Anda di halaman 1dari 5

Penentuan Diagnostik Lymphadenopathy Colli Dengan Metode

Biopsi pada Penderita HIV-TB Di Rumah Sakit


Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso

Ida Bagus Sila Wiweka, Adria Rusli, Titi Sundari, Stevanus, Marti Kusumaningsih,
Sardikin Giriputro, Faisal Rizal Matondang, Ervan Budiman

Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso

Abstrak. Mycobaterium tuberculosis (M.tuberculosis) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Salah satu
manifestasi klinis yang terinfeksi M.tuberculosis adalah pembesaran kelenjar getah bening pada regio colli, axilla,
inguinal, abdominal yang sering di sebut tuberkulosis kelenjar. Tuberkulosis kelenjar masih sering menimbulkan
permasalahan baik dari segi diagnostik, pengobatan dan pemantauan hasil pengobatannya teristimewa di
daerah endemis TB, ditambah lagi gejala tuberkulosis pada penderita HIV sering tidak jelas manifestasi yang
sering timbul adalah pembesaran kelenjar getah bening.
Telah dilakukan penelitian pada 11 pasien HIV dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang diduga
karena infeksi M.tb serta bersedia secara tertulis mengikuti penelitian ini. Pada semua subjek dilakukan biopsi
jarum halus dan biopsi dengan pembedahan. Hasil biopsi tersebut dilakukan pemeriksaan pewarnaan langsung
BTA; sitologi dan PCR. Hasil yang didapat adalah preparat BTA langsung dari BJH 36,4%; Sitologi dari BJH
positif tuberkulosis 36,4%; PCR tuberkulosis positif 45,5%; Hasil pemeriksaan Patologi Anatomi (PA) yang positif
tuberkulosis adalah 72,7%.
Berdasarkan penelitian perbandingan pemeriksaan Mycobaterium tuberculosis pada pembesaran KGB pada
pasien HIV dianjurkan melakukan pemeriksaan PA dari bahan spesimen ekstirpasi dari kelenjar getah bening
leher, pertimbangankan PCR tuberkulosis yang non invasif.

Kata Kunci : Kelenjar getah bening, PCR tuberkulosis, Patologi Anatomi.

Koresponden : Adria Rusli, RSPI Prof. Dr. 100.000 orang dengan yang terus
Sulianti Saroso, Jl. Baru Sunter Permai, meningkat.3 namun data terakhir
PapanggoTanjung Priok, Jakarta Utara,
Telp:(021)6506559 ext.6001 menunjukan bahwa indonesia menempati
posisi no 5 sebagai negara terbanyak
PENDAHULUAN penderita tb.4
Insidens penyakit TB akan mengalami
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah peningkatan dengan masuknya HIV/AIDS.
kesehatan dunia.1,2 Sekitar sepertiga Kombinasi TB dengan HIV/AIDS sangat
penduduk dunia telah terinfeksi berbahaya dan mematikan. Menurut
tuberkulosis dan sebagian besar (95%) WHO, infeksi HIV terbukti merupakan
faktor yang memudahkan terjadinya TB
terdapat di negara berkembang.Pada
pada orang yang terinfeksi M.tuberculosis,
tahun 2003 di seluruh dunia diperkirakan meningkatkan risiko perubahan TB laten
terdapat 8,8 juta kasus baru TB dengan menjadi TB aktif dan kekambuhan TB,
3,9 juta diantaranya berpotensi menyulitkan diagnosis TB dan
menularkan penyakit.2 Indonesia memperburuk stigma. TB juga menjadi
menempati peringkat ketiga sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas utama
negara dengan insiden TB terbanyak pada ODHA karena TB memperburuk
status imunosupresi mereka. Koinfeksi
menurut laporan WHO.3 Pada tahun 2004,
HIV-TB akan menyulitkan
diperkirakan setiap tahun terdapat penatalaksanaan TB karena
539.000 kasus baru TB dan 101.000 menyebabkan gambaran klinis yang atipi,
kematian akibat TB. Insiden TB di menurunkan sensitivitas pemeriksaan
Indonesia diperkirakan sekitar 234 per dahak, meningkatkan frekuensi alergi

The Indonesian Journal of Infectious Disease 1


obat, meningkatkan resistensi Obat Anti- Table 1. Clinical Manifestations of
Tuberkulosis (OAT) dan meningkatkan Tuberculosis in HIV infected patiens (n=130)
angka kematian akibat infeksi lain selama Percen-
Manifestations Number
pasien dalam pengobatan TB5. tage
Insidens penyakit TB akan mengalami Pulmonary 104 80.00
Tuberculosis
peningkatan dengan masuknya HIV / Extra-pulmonary 50 38.46
AIDS. Kombinasi TB dengan HIV/AIDS tuberculosis
sangat berbahaya dan mematikan., - Hilar/mediastinal 14 10.77
lymphadenopathy
Menurut WHO, infeksi HIV terbukti
- Extra-thoracic 9 6.90
merupakan faktor yang memudahkan lymphadenopathy 18 13.85
terjadinya TB pada orang yang terinfeksi - Pleural effusion 5 3.85
M. Tuberculosis, meningkatkan risiko - Miliary 2 1.54
tuberculosis 1 0.77
perubahan TB laten menjadi TB aktif dan
- Meningitis 1 0.77
kekambuhan TB, menyulitkan diagnosis - Ascites
TB dan memperburuk stigma. TB juga - Pericardial
menjadi penyebab morbiditas dan effusion
Pulmonary 80 61.54
mortalitas utama pada ODHA karena TB tuberculosis alone
memperburuk status imunosupresi Extra-Pulmonary 26 20.00
mereka. Koinfeksi HIV-TB akan tuberculosis alone
menyulitkan penatalaksanaan TB karena Both pulmonary and 24 18.46
extra pulmonary
menyebabkan gambaran klinis yang atipi, tuberculosis
menurunkan sensitivitas pemeriksaan Sumber : Zuber A, Mohd S. Manifestations of
dahak, meningkatkan frekuensi alergi Tuberculosis in HIV Patients. JIACM 2005
obat, meningkatkan resistensi Obat Anti-
Diagnosis pasti ditegakkan bila
Tuberkulosis (OAT) dan meningkatkan ditemukan basil Mycobacterium
angka kematian akibat infeksi lain selama tuberculosis pada pemeriksaan sediaan
pasien dalam pengobatan TB.5 langsung dan/atau kultur dahak.
Pasien dengan HIV lebih cenderung Pemeriksaan ini biasanya disebut
memiliki manifestasi TB ekstrapulmonal pemeriksaan dahak BTA. Pemeriksaan
dibandingkan pasien tanpa HIV. 40-80% sputum penting karena ditemukannya
pasien TB dengan HIV meiliki manifestasi kuman bakteri tahan asam (BTA),
ekstrapulmonal, sedangkan pada pasien diagnosis tuberkulosis sudah dapat
tanpa HIV hanya 10-20%. Risiko dipastikan. Di samping itu pemeriksaan
terjadinya TB ekstrapulmonal meningkat sputum juga dapat memberikan evaluasi
dengan semakin rendahnya jumlah terhadap pengobatan yang sudah
limfosit T CD4. Manifestasi diberikan. Dalam pemeriksaan sputum,
ekstrapulmonal yang umum terjadi ialah pasien dianjurkan minum air sebanyak
keterlibatan pleura dan kelenjar limfa, kurang lebih 2 liter dan diajarkan
namun keterlibatan organ lainpun juga melakukan refleks batuk. Dapat juga
dapat terjadi seperti tulang dan sendi, dengan memberikan tambahan obat
jaringan lunak, system saraf pusat, dan mukolitik ekspektoran, dapat juga dengan
perikardium.6 Pada infeksi lanjut juga cara bronkoskopi.7 Namun pada penderita
sering ditemukan mikobakteremia (20- Limfadenitis TB hal ini sulit dilakukan
49%) dibanding infeksi awal (0- karena biasanya tidak ada kelainan di
7%).6,8Pada tabel 1 tampak beberapa organ paru jadi tidak didapatkan sputum.
gejala klinis penderita HIV- TB. Untuk mendiagnosis TB kelenjar
dibutuhkan pemeriksaan biopsi jarum
halus atau biopsi eksisi, namun masalah
yang timbul adalah angka kepositifannya
yang rendah.

2 The Indonesian Journal of Infectious Disease


Penelitian ini diharapkan memperoleh Tabel 3. Karakteristik pasien berdasarkan jenis
uji diagnosis pada TB kelenjar dengan kelamin, pekerjaan dan merokok.
membandingan uji BTA langsung, Biakan Karkateristik n %
& PCR TB.
METODOLOGI Jenis Kelamin
Laki-laki 10 90.90
Semua pasien HIV dewasa yang Prempuan 1 9.10
berobat di RSPI Prof dr. Sulianti Saroso Pekerjaan
Swasta 8 72.73
mulai Januari 2011 sampai Desember
lainya 3 27.27
2011 yang terbukti dengan pemeriksaan
Merokok
rapid test dan Elisa yang mempunyai Ya 10 90.90
temuan klinis pembesaran kelenjar getah tidak 1 9.10
bening leher dan bersedia mengikuti
penelitian ini ada 11 subjek. Subjek Keluhan utama pada pasien terbanyak
mengalami pemeriksaan biopsi jarum adalah batuk (63,6%) seperti yang tampak
halus dan biopsi/ eksisi pada kelenjar pada tabel 4 di bawah ini:
getah bening yang sama. Setelah biopsi Tabel 4. Keluhan utama pasien limfadenopati
jarum halus dilakukan pemeriksaan colli dan HIV
langsung dengan metode pewarnaan Zeil-
Neilson, sitologi dan PCR tuberkulosis, Keluhan Utama n %
sedangkan bahan dari biopsi /eksisi untuk
pemeriksaan Patologi Anatomi. BAB cair
Ya 1 9.10
HASIL Tidak 10 90.90
Batuk
Dari 226 subjek penderita HIV Ya 7 63.63
tidak 4 36.36
didapatkan 122 penderita juga menderita
Berat badan turun
TB dan hanya 15 penderita yang Ya 3 27.27
didiagnosis limfadenitis TB-HIV namun Tidak 8 72.73
hanya 11 orang pasien dengan HIV positif
dan pembesaran kelenjar getah bening Gambaran radiologi yang terbanyak
leher yang bersedia mengikuti penelitian pada kasus yang di dapatkan adalah
normal yaitu 6 (54,5%) seperti tampak
ini dengan serangkaian pemeriksaan
pada tabel 5 di bawah ini.
sesuai prosedur penelitian dari data yang
ada didapatkan karakteristik pasien Tabel 5. Gambaran radiologi pasien
seperti pada tabel 2 di bawah ini : limfadenopati colli dan HIV
Tabel 2. Karakteristik pasien limfadenopati Toraks foto n %
colli dan HIV berdasarkan umur,
LED,SGOT,SGPT,CD4,Leukosit, Segmen dan Bronkitis 3 27,27
Lymphosit.
Normal 6 54,55
Karkateristik Rerata Kisaran
Umur 31,82 25-43 TB parahiler 2 18,18
LED 56,27 15-94
SGOT 50,91 15-156 Pemeriksaan BTA untuk pada
SGPT 53,55 12-234 penelitian ini didapatkan terbesar adalah
CD4 37,36 8-90 Biopsi kelenjar yaitu 72,7% (8/11) seperti
tampak pada tabel 6 dibawah ini:
Leukosit 7,66 4-15 (rb)
Segmen 76,73 62-90 %
Lymphosit 17,55 8-30 %

The Indonesian Journal of Infectious Disease 3


Tabel 6. Hasil biopsi pada pemeriksaan pasien Hasil pemeriksaan biopsi kelenjar
limfadenopati colli dan HIV getah bening didapatkan bahwa biopsi
Pemeriksaan n % eksisi mempunyai angka kepositipannya
yang paling besar sekitar 72,7 %. Hal ini
BJH untuk smear 4 36,4
langsung (ZN) menunjang teori atau penelitian
BJH untuk Sitologi 4 36,4 sebelumnya yang menyatakan bahwa
BJH untuk PCR 5 45,5 biopsi eksisi merupakan baku emas
Biopsi KGB untuk 8 72,7 diagnostik limfadenitis TB. Ini disebabkan
PA karena hasil sediaan biopsi eksisi adalah
histopatologi yang relatif lebih besar
PEMBAHASAN dibandingkan dengan biopsi jarum halus
yang merupakan sediaan sitologi. Namun
Pada penelitian ini didapatkan hasil,
karena tindakan biopsi eksisi lebih besar
penderita Limfadenitsi TB-HIV paling
risikonya (traumatik lebih besar) dan
banyak diderita oleh laki laki yaitu
membutuhkan biaya yang besar maka kita
sebanyak 90,9%, hal ini sesuai dengan
perlu mempunyai alternatif diagnosis lain
penelitian terdahulu dan angka laporan
yang lebih tidak traumatik dan tidak terlalu
kesakitan RSPI SS yang menyatakan laki-
mahal. Dari penelitian ini didapatkan
laki lebih banyak menderita TB-HIV. Hal
pemeriksaan PCR untuk hasil biopsi jarum
ini diduga karena faktor risiko terjadinya
halus mendapatkan kepositipannya
HIV paling banyak adalah penggunaan
sebesar 45, 5 %.
narkoba suntik yang paling banyak
melakukannya adalah laki laki, sedangkan KESIMPULAN
untuk transmisi seksual kemungkinan
karena laki laki lebih mudah mendapat Berdasarkan hasil pemeriksaan biopsi
akses pengobatan.9 kelenjar getah bening leher ada pasien
HIV positif didapatkan yang terbaik adalah
Untuk data gejala klinis didapatkan biopsi eksisi, mengingat tindakan ini
memakai metode pembedahan maka
data, batuk merupakan gejala terbanyak
dapat dipertimbangkan pemeriksaan PCR
yaitu sekitar 63,6 %, hal ini sejalan karena untuk tuberkulosis bagi pasien yang tidak
subjek penelitian adalah penderita TB-HIV berkenan dilakukan pembedahan.
dan gejala batuk merupakan gejala yang
paling banyak didapatkan. Untuk data DAFTAR PUSTAKA
gambaran radiologi didapatkan hampir
1. Depkes RI. Pedoman Nasional
sebagian besar normal, yaitu sekitar Penanggulangan Tuberkulosis.
54,5%. Hal ini sesuai dengan teori atau Jakarta, 2007; 3-4.11.
hasil penelitian terdahulu yang 2. Zuber A, Mohd S. Manifestations of
menyatakan bahwa jika status imunitas Tuberculosis in HIV Patients. JIACM
penderita HIV berat maka gambaran 2005; 6(4):302-5
radiologinya akan normal karena TB nya 3. Swaminathan S. Clinical presentation
and treatment of HIV-TB. Ind J Tub
bermanisfestasi di ekstra-paru. Pada
2002; 49:11-6.
Penelitian didapatkan status imunitas HIV 4. Sharma SK, Mohan A, Kadhiravan T.
nya rendah terbukti dengan angka CD 4 HIV-TB co-infection: epidemiology,
yang rendah dibawah 200 /ul dengan diagnosis& management. Indian J
rerata sebesar 37,36 /ul. Med Res 2005;121:550-67.

4 The Indonesian Journal of Infectious Disease


5. Hudoyo A. Diagnosis TB-Paru Pada
Pasien dengan HIV/AIDS. Jurnal
Tuberkulosis Indonesia. 2008;4(2).
6. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. Pedoman
Nasional : Panduan Tatalaksana
Klinis Infeksi HIV pada orang Dewasa
dan Remaja. Edisi ke-2. Jakarta.
2007.
7. Getahun H, Gunneberg C, Granich
R, Nunn P. HIV Infection—Associated
Tuberculosis: The Epidemiology and
the Response. Clin Infect Dis. (2010)
50 (Supplement 3): S201-7.
8. Barnes PF, Lakey DL, Burman WJ.
Tuberculosis in patients with HIV
infection. Infectious Disease Clinics of
North America 2002;1:16.
9. Laporan tahunan PRPI Prof dr
Sulianti Saroso;2013.

The Indonesian Journal of Infectious Disease 5