Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teoritis Medis


2.1.1. Defenisi
Hidrosefalus (kepala-air, istilah yang berasal dari bahasa Yunani: "hydro"
yang berarti air dan "cephalus" yang berarti kepala; sehingga kondisi ini sering
dikenal dengan "kepala air") adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran
cairan di dalam otak (cairan serebro spinal atau CSS). Gangguan itu menyebabkan
cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di
sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital. Hidrosefalus adalah suatu
keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinalis,
disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorpsi,
dengan atau pernah disertai tekanan intrakanial yang meninggi sehingga terjadi
pelebaran ruangan-ruangan tempat aliran cairan serebrospinalis (Haris, 2012).
Hidrosefalus dapat didefinisikan secara luas sebagai suatu gangguan
pembentukan aliran, atau penyerapan cerebrospinal fluid (CSF) yang mengarah
ke peningkatan volume cairan di dalam SSP. Kondisi ini juga bisa disebut sebagai
gangguan hidrodinamik dari CSF. Akut hidrosefalus terjadi selama beberapa hari,
hidrosefalus subakut terjadi selama beberapa minggu, dan hidrosefalus kronis
terjadi selama bulan atau tahun. Kondisi seperti atrofi otak dan lesi destruktif
fokus juga mengakibatkan peningkatan abnormal CSF dalam SSP. Sebuah ironi
yang lebih tua yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah
hidrosefalus ex vakum (Khalilullah, 2011).
Hidrosefalus merupakan keadaan yang disebabkan gangguan
keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan serebrospinal dalam system
ventrikel otak. Jika produksi CSS lebih besar daripada absorpsi, CSS akan
terakumulasi dalam system ventrikel, dan biasanya peningkatan tekanan akan
menghasilkan dilatasi pasif ventrikel (Wong, 2008). Hidrocefalus adalah keadaan
patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dan
adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran
ruangan tempat mengeluarkan likuor (Depkes RI, 1989).

3
2.1.2. Anatomi dan Fisiologi
Ruangan cairan serebrospinal (CSS) mulai terbentuk pada minggu kelima
masa embrio, terdiri dari sistem ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan
ruangan subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf. CSS yang dibentuk di
dalam system ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke peredaran darah
melalui kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi seluruh sususan saraf
pusat. Hubungan antara system ventrikel dan ruang subarachnoid adalah melalui
foramen Magendie di median dan foramen Luschka di sebelah lateral ventrikel
IV.
Sebagian besar cairan serebrospinalis yang dihasilkan oleh pleksus
koroidalis di dalam ventrikel otak akan mengalir ke foramen Monro ke ventrikel
III, kemudian melalui akuaduktus Sylvius ke ventrikel IV. Dari sana likuor
mengalir melalui foramen Magendi dan Luschka ke sisterna magna dan rongga
subarachnoid di bagian cranial maupun spinal. Penyerapan terjadi melalui vilus
arakhnoid yang berhubungan dengan system vena seperti sinus venosus serebral,
lihat gambar.

Gambar Anatomi aliran cerebrospinal fuild


Pleksus koroidideus menghasilkan sekitar 70% cairan serebrospinal, dan
sisanya di hasilkan oleh pergerakan dari cairan transepidermal dari otak menuju
sistem ventrikel.Rata-rata volume cairan liqour adalah 90 ml pada anak-anak 4-13
tahun dan 150 ml pada orang dewasa. Tingkat pembentukan adalah sekitar 0,35

4
ml/menit atau 500 ml/hari. Oleh karena itu sekitar 14% dari total volume
mengalami absorbsi setiap satu jam. Tingkat di mana cairan serebrospinal
dibentuk tetap relatif konstan dan menurun hanya sedikit saat tekanan cairan
cerebrospinal meningkatkan.Sebaliknya, tingkat penyerapan meningkat secara
signifikan saat tekanan cairan cerebrospinal melebihi 7 mm Hg. Pada tekanan 20
mm Hg, tingkat penyerapan adalah tiga kali tingkat formation7.
Meskipun mekanisme absorbsi cairan liquor terganggu, tingkat
penyerapan tidak akan mengalami peningkatan, ini merupakan mekanisme
hidrosefalus progresif. Papilloma pleksus khoroideus yang merupakan kondisi
patologis dimana terjadi gangguan pada proses absorbs sehingga terjadi akumulasi
cairan liqour. Ketika penyerapan terganggu, upaya untuk mengurangi
pembentukan cairan serebrospinal tidak cenderung memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap volume (Khalilullah, 2011).

2.1.3. Klasifikasi
Hidrosefalus adalah suatu kondisi yang ditandai oleh volume intrakranial
cairan cerebrospinal fuild yang berlebihan. Dapat berupa communicant dan
noncommunicant, tergantung pada apakah atau tidak hubungan cairan
cerebrospinal antara sistem ventrikel dan subarachnoid space.
1. Hidrosefalus Obstruktif (Non-komunikans)
Terjadi peningkatan tekanan cairan serebrospinal yang disebabkan obstruksi
pada salah satu tempat pembentukan likuor, antara pleksus koroidalis sampai
tempat keluarnya dari ventrikel IV melalui foramen Magendi dan Luschka.
2. Hidrosefalus Komunikans
Terjadi peningkatan tekanan cairan serebrospinal tanpa disertai penyumbatan
system ventrikel.
Hidrosefalus kongenital terjadi pada sekitar satu per seribu kelahiran. Hal
ini umumnya terkait dengan malformasi congenital lain dan mungkin disebabkan
oleh gangguan genetik atau gangguan intra uterine sepertiinfeksi dan perdarahan.
Hidrosefalus didapat bisa disebabkan oleh tumor otak, perdarahan
intracranial, atau infeksi. Tumor otak yang solid secara umum menyebabkan
hidrosefalus akibat obstruksi sistem ventrikel, sementara tumor non solid seperti

5
leukemia mengganggu dari mekanisme reabsorbsi pada subarachnoid space
(Khalilullah, 2011).

2.1.4. Etiologi
Hidrosefalus terjadi karena gangguan sirkulasi likuor di dalam system
ventrikel atau oleh produksi likuor yang berlebihan. Hidrosefalus terjadi bila
terdapat penyumbatan aliran likuor pada salah satu tempat, antara tempat
pembentukan likuor dalam system ventrikel dan tempat absorpsi dalam ruang
subarachnoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS di bagian
proksimal sumbatan. Tempat yang sering tersumbat dan terdapat dalam klinis
adalah foramen Monro, foramen Luschka dan Magendi, sisterna magna dan
sisterna basalis.
Secara teoritis, pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan
absorpsi yang normal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam
klinik sangat jarang terjadi, misalnya terlihat pelebaran ventrikel tanpa
penyumbatan pada adenomata pleksus koroidalis. Penyebab penyumbatan aliran
CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak yaitu kelainan bawaan, infeksi,
neoplasma dan perdarahan (Khalilullah, 2011).
1. Kelainan Bawaaan (Kongenital)
a. Stenosis Akuaduktus Sylvius, merupakan penyebab terbanyak pada
hidrosefalus bayi dan anak ( 60-90% ). Akuaduktus dapat merupakan
saluran buntu atau abnormal lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala
hidrosefalus terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-
bulan pertama setelah lahir.
b. Spina bifida dan cranium bifida, hidrosefalus pada kelainan ini biasanya
berhubungan dengan sindroma Arnord-Chiari akibat tertariknya medulla
spinalis, dengan medulla oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah
dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian
atau total.
c. Sindrom Dandy-Walker,merupakan atresiakongenital foramen Luschka
dan Magendi dengan akibat hidrosefalus obstruktif dengan pelebaran

6
system ventrikel, terutama ventrikel IV yang dapat sedemikian besarnya
hingga merupakan suatu kista yang besar di daerah fossa posterior.
d. Kista arakhnoid,dapat terjadi congenital maupun didapat akibat trauma
sekunder suatu hematoma.
e. Anomaly pembuluh darah, dalam kepustakaan dilaporkan terjadi
hidrosefalus akibat aneurisma arterio-vena yang mengenai arteria
serebralis posterior dengan vena Galeni atau sinus tranversus dengan
akibat obstruksi akuaduktus.
2. Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga terjadi obliterasi
ruang subarachnoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta
terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulen di
akuaduktus Sylvius atau sisterna basalis. Pembesaran kepala dapat terjadi
beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudah sembuh dari meningitisnya.
Secara patologis terlihat penebalan jaringan piamater dan arakhnoid sekitar
sisterna basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa tuberkulosa,
perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar sisterna
kiasmatika dan interpendunkularis, sedangkan pada meningitis purulenta
lokasinya lebih tersebar.
3. Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi di setiap tempat aliran
CSS. Pengobatan dalam hal ini ditujukan kepada penyebabnya dan apabila
tumor tidak bisa dioperasi, maka dapat dilakukan tindakan paliatif dengan
mengalirkan CSS melalui saluran buatan atau pirau. Pada anak, kasus
terbanyak yang menyebabkan penyumbatan ventrikel IV dan akuaduktus
Sylvius bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum,
sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan suatu
kraniofaringioma.
4. Perdarahan
Telah banyak dibuktikan bahwa perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam
otak dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal

7
otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri
(Khalilullah, 2011).

2.1.5. Patofisiologi
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan
subarachnoid, ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler
mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan
mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat
pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami
pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat
merupakan proses yang tiba-tiba / akut dan dapat juga selektif tergantung pada
kedudukan penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus emergensi. Pada bayi
dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi
peningkatan massa kranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan
mengembang dan terasa tegang pada perabaan. Stenosis aquaductal (penyakit
keluarga / keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada
ventrikel lateral dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas
yaitu penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow).
Syndroma dandy walker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar
pada ventrikel IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol
memenuhi sebagian besar ruang dibawah tentorium. Klein dengan type
hidrosephalus diatas akan mengalami pembesaran cerebrum yang secara simetris
dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura kranial telah menutup sehingga membatasi
ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala : Kenaikan ICP
sebelum ventrikel cerebral menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam absorbsi
dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak komplit. CSF melebihi kapasitas
normal sistim ventrikel tiap 6-8 jam dan ketiadaan absorbsi total akan
menyebabkan kematian.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma
normal yang pada didning rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Jika route

8
kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi
keadaan kompensasi (Wong, 2008).

Produksi CSS Absorbsi


- Post infeksi : Meningitis
- Tumor space occupying
Penumpukan cairan (CSS) dalam ventrikel otak secara aktif
(Hidrosefalus)

Penatalaksanaan Obstruksi aliran pada Minimnya


shunt di ventrikel otak informasi
Pemasangan VP Shunt
Peningkatan volume Kurang
Trauma jaringan Imobilisasi Resiko Infeksi CSS Pengetahuan
sekunder akibat
tindakan operasi Gangguan integritas TIK
kulit
Nyeri

(Wong, 2008)

9
2.1.6. Manifestasi Klinis
1. Bayi
a. Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun.
b. Keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela
menjadi tegang, keras, sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
c. Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial
d. Muntah
e. Gelisah
f. Menangis dengan suara ringgi
g. Peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi,
peningkatan pernafasan dan tidak teratur, perubahan pupil, lethargi
– stupor.
h. Peningkatan tonus otot ekstrimitas
i. Tanda-tanda fisik lainnya
j. Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluh – pembuluh
darah terlihat jelas.
k. Alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolah –
olah di atas iris.
l. Bayi tidak dapat melihat ke atas, “sunset eyes”
m. Strabismus, nystagmus, atropi optik.
n. Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas
2. Anak yang telah tertutup suturanya
Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:
a. Nyeri kepala
b. Muntah
c. Lethargi, lelah, apatis, perubahan personalitas
d. Ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10
tahun.
e. Penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer
f. Strabismus
g. Perubahan pupil
(Haris, 2012)

10
2.1.7. Pemeriksaan Diagnostik
Selain dari gejala-gejala klinik, keluhan pasien maupun dari hasil
pemeriksaan fisik dan psikis, untuk keperluan diagnostik hidrosefalus dilakukan
pemeriksaan-pemeriksaan penunjang yaitu (Wijaya, 2006) :
1. Rontgen foto kepala
Dengan prosedur ini dapat diketahui:
a. Hidrosefalus tipe kongenital/infantile, yaitu: ukuran kepala, adanya
pelebaran sutura, tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial kronik
berupa imopressio digitate dan erosi prosessus klionidalis posterior.
b. Hidrosefalus tipe juvenile/adult oleh karena sutura telah menutup maka
dari foto rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan tekanan
intrakranial.
2. Transimulasi
Syarat untuk transimulasi adalah fontanela masih terbuka, pemeriksaan ini
dilakukan dalam ruangan yang gelap setelah pemeriksa beradaptasi selama 3
menit. Alat yang dipakai lampu senter yang dilengkapi dengan rubber adaptor.
Pada hidrosefalus, lebar halo dari tepi sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm.
3. Lingkaran kepala
Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dicurigai, jika penambahan lingkar
kepala melampaui satu atau lebih garis-garis kisi pada chart (jarak antara dua
garis kisi 1 cm) dalam kurun waktu 2-4 minggu. Pada anak yang besar
lingkaran kepala dapat normal hal ini disebabkan oleh karena hidrosefalus
terjadi setelah penutupan suturan secara fungsional.
Tetapi jika hidrosefalus telah ada sebelum penutupan suturan kranialis maka
penutupan sutura tidak akan terjadi secara menyeluruh.
4. Ventrikulografi
Yaitu dengan memasukkan kontras berupa O2 murni atau kontras lainnya
dengan alat tertentu menembus melalui fontanela anterior langsung masuk ke
dalam ventrikel. Setelah kontras masuk langsung difoto, maka akan terlihat
kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. Pada anak yang besar karena
fontanela telah menutup untuk memasukkan kontras dibuatkan lubang dengan
bor pada kranium bagian frontal atau oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat

11
sulit, dan mempunyai risiko yang tinggi. Di rumah sakit yang telah memiliki
fasilitas CT Scan, prosedur ini telah ditinggalkan.
5. Ultrasonografi
Dilakukan melalui fontanela anterior yang masih terbuka. Dengan USG
diharapkan dapat menunjukkan system ventrikel yang melebar. Pendapat lain
mengatakan pemeriksaan USG pada penderita hidrosefalus ternyata tidak
mempunyai nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini
disebabkan oleh karena USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem
ventrikel secara jelas, seperti halnya pada pemeriksaan CT Scan.
6. CT Scan kepala
Pada hidrosefalus obstruktif CT Scan sering menunjukkan adanya pelebaran
dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih
besar dari occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel IV sering
ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena terjadi
reabsorpsi transependimal dari CSS.
Pada hidrosefalus komunikans gambaran CT Scan menunjukkan dilatasi
ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal
dari daerah sumbatan.
7. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Untuk mengetahui kondisi patologis otak dan medula spinalis dengan
menggunakan teknik scaning dengan kekuatan magnet untuk membuat
bayangan struktur tubuh.

2.1.8. Penatalaksanaan
1. Penyuluhan
Untuk mencegah timbulnya kelainan genetik perlu dilakukan
penyuluhan genetik, penerangan keluarga berencana serta menghindari
perkawinan antar keluarga dekat. Proses persalinan/kelahiran
diusahakan dalam batas-batas fisiologik untuk menghindari trauma
kepala bayi. Jika sudah ditemukan tanda-tanda ibu hamil yang tidak
memungkinkan untuk lahir normal seperti penyempitan pinggul , dll

12
maka tindakan pembedahan Caesar sangat disarankan dari pada
menanggung resiko cedera kepala bayi sewaktu lahir.
2. Terapi Medikamentosa
Hidrocefalus dengan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada
umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi
asetazolamid dengan dosis 25-50 mg/kg BB. Pada keadaan akut dapat
diberikan menitol. Diuretik dan kortikosteroid dapat diberikan
meskipun hasilnya kurang memuaskan. Pembarian diamox atau
furocemide juga dapat diberikan. Tanpa pengobatan “pada kasus
didapat” dapat sembuh spontan ± 40-50 % kasus.
3. Pembedahan :
Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan tempat
absorbsi. Misalnya Cysternostomy pada stenosis aquadustus. Dengan
pembedahan juga dapat mengeluarkan LCS kedalam rongga cranial
yang disebut :
a. Ventrikulo Peritorial Shunt
b. Ventrikulo Adrial Shunt
Untuk pemasangan shunt yang penting adalah memberikan pengertian
pada keluarga mengenai penyakit dan alat-alat yang harus disiapkan
(misalnya : kateter “shunt” obat-obatan darah) yang biasanya
membutuhkan biaya besar.
Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan
serebrospinal dari ventrikel otak ke atrium kanan atau ke rongga
peritoneum yaitu pintasan ventrikuloatrial atau ventrikuloperitonial.
Pintasan terbuat dari bahan-bahan silikon khusus, yang tidak
menimbulkan reaksi radang atau penolakan, sehingga dapat
ditinggalkan di dalam tubuh untuk selamanya. Penyulit terjadi pada
40-50%, terutama berupa infeksi, obstruksi, atau dislokasi (Haris,
2012).

13
2.1.9. Komplikasi
1. Peningkatan tekanan intrakranial
2. Kerusakan otak
3. Infeksi : septikemia, endokarditis, infeksiluka, nefritis, meningitis,
ventrikulitis, abses otak.
4. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
5. Hematoma subdural, peritonitis, abses abdomen, perporasi organ
dalam rongga abdomen, fistula, hernia, dan ileus.
6. Kematian (Hanif, 2010)
2.2. Landasan Teoritis Keperawatan
2.2.1. Pengkajian
1. Anamnese
a. Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan
ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
b. Riwayat Perkembangan
Kelahiran : prematur, lahir dengan pertolongan, pada waktu
lahir menangis keras atau tidak.
Kekejangan: Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
 Anak dapat melihat keatas atau tidak.
 Tampak adanya pembesaran kepala. Lingkar kepala dapat
mencapai 45 cm.
 Kulit kepala tampak licin dan mengkilat. Dahi tampak
menonjol. Sertas pembuluh darah terlihat jelas.
b. Palpasi
 Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.

14
 Fontanela : Keterlambatan penutupan fontanela anterior
sehingga fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari
permukaan tengkorak.
c. Perkusi
 Perkusi pada bagian di belakang tempat pertemuan os
frontale dan os temporalis, maka dapat timbul resonansi
seperti bunyi kendi retak (cracked pot resonance). Tanda ini
dinamkan Macewen’s sign
d. Pemeriksaan Mata
 Akomodasi.
 Gerakan bola mata
 Luas lapang pandang
 Konvergensi.
 Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa
melihat keatas.
 Stabismus, nystaqmus, atropi optic.
3. Observasi tanda-tanda vital
Didapatkan data-data sebagai berikut :
a. Peningkatan sistole tekanan darah
b. Penurunan nadi / Bradicardia.
c. Peningkatan frekwensi pernapasan.
4. Diagnosa Klinis :
a. Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan
lokalisasi dari pengumpulan cairan banormal (Transsimulasi
terang)
b. Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “
Crakedpot “ (Mercewen’s Sign)
c. Opthalmoscopy : Edema Pupil.
d. CT Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus
dengan nalisisi komputer.
e. Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

15
2.2.2. Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien
hidrosefalus antara lain :
Diagnosa keperawatan post op
1. Nyeri akut b/d trauma jaringan sekunder akibat tindakan operasi
ditandai dengan pasien mengeluh nyeri, tampak meringis dan berhati-
hati saat bergerak.
2. Resiko infeksi b/d adanya jalur invasif akibat pemasangan VP shunt .
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penyakit dan perawatan
pasca operasi.

2.2.3. Intervensi Keperawatan


Diagnosa Keperawatan Post Op
Diagnosa I
Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan diharapkan nyeri
yang dirasakan klien hilang.
Kriteria Hasil : pasien mengatakan nyeri kepala berkurang atau hilang
(skala nyeri 0), dan tampak rileks, tidak meringis
kesakitan, nadi normal dan RR normal.

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan 1. Membantu dalam mengevaluasi
pasien, minta anak menunjukkan rasa nyeri.
area yang sakit dan menentukan
peringkat nyeri dengan skala nyeri
0-5 (0 = tidak nyeri, 5 = nyeri
sekali).
2. Bantu anak mengatasi nyeri seperti 2. Pujian yang diberikan akan
dengan memberikan pujian kepada meningkatkan kepercayaan diri
anak untuk ketahanan dan anak untuk mengatasi nyeri dan
memperlihatkan bahwa nyeri telah kontinuitas anak untuk terus
ditangani dengan baik. berusaha menangani nyerinya
dengan baik.
3. Pantau dan catat TTV. 3. Perubahan TTV dapat
menunjukkan trauma batang otak.
4. Jelaskan kepada orang tua bahwa 4. Pemahaman orang tua mengenai
anak dapat menangis lebih keras pentingnya kehadiran, kapan anak
bila mereka ada, tetapi kehadiran harus didampingi atau tidak,

16
mereka itu penting untuk berperan penting dalam
meningkatkan kepercayaan. menngkatkan kepercayaan anak.
5. Jelaskan kepada orang tua bahwa 5. Teknik ini akan membantu
anak dapat menangis lebih keras mengalihkan perhatian anak dari
bila mereka ada, tetapi kehadiran rasa nyeri yang dirasakan.
mereka itu penting untuk
meningkatkan kepercayaan.
6. Kolaborasi dengan tim medis 6. Pemberian analgetik dapat
dalam pemberian analgetik. membantu menghilangkan rasa
nyeri.

Diagnosa II
Tujuan : Setelah diberi asuhan keperawatan diharapkan tidak
terjadi/ adanya gejala –gejala infeksi.
Kriteria Hasil : tidak demam, tidak adanya kemerahan, tidak adanya
bengkak, dan tidak adanya penurunan fungsi. Tidak ada
nyeri setempat.
Intervensi Rasional
1. Kurangi faktor resiko nosokomial 1. Faktor-faktor ini tampak
seperti cuci tangan sebelum dan sederhana, tetapi sangat penting
sesudah melaksanakan tindakan sebagai pencegahan terjadinya
keperawatan. infeksi nosokomial.
2. Monitor / batasi kunjungan. 2. Individu dengan infeksi saluran
Menghindari kontak dengan orang napas atas, meningkatkan resiko
yang menderita infeksi saluran berkembangnya infeksi.
napas atas.
3. Lakukan teknik isolasi sesuai 3. Sesuai dengan diagnosis yang
indikasi. spesifik harus memperoleh
perlindungan infeksi orang lain
seperti TB.
4. Pertahankan hidrasi dan nutrisi 4. Membantu meningkatkan daya
yang adekuat. Berikan cairan 2500 tahan tubuh dari penyakit dan
cc/hari. mengurangi resiko infeksi akibat
sekresi yang statis.
5. Pertahankan prinsip aseptic pada 5. Meminimalisir masuknya
drainase dan ekspirasi shunt. mikroorganisme dari terpasangnya
shunt.
6. Bantu perawatan diri dan 6. Menunjukkan kemampuan secara
keterbatasan aktivitas sesuai umum dan kekuatan otot dan
toleransi. Bantu program latihan. merangsang pengembalian system
imun.
7. Kolaborasi: 7. Satu atau beberapa agen diberikan
Berikan antibiotik sesuai indikasi. tergantung dari sifat patogen dan
infeksi yang terjadi.

17
Diagnosa III
Tujuan : Setelah diberi asuhan keperawatan diharapkan pasien
mengetahui tentang penyakit yang dialami dan memahami
tentang perawatan pasca operasi.
Kriteria Hasil : Pasien dan keluarga memahami tentang penyakit pasien
Menunjukan perubahan prilaku.
Intervensi Rasional
1. Tentukan tingkat pengetahuan 1. Mempengaruhi pilihan terhadap
pasien dan kemampuan untuk intervensi yang akan dilakukan.
berperan serta dalam proses
rehabilitasi.
2. Jelaskan kembali mengenai 2. Memberikan kesempatan untuk
penyakit yang diderita pasien dan mengklrifikasi kesalahan persepsi.
perlunya pengobatan atau
penanganan.
3. Anjurkan untuk mengungkapkan 3. Meningkatkan kembali pada
apa yang dialami, bersosialisasi perasaan normal dan
dan meningkatkan perkembangan hidupnya pada
kemandiriannya. situasi yang ada.
4. Bekerja dengan orang terdekat 4. jika pasien dapat kembali
untuk menentukan peralatan yang kerumah, perawatan dapat
diperlukan dalam rumah sebelum difasilitasi dengan alat bantu.
pasien pulang.

18