Anda di halaman 1dari 2

Film ini menceritakan tentang keluarga patrilineal terdiri dari suami ( Raju Ajit Panchali),

istri, bibi mertua dan dua anak, yang tertua seorang perempuan bernama Durga dan adiknya laki-
laki yang bernama Apu. Mereka hidup di suatu desa di India dengan segala pergulatan masalah
antara anggota keluarga di dalamnya yang disertai dengan krisis ekonomi yang melanda keluarga
itu. Sang ayah yang sebagai pekerja seni dan seorang pendeta hindu berusaha untuk mencari
pekerjaan tambahan yang layak guna menutupi kekurangan perekonomian keluarga. Masalah
yang dihadapi mulai dari berhutang pada tetangga kemudian dua anaknya yang memiliki
keinginan masing-masing, Durga sang anak perempuan yang ingin memiliki baju sari untuk
digunakan dalam upacara keagamaan dan Apu adik lelakinya yang ingin makan nasi karena
selama ini dia hanya makan ubi-ubian dan singkong yang dilembutkan seperti bubur. Durga
sampai harus mencuri buah di kebun tetangga untuk dia makan bersama adiknya dan untuk
diberikan pada sang nenek (bibi ayahnya). Durga dan Apu memiliki banyak keinginan dan
mimpi-mimpi yang sayangnya tidak diimbangi kemampuan ekonomi keluarga mereka dalam
mencukupi itu. Bahkan dia sampai mencuri manik-manik milik teman sepermainannya yang
notabene adalah tetangganya sendiri yang secara ekonomi sangat berkecukupan. Sang ibu sangat
keras dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Dia sangat malu ketika mengetahui anaknya
Durga mencuri dari tetangganya, meski mereka keluarga yang miskin tapi sang ibu berprinsip
pantang untuk mencuri dari orang lain. Sehingga Durga dihukum sangat keras olehnya. Sang ibu
memiliki sikap bermusuhan dengan nenek (bibi mertua). Nenek mertua dengan usia yang sudah
tua dalam anggapan sang ibu hanya menambah beban ekonomi keluarga karena tidak bisa
menghasilkan sesuatu apapun bagi keluarga mereka ataupun tidak bisa bekerja untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Mereka sering terlibat pertengkaran kecil mulai dari adu argumen sampai
pertengkaran besar yang mengakibatkan sang bibi mertua sampai harus keluar dari rumah. Meski
begitu antara sang bibi mertua dengan kedua keponakannya ini (Durga dan Apu) saling
menyayangi yang membuat sang ibu jengkel. Bahkan ketika tahu Durga mencuri dan dimarahi
sang ibu, sang bibi mertua ini membela Durga.
Sang ayah (Panchali) yang tidak memiliki penghasilan tetap berusaha untuk pergi ke
tempat lain untuk bekerja pada saudagar kaya (Ray) yang menurut pendapat orang di sekitar situ
si saudagar kaya itu adalah orang yang sombong dan pelit. Tetapi sang ayah tetap berpikiran
positif untuk tetap bekerja pada si saudagar demi mencukupi ekonomi keluarga. Demi memenuhi
keinginan sang istri memperbaiki rumah yang sudah reot dan hampir roboh, demi membayar dan
melunasi hutang-hutang, demi membelikan sang bibi kain selimut untuk menemani dia tidur agar
tidak kedinginan di malam hari, demi membelikan anaknya Durga baju sari dan demi membeli
beras buat si Apu. Sang istri merasa bahwa hidup mereka di lingkungan sekarang laksana seperti
hidup di hutan, tidak ada tetangga yang peduli, malam yang begitu sunyi, dan tidak ada yang bisa
dia lakukan setiap hari selain hanya mengawasi anak-anaknya bermain dan bersitegang dengan
sang bibi mertua. Sang Istri menawarkan pada suaminya untuk pindah ke lain tempat yaitu di
Benares untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Tapi sang suami mengatakan untuk
supaya tetap tinggal di situ dahulu saja karena dulu ketika menikah sang suami berjanji pada
mertuanya untuk membahagiakan istrinya tanpa harus membawa jauh-jauh sang istri ke luar
kota. Di saat sang suami pergi bekerja di kota untuk beberapa bulan pada sang saudagar, banyak
hal yang terjadi di rumah itu. Pertengkaran antara sang ibu dan sang bibi mertua tidak terelakkan.
Sang bibi mertua yang balik setelah diusir memohon untuk tinggal disitu karena dia tidak
mempunyai tempat lain yang dituju untuk berlindung. Tetapi sungguh ironis, oleh sang istri
jangankan dipersilahkan masuk, diberi minuman sajapun tidak. Dan akhirnya sang bibi mertua
pergi ke hutan dalam kesedihan. Hingga akhirnya dia meninggal disana. Disaat yang sama Durga
mengalami sakit demam yang naik turun. Setelah diperiksa oleh dokter setempat dia dinyatakan
harus diobati atau dirawat di pelayanan kesehatan agar kondisinya membaik. Tetapi karena sang
ayah belum kembali, maka sang ibu tidak bisa melakukan itu. Oleh dokter disarankan untuk
dikompres apabila demamnya meningkat terlebih disaat malam disaat kondisi demam yang tidak
menentu. Tragisnya di malam itu terjadi hujan disertai badai yang menghancurkan rumah itu.
Dan Durga tidak bisa bertahan dalam serangan demamnya dan akhirna meninggal. Keesokan
pagi sang ayah pulang dari kota dan sangat terkejut mendapati hal itu. Sungguh dia bersedih
padahal dia begitu banyak membawa uang dan oleh-oleh untuk keluarganya.
Hari hari yang sepi kemudian dijalani keluarga itu tanpa anak perempuan mereka Durga.
Setelah dirundingkan dengan istrinya akhirnya di akhir cerita dengan naik pedati sang ayah
memutuskan untuk membawa pindah keluarganya dari desanya menuju kota Benares seperti
yang dikehendaki sang istri sebelumnya.