Anda di halaman 1dari 14

Berpikir Strategis

No. Tugas :4

Judul Tugas : Summary 4, Chapter 21 – 26

Nama : Angga Swasdita Fridantara

NIM : 16911007

Nilai :

Catatan Mahasiswa Catatan Dosen


Chapter 21

Peran Budaya dalam Berpikir Strategis

Dampak Kebudayaan dalam Pengenalan Pola

Kebudayaaan memiliki peran dalam berpikir strategis karena dengan adanya budaya dapa
membentuk sebuah referensi kerangka. Dengan memperhatikan kebudayaan, kita mampu untuk
mengenali batasan-batasan dan pola yang kita kenali. Batasan-batasan tersebut antara lain dimana
kita menerapkan nilai nilai kebudayaan dan nilai apa saja yang harus diterapkan dalam sebuah
pola dan kerangka.

Latar belakang kebudayaan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi pengalaman
dalam berpikir strategis. seperti yang diketahui bahwa dalam berpikir strategis didorong proses
pembelajaran informal. Proses pembelajaran informal salah satunya melalui pengalaman. Apabila
kita tidak memperhatikan adanya proses pembelajaran informal ini, maka kita akan akan memiliki
anggapan bahwa seorang pelaku pemikir strategis hanya bergantung terhadap laatar belakang
budaya saja.

Namun, walaupun bukan factor utama dalam proses pembelajaran berpikir strategis,
kebudayaan memiliki dampak dalam pembelajaran berpikir strategis. salah satunya adalah dengan
adanya kebudayaan dapat menilai kelayakan merger, memperngaruhi dinamika politik, menilai
keputusan Gubernur dan lain lain. Dalam sebuah kebudayaan pasti memiliki adat istiadat yang
terintegrasi dengan nilai yang dapat membantu kita untuk menentukan apa, bagaiamana kita
melakukan dengan memperhatikan batasan yang ada.

Kesalahan yang kerap terjadi

Dengan adanya perbedaan kebudayaan, terkadang kita menemui suatu kesalahan yang
kerap erjadi. Sloan (2006) mengatakan bahwa “ I think we know more than we actually do about
foreign markets, abaut the capabilities of our local business with regard to implementation, and
about local agendas and priorities”. Dari pernyataan Sloan diatas dapat diketahui bahwa
kesalahan yang terjadi adalah kita merasa memiliki tingkat pengetahuan yang lebih atas kondisi
pasar, kemampuan bisnis, agenda dan prioritas warga setempat. Hal tersebut dikarenakan kita
bekerja dalam kondisi kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan yang kita miliki.
Dalam penyusunan strategi diluar kebudayaan yang dianut, ada beberapa informasi penting
yang terlewatkan atau di salah artikan. Hal tersebut dikarenakan kebudayaan tidak dicantumkan
dalam proses riset pasar. Untuk mengatasi kurangnya informasi tersebut, kita memerlukan sebuah
sudut pandang baru. Hal tesebut didorong karena adanya perbedaan Bahasa,zona waktu, dan
permasalahan teknis dalam teknologi.

Dimensi Antar Budaya yang Berdampak pada Formasi Kerangka

Ketika kita bekerja ke luar daerah, pastinya kita berteguh terhadap kebudayaan yang kita
miliki. Kebiasaaan ini sangat berbahaya apabila tidak memperhatikan kebudayaan yang lain.
Untuk megatasi hal tersebut, kita harus mampu berpikir secara terbuka dan mempelajari peran
kebudayaan yang kita panuti terhadap budaya di tempat kita bekerja.

Menurut Geert Hosdtede dalam Sloan (2006), ada lima derajat dimensi budaya yang
mememiliki dampak terhadap kerangka yang kta miliki. Kemudian dalam studi lebih lanjut oleh
Charles Humpden-Turner, memodifikasi dimensi tersebut menjadi 7 macam, antara lain:
“universalism vs particularism, analyzing vs integrating, individualsm vs communitarianism,
inner-directed va outer-directed orientation, time as sequence vs time as synchronization,
achieved status vs ascribed status, and equality vs hierarchy”

Namun bagaimanapun, dimensi kebudayaan yang memiliki pengaruh dalam membentuk


suatu kerangka piker juga harus diuji deratnya sebagai proses berpikis stategis. Adanya
kebudayaan akan memberika suduta pandang baru terhadap cara berpikir seseorang.

Faktor Hirarki yang harus diperhitungkan

Struktur hirarki dalam kebudayaan memiliki adat istiadat tersendiri. Dalam suatu
kebudayaan apabila kita menentang seorang atasan, atau manajer dapat dikatakan sebagai tindakan
yang tidak hormat. Bentuk pertentangan tersebut diartikan sebagai sebuah penyerangan,
interogasi, atau penghinaan dan yang menentang dianggap sebagai seseorang yang idak setia
terhadap perusahaan.

Dengan adanya kebudayaan yang terbatas pada struktur hirarki organisasi tentu saja akan
menimbulkan kesulitan untuk memperoleh kepercayaan dan menerapkan keputusan strategis.
selain itu, ciri ciri kebudayaan yang terbatas dalam struktur juga akan mempersulit proses
berdialog dan berbeicara secara terbuka. Karena mungkin saja dalam lingkungan organisasi
tersebut ada seseorang individu yang memiliki sebuah gagasan atau ide yang lebih. Adanya
batasan tersebut secara langsung menghambat perkembangan karyawan.
Chapter 22

Tantangan dalam Mengenalkan Berpikir Strategis Antar Budaya

Peran kebudayaan dalam proses berpikir strategis memang memiliki pengaaruh yang besar
dalam menghimpun sudut pandang berbeda. Adanya perbedaan sudut pandang ini harus
diperhatikan dan secara langsung kita harus beterimkasih terhadap adanya perbedaan kebudayaan
yang terjadi. Intinya adalah kita harus memahami kerangka umum yang harus dipecah dan
kemudian dikembangkan kembali dengan memperhatikan kebudayaan yang ada.

Menghancurkan dan Reframing Antar Budaya

Dengan adanya kebudayaan, kita dapat memahami apa yang baik dan buruk dengan segala
batasannya. Seiring kita mempelajarinya, kita mampu menyusun keptusan sesuai dengan asumsi
dasar baik dan salah. Kita juga secara tidak langsung belajar dalam meningkatkan nilai
kemampuan dalam analisis dan intuisi. Dari mempelajari suatu kebudayaan tersebut kita
memperoleh wawasan tacit untuk pertama kalinya.

Dalam proses memecah suatu kerangka, kita harus siap untuk rela untuk menyerahkan zona
nyaman yang telah kta miliki. Apabila kita merasa puas dengan berada dalam zona nyaman maka
kita tidak dapat berkembang dan memecah kerangka tersebut. Pada awalnya mungkin kita akan
merasa ragu-ragu, namun seiring berjalnnya waktu kita akan memperoleh pengalaman-
pengalaman yang baru. Pengalaman baru dalam kebudayaan lambat laun tidak akan
memperngaruhi proses berpikir strategis, karena proses tersebut didorong oleh pembelajaran
secara informal, yaitu pengalaman. Hasil dari memecah kerangka ini adalah kita mampu untuk
mampu untuk menyusun strategi lebih baik, memiliki validitas data yang lebih baik dan penerapan
strategi yang lebih baik.

Siapa saja Dapat Belajar untuk Berpikir Strategis

Proses belajar berpikir strategis tidak akan terjadi apabila hanya dengan mengajak
sekelompok orang yang cerdasa dan yang berpendidikan. Proses tersebut tergantung pada
kapasitas refleksi kritis, tingkat intuisi dan kemampuan dalam berdialog kritis yang diseimbangkan
dengan kemampuan analisis.
Menurut Sloan (2006) terdapat 7 saran untuk mengenalkan proses berpikir strategis antar
budaya, yaitu:

1. Memperjelas maksud, artinya adalah kita harus jelas dalam menentukan maksud dari
proses pembelajaran bepikir strategis.
2. Memilih dan memutusakan dan pilih peran. Dalam suatu organisasi tidak semua orang
harus memiliki kemampuan untuk berfikir secara strategis. organisasi adalah kesatuan
system, sehingga memerlukan komponen lain agar mampu berdiri. dengan demikinakita
harus mendistribusikan informasi secara rata kepada rekan kerja. Informasi yang diperoleh
oleh rekan kerja aka dijadikan sebagai panutan dalam lingkungan kerja
3. Berikan kesempatan untuk mendalami lebih jauh tentang pembelajaran yang meliputi
proses reflektif kritis terkait penyelidikan, tantangan, refleksi dan pengujian.
4. Berikan informasi yang melimpah terkait dengan proses pembelajaran berpikir strategis.
dengan memberikan sebuah informasi akan membangun sebuah kepercayaan dan akan
memotovasi diri utuk belajar.
5. Gunakan proses pengembangan secara informal, sepeti pelatihan dan mentoring. Namun
perlu diingatkan agar tidak terlalu memaksakan kehendak karea hanya akan menghambat
proses pembelajaran.
6. Jangan berasumsi. Artinya adalah kita arus mengklaridikasi apa saja yang kita ketahui dan
yang lain ketahui serta apa saja yang tidak ketahui.
7. Hindari kata “kebudayaan” sebagai factor untuk tidak mengembangkan pemkiran strategis.
yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran informal adalah individu yang memperoleh
pengalaman, bukan latar belakang kebudayaannya.
Chapter 23

Lima Atribut Penting

1. Imajinasi
Kemampuan imajinasi merupakan factor yang penting dalam pembelajaran berpikir
strategis. dengan memnggunakan kemampua imajnasi, kia akan memperoleh gambaran
mengenai strategi apa yang akan diterapkan. Berpikir secara imajinatif pada dasarnya yaitu
membangun sebuah gambaran mengenai suatu situasi, meramalkan situasi bagaimana akan
berinteraksi. Ada anggapa dalam msayarakat bahwa dalam mengatasi permasaahan kita
harus kreatif, hal tersebut bisa diterapkan dalam proses berpikir strategis. melalui inovasi
dann kreatifitas akan membentuk suatu model penyelesaian masalah. Model penyelesaian
tersebut dapat kita uji melalui hipotesis-hipotesis dan batasannya. Setlah diuji maka kita
dapat memproyeksikan model tersebut dalam strategi dan ramaln yang berada dalam
imajinasi kita menjadi mungkin untuk terealisasikan
2. Sudut Pandang yang Luas

Atribut kedua yang dianggap penting dalam berpikir strategis adalah kemampuan
untuk melihat situasi dari sudut pandang yang luas. Berkomunikasi dengan banyak orang
baik dengan berbeda umur dan kebudayaan yang berbeda akan memungkinkan kita untuk
mengembangkan kemampuan berdialog kita. Pengalaman berdialog ini akan
mengembangkan pola berpikir kita karena kita memperoleh informasi dari sudut pendang
yang berbeda. Adanya sudut pandang yang berbeda ini akan membuka pola piker kita
sehingga kita mampu untuk melihat dari sudut pandang yang baru.

Kemampuan untuk memperluas tingkat perspektif sangat dibutuhkan. Dalah satu


CEO finansial dalam Sloan (2006), mengatakann bahwa salah satu alasan penting untuk
mengembangkan perspektif adalah “to improve your way thinking. So get to the highest
point, to get the best broad view. That’s the best way to improve thinking because you see
things differently, and then you have more possibilities for thinking’. Intinya adalah dengan
memngembangkan perspektif yang kita miliki, maka kita akan memiliki kemampuan untuk
memandang suau situasi dengan berbeda karena kita terbatasi oleh pola piker dan
kebudayaan yang kita miliki saat ini.
3. Menyulap
Atribut ketiga dalam berpikir strategis adalah kemampuan untuk peka terhadap
lingkungan sekitar. Kemampuan tersebut lebih diutamakan untuk dapat menangani
permasalahan dimana informasi yang tersedia kurang memadai, tidak konsisten, tidak
akurat dan selalu berubah-ubah. Untuk mengatasi informasi yang tidak lengkap dan selalu
berubah-ubah, kita tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan untuk menganalisa. Dalam
situasi ini kita harus mengandalakan kepekaan intuisi untuk menyelesaikan permasalahan.
Tantangan terberat yang dihadapi oleh para pelaku strategi.
Sebuah perushaan teknologi dalam Sloan (2006), menatakan bahwa “if you can’t
work with a lot of incomplete or contradictory information, you’ll never be a good
strategist. If you can and you enjoy it, and you’re driven, then you have a chance”. Intinya
adalah pada saat kita bekerja, suatu saat akan menjumpai keadaan dimana kita akan
dihadapkan pada situasi informasi yang tidak tentu. Apabila kita tidak bisa mengandalkan
kepekaan intuisi kita untuk mengenali pola-pola yang muncul, maka kita bukan pelaku
pemikir strategis yang baik.
4. Mengatasi masalah yang rumit
Atribut ke empat ang dianggap penting dalam menyusun sebuah strategi adalah
kemampuan untuk mengatasi hal-hal yang tidak dapat dikontrol. Maksudnya adalah dalam
lingkungan kerja, ada elemen yang bisa dikontrol dan yang bisa dikontrol. Salah satu
contoh elemen yang tidak bisa dikontrol adalah lingkungan eksternal. Lingkungan
eksternal bersifat berubah-ubah diera globalisasi ini, sehingga membawa perubahan-
perubuhan. Apabila seorang pemalku stategis tidak peka terhadap adanya perubahan dalam
lingkungan eksternal ini, maka perubahan tersebut akan mempengaruhi kinerja organisasi.
5. Keinginan untuk Menang
Atribut terakhir yan diannggap penting dalam berpikir strategis adalah keinginan
untuk menang. Artinya adalah kita harus memiliki dorongan untuk selalu berada diatas
competitor. Adanya kompetisi merupakan factor yang berpengaruh terhadap kemampuan
untuk menyusun strategi. Tanpa adanya kompetisi dan konfrontasi dari competitor, sebuah
straegi tidak akan muncul. Kemampuan berdialog, diskusi, dan debat sanga diperlukan
dalam teknik komunikasi. Keinginan untuk menang dan empat atribut digabungkan pada
dasarnya adalah sebagai motivator agar terdorong untuk berkembang dan memenangkan
strategi.
Chapter 24

Lima Atribut yang Saling Mempengaruhi

Seperti yang diketahui bahwa proses pembelajaran informal terdiri dari persiapan,
pengalaman dan evaluasi. Ketiga langkah tersebut saling berkaitan dengan lima aribut berpikir
strategis. keinginan untuk menang akan mendorong kita terhadap proses refleksi. Dalam proses
refleksi tersebut kita akan mengimajinasikan model strategi kreatif apa yang akan diterapkan.
Untuk memperoleh imajinasi atau gambaran yang jelas, kita perlu untuk melihat dari sudut
pandang yang berbeda. Permasalahan yang muncul akan memunculkan tantangan tersendiri.

Teknik Komunikasi untuk Integrasi Atribut

Teknik bercerita, dialog dan debat adalah salah satu media pembelajaran yang sering
digunakan para pelaku pemikir strategis. tidaknya mampu untuk menginspirasi tingkat kreatifitas
dan merangsang imajinasi, namun juga membangun, menopang dan mengaitkan ke lima atribut
tersebut.

Sebuah cerita dapat berperan sebagai pendorong untuk menghimpun dan menguji data.
Contohnya adalah dengan menambahkan detil pada suatu cerita akan membat audiens untuk
mengecek kebenaran informasi dngan berbagai sumber yang ada. Penambahan detail certa tersebut
juga akan memperluas suatu sudut pandang bagi pendengar cerita. Hal tersebut terjadi ketika para
eksekutif mendengar cerita dari sudut pandang yang berbeda, karena terkadang sebuah cerita
mungkin akan berbeda kisahnya tergantung pada siapa yang bercerita dan berapa kali kisah
tersebut diceritakan. Dengan menngkonfirmasi adanya perubahan pada kisah asli, munculah tanda
tanya dan eksekutif mampu menrubah kerangka lama dan memperoleh sudut pandang yang baru.
Chapter 25

Adaptasi sebagai Strategi Ekspektasi

Tujuan berpikir stategis adalah menciptakan sebuah strategi yang berkelanjutan, invatif
dan kometitif. Namun dalam praktiknya strategi tersebut harus mampu untuk beradaptasi. Adaptasi
sama halnya dengan berimprovisasi. Kita tidak bisa merencanakan sebuah improvisasi, namun kia
harus cepat dalam bereaksi. Dalam proses penyusunan strategi kita mengandalkan intuisi untuk
menentukan bagaimaan kita beradaptasi arena beradaptasi tidak membutuhkan kemampuan
menganalisa. Dengan menggunakan straegi adaptasi, akan memungkinkan kita untuk merespon
secara cepat terhadap situasi yang tidak diduga.

Detail dapat merusak adaptasi

Dalam praktek bisnis, sikap terlalu percaya terhadap suatu perencanaan yang terlalu detil
kurang baik. Sebuah perencanaan pasti akan menemukan permasalahan, dan apabila rencana
kegiatan tersebut terlalu kaku, maka akan menghambat dalam proses implementasinya. Adaptasi
tidak dimaksudkan untuk membangun sebuah strategi baru dalam model perencanaan yang telah
disusun, melainkan kemampuan untuk menanggapi suatu situasi apabila terjadi permasalahan
melalui proses bepikir strategis.

Penyusunan perencanaan terkadang membutuhkan revisi seiring kita melakukan


penerapan. Seperti yang diketahui bahwa dalam dunia bisnis, kita berhadapan pada sebuah situasi
yang selalu tidak tentu, selalu berubah-ubah, dan memiliki informasi yang tidak akurat. Sehingga
jita arus mampu beradaptasi secara strategis dalam menghadapai lingkungan dan siuasi yang tidak
tentu.
Chapter 26

Pengembangan Lima Atribut

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperkuat berpikir strategis, dari pendekatan
pengalaman yang tidak menekankan seni dan budaya serta proses reflektif dalam pendekatan
pengembangan yang digunakan sebagai kurikulum untuk sekolah bisnis. Dalam kombinasinya
akan ditekankan pada analisis, logika, berpikir linier, kemudian dengan pendekatan praktis dan
komprehensif sebagai pemenuhan kebutuhan organasisasi pada berpikir strategis.

Seni Untuk Penyelamatan

partisipasi dan pengalaman dalam pengembangkan berpikir strategis tidak memiliki


hubungannya bakat artistic. Hanya saja artistik diperlukan untuk mengembangkan lima atribut dan
refleksi kritis untuk proses berpikir strategis. Selain itu, itu seni dalam pengalaman juga membuka
pintu persepsi yang luas.

Pengalaman yang luas dapat membuka, menambah dan memperluas cakrawala sebagai
salah satu yang paling komprehensif dan berpengaruh pada berpikir strategis. Untuk belajar
berpikir strategis bukan hanya diperkuat untuk berpartisipasi dalam seni, tetapi juga harus
dihubungkan dengan refleksi kritis dalam kerangka yang bermanfaat. Kita dapat belajar seni
dengan pengalaman melakukan, fotografi, lukisan, menulis, bernyanyi, memainkan alat musik.
Kita juga bisa belajar pengalaman dan seni pada awal abad 20 tentang seni dan budaya, memonton
okresta, tarian, membaca novel, melihat drama. Secara alami, apa yang telah kita lakukan dengan
aktivitas seni menambah wawasan dan pengalaman serta memberikan kontribusi pengetahuan kita
dimana kita dapat mengambil dari sisi yang kita percaya. Kita menemukan beberapa karakter
tertentu dan tindakan menurut kita apa yang dapat kita pelajari dari hal seni tersebut. Kemudian
hal ini akan membentuk asumsi-asumsi dan menjadi keyakinan dimana kita mengambil tindakan
dan membuat keputusan-keputusan strategis.

Pikiran yang nonlinear, tidak rasional, berpikir divergen atau konvergen, dialog kritis, dan
refleksi kritis semua datang secara tidak sadar ketika kita menikmati suatu pengalaman seni
sebagaimana saat menikmati drama, novel, atau film. Dengan menikmati kesenian tersebut kita
mampumerasakan dan terkadang terbawa akan perasaa tertentu. Kita secara tidak sadar telah
membangun analogi dan asumsi sehingga hal ini dapat sebagai fasilitas belajar pengalaman dengan
masalah strategi.

Manfaat yang Terikat dalam Seni

Melalui partisipasi seni kita dapat memperluas perspektif kita, membuat koneksi, melihat
hubungan yang tidak biasa, berpikir dengan cara baru. Partisipasi dalam seni mendukung
pengembangan lima atribut (imajinasi, luas perspektif, menyulap, tidak ada kontrol, keinginan
untuk menang). Sloan (2006) mengemukakan manfaat tersebut sebaai berikut

 Memperluas perspektif
 Menyetujui dengan banyak kompetisi dalam sekali waktu
 Terlibat imajinasi
 Pengalaman ketegangan
 Memberikan perhatian kepada hal-hal yang tidak dapat kita kontrol
 Mengembangkan kesadaran emosional
 Berurusan dengan paradoks
 Menerima Informasi yang didapat
 Mengambil resiko
 Belajar disiplin
 Menghargai praktik
 Mempelajari proses kreatif melalui teknik
Daftar Pustaka

Sloan, Julia, 2006. Learning to Thinkg Strategically. USA: Butterworth-Heinemann