Anda di halaman 1dari 19

PERANAN SEJARAH HUKUM DALAM PERTEMUAN

UNDANG-UNDANG DAN PERUBAHAN


PARADIGMA HUKUM DALAM
ERA GLOBAL

O
L
E
H

KELOMPOK II
Ketua : Roy Belanta Syahputra
Sekretaris : Ahmad Jhon Sikumbang
Juru Bicara : Kurnia Parluhutan Hutapea
Moderator : Djoko Sujarwanto
Anggota : Dores Tarigan
: Toni Sembiring
: Kastariana Boti Br S. Meliala
: Dwisary Planyd Br Kaban
: R. Parulian Sumbayak
: Martauli Pandiangan
: Muhd. Azmi Tampubolon

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI


PROGARAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU HUKUM
TAHUN 2012

1
KATA PENGANTAR

Terlebih dahulu kami mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha

Esa, karena berkat lindunganNya kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulisan makalah ini adalah bagian dari proses akademik dalam rangka

mengikuti pendidikan pada Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum dalam mata

kuliah Sejarah Hukum.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini,

sehingga kami mengharapkan kritik dan saran-saran yang sifat membangun guna

penyempurnaan lebih lanjut di kemudian hari

Medan, Desember 2012

Tim Penyusun,

i2
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1


A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 2

BAB II PERMASALAHAN ...................................................................... 3


A. Pengertian Peranan .................................................................. 3
B. Sejarah ..................................................................................... 3
C. H u k u m ............................................................................... 5
D. Pertemuan ................................................................................ 7

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................ 8


A. Peranan Sejarah Hukum dalam Pertemuan Undang-undang ... 8
B. Perubahan Paradigma Hukum dalam Era Global .................... 11

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 15


A. Kesimpulan .............................................................................. 15
B. S a r a n .................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 16

3ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem Hukum Eropa,
Hukum Agama dan Hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata
maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda
karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan
sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian
besar masyarakat Indonesia menganut Agama Islam, maka dominasi hukum atau
Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan
warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat yang diserap dalam
perundang-undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-
aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.
Hukum pada masa sekarang dan hukum pada masa lampau merupakan satu
kesatuan dan berhubungan erat, sambung menyambung atau tak terputus-putus. Oleh
karena itu kita hanya dapat mengerti hukum pada masa kini dengan mempelajari
sejarah.
Salah satu peranan sejarah hukum adalah untuk mengungkapkan fakta-fakta
hukum tentang masa lampau dalam kaitannya dengan masa kini. Hal di atas
merupakan suatu proses, suatu kesatuan, dan satu kenyataan yang diahadapi dan
yang terpenting bagi para ahli sejarah data dan bukti tersebut harus tepat, cenderung
mengikuti pentahapan yang sistematis, logika, jujur dan kesadaran pada diri sendiri
serta imajinasi yang kuat.
Sejarah hukum dapat memberikan pandangan yang luas bagi kalangan
hukum, karena hukum tidak mungkin berdiri sendiri, senantiasa dipengaruhi oleh
berbagai aspek kehidupan lain yang juga mempengaruhinya. Hukum masa kini
merupakan hasil perkembangan dari hukum masa lampau, dan hukum masa kini
merupakan dasar bagi hukum masa mendatang.

4
Situasi sosial politik di suatu negara baik yang positif maupun negatif,
tidaklah bisa terlepaskan dari pengaruh berbagai gejolak yang terjadi di tingkat
Global yang ditentukan oleh citra diri dan identitas bangsa itu sendiri yang mana
masing-masing bangsa di dunia sudah pasti memiliki citra diri dan identitas masing-
masing, sehingga setiap pengaruh Global yang diterima setiap bangsa dan negara
manapun akan berbeda. Era Globalisasi yang diboncengi neolibralisme
dan modernisasi menuju revolusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
sangatlah berbahaya bila kita tidak memfilternya. Oleh karena itu Sejarah Hukum
sebagai pedoman dalam pembuatan hukum sangatlah berperan agar kita hati-hati
memperlakukan hukum karena hukum itu lahir dari eksistensi (Kebaradaan) manusia
dalam berinteraksi sebagai mahluk sosial.

B. Rumusan Masalah
Mayoritas masyarakat Indonesia hanya menerima hukum yang berlaku di
Indonesia yang pada umumnya tidak mengetahui sejarah hukum di Indonesia. Hal
ini yang membuka peluang bagi masyarakat Indonesia tidak mempunyai kesadaran
akan hal tersebut karena tidak memahami prose-proses atau sejarah pada masa
lampau.
Dalam makalah ini, penulis membatasi pembahsannya mengingat ruang
lingkup sejarah hukum yang cukup luas, maka dalam tulisan ini penulis
membatasinya dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Peranan Sejarah Hukum Dalam Pertemuan Undang-Undang ?
2. Bagaimanakah Perubahan Paradigma Hukum Dalam Era Global ?

5
BAB II
PERMASALAHAN

A. Pengertian Peranan
Peranan berasal dari kata peran, berarti sesuatu yang menjadi bagian atau
memegang pimpinan yang terutama.1 Peranan menurut Levinson sebagaimana
dikutip oleh Soejono Soekamto, sebagai berikut:
Peranan adalah suatu konsep prihal apa yang dapat dilakukan individu yang
penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan meliputi norma-norma yang
dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat,
peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang
membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.2
Menurut Biddle dan Thomas, peran adalah serangkaian rumusan yang
membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan tertentu.
Misalnya dalam keluarga, perilaku ibu dalam keluarga diharapkan bisa member
i anjuran, memberi penilaian, memberi sangsi dan lain-lain.

B. Sejarah
Sejarah secara sempit adalah sebuah peristiwa manusia yang bersumber
dari realisasi diri, kebebasan dan keputusan daya rohani. Sedangkan secara luas,
sejarah adalah setiap peristiwa (kejadian). Sejarah adalah catatan peristiwa masa
lampau, studi tentang sebab dan akibat. Sejarah kita adalah cerita hidup kita.
Sejarah sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa karena:
a) Sejarah merupakan gambaran kehidupan masyarakat di masa lampau.

1
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN. Balai
Pustaka, 1985), h. 735
2
Soejono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 1982), h. 238

6
b) Dengan sejarah kita dapat lebih mengetahui peristiwa/kejadian yang terjadi di
masa lampau.
c) Peristiwa yang terjadi di masa lampau tersebut dapat dijadikan pedoman dan
acuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di masa kini dan yang
akan datang.
d) Dengan sejarah kita tidak sekedar mengingat data-data dan fakta-fakta yang ada
tetapi lebih memaknainya dengan mengetahui mengapa peristiwa tersebut terjadi.
Berdasarkan asal kata tersebut maka sejarah dapat diartikan sebagai sesuatu
yang telah terjadi pada waktu lampau dalam kehidupan umat manusia. Sejarah tidak
dapat dilepaskan dari kehidupan manusia dan bahkan berkembang sesuai dengan
perkembangan kehidupan manusia dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih
maju atau modern.
Berdasarkan bahasa Indonesia, sejarah mengandung tiga pengertian:
1. Sejarah adalah silsilah atau asal-usul.
2. Sejarah adalah kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa
lampau.
3. Sejarah adalah ilmu, pengetahuan, dan cerita pelajaran tentang kejadian atau
peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau.
Jadi pengertian sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari
segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan
umat manusia.
Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengkaji secara
sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dinamika kehidupan
masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi di masa lampau.
Mengapa Sejarah selalu berhubungan dengan masa lalu/lampau :
Masa lampau itu sendiri merupakan sebuah masa yang sudah terlewati.
Tetapi, masa lampau bukan merupakan suatu masa yang final, terhenti, dan tertutup.
Masa lampau itu bersifat terbuka dan berkesinambungan. Sehingga, dalam sejarah,
masa lampau manusia bukan demi masa lampau itu sendiri dan dilupakan begitu saja

7
sebab sejarah itu berkesinambungan apa yang terjadi dimasa lampau dapat dijadikan
gambaran bagi kita untuk bertindak dimasa sekarang dan untuk mencapai kehidupan
yang lebih baik di masa mendatang. Sehingga, sejarah dapat digunakan sebagai
modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk perencanaan masa yang akan
datang.
Masa Lampau, merupakan masa yang telah dilewati oleh masyarakat suatu
bangsa dan masa lampau itu selalu terkait dengan konsep-konsep dasar berupa
waktu, ruang, manusia, perubahan, dan kesinambungan atau when, where, who,
what, why, dan How.
Kejadian yang menyangkut kehidupan manusia merupakan unsur penting
dalam sejarah yang menempati rentang waktu. Waktu akan memberikan makna
dalam kehidupan dunia yang sedang dijalani sehingga selama hidup manusia tidak
dapat lepas dari waktu karena perjalanan hidup manusia sama dengan perjalanan
waktu itu sendiri. Perkembangan sejarah manusia akan mempengaruhi
perkembangan masyarakat masa kini dan masa yang akan datang.3

C. Hukum
Secara Etimologi kata hukum berasal dari bahasa arab dan merupakan
bentuk tunggal. Kata kata jamaknya adalah “Alkas” yang selanjutnya diambil alih
dalam bahasa indonesia menjadi “hukum” di dalam pengertian hukum terkandung
pengertian pertalian erat dengan pengertian yang dapat melakukan paksaan.4
Penegrtian hukum menurut beberapa ahali, yaitu :
a) Aristoteles, hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya
mengikat masyarakat tetapi juga hakim. Undang-undang adalah sesuatu yang
berbeda dari bentuk dan isi konstitusi; karena kedudukan itulah undang-undang

3
Pengertian Sejarah.http://www.freewebs.com/rinanditya/pengertiansejarah.htm.
4
R. Soeroso, S.H. Pengantar Ilmu Hukum. Sinar Grafika. Jakarta. 2004 cetakan
Keempat. Halaman 23

8
mengawasi hakim dalam melaksanakan jabatannya dalam menghukum orang-
orang yang bersalah.
b) Austin, hukum adalah sebagai peraturan yang diadakan untuk memberi
bimbingan kepada makhluk yang berakal oleh makhluk yang berakal yang
berkuasa atasnya (Friedmann, 1993: 149).
c) Bellfoid, hukum yang berlaku di suatu masyarakat mengatur tata tertib
masyarakat itu didasarkan atas kekuasaan yang ada pada masyarakat.
d) Mr. E.M. Mayers, hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan
kesusilaan ditinjau kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang
menjadi pedoman penguasa-penguasa negara dalam melakukan tugasnya.
e) Duguit, hukum adalah tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang daya
penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai
jaminan dari kepentingan bersama terhadap orang yang melanggar peraturan itu.
f) Immanuel Kant, hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini
kehendak dari orang yang satu dapat menyesuaikan dengan kehendak bebas dari
orang lain memenuhi peraturan hukum tentang Kemerdekaan.
g) Van Kant, hukum adalah serumpun peraturan-peraturan yang bersifat memaksa
yang diadakan untuk mengatur melindungi kepentingan orang dalam masyarakat.
h) Van Apeldoorn, hukum adalah gejala sosial tidak ada masyarakat yang tidak
mengenal hukum maka hukum itu menjadi suatu aspek kebudayaan yaitu agama,
kesusilaan, adat istiadat, dan kebiasaan.5
i) Utrecht, menyebutkan: hukum adalah himpunan petunjuk hidup –perintah dan
larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan seharusnya
ditaati oleh seluruh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh karena itu
pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh
pemerintah atau penguasa itu.

5
Ibid. Halaman 28

9
D. Pertemuan
Menurut kamus bahasa Indonesia pertemuan : Perbuatan (hal dan
sebagainya) bertemu, perjumpaan ; tempat bertemu (berkumpul dan sebagainya ;
perkumpulan ; pergaulan ; perjodohan, perkawinan.6

6
Daryanto, S.S. Kamus Bahasa Indonesia lengkap. Apollo. Surabaya. 1997. Halaman
598.

10
BAB III
PEMBAHASAN

A. Peranan Sejarah Hukum Dalam Pertemuan Undang-Undang


Mempelajari sejarah memang bermanfaat, karena dengan mempelajari
sejarah, sama faedahnya dengan membuat perjalanan ke negeri-negeri yang jauh, ia
meluaskan penglihatan, memperbesar pandangan hidup kita. Sejarah mengenalkan
kita dengan keadaan-keadaan yang sangat berlainan dari pada yang biasa kita kenal
dan dengan demikian kita dapat melihat, bahwa apa yang kini terdapat pada kita
bukanlah satu-satunya yang mungkin.
Penyelidikan sejarah membebaskan kita dari prasangka - prasangka yang
menyebabkan kita tidak begitu saja menerima yang ada sebagai hal yang demikian,
melainkan menghadapinya secara kritis. Makin sedikit kita mengenal waktu yang
lalu, maka semakin kecil kita mendapat pengetahuan.
Bagi seorang yang ingin mengetahui hukum secara benar dan mendalam,
maka diperlukan pengetahuan tentang bagaimana perkembangan hukum itu sendiri
dari masa ke masa yang lalu sampai dengan sekarang, ini menunjukkan ada kaitan
yang sangat erat antara ilmu hukum dengan sejarah.7
Tujuan mempelajari sejarah hukum adalah untuk mengetahui bagaimana
proses dari terbentuknya hukum yang sekarang ini berlaku di suatu masyarakat,
sehingga kita dapat mengetahui arah dan tujuan mengapa hukum itu dibuat. Dapat
dikatakan bahwa ruang lingkup sejarah hukum adalah mempelajari sistem hukum
yang pernah berlaku di suatu negara serta membandingkanya dengan hukum yang
berlaku sekarang di suatu negara.
Sejarah hukum umumnya adalah perkembangan secara menyeluruh dari
suatu hukum positif tertentu. Objek khususnya adalah sejarah pembentukan hukum

7
Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, 1986: 332.

11
atau pengaruh dari sumber-sumber hukum dalam arti formil pada peraturan-
peraturan tertentu.
Paradigma yang digunakan sebagai kerangka dasar penelitian adalah
sumber-sumber hukum dalam arti formil yang mencakup :
1. Perundang-undangan.
2. Hukum kebiasaan.
3. Yurisprudensi.
4. Traktat.
5. Doktrin.
Masing-masing sumber tersebut ditelaah perkembangannya serta
pengaruhnya terhadap pembentukan hukum (rechtvorming). Penelitian dapat
dilakukan secara menyeluruh dan dapat juga di batasi pada sumber tertentu.
Ilmu sejarah yang obyeknya hukum dalam konteks perjalanan yang
berubah dari waktu ke waktu, harus ditinjau dari beberapa sudut pandang dalam hal
pembentukan suatu hukum yang baru. Misalnya :
• Hukum dilihat dari kontek sosial
• Hukum dibentuk dari interaksi masyarakat
• Sejarah dan perkembangan hukum yang tercermin dari dinamika masyarakat
• Diawali Mazhab Sejarah (Von Savigny)
• Historis Materialisme (Mark) “Gejala hukum tidak dapat dipisahkan dari
organisasi sosial politik”
Mengabaikan faktor “Sejarah” dalam Proses Pembentukan Hukum
(Undang-Undang) dapat berakibat buruk terhadap nasib bangsa dimana hukum
(undang-undang) itu dilahirkan. Biasanya harus ditebus dengan biaya yang sangat
mahal.
Sumbangan Von Savigny sebagai “Bapak Sejarah Hukum” telah
menghasilkan aliran historis (sejarah). Cabang ilmu ini lebih muda usianya
dibandingkan dengan sosiologi hukum. Berkaitan dengan masalah ini Soedjono,
menjelaskan bahwa : “Sejarah hukum adalah salah satu bidang studi hukum, yang

12
mempelajari perkembangan dan asal usul sistem hukum dalam suatu masyarakat
tertentu dan memperbandingkan antara hukum yang berbeda karena dibatasi oleh
perbedaan waktu.8 Demikian juga hal yang senada diungkapkan oleh Menteri
Kehakiman dalam pidato sambutan dan pengarahan pada simposium Sejarah Hukum
(Jakarta 1-3 April 1975) dimana dinyatakan bahwa :
“Perbincangan sejarah hukum mempunyai arti penting dalam rangka
pembinaan hukum nasional, oleh karena usaha pembinaan hukum tidak saja
memerlukan bahan-bahan tentang perkembangan hukum masa kini saja, akan tetapi
juga bahan-bahan mengenai perkembangan dari masa lampau. Melalui sejarah
hukum kita akan mampu menjajaki berbagai aspek hukum Indonesia pada masa yang
lalu, hal mana akan dapat memberikan bantuan kepada kita untuk memahami
kaidah-kaidah serta institusi-institusi hukum yang ada dewasa ini dalam masyarakat
bangsa kita”.9
Apa yang sejak lama disebut sejarah hukum, sebenarnya tak lain dari pada
pertelaahan sejumlah peristiwa-peristiwa yuridis dari zaman dahulu yang disusun
secara kronologis, jadi adalah kronik hukum. Dahulu sejarah hukum yang demikian
itupun disebut “antiquiteiter”, suatu nama yang cocok benar. Sejarah adalah suatu
proses, jadi bukan sesuatu yang berhenti, melainkan sesuatu yang bergerak; bukan
mati, melainkan hidup. Hukum sebagai gejala sejarah berarti tunduk pada
pertumbuhan yang terus menerus. Pengertian tumbuh membuat dua arti yaitu
perobahan dan stabilitas.
Hukum tumbuh, berarti bahwa ada terdapat hubungan yang erat, sambung-
menyambung atau hubungan yang tak terputus-putus antara hukum pada masa kini
dan hukum pada masa lampau. Hukum pada masa kini dan hukum pada masa
lampau merupakan satu kesatuan. Itu berarti, bahwa kita dapat mengerti hukum kita

8
Drs. Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Rinek Cipta, Jakarta, 2001, Halaman 261.
9
Dr.Soerjono Soekanto, SH.MA, Pengantar Sejarah Hukum, Alumni, Bandung, 1986,
Halaman 9.

13
pada masa kini, hanya dengan penyelidikan sejarah, bahwa mempelajari hukum
secara ilmu pengetahuan harus bersifat juga mempelajari sejarah.10

B. Perubahan Paradigma Hukum Dalam Era Global


Memahami dinamika globalisasi dengan segala dimensinya, maka era
globalisasi juga akan memberi pengaruh terhadap hukum. Bangsa Indonesia dan juga
bangsa-bangsa lain di dunia ini, sekarang sudah terhubung dan terkooptasi ke dalam
satu pola kehidupan. Akibatnya batas-batas teritorial negara hampir tidak lagi
menjadi penghalang bagi berkembangnya ragam aktivitas manusia, baik perniagaan
maupun bukan perniagaan,yang pada intinya hendak menegaskan bahwa disamping
hukum nasional suatu negara berkembang suatu hukum-hukum yang melampaui
batas-batas kedaulatan suatu negara.
Hukum suatu bangsa sesungguhnya merupakan pencerminan kehidupan
sosial bangsa bersangkutan,11 maka sebenarnya pembentukan hukum suatu negera
harus bebas dari pengaruh dan kepentingan negara lain. Era Globalisasi akan tetap
berlansung dan sukar untuk dihindari, kecenderungan untuk hidup bersatu adalah
kodrat naluri manusia oleh karena itu terbentuklah institusi global semacam WTO
(World Trade Organization), APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) sebagai
forum kerjasama ekonomi antar bangsa-bangsa se-kawasan, dan juga EEC
(European Economic Council), hingga mata uang pun mereka satukan, boleh jadi
merupakan beberapa contoh kecenderungan yang menyatunya pola kehidupan dalam
satu kepentingan yang serupa.
Tetapi suatu negara tidak akan begitu saja menyerahkan fungsi kedaulatan
mereka, dan dalam suatu system global tidak akan berlansung bebas control dari

10
Prof. Dr. Mr. L. J. Van Apeldroon, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita. Jakarta,
2001, Halaman 417.
11
Satjipto Rahardjo, Hukum Dalam Perspektif Sejarah dan Perubahan Sosial, dalam
Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Politik Hukum nasional, Editor Artdjo Alkostar dkk,
Rajawali, Jakarta 1986, hlm 27

14
suatu negara karena globalisasi bukanlah jalan tol tanpa mekanisme. Mekasnisme
sebagaimana lalu lintas hubungan masyarakar bernegara dan berbangsa, justru
dibangun atas suatu perjanjian atau konvensi, sehingga bedanya yang tadinya
pembatas itu adalah hukum nasional, kemudian pembatasan itu berubah menjadi
kesepakatan antara negara. Dalam keadaan semacam itu, norma yang mengatur
ragam aktivitas tersebut tentu tidak diserahkan kepada aturan normatif suatu negara
tertentu. Sebab kaidah hukum nasional suatu negara berdaulat, batas berlakunya
hanya di dalam teritorial negara tersebut. Untuk itu, pengaturan berbagai hak dan
kewajiban maupun kepentingan bersama antar negara berdaulat tadi, kaidahnya akan
diupayakan dalam bentuk kesepakatan bersama antar negara-negara yang lazimnya
dituangkan dalam bentuk “perjanjian internasional.12
Instrumen inilah yang paling mungkin untuk digunakan dalam menangani
berbagai persoalan transnasional yang dihadapi bersama. Pada kondisi masyarakat
dunia yang digambarkan semacam itu, instrumen hukum “perjanjian internasional”,
kian menjadi penting. Melalui perjanjian internasional itulah negara-negara, baik
yang membuat kesepakatan maupun negara yang turut serta kemudian, dapat
menciptakan norma-norma hukum baru yang diperlukan untuk mengatur hubungan

12
“Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat
bangsabangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat-akibat hukum tertentu.” Di dalam teori
hukum internasional, perjanjian internasional dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu: (1) “law
making treaties “dan (2) “treaty contracts.” “Law making treaties” merupakan perjanjian
internasional yang mengandung kaidah-kaidah hukum yang dapat berlaku secara universal bagi
anggota masyarakat bangsa-bangsa, sehingga dengan demikian dapat dikategorikan sebagai
perjanjian internasional yang berfungsi sebagai sumber langsung hukum internasional.
Sedangkan “teraty ontracts” adalah perjanjian internasional yang mengatur hubungan-
hubungan atau persoalan-persoalan khusus antara pihak-pihak yang mengadakannya saja,
sehingga perjanjian internasional semacam ini hanya berlaku khusus bagi para peserta
perjanjian. Lagi pula treaty contracts tidak secara langsung menjadi sumber hukum
internasional. Baca Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional. Bandung:
Binacipta, 1978, hlm. 109, 114, dan 115. Bdgk. JG Starke, Introduction to International Law.
London: Butterworths, 1984, hlm. 40-44.

15
antar negara dan antar masyarakat negara-negara yang volumenya semakin besar,
intensitasnya semakin kuat, dan materinya semakin kompleks.”13
Kebanyakan pandangan melihat Globalisasi sebagai proses transpormasi
bebas hambatan dan mekanismenya terserah pada “masyarakat pasar”. Padahal
tidaklah demiikian, globalisasi sesunggunya lebih tampak sebagai “membuka pagar”
rumah, tetapi dalam rumah dan perkarangan tetap ada aturan main. Dalam konsep
kehidupan mana pun tidak ada suatu kelompok masyarakat yang membiarkan
kehidupannya dan tetrorialnya tanpa hukum. Dalam perspektif ini, kekeliruan utama
dalam menyikapi globalisasi seakan-akan orang boleh melakukan kesepakatan
menurut kemauan mereka sendiri, dan mengabaikan peran, fungsi negara. Kesalahan
lain adalah dengan globalisasi selalu ditekankan, kedaulatan negara bangsa akan
melemah, tetapi tidak dijelaskan melemahnya dalam hal apa dan itu mungkin terjadi
jika globalisasi diterjemahkan sebagai bentuk “penjajahan” model baru.
Mencermati pendekatan-pendekatan terhadap globalisasi dan hubungan
dengan kedaulatan negara termasuk kedaulatan hukum nasional, memang berdampak
terhadap hukum nasional.Oleh karena itu globalisasi hukum seperti lebih tampak
sebagai interaksi hukum masa kini telah merubah pembangunan karakter hukum
nasional dan internasional dan itu pun tidak untuk seluruhnya. Maka tidaklah selalu
benar pandangan-pandangan terhadap soal melemahnya kedaulatan negara nasional
lantaran globalisasi.
Sekilas perbedaan dari hukum kepailitas yang merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari globalisasi ekonomi, setidaknya memberi keyakinan kepada
kita bagaimana globalisasi hukum itu tumbuh dan berkembang mengikuti globalisasi
dibidang lain, namun globalisasi hukum itu tidak sepenuhnya akan mengubah atau
menggantikan sistem hukum nasional. Artinya globalisasi hukum akan hidup diatas
perbedaan sistem hukum negara bangsa. Dalam konteks ini jelas yang menentukan
adalah politik hukum dari negara bangsa bersangkutan sebagaimana juga halnya

13
Mochd. Burhan Tsani, Hukum dan Hubungan Internasional. Yogyakarta: Liberty,
1990, halaman 8-9.

16
dengan Indonesia. Masalah kemudian, bagaimana hal itu bisa bertahan, memang
ditentukan pula oleh daya tawar dari suatu negara bangsa dan seberapa besar negara
bangsa itu mampu mempertahankan politik hukumnya ditengah-tengah
berkembangnya sistem hukum global atau apa yang lebih umum disebut dengan
globalisasi hukum.
Politik hukum nasional akan menjadi sangat berperan dan memberi
arahan bagi perkembangan hukum nasional ditengah-tengah menguatnya tuntutan
globalisasi hukum, terutama besarnya kemungkinan terdapat ruang kosong ketika
terjadi transplansi sistem hukum, atau pada saat suatu negara bangsa melakukan
integrasi dengan sistem hukum global. Sebab bagaimana pun juga tidak ada satu
sistem hukum pun yang sempurna dan masing-masing memiliki kelemahan dan
kelebihan. Dalam hubungan ini Satjipto Raharjo mengemukakan, bahwa sejak
semula hukum tidak pernah dapat memuaskan keinginan manusia sebagai suatu
alat yang mematoki antara perbuatan yang “benar” dan yang “salah” secara
sempurna. Salah-salah mengatur bahkan bisa dikatakan seperti ungkapan
“Summum ius summa iniuria” bahwa hukum yang bekerja terlalu hebat justru
menimbulkan ketidak adilan.14

14
Satjipto Rahardjo,. Permasalahan Hukum Di Indonesia, Penerbit Alumni Bandung,
1983, hal 13

17
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Sejarah hukum mempunyai arti penting dalam rangka pembinaan hukum nasional,
oleh karena usaha pembinaan hukum tidak saja memerlukan bahan-bahan tentang
perkembangan hukum masa kini saja, akan tetapi juga bahan-bahan mengenai
perkembangan dari masa lampau. Melalui sejarah hukum kita akan mampu
menjajaki berbagai aspek hukum Indonesia pada masa yang lalu, hal mana akan
dapat memberikan bantuan kepada kita untuk memahami kaidah-kaidah serta
institusi-institusi hukum yang ada dewasa ini dalam masyarakat bangsa kita.
2. Inti dari Globalisasi sebenarnya adalah hendak menegaskan bahwa disamping
hukum nasional suatu negara, berkembang suatu hukum-hukum yang melampaui
batas-batas kedaulatan suatu negara. Namun suatu negara tidak akan begitu saja
menyerahkan fungsi kedaulatan mereka, karena system global tidak akan
berlansung bebas control dari suatu negara.Oleh karena itu politik hukum nasional
akan menjadi sangat berperan dan memberi arahan bagi perkembangan hukum
nasional ditengah-tengah menguatnya tuntutan globalisasi hukum.

B. Saran
1. Sejarah hukum bangsa indonesai yang cukup panjang, dapat di jadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam mentukan hukum di indonesia dan untuk mewujudkan
hukum yang mengedepankan tujuan hukum, maka perlu meninjau dan memperbaiki
produk hukum serta menyesuaikannya pada era globalisasi sekarang ini.
2. Untuk itu diperlukan prinsip kehati-hatian dari pemerintah dengan maksud agar
hukum hasil dari pengaruh globalisasi tersebut dapat berlaku efektif dan tidak
bertentangan dengan konstitusi dan hukum serta nilai-nilai keadilan yang hidup di
dalam masyarakat.

18
DAFTAR PUSTAKA

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1985).

Soejono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 1982).

Pengertian Sejarah.http://www.freewebs.com/rinanditya/pengertiansejarah.htm.

R. Soeroso, S.H. Pengantar Ilmu Hukum. Sinar Grafika. Jakarta. 2004 Cetakan
Keempat.

Daryanto, S.S. Kamus Bahasa Indonesia lengkap. Apollo. Surabaya. 1997.

Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, 1986.

Drs. Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Rinek Cipta, Jakarta, 2001.

Dr.Soerjono Soekanto, SH.MA, Pengantar Sejarah Hukum, Alumni, Bandung, 1986.

Prof. Dr. Mr. L. J. Van Apeldroon, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita. Jakarta,
2001.

Satjipto Rahardjo, Hukum Dalam Perspektif Sejarah dan Perubahan Sosial, dalam
Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Politik Hukum nasional, Editor Artdjo
Alkostar dkk, Rajawali, Jakarta 1986.

Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional. Bandung: Binacipta, 1978,


hlm. 109, 114, dan 115. Bdgk. JG Starke, Introduction to International Law.
London: Butterworths, 1984.

Mochd. Burhan Tsani, Hukum dan Hubungan Internasional. Yogyakarta: Liberty, 1990.

Satjipto Rahardjo, Permasalahan Hukum di Indonesia, Penerbit Alumni Bandung, 1983.

19