Anda di halaman 1dari 47

Bab 16.

Prinsip Directional Drilling

16.1. Pendahuluan
Pemboran berarah adalah suatu seni membelokkan lubang sumur
untuk kemudian diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang
tidak terletak vertikal dibawah mulut sumur. Di dalam membor suatu formasi,
sebenarnya selalu diinginkan lubang yang vertikal, karena dengan lubang
yang vertikal, kecuali operasinya lebih mudah, juga umumnya biayanya lebih
murah dari pada pemboran berarah. Jadi pemboran berarah hanya dilakukan
karena alasan-alasan dan keadaan yang khusus saja. Adapun alasan-alasan
dilakukannya pemboran berarah ini adalah :
A. Alasan topografis.
Pemboran berarah disini dilakukan apabila keadaan di permukaan
tidak memungkinkan untuk mendirikan lokasi pemboran, misalnya:
a. Formasi produktif terletak dibawah paya-paya, sungai (Gambar.
16.1).
b. Formasi produktif terletak di bawah bangunan-bangunan,
perkotaan (Gambar 16.2)

Gambar 16.1. Formasi Produktif di Bawah Paya-Paya, Sungai

Prinsip Directional Drilling 1


Gambar 16.2. Formasi Produktif Terletak di Bawah Perkotaan,
Bangunan
B. Alasan geologis.
Pemboran berarah disini dilakukan untuk menghindari kesulitan
apabila dibor secara vertikal misalnya :
a). Adanya kubah garam (salt dome), (Gambar 16.3).
b). Adanya patahan, (Gambar 16.4).

Gambar 16.3. Pemboran Terarah Karena Salt Dome

2 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.4. Pemboran Berarah Karena Patahan

C. Alasan-alasan lain :
a. Pemboran yang dilakukan dengan sistem gugusan sumur
(cluster system) untuk menghemat luasnya lokasi pemboran.
Misalnya di lepas pantai (Gambar 16.5). Di permukaan dibuat
beberapa sumur, kemudian di bawah permukaan lubang
sumur tersebut menyebar. Sistem ini juga dapat dilakukan
pada pemboran di daratan.

Gambar 16.5. Pemboran Dengan Cluster System

Prinsip Directional Drilling 3


b. Mengatasi semburan liar (blow out) dengan relief well. (Gambar
16.6)
c. Menghindari garis batas di permukaan. (Gambar 16.7).
d. Menyimpang dari garis lurus. (Gambar 16.8).

Gambar 16.6. Relief Well

Gambar 16.7. Menghindari Garis Batas di Permukaan

4 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.8. Pemboran Menyimpang dari Garis Lurus
16.2. Tipe Pemboran Berarah
Gambaran umum dari suatu sumur pemboran berarah dan bagian-
bagian yang penting dapat dilihat pada (Gambar 9.9).

Gambar 16.9. Gambaran Umum Pemboran Berarah dan Bagian-


Bagiannya
Pada dasarnya dikenal 3 macam pemboran berarah (Gambar 16.10),
yaitu:

Prinsip Directional Drilling 5


Gambar 16.10.Tipe Belok Pemboran Berarah

16.2.1. Tipe belok di tempat dangkal (Shallow Deviation Type).


Di sini titik belok (kick of point) terletak di kedalaman yang tidak
begitu jauh dari permukaan tanah (dangkal).
16.2.2. Tipe belok di tempat dalam (Deep Deviation Type).
Di sini titik belok terletak jauh di dalam permukaan tanah.
16.2.3. Tipe kembali ke vertikal (Return to Vertikal Type).
Mula-mula sama seperti tipe belok di tempat dangkal, tetapi
kemudian dikembalikan ke vertikal.
Adapun pemilihan tipe pemboran di atas didasarkan pada lokasi
koordinat di permukaan dan jarak antara lokasi permukaan dengan sasaran
(formasi produktif) apabila faktor-faktor lain tidak berpengaruh. Misalnya
apabila jarak sasaran tidak begitu jauh dari sumbu vertikal yang melalui
mulut sumur, maka kita memilih tipe belok di tempat dalam. Lain halnya
apabila jarak sasarannya jauh dari sumbu vertikal tadi, kita akan memilih tipe
belok di tempat dangkal.
16.3. Kemiringan Lubang Bor
Di dalam pemboran berarah, pada kedalaman titik belok tertentu,
lubang bor diarahkan ke suatu sasaran yang dikehendaki dengan sudut
kemiringan yang tertentu. Miringnya lubang bor ini mendatangkan banyak
kesulitan antara lain :
1. Fatigue failure pada drill pipe.
2. Key seating atau terjepitnya sebagian drill string karena goresan
antara drill string dengan dinding lubang bor seperti terlihat pada
Gambar 16.11.
3. Berkurangnya umur drill pipe karena tension (tegangan) yang terjadi
pada tool joint (sambungan).
Kesulitan-kesulitan di atas disebabkan oleh perubahan sudut
kemiringan yang terlalu besar (mendadak) diantara dua titik di dalam lubang
bor. Untuk mengatasi kesulitan- kesulitan tersebut, perlu ditetapkan
perbedaan sudut maksimum yang diizinkan diantara dua titik survey (sudut
6 Prinsip Directional Drilling
dog leg). Dari sudut dog leg ini dapat ditetapkan perubahan sudut kemiringan
yang diperkirakan tidak akan menimbulkan kesulitan.

Gambar 16.11. Key Seating36)


16.3.1. Alat-Alat Pembuat Sudut (Deflection Tool)
Setelah kedalaman titik belok ditentukan, maka mulai dari titik
tersebut kita mengarahkan lubang bor ke sasaran tertentu dengan
membelokkan lubang bor dengan sudut kemiringan tertentu. Alat-alat
pembelok ini adalah :
 Badger bit
 Spud bit
 Knuckle joint
 Whipstock
 Turbodrill
 Dyna drill
Setelah mencapai sudut tertentu (14 o misalnya) maka digunakan
bottomhole assembly baik untuk menambah atau memantapkan sudutnya.
a. Badger Bit.
Badger bit dan operasi alatnya dapat dilihat pada Gambar 16.12.
Prinsip kerja dari alat ini adalah adanya salah satu nozzle pada bit
yang ukurannya lebih besar dari yang lainnya. Hal ini akan
mengakibatkan semburan lumpur yang lebih besar sehingga lubang
akan membelok ke arah dimana ukuran nozzle lebih besar.

Prinsip Directional Drilling 7


Gambar 16.12. Badger Bit dan Cara Kerjanya
b. Spud Bit
Jenis alat ini dapat dilihat pada Gambar 16.13. Alat ini merupakan bit
tanpa roller, bentuknya seperti baji dan mempunyai nozzle. Cara
kerjanya sama dengan badger bit hanya disini ditambah dengan
tumbukan.

Gambar 16.13. Spud Bit di Lubang Bor


8 Prinsip Directional Drilling
c. Knuckle Joint
Knuckle joint adalah suatu drill string yang diperpanjang dengan
sendi peluru, sehingga memungkinkan putaran bersudut antara drill
string dan bitnya. Gambar 16.14 menunjukkan operasi suatu knuckle
joint, dimana sebelumnya dibuat terlebih dahulu pilot hole yang
kemudian dibor kembali dengan bit yang dirangkaikan dengan
reamer.

Gambar 16.14. Knuckle Joint 12)


d. Whipstock
Adalah suatu alat yang terbuat dari besi tuang yang berbentuk baji
dengan saluran yang melengkung tempat bergeraknya bit. Operasi
dari whipstock dapat dilihat dari Gambar 16.15. Dengan alat ini akan
diperoleh lengkungan sebesar 1 sampai 7 derajat.

Prinsip Directional Drilling 9


Gambar 16.15. Whipstock dan Operasi Alatnya 12)
e.Turbodrill.
Turbodrill adalah down hole mud turbin yang dapat memutar bit tanpa
harus memutar rangkaian bor (drill string). Kecepatan putaran sangat
tergantung kepada volume lumpur dan tekanan sirkulasi di
permukaan. Adanya bent sub pada turbodrill (Gambar 16.16)
menyebabkan dapat membeloknya lubang sumur.

10 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.16. Bent Sub Pada Turbodrill
f. Dyna Drill.
Dyna Drill adalah down hole mud motor. Alat ini dibuat oleh Dyna Drill
Coy. Seperti juga Turbodrill, Dyna Drill akan memutar bit tanpa harus
memutar drill string. Adanya bent sub pada Dyna Drill menghasilkan
lengkungan yang halus (smooth). Alat ini dapat dilihat pada gambar
16.17. Di dalam pemakaiannya, Dyna Drill tergantung kepada
kecepatan sirkulasi lumpur dan beda tekanan pompa seperti terlihat
pada Tabel 16.1. Dyna Drill Coy juga telah membuat Tabel 16.2,
untuk memilih kelengkungan lubang bor yang sesuai dengan ukuran
lubang bor dan perubahan sudut yang diharapkan.

Prinsip Directional Drilling 11


Gambar 16.17. Bent Sub Pada Dyna Drill
Tabel 16.1. Data Operasi Dyna Drill11)
Ukuran Volume Beda Kecepatan Diameter
Dyna Drill Lumpur Tekanan Putar Lubang Bor
in, 0D Gpm psi rpm in
5 225 225 400 6 – 7 7/8
6 1/2 325 225 350 8 ¾ --12 ¼
7 3/4 400 225 350 10 5/8 --15

12 Prinsip Directional Drilling


Tabel 16.2. Sudut Defleksi Yang Diharapkan Per 100 Ft. 11)
5” O.D. DYNA DRILL 6 ½” O.D. DYNA DRILL 7 ¾” O.D. Dyna DRILL
BENT HOLE DEFLECT HOLE DEFLEC HOLE DEFLE
SUB SIZE ION SIZE TION SIZE CTION
ANGLE ANGLE ANGLE ANGLE
1o 6” 3o 30’ 8 ¾” 2o 30’ 9 7/8” 2o 30’
o o o
1½ 4 45’ 3 30’ 3o 45’
o o o
2 5 30’ 4 30’ 5o 00’
o o o
1 3 00’ 9 7/8” 1 45’ 10 5/8” 2o 00’
o o o
1½ 6¾“ 4 15’ 3 00’ 3o 30’
o o o
2 5 00’ 3 45’ 4o 15’
o o o
2½ 5 45’ 5 00’ 5o 30’
o o o
1 7 7/8 ” 2 30’ 10 5/8” 1 15’ 12 ¼” 1o 45’
o o o
1½ 3 30’ Thru 2 00’ 2o 30’
o o o
2 4 30’ 12 ¼” 3 00’ 3o 30’
o o o
2½ 5 30’ 4 00’ 5o 00’

16.4. Pengarahan Lubang Bor


Sewaktu membelokkan lubang bor dengan alat-alat pembelok,
lubang bor harus selalu ke arah dimana sudut tersebut dapat mencapai
sasaran. Pengarahan ini dapat dilakukan pada titik belok atau setelah titik
belok apabila ternyata lubang yang dibuat telah menyimpang dari sasaran
yang dikehendaki.
16.4.1. Metoda Pengarahan
Kita mengenal dua cara di dalam pengarahan ini, yaitu metoda
Stokenbury Drill Pipe Alligment dan metoda Orientasi Dasar Lubang.
a. Metoda Stokenbury Drill Pipe Alligment.
Metoda ini caranya seperti Gambar 16.18.
 Mula-mula alat pembelok di permukaan dihadapkan ke
arah mana sasaran dikehendaki, misalnya B-B'.
 Pada drill pipe diikatkan suatu sighting bar (tanda) dan di
arahkan ke suatu titik, disini misalnya diarahkan ke kaki
derrick (titik C).
 Pasang drill pipe baru, kemudian di dekat puncak drill pipe
ini dipasang sighting bar yang kedua dan diluruskan
dengan yang pertama dengan bantuan teleskop.
 Sighting bar yang pertama diturunkan, untuk kemudian
dipasang lagi pada drill pipe yang berikutnya dan
diluruskan kembali seperti tadi dengan teleskop.
 Pertahankan agar sudut antara B-B' dan C-C' tetap
besarnya.
 Demikian seterusnya sampai seluruh drill string berada
didasar lubang.
Kelemahan metoda ini adalah memakan waktu yang panjang, juga
sering menimbulkan kesalahan sehingga cara ini jarang digunakan.

Prinsip Directional Drilling 13


Gambar 16.18. Metoda Stokenbury Drill Pipe Alligment.12)
b. Metoda Orientasi Dasar Lubang.
Metoda ini banyak digunakan pada operasi-operasi pemboran
terarah. Prinsipnya adalah sebagai berikut :
 Misalkan, “muka” alat pembelok mempunyai arah 90o ke
arah kanan dari kutub magnet utara yang telah ditentukan
(Gambar 16.19) pada Shadow Graph Compass.

Gambar 16.19. Metoda Orientasi Dasar Lubang

14 Prinsip Directional Drilling


 Turunkan alat pembelok ini ke dasar lubang. Sebuah
kamera memotret bersama-sama free compass dan
shadow graph compass.
 Misalnya gambar yang didapatkan ternyata S 45oE. Ini
berarti arah ©mukaª alat pembelok adalah S 45 oE
ditambah putaran 90o kearah kanan jadi S 45o W.
Jadi dengan mengetahui arah "muka" alat pembelok dalam lubang
bor, akan mudah mengubah kearah yang dikehendaki.
16.4.2. Alat-Alat Survey
Selama operasi pemboran berarah, setiap telah dicapai titik-titik di
kedalaman tertentu kita mengukur sudut kemiringan dan sudut arah lubang
bor (melakukan survey). Dari pengukuran ini dapat diketahui penyimpangan
sudut dari sasaran yang direncanakan sehingga dari setiap titik pengukuran
ini kita dapat mengoreksi penyimpangan bila arah dan kemiringan telah
menyimpang dan mengarahkan kembali kesasaran semula.
Tujuan dilakukan survey pada directional drilling adalah :
a. Untuk memonitor lintasan sumur sehingga dapat dibandingkan
dengan lintasan yang direncanakan.
b. Untuk mencegah “collision” dengan “existing well” di sekitarnya.
c. Untuk menentukan orientasi yang diperlukan untuk
menempatkan alat pembelok (deflection tool) pada arah yang
tepat.
d. Untuk menentukan lokasi yang tepat dari dasar sumur
(koordinat dasar sumur).
e. Untuk menghitung dog-leg severity.
Peralatan yang digunakan terbagi atas dua macam yaitu Single Shot
dan Multi Shot, dimana Single Shot hanya dapat mencatat pengukuran sekali
sedangkan Multi Shot dapat berkali- kali. Prinsip kerja alat ini adalah sebagai
berikut (Gambar 16.20). Sebuah kompas dan unit pencatat sudut yang
berbentuk cakram dipotret bersama- sama oleh sebuah kamera. Hasil
pemotretan ini akan menghasilkan penyimpangan dari vertikal, karena
adanya fluida yang bebas bergerak, sedang arah dicatat pada unit pencatat
(unit ini terdiri dari 3 macam : 0-12o, 0- 20o dan 15- 90o).
 Sudut kemiringan lubang bor = 5 1/2 o
 Sudut arah lubang bor = N 42oE.
 Efek Kemagnetan Bumi Terhadap Pengukuran Dengan
Alat- Alat Survey.

Prinsip Directional Drilling 15


Gambar 9.20. Contoh Alat Survey dan Prinsip Kerjanya9)
Sebagai contoh pembacaan lihat Gambar 16.21 (ini adalah contoh
alat pencatat unit 0 -12o). Dari gambar ini dapat dibaca :

Gambar 16.21. Cara Pembacaan Pengukuran Alat Survey 9)


16.4.3. Efek Kemagnetan Bumi Terhadap Pengukuran dengan
Alat- Alat Survey
Penggunaan alat-alat survey di dalam pengukuran sudut kemiringan
dan sudut arah memerlukan pemakaian drill collar yang anti magnetik (alat
16 Prinsip Directional Drilling
survey ini diturunkan ke dalam lubang bor melalui drill pipe dan nantinya
akan terletak pada drill collar di dekat bit). Pemakaian drill collar anti
magnetik ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan pengukur survey
(kompas). Tetapi efek kemagnetan bumi masih berpengaruh terhadap
pengukuran.
Thometz mengemukakan bahwa panjang drill collar anti magnetik
yang diperlukan tergantung dari besarnya sudut kemiringan dan sudut arah
lubang bor. Adanya tiga zone kemagnitan bumi yang berbeda digambarkan
pada Gambar 16.22. Akibat dari perbedaan kemagnetan ini dapat dilihat
bahwa kurva hubungan panjang drill collar anti magnetik yang diperlukan
dengan sudut kemiringan dan sudut arah, akan berbeda untuk ketiga zone
tersebut.
Sebagai ilustrasi, misalnya kita hendak melakukan survey di lokasi
pemboran dengan koordinat 60o lintang utara dan 160o bujur barat (daerah
Arctik), sudut kemiringan maksimum diharapkan 40oE. Dari Gambar 16.23
daerah ini ada pada zone II. Oleh sebab itu, dipakai gambar untuk zone II.
Dari kurva 16.23 ternyata sudut-sudut ini jatuh dibawah kurva B. Jadi disini
diperlukan non magnetik drill collar sepanjang 60 ft.

Gambar 16.22. Pembagian Zone Kemagnitan Yang Sama9)

Gambar 16.23. Kurva Non Magnetik Drill Collar Yang Diperlukan


16.5 . Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemiringan dan
Arah Lubang Bor

Prinsip Directional Drilling 17


Lubang bor yang dihasilkan di bawah permukaan menyimpang dari
sudut yang diinginkan. Hal ini disebabkan lubang bor yang terjadi
berbengkok-bengkok dengan sendirinya. Hal semacam ini disebut Crooked
Hole (lubang bor pada pemboran terarah disebut Slant hole).
Penyebab Crooked Hole ini terdiri dari 2 faktor yang bekerja bersama-
sama yaitu faktor formasi dan faktor mekanis.
16.5.1. Faktor Formasi
Pada formasi yang berlapis-lapis dengan bidang perlapisan yang
miring maka lubang bor akan cenderung untuk tegak lurus pada bidang
perlapisan. Penembusan bit pada formasi akan meninggalkan suatu baji kecil
yang dapat bertindak sebagai whipstock kecil (miniature whipstock) yang
dapat membelokkan lubang sumur (Gambar 16.24). Teori ini disebut
Miniature Whipstock Theory.

Gambar 16.24. Miniature Whipstock Theory12)


Pada formasi dengan perlapisan yang berganti-ganti dari lunak ke
keras dan sebaliknya akan menyebabkan bit ditahan dengan berat sebelah
pada kedua sisinya, sehingga bit akan terperosok ke salah satu sisi dan
mengakibatkan bengkoknya lubang bor (Gambar 16.25). Teori ini disebut
Formation Drillability Theory.

18 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.25. Formation Drillability Theory
Pada formasi dimana kemiringan bidang perlapisan lebih besar dari
45o, maka bit akan cenderung mengikuti bidang perlapisan (Gambar 16.26).

Gambar 16.26. Formasi Dengan Bidang Perlapisan > 45 o


16.5.2. Faktor Mekanis
Faktor-faktor ini menyangkut :
 Drill collar yang tidak cukup kekar sehingga mudah
melengkung.
 Beban pada bit yang berlebihan sehingga drill collar
melengkung.
 Perubahan botton hole assembly akan memberikan bentuk
lubang yang berlainan.
16.6. Pengontrolan Terhadap Penyimpangan
Dasar pemikiran pengaturan penyimpangan ini dapat diterangkan
dengan teori Pendulum. Untuk menerangkan teori ini lihat Gambar 16.27,
suatu drill string yang terdapat pada lubang bor yang miring. Karena ada
clearance antara drill collar dan dinding lubang, pada jarak tertentu di atas
bit, rangkaian drill string akan menempel pada dinding lubang bor. Titik ini (P)
disebut titik kontak (point of contact). Di atas titik ini rangkaian drill string
akan berbaring pada dinding lubang bor.

Gambar 16.27. Drill String Pada Lubang Bor Yang Miring (Teori
Pendulum)

Prinsip Directional Drilling 19


Drill collar antara titik P dengan bit, akan bekerja sebagai gaya Fa
dimana gaya ini cenderung untuk membelokkan lubang ke arah vertikal atau
memperkecil sudut kemiringan. Selain daripada itu akan timbul pula gaya Fb
yang merupakan akibat dari berat pada bit. Gaya ini cenderung untuk
memperbesar sudut kemiringan karena membuat sudut dengan lubang bor
(sudut  b).
Didalam waktu yang sama gaya Fa dan Fb ini akan bekerja
bersama-sama (dianggap tidak ada pengaruh formasi di sekitarnya), gaya-
gaya ini akan menentukan penyimpangan sudut kemiringan lubang bor.
Gaya Fa merupakan fungsi berat per satuan panjang drill collar
antara titik P dan bit, sedangkan gaya Fb tergantung kepada berat pada bit
(weight on bit). Tetapi pengaruh gaya Fb ini pun akan berkurang dan
akibatnya bending moment drill collar berkurang juga. Berkurangnya bending
moment ini akan menyebabkan jarak titik P dan bit bertambah sehingga gaya
Fa bertambah dan cenderung mengurangi penyimpangan lubang.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengontrol
penyimpangan sudut dapat dilakukan dengan mengatur titik kontak P atau
mengatur jarak titik P dengan bit. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan drill collar yang dirangkaikan dengan stabilizer.
16.6.1. Penggunaan Drill Collar Dengan Stabilizer
Pada dasarnya, penggunaan drill collar dengan stabilizer pada suatu
rangkaian drill string adalah untuk mengatur jarak titik kontak (P) dengan bit,
sehingga secara tidak langsung mengatur gaya Fa dan Fb serta akan
mengontrol penyimpangan. Sebagai gambaran dapat dilihat pada Gambar
9.28.
Bila kita bandingkan Gambar 16.28a dan 16.28b, akan terlihat bahwa
dengan memperbesar berat drill collar akan mengakibatkan titik kontak P
naik karena kekakuan drill collar naik dan sudut b mengecil. Hal ini
mengakibatkan berat collar antara bit dan titik P naik sehingga Fa membesar
dan Fb mengecil. Sekarang kita perhatikan Gambar 16.28c dan 16.28a.
Clearance drill collar pada Gambar 16.28c mengecil mengakibatkan titik P
mendekati bit. Hal ini menyebabkan gaya Fa mengecil dan Fb membesar.
Terakhir kita lihat Gambar 16.28d dan 16.28a. Pemasangan stabilizer
disini akan mengakibatkan Fa membesar dan Fb mengecil. Jadi dari uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa pengaturan clearance dan penempatan
stabilizer yang tepat akan dapat mengontrol penyimpangan.

20 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.28. Penggunaan Drill Collar Dengan Stabilizer Pada Suatu
Rangkaian Drill String
WILSON membuat hubungan antara ukuran drill collar minimum
dengan diameter casing dan diameter bit sebagai berikut :
Diameter (OD) drill collar yang diizinkan = (Diameter Casing-OD) -
(Diameter bit-OD).
WOODS dan LUBINSKY membuat grafik-grafik untuk penempatan
stabilizer(single stabilizer) agar weight on bit (WOB) dapat ditingkatkan
secara maksimal dengan sudut kemiringan lubang bor yang tertentu.
Gambar 16.29a dan 16.29b adalah salah satu dari grafik-grafik
yang telah dibuatnya.

Prinsip Directional Drilling 21


Gambar 16.29. Grafik-grafik Untuk Penempatan Stabilizer (Single
Stabilizer)12)
Sebagai contoh, misalkan kita membor lubang dengan ukuran 8-
3/4 inch dan ukuran drill collar 7 inch. Dengan kemiringan lubang
maksimum 3o WOB = 5000 lb pada kedalaman tertentu.
Dengan melihat Gambar 16.29b. (tanda panah), akan dicapai
kenaikan 25% pada WOB apabila dipasang stabilizer pada posisi
yang ideal. Dari Gambar 16.29a dapat ditentukan bahwa posisi
stabilizer yang ideal tersebut adalah sejauh 87 ft dari bit.
16.7. Penggunaan Bottom Hole Assembly
Dengan latar belakang teori yang telah dipaparkan pada bagian 16.5,
pengaturan sudut kemiringan dan sudut arah dapat dilakukan dengan
mengatur atau mengkombinasikan rangkaian bottom hole assembly. Ini
biasanya dilakukan setelah mencapai sudut tertentu misalnya 14 o.
Pengaturan ini termasuk antara lain mengatur titik kontak, memilih jarak
penempatan stabilizer dari bit, memilih ukuran dan kekakuan drill collar yang
tertentu, mengatur WOB dan RPM, mengatur jarak stabilizer pertama dan
kedua dan lain-lain. Susunan bottom hole assembly yang ternyata berhasil
22 Prinsip Directional Drilling
baik digunakan pada suatu sumur, belum tentu baik pula diterapkan disumur
lain, hal ini dikarenakan pengaruh daripada formasi yang dibor.
Dari uraian tersebut diatas, maka sangat diperlukan pengalaman di
dalam pengaturan rangkaian botton hole assembly ini agar diperoleh hasil
yang baik di dalam suatu operasi pemboran terarah. Disini letak seni
daripada pemboran terarah ini.
Berikut ini akan diuraikan mengenai penggunaan berbagai susunan
rangkaian bottom hole assembly yang umumnya digunakan sebagai dasar di
dalam pemilihan posisi bottom hole assembly di dalam suatu pemboran
terarah.
16.7.1. Vertical Hole Assembly
Susunan rangkaian ini umumnya digunakan untuk membor tegak
lurus dari permukaan sebelum titik belok (KOP), atau bagian setelah drop off
section (Gambar 16.30). Adapun susunan ini dapat digambarkan sebagai
berikut:
Bit - Monel DC - DC - Stab - 90'DC - Stab - 90'DC – Stab
60' 90' 90'
dan seterusnya.
Apabila formasi yang dibor lunak, maka dianjurkan hal- hal dibawah
ini :
1. WOB rendah
2. RPM tinggi
3. Output pompa sehingga sirkulasi lumpur cepat.

Gambar 16.30. BHA Untuk Seksi Vertikal9)


16.7.2. Build Up Assembly
Pada rangkaian ini reamer harus selalu ditempatkan di dekat bit.
Adanya beban pada bit menyebabkan bagian drill collar di atas reamer
Prinsip Directional Drilling 23
membelok dengan kemiringan tertentu. Rate build up ini sangat tergantung
kepada WOB, posisi reamer dan ukuran drill collar Gambar 16.31.
Untuk perubahan sudut build up yang besar, dianjurkan :
1. WOB tinggi
2. Ukuran monel drill collar kecil
3. RPM dan rate pemompaan kecil apabila formasi lunak.
Rangkaian bottom hole assembly yang umumnya digunakan pada
build up section ini dapat digambarkan sebagai berikut .
Bit - Sub - Reamer - Monel DC - Stab - DC - Stab - 90'DC
4' 6' 60'

Gambar 16.31. BHA Untuk Menaikkan Inklinasi9)


Untuk perubahan sudut build up kecil, dianjurkan :
1. WOB kecil.
2. Ukuran monel drill collar besar.
3. Tempatkan stabilizer pada puncak monel drill collar.
4. Tambah jarak bit - reamer.
5. Tambah RPM dan rate pemompaan pada formasi lunak.
16.7.3. Drop off Assembly

24 Prinsip Directional Drilling


Dengan menambah jarak bit ke reamer, bagian bawah reamer
mempunyai tendensi untuk mengarah ke bawah. Karena berat rangkaiannya,
perlahan-lahan akan menghasilkan penurunan sudut pada drop off section
tergantung pada WOB, RPM dan posisi reamer serta stabilizer pada
rangkaian. Gambar 16.32.
Umumnya drop off assemblies ini berbentuk :
Bit - Monel DC - Reamer - DC - Stab - DC - Stab -90'DC- stab.
20'-30' 30' 30'

Gambar 16.32.BHA Untuk Menurunkan Inklinasi9)


Untuk perubahan sudut drop off yang besar dianjurkan :
1. WOB kecil.
2. RPM dan rate pemompaan besar pada formasi lunak.
3. Ukuran monel besar.
4. Ukuran drill collar kecil diatas reamer.
Untuk perubahan sudut drop off yang kecil, dianjurkan:
1. WOB besar.
2. RPM dan rate pemompaan kecil pada formasi lunak.
3. Gunakan monel drill collar yang besar.
4. Kurangi jarak bit-reamer.
16.7.4. Tangent Assembly
Pada kasus ini sangat sukar menentukan tangent assemblies yang
dapat sekaligus mengatur atau mempertahankan kemiringan dan arah
lubang bor. Umumnya persoalan terbesar adalah di dalam mengontrol sudut
arah, sedang mengontrol sudut kemiringan agak lebih mudah. Apabila WOB
dan RPM diubah untuk dapat mempertahankan sudut arah, tetapi efek lain

Prinsip Directional Drilling 25


yang mengubah sudut kemiringan atau sebaliknya, juga faktor-faktor formasi
sangat mempengaruhi.
Karena tangent assembly digunakan pada bagian dari lubang bor
dimana sudut arah dan kemiringan harus dipertahankan tetap, maka
rangkaiannya haruslah sekaku mungkin. Sangat sukar menemukan tangent
assemblies yang ideal atau kombinasi yang tepat. Pada beberapa kasus
yang lain hasil akan baik dengan banyak ditempatkan stabilizer.
Beberapa susunan yang memberikan hasil yang baik adalah:
 Bit-Reamer-Monel DC-Stab-Dc-Stab-DC-Stab-dst
 Bit-10'DC-Reamer-Monel DC-Stab-DC-Stab-DC-Stab-dst.
 Bit-15'DC-Reamer-15'DC-Reamer-Mone l DC-Stab-DC-
Stab-dst
 Bit-Reamer-Stab-Monel DC-Stab-Stab-DC-DC-Stab-dst.
16.8. Metoda Analisa Pemboran Berarah
Di dalam perencanaan suatu pemboran berarah, lubang bor yang
direncanakan dibuat pada bidang datar dengan sudut arah dan perubahan
sudut kemiringan tertentu. Tetapi seperti yang telah diterangkan pada sub-
bab yang lalu, lubang bor tidak akan terletak pada satu bidang disebabkan
pengaruh dari banyak faktor. Baik sudut kemiringan maupun sudut arah
lubang bor akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang telah
direncanakan. Sehingga pada praktek suatu pemboran berarah, setelah
dicapai kedalaman-kedalaman pemboran tertentu (biasanya setiap 50 - 100
ft kedalaman), dilakukan pengukuran sudut kemiringan dan sudut arah
(dilakukan survey). Apabila terjadi penyimpangan, lubang bor tadi diarahkan
kembali ke arah yang telah ditetapkan semula.
Sebagai gambaran sebenarnya, penampang horizontal suatu contoh
sumur pemboran berarah dapat dilukiskan seperti terlihat pada Gambar
16.33.

Gambar 16.33. Penampang Horizontal Suatu Pemboran Berarah


Titik dan garis patah di dalam Gambar 16.33 (misalnya titik M)
didapat setelah kita mengetahui koordinat titik tersebut dan titik ini disebut
titik survey. Terlihat dalam gambar bahwa titik tersebut menyimpang dari
garis AE (garis yang telah direncanakan). Sehingga dari titik tersebut kita

26 Prinsip Directional Drilling


membetulkan arah kembali ke arah semula. Demikian seterusnya dengan
titik survey selanjutnya hingga dicapai sasaran.
Hal yang sama terjadi pula pada penampang vertikalnya, sudut
kemiringan yang terjadi akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang
telah direncanakan.
Dari uraian di atas, masalah yang terpenting adalah menentukan
koordinat titik-titik survey setepat mungkin disamping perencanaan
pemborannya. Karena dengan diketahuinya titik-titik survey ini, maka kita
dapatkan hal-hal berikut :
a. Mengetahui kedalaman vertikal (True vertikal depth) pada titik-
titik tertentu di dalam lubang sumur.
b. Mengetahui penyimpangan dari sasaran, sehingga pada setiap
titik survey dapat dikoreksi arah dan kemiringan lubang bor,
mengarahkan kembali ke sasaran semula bila terjadi
penyimpangan.
c. Dari hal a dan b di atas, dengan kata lain dapat diketahui sejauh
mana lubang bor kita meleset atau berhasil mencapai sasaran.
16.8.1. Metoda-Metoda Perencanaan Pemboran Terarah
Di dalam merencanakan suatu pemboran terarah dikenal dua cara
yaitu Metoda Tangensial dan Metoda Radius Of Curvature. Metoda yang
disebutkan pertama merupakan metoda yang tertua yang dikenal sejak
dimulainya pemboran terarah. Sedangkan metoda yang terakhir
diperkenalkan oleh WILSON pada tahun 1968 yang merupakan perbaikan
dari metoda Tangensial.
16.8.1.1. Perencanaan Dengan Metoda Tangensial.
Dari Gambar 16.34, setelah titik belok ditentukan (titik 1), build up
section (1-2) dibuat dengan mengubah sudut kemiringan sampai dicapai
sudut maksimum yang diinginkan. Tangen section (2-3) dibuat dengan
mempertahankan sudut kemiringan maximum sampai kedalaman tertentu.
Drop off Section (3-4) dibuat dengan mengembalikan sudut
maksimum ke nol derajat dan bagian back to vertical (4-5) dibuat dengan
mempertahankan sudut kemiringan nol derajat.
Pada perencanaan dengan metoda Tangensial, dianggap bahwa
interval-interval lubang berupa garis-garis patah (lurus untuk masing-masing
interval) baik untuk build up maupun drop off section. Jadi dengan kata lain
dianggap bahwa setiap interval yang diambil mempunyai sudut kemiringan
yang sama pada awal, maupun pada akhir interval. Disini apabila diambil
interval kecil-kecil (misal diambil MD setiap 100 ft) garis lengkung MD
dianggap garis lurus, makin kecil kita mengambil intervalnya (misal 25 ft)
perhitungan akan semakin teliti.

Prinsip Directional Drilling 27


Gambar 16.34. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metoda
Tangensial).
TVD  MD cos I ...................................................................(16-1)
H  MD sin I ........................................................................(16-2)
dimana :
TVD = True vertical depth (kedalaman tegak) pada suatu
interval lubang bor, ft.
H = Drift (throw) atau penyimpangan horizontal
pada interval tersebut, ft.
MD = Measure depth pada interval tersebut, ft
I = Besarnya sudut kemiringan pada interval tersebut, derajat.
Sudut  = A adalah sudut arah yang tetap besarnya.
Berdasarkan persamaan-persamaan (1) dan (2) dapat dibuat suatu
program komputer perencanaan pemboran terarah dan dapat ditentukan
TVD dan H untuk setiap harga I per MD tertentu (misalnya 2 o/100ft, 4o/100 ft)
hingga dicapai sudut maksimum yang diinginkan.
16.8.1.2. Perencanaan Dengan Metoda Radius Of Curvature
a. Perhitungan Secara Segmental
Metoda ini diperkenalkan oleh WILSON.G.J pada tahun 1968, yang
merupakan perbaikan dari metoda tangensial.Tidak seperti pada
metoda tangensial, perencanaan ini tidak me nganggap interval-
interval lubang bor merupakan garis-garis lurus. Di dalam metoda ini,
segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran yang
bersifat menyinggung di titik awal dan akhir suatu interval lubang bor
yang mempunyai sudut kemiringan dan sudut arah tertentu. Karena
di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill,
dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan
yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-
segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran.

28 Prinsip Directional Drilling


Di dalam perencanaannya pemboran berjalan pada
suatu bidang datar dengan sudut arah tetap (Gambar
16.35).

Gambar 16.35. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metoda ROC)


Apabila suatu bagian kecil interval lubang bor dM didalam gambar
11.35 kita perhatikan, maka akan didapatkan segmen kecil lubang
bor.
 180 
I  x  ....................................................................................(16-3)
  
dimana :
I I = Sudut kemiringan, derajat
x = Suatu sudut di dalam radial
tetapi juga :
l  b  M ........................................................................................... (16-4)
dimana :
b = Kecepatan sudut kemiringan, o/ft.
M = Jarak suatu titik M dari KOP, sehingga substitusi
persamaan (16- 4) ke (16-3) didapat :

x  b 180
 M .............................................................................(16-5)

Dari gambar 16.35, apabila dM yang diambil sangat kecil, akan


didapatkan :
dZ  Cosx  dM ...............................................................................(16-6)
Substitusi ke persamaan 5 didapatkan :

dZ  cos b  180
M dM
diintegrasi menjadi :

Prinsip Directional Drilling 29


Z 2  Z1  180  b
sin b M  sin b M 
180 180 2 1

atau :

Z 2  Z 1  180
b
 sin I 2  sin I1  ....................................................(16-7)
untuk titik di KOP, I 1  0 , sehingga :

Z 2  Z1  180  b
 sin I  2 .............................................................(16-8)

Arah horizontal sepanjang build up section (=H) dapat dilihat dari


gambar 16.35, apabila interval dM sangat kecil maka :
dH  sin x  dM ...............................................................................(16-9)
Kemudian persamaan ini disubstitusi ke persamaan (16-5).

dH  sin b  180
M x  dM ............................................................(16-10)
Apabila diintegrasi akan didapatkan :

H 2  H 1  180  b
 cos I  cos I 
1 2 .............................................(16-11)

Untuk KOP, I 1  0 , sehingga :

H 2  H 1  180  b
1  cos I  2 .....................................................(16-12)

Perlu diingat bahwa :


I 2  I1
MD2  MD1  ....................................................................(9-13)
b
Persamaan-persamaan di atas tetap berlaku untuk drop off section.
Apabila digunakan program komputer untuk perencanaan, maka
dapat dipakai persamaan-persamaan 16-7, 16-11 dan 16-13, untuk
menghitung TVD, MD dan Drift-nya.
b. Build-and-Hold Trajectory
Gambar 16.36 menunjukkan geometry build-and-hold trajectory,

30 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.36. Build-and-Hold Type Well Path Untuk X3 < r19), 23)
dimana :
D1 : TVD kick of point, feet
D2 : TVD buildup section, feet
D3 : TVD dasar sumur, feet
X 3 : Horizontal departure, feet
q : Rate of inclination angle buildup, o /panjang
Radius of curvature, r1 , adalah :
180 1
r1 =  .................................................................................(16-14)
 q
Maximum inclination angle, diperoleh dari
90     90     
0

atau,
     ......................................................................................... (16-15)
Dengan memperhatikan segitiga OAB, maka
BA r  x3
tan    1 ...................................................................(16-16a)
AO D3  D1
dan
 r  x3 
  arctan 1  .....................................................................(16-16b)
D
 3  D 1 

Prinsip Directional Drilling 31


Dengan memperhatikan segitiga OBC, maka
r1
sin   ....................................................................................(16-17)
OB
dan
LOB   r1  x3  2   D3  D1  2
Substitusi OB ke dalam persamaan 16-17 memberikan
r1
sin   .....................................................(16-18)
 r1  x3  2
  D3  D1 
2

Sudut inklinasi maximum untuk build-and-hold dimana


x3  r1 adalah :
 
  arcsin
r1   arctan r1  x3 
  D  D  .............(16-19)
  r1  x3  2   D3  D1  2   3 1 

Panjang busur, DC, adalah



LDC   r1  
180
atau

LDC  .........................................................................................(16-20)
B
Panjang CB dapat ditentukan dari segitiga BCO
CO r
tan    1
LCB LCB
dan
r1
LCB 
tan 
Total measured depth, , untuk TVD dari adalah
 r
DM  D1   1 .....................................................................(16-21)
q tan 
Horizontal departure dari buildup section dapat diperoleh dengan
memperhatikan segitiga D'OC, dimana
x 2  r1  r1 cos   r1 1  cos   .....................................................(16-22)
Untuk menghitung measured depth dan horizontal departure serta
TVD sepanjang build up section digunakan persamaan :
D N  D1  r1 sin  ' .........................................................................(16-23)
Dan

32 Prinsip Directional Drilling


x N  r1  r1 cos  '  r1 (1  cos  ' ) ................................................(16-24)
TVD pada akhir build up section adalah
D2  D1  r1 sin  ...........................................................................(16-25)
Measured depth sepanjang build up section adalah :

DMN  D1  .................................................................................(16-26)
q
Measured depth pada setiap TVD D' ditentukan dari segitiga PP'C :

DMP  D1   CP ........................................................................(16-27)
q
dimana
CP '
CP 
cos 
dan
CP '  D' D2   D' D1  r1 sin  
Oleh karena itu,
D ' D1  r1 sin 
CP  .................................................................(16-28)
cos 
Substitusi persamaan 16-28 ke dalam persamaan 16-27,
menghasilkan :
 D ' D1  r1 sin 
D MP  D1   ................................................(16-29)
q cos 
Horizontal departure pada titik P adalah :
x '  x 2  P ' P .................................................................................(16-30)
dimana
P' P  CP ' tan 
Menggabungkan persamaan 16-30, persamaan 16-22, dan CP'
menghasilkan :
x'  r1 1  cos    D' D1  r1 sin   tan  .................................(16-31)
Penurunan persamaan di atas berlaku jika . x3  r1
Cara lain untuk menghitung sudut inklinasi maksimum

 D  D1   r1    D  D1  
  arctan 3   arccos   sin arctan 3  
 r1  x3   D3  D1    r1  x 3  
Untuk kasus x3  r1 , persamaan untuk menghitung sudut inklinasi
maksimum adalah:

Prinsip Directional Drilling 33


 D  D1   r1    D  D1  
  180  arctan 3   arccos   sin arctan 3  
x  r
 3 1  D
 3  D1  x  r
 3 1  
Contoh 1 :
Diinginkan membor suatu sumur di bawah danau dengan
menggunakan directional drilling. Lintasan (trajectory) yang akan digunakan
adalah build-and-hold trajectory. Horizontal departure antara target dengan
titik bor adalah 2655 ft dan TVD 9650 ft. Rate of build up adalah 2.0/100 ft.
Kedalaman kick off adalah 1600 ft.
Tentukan :
1. Radius of curvature
2. Sudut inklinasi maximum
3. Measured depth dari build up section
4. Total measured depth
5. Horizontal departure dari buildup section
6. Measured depth pada TVD 1915 ft
7. Horizontal displacement pada TVD 1915 ft
8. Measured depth pada TVD 7614 ft
9. Departure pada TVD 7614 ft

c. Build-Hold-and-Drop (©Sª) Trajectory


Lintasan jenis ini ditunjukkan oleh gambar 10.37 untuk r1  x3
dan r1  r2  x 4 , dan gambar 10.38 untuk r1  x3 dan
r1  r2  x 4 .Sudut inklinasi maksimum untuk kondisi r1  r2  x 4 ,

 D D   r  r    D  D  
  arctan 4 1   arccos 1 2   sin arctan 4 1  
  r1  r2   x 4   D4  D1     r1  r2   x 4  
.......................................................................................................... (16-33)

34 Prinsip Directional Drilling


Gambar 16.37. Build-Hold-and Drop Untuk r1 < X3 and r1 + r2 > X49), 23)

Gambar 16.38. Build-Hold-and-Drop and Hold (Modified-S) dimana r1 <


X3 dan r1 + r2 < X49),23)
Prinsip Directional Drilling 35
Sedang sudut inklinasi maksimum untuk kondisi r1  r2  x 4 ,

 D D   r  r    D  D  
  180  arctan 4 1   arccos 1 2   sin arctan 4 1  
 x 4   r1  r2    D4  D1    x 4   r1  r2   
.......................................................................................................... (9-34)
d. Build, Hold, Partial Drop, and Hold (Modified ©Sª Trajectory)
Gambar 16.39 menunjukkan tipe ini.
Panjang kurva LCA adalah:
'
LCA 
q
dan
LCB  r2  sin  ' ...............................................................................(16-35a)
untuk CO' B, maka dapat ditulis :
s BA  r2  r2 cos  '  r2 1  cos  ' ................................................(16-35b)
Persamaan 11-33 dan 11-34 dapat ditulis dengan mensubstitusi
D5  r2 sin  ' untuk D4 dan x5  r2 1  cos  ' untuk x 4 .
Untuk tipe 'S' ini, perhitungan MD dan H dapat dilakukan seperti
pada tipe Build - and - Hold.

Gambar 16.39. Build, Hold, Partial Drop dimana r1 < X3 dan r1 + r2 <
X49),23)

36 Prinsip Directional Drilling


16.8.1.3. Perencanaan X-Y Trajectory
Gambar 16.40 dan 16.41 menunjukkan trajektori vertical dan
horizontal dari directional well, dimana :
    A1    A   A1 
L  DM sin  A  cos  ....................................(16-36)
 2   2 
L = Panjang Utara/Selatan
  A   A1    A   A1 
M  DM sin   sin   ...................................(16-37)
 2   2 
M = Panjang Timur/Barat
TVD dapat dihitung dengan
    A1 
D  DM cos A  ............................................................(16-38)
 2 
dimana adalah pertambahan ©measured depthª.

Gambar 16.40. Trajektori Vertikal9)

Prinsip Directional Drilling 37


Gambar 16 9.41. Trajektori Horizontal9)
Contoh 2:
Hitunglah Trajektori dari 8000 ke 8400 feet, dimana KOP pada 8000
feet dan Build-Up Rate adalah 1o/ 100 ft, dengan sudut lead 10o dengan
Right-hand rate adalah 1o/100 ft. Arah Anual adalah N 3oE.
Asumsi bahwa 200 ft pertama dipakai untuk mengarahkan sudut
lead, dimana arah dibuat konstan sampai 8200 ft dan kemudian belok kanan
dengan kecepatan 1o/100 ft.
16.9. Metoda-Metoda Perhitungan Hasil Survey Pemboran Berarah
Setelah perencanaan dibuat dan praktek pemboran terarah
dilaksanakan, seperti telah diterangkan terdahulu, pada setiap kedalaman-
kedalaman tertentu dilakukan pengukuran sudut kemiringan dan arah lubang
bor (dilakukan survey). Apabila pada titik-titik survey tersebut terjadi
penyimpangan, lubang bor diarahkan kembali ke arah yang telah ditetapkan.
Ada beberapa metoda yang dapat menentukan koordinat titik-titik
survey ini. Berturut-turut akan dibicarakan metoda yang terdahulu hingga
yang terbaru ditemukan, dimana masing-masing metoda mempunyai limitasi-
limitasi tertentu di dalam menganalisa persoalan. Perlu diingatkan bahwa
metoda yang ditemukan kemudian merupakan perbaikan dari metoda yang
mendahuluinya.
Dalam rangka menganalisa persoalan, semua metoda yang akan
dibicarakan mendasarkan perhitungannya kepada pengukuran 3 besaran
yaitu kedalaman sumur ( MD  M ), perubahan sudut kemiringan ( I ) dan
sudut arah ( A ) yang dicatat oleh alat-alat survey.
16.9.1. Metoda Tangential

38 Prinsip Directional Drilling


Prinsip dari metoda ini adalah menggunakan sudut inklinasi dan
azimuth dari titik awal interval untuk menghitung ©vertical depthª,
©departureª, dan posisi. Prinsip dari metoda tangential tersebut ditunjukkan
oleh gambar 16.42
VD  MD cos I 2
H  MD sin I 2
E  D sin A2  MD sin I 2 sin A2
N  D cos A2  MD sin I 2 cos A2
dimana :
MD : Pertambahan measured depth
VD : Pertambahan TVD
H : Pertambahan departure
N : Pertambahan koordinat arah utara
E : Pertambahan koordinat arah Timur

Gambar 16.42. Tangential Method : (a) Vertical Section;


(b) Plan View 36)
16.9.2. Metoda Balanced Tangential
Metoda ini membagi dua interval dimana untuk bagian atas interval
digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik awal interval dan untuk
bagian bawah interval digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik akhir
interval. Prinsip dari metoda ini ditunjukkan oleh Gambar 16.43.
 MD 
D1    sin I 1
 2 
 MD 
D 2    sin I 2
 2 
MD
D  D1  D2   sin I 1  sin I 2 
2
 MD 
VD1    cos I 1
 2 
Prinsip Directional Drilling 39
 MD 
VD2    cos I 2
 2 

Gambar 16.43. Balanced Tangential Method : (a) Vertical Section; (b)


Plan View 36)
MD
VD  VD1  VD2   cos I1  cos I 2 
2
N  N 1  N 2  D1 cos A1  D2 cos A2
MD
  sin I1 cos A1  sin I 2 cos A2 
2
E  E1  E 2  D1 sin A1  D2 sin A2
MD
=  sin I 1 sin A1  sin I 2 sin A2 
2
16.9.3. Metoda Angle Averaging
Prinsip dari metoda ini adalah menggunakan rata-rata sudut inklinasi
dan rata-rata sudut azimuth dalam menghitung “vertical depth”, “departure”,
dan posisi. Perhitungan dengan menggunakan metoda ini hampir sama
dengan menggunakan metoda tangensial.
 I  I2 
D  MD sin  1 
 2 
 I  I2 
VD  MD cos 1 
 2 
 I  I   A  A2 
E  MD sin  1 2  sin  1 
 2   2 
 I  I 2   A1  A2 
N  MD sin  1  cos 
 2   2 
40 Prinsip Directional Drilling
16.9.4. Metoda Radius of Curvature
Metoda ini menganggap bahwa lintasan yang melalui dua station
berbentuk kurva yang mempunyai radius of curvature tertentu. Prinsip
perhitungan dengan menggunakan metoda ini ditunjukkan oleh Gambar
16.44.
360MD
TVD   sin I 2  sin I 1 
2  I 2  I 1 
360MD
H   cos I 2  cos I 2 
2  I 2  I 1 

 360 2 MD cos I1  cos I 2  sin A2  sin A1 


N 
4 2  A2  A1  I 2  I1 

E 
 360 2 MD cos I1  cos I 2  cos A2  cos A1 
4 2  A2  A1  I 2  I 1 

Gambar 16.44. Metoda Radius of Curvature 36)

Prinsip Directional Drilling 41


Gambar 16.45. Metode Minimum of Curvature36)
16.9.5. Metoda Minimum of Curvature
Persamaan metoda minimum of curvature hampir sama dengan
persamaan metoda balanced tangential, kecuali data survey dikalikan
dengan faktor RF .
 2   DL 
RF    tan  
 DL  Radian  2  derajat
dimana :
DL = dog-leg angle
CosDL  cos I 2  I1   sin I 1  sin I 2 1  cos A2  A1  
MD
TVD   cos I 1  cos I 2  RF
2
MD
N   sin I1 cos A1  sin I 2 cos A2  RF
2
MD
E   sin I 1 sin A1  sin I 2 sin A2  RF
2
16.9.6. Metoda Mercury
Metoda mercury adalah perbaikan dari metoda balanced tangential
dengan memasukkan faktor koreksi panjang dari alat survey yang
dipergunakan.
 MD  STL 
TVD    cos I 2  cos I 1   STL cos I 2
 2 

42 Prinsip Directional Drilling


 MD  STL 
N    sin I 1 cos A1  sin I 2 cos A2   STL  sin I 2  cos A2
 2 
 MD  STL 
E    sin I 1 sin A1  sin I 2 sin A2   STL  sin I 2  sin A2
 2 
dimana :
STL adalah panjang peralatan survey.
Contoh 3 :Buatlah evaluasi Trajektori Pemboran dari data survey
sbb :
MD Inklinasi Arah
7100 0 0
7200 10,1 S 68o W
7300 13,4 S 65o W
7400 16,3 S 57o W
7500 19,6 S 61o W
Hitunglah menggunakan metoda:
Hitunglah menggunakan metoda :
a. Tangential
b. Balanced Tangential
c. Angle Averaging
d. Radius of Curvature
e. Minimum of Curvature
f. Mercury, dengan panjang alat Survey = 15 feet
Contoh 4:
1. Perancangan Pemboran MiringPerencanaan pemboran miring
dilaksanakan berbentuk "Build and Hold" terhadap suatu target
dengan kedalaman TVD 8000 feet, Posisi target North (N)
1181 feet dan East (E) 845 feet. Peralatan BHA yang dipakai
akan menghasilkan kecepatan pembentukan sudut kemirian
(BUR) sebesar 1o / 100 ft, dimana pembentukan lengkungan
pertama (KOP) pada kedaaman pemboran (MD) 3000 feet.
Buatlah rencana lintasan (Trajectory) serta urutan-urutan
perhitungannya, dan isilah tabel berikut:
MD(feet) Inklinasi (I, o) TVD (feet) Displacement
(H, feet)
0 0 0 0
1000 ……………… ……………… ………………
2000 ……………… ……………… ………………
3000 (KOP) ……………… ……………… ………………
4000 ……………… ……………… ………………
5000 ……………… ……………… ………………
6000 ……………… ……………… ………………
7000 ……………… ……………… ………………
8000 ……………… ……………… ………………
……………… ……………… ……………… ………………

Prinsip Directional Drilling 43


2. Evaluasi Trajektori Pemboran Miring Tentukanlah jarak
displacement (H) dan arah akhir (N-E) untuk setiap Measure
Depth (MD) dengan metoda Balanced Tangential. Berikanlah
contoh secara lengkap tentang perhitungannya:
Depth Inclination Direction Departure (H) Final
(MD) (Degrees) (feet) Direction
(feet) (N-E)
5000 0 N 0oE 0 N 0oE
(KOP)
5100 1.0 N 10oE
5500 2.5 N 12oE
6000 3.5 N 5 oW
7000 5.0 N 15oW
8000 3.0 N 35oW

3. Perancangan Pemboran MiringPerancangan pemboran


miring dilakukan berbentuk "Return to Vertical" terhadap
suatu target dengan kedalaman TVD 8000 feet, Posisi
target North (N) 1311 feet dan East (E) 1511 feet.
Peralatan BHA yang dipakai akan menghasilkan
kecepatan peningkatan sudut kemiringan (BUR) sebesar
1o / 100 ft dan penurunan sudut sebesar 2o / 100 ft,
dimana pembentukan lengkungan pertama (KOP) pada
kedalaman pemboran (MD) 2100 feet.Buatlah rencana
lintasan (Trajectory) serta urutan-urutan perhitungannya,
dan isilah tabel berikut dengan selang MD 1000 feet, dan
dilengkapi titik SURFACE, KOP, EOB, EOT, EOD:
MD (feet) Inklinasi (Io) TVD (feet) Displacement (H, feet)
0 (Surface) 0 0 0
................ ................ ................ ................
................ ................ ................ ................
............... ............... ............... ...............

QUIZ

1. Jelaskan dengan singkat!


a. Alasan-alasan dilaksanakannya pemboran berarah
b. Penyebab belokan selama pemboran
c. Jenis Pemboran berarah
2. Sebutkan :
a. Alat-alat pembelokan sumur, dan jelaskan prinsip kerjanya!
b. Alat-alat survey!
c. Alat-alat Bottom Hole Assembly!
3. Sebutkan dan jelaskan metoda yang digunakan dalam pengarahan
lubang, gambarkan!

44 Prinsip Directional Drilling


4. Jelaskan dengan Singkat apa yang dimaksud :
a. KOPb. TVDc. Measured Depthd. Inklinasie. Azimuthf.
Displacementg. Doglegh. Dogleg Severityi. MPDLS
Buat sketsa gambar untuk memperjelas penjelasan anda!Dari manakah
data-data tersebut diatas diperoleh!
5. a. Sebutkan tujuan dilakukannya survey pada pemboran berarah!
5 b. Metode-metode apakah yang dipakai dalam menganalisa titik
survey!
6. Masalah-masalah apakah yang sering timbul dalam pemboran
berarah, jelaskan!
7. Sebutkan dan gambarkan peralatan yang dipakai untuk pertama kali
membelokan sumur (membentuk KOP)!
8. Prinsip apa dan terangkan cara-cara untk memperbesar, menetapkan
dan memperkecil sudut inclinasi!
9. Jelaskan 5 (lima) metoda perhitungan penentuan letak sumur pada
direc-tional drilling yang utama!
10. Masalah-masalah apa yang sering terjadi pada pemboran horizontal!

Prinsip Directional Drilling 45


DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

A = Azimuth, derajat
b = Kecepatan sudut kemiringan, o/ft
D = Jarak vertical, feet
DL = Sudut dogleg, derajat
DM = Total measured depth, feet
DN = Measured depth hingga build up section, feet
q = Rate of inclination angle, build up/panjang
 = Sudut inklinasi maksimum, derajat
Z = Ketinggian sebenarnya suatu interval, feet
H = Horizontal departure, feet
I = Inklinasi, derajat
L = Panjang utara/selatan, feet
X = Jarak horizontal, feet
KOP = Kick of point
M = Jarak suatu titik M dari KOP / panjang timur/barat, feet
MD = Measured depth, feet
r = Jari-jari kelengkungan lubang , feet
E = Pertambahan koordinat arah timur , feet
H = Pertambahan horizontal departure , feet
MD = Pertambahan measured depth , feet
N = Pertambahan koordinat arah utara , feet
TVD = Pertambahan TVD , feet
I = Sudut inklinasi, derajat
 = Inklinasi, derajat
 = Azimuth, derajat

DAFTAR PUSTAKA
1. Alliquander, "Das Moderne Rotarybohren", VEB Deutscher Verlag Fuer
Grundstoffindustrie,Clausthal-Zellerfeld, Germany, 1986
2. Mian M.A., "Petroleum Engineering Handbook for Practicing Engineer",
Vol.2, Penn Well Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1992.
3. Aguilera R., "Horizontal Wells: Formation Evaluation, Drilling, and
Production, Including Heavy Oil Recovery", Gulf Publishing Company,
Houston, 1991.
4. Short J., "Introduction to Directional And Horizontal Drilling", Penn Well
Publishing Company, Tulsa, 1993.
5. Azar J.J., "Drilling in Petroleum Engineering", Magcobar Drilling Fluid
Manual.
6. Gatlin C., "Petroleum Engineering: Drilling and Well Completions", Prentice
Hall Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1960.

46 Prinsip Directional Drilling


7. nn., "Drilling", SPE Reprint Series no. 6a., SPE of AIME, Dallas-Texas,
1973.
8. Bourgoyne A.T. et.al., "Applied Drilling Engineering", First Printing Society
of Petroleum Engineers, Richardson TX, 1986.
9. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company,
First Edition, Tulsa-Oklahoma, 1974.
10. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company,
Second Edition, Tulsa-Oklahoma, 1986.
11. McCray A.W., Cole F.W., "Oil Well Drilling Technology", The University of
Oklahoma Press,1979.
12. Rabia. H., "Oil Well Drilling Engineering : Principles & Practice",
University of Newcastle upon Tyne, Graham & Trotman, 1985.

Prinsip Directional Drilling 47