Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumbuhan paku (Pteridophyta) tersebar diseluruh bagian dunia. Sebagian besar tumbuh di
daerah tropika basah yang lembab kecuali daerah bersalju abadi dan kering (gurun).
Ptreridophyta hidup tersebar luas dari tropika yang lembab sampai melampaui lingkaran
Antartika. Jumlah yang besar dijumpai di hutan,hutan hujan tropik dan juga tumbuh dengan
subur di daerah beriklim sedang, di hutan hutan, padang rumput yang lembab, sepanjang
sisi jalan dan sungai.

Tumbuhan paku atau Pteridophyta tergolong tumbuhan Cormophyta karena sudah


memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tumbuhan paku memiliki cara hidup yang bemacam-
macam, ada yang saprofit, epifit, hidup di tanah, atau di air. Tumbuhan ini juga mengalami
metagenesis seperti lumut tetapi bebeda pada fase yang dominant. Pada tumbuhan paku fase
yang lebih dominan adalah pada fase sporofit dibandingkan dengan gametofit sehingga
tumbuhan paku yang kita lihat sehari-hari merupakan fase sporofit.

Pada umumnya, tumbuhan paku banyak hidup pada tempat lembap sehingga disebut
sebagai tanaman higrofit. Pada hutan-hutan tropik dan subtropik, tumbuhan paku merupakan
tumbuhan yang hidup di permukaan tanah, tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke lereng-
lereng gunung, bahkan ada yang hidup di sekitar kawah gunung berapi.

Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah,


karena meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus, serta mempunyai sistem pembuluh
tetapi blm menghasilkan biji, dan alat perkembangbiakan yang lain. Alat perkembangbiakan
tumbuhan paku yang utama adalah spora. Jadi penempatan tumbuhan paku ke dalam golongan
tingkat rendah atau tinggi bisa berbeda-beda tergantung sifat yang digunakan sebagai dasar. Jika
didasarkan pada macam alat perkembangbiakannya, maka sebagai tumbuhan berspora tergolong
tumbuhan tingkat rendah. Namun, jika didasarkan pada ada atau tidaknya sistem pembuluh,

1
tumbuhan paku dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi karena sudah mempunyai
berkas pembuluh (Tjitrosoepomo,1994).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana klasifikasi tanaman paku ekor kuda


2. Apa saja ciri-ciri tanaman paku ekor kuda
3. Dimana habitat tanaman paku ekor kuda
4. Bagaimana metagenesis tanaman paku ekor kuda
5. Bagaimana pembagian kelas tanaman paku ekor kuda

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui klasifikasi tanaman paku ekor kuda


2. Untuk mengetahui mengetahui ciri-ciri tanaman paku ekor kuda
3. Untuk mengetahui habitat tanaman paku ekor kuda
4. Untuk mengetahui metagenesis tanaman paku ekor kuda
5. Untuk mengetahui pembagian kelas tanaman paku ekor kuda

2
II. PEMBAHASAN

Semua warga Sphenopsida yang masih hidup diklasifikasikan kedalam satu genus,
Equiesetum dari equus yang berarti "kuda" dan setum yang berarti "rambut tebal" dalam bahasa
Latin). Equisetum terutama hidup pada habitat lembab di daerah subtropis. Equisetum yang
tertinggi hanya mencapai 4,5 m, sedangkan rata-rata tinggi kebanyakan Equisetum kurang dari 1
m. Equisetum memiliki akar, batang, dan daun sejati. Batangnya beruas dan pada setiap ruasnya
dikelilingi daun kecil seperti sisik.

Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Beberapa spesies


lain dijumpai dan tersebar di mana-mana. Umumnya tumbuh dalam lingkungan yang basah atau
daerah rawa, seerti misalnya kolam dangkal,dan pinggiran sungai. Tetapi beberapa bertahan
tumbuh di tanah padang rumput yang kering, di sisi jalan, dan bahkan tumbuh di bekas-bekas
jalan kereta api ( Tjitrosomo, siti. 1983: 136)

Ekor kuda juga disebut atrofit (arthrophyte, “tumbuhan berbuku-buku”) karena


batangnya memiliki buku-buku. Cincin dari daun atau batng kecil muncul dari setiap buku,
namun batang merupakan organ fotosintetik utama. Salurann udara yang besar mengangkut
oksigen ke akar, yang seringkali tumbuh dalam tanah yang terendam air.

Paku kuda sangat beraneka ragam selama periode karbon, sebagian tumbuh hingga
tingginya 15 m, akan tetapi, sekarang hanya ada sekitar 15 spesies yang sintas sebagai satu genus
tunggal yang tersebar luas, Equisetum. Genus ini ditemukan yang berpaya-paya dan disepanjang
sepanjang sungai. (campbell, 2008: 180)

i. Karakteristik paku ekor kuda


- Batangnya berbentuk silinder, berbuku secara nyata ,dan bergurat memanjang
- Batang-batangnya bercabang atau tunggal.
- Daunnya berbentuk sisik,sangat kecil, tumbuh secara melingkar pada buku-buku.
- Bentuk bersemak yang simetris menggambarkan nama umum untuk ekor kuda.

3
- Fotosintesis dilangsungkan terutama oleh batang dan cabang-cabangnya, karena daun-
daunnya sangat kecil dan dalam banyak spesies daunnya tidak mengandung klorofil.
- Semua batangnya berbentuk strobilus.
- Berwarna hijau
- Batangnya beruas dan pada setiap ruasnya dikelilingi daun kecil seperti sisik.
- Spora tersimpan pada struktur berbentuk gada yang disebut strobilus (jamak strobili) yang
terletak pada ujung batang (apical).
- Sphenopsida termasuk dalam paku peralihan (Merupakan jenis paku yang dapat
menghasilkan dua macam spora, yaitu spora jantan dan spora betina. Namun, spora-spora
yang dihasilkan tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya adalah
Equisetum arvense)

ii. Habitat paku ekor kuda

Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa
bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense
dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar
luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung
(E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.

Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor kuda purba dan kerabatnya
(Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi.
Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil
yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai pengerasan sisa-sisa serasah
dari hutan purba ini.

Contoh spesies
 Subgenus Equisetum
a. Equisetum arvense - paku ekor kuda ladang
b. Equisetum bogotense - paku ekor kuda Andes
c. Equisetum diffusum - paku ekor kuda Himalaya

4
d. Equisetum fluviatile - paku ekor kuda air
e. Equisetum palustre - paku ekor kuda rawa

 Hidup pada daerah lembab dan subtropics.


 Yang basah dan berpasir seperti : kolam dangkal, pinggiran sungai.
 Sebagian didarat, dan dirawa-rawa.
 Klasifikasi Equisetum arvense
Kingdom : Plantae
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Equisetopsida
Ordo : Equisetales
Family : Equicetaea
Genus : Equisetum
Spesies : Equisetum arvense

Pada kelas Equisetopsida, terbagi atas 3 ordo (bangsa):


a) Bangsa equisetales
b) Bangsa sphenophyllales
c) Bangsa protoarticulatales

 Bangsa Equisetales

Pada salah satu spesies yang paling umum adalah Equisetum arvanse (paku ekor kuda
ladang), tunas yang fertil tidak berklorofil dan berumur pendek, akan mati setelah sporanya
tersebar. Sporanya mengandung banyak kloroplas dan berdinding tiga, yang paling luar pecah
menjadi empat penonjolan dengan ujung-ujungnya yang pipih. Hiasan spora ini yang disebut
elater, menempel dan memencar dari satu titik pada spora. Hiasan ini higroskopik, dapat
bergerak dengan menggulung dan melurus dengan cepat mengikuti perubahan kelembaban
udara. Gerakan spora ini rupanya dapat membantu penglepasan spora dari sporangium.
Sepertinya, elater ini mempunyai kuran yang besar pada keadaan kering, maka dapat berfungsi
sebagai sayap sehingga spora dapat dengan mudah disebar dengan hembusan udara yang lemah.

5
Bila spora terbawa kedaerah lembab (habitat yang cocok) elaternya menggulung sehingga spora
cenderung ungtuk mengendap. Hinggapnya spora di daerah lembab ini memungkinkan untuk
berkecambah.

Warga suku ini paling tua adalah Asterocalomites, mempunyai daun-daun kecil yang
menggarpu. Biasanya daun-daun warga Asterocalomites berupa daun tunggal, mempunyai satu
tulang daun, berbentuk lanset panjang dan tersusun berkarang. Daun-daun telah mencapai
panjang sampai beberapa cm dan telah mempunyai jaringan tiang sebagai jaringan asimilasinya.
Rangkaian sporofil mempunyai susunan yang sama dengan Equisetum, tetapi pada Calamitaceae
terdapat daun-daun steril dan fertil berselang-selang. Di antara Calamitaceae ada yang isopor,
ada pula yang heterospor, spora tidak mempunyai haptera.

Dari segi filogeni Calamitaceae dipandang lebih tua daripada Equisetaceae yang selalu
isopor, akan tetapi anggapan itu sukar diterima, padahal umumnya orang beranggapan bahwa
sifat heterospor adalah gejala yang lebih maju daripada sifat isopor dan bukan sebaliknya.
Contoh-contoh jenis tumbuhan yang tergolong dalam suku Calamitaceae ialah Eucalamites
multiramis, Calamostachys binneyana, Asterophyllites longifolus.

 Bangsa Sphenophyllales

Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil dari zamanpalaeozoikum. Daun-
daunnya menggarpu, atau berbentuk oasak dengan tulang-tulang yang bercabang menggarpu,
tersusun berkarang, dan tiap karang biasanya terdiri dari 6 daun. Dari bangsa ini yang filogenetik
merupakan tumbuhan tertua mempunyai daun yang tidak sama (heterofil)

Pada warga Sphenophyllum terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun
sempit kecil yang menggarpu. Batangnya mencapai tebal sejari, beruas-ruas panjang, bercabang-
cabang, mempunyai satu berkas pengangkut yang tidak berteras dan mempunya kambium.
(Tjitrosoepomo, 2011:255)

6
Klasifikasi Sphenophyllum cuneifolium
Kingdom : Plantae
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Sphenopsida
Ordo : Sphenophyllales
Famili : Sphenophyllaceaea
Genus : Sphenophyllum
Spesies : Sphenophyllum cuneifolium

 Bangsa Protoarticulatales

Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah mulai muncul di atas bumi pada
pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang paling terkenal adalah anggota marga Rhynia,
berupa semak-semak kecil yang bercabang-cabang menggarpu, daun-daunnya tersusun
berkarang tidak beraturan. Helaian daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam
suatu bulir, tetapi sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang
menggarpu tidak beraturan dengan sporangium yang bergantungan. Bangsa Protoarticulatales
mencakup suku Rhyniaceae, yang anggota-anggotanya dipandang sebagai nenek moyang
Sphenphyllaceae dan Calamitaceae. Contoh Rhynia elegans.

Equisetinae mencapai puncak perkembangannya dalam zaman Palaezoikum, yang hamper


semuanya kemudian punah kecuali marga Equisetum yang masih kita kenal sampai sekarang.
Jenisjenis tumbuhan dari marga Equisetum yang sekarang ada merupakan sisa dari warga
Equisetum yang dahulu lebih banyak dan lebih meluas.

Dalam Mesozoikum dulu hidup jenis-jenis Equisetum yang telah memperlihatkan


pertumbuhan menebal sekunder(mempunyai kambium). Beberapa golongan yang telah punah itu
(Sphenophyllaceae, Calamitaceae), kebanyakan bersifat heterospor, akan tetapi belum pernah
ada warga Equisetinae yang mencapai tingkat perkembangan sampai dapat menghasilkan biji
seperti Lepidospermae. Nenek moyang Equisetinae mungkin sekali tumbuhan yang tergolong
dalam Psilophytinae. Jadi Equisetinae dan Lycopodinae dapat sisamakan dengan dua cabang

7
dengan perkembangan yang sejajar, keduanya berasal dari Psilophytinae, tetapi berbeda
mikrofilnya. Di sana akan kita jumpai organ-organ khusus pembentuk spora. Spora dihasilkan
dan dibentuk dalam suatu wadah yang disebut sebagai sporangium. Biasanya sporangium pada
tumbuhan paku terkumpul pada permukaan bawah daun. (Tjitrosoepomo, 2011:257)

Klasifikasi Rhynia elegans :

Kingdom : Plantae
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Protoarticulasetopsida
Ordo : Protoarticulatales
Famili : Protoarticulaceaea
Genus : Rhyniaceae
Species : Rhynia elegans

iii. Reproduksi

Pada metagenesis tumbuhan paku, baik pada paku homospora, paku heterospora, ataupun
paku peralihan, pada prinsipnya sama. Ketika ada spora yang jatuh di tempat yang cocok, spora
tadi akan berkembang menjadi protalium yang merupakan generasi penghasil gamet atau
biasa disebut sebagai generasi gametofit, yang akan segera membentuk anteredium yang akan
menghasilkan spermatozoid dan arkegonium yang akan menghasilkan ovum. Ketika
spermatozoid dan ovum bertemu, akan terbentuk zigot yang diploid yang akan segera
berkembang menjadi tumbuhan paku. Tumbuhan paku yang kita lihat sehari-hari
merupakan generasi sporofit karena mampu membentuk sporangium yang akan menghasilkan
spora untuk perkembangbiakan. Fase sporofit pada metagenesis tumbuhan paku memiliki sifat
lebih dominan daripada fase gametofitnya. Apabila kita amati daun tumbuhan paku penghasil
spora (sporofil).

Pada tumbuhan paku ekor kuda ini, adalah termasuk dalam paku peralihan, yang mana
jenis paku yang dapat menghasilkan dua macam spora, yaitu spora jantan dan spora betina.

8
Namun, spora-spora yang dihasilkan tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama.
Contohnya adalah Equisetum arvense.

iv. Peranan

Sedangkan batang dari tumbuhan tersebut bila dibakar abunya dapat dimanfaatkan menjadi
abu gosok dan dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan.

Misalnya: equisetum sylvaticum.


- Sebagai sikat penggosok panci dan wajan
- Campuran obat
- Sebagai tanaman hias

9
III. KESIMPULAN

Kelas Pada kelas Equisetopsida, terbagi atas 3 ordo (bangsa):


a) Bangsa equisetales
b) Bangsa sphenophyllales
c) Bangsa protoarticulatales

Tanaman paku ekor kuda (sphenophyta) merupakan tanaman yang bentuknya seperti ekor
kuda dengan batang tumbuhan berwarna hijau, beruas-ruas, berlubang di tengahnya, berperan
sebagai organ fotosintetik menggantikan daun. Batangnya dapat bercabang.

Tanamana paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung,
beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini)

Tumbuhan paku ekor kuda ini termasuk pada paku peralihan, yang mana jenis paku yang
dapat menghasilkan dua macam spora, yaitu spora jantan dan spora betina. Namun, spora-spora
yang dihasilkan tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya adalah Equisetum
arvense.

10
DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2008. Biologi. Jakarta: Erlangga


Sutarmi Tjitrosomo, Siti. 1983. Botani Umum 3. Bandung: Angkasa
Tjittrosoepomo, Gembong. 2011. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
press.
Anonim. 2006. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta . Medan : USU E-Learning.

11

Anda mungkin juga menyukai