Anda di halaman 1dari 6

TIBIAL STRESS FRACTURE

Reza Maulana

Abstrak. Stres fraktur merupakan cedera yang sering terjadi pada kegiatan yang banyak
melibatkan aktifitas fisik seperti pada atlet dan militer. Cedera ini sering terjadi pada
ekstremitas bawah dan paling sering terjadi pada tulang tibia dibandingkan lainnya. Stres
fraktur disebabkan oleh aktifitas berulang dimana aktifitas osteoblastik tertinggal dari aktifitas
osteoklastik, sehingga tulang mengalami mikrofraktur selama aktifitas dan akhirnya
mikrofraktur terkonsolidasi menjadi stres fraktur. Stres fraktur dapat dicegah dengan
pemanasan sebelum kegiatan dan menaikkan frekuensi dan intensitas kegiatan sedikit demi
sedikit. Terapi obat-obatan berupa antiinflamasi dan antinyeri, istirahat sampai bebas rasa sakit.
(JKS 2015; 1: 60-65)

Kata Kunci : Stres fraktur, mikrofraktur, tibia, ektremitas bawah

Abstract. Stress fracture is an injury that often occurs in activities that involve physical activity
such as in athletes and military. These injuries often occur at lower extremity and most often
occur in the tibia bone than others. Stress fractures are caused by
repetitive activities which lags osteoblastic activity from osteoclastic activity, so that the bone
experience a microfracture during activity and eventually leads a consolidation and transform
into a stress fracture. Stress fractures can be prevented by warming up before activity and raise
the frequency and intensity of the activity gradually. The option for drug therapies include
administration of anti-inflammatory and anti-pain drugs and rest until establish a pain-free
condition. (JKS 2015; 1: 60-65)

Keywords: Stress fracture, microfracture, tibia, lower extremity

Latar Belakang1 lebih tinggi pada pelaku olahraga berulang


Stres Fraktur merupakan cedera yang dan intesitas latihan yang tinggi.4 Kejadian
sering terjadi pada atlet dan petugas ini juga lebih sering terjadi pada
militer. Cedera ini terjadi lebih sering pada perempuan daripada laki-laki.5 Pada
ekstremitas bawah daripada ekstremitas penelitian lain didapatkan bahwa stres
atas.1 Stres fraktur pada pemain sepak bola fraktur meningkat seiring bertambahnya
profesional telah menjadi kasus yang usia, dimana pada usia dewasa menempati
sangat umum di seluruh dunia. Perawatan angka kejadian paling tinggi sebanyak
yang baik sehingga dapat kembali aktif dibanding pada remaja dan anak-anak.6
bermain dapat memiliki besar dampak Tempat paling sering terjadinya stres
sangat besar pada karir seorang atlet.2 fraktur pada tulang adalah pada tibia lalu
Sebagai atlet, mereka akan terus berusaha diikuti oleh tarsal, metatarsal, femur,
secara kompetitif terhadap keinginan untuk fibula, pelvis, sesamoids, dan vertebra.7
menjadi yang terbaik, sehingga mereka Stres fraktur di korteksanterior pada
akan berlatih sangat keras, kadang-kadang sepertiga tengah tibia merupakan 5-10%
sampai pada titik cedera, stres fraktur dari semua patah tulang stres tibialis.8
biasanya didiagnosis pada atlet kompetitif.3
Anterior tibia merupakan salah satu lokasi
Pada penelitian yang dilakukan di stres fraktur yang kurang umum terjadi,
Australia selama lebih dua tahun di namun ketegangan yang konstan dari
dapatkan bahwa resiko terjadinya fraktur kekuatan otot-otot posterior tibia dan
hipovaskularisasi pada aspek anterior tibia
Reza Maulana adalah Dosen Bagian Anatomi
mempengaruhi daerah ini untuk
Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah menyebabkan terjadinya nonunion atau
Kuala Banda Aceh union yang terlambat saat terjadi fraktur.2

60
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 1 April 2015

Epidemiologi lebih cepat mengalami pertumbuhan pada


Stres fraktur merupakan cedera paling awal masa pubertas dibanding dengan
umum terjadi dalam olahraga, stres fraktur truncus, tetapi memiliki masa pertumbuhan
dapat terjadi karena partisipasi dalam yang lebih pendek dibanding daripada
banyak kegiatan dan olahraga, terutama truncus.9
yang membutuhkan berjalan dan
melompat. Penelitian yang dilakukan pada Extremitas inferior dapat dibagi dalam
olah raga atletik, atau olahraga trek, beberapa regio dan ruang. Regio-regionya
didapatkan angka terjadinya stres fraktur terbagi atas regio glutea, extremitas
paling tinggi pada perempuan yaitu superior, lutut, extremitas inferior (regio
sebanyak 64% dari pada laki-laki yaitu cruris), pergelangan kaki, dan kaki.
sebanyak 50%. Partisipasi dalam beberapa Extremitas superior dan inferior dapat
olahraga yang dianggap tidak highimpact, dibagi lagi dalam ruang-ruang, masing-
seperti menyelam dan mendayung (kru), masing ruang mempunyai otot-otot dengan
juga dapat menyebabkan stres fraktur, fungsi tertentu serta memiliki pembuluh
terutama pada metatarsal dan rusuk. Hoki, darah dan saraf sendiri.10
golf, renang, anggar, dan softball termasuk
olah raga yang rendah angka terjadinya Tibia
stres fraktur.5 Tibia merupakan tulang medial tungkai
bawah yang besar ukurannya dan berfungsi
Pada penelitian lain didapatkan bahwa menyangga berat tubuh.9-11 Tibia
stres fraktur akan meningkat seiring berarticulatio di atas dengan condylus
bertambahnya usia, dimana pada usia femoris dan caput fibula, dan di bawah
dewasa (≥ 20 tahun) paling tinggi dengan talus dan ujung distal fibula. Tibia
sebanyak 59.5% dibanding pada remaja mempunyai ujung atas yang melebar dan
(16-19 tahun) sebanyak 31.8%, dan anak- ujung bawah yang lebih kecil, serta sebuah
anak (1-16 tahun) 8.7%.6 Tempat paling corpus.10
sering terjadinya stres fraktur pada tulang
adalah pada tibia (49.1%), lalu diikuti oleh Pada ujung atas terdapat condylus lateralis
tarsal (25.3%), metatarsal (8.8%), femur dan medialis yang bersendi dengan
(7.2%), fibula (6.6%), pelvis (1.6%), condylus lateralis dan medialis femoris.10,12
sesamoids (0.9%), dan vertebra (0.6%).7 Permukaan atas facies articulares
Stres fraktur di korteksanterior pada condylorum tibiae terbagi atas area
sepertiga tengah tibia merupakan 5-10% intercondylus anterior dan posterior; di
dari semua patah tulang stres tibialis.(8) antara kedua area ini terdapat eminentia
intercondylus. Pada aspek lateral condylus
Anatomi Regio Cruris lateralis terdapat facies articularis fibularis
Extremitas inferior atau anggota gerak circularis yang kecil, dan bersendi dengan
bawah merupakan anggota gerak yang caput fibulae, dan pada aspek posterior
berfungsi untuk melakukan pergerakan dan condylus medialis terdapat insertio
menahan berat tubuh atau menahan gaya musculus semimembranosus.10
berat, sehingga anggota gerak ini memiliki
tulang-tulang yang besar dan struktur Corpus tibiae berbentuk segitiga dan
persendian yang relatif lebih stabil dan mempunyai tiga margo dan tiga facies,
sekaligus labil,9 hal ini menyebabkan yaitu anterior, medial et lateral.10 Pada
extremitas inferior dapat menjadi tumpuan permukaan anterior bagian proximal
yang stabil saat berdiri, berjalan, dan corpus tibiae terdapat tuberositas tibiae
berlari.10 Extremitas inferior juga memiliki yang merupakan tempat perlekatan
fungsi penting dalam mempertahankan ligamentum patellae, facies anterior tibiae
keseimbangan.11 Anggota gerak bawah merupakan tempat melekatnya otot-otot

61
Reza Maulana, Tibial Stress Fracture

extensor kaki, sedangkan facies Stres fraktur ekstremitas bawah paling


posteriornya merupakan tempat sering terjadi pada tibia dan metatarsal.
melekatnya otot-otot fleksor kaki.9 Margo Stres fraktur fibula, ossanavicular, coxae,
anterior di bawah membulat dan dan collum femoralis femur kurang umum
melanjutkan diri sebagai malleolus terjadi. Meskipun beberapa faktor
medialis. Margo lateral atau margo sepertinya berkontribusi terhadap
interosseus memberikan tempat perlekatan terjadinya stres fraktur, namun Stres
untuk membrana interossea. Facies Fraktur umumnya terjadi sebagai akibat
posterior dari corpus tibiae menunjukkan dari cedera pada penggunaan/latihan
linea obliqua yang disebut linea musculi berulang yang melebihi kemampuan
solei, tempat melekatnya m. Soleus.10 intrinsik tulang untuk memperbaiki
dirinya.5
Faktor Resiko Terjadinya Stres Fraktur
Terdapat beberapa faktor resiko yang Terdapat dua teori utama sebagai
meningkatkan terjadinya kemungkinan patofisiologi terjadinya Stres Fraktur. Teori
Stres Frakturs pada seseorang, diantaranya pertama menyatakan bahwa selama
seperti tersebut di bawah ini.1,5 peningkatan aktifitas fisik awal dalam
 Mengkonsumsi lebih dari 10 minuman kegiatan olahraga, aktivitas osteoblastik
beralkohol per minggu tertinggal dari aktivitas osteoklastik selama
 Aktivitas fisik berlebihan dengan waktu beberapa minggu, sehingga dalam periode
istirahat yang terbatas tersebut tulang lebih rentan terhadap
 Trias atlet perempuan (gangguan cedera. Tekanan yang timbul akibat
makan, amenore, osteoporosis) penggunaan berulang menghasilkan
 Jenis kelamin perempuan mikrofrakture yang akhirnya terkonsolidasi
 Kekuatan otot yang tidak adekuat menjadi stres fraktur.3,5 Teori kedua
 Kekurangan nutrisi menekankan bahwa terjadinya tekanan/
stresyang kuat akibat tekanan dan lentur
 Rendahnya tingkat 25 hydroxy vitamin
berulang di titik penyisipan otot pada
D
tulang yang berada diluar kemampuan
 Aktifitas berjalan yang tinggi (lebih dari
toleransi tulang untuk bertahan. Pada
25 mil per minggu)
keduajenis kelamin baik laki-laki dan
 Merokok perempuan, Stres Fraktur patah tulang
 Olah raga yang melibatkan berlari dan cenderung kambuh. Sekitar 60 persen dari
melompat orang-orang dengan Stres Fraktur memiliki
 Peningkatan mendadak aktivitas fisik, riwayat Stres Fraktur sebelumnya.5
misalnya pada olah raga lari

Patofisiolgi Stres Fraktur


Tipefraktur tulang diakibatkan stres/
tekanan dapat timbul ketika tekanan pada
tulang lebih besar dari kapasitas tulang
untuk menahan dan menyembuhkan diri
dari tekanan. Pemahaman tentang ilmu
pengetahuan dan adaptasi yang terjadi pada
tulang manusia ketika mereka menjalani
kegiatan stres diperlukan ketika melihat
penyebab dan patofisiologi stres patah
tulang.3

62
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 1 April 2015

Gambar 1. fraktur pada korteks tulang3

Diagnosis tulang, scan tulang, CT scan, dan


Stres fraktur dapat diadiagnosa dengan pemindaian resonansi magnetik/ MRI.13,14
tepat bila mengetahui gejala-gejala yang Penelitian menunjukkan bahwa
timbul sebelumnya, diantaranya yaitu pemeriksaan radiografi CT scan dan MRI
terjadinya nyeri ringan di area terlokalisir, memberikan hasil spesivisitas dan nilai
awalnya nyeri hadir hanya pada saat prediksi positif hampir mendekati 100 %.14
aktivitas berat seperti olahraga dan
mungkin berhubungan dengan nyeri otot Terapi
lokal. Lalu akhirnya ketika terjadi Terdapat beberapa metode dan tahapan
berkembang ke arah terjadinya fraktur, terapi yang dapat dilakukan pada kasus
rasa sakit yang timbul akan mulai Stres Frakturs yaitu mengurangi aktivitas
mempengaruhi aktifitas tersebut, dan sampai pada tingkat bebas rasa sakit. dapat
aktifitas tidak bisa dilakukan bila nyeri ditambahkan obat-obat anti inflamasi dan
timbul, bila tekanan terus terjadi dan anti nyeri. Mengikuti program rehabilitasi
berulang, akhirnya nyeri akan mulai timbul yang bertujuan untuk peregangan dan
pada aktifitas sehari-hari, dan dalam kasus penguatan struktur otot. Menaikkan tingkat
yang parah nyeri akan timbul tidak hanya aktifitas secara perlahan-lahan dan
saat beraktifitas, namun juga saat bertahap setelah istirahat selama beberapa
istirahat.1,13 minggu dan gejala sudah membaik,
menggunakan alat bantu pneumatik
Pada pemeriksaan fisik biasanya dapat kompresi (misalnya, penyangga kaki) atau
ditemukan nyeri tekan pada titik cedera. alat bantu biomekanik untuk membantu
Selain itu dapat juga terjadi keterbatasan menghilangkan stres saat melangkah
rentang gerak yang di akibatkan nyeri dan (misalnya, kruk/tongkat) serta
pada kasus yang lebih parah, mungkin mempertimbangkan tindakan operasi
dapat ditemukan pembengkakan di daerah untuk pasien dengan fractures stres yang
cedera.13 menetap atau berisiko tinggi (atlet).1

Selain itu dapat juga dilakukan


pemeriksaan radiografi untuk menunjang
diagnosis, modalitas terapi yang dapat
digunakan pada kasus ini adalah roungen

63
Reza Maulana, Tibial Stress Fracture

Gambar 2. Algoritma pada diagnosis dan terapi pada Stres Fraktur 1

Kesimpulan olahraga sampai batas tidak mengalami


Stres Fraktur pada ekstremitas bawah sakit sama sekali.
merupakan cedera umum yang paling
sering dikaitkan dengan partisipasi dalam Daftar Pustaka
olahraga yang melibatkan berjalan, 1. Patel DS, Roth M, Kapil N. Stress
melompat, atau stres yang berulang. fractures: diagnosis, treatment, and
Diagnosis awal dapat dilakukan dengan prevention. American family physician.
mengidentifikasi nyeri tulang lokal yang 2011;83:39-46.
meningkat dengan nyeri tekan atau 2. Gigis I, Rallis I, Gigis P, Goulios V.
berulang. Pemeriksaan radiografi biasanya Anterior tibial cortex stress fracture in a
high demand professional soccer player.
sering memperlihatkan proses Journal of Medical Cases. 2011;2:210-5.
penyembuhan yang tidak berjalan baik. 3. Pepper M, Akuthota V, McCarty EC. The
Penegakan diagnosis pada Stres Fraktur pathophysiology of stress fractures.
biasanya dilakukan dengan scan tulang Clinics in sports medicine. 2006;25:1-16.
atau pencitraan resonansi magnetik/ CT 4. Brukner P, Bradshaw C, Khan KM, White
scan. S, Crossley K. Stress fractures: a review
of 180 cases. Clinical Journal of Sport
Pencegahan Stres Fraktur paling efektif Medicine. 1996;6:85-9.
dilakukan dengan cara meningkatkan 5. Sanderlin BW, Raspa RF. Common stress
tingkat latihan secara perlahan-lahan, fractures. American family physician.
pemanasan cukup dan peregangan sebelum 2003;68:1527-32.
6. Iwamoto J, Takeda T. Stress fractures in
latihan, serta menggunakan solempuk dan athletes: review of 196 cases. Journal of
alas kaki yang tepat. Orthopaedic Science. 2003;8:273-8.
7. Matheson GO, Clement DB, McKenzie
Pengobatan dilakukan dengan DC, Taunton JE, Lloyd-Smith DR,
mengistirahatkan aktifitas extremitas MacIntyre JG. Stress fractures in athletes.
dimana tulang mengalami cedera, diikuti A study of 320 cases. Am J Sports Med.
dengan kembali secara bertahap ke 1987;15(1):46-58.

64
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 1 April 2015

8. Liimatainen E, Sarimo J, Hulkko A, 12. Chung KW. Gross Anatomy. 5 ed.


Ranne J, Heikkilä J, Orava S. Anterior Philadelphia: Lippincott Williams &
mid-tibial stress fractures. results of Wilkins; 2005. 82-123.
surgical treatment. Scandinavian Journal 13. Diehl JJ, Best TM, Kaeding CC.
of Surgery. 2009;98:244-9. Classification and return-to-play
9. Wibowo DS, Paryana W. Anatomi Tubuh considerations for stress fractures. Clinics
Manusia. Jakarta: Elsevier; 2009. 155-63. in sports medicine. 2006;25:17-28.
10. Snell RS. Anatomi Klinik untuk 14. Gaeta M, Minutoli F, Scribano E, Ascenti
Mahasiswa Kedokteran. In: Hartanto H, G, Vinci S, Bruschetta D, et al. CT and
editor. 6 ed. Jakarta: EGC; 2006. 591-671. MR Imaging Findings in Athletes with
11. Moore KL, Agur AM. Anatomi Klinis Early Tibial Stress Injuries: Comparison
Dasar. In: Sadikin V, Saputra V, editors. 1 with Bone Scintigraphy Findings and
ed. Jakarta: Hipokrates; 2002. 217-50. Emphasis on Cortical Abnormalities.
Radiology. 2005; 235: 553-61.

65