Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Triage
1. Pengertian Triage
Triage berasal dari bahasa Prancis trier bahasa Inggris triage dan
diturunkan dalam bahasa Indonesia triage yang berarti sortir, yaitu proses
khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit untuk
menentukan jenis perawatan gawat darurat. Kini istilah tersebut lazim
digunakan untuk menggambarkan suatu konsep pengkajian yang cepat dan
berfokus dengan suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber
daya manusia, peralatan serta fasilitas yang paling efisien terhadap 100
juta orang yang memerlukan perawatan di UGD setiap tahunnya. Sistem
triage mulai dikembangkan mulai pada akhir tahun 1950-an seiring jumlah
kunjungan UGD yang melampaui kemampuan sumber daya yang ada
untuk melakukan penanganan segera (Oman, 2008). Tujuan dari triage
dimanapun dilakukan, bukan saja supaya bertindak dengan cepat dan
waktu yang tepat tetapi juga melakukan yang terbaik untuk pasien.
Dimana triage dilakukan berdasarkan pada ABCDE, beratnya cedera,
jumlah pasien yang datang, sarana kesehatan yang tersedia serta
kemungkinan hidup pasien (Pusponegoro, 2010).
Di rumah sakit, didalam triage mengutamakan perawatan pasien
berdasarkan gejala. Perawat triage menggunakan ABC keperawatan
seperti jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi, serta warna kulit,
kelembaban, suhu, nadi, respirasi, tingkat kesadaran dan inspeksi visual
untuk luka dalam, deformitas kotor dan memar untuk memprioritaskan
perawatan yang diberikan kepada pasien di ruang gawat darurat. Perawat
memberikan prioritas pertama untuk pasien gangguan jalan nafas, bernafas
atau sirkulasi terganggu. Pasien-pasien ini mungkin memiliki kesulitan
bernapas atau nyeri dada karena masalah jantung dan mereka menerima
pengobatan pertama. Pasien yang memiliki masalah yang sangat

8
9

mengancamkehidupan diberikan pengobatan langsung bahkan jika mereka


diharapkan untuk mati atau membutuhkan banyak sumber daya medis.
(Bagus, 2007).
Menurut Brooker (2008), dalam prinsip triage diberlakukan sistem
prioritas, prioritas adalah penentuan/penyeleksian mana yang harus
didahulukan mengenai penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman
jiwa yang timbul dengan seleksi pasien berdasarkan : 1) Ancaman jiwa
yang dapat mematikan dalam hitungan menit. 2) Dapat mati dalam
hitungan jam. 3) Trauma ringan. 4) Sudah meninggal
2. Prioritas Triage
Triage adalah proses khusus memilah pasien berdasar beratnya
cedera atau penyakit untuk menentukan prioritas perawatan gawat darurat
medik. Artinya memilih berdasar prioritas atau penyebab ancaman hidup.
Tindakan ini berdasarkan prioritas ABCDE. Prioritas I (prioritas tertinggi)
warna merah untuk berat dan biru untuk sangat berat. Mengancam jiwa
atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai
kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat segera
yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Contohnya
sumbatan jalan nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka
terpotong pada tangan dan kaki, combutio (luka bakar) tingkat II dan III >
25%. Prioritas II (medium) warna kuning. Potensial mengancam nyawa
atau fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam jangka waktu singkat.
Penanganan dan pemindahan bersifat jangan terlambat. Contoh: patah
tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II dan III < 25 %, trauma
thorak/abdomen, laserasi luas, trauma bola mata. Prioritas III (rendah)
warna hijau. Perlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu segera.
Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir. Contoh luka superficial,
luka-luka ringan. Prioritas 0 warna Hitam. Kemungkinan untuk hidup
sangat kecil, luka sangat parah. Hanya perlu terapi suportif. Contoh henti
jantung kritis, trauma kepala berat (Carpenito, 2008).
10

3. Ketrampilan Dalam Penilaian triage


Menurut Oman (2008) penilaian triage terdiri dari :
a. Primary survey priorotas (ABC) untuk menghasilkan prioritas I dan
seterusnya
b. Secondary survey pemeriksaan menyeluruh (Head to Toe) untuk
menghasilkan prioritas I, II, III,0 dan selanjutnya.
c. Monitoring korban akan kemungkinan terjadinya perubahan perubahan
pada (A,B,C) derajat kesadaran dan tanda vital lainnya. Perubahan
prioritas karena perubahan kondisi korban. Penanganan pasien UGD
perawat dalam pelaksanaan triage harus sesuai dengan protap
pelayanan triage agar dalam penanganan pasien tidak terlalu lama
4. Protap dalam triage
a. Pasien datang diterima petugas / paramedis UGD.
b. Diruang triage dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat
(selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya. Oleh perawat.
c. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triage
dapat dilakukan di luar ruang triage (di depan gedung IGD).
d. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode
warna. Menurut Rowles (2007) kode warga berdasarkan kegawatan
pasien adalah sebagai berikut:
1) Segera-Immediate (merah). Pasien mengalami cedera mengancam
jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera.
Misalnya:Tension pneumothorax, distress pernafasan (RR<
30x/mnt), perdarahan internal, dsb.
2) Tunda-Delayed (kuning) Pasien memerlukan tindakan defintif
tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan
laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan
perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh,
dsb.
11

3) Minimal (hijau). Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan


dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya :
Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.
4) Expextant (hitam) Pasien mengalami cedera mematikan dan akan
meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar
derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb.
5) Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan
warna : merah, kuning, hijau, hitam.
6) Penderita/korban kategori triage merah dapat langsung diberikan
pengobatan diruang tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan
tindakan medis lebih lanjut, penderita/korban dapat dipindahkan ke
ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
7) Penderita dengan kategori triage kuning yang memerlukan
tindakan medis lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi
dan menunggu giliran setelah pasien dengan kategori triage merah
selesai ditangani.
8) Penderita dengan kategori triage hijau dapat dipindahkan ke rawat
jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka
penderita/korban dapat diperbolehkan untuk pulang.
9) Penderita kategori triage hitam dapat langsung dipindahkan ke
kamar jenazah. (Rowles, 2007)
5. Proses Triage dalam Keperawatan
Proses triage mengikuti langkah-langkah proses keperawatan yaitu
tahap pengkajian, penetapan diagnosa, perencanaan, intervensi, dan
evaluasi.
a. Pengkajian
Ketika komunikasi dilakukan, perawat melihat keadaan pasien
secara umum. Perawat mendengarkan apa yang dikatakan pasien, dan
mewaspadai isyarat oral. Riwayat penyakit yang diberikan oleh pasien
sebagai informasi subjektif. Tujuan informasi dapat dikumpulkan
dengan mendengarkan nafas pasien, kejelasan berbicara, dan
12

kesesuaian wacana. Temuan seperti mengi, takipnea, batuk produktif


(kering), bicara cadel, kebingungan, dan disorientasi adalah contoh
data objektif yang dapat langsung dinilai. Informasi tambahan lain
dapat diperoleh dengan pengamatan langsung oleh pasien. Lakukan
pengukuran objektif seperti suhu, tekanan darah, berat badan, gula
darah, dan sirkulasi darah. Aturan praktis yang baik untuk diingat
adalah bahwa perawatan apapun dapat dilakukan dengan mata, tangan,
atau hidung dengan arahan yang cukup dari perawat.
b. Diagnosa
Dalam triage diagnosa dinyatakan sebagai ukuran yang
mendesak. Apakah masalah termasuk ke dalam kondisi Emergency
(mengancam kehidupan, anggota badan, atau kecacatan). Urgen
(mengancam kehidupan, anggota badan, atau kecacatan) atau non-
urgen. Diagnosa juga meliputi penentuan kebutuhan pasien untuk
perawatan seperti dukungan, bimbingan, jaminan, pendidikan,
pelatihan, dan perawatan lainnya yang memfasilitasi kemampuan
pasien untuk mencari perawatan
c. Perencanaan
Dalam triage rencana harus bersifat kolaboratif. Perawat harus
dengan seksama menyelidiki keadaan yang berlaku dengan pasien,
mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang penting, dan
mengembangkan rencana perawatan yang diterima pasien. Hal ini
sering membutuhkan proses negosiasi, didukung dengan pendidikan
pasien. Adalah tugas perawat untuk bertindak berdasarkan kepentingan
terbaik pasien dan kemungkinan pasien dapat mengikuti. Kolaborasi
juga mungkin perlu dengan anggota tim kesehatan lain juga.
d. Intervensi
Dalam analisis akhir, bisa memungkinkan bahwa perawat tidak
dapat melakukan apa-apa untuk pasien. Oleh karena itu harus ada
pendukung lain yang tersedia, misalnya dokter untuk menentukan
tindakan yang diinginkan. Untuk itu, perawat triage harus
13

mengidentifikasi sumber daya untuk mengangkut pasien dengan tepat.


Oleh karena itu perawat triage juga memiliki peran penting dalam
kesinambungan perawatan pasien. Protokol triage atau protap tindakan
juga dapat dipilih dalam pelaksanaan triage
e. Evaluasi
Langkah terakhir dalam proses keperawatan adalah evaluasi.
Dalam konteks organisasi keperawatan, evaluasi adalah ukuran dari
apakah tindakan yang diambil tersebut efektif atau tidak. Jika pasien
tidak membaik, perawat memiliki tanggung jawab untuk menilai
kembali pasien, mengkonfirmasikan diagnosa urgen, merevisi rencana
perawatan jika diperlukan, merencanakan, dan kemudian mengevaluasi
kembali. Pertemuan ini bukan yang terakhir, sampai perawat memiliki
keyakinan bahwa pasien akan kembali atau mencari perawatan yang
tepat jika kondisi mereka memburuk atau gagal untuk meningkatkan
seperti yang diharapkan. Sebagai catatan akhir, adalah penting bahwa
perawat triage harus bertindak hati-hati, Jika ada keraguan tentang
penilaian yang sudah dibuat, kolaborasi dengan medis, perlu diingat
perawat triage harus selalu bersandar pada arah keselamatan pasien.
(Rutenberg, 2009).
6. Simple Triage and Rapid Treatment
Salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan
adalah metode Simple Triage and Rapid Treatment (START). Pelaksanaan
triage dilakukan dengan memberikan tanda sesuai dengan warna prioritas.
Tanda triage dapat bervariasi mulai dari suatu kartu khusus sampai hanya
suatu ikatan dengan bahan yang warnanya sesuai dengan prioritasnya.
Jangan mengganti tanda triage yang sudah ditentukan. Bila keadaan
penderita berubah sebelum memperoleh perawatan maka label lama
jangan dilepas tetapi diberi tanda, waktu dan pasang yang baru (Hogan dan
Burstein, 2007).
14

START, sebagai cara triage lapangan yang berprinsip pada


sederhana dan kecepatan, dapat dilakukan oleh tenaga medis atau tenaga
awam terlatih. Dalam memilah pasien, petugas melakukan penilaian
kesadaran, ventilasi, dan perfusi selama kurang dari 60 detik lalu
memberikan tanda dengan menggunakan berbagai alat berwarna, seperti
bendera, kain, atau isolasi. Pelaksanaan triage metode START meliputi
(Hogan dan Burstein, 2007):
a. Kumpulkan semua penderita yang dapat / mampu berjalan sendiri ke
areal yang telah ditentukan, dan beri mereka label HIJAU.
b. Setelah itu alihkan kepada penderita yang tersisa periksa :
c. Pernapasan :
1) Bila pernapasan lebih dari 30 kali / menit beri label MERAH.
2) Bila penderita tidak bernapas maka upayakan membuka jalan
napas dan bersihkan jalan napas satu kali, bila pernapasan spontan
mulai maka beri label MERAH, bila tidak beri HITAM.
3) Bila pernapasan kurang dari 30 kali /menit nilai waktu pengisian
kapiler.
d. Waktu pengisian kapiler :
1) Lebih dari 2 detik berarti kurang baik, beri MERAH, hentikan
perdarahan besar bila ada.
2) Bila kurang dari 2 detik maka nilai status mentalnya.
3) Bila penerangan kurang maka periksa nadi radial penderita. Bila
tidak ada maka ini berarti bahwa tekanan darah penderita sudah
rendah dan perfusi jaringan sudah menurun.
e. Pemeriksaan status mental :
1) Pemeriksaan untuk mengikuti perintah-perintah sederhana
2) Bila penderita tidak mampu mengikuti suatu perintah sederhana
maka beri MERAH.
3) Bila mampu beri KUNING
15

Langkah-langkah triage metode START dapat digambarkan sebagai berikut:

Penderita dapat YA
HIJAU
berjalan ?

TIDAK

TIDAK Penderita YA
bernapas ?

Penderita
TIDAK bernapas YA  30 x Frekuensi
setelah jalan pernapasan
napas dibuka

< 30 x

HITAM MERAH

Waktu
 2 detik pengisian
kapiler

< 2 detik

Status mental
TIDAK perintah
sederhana ?

YA

KUNING

Gambar 2.1 Bagan alur START


16

B. Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh
manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang
menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu
yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Menurut
epistemologi setiap pengetahuan manusia itu adalah hasil dari
berkontaknya dua macam besaran, yaitu benda atau yang diperiksa,
diselidiki, dan akhirnya diketahui (obyek), serta manusia yang melakukan
pelbagai pemeriksaan, penyelidikan,dan akhirnya mengetahui (mengenal)
benda atau hal tadi (Taufik, 2010).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini tejadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Berdasarkan
pengalaman ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2010).
2. Jenis-jenis Pengetahuan
Jenis-jenis pengetahuan dibedakan menjadi (Taufik, 2010)
a. Pengetahuan langsung (immediate)
Pengetahuan immediate adalah pengetahuan langsung yang hadir
dalam jiwa tanpa melalui proses penafsiran dan pikiran. Kaum realis
(penganut paham Realisme) mendefinisikan pengetahuan seperti itu.
Umumnya dibayangkan bahwa kita mengetahui sesuatu itu
sebagaimana adanya, khususnya perasaan ini berkaitan dengan
realitas-realitas yang telah dikenal sebelumnya seperti pengetahuan
tentang pohon, rumah, binatang, dan beberapa individu manusia.
17

Namun, apakah perasaan ini juga berlaku pada realitas-realitas yang


sama sekali belum pernah dikenal dimana untuk sekali meilhat kita
langsung mengenalnya sebagaimana hakikatnya?. Apabila kita sedikit
mencermatinya, maka akan nampak dengan jelas bahwa hal itu
tidaklah demikian adanya.
b. Pengetahuan tak langsung (mediated)
Pengetahuan mediated adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan
proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu. Apa yang kita
ketahui dari benda-benda eksternal banyak berhubungan dengan
penafsiran dan pencerapan pikiran kita
c. Pengetahuan indrawi (perceptual)
Pengetahuan indrawi adalah sesuatu yang dicapai dan diraih melalui
indra-indra lahiriah. Sebagai contoh, kita menyaksikan satu pohon,
batu, atau kursi dan objek-objek ini yang masuk ke alam pikiran
melalui indra penglihatan akan membentuk pengetahuan kita. Pada
pengetahuan indrawi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh,
seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek eksternal, sehatnya
anggota-angota indra badan (seperti mata, telinga, dan lain-lain), dan
pikiran yang mengubah benda benda partikular menjadi konsepsi
universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adat istiadat). Dengan
faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi
hanya akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.
d. Pengetahuan konseptual (conceptual)
Pengetahuan konseptual juga tidak terpisah dari pengetahuan indrawi.
Pikiran manusia secara langsung tidak dapat membentuk suatu
konsepsi- konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara eksternal
tanpa berhubungan dengan alam eksternal. Alam luar dan konsepsi
saling berpengaruh satu dengan lainnya dan pemisahan di antara
keduanya merupakan aktivitas pikiran.
18

e. Pengetahuan partikular (particular)


Pengetahuan partikular berkaitan dengan satu individu, objek-objek
tertentu, atau realitas-realitas khusus. Misalnya ketika kita
membicarakan satu kitab atau individu tertentu, maka hal ini
berhubungan dengan pengetahuan partikular itu sendiri.
f. Pengetahuan universal (universal).
Pengetahuan universal mencakup individu-individu yang berbeda.
Sebagai contoh, ketika kita membincangkan tentang manusia dimana
meliputi seluruh individu, ilmuwan yang mencakup segala individunya
(seperti ilmuwan fisika, kimia, atom, dan lain sebagainya), atau hewan
yang meliputi semua indvidunya (seperti gajah, semut, kerbau,
kambing, kelinci, burung, dan yang lainnya).
3. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan dalam aspek kognitif menurut Notoatmodjo (2007), dibagi
menjadi 6 (enam) tingkatan yaitu :
a. Tahu ( know )
Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, dari seluruh bahan yang dipelajari. Tahu ini merupakan
tingkat pengertian yang paling rendah.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami ini diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat
menginterprestasikan materi ke kondisi sebenarnya.
c. Aplikasi (Aplication)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen - komponen, tetapi masih dalam suatu
struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
19

e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau
menghubungkan bagian - bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
4. Pengukuran Pengetahuan
Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang
menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari responden
(Notoatmodjo, 2007). Pengukuran pengetahuan ini berkaitan dengan
pengetahuan perawat tentang triage, kategori pengetahuan berdasarkan
Notoatmodjo (2007) adalah dinyatakan berpengetahuan kurang dengan
skor benar <65%, pengetahuan sedang skor antara 65%-79%, dan
berpengetahuan baik skor antara 80%-100%.
5. Sumber-sumber pengetahuan
Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal
dari berbagai macam sumber, misalnya media massa, media elektronik,
buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat dan
sebagainya. Menurut Notoatmodjo (2007) sumber pengetahuan dapat
berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal,
ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya.
6. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan (Notoatmodjo, 2007):
a. Umur
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap
dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin
membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam
masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan
persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua,
selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak
20

waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah,


dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada
usia ini.
b. Jenis kelamin
Beberapa orang beranggapan bahwa pengetahuan seseorang
dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Dan hal ini sudah tertanam sejak
jaman penjajahan. Namun hal itu di jaman sekarang ini sudah
terbantahan karena apapun jenis kelamin seseorang, bila dia masih
produktif, berpendidikan, atau berpengalaman maka ia akan cenderung
mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi. (Fuadbahsin, 2009)
c. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi
respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang
berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional
terhadap informasi yang datang dan akan berpikir sejauh mana
keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut.
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu.
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku
seseorang akan pola hidup, terutama dalam memotivasi sikap berperan
serta dalam perkembangan kesehatan. Semakin tinggi tingkat
kesehatan, seseorang makin menerima informasi sehingga makin
banyak pola pengetahuan yang dimiliki.
d. Paparan media massa
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik berbagai
informasi dapat diterima masyarakat, sehingga seseorang yang lebih
sering terpapar media massa (TV, radio, majalah, pamflet, dan lain -
lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan
dengan orang yang tidak pernah terpapar informasi media. Ini berarti
paparan media massa mempengaruhi tingkat pengetahuan yang
dimiliki oleh seseorang.
21

e. Ekonomi
Usaha memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan
sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah
tercukupi dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal
ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan sekunder. Jadi dapat
disimpulkan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang tentang berbagai hal.
f. Hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial dimana dalam kehidupan saling
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat
berinteraksi secara continue akan lebih besar terpapar informasi.
Sementara faktor hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan
individu sebagai komunikasi untuk menerima pesan menurut model
komunikasi media dengan demikian hubungan sosial dapat
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang tentang suatu hal.
g. Pengalaman (masa kerja)
Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal biasa diperoleh dari
lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya
sering mengikuti kegiatan. Kegiatan yang mendidik misalnya seminar
organisasi dapat memperluas jangkauan pengalamannya, karena dari
berbagai kegiatan tersebut informasi tentang suatu hal dapat diperoleh.

C. Hubungan umur dengan pengetahuan triage perawat


Umur perawat dalam penelitian ini berkaitan dengan masa kerja, dimana
pada perawat dengan umur yang lebih tua akan memiliki masa kerja yang
lebih lama. Masa kerja ini tentunya akan sangat berkaitan dengan pengalaman
dalam penguasaan pekerjaan yang ditangani.
Masa kerja juga merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi
pengetahuan serta ketrampilan, karena seseorang yang memiliki masa kerja
yang lama secara otomatis akan terbentuk pengalaman kerja yang memadai
serta tercipta pola kerja yang efektif dan dapat menyelesaikan berbagai
22

persoalan berdasarkan pengalaman ketrampilan serta tercipta pola kerja yang


efektif dan dapat menyelesaikan berbagai persoalan berdasarkan pengalaman,
ketrampilan, serta pengetahuannya (Erlita, 2008).

D. Hubungan jenis kelamin dengan pengetahuan triage perawat


Perawat dengan jenis kelamin perempuan ini jika dilihat dari sejarah
perkembangan keperawatan dengan adanya perjuangan seorang Florence
Nightingale sehingga dunia keperawatan identik dengan pekerjaan seorang
perempuan. Namun demikian kondisi tersebut sekarang sudah berubah,
banyak laki-laki yang menjadi perawat, tetapi kenyataannya proporsi
perempuan masih lebih banyak daripada laki-laki (Utami & Supratman, 2009).
Hasil penelitian Izzudin (2006) menyebutkan bahwa perawat perempuan
mempunyai kemampuan dalam penyusunan asuhan keperawatan sembilan kali
lebih baik daripada perawat pria. Perawat wanita pada umumnya mempunyai
kelebihan kesabaran, ketelitian, tanggap, kelembutan, naluri mendidik,
merawat, mengasuh, melayani, membimbing, dan pada umumnya tidak
sebagai penanggung jawab utama ekonomi keluarga.

E. Hubungan pendidikan dengan pengetahuan triage perawat


Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk di kuasai,
karena dengan mengetahui sesuatu maka dapat melaksanakan dan menjadikan
pedoman untuk tindakan selanjutnya (Sastroasmoro, 2008), pengetahuan
seseorang di pengaruhi oleh proses pembelajaran, sedangkan proses
pembelajaran sendiri di pengaruhi oleh berbagai faktor antara lain, subjek
belajar, pengajar, metode yang di gunakan, kurikulum dan sebagainya.
sehingga bila faktor-faktor tersedia dengan baik maka proses belajar akan
efektif dan hasil yang dicapai akan optimal (Notoatmodjo, 2007).
Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mendukung pengetahuan
seseorang. pendidikan adalah proses untuk mempelajari dan meningkatkan
ilmu yang diperoleh, pendidikan yang lebih tinggi secara otomatis akan
berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat
23

pendidikan seseorang maka akan semakin baik pengetahuan yang dimiliki


(Notoatmodjo, 2007).

F. Hubungan lama kerja dengan pengetahuan triage perawat


Lama kerja merupakan pengalaman individu yang akan menentukan
pertumbuhan dalam pekerjaan dan jabatan. Pertumbuhan jabatan dalam
pekerjaan dapat dialami oleh seseorang hanya apabilan dijalani proses belajar
dan berpengalaman dan diharapkan individu bersangkutan memiliki sikap
kerja yang bertambah maju ke arah positif, memiliki kecakapan (pengetahuan
kerja) yang bertambah baik serta memiliki keterampilan keja yang bertambah
dalam kualitas dan kuantitas (Faris, 2014).

G. Hubungan pelatihan emergency nursing dengan pengetahuan triage


perawat
Pengetahuan seseorang dapat juga di pengaruhi oleh pelatihan-pelatihan
yang pernah diikuti, dengan adanya pelatihan seseorang dapat lebih terampil
dalam melakukan suatu pekerjaan karena dengan pelatihan dan tugas-tugas
yang terkait dengan kemampuan kognitif dapat mempengaruhi perilaku dan
pola pikir yang lebih positif.
Pelatihan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan terutama
dalam kasus kegawatdaruratan. Penelitian yang pernah dilakukan oleh
Nurhayati dkk (2008) terhadap upaya peningkatan pengetahuan dan
ketrampilan kegawatan dilaut, dari hasil yang diperoleh tingkat pengetahuan
meningkat setelah mengikuti pelatihan,
24

H. Kerangka Teori

Pasien emergency
Umur

Jenis kelamin Datang UGD

Pendidikan & Pelatihan


Pengetahuan triage
perawat
Paparan media masa

Ekonomi Tindakan perawat


berdasarkan label triage
Hubungan sosial

Pengalaman (lama kerja)

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber (Notoatmodjo, 2010)
25

I. Kerangka Konsep

Variabel independen Variabel dependen

Umur

Jenis kelamin

Pengetahuan tentang
Pendidikan triage

Lama kerja

Pelatihan
emergency
nurse

Gambar 2.1 Kerangka konsep


J. Variabel penelitian
1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin,
pendidikan, lama kerja dan pelatihan emergency nursing.
2. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang triage.

K. Hipotesis Penelitian
1. Ada hubungan umur perawat dengan pengetahuan tentang triage di Unit
Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta di Semarang.
2. Ada hubungan jenis kelamin perawat dengan pengetahuan tentang triage
di Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta di Semarang.
3. Ada hubungan pendidikan perawat dengan pengetahuan tentang triage di
Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta di Semarang.
4. Ada hubungan lama kerja dengan pengetahuan tentang triage di Unit
Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta di Semarang.
5. Ada hubungan pelatihan emergency nursing dengan pengetahuan tentang
triage di Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta di Semarang.