Anda di halaman 1dari 16

Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo bersama warganya pada awal Desember 2014 lalu.

TEMPO/Cunding Levi

TEMPO.CO, Jakarta - Insiden yang terjadi di Tolikara, Papua, pada Jumat, 17 Juli 2015,
meninggalkan beragam versi. Seorang jemaah yang melaksanakan salat Idul Fitri di Markas
Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga, Nurmin, 32 tahun, menceritakan
kembali pengalamannya saat itu.

Pada Jumat pagi, Nurmin berjalan dari rumahnya yang terletak sekitar lima meter dari markas
Koramil menuju lapangan Koramil untuk melaksanakan salat Id. Ada ratusan umat muslim
yang sudah berkumpul di lapangan markas Koramil. Salat Id pun dimulai.

Namun ketika rakaat pertama takbir kelima, Nurmin mendengar ada suara lantang yang
diteriakkan sejumlah orang. "Tidak ada yang namanya ibadah gini, harus berhenti!” kata
Nurmin menirukan suara yang didengarnya itu saat diwawancara Tempo, Selasa, 21 Juli
2015.

Mendengar teriakan tersebut, jemaah kehilangan konsentrasi ibadah. Tiba-tiba kondisi mulai
memanas karena saling lempar batu antara orang-orang yang berteriak dan jemaah salat Id.
Tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari aparat. “Semua berlari ketakutan,”
ujarnya.

Keadaan mulai ricuh. Nurmin melihat beberapa orang melempar batu ke arahnya, sejumlah
kios dan rumah warga di sekitar markas Koramil terbakar. Nurmin dan beberapa jemaah salat
Id lantas masuk ke dalam kantor Koramil. "Kami berkumpul di situ, takut kena batu,”
ujarnya.

Nurmin mengaku rumahnya ikut terbakar. “Saya tidak tahu siapa yang membakar rumah saya
karena banyak orang saat itu,” ujar Nurmin. (Baca: EKSKLUSIF: Marthen Jingga dan
Nayus Akui Bikin Surat Edaran)

Nurmin heran karena selama ini umat muslim dapat melaksanakan ibadah dengan baik.
“Tahun kemarin aman-aman saja,” ujarnya. Dia mengaku tidak tahu apa yang membuat
kerusuhan tersebut terjadi.

Keterangan dari Nurmin ini sejalan dengan kronologi yang disampaikan Komisioner Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai. Sehari setelah kejadian, atau pada Sabtu, 18 Juli
2015, Komnas HAM langsung mengeluarkan hasil analisis sementara kerusuhan di
Karubuga, Tolikara, Papua.

Pigai menjelaskan, jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) marah dan memprotes polisi yang
berjaga di sekitar lapangan markas Koramil. "Mereka protes karena sudah memberi imbauan,
kemudian polisi balik menembak warga," kata Pigai.

Rentetan tembakan polisi melukai sebelas orang, dan mengakibatkan satu orang meninggal.
Kondisi semakin ricuh karena sejumlah kios, rumah, dan tempat ibadah dibakar. "Masyarakat
melampiaskan kemarahan ke arah tempat ibadah. Kalau polisi tidak menembaki warga, pasti
reaksi mereka berbeda," kata Pigai. (Baca: EKSKLUSIF: Marthen Jingga Revisi Surat
Edaran, Ini Isinya)

Dia menyayangkan sikap aparat yang arogan. Menurut dia, polisi di Papua terbiasa
menangani kerusuhan dengan cara kekerasan.

Sementara itu, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengakui polisi yang menjaga
pelaksanaan salat Id sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun massa mengamuk
hingga menyebabkan puluhan kios dan sebuah tempat ibadah di sekitar lapangan markas
Koramil habis terbakar.

DEVY ERNIS | PUTRI ADITYOWATI | DEWI SUCI


TEMPO.CO, Jakarta - Amuk massa pada Jumat pekan lalu di Tolikara, Papua, menyisakan
beragam versi tentang kronologi sebelum kerusuhan terjadi. Pemerintah, Komisi Nasional
untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dan kepolisian pun belum satu suara soal
musabab kerusuhan di Tolikara.

VERSI POLISI

Sabtu, 11 Juli 2015

 Beredar surat pemberitahuan dari Badan Pekerja Gereja Injili di Indonesia (GIDI)
Wilayah Toli soal penyelenggaraan seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR)
pada 13-19 Juli 2015.

Rabu, 15 Juli 2015

 Bupati dan Kepala Kepolisian Resor Tolikara bertemu dengan panitia seminar dan
KKR. Dalam pertemuan itu, surat pemberitahuan telah diralat, tapi belum
disosialisasi.

Jumat, 17 Juli 2015


 07.00 WIT – Sekitar 70 orang berteriak, menolak pelaksanaan salat id di lapangan
Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11 Karubaga.

 07.05 WIT – Warga mulai melempari batu ke arah aparat dan warga yang salat.

 07.10 WIT – Warga yang tidak setuju atas pelaksanaan salat mulai merusak kios dan
masjid. Polisi kemudian menembakkan senjata ke udara dan tanah.

VERSI GIDI

Tiga minggu sebelum acara seminar dan KKR, panitia sudah mengirimkan surat
pemberitahuan yang diklaim sudah disetujui dan diketahui oleh pemerintah daerah dan
TNI/Polri setempat. Persetujuan ini yang kemudian disesalkan banyak pihak karena lazimnya
polisi tak mengizinkan ada kegiatan besar pada hari raya agama apa pun.

Jumat, 17 Juli 2015

 Salat Idul Fitri digelar di Lapangan Makoramil dan menggunakan pengeras suara.

 Jarak antara pengeras suara dan tempat dilangsungkannya seminar hanya sekitar 250
meter.

 Beberapa pemuda GIDI berinisiatif meminta agar salat dilakukan di dalam masjid.

 Belum sempat diskusi berlangsung, polisi membubarkan para pemuda GIDI dengan
berondongan senjata. Sebelas orang terkena tembakan.

 Karena kesal, sebagian melampiaskan kemarahan dengan membakar kios.

KOMNAS HAM

11 Juli 2015

 GIDI wilayah Tolikara mengirimkan surat imbauan kepada umat Islam di Tolikara
agar menggelar salat Idul Fitri di luar wilayah tersebut karena adanya seminar dan
KKR Pemuda GIDI tingkat internasional.

17 Juli 2015

 Warga muslim Tolikara tetap menggelar salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir
dengan pengeras suara di lapangan Makoramil 1702-11, Karubaga.

 Jemaat GIDI marah dan memprotes polisi yang berjaga di sekitar lapangan.
 Polisi balik menembak warga. Warga pun marah. Warga mulai melempari batu ke
arah kios dan Masjid Baitul Mutaqin. Mereka juga membakar beberapa rumah, kios,
dan musala itu.

KUTIPAN

"Masyarakat melampiaskan kemarahan ke arah musala. Kalau polisi tidak menembaki warga,
pasti reaksi mereka berbeda."

--Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, Sabtu lalu.

“Soal surat edaran itu, setelah Kapolda dan Pangdam setempat turun ke daerah itu, mereka
membantah bahwa tidak pernah ada seperti itu."

--Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno,


kemarin.

"Surat itu memang dibuat oleh sinode GIDI Tolikara dalam rangka kegiatan gereja. PGLII
(Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia) tak setuju soal isi surat edaran
karena rentan konflik."
--Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia Ronny
Mandang, Sabtu lalu.

EVAN (PDAT) | PUTRI ADITYOWATI | TIKA PRIMANDARI


Home > Nasional > Politik

Janji tak Naikkan BBM, Jokowi Beri Pil


Pahit
Sabtu, 06 Juni 2015, 11:50 WIB
Komentar : 0

Ketika masih menjabat wali kota Solo, Jokowi gemar mengidentikkan diri sebagai pemimpin
yang dekat dengan wong cilik. Dia pun satu suara dengan PDIP terkait kebijakannya yang tak
akan menaikkan harga BBM kalau terpilih menjadi presiden RI.

"Siapapun atau seluruh rakyat jika ditanya tentang rencana kenaikan harga BBM pasti tidak
mau, karena mereka inginnya yang murah," kata Jokowi.

Nyatanya, Jokowi berkali-kali menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia turun. Dia
pun beralasan bahwa kenaikan BBM itu demi kebaikan rakyat Indonesia. "Ya itulah kadang-
kadang perubahan itu memang membutuhkan pil pahit, membutuhkan kesabaran,
membutuhkan pengorbanan,” ujarnya pada Senin (27/4) malam.
Jokowi Sebut Makassar dan Sidrap di
Sulawesi Utara
Sabtu, 06 Juni 2015, 11:50 WIB
Komentar : 0

Sekitar sebulan setelah menjabat, Jokowi sedang giat-giatnya melakukan blusukan. Kali ini,
mantan wali kota Solo tersebut mengunjungi Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kota
Makassar 5 November 2011. Kedua daerah terletak di Sulawesi Selatan.

Hanya saja, Jokowi membuat heboh setelah melalui akun Facebook, ia menyebut akan
melakukan blusukan ke Sulawesi Utara. Namun, ia mengaku sudah sampai di Makassar
untuk mengikuti kegiatan panen padi di Sidrap.

Jokowi tidak Baca Perpres yang


Ditandatangainya
Sabtu, 06 Juni 2015, 11:50 WIB
Komentar : 0

Presiden Jokowi mengomentari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 tentang
Pemberian Fasilitas Uang Muka bagi Pejabat Negara untuk Pembelian Kendaraan
Perorangan. Jokowi secara mengejutkan mengaku tidak selalu memeriksa sejumlah Perpres
secara rinci lantaran begitu banyak jumlah dokumen yang harus tandatanganinya.

"Tidak semua hal itu saya ketahui 100 persen. Artinya, hal-hal seperti itu harusnya di
kementerian. Kementerian men-screening apakah itu akan berakibat baik atau tidak baik
untuk negara ini," kata Jokowi di Bandara Soekarno-Hatta, Ahad (5/4). Bahkan, gara-gara
jawaban itu, muncul berita di surat kabar berbahasa Inggris terbitan Jakarta berjudul 'Joko: I
don't read what I sign'.
Jokowi Sebut Indonesia Masih Punta Utang
ke IMF
Sabtu, 06 Juni 2015, 11:50 WIB
Komentar : 0

Jokowi menyatakan dalam pidato di acara Konferensi Asia Afrika (KAA) pada akhir April
lalu, Indonesia masih memiliki utang kepada International Monetary Fund (IMF) sebesar
2,79 miliar dolar AS. Pendapat Jokowi dikuatkan Seskab Andi Wijajanto.

Nyatanya, pernyataan Jokowi tersebut dibantah Wapres Jusuf Kalla dan Menkeu Bambang
Brodjonegoro. Bahkan, presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai
mengklarifikasi bahwa utang Indonesia ke IMF sudah lunas.

Jokowi Janji Wujudkan Pemerintahan


yang Bersih
Sabtu, 06 Juni 2015, 11:50 WIB
Komentar : 0

Presiden Jokowi berjanji ingin mewujudkan pemerintahan yang bersih. Nyatanya, ketika
mencalonkan Komjen Budi Gunawan sebagai calon kepala Polri, tidak melibatkan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan
(PPATK). Hal itu terasa janggal, lantaran saat pemilihan menteri Kabinet Kerja, Jokowi
menggandeng dua lembaga tersebut.

Meskipun akhirnya Komjen Budi Gunawan dinyatakan batal status tersangka oleh KPK
setelah menang di sidang praperadilan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel),
komitmen Jokowi mulai diragukan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua tim independen untuk Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) dan Kepolisian RI, Jimly Asshidiqie, menilai putusan praperadilan yang
membatalkan status Komjen Budi Gunawan merupakan momentum untuk mendamaikan dua
lembaga yang belakangan ini berseteru.

Jika kasus Budi Gunawan kemudian berhenti, maka Jimly berpendapat Polri seharusnya
menghentikan pula kasus Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. "Kalau saya ya,
Bambang Widjojanto dan Abraham itu SP3 aja. Biar sudahlah clear semua, supaya tidak ada
kesan kriminalisasi semua," imbuh Jimly saat dihubungi Minggu (1/3/2015).

Jimly mengatakan, saat ini KPK tidak bisa melanjutkan kasus Budi Gunawan karena
kasasinya ditolak. Sementara KPK juga tak bisa mengajukan peninjauan kembali. Sehingga
untuk sementara waktu, kasus Budi Gunawan berhenti.

Dalam kondisi seperti ini, Polri, kata Jimly, harusnya melepaskan Bambang dan Abraham
dari jerat ancaman pidana. Pasalnya, penetapan dua pimpinan KPK non-aktif sebagai
tersangka tidak terlepas dari penetapan tersangka yang dilakukan KPK terhadap Budi
Gunawan.

Lagi pula, lanjut Jimly, tuduhan yang dialamatkan kepada Bambang dan Abraham terkesan
hanya "mencari-cari" kesalahan. "Kalau cari kesalahan, semua pejabat pasti punya salah.
Demikian juga di kasus Abraham dan Bambang, pasti mereka banyak salahnya. Maka
sebaiknya kasus Abraham dan Bambang ini di SP3 saja," kata mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi itu.

Lebih lanjut, Jimly yakin KPK dan Polri bisa membicarakan kemungkinan Abraham dan
Bambang dilepas dari jerat pidana. Apabila polisi masih bersikeras untuk tetap melanjutkan
kasusnya, alternatif lain adalah kejaksaan yang menghentikan kasus itu melalui mekanisme
deponeering seperti yang terjadi dalam kasus mantan pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto-
Chandra M Hamzah.
"Saya rasa kalau masih diproses (oleh polisi) dan diajukan ke kejaksaan, di kejaksaan dilepas.
Itu jalan yang paling baik, walaupun dalam proses hukum yang pasti itu artinya negatif, tapi
ini win-win karena menurut saya BW dan AS tidak pantas jadi tersangka," ucap Jimly.

Seperti diketahui, Bambang Widjojanto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus keterangan
saksi palsu dalam sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sementara
Abraham menjadi tersangka dalam dua kasus berbeda yakni pemalsuan dokumen dan
penyalahgunaan wewenang.
Abraham Samad dan Bambang Widjojanto
Tidak Sanggup "Menjaga KPK"
24 Februari 2015 06:04:07 Dibaca : 304

SUPLEMEN

Tahun 2012, saya pernah menulis "Mereka Berencana Membinasakan KPK"

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto mengatakan, " ...
ada upaya pelemahan terhadap KPK yang dilakukan secara masif, sistematis, dan terstruktur
..." Hal tersebut, ada benarnya, dan diketahui secara umum oleh mereka yang mengikuti arah
serangan dari berbagai pihak ke/pada KPK.

KPK, yang berani; dan berani di sisi rakyat, sejak kasus Antasari, kemudian para
pernggantinya, sampai ke/pada Abraham Samad Cs, tak henti mendapat serangan serta
serbuan berbagai pihak. Semuanya dalam rangka menyunat kinerja serta sepak terjang KPK.

Masih segar dalam ingatan, DPR tak meloloskan dana pembangunan gedung KPK; rumah
tahanan yang tak memadai, sehingga harus minjam; dan para penyidik pinjaman yang ditarik
oleh Mabes Polri.
Bahkan, menurut kompas.com dan juga seorang temanku yang bertugas di KPK, ada rencana
yang bocor, yaitu Komisi III DPR akan merevisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 tentang KPK, dengan tujuan wewenang KPK semakin pendek - sempit - terbatas.

Sehingga, menurut temanku itu, tolong para aktivis - rakyat, atau siapa pun yang mau
Indonesia bebas korupsi, maka memperhatikan semua tanda-tanda dan gejala, yang muncul
dan terjadi dalam rangka melemahkan KPK.

Tentu saja, permintaan yang gampang itu, patut kita berikan dan lakukan, demi Indonesia
lebih baik dan bebas korupsi.

Oleh sebab itu, dalam rangka menghadapi hal-hal tersebut di atas, menurut Bambang
Widjojanto, KPK sudah mempersiapkan sejumlah strategi, antara lain

 menghimpun kekuatan internal, misalnya, agar para pegawai memiliki kemampuan dasar
sebagai penyelidik sehingga kalau dibutuhkan, mereka semua siap
 mencari dukungan masyarakat, misalnya dengan mengomunikasikan kepada publik jika ada
masalah
 menunjukkan kepada publik kinerja KPK dalam memberantas tindak pidana korupsi di
Indonesia.
 membuat peta potensi korupsi,

[Kompasiana.com] SUPLEMEN di atas adalah news lama; ketika itu Bambang Widjoyanto
dan Abraham Samad, masih tergolong baru di KPK. Mereka begitu semangat dan
bersemangat memberantas Korupsi dan memenjarakan koruptor; aura dan aroma permusuhan
dan perlawanan terhadap mereka pun, dengan pelan dan pasti, bermunculan dari berbaga
pelosok. Permusuhan dan perlawanan tersebut datang para koruptor dan antek-anteknya.
Sayangnya, kini 2015, hampir tiga tahun, Bambang Widjoyanto (dan juga KPK secara
keseluruhan) tak mamp melakukan aksi-aksi yang nyata. Artinya, "sejumlah langkah strategis
sejak 2012" ternyata kurang, atau bahkan tidak, berhasil. Kenyataannya, KPK hanya
mendapat dukungan kontemporer atau gerakan rakyat di sekitar (Geudung) KPK hanya
muncul ketika mereka mendapat tekanan dari institusi lain. Ya, dukungan "kekuatan rakyat"
itu datang secara spontan mapun terencana, agar "KPK tak diganggu oleh anasir-anasir
Koruptor." Kekuatan seperti itu memang hebat, namun ternyata tak berdaya ketika
berhadapan tindakan-tindakan lain yang katanya "atas nama hukum" Perhatikan, ini sekedar
contoh tindakan "atas nama hukum tersebut" Pada 13 Januari 2015, KPK menetapkan
Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka menerima suap dan gratifikasi; ditandai
dengan nominal rekening miliknya menjadi tak wajar. Setelah itu, dalam hitungan jam dan
hari muncul rankaian kasus yang menyankut para pemimpin KPK

 Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditetapkan tersangka kasus kesaksian palsu saat
bersengketa di Mahkamah Konstitusi oleh Bareskrim Polri; Bambang telah menjalani
pemeriksaan beberapa kali di Bareskrim, 23 Jan 2015
 Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja dilaporkan ke Bareskrim Polri atas tuduhan mengambil
paksa saham milik PT Desy Timber
 Ketua KPK Abraham Samad dilaporkan ke Polri atas dugaan melakukan pertemuan dengan
petinggi partai politik saat masih menjabat sebagai pimpinan KPK
 Wakil Ketua KPK Zulkarnain, dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait dugaan korupsi dana
hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur tahun 2008
 10 Feb 2015, Andar Situmorang melaporkan Deputi Pencegahan KPK Johan Budi ke
Bareskrim Mabes Polri. Laporan tersebut terkait pertemuan Johan dan Chandra dengan
Nazaruddin pada September 2011 lalu.

Semua kasus lama tersebut, tiba-tiba menjadi hangat, baru, dan sebagai senjata ampuh untuk
meruntuhan KPK. Jika mau menelusuri lagi, maka akan menemukan banyak kasus-kasus
lama yang terungkap atau dilaporkan ke Mabes Polri; dan hal tersebut karena berhubungan
dengan kepentingan kekikinian, entah di Polri, KPK, atupun lembaga politik. Kini, KPK
berganti pemimpin; Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, yang kemarin-kemarin
"garang mengganas" dengtan suara perlawanan terhadap Polri, kini menjadi "tersangka'"
mereka menjadi tersanka karen dosa masa lalu. Hal itu, menjadikan mereka tersangka,
seakan ingin menyampaikan kepada Publi bahwa "Jika melawan kami, maka anda bisa kena
masalah," serta "Cuma segitu jagonya KPK, kami lebih hebat;'" dan "Kekuatan KPK tak
seberapa, kami bisa melumpuhkan mereka." Oleh sebab itu, untuk para pemimpin KPK,
jangan terpukau dengan dukungan publik; kerjakan langkah strategis yang sudah
direncanakan sejak 2012 yang lalu. Anda bisa, rakyat senang Rakyat senang karena Negeri
ini mejadi bebas koruptor dan korupsi Nah .......................

Kompas.com

KPK bukan KOMISI PEMBELA


KORUPTOR
Angkat Bos Judi Jadi Wantimpres, Jokowi
Dikritik
Selasa, 20 Januari 2015, 02:30 WIB

Komentar : 95

Kicauan Thamrin Amal Tomagola soal pengangkatan Jan Darmaji jadi Wantimpres.
A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sosiolog Universitas Indonesia, Thamrin Amal


Tomagola mempertanyakan kebijakan Presiden Jokowi soal pengangkatan Dewan
Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Bukan sembilan Wantimpres yang
dipermasalahkannya, melainkan satu orang saja.
"Oh Jokowi, Kalla, Mega dan Palloh, bencana apa lagi yg ingin kalian timpakan atas bangsa
ini? Bos judi PENASEHAT PRESIDEN?" katanya melalui akun Twitter, @tamrintomagola.

Ketika ditanya akun @Anjani202, siapa sosok yang dimaksud? Thamrin dengan lugas
menjawab Jan Darmadi. "Jan Darmadi alias Apiang," katanya.

Status Jan Darmadi saat ini adalah sebagai politikus Partai Nasdem. Di Pilpres 2014, Nasdem
bersama PDIP adalah partai utama pendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

Aktivis 77 M Hatta Taliwang mempertanyakan langkah Jokowi mengangkat Jan Darmaji.


Dia menilai, pemilihan Wantimpres harus melihat track record kandidatnya. Pasalnya, posisi
Wantimpres merupakan bapak bangsa yang akan memberikan pertimbangan bijak kepada
orang nomor satu di Indonesia.

Karena itu, ia meminta, salah seorang anggota Wantimpres yang sudah dilantik, Jan Darmadi
sangat perlu dikaji kembali. “Saya dengar, Jan Darmadi bos judi juga,” ujar Hatta ketika
dihubungi Republika, Senin (19/1). (Baca: Anggota Wantimpres Ini Bekas Bos SDSB)

MUI: Mengapa Presiden Pilih Mantan Raja


Judi Jadi Wantimpres?

Selasa, 20 Januari 2015, 13:47 WIB

Komentar : 276

Antara/Andika Wahyu
Presiden Joko Widodo
A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempertanyakan


keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang melantik Jan Darmadi sebagai salah satu
anggota dewan pertimbangan presiden (wantimpres).

Karena Jan diketahui memiliki rekam jejak sebagai pendiri program Sumbangan Dana Sosial
Berhadiah (SDSB) yang merupakan kedok perjudian pada era 90-an.

Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnaen, mengatakan pelantikan Jan tidak masuk akal. Karena ia
telah memiliki citra buruk dalam sejarah Indonesia.

"Saya tidak mengerti mengapa presiden memilih Jan yang pernah jadi raja judi," jelasnya saat
dihubungi ROL, Selasa (20/1).

Ia menambahkan, pengangkatan Jan sebagai anggota wantimpres akan sangat berpengaruh


bagi pemerintah. Dikhawatirkan kebijakan yang diambil pemerintah nantinya akan menjurus
ke arah yang kurang baik.

"Dari puluhan juta orang Indonesia, apakah tidak ada yang lebih baik dari Jan Darmadi?"
kata dia.

Menurutnya, sebaiknya Jokowi memilih orang yang berkriteria baik dan bersih demi
kepentingan bangsa Indonesia. Presiden dapat melihat seseorang baik atau tidak dengan
melihat rekam jejaknya.

Selanjutnya, Zulkarnaen menyarankan agar masyarakat terus mempertanyakan alasan Jokowi


memilih orang yang salah. Sedangkan, orang yang lebih kompeten untuk menjadi anggota
Wantimpres masih banyak.