Anda di halaman 1dari 11

BAB 9

TEORI KEAGENAN

1.1 Overview

Terdapat beberapa hubungan prinsipal dan agen dalam kehidupan sosial,


sepertii pasien dan dokter, klien dan pengacara, pemilik dan pemain hockey. Pada
setiap kasus, prinsipal menginginkan agen untuk bekerja keras untuk dirinya.
Bagaimanapun juga, terdapat konflik kepentingan antara prinsipal dan agen, sejak
bekerja keras memerlukan suatu usaha dan prinsipal mungkin menginginkan usaha
yang lebih daripada yang mau dilakukan oleh agen. Dalam beberapa kasus, usaha
agen terlalu rumit untuk diobservasi secara langsung oleh prinsipal (seperti sulitnya
pasien untuk mengobservasi usaha seorang dokter). Hal ini menciptakan permasalahan
moral hazard dan agen mungkin tidak bekerja keras kecuali dia memiliki cukup
motivasi. Walaupun reputasi dan etika profesional berkontribusi terhadap motivasi,
sering diperlukan motivasi lebih lanjut untuk kerja keras dengan didasarkan pada
beberapa pengukuran yang dapat diamati dari kinerja agen. Kompensasi pemain
hockey mungkin tergantung pada skor gol yang dihasilkan.

Dalam konteks ini, terdapat dua hubungan keagenan yang penting, yaitu kontrak
karyawan antara perusahaan (mewakili pemilik perusahaan) dan manajer dan kontrak
pinjaman antara perusahaan dan pemberi pinjaman. Teori keagenan berhubungan
dengan akuntansi karena kedua jenis kontrak sering tergantung pada laba perusahaan
yang dilaporkan. Kontrak karyawan sering didasarkan pada bonus manajemen pada
laba bersih dan sebagaimana yang disebutkan pada Bab 8. Kontrak pinjaman biasanya
memasukkan perlindungan untuk pemberi pinjaman dalam bentuk covenant, sebagai
contoh, perikatan bahwa interest earned ratio perusahaan tidak akan berada di bawah
angka yang telah ditetapkan atau tidak akan membayar dividen jika working capital
turun di bawah level yang ditentukan.

Dampaknya, kebijakan akuntansi penting untuk manajer, sejak kompensasi


manajer dan kemampuan untuk menghindari pelanggaran debt covenant dipengaruhi
oleh kebijakan tersebut. Sebagaimana didiskusikan pada bagian 8.5, konsekuensi
ekonomi tercipta ketika standar akuntansi berubah selama jangka waktu kompensasi
dan kontrak hutang. Sebagai konsekuensinya, manajer memiliki kepentingan yang sah
dalam merancang standar akuntansi yang baru.

Laba bersih yang dilaporkan memiliki peran yang berbeda dalam konteks kontrak
manajemen dibanding pelaporan untuk investor. Perannya untuk memprediksi payoff
dari kegiatan manajer pada saat ini. Sehingga hal tersebut memantau dan memotivasi
kinerja manajer. Untuk itu, laba bersih menjadi sensitif untuk usaha manajer dan tepat
dalam memprediksi payoff dari usaha tersebut. Karakteristik yang diperlukan untuk
peran ini tidak perlu sama sebagaimana dalam menyediakan informasi yang paling
bermanfaat untuk investor.

Akhirnya, peran berdasarkan kontrak untuk laporan keuangan yang muncul dari
teori keagenan membantu kita untuk melihat bahwa teori pasar sekuritas efisien tidak
konsisten dengan konsekuensi ekonomi. Pasar sekuritas menjadi efisien dan kebijakan
akuntansi dapat memiliki konsekuensi ekonomi ketika pengertian tentang konflik dalam
pelaporan keuangan dipahami.

1.2 Definisi Teori Agensi

Konsep Agency Theory menurut Scott (2015) adalah hubungan atau kontrak
antara principal dan agent, dimana principal adalah pihak yang mempekerjakan agent
agar melakukan tugas untuk kepentingan principal, sedangkan agent adalah pihak yang
menjalankan kepentingan principal.

Menurut Jensen dan Meckling (1976), hubungan keagenan adalah sebagai


kontrak, dimana satu atau beberapa orang (principal) mempekerjakan orang lain
(agent) untuk melaksanakan sejumlah jasa dan mendelegasikan wewenang untuk
mengambil keputusan kepada agen tersebut.

Menurut Eisenhardt (1989) hubungan yang mencerminkan struktur dasar


keagenan antara principal dan agent yang terlibat dalam perilaku yang kooperatif, tetapi
memiliki perbedaan tujuan dan berbeda sikap terhadap risiko.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa definisi dari teori agensi adalah
hubungan antara principal (pemilik/pemegang saham) dan agent (manajer). Dan di
dalam hubungan keagenan tersebut terdapat suatu kontrak dimana pihak principal
memberi wewenang kepada agent untuk mengelola usahanya dan membuat keputusan
yang terbaik bagi principal.

Menurut Eisenhardt (1989) karena yang dianalisis adalah kontrak yang mengatur
hubungan antara prinsipal dan agen, fokus dalam teori ini adalah dalam
menentukankontrak yang paling efisien, teori keagenan dilandasi oleh tiga asumsi,
yaitu:

1. Asumsi tentang sifat manusia


Asumsi tentang manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk
mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas
(bounded rationality) dan tidak menyukai resiko (risk aversion)
2. Asumsi tentang keorganisasian
Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi, efisien
sebagai kriteria produktivitas, dan adanya informasi asimetris antara prinsipal
dan agen.
3. Asumsi tentang informasi
Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang
komoditi yang diperjual belikan.

1.3 Teori Keagenan: Kontrak Kerja antara Pemilik Perusahaan dengan Manajer

Contoh A single-period owner manager contract yang mengenalkan beberapa


konsep agency theory dan mengilustrasikan dasar konflik moral hazard antara pemilik
dan manajer.

a) Misalkan sebuah perusahaan dimiliki oleh satu orang (principal) dan dikelola oleh
seorang manajer (agent)
b) Manajer memiliki dua pilihan yaitu: bekerja keras (work hard) dan melalaikan
tugas (shirk)
c) Apabila manajer bekerja keras maka hasil usaha (imbalan), yang dalam hal ini
adalah laba, akan lebih tinggi.
d) Pemilik perusahaan tentunya menginnginkan agar manajer bekerja keras karena
laba yang akan diperoleh lebih besar. Namun di sisi lain, manajer belum tentu
akan begitu saja menuruti keinginan pemilik.
e) Tindakan manajer untuk melakukan tugas sangat mungkin terjadi terutama
apabila manajer adalah seseorang yang effort-averse.
f) Pemilik perusahaan tentunya harus mengendalikan moral hazard manajer

Pemilik hendaknya mempertimbangkan alternatif lain seperti:

a) Tetap memperkerjakan manajer bersangkutan dan puas dengan laba yang tidak
maksimal. Alternatif ini mungkin sebaiknya tidak dipilih karena masih ada
alternatif lain yang lebih baik.
b) Pengawasan langsung. Apabila pemilik bisa mengawasi langsung tindakan
manajer tanpa biaya yang besar, maka masalah akan dapat diselesaikan.
Kontrak antara pemilik dan manajer dapat direvisi, misalnya manajer akan
memperoleh gaji yang lebih rendah apabila pemilik mendapati manajer telah
melalaikan tugas. Tipe kontrak seperti ini disebut dengan first-best contract.
Namun dalam kenyataannya, first-best contract sering kali tidak diperoleh. Hal ini
disebabkan karena sangat sulit bagi pemilik untuk mengawasi secara langsung
pekerjaan manajer yang sangat kompleks.
c) Pengawasan tidak langsung. Karena pekerjaan manajer tidak dapat diawasi
secara langsung, maka pekerjaan manajer dapat diatributkan dengan hal lain.
Misalnya apabila laba perusahaan lebih rendah daripada yang diharapkan
pemilik, maka pemilik dapat menganggap manajer telah melalaikan tugas,
sehingga pemilik akan memberikan gaji yang lebih rendah kepada manajer.
Dengan demikian manajer tentunya akan memilih untuk bekerja keras. Namun
demikian, pengawasan tidak langsung tidak akan menghasilkan firstbest
contract, karena apabila perusahaan mengalami kerugian, maka tidak jelas
apakah kerugian ini disebabkan oleh manajer yang lalai ataukah situasi yang
buruk, dan bisa karena alasan legal dan institusional sehingga pemilik tidak
dapat mengenakan penalti kepada manajer.
d) Pemilik menyewakan perusahaan kepada manajer. Jika alternatif ini dipilih, maka
pemilik akan meminta pembayaran hasil usaha (seperti sewa) dari manajer
dalam jumlah yang tetap setiap periode. Dengan demikian pemilik tidak lagi
mempedulikan tindakan apa yang akan dilakukan manajer karena risiko
pengelolaan perusahaan akan dipikul oleh manajer. Tetapi karena manajer
diminta untuk menaggung risiko, maka besarnya sewa yang bersedia dibayar
manajer akan lebih rendah daripada manfaat yang harusnya diperoleh pemilik
apabila firstbest contract dapat terwujud. Selisih antara besarnya manfaat yang
seharusnya diperoleh pemilik dan besarnya sewa yang ditetapkan disebut
dengan agency cost.Pemilik sangat menginginkan komponen biaya lainnya dari
biaya kontrak minimal.
e) Memberikan bagian laba kepada manajer. Dengan memberikan bagian laba
kepada manajer, maka manajer akan memiliki motivasi untuk bekerja keras.
Aspek kontrak seperti ini disebut dengan incentive-compatibility karena manajer
memiliki insentif untuk bekerja keras, sejalan dengan keinginan pemilik. Namun
karena pemilik memberikan bagian laba kepada manajer maka manfaat yang
diterima pemilik akan lebih rendah dibandingkan dengan first-best contract.
Dengan demikian agency cost tetap ada meskipun jumlahnya lebih rendah
dibandingkan dengan apabila pemilik menyewakan perusahaan kepada manajer.
Kontrak yang memberikan manajer bagian laba dikenal dengan second-best
contract.

1.4 Manager Information Advantage

Dengan asumsi bahwa imbalan tidak dapat diobservasi baik oleh manajer
maupun pemilik sampai dengan periode pelaporan selanjutnya, maka net income yang
terlihat oleh keduanya pada waktu berjalan adalah net income yang mengandung
gangguan yang dihasilkan oleh sistem akuntansi, sehingga manajer tidak dapat
mengendalikan dan mengatur gangguan angka-angka yang merupakan karakteristik
tersebut. Akuntan dapat meningkatkan efisiensi kontrak dengan mengurangi gangguan
melalui peningkatan pengukuran.

Manajer dapat mengambil beberapa alternatif yang menguntungkan dari kondisi


tersebut, salah satunya mengenai pilihan untuk menyepakati atau mundur dari kontrak
yang disodorkan, dengan mempertimbangkan mengenai kemungkinan memperoleh
informasi mengenai imbalan sebelum kontrak dilakukan. Pemilik, di sisi lain hanya
dimungkinkan untuk memantau laba yang dilaporkan oleh manajer. Manajer memiliki
peluang untuk mengeksploitasi akuntansi sampai dengan tingkatan yang dapat
memberi kompensasi maksimum bagi dirinya sendiri. Sebagai solusi, perubahan atas
kontrak mutlak diperlukan. Perubahan yang menguntungkan kedua belah pihak, namun
dapat pula meningkatkan kepercayaan investor bahwa net income bebas dari distorsi
manajer dan bias akuntansi, kondisi yang biasa disebut sebagai revelation principle.
Revelation principle dapat diterapkan jika:

1. Kebenaran tesebut tidak digunakan untuk melawan manajer;


2. Tidak terdapat batasan dalam bentuk kontrak;
3. Tidak terdapat batasan kemampuan manajer dalam mengkomunikasikan
informasi.

Pembahasan kemudian adalah mengenai bagaimana mengelola dan mengontrol


manajer dalam upayanya mengelola laba melalui standar akuntansi dan prinsip
akuntansi yang berlaku umum yang memberi batasan mengenai sejauhmana tindakan
akuntansi dapat atau tidak dapat diambil

1.5 Agency Theory: Kontrak Pinjaman antara Bondholder-Manager

Dalam hubungan kontraktual antara manajer dan pemegang surat utang


(bondholder), pemegang surat utang dapat dilihat sebagai principal dan manajer
merupakan agent. Dalam memberikan pinjaman kepada perusahaan, pemegang surat
utang (kreditor) akan menentukan suatu tingkat bunga. Kreditor juga memperhitungkan
potensi moral hazard, yaitu manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan kreditor.
Karena itu kreditor akan memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi atas pinjaman
yang diajukan manajer perusahaan. Bunga yang terlalu tinggi tentunya akan
menyebabkan expected utility bagi manajer akan lebih rendah sehingga manajer
berusaha untuk memperoleh kesepakatan kontraktual yang dapat menurunkan tingkat
bunga. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan perjanjian (covenant) ke
dalam kontrak, misalnya manajer berjanji bahwa perusahaan tidak akan membagikan
deviden apabila interest coverage ratio lebih rendah dari tingkat tertentu. Contoh
lainnya adalah perusahaan tidak akan mencari pinjaman lain sebelum pinjaman saat ini
dilunasi. Dengan cara ini maka perusahaan akan dapat memperoleh pinjaman dengan
bunga yang lebih rendah.
1.6 Implikasi Teori Keagenan Bagi Akuntansi

Holmstrom (1979), memberikan perluasan terhadap model agensi, yang mana


membolehkan lebih dari satu ukuran kinerja. Holmstrom berasumsi bahwa usaha agen
tidak bisa diobservasi oleh principal, tetapi imbalan bisa diobservasi pada akhir periode.
Holmstrom menunjukkan kemungkinan mengurangi agency cost pada kontrak model
second best dengan syarat bahwa ukuran kinerja kedua (misalnya harga saham) juga
bisa diobservasi dan mengandung beberapa informasi tentang usaha manajer diluar
yang terkandung dalam ukuran kinerja yang pertama (seringnya adalah laba).

Holmstrom mengasumsikan bahwa usaha dari agen tidak dapat diamati oleh
principal tetapi imbalan nya dapat diamati pada akhir periode tertentu. Di lain pihak,
Feltham dan Xi (1994) menunjukan bahwa model Holmstrom atas kasus imbalan tidak
dapat diamati, jika sekumpulan manejer mungkin melakukan aksi yang konstan.

Holmstrom menunjukan secara formal bahwa sebuah kontrak yang didasarkan


pada sebuah pengukuran kinerja seperti net income kurang efisien daripada first-best,
sumber dari kerugian efisiensi adalah kebutuhan agen yang risk averse untuk
mentoleransi risiko dalam rangka menghasilkan kecenderungan untuk menolak. Hal ini
mengakibatkan munculnya sebuah pertanyaan apakah second-best contract dapat
dibuat lebih efisien dengan mendasarkan pada pengukuransecond performance dalam
penambahannya pada net income. Sebagai contoh, harga saham juga merupakan
informasi mengenai kinerja manajer.

Holmstrom menyatakan bahwa menyediakan pengukuran yang kedua (harga


saham) juga dapat diobservasi dan memberikan beberapa informasi mengenai usaha
manajer yangterdapat pula dalam pengukuran yang pertama. Sebagai efeknya, net
income dan harga saham bersama-sama akan merefleksikan lebih baik mengenai
usaha manajer sekarang daripada hanya salah satu saja. Tentu saja, harga saham
cenderung tidak stabil, dan dipengaruhi oleh kejadian ekonomi secara luas. Namun,
analisa Holmstrom menunjukan bahwa tidak peduli seberapa mengganggunya variabel
kedua, variable tersebut dapat digunakan untuk meningkatkanefisiensi dari secondbest
contract, jika variabel tersebut mengandung paling sedikit beberapa tambahan
informasi usaha.

Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi satu dari proporsi relatif dari
kompensasi yang didasarkan pada net income, versus didasarkan pada harga saham,
dalam compensation contracts. Sehingga, implikasi yang menarik dari model
Holmstrom adalah bahwa seiring dengan net income bersaing dengan sumber
informasi lainnya untuk investor dalam teori pasar modal yang efisien, net income juga
bersaing dengan sumber informasi lainnya untuk memotivasi manajer dalam agency
theory.
Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai apa karakteristik yang harus dimiliki
sebuah pengukuran performa jika pengukuran tersebut digunakan untuk kontribusi
pada efficient compensation contracts. Salah satu dari karakteristik penting adalah
sensitivitas. Sensitivitas adalah tingkat dimana nilai ekspektasi dari sebuah pengukuran
kinerja meningkat seiring dengan kerja keras manajer, atau menurun jika yang terjadi
sebaliknya. Karakteristik penting lainnya adalah keakuratan dalam memprediksi
imbalan dari usaha manajer.

Karakteristik yang diperlukan oleh net income jika digunakan untuk mengukur
kinerja tidak sama dengan jika digunakan sebagai input yang berguna dalam keputusan
investasi. Dapat disimpulkan bahwa tantangan untuk akuntan adalah untuk memelihara
dan meningkatkan peran dari net income sebagai pengukuran kinerja seorang manajer
adalah menghasilkan angka net income yang merepresentasikan tradeoff terbaik yang
mungkin antara sensitivitas dan keakuratan.

1.7 Kekakuan Kontrak

Teori agensi berasumsi bahwa hukum positif berwenang untuk menegakkan ketentuan
kontrak dan mengadili perselisihan yang timbul dari kontrak. Hal ini mengingat bahwa
kontrakkontrak yang dibuat oleh para pihak pada umumnya sangat kaku dan rinci,
merujuk pada efek dari teori agensi dan konsekuensi ekonomi sebagaimana diuraikan
sebelumnya. Kontrak cenderung untuk “rigid” (kaku) pada waktu ditandatangani.

Kontak yang tidak mengantisipasi semua kemungkinan realisasi keadaan, adalah tidak
lengkap. Membangun sebuah komitmen formal untuk menenegosiasikan kembali
kontrak dibawah tangan adalah mungkin, namun jika negosiasi kembali tersebut adalah
baik untuk manajer, prospek dari negosiasi kembali tersebut mengurangi usaha insentif
manajer, yang tidak termasuk dalam ketertarikan investor.

Akibatnya, konsekuensi dari memasuki suatu kontrak hanya karena itu adalah kontrak,
dan maka cenderung kaku. Keadaan yang tidak terduga sebelumnya menyebabkan
biaya untuk perusahan dan/atau manejer tersebut. Manajer tidak baik terpengaruh oleh
perubahan dari peraturan-peraturan akuntansi dipertengahan jalanyang mengambil
ketidaksenangan akan akuntan-akuntanyang memperkenalkan perubahan peraturan
daripada pihak lainnya dalam kontrak

1.8 Rekonsiliasi atas Teori Pasar Sekuritas Efisien dengan Konsekuensi


Ekonomi

Teori keagenan mendemonstrasikan kontrak kompensasi yang mungkin paling


baik biasanya mendukung kompensasi manajer pada satu atau lebih kepada
pengukurankinerja. Kemudian, manajer memiliki motivasi untuk memaksimalkan kinerja
mereka. kinerja yang lebih tinggi membawa pada ekspektasi imbalan yang lebih tinggi,
ini juga merupakan tujuann yang diharapkan oleh pemegang saham.

Pensejajaran ini menjelaskan mengapa kebijakan akuntansi mempunyai


konsekuensi ekonomi, disamping implikasi dari teori pasar sekuritasefisien. Dalam teori
pasar sekuritas efisien, hanya kebijakan akuntansi yang mempengaruhi arus kas yang
diharapkan menghasilkan konsekuensi ekonomi. Berdasarkan pendapat atas dasar
kontrak, konsekuensi ekonomi tidak bergantung pada kebijakan akuntansi yang
memiliki pengaruh langsung ke arus kas.

Kadang, itu merupakan kekakuan yang diproduksi oleh the signing of binding
(penandatanganan kontrak), kontrak yang tidak lengkap yang menciptakan perhatian
manajer, dan yang membawa pada intervensi mereka dalam proses pembuatan
standard. Rigiditas tersebut tidak dapat berbuat apa-apa apabila perubahan kebijakan
akuntansi mempengaruhi arus kas.

Sehingga,konsekuensi ekonomi dan pasar sekuritas efisien tidak selalu tidak


konsisten. Kadang, mereka dapat di gabungkan dengan positive accounting theory,
dengan dukungan normatif dari agency theory yang menyarankan mengapa perusahan
memasuki pekerjaandan kontrak hutangyang bergantung pada informasi akuntansi.
Penelitian-Penelitian terkait Teori Keagenan

Agency Theory: An Assessmentand Review KATHLEEN M. EISENHARDT

Teori keagenan adalah teori yang penting, namun kontroversial. Penelitiannya


mengulas teori keagenan, kontribusinya terhadap teori organisasi, pekerjaan empiris
yang telah ada dan mengembangkan teorema yang telah diuji. Diperoleh kesimpulan
bahwa teori keagenan(a) menawarkan wawasan yang unik ke dalam sistem informasi,
ketidakpastian hasil, insentif, dan risiko dan (b) adalah perspektif empiris valid, terutama
ketika digabungkan dengan perspektif yang saling melengkapi. Rekomendasi utama
adalah untuk menggabungkan perspektif keagenan dalam studi tentang berbagai
masalah yang dimiliki struktur yang kooperatif.

Secara lebih detail, penelitiannya membahas empat pertanyaan, pertama, apa


yang dimaksud dengan teori keagenan, kedua, apakah kontribusi teori keagenan
terhadap teori organisasi, ketiga, apakah teori keagenan secara empiris valid, dan
terakhir apakah topik dan konteks yang bermanfaat bagi peneliti organisasi yang
menggunakan teori keagenan? Mengidentifikasi bagaimana teori keagenan berguna
untuk organisasi, memerlukan pemahaman atas situasi di mana perspektif keagenan
dapat memberikan pengaruh teoritis.

Pengertian teori keagenan adalah hubungan yang mencerminkan struktur dasar


keagenan antara principal dan agent yang terlibat dalam perilaku yang kooperatif, tetapi
memiliki perbedaan tujuan dan berbeda sikap terhadap risiko.

Kontribusi teori keagenan terhadap teori organisasi:

1. Teori keagenan mengingatkan kita bahwa banyak dalam kehidupan organisasi,


apakah kita suka atau tidak, didasarkan pada kepentingan diri sendiri (self
interest).
2. Dalam teori keagenan, informasi dianggap sebagai komoditas, memiliki
biaya,dan dapat dibeli. Implikasinya adalah bahwa organisasi dapat berinvestasi
dalam sistem informasi untuk mengontrol oportunisme seorang agent.
3. Kontribusi teori keagenan selanjutnya adalah implikasi risiko. Organisasi
diasumsikan memiliki masa depan yang tidak pasti. Implikasinya adalah bahwa
ketidakpastian hasil ditambah dengan perbedaan kesediaan untuk menerima
risiko harus mempengaruhi kontrak antara principal dan agent.

Penelitian ini memberi penjelasan mengenai teori agensi yang berada pada dua
posisi ekstrim pada teori keagenan - yang pertama bahwa teori keagenan yang
revolusioner dan memiliki dasar yang kuat (Jensen, 1983) dan yang kedua dengan
alasan bahwa teori dialamatkan pada masalahyang tidak jelas, sempit, tidak memiliki
implikasi yang dapat diuji, dan berbahaya (Perrow, 1986). Sebuah perspektif yang lebih
valid terletak di antaranya.Teori keagenan memberikan perspektif yang unik, realistis,
dan dapat diuji secara empiris dalam menyelesaikan permasalahan dengan cara yang
kooperatif. Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menjelaskan beberapa kebingungan
seputar teori keagenan dan membimbing organisasi untuk menggunakan teori
keagenan dalam penelitian mereka tentang berbagai permasalahan principal-agent
yang dihadapi perusahaan.

A reexamination of agency theory assumptions:extensions and extrapolations

Peter Wright, Ananda Mukherji, Mark J. Kroll

Dalam penelitiannya, dibahas teori keagenan dalam konteks prinsipal dan agen
secara individu, dan juga dalam konteks organisasi dan kelompoknya. Teori keagenan
dilihat dalam konteks orientasi tujuan, kewajiban dan timbal balik, risiko, dan
kepentingan pribadi. Peneliti menawarkan teorema atas asumsi teori keagenan. Penulis
juga memperluas teori keagenan dan menawarkan teorema alternatif berdasarkan
asumsi teori keagenan yang lebih luas. Secara lebih luas asumsi teori agensi, wawasan
dari luar literatur keagenan, khususnya dari teori perilaku yang digunakan. Implikasi dari
teori keagenan dan perluasan teori ini juga dibahas dalam kaitannya dengan hasilyang
terkait dengan pertukaran ekonomi.

Kesimpulan yang diambil oleh penulis, biaya agensi pasti bertambah, jika
diasumsikan per teori keagenan bahwa kepentingan individu yang kompetitif
berhubungan satu sama lain dalam pertukaranmereka dalam kelompok atau organisasi.
Akibatnya, untuk mengendalikan biaya agensi, ada kebutuhan untuk kontrak yang lebih
formal tertentu dalam pertukaran ekonomi. Selain itu, untuk memverifikasi bahwa
perilaku individu kompatibel dengan kontrak mereka ditetapkan, pemantauan ekstra
mungkin diperlukan.

Dengan demikian, mengingat asumsi bahwa diri - kepentingan individu kompetitif


berhubungan satu sama lain dalam pertukaran mereka dalam sebuah organisasi, biaya
agen dapat meningkat dalam organisasi yang berkembang (yaitu, keanggotaan
kelompok dan jumlah kelompok yang terkait dalam peningkatan organisasi). Biaya
agensi yang lebih tinggi mungkin akan memiliki efek buruk pada efisiensi organisasi,
yang berpuncak pada hasil suboptimal.

Dua perspektif yang sedang dibahas dalam jurnal ini membahas dua sudut
pandang yang berbeda yang kita miliki tentang masyarakat. Pandangan ekonomi
adalah bahwa manusia egois dan, jika tanpa pengawasan, akan bertindak oportunis
dengan tipu muslihat dan kebohongan. Sebaliknya, teori manajemen sangat berbeda
mengenai asumsi tentang agen. Konsisten dengan pandangan ini, Granovetter (1985,
1992) menyebutkan bahwa realitas jauh lebih kompleks, dengan demikian, pasukan
baik ekonomi dan sosial digabungkan dalam pembuatan keputusan dan tindakan
manusia konsekuen. Hal ini memungkinkan kedua nafsu dan kepentingan untuk hidup
berdampingan sehingga pengaruh sosial dan pilihan rasional saling berhubungan.
Dengan kata lain, tindakan ekonomi tertanam dalam struktur sosial yang kompleks, dan
efek sosial yang melekat, pada gilirannya, membentuk hasil ekonomi (Uzi, 1996, 1997).
Dasarnya kebijakan publik dipandu oleh pertimbangan normatif. Kami berpendapat
bahwa kedua paradigma ekonomi dan manajemen akan hidup berdampingan, dan
keutamaan satu atau yang lain sebagai paradigma yang tepat, akan tergantung pada
sudut pandang yang kami percaya paling tepat, menggambarkan sifat manusia dan
hubungan manusia.

Kesimpulan

Dari uraian terkait konflik dan analisisnya sebagaimana tersebut di atas, dapat
disimpulkan hal-hal berikut:

1. Teori-teori konflik memungkinkan rekonsiliasi antara pasar sekuritas efisien dan


konsekuensi ekonomi;
2. Net income memiliki peran penting dalam mengawasi dan memotivasi kinerja
manajer.
3. Net income dan ukuran kinerja lainnya, sama-sama berpengaruh dalam
menentukan ukuran kinerja yang digunakan dalam perencanaan kompensasi
manajer.
4. Manajemen laba membiarkan kelalaian manajemen, dengan menghasilkan
imbalan yang kecil bagi pemilik.