Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

Penggunaan magnetic resonance imaging (MRI) tumbuh secara pesat dekade-


dekade ini di hampir seluruh dunia, khususnya di negara-negara maju, hal ini disebabkan
sebagian karena MRI mampu menyediakan gambar yang lebih detail tentang anatomy dan
patologis, juga karena kemajuan tekhnologi terbaru yang begitu pesat menyebabkan waktu
akuisisi lebih cepat. Di samping itu ketersediaan alat-alat MRI di fasilitas kesehatan
semakin banyak tersedia. Di negara maju residen radiologi saat ini di perkenalkan dengan
MRI pulse sequence yang rutin di gunakan secara klinis sejak tahun pertama termasuk
berbagai varian spin-echo, gradient echo,inversion-recovery, echo-planar imaging, dan MR
angiografi. Namun, agar penggunaan teknik- teknik tersebut bisa optimal , ahli radiologi
juga membutuhkan pengetahuan dasar fisika dari MRI, termasuk T1 recovery, T2 dan T2
* decay, time of repitition, time of echo, dan chemical shift effect. Selain itu, pemahaman
tentang contrast weighting sangat membantu untuk mendapatkan gambaran yang lebih
baik dari jaringan tertentu untuk diagnosis dari berbagai proses patologis.

MRI dapat dianggap sebagai masa depan radiologi, mengingat MRI memiliki
banyak cara (sekuen) untuk melakukan pencitraan pada tubuh manusia dibandingkan CT
scan misalnya. Di samping itu kemajuan dalam teknologi dan penelitian-penelitian dalam
bidang MRI telah menghasilkan sekuen-sekuen baru maupun potensi sekuen baru di masa
depan. Sekuen maupun teknik MRI yang sebelumnya tidak ada, menjadi rutin digunakan
pada dekade ini. Potensi untuk mendapatkan pencitraan yang lebih detil dan unggul pada
jaringan manusia masih sangat terbuka diberikan oleh MRI.

Dengan kemajuan teknologi baru-baru ini, termasuk waktu akuisisi yang lebih
cepat dan penggambaran anatomi dan patologi yang lebih baik, frekeunsi penggunaan
MRI menjadi lebih sering, faktanya saat ini, residen radiologi di negara maju menerima
pelatihan MRI dan secara rutin menggunakannya sejak tahun pertama residensi. Kemajuan
dan ketersediaan alat MRI yang semakin luas membutuhkan pengetahuan sekaligus
keterampilan darimana untuk memulai suatu pencitraan MRI atau yang lebih penting
mengapa sekuen dan contrast weighting tertentu dipilih dan digunakan, serta perlunya
pengetahuan tentang prinsip-prinsip fisika yang menjadi dasar dari sekuen tersebut.

Tinjauan pustaka ini menggambarkan dasar-dasar fisika dari MRI pulse sequence
yang paling sering digunakan secara rutin pada pencitraan klinis. Ini merupakan subyek
yang sangat luas dan kompleks, hanya hal-hal fundamental yang disajikan pada tulisan ini.
Untuk meningkatkan pemahaman, penjelasan tentang prinsip-prinsip fisika pada tulisan ini
disederhanakan; menyoroti relevansi praktis di sertai contoh-contoh klinis.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Iktisar Fisika

MRI didasarkan pada aktivitas elektromagnetik dari inti atom. Inti atom (nuclei)
terdiri dari proton dan neutron, yang keduanya memiliki gerakan spin, yaitu gerakan
proton berputar pada sumbunya. Magnetic resonance dari active nuclei adalah yang
memiliki net spin dengan nomer massa ganjil sehingga gerakan spin antara proton dan
neutron tidak saling meniadakan. Pada penncitraan klinis MRI, hydrogen nuclei (1H)
paling sering digunakan karena jumlahnya melimpah dalam tubuh,namun inti atom yang
lain, misalnya, fluor (19F) juga dapat digunakan(6).

Gambar 1. Fisika dasar dari sinyal MR. (a) inti proton (spin) atom 1H, menginduksi medan magnet(tan),
arah(sumbu magnetik) digambarkan oleh panah (kuning). Inti atom 1H awalnya melakukan gerakan presesi
(menyerupai gasing ) pada berbagai sudut (1-6), tetapi saat terkena medan magnet luar (B0), inti –inti atom
1
H akan menyelaraskan diri dengan B0. Jumlah dari semua momen magnetik disebut net magnetization
vector (NMV). (b) Bila suatu RF pulse diaplikasikan, net magnetization vector akan berubah arah,
membentuk sudut (α), yang menghasilkan dua komponen magnetisasi : magnetisasi longitudinal (Mz) dan
magnetisasi transversal (Mxy). Magnetisasi transversal melakukan gerakan presisi di sekitar receiver coil,
yang menginduksi arus listrik (i), ketika RF dimatikan , terjadi T1 recovery, serta T2 dan T2* decay

Setiap inti atom berputar pada porosnya sendiri. Ketika inti berputar, gerakannya
menginduksi medan magnet. Ketika inti atom terkena medan magnet eksternal (B0),
interaksi medan magnet (yaitu, medan magnet dari spinning nuclei dan medan magnet
eksternal ) menyebabkan inti berputar mengililingi garis gaya magnet (gerakan presisi) .

2
Frekuensi yang terjadi pada gerakan presisi didefinisikan menurut persamaan Larmor,
ω=B0 x ⱱ, Dimana ω adalah frekuensi presisi , B0 adalah medan magnet eksternal (tesla),
dan ⱱ adalah gyromagnetic ratio( megahertz per tesla), yang memiliki nilai konstan untuk
setiap atom pada kekuatan medan magnet tertentu(misalnya, untuk 1H, ⱱ/2π = 42,57 MHz /
T) (7).

Axis medan magnet dari inti proton 1H (selanjutnya disebut sebagai proton atau
spin) terletak secara acak, saling meniadakan kekuatan medan magnet satu sama lain. Pada
waktu magnetisasi ekternal (B0) dihidupkan, axis medan magnet dari proton, masing-
masing akan menyelaraskan diri dengan B0, beberapa ada yang pararel, sebagian
berlawanan posisi (anti pararel)(5). Efek kumulative dari semua magnetic momen dari
proton disebut net magnetization vector (NMV). Pada saat suatu RF
dihidupkan/diaplikasikan, eksitasi dari RF akan menyebabkan NMV berubah arah
membentuk sudut tertentu terhadap sumbu awal (longitudinal), NMV akan menghasilkan 2
komponen vector magnetisasi . Pada saat magnetisasi transversal berbutar (gerakan presisi)
akan menginduksi arus listrik pada kumparan(coil) yang diterima oleh receiver coil, sesuai
dengan hukum Faraday. Arus listrik inilah yang menjadi sinyal MR.

Gambar 2. Magnetisasi, relaksasi dan decay. (a) Relaksasi T1(spin-spin relaksasi) merupakan pemulihan
magnetisasi longitudinal(kuning) akibat dilepaskannya energi (hijau) ke lingkungan. (b) T2 decay (spin-spin
relaksasi) adalah decay dari magnetisasi transversal akibat interaksi dari medan magnet –medan magnet
diantara proton dengan proton.Catatan : semua proton awalnya berputar in phase (seperti yang ditunjukkan
oleh posisi yang sama dari pita merah di bagian bawah setiap lingkaran), kemudian pindah out of phase

3
(dengan band merah di berbagai posisi). (c) T2 * decay adalah “decay” magnetisasi transversal karena
inhomogenitas medan magnet (Fi).

Pada saat sumber energi RF dimatikan, NMV akan menyelaraskan diri dengan
sumbu dari B0 melalui proses yang disebut T1 recovery, pada saat tersebut magnetisasi
longitudinal semakin meningkat besarnya atau memulihkan diri. Pada saat yang sama
magnetisasi tranversal akan meluruh(decay) melalui mekanisme lain yang di sebut T2
decay dan T2*decay. Setiap jaringan yang berbeda akan memiliki nilai T1, T2* dan T2
yang berbeda-beda. Nilai T2* tergantung pada magnetic environment (keseragaman spatial
dari BO). Lemak memiliki nilai T1 dan T2 lebih pendek dari air, yang secara relative
memiliki nilai T1 dan T2 lebih panjang. T2*decay terjadi sangat cepat pada lemak maupun
air.

Selama proses relaksasi T1 (spin-lattice), magnetisasi longitudinal akan kembali


pulih akibat dari proton melepaskan energy ke lingkunganya. Selama proses relaksasi T2
(spin-spin) relaksasi, magnetisasi transversal akan mengalami “ dephasing” akibat
interaksi diantara proton-proton dan medan magnetnya. pada T2* decay, magnetisasi
transversal akan mengalami “dephasing” akibat dari inhomogenitas medan magnet.
Medan magnet (misalnya pada tubuh pasien) tidak sama persis di semua tempat. Di satu
tempat sedikit lebih kuat (B0+α), misalnya 1,505 T dan ditempat lain sedikit lebih lemah
(B0-α), misalnya 1,495 T. Perbedaan tersebut bisa terjadi akibat adanya object metal,
udara, implant gigi, calcium atau disebabkan oleh keterbatasan konstruksi magnet.

Telah disebutkan sebelumnya, bahwa komponent transversal dari NMV


menginduksi arus listrik pada receiver coil. Selama menginduksi arus listrik, proton-proton
harus dalam gerakan spin in phase, ketika gerakan proton-proton menjadi out of phase,
sinyal yang menginduksi kumparan akan menurun, proses ini disebut free induction decay
(FID).

B. Time of Repition (TR) dan Time of Echo (TE)

Pada MRI perbedaan dalam T1,T2 dan proton density (jumlah proton) pada
berbagai jaringan akan menghasilkan perbedaan-perbedaan pada kontras (diferensiasi)
jaringan pada gambar. Terdapat simbol-simbol yang paling sering digunakan pada diagram
sekuen MRI. Sangat penting untuk mengenali simbol-simbol ini karena banyak digunakan
untuk menyajikan TR dan TE. TR adalah interval waktu(biasanya dalam ms) antara
aplikasi suatu RF pulse dengan saat dimulainya RF pulse berikutnya. TE(dalam ms) adalah
interval waktu antara aplikasi suatu RF pulse dengan puncak echo yang dideteksi atau
diterima. Kedua parameter tersebut mempengaruhi diferensiasi jaringan pada MRI karena

4
keduanya memberikan berbagai tingkat sensitivitas berdasarkan waktu relaksasi dari
berbagai jaringan. Pada TR pendek , perbedaan waktu relaksasi antara jaringan lemak dan
air dapat terdeteksi (magnetisasi longitudinal pulih lebih cepat pada jaringan lemak
dibanding air), pada TR panjang perbedaan tersebut tidak dapat dideteksi. Oleh karena itu
TR berhubungan dengan T1 dan mempengaruhi diferensiasi jaringan pada T1 weighted
image(T1WI). Pada TE pendek, perbedaan antara waktu relaksasi T2 pada jaringan lemak
dan air tidak dapat dibedakan. Dengan demikian TE berhubungan dengan T2 dan
mempengaruhi diferensiasi jaringan pada T2 weighted image (T2WI).

Gambar 3. (a) Skema dari TR dan TE. (b) Grafik menunjukkan efek TR panjang dan TR pendek (kiri), TE
panjang dan TE pendek (kanan) pada T1 recovery dan T2 decay pada jaringan lemak dan air. TR
berhubungan dengan T1 dan mempengaruhi T1 weighting, sedangkan TE berhubungan dengan T2 dan
mempengaruhi T2 weighting.

Pada TR panjang dan TR pendek, perbedaan pada sinyal decay antara jaringan
lemak dan air tidak dapat dibedakan, oleh karena itu, diferensiasi jaringan yang didapatkan
pada MRI didominasi terutama karena perbedaan pada densitas proton diantara kedua
jaringan. Jaringan yang lebih banyak mengandung proton meghasilkan sinyal yang lebih
kuat, sedangkan jaringan yang mengandung proton lebih sedikit menghasilkan sinyal yang
lebih lemah.

C. Kontras (diferensiasi) Jaringan

Setiap gambar MRI sampai batas tertentu dipengaruhi oleh setiap parameter yang
menentukan kontras jaringan (misalnya T1,T2 dan proton density), namun TR dan TE
dapat diatur untuk dititikberatkan pada type kontras(diferensiasi) jaringan tertentu. Hal ini
dapat dilakukan, misalnya pada T1WI, gambar T1WI dipengaruhi oleh semua tipe kontras
jaringan, namun yang paling dominan adalah diferensiasi jaringan berdasarkan
karakteristik T1. Tabel 1 menunjukkan parameter-parameter yang digunakan untuk
memperoleh gambar T1,T2 dan proton density weighting. T1WI paling baik
menggambarkan anatomy, dan bila dilakukan dengan kontras material, dapat juga
menunjukkan kelainan patologis. T2WI paling baik menggambarkan kelainan patologis,

5
hal ini disebabkan karena kebanyakan jaringan yang mengalami proses patologis memiliki
kandungan air yang lebih tinggi dibanding jaringan normal. Adanya cairan akan
menyebabkan area yang mengalami proses patologis menjadi lebih terang pada T2WI.
Pada PDWI, biasanya menggambarkan anatomi dan proses penyakit. Tabel 2 menunjukkan
typical nilai TR dan TE yang bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai gambar pada
sekuen SE dan GRE.

Gambar 4. Diagram yang menunjukkan intensitas sinyal dari berbagai jaringan di T1WI dan T2WI. Catatan :
jaringan dengan protein content memiliki intensitas sinyal yang bervariasi tergantung jumlah protein content-
nya, jaringan dengan konsentrasi protein tinggi tampak hiperintense pada T1WI dan hipointense pada T2WI

Tabel 1. Pengaruh TR dan TE pada diferensiasi (kontras) jaringan

Teknik pencitraan TR TE
T1WI Pendek Pendek
T2WI Panjang Panjang
PDWI Panjang Pendek

6
Tabel 2. Typical nilai TR dan TE pada sekuen SE dan GRE

TR TE
Sekuen Pendek Panjang Pendek Panjang
SE 250-700 >2000 10-25 > 60

GRE <50 >100 1-5 > 10

NB : nilai dalam ms

D. Lokalisasi sinyal pada MRI (Spatial Encoding)

Gambar 6. Skema gradien pada sumbu x,sumbu y dan sumbu Z, yang digunakan untuk slice selective
gradient, phase encoding gradient dan frequency encoding gradient.

Gradien digunakan untuk menentukan dari jaringan mana sebuah sinyal berasal.
Gradien adalah variasi linear dari kekuatan medan magnet pada area yang ditentukan. Area
sepanjang medan magnet dengan kekuatan berbeda, memiliki frekuensi presisi yang
berbeda pula (sesuai persamaan Larmour). Ada 3 gradien yang digunakan ,sesuai dengan
sumbu gambar(sumbu x,y,z). Slice selective gradient digunakan untuk memilih slice(target
dari RF pulse), phase encoding gradient menyebabkan pergeseran fase pada spinning
proton sehingga sistem komputer MRI dapat mendeteksi dan mengkoding fase dari spin.
Frequency encoding gradient digunakan untuk menunjukkan lokasi dari spinning proton.
Pergeseran frekuensi terjadi pada saat echo dideteksi(read), sehingga biasanya disebut
read out gradient. Ketika system prosesor MRI telah memiliki data sinyal yang telah
dikoding dengan frekuensi dan phase encoding(pada setiap proton) maka prosesor tersebut

7
dapat mengkomputasi secara tepat lokasi dan amplitudo dari suatu sinyal. Informasi
tersebut disimpan dalam K-space.

E. k-space dan Matriks

Gambar 6. Skema k-space dan hubunganya dengan gambar MRI, bagian tengah dari k-space berisi informasi
tentang gambaran makro dan kontras jaringan, bagian tepi berisi informasi tentang resolusi spasial(detail dan
struktur halus)

k-space adalah matriks dengan voxel-voxel didalamnya dimana raw data imaging
disimpan pada sistem MRI. Sumbu horizontal (sumbu x) dari matriks biasanya
berkorespondensi dengan frekuensi, sedangkan sumbu vertikal (sumbu y) dari matriks
biasanya berkorespondensi dengan fase, meskipun sumbu frekuensi dan sumbu fase bisa
saling bertukar. Bagian tengah dari k-space berisi informasi tentang gambaran makro dan
kontras (diferensiasi) jaringan, sedangkan bagian tepi (perifer) dari k-space berisi
informasi tentang spatial resolusi (detail dan struktur halus). Raw data pada k-space
selanjutnya melalui transformasi Fourier diubah menjadi gambar akhir.

8
Gambar 7. Aplikasi dari sekuen SE. (a) Diagram yang menunjukkan aplikasi RF 90° awal, yang membalik
arah NMV sebesar 900 pada bidang transversal, berikutnya akan terjadi T1, T2, dan T2 * relaksasi, disertai
dengan dephasing bertahap dari magnetisasi transversal; setelah itu RF kedua, RF 180 0 diaplikasikan yang
akan merephasing kembali spinning proton sehingga menghasilkan echo, (b) coronal T1WI dari cerebral, (c)
axial T2WI cerebral, (d) Sagital PDWI SE dari lutut.

9
BAB III

SEKUEN DASAR MRI

A. Pengenalan Singkat Komponen-Komponen utama Alat MRI

Untuk memahami pembentukan gambar pada MRI serta prinsip-prinsip dasar


sekuen MRI, perlu diketahui cara kerja beberapa komponen utama perangkat keras MRI.

A.1. Magnet Utama (B0)

Magnet merupakan komponen utama pada alat MRI, magnet digunakan untuk
membangkitkan medan magnet utama/eksternal (B0), selalu dalam keaadaan aktif sejak
alat dipasang. Kekuatan medan magnet dinyatakan dalam Tesla (T). Secara klinis
umumnya digunakan kekuatan medan magnet sekitar 0,2-3 T.

A. 2. Gradien

Gradien adalah medan magnet tidak tetap, yang dapat dihidupkan dan dimatikan
untuk melokalisir sinyal maupun “merephase” dan “mendephase” proton pada saat
akuisisi gambar MRI.

A.3. Sistem Radiofrekuensi (RF)

Sistem radiofrekuensi terdiri dari transmitter, coil dan receiver. Transmitter


berfungsi menghasilkan arus listrik pada frekuensi larmor yang bila diaplikasikan pada coil
akan menghasilkan alternating B field. Coil tersebut juga digunakan untuk mendeteksi
sinyal dari tubuh pasien.

A. 4. Analog to digital conversion (ADC)

ADC digunakan untuk mengubah data analog dari sinyal MR menjadi data digital

A. 5. Sistem Komputer

Sistem komputer berfungsi untuk mengintegrasikan segala macam komponen


fungsi pada alat MRI pada saat akuisisi gambar, pengaturan dan processing gambar setelah
diakuisi.

10
Gambar 8. Skema dasar komponen alat MRI

B. Diagram dan aplikasi klinis sekuen MRI

Sekuen MRI adalah urutan atau algoritma dari sekelompok gradien dan RF pulse
yang diaplikasikan pada saat akuisisi gambar MRI. Diagram dari sekuen MRI terdiri dari
beberapa garis pararel yang masing-masing memiliki parameter tersendiri. Jika tiap-tiap
parameter dibuat terpisah , minimal dibutuhkan 4 garis pararel :

1. Garis pertama untuk RF pulse


2. Garis kedua untuk slice selective gradient
3. Garis ketiga untuk phase encoding gradient
4. Garis keempat untuk frequency encoding gradient

Diagram sekuen MRI merupakan skema dari urutan instruksi yang dikirimkan ke
generator RF dan gradient amplifier.

11
Gambar 9. Simbol-simbol yang umum digunakan dalam sekuen MRI.

Hanya ada 2 sekuen MRI dasar, yaitu SE dan GRE. Semua sekuen MRI yang lain adalah
variasi dari kedua sekuen ini, dengan beberapa parameter berbeda yang ditambahkan,
sekuen MRI dapat berupa dua dimensi (2D) dengan satu slice diperoleh setiap kali atau
tiga dimensi (3D) dengan volume dari multiple slice yang diperoleh dalam satu kali akuisi.

Gambar 10. Pohon Sekuen, nama-nama sekuen berdasarkan satu vendor (SIEMENS)

C. Sekuen Spin echo (SE)

Pada sekuens SE, suatu RF 900 mengubah/membalik arah NMV dari bidang
longitudinal ke dalam bidang transversal. Pada saat spinning proton mengalami relaksasi
T1,T2 dan T2*, magnetisasi transversal secara perlahan mengalami dephase. Selanjutnya
suatu RF 1800 diaplikasikan atau dihidupkan, pada interval ½ TE untuk “merephase”
spinning proton. Pada saat proton-proton kembali mencapai in phase (saat TE), akan
dihasilkan suatu echo dan sinyal echo tersebut dibaca (read out). Kebanyakan sekuens SE
konvensional berlangsung sangat lama dan karena itu jarang digunakan. Namun dengan

12
kemajuan teknologi MRI dapat mereduksi waktu akuisi dengan mengunakan sekuen fast
SE. Tabel 3 menunjukan berbagai nama-nama sekuen fast SE yang digunakan pada
vendor-vendor utama MRI.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sekuen-sekuen yang memiliki TR dan


TE pendek digunakan untuk memperoleh sensitivitas diferensiasi jaringan berdasarkan T1
(T1WI), sekuen-sekuen yang memiliki TR panjang dan TE pendek menghasilkan proton
density weighting (PDWI). Sedangkan yang memiliki TR dan TE panjang akan
menghasilkan diferensiasi jaringan berdasarkan T2 (T2WI). Memperpanjang TE pada
sekuen SE akan meningkatkan efek diferensiasi jaringan berdasarkan T2. Teknik ini
digunakan pada MR cholingiopancreatography (MRCP) untuk memperoleh gambaran
detail dari saluran empedu dan ductus pancreaticus. Perpanjangan TE juga bermanfaat
pada MRI hemangioma dan kista.

Gambar 11. Aplikasi dari sekuen SE. (a) Diagram yang menunjukkan aplikasi RF 90° awal, yang membalik
arah NMV sebesar 900 pada bidang transversal, berikutnya akan terjadi T1, T2, dan T2 * relaksasi, disertai
dengan dephasing bertahap dari magnetisasi transversal; setelah itu RF kedua, RF 180 0 diaplikasikan yang

13
akan merephasing kembali spinning proton sehingga menghasilkan echo, (b) coronal T1WI dari cerebral, (c)
axial T2WI cerebral, (d) Sagital PDWI SE dari lutut.

Tabel 3 nama-nama umum untuk sekuen SE yang digunakan beberapa vendor


utama

Sekuen GE Healthcare Siemens Philips


Single Echo SE SE Single SE SE, Modified SE

Multiple echo SE Multiecho SE, double echo Multiple SE (MSE)


multiplanar
Echo train SE (MEMP), Variable
echo multiplanar Turbo SE (TSE), TSE, ultrafast SE
(VEMP) half-Fourier (UFSE)
Fast SE (FSE), acquisition turbo
Single shot fast SE SE (HASTE)
(SSFSE)

Gambar 12. MR cholangiopancreatography. Gambar sagital fast SE yang diperoleh dengan meningkatkan
deferensiasi jaringan berdasarkan T2WI (TE=650) memperlihatkan CBD dan duktus hepatikus.

14
Gambar 13. Contoh klinis dari sekuen SE dan fast SE. (a, b) hemangioma hepar. (a) Axial T2WI dari fast
SE (TE= 82.9) menunjukkan lesi hiperintense (panah) di lobus kanan hepar. (b) Axial T2WI fast SE
(TE=180), diperoleh dengan lebih meningkatkan kontras T2 daripada gambar a, menunjukkan hiperintense
pada lesi (panah), suatu ciri yang menunjukkan kista atau hemangioma. (c) penyakit ginjal polikistik. Axial
T2WI fast SE, memberikan gambaran yang sangat baik dari kista, yang tampak hiperintense pada hepar dan
ginjal. Perbedaan intensitas sinyal pada kista disebabkan karena perbedaan kandungan protein.

C.1. Varian Fast SE (Turbo SE)

Pada sekuen fast atau turbo SE, suatu RF 900 diaplikasikan untuk membalik arah
NMV, dilanjutkan dengan multiple RF 1800 untuk merephasing spinning proton. Setiap
RF 1800 akan menimbulkan satu Han echo, keseluruhan echo yang ditimbulkan disebut
echo train dan jumlah dari total RF 180 dan echo yang dihasilkan disebut echo train length
(ETL). Pada penggunaan sekuen fast SE waktu akuisisi gambar akan sangat berkurang
dibandingkan dengan sekuen SE konvensional kira-kira sebanding dengan 1/ETL, akan
tetapi pada akuisisi dengan volume yang besar, waktu akuisisi sangat tergantung pada
spatial coverage.

15
Gambar 14. Axial T1WI(a) dan T2WI (b) fast SE, menunjukkan low grade glioma karena hiperseluler,
tumor tampak hipointense pada pada T1 dan hiperintense pada T2, komponen kistik dan edema tervisualisasi
lebih baik pada gambar b dibanding a

16
Gambar 15. Sekuen fast SE. (a) diagram sekuen MRI yang menunjukkan sekuen fast SE,(b, c) Axial T2WI
fast SE (b) sekuen SE konvensional (c) memberikan gambaran yang sebanding dari tumor otak. Waktu
akuisisi untuk SE konvensional adalah 7menit 17 detik, sedangkan untuk fast SE dengan ETL 16 adalah 34
detik.

C.2. Conventional Inversion Recovery (IR)

IR adalah suatu sekuen SE dimana dilakukan/diaplikasikan RF 1800 pada awal


sekuen (preparatory) untuk membalik arah sebesar 1800 dari NMV, serta menghilangkan
sinyal dari jaringan tertentu (misalnya menghilangkan sinyal air pada jaringan). Pada saat
RF pulse dihentikan spinning proton akan mulai mengalami relaksasi. Pada saat NMV dari
air melalui bidang transversal (titik nol dari jaringan tersebut), RF 900 dihidupkan dan
sekuen SE dilakukan seperti biasa. Interval waktu antara RF 1800 dan RF 900 disebut time
of inversion (TI).

17
Gambar 16,17. (16a) diagram sekuen inversion recovery menunjukkan RF 180 ° (preparatory)yang
digunakan untuk menghilangkan sinyal dari lemak atau air. Pada saat yang telah ditentukan sebagai waktu
inversi (TI), RF 90° diaplikasikan, dan selanjutnya dilanjutkan dengan sekuen SE (16b) STIR Coronal,
menunjukkan fraktur insufisiensi dari tibia distal, dengan area hiperintense luas di sumsum tulang dekat
lokasi fraktur (panah). (17) Diagram yang menunjukkan T1 recovery dari air dan pada jaringan dengan
menggunakan sekuen inversion -recovery konvensional.

Pada saat TI , NMV dari air sangat lemah, sedangkan sinyal untuk jaringan tubuh
lain kuat. Pada saat RF 1800 dihidupkan , hanya ada sedikit atau tidak ada magnetisasi dari
air , sehingga tidak ada sinyal yang dihasilkan(cairan tampak gelap), sedangkan pada
jaringan lainya intensitas sinyal bervariasi mulai dari lemah sampai kuat sesuai dengan
NMV nya masing-masing. Penggunaan klinis penting dari konsep IR ada 2, yaitu sekuen
short time of inversion recovery(STIR) dan sekuen fluid attenuation inversion recovery
(FLAIR). Table 4 menunjukkan nama-nama dari berbagai sekuen IR yang digunakan oleh
beberapa vendor utama MRI.

C.3. Short Time of Inversion Recovery (STIR)

Sekuen STIR adalah suatu sekuen inversion recovery yang digunakan untuk
menghilangkan sinyal dari jaringan lemak. Pada saat NMV dari jaringan lemak melalui
titik nol (sekitar 140 ms) RF 900 diaplikasikan. Pada saat itu magnetisasi longitudinal dari

18
jaringan lemak kecil atau tidak ada, sehingga magnetisasi transversal dari jaringan lemak
menjadi

Gambar 18. Perbandingan fast SE dan STIR untuk menggambarkan edema sumsum tulang (a) Diagram
sekuen STIR (TI=100-180 msec untuk lemak). (b, c) Coronal T1WI fast SE (b) STIR koronal (c) keduanya
menunjukkan rheumatoid arthritis pancarpal; Namun, perluasan edema sumsum tulang di seluruh tulang
karpal, distal radius, ulna, lebih baik digambarkan pada c daripada di b.

tidak signifikan dan sinyal yang dihasilkan tidak ada. Sekuen STIR memberi gambaran
sangat baik pada kasus bone marrow edema yang dapat menjadi satu-satunya indikasi
adanya fraktur tersamar. Tidak seperti sekuen fat saturation konvensional, sekuen STIR
tidak dipengaruhi oleh inhomogenitas medan magnet, sehingga lebih efisien dalam
menghilangkan sinyal dari jaringan lemak.

Tabel 4 nama-nama umum untuk sekuen Inversion Recovery

Sekuen GE Siemens Philips


Standard inversion Multiplanar Inversion recovery IR
recovery inversion recovery (IR)
(IR)

19
Echo-train Fast multiplanar TurboIR IR-turboSE
inversion recovery inversion recovery
(FMPIR)
Short T1 inversion STIR STIR Spectrally selective
recovery inversion recovery
(SPIR)

C.4. Fluid Attenuation Inversion Recovery (FLAIR)

Sekuen FLAIR adalah suatu sekuen inversion recovery yang digunakan untuk
menghilangkan cairan cerebrospinal (CSS). Pada saat NMV dari CSS melalui titik nol. RF
900 dihidupkan, hanya sedikit atau tidak ada magnetisasi longitudinal dari CSS, sehingga
magnetisasi transversal dari CSS tidak signifikan dan karena itu tidak ada sinyal yang
dihasilkan dari CSS. Eliminasi sinyal dari CSS berguna untuk mendeteksi lesi yang sulit
dibedakan atau lesi yang berada di tepi area berisi cairan, misalnya pada sulci dan ventrikel
dari otak.

Gambar 19. Perbandingan fast SE dan FLAIR, menggambarkan metastase cerebral (a) Diagram sekuen
FLAIR menunjukkan TI 1700-2200 msec untuk cairan serebrospinal. (b) Axial T2WI fast SE menunjukkan
kelainan white matter di lobus temporal kiri. (c) gambar FLAIR Axial T2 yang diperoleh dengan
menghilangkan sinyal dari cairan serebrospinal menunjukkan lesi metastatik lebih jelas.

20
D. Sekuen Gradient Recall Echo (GRE)

Pada sekuen GRE sebuah RF pulse diaplikasikan sehingga membalik arah NMV
pada bidang transversal (flip angel bervariasi). Selanjutnya sebagai ganti dari RF pulse
digunakan gradien untuk mendephase (negative gradient) dan merephase (positive
gradien) dari magnetisasi transversal, karena GRE tidak dapat memfokuskan kembali
inhomogenitas medan magnet, sekuen GRE dengan TE panjang akan menghasilkan T2*
weighted image (akibat dari magnetic susceptibility effet) bukan T2WI seperti pada sekuen
SE. Tabel 5 menunjukkan daftar perbedaan penting antara sekuen SE dan sekuen GRE.
Nama-nama berbagai sekuen GRE yang digunakan oleh beberapa vendor utama MRI
terdapat pada tabel 6. Sekuen GRE sensitive terhadap inhomogenitas medan magnet akibat

Gambar 20. Perbandingan T1WI dan T2WI sekuen GRE (a) Diagram sekeuen GRE menunjukkan variasi
flip angel dan gradien yang digunakan untuk mendephase dan merephase magnetisasi transversal (b–d) Axial
T1WI GRE cerebral (b) abdomen atas(c), axial T2*WI GRE cerebral (d)

21
perbedaan magnetic susceptibility diantara jaringan-jaringan. Magnetic susceptibility –
related signal loss atau susceptibility artifact disebabkan oleh inhomogenitas medan
magnet ekternal (B0) dan didapatkan atau dideteksi pada T2* decay, biasanya disebabkan
terjadi pada pertemuan diantara struktur yang memiliki magnetic susceptibility berbeda
(misalnya antara udara dengan tulang). Karena terdapat perbedaan pada medan magnet
lokal, beberapa proton melakukan gerakan presisi lebih cepat dibanding yang lain (sesuai
persamaan Larmour, ω=B0 x ⱱ), ketika suatu NMVditambahkan/didekatkan pada NMV
yang lain, maka akan terjadi penurunan secara progressive dari besarnya NMV. Penurunan
besar NMV ini akan menghasilkan penurunan intensitas sinyal, yang akhirnya menjadi
signal loss. Karakteristik dari sekuen GRE ini digunakan untuk mendeteksi perdarahan,
kandungan besi pada hemoglobin menjadi termagnetisasi secara local (menghasilkan
medan magnet lokal), selanjutnya terjadi dephasing dari spinning proton. Teknik ini sangat

Tabel 5 Perbandingan Sekuen SE dan GRE

Kriteria SE GRE
Mekanisme Rephasing RF Variasi Gradien

Flip angle 900 Bervariasi

Efisiensi dalam mereduksi Sangat efisien (True T2 Kurang efisien (T2*


inhomogenitas medan weighting) weighting)
magnet

Waktu akuisisi Panjang Pendek

membantu untuk mendiagnosa perdarahan seperti pada brain dan pada pigmented
vilonodular synovitis. Sebaliknya sekuen SE relative tidak terpengaruh oleh magnetic
susceptibility artifact, dan juga relative kurang sensitive dalam menggambarkan
perdarahan dan kalsifikasi.

Magnetic susceptibility effect merupakan dasar dari perfusion imaging pada


cerebral, dimana sekuen GRE menggambarkan T2* effect (penurunan sinyal) yang
disebabkan oleh gadolinium. Magnetic susceptibility effect juga digunakan pada blood
oxygenation level-dependent (BOLD) imaging, dimana jumlah relatif dari
deoxyhemoglobin pada vascular di cerebral diukur untuk mewakili aktivitas neuron. BOLD
MRI secara luas digunakan pada mapping dari functional human brain (functional
imaging).

Sekuen GRE ada 2 tipe, tipe koheren (refocused) dan tipe inkohoren (spoiled).
Kedua type tersebut biasanya melibatkan steady state NMV. Pada steady state , TR
biasanya lebih pendek dari T1 dan T2 jaringan yang di scanning. Oleh karena itu, hanya
T2* dephasing saja yang terjadi. Magnetisasi transversal tidak memiliki kesempatan untuk
22
fully recovery diantara successive TR, tetap dalam kondisi steady state, oleh karena itu
terjadi akumulasi magnetisasi transversal.

Partially Refocused GRE, sekuen GRE kohoren atau partially refocused (rewound)
menggunakan gradien (rewind gradient) untuk merephase magnetisasi T2* pada saat
dephasing sehingga efek T2* tetap dipertahankan. Oleh karena itu, sekuen ini
menghasilkan T2WI. Sekuen partially refocused GRE berguna pada MR angiography dan
untuk menggambarkan canalis auditorius interna.

Fully Refocused GRE, perbedaan prinsip yang utama antara partially refocused dan
fully refocused sekuen GRE adalah bahwa semua gradien pada fully refocused sekuen GRE
di refocused. Steady state free precession (SSFP), adalah suatu teknik dimana RF pulse di
aplikasikan secara berulang dengan TR pendek, bisa juga digunakan untuk sekuen GRE
tipe ini. Diferensiasi jaringan yang dihasilkan pada sekuen SSFP lebih kompleks karena
didasarkan pada T2/T1 dengan sinyal yang dihasilkan proporsional dengan akar kuadrat
dari T2/T1. Karena gambar yang diperoleh dari sekuen GRE fully refocused sangat

Tabel 6 nama-nama umum sekuen GRE yang digunakan beberapa vendor

Sekuen GE Siemens Philips


Refocused, post Gradient recalled Fast imaging with Fast field echo
excitation acquisition in the steady state (FFE)
steady state precession (FISP)
(GRASS), Fast
GRASS,
multiplanar
GRASS (MPGR),
Fast multiplanar
GRASS (FMPGR)

Spoiled Spoiled GRASS Fast low angle shot T1-weighted


(incoherent) (SPGR), Fast (FLASH) contrast enhanced
Spoiled GRASS FFE (T1 CE-FFE)
(FSPGR),
multiplanar spoiled
GRASS
(MPSPGR), Fast
multiplanar spoiled
GRASS
(FMPSPGR)

Refocused, SSFP Reversed FSIP T2-weighted


preexicitation (PSIF) contrast enhanced
FFE (T2 CE-FFE)

23
Magnetisation Inversion-recovery- Turbo FASH, Turbo field echo
prepared prepared fast magnetization (TFE)
GRASS prepared rapid
acquisition
gradient echo (MP-
RAGE)

Gambar 21. Pigmented villonodular synovitis. (a) Coronal PDWI fast SE dengan fat sat menunjukkan kista
parameniscal besar yang berisi foci punctate hipodens e (b) Coronal T2* GRE menunjukkan foci punctate
(panah) yang lebih prominen (blooming artifact)

dipengaruhi magnetic suseptibilty effect dari inhomogenitas medan magnet, TR selanjutnya


harus sangat pendek (<5 dtk). Sekuen SSFP adalah sangat cepat, memberi SNR yang tinggi
dan sangat berguna untuk cardiac imaging, interventional MRI, dan high-resolution
imaging untuk internal auditory canal.

Spoiled GRE, T2* effect yang tersisa, yang dihasilkan pada steady state dapat
mempengaruhi diferensiasi jaringan, membuat sekuen GRE lebih mirip T2WI atau
menghasilkan streaking artifact. Oleh karena itu, sekuen inkoheren (spoiled) GRE adalah
suatu spoiler RF pulse atau gardien yang digunakan untuk menghilangkan magnetisasi
transversal yang tersisa pada setiap echo, oleh karena itu akan menghasilkan efek yang
sama seperti pada T1WI dan PDWI. Sekuen spoiled GRE khususnya berguna pada
contrast material-enhanced MRI dan cardiac imaging.

24
Gambar 22. Spoiled dan refocused GRE (a) Axial T2 partially refocused (koherent) GRE pada internal auditory canal.
(b) Oblique sagittal T2 SSFP dari jantung (c) Axial T1 spoiled (inkoheren) GRE cerebral.

E. Echo-planar Imaging (EPI)

Pada echo planar imaging, suatu single echo train digunakan untuk mengumpulkan
data dari semua baris pada k-space dalam satu kali TR. Pengunaan teknik ini adalah untuk
mereduksi waktu akuisisi secara sangat bermakna. Terdapat 2 tipe EPI, yaitu sekuen SE
dan sequen GRE. Semua baris pada k-space dapat di isi dalam satu single TR (single shot-
EPI) atau dengan satu atau lebih TR (multi shot-EPI). Phase encoding dan frequency
encoding gradient di on-off kan dengan sangat cepat, merupakan suatu teknik untuk
mengisi baris pada k-space dengan sangat cepat. Dalam hal ini EPI dapat dianggap sebagai
varian multi echo dari sekuen GRE atau sekuen SE. Saat ini EPI merupakan teknik pilihan
yang digunakan pada DWI, dimana biasanya digunakan sekuen SE dengan EPI. EPI akan
memperbesar magnetic susceptibility effect dan memberikan diferensiasi jaringan yang
lebih baik di bandingkan dengan sekuen standar GRE, oleh karena itu, sekuen EPI banyak
digunakan pada perfusion imaging pada cerebral.

F. Difussion Weighted Imaging

Sekuen DWI merupakan suatu sekuen yang sensitif terhadap difusi, digunakan
untuk membedakan antara proton yang berdifusi dengan cepat (moving proton) dan proton
yang berdifusi dengan lambat (non moving proton, restricted diffusion). Pada DWI
digunakan EPI atau sekuen fast GRE, dan diaplikasikan dua buah gradien yang sama
berpasangan (satu buah pada masing-masing sisi dari RF 1800 pada sekuen EPI). Bila
tidak terdapat net movement dari proton diantara dua aplikasi gradien, gradien pertama
akan mendephasing proton dan gardien kedua akan merephasing proton, sehingga akan
terdeteksi sinyal yang kuat. Jika terdapat net movement, proton tersebut tidak dipengaruhi
oleh kedua gradien (proton tersebut mungkin akan mengalami rephasing, tetapi tidak
mengalami dephasing atau sebaliknya) sehingga sinyal yang dideteksi menjadi lemah.

25
Figures 23, 24. (23a)diagram sekuen EPI. (23b) Axial T2 EPI pada brain (24a) Diffusion-weighted imaging
sequence diagram. (24b) Axial DWI pada brain menunjukkan area restriksi yang tampak hiperintense

Salah satu penggunaan utama DWI adalah untuk mendiagnosis recent stroke.
Biasanya penggunaan DWI disertai dengan penggunaan teknik mapping apparent diffusion
coeffisen (ADC). Untuk penghitungan ADC map, dibutuhkan minimal 2 set imaging, satu
set tanpa aplikasi gradien difusi(mirip T2WI) dan satu set diperoleh dengan gradien difusi.
Kalkulasi nilai ADC didasarkan pada logaritma negative dari kedua set image tersebut
(image yang diperoleh dengan gradient difusi di bandingkan dengan image yang

Gambar 25. Skema dan hubungan antara DWI pada brain yang menunjukkan area restriksi (kiri) dan area non
restriksi(kanan).

26
Gambar 26. Kombinasi FLAIR dan DWI dengan ADC mapping untuk menggambarkan efek pada stroke
multiple. (a) Axial T2 FLAIR menunjukkan area yang terkena stroke.(b, c) axial DWI EPI (b) ADC map (c)
memungkinkan penentuan usia stroke : area yang terkena pada operculum frontalis kanan dan lobus frontalis
kiri (panah tunggal)menunjukkan tidak restriksi, mengindikasikan stroke lama. sebaliknya, area yang terkena
pada lobus parietal kiri (panah ganda) tampak hiperintense pada b dan hipointense pada c, menunjukkan area
restriksi, sesuai stroke baru. Area stoke terbaru kedua adalah pada lobus frontalis kiri (panah tunggal),
tampak hiperintense pada b dan c, dan area stroke terlama pada operculum frontalis kanan (panah tunggal),
tampak hipointense pada b dan hiperintense pada c

diperoleh tanpa gradient difusi). Area dengan restriksi difusi tampak gelap pada ADC map
sedangkan area tanpa restriksi difusi tampak terang.
Kadang-kadang, gambaran intensitas sinyal yang kuat (hiperintense) pada DWI
juga disebabkan oleh efek T2, sehingga di sebut T2 shine through effect. Pada ADC map
tidak ada efek T2 shine through, sehingga pada recent stroke area restriksi tampak
hipointense dan area non restriksi relatif lebih terang. Jadi DWI dan ADC map bisa
digunakan untuk menentukan usia stroke. Area yang mengalami acute stroke akan
mengalami restricted diffusion (hiperintense pada DWI dan hipointense pada ADC map),
sedangkan area old stroke tampak sebagai area hipointense pada DWI dan hiperintense
pada ADC map.

27
BAB IV

KESIMPULAN

Dari Tinjauan pustaka ini kita dapat menyimpulkan beberapa hal :

1. Dokter Spesialis Radiologi perlu mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi MRI
yang sangat pesat, karena penggunaan MRI dimasa depan akan semakin meningkat di
sertai perubahan-perubahan yang sangat cepat pada teknologi MRI.

2. Dokter Spesialis Radiologi perlu memahami prinsip dasar pencitraan MRI dan prinsip
dasar sekuen MRI agar dapat diterapkan pada pencitraan klinis, dalam hal memilih sekuen
MRI dan menginterpretasikan gambar MRI

3. Sekuen dasar MRI hanya ada dua, sekuen spin echo(SE) dan sekuen gradient recall
echo (GRE). Sekuen MRI lainya adalah variasi dari kedua sekuen tersebut, dengan
menambahkan beberpa parameter berbeda.

4. Sekuen SE konvesional menghasilkan gambar T2WI, Sekuen GRE menghasilkan


gambar T2*WI, dimana gambar T2*WI lebih sensitif terhadap inhomogenitas medan
magnet.

5. Sekuen GRE memiliki waktu akuisi yang lebih cepat dari Sekuen SE, sehingga sekuen
GRE berpotensi digunakan untuk memperoleh gambar-gambar MRI yang memerlukan
waktu akuisisi cepat atau sangat cepat.

6. Sekuen DWI dapat berdasarkan SE atau GRE dengan Echo Planar Imaging (EPI). EPI
di perlukan agar waktu akuisisi pada DWI menjadi sangat cepat untuk mengurangi efek
pergerakan makromolekul (aliran darah, aliran CSF).

7. Masing-masing sekuen memiliki keunggulan dan kelemahan, tergantung tujuan


penggunaan pada aplikasi klinis pasien.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Westbrook C, Kaut C. MRI in practice. 2nd ed. Oxford, England: Blackwell Science,
1998.
2. Brown MA, Semelka RC. MR imaging abbreviations, definitions, and descriptions: a
review. Radiology 1999;213:647–662.
3. Westbrook C. MRI at a glance. Oxford, England: Blackwell Science, 2002.
4. Brant WE. Diagnostic imaging methods. In: Brant WE, Helms CA, eds. Fundamentals
of diagnostic radiology.2nd ed. Philadelphia, Pa:Lippincott Williams &Wilkins1999;9-
21.
5. Bloch F. Nuclear induction. Phys Rev 1946;70: 460–474.
6. Purcell EM, Torrey HC, Pound RV. Resonance absorption by nuclear magnetic
moments in a solid. Phys Rev 1946;69:37–38.
7. Bloembergen N, Purcell EM, Pound RV. Relaxation effects in nuclear magnetic
resonance absorption.Phys Rev 1948;73:679–712.
8. Hoult DI, Richards RE. The signal-to-noise ratio of the nuclear magnetic resonance
experiment. J Magn Reson 1976;24:71–85.
9. Damadian R. Tumor detection by nuclear magnetic resonance. Science 1971;171:1151–
1153.
10. Hahn EL. Spin echoes. Phys Rev 1950;80:580–594.
11. Kumar A, Welti D, Ernst RR. NMR Fourier zeugmatography. J Magn Reson
1975;18:69–83.
12. Twieg DB. The k-trajectory formulation of the NMR imaging process with
applications in analysis and synthesis of imaging methods. Med Phys 1983;10:610–
621.
13. Meiboom S, Gill D. Modified spin-echo method for measuring nuclear relaxation
times. Rev Sci Instrum 1958;29:688–691.
14. Fleckenstein JL, Archer BT, Barker BA, Vaughan JT, Parkey RW, Peshock RM. Fast
short-tau inversion-recovery MR imaging. Radiology 1991; 179:499–504.
15. De Coene B, Hajnal JV, Gatehouse P, et al. MR of the brain using fluid-attenuated
inversion recovery (FLAIR) pulse sequences. AJNR Am J Neuroradiol 1992;13:1555–
1564.
16. Frahm J, Haase A, Matthaei D. Rapid threedimensional MR imaging using the FLASH
technique. J Comput Assist Tomogr 1986;10:363–368.
17. Wendt RE 3rd, Wilcott MR 3rd, Nitz W, Murphy PH, Bryan RN. MR imaging of
susceptibilityinduced magnetic field inhomogeneities. Radiology 1988;168:837–841.
18. Kucharczyk J, Asgari H, Mintorovitch J, et al. Magnetic resonance imaging of brain
perfusion using the nonionic contrast agents Dy-DTPABMA and Gd-DTPA-BMA.
Invest Radiol 1991;26(suppl 1):S250–S252.
19. Crawley AP, Wood ML, Henkelman RM. Elimination of transverse coherences in
FLASH MRI. Magn Reson Med 1988;8:248–260.
20. Hawkes RC, Patz S. Rapid Fourier imaging using steady-state free precession. Magn
Reson Med 1987;4:9–23.

29