Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PSIKOSOSIAL

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN CITRA TUBUH

OLEH :

NI MADE DWI ARSITA WATI


NIM. P07120015051
TINGKAT 3.2

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES DENPASAR
JURUSAN D-III KEPERAWATAN
DENPASAR
2017

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


DENGAN GANGGUAN CITRA TUBUH

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik
secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan
sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh
pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik oleh
persepsi dan pandangan orang lain. Citra tubuh dipengaruhi oleh
pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan
yang normal seperti pertumbuhan dan penuaan mempunyai efek
penampakan yang lebih besar pada tubuh dibandingkan dengan aspek
lainnya dari konsep diri. (Perry & Potter, 2005)
Body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk
dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsi dan
memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap
ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana ‘kira-kira penilaian
orang lain terhadap dirinya. (Melliana, 2006)
Menambahkan citra raga merupakan sebagian dari konsep diri
yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik. Konsep diri adalah evaluasi
individu mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Aspek
utama dalam konsep diri adalah citra raga yaitu suatu kesadaran individu
dan penerimaan terhadap physical self. Citra raga dikembangkan selama
hidup melalui pola interaksi dengan orang lain. Perkembangan citra raga
tergantung pada hubungan sosial dan merupakan proses yang panjang
dan sering kali tidak menyenangkan, karena citra raga yang selalu
diproyeksikan tidak selalu positif. (Hardy dan Hayes, 1988)
Citra tubuh adalah integrasi persepsi, pikiran dan perasaan individu
tentang bentuk, ukuran, berat tubuh dan fungsi tubuh serta bagian-
bagiannya yang digambarkan dalam bentuk penampilan fisik (Fontaine,
2003).
Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan
tidak disadari terhadap tubuhnya termasuk persepsi masa lalu dan
sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi
tubuh (Stuart-Laraia, 2005).
Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap
perubahan bentuk, struktur dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan
yang diinginkan (Stuart-Laraia, 2005).
Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan diri dalam cara
memandang dan menerima gambaran tubuh (Nanda, 2005).
Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan secara mental dalam
memandang fisik diri sendiri (Nanda, 2008).
2. Rentang Respon

a. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang kosnep diri yang


positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan
dapat diterima
b. Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang
positif dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif
maupun yang negatif dari dirinya.
c. Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk menilai dirinya
negatif dan merasa lebih rendah dari orang lain.
d. Identitas kacau adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-
aspek identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek
psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
e. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing
terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan,
kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.
3. Etiologi
a.Faktor Predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi perilaku yang objektif
dan teramati serta bersifatsubjektif dan dunia dalam pasien sendiri.
Perilaku berhubungan dengan harga diri yang rendah, keracuan
identitas, dan deporsonalisasi.
2) Faktor yang mempengaruhi peran adalah streotipik peran seks,
tuntutan peran kerja, dan harapan peran kultural.
3) Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi
ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan
perubahan dalam struktur sosial.
b. Faktor Presipitasi
1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan kejadian mengancam kehidupan
2) Ketegangan peran hubugnan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi. ada tiga
jenis transisi peran :
1. Transisi peran perkembangan
2. Transisi peran situasi
3. Transisi peran sehat /sakit

4. Pohon Masalah

Effect
Harga Diri Rendah

Core Problem
Gangguan Citra Tubuh

Causa
Penyakit Fisik
5. Tanda dan Gejala
Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan
tanda dan gejala, seperti:
a. Syok Psikologis
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak
perubahan dan dapat terjadi pada saat pertamatindakan.syok
psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi
yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien
menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari,
menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
b. Menarik diri
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi
karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara
emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan
keinginan untuk berperan dalam perawatannya.

c. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap


Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau
berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi
dengan gambaran diri yang baru.

6. Masalah Keperawatan yang Mungkin Terjadi


1) Gangguan Citra Tubuh : Perubahan bentuk tubuh
2) Harga Diri Rendah
3) Penyakit Fisik

7. Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan Data Yang Perlu Dikaji


Gangguan Citra Tubuh : Perubahan Subyektif :
bentuk tubuh a. Menolak perubahan anggota
tubuh saat ini, misalnya tidak
puas dengan hasil operasi.
b. Mengatakan hal negatif tentang
anggota tubuhnya yang tidak
berfungsi.
c. Menolak berinteraksi dengan
orang lain.
d. Mengungkapkan keinginan yang
terlalu tinggi terhadap bagian
tubuh yang terganggu.
e. Sering mengulang-ulang
mengatakan kehilangan yang
terjadi.
f. Merasa asing terhadap bagian
tubuh yang hilang.
Obyektif :
a. Perubahan anggota tubuh baik
bentuk maupun fungsi.
b. Menyembunyikan atau
memamerkan bagian tubuh yang
terganggu.
c. Menolak melihat bagian tubuh.
d. Menolak menyentuh bagian
tubuh.
e. Aktifitas sosial menurun.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor
presipitasi, penilaian stressor , suberkoping yang dimiliki paien. Setiap
melakukan pengajian ,tulis tempat pasien dirawat dan tanggal dirawat isi
pengkajian meliputi:

a. Identitas pasien. Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, status


perkawinan, agama, tanggal MRS, informan, tanggal pengkajian , No
Rumah pasien dan alamat pasien.
b. Keluhan utama/ Alasan MRS
Keluhan biasanya berupa menyendiri (menghindar dari orag lain),
komunikasi kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak
interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari - hari,
dependen
b. Faktor predisposisi. Meliputi Kehilangan , perpisahan , penolakan
orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi
berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial.
Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan,
dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu
yang terjadi ( korban perkosaan , dituduh kkn, dipenjara tiba – tiba)
perlakuan orang lain yang tidak menghargai pasien/ perasaan negatif
terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
c. Aspek Fisik / Biologis
Meliputi hasil pengukuran tanda vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan ,
TB, BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh pasien.
d. Aspek Psikososial meliputi :
1) Genogram yang menggambarkan tiga generasi.
2) Konsep diri:
a) Citra tubuh
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah
atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau
yang akan terjadi.Menolakpenjelasan perubahan tubuh ,
persepsi negatip tentang tubuh.Preokupasi dengan bagia
tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus asaan,
mengungkapkan ketakutan.

b) Identitas diri
Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan
keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.
c) Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit
, proses menua, putus sekolah, PHK
d) Ideal diri
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya :
mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.
e) Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap
diri sendiri, gangguan hubungan sosial , merendahkan
martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri. Pasien
mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga
social dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok
yang diikuti dalam masyarakat.

f) Status Mental
Kontak mata pasien kurang /tidak dapat mepertahankan
kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , pasien
suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan
perawat.
g) Mekanisme Koping
Pasien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau
menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering
menggunakan koping menarik diri).
h) Aspek Medik
Terapi yang diterima pasien bisa berupa therapy farmakologi
ECT, Psikomotor, therapy okupasional, TAK , dan rehabilitas.

2. Diagnosa Keperawatan

Selama pasien dirawat, perawat melakukan tindakan untuk diagnosa


potensial, dan akan dilanjutkan oleh perawat di Unit Rawat Jalan untuk
memonitor kemungkinan diagnosa aktual.
Beberapa diagnosa gangguan citra tubuh adalah potensial gangguan citra
tubuh yang berhubungan dengan efek pembedahan serta menarik diri yang
berhubungan dengan perubahan penampilan (Keliat, 1998). Adapun Diagnosa
yang mungkin muncul diantaranya:
a. Gangguan konsep diri : Gangguan Citra Tubuh
b. Isolasi sosial : menarik diri
c. Defisit Perawatan Diri
Berikut ini merupakan data objektif dan data subjektif yang sering
ditemukan pada gangguan citra tubuh :
Data Objektif :
a. Mengurung diri
b. Dari hasil pemeriksaan dokter, pasien mengalami goncangan emosi.
c. Hilangnya bagian tubuh.
d. Perubahan anggota tubuh baik bentuk maupun fungsi.
e. Menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang terganggu.
f. Menolak melihat bagian tubuh.
g. Aktifitas sosial menurun.

Data Subyektif :
a. Nafsu makan tidak ada.
b. Sulit tidur
c. Pasien suka mengeluh nyeri di dada.
d. Pasien mengeluh sesak nafas.
e. Menolak perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas dengan
hasil operasi.
f. Mengatakan hal negatif tentang anggota tubuhnya yang tidak berfungsi.
g. Mengungkapkan perasaan tidak berdaya, tidak berharga, keputusasaan.
h. Menolak berinteraksi dengan orang lain.
i. Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi terhadap bagian tubuh yang
terganggu.
j. Sering mengulang-ulang mengatakan kehilangan yang terjadi.
k. Merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang.

3. Rencana Tindakan Keperawatan

Tujuan tindakan keperawatan bagi pasien perubahan citra tubuh adalah


meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya, peran serta pasien
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, mengidentifikasi perubahan citra
tubuh, menerima perasaan dan pikirannya, menetapkan masalah yang
dihadapinya, mengidentifikasi kemampuan koping dan sumber pendukung
lainnya, melakukan tindakan yang dapat mengembalikan integritas diri
(Keliat, 1998).
TGL/ DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
JAM KEP.
Rabu, Gangguan TUM : Setelah diberikan askep selama Bina hubungan saling percaya Hubungan saling percaya
25 citra tubuh Kepercayaan diri ... menit dalam ..x pertemuan dengan mengungkapkan merupakan dasar untuk
Nove pasien kembali diharapkan TU dan TUK dapat prinsip komunikasi kelancaran hubungan
mber normal. tercapai dengan kriteria hasil : therapeutic : interaksi selanjutnya.
1. Ekspresi wajah bersahabat
2017 1. Sapa pasien dengan ramah 1. Membina hubungan saling
2. Menunjukan rasa senang
TUK 1 : 3. Ada kontak mata dan baik secara verbal dan percaya
Pasiendapat 4. Mau berjabat tangan, mau
non verbal.
membina hubungan menyebut nama, mau 2. Perkenalkan diri dengan
saling percaya menjawab salam sopan.
5. Mau duduk berdampingan 3. Tanyakan nama lengkap
dengan perawat pasien dan nama panggilan
6. Mau mengutarakan masalah
yang disukai pasien.
yang dihadapi. 4. Jelaskan tujuan pertemuan.
5. Jujur dan menepati janji.
6. Tunjukkan sikap empati
dan menerima pasien apa
adanya.
7. Beri perhatian pada pasien
dna perhatikan kebutuhan
TUK 2 :
Pasien dapat Setelah diberikan askep selama dasar pasien
mengidentifikasi ... menit dalam ..x pertemuan
kemampuan dan diharapkan TU dan TUK dapat 1. Diskusikan kemampuan
aspek positif yang tercapai dengan kriteria hasil : dan aspek positif yang
1. Pasien dapat menyebutkan
dimilikinya dimiliki pasien. 1. Mendiskusikan tingkat
aspek positif dan
kemampuan pasien
kemampuan yang dimiliki
2. Setiap bertemu hindarkan seperti menilai realitas,
pasien
dari memberi nilai negatif. control diri atau
2. Aspek positif keluarga.
3. Aspek positif lingkungan integritas ego diperlukan
yang dimiliki pasien. 3. Usahakan memberikan sebagai dasar asuhan
pujian yang realistik. keperawatannya.
2. Reinforcement positif
akan meningkatkan
TUK 3 :
Pasien dapat harga diri pasien.
3. Pujian yang realistik
menilai kemampuan
tidak menyebabkan
yang masih bisa
Setelah diberikan askep selama
digunakan ... menit dalam ..x pertemuan pasien melakukan
diharapkan TU dan TUK dapat kegiatan hanya karena
tercapai dengan kriteria hasil : ingin mendapatkan
1. Pasien menilai kemampuan
1. Diskusikan dengan pasien pujian.
yang dapat digunakan di
kemampuan yang masih
RSJ
dapat dilakukan dalam 1. Keterbukaan dan
TUK 4 : 2. Pasien menilai kemampuan
Pasien dapat sakit. pengertian tentang
yang dapat digunakan
menetapkan dan kemampuan yang
dirumah pasien.
merencanakan 2. Keterbukaan dan dimiliki adalah prasarat
Setelah diberikan askep selama
kegiatan sesuai pengertian tentang untuk berubah.
... menit dalam ..x pertemuan 2. Pengertian tentang
dengan kemampuan kemampuan yang dimiliki
diharapkan TU dan TUK dapay kemampuan yang masih
yang dimiliki adalah prasarat untuk
tercapai dengan kriteria hasil : dimiliki pasien
berubah.
1. Pasien memiliki
memotivasi untuk tetap
kemampuan yang akan 1. Rencanakan bersama
mempertahankan
dilatih, pasien aktifitas yang dapat
penggunaannya.
2. Pasien mencoba sesuai
dilakukan setiap hari sesuai 1. Membentuk individu
jadwal harian
dengan kemampuan: yang bertanggung jawab
kegiatan mandiri, kegiatan terhadap dirinya sendiri.
dengan bantuan sebagaian,
kegiatan yang
membutuhkan bantuan
TUK 5 : total.
Pasien dapat 2. Tingkatkan kegiatan sesuai
Setelah diberikan askep selama
melakukan kegiatan dengan toleransi kondisi
... menit dalam ..x pertemuan
sesuai kondisi sakit pasien.
2. Pasien perlu bertindak
diharapkan TU dan TUK dapat 3. Beri contoh pelaksanaan
dan kemampuannya
secara realistik dalam
tercapai dengan kriteria hasil : kegiatan yang boleh
1. Pasien melakukan kegiatan kehidupannya.
dilakukan pasien.
3. Contoh perilaku yang
yang telah dilatih,
2. Pasien mampu melakukan dilihat pasien akan
beberapa kegiatan secara memotivasi pasien untuk
1. Beri kesempatan pada
mandiri melaksanakan kegiatan.
pasien untuk mencoba
kegiatan yang telah
1. Memberikan
direncanakan.
kesempatan kepada
pasien mandiri dapat
meningkatkan
2. Beri pujian atas motivasi dan harga
Setelah diberikan askep selama
keberhasilan pasien diri pasien.
... menit dalam ..x pertemuan
2. Reinforcement positif
TUK 6 :
diharapkan TU dan TUK dapat
Pasien dapat dapat meningkatkan
3. Diskusikan kemungkinan
tercapai dengan kriteria hasil :
memanfaatkan harga diri pasien.
pelaksanaan di rumah.
1. Keluarga memberi 3. Memberikan
sistem pendukung
dukungan dan pujian, kesempatan kepada
yang ada
2. keluaraga memahami jadwal pasien untuk tetap
kegiatan harian pasien melakukan kegiatan
yang biasa dilakukan.

1. Beri pendidikan kesehatan


pada keluarga tentang cara 1. Mendorong keluarga
merawat pasien dengan untuk mampu merawat
harga diri rendah. pasien mandiri di rumah.
2. Bantu keluarga 2. Support system keluarga
memberikan dukungan akan sangat
selama pasien dirawat. mempengaruhi dalam
mempercepat proses
3. Bantu keluarga penyembuhan pasien.
3. Meningkatkan peran
menyiapkan lingkungan
serta keluarga dalam
rumah.
merawat pasien di
rumah.
TUK 7 : Setelah diberikan askep selama 1. Diskusikan dengan Pasien 1. Pasien mengerti dan
Pasien mendapatkan ... menit dalam ..x pertemuan tentang manfaat dan paham mengenai
manfaat obat diharapkan TU dan TUK dapat kerugisn tidak minum manfaat dan efek
dengan 6B tercapai dengan kriteria hasil : obat, nama, warna, dosis, samping obat
2. Agar pasien dalam
1. Manfaat minum obat cara, efek terapi dan efek
minum obat dapat secara
2. Kerugian tidak minum obat samping penggunaan obat
tepat dan teratur
3. Nama,warna dosis, efak 2. Pantau Pasien dalam
3. Membuat pasien
terapi dan efek samping penggunaan obat
menjadi mandiri dan
obat 3. Anjurkan Pasien minta
mengerti mengenai
sendiri obat pada perawat
manfaat obat
agar dapat merasakan 4. Menambah semangat
manfaatnya pasien
4. Beri pujian jika Pasien
menggunakan obat dengan
benar
4. Implementasi
Pelaksanaan atau implementasi perawatan merupakan tindakan dari
rencana keperawatan yang disusun sebelumnya berdasarkan prioritas
yang telah dibuat dimana tindakan yang diberikan mencakup tindakan
mandiri dan kolaboratif. Pada situasi nyata sering impelmentasi jauh
berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa
menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan tindakan
keperawatan yang biasa adalah rencana tidak tertulis yaitu apa yang
dipikirkan, dirasakan, itu yang dilaksanakan. Hal ini sangat
membahayakan pasien dan perawat jika berakibat fatal dan juga tidak
memenuhi aspek legal. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah
direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana
perawatan masih sesuai dan dibutuhkan pasien sesuai kondisi saat ini.
Setelah semua tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh
dilaksanakan. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka
kontrak dengan pasien dilaksanakan. Dokumentasikan semua tidakan
yang telah dilaksanakan beserta respon pasien (Keliat, 2006,).

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses berkelanjutan untuk menilai aspek dari
tindakan yang dilakukan secara terus menerus terhadap respon pasien
evaluasi adalah hasil yang dilihat dan perkembangan persepsi pasien
pertumbuhan perbandingan perilakunya dengan kepribadian yang
sehat.Evaluasi dilakukan dengan pendekatan SOAP:
S : Respon subyektif pasien terhadap keperawatan yang telah
dilaksanakan
O : Respon objektif pasien terhadap keperawatan yang dilaksanakan
A : Analisa ulang atas data subyektif dan objektif untuk
menyimpulkan apakah masih tetap atau masuk giliran baru.
P : Perencanaan untuk tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada
respon pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Honigman, Rosberta dan David J. Castle. 2007. Living With Your Looks. Victoria:
University of Western Australia Press.

Keliat, B.A. 1994. Gangguan Konsep Diri. Jakarta : EGC.

Larsen, P. D & Lubkin, I. M. (2009). Chronic illness: impact and intervention,


Sudbury, Jones and Bartlett Publishers.

Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : CV Andi


Offset.

Potter, P.A, Perry, A.G.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,


Proses, Dan Praktik.Edisi 4.Volume 1.Alih Bahasa : Yasmin Asih, dkk.
Jakarta : EGC.

Samura, Jul Asdar Putra. 2011. Hubungan Perubahan Fisik Pada Masa Pubertas
Dengan Citra Tubuh Remaja Putri Kelas 1 Di SMP Nusantara Lubuk
Pakam. Volume 1 No 1.

Stuart dan Sundeen. 1995. Buku Keperawatan (Ahli Bahasa) Achir Yani S.Hamid,
Edisi 3. Jakarta : EGC.

Suliswati. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Bangli,...............................2017
PEMBIMBING PRAKTIK/CI MAHASISWA

(………………………………….) (Ni Made Dwi Arsita Wati)


NIP. NIM.P07120015051

PEMBIMBING AKADEMIK/CT

(…………………………………)
NIP.