Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

STROKE HEMORAGIK

A. Pengertian Stroke Hemoragik

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang

cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang

berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya

penyebab lain yang jelas selain vaskular (Muttaqin, 2008).

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di

otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke

hemoragik antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa.

Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga

terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Muttaqin, 2008).

Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga

menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu

daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2009).

B. Etiologi

Menurut Batticaca (2008; 56), Stroke hemoragik umumnya disebabkan

oleh adanya perdarahan intracranial dengan gejala peningkatan tekana darah

systole > 200 mmHg pada hipertonik dan 180 mmHg pada normotonik,

bradikardia, wajah keunguan, sianosis, dan pernafasan mengorok. Penyebab

stroke hemoragik, yaitu :

1. Kekurangan suplai oksigen yang menuju otak.

2. Pecahnya pembuluh darah di otak karena kerapuhan pembuluh darah otak.

3. Adanya sumbatan bekuan darah di otak.

1
C. Manifestasi Klinis

Gejala stroke hemoragik bervariasi tergantung pada lokasi pendarahan dan

jumlah jaringan otak yang terkena. Gejala biasanya muncul tiba-tiba, tanpa

peringatan, dan sering selama aktivitas. Gejala mungkin sering muncul dan

menghilang, atau perlahan-lahan menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.

Gejala stroke hemoragik bisa meliputi:

1. Perubahan tingkat kesadaran (mengantuk, letih, apatis, koma).

2. Kesulitan berbicara atau memahami orang lain.

3. Kesulitan menelan.

4. Kesulitan menulis atau membaca.

5. Sakit kepala yang terjadi ketika berbaring, bangun dari tidur, membungkuk,

batuk, atau kadang terjadi secara tiba-tiba.

6. Kehilangan koordinasi.

7. Kehilangan keseimbangan.

8. Perubahan gerakan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti kesulitan

menggerakkan salah satu bagian tubuh, atau penurunan keterampilan

motorik.

9. Mual atau muntah.

10. Kejang.

11. Sensasi perubahan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti penurunan sensasi,

baal atau kesemutan.

12. Kelemahan pada salah satu bagian tubuh.

D. Patofisiologi

Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam

arteri-arteri yang membentuk sirkulus Willisi : arteria karotis interna dan sistem

vertebrobasilar atau semua cabang-cabangnya. Apabila aliran darah ke jaringan

otak terputus selama 15-20 menit maka akan terjadi infark atau kematian jaringan.

2
Akan tetapi dalam hal ini tidak semua oklusi di suatu arteri menyebabkan infark di

daerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut. Mungkin terdapat sirkulasi

kolateral yang memadai di daerah tersebut. Dapat juga karena keadaan penyakit

pada pembuluh darah itu sendiri seperti aterosklerosis dan trombosis atau

robeknya dinding pembuluh darah dan terjadi peradangan, berkurangnya perfusi

akibat gangguan status aliran darah misalnya syok atau hiperviskositas darah,

gangguan aliran darah akibat bekuan atau infeksi pembuluh ektrakranium dan

ruptur vaskular dalam jaringan otak. (Sylvia A. Price dan Wilson, 2006)

E. Komplikasi

Menurut Batticaca (2008; 60)

1. Gangguan otak yang berat.

2. Kematian bila tidak dapat mengontrol respons pernafasan atau kardiovaskular.

F. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Batticaca (2008; 60), Pemeriksaan penunjang diagnostik yang

dapat dilakukan adalah :

1. Laboratorium : darah rutin, gula darah, urine rutin, cairan serebrospinal,

analisa gas darah, biokimia darah, elektolit.

2. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan dan juga

untuk memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya

infark.

3. Ultrasonografi Doppler : mengidentifikasi penyakit arteriovena ( masalah

sistem arteri karotis ) .

4. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik

seperti perdarahan atau obstruksi arteri.

5. MRI ( magnetic resonance imaging ) : menunjukan daerah yang mengalami

infark, hemoragik ).

6. EEG ( elektroensefalogram ) : memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

3
7. Sinar-X tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal

daerah yang berlawanan dari masa yang meluas; klasifikasi karotis interna

terdapat pada trombosit serebral ; klasifikasi parsial dinding aneurisma pada

perdarahan subarachnoid.

G. Penatalaksanaan Medis

( Sylvia dan Lorraine, 2006 ). Penatalaksanaan penderita dengan stroke

hemoragik adalah sebagai berikut :

1. Posisi kepala dan badan atas 20 – 30 derajat, posisi miring apabila muntah

dan boleh mulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil.

2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu

diberikan oksigen sesuai kebutuhan.

3. Tanda – tanda vital diusahakan stabil.

4. Bed rest.

5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia.

6. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu kateterisasi.

8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari

penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonok.

9. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau cairan suction berlebih yang

dapat meningkatkan TIK.

10. Nutrisi peroral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. apabila

kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.

H. Penatalaksanaan

spesifiknya yaitu dengan pemberian obat neuroprotektor, antikoagulan,

trombolisis intraven, diuretic, antihipertensi, dan tindakan pembedahan,

menurunkan TIK yang tinggi.

4
I. Pengkajian Fokus

1. Identitas klien

Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, status, suku, agama, alamat,

pendidikan, diagnosa medis, tanggal MRS, dan tanggal pengkajian diambil.

2. Keluhan utama

Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah

kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat

berkomunikasi, dan penurunan tingkat kesadaran.

3. Riwayat penyakit sekarang

Serangan stroke hemoragik sering kali berlangsung sangat mendadak, pada

saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual,

muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan

separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.

Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran disebabkan

perubahan di dalam intrakranial. Keluhan perubahan perilaku juga umum

terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi latergi, tidak responsif,

dan koma.

4. Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia,

riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat – obat

antib koagulan, aspirin, vasodilator, obat – obat adiktif, kegemukan.

Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering digunakan klien, seperti

pemakaian antihipertensi, antilipidemia, penghambat beta, dan lainnya.

Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat

kontrasepsi oral. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari

riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih

jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.

5
5. Riwayat penyakit keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes melitus,

atau adanya riwayat stroke dan generasi terdahulu.

6. Riwayat psikososiospiritual

Pengkajian psikologis klien stroke meliputi beberapa dimensi yang

memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai

status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Pengkajian mekanisme koping

yang digunakan klien juga penting untuk menilai respons emosi klien

terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga

dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-

harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Apakah ada dampak

yang timbul pada klien yaitu timbul seperti ketakutan akan kecemasan, rasa

cemas, rasa tidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan

pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).

7. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum

Mengalami penurunan kesadaran, suara bicara : kadang mengalami

gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara/ afaksia. Tanda

– tanda vital : TD meningkat, nadi bervariasi.

a. B1 (breathing)

Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum,

sesak napas, penggunaan obat bantu napas, dan peningkatan frekuensi

pernapasan. Pada klien dengan tingkat kesadaran compas mentis,

peningkatan inspeksi pernapsannya tidak ada kelainan. Palpasi toraks

didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak

didapatkan bunyi napas tambahan.

6
b. B2 (blood)

Pengkajian pada sistem kardiovaskulardidapatkan renjatan (syok

hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke. Tekanan darah

biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif

(tekanan darah >200 mmHg.

c. B3 (Brain)

Stroke yang menyebabkan berbagai defisit neurologis, tergantung

pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area

yang perfusinya tidak adekuat, dan aliran darah kolateral (sekunder

atau aksesori). Lesi otak yang rusak dapat membaik sepenuhnya.

Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih

lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.

d. B4 (Bladder)

Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinesia urine sementara

karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan

ketidakmampuan untuk mengendalikan kandunf kemih karena

kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang kontrol sfingter urine

eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan

kateterisasi intermiten dengan teknik steril. Inkontinesia urine yang

berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.

e. B5 (Bowel)

Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun,

mual muntah pada pasien akut. Mual sampai muntah disebabkan oleh

peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah

pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat

penurunan peristaltik usus. Adanya inkontinesia alvi yang berlanjut

menunjukkan kerusakan neurologis luas.

7
f. B6 (Bone)

Pada kulit, jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika

kekurangan cairan maka turgor kulit akan buruk. Selain itu, perlu juga

tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena

klien stroke mengalami masalah mobilitas fisik. Adanya kesulitan

untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau

paralise/hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan masalah pada

pola aktivitas dan istirahat.

2) Pengkajian tingkat kesadaran

Pada klien lanjut usia tingkat kesadaran klien stroke biasanya berkisar

pada tingkat latergi, stupor, dan semikomantosa.

3) Pengkajian fungsi serebral

Pengkajian ini meliputi status mental, fungsi intelektual, kemampuan

bahasa, lobus frontal, dan hemisfer.

4) Pengkajian saraf kranial

Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.

5) Pengkajian sistem motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan / kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

6) Pengkajian refleks

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah

beberapa hari refleks fisiologi akan muncul kembali di dahului dengan

refleks patologis.

7) Pengkajian sistem sensori

Dapat terjadi hemi hipertensi.

8
J. Diagnosa Keperawatan

(Menurut Doenges 2002)

1. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan gangguan aliran

darah sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial.

2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kehilangan kontrol otot

facial atau oral.

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular

K. Perencanaan Keperawatan

(Menurut Doenges 2002)

1. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan gangguan aliran

darah sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam,

diharapkan Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal.

Kriteria hasil :

- Klien tidak gelisah

- Tidak ada keluhan nyeri kepala, mual, kejang.

- GCS 456

- Pupil isokor, reflek cahaya (+)

- Tanda-tanda vital normal(nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C,

Pernafasan 16-20 kali permenit).

Intervensi :

1) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab

peningkatan TIK dan akibatnya

Rasional : Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan

2) Anjurkan kepada klien untuk bed rest total

Rasional : Untuk mencegah perdarahan ulang

9
3) Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelainan tekanan intrakranial

tiap 2 Jam.

Rasional : Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara

dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat.

4) Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 dengan letak jantung ( beri

bantal tipis)

Rasional : Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan drainage

vena dan memperbaiki sirkulasi serebral.

5) Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan

Rasional : Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra

kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang

6) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjunng

Rasional : Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan

kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenangan mingkin diperlukan untuk

pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik /

perdarahan lainnya.

7) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor

Rasional : Memperbaiki sel yang masih viabel.

2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kehilangan kontrol otot

facial atau oral.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam

diharapkan kerusakan komunikasi verbal klien dapat teratasi.

Kriteria hasil :

- Menerima pesan-pesan melalui metode alternatif (mis; komunikasi

tertulis, bahasa isyarat, bicara dengan jelas pada telinga yang baik).

- Memperlihatkan suatu peningkatan kemampuan berkomunikasi.

- Meningkatkan kemampuan untuk mengerti.

10
- Mengatakan penurunan frustrasi dalam berkomunikasi.

- Mampu berbicara yang koheren.

- Mampu menyusun kata – kata/ kalimat.

Intervensi :

1) Kaji tipe/derajat disfungsi, seperti pasien tidak tampak memahami kata

atau mengalami kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri.

Rasional : Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan

serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam beberapa atau seluruh

tahap proses komunikasi. Pasien mungkin mempunyai kesulitan

memahami kata yang diucapkan; mengucapkan kata-kata dengan

benar; atau mengalami kerusakan pada kedua daerah tersebut.

2) Bedakan antara afasia dengan disartria.

Rasional : Intervensi yang dipilih tergantung pada tipe kerusakannya.

Afasia adalah gangguan dalam menggunakan dan menginterpretasikan

simbol-simbol bahasa dan mungkin melibatkan komponen sensorik

dan/atau motorik, seperti ketidakmampuan untuk memahami

tulisan/ucapan atau menulis kata, membuat tanda, berbicara. Seseorang

dengan disartria dapat memahami, membaca, dan menulis bahasa

tetapi mengalami kesulitan membentuk/mengucapkan kata sehubungan

dengan kelemahan dan paralisis dari otot-otot daerah oral.

3) Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik.

Rasional : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau

ucapan yang keluar dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang

diucapkannya tidak nyata. Umpan balik membantu pasien

merealisasikan kenapa pemberi asuhan tidak mengerti/berespon sesuai

dan memberikan kesempatan untuk mengklarifikasikan isi/makna yang

gterkandung dalam ucapannya.

11
4) Mintalah pasien untuk mengikuti perintah sederhana (seperti “buka

mata,” “tunjuk ke pintu”) ulangi dengan kata/kalimat yang sederhana.

Rasional : Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik

(afasia sensorik).

5) Tunjukkan objek dan minta pasien untuk menyebutkan nama benda

tersebut.

Rasional : Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik

(afasia motorik), seperti pasien mungkin mengenalinya tetapi tidak

dapat menyebutkannya.

6) Mintalah pasien untuk mengucapkan suara sederhana seperti “Sh” atau

“Pus”

Rasional : Mengidentifikasikan adanya disartria sesuai komponen

motorik dari bicara (seperti lidah, gerakan bibir, kontrol napas) yang

dapat mempengaruhi artikulasi dan mungkin juga tidak disertai afasia

motorik.

7) Minta pasien untuk menulis nama dan/atau kalimat yang pendek. Jika

tidak dapat menulis, mintalah pasien untuk membaca kalimat yang

pendek

Rasional : Menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan

dalam membaca yang benar (aleksia) yang juga merupakan bagian dari

afasia sensorik dan afasia motorik.

8) Tempatkan tanda pemberitahuan pada ruang perawat dan ruangan

pasien tentang adanya gangguan bicara. Berikan bel khusus bila perlu.

Rasional : Menghilangkan ansietas pasien sehubungan dengan

ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dan perasaan takut bahwa

kebutuhan pasien tidak akan terpenuhi dengan segera. Penggunaan bel

12
yang diaktifkan dengan tekanan minimal akan bermanfaat ketika

pasien tidak dapat menggunakan system bel regular.

9) Berikan metode komunikasi alternative, seperti menulis di papan tulis,

gambar. Berikan petunjuk visual (gerakan tangan, gambar-gambar,

daftar kebutuhan, demonstrasi).

Rasional : Memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan

keadaan/deficit yang mendasarinya.

10) Katakan secara langsung dengan pasien, bicara perlahan, dan dengan

tenang. Gunakan pertanyaan terbuka dengan jawaban “ya/tidak,”

selanjutnya kembangkan pada pertanyaan yang lebih kompleks sesuai

dengan respons pasien.

Rasional : Menurunkan kebingungan/ansietas selama proses

komunikasi dan berespons pada informasi yang lebih banyak pada satu

waktu tertentu. Sebagai proses latihan kembali untuk lebih

mengembangkan komunikasi lebih lanjut dan lebih kompleks akan

menstimulasi memori dan dapat meningkatkan asosiasi ide/kata.

11) Hargai kemampuan pasien sebelum terjadi penyakit; hindari

“pembicaraan yang merendahkan” pada pasien atau membuat hal-hal

yang menentang kebanggaan pasien.

Rasional : Kemampuan pasien untuk merasakan harga diri, sebab

kemampuan intelektual pasien seringkali tetap baik.

12) Kolaborasi : Konsultasikan dengan/rujuk kepada ahli terapi wicara.

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular.

Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan 2x 24 jam diharapkan

mobilisasi klien mengalami peningkatan.

Kriteria hasil:

- mempertahankan posisi optimal,

13
- mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang

terserang hemiparesis dan hemiplagia.

- mempertahankan perilaku yang memungkinkan adanya aktivitas.

Intervensi :

1) Kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dan dengan

cara yang teratur.

Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat

memberikan informasi mengenai pemulihan. Bantu dalam pemilihan

terhadap intervensi sebab teknik yang berbeda digunakan untuk

paralisis spastik dengan flaksid.

2) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang,miring) dan sebagainya

dan jika memungkinkan bisa lebih sering jika diletakkan dalam posisi

bagian yang terganggu.

Rasional : Menurunkan risiko terjadinya trauma/iskemia jaringan.

Daerah yang terkena mengalami perburukan/sirkulasi yang lebih jelek

dan menurunkan sensasii dan lebih besar menimbulkan kerusakan pada

kulit/ dekubitus.

3) Letakkan pada posisi telungkup satu kali atau dua kali sekali jika pasien

dapat mentoleransinya.

Rasional : Membantu mempertahankan ekstensi pinggul

fungsional;tetapi kemungkinan akan meningkatkan ansietas terutama

mengenai kemampuan pasien untuk bernapas.

4) Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua

ekstremitas saat masuk. Anjurkan melakukan latihan sepeti latihan

quadrisep/gluteal, meremas bola karet, melebarkan jari-jari

kaki/telapak.

14
Rasional : Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi,

membantu mencegah kontraktur. Menurunkan risiko terjadinya

hiperkalsiuria dan osteoporosis jika masalah utamanya adalah

perdarahan. Catatan: Stimulasi yang berlebihan dapat menjadi pencetus

adanya perdarahan berulang.

5) Sokong ekstremitas dalam posisi fungsionalnya, gunakan papan kaki

(foot board) seelama periode paralisis flaksid. Pertahankan posisi

kepala netral.

Rasional : Mencegah kontraktur/footdrop dan memfasilitasi

kegunaannya jika berfungsi kembali. Paralisis flaksid dapat

mengganggu kemampuannya untuk menyangga kepala, dilain pihak

paralisis spastik dapat meengarah pada deviasi kepala ke salah satu sisi.

6) Tempatkan bantal di bawah aksila untuk melakukan abduksi pada

tangan.

Rasional : Mencegah adduksi bahu dan fleksi siku.

7) Tempatkan ”handroll’ keras pada teelapak tangan dengan jari – jari dan

ibu jari saling berhadapan.

Rasional : Alas/dasar yang keras menurunkan stimulasi fleksi jari-jari,

mempertahankan jari-jari dan ibu jari pada posisi normal (posisi

anatomis).

8) Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi.

Rasional : Mempertahankan posisi fungsional.

9) Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk (seperti

meninggikan bagian kepala tempat tidur, bantu untuk duduk di sisi

tempat tidur, biarkan pasien menggunakan kekuatan tangan untuk

menyokong berta badan dan kaki yang kuat untuk memindahkan kaki

yang sakit; meningkatkan waktu duduk) dan keseimbangan dalam

15
berdiri (seperti letakkan sepatu yang datar;sokong bagian belakang

bawah pasien dengan tangan sambil meletakkan lutut penolong diluar

lutut pasien;bantu menggunakan alat pegangan paralel dan walker).

Rasional : Membantu dalam melatih kembali jaras saraf, meningkatkan

respon proprioseptik dan motorik.

10) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan

menggunakan ekstremitas yang tidak sakit untuk menyokong/

menggerakkan daerah tubuh yang mengalami kelemahan.

Rasional : Mungkin diperlukan untuk menghilangkan spastisitas pada

ekstremitas yang terganggu.

11) Kolaborasi

o Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latiahn resistif,

dan ambualsi pasien.

o Bantulah dengan stimulasi elektrik, seperi TENS sesuai indikasi.

o Berikan obat relaksan otot, antispasmodik sesuai indikasi seperti

baklofen dan trolen

16
DAFTAR PUSTAKA

Adib.M. 2009. Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi Jantung dan
Stroke. Yogyakarta : Dianloka.
Batticaca Fransisca, C. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan

Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika

Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 2000, Rencana Asuhan

Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan

Pasien (terjemahan), Alih bahasa. I Made Kariasa dan Ni Made Sumarwati, Edisi

3. Jakarta : EGC.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta : Salemba Medika
Price, A. Sylvia, Lorraine Mc. Carty Wilson, 2006, Patofisiologi. Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit, Edisi 6, (terjemahan). Peter Anugrah. Jakarta : EGC.

17