Anda di halaman 1dari 15

PERENCANAAN PRODUKSI DISAGREGAT:

STUDI KASUS PRODUKSI PAKAN TERNAK


DI PT CHAROEN POKPHAND INDONESIA BALARAJA

Siti Nur Fadlilah A 1; Thomas Widjaja2

ABSTRACT

Production planning is an activity to make decison amount product that have to


be produce for periods. Production planning is devided by into agregat planning and
disagregat planning. Agregat planning is planning on Type and Family level, Disagregat
planning on end item level. Disagregat planning used in manufacturing process that have
some variance product.

Keywords: production planning, aggregat, disagregat

ABSTRAK

Rencana produksi adalah aktivitas menentukan jumlah produk yang harus


diproduksi pada periode tertentu. Perencanaan produksi terbagi menjadi dua, yaitu
perencanaan produksi agregat dan perencanaan produksi disagregat. Perencanaan
produksi agregat adalah perencanaan produksi tingkat tipe dan famili sedangkan
perencanaan produksi disagregat adalah perencanaan tingkat end system. Perencanaan
disagregat dapat diaplikasikan pada proses manufaktur dengan beberapa variasi produk.

Kata kunci: rencana produksi, agregat, disagregat

1
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, UBiNus, Jakarta
2
Sarjana Teknik, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, UBiNus, Jakarta

68 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


PENDAHULUAN

Perencanaan produksi adalah aktivitas mengenai berapa banyak produk yang


harus dihasilkan setiap periode produksinya. Fase perencanaan produksi dapat dinyatakan
dalam satuan tahun, bulan, minggu, hari, bahkan dalam jam. Perencanaan produksi yang
baik adalah perencanaan produksi yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen pada
saat demand datang dan memberikan biaya perencanaan seminimum mungkin. Oleh
karena itu, agar dapat diperoleh perencanaan produksi yang tepat, perlu digunakan
metoda perencanaan produksi yang tepat. Ada banyak metode yang dapat digunakan oleh
perusahaan dalam menentukan banyaknya produksi yang dihasilkan setiap hari. Baik
metode heuristik, matematis, ataupun simulasi. Penggunaan metode yang baik dalam
perencanaan produksi akan memberikan hasil yang akurat dalam memenuhi permintaan
konsumen sehingga perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal.

PEMBAHASAN

Perencanaan Agregat
Perencanaan agregat adalah perencanaan produksi yang dinyatakan secara
agregat. Perencanaan ini berhubungan dengan penentuan jumlah dan waktu produksi
untuk jangka waktu menengah. Manajer produksi harus menentukan jalan terbaik agar
memenuhi prakiraan permintaan dengan cara menyesuaikan rata – rata produksi, tingkat
penggunaan tenaga kerja, tingkat persediaan, lembur, kerja sama (subkontrak), atau
variabel lain yang dapat dkendalikan. Dengan beberapa metode dalam perencanaan
agregat, manajer produksi dapat memilih strategi terbaik yang memberikan keuntungan
optima. Perencanaan agregat diperlukan karena akan mempengaruhi kemampuan
perusahaan dalam memenuhi permintaan dan dalam berkompetisi dengan perusahaan
lain.

Strategi dalam Perencanaan Agregrat


Terdapat tujuh strategi yang digunakan dalam perencanaan agregat.
1. Melakukan variasi tingkat persediaan. Pada strategi ini, jumlah karyawan dan waktu
kerja dipertahankan sehingga rata–rata tingkat produksi akan tetap. Kelebihan
produksi yang terjadi pada periode permintaan rendah disimpan sebagai persediaan
yang nantinya digunakan untuk menutupi produksi pada waktu terjadi permintaan
yang lebih tinggi dari tingkat produksi. Kelemahannya adalah timbulnya biaya
penyimpanan persediaan berupa biaya sewa gudang, administrasi, asuransi,
kerusakan material, dan bertambahnya modal yang tertanam.

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 69


Strategi ini tidak dapat digunakan untuk kegiatan jasa (misalnya, transportasi,
kesehatan, atau pendidikan) karena jasa tidak dapat disimpan sebagai persediaan.
Selain itu, juga tidak tepat untuk perusahaan yang produknya cepat rusak/tidak tahan
lama, berhubungan dengan mode/fashion, bernilai tinggi, atau memerlukan ruang
simpan yang sangat besar.

2. Melakukan variasi jam kerja. Pada strategi ini, jumlah karyawan dijaga tetap untuk
suatu tingkat produksi tertentu, perubahan hanya dilakukan terhadap jumlah jam
kerja. Jika permintaan naik, diadakan penambahan jam kerja untuk menambah
produksi sedangkan jika permintaan turun, dilakukan pengurangan jam kerja. Lembur
biasanya akan menimbulkan biaya yang lebih besar karena upah lembur lebih besar
daripada upah pada waktu reguler. Selain itu, terlalu banyak lembur dapat
menurunkan produkstivitas dan menambah biaya overhead.

3. Melakukan variasi jumlah jam kerja, apabila terjadi permintaan tinggi maka
dilakukan penambahan tenaga kerja. Sebaliknya, pada waktu permintaan rendah,
dilakukan pengurangan tenaga kerja. Biaya yang timbul mencakup biaya pengadaan
tenaga kerja atau pesangon bagi tenaga kerja yang dikurangi. Strategi ini cocok untuk
diterapkan jika tenaga kerja yang disewa atau dikurangi mempunyai ketrampilan
yang rendah dan jika pasar tenaga kerja memiliki suplai yang besar. Bagi perusahaan
yang memerlukan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi, strategi ini tidak mudah
diterapkan karena tenaga kerja yang demikian lebih menyukai pekerjaan yang tetap
dan terjamin. Selain itu, pengurangan tenaga kerja yang teralu sering mempunyai
pengaruh negatif, yaitu menurunkan moral kerja karyawan yang mengakibatkan
penurunan produktivitas.

4. Subkontrak, dilakukan jika terjadi permintaan yang bertambah sementara kapasitas


produksi tidak cukup untuk memenuhinya sedangkan perusahan tidak menghendaki
hilangnya permintaan atau pelanggan penting. Kerugian strategi ini adalah harga
pokok produksi menjadi lebih tinggi, dapat memberikan kesempatan kepada pesaing
untuk maju, dan adanya risiko karena tidak dapat secara langsung mengontrol mutu
produk dan penjadwalan.

5. Menggunakan pekerja paruh waktu, dalam sektor jasa pekerja paruh waktu dapat
memenuhi kebutuhan tenaga kerja berketerampilan rendah. Metode ini membawa
frekuensi biaya yang rendah dan lebih fleksibel daripada menggunakan tenaga kerja
tetap. Kelemahannya adalah mengakibatkan perputaran tenaga kerja dan biaya
pelatihan yang tinggi, serta mempengaruhi konsistensi mutu produk. Apabila strategi
ini diterapkan untuk pekerjaan yang memerlukan keterampilan tinggi, masalah yang
perlu diantisipasi adalah tidak tersedianya tenaga kerja pada saat diperlukan karena
mereka mencari kerja di tempat lain.

70 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


6. Mempengaruhi permintaan, jika permintaan turun atau rendah, perusahaan berusaha
menaikkan permintaan melalui iklan, promosi, pemotongan harga, atau
menggalakkan bentuk kegiatan pemasaran lain. Biaya tambahan yang timbul tentunya
berupa biaya iklan, potongan harga, dan biaya program promosi lain. Strategi ini
termasuk menggeser permintaan dari periode permintaan tinggi ke periode
permintaan rendah, seperti dilakukan perusahaan telekomunikasi. Pada saat siang
hari, banyak permintaan telepon yang tidak terlayani karena salurannya penuh. Untuk
itu, dilakukan strategi menggeser permintaan siang hari ke malam hari, melalui
perbedaan tarif yang sangat signifikan. Hal itu menyebabkan konsumen yang tadinya
akan menggunakan jasa telepon siang hari beralih ke lama hari karena ingin
mendapatkan biaya yang rendah. Permintaan siang hari yang potensi hilang menjadi
tetap ada karena pindah ke malam hari.

7. Pemesanan tertunda selama periode permintaan tinggi. Pemesanan tertunda adalah


pemesanan barang atau jasa yang diterima perusahaan tetapi dapat memenuhi
kemudian setelah perusahaan mempunyai persediaan. Pemesanan tertunda berlaku
umum bagi perusahaan mail order atau perusahaan yang memproduksi barang –
barang yang kompleks atau beenilai tinggi, seperti pesawat terbang, kapal laut, dan
lain–lain. Strategi itu sering tidak dapat dilaksanakan untuk perusahaan yang menjual
barang – barang konsumsi, seperti makanan, obat–obatan, atau pakaian. Keuntungan
strategi ini dapat menghindari lembur dana tetap menjaga kapasitas produksi yang
konstan. Sementara kelemahannya adalah tertunda penerimaan/penjualan dan hanya
dapat dilakukan apabila permintaan lebih tinggi daripada penawaran.

Metode Perencanaan Agregat


Beberapa metode yang dikenal dalam perencanaan agregat, antara lain
pendekatan intuitif, pendekatan matematika, serta metode tabel dan grafik. Dalam
pendekatan intuitif, manajemen menggunakan rencana yang sama dari tahun ke tahun.
Penyesuaian dilakukan dengan intuisi hanya sekadar untuk memenuhi permintaan baru.
Apabila rencana yang lama tidak optimal, pendekatan ini mengakibatkan pemborosan
yang berkepanjangan.

Pendekatan matematika dilakukan dengan teori, seperti pemrograman linier,


kaidah keputusan linier, model koefisien manajemen, metode transportasi, dan simulasi.
Pemrograman linier merupakan teknik pengambilan keputusan untuk memecahkan
masalah mengalokasikan sumber daya yang terbatas diantara berbagai kepentingan
seoptimal mungkin. Pemrograman linier merupakan salah satu metode dalam riset operasi
yang memungkinkan para manajer mengambil keputusan mengenai kegiatan yang mereka
tangani dengan dasar analisis kuantitatif. Dengan teori ini, hasil yang optimal dapat
diperkirakan, seperti berapa unit produk yang harus dibuat, berapa shift yang
dioperasikan, atau berapa unit persediaan barang yang disimpan.

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 71


Metode transportasi menurut Herjanto (2003:171) adalah suatu metode yang
digunakan untuk mengatur distribusi dari sumber yang menyediakan produk yang sama
ke tempat tujuan secara optimal. Distribusi itu dilakukan sedemikian rupa sehingga
permintaan dari beberapa tempat tujuan dapat dipenuhi dari beberapa tempat asal yang
masing–masing dapat memiliki permintaan atau kapasitas yang berbeda. Alokasi ini dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan biaya pengangkutan yang bervariasi karena jarak
dan kondisi antarlokasi yang berbeda. Dengan metode transportasi, dapat diperoleh suatu
alokasi distribusi barang yang dapat meminimalkan total biaya transportasi.

Disagregasi (Smith, 1989:208)


Disagregasi adalah suatu proses untuk memecah rencana produksi secara agregat
menjadi rencana produksi end item. Hasil out put dari proses disagregasi adalah MPS atau
JIP (jadwal induk produksi). Berikut ini hierarki rencana produksi.

Rencana produksi type (agregat)

Rencana produksi famili (agregat)

Rencana produksi item (disagregat)

Gambar 1 Hierarki Rencana Produksi

Type (h): Merupakan kumpulan famili yang memiliki biaya produksi persatuan/ pola
permintaan relatif sama.

Famili (i): Merupakan kumpulan item yang menanggung biaya set-up secara
bersama. Set-up diperlukan apabila fasilitas digunakan untuk memproses item dari
famili lain.

Item (j):Merupakan produk akhir yang akan dikirim ke konsumen. Suatu item
dibedakan atas item lainnya berdasarkan warna, kemasan, dan lain-lain.

Disagregasi ada 2 tahap:


(1) Disagregasi dari tipe ke famili
(2) Disagregasi dari famili ke item

72 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


Langkah disagregasi:

(1) Memilih famili mana yang harus diproduksi. Dengan cara memeriksa persediaan dan
ramalan demand setiap produk pada setiap famili.
(Iij,t-1 – Dij,t – Sij) ≤ 0

Iij,t-1 : Persediaan awal setiap item j pada semua famili i


Dij : Demand setiap item j pada semua famili i
Sij : Safety Stock setiap item j pada semua famili i

(2) Menentukan jumlah yang harus diproduksi.


Yi = Min [ EOQi ; Osi – Ii ]
dan:
Osi = Jumlah max persediaan famili-i
Ii = Jumlah persediaan famili -i

2. Ai .Csi
EOQi 
R.Chi

Keterangan:
Ai : Kebutuhan famili i per tahun
Csi : Biaya 1 kali setup mesin untuk membuat famili – i
Chi : Biaya simpan famili – i per tahun
R : Suku bunga bank (nilai uang atas barang persediaan)
Yi : Jumlah famili ke-i yang harus diproduksi.

(3) Lakukan penyesuaian jika:

 Yi  Ph
Ph = Rencana produksi agregat tipe (h)
 Yi = Total jumlah semua famili yang harus di produksi

Jika 

Y
i h
i ,t  Ph ,t maka Yi,t disesuaikan menjadi Yi*,t ; dan:

 Y 
Yi *, t  Ph ,t  i 
  Yi 

Jika


i h
Yi ,t  Ph ,t maka Yi,t disesuaikan menjadi Yi*,t dengan

membandingkan a & b yang paling minimum dan:

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 73


| a

ji
(OSij ,t  Sij ,t )
|
 
  (OSij ,t  Sij ,t ) 
Yi*,t = Min |
| b
Yi ,t  ( Ph,t   Yi ,t )  
ji

 
ih
  (OS ij ,t  S ij ,t 
)
 ih 
(4) Lakukan perhitungan disagregasi item.

Rumus:
dij,t = Max [0 ; Dij,t – Iij,t-1 + Sij,t]

 
 Yi *, t   ( I ij ,t 1  Sij ,t ) 
 d ij ,t    Sij ,t  I i
ji
X ij ,t j ,t 1
 
  dij , t 
dan:  j i 

dij,t = Permintaan efektif item-j pada perioda t


Dij,t = Permintaan pasar item-j pada perioda t
Iij,t-1 = Persediaan item-j pada akhir perioda t-1

Penyesuaian item:
 0 < Xij,t < 0Sij,t => Xij*,t = Xij,t
 0  Xij,t => Xij*,t = 0
 Xij,t  OSij,t => Xij*,t = OSij,t

Penentuan Rencana Produksi Disagregat Studi Kasus Produksi Pakan


Ternak di PT Charoen Pokphand Indonesia Balaraja
(1). Memilih famili mana yang harus diproduksi:

Rumus : (Iij,t-1 – Dij,t – Sij) ≤ 0

74 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


Tabel 1 Penentuan Family yang Harus Diproduksi

Rencana produksi disagregat Untuk Semua Famili 1 hari ke depan


SENIN Langkah 1
Inventory Demand Safety Stock Expected Quantity
Famili End Item
(ton) (ton) (ton) (ton)
611 1500 744 1500 -744
612 360 162 330 -132
613 186 78 180 -72
Boiler 511 180 90 180 -90
512 366 120 240 6
513 150 66 120 -36
BP11 150 72 150 -72
621 1200 528 990 -318
622 720 378 750 -408
521 1260 546 1050 -336
Layer
522 84 30 90 -36
523 60 36 90 -66
321 120 66 120 -66
631 756 300 600 -144
632 66 36 60 -30
633 60 24 60 -24
Breeder
531 366 180 360 -174
532 126 54 120 -48
533 120 60 120 -60
6104 150 54 90 6
Puyuh
6105 144 48 90 6
SP121 54 30 60 -36
Sapi
SP201 72 30 60 -18
BT42 72 24 42 6
Babi
BT45 72 24 42 6
Total 8394 3780 7494 -2880

Keterangan: nilai yang dicetak tebal bertanda negatif (-) berarti jumlah produksi item
tersebut akan di bawah standar safety stock. Jika tidak, dibuat kembali setelah dipakai
untuk memenuhi permintaan/demand sehingga semua family pada item tersebut harus
diproduksi. Dalam hal ini, semua family diproduksi, kecuali item pakan puyuh dan pakan
babi.

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 75


(2). Menentukan jumlah yang harus diproduksi:
Rumus : Yi = Min [ EOQi ; Osi – Ii ]
dan:
Osi = Jumlah max persediaan famili-i
Ii = Jumlah persediaan famili -i

2. Ai .Csi
EOQi 
R.Chi

Tabel 2 Menentukan Jumlah Total Family yang Harus Diproduksi

Langkah 2
Osi Ii Csi Chi R EOQi Osi-Ii Yi
Famili (ton) (ton) Ai (kg) (Rp 000,00) (Rp000,00) (%) (ton) (ton) (ton)
Boiler 5250 2892 281940000 1800 3832500 18% 1212.98 2358 1213.00
Layer 5400 3708 347052000 1500 3942000 18% 1211.33 1692 1212.00
Breeder 2400 1494 138546000 1500 1752000 18% 1148.03 906 906.00
Puyuh 450 294 21498000 1000 328500 18% 852.73 156
Sapi 300 126 13230000 1000 219000 18% 819.29 174 174.00
Babi 300 144 10830000 1000 54750 18% 1482.52 156
Total 14100 8658 813096000 7800 10128750 1.08 6726.88 3505.00

Keterangan: Pakan ternak puyuh dan babi tidak di produksi

Contoh perhitungan untuk langkah kedua metode disagregasi:

Os Boiler  5250 ton


I Boiler  2892 ton
ABoiler  281940000 kg
Cs Boiler  Rp 1800000
ChBoiler  Rp 2 * 365 hari * 5250000 kg  Rp 3832500000
R  18%
2 * 281940000
EOQBoiler  1212.98 ton
18% * 3832500000
Os Boiler  I Boiler  2358 ton
YBoiler  min( EOQBoiler , Os Boiler  I Boiler )  1213 ton

76 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


3. Lakukan penyesuaian dilakukan jika  Yi  Ph

Jika
a

i h
Yi ,t  Ph ,t maka Yi,t disesuaikan menjadi Yi*,t dengan membandingkan

& b yang paling minimum dan:

| a
|
Yi*,t = Min |

ji
(OSij ,t  Sij ,t )
| b
 
  (OSij ,t  Sij ,t ) 
Yi ,t  ( Ph,t   Yi ,t )  
ji

 

ih
(OS ij ,t  S ij ,t 
)
 ih 

Karena Yi,t = 3505 dan Ph,t = 3780 sehingga 



i h
Yi ,t  Ph ,t
maka perlu dilakukan penyesuaian sebagai berikut.

Tabel 3 Penyesuaian Total Family yang Diproduksi dengan Rencana Produksi Agregat

Langkah 3

 
  (OSij ,t  Sij ,t ) 
Yi ,t  ( Ph ,t   Yi ,t )  
Ph,t ji
Famili Ph,t*Yi/sum(Yi) Osi - Si Yi*,t
(ton)  
  (OSij ,t  Sij ,t ) 
ih

 ih 
Boiler 1308.17 2550 1327.58 1327.58
Layer 1307.09 2310 1315.80 1315.80
Breeder 977.08 1080 954.53 954.53
3780
Puyuh
Sapi 187.65 180 182.09 180.00
Babi
Total 3780 3780 6120 3780.00 3777.91

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 77


Jadi total family yang harus diproduksi 1 hari ke depan adalah 3778 ton per hari.
(4) Menentukan Disagregasi Item:
Rumus:

 
 Yi *, t   ( I ij ,t 1  Sij ,t ) 
 d ij ,t    Sij ,t  I i
ji
X ij ,t j ,t 1
 
  dij , t 
 j i 

dij,t = Max [0 ; Dij,t – Iij,t-1 + Sij,t]

dan:
dij,t = Permintaan efektif item-j pada perioda t
Dij,t = Permintaan pasar item-j pada perioda t
Iij,t-1 = Persediaan item-j pada akhir perioda t-1

Penyesuaian item:
0 < Xij,t < 0Sij,t => Xij*,t = Xij,t
0  Xij,t => Xij*,t = 0
Xij,t  OSij,t => Xij*,t = OSij,t

78 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


Tabel 4 Perhitungan Disagregasi Item

Langkah 4
dij,t Xij,t adjust Xij,t akhir
Famili End Item Xij,t (ton)
(ton) (ton) (ton)
611 744 986.54 987 990
612 132 145.03 146 150
613 72 89.47 90 90
Boiler 511 90 119.34 120 120
512 0 -126.00 0 0
513 36 17.74 18 18
BP11 72 95.47 96 96
621 318 221.70 222 222
622 408 583.88 584 588
521 336 246.14 247 252
Layer
522 36 54.87 55 60
523 66 119.60 90 90
321 66 89.60 90 90
631 144 182.56 183 186
632 30 64.53 60 60
633 24 56.43 57 60
Breeder
531 174 403.09 360 360
532 48 106.85 107 108
533 60 141.07 120 120
6104
Puyuh
6105
SP121 36 130.00 60 60
Sapi
SP201 18 50.00 50 54
BT42
Babi
BT45
Total 2910 3777.91 3742 3774

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 79


Contoh perhitungan untuk langkah keempat perhitungan disagregasi untuk famili
boiler.

d 611,t  Max [0 ; Dij, t – Iij, t - 1  Sij, t]  Max [ 0, 744 - 1500  1500]  744
d 612 ,t  Max [ 0, 162 - 340  330]  132
d 613,t  Max [ 0, 78 - 156  180]  72
d 511,t  Max [ 0, 90 - 180  180]  90
d 512 ,t  Max [ 0, 120 - 366  240]  0
d 513,t  Max [ 0, 66 - 148  120]  36
d BP11,t ]  Max [ 0, 72 - 150  150]  72
 
 Yi *, t   ( I ij ,t 1  S ij ,t ) 
 I i j ,t 1  d ij ,t  
ji
X ij ,t  S ij ,t
 
  dij , t 
 j i 

X 611,t  1500  1500  744 *


1327.58  (1500  1500)  (360  330)  (186  180)  (180  180)  (366  240)  (150  120)  (150  150) 
 744  132  72  90  0  36  72 
 
1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
 1500  1500  744 *  
 744  132  72  90  0  36  72 
 986.54
X 611,t adjust  987
X 611,t akhir  990

80 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82


1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
X 612 ,t  330  360  132 * 
 744  132  72  90  0  36  72  
 145.03
X 612 ,t adjust  146
X 612 ,t akhir  150

1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
X 613,t  180  186  72 * 
 744  132  72  90  0  36  72  
 89.47
X 613,t adjust  90
X 613,t akhir  90

1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
X 511,,t  180  180  90 * 
 744  132  72  90  0  36  72  
 119.34
X 511,t adjust  120
X 511,t akhir  120

1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
X 512 ,t  240  366  0 * 
 744  132  72  90  0  36  72  
 126
X 512 ,t adjust  0
X 512 ,t akhir  0

1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
X 513,t  120  150  36 * 
 744  132  72  90  0  36  72  
 17.74
X 513,t adjust  18
X 513,t akhir  18

1327.58  0  30  6  0  126  30  0 
X BP11,t  150  150  72 * 
 744  132  72  90  0  36  72  
 95.47
X BP11,t adjust  96
X BP11,t akhir  96

Perencanaan Produksi... (Siti Nur Fadlilah A; Thomas Widjaja) 81


PENUTUP

Pada saat menentukan jenis family yang harus diproduksi, jika hasil perhitungan
yang diperoleh negatif. Artinya, Family pada end item tersebut harus diproduksi. Jika
positif, artinya semua end item pada family tersebut masih mampu memenuhi permintaan
konsumen dan tidak perlu diproduksi dulu. Jika jumlah family yang harus diproduksi
tidak sama dengan jumlah perencanaan produksinya maka perlu dilakukan penyesuaian.
Proses pemecahan dari famili ke end item adalah langkah terakhir dalam menentukan
jumlah end item yang harus diproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Browne, J.1996. Production Management System An Integrated Approach.

Bedword, D. 1997. Integrated Production Control System. Edisi 2. New York.

Heizer, Jay. 2001. Principle Of Operation Management and Interactive CD.

Smith, Spencer B. 1989. Computer-Based Production and Inventory Control.

82 INASEA, Vol. 7 No. 1, April 2006: 68-82