Anda di halaman 1dari 18

AZAZ LEGALITAS DALAM PERSPEKTIF PENEGAKAN

HUKUM PIDANA

TUGAS MATA KULIAH KAPITA SELEKTA HUKUM PIDANA

DISUSUN OLEH :

AHMAD FITRU ROZAQ

(14110059)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TAMAN SISWA PALEMBANG

TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asas legalitas yang dikenal dalam hukum pidana modern muncul dari
lingkup sosiologis Abad Pencerahan yang mengagungkan doktrin
perlindungan rakyat dari perlakuan sewenang-wenang kekuasaan. Sebelum
datang Abad Pencerahan, kekuasaan dapat menghukum orang meski tanpa
ada peraturan terlebih dulu. Saat itu, selera kekuasaanlah yang paling berhak
menentukan apakah perbuatan dapat dihukum atau tidak. Untuk
menangkalnya, hadirlah asas legalitas yang merupakan instrumen penting
perlindungan kemerdekaan individu saat berhadapan dengan negara. Dengan
demikian, apa yang disebut dengan perbuatan yang dapat dihukum menjadi
otoritas peraturan, bukan kekuasaan.
Menurut para ahli hukum, akar gagasan asas legalitas berasal dari
ketentuan Pasal 39 Magna Charta (1215) di Inggris yang menjamin adanya
perlindungan rakyat dari penangkapan, penahanan, penyitaan, pembuangan,
dan dikeluarkannya seseorang dari perlindungan hukum/undang-undang,
kecuali ada putusan peradilan yang sah. Ketentuan ini diikuti Habeas Corpus
Act (1679) di Inggris yang mengharuskan seseorang yang ditangkap diperiksa
dalam waktu singkat. Gagasan ini mengilhami munculnya salah satu
ketentuan dalam Declaration of Independence (1776) di Amerika Serikat yang
menyebutkan, tiada seorang pun boleh dituntut atau ditangkap selain dengan,
dan karena tindakan-tindakan yang diatur dalam, peraturan perundang-
undangan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk
menulis makalah ini yang berjudul “Azaz Legalitas Dalam Perspektif
Penegakan Hukum Pidana”.
B. Rumusan Masalah
1. Makalah ini akan membahas tentang “Azas Legalitas Dalam Perspektif
Penegakan Hukum Pidana”.

C. Tujuan Penulisan
Tujuan disusunnya makalah untuk menyelesaikan tugas yang telah
diberikan. Selain itu penyusunan ini juga untuk membuka jendela
permasalahan perspektif penegakan hukum pidana. Harapan penulis adalah
agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, akan tetapi
bermanfaat juga bagi meraka yang membutuhkan untuk referensi ataupun
bahan bacaan semata.
BAB II
PEMBAHASAN

Pada dasarnya asas legalitas lazim disebut juga dengan terminologi


“principle of legality”, “legaliteitbeginsel”, “non-retroaktif”, “de la legalite” atau
“ex post facto laws”. Ketentuan asas legalitas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang berbunyi: “Tiada suatu
peristiwa dapat dipidana selain dari kekuatan ketentuan undang-undang pidana
yang mendahuluinya.” (Geen feit is strafbaar dan uit kracht van een daaran
voorafgegane wetteljke strafbepaling). P.A.F. Lamintang dan C. Djisman Samosir
merumuskan dengan terminologi sebagai, “Tiada suatu perbuatan dapat dihukum
kecuali didasarkan pada ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah
diadakan lebih dulu”. Andi Hamzah menterjemahkan dengan terminologi, “Tiada
suatu perbuatan (feit) yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang mendahuluinya”. Moeljatno menyebutkan pula
bahwa, “Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana
dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan”. Oemar
Seno Adji menentukan prinsip “legality” merupakan karakteristik yang essentieel,
baik ia dikemukakan oleh “Rule of Law” – konsep, maupun oleh faham
“Rechtstaat” dahulu, maupun oleh konsep “Socialist Legality”. Demikian
misalnya larangan berlakunya hukum Pidana secara retroaktif atau retrospective,
larangan analogi, berlakunya azas “nullum delictum” dalam Hukum Pidana,
kesemuanya itu merupakan suatu refleksi dari prinsip “legality”. Nyoman Serikat
Putra Jaya, menyebutkan perumusan asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP
mengandung makna asas lex temporis delicti, artinya undang-undang yang
berlaku adalah undang-undang yang ada pada saat delik terjadi atau disebut juga
asas “nonretroaktif”, artinya ada larangan berlakunya suatu undang-undang pidana
secara surut. Asas legalitas juga berkaitan dengan larangan penerapan ex post
facto criminal law dan larangan pemberlakuan surut hukum pidana dan sanksi
pidana (nonretroactive application of criminal laws and criminal sanctions)
Dikaji dari substansinya, asas legalitas dirumuskan dalam bahasa Latin sebagai
nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali (tidak ada delik, tidak ada
pidana tanpa ketentuan pidana yang mendahuluinya), atau nulla poena sine lege
(tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana menurut undang-undang), nulla poena
sine crimine (tidak ada pidana tanpa perbuatan pidana), nullum crimen sine lege
(tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana menurut undang-undang) atau nullum
crimen sine poena legali (tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa
ketentuan pidana yang mendahuluinya) atau nullum crimen sine lege stricta (tidak
ada perbuatan pidana tanpa ketentuan yang tegas).
Konsepsi asas ini dikemukakan oleh Paul Johan Anslem von Feurbach
(1775-1833), seorang sarjana hukum pidana Jerman dalam bukunya Lehrbuch des
penlichen recht pada tahun 1801 yang mengemukakan teori mengenai tekanan
jiwa (Psychologische Zwang Theorie). Paul Johan Anslem von Feurbach
beranggapan bahwa suatu ancaman pidana merupakan usaha preventif terjadinya
tindak pidana dan jikalau orang telah mengetahui sebelumnya bahwa ia diancam
pidana karena melakukan tindak pidana, diharapkan akan menekan hasratnya
untuk melakukan perbuatan tersebut. Akan tetapi, menurut J.E. Sahetapy
dikemukakan bahwa Samuel von Pufendorflah yang mendahului von Feuerbach,
maka Oppenheimer menganggap bahwa “Talmudic Jurisprudence” lah yang
mendahului teori von Feurbach. Bambang Poernomo menyebutkan bahwa, apa
yang dirumuskan oleh von Feurbach mengandung arti yang sangat mendalam,
yaitu dalam bahasa Latin berbunyi: “nulla poena sine lege; nulla poena sine
crimine; nullum crimen sine poena legali”.
Akan tetapi, walaupun asas legalitas diformulasikan dalam bahasa Latin,
ada menimbulkan kesan seolah-olah asal muasal asas ini adalah dari hukum
Romawi kuno. Aturan ini, dalam formulasi bahasa Latin, berasal dari juris
Jerman, von Feuerbach – ini berarti bahwa asas ini lahir pada awal abad 19 dan
harus dipandang sebagai produk ajaran klasik. J.E. Sahetapy menyebutkan bahwa
asas legalitas dirumuskan dalam bahasa Latin semata-mata karena bahasa Latin
merupakan bahasa ‘dunia hukum’ yang digunakan pada waktu itu. Moeljatno
menyebutkan bahwa, baik adagium ini maupun asas legalitas tidak dikenal dalam
hukum Romawi Kuno. Pada saat itu dikenal kejahatan yang disebut criminal extra
ordinaria, yang berarti “kejahatan-kejahatan yang tidak disebut dalam undang-
undang”. Diantara criminal extra ordinaria ini yang terkenal adalah crimina
stellionatus (perbuatan durjana/jahat). Dalam sejarahnya, criminal extra ordinaria
ini diadopsi raja-raja yang berkuasa. Sehingga terbuka peluang yang sangat lebar
untuk menerapkannya secara sewenang-wenang. Oleh karena itu, timbul
pemikiran tentang harus ditentukan dalam peraturan perundang-undangan terlebih
dahulu perbuatan-perbuatan apa saja yang dapat dipidana.
Selain konteks di atas, ada juga yang berasumsi bahwa asas legalitas berasal
dari ajaran Montesquieu dalam bukunya L’Esprit des Lois. Menurut van der Donk
dan Hazewinkel Suringa baik ajaran Montesquieu maupun Rosseau
mempersiapkan penerimaan umum terhadap asas legalitas, akan tetapi dalam
ajaran kedua tokoh tersebut tidak terdapat rumusan asas legalitas. Maksud dari
pelajaran kedua tokoh tersebut adalah melindungi individu terhadap tindakan
hakim yang sewenang-wenang, yaitu melindungi kemerdekaan pribadi individu
terhadap tuntutan tindakan yang sewenang-wenang. Hans Kelsen menyebutkan
dimensi asas nulla poena sine lege, nullum crimen sine lege adalah ekspresi legal
positivism dalam hukum pidana.
Dikaji dari perspektif sejarah terbentuknya asas legalitas dalam KUHP
Indonesia berasal dari Wetboek van Strafrecht Nederland (WvS. Ned),
sebagaimana berasal dari ketentuan Pasal 8 Declaration des Droits De L’Homme
Et Du Citoyen tahun 1789 yang berbunyi, “tidak ada orang yang dapat dipidana
selain atas kekuatan undang-undang yang sudah ada sebelumnya”, dan merupakan
pandangan Lafayette dari Amerika ke Perancis dan bersumber dari Bill of Rights
Virgina tahun 1776.
Apabila dianalisis lebih intens, detail dan terperinci terminologi “ketentuan
perundang-undangan (wettelijk strafbepaling)” dan “undang-undang” maka ruang
lingkup asas legalitas dalam hukum pidana materiil lebih luas dengan terminologi
“perundang-undangan” dari kata “undang-undang” pada ketentuan hukum acara
pidana. Tegasnya, asas legalitas di samping dikenal dalam ketentuan hukum
pidana materiel juga dikenal dalam ketentuan hukum acara pidana (hukum pidana
formal). Andi Hamzah kemudian lebih lanjut menyebutkan bahwa dengan
demikian, asas legalitas dalam hukum acara pidana lebih ketat daripada dalam
hukum pidana materiel, karena istilah dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP (sama dengan
Belanda) “ketentuan perundang-undangan” (wettelijk strafbepaling) sedangkan
dalam hukum acara pidana disebut undang-undang pidana. Jadi, suatu peraturan
yang lebih rendah seperti Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah dapat
menentukan suatu perbuatan dapat dipidana tetapi tidak boleh membuat aturan
acara pidana.
Hakikat ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut mendeskripsikan tentang
pemberlakuan hukum pidana menurut waktu terjadinya tidak pidana (tempus
delicti). Konkritnya, untuk menentukan dapat atau tidaknya suatu perbuatan agar
dipidana maka ketentuan pidana tersebut harus ada terlebih dahulu diatur sebelum
perbuatan dilakukan. Francis Bacon (1561-1626), seorang filsuf Inggris
merumuskan dalam adagium moneat lex, priusquam feriat (undang-undang harus
memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum merealisasikan ancaman yang
terkandung di dalamnya), ini kiranya mencakup lebih dari sekedar itu, yakni
mencakup juga pembenaran atas pidana yang dijatuhkan. Hanya jika ancaman
pidana yang muncul terlebih dahulu telah difungsikan sebagai upaya pencegahan,
menghukum dapat dibenarkan.
Dalam perspektif tradisi Civil law, ada empat aspek asas legalitas yang
diterapkan secara ketat, yaitu terhadap peraturan perundangan-undangan (law),
retroaktivitas (retroactivity), lex certa dan analogi. Roelof H. Haveman
menyebutkan keempat dimensi konteks di atas sebagai, though it might be said
that not every aspect is that strong on its own, the combination of the four aspects
gives a more true meaning to principle of legality. Moeljatno menyebutkan bahwa
asas legalitas mengandung tiga pengertian, yaitu:
1. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu
terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
2. Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi
(kiyas).
3. Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut.
Komariah Emong Sapardjaja dengan bertitik tolak pandangan Groenhuijsen
menyebutkan ada empat makna yang terkandung asal legalitas dalam Pasal 1 ayat
(1) KUHP. Pertama, bahwa pembuat undang-undang tidak boleh memberlakukan
suatu ketentuan pidana berlaku mundur. Kedua, bahwa semua perbuatan yang
dilarang harus dimuat dalam rumusan delik sejelas-jelasnya. Ketiga, hakim
dilarang menyatakan bahwa terdakwa melakukan perbuatan pidana didasarkan
pada hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan. Keempat, terhadap peraturan
hukum pidana dilarang diterapkan analogi. Polarisasi pemikiran Komariah Emong
Sapardjaja dengan bertitik tolak pandangan Groenhuijsen hakikatnya identik
dengan pendapat dari Machteld Boot dengan titik tolak pandangan Jeschek dan
Weigend yang menyebutkan empat syarat asas legalitas. Pertama, tidak ada
perbuatan pidana dan pidana tanpa undang-undang sebelumnya (asas nullum
crimen, noela poena sine lege pravia). Kedua, tidak ada perbuatan pidana, tidak
ada pidana tanpa undang-undang tertulis (asas nullum crimen, nulla poena sine
lege scripta). Ketiga, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa aturan
undang-undang yang jelas (asas nullum crimen, nulla poena sine lege certa).
Keempat, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-undang yang
ketat (asas nullum crimen, noela poena sine lege stricta). Lebih detail Machteld
Boot menyebutkan bahwa:
“The formulation of the Gesetzlichkeitsprinzip in Article 1 StGB is
generally considered to include four separate requirements. Fist, conduct can only
be punished if the punishability as well as the acconpanying penalty had been
determined before the offence was committed (nullum crimen, noela poena sine
lege praevia). Furthermore, these determinations have to be be included in statutes
(Gesetze): nullum crimen, noela poena sine lege scripta. These statutes have to be
difinite (bestimmt): nullum crimen, noela poena sine lege certa. Lastly, these
statutes may not be applied by analogy which is reflected in the axion nullum
crimen, noela poena sine lege stricta.”
JH. J. Enschede, menyebutkan hanya ada dua makna yang terkandung
dalam asas legalitas, yaitu: Pertama, suatu perbuatan dapat dipidana hanya jika
diatur dalam perundang-undangan pidana (...wil een feit strafbaar zijn, dan moet
het vallen onder een wettelijke strafbepaling...). Kedua, kekuatan ketentuan
pidana pidana tidak boleh diberlakukan surut (...zo’n strafbepaling mag geen
terugwerkende kracht hebben...). Kemudian Jan Remmelink menyebutkan tiga hal
tentang makna asas legalitas. Pertama, Konsep perundang-undang yang
diandaikan ketentuan Pasal 1. Ketentuan Pasal 1 Sv (KUH Pidana Belanda
maupun Indonesia, bdgk. Pasal 3 KUHP Indonesia 1981) menetapkan bahwa
hanya perundang-undangan dalam arti formal yang dapat memberi pengaturan di
bidang pemidanaan. Kata perundang-undangan (wettelijk) dalam ketentuan Pasal
1 menunjuk pada semua produk legislatif yang mencakup pemahaman bahwa
pidana akan ditetapkan secara legitimate. Sebelumnya telah ditunjukkan bahwa
pelbagai bentuk perundang-undangan tercakup di dalamnya, termasuk peraturan
yang dibuat oleh pemerintah daerah (tingkat provinsi maupun
kabupaten/kotamadya) dan seterusnya. Kedua, Lex Certa (undang-undang yang
dirumuskan terperinci dan cermat/nilai relatif dari ketentuan ini). Asas Lex Certa
atau bestimmtheitsgebot merupakan perumusan ketentuan pidana yang tidak jelas
atau terlalu rumit hanya akan memunculkan ketidakpastian hukum dan
menghalangi keberhasilan upaya penuntutan (pidana) karena warga selalu akan
dapat membela diri bahwa ketentuan-ketentuan seperti itu tidak akan berguna
sebagai pedoman perilaku. Ketiga, dimensi analogi. Asas legalitas menyimpan
larangan untuk menerapkan ketentuan pidana secara analogis (nullum crimen sine
lege stricta: tiada ketentuan pidana terkecuali dirumuskan secara sempit/ketat di
dalam peraturan perundang-undangan).
Lebih lanjut Von Feurbach menyebutkan makna asas legalitas menimbulkan
tiga peraturan lain. Pertama, setiap penggunaan pidana hanya dapat dilakukan
berdasarkan hukum pidana (nulla poena sine lege). Kedua, penggunaan pidana
hanya mungkin dilakukan, jika terjadi perbuatan yang diancam dengan pidana
oleh undang-undang (nulla poena sine crimine). Ketiga, perbuatan yang diancam
dengan pidana yang menurut undang-undang, membawa akibat hukum bahwa
pidana yang diancamkan oleh undang-undang dijatuhkan (nullum crimen sine
poena legali). Berikutnya Richard G. Singer dan Martin R. Gardner menyebutkan
asas legalitas berkorelasi dengan 3 (tiga) dimensi, yaitu: Pertama, pemidanaan
tidak dapat diberlakukan secara retroaktif. Kedua, pembentuk undang-undang
dilarang membuat hukum yang berlaku surut. Ketiga, perbuatan pidana harus
didefinisikan oleh lembaga atau institusi yang berwenang.
Pada dasarnya, perkembangan asas legalitas eksistensinya diakui dalam
KUHP Indonesia baik asas legalitas formal (Pasal 1 ayat (1) KUHP) maupun asas
legalitas materiil (Pasal 1 ayat (3) RUU KUHP Tahun 2008). Akan tetapi, Utrecht
keberatan dengan dianutnya asas legalitas di Indonesia. Alasannya ialah banyak
sekali perbuatan yang sepatutnya dipidana (strafwaardig) tidak dipidana karena
adanya asas tersebut serta asas legalitas menghalangi berlakunya hukum pidana
adat yang masih hidup dan akan hidup. Lebih terperinci maka Utrecht mengatakan
bahwa:
“Terhadap azas nullum delictum itu dapat dikemukakan beberapa keberatan.
Pertama-tama dapat dikemukakan bahwa azas nullum delictum itu kurang
melindungi kepentingan-kepentingan kolektif (collectieve belangen). Akibat azas
nullum delictum itu hanyalah dapat dihukum mereka yang melakukan suatu
perbuatan yang oleh hukum (=peraturan yang telah ada) disebut secara tegas
sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum. Jadi, ada kemungkinan seorang yang
melakukan suatu perbuatan yang pada hakikatnya merupakan kejahatan, tetapi
tidak disebut oleh hukum sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum, tinggal
tidak terhukum. Azas nullum delictum itu menjadi suatu halangan bagi hakim
pidana menghukum seorang yang melakukan suatu perbuatan yang biarpun tidak
“strafbaar”’ masih juga “strafwaardig”. Ada lagi satu alasan untuk menghapuskan
pasal 1 ayat 1 KUHPidana, yaitu suatu alasan yang dikemukakan oleh terutama
hakim pidana di daerah bahwa pasal 1 ayat 1 KUH Pidana menghindarkan
dijalankannya hukum pidana adat.”
Akan tetapi, walaupun demikian pada umumnya asas legalitas tersebut
menurut Andi Hamzah diterima dalam KUHP Indonesia meskipun merupakan
dilema. Lebih jauh dikatakan, bahwa:
“Menurut pendapat Andi Hamzah, adanya asas tersebut di dalam KUHP
Indonesia merupakan dilemma, karena memang dilihat dari segi yang satu seperti
digambarkan oleh Utrecht tentang hukum adat yang masih hidup, dan menurut
pendapat Andi Hamzah tidak mungkin dikodifikasikan seluruhnya karena
perbedaan antara adat pelbagai suku bangsa, tetapi dilihat dari sudut yang lain,
yaitu kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak asasi manusia dari
perlakuan yang tidak wajar dan tidak adil dari penguasa dan hakim sehingga
diperlukan adanya asas itu. Lagipula sebagai negara berkembang yang
pengalaman dan pengetahuan para hakim masih sering dipandang kurang
sempurna sehingga sangat berbahaya jika asas itu ditinggalkan.”
Barda Nawawi Arief menyebutkan bahwa perumusan ketentuan Pasal 1 ayat (1)
KUHP mengandung di dalamnya asas “legalitas formal”, asas “lex certa”, dan
asas “Lex Temporis Delicti” atau asas “nonretroaktif”. Asas legalitas formal (lex
scripta) dalam tradisi civil law sebagai penghukuman harus didasarkan pada
ketentuan Undang-Undang atau hukum tertulis. Undang-Undang (statutory, law)
harus mengatur terhadap tingkah laku yang dianggap sebagai tindak pidana. Lex
Certa atau bestimmtheitsgebot dimaksudkan kebijakan legislasi dalam
merumuskan undang-undang harus lengkap dan jelas tanpa samar-samar (nullum
crimen sine lege stricta). Perumusan yang tidak jelas atau terlalu rumit hanya akan
memunculkan ketidakpastian hukum dan menghalangi keberhasilan upaya
penuntutan (pidana) karena warga selalu akan dapat membela diri bahwa
ketentuan-ketentuan seperti itu tidak berguna sebagai pedoman perilaku.
Kemudian asas nonretroaktif menentukan peraturan perundang-undangan tentang
tindak pidana tidak dapat diberlakukan surut (retroaktif) akan tetapi harus bersifat
prospectif. Oleh karena itu maka makna asas legalitas tersebut hakikatnya terdapat
paling tidak ada 4 (empat) larangan (prohibitions) yang dapat dikembangkan asas
tersebut, yaitu:
1. “nullum crimen, nulla poena sine lege scripta” (larangan untuk memidana atas
dasar hukum tidak tertulis—unwritten law--) ;
2. “Nullum crimen, nulla poena sine lege stricta” (larangan untuk melakukan
analogy) ;
3. “Nullum crimen, nulla poena sine lege praevia” (larangan terhadap
pemberlakuan hukum pidana secara surut) ;
4. “Nullum crimen, nulla poena sine lege certa” (larangan terhadap perumusan
hukum pidana yang tidak jelas –unclear terms-).

Ketentuan asas legalitas ini dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) KUHP


Tahun 2008 perumusannya identik dengan Pasal 1 ayat (1) KUHP. Ketentuan
Pasal 1 ayat (1) RUU KUHP Tahun 2008 menyebutkan asas legalitas dengan
redaksional sebagai, “Tiada seorangpun dapat dipidana atau dikenakan tindakan,
kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan”.
Kemudian ketentuan asas legalitas ini lebih lanjut menurut penjelasan Pasal
1 ayat (1) RUU KUHP Tahun 2008 disebutkan, bahwa:
“Ayat ini mengandung asas legalitas. Asas ini menentukan bahwa suatu
perbuatan hanya merupakan tindak pidana apabila ditentukan demikian oleh atau
didasarkan pada Undang-undang. Dipergunakan asas tersebut, oleh karena asas
legalitas merupakan asas pokok dalam hukum pidana. Oleh karena itu peraturan
perundang-undangan pidana atau yang mengandung ancaman pidana harus sudah
ada sebelum tindak pidana dilakukan. Hal ini berarti bahwa ketentuan pidana
tidak berlaku surut demi mencegah kesewenang-wenangan penegak hukum dalam
menuntut dan mengadili seseorang yang dituduh melakukan suatu tindak pidana.”
Asas legalitas konteks di atas dalam KUHP Indonesia mengacu kepada ide
dasar adanya kepastian hukum (rechtzekerheids). Akan tetapi, dalam
implementasinya maka ketentuan asas legalitas tersebut tidak bersifat mutlak. A.
Zainal Abidin Farid menyebutkan pengecualian asas legalitas terdapat dalam
hukum transistoir (peralihan) yang mengatur tentang lingkungan kuasa berlakunya
undang-undang menurut waktu (sphere of time, tijdgebied) yang terdapat pada
pasal 1 ayat (2) KUH Pidana yang berbunyi, “bilamana perundang-undangan
diubah setelah waktu terwujudnya perbuatan pidana, maka terhadap tersangka
digunakan ketentuan yang paling menguntungkan baginya.
Barda Nawawi Arief mempergunakan terminologi melemahnya/
bergesernya asas legalitas antara lain dikarenakan sebagai berikut:
1. Bentuk pelunakan/penghalusan pertama terdapat di dalam KUHP sendiri,
yaitu dengan adanya Pasal 1 ayat (2) KUHP ;
2. Dalam praktik yurisprudensi dan perkembangan teori, dikenal adanya ajaran
sifat melawan hukum yang materiel ;
3. Dalam hukum positif dan perkembangannya di Indonesia (dalam Undang-
undang Dasar Sementara 1950; Undang-undang Nomor 1 Drt 1951; Undang-
undang Nomor 14 Tahun 1970 jo Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999; dan
Konsep KUHP Baru), asas legalitas tidak semata-mata diartikan sebagai
“nullum delictum sine lege”, tetapi juga sebagai “nullum delictum sine ius”
atau tidak semata-mata dilihat sebagai asas legalitas formal, tetapi juga
legalitas materiel, yaitu dengan mengakui hukum pidana adat, hukum yang
hidup atau hukum tidak tertulis sebagai sumber hukum ;
4. Dalam dokumen internasional dalam KUHP negara lain juga terlihat
perkembangan/pengakuan ke arah asas legalitas materiel (lihat Pasal 15 ayat
(2) International Convention on Civil and Political Right (ICCPR) dan KUHP
Kanada di atas) ;
5. Di beberapa KUHP negara lain (antara lain KUHP Belanda, Yunani, Portugal)
ada ketentuan mengenai “pemaafan/pengampunan hakim” (dikenal dengan
berbagai istilah, antara lain “rechterlijk pardon”, “Judicial pardon”, “Dispensa
de pena” atau “Nonimposing of penalty”) yang merupakan bentuk “Judicial
corrective to the legality principle” ;
6. Ada perubahan fundamental di KUHAP Perancis pada tahun 1975 (dengan
Undang-undang Nomor 75-624 tanggal 11 Juli 1975) yang menambahkan
ketentuan mengenai “pernyataan bersalah tanpa menjatuhkan pidana” (“the
declaration of guilt without imposing a penalty”) ;
7. Perkembangan/perubahan yang sangat cepat dan sulit diantisipasi dari “cyber-
crime” merupakan tantangan cukup besar bagi berlakunya asas “lex certa”,
karena dunia maya (cyber-space) bukan dunia riel/realita/nyata/pasti.

Khusus terhadap pengecualian asas legalitas ditentukan asas “lex temporis delicti”
sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (2) KUHP. Konklusi dasar asas ini
menentukan apabila terjadi perubahan perundang-undangan maka diterapkan
ketentuan yang menguntungkan terdakwa. Jan Remmelink menyebutkan
ketentuan Pasal 1 ayat (2) memberikan jawaban dalam artian bahwa bila undang-
undang yang berlaku setelah tindak pidana ternyata lebih menguntungkan, maka
pemberlakuannya secara surut diperkenankan. Pandangan demikian diakui dan
diterima di Belgia dan Jerman. A. Zainal Abidin Farid menyebutkan yang
dimaksud dengan perubahan undang-undang dalam pasal 1 ayat (2) KUHP apakah
termasuk undang-undang pidana saja atau semua aturan hukum maka aspek ini
dapat dijawab dengan tiga teori yaitu teori formil yang dianut oleh Simons,
kemudian teori materiil terbatas yang dikemukakan oleh van Geuns dan teori
materiil tak terbatas. Menurut teori formil maka perubahan undang-undang baru
dapat terjadi bilamana redaksi undang-undang pidana yang diubah. Perubahan
undang-undang lain selain dari undang-undang pidana, walaupun berhubungan
dengan undang-undang pidana, bukanlah perubahan undang-undang menurut
pasal 1 ayat (2) KUH Pidana. Kemudian menurut teori materiil terbatas bahwa
perubahan undang-undang yang dimaksud harus diartikan perubahan keyakinan
hukum pembuat undang-undang. Perubahan karena zaman atau keadaan tidak
dapat dianggap sebagai perubahan undang-undang ex pasal 1 ayat (2) KUH
Pidana. Teori materiil tak terbatas dimana H.R. dalam keputusannya tanggal 5
Desember 1921 (N.J. 1922 h. 239) yang disebut Huurcommicciewet-arrest,
berpendapat bahwa ”perundang-undangan meliputi semua undang-undang dalam
arti luas dan perubahan undang-undang meliputi semua macam perubahan, baik
perubahan perasaan hukum pembuat undang-undang menurut teori materiil
terbatas, maupun perubahan keadaan karena waktu”.
Konklusi dasar asas legalitas sebagaimana diuraikan konteks di atas, dikaji
dari prespektif karakteristiknya terdapat dimensi-dimensi sebagai berikut:
 Tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut undang-
undang.
 Tidak dapat diterapkan undang-undang pidana berdasarkan analogi.
 Tidak dipidana hanya berdasarkan kebiasaan.
 Tidak boleh ada rumusan delik yang kurang jelas (asas lex certa).
 Tidak ada ketentuan pidana diberlakukan secara surut (asas nonretroaktif).
 Tidak ada pidana, kecuali ditentukan dalam undang-undang.
 Penuntutan pidana hanya berdasarkan ketentuan undang-undang.

Dikaji dari perspektif perbandingan hukum (comparative law) maka asas legalitas
tersebut juga dikenal dan diakui oleh beberapa negara. Pada International
Criminal Court (ICC) asas legalitas diatur khususnya pada article 22, article 23
dan article 24. Ketentuan article 22 Nullum crimen sine lege ayat (1)
menyebutkan, “A person shall not be criminally responsible under this Statute
unless the conduct in question constitutes, at the time it takes place, a crime within
the jurisdiction of the court”, dan ayat (2) menyebutkan, “The definition of a
crime shall not be extended by analogy. In case of ambiguity. The definition shall
be intepreted in favour of the person being investigated, prosecuted, or
convicted”, dan ayat (3), “This article shll not affect the characterization of any
conduct as criminal under international law independently of the Statute”.
Kemudian article 23 berbunyi, “A person convicted by the court may be
punished only in accordance with the Statute”, dan article 24 ayat (1)
selengkapnya berbunyi bahwa, “No person shall be criminally responsible under
this Statute for conduct prior to the entry into force of the Statute”, dan ayat (2)
berbunyi bahwa, “In the event of change in the applicable to a given case prior to
a final judgment, the law more favorable to the person being investigated or
convicted shall apply”.
Kemudian dalam Pasal 9 Konvensi Amerika tentang Hak Asasi Manusia
yang ditandatangani di San Jose, Costa Rica tanggal 22 November 1968 dan
mulai berlaku pada tanggal 18 Juli 1978 asas legalitas diformulasikan dengan
redaksional bahwa, “No one shall be convicted of any act or omission that did
notconstitute a criminal offence, under applicable law, at the time when it was
committed. A heavier penalty shall not be imposed than the one that was
applicable at the time the criminal offence. If subsequent to the commission of the
offense that law provides for the imposition of a lighter punishment, the guilty
person shall benefit thereform”. Berikutnya, asas legalitas juga terdapat dalam
Deklarasi Hak Asasi Manusia yang diumumkan oleh Resolusi Majelis Umum
PBB 217A (III) tanggal 10 Desember 1948 dimana pada Pasal 11 ayat (2)
disebutkan asas legalitas dengan redaksional bahwa, “No one shall be had guilty
of any penal offence on account of any act or omission which did not constitute a
penal offence, under national or international law, at the time when it was
commited. Not shall a heavier by imposed than the one that was applicable at the
time the penal offence was committed”. Selain itu, asas legalitas juga dikenal
dalam Pasal 7 ayat (2) African Charter on Human and People Rights yang
ditandatangani di Nairobi, Kenya, dan berlaku pada tangal 21 Oktober 1986 yang
menyebutkan bahwa, “No one may be condemmed for an act or omission which
did not constitute a legally punishable offence for which no provision was made at
the time it was committed. Punishment is personal and can be imposed only on
the offender”.
Kemudian pada KUHP Jerman yang diumumkan tanggal 13 November
1998 (Federal Law Gazette I, p. 945, p. 322) disebut Strafgesetzbuch (StGB) pada
Section 1 No Punishment Without a Law disebutkan bahwa, “Sebuah perbuatan
hanya dapat dipidana apabila telah ditetapkan oleh undang-undang sebelum
perbuatan itu dilakukan”, (An act may only be punished if its punishability was
determined by law before the act was committed). Pada asasnya, asas legalitas ini
di Jerman juga berorientasi kepada dimensi penuntutan, sehingga menurut George
P. Fletcher di Jerman menganut “positive legality principle”.
Kemudian asas legalitas ini juga dikenal di Negara Polandia. Pada ketentuan
Pasal 42 Konstitusi Republik Polandia maka asas legalitas dirumuskan dengan
redaksional, “Only a person who has commited an act prohibited by a statute in
force at the moment of commission there of, and which is subject to a penalty,
shall be geld criminally responsible. This principle shaal not prevent punishment
of any act which, at the moment of its commission, constituted an offence within
the meaning of international law”. Berikutnya asas legalitas ini dirumuskan dalam
Pasal 7 Konstitusi Perancis dengan menyebutkan bahwa, “A person may be
accused, arrested, or detained only in the cases specified by law and in accordance
with the procedures which the law provides. Those who solicit, forward, carry out
or have arbitrary orders carried out shall be punished; however, any citizen
summoned or apprehended pursuant to law obey forhwith; by resisting, he admits
his guilt”. Kemudian dalam Pasal 25 Konstitusi Spanjol ditegaskan asas legalitas
adalah, “No one may be convicted or sentenced for actions or omissions which
when committed did not constitute a criminal offence, misdemeanour or
administrative offence under the law then in force” dan dalam Pasal 25 Konstitusi
Italia asas legalitas dirumuskan sebagai, “No one shall be punished on the basic of
a law which has entered into force before the offence has been committed”.
Selain negara-negara di atas maka asas legalitas juga dikenal dalam Pasal
14 Konstitusi Negara Belgia sebagai, “No punishment can be made or given
except in pursuance of the law”. Kemudian Pasal 29 Konstitusi Republik Portugal
menentukan bahwa, ”No one shall be convicted under the criminal law except for
an act or omission made punishable under exiisting law; and no one shall be
subjected to a security measure, except for reasons authorised under existing law.
No sentences or security measures shall be ordered that are not expressly provided
for in existing lawas. No one shall bee subjected to a sentence or security measure
that is more severe than hose applicable at the time the act was committed or the
preparations for its commission were made. Criminal laws that are favourable to
the affender shall aply retroactively”. Selanjutnya pada Pasal 57 Konstitusi
Hongaria disebut asas legalitas dengan redaksional sebagai, “No one shall be
declared guilty and subjected to punishment for an offense that was not a criminal
offense under Hungarian law at the time such offense was committed”.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai salah satu yang ingin dicapai dalam asas legalitas adalah
memperkuat kepastian hukum, menciptakan keadilan dan kejujuran bagi
terdakwa, mengefektifkan fungsi penjeraan dalam sanksi pidana, mencegah
penyalahgunaan kekuasaan, dan memperkokoh rule of law (Muladi, 2002).
Asas ini memang sangat efektif dalam melindungi rakyat dari perlakuan
sewenang-wenang kekuasaan, tapi dirasa kurang efektif bagi penegak hukum
dalam merespons pesatnya perkembangan kejahatan. Dan, ini dianggap
sebagian ahli sebagai kelemahan mendasar.

B. Saran
Besar harapan penulis agar apa yang dibahas dalam makalah yang
sangat sederhana ini dapat membuka wawasan atau cakrawala berfikir para
pembaca agar dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat tentang betapa
pentingnya asas legalitas bagi masyarakat, dan penulis juga berharap agar
asas legalitas bebenar-benar diaplikasikan yaitu tiada suatu peristiwa dapat
dipidana selain dari kekuatan ketentuan undang-undang pidana yang
mendahuluinya

Beri Nilai