Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan

waktu % Q tablet 200 mg


(menit) F1 F2 F3 F4
5 54 68,64 11,86 1,35
10 68 76,78 14,56 1,39
15 78 79,63 15,56 1,43
20 75 80,2 18,17 1,57
25 76 81,48 21,78 1,71
30 72,24 82,95 23,42 1,79
35 70 84,51 24,45 1,84
40 73,4 85,64 24,45 1,98
45 75 87,91 25,64 2,12

100
90
80
70
60 % Q tablet 200 mg F1

50 % Q tablet 200 mg F2

40 % Q tablet 200 mg F3

30 % Q tablet 200 mg F4
20
10
0
0 10 20 30 40 50

4.2 Pembahasan
Pada percobaan kali ini dilakukan uji disolusi pada tablet ibuprofen dengan melihat
pengaruh formulasi tablet (bahan pengisi, pengikat, penghancur, penyalut dan peningkat
kelarutan) kecepatan disolusi. Pengujian dilakukan dengan membandingkan hasil uji disolusi
dari 4 macam formula tablet ibuprofen dengan variasi kadar natrium lauril sulfat (f1= 0%, f2=
0,5%, f3= 1%, f4= 1,5%).
Dari data yang diperoleh terlihat bahwa nilai % disolusi pada formula 1 (f1) ada yang
naik kemudian turun kembali di selang 30 menit setelahnya namun pada menit ke 45 % disolusi
mencapai 75%, pada formula 2 (f2) % disolusi meningkat seiring bertambahnya waktu, dan
pada menit ke 45 % disolusi mecapai 87,91%, pada formula 3 (f3) % disolusi meningkat seiring
bertambahnya waktu namun sampai menit ke 45 hanya mencapai 25,64 % sementara pada
formula 4 (f4) % disolusi meningkat seiring bertambahnya waktu namun sampai menit ke 45
hanya mencapai 2,12%.

Dari hasil tersebut seharusnya % disolusi meningkat seiring bertambahnya waktu dan
mencapai 75% di menit 45 sesuai persyaratan uji disolusi, dan yang mencapai persyaratan
tersebut hanya diperoleh pada formula 2 dimana % disolusi meningkat seiring bertambahnya
waktu dan pada menit ke 45 % disolusi mecapai 87,91%, sementara pada formula 1 walau pada
menit ke 45 mencapai 75% namun terjadi naik turunnya kosentrasi padda menit 30, sementara
pada formula 3, dan 4 tidak memenuhi persyaratan.

Dimana seharusnya terjadi peningkatan atau perbaikan % disolusi dari formula 1 ke


formula 4 yang seanding dengan penambahan natrium lauril sulfat sebagai surfaktan yang
dapat meningkatkan pembasahan dan laju disolusi Hal ini dapat terjadi disebabkan karena
faktor pengikat dan disintegran. Dimana bahan pengikat dan disintegran mempengaruhi kuat
tidaknya ikatan partikel-partikel dalam tablet tersebut sehingga mempengaruhi pula
kemudahan cairan untuk masuk berpenetrasi ke dalam lapisan difusi tablet menembus ikatan-
ikatan dalam tablet tersebut. Dalam hal ini pemilihan bahan pengikat dan disintegran dan bobot
dari penggunaan bahan pengikat dan disintegran sangat berpengaruh terhadap laju disolusi.
Selain itu penyebab lain yang mungkin adalah formulasi dari sediaan tablet yang kurang baik.

Faktor formulasi yang mempengaruhi laju disolusi diantaranya kecepatan disintegrasi,


interaksi obat dengan eksipien (bahan tambahan) dan kekerasan. Faktor lain yang
menyebabkan hasil percobaan tidak akurat adalah kecepatan pengadukan saat uji. Pengadukan
mempengaruhi penyebaran partikel-partikel dan tebal lapisan difusi sehingga memperluas
permukaan partikel yang kontak dengan pelarut. Semakin lama kecepatan pengadukan maka
laju disolusi akan semakin tinggi. Pada percobaan ini kecepatan pengadukannya rendah
sehingga % disolusi yang dihasilkan pun rendah. Selain itu Faktor-faktor kesalahan yang
mungkin mempengaruhi hasil yang diperoleh antara lain: suhu larutan disolusi yang tidak
konstan, ketidaktepatan jumlah dari medium disolusi, setelah dipipet beberapa ml, terjadi
kesalahan pengukuran pada waktu pengambilan sampel menggunakan pipet volume, terdapat
kontaminasi pada larutan sampel, suhu yang dipakai tidak tepat.