Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Auditor merupakan salah satu profesi yang memiliki pengaruh cukup signifikan
di dunia bisnis. Suatu perusahaan dapat dinyatakan go public atau bahkan dapat
dinyatakan tutup hanya disebabkan oleh opini dari seorang auditor. Opini audit
merupakan pernyataan atau laporan yang diberikan oleh akuntan publik terdaftar sebagai
bentuk dari hasil penilaiannya atas kewajaran laporan keuangan yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan yang diauditnya. Opini audit juga memiliki pengertian sebagai suatu
laporan yang diberikan oleh auditor terdaftar yang menyatakan bahwa pemeriksaan telah
dilakukan sesuai dengan norma atau aturan pemeriksanaan akuntan disertai dengan
pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa. Tetapi, Bagaimana
jadinya apabila suatu laporan atau opini audit tersebut tidak sesuai dengan realitanya?
Bagaimana jadinya apabila seorang auditor disuap untuk membuat opini audit yang tidak
sesuai dengan realitanya?
Akhir-akhir ini muncul berita mengarah adanya indikasi kasus yang melibatkan
Kemendes dan Auditor BPK. Hingga saat ini kasus tersebut belum selesai di ranah
pengadilan atau masih dalam proses penyelesaian hukum. Diketahui bahwa terdapat
seorang auditor BPK, yang beratas namakan Auditor Sektor Publik disuap oleh pihak
Kemendes.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sikap auditor saat melaksanakan tugasnya sehingga menimbulkan
indikasi adanya kasus suap?
2. Bagaimana sikap auditor yang semestinya harus dilakukan dalam menjalankan
tugasnya ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Studi Kasus
Berita 1 :
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro
Sandjojo mengaku tidak tahu soal Unit Kerja Eselon (UKE) I saweran Rp 240 juta untuk
diberikan ke auditor BPK. Eko mengaku tidak mendapat laporan itu karena dikenal tegas
berkomitmen antikorupsi di kementeriannya.
"Apakah saudara mengetahui berdasarkan proses pemeriksaan audit Januari sampai Mei 2017
kemudian dilakukan pengumpulan-pengumpulan sejumlah uang dari Unit Eselon I masing-
masing Rp 50 juta. Saudara tahu itu," tanya jaksa pada KPK Kresno Antowibowo di PN
Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (20/9/2017).
"Tidak tahu," jawab Eko.

Eko yang dihadirkan sebagai saksi terdakwa eks Irjen Kemendes Sugito itu mengaku tidak
mendapat laporan dari bawahannya. Pasalnya dia mengaku dikenal keras terkait korupsi
apalagi kinerja.
"Saya yakin pegawai saya tidak ada yang berani melaporkan hal itu pada saya karena saya
terkenal berintegritas, performance, dan team work," ujar Eko.
"Saya rasa nggak pernah ada kementerian yang mem-PHK 800 orang seperti saya ini. Kalau
saya ada cacat pasti saya akan dicari-cari kesalahannya," sambungnya.

Eko menambahkan selama dia bertugas telah banyak melakukan pembenahan di


kementeriannya. Dia kemudian memaparkan prestasinya.
"Eselon I saya ganti, separuh eselon II 80 persen saya rotate 12 saya berhentikan, eselon III
dan IV 300 rotate karena saya lakukan pembenahan di kementerian ini. Kementerian kita
menjadi salah satu yang terbaik, penyerapan anggaran naik dari ranking 78 ke 15 atau dari 69
persen ke 94 persen," urainya.
"Tata kelola meningkat dari nomor 2 paling jelek menjadi 6. Rapor Kemenpan naik dari CC
ke B, " tambah Eko.
Eko juga mengaku tidak mendapatkan laporan soal anggaran operasional maupun terkait
Opini WTP dari Sekjen Kemendes Anwar Sanusi.
"Tidak ada," kata Eko.

2
Dalam kasus ini, Irjen Kemendes Sugito dan Kepala Bagian TU dan Keuangan Itjen Jarot
Budi didakwa menyuap auditor BPK, Rochmadi Saptogiri dan Ali Sadli. Duit suap Rp 240
juta berasal dari saweran 9 UKE I Kemendes dan duit pribadi Jarot Budi untuk diberikan ke
auditor BPK terkait opini WTP.

Berita 2 :
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo
mengaku pernah bertemu dengan auditor BPK Choirul Anam. Namun pertemuan itu bukan
untuk mencari tahu bocoran hasil audit BPK, melainkan untuk meminta konfirmasi kabar
Kemendes mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP).
"Choirul Anam bertemu sekali. Dia pernah menemui saya setelah berita di media saya
(Kemendes PDTT) dapat WTP saya tanya ke Pak Gito (Sugito). Pak Gito nggak tahu, saya
ditemukan dengan Pak Anam. Pak Anam bertanya kelihatannya Kemendes bisa WTP," kata
Eko saat bersaksi di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu
(20/9/2017).

Eko, yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa eks Irjen Kemendes Sugito, mengatakan
pertemuan dengan Anam berlangsung di ruangannya. Dia menyebut pertemuan itu tak
berlangsung lama.
"Pertemuannya kalau nggak salah 5 menit, setelah Bu Menteri (Sri Mulyani) mengumumkan
WDP, WTP, dan disclaimer. Pertemuan di ruangan saya," ucapnya.

Eko membantah bila disebut mengetahui hasil audit BPK sebelum resmi dirilis. Eko
menyebut pertemuannya dengan Anam merupakan inisiatif dari Sugito, karena untuk
menanyakan kabar tersebut.
"Di medsos juga ramai dibicarakan ada beberapa kementerian yang mendapat WTP, WDP,
atau disclaimer," kata Eko.

Sebelumnya dalam dakwaan, nama Ketua Subtim I Pemeriksa BPK Choirul Anam disebut
menyarankan agar Sekjen Kemendes Anwar Sanusi dan Irjen Kemendes Sugito memberi
sejumlah uang ke auditor utama BPK Rochmadi dan Ali Sadli. Permintaan itu muncul saat
pertemuan akhir April 2017 di ruangan Sekjen kantor Kemendes PDTT Jalan TMP Kalibata

3
No 17, Jakarta Selatan. Kode yang digunakan ialah, "Itu Pak Ali dan Pak Rochmadi, tolong
atensinya."

Anwar kemudian menanyakan nilai nominal yang harus diberikan dan Chorul Anam
menjawab, "Sekitar Rp 250 juta." Atas hal itu, Anwar kemudian meminta Sugito
memenuhinya.

Dalam kasus ini, Irjen Kemendes Sugito dan Kepala Bagian TU dan Keuangan Itjen Jarot
Budi didakwa menyuap auditor BPK, Rochmadi Saptogiri dan Ali Sadli. Duit suap Rp 240
juta berasal dari saweran 9 unit kerja eselon I dan uang pribadi Jarot terkait opini WTP.

Sugito dan Jarot didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 juncto Pasal 55
ayat 1 ke-1 KUHP.

Berita 3 :
Auditor BPK Danang Kurnianto membantah bila dikatakan menikmati biaya perjalanan dari
Kemendes saat audit. Danang menyebut perjalanan ke Banten dibiayai kantornya.
"Apakah ada biaya yang ditalangi Kemendes," tanya jaksa pada KPK Muhammad Takdir di
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu
(20/9/2017).
"Tidak ada," jawab Danang, yang bersaksi untuk eks Irjen Kemendes Sugito serta Kepala
Bagian TU dan Keuangan Itjen Jarot Budi Prabowo.
Danang merupakan anggota auditor BPK tim Andi Bonanganom, yang melakukan audit
pelaporan keuangan Kemendes. Dia ditugaskan untuk melakukan audit dengan sampling di
Banten.
Selama di persidangan, Danang berkeras membiayai perjalanan dinasnya menggunakan uang
kantor. Jaksa kemudian menunjukkan bukti kuitansi tertanggal 22-23 Februari di sebuah hotel
yang berada di Banten.
"Oke, kita punya barang bukti (kuitansi) Marbella Hotel atas nama Danang Kurnianto,
perusahaan Kemendes. Jumlahnya Rp 900 ribu, saksi mengakui," tanya Takdir.
"Saya bayar sendiri. Tapi muncul bill ini," jawab Danang.

4
Danang masih mengelak menerima fasilitas dari Kemendes saat menjalankan tugasnya. Jaksa
masih mencecarnya dengan barang bukti kuitansi tersebut.
"(Kalau bayar sendiri) tapi (kuitansinya) kok dobel," tanya Takdir.
"Nggak tahu saya. Saya bayar sendiri, jadi saya punya SPJ sendiri di kantor saya," kilah
Danang.
Dalam sidang Rabu (23/8) sebelumnya, pejabat unit kerja eselon UKE) I Kemendes PDTT
mengakui ramai-ramai mengumpulkan saweran Rp 240 juta sebagai ucapan terima kasih
untuk auditor BPK. Selain memberikan uang itu, UKE I Kemendes menanggung akomodasi
tim auditor BPK saat survei.
Jumlah yang disetorkan tiap UKE I itu bervariasi, sebesar Rp 10-35 juta. Alasannya, daerah
sampling yang dikunjungi auditor BPK termasuk daerah sulit. Pemberian uang itu pun
disepakati semua pihak karena tak ada paksaan.
"Tidak ada (penentuan uang). Saya rasa semua setuju karena tidak berdasar paksaan," kata
Sekretaris Ditjen PKP2Trans Kemendes PDTT Putut Edi Sasono.
Dalam kasus ini, Sugito dan Jarot Budi didakwa menyuap auditor BPK, Rochmadi Saptogiri
dan Ali Sadli. Duit suap Rp 240 juta diberikan terkait opini WTP.
Sugito dan Jarot didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 juncto Pasal 55
ayat 1 ke-1 KUHP.
Jaksa pada KPK menunjukkan adanya nota dinas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi soal audit pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) periode
2015 dan semester I/2016. Rupanya temuan tak wajar honor pendamping desa itu sudah
dilaporkan pada 14 Maret 2017.

Padahal sebelumnya Menteri Desa Eko Putro Sandjojo mengaku menerima laporan audit
PDTT soal honor pendamping desa itu secara lisan.
"Setelah ada media (meliput) persidangan bahwa kita ada Rp 1 triliun. saya panggil dong
dirjen saya," ujar Eko saat bersaksi untuk Irjen Kemendes Sugito di PN Tipikor Jakarta, Jl
Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (20/9/2017).

Jaksa pada KPK Muhammad Takdir kemudian mencecar Eko apakah laporan tersebut dalam
bentuk dokumen. Eko mengatakan laporan itu diterimanya secara lisan.

5
"Irjen saya cuma menjelaskan tahu honorarium pendamping desa itu didekonkan dari pusat.
Itu disampaikan lisan," jawab Eko.
Eko kemudian menjelaskan ketika rapat setiap dirjen memaparkan presentasinya. Soal
laporan honor pendamping desa tahun 2015 dan semester I/2016 itu dia mengaku hanya
mendapat laporan lisan.
"Di situ dipresentasikan dalam bentuk lisan," jelasnya.
"Apakah dalam bentuk nota dinas," tanya Takdir.
"Saya tidak ingat," jawab Eko.

Takdir kemudian membuka dokumen dengan kop Ditjen Pengembangan Pemberdayaan


Masyarakat Desa (PPMD) . Dokumen itu tertulis Nota Dinas dengan nomor surat
029/DPPMD/III/2017.
Surat itu ditujukan untuk Mendes PDTT dari Dirjen PPMD dengan keterangan klarifikasi atas
laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK RI. Salah satu poinnya ialah melaporkan tenaga
pendamping profesional belum melaksanakan kewajibannya dan penggunaan dana desa tidak
sesuai prioritas senilai Rp 1,86 miliar.

Kemudian terdapat honorarium dan bantuan biaya operasional pendamping program


pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa tidak wajar dan tidak bisa diyakini
kebenarannya masing-masing tahun 2015 sebesar Rp 425,19 miliar dan 2016 sebesar Rp
550,47 miliar. Dokumen ini ditandatangani Dirjen Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat
Desa Kemendes Ahmad Erani Yustika.
Ketika dimintai konfirmasi, Eko membenarkan keabsahan dokumen tersebut. Hanya, ia lupa.
"Dokumen ini berarti bener, tapi saya tidak ingat," kata Eko.

Berita 4 :
Jaksa pada KPK mencecar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
(Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo soal adanya arahan kepada Sekjen Kemendes Anwar
Sanusi untuk mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP). Eko mengaku menyampaikan
agar kementeriannya mendapat hasil terbaik.
"Pernah ada penyampaian kepada Sekjen untuk dapat WTP?" tanya jaksa pada KPK
Muhammad Takdir di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu
(20/9/2017).

6
"Ya saya mau kementerian kita yang terbaik. Terbaik WTP ya, WTP. Kita lakukan yang
terbaik. Saya lupa, mungkin WTP ada," jawab Eko.
Eko, yang hadir sebagai saksi untuk eks Irjen Kemendes Sugito, mengaku lupa apakah
arahannya ke Anwar itu menyinggung soal WTP. Dia meminta jaksa untuk
mengingatkannya.
"Nggak inget. Mungkin iya, lebih baik Saudara bantu ingatkan saya daripada Saudara maksa
saya ingat WTP," kata Eko.

Takdir kemudian membacakan dokumen risalah rapat tentang ekspose evaluasi program dan
kegiatan Dirjen PDTT anggaran 2016. Dia kemudian membacakan kutipan arahan dari
Anwar yang ditujukan ke pejabat Kemendes.
"Kutipan Pak Sekjen menyebutkan, 'Sesuai arahan Pak Menteri, kita sudah melakukan
perubahan dan cukup optimis,'" kata Takdir membacakan dokumen tersebut.
"Ya optimistis nggak ada salahnya, ya benar," kata Eko.

Eko kemudian membaca dokumen yang ditunjukkan jaksa. Dia menyebut sebagai pimpinan
wajar saja jika dia meminta hasil terbaik.
"Karena saya mengelola perusahaan sudah sering, Pak. Kalau Bapak jadi pimpinan, mau
yang terbaik," kata Eko.
Kemudian Takdir membacakan poin ketiga isi risalah rapat yang berlangsung pada 20 Januari
2017. Takdir menanyakan soal makna mission: impossible dalam arahan itu.
"Siapa yang bilang mission: impossible. Saya nggak pernah ngomongin mission: impossible.
Di dunia ini tidak ada yang impossible asal kita mau belajar dan bekerja," jelas Eko.

Berikut beberapa arahan dari Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi dalam notulen yang
ditunjukkan jaksa pada KPK dalam persidangan:
1. Sesuai arahan Pak Menteri bahwa kita sudah melakukan perubahan dan cukup optimis dari
perubahan tersebut hasilnya WTP. Fungsi kita sebagai unit yang melaksanakan fungsi
manajemen dan fungsi pengawasan ini yang harus betul-betul mengawal kegiatan dan
program yang berjalan.
2. Dan kita masih dihadapkan pada persoalan-persoalan pengelolaan kegiatan apalagi
pengelolaan anggaran. Terutama kegiatan-kegiatan yang selama dua tahun ini belum sinkron
dengan renstra yang sudah ada, maka itu mulai tahun ini Pak Menteri meminta ada satu unit
khusus untuk me-review kegiatan tersebut dan meminta Pak Irjen agar dilibatkan. mulai dari

7
perencanaan dan terwujud di RKA K/L.
3. Kemarin kita sudah WDP namun tidak usah kita ungkapkan energi yang kita keluarkan
sangat luar biasa untuk bisa mencapai opini WDT tersebut. Namun jika kita terbiasa tertib,
maka tidak akan terasa berat namun jika tidak terbiasa maka akan kesusahan. Keinginan Pak
Menteri harus kita kawal artinya begini bapak2/ibu2, kita jangan menyerah dulu sebelum
permainan selesai, walaupun sepertinya misi kita ini adalah mission: impossible namun kita
ada di sini untuk menyelesaikan masalah itu. Kita jangan berhenti sampai masalah selesai.
4. Sebelum kita dievaluasi orang lain, kita harus melakukan self correction sehingga kita bisa
memperbaiki kesalahan kita. Semua hasil evaluasi tersebut strictly confidential hanya untuk
konsumsi Pak Irjen, Pak Sekjen, Bapak dan Ibu yang ada di ruangan ini.

Berita 5 :
Tim penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya sejak pertengahan Oktober lalu menyidik
kasus penyalahgunaan wewenang oleh penyelidik KPK, Ario Bilowo. Ini merupakan tindak
lanjut atas laporan Ikham Aufar Zuhairi pada 6 Oktober 2017. Aufar adalah anak pejabat
eselon I BPK Rochmadi Saptogiri.
Pada 26 Mei 2017, KPK menangkap tangan Rochmadi bersama auditor BPK Ali Sadli,
pejabat eselon III Kementerian Desa Jarot Budi Prabowo, sekretaris Rochmadi, sopir Jarot,
dan seorang petugas satpam.
Kabar penyidikan ini tertera dalam surat pemberitahuan dimulainya penyelidikan (SPDP) No.
B/6280/X/2017/ tertanggal 13 Oktober 2017 atas nama Ario Bilowo yang didapatkan
detik.com. Mereka mengenakan Pasal 421 tentang tindak pidana penyalahgunaan
kewenangan pada 26 Mei 2017, tapi belum menetapkan tersangka.
"Dengan ini diberitahukan bahwa sejak tanggal 10 Oktober 2017 telah dimulai penyidikan,"
tulis surat tersebut.
Juru bicara KPK Febri Diansyah mengakui Ario Bilowo merupakan salah satu penyelidik
KPK. Namun ia enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai kasus ini. "Ya benar, dia adalah
penyelidik KPK," ujarnya melalui telepon akhir pekan lalu.
Dalam operasi tangkap tangan KPK pada 26 Mei 2017, penyelidik KPK menemukan uang Rp
40 juta. Uang tersebut diketahui sebagai bagian dari total commitment fee sebesar Rp 240 juta
di ruangan Ali Sadli. Sebelumnya, pada awal Mei 2017, diduga telah diserahkan uang Rp 200
juta.

8
Aufar merupakan lulusan Fakultas Ekonomi UI dan aktif mengelola sekolah saham di PT
Lentera Mitra Strategis. Rekan-rekannya yang ditemui menyebutkan sudah sebulan terakhir
Aufar tidak aktif di sekolah saham.
Aktivitasnya di sekolah tersebut menyurut sejak bapaknya ditangkap KPK. Beberapa kali
Aufar menyempatkan diri mampir di PT Lentera Mitra Strategis, namun tak lagi terlibat
aktivitas di perusahaan itu lagi.
Pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya belum memberikan konfirmasi
terkait surat ini. Pesan singkat yang dikirimkan detik.com kepada Kepala Seksi Penerangan
Hukum Kejaksaan Tinggi Dki Jakarta Nirwan Nawawi hanya dijawab dengan akan
dikonfirmasi. Jawaban yang sama juga diberikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya
Kombes Prabowo Argo Yuwono.

Berita 6 :
Deputi Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Apung Widadi
mendesak dilakukannya audit ulang opini wajar tanpa pengecualian (WTP) yang diterima
oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes
PDTT). Hal ini terkait terungkapnya kasus pemberian commitment fee kepada auditor Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK).
Lewat keterangan tertulis yang diterima, Apung, ada tiga alasan soal perlunya audit ulang.
Menurut Apung, Kemendes PDTT sudah dua kali mendapatkan predikat wajar dengan
pengecualian (WDP). Kementerian ini juga mempunyai dana desa yang besar tahun ini.
"Setidaknya, ada 3 alasan perlunya audit ulang. Pertama, dua kali berturut-turut Kemendes
PDTT mendapat predikat WDP. Kedua, indikasi kuat kementerian baru tersebut buruk dalam
tata kelola anggaran dan birokrasi, terutama terkait pengadaan dan belanja perjalanan dinas.
Ketiga, kementerian desa menjadi contoh pemerintahan desa dengan dana desa Rp 40 triliun
tahun ini," kata Apung, Selasa (30/5/2017).

Dia mengatakan, audit ulang harus dilakukan oleh auditor yang berintegritas. Selain itu audit
dilakukan dengan berkolaborasi bersama pihak lain, misalnya akuntan publik atau penyelidik
atau penyidik KPK yang berlatar belakang auditor.
Namun, menurutnya, sebelum audit dilakukan perlu ada pemeriksaan terhadap predikat WTP
yang terindikasi beli tersebut. Hal ini untuk mengetahui bagaimana pengambilan keputusan
tersebut bisa dapat diambil.

9
"Sebelum dilakukan audit perlu terlebih dahulu dieksaminasi publik laporan WTP yang
terindikasi beli tersebut. Agar publik tahu, bagaimana metodologi, sampling hingga
pengambilan kesimpulan. Sehingga terjawab kenapa kok bisa WTP, sampling mana yang
tidak audit padahal bermasalah. Dan apakah tindaklanjut dari laporan WDP sebelumnya
sudah ditindaklanjuti," paparnya.

Catatan FITRA, dari tahun 2014-2015 terdapat 11 temuan BPK, 36 rekomendasi, sementara
17 di antara rekomendasi hingga saat ini belum ditindaklannjuti. Ini membebani tata kelola
dan menjadi catatan audit. Dari temuan-temuan di atas, indikasi korupsi kemungkinan cukup
banyak karena tidak dapat ditindaklanjuti setelah audit.
Apung mencatat, ada beberapa sebab predikat WDP didapatkan Kemendes pada tahun 2015.
Pertama ada utang sebesar Rp 378,46 miliar dari pihak ketiga yang bermasalah, dokumen tak
tersedia. Kedua, Aset Barang Milik Negara (BMN) sebesar Rp 2,54 triliuun tidak didukung
dengan rincian sehingga tidak dapat ditelusuri keberadaannya. Ketiga, akumulasi aset tanah,
peralatan dan barang pengadaan senilai Rp 2,55 triliun tidak didukung rincian dan tidak
diketahui keberadaannya. Terakhir, saldo persediaan barang senilai Rp 3,32 triliun tidak
terinventarisir dengan baik, tidak terdapat bukti yang cukup.

B. Tanggapan Penulis
Berdasarkan berita-berita yang ditampilkan tersebut di atas, diketahui bahwa
terdapat indikasi adanya kasus yang melibatkan tim auditor BPK (Auditor Sektor Publik)
dalam menghasilkan suatu laporan atau opini auditor atas laporan keuangan salah satu
kliennya (dalam hal ini adalah Kementerian yang diauditnya yaitu Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi / Kemendes PDTT).
Sebelum kasus tersebut diulas secara lebih mendalam, terlebih dahulu akan
disampaikan mengenai tugas dan kewajiban yang seharusnya dimiliki dan dilakukan oleh
seorang auditor. Seorang auditor / akuntan publik harus memiliki aturan-aturan etika
antara lain :
1. Independensi
Dalam menjalankan tugasnya seorang akuntan publik / auditor harus menerapkan
sikap independensi baik dalam fakta maupun penampilan
2. Integritas dan Objektivitas
Seorang akuntan publik / auditor harus bebas dari benturan kepentingan dan tidak
boleh membiarkan fakta salah saji material

10
3. Standar Umum
Seorang akuntan publik (auditor) harus mematuhi standar umum yang sudah
ditetapkan oleh IAI

4. Kepatuhan terhadap Standar


Seorang akuntan publik (auditor) dalam melakukan tugas jasa auditing wajib
mematuhi standar yang dikeluarkan oleh IAI
5. Tanggung Jawab Kepada Klien
Seorang auditor / akuntan publik harus bertanggung jawab atas pekerjaannya
terhadap orang atau badan yang mengadakan perikatan dengan KAP tersebut.
6. Tanggung Jawab Kepada Rekan Seprofesi
7. Tanggung Jawab dan Praktik lain

Seorang auditor / akuntan publik juga memiliki tugas untuk dapat membuktikan
asersi manajamen atas laporan keuangan yang dapat dijadikan dasar maupun pedoman
bagi seorang auditor / akuntan publik dalam menyusun Laporan maupun Opini Auditor.
Pengertian asersi manajemen atas laporan keuangan adalah pernyataan manajemen yang
terkandung di dalam komponen laporan keuangan yang dapat bersifat implisit atau
eksplisit. Asersi manajemen atas laporan keuangan dapat diklasifikasikan berdasarkan
penggolongan besar antara lain :
1. Asersi tentang keberadaan atau keterjadian
berhubungan dengan apakah aktiva atau utang entitas ada pada tanggal tertentu dan
apakah transaksi yang dicatat telah terjadi selama periode tertentu
2. Asersi tentang kelengkapan
berhubungan dengan apakah semua transaksi dan akun yang seharusnya disajikan
dalam laporan keuangan telah dicantumkan di dalamnya. Sebagai contoh,
manajemen membuat asersi bahwa seluruh pembelian barang dan jasa dicatat dan
dicantumkan dalam laporan keuangan. Demikian pula, manajemen membuat asersi
bahwa utang usaha di neraca telah mencakup semua kewajiban entitas
3. Asersi tentang hak dan kewajiban
berhubungan dengan apakah aktiva merupakan hak entitas dan utang merupakan
kewajiban perusahaan pada tanggal tertentu
4. Asersi tentang penilaian atau alokasi

11
berhubungan dengan apakah komponen- komponen aktiva, kewajiban, pendapatan
dan biaya sudah dicantumkan dalam laporan keuangan pada jumlah yang
semestinya
5. Asersi tentang penyajian dan pengungkapan
berhubungan dengan apakah komponen-komponen tertentu laporan keuangan
diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan semestinya

Dalam melakukan tugas dan pekerjaannya hingga dapat menghasilkan suatu


laporan atau opini audit, seorang akuntan publik / auditor harus melaui tahapan maupun
prosedur audit yang meliputi :
1. Inspeksi
2. Pengamatan
3. Konfirmasi
4. Permintaan keterangan
5. Penelusuran
6. Pemeriksaan dokumen pendukung
7. Perhitungan
8. Scanning
9. Pelaksanaan ulang
10. Teknik audit berbantuan komputer (computer-assisted audit techniques)

Pelaksanaan proses audit juga memiliki risiko audit. Pengertian dari risiko audit
adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung
salah saji material. Risiko Audit dapat dibagi menjadi antara lain:
1. Risiko Audit Keseluruhan
merupakan besaranya risiko audit yang dapat ditanggung oleh auditor dalam
menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar.
2. Risiko Audit Individual
pengalokasian resiko audit keseluruhan ke akun-akun secara individual, sehingga
sangat diperlukan penentuan risiko untuk setiap akun.
Tugas utama yang harus dilakukan oleh seorang auditor / akuntan publik adalah
menyusun Laporan / Opini auditor. Sedangkan pengertian dari opini audior adalah
pernyataan atau laporan yang diberikan oleh akuntan publik terdaftar sebagai bentuk dari

12
hasil penilaiannya atas kewajaran laporan keuangan yang dihasilkan oleh suatu
perusahaan yang diauditnya. Opini audit juga memiliki pengertian sebagai suatu laporan
yang diberikan oleh auditor terdaftar yang menyatakan bahwa pemeriksaan telah
dilakukan sesuai dengan norma atau aturan pemeriksanaan akuntan disertai dengan
pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa. Jenis-jenis opini auditor
antara lain :
1. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Adalah pendapat yang diberikan ketika audit telah dilaksanakan sesuai dengan
Standar Auditing (SPAP), dan auditor tidak menemukan kesalahan material atas
keseluruhan laporan keuangan atau tidak terdapat penyimpangan dari prinsip
akuntansi yang berlaku (SAK). Bentuk laporan ini digunakan apabila terdapat
keadaan-keadaan sebagai berikut :
a. Bukti audit yang dibutuhkan telah terkumpul secara mencukupi dan auditor
telah menjalankan tugasnya sedemikian rupa, sehingga ia dapaty
memastikan kerja lapangan telah ditaati
b. Ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam perikatan kerja
c. Laporan keuangan yang di audit disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang lazim yang berlaku di Indonesia yang ditetapkan pula secara konsisten
pada laporan-laporan sebelumnya. Demikian pula penjelasan yang
mencukupi telah disertakan pada catatan kaki dan bagian-bagian lain dari
laporan keuangan
d. Tidak terdapat ketidakpastian yang cukup berarti (no material uncertainties)
mengenai perkembangan di masa mendatang yang tidak dapat diperkirakan
sebelumnya atau dipecahkan secara memuaskan
2. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified
Unqualified Opinion)
Adalah pendapat yang diberikan ketika suatu keadaan tertentu yang tidak
berpengaruh langsung terhadap pendapat wajar. Keadaan tertentu dapat terjadi
apabila :
a. Pendapat auditor sebagian didasarkan atas pendapat auditor independen
lain.
b. Karena belum adanya aturan yang jelas maka laporan keuangan dibuat
menyimpang dari SAK.

13
c. Laporan dipengaruhi oleh ketidak[pastian peristiwa masa yang akan datang
hasilnya belum dapat diperkirakan pada tanggal laporan audit.
d. Tersapat keraguan yang besar terhadap kemampuan satuan usaha dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
e. Diantara dua periode akuntansi terdapat perubahan yang material dalam
penerapan prinsip akuntansi.
f. Data keuangan tertentu yang diharuskan ada oleh BAPEPAM namun tidak
disajikan.
3. Opini Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Adalah pendapat yang diberikan ketika laporan keuangan dikatan wajar dalam hal
yang material, tetapi terdapat sesuatu penyimpangan/ kurang lengkap pada pos
tertentu, sehingga harus dikecualikan. Dari pengecualian tersebut yang dapat
mungkin terjadi, apabila :
a. Bukti kurang cukup
b. Adanya pembatasan ruang lingkup
c. Terdapat penyimpangan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku
umum (SAK).
Menurut SA 508 paragraf 20 (IAI, 2002:508.11), jenis pendapat ini diberikan
apabila:
a. Tidak adanya bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan lingkup
audit yang material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara
keseluruhan.
b. Auditor yakin bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip
akuntansi yang berlaku umum yang berdampak material tetapi tidak
mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Penyimpangan
tersebut dapat berupa pengungkapan yang tidak memadai, maupun
perubahan dalam prinsip akuntansi.
4. Opini Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Adalah pendapat yang diberikan ketika laporan secara keseluruhan ini dapat terjadi
apabila auditor harus memberi tyambahan paragraf untuk menjelaskan
ketidakwajaran atas laporan keuangan, disertai dengan dampak dari akibat
ketidakwajaran tersebut, pada laporan auditnya.
5. Opini Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion)

14
Adalah pendapat yang diberikan ketika ruang lingkup pemeriksaan yang dibatasi,
sehingga auditor tidak melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar auditing
yang ditetapkan IAI. Pembuatan laporannya auditor harus memberi penjelasan
tentang pembatasan ruang lingkup oleh klien yang mengakibatkan auditor tidak
memberi pendapat.

Berdasarkan uraian singkat mengenai proses, tahapan, dan hal-hal apa saja
yang harus dimiliki serta dilakukan oleh seorang akuntan publik / auditor hingga dapat
menghasilkan suatu opini / laporan audit yang berkualitas, maka dapat disampaikan
bahwa dalam proses audit yang dilakukan oleh tim auditor BPK atas Laporan Keuangan
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi / Kemendes
PDTT) terdapat beberapa kejanggalan atas proses audit yang dilakukan oleh tim auditor
selama tahun 2017. Data tahun sebelumnya menyatakan bahwa Opini Auditor atas
Laporan Keuangan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi / Kemendes PDTT) adalah Opini Wajar dengan Pengecualian selama dua
tahun berturut-turut. Sedangkan kementerian tersebut termasuk ke dalam salah satu
kementerian yang baru di Indonesia, hal tersebut menunjukkan bahwa kementerian
tersebut memiliki tata kelola anggaran dan birokrasi yang buruk terutama terkait dengan
pengadaan dan belanja perjalanan dinas yang dibuktikan dengan adanya beberapa
temuan dari tim auditor BPK periode tahun 2014-2015 yang masih belum ditindaklanjuti
oleh Kemendes PDTT antara lain :
1. Adanya utang sebesar Rp 378,46 M dari pihak ketiga yang bermasalah dan
dokumen tidak tersedia
2. Aset Barang Milik Negara (BMN) sebesar Rp 2,54 T tidak didukung dengan
rincian sehingga tidak dapat ditelusuri keberadaannya
3. Akumulasi aset tanah, peralatan, dan barang pengadaan senilai Rp 2,55 T tidak
didukung rincian dan tidak diketahui keberadaannya
4. Saldo persediaan barang senilai Rp 3,32 T tidak terinventarisir dengan baik dan
tidak terdapat bukti yang cukup.

Kondisi tersebut seharusnya merupakan suatu acuan atau menjadi

pedoman bagi tim auditor BPK yang saat ini terjun untuk melakukan audit
atas laporan keuangan Kemendes PDTT pada tahun 2017 secara lebih

15
mendalam dan mendetail agar dapat diketahui lebih lanjut apakah temuan-
temuan yang sudah ada pada tahun sebelumnya telah ditindaklanjuti ataukah
ada hal-hal baru yang menjadi kejanggalan dari laporan keuangan
kementerian tersebut.
Tim auditor BPK yang diduga melakukan kecurangan atas
pelaksanaan audit atas Laporan Keuangan Kemendes PDTT yang dilakukan
mulai tahun 2017 dinilai tidak memiliki sikap-sikap selaku seorang auditor
antara lain :
1. Independen
Tim auditor BPK tidak memiliki sikap independensi baik dalam fakta
maupun dalam hal penampilan.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kejanggalan dari salah satu
anggota tim saat menjawab pertanyaan dari pihak penyidik KPK terkait
dengan fasilitas akomodasi (hotel) yang diterima oleh tim auditor BPK
saat melakukan proses audit laporan keuangan Kemendes PDTT di
daerah Banten.
2. Integritas dan objektivitas
Tim auditor BPK diketahui tidak bebas dari benturan kepentingan dan tetap
membiarkan adanya salah saji material atas opini audit yang dihasilkannya. Hal
tersebut terjadi disebabkan karena adanya tuntutan dan keinginan dari pihak klien
(dalam hal ini adalah Kemendes PDTT) untuk memiliki laporan keuangan dengan
predikat Wajar Tanpa Pengecualian yang merupakan tuntutan utama dari pimpinan
Kementerian tersebut yaitu Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi (Mendes PDTT) yaitu Bapak Eko Putro Sandjojo sehingga akhirnya
tim auditor BPK berani untuk menerima uang suap dari pihak kementerian tersebut
demi mengeluarkan opini audit Wajar Tanpa Pengecualian
3. Tanggung Jawab Kepada Klien
Tim auditor terhadap Kemendes PDTT dinilai tidak bertanggung jawab atas
pekerjaan auditnya terhadap orang atau badan yang mengadakan perikatan dengan
auditor BPK tersebut. Hal ini disebabkan karena tim auditor tersebut telah
menyusun dan menampilkan opini audit yang tidak sesuai dengan realitanya

16
sehingga auditor tersebut akan mengancam mengenai keberadaan dan
keberlangsungan dari pihak kementerian tersebut karena pihak auditor telah
menyembunyikan terlalu banyak kesalahan dan penyelewengan dana-dana
anggaran, serta menyembunyikan laporan keuangan yang disajikan oleh
kementerian tersebut dengan data yang fiktif
4. Tanggung Jawab Kepada Rekan Seprofesi
Hal tersebut menunjukkan bahwa tim auditor BPK kurang memiliki tanggung
jawab kepada rekan seprofesi yaitu pihak auditor yang lain dan mencoreng serta
merusak citra buruk dari profesi akuntan publik / auditor. Kondisi tersebut
ditunjukkan dengan kecurangan yang dilakukan oleh tim auditor BPK atas proses
audit laporan keuangan Kemendes PDTT yang dilakukan tahun 2017 dengan
menerima uang suap dari pihak klien serta membuat opini audit “Wajar Tanpa
Pengecualian” yang sangat tidak sesuai dengan realitas yang ada pada kementerian
tersebut.

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Uraian mengenai adanya indikasi kasus suap yang ada pada Kemendes PDTT
terhadap auditor BPK serta pembahasan singkat mengenai sikap auditor BPK yang
dilakukan selama proses pelaksanaan audit dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Tim auditor BPK tidak memiliki independensi dalam pelaksanaan proses audit
2. Tim auditor BPK tidak memiliki integritas dan objektivitas dalam melaksanakan
tugasnya
3. Tim auditor BPK tidak memiliki tanggung jawab terhadap klien
4. Tim auditor BPK tidak memiliki tanggung jawab terhadap rekan seprofesi

B. Saran
Dari berita-berita yang ada diatas, bahwa adanya indikasi kasus suap yang ada pada
Kemendes PDTT terhadap auditor BPK. Dalam kasus ini membuat nama baik profesi
Akuntan Publik menjadi buruk, dan bahkan integritas seluruh Akuntan Publik menjadi
dipertanyakan kembali. Jika demikian, alangkah baiknya setiap akuntan publik
melakasanakan tugasnya sesuai SOP dan mematuhi Kode Etik yang ada agar dugaan
kasus seperti ini tidak terulang yang mengakibatkan nama baik profesi ini menjadi buruk.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Mulyadi (2002), Auditing, Edisi ke-6, Buku 2, Jakarta : Salemba Empat


2. www.detik.com

19