Anda di halaman 1dari 17

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

A. IDENTITAS
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas : XII IPA 1
Semester :I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
B. STANDAR KOMPETENSI
3. Menggunakan konsep matriks, vektor, dan transformasi dalam pemecahan masalah.
C. KOMPETENSI DASAR
3.1 Menggunakan sifat-sifat dan operasi matriks untuk menunjukkan bahwa suatu
matriks persegi merupakan invers dari matriks persegi lain
D. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI (IPK)
1. Perkalian dua matriks
2. Perpangkatan dalam matriks persegi
E. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Perkalian dua matriks
2. Perpangkatan dalam matriks persegi
F. MATERI AJAR
Perkalian Dua Matriks
1. Perkalian matriks berordo 𝒎 × 𝒏 terhadap matriks berordo 𝒏 × 𝟏
a. Perkalian matriks berordo 𝟏 × 𝒏 terhadap matriks berordo 𝒏 × 𝟏
Misalkan 𝐴 adalah matriks baris berordo 1 × 𝑛
𝐴 = 𝑎11 , 𝑎12 , 𝑎13 , … , 𝑎1𝑛
Dan 𝐵 adalah matriks kolom berordo 𝑛 × 1
𝑏11
𝑏21
𝐵 = 𝑏31

𝑏
( 𝑛1 )
Jika 𝐶 adalah matriks hasil perkalian matriks 𝐴 terhadap matriks 𝐵 atau 𝐶 =
𝐴𝐵 maka
 Matriks 𝐶 berordo 1 × 1, dalam hal ini 𝐶 adalah sebuah skalar
 Matriks C ditentukan oleh:
𝐶 = [𝑎11 𝑏11 + 𝑎12 𝑏21 + 𝑎13 𝑏31 + ⋯ + 𝑎1𝑛 𝑏𝑛1 ]

Perkalian matriks baris berordo 1 × 𝑛 terhadap matriks kolom berordo 𝑛 × 1


mengasilkan suatu matriks yang berordo 1 × 1. Ordo 1 × 1 ini diperoleh
dengan merangkaikan 1 × 𝑛 dengan 𝑛 × 1 dalam bentuk 1 ×𝑛 ↔ 𝑛 ×1,
kemudian 𝑛 ↔ 𝑛 × dihilangkan sehingga bentuknya menjadi 1 × 1. Selain itu,
banyak kolom dari matriks 𝐴 adalah 𝑛 dan banyak baris dari matriks 𝐵 juga 𝑛.
Ini berarti banyak kolom matriks 𝐴 sama dengan banyak baris matriks 𝐵.
Matriks 𝐴 dan matriks 𝐵 yang berciri demikian dikatakan dua matriks yang
sepadan untuk dikalikan. Sebaliknya, jika banyak kolom matriks 𝐴 tidak
sama dengan banyak bariks matriks 𝐵 maka dua matriks itu tidak sepadan
untuk dikalikan, sehingga perkalian matriks 𝐴 terhadap matriks 𝐴 terhadap
matriks 𝐵 atau 𝐴𝐵 tidak ada atau tidak didefinisikan.

Contoh:
𝑐
1. Jika 𝐴 = (𝑎 𝑏) dan 𝐵 = (𝑑 ), maka
𝑐
𝐴𝐵 = (𝑎 𝑏) ( ) = (𝑎𝑐 + 𝑏𝑑)
𝑑
4
2. Jika 𝐴 = (3 4 −2) dan 𝐵 = ( 5 ), maka
−6
4
𝐴𝐵 = (3 4 −2) ( 5 ) = (3 × 4 + 4 × 5 + (−2) × (−6)) = (44)
−6
b. Perkalian matriks berordo 𝐦 × 𝐧 terhadap matriks 𝐧 × 𝟏
Misalkan 𝐴 adalah matriks berordo 𝑚 × 𝑛 dan 𝐵 adalah matriks kolom
berordo 𝑛 × 1
𝑎11 𝑎12 𝑎13 ⋯ 𝑎1𝑛 𝑏11
𝑎21 𝑎22 𝑎23 ⋯ 𝑎2𝑛 𝑏21
𝐴 = 𝑎31 𝑎32 𝑎33 ⋯ 𝑎3𝑛 𝐵 = 𝑏31
… … … ⋯ … …
𝑎𝑚1 𝑎𝑚2 𝑎𝑚3 ⋯𝑎𝑚𝑛 𝑏
( ) ( 𝑛1 )
Jika 𝐶 adalah matriks hasil perkalian matriks 𝐴 terhadap matriks 𝐵 atau 𝐶 =
𝐴𝐵
 Matriks 𝐶 berordo 𝑚 × 𝑛 ↔ 𝑛 × 1 atau 𝑚 × 1, dalam ini 𝐶 adalah
matriks kolom
 Matriks 𝐶 ditentukan oleh:
𝑎11 𝑏11 + 𝑎12 𝑏21 + 𝑎13 𝑏31 + ⋯ +𝑎1𝑛 𝑏𝑛1
𝑎21 𝑏11 + 𝑎22 𝑏21 + 𝑎23 𝑏31 + ⋯ +𝑎2𝑛 𝑏𝑛1
𝐶 = 𝑎31 𝑏11 + 𝑎32 𝑏21 + 𝑎33 𝑏31 + ⋯ +𝑎3𝑛 𝑏𝑛1
… … … ⋯ …
𝑎 𝑏
( 𝑚1 11 +𝑎 𝑏
𝑚2 21 +𝑎 𝑏
𝑚3 31 ⋯+ +𝑎 𝑚𝑛 𝑏𝑛1 )

Beberapa hal yang perlu dijelaskan dalam definisi perkalian matriks di atas.

 Perkalian matriks berordo 𝑚 × 𝑛 terhadap matriks berordo 𝑛 × 1


menghasilkan matriks yang berordo 𝑚 ×𝑛 ↔ 𝑛 ×1 atau 𝑚 × 1, yaitu
sebuah matriks yang berordo 𝑚 × 1.
 Matriks 𝐴 berordo 𝑚 × 𝑛 dan matriks 𝐵 berordo 𝑛 × 1. Ini berarti
banyak matriks 𝐴 sama dengan banyak baris matriks 𝐵 atau matriks 𝐴
sepadan matriks 𝐵, sehingga perkalian matriks 𝐴𝐵 ada hasilnya atau
terdefinisi.
 Hasil perkalian matriks 𝐴 berordo 𝑚 × 𝑛 terhadap matriks 𝐵 berordo
𝑛 × 1 sepadan diperoleh dengan cara menghalihkan masing-masing
baris dari matriks 𝐴 terhadap kolom dari matriks 𝐵. Proses pengerjaan
perkalian matriks se mini dikenal sebagai proses pengerjaan baris
pada kolom.

Contoh:

𝑎 𝑏 𝑥
a) Jika 𝐴 = ( ) dan 𝐵 = (𝑦), maka
𝑐 𝑑
𝑎 𝑏 𝑥 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
𝐴𝐵 = ( )( ) = ( )
𝑐 𝑑 𝑦 𝑐𝑥 + 𝑑𝑦
2
1 2 −3
b) Jika 𝐴 = ( ) dan 𝐵 = (−1), maka
6 −5 4
5
2
1 2 −3 1 × 2 + 2 × (−1) + (−3) × 5
𝐴𝐵 = ( ) (−1) = ( )
6 −5 4 6 × 2 + (−5) × (−1) + 4 × 5
5
−15
=( )
37
2. Perkalian matriks berordo 𝒎 × 𝒏 terhadap matriks berordo 𝒏 × 𝒑
Hasil perkalian matriks 𝐴 berordo 𝑚 × 𝑛 terhadap matriks 𝐵 berordo 𝑛 × 𝑝 adalah
matriks baru yang berordo 𝑚 × 𝑛 ↔ 𝑛 × 𝑝 atau 𝑚 × 𝑝.
Contoh:
Diketahui matriks:
1 −3 2 6
𝐴=( ) dan 𝐵 = ( )
2 5 4 −1
a) Tentukan 𝐴𝐵 dan 𝐵𝐴.
b) Apakah 𝐴𝐵 = 𝐵𝐴.

Jawab:

a) Matriks 𝐴 beroordo 2 × 2 dan matriks 𝐵 berordo 2 × 2 atau matriks 𝐴


sepadan untuk dikalikan terhadap matriks 𝐵. Hasil perkalian matriks 𝐴𝐵
ditentukan oleh:
1 −3 2 6 2 − 12 6+3 −10 9
𝐴𝐵 = ( )( )=( )=( )
2 5 4 −1 4 + 20 12 − 5 24 7
Matriks 𝐵 beroordo 2 × 2 dan matriks 𝐴 berordo 2 × 2 atau matriks 𝐵
sepadan untuk dikalikan terhadap matriks 𝐴. Hasil perkalian matriks 𝐵𝐴
ditentukan oleh:
2 6 1 −3 2 + 12 −6 + 3 14 24
𝐵𝐴 = ( )( )=( )=( )
4 −1 2 5 4 − 20 −12 − 5 2 −17
b) Dari hasil perhitungan di atas tampak bahwa
−10 9 14 24
𝐴𝐵 = ( ) dan 𝐵𝐴 = ( )
24 7 2 −17
Hubungan 𝐴𝐵 ≠ 𝐵𝐴 menunjukkan bahwa perkalian matriks pada umumnya
tidak komutatif.
Sifat-sifat: perkalian dua matriks atau lebih yang sepadan
1) Perkalian matriks pada umumnya tidak komutatif.
𝐴𝐵 ≠ 𝐵𝐴 (kecuali untuk matriks-matriks khusus)
2) Perkalian matriks bersifat asosiatif.
(𝐴𝐵)𝐶 = 𝐴(𝐵𝐶)
3) Perkalian matrisk bersifat distributif.
𝐴(𝐵 + 𝐶) = 𝐴𝐵 + 𝐴𝐶, (sifat distributif kiri)
(𝐵 + 𝐶)𝐴 = 𝐵𝐴 + 𝐶𝐴, (sifat distributif kanan)
4) Dalam perkalian matriks yang hanya matriks-matriks persegi dan ordo yang sama,
terdapat sebuah matriks satuan, 𝐼, yang bersifat
𝐼𝐴 = 𝐴𝐼 = 𝐴
5) (a) jika 𝐴𝐵 = 0, belum tentu 𝐴 = 0 atau 𝐵 = 0.
(b) jika 𝐴𝐵 = 𝐴𝐶, belum tentu 𝐵 = 𝐶.
6) Jika 𝑝 dan 𝑞 adalah bilangan-bilangan real serta 𝐴 dan 𝐵 adalah matriks-matriks
maka berlaku hubungan
(𝑝𝐴)(𝑞𝐵) = (𝑝𝑞)(𝐴𝐵)
7) Jika 𝐴′ dan 𝐵 ′ berturut-turut adalah tranpos dari matriks 𝐴 dan matriks 𝐵, maka
berlaku hubungan
(𝐴𝐵)′ = 𝐵 ′ 𝐴′
3. Perpangkatan Dalam Matriks Persegi
Definisi: Perpangkatan matriks persegi
Misalkan 𝐴 adalah suatu matriks persegi, maka
𝐴2 = 𝐴𝐴
𝐴3 = 𝐴2 𝐴 = 𝐴𝐴2
𝐴4 = 𝐴3 𝐴 = 𝐴𝐴3
… , 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑟𝑢𝑠𝑛𝑦𝑎
𝐴𝑛 = 𝐴𝑛−1 𝐴 = 𝐴𝐴𝑛−1
Agar lebih memahami dan terampil dalam menentukan perpangkatan suatu
matriks persegi, simaklah contoh berikut ini.
Contoh:
3 −1
Diketahui matriks 𝐴 = ( )
2 −5
Tentukan 𝐴2 , 𝐴3 , 𝐴4 .
Jawab:
3 −1 3 −1 7 2
𝐴2 = 𝐴𝐴 = ( )( )=( )
2 −5 2 −5 −4 23
3 −1 7 2 25 −17
𝐴3 = 𝐴𝐴2 = ( )( )=( )
2 −5 −4 23 34 −111
3 −1 25 −17 41 60
𝐴4 = 𝐴𝐴3 = ( )( )=( )
2 −5 34 −111 −120 521
G. METODE PEMBELAJARAN
1. Strategi pembelajaran: strategi pembelajaran kooperatif.
2. Model pembelajaran: model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads
Together (NHT).
3. Metode pembelajaran metode ceramah, metode diskusi kelompok, dan metode
tanya-jawab.
H. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN (SKENARIO)
KEGIATAN PEMBELAJARAN WAKTU
KEGIATAN AWAL: 10 menit
1. Guru mengucapkan salam, mengawali KBM dengan doa,
absensi, dan menanyakan kesiapan dalam belajar.
2. Apersepsi: mengingatkan kembali tentang perkalian
suatu bilangan real terhadap matriks.
3. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu peserta didik
dapat menyelesaikan perkalian dua matriks dan
perpangkatan dalam matriks persegi.
4. Motivasi: Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka
siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang
berhubungan dengan perkalian dua matriks dan
perpangkatan dalam matriks persegi.
5. Guru menyampaikan cakupan materi dan metode
pembelajaran.
KEGIATAN INTI: 70 menit
Eksplorasi (penggalian, penjajakan)
Dalam kegiatan eksplorasi:
1. Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi
tentang bagaimana cara menyelesaikan perkalian dua
matriks dan perpangkatan dalam matriks persegi.
Elaborasi (pendalaman, peluasan materi)
Dalam kegiatan elaborasi:
1. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa
kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 6 orang.
2. Guru memberikan nomor kepada peserta didik dimana
setiap anggota dalam kelompok mendapatkan nomor
yang berbeda.
3. Guru mengumpulkan peserta didik yang memiliki nomor
sama untuk menjawab soal LKK dengan mengamati
perkalian dua matriks yang sudah disediakan guru sesuai
dengan nomor di kepala, misal peserta didik yang
mendapatkan kepala bernomor 1 mengamati perkalian
dua matriks sesuai soal yang bernomorkan 1.
4. Guru membagikan LKK.
5. Selama peserta didik bekerja di dalam kelompok, guru
memperhatikan dan mendorong semua peserta didik
untuk terlibat dalam mengerjakan LKK dan mengarahkan
bila ada kelompok yang kesulitan dalam menyelesaikan
soal perkalian dua matriks.
6. Guru meminta peserta didik menempelkan hasil diskusi
mereka. Kemudian, peserta didik diminta kembali ke
kelompok awal.
7. Guru memanggil salah satu nomor pada setiap kelompok.
Dengan nomor yang dipanggil untuk mempresentasikan
hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok
lain menanggapi dan menyempurnakan apa yang
dipresentasikan.
8. Guru memberitahukan kepada peserta didik untuk
kembali ke tempat duduk masing-masing seperti semula
sebelum berkelompok.
9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan
terhadap materi pelajaran.
Konfirmasi (pembenaran, penegasan, pengesahan)
Dalam kegiatan konfirmasi:
1. Guru memberikan umpan balik, berupa penguatan
(lisan/tulis) dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
2. Guru memberikan tambahan informasi sebagai
penjelasan kalau diperlukan.
KEGIATAN PENUTUP: 10 menit
1. Umpan Balik: Melakukan umpan balik terhadap proses
dan hasil pembelajaran dengan melakukan tes individual.
2. Menutup pembelajaran dengan doa dan salam
I. SUMBER BELAJAR/ALAT/BAHAN
Sumber belajar : Matematika untuk SMA XII, Erlangga
Alat belajar : Spidol, Karton
PENILAIAN :
Indikator Teknik Penilaian Bentuk Instrumen

perkalian dua
Tes Tertulis Uraian
matriks
perpangkatan dalam
Tes Tertulis Uraian
matriks persegi
Instrumen:
Lembar Kerja Kelompok

Kelompok:1
Nama: 1.
2.
3.
4.
5.
Kerjakanlah soal berikut dan diskusikan bersama anggota kelompok kalian!

Diketahui matriks-matriks:

2 0 3 −1 2 1
𝐴=( ),𝐵 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛 𝐶 = ( )
1 −1 2 1 1 2
Tentukanlah:

a) 𝐴𝐵 dan 𝐵𝐴
b) Apakah 𝐴𝐵 = 𝐵𝐴?

Jawab:
Lembar Kerja Kelompok

Kelompok:2
Nama: 1.
2.
3.
4.
5.
Kerjakanlah soal-soal berikut dan diskusikan bersama anggota kelompok kalian!

Diketahui matriks-matriks:

2 0 3 −1 2 1
𝐴=( ),𝐵 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛 𝐶 = ( )
1 −1 2 1 1 2
Tentukanlah:

a) (𝐴𝐵)𝐶 dan 𝐴(𝐵𝐶)


b) Apakah (𝐴𝐵)𝐶 = 𝐴(𝐵𝐶)?

Jawab:
Lembar Kerja Kelompok

Kelompok:3
Nama: 1.
2.
3.
4.
5.
Kerjakanlah soal-soal berikut dan diskusikan bersama anggota kelompok kalian!

Diketahui matriks-matriks:

2 0 3 −1 2 1
𝐴=( ),𝐵 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛 𝐶 = ( )
1 −1 2 1 1 2
Tentukanlah:

a) 𝐴(𝐵 + 𝐶) dan 𝐴𝐵 + 𝐴𝐶
b) Apakah 𝐴(𝐵 + 𝐶) = 𝐴𝐵 + 𝐴𝐶?

Jawab:
Lembar Kerja Kelompok

Kelompok:4
Nama: 1.
2.
3.
4.
5.
Kerjakanlah soal-soal berikut dan diskusikan bersama anggota kelompok kalian!

Diketahui matriks-matriks:

2 0 3 −1 2 1
𝐴=( ),𝐵 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛 𝐶 = ( )
1 −1 2 1 1 2
Tentukanlah:

a) (𝐵 + 𝐶)𝐴 dan 𝐵𝐴 + 𝐶𝐴
b) Apakah (𝐵 + 𝐶)𝐴 = 𝐵𝐴 + 𝐶𝐴?

Jawab:
Lembar Kerja Kelompok

Kelompok:5
Nama: 1.
2.
3.
4.
5.
Kerjakanlah soal-soal berikut dan diskusikan bersama anggota kelompok kalian!

Diketahui matriks-matriks:

2 0 3 −1 2 1
𝐴=( ),𝐵 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛 𝐶 = ( )
1 −1 2 1 1 2
Tentukanlah:

a) (𝐴𝐵)′ dan 𝐵 ′ 𝐴′
b) Apakah (𝐴𝐵)′ = 𝐵 ′ 𝐴′ ?

Jawab:
Lembar Kerja Kelompok

Kelompok:6
Nama: 1.
2.
3.
4.
5.
Kerjakanlah soal-soal berikut dan diskusikan bersama anggota kelompok kalian!

Diketahui matriks-matriks:

2 0 3 −1
𝐴=( ),𝐵 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛 𝑝 = 2, 𝑞 = 3
1 −1 2 1
Tentukanlah:

a) (𝑝𝐴)(𝑞𝐵) dan (𝑝𝑞)(𝐴𝐵)


b) Apakah (𝑝𝐴)(𝑞𝐵) = (𝑝𝑞)(𝐴𝐵)?

Jawab:
Evaluasi

Nama:
Kelas:

Kerjakanlah soal berikut ini secara individu!

Amatilah matriks 𝐴 berikut ini:

2 3
𝐴=( )
1 2

Tentukanlah:

c) 𝐴2
d) 𝐴3

Jawab:

a) 𝐴2 = ⋯
… … … …
… = (… …)(… …)
… (… ) + ⋯ (… ) … (… ) + ⋯ (… )
=( )
… (… ) + ⋯ (… ) … (… ) + ⋯ (… )
…+ ⋯ …+ ⋯
=( )
… +…
… ⋯ …+ ⋯
= (… …)

b) 𝐴3 = ⋯
… … … …
… = (… …)(… …)
… (… ) + ⋯ (… ) … (… ) + ⋯ (… )
=( )
… (… ) + ⋯ (… ) … (… ) + ⋯ (… . )
…+ ⋯ …+ ⋯
=( )
… +…
… ⋯ …+ ⋯
= (… …)
Kunci Jawaban:
a) 𝐴2 = 𝐴𝐴 (1 poin)
𝐴𝐴 = (2 3) (2 3) (1 poin)
1 2 1 2
2(2) + 3(1) 2(3) + 3(2)
=( ) (1 poin)
1(2) + 2(1) 1(3) + 2(2)
=(
4 + 3 6 + 6) (1 poin)
2+2 3+4
= (7 12) (1 poin)
4 7

b) 𝐴3 = 𝐴2 𝐴 (1 poin)
7 12 2 3
𝐴2 𝐴 = ( )( ) (1 poin)
4 7 1 2
7(2) + 12(1) 7(3) + 12(2)
=( ) (1 poin)
4(2) + 7(1) 4(3) + 7(2)
14 + 12 21 + 24
=( ) (1 poin)
8+7 12 + 14
26 43
=( ) (1 poin)
15 26
Pedoman penskoran:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
skor = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
x 100

Mengetahui Banjarmasin, Oktober 2017


Guru Pamong, Dosen Pembimbing, Pengajar,

Mariana, S.Pd Aminah Ekawati, M. Sc Miratul Hayati