Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL PENELITIAN

STRUKTUR KOMUNITAS RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU


LEMUKUTAN KABUPATEN BENGKAYANG KALIMANTAN
BARAT

Disusun oeh:
Rika Antonia; H1081151044; 2015

UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017

i
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................... i


DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. iii
BAB 1. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 2
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 2
1.4 Urgensi Penelitian ........................................................................ 2
1.5 Temuan dan Kontribusi Terhadap Iptek ...................................... 3
1.6 Luaran yang diharapkan .............................................................. 3
1.7 Manfaat Penelitian ....................................................................... 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 3
2.1 Rumput Laut ................................................................................ 3
2.2 Habitat Rumput Laut ................................................................... 3
2.3 Klasifikasi dari Rumput Laut....................................................... 4
2.3.1 Divisi Cyanphyta (alga biru) ................................................ 4
2.3.2 Divisi Chlorophyta (Alga hijau) ........................................... 4
2.3.3 Divisi Euglenophyta ............................................................. 4
2.3.4 Divisi Phyrophyta (alga api) ................................................. 4
2.3.5 Divisi Chrysophyta (alga keemasan) .................................... 4
2.3.6 Divisi Phaeophyta (alga perang)........................................... 4
2.3.7 Divisi Rhodophyta (alga merah)........................................... 4
2.4 Manfaat Rumput Laut .................................................................
BAB 3. METODE PENELITIAN............................................................... 4
3.1 ...................................................................................................... 4
3.2 ..................................................................................................... 5

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 7

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar ...............................................................................................................4

iii
1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumput laut (seaweed) merupakan nama dalam dunia perdagangan
internasional untuk jenis - jenis rumput laut. Secara taksonomi rumput laut (makro
alga) termasuk ke dalam divisi Thalophyta (tumbuhan berthallus). Sifat divisi ini
primitif artinya badannya sedikit atau tidak terbagi - bagi dalam alat vegetatif
(Romimohtarto dan Juwana, 2005). Rumput laut adalah tumbuhan berbiji tunggal
(monokotil) dari kelas Angiospermae. Tumbuhan ini dapat menyesuaikan diri
untuk hidup terbenam di dalam laut (Kordi, 2011).
Rumput terbagi menjadi 3 divisi, yaitu Chlorophyta, Phaeophyta dan
Rhodophyta (Anggadiredja et al., 2009). Tumbuhan ini memiliki rhizoma, akar,
daun, bunga, dan jaringan–jaringan yang dilapisi lignin sebagai penyalur bahan
makanan, air dan gas. Rhizoma merupakan batang yang terbenam dan merayap
secara mendatar dan berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang
pendek yang tegak ke atas, berdaun dan berbunga. Adapun yang membeda-kan
dengan tumbuhan di darat adalah pada rumput laut tidak ditemukan adanya stomata
(Susetiono, 2004).
Ekosistem rumput laut telah dikenal secara luas sebagai ekosistem di perairan
dangkal. Oleh karena itu keberadaan rumput laut pada suatu perairan akan
mendukung produktivitas perairan itu di dalam menyediakan keragaman,
kelimpahan, biomassa dan produksi ikan serta stok biota-biota laut ekonomis lainya
seperti teripang dan udang. Keberadaan ekosistem rumput laut berperan penting
dalam proses-proses yang berlangsung di perairan pantai sebagai tempat mencari
makan dan persinggahan bagi berbagai tumbuhan serta hewan, Sebagai stabilisator
sedimen dan garis pantai, asuhan dan habitat bagi berbagai jenis ikan dan
invertebrata Zieman (Susetiono, 2004).
Selain itu, ekosistem rumput laut yang berada pada terumbu karang dan di
sekitar area perairan estuari berperan sebagai tempat terkumpulnya nutrien,
penyaring nutrien dan pemasukan unsur-unsur zat hara bagi lingkungan perairan di
sekitarnya (Susetiono, 2004). Secara ekologis, komunitas ini berperan pada
lingkungan sekitar yaitu sebagai tempat asuhan dan perlindungan (nursery
grounds), tempat pemijahan (spawning grounds) serta tempat mencari pakan alami
bagi ikan jenis tertentu dan hewan herbivora (feeding grounds). Selain berperan
dalam meningkatkan produktivitas primer di perairan pantai, menyerap bahan
polutan serta memproduksi bahan organik dan oksigen untuk organisme akuatik di
lingkungan perairan. Secara ekonomis tumbuhan ini dimanfaatkan secara luas baik
dalam bentuk raw material (material mentah) seluruh bagian tumbuhan maupun
dalam bentuk olahan. Dalam bentuk raw material digunakan sebagai lalapan,
sayuran, manisan dan asinan. Dalam bentuk olahan, tumbuhan ini dimanfaatkan
sebagai obat-obatan, bahan makanan dan bahan penambah dalam berbagai industry
misalnya industri makanan, industri minuman, industri bioteknologi, industri tekstil
dan lain-lain.
2

Berdasarkan pentingnya peranan rumput laut, maka perlu dilakukan pendataan


struktur komunitas rumput laut. Pulau Lemukutan terletak pada 0042'29" - 0048'57"
Lintang Utara (LU) dan 108040'49" - 108049'20" Bujur Timur (BT). Pulau
Lemukutan memiliki karakteristik perairan yang jernih dan ombak besar sehingga
tanaman ini dapat hidup dan berkembang biak. Perairan pulau Lemukutan memiliki
sebaran rumput laut yang cukup luas dan ekosistem rumput laut yang beragam.
Menurut Data Kawasan Konservasi Perairan Pulau Lemukutan Kabupaten
Bengkayang (2004), jenis-jenis Rumput laut yang banyak dijumpai di daerah ini
adalah jenis Eucheuma sp., Caulerpa sp., Sargassum sp., Padina sp dan Gracilaria
sp. Namun belum ada penelitian tentang struktur komunitas rumput laut, berkaitan
hal ini diperlukan data yang merujuk kepada pengelolaan rumput laut. Saat ini
informasi dan data tentang pengelolaan rumput laut di Pulau Lemukutan masih
minim terutama mengenai struktur komunitas rumput laut yang meliputi frekuensi,
penutupan dan indeks nilai penting rumput laut di perairan Pulau Lemukutan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam penelitian dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaiman mengetahui jenis-jenis rumput laut yang berada di perairan Pulau
Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
2. Bagaimana mengetahui Frekuensi, Penutupan dan Indeks Nilai Penting (INP)
yang terdapat di Perairan Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang,
Kalimantan Barat.
3. Bagaimana mengetahui kondisi umum Kimia-fisika perairan di Perairan Pulau
Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan utama dari pelaksanaan penelitian ini meliputi:
1. Mengetahui jenis-jenis rumput laut yang berada di perairan Pulau Lemukutan,
Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
2. Mengetahui Frekuensi, Penutupan dan Indeks Nilai Penting (INP) yang terdapat
di Perairan Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
3. Mengetahui kondisi umum Kimia-fisika perairan di Perairan Pulau Lemukutan,
Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

1.4 Urgensi Penelitian


Penggunaan plastik sintesis yang semakin meningkat akan menyebabkan
pencemaran dan kerusakan bagi lingkungan. Hal ini dikarenakan sifat plastik
sintesis yang tidak mudah terdegradasi secara alamiah. Selain itu, plastik sintesis
dibuat dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Oleh karena itu, alternatif lain
pengganti plastik perlu dikembangkan, salah satunya bioplastik yang barasal dari
bahan terbarukan dan mudah didegradasi. Sifat yang dimiliki oleh bioplastik yang
3

dihasilkan ditentukan oleh sifat bahan-bahan baku yang diperoleh dari alam, yaitu:
pati dari buah mangrove api-api A. marina dan selulosa alga merah.

1.5 Temuan dan Kontribusi Terhadap Iptek


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi awal mengenai struktur
komunitas rumput laut di perairan Pulau Lemukutan Kalimantan Barat, khususnya
dalam bidang ekologi dan pengolahan rumput laut. Selain itu, berperan penting
sebagai sumber data primer yang dapat digunakan sebagai pedoman ilmu dan
ekologi dalam pengembangan rumput laut.

1.6 Luaran yang Diharapkan


Luaran yang diharapkan adalah informasi mengenai struktur komunitas
rumput laut di perairan Pulau Lemukutan Kalimantan Barat. Penelitian ini juga
akan memberikan informasi mengenai jenis-jenis rumput laut yang ada di perairan
Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

1.7 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi ilmiah mengenai
struktur komunitas, bahan kajian dalam pengelolaan rumput laut di Perairan Pulau
Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Rumput Laut
Rumput laut termasuk beberapa jenis (species) dari alga atau ganggang,
dimana alga ini dikenal sebagai ”vegetasi perintis” (tanaman perintis). Alga
mengandung klorofil, karotenoid, dan juga kromatophora (butiran-butiran zat
warna), seperti hijau, biru, keemasan, dan lain sebagainya. Alga atau phyton dalam
bahasa latin mempunyai nama dan istilah Indonesia yaitu ganggang. Ganggang ini
berbeda sekali dengan ganggang (Hydrilla spp). Orang sering keliru dalam
penamaan serta pengenalannya, jadi berhati-hatilah dalam mengenali dan memberi
nama rumput laut. Di Indonesia sendiri, rumput laut mempunyai bermacam-macam
nama, sesuai dengan daerah tempat dia ditemukan. Di pulau Jawa dikenal dengan
nama kades, ganggang atau rambu kasang. Di pulau Bali disebut bulung, di pulau
Lombok namanya lelusa. Sedang di kepulauan Maluku dikenal dengan nama arien.
Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam
Divisio Thallophyta. Keseluruhan dari tanaman ini merupakan batang yang dikenal
dengan sebutan thallus, bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam ada yang
bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut dan lain
sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau
banyak sel (multiseluler). Sifat substansi thallus juga beraneka ragam ada yang
lunak seperti gelatin (gelatinous), keras diliputi ataumengandung zat kapur
(calcareous), lunak bagaikan tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongeous)
4

dan sebagainya (Soegiarto et al, 1978). Menurut Luning (1990), Indonesia memiliki
tidak kurang dari 628 jenis rumput laut dari 8000 jenis rumput laut yang telah di
temukan di seluruh indonesia. Keberadaan rumput laut sebagai organisme produsen
memberikan sumbangan yang berarti bagikehidupan hewan akuatik terutama
organisme - organisme herbivora di perairan laut. Dari segi morfologinya, rumput
laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang dan daun. Secara
keseluruhan tanaman ini memiliki morfologi yang mirip, walaupun sebenarnya
berbeda. Sumich, (1992). Kondisi perairan yang mempengaruhi kehidupan rumput
laut secara umum di pengaruhi oleh faktor Fisika dan Kimia periaran agar
keberlangsungan hidup rumput laut terjaga, kisaran suhu untuk rumput laut antara
27-32 °C, perairan salinitas biasanya berkisar antara 34 - 35 0/00, dan kecepatan
arus merupakan pangaruh positif untuk keberlanjutan kehidupan rumput laut.
Kecepatan arus yang baik untuk kehidupan dan pertumbuhan rumput laut berkisar
antara 0,15 - 0,35 m/detik, Menurut pendapat Soesono (1988) bahwa pengaruh bagi
organisme sangat besar dan penting, kisaran pH yang kurang dari 6,5 akan menekan
laju pertumbuhan.

2.2 Habitat Rumput Laut


Habitat atau tempat hidup alga adalah di air, baik itu air tawar, payau, maupun
laut, selain itu dapat pula di tanah yang lembab. Umumnya dia hidup sebagai
plankton (jasad renik), yang terdiri dari:
1. Zooplankton, plankton yang dapat bergerak sendiri.
2. Phytoplankton, plankton yang tidak dapat bergerak sendiri, sifatnya lebih
mendekati sifat tanaman.
3. Benthos, yaitu ganggang atau alga yang hidup di dasar perairan, sedangkan
yang hidupnya terapung disebut Neuston
Sebagian jenis alga lagi hidupnya menempel pada tumbuhan lain, hewan, karang
yang mati, potongan karang, dan substrat keras lainnya, baik yang alami maupun
buatan (artificial) yang biasa disebut periphyton.

2.3 Klasifikasi dari Rumput Laut


Alga atau ganggang dapat diklasifikasikan menjadi tujuh divisi, berdasarkan
pada pigmentasi yang ada di dalam tubuh alga, yaitu :

2.3.1 Divisi Cyanphyta (alga biru)


Tepat hidup dari alga divisi ini umumnya di tempat lembab, air tawar, dan
dapat hidup mulai dari suhu 0o-75o. Beberapa genus (marganya) ada yang hidup
bebas, epifit (hidup pada kulit tumbuhan), epizoik (hidup pada kulit hewan), endofit
(hidup dalam jaringan tumbuhan), dan menempel pada dasar perairan, juga ada
yang bersimbiosis. Susunan tubuhnya ada yang bersel satu (uniseluler), membentuk
koloni dan filamen. Alga biru dapat melakukan fotosintesis yang menghasilkan
5

tepung sianofise dan sianofisin (sejenis protein). Hal ini dikarenakan tubuhnya
mengandung klorofil ”a” dengan karotenoidnya beta (β).

2.3.2 Divisi Chlorophyta (Alga hijau)


Divisi Chlorophyta ini dibagi menjadi dua kelas, yaitu :
1. Chlorophyceae (alga hijau)
Tempat hidupnya kelompok alga hijau ini umumnya pada tempat yang
lembab, di air tawar, payau, maupun air laut, hidup bebas dan menempel,
namun ada juga yang hidup secara epifit, endofit, epizoik, serta bersimbiosis.
Susunan tubuhnya ada yang bersel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak
(poliseluler), tetapi ada juga di antaranya yang membentuk kolomi dan
filamen. Alga dari divisi ini dapat melakukan proses fotosintesis yang
menghasilkan amilum dan lemak. Hal ini dikarenakan tubuhnya mengandung
klorofil “a” dan “b”, karotenoidnya alfa (α) dan beta (β).
Perkembangbiakannya secara sporik, namun ada juga yang gametik.
2. Charophyceae (alga karang)
Tempat hidupnya, umumnya di dasar air tawar dan melekat. Susunan
tubuhnya bersel tunggal, tetapi ada juga yang bersel banyak (poliseluler).
Alga karang ini memiliki persamaan dengan alga hijau. Persamaanya terletak
pada cadangan makannanya, yaitu amilum dan lemak.
Perkembangbiakannya, umumnya secara vegetatip dan gametic.

2.3.3 Divisi Euglenophyta


Lingkungan hidupnya di kolom-kolom air tawar yang banyak bahan organik.
Hidupnya sering dijumpai sebagai zooplankton dan endozoik. Susunan tubuhnya
bersel tunggal dan ada sebagian yang hidupnya berkelompok. Pigmentasinya antara
lain klorofil “a” dan “b”, serta karotenoidnya beta (β). Perkembangbiakannya
secara vegetatif saja, yaitu dengan pembelahan longitudinal.

2.3.4 Divisi Phyrophyta (alga api)


Divisi ini hanya mempunyai satu kelas saja, yaitu Dinophyceae (alga yang
gerakannya memutar) Tempat hidup alga ini umumnya di air laut, tetapi ada juga
beberapa jenisnya yang hidup di air tawar. Tubuhnya umumnya bersel tunggal.
Pigmentasi yang dimiliki alga dari kelas Dinophyceae ini antara lain, klorofil “a”
dan “c”. Perkembangbiakannya dapat terjadi secara vegetatif, sporik, maupun
gametik.

2.3.5 Divisi Chrysophyta (alga keemasan)


Divisi Chrysophyta atau alga keemasan ini dibagi menjadi beberapa kelas,
yaitu sebagai berikut :
1.Xanthophyceae
6

Alga ini memiliki warna dominan kekuningan. Tempat hidupnya di air tawar,
laut dan juga tanah yang agak lembab, dengan sifat hidupnya ada yang
melekat dan ada pula yang bebas. Susunan tubuh dari alga ini adalah sel
tunggal, dan ada juga yang membentuk filamen dan tubular. Pigmentasinya
antara lain, klorofil ”a” dan ”c”. Perkembangbiakannya dapat terjadi secara
vegetatif, sporik, maupun gametik.
2.Chrysophyceae (alga keemasan)
Alga keemasan tempat hidupnya kebanyakan di laut, tetapi ada juga yang
hidup di air tawar. Susunan tubuhnya umumnya bersel tunggal (uniseluler),
dan ada juga yang membentuk koloni-koloni. Mengandung klorofil ”a” dan
”c”. Perkembangbiakannya umumnya secara vegetatif dan sporik.
3.Bacillariophyceae (alga kersik, diatome)
Tempat hidup alga kersik atau diatome ini umumnya di air laut, namun ada
juga sebagian yang hidup di air tawar dan tanah yang lembab. Susunan
tubuhnya, umumnya bersel tunggal. Pigmentasi yang dimiliki alga dari
kelas ini antara lain, klorofil ”a” dan ”c”. Perkembangbiakannya terjadi
secara vegetatif dan gametik

2.3.6 Divisi Phaeophyta (alga perang)


Lingkungan hidupnya umumnya di laut dan hanya sebagian kecil saja yang
hidup di muara sungai yang berair payau. Susunan tubuhnya, umumnya bersel
banyak (multiseluler) dan tubuhnya sudah dapat dibedakan antara helaian (lamina),
tangkai (stipe), dan pangkal yang bentuknya menyerupai akar (haptera).
Pigmentasi yang dimiliki alga perang, antara lain, klorofil ”a” dan ”c”, sedangkan
cadangan makanannya berupa Manitol (senyawa alkohol) dan Laminarin (senyawa
karbohidrat). Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif, sporik, dan gametik.

2.3.7 Divisi Rhodophyta (alga merah)


Tempat hidupnya di air laut, mulai dari tepi pantai sampai laut yang agak
dalam. Untuk susunan tubuhnya, umumnya bersel banyak (multiseluler), tetapi ada
juga yang bersel tunggal (misalnya Porphyridium) dan sering juga membentuk
filamen (bengang). Pigmentasi yang dimiliki alga merah antara lain, klorofil ”a”
dan “d”. Cadangan makanannya berupa tepung florida. Perkembangbiakannya
terjadi secara vegetatif, yaitu dengan fragmentasi, sporik dan gametik

2.4 Manfaat Rumput Laut


Rumput laut telah lama digunakan sebagai makanan maupun obat-obatan di
negeri Jepang, Cina, Eropa maupun Amerika. Diantaranya sebagai nori, kombu,
puding atau dalam bentuk hidangan lainnya seperti sop, saus dan dalam bentuk
mentah sebagai sayuran. Adapun pemanfaatan rumput laut sebagai makanan karena
mempunyai gizi yang cukup tinggi yang sebagian besar terletak pada karbohidrat
di samping lemak dan protein yang terdapat di dalamnya. Di samping digunakan
7

sebagai makanan, rumput laut juga dapat digunakan sebagai penghasil alginat, agar-
agar, carrageenan, fulceran, pupuk, makanan ternak dan Yodium. Beberapa hasil
olahan rumput laut yang bernilai ekonomis yaitu :
1. Alginat, digunakan pada industri farmasi sebagai emulsifier, stabilizer,
suspended agent dalam pembuatan tablet, kapsul;
2. kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan cream, lotion, dan salep
3. makanan : sebagai stabilizer, emulsifier, thickener, additive atau bahan
tambahan dalam industri tekstil,
4. Agar-agar, banyak digunakan pada industri/bidang : kertas, keramik,
fotografi dan lain-lain ; mikrobiological : sebagai cultur media.

BAB 3. METODE PENELITIAN


3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Perairan Pulau Lemukutan, Kabupaten
Bengkayang, Kalimantan Barat.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah termometer, refraktometer,
sechidisk, tali dan botol, GPS, alat tulis, kamera digital dan transek.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquades, tissue, rumput
laut, kantong plastik, kaertas label, buku identifikasi dan alkohol 70%.

3.2 Prosedur Kerja


Penelitian ini dilakukan dengan ekstraksi pati dan selulosa dari alam sebagai
bahan baku bioplastik. Pembuatan bioplastik dilakukan dengan penambahan pati
dan selulosa dengan plasticizer gliserol. Metode ini bertujuan untuk mengetahui
sifat mekanik kuat tarik dan persen perpanjangan dari bioplastik yang dihasilkan,
serta mengetahui ada tidaknya modifikasi bioplastik akibat penambahan selulosa.

3.2.1 Metode Sampling


Pengambilan data dilakukan pada saat surut terendah mengikuti garis
transek kuadrat, sebelumnya telah dilakukan survey jelajah untuk menentukan
lokasi. Parameter lain yang diamati yaitu suhu, salinitas, derajat keasaman (pH).
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif, yaitu untuk
menguraikan sifat dari suatu fenomena sebagaimana adanya. Metode ini berkaitan
dengan pengumpulan data untuk memberikan gambaran yang jelas tentang suatu
gejala, serta menjadi dasar dalam mengambil kebijakan atau penelitian lanjutan
(Arikunto, 2006). Pramesti, 2016 Cara pengambilan sampel bersifat Sample
Survey Method yaitu pengumpulan data dengan cara mencatat sebagian kecil
populasi tetapi dapat menggambarkan sifat populasi yang diamati. Metode ini
merupakan metode yang secara kuantitatif menentukan generalisasi
8

(pengambilan keputusan atau kesimpulan secara umum) dengan keadaan


lingkungan alam yang dipelajari (Hadi, 1979). Penentuan stasiun pengamatan
digunakan metode systematic sampling, yaitu pengambilan sampel didasarkan
dari populasi yang telah diberi nomor unit atau anggota sampel diambil dari
populasi pada jarak interval waktu atau ruang dengan urutan yang seragam (Hadi,
1979). Dalam tahapan ini, digunakan metode petak tunggal yang merupakan salah
satu bagian dari metode petak. Metode ini merupakan prosedur yang umum
digunakan untuk pengambilan contoh berbagai tipe organisme termasuk
komunitas tumbuhan (Indriyanto, 2006). Satu petak contoh dibuat dengan ukuran
tertentu yang mewakili suatu tegakan hutan atau suatu komunitas tumbuhan.
Ukuran minimum petak contoh dapat ditentukan menggunakan kurva spesies
area. Luas minimum petak contoh itu ditetapkan dengan dasar bahwa
penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah spesies lebih dari
5% (Soegianto, 1994; Kusmana, 1997). Pengambilan sampel rumput laut
dilakukan pada daerah pasang surut menggunakan transek dengan jarak antar
transek garis 50 meter dan panjangnya 30 meter ke arah laut di setiap stasiun
pengamatan. Teknik sampling yang digunakan mengikuti transek garis, kemudian
setiap jarak 10 meter dilakukan pengamatan dengan menempatkan transek
kuadran berukuran 2×2 meter yang masing-masing subtranseknya berukuran
50×50 cm. Pengamatan dan pengambilansampel di Pantai Krakal dilakukan pada
saat pantai mengalami surut terendah . Dalam penelitian ini satu koloni dianggap
satu individu, jika satu koloni dari spesies yang sama dipisahkan oleh satu koloni
lainnya maka tiap bagian yang terpisah itu dianggap sebagai satu individu
tersendiri. Jika dua koloni atau lebih tumbuh di antara koloni yang lain, maka
masing-masing koloni tetap dihitung sebagai koloni yang terpisah. Kondisi dasar
dan kehadiran substrat yang diketemukan di lokasi juga dicatat (English et al.,
1994). Sampel yang diperoleh kemudian diidentifikasi secara morfologi dan
anatomi. Pengambilan data parameter lingkungan berupa suhu, salinitas, pH, dan
kecerahan yang dilakukan secara insitu setiap transek. Data substrat, predasi dan
competitor rumput laut yang ditemukan di setiap transek dicatat sebagai data
penunjang (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Pengolahan data dianalisis secara
deskriftif, dari semua jenis rumput laut yang di temukan kemudian di identifikasi
untuk mengetahui jenis - jenis yang tersebar di perairan Pulau Lemukutan dan
menentukan Struktur Komunitas Rumput Laut dengan mencari nilai komposisi
jenis, frekuensi, penutupan dan indek nilai penting rumput laut dan pengukuran
parameter fisika kimi Perairan.

1. Frekuensi
a. Frekuensi jenis (F)
Frekuensi jenis (F), yaitu peluang suatu jenis ditemukan dalam titik sampel yang
diamati. Frekuensi jenis rumput laut dihitung dengan rumus (Fachrul, 2007).
9

𝑃𝑖
Fi = ∑𝑃

Dimana : Fi = Frekuensi Jenis ke-i


Pi = Jumlah petak sampel tempat ditemukan jenis ke-i
ΣP = Jumlah total petaksampel yang diamati

b. Frekuensi Relatif (FR)


Frekuensi Relatif (FR), yaitu perbandingan antara frekuensi jenis ke-i (Fi) dan
jumlah frekuensi untuk seluruh jenis. Frekuensi Relatif rumput laut dihitung
dengan rumus (Fachrul, 2007):

𝐹𝑖
FR = x100%
𝛴𝐹

Di mana : FR = Frekuensi Relatif


Pi = Frekuensi jenis ke-i
ΣF = Jumlah frekuensi untuk seluruh jenis

2. Penutupan (Ci)
a. Penutupan Jenis (P)
Penutupan Jenis yaitu luas area yang ditutupi oleh jenis -i. Penutupan jenis
rumput laut dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Fachrul, 2007).

P = ai / A

Dimana : P = Luas area yangtertutupi


ai = Luas total penutupan ke-i
A = Luas total pengambilan sampel

b. Penutupan Relatif (PR)


Penutupan Relatif yaitu perbandingan antara penutupan individu jenis ke-i
dengan jumlah total penutupan seluruh jenis. Penutupan relatif jenis rumput laut
dapat dihitung dengan rumus (Fachrul, 2007).

𝐶𝑖
PR = 𝛴𝐶𝑖 𝑥100%

Di mana : PR = Penutupan relative jenis


10

Ci = Luas penutupan jeniske-i


Ci = Luas total penutupan seluruh jenis

3. Indeks Nilai Penting (INP)


Indeks nilai Penting (INP), digunakan untuk menghitung dan menduga
keseluruhan dari peranan jenis rumput laut di dalam satu komunitas. Semakin
tinggi nilai INP suatu jenis terhadap jenis lainnya, semakin tinggi peranan jenis
pada komunitas tersebut (Fachrul, 2007). Rumus yang digunakanuntuk
menghitung INP adalah :

INP = FR + PR

Di mana : INP = Indek Nilai Penting


FR = Frekuensi Relatif
PR = Penutupan Relatif

DAFTAR PUSTAKA
Amaluddin, 2014. Struktur Komunitas Rumput Laut di Perairan Pulau Matak
Kecamatan Palmatak Kabupaten Kepulauan Anambas

Baba, I. Ferdinand F Tilaar, Victor NR Watung. 2012. Struktur Komunitas Dan


Biomassa Rumput Laut (Seagrass) di Perairan Desa Tumbak Kecamatan
Pusomaen. J Ilmiah Platax I-1: 2302-3589

Fachrul. M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Kordi, K.H.G.M. 2011. Ekosistem Lamun (seagrass) : fungsi, potensi, penge-


lolaan. Jakarta: Rineka Cipta, 191 hal.

Luning, K. 1990. Seaweeds, There Environment Biogaphy And Ecophysiology A


Willey Interscience Publication. John Wiley and Sons. Canada.
.
Pramesti, R., AB. Susanto, Wilis A. S., Ali Ridlo, Subagiyo, Yohanes Oktaviaris.
2016. Struktur Komunitas dan Anatomi Rumput Laut di Perairan Teluk
Awur, Jepara dan Pantai Krakal, Yogyakarta. J Kelautan Tropis.
19(2):81–94.

Romimohtarto K dan Juwana. 2005. Biologi Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Soesono. 1989. Limnology. Direktora tJenderal Perikanan. Departemen Pertanian.


Bogor.
11

Susetiono, 2004. Fauna Padang Lamun Tanjung Merah Selat Lembeh. Pusat
Penelitian Oseanografi-LIPI. 106 hal.

Anda mungkin juga menyukai