Anda di halaman 1dari 2

Peranan Bendungan Lodoyo Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat

Blitar Tahun 1982 – 2006

Latar Belakang

Sungai mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan manusia. Salah


satunya adalah sebagai sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan irigasi, penyediaan air minum, kebutuhan industri dan lain lain.
Kebutuhan air bagi kepentingan manusia semakin meningkat sehingga perlu
dilakukan penelitian atau penyelidikan masalah ketersediaan air sungai dan
kebutuhan area di sekelilingnya, agar pemanfaatan dapat digunakan secara efektif
dan efisien, yaitu dengan membuat sebuah bendung.

Pada umumnya tujuan dari dibangunnya suatu waduk atau bendungan


adalah untuk melestarikan sumberdaya air dengan cara menyimpan air disaat
kelebihan yang biasanya terjadi disaat musim penghujan. Air yang datang
melimpah pada musim penghujan tersebut, ditampung dan disimpan serta
dipergunakann secara tepat guna sepanjang tahun. Diharapkan pula banjir dapat
dicegah serta kekurangan air pada saat musim kemarau tiba dapat diatasi.

Bendungan yang lebih dikenal dengan nama Bendungan Serut ini


sebenarnya memiliki nama resmi Bendungan Lodoyo. Bendungan Serut atau
Lodoyo dibangun pada tahun 1982. Bendungan ini adalah tipe bendungan gerak,
memiliki kapasitas tampungan efektif 5,0 x 106 m3 dengan luas daerah genangan
0,94 km2. Bendungan Lodoyo membujur dari arah utara ke selatan, membelah
Kali Brantas menghubungkan wilayah di Kecamatan Kanigoro pinggir selatan
dengan Kecamatan Sutojayan sebelah utara.

Pembangunan bendungan Lodoyo merupakan salah satu hasil dari


penelitian yang dilakukan oleh Jepang. Pemerintah Indonesia pada Tahun 1959
meminta bantuan Jepang (Nippon Koe Co) untuk melakukan penelitian di Sungai
Brantas sebagai langkah mencegah dampak buruk apabila terjadi banjir.
Pembangunan bendungan dibeberapa titik hulu Sungai Brantas dianggap perlu
dilakukan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nippon Koe CO Ltd.
Prosesnya sendiri kemudian dilakukan melalui beberapa tahap, dan akan ditinjau
ulang setiap 12-13 tahun. Tahap pembangunan dimulai dengan bendungan
Karangkates (Bendungan Sutami) pada tahun 1972 dan berturut-turut Selorejo
(1972), Lohor (1977), Lengkong Baru (1973), Lodoyo (1983), Wadaslintang dan
Wonorejo.1

1
Irwan Kartiwan, Kamajaya Al Katuuk, Hendra Soenardji. 2010. Wajah Jasa Konstruksi Indonesia :
Tinjauan Keberpihakan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Anda mungkin juga menyukai