Anda di halaman 1dari 37

PRESENTASI KASUS PORTOFOLIO

PNEUMOTHORAX SPONTAN E.C TB PARU

Disusun oleh : dr. Ary Suhendra


Pembimbing : dr. Mintardi, Sp.B

Pendamping Internsip :

dr. Kurniadi Murdini

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BREBES

2017
LEMBAR PENGESAHAN
PPRESENTASI KASUS PORTOFOLIO

PNEUMOTHORAX SPONTAN E.C TB PARU

Disusun Oleh:
dr. Ary Suhendra

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Program Internsip Dokter Indonesia
Rumah Sakit Umum Daerah Brebes

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Brebes, 6 Desember 2017

Mengetahui,

Peserta Pendamping internsip

dr. Ary Suhendra dr. Kurniadi Murdini

Pembimbing,

dr. Mintardi, Sp.B


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1


BAB II LAPORAN KASUS ................................................................................ 2
BAB III TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 15
BAB IV KESIMPULAN ................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 34
BAB I
PENDAHULUAN

Paru-paru merupakan unsur elastis yang akan mengempis seperti balon dan
mengeluarkan semua udara di dalamnya melalui trakea bila tidak ada kekuatan
untuk mempertahankan pengembangannya. Paru-paru sebenarnya mengapung
dalam rongga thorax, dikelilingi oleh suatu lapisan tipis cairan pleura yang
menjadi pelumas bagi gerakan paru dalam rongga thorax. Pada keadaan normal,
rongga pleura berisi sedikit cairan dengan tekanan negatif yang ringan1.
Pneumothoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga
pleura. Dengan adanya udara dalam rongga pleura tersebut, maka akan
menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru tidak dapat
mengembang dengan maksimal sebagaimana ketika bernafas biasa. Pneumothorax
dapat terjadi baik secara spontan maupun traumatik. Pneumothorax spontan
sendiri dapat bersifat primer dan sekunder, sedangkan pneumothoraks traumatik
dapat bersifat iatrogenik dan non iatrogenik2.
Insidensi pneumothoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang tidak
diketahui. Namun, dari sejumlah penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan
bahwa pneumothorax lebih sering terjadi pada penderita dewasa yang berumur
sekitar 40 tahun. Laki-laki lebih sering dari pada wanita, dengan perbandingan
5:12
BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. W
Usia : 63 tahun
Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa
Pekerjaan :-
Alamat : Jagalempeni RT 01/RW 03
Nomor CM : 961024
Masuk IGD : 25 Agustus 2017, Pukul 07.26

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Kelopak mata bengkak
2. Keluhan Tambahan
Terdengar suara “kretek” di permukaan kulit dada
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Brebeskarenakelopak mata bengkak dan
terdengar suara “kretek” di bawah kulit di daerah dada kanan sejak 2 hari
SMRS. Pasien tidak mengeluh nyeri, namun agak sesak saat bernafas.
Keluhan bersifat menetap, tidak hilang dengan perubahan posisi.
Sebelumnya pasien pernah dirawat di RSUD Dr Soesilo Slawi dan baru
pulang 2 hari SMRS karena sesak nafas dan sempat dipasang selang di
dadanya.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat keluhan yang sama : disangkal
b. Riwayat hipertensi : disangkal
c. Riwayat DM : disangkal
d. Riwayat penyakit jantung : disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
f. Riwayat alergi ` : disangkal
g. Riwayat penyakit paru : diakui, selesai pengobatan TB 6 bln
h. Riwayat operasi : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Riwayat keluhan yang sama : disangkal
b. Riwayat hipertensi : disangkal
c. Riwayat DM : disangkal
d. Riwayat penyakit jantung : disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
f. Riwayat penyakit paru : disangkal
g. Riwayat alergi ` : disangkal
6. Riwayat Sosial Ekonomi
a. Pekerjaan
Pasien awalnya bekerja sebagai buruh tani di desanya, namun karena
sudah lanjut usia pasien tidak aktif bekerja lagi.Istri pasien adalah
seorang wiraswasta dengan membuka warung kecil-kecilan di
rumahnya.
b. Keluarga
Pasien tinggal di rumah bersama istri dan seorang anaknya yang
berumur 20an tahun. Hubungan keluarga bisa dikatakan harmonis.
c. Diet
Pasien makan 3 kali sehari dengan jumlah dan komposisi sayur dan
lauk cukup. Pasien tidak membatasi makanannya.
d. Kebiasaan
Pasien mengaku dulunya memiliki kebiasaan merokok.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit, sedang
Kesadaran : Compos mentis
Vital Sign : TD : 142/115 mmhg
N : 103x/menit
RR : 22 x/menit
S : 36,5 OC
Sp O2 : 94 %
Status Generalis
1. Pemeriksaan Kepala
Bentuk Kepala : Mesochepal, simetris, venektasi temporal (-)
Rambut : Warna hitam, rontok (-), distribusi merata
Wajah : Simetris, sianosis (-)
2. Pemeriksaan Mata
Palpebra : Edema (+/+), ptosis (-/-)
Konjunctiva : Anemis (-/-)
Sklera : Ikterik (-/-)
Pupil : Reflek cahaya (+/+), isokor Ø 2 mm
3. Pemeriksaan Telinga : Otore (-/-), deformitas (-/-), nyeri tekan (-/-)
4. Pemeriksaan Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-/-), rinore (-/-)
5. Pemeriksaan Mulut : Bibir sianosis (-), tepi hiperemis (-), bibir kering (-),
lidah kotor (-), tremor (-)
6. Pemeriksaan Leher
Trakea : Deviasi trakea (-)
Kelenjar Tiroid : Tidak membesar
Kel. Limfonodi : Tidak membesar, nyeri tekan (-)
JVP : Tidak meningkat (5+2 cmH2O)

7. Pemeriksaan Dada
Paru
Inspeksi : Hemithorax dextra > sinistra
Ketinggalan gerak (+) sinistra, jejas (-)
Palpasi : Vocal fremitus apex dextra < sinistra
Vocal fremitus basal dextra < sinistra
Terdengar suara chrunchy pada perabaan kulit
thorax sinistra
Perkusi : Hemithorax dextra dbn
Hemithorax sinistra hipersonor
Auskultasi : Apex : SD vesikuler +/
Basal : SD vesikuler +/
Rbh basal -/- ; Rbk parahiler -/- ; wh. parahiler -/-
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tampak di SIC V 2 jari medial
LMCS, P.Parasternal(-), P.Epigastrium(-)
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari medial
LMCS, kuat angkat (-)
Perkusi : Batas jantung
Kanan atas SIC II LPSD
Kanan bawah SIC IV LPSD

Kiri atas SIC II LPSS


Kiri bawah SIC V 2 jari Medial LMCS
Auskultasi : S1 > S2 reguler, Gallop(-), Murmur (-)
A1 < A2 ; P1 < P2 ; T1 > T2 ; M1 > M2

8. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : datar, jejas (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Hepar : dbn
Lien : dbn
9 Pemeriksaan Ekstremitas
Superior : Akral dingin (-/-), sianosis (-/-), edem (-/-), ikterik (-/-)
Inferior : Akral dingin (-/-), sianosis (-/-), edem (-/-), ikterik (-/-)
10. Pemeriksaan Limphonodi : Tidak teraba
11. Pemeriksaan turgor kulit : < 1 detik
12. Pemeriksaan Akral : Hangat
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium 25 Agustus 2017
Pemeriksaan Hasil
Haemoglobin 17,6
Leukosit 12.780
Hematokrit 50,9
Eritrosit 6,22 juta
Trombosit 428.000
MCV 81,8
MCH 28,3
MCHC 34,6
Hitung Jenis
Basofil 0,1
Eosinofil 0,7
Neutrofil 72,9
Limfosit 19,6
Monosit 6,7
Kimia Klinik
Ureum 50,60
Kreatinin 0,58
SGOT 24
SGPT 32
GDS 82
HBsAg Nonreaktif
Foto Thorax PA

DIAGNOSIS KERJA
Sirosis hepatis
PLAN
IVFD D 5%8 tpm
inj. ranitidin 2 x 50 mg (2 x 1 amp)
p.o. curcuma 3 x 200 mg (3 x 1 tab)
Konsul dokter spesialis penyakit dalam
E. Diagnosis Kerja
Emfisema Subkutis post WSD dengan Pneumothorax

F. Plan IGD
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ketorolac 3 x 1 amp
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Konsul dr Sp. Bedah

Catatan Perkembangan Pasien di Bangsal

Hari / S O A P
tanggal
26 Kelopak Keadaan Umum/kesadaran: Emfisema - IVFD RL +
Agustus mata masih Sedang/Compos Mentis subcutis post aminofilin 1 amp
2017 bengkak TD : 130/80 mmHg WSD dengan 20tpm
N : 88x/menit pneumothorax - Inj ranitidin 2 x 1
Pkl 09.00 RR : 24x/menit amp
Di S : 36,5 C H+1 perawatan - Inj ceftriaxone 2
Bangsal St. Generalis : x 1 gr
bedah Mata : Ca -/- Si -/- - Inj ketorolac 2 x
Edem palpebra +/+ 1 amp
Thorax :
Paru : SD vesikuler
+/Rbk -/- , Rbh
-/-, Wh -/-
Palpasi crunchy + sin
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
Flatus (+)
28 Kelopak Keadaan Umum/kesadaran: Emfisema - IVFD asering +
Agustus mata masih Sedang/Compos Mentis subcutis post aminofilin 1 amp
2017 bengkak TD : 130/80 mmHg WSD dengan 20 tpm
N : 86 x/menit pneumothorax - Inj ranitidin 2 x 1
Pkl 09.00 RR : 24 x/menit amp
Di S : 37 C H+3 perawatan - Inj ceftriaxone 2
Bangsal St. Generalis : x 1 gr
bedah Mata : Ca -/- Si -/- - Inj ketorolac 2 x
Edem palpebra +/+ 1 amp
Thorax :
Paru : SD vesikuler
+/Rbk -/- , Rbh
-/-, Wh -/-
Palpasi crunchy + sin
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
Flatus (+)

4 Nafas agak Keadaan Umum/kesadaran: Emfisema - IVFD asering +


September sesak, Sedang/Compos Mentis subcutis post aminofilin 1 amp
2017 kelopak TD : 130/80 mmHg WSD dengan 20 tpm
mata masih N : 88 x/menit pneumothorax - Inj ranitidin 2 x 1
Pkl 09.00 bengkak RR : 26 x/menit amp
+10
Di S : 37 C H perawatan - Inj ceftriaxone 2
Bangsal St. Generalis : x 1 gr
bedah Mata : Ca -/- Si -/- - Inj ketorolac 2 x
Edem palpebra +/+ 1 amp
Thorax : - Ro thorax PA
Paru : SD vesikuler ulang
+/Rbk -/- , Rbh
-/-, Wh -/-
Palpasi crunchy + sin
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
Flatus (+)
24 Sesak, Keadaan Emfisema - IVFD asering +
September batuk Umum/kesadaran: tampak subcutis post aminofilin 1
2017 sesak/Compos Mentis WSD dengan amp
TD : 130/80 mmHg pneumothorax 20 tpm
Pkl 08.00 N : 88 x/menit - Inj ranitidin 2 x
Di bangsal RR : 28 x/menit H+30 perawatan 1 amp
bedah S : 37 C - Inj ceftriaxone 2
St. Generalis : x 1 gr
Mata : Ca -/- Si -/- - Inj ketorolac 2 x
Edem palpebra +/+ 1 amp
Thorax : - Rencana operasi
Paru : SD vesikuler 25/9/17 (puasa,
+/Rbk -/- , Rbh pasang NGT pre
-/-, Wh -/- op)
Palpasi crunchy + sin
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
Flatus (+)
25September Sesak (+), Keadaan Emfisema Instruksi post op:
2017 batuk (+) Umum/kesadaran: tampak subcutis dan - Rawat ICU
sesak/Compos Mentis pneumothorax - IVFD RL –
Pkl 09.00 TD : 130/80 mmHg post op tutofuchsin
Di ruang OK N : 88 x/menit thoracotomi + - Inj meropenem
RR : 28 x/menit WSD 2 amp
S : 37 C - Inj ketorolac 2 x
St. Generalis : H+31 perawatan 1 amp
Mata : Ca -/- Si -/- - Inj ranitidin 2 x
Edem palpebra +/+ 1 amp
Thorax : - Ro thorax PA
Paru : SD vesikuler ulang
+/Rbk -/- , Rbh
-/-, Wh -/-
Palpasi crunchy + sin
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
27 Tidak ada Keadaan Umum/kesadaran: Post thoracotomi - Rawat bangsal
September keluhan baik/Compos Mentis + WSD a.i - IVFD RL –
2017 TD : 120/77 mmHg emfisema tutofuchsin
N : 104 x/menit subcutis & - Inj meropenem 2
Pkl 10.00 RR : 28 x/menit pneumothoraks amp
Di ICU S : 37,4 C - Inj ketorolac 2 x
Sp O2 : 95% H+33 perawatan 1 amp
St. Generalis : - Inj ranitidin 2 x 1
Mata : Ca -/- Si -/- amp
Edem palpebra -/- - Inj vit C 2 x 1
Thorax : terpasang WSD amp
Paru : SD vesikuler
+/+Rbk -/- , Rbh
-/-, Wh -/-
Palpasi crunchy (-)
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
2 Oktober Tidak ada Keadaan Umum/kesadaran: Post thoracotomi - Aff WSD
2017 keluhan baik/Compos Mentis + WSD a.i - Aff infus
TD : 120/77 mmHg emfisema - Evaluasi 24 jam
Pkl. 09.00 N : 104 x/menit subcutis & - Besok pasien
di Bangsal RR : 24 x/menit pneumothoraks boleh pulang
bedah S : 37 C
Sp O2 : 95% H+38 perawatan
St. Generalis :
Mata : Ca -/- Si -/-
Edem palpebra -/-
Thorax : terpasang WSD
Paru : SD vesikuler
+/+Rbk -/- , Rbh
-/-, Wh -/-
Palpasi crunchy (-)
Cor : S1>S2 reguler,
M (-), G (-)
St. Lokalis Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) N
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar tidak
teraba, NT (-)
Ekstremitas: edema (-)
Akral hangat
St. Vegetatif: BAB (+),
BAK (+)
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

PNEUMOTHORAKS
A. DEFINISI
Pneumothoraks adalah suatu kondisi dimana terjadi akumulasi udara
pada cavum pleura yang dapat terjadi secara spontan atau pasca traumatik3.

B. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI


Pneumothorax diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan
beberapa kriteria sebagai berikut 4:
1. Berdasarkan Terjadinya
a. Pneumothorax spontan
Pneumothorax yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu
penyebab trauma atau kecelakaan. Terdiri dari pneumothorax
spontan primer, dimana pneumothorax terjadi tanpa adanya penyakit
paru yang mendasari dan pneumothorax spontan sekunder, dimana
pneumothorax disebabkan oleh adanya penyakit paru yang
mendasari seperti TB paru, PPOK, asma bronkiale, pneumonia,
tumor paru, dll5.
b. Pneumothorax traumatik
Pneumothorax yang terjadi akibat suatu trauma, baik trauma
penetrasi atau kontusio yang dapat menyebabkan robeknya pleura,
dinding dada, ataupun paru. Berdasarkan kejadiannya, pneumothorax
traumatik dibedakan menjadi pneumothorax traumatik non
iatrogenik yang disebabkan oleh jejas kecelakaan dan pneumothorax
traumatik artifisial yang disebabkan adanya tindakan tertentu atau
memang disengaja dilakukan untuk tujuan tertentu5.
2. Berdasarkan Lokasi
a. Pneumothorax parietalis
b. Pneumothorax mediastinalis
c. Pneumothorax basalis
3. Berdasarkan Derajat Kolaps
a. Pneumothorax totalis
b. Pneumothorax parsialis
Derajat kolaps paru pada pneumothorax dapat dinyatakan dalam
persen dan dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Luas hemithorax (A x B) – Luas paru yang kolaps (a x b) : (A x B) x 100
%
(𝐴 𝑥 𝐵) − (𝑎 𝑥 𝑏)
𝑥 100 %
𝐴𝑥𝐵

4. Berdasarkan Jenis Fistel


a. Pneumothorax terbuka
Pneumothorax terbuka merupakan suatu pneumothorax dimana
terdapat hubungan antara rongga pleura dengan bronkus yang
merupakan bagian dari dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan
intrapleura sama dengan tekanan udara luar, sesuai dengan
perubahan tekanan yang disebabkan oleh gerakan pernafasan. Pada
saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada waktu ekspirasi
tekanan menjadi positif.
b. Pneumothorax tertutup
Pada pneumothorax tertutup, rongga pleura dalam kondisi
tertutup sehingga udara di dalam rongga pleura tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar. Pada awalnya, tekanan intra pleura
dapat positif, namun lama kelamaan dapat menjadi negatif akibat
udara yang mengandung oksigen diserap oleh jaringan paru. Pada
saat inspirasi maupun ekspirasi, tekanan intrapleural tetap negatif.
c. Tension pneumothorax
Tension pneumothorax merupakan pneumothorax dengan
tekanan intrapleura yang positif dan semakin lama semakin
membesar karena adanya fistel di pleura visceralis yang bersifat
ventil. Pada saat inspirasi, udara masuk melalui bronkus dan
percabangannya selanjutnya terus menuju cavum pleura melalui
fistel yang terbuka. Akan tetapi, pada saat ekspirasi udara di dalam
rongga pleura tidak dapat keluar sehingga berakibat tekanan
intrapleural meningkat. Kondisi ini merupakan kondisi gawat darurat
yang harus segera ditangani.
Pada pasien ini pneumothorax terjadi bukan karena sebab
traumatik, namun pneumothorax terjadi secara spontan karena
pasien memiliki riwayat penyakit TB paru yang mendasarinya.

C. PATOGENESIS
Pada fisiologi pernafasan normal, pada waktu inspirasi tekanan
intrapleura lebih negatif daripada tekanan intrabronkial sehingga paru
mengembang mengikuti gerakan dinding dada yang mengakibatkan udara
luar akan masuk melalui bronkus hingga ke alveolus. Sedangkan pada saat
ekspirasi dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura
akan lebih tinggi daripada tekanan udara luar maupun intrabronkial sehingga
menyebabkan udara tertekan keluar melalui bronkus4.
Tekanan intrabronkial akan meningkat apabila ada tahanan pada saluran
pernapasan, tekanan ini akan lebih meningkat pada permulaan batuk, bersin,
atau mengejan. Apabila terjadi peningkatan tekanan intrabronkial disertai
kelemahan bagian perifer bronkus atau alveolus, maka kemungkinan akan
terjadi robekan alveolus maupun bronkus4.
Dugaan terjadinya pneumothoraks dapat dijelaskan melalui adanya
mekanisme kebocoran di bagian paru yang berisi udara melalui robekan
pleura yang pecah dimana bagian yang pecah ini berhubungan dengan
bronkus. Pelebaran alveolus dan septa-septa alveolus yang pecah kemudian
dapat membentuk suatu bula berdinding tipis di dekat daerah yang terdapat
proses radang nonspesifik atau fibrosis granulomatosa4.
Alveolus disangga oleh kapiler yang mempunyai dinding lemah dan
mudah robek, apabila alveolus melebar dan tekanan intraalveolar meningkat,
maka udara dengan mudah menuju ke jaringan peribronkovaskuler. Gerakan
nafas yang kuat, infeksi, dan obstruksi endobronkial merupakan beberapa
faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan, selanjutnya udara
yang terbebas dari alveolus dapat mengoyak jaringan fibrotik
peribronkovaskuler. Robekan pleura yang berlawanan arah dengan hilus
akan menimbulkan pneumothorax, sedangkan robekan yang mengarah ke
hilus dapat menyebabkan pneumomediastinum. Di antara organ-organ
mediastinum terdapat jaringan ikat longgar sehingga mudah ditembus udara.
dari leher, udara menyebar merata di bawah kulit leher dan dada sehingga
timbul emfisema subkutis4

D. PENEGAKAN DIAGNOSIS
Keluhan utama pasien pneumothoraks spontan adalah sesak nafas,
bernafas terasa berat, nyeri dada, dan batuk. Sesak sering mendadak dan
semakin lama semakin berat. Nyeri dada dirasakan pada sisi yang sakit, rasa
berat, tertekan, dan terasa lebih nyeri pada saat gerakan pernapasan. Pada
pneumothoraks spontan, sebagai pencetus adalah batuk keras, bersin,
mengangkat barang-barang berat, kencing, atau mengejan. Penderita
mengeluhkan munculnya gejala dirasakan setelah melakukan hal-hal
tersebut. Pada pneumothoraks traumatik, gejala-gejala pneumothoraks
tersebut muncul setelah terjadi peristiwa yang menyebabkan trauma pada
thoraks4
Pada pemeriksaan fisik pasien dengan pneumothoraks akan muncul
tanda berikut4:
1. Tampak sesak ringan sampai berat, tergantung pada kecepatan udara
yang masuk serta ada tidaknya klep. Penderita bernapas tersengal,
pendek-pendek dengan mulut terbuka.
2. Sesak nafas dengan atau tanpa sianosis
3. Badan tampak lemah dan dapat disertai syok, pada pneumothoraks
dengan onset akut dapat pula disertai keringat dingin.
4. Nadi cepat dan pengisian masih cukup baik pada sesak nafas ringan.
Pada sesak nafas berat, nadi menjadi cepat dan lemah disebabkan waktu
pengisian kapiler berkurang.
5. Pada pemeriksaan fisik thoraks ditemukan:
Inspeksi
- Hemithoraks yang sakit dapat lebih cembung dibandingkan
hemithoraks sehat
- Gerakan nafas tertinggal pada bagian thoraks yang sakit
- Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat
Palpasi
- Pada sisi yang sakit, SIC dapat normal atau melebar
- Ictus cordis terdorong ke arah sisi thoraks yang sehat
- vocal fremitus melemah atau menghilang pada sisi yang sakit
Perkusi
- Pada sisi yang sakit didapatkan suara hipersonor dan tidak menggetar
- Batas jantung terdorong ke arah thoraks yang sehat, apabila tekanan
intrapleural tinggi
Auskultasi
- Pada bagian yang sakit, suara dasar nafas melemah sampai
menghilang
- Suara nafas terdengar amforik bila ada fistel bronkopleurayang cukup
besar pada pneumothoraks terbuka
- suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni negatif
- dapat pula dilakukan coin test dengan menggunakan ketukan 2 koin
logam yang satu ditempelkan di dada dan yang lain diketokkan pada
koin pertama, kemudian akan terdengar bunyi metalik pada punggung.
Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu penegakan diagnosis
pneumothoraks antara lain foto rontgen thoraks PA yang memperlihatkan
gambaran hiperlusen, corakan bronkovaskuler menghilang, paru mengempis,
dan trakhea terdorong ke arah hemithoraks yang sehat. Analisis gas darah
arteri memberikan gambaran hipoksemia, namun pemeriksaan ini kadang
tidak diperlukan. Pada pneumothoraks kiri dapat menimbulkan perubahan
aksis QRS dan gelombang T precordial pada gambaran EKG dan seringkali
ditafsirkan sebagai Infark Myokard Akut (IMA). Selain itu, dapat pula
dilakukan CT scan thorax pada pasien yang diagnosisnya belum tegak setelah
dilakukan foto rontgen. pemeriksaan ini lebih spesifik untuk membedakan
emfisema bulosa dan pneumothoraks, batas antar udara dengan cairan intra
dan ekstrapulmoner, serta dapat membedakan pneumothoraks spontan primer
atau sekunder5.

E. PENATALAKSANAAN
Tindakan pengobatan pneumothorax tergantung dari luasnya
pneumothoraks, tujuannya untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan
meminimalkan risiko kambuh lagi. British Thoracic Society dan American
College of Chest Physicians telah memberikan rekomendasi untuk
penanganan pneumothoraks, yaitu5:
1. Observasi dan pemberian tambahan oksigen
2. Aspirasi sederhana dengan jarum dan pemasangan tube torakostomi
dengan atau tanpa pleurodesis
3. Torakoskopi dengan pleurodesis dan penanganan terhadap adanya bleb
atau bula
4. Torakotomi
Pada pneumothoraks tertutup dengan paru kolaps minimal dan tekanan
intrapleural masih negatif, hanya dilakukan tindakan observasi apakah gejala
klinis menetap atau bertambah berat dengan diberikan terapi oksigenasi.
Apabila keluhan sesak memberat, dapat dicurigai sebagai pneumothoraks
terbuka atau bahkan tension pneumothoraks sehingga selanjutnya diperlukan
tindakan dekompresi atau membuat hubungan rongga pleura dengan dunia
luar dengan menggunakan infus set, jarum abbocath, atau pemasangan pipa
Water Sealed Drainage (WSD). Apabila diperlukan, dapat pula dibantu
dengan continous suction agar tekanan intrapleural cepat kembali menjadi
negatif. Tindakan pembedahan yang mungkin dilakukan antara lain dengan
pembukaan dinding thoraks melalui operasi, dicari lubang yang menyebabkan
pneumothoraks kemudian dijahit. Apabila ditemukan penebalan pleura yang
mengganggu pengembangan paru, dapat dilakukan reseksi. Pilihan terakhir
yang dapat dilakukan adalah dengan pleurodesis, yaitu dilakukan penjahitan
setelah masing-masing pleura dikerok atau lapisan tebal dibuang, selanjutnya
kedua pleura dilekatkan satu sama lain di tempat fistel4.
Apabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan
ditujukan untuk menangani penyakit paru yang mendasarinya. Selain itu,
pasien dengan pneumothoraks dilarang melakukan kerja keras, batuk dan
bersin terlalu keras, dan mengejan. Untuk mencegah obstipasi dan
memperlancar defekasi, dapat diberikan laksan ringan untuk mengurangi
mengejan terlalu keras pada saat defekasi4.
Pencegahan Pneumothoraks4
1. Pada penderita PPOK, diberikan pengobatan yang adekuat terutama jika
pasien batuk-batuk berkepanjangan. Pilihan obat yang dapat diberikan
adalah bronkodilator dan antitusif ringan, ditambah dengan edukasi agar
pasien tidak batuk dan mengejan terlalu keras serta menghindari aktifitas
berat.
2. Pada penderita TB paru, harus dilakukan terapi OAT hingga tuntas.
Prognosis pasien pneumothoraks dengan TB paru lebih baik pada pasien
yang lesinya masih minimal.
Rehabilitasi4
Pasien yang telah sembuh dari pneumothoraks harus dilakukan pengobatan
secara baik untuk penyakit paru yang mendasarinya.
1. Pasien diberikan edukasi agar menghindari batuk dan mengejan terlalu
berat, derta menghindari beraktifitas berat seperti mengangkat beban.
2. Apabila mengalami kesulitan defekasi, dapat diberikan laksan ringan
3. Kontrol penderita pada waktu tertentu, terutama jika ada keluhan batuk
dan sesak nafas.

F. KOMPLIKASI
Tension pneumothoraks dapat menyebabkan kegagalan respirasi akut,
empyema, hidro-pneumothoraks, hematothoraks, pneumomediastinum dan
emfisema subkutis, hingga henti jantung paru dan kematian. Selain itu,
pneumothoraks dapat pula menyebabkan terjadinya pneumothoraks simultan
bilateral (insidensi + 2 %) dan pneumothoraks kronik, bila tetap ada selama
waktu lebih dari 3 bulan (insidensi + 5 %)5
G. PROGNOSIS
Pasien dengan pneumothoraks spontan hampir separuhnya akan
mengalami kekambuhan, baik setelah sembuh dari observasi maupunsetelah
pemasangan tube thoracostomy. Pasien-pasien yang penatalaksanaannya
cukup baik, umumnya tidak dijumpai komplikasi. Pasien pneumothoraks
spontan sekunder prognosisnya tergantung dari penyakit paru yang
mendasarinya5.

TB Paru
A. Definisi
Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya6.

B. Epidemiologi7
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO)
telah mencanangkan tuberkulosis sebagai “Global Emergency”. Laporan
WHO tahu 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis
pada tahun 2002, 3,9 juta adalah kasu BTA (Basil Tahan Asam) positif.
Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut
regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia Tenggara yaitu 33%
dari seluruh kasus TB di dunia, namun bia dilihat dari jumlah penduduk,
terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk.

C. Patogenesis7
a. Tuberkulosis Primer
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan
bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang
pneumoni, yang disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer
ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan
sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut
diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis
regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal
sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah
satu nasib sebagai berikut :
1) Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2) Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3) Menyebar dengan cara
a) Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya
Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian
penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar
hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada
saluran napas bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman
tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini
ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus
yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
b) Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun
ke paru sebelahnya atau tertelan
c) Penyebaran secara hematogen dan limfogen
Penyebaran ini berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan
virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara
spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat,
penyebaran ini akan menimbulkan keadaan yang cukup gawat
seperti tuberculosis milier, menigitis tuberkulosis, typhobacillosis
Landouzy.
Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat
tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan
sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin berakhir
dengan :
4. Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan
terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis,
tuberkuloma ) atau
5. Meninggal.
Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer.

b. Tuberkulosis Post Primer


Tuberkulosis postprimer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah
tuberkulosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis
postprimer mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu tuberkulosis
bentuk dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan
sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi masalah
kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan.
Tuberkulosis postprimer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya
terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini
ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni ini
akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
1) Diresopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
2) Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi
pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang
tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan keju
dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar.
3) Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan
kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju
keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan
menjadi tebal (kaviti sklerotik). Kaviti tersebut akan menjadi:
a) meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang
pneumoni ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang
disebutkan di atas
b) memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi
mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
c) bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti
menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil.
Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan menciut
sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped).

D. Klasifikasi7
a. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,
tidak termasuk pleura.
1) Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi atas :
a) Tuberkulosis paru BTA (+)
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil
BTA positif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA
positif dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran
tuberkulosis aktif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA
positif dan biakan positif
b) Tuberkulosis paru BTA (-)
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,
gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis
aktif
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan
biakan M. Tuberculosis
2) Berdasarkan tipe pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.
Ada beberapa tipe pasien yaitu :
a) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b) Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh
ataupengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan
hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakanpositif. Bila BTA
negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan
beberapa kemungkinan :
- Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur,
keganasan dll)
- TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang
berkompeten menangani kasus tuberkulosis
c) Kasus delfauted atau drop out
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak
mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai
d) Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan) atau akhir pengobatan
e) Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah
selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan
pengawasan yang baik
f) Kasus bekas TB
- Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila
ada) dan gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang
tidak aktif, atau foto serial menunjukkan gambaran yang
menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih
mendukung
- Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah
mendapat pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang
tidak ada perubahan gambaran radiologi
b. Tuberkulosis ektra paru
Tuberkulosis ekstraparu adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput otak, tulang,
ginjal, saluran kencing dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi
dari tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan
pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan
konsisten dengan TB ekstraparu aktif.

Gambar 2.1 Klasifikasi TB berdasarkan hasil pemeriksaan dahak

E. Diagnosis7
a. Gambaran klinik
Diagnosis tuberkulosis dapat diteakan berdasarkan gejala klinis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan penunjang
lainnya.
1) Gejala klinik
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
gejala lokal dan gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah
paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori (gejala lokal sesuai
organ yang terlibat
2) Gejala respiratorik
a) batuk ≥ 2 minggu
b) batuk darah
c) sesak napas
d) nyeri dada
Gejala respiratori ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang
pasien terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus
belum terlibat dalam proses penyakit, maka pasien mungkin tidak
ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi
bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang
dahak ke luar.
3) Gejala sistemik
Demam, malaise, keringat malam, anoreksia dan berat badan
menurun
4) Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstraparu tergantung dari organ yang terlibat,
misalnya pada limfadenitis tuberkulosis akan terjadi pembesaran
yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada
meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala meningitis, sementara
pada pleuritis tuberkulosis terdapat gejala sesak napas dan kadang
nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung
dari organ yang terlibat.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas
kelainan struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan
penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan.
Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior
terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2) , serta daerah
apeks lobus inferior (S6). Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan
antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki
basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisis tergantung dari
banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak,
pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar
pada sisi yang terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran kelenjar getah
bening, tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis
tumor), kadang-kadang di daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut
dapat menjadi “cold abscess”
c. Pemeriksaan bakteriologik
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis.
Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat berasal dari dahak,
cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces
dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
d. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas
indikasi: foto lateral, top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan
foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam
bentuk (multiform). Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi
TB aktif :
- Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus
atas paru dan segmen superior lobus bawah
- Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak
berawan atau nodular
- Bayangan bercak milier
- Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
- Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
- Fibrotik
Gambar2.2 Alur diagnosis TB paru pada orang dewasa

F. Penatalaksanaan7
a. Tujuan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
b. Jenis, sifat dan dosis OAT

c. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis menurut Depkes (2009) dilakukan dengan
prinsip - prinsip sebagai berikut:
1) OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi).
Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2) Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh
seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
3) Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
a) Tahap awal (intensif)
(1) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap
hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah
terjadinya resistensi obat.
(2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular
dalam kurun waktu 2 minggu.
(3) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA
negatif (konversi) dalam 2 bulan.
(4) Jika setelah pengobatan 2 bulan pasien TB BTA positif
belum menjadi BTA negatif (tidak konversi), maka
diberikan OAT sisipan (HRZE) sama seperti paduan paket
untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama
sebulan (28 hari).
b) Tahap Lanjutan
(1) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih
sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
(2) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

d. Panduan OAT yang diberikan di Indonesia


1) Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:
a) Kategori 1 : 2(HRZE)/ 4(HR)3
b) Kategori 2 : 2(HRZE)S/ (HRZE)/ 5(HR)3E3
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
c) Kategori Anak: 2HRZ/ 4HR
2) Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk
paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan
kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT
kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4
jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat
badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu
pasien.
BAB IV
KESIMPULAN

1. Pneumothoraks adalah suatu kondisi dimana terjadi akumulasi udara pada


cavum pleura yang dapat terjadi secara spontan atau pasca traumatik
2. Pada pasien ini terjadi pneumothoraks spontan akibat penyakit TB paru yang
mendasarinya.
3. Penatalaksanaan yang diberikan pada kasus ini adalah dengan melakukan
thoracotomi dan pemasangan WSD untuk menutup kebocoran pada rongga
thorax dan mengeluarkan udara yang terjebak pada cavum pleura
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9,


Jakarta : EGC; 1997. P.598
2. Sudoyo, Aru W., Setyohadi, Bambang, Alwi, Idrus. K, Marcellus,
Simadibrata. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi IV.
Jakarta : FKUI. 2006. P 1063
3. Patel, Harish dan Catherine Gwilt. 2008. Crash Course: Respiratory System,
3rd edition. London: Elseiver
4. Alsagaf, Hood dan Isnu Pradjoko. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010.
Surabaya: FK Unair
5. Hisyam, Barnawi dan Eko Budiono. 2009. Pneumothoraks Spontan, dalam
Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam, edisi V jilid II. Jakarta : Interna Publishing
6. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan. 2012. TBC
Masalah Kesehatan Dunia. Diperoleh dari: www.bppsdmk.depkes.go.id
[diakses 1 November 2017].
7. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Diperoleh dari:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.pdf. [diakses 2 November 2017]
8. Departemen Kesehatan RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008.
Diperoleh dari: www.depkes.go.id [diakses 2 November 2017].