Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian para
anggotanya. Artinya, ia tidak biasa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak
dilatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. keahlian
diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum
seseorang menjalani profesi itu (pendidikan/latihan pra-jabatan) maupun setelah
menjalani suatu profesi (in-service training). Profesi yang dijalani oleh seseorang
selain memiliki keahlian yang telah disiapkan dan telah dilatih terdapat pula kode
etik yang ditetapkan masing-masing profesi.
Kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh
kelompok profesi yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya
bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu moralprofesi itu
dimata masyarakat. Kode etik profesi merupkan produk etika terapan karena
dihasilkan berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi. Kode etik
profesi dapat berubah dan diubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sehingga anggota kelompok profesi tidak akan ketinggalan
zaman.Kode etik profesi merupakan hasil pengaturan diri profesi yang
bersangkutan dan ini perwujudan moral yang hakiki, yang tidak dapat dipaksakan
dari luar. Kode etik profesi hanya berlaku efektif apabila dijiwai oleh cita-cita dan
nilai-nilai yang hidup dalam lingkungan profesi itu sendiri. (Ais, 2013)
Setiap orang yang berkecimpung dalam suatu kegiatan yang bersifat profesi
dan keahlian yang memiliki suatu kemampuan khusus berupa kompetensi, maka
akan memiliki suatu organisasi profesi sebagai wadah menyalurkan aspirasi dan
wadah komunikasi dalam rangka menjadi rasa persatuan sesama profesi yang
dijalankan sebagai tanggung jawab rasa kebersamaan. Dunia kesehatan dikenal
beberapa organisasi kesehatan yang telah lama berdiri dan eksis dalam
memperjuangkan aspirasi anggota didalamnya dan juga baru berdiri dalam
beberapa tahun ini. Organisasi yang berhaluan pada ke laboratorium antara lain
adalah PATELKI, IAKI, PAMKI, ILKI dan HKKI. Untuk organisasi profesi
laboratorium kesehatan hanya PATELKI dan IAKI. (Anonim, 2015)
Pelayanan Laboratorium Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Laboratorium kesehatan kepada
masyarakat sebagai unit pelayanan penunjang medis, diharapkan memberikan
informasi yang teliti dan akurat tentang aspek laboratoris terhadap
spesimen/sampel yang penujianya dilakukan di laboratorium. Masyarakat
menghendaki mutu hasil pengujian laboratorium terus ditingkatkan seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahian dan teknologi serta perkembangan penyakit. Ahli
teknologi laboratorium kesehatan yang terdiri dari analis kesehatan dan praktisi
laboratorium lainnya harus senantiasa mengembangkan diri dalam menjawab
kebutuhan masyarakat akan adanya jaminan mutu terhadap hasil pengujian
laboratorium dan tuntutan diberikan pelayanan yang prima.
Dalam era globalisasi, tunututan standar standar mutu pelayanan laboratorium
tidak dapat dielakan lagi. Peraturan perundang-undangan sudah mulai diarahkan
kepada kesiapan seluruh profesi kesehatan dalam menyongsong era pasar bebas
tersebut. Ahli teknologi laboratorium kesehatan Indonesia harus mampu bersaing
dengan ahli–ahli teknologi laboratorium (Medical Laboratory Technologist) dari
negara yang lebih maju.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian etika dan profesi analis kesehatan ?
2. Bagaimana penerapan kode etik profesi analis kesehatan?
3. Apa sajakah aturan-aturan yang berlaku di bidang analis kesehatan?
4. Bagaimana pengaplikasian kode etik analis kesehatan ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian etika dan profesi analis kesehatan
2. Mengetahui penerapan kode etik profesi analis kesehatan
3. Mengetahui aturan-aturan yang berlaku di bidang analis kesehatan
4. Mengetahui pengaplikasian kode etik analis kesehatan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Profesi


Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan
kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi
kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang
benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan
dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup
sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya
disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang
menyandang profesi tersebut. (Anonim, 2016)
2.2 Pengertian Etika
Etika merupakan cerminan dari sebuah mekanisme kontrol yang dibuat dan
diterapkan oleh dan untuk kepentingan suatu kelompok sosial atau profesi.
Kehadiran organisasi profesi dengan kode etik profesi diperlukan untuk menjaga
martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari
segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian. (Anonim, 2016)
2.3 Kode Etik Profesi
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam
melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik profesi
sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan untuk
mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui
ketentuan ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh
kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES, yang
dipandang sebagai kode etik pertama untuk profesi dokter.
Kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh
kelompok profesi yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya
bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu
dimata masyarakat. (Anonim, 2015)
Kode etik profesi merupkan produk etika terapan karena dihasilkan
berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi. Kode etik profesi dapat
berubah dan diubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga anggota kelompok profesi tidak akan ketinggalan zaman.
Kode etik profesi merupakan hasil pengaturan dari profesi yang bersangkutan
dan ini perwujudan moral yang hakiki, yang tidak dapat dipaksakan dari luar.
Kode etik profesi hanya berlaku efektif apabila dijiwai oleh cita-cita dan nilai-
nilai yang hidup dalam lingkungan profesi itu sendiri.
Kode etik profesi merupakan kriteria prinsip profesional yang telah
digariskan, sehingga diketahui dengan pasti kewajiban profesional anggota lama,
baru, ataupun calon anggota kelompok profesi. Kode etik profesi telah
menentukan standarisasi kewajiban profesional anggota kelompok profesi.
Sehingga pemerintah atau masyarakat tidak perlu campur tangan untuk
menentukan bagaimana profesional menjalankan kewajibannya.
Kode etik profesi pada dasarnya adalah norma perilaku yang sudah dianggap
benar atau yang sudah mapan dan tentunya lebih efektif lagi apabila norma
perilaku itu dirumuskan secara baik, sehingga memuaskan semua pihak. (Ais,
2013)
Fungsi Kode Etik Profesi. kode etik profesi perlu dirumuskan secara tertulis
Sumaryono (1995) mengemukakan 3 alasannya yaitu :
1. Sebagai sarana kontrol social
2. Sebagai pencegah campur tangan pihak lain
3. Sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik
A. Kelemahan Kode Etik Profesi :
1. Idealisme terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan dengan fakta
yang terjadi di sekitar para profesional, sehingga harapan sangat jauh dari
kenyataan. Hal ini cukup menggelitik para profesional untuk berpaling
kepada nenyataan dan menabaikan idealisme kode etik profesi. Kode etik
profesi tidak lebih dari pajangan tulisan berbingkai.
2. Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak dilengkapi
dengan sanksi keras karena keberlakuannya semata-mata berdasarkan
kesadaran profesional. Rupanya kekurangan ini memberi peluang kepada
profesional yang lemah iman untuk berbuat menyimpang dari kode etik
profesinya.
B. Prinsip dasar di dalam etika profesi:
1. Prinsip Standar Teknis, profesi dilakukan sesuai keahlian
2. Prinsip Kompetensi, melaksanakan pekerjaan sesuai jasa profesionalnya,
kompetensi dan ketekunan
3. Prinsip Tanggungjawab, profesi melaksanakan tanggung jawabnya sebagai
profesional
4. Prinsip Kepentingan Publik, menghormati kepentingan public
5. Prinsip Integritas, menjunjung tinggi nilai tanggung jawab professional
6. Prinsip Objektivitas, menjaga objektivitas dalam pemenuhan kewajiban
7. Prinsip Kerahasiaan, menghormati kerahasiaan informasi
8. Prinsip Prilaku Profesional, berprilaku konsisten dengan reputasi profesi
C. Sanksi pelanggaran Kode Etik:
1. Sanksi moral
2. Sanksi dikeluarkan dari organisasi
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh
suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu.
Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis,
seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional, seperti
kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar kode etik.
Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self regulation yang terwujud
dalam kode etik; seperti kode ituberasal dari niat profesi mengatur dirinya
sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi untuk menjalankan
kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek sehari hari,
control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam
kuat dalam anggotaanggota profesi, seorang profesional mudah merasa
segan melaporkan teman sejawat yang melakukan pelanggaran. Tetapi
dengan perilaku semacam itu solidaritas antar kolega ditempatkan di
atas kode etik profesi dan dengan demikian maka kode etik profesi itu tidak
tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah menempatkan etika
profesi di atas pertimbangan-pertimbangan lain. Lebih lanjut masing-
masing pelaksana profesi harus memahami betul tujuan kode etik profesi
baru kemudian dapat melaksanakannya. Kode Etik Profesi merupakan
bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjutan dari norma-
norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika
profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci
norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya
norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan
demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis
secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik,
apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan
tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional.
D. Tujuan Kode Etik Profesi
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
2.4 Etika Profesi Analis Kesehatan
A. Etika profesi Analis Kesehatan memiliki tiga dimensi utama, yaitu
1. Keahlian (pengetahuan, nalar atau kemampuan dalam asosiasi dan terlatih)
2. Keterampilan dalam komunikasi (baik verbal & non verbal)
3. Profesionalisme (tahu apa yang harus dilakukan dan yang sebaiknya
dilakukan) (Vivi, 2016)
B. Hak dan kewajiban analis kesehatan :
1. Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses
specimen·
2. Melaksanakan uji analitik terhadap reagen maupun terhadap spesimen
yang berkisar dari yang sedrhana sampai dengan kompleks·
3. Mengoperasikan dan memelihara peralatan lab untuk memastikan akurasi
dan keabsahan, menkonfirmasi hasil abnormal, melaksanakan prosedur
pengendalian mutu dan mengembangkan pemecahan masalah yang
berkaitan dengan data hasil uji·
4. Mengevaluasi teknik, instrumen dan prosedur baru untuk menentukan
manffat dan kepraktisannya.
5. Membantu klinis dalam pemanfaatan yang benar dari data lab untuk
memastikan seleksi yang efektif dan efisien terhadap uji laboratorium
dalam menginterprestasikan hasil uji
6. Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan
laboratorium membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam
bidang teknis kelaboratoriuman
7. Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium
kesehatan. (Ais, 2013)
C. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang analis kesehatan :
1. Keterampilan dan pengetahuan dalam pengembilan spesimen, termasuk
penyiapan pasien, labeling, penanganan, pengawetan, atau fiksasi,
pemprosesan, penyimpanan dan pengiriman specimen
2. Keterampilan dalam mengerjakan prosedur laboratorium·
3. Keterampilan dalam melaksanankan metode pengujian dan pemakaian
alat yang benar.
4. Keterampilan dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan alat,
kalibrasi, dan penanganan masalah yang berkaitan dengan uji yang di
lakukan·
5. Keterampilan dalam pembuatan dan uji kualitas media serta reagen untuk
pemeriksaan laboratorium.
6. Kewaspadaan terhadap faktor yang mempengaruhi hasil·
7. Keterampilan dalam mengakses dan menguji keabsahan hasil uji melalui
evaluasi mutu hasil, sebelum melaporkan hasil uji.
8. Keterampilan dalam menginterprestasikan hasil uji·
9. Kemampuan merencanakan kegiatan laboratorium sesuai dengan
jenjangannya
D. Etika menghadapi seorang Pasien :
1. Bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan
pelayanan kepada pasien / pemakai jasa secara profesional.
2. Menjaga kerahasiaan informasi dan hasil pemeriksaan pasien / pemakai
jasa, serta hanya memberikan kepada pihak yang berhak..
3. Dapat berkonsultasi / merujuk kepada teman sejawat atau pihak yang
lebih ahli untuk mendapatkan hasil yang akurat.
4. Menghadapi pasien dengan ekspresi muka (smile).
5. Menghindari sebuah konflik dengan pasien
6. Memiliki karakter yang lembut
7. Menghargai lawan bicara
8. Menjaga kepercayaan dan rahasia - rahasia pasien
9. Memberikan informasi yang baik·
10. Menjaga rahasia dan menyimpan kondisi - kondisi pasien yang di
hadapi
11. Mengontol jarak dengan pasien.
12. Intonasi suara yang jelas
13. Rileks (Vivi, 2016)
E. Profesionalisme Analis Kesehatan :
1. Tangibles (bukti langsung dan nyata) meliputi kemampuan hasil
pengujian, dapat menunjukkan konsep derajat kesehatan pada diri sendiri
2. Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang
dijanjikan dengan segera dan memuaskan
3. Responsiveness (daya tanggap), yaitu tanggap dalam memberikan
pelayanan yang baik terhadap pemakai jasa (pasien, klinisi, dan profesi
lain.
4. Assurance (jaminan), mencakup kemampuan, kesopanan, sifat dapat
dipercaya yang dimiliki Analis Kesehatan dan bebas dari risiko bahaya
atau keragu-raguan
5. Emphaty (empati) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pemakai jasa (pasien,
klinisi, dan profesi lain). (Anonim, 2015)
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan
kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi
kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang
benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, Kode etik profesi merupakan norma
yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi yang mengarahkan atau
memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan
sekaligus menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat. Kode etik profesi
analis kesehatan memiliki Hak dan kewajiban terhadap profesi, memiliki
profeionalitas dalam pekerjaan dan etika dalam perlakuan terhadap pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Ais. 2013. Etika Profesi Analis Kesehatan. (Online) http://kuliahanaliskesehatan.


blogspot.co.id/2013/06/etika-profesi-analis-kesehatan.html diakses pada 22
November 2017
Anonim. 2015. Makalah Etika Profesi. (Online) https://www.scribd.com/doc/
238917043/Makalah-Etika-Profes diakses pada 22 November 2017
Anonim. 2016. Etika Profesi Analis Kesehatan. (Online) www.atlm.web.id/2016/05/
makalah-etika-profesi-analis-kesehatan.html diakses pada 22 November 2017
Vivi. 2016. Profesi Analis Kesehatan. (Online) http://vivipratika.mahasiswa.
unimus.ac.id/2016/05/16/etika-profesi-analis-kesehatan/ diakses pada 22
November 2017