Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH IMUNOLOGI II

“PEMERIKSAAN CRP (C – REAKTIVE PROTEIN)”

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Imunologi II

Dosen : Rani Handriani, S.Si

Disusun :

Ela Ratnasari [1511E1020]

Nadia Aurora [1511E1021]

Achmad Gilman Harish [1511E1022]

Resha Chaerani Ayatulloh [1511E1031]

Kelompok 3

D3A-Analis Kesehatan

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH


BANDUNG
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang Imunologi II dan manfaatnya untuk
masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Imunologi II dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Bandung, Desember 2017

Penyusun,

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I ...................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang..................................................................................................... 1


1.2. Tinjauan Pustaka ................................................................................................. 1
1.3. Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
1.4. Tujuan ................................................................................................................. 2

BAB II .................................................................................................................... 3

PEMBAHASAN .................................................................................................... 3

2.1. Pengertian CRP.................................................................................................... 3


2.2. Fungsi CRP ........................................................................................................... 3
2.3. Pemeriksaan Kadar CRP ...................................................................................... 4
2.4. Metode Pengukuran CRP .................................................................................... 4

BAB III ................................................................................................................... 6

METODOLOGI .................................................................................................... 6

BAB IV ................................................................................................................. 11

PENUTUP ............................................................................................................ 11

4.1. Kesimpulan ........................................................................................................ 11


4.2. Saran ................................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

CRP merupakan salah satu dari beberapa protein yang sering disebut
sebagai protein fase akut dan digunakan untuk memantau perubahan-perubahan
dalam fase inflamasi akut yang dihubungkan dengan banyak penyakit infeksi dan
penyakit autoimun. Beberapa keadaan dimana CRP dapat dijumpai meningkat
adalah radang sendi (rheumatoid arthritis), demam rematik, kanker payudara,
radang usus, penyakit radang panggung (pelvic inflammatory disease, PID),
penyakit Hodgkin, SLE, dan infeksi bakterial. CRP juga meningkat pada kehamilan
trimester terakhir, pemakaian alat kontrasepsi intrauterus dan pengaruh obat
kontrasepsi oral (Bellanti, 1993).

C-reactive (C-reactive protein, CRP) dibuat oleh hati dan dikeluarkan ke


dalam aliran darah. CRP beredar dalam darah selama 6-10 jam setelah proses
inflamasi akut dan destruksi jaringan. Kadarnya memuncak dalam 48-72 jam.
Seperti halnya uji laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR), CRP
merupakan uji non-spesifik tetapi keberadaan CRP mendahului peningkatan LED
selama inflamasi dan nekrosis lalu segera kembali ke kadar normalnya (Rose et al.,
1979).

Tes CRP seringkali dilakukan berulang-ulang untuk mengevaluasi dan


menentukan apakah pengobatan yang dilakukan efektif. CRP juga digunakan untuk
memantau penyembuhan luka dan untuk memantau pasien paska bedah sebagai
sistem deteksi dini kemungkinan infeksi. Tes CRP dapat dilakukan secara manual
menggunakan metode aglutinasi atau metode lain yang lebih maju, misalnya
sandwich imunometri. Tes aglutinasi dilakukan dengan menambahkan partikel
latex yang dilapisi antibodi anti CRP pada serum atau plasma penderita sehingga
akan terjadi aglutinasi. Untuk menentukan titer CRP, serum atau plasma penderita
diencerkan dengan buffer glisin dengan pengenceran bertingkat (1/2, 1/4, 1/8, 1/16
dan seterusnya) lalu direaksikan dengan latex. (Boediana, 2001).

1.2. Tinjauan Pustaka

C-Reaktive protein adalah salah satu dari protein fase akut yang didapatkan
dalam serum normal walaupun dalam jumlah yang kecil. Pada keadaan-keadaan
tertentu dimana didapatkan adanya reaksi radang atau kerusakan jaringan

1
(nekrosis), yaitu baik yang infektif maupun yang tidak infektif. Kadar CRP dalam
serum dapat mengikat sampai 1000 kali (Handojo, 1982).

Banyak protein plasma mengikat secara akut sebagai respon terhadap


penyakit, infeksi dan nekrosis jaringan. Protein- protein ini mencakup glikoprotein
α-1-asam, α-1-anti tripsin, serum plasma haptoglogin. Fibrinogen dan protein C-
Reaktif (CRP). Yang paling bermanfaat dari zat-zat tersebut adalah CRP karena
berdasarkan cepatnya peningkatan sebagai respon terhadap penyakitakut dan
cepatnya pembersihan setelah stimulus mereda (Sacher et al., 2004).

CRP adalah globula alfa abnormal yang cepat timbul adalah serum
penderita dengan penyakit karena infeksi atau karena sebab-sebab lain. Protein ini
tidak terdapat dalam darah orang sehat. Protein ini dapat menyebabkan pesipitasi
hidrat arang C dari Pneumococcus (Bonang, 1982).

CRP merupakan fase, keadaannya meningkat 24 jam pasca infeksi,


peradangan akut kerusakan jaringan. Unsur pokok dari mikroorganisme dan juga
struktur sex manusia disebut juga CRP karena mempunyai kemampuan untuk
berikatan dengan C-pneumococcus polisakarida (Starr, 2000).

1.3. Rumusan Masalah

1. Apa fungsi CRP di dalam tubuh ?


2. Bagaimana pemeriksaan kadar CRP ?
3. Bagaimana prosedur pemeriksaan CRP ?
4. Apa saja yang dapat mempengaruhi pemeriksaan CRP ?

1.4. Tujuan

 Mengetahui fungsi CRP di dalam tubuh.


 Mengetahui cara pemeriksaan CRP.
 Mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan CRP.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian CRP

CRP merupakan salah satu dari beberapa protein yang sering disebut
sebagai protein fase akut dan digunakan untuk memantau perubahan-perubahan
dalam fase inflamasi akut yang dihubungkan dengan banyak penyakit infeksi dan
penyakit autoimun. Beberapa keadaan dimana CRP dapat dijumpai meningkat
adalah radang sendi (rheumatoid arthritis), demam rematik, kanker payudara,
radang usus, penyakit radang panggung (pelvic inflammatory disease, PID),
penyakit Hodgkin, SLE, dan infeksi bakterial. CRP juga meningkat pada kehamilan
trimester terakhir, pemakaian alat kontrasepsi intrauterus dan pengaruh obat
kontrasepsi oral.

2.2. Fungsi CRP

Fungsi dan peranan CRP di dalam tubuh (in vivo) belum diketahui
seluruhnya, banyak hal yang masih merupakan hipotesis. Meskipun CRP bukan
suatu antibodi, tetapi CRP mempunyai berbagai fungsi biologis yang menunjukkan
peranannya pada proses peradangan dan mekanisme daya tahan tubuh terhadap
infeksi.

Beberapa hal yang diketahui tentang fungsi biologis CRP ialah :

 CRP dapat mengikat C-polisakarida (CPS) dari berbagai bakteri


melalui reaksi presipitasi/aglutinasi.
 CRP dapat meningkatkan aktivitas dan motilitas sel fagosit seperti
granulosit dan monosit/makrofag.
 CRP dapat mengaktifkan komplemen baik melalui jalur klasik mulai
dengan C1q maupun jalur alternatif.
 CRP mempunyai daya ikat selektif terhadap limfosit T. Dalam hal
ini diduga CRP memegang peranan dalam pengaturan beberapa
fungsi tertentu selama proses peradangan.
 CRP mengenal residu fosforilkolin dari fosfolipid, lipoprotein
membran sel rusak, kromatin inti dan kompleks DNA-histon.
 CRP dapat mengikat dan mendetoksikasi bahan toksin endogen
yang terbentuk sebagai hasil kerusakan jaringan.

3
2.3. Pemeriksaan Kadar CRP

Pada penentuan CRP, maka CRP dianggap sebagai antigen yang akan
ditentukan dengan menggunakan suatu antibodi spesifik yang diketahui (antibodi
anti - CRP). Dengan suatu antisera yang spesifik, CRP (merupakan antigen yang
larut) dalam serum mudah dipresipitasikan. Jadi pada dasarnya, penentuan CRP
dapat dilakukan dengan cara, yaitu :

1. Tes Presipitasi : Sebagai antigen ialah CRP yang akan ditentukan,


dan sebagai antibodi adalah anti - CRP yang telah diketahui.
2. Tes Aglutinasi Latex : Antibodi disalutkan pada partikel untuk
menentukan adanya antigen di dalam serum.
3. Uji ELISA : Dipakai teknik Double Antibody Sandwich ELISA.
Antibodi pertama (antibodi pelapis) dilapiskan pada fase padat,
kemudian ditambahkan serum penderita. Selanjutnya ditambahkan
antibodi kedua (antibodi pelacak) yang berlabel enzim. Akhirnya
ditambahkan substrat, dan reagen penghenti reaksi. Hasilnya
dinyatakan secara kuantitatif.
4. Imunokromatografi : Merupakan uji Sandwich imunometrik. Pada
tes ini, antibodi monoklonal terhadap CRP diimobilisasi pada
membran selulosa nitrat di garis pengikat. Bila ditambahkan serum
yang diencerkan sampai ambang atas titer rujukannya pada bantalan
sampel maka CRP dalam sampel akan diisap oleh bantalan absorban
menuju bantalan konjugat, dan akan diikat oleh konjugat (antibodi
monoklonal) pertama, berlabel emas koloidal. Selanjutnya CRP
yang telah mengikat konjugat akan diisap oleh bantalan absorban
menuju ke garis pengikat yang mengandung antibodi monoklonal
kedua terhadap CRP (imobile) sehingga berubah warna menjadi
merah.
5. Imunoturbidimetri : Merupakan cara penentuan yang kualitatif. CRP
dalam serum akan mengikat antibodi spesifik terhadap CRP
membentuk suatu kompleks immun. Kekeruhan (turbidity) yang
terjadi sebagai akibat ikatan tersebut diukur secara fotometris.
Konsentrasi dari CRP ditentukan secara kuantitatif dengan
pengukuran turbidimetrik.

2.4. Metode Pengukuran CRP

Ada 3 jenis metode pengukuran CRP, yaitu :

 Conventional CRP. Metode pengukuran ini digunakan untuk


menganalisa adanya infeksi, kerusakan jaringan, dan gangguan-

4
gangguan akibat proses inflamasi. Metode ini dapat mengukur kadar
CRP secara tepat pada kadar 5 mg/L atau lebih. Orang yang sehat
biasanya memiliki kadar CRP di bawah 5 mg/L, sedangkan adanya
proses inflamasi ditunjukkan dengan kadar CRP sebesar 20 - 500
mg/L.
 High Sensitivity CRP (hs - CRP). Metode pengukuran ini digunakan
untuk menganalisa kondisi - kondisi yang mungkin berhubungan
dengan proses inflamasi. Metode ini bersifat lebih sensitif sehingga
dapat mengukur kadar CRP secara tepat hingga 1 mg/L.
 Cardiac CRP (c - CRP). Metode pengukuran ini digunakan untuk
menganalisis tingkat resiko penyakit jantung. Metode ini memiliki
sensitivitas yang menyerupai dengan hs – CRP.

5
BAB III

METODOLOGI

Judul : “Pemeriksaan CRP (C-Reactive Protein)”

Tujuan : Untuk mendeteksi adanya CRP

Metoda : Slide (Aglutinasi)

Prinsip : Ab (serum) + Ag (lateks yang disensitasi oleh anti – CRP) → Aglutinasi

Alat dan Bahan :

 Alat yang digunakan


- Slide hitam
- Pipet dispossible
 Bahan yang digunakan
- Serum
- Kontrol positif
- Kontrol negatif

6
- Reagen lateks anti – CRP

Cara Kerja :

 Kualitatif

Kontrol Kontrol Serum Lateks


(+) (-)
Kontrol (+) 50µL - - -
Kontrol (-) - 50µL - -

Serum - - 50µL -

Lateks 50µL 50µL 50µL 50µL

 Kuantitatif

NaCl Serum Lateks


Fisiologis
NaCl 50µL 50µL 50µL
Fisiologis

7
Serum 50µL 50µL 50µL

Lateks 50µL 50µL 50µL

Hasil Pengamatan :

Keterangan Gambar :

 Kolom 1 : Reagen positif (aglutinasi)


 Kolom 2 : Reagen negative (tidak aglutinasi)
 Kolom 3 : Serum 1 (tidak aglutinasi)
 Kolom 4 : Serum 2 (tidak aglutinasi)

Interpretasi Hasil :

 Hasil negatif : tidak terbentuk aglutinasi, kadar CRP < 6 mg/L


 Hasil positif : terbentuk aglutinasi, kadar CRP > 6 mg/L

Pembahasan :

CRP merupakan salah satu protein fase akut yang termasuk ke dalam sistem
imun non-spesifik humoral (molekul terlarut). Kadar CRP akan meningkat pada
keadaan infeksi (peradangan dan kerusakan jaringan). Peningkatan kadar CRP
sampai ratusan kali antara lain terjadi pertama karena infeksi bakteri. Selama respon
fase akut, tingkat CRP meningkat pesat dalam waktu kurang lebih 6 jam mencapai
puncaknya pada 48 jam. Kadar CRP akan meningkat sampai seratus kali lipat dari

8
keadaan normal. Kadar tertinggi tercapai setelah lebih kurang 3 hari dan setelah 2
minggu akan kembali normal. CRP disintesis dalam organ hati. Peningkatan CRP
di dalam sel parenkim hati diduga dicetuskan oleh interleukin I yang berasal dari
makrofag atau monosit yang terstimulasi. CRP akan berinteraksi dengan protein-
protein komplemen untuk melawan infeksi. Penetapan kadar CRP sangat berguna
karena dapat mengetahui perbaikan atau pengurangan keadaan peradangan atau
infeksi dengan cepat.

Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan bahwa reagen kontrol positif


yang diuji pada plate ke-1 terbentuk gumpalan-gumpalan putih (aglutinasi)
sehingga menunjukkan hasil positif dan dapat diketahui bahwa kontrol
mengandung konsentrasi CRP dalam keadaan di atas kadar normal. Plate ke-2 yang
ditetesi dengan reagen kontrol negatif menunjukkan tidak terbentuk aglutinasi.
Plate ke-3 yang ditetesi dengan sampel serum menunjukkan tidak terbentuk
gumpalan-gumpalan putih (tidak terjadi aglutinasi). Plate ke-4 yang ditetesi dengan
sampel serum juga menunjukkan tidak terbentuk gumpalan-gumpalan putih (tidak
terjadi aglutinasi). Hasil negatif diartikan bahwa di dalam plasma tidak
mengandung konsentrasi CRP yang menandakan tidak terjadinya peradangan
infeksi atau kerusakan jaringan.

Kadar CRP dalam tubuh akan meningkat seiring dengan terjadianya infeksi
dan peradangan. Proses peradangan akan mengaktifkan makrofag terutama di
dalam sinovium untuk mensintesa Interleukin-6 (IL-6). IL-6 akan merangsang sel
hati untuk mensintesa protein fase akut yaitu C-Reactive Protein (CRP), sehingga
kadar dalam darah akan meningkat sampai 10 kali lipat dari normal. Pembentukan
CRP akan meningkat dalam 4 sampai 6 jam setelah terjadi peradangan, jumlahnya
bahkan berlipat dua dalam 8 jam setelah peradangan. Konsentrasi puncak akan
tercapai dalam 36 jam sampai 50 jam setelah inflamasi. Kadar CRP akan terus
meningkat seiring dengan proses inflamasi yang akan mengakibatkan kerusakan
jaringan. Apabila terjadi penyembuhan akan terjadi penurunan kadar CRP secara
cepat karena CRP memiliki masa paruh 4 sampai 7 jam. Apabila terjadi
penyembuhan atau perbaikan pada sel-sel yang mengalami inflamasi atau
kerusakan, maka kadar CRP akan normal kembali setelah 2 minggu.

Banyak manfaat dari uji CRP untuk mengetahui berbagai macam penyakit
akibat infeksi maupun peradangan, dilihat dari peningkatan konsentrasinya. Dalam
diagnosis bakteri Pneumonia, CRP serum bermanfaat untuk membedakan kolitis
ulseratif dari penyakit Crohn dan Lupus eritematosus sistemik, sebaliknya dari
artritis rheumatoid memperlihatkan sedikit atau tidak ada respon CRP kecuali ada
penyakit infeksi berulang. Pada infark miokard suatu peningkatan tajam kadar CRP
serum biasanya sejajar dengan luasnya infark. Pada pasien luka bakar, peningkatan
CRP serum berkaitan dengan beratnya luka bakar. Penurunan kadar CRP serum
dapat menunjukkan terapi yang berhasil pada pielonefretis akut. Peningkatan
mendadak kadar CRP serum diakibatkan oleh ginjal.

9
Pemeriksaan CRP merupakan uji laboratorium yang dapat membantu untuk
menentukan derajat beratnya suatu penyakit. Pemeriksaan CRP dapat dilakukan
secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan CRP secara kualitatif yaitu
pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi keberadaan CRP dalam sampel
tanpa mengetahui besarnya kadar CRP, contoh pemeriksaan CRP secara kualitatif
yaitu metode aglutinasi atau metode lain yang lebih maju, misalnya sandwich
imunometri. Berbeda dengan pemeriksaan CRP secara kualitatif, pemeriksaan CRP
secara kuantitatif yaitu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui besarnya
kadar CRP dalam sampel, contoh pemeriksaan ini yaitu menggunakan metode
ELISA (Enzim Linked Immunosorbent Assay).

10
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

CRP Adalah suatu protein fase akut yang diproduksi oleh hati sebagai
respon adanya infeksi, inflamasi atau kerusakan jaringan. Inflamasi merupakan
proses dimana tubuh memberikan respon terhadap injury.

Jumlah CRP akan meningkat tajam beberapa saat setelah terjadinya


inflamasi dan selama proses inflamasi sistemik berlangsung. Sehingga pemeriksaan
CRP kuantitatif dapat dijadikan petanda untuk mendeteksi adanya inflamasi/infeksi
akut.

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan


bahwa :

 Hasil praktikum menunjukkan bahwa pada reagen kontrol positif


yang diuji pada plate 1 terbentuk aglutinasi, pada plate ke-2 yang
ditetesi dengan reagen kontrol negatif menunjukkan tidak terbentuk
aglutinasi, plate ke-3 yang ditetesi dengan sampel serum
menunjukkan tidak terbentuk aglutinasi dan plate ke-4 yang ditetesi
dengan sampel serum juga menunjukkan tidak terbentuk aglutinasi.
 Hasil positif pada pemeriksaan CRP secara kualitatif mendiagnosa
kadar CRP dalam sampel > 6 mg/L namun kadar CRP secara pasti
dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan CRP secara
kuantitatif.

4.2. Saran

 Pada saat pengambilan darah vena dan dimasukkan dalam wadah


perlu dijauhkan dari panas karena CRP mudah berubah akibat suhu.
 Sebaiknya sebelum dilakukan pengambilan darah, pasien harus
ditenangkan terlebih dahulu.Perlu dikenali setiap peningkatan CRP
yang berhubungan dengan proses inflamasi akut (misal sakit dan
pembengkakan sendi, panas, merah-merah dan meningkatnya suhu
tubuh).

11
DAFTAR PUSTAKA

Price, A. Sylvia, dkk. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Jakarta : EGC.

Robbins dan Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta : EGC.

https://armantonnynasution.blogspot.com/2013/01/pemeriksaan-crp-c-reaktif-
protein.html. diakses pada tanggal 4 Desember 2017.

Touogiie. 2011. Kumpulan artikel kesehatan. (online).


https://www.medicinet.com/c-reaktive-protein-test-crp/article.html. diakses pada
tanggal 4 Desember 2017.

Wikipedia. 2012. CRP (C-ReaktiveProtein). (online).


https://en.wikipedia.org/wiki/C-reaktive-protein.html. diakses pada tanggal 4
Desember 2017.

12