Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PARASITOLOGI II

“PROTOZOA USUS”

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Parasitologi II

Dosen : Yati Supriatin, S.Pd., M.Si

Disusun :

Ahmad Setiawan [1511E1018]

Alfian Fadjrin Sofwan [1511E1019]

Achmad Gilman Harish [1511E1022]

Kelompok 3

D3A-Analis Kesehatan

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH

BANDUNG
“Entamoeba histolytica”

Tanggal Praktikum : 19 Oktober 2017

Tanggal Laporan : 21 Desember 2017

I. Tujuan

Membedakan morfologi Entamoeba histolytica dan Entamoeba coli baik


tropozoit maupun bentuk kista.

II. Dasar Teori

Amoebiasis adalah suatu keadaan terdapatnya Entamoeba histolytica


dengan atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut sebagai penyakit bawaan
makanan (Food Borne Disease). Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan
Dysentery amoeba, penyebarannya kosmopolitan banyak dijumpai pada daerah
tropis dan subtropics terutama pada daerah yang sosio ekonomi lemah dan
hugiene sanitasinya jelek. Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh
Losh tahun 1875 dari tinja disentrai seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada
autopsi, Losh menemukan Entamoeba histolytica bentuk trofozoit dalam usus
besar, tetapi ia tidak mengetahui hubungan kausal antara parasit ini dengan
kelainan ulkus usus tersebut. Pada tahun 1893 Quiche dan Roos rnenemukan
Entamoeba histolytica bentuk kista, sedangkan Schaudin tahun 1903 memberi
nama spesies Entamoeba histolytica dan membedakannya dengan amoeba yang
juga hidup dalam usus besar yaitu Entamoeba coli. Sepuluh tahun kemudian
Walker dan Sellards di Filiphina membuktikan dengan eksperimen pada
sukarelawan bahwa entamoeba histolytica merupakan parasit komensal dalam

1
usus besar. Klasifikasi amoebiasis menurut WHO (1968) dibagi dalam
asimtomatik dan simptomatik, sedang yang termasuk amoebiasis simptomatik
yaitu amoebiasis intestinal yaitu dysentri, non-dysentri colitis, amoebic
appendicitas ke orang lain oleh pengandung kista entamoeba hitolytica yang
mempunyai gejala klinik (simptomatik) maupun yang tidak (asimptomatik).

III. Klasifikasi

Kingdom : Protista
Filum : Sarcomastigophora
Kelas : Rhizopoda
Ordo : Amoebida
Genus : Entamoeba
Spesies : Entamoeba histolytica

IV. Distribusi Grafik


Amebiasis terdapat di seluruh dunia (kosmopolit) terutama di daerah
tropic dan di daerah beriklim sedang.

V. Epidemiolgi

Amooebasis tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada berbagai


survei menunjukkan frekwensi diantara 0,2 -50 % dan berhubungan langsung
dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada
daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek, dan banyak dijumpai juga
dirumahrumah sosial, penjara, rumah sakit jiwa dan lain-lain. Sumber infeksi
terutama "carrier" yakni penderita amoebiasis tanpa gejala.

Klinis yang dapat bertahan lama megeluarkan kista yang jumlahnya ratusan
ribu perhari. Bentuk kista tersebut dapat bertahan diluar tubuh dalam waktu yang
lama. Kista dapat menginfeksi manusia melalui makanan atau sayuran dan air
yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung kista.

Infeksi dapat juga terjadi dengan atau melalui vektor serangga seperti lalat dan
kecoak (lipas) atau tangan orang yang menyajikan makanan (food handler) yang
menderita sebagai "carrier", sayur-sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia

2
dan selada buah yang ditata atau disusun dengan tangan manusia. Bukti-bukti
tidak langsung tetapi jelas menunjukkan bahwa air merupakan perantara
penularan. Sumber air minum yang terkontaminasi pada tinja yang berisi kista
atau secara tidak sengaja terjadi kebocoran pipa air minum yang berhubungan
dengan tangki kotoran atau parit. Penularan diantara keluarga sering juga terjadi
terutama pada ibu atau pembantu rumah tangga yang merupakan "carrier", dapat
mengkontaminasi makanan sewaktu menyediakan atau menyajikan makanan
tersebut.

Pada tingkat keadaan sosio ekonomi yang rendah sering terjadi infeksi yang
disebabkan berbagai masalah, antara lain:

1. Penyediaan air bersih, sumber air sering tercemar.

2. Tidak adanya jamban, defikasi disembarang tempat, memungkinkan


amoeba dapat dibawa oleh lalat atau kecoa.

3. Pembuangan sampah yang jelek merupakan tempat pembiakan lalat


atau lipas yang berperan sebagai vektor mekanik.

Pengandung kista yang jumlahnya besar dan penderita dalam keadaan


konvalesensi merupakan bahaya potensial yang merupakan sumber infeksi dan
harus diobati dengan sempurna karena keduanya merupakan masalah kesehatan
yang besar. Kista dapat hidup lama dalam air (10 -14 hari). Dalam lingkungan
yang dingin dan lembab kista dapat hidup selama kurang lebih 12 hari, kista juga
tahan terhadap Clor ( Cl ) yang terdapat dalam air leding dan kista akan mati pada
suhu 50° C atau dalam keadaan kering. Entamoeba histolytica ini juga
menyebabkan Dysenteriae amoeba, abses hati dan Giardia lamblia yang banyak
ditemukan pada anak-anak. Infeksi juga ditularkan dalam bentuk kista, sehingga
pengandung kista adalah penting dalam penyebaran penyakit ini.

Di Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi.


Prevalensi Entamoeba histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara
10 –18 %. Amoebiasis juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada
berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 -50 % dan berhubungan

3
dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada
daerah tropic dan subtropik yang sanitasinya jelek. Di Cina, Mesir, India dan
negeri Belanda berkisar antara 10,1 –11,5%, di Eropa utara 5 -20%, di Eropa
Selatan 20 -51 % dan di Amerika Serikat 20%. Frekuensi infeksi Entamoeba
histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista. Perbandingan berbagai
macam amoebiasis di Indonesia adalah sebagai berikut, amoebiasis kolon banyak
ditemukan, amoebiasis hati hanya kadang-kadang amoebiasis otak lebih jarang
lagi dijumpai.

VI. Morfologi
Amoeba ini memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoitnya memiliki
ciri-ciri morfologi :
 Ukuran 10-60 mikron.
 Sitoplasma bergranuar dan mengandung eritrosit, yang merupkan
penanda penting untuk diagnosisnya.
 Terdapat satu buah inti entamoeba, ditandai dengan karyosom
padat yang terletak di tengah inti, serta kromatin yang tersebar di
pinggiran inti.
 Bergerak progesif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar disebut
pseudopodia.

Kista E. histolytica memiliki cirri-ciri morfologi sebagai berikut :

 Bentuk memadat mendekati bulat, ukuran 10-20 mikron.

 Kista matang memiliki 4 buah entamoeba.

 Tidak dijumpai lagi eritrosit dalam sitoplasma.

 Kista yang belum matang memiliki glikogen berbentuk seperti


cerutu, namun biasanya menghilang setelah terbentuk kista
matang.

Dalam peralihan bentuk trofozoit menjadi kista, ektoplasma dan di dalam


sitoplasma tidak dijumpai lagi eritrosit. Bentuk ini dikenal dengan istilah minuta.

4
Bentuk minuta dari E. histolytica sangat mirip dengan bentuk trofozoit dari E.
coli.

VII. Siklus Hidup

Daur hidup E. histolytica sangat sederhana, dimana parasit ini didalam


usus besar akan memperbanyak diri. Dari sebuah kista akan terbentuk 8 tropozoit
yang apabila tinja dalam usus besar konsistensinya padat maka, tropozoit
langsung akan terbentuk menjadi kista dan dikeluarkan bersama tinja, sementara
apabila konsistensinya cair maka, pembentukan kista terjadi diluar tubuh.

5
E. histolytica terdapat diseluruh dunia (kosmopolit) terutama didaerah
tropic dan daerah beriklim sedang. Dalam daur hidupya Entamoeba histolytica
memiliki 3 stadium yaitu :

1. Bentuk histolitika.

2. Bentuk minuta.

3. bentuk kista.

Bentuk histolitika dan bentuk minuta adalah bentuk trofozoit. Perbedaan


antara kedua bentuk tropozoit tersebut adalah bahwa bentuk histolytika bersifat
fatogen dan mempunyai ukuran yang lebih besar dari bentuk minuta. Bentuk
histolitika berukuran 20 – 40 mikron, mempunyai inti entamoeba yang terdapat di
endoplasma. Ektoplasma bening homogen terdapat di bagian tepi sel, dapat dilihat
dengan nyata. Pseudopodium yang dibentuk dari ektoplasma, besar dan lebih
seperti daun, di biasanya tidak mengandung bakteri atau sisa makanan, tetapi
mengandung sel darah merah. Bentuk histolytica ini patogen dan dapat hidup
dijaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit dan vagina. Bentuk ini berkembang
biak secara belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan tersebut sesuai
dengan nama spesiesnya Entomoeba histolitica (histo = jaringan, lysis = hancur).

Bentuk minuta adalah bentuk pokok esensial, tanpa bentuk minuta daur
hidup tidak dapat berlangsung, besamya 10-20 mikron. Inti entamoeba terdapat di
endoplasma yang berbutir-butir. Endoplasma tidak mengandung sel darah merah
tetapi mengandung bakteri dan sisa makanan. Ektoplasma tidak nyata, hanya
tampak bila membentuk pseudopodium. Pseudopodium dibentuk perlahan-lahan
sehingga pergerakannya lambat. Bentuk minuta berkembang biak secara belah
pasang dan hidup sebagai komensal di rongga usus besar, tetapi dapat berubah
menjadi bentuk histolitika yang patogen.

Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar, besamya 10 -20 mikron,


berbentuk bulat lonjong, mempunyai dinding kista dan ada inti entamoeba. Dalam
tinja bentuk ini biasanya berinti 1 atau 2, kadang-kadang terdapat yang berinti 2.
Di endoplasma terdapat benda kromatoid yang besar, menyerupai lisong dan

6
terdapat juga vakuol glikogen. Benda kromatoid dan vakuol glikogen dianggap
sebagai makanan cadangan, karena itu terdapat pada kista muda. Pada kista
matang, benda kromatoid dan vakuol glikogen biasanya tidak ada lagi. Bentuk
kista ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif. Entamoeba
histolytica biasanya hidup sebagai bentuk minuta di rongga usus besar manusia,
berkembang biak secara belah pasang, kemudian dapat membentuk dinding dan
berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama tinja. Dengan adanya
dinding kista, bentuk kista dapat bertahan terhadap pengaruh buruk di luar tubuh
manusia. Bentuk dengan mendadak, pergerakannya cepat. Endoplasma berbutir
halus.

Bentuk yang infektif adalah kista. Setelah tertelan, kista akan mengalami
ekstitasi di ileum bagian bawah trofozoit kembali. Trofozoit kemudian
memperbanyak diri dengan cara belah pasang. Trofozoit kerap mengalami
enkistasi (merubah diri menjadi bentuk kista). Kista akan dikeluarkan bersama
tinja. Bentuk trofozoit dan kista dapat dijumpai di dalam tinja. Namun trofozoit
biasanya dijumpai pada tinja cair.b E. histolytica bersifat invasif, sehingga
trofozoit dapat menembus dinding usus dan kemudian beredar di dalam sirkulasi
darah (hematogen).

VIII. Patologi dan Gejala Klinik

Gejala-gejala klinik dari amoebiasis tergantung daripada lokalisasi dan


beratnya infeksi. Penyakit disentri yang ditimbulkannya hanya dijumpai pada
sebagian kecil penderita tanpa gejala dan tanpa disadari merupakan sumber
infeksi yang penting yang kita kenal sebagai "carrier", terutama didaerah dingin,
yang dapat mengeluarkan berjuta-juta kista sehari. Penderita amoebiasis
intestinalis sering dijumpai tanpa gejala atau adanya perasaan tidak enak diperut
yang samar-samar, dengan adanya konstipasi, lemah dan neurastenia.

Infeksi menahun dengan gejala subklinis dan terkadang dengan


eksaserbasi kadang-kadang menimbulkan terjadinya kolon yang "irritable" sakit
perut berupa kolik yang tidak teratur. Amoebiasis yang akut mempunyai masa

7
tunas 1-14 minggu. Dengan adanya sindrom disentri berupa diare yang berdarah
dengan mukus atau lendir yang disertai dengan perasaan sakit perut dan
tenesmusani yang juga sering disertai dengan adanya demam.

Amoebiasis yang menahun dengan serangan disentri berulang terdapat


nyeri tekan setempat pada abdomen dan terkadang disertai pembesaran hati.
Penyakit menahun yang melemahkan ini mengakibatkan menurunnya berat badan.
Amoebiasis ekstra intestinalis memberikan gejala sangat tergantung kepada lokasi
absesnya. Yang paling sering dijumpai adalah amoebiasis hati disebabkan
metastasis dari mukosa usus melalui aliran sistem portal. Sering dijumpai pada
orang-orang dewasa muda dan lebih sering pada pria daripada wanita dengan
gejala berupa demam berulang, kadang-kadang disertai menggigil, icterus ringan,
bagian kanan diafragma sedikit meninggi, sering ada rasa sakit sekali pada bahu
kanan dan hepatomegali. Abses ini dapat meluas ke paru-paru disertai batuk dan
nyeri tekan intercostal, pleural effusion dengan demam disertai dengan menggigil.

Pada pemeriksaan darah dijumpai lekositosis kadang-kadang amoebiasis


hati sudah lama diderita tanpa tanda-tanda dan gejalanya khas yang sukar
didiagnosa. Infeksi amoeba di otak menunjukkan berbagai tanda dan gejala seperti
abses atau tumor otak. Sayang sekali infeksi seperti ini baru didiagnosa pada
autopsi otak. Amoebiasis ekstra intestinalis ini dapat juga dijumpai di penis,
vulva, perineum, kulit setentang hati atau kulit setentang colon atau di tempat lain
dengan tanda-tanda suatu ulkus dengan pinggirnya yang tegas, sangat sakit dan
mudah berdarah.

IX. Diagnosis
Diagnosis pasti penderita amoebiasis adalah menemukan parasit didalam
tinja atau jaringan. Diagnosis laboratorium dapat dibuat dengan pemeriksaan
mikroskopis atau menemukan parasit dalam biakan tinja sering dijumpai
Entamoeba histolytica bersama-sama dengan kristal Charcot-Leyden. Diagnosis
tidak selalu mudah, maka perlu dilakukan pemeriksaan berulang teristimewa pada

8
kasus menahun. Kegagalan dapat terjadi dengan teknik yang salah, mencari
parasit tidak cukup teliti atau sering dikacaukan dengan protozoa lain dan sel-sel
artefak. Pemeriksaan tinja dengan sediaan langsung dengan memakai air garam
faal, atau lugol, dengan pengecatan trichrom, hematoksilin (sediaan permanen)
atau dengan metode konsentrasi. Pada umumnya pada tinja encer akan di jumpai
bentuk tropozoit disertai gejala klinik nyata, sedangkan pada tinja padat pada
penderita tanpa gejala terutama pada penderita menahun "carrier" akan dijumpai
terutama bentuk kista.
Bentuk trophozoit dapat dikenal karena gerakannya aktif, ektoplasma yang
berbatas jelas, nukleus dan adanya sel darah merah, cristal Charcot–Letden, yang
dicernakan dan kista-kista dapat dikenali dari bentuknya yang bulat dimana
jumlah inti 1 - 4 dan benda chromatoidnya. Pemeriksaan serologis, test
haemaglutinasi, test presipitin, pemeriksaan radiologis atau scalhing berperan
pada penderita ekstra intestinal amoebiasis. Aspirasi abses dapat dilakukan dengan
menemukan cairan warna coklat dan pada akhir aspirasi akan ditemukan bentuk
tropozoit. Pada amoebiasis kolon akut biasanya diagnosis klinis ditetapkan bila
terdapat sindrom disentri disertai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare
berlangsung tidak lebih dari 10 kali sehari. Gejala tersebut dapat dibedakan dari
gejala penyakit disentri basilaris. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri
dengan diare yang lebih sering, kadangkadang sampai lebih dari 10 kali sehari,
terdapat juga demam dan lekositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan
menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam tinja.
Amoebiasis kolon menahun biasanya terdapat gejala diare yang ringan
diselingi dengan obstipasi. Dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan
sindrom disentri. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan
Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam tinja. Bila amoeba tidak
ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3 hari berturut-turut. Reaksi serologi
perlu dilakukan untuk menunjang disgnosis. Proktoskop dapat digunakan untuk
melihat luka yang terdapat di rektum dan untuk melihat kelainan di sigmoid
digunakan sigmoidoskop. Sedangkan pada amoebiasis hati secara klinis dapat
dibuat diagnosis bila terdapat gejala berat badan menurun, badan terasa lemah,
demam, tidak nafsu makan disertai pembesaran hati yang nyeri tekan. Pada

9
pemeriksaan radiologi biasanya didapatkan peninggian diafragma. Pemeriksaan
darah menunjukkan adanya kista dan trofozoit.

X. Pengobatan

Beberapa obat amoebiasis yang penting adalah :

 Emetin Hidroklorida.

Obat ini berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Pemberian emetin


ini hanya efektif bila diberikan secara parenteral karena pada pemberian
secara oral absorpsinya tidak sempurna. Toksisitasnya relatif tinggi,
terutama terhadap otot jantung. Dosis maksimum untuk orang dewasa
adalah 65 mg sehari. Lama pengobatan 4 sampai 6 hari. Pada orang tua
dan orang yang sakit berat, dosis harus dikurangi. Pemberian emetin tidak
dianjurkan pada wanita hamil, pada penderita dengan gangguan jantung
dan ginjal. Dehidroemetin relatif kurang toksik dibandingkan dengan
emetin dan dapat diberikan secara oral. Dosis maksimum adalah 0,1 gram
sehari, diberikan selama 4–6 hari. Emetin dan dehidroemetin efektif untuk
pengobatan abses hati (amoebiasis hati).

 Klorokuin.

Obat ini merupakan amoebisid jaringan, berkhasiat terhadap


bentuk histolytica. Efek samping dan efek toksiknya bersifat ringan antara
lain, mual, muntah, diare, sakit kepala. Dosis untuk orang dewasa adalah 1
gram sehari selama 2 hari, kemudian 500 mg sehari selama 2 sampai 3
minggu.

 Anti Biotik.

Tetrasiklin dan eritomisin bekerja secara tidak langsung sebagai


amebiasid dengan mempengaruhi flora usus. Peromomisin bekerja
langsung pada amoeba. Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg bb/hari
selama 5 hari, diberikan secara terbagi.

 Metronidazol (Nitraomidazol).

10
Metronidazol merupakan obat pilihan, karena efektif terhadap
bentuk histolytica dan bentuk kista. Efek samping ringan, antara lain,
mual, muntah dan pusing. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 gram sehari
selama 3 hari berturut-turut dan diberikan secara terbagi.

XI. Pencegahan

Pencegahan penyakit amoebiasis terutama ditujukan kepada kebersihan


perorangan (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan (environmental
hygiene). Kebersihan perorangan antara lain adalah mencuci tangan dengan bersih
sesudah mencuci anus dan sebelum makan. Kebersihan lingkungan meliputi:
memasak air minum, mencuci sayuran sampai bersih atau memasaknya sebelum
dimakan, buang air besar dijamban, tidak menggunakan tinja manusia untuk
pupuk, menutup dengan baik makanan yang dihidangkan untuk menghindari
kontaminasi oleh lalat dan lipas, membuang sampah ditempat sampah yang
ditutup untuk menghindari lalat.

Untuk menurunkan angka sakit, maka perlu diadakan usaha jangka


panjang berupa pendidikan kesehatan dan perbaikan sanitasi lingkungan dan
usaha jangka pendek berupa penyuluhan kesehatan dan pembersihan kampung
halaman secar serentak (gotong royong) dan juga dengan pengobatan massal
ataupun individual.

“Entamoeba coli”

I. Klasifikasi

Kindom : Protista
Filum : Sarcomastigophora
Kelas : Rhizopoda
Ordo : Amoebida
Genus : Entamoeba
Spesies : Entamoeba coli

11
II. Distribusi Geografik
Amoeba ini ditemukan kosmopolit. Di Indonesia frekuensinya antara 8-
18%.

III. Morfologi
Bergerak dan menangkap mangsa dengan menggunakan kaki semu (ada
dua macam yaitu lobodia dan filopodia). Hidup bebas di dalam air laut dan tawar.
Berkembangbiak dengan cara membelah biner. Bentuk selalu berubah-ubah,
Habitat di air tawar, inti sel berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan yang
berlangsung dalam sel, Mempunyai vakuola makanan dan vakuola kontraktil
Reproduksi dengan pembelahan biner.
E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-
ciri morfologi berikut :
 Bentuk ameboid, ukuran 15-50 mikron.
 Sitoplasma mengandung banyak vakuola yang berisi bakteri, jamur
dan debris (tanpa eritrosit).
 Nukleus dengan karyosom sentral dan kromatin mengelilingi
pinggirannya.
 Pseudopodia kurang lebar, sehingga tidak progresif dalam bergerak

Dengan morfologi demikian, maka trofozoit E. coli sangat mirip dengan


prekista dari E.histolytica. Kista E. coli memiliki ciri-ciri berikut:
 Bentuk membulat dengan ukuran 10-35 mikron.
 Kista batang berisi 8-16 inti.
 Cromatoidal bodies berupa batang-batang langsing yang
menyerupai jarum.

Bentuk kista E. coli

12
Bentuk trofozoit Entamaoeba coli

IV. Daur Hidup

E.coli

E. coli hidup sebagai komensial di rongga usus besar. Dalam daur


hidupnya terdapat bentuk trofozoit dan bentuk kista. Di endoplasma terdapat
benda kromatid yang besar, menyerupai lisong dan terdapat juga vakuola
glikogen. Benda kromatid dan vakuola glikogen di anggap sebagai makanan

13
cadangan, karena itu terdapat pada kista muda. Pada kista matang, benda kromatid
dan vakuola glikogen biasanya tidak ada lagi. Bemtuk kista ini tidak pathogen,
tetapi dapat merupakan bentuk infektif. Kista memiliki dinding yang mampu
melindungi atau dapat bertahan terhadap pengaruh buruk di luar badan manusia.
Bila Kista matang tertelan, kista tersebut sampai di lambung masih dalam keadaan
utuh karena dinding kista tahan terhadap asam lambung. Di rongga usus halus
dinding kista dicernakan, terjadi eksitasi dan keluarlah bentuk-bentuk trofozoit
yang masuk ke rongga usus besar.
Bentuk trofozoit berukuran 15-30 mikron, berbentuk lonjong atau bulat.
Bentuk ini mempunyai sebuah inti entamoeba, dengan kariosom kasar dan
biasanya letaknya eksentrik. Butir-butir kromatin perifer juga kasar dan letaknya
tidak merata. Ektoplasma tidak nyata, hanya tampak bilapseudopodium dibentuk.
Psedopodium lebar, dibentuk perlahan-lahan sehingga pergerakannya lambat.
Endoplasma bervakuola, mengandung bakteri dan sisi makanan, tidak
mengandung sel darah merah. Bentuk ini tidak dapat dibedakan dari bentuk
minuta E.histolytica. Cara berkembangbiaknya dengan belah pasang. Bentuk
trofozoit biasanyaditemukan dalam tinja lembek atau cair. Bentuk kista bulat atau
lonjong berukuran 15-22 mikron. Dinding kista tebal, berwarna hitam. Dalam
tinja biasanya kista berinti 2 atau 8. Kista yang berinti 2 mempunyai vakuola
glikogen yang besar dan benda kromatid yang halus dengan ujung runcing seperti
jarum. Kista matang yang berinti 8 biasanya tidak lagi mengandung vakuola
glikogen dan benda kromatid. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang.

V. Patologi dan Gejala Klinis


Infeksi E.coli bersifat asimtomatis dan non pathogen. Namun Parasit E.
coli sering dijumpai bersamaan dengan infeksi E. hystolytica pada penderita
amobiasis.

VI. Diagnosis
Dilakukan dengan pemerikasaan tinja. Bentuk trofozoit E.coli agak sukar
dibedakan dengan bentuk prekista E. histolytica. Kista mudah dibedakan bila telah
memiliki lebih dari 4 inti. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan bentuk
trofozoit atau bentuk kista dalam tinja.

VII. Pengobatan

14
Pengobatan tidak diperlukan karena protozoa ini non pathogen. Namun
dalam beberapa kasus diare yang disebabkan konsentrasi E.coli yg berlebih di
dalam tubuh manusia, dapat diberikan pengobatan berupa oralit untuk menjaga
elektrolit tubuh pasien.

VIII. Epidemiologi

Parasit E. coli tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada


berbagai survei menunjukkan frekwensi diantara 0,2 -50 % dan berhubungan
langsung dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai
pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek, dan banyak dijumpai
juga dirumahrumahsosial, penjara, rumah sakit jiwa dan lain-lain.

IX. Pencegahan

Pencegahan terutama ditujukan kepada kebersihan perorangan (personal


hygiene) dan kebersihan lingkungan (environmental hygiene). Kebersihan
perorangan antara lain adalah mencuci tangan dengan bersih sesudah mencuci
anus dan sebelum makan. Kebersihan lingkungan meliputi: memasak air minum,
mencuci sayuran sampai bersih atau memasaknya sebelum dimakan, buang air
besar dijamban, tidak menggunakan tinja manusia untuk pupuk, menutup dengan
baik makanan yang dihidangkan untuk menghindari kontaminasi oleh lalat dan
lipas, membuang sampah ditempat sampah yang ditutup untuk menghindari lalat.
Untuk menurunkan angka sakit, maka perlu diadakan usaha jangka panjang
berupa pendidikan kesehatan dan perbaikan sanitasi lingkungan dan usaha jangka
pendek berupa penyuluhan kesehatan dan pembersihan kampung halaman secara
serentak (gotong royong) dan juga dengan pengobatan massal ataupun individual.

15
Hasil Pengamatan

E.coli tropozoit E.histolytica tropozoit

Keterangan gambar: Keterangan gambar:

Ciri khas: Ciri khas:


 Ukuran 15-30 µm  Ukuran 20-40
 Berbentuk lonjong/bulat  Eritrosit 7 µm
 Berkembang biak dengan belah  Berkembang biak dengan belah
pasang pasamg

E.histolytica kista muda

Keterangan gambar:

Ciri khas:
 Memiliki sitoplasma yang mengandung vakuola glikogen
 Memiliki benda kromatid berbentuk lisong dengan kedua ujung yang
tumpul

E.coli kista matang E.histolytica kista matang

Keterangan gambar: Keterangan gambar:

Ciri khas: Ciri khas:


 Terdapat 8 inti  Kista matang memiliki 4 inti
 Kariosom eksentrik  Bentuk infektif
 Bentuk bulat
 Ukuran 15 – 22 µm
 Dinding kista tebal dan hitam

16
Bahan Diskusi

1. Mengapa E.coli ikut dipelajari padahal bersifat apatogen ?


Penyelesaian
Karena sifatnya hampir sama demgam E.histolytica tetepi lebih berbahaya
dari E.histolytica.
2. Jelaskan ciri-ciri feses/tinja penderita amoebiasis ?
Penyelesaian
 Feses berdarah
 Feses berlendir
 Feses berbau amis
3. Apa yang dimaksud dengan infektif? Sebutkan bentuk infektif dari
E.histolytica dan E.coli !
Penyelesaian
Bentuk infektif yaitu tahapan yang dapat menyebabkan infeksis jika
masuk kedalam hospes
Bentuk ingekif E.coli yaitu kista matang (4 inti)
Bentuk infektif E.histolytica yaitu kista matang (8 inti)
4. Jelaskan esensial kista matang E.histolytica dan E.coli?
Penyelesaian
 E.histolytica letak kariosomnya eksentrik memiliki 4 inti.
 E.coli letak kariosomnya kossentrik memiliki 8 inti.
5. Dimanakah habitat E.coli dan E.histolytica dalam tubuh hospes !
Penyelesaian
Didalam usus

Kesimpulan
Ada 2 fase protozoa yaitu fase tropozoit dan fase kista. Bentuk infektif
dari E.histolytica yaitu kista yang letak kariosomnya kosentrik memiliki 4 inti,
sedangkan E.coli yaitu kista yang letak kariosomnya eksentrik memiliki 8 inti.
Tropozoit pada E.histolytica mempunyai eritrosit sedangkan tropozoit pada
E.coli tidak mempunyai eritrosit.
DAFTAR PUSTAKA

Samik Wahab, Prof.dr. 1993., Imunologi III. Fakultas Kedokteran UGM,


Yogyakarta.

Anonim. 2008. Siklus hidup protozoa http://parasitfkundip.wordpress.com/

17
Gandahusada, Sriasi. Herry, D Ilahude dan Wita, P.1997. Parasitologi Kedokteran.
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah mada. Yogyakarta.

Garcia, Lynne S.1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Rasmaliah, amoebiasis http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm.rasmaliah.pdf


Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakata USU. Medan.

Sri Oemijati, Prof.dr.dkk, 1988. Parasitologi Kedokteran. Bina Cipta Bandung.

18