Anda di halaman 1dari 9

1.

Adanya cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah


Indonesia khususnya berusaha mencapainya dengan pembangunan di
berbagai sektor. Hasil pembangunan diharapkan dapat meningkatkan output
berupa barang dan jasa yang berkualitas serta dalam jumlah yang meningkat.
Dari sinilah diharapkan akan adanya peningkatan pendapatan nasional yang
merupakan cikal bakal peningkatan pendapatan per kapita.
Tingginya pendapatan per kapita dihasilkan oleh tingginya pendapatan
nasional dari sebagian kecil penduduk suatu negara. Jadi masalahnya terletak
pada distribusi pendapatan nasional itu sendiri. Bila sebagian besar masyarakat
suatu negara memperoleh pendapatan yang cukup tinggi, maka pendapatan per
kapita bisa dijadikan sebagai tolak ukur kemakmuran rakyat suatu negara dan
tingkat pembangunan sebuah negara, yaitu semakin besar pendapatan
perkapitanya, semakin makmur negara tersebut. Berikut adalah contoh tabel
perhitungan pendapatan per kapita.
Tabel 1.2 Contoh Perhitungan Pendapatan Per Kapita tahun 1999
Negara PDB per tahun Penduduk Pendapatan per kapita
(juta US $) (juta) (US $)
Indonesia 130.600 204 640
India 427.740 980 440
Malaysia 81.311 22 3.670
Singapura 95.453 3 30.170
Korea 398.825 46 8.600
Meksiko 358.059 96 3.840
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa pada suatu negara yang
memiliki PDB tinggi belum tentu pendapatan per kapitanya juga tinggi. Hal ini
dikarenakan oleh faktor jumlah penduduk yang mempengaruhi besar kecilnya
pendapatan per kapita. Pada tabel menunjukkan PDB tertinggi adalah pada
negara India, tetapi akibat jumlah penduduk yang tinggi menyebabkan
pendapatan per kapitanya rendah. Sebaliknya pada negara Singapura memiliki
PDB yang rendah tetapi pendapatan per kapitanya tinggi dikarenakan jumlah
penduduk yang rendah.
Menurut pengelompokkan negara berdasarkan tinggi rendahnya
pendapatan per kapita yang dilakukan oleh Bank Dunia (World Bank), Indonesia
yang memiliki pendapatan per kapita sebesar US$ 640 termasuk Negara yang
berpendapatan menengah ke bawah (Lower Middle Economics). Pendapatan
per kapita di Indonesia memang selalu mengalami kenaikan maupun penurunan.
Hal ini dapat dilihat pada grafik pendapatan per kapita Indonesia pada tahun
1995-1998.
3.Masalah dan Keterbatasan Pendapatan Bruto Nasional
Manfaat dan Keterbatasan Perhitungan PDB
a. Perhitungan PDB dan Analisa Kemakmuran
Perhitungan PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat
kemakmuran suatu negara, dengan cara membaginya dengan jumlah
penduduk (disebut PDB per kapita). Menurut PBB, sebuah negara dikatakan
miskin bila PDB per kapitanya lebih kecil daripada US$ 450,00. Berdasarkan
standar ini, maka sebagian besar negara-negara di dunia adalah negara
miskin. Suatu negara dikatakan makmur/kaya bila PDB perkapita lebih besar
daripada US$ 800.
Kelemahan dari pendekatan di atas adalah tidak memperhatikan aspek
distribusi pendapatan. Akibatnya angka PDB per kapita kurang memberikan
gambaran rinci tentang kondisi kemakmuran suatu negara. Misalnya,
walaupun Amerika Serikat yang PDB perkapitanya US$ 29.080 (tahun 1997),
namun negara itu masih terus bergelut dengan masalah kemiskinan dan
pengangguran, terutama di kalangan warga kulit hitam ataupun pendatang
(kulit berwarna). Bahkan secara absolut tampaknya jumlah penduduk miskin
di Amerika serikat akan bertambah.
Faktor utama pemicu gejala di atas adalah masalah distribusi pendapatan.
Walaupun distribusi pendapatan di USA relatif baik, tetapi belum sempurna
untuk membuat seluruh penduduknya menjadi makmur. Bahkan untuk faktor
produksi non tenaga kerja, terutama uang dan modal, distribusi
penguasaannya sangat buruk. Pada tahun 1996, sekitar 46% aset finansial
dikuasai hanya oleh sekitar 1% penduduk.
b. Perhitungan PDB dan Masalah Kesejahteraan Sosial
Umumnya ukuran tingkat kesejahteraan yang dipakai adalah tingkat
pendidikan, kesehatan dan gizi, kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan
masa depan yang lebih baik. Ada hubungan yang positif antara tingkat PDB
per kapita dengan tingkat kesejahteraan sosial. Makin tinggi PDB per kapita,
tingkat kesejahteraan sosial makin membaik. Hubungan ini dapat dijelaskan
dengan menggunakan logika sederhana. Jika PDB per kapita mkin tinggi,
maka daya beli masyarakat, kesempatan kerja serta masa depan
perekonomian makin membaik. Sehingga gizi, kesehatan, pendidikan,
kebebabasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan, kondisinya makin
meningkat. Tapi dengan catatan, peningkatan PDB per kapita disertai
perbaikan distribusi pendapatan.
Masalah mendasar dalam perhitungan PDB adalah tidak diperhatikannya
dimensi nonmaterial. Sebab PDB hanya menghitung output yang dianggap
memenuhi kebutuhan fisik/ materi yang dapat diukur dengan nilai uang.
Sedangkan output yang tidak terukur dengan uang, misalnya ketenangan
batin yang diperoleh dengan menyandarkan hidup pada norma-norma
agama/spiritual tidak dihitung. Sebab, dalam kenyataannya kebahagiaan tidak
hanya ditentukan oleh tingkat kemakmuran, tetapi juga ketenangan batin.
Jadi kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa kesejahteraan sosial di
negara-negara kaya(Amerika Serikat dan Jepang) adalah jauh lebih baik
dibanding di negara-negara miskin (misal Bhutan dan Nepal). Karena, tingkat
kejahatan dan tingkat bunuh diri di negara-negara kaya tersebut lebih tinggi di
banding negara-negara miskin.
c. PDB Per Kapita dan Masalah Produktivitas
Untuk memperoleh perbandingan produktivitas antar negara, ada beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan:
1) Jumlah dan komposisi penduduk : Bila jumlah penduduk makin
besar, komposisi-nya sebagian besar adalah penduduk usia kerja (15-64
tahun) dan berpendidikan tinggi (> SLA), maka tingkat output dan
produktivitasnya dapat makin baik.
2) Jumlah dan struktur kesempatan kerja :
Jumlah kesempatan kerja yang makin besar memperbanyak penduduk usia
kerja yang dapat terlibat dalam proses produksi. Tetapi komposisi kerja pun
mempengaruhi tingkat produktivitas. Sekalipun kesempatan kerja sangat
besar, tetapi semuanya adalah kesempatan kerja sektor pertanian,
produktivitas pekerja juga tidak tinggi. Sebab sektor pertanian umumnya
memiliki nilai tambah yang rendah. Jika kesempatan kerja yang dominan
berasal dari sektor kegiatan ekonomi modern (industri dan jasa), maka output
per pekerja akan relatif tinggi, karena nilai tambah kedua sektor tersebut amat
tinggi.
3) Faktor-faktor nonekonomi :
Yang tercakup dalam faktor-faktor nonekonomi antara lain etika kerja, tata
nilai, faktor kebudayaan dan sejarah perkembangan. Jepang pantas menjadi
negara yang produktif sebab selain jumlah penduduk yang banyak,
berpendidikan tinggi dan umumnya bekerja di sektor modern, mereka juga
memiliki etika kerja yang baik, menjujung tinggi kejujuran dan penghargaan
tergadap senior. Dan Jepang juga merupakan negara yang selama kurang
lebih 3.000 tahun terus menerus membangun dirinya menjadi bangsa modern,
walaupun pembangunan ekonomi modernnya baru dimulai dua abad yang
lalu.
d. Penghitungan PDB dan Kegiatan-kegiatan Ekonomi Tak Tercatat
(Underground Economi)
Angka statistik PDB Indonesia yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik
hanya mencatat kegiatan-kegiatan ekonomi formal. Karena itu, statistik PDB
belum mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu negara. Misalnya,
upah pembantu rumah tangga di Indonesia tidak tercatat. Begitu juga dengan
kegiatan petani buah yang langsung menjual produknya ke pasar.
Di negara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan pencatatan lebih
disebabkan oleh kelemahan administratif dan struktur kegiatan ekonomi
masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan informal. Tetapi di negara-
negara maju, kebanyakan kegiatan ekonomi yang tak tercatat disebabkan
oleh karena kegiatan tersebut merupakan kegiatan ilegal atau melawan
hukum. Padahal, nilai transaksinya sangat besar. Misalnya, kegiatan
penjualan obat bius dan obat-obat terlarang lainnya

Pendapatan per kapita yang digunakan sebagai barometer untuk


mengukur taraf hidup rata-rata masyarakat suatu negara masih ada kekurangan-
kekurangan, hal ini disebabkan oleh berikut ini.
1. Tingginya pendapatan per kapita suatu negara dalam perhitungannya
kurang memperhatikan aspek pemerataan distribusi pendapatan dan harga
barang keperluan sehari-hari.
2. Tingginya pendapatan per kapita belum tentu mencerminkan secara realistis
tingkat kesejahteraan masyarakat, karena ada faktor-faktor lain yang
sifatnya relatif atau sangat subjektif sehingga sulit diukur tingkat
kesejahteraannya.
3. Tingginya pendapatan per kapita tidak menjelaskan mengenai masalah
pengangguran yang ada serta berapa lama seseorang itu bekerja.
Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDBper kapita. Pendapatan
per kapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat
pembangunan sebuah negara. Apabila pendapatan nasional sebuah negara
tinggi, tetapi jumlah penduduknya besar maka pendapatan per kapitanya akan
rendah. Sebaliknya, apabila pendapatan nasional rendah, tetapi jumlah
penduduk kecil, pendapatan per kapitanya mungkin tinggi. Pendapatan per
kapita yang tinggi dapat memberikan gambaran umum tentang kesejahteraan
penduduk, semakin besar pendapatan per kapitanya, maka akan semakin
makmur negara tersebut.

C. Perbandingan per Kapita Indonesia dengan Negara lain

Pendapatan per kapita Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia


Tenggara, ternyata masih termasuk rendah. Untuk lebih jelasnya, lihat tabel 1.2.
Sementara itu, pertumbuhan PNB Riil Per Kapita di dunia dapat Anda pelajari
tabel 1.3.

Berdasarkan tabel 1.3, secara umum pada tahun 1998 pertumbuhan PNB Riil Per
Kapita di dunia mengalami penurunan sebagaimana halnya Indonesia kecuali
negara-negara tertentu seperti Amerika Serikat, Jerman, Kanada dan Perancis.

Hal ini terjadi, karena di dunia yang arus globalisasinya semakin gencar, kejadian
atau masalah yang terjadi di suatu negara atau kawasan tertentu akan berdampak
pula pada negara lainnya.

Pertumbuhan PNB riil per kapita di suatu negara atau di suatu kawasan, tidak bisa
dipisahkan dari pertumbuhan ekonomi negara atau kawasan yang bersangkutan.
Coba saja Anda bandingkan tabel 1.3 dan tabel 1.4 di bawah ini. Apa yang Anda
bisa simpulkan?
Dari perbandingan tabel 1.3 dan tabel 1.4 bisa diambil kesimpulan, bahwa
pertumbuhan ekonomi suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan PNB
riil per kapita. Apabila pertumbuhan ekonominya naik, maka pertumbuhan PNB
riil per kapita juga naik. Tentunya hal tersebut sangat dipengaruhi oleh
pertumbuhan pendapatan nasional dan pertumbuhan jumlah penduduknya.

Selanjutnya tentu Anda bertanya-tanya, untuk apa sih perhitungan pendapatan per
kapita ini di pelajari? Coba Anda jawab sendiri lalu bandingkan dengan manfaat
pendapatan per kapita di bawah ini.

1. Mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara.


2. Mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan di berbagai negara.
3. Dapat mengelompokkan suatu negara berdasarkan pengelompokkan Bank Dunia.
4. Dapat memperkirakan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu negara dalam mencapai
kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Untuk Anda sendiri, kira-kira manfaat apa yang dapat diperoleh dari mempelajari
pendapatan per kapita ini? Saya yakin banyak jawaban yang bisa muncul. Minimal
Anda dapat menggunakan cara menghitung pendapatan per kapita untuk anggota
keluarga Anda sendiri.

Cobalah Anda ikuti langkah berikut ini!

a. Tanyakan pada orang tua Anda berapa rata-rata penghasilannya tiap bulan, lalu kalikan
12, untuk mencari penghasilan setahun.
b. Hitung jumlah anggota keluarga Anda.
c. Penghasilan setahun (a) dibagi jumlah anggota keluarga (b), hasilnya adalah pendapatan
per kapita dari keluarga Anda.
d. Bandingkan pendapatan per kapita keluarga Anda dengan pendapatan perkapita Indonesia.

Berapa hasilnya? Anda tentu telah mengikuti langkah-langkah di atas dan hasilnya
telah Anda ketahui. Jika hasilnya lebih tinggi berarti pendapatan per kapita
keluarga Anda ada di atas rata-rata pendapatan penduduk Indonesia. Begitupun
sebaliknya, bila hasilnya lebih kecil tentu pendapatan perkapita keluarga Anda
berada di bawah rata-rata pendapatan nasional!

Menurut Adam Smith, ada tiga tugas pemerintahan suatu negara terhadap
masyarakatnya.

1. Melindungi masyarakat dari serangan pihak luar


2. Melindungi masyarakat dari ketidakadilan atau gangguan masyarakat lain.
3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Khusus menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Indonesia
khususnya berusaha mencapainya dengan pembangunan di berbagai sektor. Hasil
pembangunan diharapkan dapat meningkatkan output berupa barang dan jasa yang
berkualitas serta dalam jumlah yang meningkat. Dari sinilah diharapkan akan
adanya peningkatan pendapatan nasional yang merupakan cikal bakal peningkatan
pendapatan per kapita.

Apakah tingginya pendapatan per kapita suatu negara betul–betul dapat menjamin
kemakmuran rakyatnya?

Jawabannya belum tentu. Sebab, bisa saja tingginya pendapatan per kapita itu
dihasilkan oleh tingginya pendapatan nasional dari sebagian kecil penduduk suatu
negara. Jadi masalahnya terletak pada distribusi pendapatan nasional itu sendiri.
Bila sebagian besar masyarakat suatu negara memperoleh pendapatan yang cukup
tinggi, maka pendapatan per kapita bisa dijadikan sebagai tolak ukur kemakmuran
rakyat suatu negara.