuah artefak-- secara nyata memang pernah ada,
karena gagasan tentangnya setidaknya sudah termanifestasikan dalam relief-relief di candi-candi Jawa.
Dengan lain kata, relief-relief yang terpahat di candi-candi tersebut merupakan pantulan dari gagasan
maupun aktivitas masyarakat Jawa waktu itu.

Dugaan di atas diperkuat dengan pendapat Soekiman (1983) yang mengatakan bahwa keris buda
merupakan keris pertama yang pernah dibuat di Nusantara –ketika tanah Jawa berada dalam kekuasaan
Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8 sampai ke-10). Keris buda diperkirakan peninggalan keris generasi
pertama yang kelak menjadi cikal baka lahirnya keris. Namun tepatnya –pada abad berapa dan
pemerintahan siapa –keris buda dibuat belum diketahui secara pasti.

Setelah orde kekuasaan di Jawa berpindah ke Jawa Timur, dengan berdirinya beberapa kerajaan, seperti
Kahuripan, Jenggala, Daha, dan Singasari (abad ke-10 sampai abad ke-13), tradisi pembuatan keris sudah
menunjukkan perkembangan yang mengesankan. Dari segi kualitas, keris yang dibuat pada periode ini
jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan masa Mataram Kuno. Pada periode ini dikenal keris dengan
tangguh[5] Jenggala. Keris yang dibuat pada zaman Jenggala terkenal dengan kualitas besinya yang
bagus dan penempaan pamornya yang prima (Garret & Solyom, 1978).

Setelah ketiga kerajaan di atas runtuh, lahirlah Kerajaan Majapahit (abad ke-13 sampai ke-15), kerajaan
terbesar yang pernah eksis di tanah Jawa. Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk dan patihnya, Gadjah Mada pada tahun 1294. Pada masa kerajaan inilah
diduga kebudayaan keris menyebar luas hingga ke kawasan –yang sekarang ini disebut sebagai negeri
tetangga, seperti Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina, dan Kamboja (Garret & Solyom, 1978).

Namun, barangkali fase yang dianggap paling merepresentasikan kejayaan pembuatan keris di tanah
Jawa adalah pada masa Kerajaan Mataram Islam. Pada masa ini, perkembangan keris berlangsung
secara pesat, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Ada alasan pragmatis di balik pemassalan
pembuatan keris tersebut, yaitu sebagai senjata bagi para prajurit Mataram. Pada zaman pemerintahan
Sultan Agung muncul dapur-dapur[6] baru, di antaranya yang paling terkenal adalah dapur Nagasasra.
Pada masa ini juga telah dikenal budaya kinatah[7] pada keris (Harsrisuksmo, 2004).

Tradisi pembuatan keris terus berlanjut pada era nom-noman, yaitu setelah pecahnya Surakarta dan
Yogyakarta pada tahun 1755. Pada era Paku Buwono terjadi kemajuan yang mencolok dalam
penggarapan dan pemilihan bahan. Terjadi eksplorasi estetik baru, yang antara lain menghasilkan
sejumlah dapur, ricikan (detail), yang semakin tegas-dalam, rapi, dan beragam; eksperimentasi
pembuatan dan model pamor; stilisasi baru yang memasukkan ukuran sedikit lebih besar, serta nuansa
necis dan gagah. Dari segi bahan, semakin jelas terjadi kontrol kualitas lebih ketat atas bahan pamor dan
bajanya (Danujaya, 2000). Meskipun secara estetik pada masa ini dianggap sebagai puncak keemasan
tradisi pembuatan keris, namun lambat laun keris kehilangan peran sentralnya dalam kebudayaan Jawa,
karena aspek fungsionalnya telah merosot: dari sebagai senjata –baik dalam arti fisik maupun spititual –
menjadi sekedar perabot seremonial yang diagung-agungkan secara berlebihan.

3. Peran Keris dalam Lintasan Sejarah Indonesia

Dalam kebudayaan Jawa, dan Nusantara pada umumnya, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata
penusuk, tetapi juga sering dianggap sebagai benda pusaka yang mempunai kekuatan magis dan
menjadi simbol kehormatan bagi pemakainya. Selain itu, keris juga merupakan benda sejarah --yang
turut mewarnai kompleksitas perjalanan sejarah Nusantara (Garret & Solyom, 1978). Bahkan, jika kita
merujuk pada babad, sejarah lisan, cerita, maupun sejarah modern, tidak dapat ditampik bahwa keris
banyak berfungsi sebagai obyek kajian sejarah, bahkan tak jarang menjadi determinan dalam
perkembangan sejarah itu sendiri.

Jika ditelisik lebih jauh, ada banyak hal yang dapat diketahui terkait dengan fungsi-fungsi tertentu yang
diperankan oleh keris. Dalam cerita legenda Ajisaka, Kitab Pararaton, Hikayat Hang Tuah, Perang
Diponegoro, maupun penulisan sejarah modern, misalnya, keris memerankan fungsi yang cukup penting.
Bahkan, bagi tokoh-tokoh yang telah berjasa bagi perkembangan Indonesia modern, seperti Bung Karno,
Jendral Soedirman, dan Pak Harto, keris masih dianggap sebagai benda pusaka yang mampu
mendatangkan keselamatan dan meningkatkan kewibawaan.

Dalam sejarah lisan tertua yang berkembang di tanah Jawa, yaitu tentang legenda Aji Saka, cerita
tentang keris mendapatkan porsi yang cukup istimewa. Dalam Serat Aji Saka, diceritakan tentang sebuah
keris pusaka yang berada di Gunung Kendhil. Singkat cerita, Prabu Aji Saka, seorang penguasa tanah
Jawa dalam cerita rakyat, memerintahkan kepada Dora, abdi dalemnya, untuk mengambil keris pusaka
yang berada di Gunung Kendhil yang sebelumnya dititipkan pada orang yang bernama Sembada.
Sesampainya di Gunung Kendhil, ternyata Dora mendapatkan masalah, karena Sembada tidak bersedia
menyerahkan kerisnya, karena dia tidak berani melanggar amanah yang dititahkan oleh Prabu Aji Saka
kepadanya. Sembada bermaksud menyerahkan keris tersebut kepada Prabu Aji Saka secara langsung.
Akibat dualisme amanah tersebut, terjadilah perdebatan yang berujung pada perkelahian antara Dora
dan Sembada. Keduanya akhirnya mati dalam perkelahian tersebut. Lantaran lama menunggu, Prabu Aji
Saka akhirnya menyusul ke Gunung Kendhil. Alangkah kagetnya Sang Prabu, karena sesampainya di
Gunung Kendhil, dia menjumpai dua orang kepercayaannya telah mati. Prabu Aji Saka merasa sangat
berdosa. Untuk menghormati kedua pembantunya tersebut, dia kemudian menciptakan aksara yang
kelak menjadi huruf Jawa, yaitu: ha, na, ca, ra, ka. Da, ta, sa, wa, la. Pa, da, ja, ya, nya. Ma, ga, ba, tha,
nga (artinya: ada utusan, sama–sama berkelahi, sama-sama saktinya, dan sama-sama menjadi bangkai
(Suharyono, 2006).

Pada saat kekuasaan di tanah Jawa bergeser ke Jawa Timur, keris memainkan peran yang signifikan,
meskipun sering disertai dengan cerita kelam yang menyertainya. Pada zaman Kerajaan Daha hingga
Singasari, tradisi pembuatan keris berkembang cukup pesat, yang konon disebabkan oleh kepercayaan
baru, yaitu Tantrayana. Keris yang awalnya berbentuk gemuk, pendek, dan berbadan lebar (merujuk
pada keris buda yang dibuat pada masa Kerajaan Mataram Kuno), berubah menjadi lebih ramping,
meskipun bentuknya tidak banyak mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat pada relief-relief yang
terdapat di Candi Panataran (Maisey, 1998; Suharyono, 2006).

Namun, cerita tentang keris yang (barangkali) paling masyhur yang berkembang di Tanah Jawa adalah
cerita tentang Keris Empu Gandring, yang selalu dihubungkan dengan tokoh bernama Ken Arok dan
Empu Gandring. Dalam Kitab Pararaton, dibabarkan secara detil tentang kemelut di tanah Tumapel yang
melibatkan Keris Empu Gandring. Kisah diawali dari persoalan yang terkesan sepele, yaitu tentang
perasaan jatuh cinta. Ken Arok, rakyat jelata anak Ken Endog yang dipercaya sebagai titisan Dewa
Brahma, jatuh cinta kepada Ken Dedes, permaisuri Tunggul Ametung, Adipati Tumapel waktu itu. Untuk
menyunting sang permaisuri, Ken Arok harus membunuh terlebih dahulu Tunggul Ametung. Untuk
keperluan itu, ia mendatangi seorang empu agar dibuatkan sebuah keris ampuh yang dapat digunakan
untuk membunuh Tunggul Ametung. Singkat cerita, jadilah sebuah keris bernama Empu Gandring. Keris
tersebut mulai memakan korban jiwa. Yang pertama adalah si pembuatnya sendiri, Empu Gandring,
yang dibunuh oleh Ken Arok. Sebelum meninggal, Empu Gandring bersumpah bahwa keris yang
dibuatnya tersebut akan menjadi malapetaka bagi Ken Arok dan anak turunnya. Setelah Empu Gandring,
korban selanjutnya adalah Tunggul Ametung, Keboijo, Ken Arok sendiri, Anusapati, Tohjaya, dan
Ranggawuni. Jadi, keris Empu Gandring telah memakan tujuh korban jiwa. Namun, sebelum
kematiannya, Ken Arok tidak hanya berhasil menyunting Ken Dedes, tetapi juga berhasil merebut
kekuasaan dari Tunggul Ametung dan kemudian mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Singasari
(Mangkudimedja, 1979).

Kejadian-kejadian penting yang melibatkan keris juga terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit. Raja
Jayanegara terbunuh oleh keris Ra Tancha yang masih termasuk keluarga raja atau Darmaputra. Ra
Tancha kemudian ditangkap dan dibunuh oleh Patih Gajah mada. Peristiwa ini
selanjutnya mengakibatkan Hayam wuruk mewarisi tahta, dan kebesaran Kerajaan Majapahit
mencapai puncaknya (Suharyono, 2006).

Dalam Babad Tanah Jawa, dijelaskan bahwa setelah pengaruh Islam mulai menyebar ke tanah Jawa,
banyak para empu pembuat keris Kerajaan Majapahit yang masuk Islam. Hal ini membuat pengaruh
Kerajaan Majapahit semakin menurun. Berpindahnya para empu tersebut diduga karena peran para wali
yang menyebarkan Islam di Jawa. Di antara para empu Majapahit yang paling sakti adalah Ki Supa[8].
Setelah konversinya, Ki Supa kawin dengan Dewi Rasawulan, saudara Sunan Kalijaga. Setelah
perkawinan itu, Sunan Kalijaga meminta Ki Supa untuk membuatkan keris untuknya. Ki Supa
menyanggupinya, dan dibuatlah sebuah keris sakti yang proses pembuatannya tidak menggunakan api,
yang kemudian diberi nama Kiai Sengkelat karena warnanya merah seperti sengkelat. Keris Kiai
Sengkelat ini, oleh Sunan Kalijaga digunakan untuk menandingi kesaktian keris-keris Majapahit. Kiai
Sengkelat adalah keris ampuh yang bisa terbang ke angkasa dan selanjutnya digunakan untuk
menghancurkan wabah penyakit yang disebabkan oleh pusaka-pusaka Majapahit yang dirasuki kekuatan
jahat. Kerena kesaktiannya itu, keris tersebut kemudian dicuri oleh seorang raja Jawa-Hindu yang ingin
membendung gelombang pengaruh Islam. Namun, Sunan Kalijaga dan Ki Supa akhirnya berhasil
menemukan keris Kiai Sengkelat lagi. Kiai Sengkelat sekarang ini tercatat sebagai salah satu pusaka
Kraton Yogyakarta dan dipercayai mempunyai kekuatan untuk mengatasi wabah penyakit (Woodward,
2004).

Sebuah kisah penting lainnya tentang keris dengan latar Kerajaan Majapahit juga menarik untuk
disebutkan. Namun, kisah ini mengambil perspektif bukan dari kebudayaan Jawa, melainkan dari
kebudayaan Melayu. Kisah ini bersumber dari Hikayat Hang Tuah (HHT), sebuah kisah tentang seorang
laksamana gagah berani dari Kesultanan Malaka. Dalam salah satu penggalan kisah di hikayat tersebut,
diceritakan bahwa Raja Malaka akan melakukan lawatan ke Kerajaan Majapahit, dengan maksud ingin
menyunting seorang putri Majapahit bernama Raden Galuh. Dalam kunjungan ini Laksamana Hang Tuah
ditunjuk sebagai pengawal sultan selama lawatan ke Majapahit dan saat kembali lagi ke Malaka. Pada
waktu itu, Majapahit tidak benar-benar merelakan Raden Galuh disunting oleh Raja Malaka. Dia hanya
dijadikan sebagai umpan agar Majapahit dapat menaklukkan Malaka. Sesampainya di Majapahit,
percobaan pembunuhan terhadap Hang Tuah berulangkali dilakukan. Sebab, jika Hang Tuah mati, maka
Raja Malaka tidak akan pernah kembali, sehingga Seri Batara, Raja Majapahit, dapat berbuat
sekehendaknya terhadap Raja Malaka. Dengan lain kata, jika Hang Tuah masih hidup maka Malaka akan
sulit ditaklukkan.

Seiring dengan banyaknya percobaan pembunuhan terhadap Hang Tuah, dia kemudian mengisi dirinya
dengan kekuatan sakti hasil berguru kepada pertapa kenamaan. Dalam perang tanding melawan
prajurit-prajurit Majapahit yang dapat berganti rupa menjadi binatang, Hang Tuah juga merubah dirinya
menjadi binatang dan dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Akhirnya, ia harus berhadapan dengan
seorang prajurit Majapahit yang sakti mandraguna akibat keris yang dimilikinya, yaitu Keris Taming Sari.
Hang Tuah tahu bahwa keris itulah yang membuat sang prajurit sakti. Akibat kecerdikan yang dimilikinya,
Hang Tuah akhirnya dapat menaklukkan sang prajurit tersebut karena berhasil menukar kerisnya dengan
Keris Taming Sari. Setelah perang tanding selesai, Hang Tuah mempersembahkan Keris Taming Sari
kepada Seri Batara. Dengan kemenangannya itu, Hang Tuah menunjukkan bahwa ia tidak dapat
dikalahkan oleh prajurit Majapahit yang paling sakti sekalipun. Keris Taming Sari yang bertuah itu oleh
Seri Batara kemudian dianugerahkan kepada Hang Tuah beserta gelar laksamana yang diberikan oleh
Seri Batara. Anugerah keris dan gelar ini melambangkan penyerahan kesaktian, kekuatan gaib, beserta
kekuatan tertinggi. Sebagai laksamana, Hang Tuah tidak dapat diganggu gugat dalam melakukan suatu
perbuatan. Pemberian anugerah keris dan gelar laksamana kepada Hang Tuah tersebut mengandung
nilai kerohanian dan merupakan bukti pengabdian Hang Tuah terhadap negerinya. Akibat jasa-jasanya
tersebut, Malaka akhirnya tidak berhasil ditaklukkan oleh Majapahit. Bahkan sebaliknya, justru
Majapahit yang akhirnya tunduk di hadapan kekuasaan Malaka (Soetrisno, 2008).

Keris kembali memerankan fungsinya sebagai penentu sejarah pada masa Kerajaan Islam Demak. Pada
masa kerajaan ini, keris begitu lekat dengan peristiwa pembunuhan, perebutan tahta, dan balas dendam.
Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah, sekaligus menjadi raja pertama, seorang putra Raja
Brawijaya dari seorang selir yang berasal dari tanah Campa. Tragedi mulai terjadi setelah kematian
Raden Patah. Raden Patah digantikan oleh putranya, Pangeran Sabrang Lor, namun kekuasannya tidak
berlangsung lama karena ia meninggal dalam usia muda, belum menikah, sehingga tidak memiliki
keturunan. Seharusnya yang menggantikan sebagai Sultan Demak adalah putra kedua Raden Patah,
yaitu Sekar Seda Lepen. Namun, sebelum naik tahta, Sekar Seda Lepen keburu terbunuh, ditusuk dengan
keris dari belakang, sewaktu pulang dari sholat Jumat di Masjid Demak. Sepulang dari sholat Jumat, Seda
Lepen diikuti dari belakang dan kemudian ditusuk pingangnya dengan keris oleh seorang parjurit
suruhan Raden Mukmin atau Sunan Prawata, anak Trenggana, putra ketiga Raden Patah (De Graaf,
1987a).

Putra Sekar Seda Lepen, Harya Penangsang, Adipati Jipang dan murid kesayangan Sunan Kudus, tidak
menerima pembunuhan ayahnya dan bermaksud membalas dendam kepada semua anak turun
Trenggana. Sasaran pertama pembunuhan Harya Penangsang adalah Sunan Prawata sendiri.
Pembunuhan dilakukan ketika Sunan Prawata sedang sakit dan tiduran di atas pangkuan permaisurinya.
Tiba-tiba datanglah dua orang prajurit suruhan Harya Penangsang yang berhasil menyelinap masuk ke
kamar Sunan Prawata dan langsung menusukkan keris ke dada Sunan Prawata hingga tembus sampai
punggung. Permaisuri yang memangkunya pun ikut terbunuh. Meskipun terluka parah, Sunan
Prawata tak kunjung mati, bahkan masih sempat meraih keris pusakanya, Kiai Bethok, dan dilemparkan
ke arah prajurit suruhan itu. Prajurit suruhan itu seketika meninggal terkena goresan keris Kiai Bethok-
nya Sunan Prawata. Setelah membunuh kedua prajurit suruhan Harya Penangsang tersebut, Sunan
Prawata akhirnya mati.

Target pembunuhan Harya Penangsang selanjutnya adalah Sunan Hadiri, adik Sunan Prawata.
Pembunuhan terjadi ketika Sunan Hadiri dan istrinya, Ratu Kalinyamat, pulang dari menghadap Sunan
Kudus untuk melaporkan pembunuhan atas saudaranya. Saat perjalanan pulang, keduanya dihadang
oleh prajurit suruhan Harya Penangsang. Maka terjadilah pembunuhan selanjutnya, di mana Sunan
Hadiri menjadi korbannya, tertikam keris prajurit suruhan Harya Penangsang. Namun, Ratu Kalinyamat
berhasil menyelamatkan diri. Sang ratu kemudian bersumpah tidak akan berhenti dari pertapaan tanpa
busana-nya sebelum Harya Penangsang mati terbunuh. Balas dendam Harya Penangsang belum
berhenti sampai di sini. Dia bahkan bermaksud membunuh semua keturunan Trenggana sampai
menantu-menantunya.

Sasaran pembunuhan ketiga adalah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), menantu Trenggana paling muda
yang menjabat sebagai Adipati Pajang. Harya Penangsang kembali mengutus dua orang prajurit untuk
membunuh Hadiwijaya. Namun, misi pembunuhan kali ini gagal, karena Hadiwijaya terkenal sangat sakti,
tidak mempan ditusuk keris prajurit suruhan Harya Penangsang. Bahkan saking saktinya, prajurit
tersebut terpental hingga pingsan sewaktu menghujamkan kerisnya ke tubuh Hadiwijaya. Setelah
tersadar dari pingsannya, kedua prajurit tersebut disuruh pulang oleh Hadiwijaya. Karena telah gagal
menunaikan tugas, Harya Penangsang kemudian membunuh kedua prajuritnya dengan kerisnya yang
bernama Kiai Brongot Setan Kober.

Harya Penangsang adalah ancaman serius bagi anak turun Trenggana, maka disusunlah siasat untuk
membunuhnya. Harya Penangsang akhirnya mati terbunuh di tangan orang-orang kepercayaan
Hadiwijaya, seperti Ki Gede Pemanahan, Ki Gede Panjawi, dan Sutawijaya, anak Pemanahan, yang kelak
menjadi raja pertama Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senapati. Setelah kematian Arya
Penangsang, Hadiwijaya menjadi satu-satunya pewaris Kerajaan Demak. Namun, dia justru lebih tertarik
memindahkan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Sejak saat itu, Kerajaan Demak mengalami keruntuhan
(De Graaf, 1987a).

Cerita tentang keris masih berlanjut hingga masa Kerajaan Mataram Islam. Cerita berawal dari
pembangkangan Panembahan Senapati terhadap kekuasaan Pajang. Sebuah rombongan mantri
Pamajegan (penyetor pajak) dari Bagelen dan Banyumas yang sedianya akan menyetor pajak ke Pajang,
dibelokkan untuk singgah di istana Mataram yang berada di Kotagede. Ada salah satu anggota
rombongan yang sangat membenci Panembahan Senapati, namanya Ki Bocor, yang ingin menjajal
kesaktian Panembahan Senapati. Pada suatu malam, ketika Panembahan Senapati sedang duduk-duduk
di pendapa, tiba-tiba Ki Bocor datang dari belakang dan menusuk punggung Panembahan Senapati
dengan kerisnya yang bernama Kiai Kebo Dengen. Setelah ditusuk berkali-kali, Panembahan Senapati tak
kunjung terluka, dan akhirnya Ki Bocor kehabisan tenaga --jatuh terduduk minta ampun. Panembahan
Senapati kemudian memutar tubuhnya ke belakang dan memaafkan Ki Bocor. Ki Bocor segera pergi,
meninggalkan kerisnya yang masih tertancap di tanah. Sejak saat itu para mantri dan pejabat dari
Bagelen dan Banyumas sangat kagum dan menghormati Senapati. Peristiwa ini banyak ditulis dalam
Babad Tanah Djawi, Babad Pajajaran, dan Babad Baron Sekender. Dari babad Pajajaran diketahui bahwa
Mantri Pamajegan Ki Bocor adalah Bebahu Desa Bocor di Banyumas, keturunan Pangeran Tole yang
membenci Mataram karena mulai berkembang menjadi kota yang ramai (Suharyono, 2006).

Peristiwa lainnya yang melibatkan peran keris dalam sejarah kekuasaan di tanah Jawa adalah tentang
pemberontakan Pangeran Alit, Adipati Madiun yang juga saudara ipar Sultan Hadiwijaya, terhadap
kekuasaan Mataram. Untuk meredam pemberontakan, Panembahan Senapati secara langsung
memimpin pasukannya untuk menyerbu Madiun. Adipati Madiun sangat takut karena perajuritnya
selalu kalah, hingga akhirnya dia mundur dan melarikan diri. Kadipaten dipertahankan oleh para prajurit
yang dipimpin oleh Retna Jumilah, putri Adipati Madiun yang terkenal gagah berani. Panembahan
Senapati berhasil menyeberangi Bengawan Madiun, dan langsung memasuki Kadipaten. Kedatangan
Senapati dihadapi oleh Retna Jumilah, yang telah siaga dengan para prajuritnya. Retna Jumilah
membawa keris sakti pusaka Madiun yang bernama Kiai Gumarang. Senapati menghentikan para
prajurit pengawalnya di bawah pohon beringin, dan sendirian memasuki pendapa
Kadipaten. Kedatangan Senapati dihadapi oleh Retna Jumilah sendiri. Retna Jumilah menusuk-
nusuk Senapati dengan keris Kiai Gumarang tetapi Senapati tidak terluka sedikitpun. Kemudian Retna
Jumilah kehabisan tenaga, dan berlutut minta ampun. Senapati mengampuni Retna Jumilah, dan putri
Adipati Madiun itu kemudian diperistri oleh Senapati. Senapati kagum pada kecantikan dan
keberaniannya. Sejarah ini banyak ditulis dalam babad, terutama Babad Tanah Jawi, Babad Matawis.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1590 (De Graaf, 1987a).

Setelah orde kekuasaan Panembahan Senapati berakhir, tahta Mataram diserahkan kepada putranya,
Susuhunan Seda Krapyak atau Raden Mas Jolang atau yang bergelar Susuhunan Hadi
Hanyakrawati. Setelah Hadi Hanyakrawati turun tahta, Kesultanan Mataram dipimpin oleh Raden Mas
Rangsang atau yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada masa pemerintahan Sultan Agung,
Mataram mencapai puncak kejayaannya. Menurut keterangan Riya Yasadipura, seorang penutur sejarah
Jawa (khususnya sejarah tentang kesultanan-kesultanan di Surakarta dan Yogyakarta), salah satu
indikasinya adalah kebijakan memperluas daerah kekuasaan sampai ke Jawa Timur, atau daerah Brang
Wetan. Untuk itu, Sultan Agung mengumpulkan para empu dan pande besi handal yang berada di
daerah kekuasaan Mataram, untuk membuat senjata perang, tombak, pedang, keris, bahkan meriam
Jawa. Ratusan empu dan pandai besi bekerja keras di bawah koordinasi tujuh orang empu
ternama (tindih empu pitu). Peristiwa ini disebut sebagai peristiwa Pakelun. Pada masa itu banyak
dibuat keris, dan keris-keris itu kemudian dinamakan tangguh Mataram Pakelun. Sampai sekarang, keris-
keris itu masih banyak dijumpai. Sedangkan meriam yang dibuat masa itu masih dapat dijumpai di
Keraton Kasunanan Surakarta (Suharyono, 2006).

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, hampir seluruh daerah Brang Wetan berhasil dikuasai, bahkan
mencapai Blambangan (sekarang Banyuwangi) dan Madura. Namun semakin kuatnya kekuasaan Sultan
Agung tidak otomatis menyurutkan pemberontakan para adipati yang hendak memisahkan diri.
Pemberontakan yang terkenal waktu itu adalah pemberontakan Adipati Pragola II, Adipati Pati. Dalam
sejarah lisan yang berkembang di Jawa dan Babad Tanah Jawa, orang-orang Pati disebutkan kebal
senjata. Kekebalan itu hanya dapat ditaklukkan dengan senjata yang diberi susuk emas. Setelah rahasia
itu diketahui, maka keris Mataram diberi tatahan emas untuk menawarkan kekebalan orang dari Pati.
Maka Kadipaten Pati segera jatuh dan dikuasai oleh Mataram. Setelah jatuhnya Blambangan dan Pati,
Sultan Agung berkenan memberi pada para prajurit dan perwira yang berjasa dengan keris bertatah
emas. Maka pada masa itu keris-keris penghargaan banyak diberikan kepada para abdi dalem yang
berjasa. Keris tanda penghargaan tersebut adalah keris bertatah emas Gajah Singa. Keris Gajah
Singa merupakan simbol kemenangan atas jatuhnya Pati. Tatahan emasnya disesuaikan
dengan besarnya jabatan atau jasa dari para pahlawan yang ikut berperang menaklukkan Blambangan
dan Pati. Tahun keruntuhan Pati menurut catatan Belanda adalah tahun 1627 (De Graaf, 1990).
Setelah Sultan Agung turun tahta, tragedi berdarah yang melibatkan keris masih tak kunjung berhenti.
Bahkan, pada masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat I, Sultan Mataram setelah Sultan Agung,
katalog pembunuhan yang menggunakan keris semakin bertambah panjang. Pertama adalah peristiwa
yang dialami Pangeran Alit, adik Amangkurat I sendiri. Pangeran Alit dicurigai bakal memberontak
kekuasaan kakaknya karena banyak merekrut dan dicintai oleh para lurah di Mataram. Tanpa
penyelidikan yang memadai, Amangkurat I memerintahkan kepada para prajuritnya untuk membunuh
satu-persatu para lurah dan pengikut Pangeran Alit. Tak ayal lagi, Pangeran Alit memprotes keras –yang
memuncak pada kedatangannya ke Alun-alun Plered yang disertai para lurah yang masih setia
kepadanya. Perkelahian tak dapat dihindari. Karena jumlah yang tidak sebanding, para lurah banyak
yang terbunuh. Pangeran Alit kemudian mengamuk di alun-lun dengan kerisnya yang sakti.
Beberapa orang menjadi korban keris Pangeran Alit. Demang Malaya, atau juga disebut Cakraningrat I
dari Madura membujuk agar Pangeran Alit menghentikan pertumpahan darah dengan berlutut di
hadapan Pangeran Alit sambil menangis. Tersebab tak kuasa mengendalikan amarah, Pangeran Alit
kemudian membunuh Cakraningrat I dengan keris saktinya. Pengikut Demang Malaya, tak menerima
pembunuhan itu, dan kemudian mengeroyok Pangeran Alit. Pangeran Alit akhirnya terbunuh dalam
pertarungan yang tidak seimbang itu. Anehnya, setelah peristiwa kematian Pangeran Alit, Amangkurat I
justru memerintahkan prajuritnya untuk membunuh para pengikut Demang Malaya yang terlibat dalam
pembunuhan Pangeran Alit. Semua pengikut Demang Malaya mati terbunuh di tangan para prajurit
Mataram. Menurut catatan Belanda, peristiwa berdarah ini terjadi pada tahun 1647 M (De Graaf, 1987a).

Petaka di tanah Mataram terus berlangsung. Kali ini korbannya adalah para ulama yang dicurigai dapat
merongrong kekuasaan Amangkurat I, karena pada waktu itu pengaruh para ulama begitu besar di
masyarakat. Peristiwa yang terkenal adalah pembunuhan para ulama setelah usai sholat Jumat.
Peristiwa ini terjadi kira-kira pada tahun 1648. Setiap Jumat para perajurit rahasia Mataram selalu
membuntuti para ulama, yang kemudian dilanjutkan dengan acara eksekusi setelah isyarat pembunuhan
ditalukan, yaitu bunyi letusan Meriam Sapujagad. Ratusan, bahkan ribuan ulama terbunuh dalam targedi
itu. Meriam besar simbol petaka itu bernama Kiai Pancawara yang dibuat pada masa Sultan Agung, yang
kemudian berganti nama menjadi Kai Sapu Jagad pada masa Amangkurat I. Meriam besar itu sekarang
berada di Alun-alun utara Kraton Surakarta. Menurut De Graaf (1987), cerita ini justru tidak tertulis
dalam Babad Tanah Jawi, tetapi terdapat pada sejarah Banten dan Cirebon.

Peristiwa besar lainnya terjadi pada pertengahan tahun 1670 M, yaitu ketika gudang mesiu Kesultanan
Mataram meledak. Ledakan tersebut menyebabkan banyaknya korban jiwa. Penguasa Mataram
menuduh Raden Wiramenggala dan Raden Tanureksa sebagai biang kerok ledakan tersebut. Bersama
kerabat mereka yang jumlahnya sekitar 27 orang, mereka kemudian dihukum mati dengan cara ditusuk
dengan keris. Yang lebih menyedihkan lagi, yang diperintah membunuh Raden Wiramenggala adalah
kakaknya sendiri, yaitu Pangeran Purbaya. Peristiwa ini terdokumentasikan dalam beberapa babad,
yaitu Babad Tanah Jawi, Babad Momana, dan catatan Belanda (raporten) (De Graaf, 1990).

Melengkapi katalog pembunuhan dengan menggunakan keris pada masa Amangkurat I adalah cerita
tentang seorang dara cantik simpanan sang raja yang bernama Rara Oyi. Karena belum haid, maka Rara
Oyi dititipkan kepada Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Kelak, kalau Rara Oyi sudah besar, raja akan
memperistrinya. Pangeran Pekik kemudian menyuruh Ngabehi Wirareja dan keluarganya untuk
mengasuh anak gadis itu. Setelah menginjak dewasa, tanpa disengaja Rara Oyi yang sangat cantik
berjumpa dengan Pangeran Adipati Anom, putera sang raja. Pangeran Adipati Anom segera jatuh cinta.
Karena mengetahui Rara Oyi bakal disunting ayahnya, maka Adipati Anom segera melarikan Rara Oyi.
Menyaksikan peristiwa tersebut, Amangkurat I sangat murka, dan memerintahkan prajuritnya untuk
membunuh Pangeran Pekik dan keluarganya, yang berjumlah mencapai 40 orang. Mereka dihukum mati
dengan ditusuk keris. Ngabehi Wirareja beserta keluarganya yang berjumlah 20 orang juga dihukum
mati. Jadi, jumlah korban keseluruhan mencapai 60 Orang. Dalam Babad Tanah Jawi, tragedi berdarah
ini terjadi pada tahun 1670 (De Graaf, 1987b).

Kekuasaan Amangkurat I yang lalim, menimbulkan kebencian, ketidakpuasan, dan keresahan di tanah
Mataram. Puncak dari kebencian tersebut adalah pemberontakan Trunajaya yang bersekutu dengan
mertuanya, yaitu Pangeran Kajoran. Karena pemberontakan tersebut, kekuasaan Amangkurat I akhirnya
runtuh, yang menyebabkan Amangkurat I melarikan diri, namun akhirnya mati di daerah Tegalwangi.
Setelah meninggalnya Amangkurat I, kekuasaan Mataram berpindah kepada anaknya, Pangeran Adipati
Anom, yang bergelar Amangkurat II. Pada masa pemerintahannya, pusat kekuasaan Mataram dipindah
ke Kartasura. Pada awal pemerintahannya, Amangkurat II bertanggung jawab untuk menumpas
pemberontakan Trunajaya. Atas bantuan Belanda dan beberapa adipati yang masih loyal kepadanya,
Trunajaya dan pasukannya akhirnya dapat dikalahkan. Trunajaya ditangkap di Gunung Antang, Kediri. Di
tengah alun-alun kota, Amangkurat II menghukum mati Trunajaya dengan keris pusakanya, yaitu Kiai
Blabar. Maka tamatlah pemberontakan Trunajaya (Sudibjo, 1980; de Graaf, 1987b).

Pada saat berlangsung Perjanjian Gianti, yang membagi kekuasaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu
Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, keris juga memerankan fungsinya sebagai saksi
sejarah. Pada waktu itu, Paku Buwana II memberikan keris Kiai Kopek kepada Pangeran Mangkubumi,
yang kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwana I di Kesultanan Yogyakarta. Dengan demikian, keris
Kiai Kopek telah menjadi lambang pengakuan kedaulatan Kesultanan Yogyakarta oleh Paku Buwana II.
Jika dibabarkan semuanya tentang peran keris dalam sejarah kesultanan di Jawa, maka tulisan ini tentu
tak kuasa menampungnya, karena begitu banyak peristiwa bersejarah yang melibatkan keris di
dalamnya.

Keris juga sering disebut pada sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, baik sebelum dan sesudah
abad ke-20 M. Salah satu kisah yang tersebar luas di masyarakat Jawa, khususnya, dan Nusantara
umumnya, adalah kisah tentang seorang senapati gagah berani bernama Untung Surapati. Untung
Surapati selalu membawa keris kecil yang disembunyikan dalam cadik untaian daun sirih, dan baru
digunakan ketika ia bertemu dengan Belanda. Setiap kali berjumpa dengan orang Belanda, keris tersebut
disabetkan ke arah orang Belanda –dan seketika orang Belanda tersebut mati karena kesaktian keris
Untung Surapati itu (Suharyono, 2006).

Dalam Perang Jawa (Java Oorlog, 1825—1830 M), perang yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro,
keris juga sering memerankan fungsinya. Menurut Muhammad Yamin (dalam Suharyono, 2006),
Pangeran Diponegoro selalu membawa keris pusakanya dan diselipkan di pinggangnya. Dalam gambar
kuno akan tampak bahwa keris yang dipakai oleh Pangeran Diponegoro menggunakan jenis
sarung/warangka model gayaman Yogyakarta.

Keris juga masih saja berperan dan muncul dalam sejarah Indonesia modern. Pada masa revolusi fisik,
Panglima Besar Jendral Soedirman selalu membawa kerisnya ketika memimpin perang gerilya melawan
Belanda. Pada tahun 1949, menjelang berangkat meninggalkan kota Yogyakarta untuk memimpin gerilya,
sang jendral meminta istrinya untuk menyiapkan kerisnya. Keris itulah yang kemudian selalu terselip di
dada Jendral Soedirman selama berbulan-bulan memimpin gerilya. Bahkan, sampai beliau kembali lagi
ke Yogyakarta, keris itu masih terselip di dadanya. Dalam konteks ini, keris tersebut bukanlah senjata
yang digunakan saat berperang melawan Belanda, melainkan sebagai benda yang diyakini dapat
membuat pemakainya menjadi lebih berani dan tampak lebih berwibawa (Harsrisuksmo, 2004).

Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, pada masa kejayaanya juga terlihat selalu membawa
benda seperti keris. Benda yang dibawa Bung Karno sebenarnya bukan keris, melainkan pedang suduk
yang memakai ganja, atau keris dapur Cengkrong yang diberi warangka perak yang ditatah.
Menurut cerita yang beredar, benda itu adalah salah satu pusaka Blambangan yang diwariskan oleh
ayah Soekarno, Raden Mas Sosro kepadanya. Adapun Raden Mas Sosro mendapat benda pusaka
tersebut dari Sunan Paku Buwana ke X. Menurut kepercayaan pada masa itu, Bung Karno menjadi
sangat berani, berwibawa dan ditakuti, karena pusakanya yang mirip keris itu. Keris atau pedang suduk
ini sering terlihat pada foto–foto Bung Karno (Suharyono, 2006).

Pada sekitar tahun 1955, beredar foto resmi Bung Karno mengenakan seragam putih khas kesatuan
angkatan laut berkancing keemasan, sambil tangan kanannya memengang sebuah keris berwarangka
sandang walikat[9] berlapis silih asih[10] emas dan perak. Ini adalah foto resmi satu-satunya yang
menampilkan seorang presiden Indonesia memegang keris. Legenda mengenai Bung Karno dan kerisnya
semakin semarak ketika beliau telah wafat. Pada tahun 1920-an, sewaktu Bung Karno hendak berangkat
ke Bandung untuk kuliah di ITB, salah seorang pamannya memberikan enam bilah keris. Waktu itu, Bung
Karno menolak pemberian tersebut. Dia hanya bersedia menerima benda tersebut sebagai barang
titipan. Pada akhir tahun 1964, Bung Karno hendak mengembalikan keris-keris tersebut, namun karena
pamannya sudah meninggal, maka keris tersebut kemudian diserahkan kepada salah satu cucu
pamannya. Menurut keterangan Alm. Widyosastrosetika, salah seorang abdi dalem Kesultanan
Yogyakarta, dan juga yang pernah mewarangi keris-keris tersebut, menyebutkan bahwa satu di antara
keris-keris yang sangat istimewa tersebut adalah keris dapur Betok dan tangguh Singasari (Harsrisuksmo,
2004).

Pada zaman pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto juga sering menganggap keris sebagai salah
satu faktor penentu kesuksesan pemerintahannya. Dalam setiap lawatannya ke negara sahabat, Pak
Harto sering menghadiahkan kepada pemimpin negara sahabat sebuah keris. Biasanya, keris yang
diberikan adalah keris Bali dan keris Jawa. Peristiwa ini berlangsung berkali kali, dan pada masa itu
sering ditayangkan oleh media masa. Dengan menghadiahkan keris kepada pemimpin negara tetangga,
diharapkan posisi Pak Harto, dan secara umum bangsa Indonesia, lebih berwibawa dan setiap kerjasama
yang terjalin dapat berjalan secara lancar (Suharyono, 2006).
Ada perbedaan mencolok berhubungan dengan peran keris antara zaman Indonesia sebelum dan
sesudah abad ke-20 M. Sebelum abad ke-20 M, terlebih lagi pada masa kerajaan-kerajaan Jawa
sebagaimana tersebut di atas, keris memerankan fungsi utamanya sebagai senjata dalam peperangan,
meskipun dalam konteks tertentu keris juga menjadi simbol wibawa dan kedudukan. Hal ini dapat dilihat
pada pemberian hadiah keris bertahta emas oleh Sultan Agung kepada para prajuritnya yang turut
berjasa dalam menumpas pemberontakan Adipati Pragola II di Pati. Semakin besar jasanya –juga
semakin tinggi kedudukan yang dimiliki oleh seorang prajurit, maka akan semakin bagus pula hadiah
keris yang diberikan oleh Sultan Agung.

Berbeda halnya dengan zaman Indonesia modern. Sebab, pada zaman ini teknologi persenjataan sudah
jauh lebih maju, sehingga penggunaan keris sebagai senjata sewaktu perang sudah tidak memadai lagi.
Peran keris kemudian mulai bergeser, dari sekedar sebagai senjata, berubah menjadi simbol keberanian
dan kewibawaan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa para pemimpin Indonesia modern masih
menggunakan keris terkait dengan tugas yang diembannya.

4. Penutup

Jika ditelusuri secara lebih detil, akan ditemukan begitu banyak peran yang disandang oleh keris dalam
lintasan sejarah Indonesia. Menyadari hal tersebut, tulisan ini bukanlah semacam representasi dari
upaya memotret dinamika peran keris dalam sejarah Indonesia. Tulisan ini hanya menghadirkan serba
sedikit informasi tentang dunia perkerisan dan perannya dalam sejarah. Untuk itu, di waktu mendatang,
diperlukan kajian yang lebih mendalam dan bersifat longitudinal, sehingga informasi yang disajikan akan
lebih lengkap. Sayangnya, upaya semacam ini tentunya membutuhkan waktu yang panjang, tenaga dan
biaya yang besar. Terlebih lagi di masa sekarang ini, ketika keris sudah dianggap sebagai warisan budaya
yang menjadi milik dunia, sehingga peran yang dimainkannya menjadi jauh lebih kompleks. Para ahli dan
pecinta keris saya pikir memahami dan memaklumi masalah ini.

______________________

Mahyudin Al Mudra, adalah Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dan
Pimpinan Umum MelayuOnline.Com, RajaAliHaji.Com, dan WisataMelayu.Com

Daftar Pustaka

Al-Mudra, M., 2004, Keris dan Budaya Melayu, Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya
Melayu.

Wooley, G.C., 1998, “The Malay Keris: Its Origin and Development”, in Hill etc. The Keris and Other
Malay Weapons, Malaysia: The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society (MBRAS).

Soekiman, D., 1983, Keris: Sejarah dan Fungsinya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek Javanologi.

Harsrisuksmo, B., 2004, Ensiklopedi Keris, Jakarta: Gramedia.

Hill, A.H., 1998, “The Keris and other Malay Weapons”, in Hill etc. The Keris and Other Malay Weapons,
Malaysia: The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society (MBRAS).

Purhita, E,J., ---, Perbandingan Seni Tempa Baja Damask (Damask Steel) Pedang Persia dan Keris.
Didownload dari http://kerisologi.multiply.com/journal/item/7 pada tanggal 21 Juli 2008.

Maisey, A.G., 1998, “Origin of The Keris and Its Development to the 14th Century”, in Arms Cavalcade,
Official Journal of the Antique Arms Collectors Society of Australia Co-op Limited, Vol.1, No. 2 (April
1998), pp.8—23.

Honigmann, J.J., 1959, The World of Man, New York: Harper and Brothers.

Koentjaraningrat, 1979, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru.

Garret & Solyom, B., 1978, The World of Javanese Kris, Hawai: An Exhibition at the East-West Culture
Learning Institute.

Danujaya, B., 2000, 1000 Tahun Nusantara, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Soeharyono, B., 2006, Peran Keris dalam Sejarah. Didownload dari


http://kerisologi.multiply.com/journal/item/8 pada tanggal 21 Juli 2008.

Mangkudimedja, R.M., 1979, Serat Pararaton, Ken Arok, Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Indonesia.

Woodwaard, M.R., 2004, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Yogyakarta: LKiS.

Soetrisno, S., 2008, Hikayat Hang Tuah: Analisis Struktur dan Fungsi, Yogyakarta: Balai Kajian dan
Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM).

De Graaf, H.J., 1978a, Awal Kebangkitan Mataram, Jakarta: Pustaka Grafiti Press.

De Graaf, H.J., 1978b, Runtuhnya Istana Mataram, Jakarta: Pustaka Grafiti Press.

De Graaf, H.J., 1990, Puncak Kekuasaan Mataram, Jakarta: Pustaka Grafiti Press.

Diposkan oleh boedak SIAK di 07.11


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut

Arsip Blog
 ▼ 2011 (11)
o ► Mei (2)
o ▼ April (9)
 Kerajaan Gassib
 Melacak Asal-Usul Keris dan Perannya dalam Sejarah...
 Ayam Hutan
 Sejarah Melayu Kuno, Melayu Klasik dan Bahasa Indo...
 Rahasia Alam Gaib Menurut Islam
 Alam Gaib
 Mengobati Penyakit Hati
 PENYKIT HATI
 CARA MEMBUAT BLOG DI BLOGGER

www.melayuonline.com

boedak SIAK

Siak, Riau, Indonesia

Kesederhanaan membuat kita lebih sempurna.......

Lihat profil lengkapku


Template Picture Window. Gambar template oleh RASimon. Diberdayakan oleh Blogger.