Anda di halaman 1dari 15

BAB 12

PELAPORAN PENGARUH PERUBAHAN HARGA

Inflasi telah menjadi kenyataan yang penting dan konstan dalam kehidupan hampirsemua Negara di dunia.
Berubahnya nilai mata uang sekarang diakui dengan baik di antara para akuntan, tetapi terdapat banyak
ketidaksepakatan mengenai sarana teoritis dan praktis untuk menyesuaikan terhadapnya. Pada tahun 1976 SEC
mewajibkan dalam ASR 190 bahwa pengungkapan tertentu mengenai biaya pengganti dibuat oleh perusahaan besar.
Tiga tahun kemudian FASB mengeluarkan standarnya sendiri atas topik itu, yang diberi label eksperimen. SFAS 33
mensyaratkan pengungkapan khusus oleh perusahaan besar tertentu. Khususnya, hal itu mewajibkan perusahaan
besar tertentu untuk menyajikan (istilah yang digunakan FASB didefinisikan dalam bab ini):

1. Laba dari operasi berlanjut dan ditetapkan kembali untuk pengaruh inflasi umum.
2. Keuntungan atau kerugian daya beli pada pos nonmoneter.
3. Laba dari operasi berlanjut atas dasar biaya kini.
4. Jumlah biaya kini dari persediaan dan properti, pabrik dan peralatan pada akhir tahun fiscal.
5. Kenaikan atau penurunan dalam jumlah biaya kini persediaan dan properti, pabrik dan peralatan, bersih sesudah
inflasi.

Namun FASB tidak merinci hubungan dari pengungkapan-pengungkapan ini pada laporan keuangan dasar. Pada
tahun 1983, FASB menerbitkan permintaan komentar apakah eksperimen ini perlu dilanjutkan. Sebagai hasil dari
survey tersebut, SFAS 89 dikeluarkan yang mendorong, tetapi sekarang tidak mengharuskan, perlanjutan
pengungkapan tambahan yang disyaratkan oleh SFAS 33. Sebenarnya, eksperimen yang resmi telah berakhir.
Banyak alasan yang diberikan mengapa laporan yang disesuaikan untuk tingkat harga tidak lagi diharuskan. Pada
dasarnya ini semua berasal dari anggapan tidak adanya relevansi dari data itu, sebagian karena para analis dapat
membuat penyesuaian sendiri dan sebagian karena penurunan laju inflasi. Laju inflasi yang berbeda diantara
Negara-negara juga mengakibatkan kurs tukar berfluktuasi. Ini memerlukan penyesuaian saat memperhitungkan
transaksi di antara Negara yang berbeda dan saat mengkonsolidasikan laporan anak perusahaan luar negeri ke dalam
induk perusahaan. Pengaruh inflasi ini pertama kali dikemukakan oleh FASB pada bulan Oktober 1975 dalam SFAS
8. Pernyataan ini mendapat kritik yang sangat keras dan berkepanjangan dari masyarakat bisnis. Akhirnya, pada
Desember 1981, SFAS 8 digantikan dengan SFAS 52. Kritik-kritik sesudah itu jauh berkurang.
Inti perdebatan tentang bagaimana memperhitungkan unit moneter tidak stabil yang disebabkan perubahan
harga adalah suatu kendala pengukuran yang tertanam didalam pendekatan structural pada teori akuntansi. Apabila
ukuran keuangan didasarkan pada harga historis, atau bila perbandingan dibuat untuk harga yang diagregatkan
diantara tahun-tahun yang berbeda, hubungan biasa yang diasumsikan dalam laporan keuangan berubah. Idealnya
adalah mengambil pendekatan yang radikal dan membentuk struktur akuntansi baru yang akan menghindarkan
perbandingan dan agregasi harga dari tahun-tahun yang berbeda. Sebaliknya, satu-satunya usulan yang terbukti
dapat diterima akuntan dan masyarakat bisnis hanyalah memodifikasi atau menetapkan kembali ukuran-ukuran
akuntansi tradisional.
Tujuan dari bab ini adalah untuk menganalisis metode-metode alternative akuntansi untuk perubahan harga.
Dua seksi pertama membahas sifat perubahan harga dan pentingnya klasifikasi moneter dan nonmoneter. Seksi
ketiga membahas pendekatan daya beli. Harus ditekankan bahwa pendekatan daya beli mencakup baik penetapan
kembali untuk perubahan daya beli umum maupun perangkat keras untuk mencerminkan daya beli spesifik karena
ini merupakan alternative yang bersaing. Seksi keempat membahas akuntansi nilai kini, termasuk penggunaan biaya
kini dan biaya pengganti sebagai pengganti untuk nilai masukan kini. Penjabaran mata uang asing dibahas dalam
seksi terakhir karena hal itu merupakan penetapan kembali unit moneter dan karena kurs tukar berkaitan dengan
perubahan relative dalam harga di Negara yang berbeda.
Tujuan utama dari akuntansi daya beli adalah untuk menetapkan kembali unit pengukuran menjadi penyebut
yang umum. Artinya, penetapan kembali adalah suatu peyesuaian skala dan bukan substitusi satu pengukuran
dengan yang lain. Suatu pengamatan yang penting atas akuntansi daya beli adalah bahwa tujuan utamanya adalah
untuk meningkatkan sistem pengukuran dalam kerangka structural proses akuntansi. Meskipun dampak perilaku dari
informasi akuntansi yang disesuaikan tingkat harga tidak sepenuhnya dimengerti saat ini, beberapa studi telah
mendukung hipotesis bahwa data yang ditetapkan kembali untuk tingkat harga memang mengandung informasi yang
tidak termasuk dalam laporan keuangan tradisional.
PENGERTIAN PERUBAHAN HARGA
Konsep yang mencakup pengertian perubahan harga :
Tingkat harga umum
– timbul ketika harga semua barang dan jasa dalam perekonomian berubah.
Tingkat harga khusus
– timbul ketika harga barang atau jasa tertentu berubah seiring naik turunnya permintaan dan penawaran.

Laporan keuangan di masa perubahan harga berpotensi menyesatkan apabila ada pengukuran nilaiaset yang tidak
akurat, penyimpangan yang ditimbulkan diantaranya :

1. Proyeksi keuangan berdasarkan data rangkaian waktu historis yang belum disesuaikan
2. Anggaran yang menjadi dasar pengukuran
3. Data kinerja yang gagal menahan pengaruh inlasi yang tidak terkendali.

Laba yang dinilai lebih pada gilirannya akan menyebabkan:

1. Kenaikan dalam proporsi pajak.


2. Permintaan dividen lebih banyak dari pemegang saham.
3. Permintaan gaji dan upah yang lebih tinggi dari para pekerja.
4. Tindakan yang merugikan dari Negara tuan rumah (seperti pengenaan pajak keuntungan yangsangat besar).
Kegagalan untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap perubahan dalam daya beli unit moneter juga
menimbulkan kesulitan bagi pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan kinerja
operasi perusahaan yang dilaporkan.Fungsi mengakui pengaruh inflasi secara eksplisit yaitu :
a. Pengaruh perubahan harga sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi suatu perusahaan.
Para pengguna tidak memiliki informasi yang lengkap mengenai faktor-faktor ini.
b. Mengelola masalah yang ditimbulkan oleh perubahan harga bergantung pada pemahaman yangakurat atas
permasalahan tersebut. Pemahaman yang akurat memerlukan kinerja usaha yangdilaporkan dalam kondisi-
kondisi yang memperhitungkan pengaruh perubahan harga.
c. Laporan dari para manajer mengenai permasalahan yang disebabkan oleh perubahan harga lebihmudah
dipercaya apabila kalangan usaha menerbitkan informasi keuangan yang membahasmasalah-masalah tersebut.

Selama periode inflasi, nilai aktiva yang dicatat sebesar biaya akuisisi awalnya jarang mencerminkan nilai terkininya
(yang lebih tinggi). Ketidak akuratan pengukuran ini mendistorsi (1) proyeksi keuangan yang didasarkan pada data
seri waktu historis (2) anggaran yang menjadi dasar pengukuran kinerja dan (3) data kinerja yang tidak dapat
mengisolasi pengaruh inflasi yang tidak dapat dikendalikan. Laba yang dinilai lebih pada gilirannya akan
menyebabkan :

1. Kenaikan dalam proporsi pajak.


2. Permintaan dividen lebih banyak dari pemegang saham.
3. Permintaan gaji dan upah yang lebih tinggi dari para pekerja.
4. Tindakan yang merugikan dari negara tuan rumah (seperti pengenaan pajak keuntungan yang sangat besar).

Kegagalan untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap perubahan dalam daya beli unit moneter juga
menimbulkan kesulitan bagi pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan kinerja
operasi perusahaan yang dilaporkan. Dalam periode inflasi, pendapatan umumnya dinyatakan dalam mata uang
dengan daya beli umum yang lebih rendah (yaitu daya beli periode kini), yang kemudian diterapkan terhadap beban
terkait. Prosedur akuntansi yang konvesional juga mengabaikan keuntungan dan kerugian daya beli yang timbul dari
kepemilikan kas (ekuivalennya) selama periode inflasi.

Oleh karena itu, mengakui pengaruh inflasi secara eksplisit berguna dilakukan karena :

1. Pengaruh perubahan harga sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi suatu perusahaan.
2. Mengelola masalah yang ditimbulkan oleh perubahan harga bergantung pada pemahaman yang akurat atas
masalah tersebut.
3. Laporan dari para manajer mengenai permasalahan yang disebabkan oleh perubahan harga lebih mudah
dipercaya apabila kalangan usaha menerbitkan informasi keuangan yang membahas masalah-masalah tersebut.
Istilah Akuntansi Inflasi

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan
mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau
adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata
uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga.
Metode yang digunakan dalam akuntansi inflasi = metode penentuan laba. Penekanan penentuan laba adalah pada
nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh laporan keuangan, sedangkan inflasi nilai semua item yang
terdapat dalam laporan keuangan. Untuk menyusun laporan keuangan pada masa inflasi agar lebih relevan dapat
digunakan beberapa metode.

Menurut Johnson, 1977 metode pengukuran aktiva dan kewajiban dapat dibagi sebagai berikut :

1. The entry value system dari harga umum yang terdiri dari :
a. Historical cost
b. General price level

Dalam metode GPL misalnya metode historical cost disesuaikan dengan perubahan tingkat harga sehingga pada
masa inflasi GPL ini lebih besar daripada nilai historical cost.

Keuntungan GPLA adalah :


a. Dapat menjelaskan pengaruh inflasi pada perusahaan.
b. Meningkatkan kegunaan perbandingan laporan antar periode.
c. Membantu pemakai laporan menilai arus kas ddimasa yang akan dating secara lebih baik.
d. Memperbaiki tingkat kepercayaan rasio laporan keuangan yang dihitung dari angka-angka laporan
keuangan yang sudah disesuaikan.
Kelemahannya adalah :
a. Inflasi itu terrjadi pada barang yang berbeda dan perusahaan yang berbeda, jadi tidak dapat disamaratakan.
b. GPLA tidak bermakna bagi perusahaan.
c. Angka yang disesuaikan tidak menggambarkan arus kas.
d. Rasio itu adalah indicator mentah.

Replacement cost

Merupakan nilai yang diukur saat ini untuk mendapatkan aktiva baru atau menggantinya dengan
kapasitas produksinya yang sama. Penyusutan dihitung berdasarkan pada nilai ganti itu. Pada masa inflasi
nilai dari replacement value ini lebih besar dari general price level. Metode ini banyak mendapat kritikan,
namun sebagian pihak menganggap bahwa metode ini merupakan metode yang paling mudah diterapkan
dalam akuntansi inflasi.

Reproduction cost
Merupakan istilah lain yang hampir sama dengan replacement cost. Disini harga diukur
berdasarkan harga sekarang jika aktiva itu dibuat atau dipublikasi seperti barang yang dimiliki itu tanpa
melihat perubahan teknologi yang mungkin mempengaruhiaktiva yang dibuat itu.

2. The exit value system harga pasar atau current market value yang terdiri dari :

Net realizable value

NRV merupakan harga jual dikurangi taksiran biaya penjualan. Penyusutan dihitung berdasarkan perbedaan antara
harga jual aktiva itu pada awal dibandingkan dengan pada akhir periode.

Selling price

harga jual tanpa dikurangi biaya penjualan sehingga laporan keuangan yang disusun menurut selling price ini akan
lebih besar daripada net realizable value dan metode lain yang disebut sebelumnya.

Expected value

Metode ini sangat tergantung pada pengharapan seseorang jadi bisa lebih besar atau lebih kecil dibanding dengan
metode lain karena expected value ini merupakan gambaran dari present value kas dimasa yang akan datang.

Perbedaan model akuntansi biaya terkini & konvensional

Perbedaan model akuntansi biaya terkini & konvensional Laporan Keuangan Biaya Historis Laporan Posisi
Keuangan :

1. Jumlah dalam laporan posisi keuangan yang belum dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada akhir periode
pelaporan, disajikan kembali dengan menerapkan indeks harga umum.
2. Pos-pos moneter tidak disajikan kembali karena sudah dinyatakan dalam unit moneter kini pada akhir periode
pelaporan. Pos-pos moneter adalah uang yang dimiliki dan hal yang akan diterima atau dibayar dalam bentuk
uang.
3. Aset dan liabilitas, melalui perjanjian, yang terhubung dengan perubahan harga misalnya index linked bonds and
loans, disesuaikan sesuai dengan perjanjian untuk memastikan jumlah saldo pada akhir periode pelaporan. Pos-
pos tersebut dicatat pada jumlah yang telah disesuaikan dalam laporan posisi keuangan yang disajikan kembali.
4. Seluruh aset dan liabilitas lain adalah nonmoneter. Beberapa pos nonmoneter dicatat pada jumlah kini pada
akhir periode pelaporan, seperti nilai realisasi neto dan nilai wajar,maka pos tersebut tidak disajikan kembali.
Seluruh aset dan liabilitas nonmoneter yang lain disajikan kembali.
5. Sebagian besar pos-pos nonmoneter dicatat pada biaya perolehan atau biaya perolehan dikurangi penyusutan.
Oleh karena itu, pos-pos tersebut disajikan sebesar jumlah kini pada tanggal akuisisinya. Biaya perolehan, atau
biaya perolehan dikurangi penyusutan, yang disajikan kembali untuk setiap pos ditentukan dengan menerapkan
perubahan indeks harga umum dari tanggal akuisisi sampai akhir periode pelaporan pada biaya historis dan
akumulasi penyusutan. Misalnya, aset tetap, persediaan bahan baku dan barang dagangan, goodwill, paten,
merek dagang dan aset serupa disajikan kembali dari tanggal pembeliannya. Persediaan barang setengah jadi dan
barang jadi disajikan kembali dari tanggal terjadinya biaya pembelian dan biaya konversi.
6. Catatan rinci tanggal perolehan dari unit-unit aset tetap mungkin tidak tersedia atau tidak dapat diestimasi.
Dalam keadaan yang jarang terjadi, hal ini mungkin diperlukan, pada periode pertama kali menerapkan
Pernyataan ini, untuk menggunakan penilaian profesional independen atas nilai unit tersebut sebagai dasar
penyajian kembalinya.
7. Indeks harga umum mungkin tidak tersedia untuk periode saat menyajikan kembali aset tetap yang disyaratkan
oleh Pernyataan ini. Dalam keadaan ini, entitas mungkin perlu untuk menggunakan dasar estimasi, misalnya,
pada perpindahan kurs antara mata uang fungsional dan mata uang asing yang relatif stabil.
8. Beberapa pos nonmoneter dicatat pada jumlah kini pada tanggal selain tanggal akuisisi atau tanggal laporan
posisi keuangan, misalnya aset tetap yang telah direvaluasi pada tanggal sebelumnya. Dalam kasus ini, jumlah
tercatat disajikan kembali dari tanggal revaluasi.
9. Jumlah yang disajikan kembali dari pos-pos nonmoneter dikurangi, sesuai dengan PSAK terkait, ketika jumlah
tersebut melebihi jumlah terpulihkan. Misalnya, jumlah aset tetap, goodwill, paten dan merek dagang yang
disajikan kembali dikurangi menjadi jumlah terpulihkan, dan jumlah persediaan yang disajikan kembali
dikurangi menjadi nilai realisasi neto.
10. Investee yang mencatat dengan metode ekuitas dapat membuat laporan dalam mata uang ekonomi hiperinflasi.
Laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi komprehensif investee tersebut disajikan kembali sesuai dengan
Pernyataan ini untuk mengitung bagian investor atas aset neto dan laba rugi. Ketika laporan keuangan investee
yang disajikan kembali dinyatakan dalam mata uang asing, maka laporan keuangan tersebut dijabarkan pada kurs
penutup.
11. Pengaruh inflasi biasanya diakui dalam biaya pinjaman. Hal yang tidak sesuai untuk menyajikan kembali
pengeluaran modal yang dibiayai dengan pinjaman serta mengkapitalisasi bagian biaya pinjaman untuk
mengkompensasi inflasi selama periode yang sama. Bagian biaya pinjaman ini diakui sebagai beban dalam
periode saat biaya terjadi.
12. Entitas dapat memperoleh aset dalam perjanjian yang mengizinkan entitas untuk menangguhkan pembayaran
tanpa menimbulkan beban bunga eksplisit. Ketika entitas tidak praktis untuk menentukan jumlah bunga, maka
aset tersebut disajikan kembali dari tanggal pembayaran dan bukan tanggal pembelian.
13. Pada awal periode pertama kali penerapan Pernyataan ini, komponen ekuitas, kecuali saldo laba dan surplus
revaluasi, disajikan kembali dengan menggunakan indeks harga umum dari tanggal komponen ekuitas tersebut
dikontribusikan atau muncul. Surplus revaluasi yang timbul dalam periode sebelumnya dieliminasi. Saldo laba
yang disajikan kembali berasal dari seluruh jumlah lain dalam laporan posisi keuangan.
14. Pada akhir periode pertama dan periode selanjutnya, seluruh komponen ekuitas disajikan kembali dengan
menerapkan indeks harga umum dari awal periode atau tanggal kontribusi, jika lebih belakangan. Perpindahan
dalam ekuitas pemilik selama periode diungkapkan sesuai dengan PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan
Keuangan. Laporan Laba Rugi Komprehensif.
15. Pernyataan ini mensyaratkan bahwa seluruh pos dalam laporan laba rugi komprehensif dinyatakan dalam unit
pengukuran kini pada akhir periode pelaporan. Oleh karena itu, seluruh jumlah perlu untuk disajikan kembali
dengan menerapkan perubahan indeks harga umum dari tanggal pos pendapatan dan beban tersebut awalnya
dicatat dalam laporan keuangan. Keuntungan atau Kerugian Posisi Moneter Neto.

SIFAT PERUBAHAN HARGA


Harga mencerminkan nilai tukar dari barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa ini mencakup
beberapa factor produksi dan barang-barang pada tahap antara produksi, barang-barang yang disimpan untuk tujuan
spekulatif, dan barang dan jasa yang diperoleh untuk tujuan konsumsi. Secara umum, harga-harga ini dapat
diklasifikasikan sebagai harga masukan (harga factor produksi atau barang dan jasa pada tahap antara, yang
diperoleh untuk produksi selanjutnya atau penjualan kembali) atau harga keluaran (harga barang dan jasa yang dijual
sebagai produk perusahaan).
Perubahan harga terjadi hanya bila harga barang dan jasa berbeda dari yang sebelumnya ada pada dasar yang
sama. Kenyataan bahwa perusahaan membeli komoditi dalam pasar masukannya pada satu harga dan menjual
kepada pelanggan pada harga yang lebih tinggi tidak berarti bahwa harga komoditi itu telah berubah. Perubahan
harga terjadi hanya jika harga naik atau turun baik dalam pasar masukan ataupun keluaran, atau keduannya.
Perubahan harga dapat diklasifikasikan sebagai salah satu dari tiga jenis, meskipun klasifikasi ini saling
bergantung dan tidak saling menyingkirkan. Ini adalah:
1. Perubahan harga umum
2. Perubahan harga spesifik
3. Perubahan harga relatif
Perubahan harga umum mencerminkan kenaikan atau penurunan nilai unit moneter. Hal itu bisa disebabkan oleh
perubahan dalam penawaran atau kecepatan uang yang lebih besar atau lebih kecil dari perubahan dalam total
penawaran barang dan jasa dalam perekonomian, oleh ketidakseimbangan total penawaran dan permintaan barang
dan jasa secara umum atau oleh perubahan dalam harga komoditi dasar didunia. Perubahan harga spesifik terjadi
karena beberapa alasan, termasuk perubahan dalam selera konsumen, peningkatan teknologi, spekulasi dan
perubahan nilai uang. Perubahan harga relatif mencerminkan perubahan struktur harga atau perubahan harga dari
satu komoditi relatif pada harga semua barang dan jasa. Perubahan harga umum dan relative keduanya dicerminkan
dalam perubahan harga barang-barang spesifik. Meskipun sulit, atau tak mungkin untuk memisahkan dua pengaruh
pada harga spesifik, hal itu merupakan fenomena ekonomi yang berbeda secara konseptual.

PERUBAHAN TINGKAT HARGA UMUM


Perubahan tingkat harga umum terjadi sebagai hasil dari perubahan nilai unit moneter selama ;periode inflasi
atau deflasi. Dengan tidak adanya pergerakan harga structural atau relative, semua harga akan bergerak bersama
dengan persentase yang sama. Akan tetapi, jika harga bergerak pada tingkat yang berbeda, yang merupakan kasus
yang biasa, ukuran perubahan harga umum dapat diperoleh hanya dengan menghitung rata-rata atau indeks harga
untuk menyatakan tingkat umum harga kini dibandingkan dengan beberapa periode dasar. Rasio indeks harga
sekarang pada indeks periode dasar mencerminkan perubahan relative dalam semua harga yang termasuk didalam
indeks.
Istilah daya beli mengacu pada kemampuan untuk membeli barang dan jasa dengan sejumlah uang tertentu
(misalnya satu dolar) dibanding dengan apa yang telah dibeli dengan sejumlah uang yang sama pada waktu yang
lalu. Untuk memdapatkan perbandingan yang baik dari daya beli uang pada dua tanggal yang berbeda, barang dan
jasa yang tersedia pada kedua tanggal harus sama atau serupa. Karena jenis dan mutu barang dan jasa yang tersedia
banyak berubah sepanjang waktu, perbandingan yang baik untuk daya beli tak dapat diperoleh selama beberapa
decade.
Daya beli umum mengacu pada kemampuan untuk membeli semua jenis barang dan jasa yang tersedia dalam
perekonomian, dan itu diukur dengan perubahan dalam tingkat harga umum. Daya beli spesifik mengacu pada
kemampuan untuk membeli barang dan jasa tertentu pada tanggal-tanggal yang berbeda. Jadi daya beli spesifik
dapat diukur dengan perubahan dalam harga spesifik. Diantara konsep daya beli umum dan daya beli spesifik
terdapat banyak konsep yang berkaitan dengan kemampuan utnuk membeli barang dan jasa tertentu yang dapat
dibeli oleh kelompok atau individu tertentu atau yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.

PERUBAHAN HARGA SPESIFIK


Dengan tidak adanya pergerakan harga umum atau perubahan nilai unit moneter, suatu perubahan dalam harga
komoditi tertentu mencerminkan perubahan dalam nilai tukarnya. Perubahan harga dalam suatu pasar masukan
menimbulkan kenaikan atau penurunan dalam biaya atau beban perusahaan, dan perubahan harga keluaran
menimbulkan pergesaran pendapatan (dengan asumsi perubahan harga itu tidak mempengaruhi kuantitas yang
dijual). Dalam pendekatan transaksi tradisional pada akuntasni,harga semula barang atau jasa diperoleh
ditandingkan dengan pendapatan yang bersangkutan dengan periode itu atau barang yang di jual.Perubahan harga
masukan spesifik dari barang yang di jual karenanya mencakup perhitungan laba bersih yang di laporkan untuk
periode itu.penandingan yang lebih relevan dianggap harus di dapatkan dengan melaporkan sebagai beban , harga
kini dari barang yg di gunakan dalam proses untuk memperoleh pendapatan.Jadi pendingan harga masukan kini
denga harga keluaran kini (pendapatan) dinggap lebih relevan sebagai ukuran efisiensi dan sebagai dasar yang lebih
baik untuk meramalakan hasil hasil transaksi masa depan.
Meskipun tidak terdapat kesepakatan umum mengenai sifat perubahan dalam harga barang spesifik yang
disimpan oleh suatu perusahaan, satu pandangan adalah bahwa suatu kenaikan harga menghasilkan keuntungan yang
ditahan, dan penurunan menghasilkan kerugian yang ditahan. Menurut pandangan tersebut, ini harus dimasukkan
dalam perhitungan laba perusahaan karena hal itu mencerminkan perubahan dalam nilai ekuitas pemegang saham.
Konvensi biaya dalam akuntansi tidak melaporkan adanya perubahan dalam nilai aktiva sampai pendapatan
dilaporkan, biasanya pada saat pejualan . Jika biaya kini digunakan , keuntungan dan kerugian yang ditahan dpat
dilaporkan sebagai perubahan harga , meski keuntungan atau kerugian ini dapat di klasifikasikan baik sebagai
direalisasi atau belum diealisasi.Biaya kini merupakan harga tukar ,dan kerenya pengunaannya menghasilkan
penyimpangan dari dasar biaya historis . Suatu keberatan seringkali diajukan mengenai penggunaan biaya kini
dengan alasan bahwa nilai subjektif menggantikan harga pertukaran yang dapat diuji .

PERUBAHAN HARGA RELATIF


Dalam situasi yang biasa, harga barang dan jasa bergerak pada tingkat yang berbeda, dan beberapa bahkan pada
arah yang berbeda. Dalam akuntansi tradisional, dengan menggunakan biaya historis, tidak ada perubahan harga
yang dipisahkan untuk pelaporan terpisah; semua perubahan harga termasuk dalam laba sebagai hasil dari transaksi.
Jika harga kini digunakan sebagai pengganti biaya historis, laba bersih operasi dapat dihitung tanpa memasukkan
setiap pengaruh perubahan harga. Tetapi keuntungan dan kerugian yang ditahan tak dapat diukur kecuali jika akun-
akun disesuaikan untuk perubahan harga spesifik dan perubahan tingkat harga umum.

KLASIFIKASI MONETER DAN NONMONETER


Aktiva moneter adalah klaim pada kuantitas tetap dari unit moneter (misalnya dolar) yang menggambarkan
daya beli umum. Meskipun harga barang dan jasa bisa berubah, klaim yang dinyatakan dalam sejumlah dolar
tertentu tetap tidak berubah, yang berubah adalah daya beli, atau kemampuan untuk mengubah klaim ini menjadi
barang dan jasa. Aktiva moneter mencakup kas, klaim kontraktual pada sejumlah uang tertentu di masa depan,
seperti piutang usaha dan wesel tagih.
Uang konvertibel dalam saham preferen konvertibel adalah pos-pos campuran yang bisa moneter atau
nonmoneter, tergantung situasinya. Jika harga pasar saham biasa naik cukup besar, yaitu yang kedalamnya pos itu
dapat dikonversi, maka pasar akan menilai sekuritas konvertibel dalam satuan ekivalen saham biasa. Karena itu,
investasi dalam sekuritas konvertibel akan diklasifikasikan sebagai moneter atau nonmoneter, tergantung apakah
pasar menilainya sebagai sekuritas utang atau ekuitas.
Kewajiban moneter merupakan kewajiban untuk membayar sejumlah tetap dolar pada suatu waktu di masa
depan, tanpa memperhatikan apa yang terjadi pada nilai unit moneter. Hal itu juga mencakup kewajiban untuk
membayar sejumlah tetap dolar, sekalipun jumlah tepatnya tidak diketahui secara pasti. Kriteria yang penting adalah
bahwa jumlah yang harus dibayarkan tidak tergantung pada perubahan nilai unit moneter. Ini mencakup utang usaha
dan wesel bayar, akrual seperti upah dan utang bunga dan kewajiban jangka panjang yang harus dibayar dalam suatu
jumlah tetap.
Aktiva nonmoneter, dipihak lain mencakup pos-pos dimana harga-harga dalam satuan unit moneter dapat
berubah sewaktu-waktu, atau klaim atas jumlah unit moneter yang berubah mencerminkan jumlah yang ditentukan
terlebih dahulu dari daya beli.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PADA POS-POS MONETER


Inflasi diketahui bermanfaat bagi debitor dan merugikan bagi kreditor. Kenaikan tingkat harga biasa nya berarti
keuntungan dolar, yang membuat pelunasan utang menjadi lebih mudah dalam suatu pengorbanan ekonomi yang
terlibat. Keuntungan dan kerugian dari penahanan aktiva moneter bersih oleh suatu perusahaan tidak begitu mudah
dievaluasi. Perhitungan keuntungan dan kerugian daya beli pada pos-pos moneter melibatkan dua langkah yang
berbeda:
1. Jumlah klaim pertama-tama ditetapkan kembali untuk perubahan dalam daya beli dolar selama periode akuntansi
bersangkutan, atau selama periode hal itu ditahan atau beredar jika kurang dari satu tahun.
2. Jumlah yang ditetapkan kembali kemudian dibandingkan dengan nilai kini dari aktiva atau kewajiban pada akhir
periode atau pada waktu pos-pos itu berkurang. Perbedaannya adalah keuntungan dan kerugian dalam daya beli.
Pandangan lain adalah, dari sudut pandang perusahaan, keuntungan dan kerugian atas utang jangka panjang
bukan merupakan determinan dari laba, tetapi lebih merupakan penyesuaian atas total ekuitas perusahaan
bersangkutan.
Kedua, tujuan dasar dari penetapan kembali daya beli adalah untuk memanfaatkan skala pengukuran yang
konsisten, bukan untuk mengukur perubahan nilai dari pos-pos spesifik. Karena pos-pos nonmoneter tidak
dinyatakan pada nilai kini, penilaian pos-pos moneter pada nilai kini tidak konsisten. Yaitu, pos moneter ditetapkan
untuk perubahan dalam daya beli dan kemudian kembali lagi ditetapkan ke nilai nominal yang mungkin mendekati
nilai kini, sedangkan pos-pos nonmoneter ditetapkan kembali hanya untuk perubahan daya beli. Suatu penjelasan
sebagian adalah bahwa akuntansi tradisional juga mengakui perubahan dalam nilai beberapa pos yang diukur dalam
satuan harga-harga keluar.

Dari sudut pandang interpretasi dunia nyata, keuntungan dan kerugian daya beli juga mempunyai
kekurangan. Kekurangan yang signifikan dalam interpretasi keuntungan dan kerugian tersebut berasal dari
kenyataan bahwa banyak komitmen moneter masa depan dibuat dengan harapan inflasi yang berkepanjangan.
Penyajian laba sebagai gambaran perubahan nilai perusahaan bagi pemegang saham mengalami banyak kesulitan
teoritis dan praktis. Karena nilai suatu perusahaan bergantung pada pengharapan mengenai arus kas masa depan dan
preferensi kegunaan masing-masing pemegang saham, laporan akuntansi hanya dapat memberikan dasar-dasar
untuk membuat prediksi dan mengevaluasi resiko.

Perubahan nilai perusahaan secara keseluruhan tidak dapat diukur dengan menjumlahkan perubahan dalam
harga pertukaran atau daya beli dari aktiva dan kewajiban tertentu. Keberatan lain dari pelaporan keuntungan dan
kerugian daya beli dalam laba adalah asumsi bahwa hal itu tidak relevan dalam sebagian besar keputusan investasi
dan pemakai lain dari laporan eksternal.

Penetapan Kembali untuk Perubahan Daya Beli


Penetapan Kembali Pos-pos Nonmoneter

Aktiva nonmoneter yang diperoleh dalam satu periode dan ditahan untuk dijual dan digunakan pada
periode mendatang dapat diukur berdasarkan harga tukar yang berlaku saat aktiva itu diperoleh atau berdasarkan
harga tukar pada tanggal pelaporan atau pada tanggal lainnya. Pengukuran ini disebut dolar nominal karena
menggambarkan jumlah dolar pada pengukuran, dan tidak dapat dibandingkan secara logis dengan pengukuran
serupa pada tanggal lainnya. Hanya jika pengukuran dinyatakan dalam harga pada tanggal yang sama dan jika
ditetapkan kembali berdasarkan perubahan nilai uang, barulah aktiva itu dinyatakan dalam unit-unit yang konstan.
Apabila hal itu ditetapkan kembali dalam satuan perubahan nilai uang, maka hal itu disebut dolar konstan. Apabila
biaya kini ditetapkan kembali untuk tujuan perbandingan atau untuk menyatakan jumlah pada tanggal selain dari
tanggal pengukuran, hasilnya adalah informasi biaya kini/dolar konstan.

Penetapan kembali untuk perubahan dlam daya beli umum meruoakan peningkatan hanya dalam kerangka
structural. Hal itu mengarah pada interpretasi dunia nyata hanya jika tingkat harga umum dan harga-harga spesifik
bergerak sedemikian rupa sehingga penetapan kembali tingkat harga umum dapat dipandang pengganti untuk harga-
harga spesifik.

Model-model Penetapan Kembali Tingkat Harga

Contoh-contoh berikut diambil dari diskusi yang diawali oleh Chambers. Model-model ini mengasumsikan
klasifikasi dasar dari aktiva dan kewajiban sebagai moneter dan nonmoneter, interval atau selang waktu tanpa
transaksi, dan perubahan tingkat harga umum atau pun perubahan harga barang-barang spesifik atau keduanya.

Penetapan Kembali Tingkat Harga Umum

Marilah kita asumsikan sebuah perusahaan dengan aktiva moneter bersih M, total aktiva nonmoneter N, dan ekuitas
tersisa R, semuanya dinyatakan dalam dolar pada waktu t0*:

Mo + No = Ro

(1)

Asumsikan juga bahwa penetapan kembali akan dilakukan dengan menggunakan suatu indeks perubahan tingkat
umum p, yang mencerminkan perubahan dalam tingkat harga umum sedemikian rupa sehingga p = (P1/P0 – 1)
dimana P1 = indeks harga pada t1, dan P0= harga indeks pada t1 adalah sebagai berikut:

Mo(1 + p) + No(1 + p) = Ro(1 + p)

(2)

Dengan perkalian kita memperoleh:

Mo + Mop + No + Nop = Ro + Rop


Dan karena jumlah aktiva moneter bersih (M) tetap tidak berubah dari t0 ke t1, maka kita kurangkan Mop dari kedua
system dan mengubah Mo menjadi M1 :

M1 + (No + Nop) = (Ro + Rop) – Mop

(3)

(No + Nop) merupakan harga semula dari aktiva nonmoneter yang dinyatakan dalam satuan dolar biasa pada t1 dan
(Ro + Rop) merupakan ekuitas pemegang saham pada t0 dinyatakan kembali dalam satuan daya beli dolar pada t1.
Dapat diasumsikan bahwa pemegang saham akan sama baik pada t1 seperti pada t0 jika R1 = Ro + Rop.

Penetapan Kembali untuk Perubahan Harga Spesifik

Jika aktiva ditetapkan kembali untuk perubahan harga dari masing-masing aktiva dan bukan perubahan dalam daya
beli umum, setiap aktiva nonmoneter harus disesuaikan oleh tingkat perubahan dalam daya beli umum, setiap aktiva
nonmoneter harus disesuaikan oleh tingkat perubahan dalam harga spesifiknya., si; aktiva moneter bersih tidak
ditetapkan kembali karena harga spesifik mereka dalam dolar tidak berubah. Karena setiap aktiva nonmoneter atau
kemompok aktiva serupa Ni harus disesuaikan secara terpisah.

Perubahan Harga Relatif

Jika tidak ada perubahan dalam daya beli umum dari dolar, kenaikan dalam ekuitas tersisa yang ditunjukkan dalam
persamaan (1) merupakan keuntungan yang ditahan, menurut beberapa pendukung dari penyesuaian tingkat harga
umum. Yakni, perusahaan dianggap sama baiknya pada akhir periode seperti pada awal periode jika R1 = Ro + Rop,
tetapi jika p = 0, Rop = 0; Jadi, kenaikan harga aktiva moneter spesifik memungkinkan perusahaan untuk menjadi
lebih baik pada akhir periode itu dalam pengertian kemampuannya untuk menggunakan sumber dayanya untuk
membeli barang dan jasa secara umum. Keseluruhan perubahan harga spesifikdalam kasus itu diasumsikan
merupakan perubahan harga relative.

Evaluasi atas Penetapan Kembali Tingkat Harga

Beberapa kontroversi utama mengenai tingkat harga berpusat di sekitar pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apakah prosedur dan teknik pengukurannya layak?


2. Apakah struktur akuntansi yang dihasilkan logis dan secara intern konsisten?
3. Apakah laporan yang dihasilkan dapat ditafsirkan secara berarti? Dengan perkataan lain, apakah hal itu
mempunyai signifikansi dunia-nyata?
4. Apakah dampak perilaku dari penetapan tingkat harga? Apakah hal itu relevan untuk model-model
keputusan dari investor dan kreditor?
5. Apakah manfaat informasi yang diberikan oleh penetapan tingkat harga yang melebihi biaya menghitung
dan melaporkan data itu?
Pendekatan alternative pada penetapan tingkat harga harus dievaluasi dengan memperhatikan semua pernyataan ini.
Evaluasi berikut dimaksudkan untuk menempatkan hal itu dalam perspektif yang tepat, meski jawaban akhirnya tak
dapat diberikan pada waktu ini karena tidak adanya riset empiris yang mencukupi pada topik ini.

Daya Beli Umum

Sebagian besar usulan dan studi untuk penetapan kembali laporan keuangan dengan menggunakan satu
indeks harga tunggal telah menyatakan secara eksplisit atau diasumsikan bahwa indeks itu harus mengukur
perubahan dalam harga secara umum, yang mencerminkan perubahan dalam daya beli umum atau perubahan dalam
nilai umum dari dolar.

Daya beli umum, sebagaimana yang diukur oleh indeks harga umum menunjukkan kecenderungan umum
dari semua harga barang dan jasa dalam perekonomian dan untuk naik atau turun atau tetap konstan secara rata-rata
yang ditimbang secara tepat, dan mencerminkan perubahan dalam nilai uang. Tidak ada indeks semua harga dalam
ekonomi pernah dihitung, dan tidak ada yang dapat dihitung, tetapi beberapa indeks yang tersedia dapat digunakan
sebagai perkiraan yang mendekati.

Dari sudut pandang structural, system daya beli umum tampaknya logis dan konsisten dengan dua
pengecualian : (1) Perbedaan antara pos moneter dan nonmoneter bersifat arbitrer, dan (2) pos-pos moneter
ditetapkan dua kali- sekali untuk perubahan dalam daya beli umum dan kembali lagi untuk penetapan kembali balik
ke nilai nominal atau nilai kini—tetapi pos-pos nonmoneter ditetapkan hanya untuk perubahan daya beli umum.
Namun harus diakui bahwa hanya skala pengukuran yang berubah. Strukturnya tetap mempunyai semua kekurangan
dari segi akuntansi biaya historis.

Dari sudut pandang interpretasional, diasumsikan bahwa daya beli umum, umumnya dipahami sebagai
sumber daya standar yang dapat digunakan untuk memperoleh suatu atau semua barang dan jasa dalam
perekonomian. Tetapi interpretasinya tidak dimaksudkan untuk menyajikan nilai kini, tetapi semata-mata biaya
historis yang ditetapkan kembali untuk perubahan dalam daya beli umum. Namun demikian, interpretasinya tetap
sulit karena biaya historis merupakan jumlah dolar yang dibayarkan untuk pos spesifik, tetapi jumlah yang
ditetapkan kembali tidak mencerminkan jumlah yang harus dibayarkan untuk pos itu jika tingkat harga kini dan
struktur harga kini kemudian diketahui.

Dari sudut pandang perilaku, bukti relevansi untuk keputusan investasi tidak meyakinkan. Sebagai hasil
empiris, Petersen menyatakan bahwa “…. Jika seseorang menerima gagasan bahwa informasi keuangan masukan
pada keputusan investasi, beberapa dampak dari pilihan itu dinyatakan”. Penyelidikan lainnya tentang perilaku harga
sekuritas, disimpulkan bahwa data tingkat harga yang dinyatakan ulang mengandung informasi yang tidak diperoleh
dalam laporan tradisional. Akan tetapi sebagai hasil dari riset di Inggris, Moris menyimpulkan bahwa terdapat
sangat sedikit indikasi bahwa pasar menanggapi pada informasi yang disajikan oleh angka laba yang disesuaikan
inflasi. Tidak adanya relevansi yang mendukung kuat penetapan kembali tingkat harga umum mungkin berasal dari
beberapa factor, termasuk yang berikut : (1) ketidakmampuan untuk mendefinisikan model-model keputusan
investasi; (2) pengumpulan informasi dalam harga pasar dari sumber-sumber lain yang sesuai dengan hipotesis pasar
efisien; dan (3) tidak adanya kemampuan interpretasi dari data yang ditetapkan kembali. Riset lebih lanjut tentu
mungkin saja membuktikan yang sebaliknya.

Daya Beli Pemegang Saham. Salah satu konsep paling awal dari daya beli adalah bahwa modal dipelihara
hanya jika kemampuan pemegang saham untuk membeli sejumlah dan sekualitas tertentu barang dan jasa konsumsi
tetap konstan. Walau investor terus melikuidasi saham mereka, lebih umum bagi pemegang saham untuk
menginvestasikan kembali tabungan mereka dan mengkonsumsi hanya laba dari investasi.

Daya Beli Investasi Dari Perusahaan. Postulat kuntinuitas mengasumsi bahwa perusahaan akan terus
menginvestasikan kembali aktivanya untuk mempertahankan modal yang di investasikan.

AKUNTANSI UNTUK BIAYA KINI

Current Value mencerminkan harga yang harus dibayarkan untuk suatu aktiva atau penggunaanya pada
tanggal neraca atau tanggal penggunaan atau penjualannya jika aktiva itu belum dimiliki saat ini. FASB berupaya
untuk membahas masalah inflasi dengan mewajibkan perusahaan pelapor yang besar untuk melakukan eksperimen
dengan pengungkapan daya beli konstan biaya histories dan pengungkapan biaya kini. Oleh karena itu, investor
memerlukan laporan keunagan yang disesuaikan dengan tingkat harga spesifik dan bukan tingkat harga umum,
karena penyesuaian tingkat harga spesifik (model biaya kini yang kita gunakan) menentukan jumlah maksimum
yang dapat dibayarkan oleh perusahaan sebagai dividen (kekayaan yang dapat dibagikan) tanpa mengurangi
kapasitas produktifnya.

Konsep Pemeliharaan Modal

Salah satu interpretasi dari laba akuntansi adalah bahwa hal itu di dasarkan pada konsep pemeliharaan
modal. Yaitu, laba di tentukan sebagai jumlah yang dapat dibagikan suatu perusahaan kepada pemegang sahamnya
dan sama baiknya di akhir periode seperti pada awal periode.

Evaluasi atas Akuntansi untuk Biaya Kini

Biaya kini dinilai memiliki beberapa manfaat atas konsep biaya historis. Diantaranya adalah:

1. Biaya kini merupakan jumlah yang harus dibayarkan perusahaan pada masa kini untuk mendapatkan aktiva
atau jasanya.
2. Biaya ini identifikasi dari keuntungan dan kerugian yang di tahan.
3. Biaya kini merupakan nilai aktiva bagi perusahaan jika perusahaan itu terus memperoleh aktiva tersebut
dan jika nilai belum ditambahkan pada aktiva itu oleh perusahaan.
4. Penjumlahan aktiva yang dinyatakan dalam satuankini lebih bermakna daripada panambahan biaya historis
yang terjadi pada periode waktu yang berbeda.
5. Biaya ini memungkinkan pelaporan laba operasi kini, yang dapat digunakan untuk meramalkan arus kas
masa depan.

Penjabaran Mata Uang Asing

Dalam kasus dimana dinginkan pemisahaan aktiva atau kewajiban atau transaksi yang dinyatakan dalam
mata uang berbeda,jumlah yang dinyatakan dalam mata uang yang berbeda harus dijabarkan dalam satuan mata
uang negara tempat sebagian besar pembaca laporan keuangan berdomisili.

SFAS 8 versus SFAS 52

FSAB, telah menghadapi banyak perdebatan pada masyarakat, mengeluarkan SFAS8 dalam bulan oktober
1975. Pernyataan itu pada dasarnya mengharuskan perusahaan untuk menggunakan metode sementara. Setiap
keuntungan dan kerugian dari fluktuasi kurs tukar diperhitungkan dalam laporan rugi laba.