Anda di halaman 1dari 4

PEMBENTUKAN GIPS(SULFUTASI)

(PROSES SULFUTASI)
Sulfatasi adalah proses perlakuan minyak dengan asam sulfat pekat untuk
mendapatkan minyak yang dapat teremulsi dalam air. Sulfatasi merupakan reaksi pemasukan
gugus sulfat ke dalam suatu senyawa (Groggins, 1958). Sulfatasi terhadap minyak dapat
dilakukan jika asam lemak dalam minyak memiliki ikatan rangkap atau gugus hidroksil.
Sulfatasi minyak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu proses tinggi dan cepat (Groggins,
1958). Proses tinggi dijalankan pada suhu maksimal 35’C dengan waktu 5-6 jam, dan kadar
asam sulfat 93-94%. Proses cepat dijalankan pada suhu antara 26-52’C dengan waktu 2-3 jam
dan kadar asam sulfat 93% (Groggins, 1958). Apabila sulfatasi minyak dimaksudkan untuk
menyerang ikatan rangkap, proses dijalankan pada suhu yang lebih rendah (Hildicth, 1949).
Reaksi antara asam sulfat dengan minyak dapat ditulis menurut persamaan (Bailley, 1945) :

Dengan R1dan R2 = sisa asam lemak. Minyak kemungkinan mempunyai gugus


hidroksil saja, ikatan rangkap saja, atau keduanya secara bersama. Asam sulfat lebih mudah,
menyerang
gugus
hidroksil.
C. Kegunaan Proses Sulfatasi

Kegunaan Proses Sulfatasi salah satunya adalah untuk membuat minyak sulfat. Minyak
sulfat dapat dibuat dengan mereaksikan asam sulfat pekat dengan beberapa jenis minyak
termasuk minyak nyamplung. Minyak sulfat ini merupakan bahan yang terpenting dalam
perkembangan fatliquor. Minyak sulfasian dibuat dengan menggunakan minyak yang
dikendalikan, waktu, dan besarnya agitasi, yang diikuti dengan mencuci campuran minyak
dan asam dengan larutan garam untuk mengambil asam yang berlebihan. Minyak sulfasian
umumnya dinetralkan dengan sodium, potassium, atau amonium hidroksida sampai pH yang
diinginkan tercapai.langkah ini membuat kadar lembab, total alkalis dan sebagainya dapat
disesuaikan pada level-level yang diinginkan.

Reaksi pendahuluan ketika asam sulfurik bereaksi dengan minyak atau gemuk cair terjadi
pada kelompok hidroksil lau disusul dengan reaksi pada ikatan ganda. Minyak sulfasian
terutama terdiri dari bahan lemak netral yang terdiri atas gliserida yang tidak tereaksi,
digliserid yang dibentuk oleh reaksinya asam lemak yang memiliki sifat aktif permukaan dan
glicerida sulfasian serta asam lemak sulfasian yang memiliki sifat aktif permukaan kuat.
(Retzsetriec, Clinton E. 1995).

Banyak fakor yang berpengaruh pada proses pembuatan minyak sulfat antara lain jenis
minyak yang dipakai. Disini karakteristik dari minyak yang dijadikan bahan dasar pembuatan
minyak sulfat akan sangat mempengaruhi kualitas minyak tersebut. Begitu juga dengan
perbandingan antara asam dengan minyak, semakin banyak asam yang diberikan akan
membuat proses pencucian dan netralisasi menjadi semakin lama. Pemilihan jenis asam yang
digunakan juga akan membuat perbedaan pada proses sulfatasi dimana seharusnya kita
menggunakan jenis asam sulfat yang merupakan jenis asam kuat. Suhu dan waktu pereaksian
juga merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam proses pembuatan minyak sulfat.
Misalnya saja pada proses suhu diatur tidak boleh melebihi 25oC dengan waktu reaksi yang
ditetapkan sesuai dengan jumlah minyak yang kita reaksikan. Semua faktor yang
mempengaruhi proses pembuatan minyak sulfasian tidak terlepas dari proses akhir yang
dilakukan yaitu pada proses netralisasi dan pencucian.
D. Faktor yang Mempengaruhi Proses Sulfatasi

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses sulfatasi adalah waktu, konsentrasi


zat pereaksi, pencampuran, perbandingan zat pereaksi, katalisator, suhu, dan pengusiran salah
satu hasil.

1. Waktu. Makin lama waktu pereaksi, hasil akan meningkat. Hal ini terjadi karena
kesempatan bertumbukan antara zat-zat pereaksi semakin luas. Sulfatasi minyak jarak
dengan proses tinggi membutuhkan waktu 5-6 jam, sedangkan dengan proses cepat, waktu
lebih singkat (Groggins, 1958). Sulfatasi minyak jarak disertai dengan penggelembungan
gas karbon dioksid dilakukan selama 3-4 jam (Agra dan Warnijati, 1975). Sulfatasi
minyak jarak dengan asam sufat yang agak encer membutuhkan waktu 1-3 jam (Agra dkk,
1969).
2. Konsentrasi zat pereaksi. Menurut persamaan kecepatan reaksi, semakin tinggi
konsentrasi zat pereaksi, sulfatasi semakin cepat. Untuk itu diusahakan zat pereaksi yang
dipakai semurni-murninya. Sulfatasi minyak dalam industri biasanya menggunakan asam
sulfat 93-94% (Groggins, 1985). Asam sulfat yang kadarnya 73% dapat juga digunakan
(Agra dkk, 1958).
3. Pencampuran. Pencampuran yang semakin baik akan memperbanyak jumlah tumbukan
antara zat pereaksi dengan minyak, sehingga nilai A dalam persamaan Arrhenius menjadi
makin besar. Pada proses sulfatasi biasanya pencampuran dilakukan dengan pengaduk
listrik dan adakalanya ditambah dengan penggelembungan gas karbon dioksid (Agra dan
Warnijati, 1975).
4. Perbandingan zat pereaksi. Usaha untuk menyempurnakan reaksi dapat dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain salah satu reaktan dibuat berlebihan. Sulfatasi minyak jarak
dengan asam sulfat pekat memerlukan asam seberat 27-40% berat minyak (Groggins,
1958). Dengan asam sulfat yang kadarnya 93,57% dipakai asam sebanyak 27-36% dari
berat minyak (Agra dan Warnijati, 1975).
5. Katalisator. Untuk menurunkan tenaga aktivasi dapat digunakan katalisator. Pada sulfatasi
minyak, katalisator yang digunakan dapat berupa logam merkuri, garam merkuro atau
merkuri, vanadium pentoksid, kupri sulfat, dan piridin (Groggins, 1958). Penggunaan
asam sulfat yang kadarnya 73%, yang memberi pengaruh terhadap hasil hanya kalium
sulfat (Agra dkk, 1969).
6. Suhu. Dilihat dari persamaan Arrhenius, suhu mempengaruhi konstante kecepatan reaksi.
Jika suhu dinaikkan, nilai konstanta kecepatan reaksi akan bertambah besar. Umumnya
suhu dibatasi sampai 55’C (Groggins, 1958). Kalau suhu lebih tinggi warna hasil menjadi
gelap. Sulfatasi minyak adalah reaksi aksotermik sehingga dari segi termodinamika, suhu
tinggi tidak menguntungkan. Sulfatasi minyak jarak dengan proses cepat dijalankan pada
suhu di bawah 35’C, sedangkan dengan proses tinggi dijalankan pada suhu di bawah 52’C
(Groggins, 1958). Pada sulfatasi minyak jarak degan asam sulfat yang agak encer, hasil
yang relatif baik diperoleh pada suhu 40’C (Agra dkk, 1969).

Sumber: https://www.academia.edu/7475704/PROSES_SULFATASI

Diakses pada Senin, 16 Oktober 2017 Pukul 12.11 WIB