Anda di halaman 1dari 2

adakah yang pernah merasa kecewa, putus asa, hingga merasa tak lagi bisa apa-apa?

pastinya kita semua pernah mencicipi masa-masa pahit dalam perjalanan hidup kita,
hingga hidup dalam keberpura-puraan menjadi salah satu pilihan ketika keinginan tak
lagi bisa diwujudkan.

akhir-akhir ini banyak diantara kita yang semakin hari semakin jenuh dan penat
merasakan keadaan di sekitar. mulai dari maju-mundurnya jadwal perkuliahan,
padatnya kegiatan diluar perkuliahan, hasil pencapaian target yang tidak sesuai
harapan, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu per satu. namun jika kita
amati bersama, ternyata juga tidak ada perubahan yang signifikan sesuai dengan apa
yang kita harapkan. entah itu sudah melalui beberapa perjuangan maupun hanya bisa
terdiam menunggu asa yang mati di dalam.

apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekeliling kita? apa yang bisa memunculkan
keadaan yang saat ini tengah kita rasakan? bagaimana keadaan seperti ini ada dan tetap
bertahan hingga akhirnya menjadi sesuatu yang kita anggap biasa? pertanyaan-
pertanyaan itu pun mulai memutari isi kepala kita hingga memunculkan banyak
pertanyaan lain yang kita sendiri masih menerka-nerka dan mencari tahu jawabannya.

Karena sudah banyak yang meresahkannya, ijinkan saya meninjau dari berbagai sudut
pandang mengenai persoalan kehidupan kampus kita.

pertama, saya merasa bahwa kita sendiri masih belum sepenuhnya sadar akan peran
dan tugas kita sebagai mahasiswa yang kerap diberi label kaum intelektual di negeri ini.
masih banyak yang merasa tugas kita hanya untuk datang kuliah, memperhatikan
dosen, menyelesaikan tugas yang diberikan, dan kembali pulang ke rumah. masih
banyak yang belum paham mengenai aktualisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi beserta
peran kita di dalamnya. dan tentunya masih banyak yang acuh tak acuh terhadap
kondisi yang ada di sekitar kita terutama di kampus tercinta Fakultas Kedokteran
Universitas Jember.

kedua, menurut saya masih banyak aktivis yang minim pengetahuannya soal
berorganisasi. masih banyak yang asal bikin kegiatan, tidak paham betul latar belakang
dan urgensinya. masih banyak yang malu berinisiasi atau bermental "mlempem", masih
banyak yang mengikuti arus dari tahun-tahun sebelumnya. saya pun masih belum
mengerti mengapa jadwal kegiatan non-akademik (di luar perkuliahan) bisa sebegitu
padatnya, mungkinkah karena belum adanya peraturan soal pengajuan dan penerimaan
kegiatan, mungkinkah karena tidak ada audit kegiatan oleh pihak BEM maupun
dekanat, atau justru karena tingginya rasa ‘ingin lebih dari yang lain’ di setiap ormawa
sehingga saling bersaing untuk mengadakan kegiatan agar banyak peminatnya maupun
uangnya.

Ketiga, jajaran pemangku kebijakan paling tinggi di kampus yang masih kurang
mendukung dan mengayomi anak-anaknya, bisa menjadi salah satu penyebab overload
nya kegiatan tadi. Mereka hanya butuh hasil laporan pertanggung jawaban (LPJ)
kegiatan sesuai dengan nominal yang mereka berikan. Aspirasi yang kita sampaikan
baik melalui BPM maupun secara individual pun sering kali mendapat hasil yang tidak
sesuai dengan harapan. Serta jarangnya melihat mereka menghadiri undangan
pembukaan acara yang diadakan teman-teman ormawa. Saya pun masih merasa
hubungan antara orang tua dan anaknya ini kurang harmonis, bisa dilihat dari usaha
memajukan kampus yang seharusnya dilakukan secara kompak dan sinergis.

Mungkin masih ada lagi yang belum saya bicarakan, namun sudahkah masing-masing
dari kita mencari solusi dan berusaha memperbaikinya? Sudahkah kita peduli terhadap
lingkungan sekitar dan berani mengambil tindakan? Sudahkah kita berintrospeksi dan
belajar dari yang tak berkesudahan?

Jika rasa saling memiliki dan saling mencintai kampus masih kurang dalam diri kita, lalu
bagaimana bisa kita bergabung menjadi satu kesatuan untuk berjuang atas nama FK
UNEJ? Jika tujuan kita masih terpecah belah oleh berbagai kelompok maupun golongan,
bagaimana bisa kita berjalan seirama berjuang untuk skala yang lebih besar atas nama
FK UNEJ? dan jika hubungan diantara kita masih kurang harmonis, lalu bagaimana bisa
satu keluarga yang ditempa, dibina, dan dibesarkan di rumah yang sama menciptakan
lingkungan yang nyaman bagi penghuninya?

Jangan ucapkan selamat pada jiwa-jiwa yang belum tentu selamat, berbelasungkawalah
pada nafas yang terbuang sia-sia. Lebih baik sengsara dalam nafas pengorbanan dari
pada terus menerus hidup dalam kebohongan. Tak ada yang lebih bernilai dari
melakukan suatu hal tapi salah dari pada sembunyi dan berdiam dalam sebuah
kesangsian. Sekarang atau tidak sama sekali. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?