Anda di halaman 1dari 117

FORESIGHT RISET KELAUTAN

2020-2035
FORESIGHT RISET KELAUTAN
2020–2035

i
ii
FORESIGHT RISET KELAUTAN
2020–2035

Penanggung Jawab
Dr. Dirhamsyah, MA
Dr. Trina Fizzanty, M.Si.

Tim Penyusun
Lutfah Ariana
Ikbal Maulana
Purnama Alamsyah
Irene Muflikh N.
Ria Hardiyati
Chichi Shintia L.
Setiowiji Handoyo
M. Zulhamdani

Fasilitator
A’an Johan Wahyudi
Intan Suci Nurhati
Hadiyanto
Ana Setyastuti
Ratih Pangestuti

Pusat Penelitian Oseanografi


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
2017

iii
iv
KATA PENGANTAR

Poros Maritim Dunia 2045, adalah sebuah pencapaian jangka panjang Indonesia menuju 2045 yang
memfokuskan pada pembangunan kemaritiman dan kelautan untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi nasional. Namun demikian, jalan panjang bangsa maritim ini harus melewati berbagai
tantangan global dan nasional yang kompleks dan dinamis. Sebagai lembaga penelitian pemerintah,
Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI berupaya untuk mengambil posisi dan peran dalam
memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia untuk mendukung sektor kelautan.
Meskipun banyak lembaga litbang sampai saat ini diakui masih belum mampu menjadi arus utama
dalam pembangunan, celah dan peluang iptek masih sangat lebar untuk diungkap lebih jauh.
Pada tahun 2017, P2O LIPI bekerja sama dengan Pusat Penelitian Perkembangan Iptek
(PAPPIPTEK) LIPI menyusun Dokumen Foresight Riset Kelautan Indonesia 2020 – 2035. Dokumen
ini merupakan hasil eksplorasi dan refleksi dari isu-isu, tantangan hingga riset strategis di masa
depan yang digali dari berbagai sumber, mulai dari acuan global di sektor kelautan masa depan di
negara-negara maju, sampai kerangka kebijakan nasional seperti Poros Maritim Indonesia 2045,
Rencana Induk Riset Nasional 2017 – 2045 dan beberapa dokumen strategis lainnya. Tak kalah
penting, hasil pemikiran pakar dan peneliti kelautan Indonesia dan para pemangku kepentingan
serta pengambil kebijakan di beberapa Kementerian/Lembaga terkait merupakan sumber knowledge
kunci dan inspiratif yang dikembangkan dalam Foresight Kelautan ini.
Sebagai hasil akhir dari dokumen ini, beberapa rekomendasi penting bagi P2O LIPI menjadi
pembelajaran berharga untuk mempersiapkan organisasi menentukan riset ke depan dalam
lingkungan yang penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, P2O sebagai entitas LIPI akan berperan
aktif dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk mendukung kebijakan
pemerintah terutama dalam mengelola sumberdaya alam laut, lingkungan laut, budaya maritim
serta pengembangan sumberdaya manusia.
Sebagai sebuah living document, masih banyak kekurangan untuk kelengkapan data dan informasi
dokumen ini di sepanjang waktu. Oleh karena itu, kritik, saran dan masukan dari pembaca dan
khalayak ilmiah akan sangat dibutuhkan dalam proses penyempurnaannya. Atas nama pimpinan
P2O LIPI, saya mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung proses
kegiatan Foresight ini, mulai dari pimpinan LIPI, peneliti P2O, Bappenas, Kementerian Kelautan
dan Perikanan (KKP), Kemenkomar, BPPT, pakar akademisi, praktisi, LSM dan pihak-pihak yang
ikut bekerja keras memberikan curah pikirnya selama aktivitas ini berlangsung. Tak lupa, saya
sangat mengapresiasi kerja keras Tim Foresight PAPPIPTEK LIPI dan Tim PME P2O LIPI dalam
menyelesaikan dokumen dengan baik. Semoga Foresight Riset Kelautan 2020-2035 ini menjadi
pembuka wacana intelektual kita ke depan dan bermanfaat seluas-luasnya untuk mendukung
kemajuan iptek Indonesia.

Jakarta, 18 Desember 2017


Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI,

Dr. Dirhamsyah, MA

v
vi
SELAYANG PANDANG

Apa yang akan terjadi 10 hingga 15 tahun mendatang dengan lautan Indonesia? Ketika penelitian
mutakhir menggabungkan ilmu pengetahuan dasar dan teknologi tinggi, penelitian transformatif
mengintegrasikan penelitian mutakhir dengan industrialisasi, apakah hal itu akan menjadi tren
penelitian di beberapa disiplin ilmu?

Di tengah perubahan sosial tanpa batas, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang cepat
dengan sistem dan manajemen inovasi yang mengandalkan potensi strategis. Pusat Penelitian
Oseanografi (P2O) LIPI terus bergerak maju untuk membuat rencana jangka panjang tidak hanya
untuk iptek, tetapi juga untuk struktur organisasional, sumber daya manusia, mode manajemen, dan
struktur sumber daya penelitian. Tujuan utamanya tiada lain adalah P2O LIPI akan terus berdiri di
garis depan ilmu pengetahuan kelautan dan memainkan peran utama dalam sistem inovasi nasional,
dan bahkan memimpin dalam beberapa disiplin penelitian kelautan di dunia. Oleh karena itu,
Foresight Riset Kelautan ini menjadi penting untuk digagas dari awal.
Lebih dari 50 pakar kelautan nasional bergabung dalam mendukung kegiatan foresight yang
dijalankan selama kurang lebih 6 bulan. Dalam dokumen ini dipetakan isu dan tantangan penting
terkait sektor kelautan, baik nasional maupun global menuju 2035. Beberapa masalah ilmu
pengetahuan inti, analisis kesenjangan antara riset yang telah dilakukan dan riset di masa depan
yang relevan telah disusun berdasarkan factual phenomena Indonesia, dan akhirnya laporan strategis
mengenai peta jalan riset kelautan P2O LIPI untuk lima belas tahun di wilayah prioritas sampai
2035 telah terbentuk.
Fitur unik dari Foresight penelitian kelautan ini adalah penggunaan pendekatan kombinasi
antara kualitatif dan kuantitatif. Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (PAPPIPTEK) LIPI, salah satu
satker LIPI yang menekuni bidang kebijakan dan manajemen iptek dan inovasi, mengkoordinasikan
penelitian, memilih para ilmuwan, mengidentifikasi langkah-langkah konkret dan persyaratan tugas,
mengemukakan pendekatan penelitian, dan menyelenggarakan workshop, FGD, panel pakar, dan
tinjauan independen terhadap penelitian ini, untuk memastikan kelancaran kemajuan penelitian
strategis mengenai foresight untuk bidang prioritas.
Dalam rangka menentukan arahan penelitian, ilmuwan utama (eminent scientist) dan peneliti
harus dipilih sebagai anggota inti kelompok pakar untuk memastikan bahwa penelitian strategis
di bidang prioritas didasarkan pada penelitian mutakhir dan frontier. Cendekiawan informasi dan
dokumentasi terutama untuk analisis scientometrics dilibatkan dalam kegiatan ini untuk menjamin
efisiensi dan sistematisasi penelitian melalui pengumpulan dan analisis data.
Selain aktivitas berbasis data sekunder, beberapa pertemuan seperti Focus Group Discussion dan
Panel Pakar telah diselenggarakan secara berurutan dalam bentuk berikut: (i) Workshop di tingkat
strategis (pimpinan), (ii) workshop di tingkat peneliti; (iii) workshop di level pemangku kepentingan
nasional (stakeholder meeting); dan (iv) workshop pakar kelautan nasional (profesional).
Dalam rangka mengatasi pesatnya perkembangan iptek global dan tuntutan kebutuhan nasional,
sebuah peta jalan pada dasarnya memerlukan studi berkelanjutan, dan harus direvisi setiap 3-5
tahun. Oleh karena itu, panel ilmuwan dan peneliti harus dibentuk untuk terus mengawasi area

vii
prioritas dan masalah iptek terutama untuk manfaat jangka panjang bangsa dan melakukan studi
lebih lanjut dalam hal ini.
Kami berharap semoga dokumen ini memuat isinya dengan kuat berdasarkan konteks kelautan
Indonesia untuk menjaga masa depan. Karya ini merupakan kristalisasi hikmat dari para ilmuwan,
ditulis dengan hati-hati dan teliti berdasarkan pendekatan saintifik terintegrasi. Dengan ini, rasa
terima kasih kami yang tulus kepada semua pakar/ilmuwan yang terlibat dalam penelitian, konsultasi
dan review. Karya ini adalah usaha bersama dan kerja keras mereka yang membantu memungkinkan
dokumen ini diterbitkan untuk publik hanya dalam waktu enam bulan.
Untuk memprediksi secara tepat masa depan adalah hal yang sangat menantang. Penelitian
strategis ini mencakup berbagai area dan waktu, dan mengadopsi pendekatan penelitian baru.
Dengan demikian, dokumen ini mungkin memiliki kekurangan karena keterbatasan pengetahuan
dan penilaian. Oleh karena itu, kami menyambut kritik, saran dan sambutan yang mencerahkan dari
kalangan ilmuwan yang jauh lebih luas di seluruh Indonesia. Penerbitan dokumen ini merupakan
awal yang baru, bukan akhir dari penelitian strategis. Dengan ini, kami akan melanjutkan penelitian
kami dalam hal ini, dengan sepatutnya melepaskan hasil penelitian, dan membuat dokumen Foresight
direvisi setiap lima tahun sekali. Kami berharap, dokumen ini bisa memberikan insight baru bagi
pengambil keputusan di sektor kelautan dan kemaritiman, mulai dari Kementerian, lembaga
penelitian, industri, dan universitas untuk pembuatan kebijakan iptek mereka. Dan yang tak kalah
pentingnya, meningkatkan kesadaran masyarakat akan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat
penting bagi modernisasi Indonesia.

Tim Foresight Pappiptek LIPI

viii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR v
SELAYANG PANDANG vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi
FORESIGHT RISET xiii

PENDAHULUAN 1
VISI BIRU INDONESIA MENUJU POROS MARITIM DUNIA 1
TANTANGAN NASIONAL DALAM PEMBANGUNAN KEMARITIMAN DAN KE-
LAUTAN 2

TANTANGAN LAUT INDONESIA DAN RISET KE DEPAN 2020 – 2035 5


Ketahanan pangan 6
Ketahanan energi 9
Pencemaran laut 13
Keanekaragaman hayati laut 15
Pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan 18
Perubahan Iklim 22

ANTARA RISET KE DEPAN DAN RISET P2O LIPI: SEBUAH ANALISIS KESEN-
JANGAN 25
Analisis Kesenjangan Tema Riset Ketahanan Pangan 25
Analisis Kesenjangan Tema Penelitian Ketahanan Energi 31
Analisis Kesenjangan Tema Penelitian Pencemaran Laut 31
Analisis Kesenjangan Riset Keanekaragaman Hayati Laut 35
Analisis Kesenjangan Pengelolaan Lingkungan Pesisir yang Berkelanjutan 36
Analisis Kesenjangan Riset Perubahan Iklim 43

SINERGI RISET DAN KAPABILITAS ORGANISASI 45


SDM Peneliti P2O LIPI pada Masa 2020–2035 46
Kinerja Publikasi P2O LIPI: Sebuah Pencapaian 46
Benchmarking Publikasi Indonesia Bidang kelautan di Level Internasional 49
Benchmarking Publikasi LIPI Bidang kelautan di Level Regional dan Nasional 51
Infrastruktur 54
Balai dan Unit Pelayanan Teknis (UPT) 55
Kerja sama dan Kolaborasi Riset 56

PRIORITAS RISET P2O LIPI 2020-2035: BEBERAPA REKOMENDASI 57


REFERENSI PENDUKUNG 61
LAMPIRAN-LAMPIRAN 63
DOKUMENTASI KEGIATAN 110

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Isu Laut berdasarkan dokumen global dan nasional 5


Tabel 2. Ketersediaan stok ikan yang sehat 7
Tabel 3. Penangkapan biota laut 8
Tabel 4. Budi daya biota laut 8
Tabel 5. Pengembangan teknologi pasca panen 8
Tabel 6. Energi yang berasal dari bumi (minyak bumi, gas, dan panas bumi) 11
Tabel 7. Energi Terbarukan Hayati Laut 12
Tabel 8. Energi Terbarukan Non-hayati 12
Tabel 9. Sumber-sumber pencemaran 14
Tabel 10. Dampak pencemaran pada lingkungan dan biota 14
Tabel 11 Penanganan Pencemaran 15
Tabel 12. Penelitian keanekaragaman hayati di tiga level 17
Tabel 13. Peluang Riset Keanekaragaman hayati 18
Tabel 14. Penelitian bidang Pengelolaan lingkungan pesisir berdasarkan fungsinya 20
Tabel 15. Penelitian ke depan bidang Perubahan Iklim 23
Tabel 16. Ketersediaan stok ikan yang sehat 25
Tabel 17. Penangkapan biota laut 28
Tabel 18. Budi daya biota laut 29
Tabel 19. Pengembangan teknologi pasca panen 30
Tabel 20. Analisis kesenjangan Riset Energi ke depan dan riset P2O LIPI 31
Tabel 21. Identifikasi polutan 32
Tabel 22. Dampak pencemaran pada lingkungan dan biota 33
Tabel 23. Penanganan pencemaran 35
Tabel 24. Pengungkapan terhadap fakta-fakta akan pengaruh variabilitas iklim terhadap
ekosistem pesisir 35
Tabel 25. Dampak Stressor Lingkungan terhadap Ekosistem Pesisir 36
Tabel 26. Metode yang dapat memprediksi serta mengurangi dampak bahaya dan bencana
di pesisir 38
Tabel 27. Informasi tentang status ekosistem saat ini serta cara untuk memperbaiki keru-
sakan ekosistem yang telah terjadi 39
Tabel 28. Teknologi dalam usaha peningkatan produktivitas sumber daya laut di wilayah
pesisir 40
Tabel 29. Pemahaman ilmiah yang lebih dalam tentang keterkaitan kompleks antara sistem
manusia dan alam di wilayah pesisir 40
Tabel 30. Kompleksitas sistem manusia dan alam di wilayah pesisir terkait dengan sustain-
ability serta efisiensi alokasi SDA 41
Tabel 31. Analisis Kesenjangan penelitian bidang Keanekaragaman hayati 42
Tabel 32. Analisis kesenjangan riset Climate Variability 43
Tabel 33. Analisis kesenjangan riset Global Warming - Climate change 43
Tabel 34. Analisis kesenjangan riset perubahan iklim dengan fokus Tools 44
Tabel 35. Pemetaan RCA topik riset Indonesia dibandingkan dengan negara Asia Pasifik. 50
Tabel 36. Pemetaan RCA topik riset Indonesia dibandingkan dengan institusi kelautan global 51
Tabel 37. Performa Institusi Indonesia berdasarkan kata kunci spesifik (1) 53
Tabel 38. Performa Institusi Indonesia berdasarkan kata kunci spesifik (2) 53

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sebaran proporsi sumber energi konvensional 9


Gambar 2. Jenis-jenis sumber energi dari laut 10
Rata-rata jumlah publikasi berdasarkan keltian pada setiap jenjang
Gambar 3.
fungsional peneliti 47
Rata-rata jumlah publikasi dan H-index peneliti P2O berdasarkan kel-
Gambar 4.
tian 48
Gambar 5. Sebaran kata kunci publikasi Google Scholar peneliti P2O LIPI 48
Tahapan perkembangan riset topik riset berdasarkan jumlah dan per-
Gambar 6.
tumbuhan publikasi 49
Tahapan perkembangan riset topik riset berdasarkan Pertumbuhan
Gambar 7.
dan RCA publikasi Indonesia dibandingkan dengan Global 50
Gambar 8. Topik penelitian beberapa institusi kelautan di Indonesia 52
Gambar 9. Tahapan pengembangan riset P2O LIPI 2020 – 2030 59

xi
xii
FORESIGHT RISET

“The objective of foresight is not to predict the future, but to prepare strategies that are robust across a
range of plausible futures.” (Policy Horizon Canada, 2016)

Setiap organisasi perlu menyiapkan kebutuhan dan harapan di masa depan seperti apa meskipun
banyak hal-hal di masa depan yang tidak pasti. Antara masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang,
foresight berguna untuk mengeksplorasi ketidakpastian itu dan membantu mengantisipasi hal-hal
yang tidak kita inginkan. Foresight juga membantu melihat "weak signal" yang kemungkinannya
kecil dan kejadian berdampak besar yang kadang diabaikan.
Foresight dapat diartikan sebagai suatu proses sistematik, partisipatif yang melibatkan kemampuan
melihat masa depan dalam jangka waktu panjang untuk mengidentifikasi area riset strategis dan
munculnya teknologi baru untuk menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Dalam penyusunan foresight organisasi, seberapa besar sumber daya yang akan dialokasikan
sangat tergantung kepada beberapa faktor sebagai berikut:
• Apa tujuan dari melakukan foresight
• Siapa yang akan menindaklanjuti/mengimplementasikan hasil foresight
• Apa yang ingin dilihat
• Siapa yang akan berpartisipasi dalam foresight
• Metode apa yang digunakan

“Foresight…the process involved in "The foresight process involves intense


systematically attempting to look iterative periods of open reflection,
into the longer term future of science, networking, consultation and discussion,
technology, the economy and society leading to the joint refining of future
with the aim of identifying the areas visions and the common ownership of
of strategic research and the emerging strategies, with the aim of exploiting
generic technologies likely to yield the long term opportunities opened
greatest economic and social benefits.“ up through the impact of science,
(Martin, 1995) technology and innovation on society…
It is the discovery of a common space
for open thinking on the future and the
incubation of strategic approaches…“
Cassingena Harper (2003)

xiii
What is the future of Marine Science in P2O? Itulah pertanyaan penting yang akan dijawab
dalam proyek penelitian ini. Pada tahun 2017, Pusat Penelitian Oseanografi bekerja sama dengan
Pusat Penelitian Perkembangan Iptek menyusun kegiatan Foresight di bidang riset marine science
yang selanjutnya disebut sebagai Corporate Foresight.
Sebagai sebuah lembaga riset kelautan yang berdiri dan telah tumbuh selama lebih dari satu abad,
Pusat Penelitian Oseanografi (P2O-LIPI) membutuhkan rencana strategis nasional di bidang kelautan
Indonesia dalam jangka panjang. Rencana strategis ini tidak hanya berorientasi kepada kebutuhan
pemangku kepentingan di tingkat lokal, melainkan perlu bersinergi dengan arah yang sepadan
dengan beberapa hal, di antaranya riset global dan regional, kebutuhan penyelesaian permasalahan
nasional dan kepemilikan orisinalitas yang kontekstual dengan kebutuhan P2O.
Kenapa Foresight? Menurut Foresight International (2006), Foresight merupakan "a university
human capacity which allows people to think ahead and consider, model, create and respond to future
eventualities”. Pendekatan ini bagaimanapun juga merupakan proses berpikir yang "unconscious”
meskipun semua pihak berpikir tentang masa depan, tetapi kita tidak menyadari bahwa kita telah
terlibat dalam proses foresight itu sendiri. Dalam konteks organisasi, foresight tidak harus bersifat
universal. Proses keseluruhannya harus ditempatkan pada konteks yang tepat, dan didukung oleh
metodologi yang spesifik dalam rangka membangun kapasitas organisasi untuk foresight.
Foresight telah banyak digunakan oleh negara-negara maju dalam mendukung strategic plan
dari area riset di masa depan. Sebagai contoh foresight yang dilakukan Jepang secara kontinu sejak
tahun 1960 telah mengeluarkan daftar area riset prioritas dan daftar teknologi kunci yang penting.
Republik Rakyat Cina (RRC) dan Korea juga menentukan daftar teknologi penting berdasarkan
Delphi-Based Foresight yang dilakukan secara berkala. Jerman juga melakukan technology foresight
dalam melakukan analisis terhadap potensi dan permintaan terhadap riset dan teknologi.
Foresight P2O LIPI dirancang dengan mengombinasikan beberapa pendekatan kuantitatif
dan kualitatif dalam serangkaian proses yang bersifat sistematis, participatory, melibatkan future
intellegence gathering dalam dimensi pembentukan proses visi yang bersifat jangka medium-panjang
untuk membentuk strategi, keputusan dan implementasi di masa yang akan datang. Harper (2016)
mendefinisikan foresight sebagai salah satu pendekatan kolektif dalam mengeksplorasi, mengantisipasi
dan membentuk masa depan. Oleh karena itu, Foresight P2O LIPI 2020–2035 disusun dengan
melibatkan banyak aktor, termasuk stakeholder terkait untuk memberikan gambaran serta strategi
yang tepat. Selain itu, foresight juga mengedepankan kombinasi aktivitas seperti panel, scenario
workshop, brain-storming, consensus building, horizon scanning dan trend analysis (Harper, 2016).

xiv
PENDAHULUAN

Laut Indonesia Visi Biru Indonesia dan negara besar yang lain.
Oleh karena itu, pemerintah
Terletak di persilangan antara Menuju Poros Maritim
mempertimbangkan empat
Samudra Hindia dan Samudra Dunia
sektor utama ekonomi maritim
Pasifik yang secara geopolitis Pembangunan berbasis laut nasional, yaitu (i) transportasi
menjadikan posisi Indonesia saat ini dan ke depan tetap laut; (ii) pariwisata bahari; (iii)
sangat strategis dalam perairan
akan menjadi isu besar dan perikanan; (iv) pertambangan.
laut global. Sebagai negara
strategis. Menurut Bappenas Pe re n c a n a a n t e r s e b u t
kepulauan yang menghampar (2017), diperlukan peranan bersinergi dengan harapan
dari Sabang sampai Merauke peneliti bersama birokrat untuk pemerintah yang tertuang
dengan hampir 75% membangun kesepahaman dalam Perpres RI No 16. 2017
wilayahnya merupakan lautan
dalam mengembangkan sektor tentang kebijakan kelautan
memberikan potensi ekonomi kelautan dan kemaritiman Indonesia, di mana terdapat
yang sangat besar sehingga karena telah menjadi suatu tujuh (7) pilar sebagai
secara ekonomi sangat logis
kebutuhan bersama. pedoman bagi kementerian
jika bidang kelautan dijadikan Se b a g a i m a n a p e r n y a t a a n dan nonkementerian untuk
tumpuan dalam pembangunan Presiden dalam Rakornas dijalankan. Ketujuh pilar
ekonomi nasional. Sementara
Kemaritiman (2017), bahwa tersebut adalah 1) pengelolaan
itu, secara politik semangat pendekatan iptek sangat penting sumber daya kelautan dan
menjadikan sektor kelautan
untuk meningkatkan potensi pengembangan sumber daya
sebagai basis ekonomi nasional
ekonomi kelautan Indonesia. manus ia, 2) per tahanan ,
harus didukung oleh visi dan
konsensus bersama semua Dalam Dokumen Visi keamanan dan penegakan
pengambil kebijakan di negeri Kemaritiman Indonesia 2045, hukum, 3) tata kelola dan
ini, baik pada tataran eksekutif Indonesia ber tekad akan kelembagaan laut, 4) ekonomi
(termasuk militer dan polisi), menjadi Poros Maritim Dunia. dan infrastruktur kelautan dan
legislatif, maupun yudikatif Secara geopolitik, keberadaan peningkatan kesejahteraan
serta didukung oleh segenap Indonesia di jalur persimpangan masyarakat, 5) pengelolaan
komponen bangsa Indonesia. transportasi barang dan jasa ruang laut dan perlindungan
global menjadikan Indonesia lingkungan laut, 6) budaya
sebagai titik pertemuan maritim, dan 7) diplomasi
kepentingan politik dan maritim.
ekonomi negara adidaya

Pendahuluan || 1
Bagaimana (supaya) Tantangan Nasional perubahan karena berbagai
iptek berperan dalam mengisi tekanan. Meskipun demikian,
Dalam Pembangunan
komitmen kemaritiman upaya memaksimalkan manfaat
Indonesia maka Kementerian Kemaritiman dan dari jasa ekosistem laut ini
Ristek-Dikti menghadirkan Kelautan tidak serta merta dapat dikelola
Rencana Induk Riset Nasional Visi Kemaritiman 2045 dengan mudah. Dengan
2017–2045 (RIRN). RIRN meletakkan landasan komitmen semakin bertambahnya aktivitas
merupakan sistem nasional bangsa untuk menjadikan manusia dan tekanan alam
penelitian, pengembangan dan Indonesia sebagai Poros Maritim yang tidak bisa diprediksi,
penerapan iptek yang diarahkan Dunia di mana sektor kelautan pengelolaan laut membutuhkan
untuk menciptakan nilai tambah dan kemaritiman diharapkan sinergi dari berbagai aktor,
sumber daya alam dalam rangka dapat berkontribusi hingga baik dari pemerintah, industri,
transformasi ekonomi nasional 30% dari PDB pada tahun ilmuwan hingga masyarakat
menuju innovation driven 2045. Kontribusi utama sektor maupun pemerhati kelestarian
economy. Oleh karena itu, untuk kelautan dan kemaritiman lingkungan global.
menghindari diskonektivitas tersebut mencakup transportasi Maraknya aktivitas
hasil riset dengan kebutuhan laut, pariwisata bahari, berbasis “laut” seperti
pemangku kepentingan, perlu perikanan dan pertambangan. industri pariwisata, reklamasi,
dirancang sebuah rencana riset Selain itu, peluang ekonomi pembangunan tol laut dan lain-
ke depan yang mengadaptasi lainnya diharapkan juga lain juga sangat berpengaruh
tantangan dan hasil luaran yang muncul dari bioteknologi terhadap perubahan lingkungan
diharapkan seperti apa, sesuai kelautan dan eksplorasi sumber masyarakat pesisir, terutama
dengan kapasitas sumber daya energi baru dari laut seperti mata pencaharian dan budaya
yang dimiliki. Berdasarkan gelombang laut, arus laut, bahari lokal. Oleh karena itu,
bidang riset RIRN, kemaritiman angin hingga sumber energi untuk mendukung program
merupakan satu dari delapan potensial dari gunung berapi nasional maritim 2045,
bidang riset yang diprioritaskan. bawah laut yang masih banyak diperlukan tata kelola yang
Foresight Riset Kelautan menyimpan kekayaan alam. baik mulai dari sektor ekonomi,
P2O LIPI disusun dengan Tidak hanya pembangunan sosial, politik, budaya serta
mengacu kepada kerangka ekonomi, Visi Kemaritiman pertahanan dan keamanan
strategi utama Riset Kelautan 2045 juga menekankan pada untuk menciptakan ekonomi
2018–2045 yang mencakup pembangunan kekuatan berbasis kelautan/kemaritiman
tiga aspek utama: kebijakan hankam maritim dan budaya yang berkesinambungan.
pembangunan maritim maritim untuk mendorong Di antara berbagai
2025–2050, kebutuhan iptek kedaulatan wilayah nasional tantangan tersebut, terbentang
maritim dan status riset maritim, yang kuat dan maju. peluang besar laut tropikal
kebijakan dan roadmap riset Jasa-jasa ekosistem laut Indonesia dalam memberi
maritim 2020–2045 serta seper ti per ubahan iklim, manfaat untuk memacu
penguatan sumber daya riset penyerapan karbon (carbon pertumbuhan nasional. Tanpa
maritim. Beberapa landasan sink), siklus nutrien, perubahan disadari, potensi kekayaan
penting dari perspektif kebijakan suhu sampai kepada proteksinya biodiversitas laut Indonesia dan
nasional dan global memperkuat terhadap lingkungan pesisir kekayaan energi laut yang masih
proyeksi riset bidang kelautan diperkirakan akan semakin terpendam menarik minat
tahun 2020–2035. bernilai mengingat aktivitas pihak asing untuk melakukan
ini semakin cepat mengalami ekspansi industri ke wilayah
kita. Lebih dari itu, kekayaan
terumbu karang Indonesia yang

2 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


luar biasa dibandingkan negara- El Nino dan La Nina, yang laut, dan atmosfer; dan antara
negara di kawasan Asia Pasifik dikenal sebagai Indian Ocean samudra dan masyarakat yang
menjadikan Indonesia sebagai Dipole (IOD). Arus Lintas berbeda. Karena keterkaitan ini,
icon penting bagi penyangga Indonesia (Arlindo/ITF) sebagai dampak perubahan global bisa
kesehatan laut global. penghubung antara Samudra dipahami melalui penelitian
Di satu sisi, laut dan Pasifik dan Samudra Hindia dengan perspektif nasional dan
koleksinya menjadi penyangga berperan membawa bahang global.
antara udara dan darat. Di (heat) dan salinitas hingga 15 Sebuah kebijakan yang baik
sisi lain, laut menjadi sumber juta m3/s dengan 0,7 TW. Hal membutuhkan informasi yang
kehidupan penting untuk ini meingindikasikan bahwa baik dan juga tepat. Sebagai
mendukung keberlangsungan potensi dari pergerakan ikan contoh, untuk mendukung
kehidupan di lingkungan pesisir yang terbawa oleh Arlindo di program Kementerian
dan masyarakat di sekitarnya. wilayah perairan tersebut sangat K e l a u t a n d a n Pe r i k a n a n
Pada kenyataannya, lingkungan besar. dalam melihat potensi dan
pesisir banyak menghadapi Potensi laut lainnya yang stok ikan, dibutuhkan data
tekanan dan tantangan dari saat ini banyak mendapat dan informasi yang memadai
berbagai aktivitas antropogenik perhatian dunia internasional terkait hal tersebut. Pemetaan
yang mengakibatkan banyak adalah isu mengenai blue carbon. lokasi potensial budi daya laut
perubahan, termasuk penurunan Indonesia dengan luasan laut membutuhkan integrasi data
keanekaragaman ekosistem yang besar memiliki peran lapangan dan penginderaan
dan kualitas lingkungan akibat sentral dalam penurunan emisi jauh. Di samping itu, proses yang
pencemaran atau polusi. karbon dunia sehingga isu blue sangat dinamis terkait aktivitas
Dampak forcings dari carbon semakin relevan untuk di daratan dan variabilitas iklim
perubahan iklim terhadap diperhatikan di masa yang juga sangat dibutuhkan.
variabilitas iklim dan beberapa akan datang. Dalam hal ini, Untuk mendukung
gejala fisik di lautan, seperti blue carbon penting dalam Ekonomi Biru sebagai
pengasaman laut, kenaikan mendukung kemampuan p e n g e j a w a n t a h a n Po r o s
muka laut dan meningkatnya vegetasi pesisir (mangrove, Maritim Dunia 2045, peran
suhu laut juga banyak dirasakan. lamun, rawa payau dan rawa ilmu pengetahuan, teknologi
Bahkan, dampak ekstrem asin) dalam mengikat karbon dan inovasi menjadi kunci
bisa dirasakan di sebagian di atmosfer melalui aktivitas dalam menerjemahkan
wilayah Indonesia, terutama biologis dan menyimpannya program dan kebijakan yang
ketika terjadi badai ekstrem dalam sedimen dasar. akan dijalankan. Iptek sendiri
yang mengganggu cuaca dan tidak mengenal dikotomi
perubahan lingkungan di Kebijakan Berbasis Riset negara kepulauan vs negara
sekitarnya. Selain itu, perubahan kontinental. Misalkan, Jepang
Lautan sangat penting bagi
iklim ini juga berdampak sangat maju dengan teknologi
lingkungan, budaya, kesehatan
terhadap wilayah yang rentan perkeretaapian, sedangkan AS
masyarakat, ekonomi, dan
seperti wilayah untuk budi daya, sangat maju dalam teknologi
masyarakat Indonesia. Studi
pertanian dan penyedia energi. pesawat. Dalam hal ini, iptek
ilmiah tentang laut memberi
Hal ini terutama didorong oleh harus bisa menjawab empat hal
dasar untuk memahami dan
telekoneksi antara Samudra esensi sebagai negara kepulauan,
mengelola sumber daya laut
Pasifik dan Samudra Hindia. yaitu berdaulat di laut, poros
secara lestari, terutama dalam
Di satu sisi, fenomena El Nino maritim dunia, sumber
rangka mempercepat perubahan
dan La Nina di Samudra Pasifik pangan laut dan pemersatu
global. Ilmu kelautan jauh
juga akan memengaruhi iklim bangsa. Dengan demikian,
melampaui wilayah perbatasan
di Benua Maritim Indonesia. apa scientific culture Indonesia
Indonesia karena keterkaitan
Di sisi lain, Samudra Hindia untuk mengembangkan iptek?
yang tak terpisahkan antara
juga memiliki fenomena serupa Jika Jepang memiliki semangat
wilayah laut; antara laut, dasar

Pendahuluan || 3
“bushido” untuk bekerja keras di beberapa kementerian dan Berkelanjutan (ocean
mempelajari suatu teknologi, Perguruan Tinggi. Jumlah sustainability) dengan
AS memiliki curiosity untuk kapal riset kelautan sekitar berbagai agenda riset berbasis
discovery, bagaimana dengan 9 unit tersebar di beberapa pemanfaatan keanekaragaman
Indonesia yang terkenal dengan institusi, seperti LIPI (Baruna hayati laut Indonesia
budaya melautnya? Indonesia Jaya VIII), BPPT (Baruna Jaya (sustainability of the use of
memiliki kearifan lokal III dan IV), BALITBANG marine resources). Dalam rangka
masyarakat pesisir mulai dari KKP (Bawal Putih), STP membangun reputasi, kapasitas
Aceh (Panglima Laot) sampai Perikanan (Madidihang), riset dan hubungan jejaring
Maluku (Sashi), yaitu bagaimana PPGL (Geomarin I dan III), nasional dan internasional, P2O
mempertahankan sumber daya dan Pushidros (2 kapal baru). LIPI merumuskan beberapa
laut supaya tetap lestari di Dengan tersebarnya tantangan penting tentang
tengah-tengah tantangan alam. institusi kelautan dan anggaran permasalahan dan kebutuhan
Aspek inilah yang seharusnya riset yang sangat minim (dana nasional terhadap potensi
terus dipertahankan untuk riset keseluruhan termasuk laut sebagai penyedia dan
pengelolaan laut yang melekat kelautan hanya 0,25% PDB penyangga sumber kehidupan
dengan local/indigenous pada tahun 2017) maka akan di masa depan. Selanjutnya,
culturemaritim Indonesia. sulit mendapatkan inovasi di agenda ini dilanjutkan sampai
Sampai saat ini, pemerintah bidang maritim. Bahkan, topik kepada perumusan riset ke
bersama-sama dengan berbagai kajian terkadang merupakan depan di bidang kelautan
pihak dari akademisi, industri duplikasi dari penelitian- nasional yang bisa menyediakan
dan masyarakat berupaya penelitian sebelumnya solusi dan berkontribusi untuk
untuk semakin memperhatikan karena kurangnya koordinasi kebutuhan nasional, baik
laut melalui kolaborasi dan antar-institusi tersebut. Oleh bagi pemangku kepentingan
kerja sama berkelanjutan. karena itu, langkah baru yang maupun masyarakat Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui, digagas pada tahun 2017 yaitu Melalui Foresight Riset
institusi riset kelautan tersebar Konsorsium Riset Samudra Kelautan 2020–2035, akan
yang merupakan salah satu dilihat lebih jauh bagaimana
kebijakan yang sudah tepat iptek bisa membuka peluang
untuk mendorong kebersamaan baru dan mengidentifikasi
1. Balitbang KKP
dan sinergi program antar- kapabilitas serta prioritas yang
2. LIPI (Oseanografi) institusi. dibutuhkan bagi keberlanjutan
3. PPGL-ESDM Dalam periode 2015–2019 pengelolaan laut di masa yang
4. BIG (Kelautan) LIPI mengimplementasikan akan datang.
5. Lapan (Kelautan) riset menuju Laut yang
6. BPPT
7. Pushidros TNI AL
8. Perguruan Tinggi
(negeri dan swasta)

4 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


TANTANGAN LAUT INDONESIA DAN RISET KE DEPAN
2020 - 2035
Membayangkan laut tidaklah kolektif, dari peneliti, pakar menggarisbawahi pentingnya
terbatas. Tidak hanya kekayaan sampai pengambill kebijakan keberlanjutan laut di masa yang
dan potensi laut yang masih yang relevan. Bahkan, tidak akan datang meliputi Sustainable
belum tergali dan selesai sekadar expert judgment yang Development Goals (SDGs),
ditemukan, melainkan dijadikan acuan, aspek historis Ocean Science Governance, Ocean
ancaman terhadap laut, pada yang penting seperti kinerja Atlas, National Marine Science
kenyataannya, mengakibatkan publikasi riset yang melandasi Australia Program 2015–2025,
tekanan dan perubahan yang pengetahuan tentang laut Future of the Sea dari UK, STT
secara perlahan mengubah menjadi baseline informasi Foresight dari Belanda, Roadmap
lanskap kelautan nasional hingga untuk melengkapi perspektif Iptek kelautan Cina 2050 dan
global. Untuk itu, bagaimana “foresight” dari riset kelautan beberapa dokumen relevan
mempresisi isu laut yang relevan nasional. lainnya yang menjadi referensi
untuk Indonesia diperlukan Berdasarkan pemetaan isu kaya yang mengarahkan
sumber data dan informasi yang global dari beberapa dokumen tantangan laut global dan
luas sehingga pada akhirnya negara maju dan berkembang, koneksinya terhadap isu laut
dapat terfokus. Identifikasi isu, ditemukan beberapa tantangan Indonesia. Berikut beberapa
permasalahan dan tantangan di masyarakat global dan perbandingan isu dan tantangan
sektor kelautan dari dokumen masyarakat Indonesia dalam di sektor kemaritiman dan
ini mengacu pada beberapa melihat laut ke depan seperti kelautan dalam perspektif global
perspektif nasional hinggal apa. Dokumen penting yang dan nasional.
global, dari individu hingga

Tabel 1. Isu Laut Berdasarkan Dokumen Global dan Nasional

Isu Tema Riset Kelautan (Ke-


No. Ocean Atlas Global Ocean Science
menko Maritim)
1 Pengelolaan perikanan (fisheries Fungsi dan proses ekosistem laut
Kedaulatan maritim, keaman-
management) (Marine ecosystems functions and
an dan keselamatan maritim
processes)
2 Budi daya (Aquaculture) Lautan dan iklim (Ocean and
Ketahanan Energi
climate)
3 Eutrofikasi Kesehatan laut (Ocean health) Ketahanan pangan (aquacul-
ture, sustainable fisheries)
4 Polusi atau limbah Kesehatan dan kesejahteraan
Keanekaragaman hayati dan
manusia (Human health and well-
konservasi
being)

Tantangan Laut Indonesia ... || 5


5 Sampah Plastik Pembangunan Biru (Blue growth) Variabilitas dan perubahan
iklim
6 Keanekaragaman hayati Dasar laut dan bencana kelautan Alokasi sumber daya: sumber
(Ocean crust and marine geohaz- daya alam dan aset lingkun-
ards) gan
7 Perubahan iklim Teknologi kelautan (Ocean tech- Pemanfaatan hasil laut seb-
nology) agai bioteknologi
8 Pemanasan dan kenaikan air laut Observasi laut dan data kelautan
Pemanfaatan air laut untuk
(Ocean observation and marine
sumber daya non-energi
data)
9 Wilayah pesisir Konektivitas (logistik, trans-
portasi, infrastruktur)
10 Pengasaman laut Pembangunan sumber daya
manusia kelautan
11 A look into the past Budaya bahari
12 Tata kelola laut (Ocean gover-
Observasi laut
nance)
13 Tambang bawah laut (Deep sea
Pariwisata bahari
mining)
14 Energi dari laut Eksplorasi laut dalam
15 Pariwisata laut (Marine tourism) Kesehatan laut (sampah laut,
pencemaran)
16 Maritime transport

Perkembangan isu dan


tantangan di sektor kelautan Enam tema tersebut adalah pertanian di daerah-daerah di
tersebut diintegrasikan dengan sebagai berikut sekitar kota besar dan kawasan
pandangan pakar, peneliti, dan 1. ketahanan pangan, industri. Pada saat yang sama
pemangku kebijakan nasional 2. ketahanan energi, kebutuhan pangan juga akan
melalui beberapa tahap yang terus meningkat. Mengingat
3. pencemaran laut, saat ini sebagian kebutuhan
dijalankan secara paralel, di
4. keanekaragaman hayati laut, ini harus dipenuhi dengan
antaranya workshop, focus group
discussion, panel pakar dan 5. pengelolaan lingkungan mengimpor sejumlah bahan
survei online Delphi putaran pesisir yang berkelanjutan, pokok dari luar negeri maka
1. Berbagai pemikiran dan 6. perubahan Iklim. impor bahan pokok dan beban
pandangan ke depan dari pakar biaya yang harus ditanggung
Berikut deskripsi dari setiap menjadikan posisi ketahanan
kemudian diformulasikan
tema isu dan tantangan di sektor pangan Indonesia kian rentan.
dengan hasil pemetaan isu,
kelautan nasional. Sebagai negara kepulauan
tantangan dan riset berdasarkan
publikasi internasional terbesar di dunia, Indonesia
(lampiran). 1. Ketahanan Pangan memiliki potensi laut dan pesisir
Dari hasil interaksi data dan yang bisa dieksploitasi sebagai
informasi yang mengemukakan Tantangan lahan sumber pangan. Sebagian
banyak permasalahan dan masyarakat Indonesia juga telah
Seiring dengan pertumbuhan mengandalkan kegiatan mencari
isu tentang lautan Indonesia jumlah penduduk dan
dan global, serta tantangan nafkahnya dari laut dengan
peningkatan kegiatan ekonomi, menjadi nelayan, ataupun dari
masyarakat Indonesia dan global kebutuhan akan kawasan
terhadap permasalahan yang ada pesisir pantai dengan menjadi
pemukiman dan industri juga petambak udang, bandeng,
maka diidentifikasi enam tema ikut meningkat. Hal ini akan
tantangan nasional di sektor ataupun membudi dayakan
menyusutkan lahan pertanian rumput laut. Laut dan pantai
kelautan menuju 2020–2035. yang ada, khususnya lahan

6 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


yang tereksploitasi masih belum tekanan ekologis dari kegiatan aktivitasnya yang memberi
optimal. Dengan intervensi manusia berupa polusi ataupun dampak negatif pada laut.
pengetahuan, teknologi dan kerusakan habitat yang Pemahaman ini diperoleh
modal, Indonesia masih bisa mengancam ketersediaan dan melalui berbagai kegiatan
menggali lebih besar lagi sumber kesehatan sumber pangan laut. penelitian dan pemantauan.
daya laut. Laut juga mengalami dampak
Potensi laut yang besar dari perubahan iklim yang turut Penelitian yang perlu
ini tidak serta merta dapat memengaruhi biota-biota yang dilakukan
dimanfaatkan begitu saja, hidup di dalamnya.
Pe n e l i t i a n - p e n e l i t i a n
tetapi harus terlebih dahulu Ta n t a n g a n - t a n t a n g a n
berikut dilakukan agar bisa
ditentukan lokasinya, dan tersebut perlu dipahami agar
memanfaatkan sumber
ditemukan cara untuk menggali bangsa ini dapat memanfaatkan
pangan laut yang sehat
potensi tersebut. Selain itu, laut secara berkelanjutan, dan
secara berkelanjutan dan
laut juga menanggung beban mengurangi atau mengubah
berkesinambungan.
Tabel 2. Ketersediaan stok ikan yang sehat

Penelitian Manfaat
Mengembangkan berbagai metode pengukuran Memproduksi informasi bagi industri penangkapan
stok biota baik secara langsung, maupun tidak ikan/non-ikan.
langsung dengan mengukur luas habitat,
ataupun unsur-unsur lain dalam ekosistem yang
memengaruhi keberadaan biota tersebut.

Memahami siklus hidup dan pola migrasi Untuk merancang tatakelola penangkapan yang
sepanjang siklus hidup biota yang potensial tepat di tingkat lokal dan nasional yang bisa menjaga
sebagai bahan pangan atau bahan bermanfaat keberlanjutan produktivitas perikanan, misalnya
lainnya. mencegah tangkap lebih (overfishing) yang menguras
stok ikan/non-ikan atau melarang penggunaan
bahan peledak dalam penangkapan ikan, mencegah
penangkapan pada siklus hidup tertentu (misalnya pada
saat ikan melakukan pemijahan).
Mengenali pengaruh pencemaran yang berasal Rekomendasi kebijakan/regulasi terkait penanganan
dari kawasan hunian, pertanian dan industri limbah, dan memberi gambaran tentang prospek
terhadap produktivitas penangkapan maupun investasi di industri perikanan di suatu daerah.
budi daya ikan/non-ikan.
Pengembangan cara/teknik konservasi dan Rekomendasi kebijakan untuk memulihkan kesehatan
pemulihan habitat untuk mengembalikan atau ekosistem.
meningkatkan produktivitas perikanan.
Bioprespeksi terhadap biota-biota yang tersedia Melihat prospek pemanfaatan biota untuk berbagai
dalam jumlah cukup berarti. keperluan (obat, kosmetik atau lainnya) dengan
menggunakan iptek.
Memahami interaksi unsur-unsur dalam Rekomendasi regulasi penangkapan berbagai jenis ikan.
ekosistem dan pengaruh intensitas dan cara
penangkapan terhadap dinamika dan kerentanan
ekosistem.
Pengaruh spesies yang tercemar pada manusia Memberi informasi pada nelayan dan publik tentang
yang mengkonsumsinya tingkat kelayakan produk pangan laut.
Menjaga stabilitas ketersediaan stok dengan
memasukkan kembali spesies-spesies yang mulai
langka (misalnya dengan menyebarkan kembali
telur atau larva).
Pengaruh perubahan iklim pada ketahanan Memberikan informasi pada publik dan pemerintah
pangan terkait adaptasi yang harus dilakukan untuk
meminimalkan dampak perubahan iklim.

Tantangan Laut Indonesia ... || 7


Tabel 3. Penangkapan biota lau

Penelitian Manfaat
Pengembangan teknik budi daya biota laut yang Mempromosikan komoditas laut yang baru.
memiliki potensi komersial berdasarkan kajian
bioprospeksi, namun belum menjadi perhatian
masyarakat ataupun lembaga lain.
Identifikasi stok biota laut dan tingkat intensitas Regulasi penangkapan di tingkat lokal dan nasional,
penangkapannya yang sesuai dengan stok untuk dan penguatan kelembagaan nasional dan kerja
menjamin kelangsungan usaha penangkapan biota sama internasional untuk mencegah perikanan yang
laut. ilegal, tak terlaporkan dan tak teregulasi atau illegal,
unreported, and unregulated fishing (IUU fishing).
Pengembangan metode penangkapan ikan yang Untuk menjamin investasi di bidang penangkapan
efektif dengan menggunakan berbagai teknologi ikan/non-ikan yang menguntungkan.
terkini.

Tabel 4. Budi daya biota laut

Penelitian Manfaat
Pengaruh budi daya biota laut pada ekosistem Untuk menjamin kegiatan budi daya yang
di sekitarnya yang diakibatkan oleh pemberian ramah lingkungan.
makanan, antibiotik atau senyawa kimia lainnya; juga
konsentrasi biota yang tinggi akan menghasilkan
kotoran yang bisa menyebabkan algal bloom ataupun
menyebarkan mikroba yang berbahaya.
Pemuliaan bibit unggul dan pengembangannya Untuk kepentingan penyediaan bibit unggul
melalui rekayasa genetika. bagi nelayan.
Memahami proses penyebaran penyakit di kawasan Memproduksi pengetahuan yang bisa
budi daya dan cara pengelolaan penanggulangannya digunakan untuk mengatasi wabah penyakit
secara kolektif. pada biota di kawasan budi daya.
Pengembangan teknik budi daya biota laut yang Membantu masyarakat untuk melakukan
efisien dan ramah lingkungan. kegiatan budi daya yang lebih produktif tetapi
tidak berdampak negatif pada lingkungan.

Tabel 5. Pengembangan teknologi pasca panen


Penelitian Manfaat
Pengembangan teknologi pengolahan biota laut atau Memperoleh alternatif proses pengolahan paska
komoditas hayati laut yang terjangkau dan bebas dari panen yang sehat yang bisa digunakan nelayan
bahan-bahan berbahaya. atau petambak.
Pengembangan kit untuk mengidentifikasi secara cepat Membantu masyarakat mengenali produk laut
makanan-makanan yang tercemar atau menggunakan atau hasil olahannya yang sehat.
bahan berbahaya.
Penggunaan bioteknologi untuk mengembangkan Membantu industri untuk meningkatkan nilai
produk-produk turunan dari biota laut, baik untuk keper- tambah dari produk laut.
luan pangan maupun non pangan.
Memanfaatkan limbah hasil laut sebagai bahan pangan Menjadikan limbah menjadi sesuatu yang bisa
fungsional dan farmasi/suplemen (gelatin, chitin, chito- dikomersialkan
san) melalui koordinasi dengan instansi terkait.

8 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


2. Ketahanan Energi untuk sumber energi nasional harganya menjadi murah dan
perlu memikirkan pentingnya dapat diandalkan serta memberi
Tantangan energi Nasional membangun ketahanan energi manfaat secara berkelanjutan.
Sistem energi global saat ini dari sumber lain yang lebih Kebutuhan energi nasional
masih didominasi oleh bahan potensial dan berkelanjutan. akan terus meningkat dalam
bakar fosil. Akan tetapi, Ketahanan energi ini sangat memenuhi berbagai aktivitas
ketersediaan suplai energi diperlukan untuk mendukung manusia, salah satunya, tuntutan
konvensional ini makin lama perekonomian Indonesia, masyarakat global terhadap
makin menipis. Indonesia terutama ketika sumber energi sumber energi terbarukan yang
sebagai salah satu negara yang tersebut menjadi lebih pasti ramah lingkungan semakin
mengandalkan sektor migas untuk dapat diakses sehingga tinggi.

Sumber: IPCC ARS Synthesis Report, 2017


Gambar 1. Sebaran proporsi sumber energi konvensional

Melihat laut, kita bisa bahwa komposisi energi yang sumber energi tersebut masih
membayangkan potensi besar digunakan yang bersumber belum banyak tergarap padahal
akan sumber energi yang tersedia. dari ocean energy masih sangat laut memberikan keragaman
Akan tetapi, potensi yang kecil, berada pada tingkat 0,2%. sumber energi yang luar biasa
dilihat saat ini menggambarkan Angka ini menunjukkan bahwa untuk menunjang kebutuhan
nasional kita.

Kenapa laut kaya akan energi? Dibandingkan darat, laut menyerap panas paling besar.
Lebih dari 90% energi terakumulasi dalam sistem iklim yang terpetakan antara 1971
dan 2010 berada di laut. Temperatur di darat akan tetap tinggi dalam sejarahnya,
sedangkan temperatur di laut semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Tantangan Laut Indonesia ... || 9


Pemanasan global dan manusia dalam perubahan sumber energi alternatif dan
perubahan iklim merupakan iklim yang sangat nyata dan terbaharukan.
hal nyata yang telah, sedang dan tidak terbantahkan. Terdapat 8 Sumber-sumber energi
akan terus terjadi. Di Indonesia, usulan jenis energi terbaharukan dari laut sangat beragam,
terdapat banyak bukti terjadinya dari lautan Indonesia untuk diantaranya:
perubahan iklim dan pengaruh dapat dimanfaatkan sebagai

Gambar 2. Jenis-jenis sumber energi dari laut

Harapan terbesar saat pada permukaan lautan. yang berasal dari energi angin.
ini terkait penyerapan polusi Bagaimanapun juga, hal tersebut Sebagai contoh, pemanfaatan
adalah laut sebab di daratan, dapat dipandang positif karena tenaga angin di Belanda dapat
fungsi hutan sudah banyak yang terpenting adalah energi diperuntukkan untuk sumber
berkurang akibat penggunaan di laut bertambah. Sebagai energi kereta api.
lahan secara masif walaupun contoh, untuk mengidentifikasi
Pada prinsipnya, energi
pada kenyataannya kemampuan dan memantau perubahan yang
bersifat kekal, tidak akan
daratan, dalam hal ini hutan, terjadi di laut, Jepang secara
bertambah atau berkurang
dalam menyerap polusi yang rutin berkunjung ke lautan
maupun hilang, hanya saja
dihasilkan akibat aktivitas sisi selatan Jepang. Pada titik
berubah bentuk. Prinsip ini
manusia, tiga kali lipat lebih di area laut tertentu, Jepang
menunjukkan tiga kondisi
cepat dibandingkan penyerapan melakukan pengukuran-
paling umum yang terjadi saat
oleh laut. Hal ini dikarenakan pengukuran, seperti mengukur
ini. Tiga kondisi tersebut dapat
hutan memiliki berlapis kedalaman laut tersebut secara
dimanfaatkan ketika kondisi
material dalam menyerap racun- berkala untuk mengidentifikasi
bumi semakin memanas dan
racun tersebut, sedangkan laut perubahan-perubahan yang
energi yang dihasilkan bisa
diyakini hanya memiliki satu mungkin terjadi yang terlihat
dimanfaatkan sebagai energi
layer saja. dari perbedaan-perbedaan hasil
kalor, energi kinetik, dan energi
Lautan menerima polutan pengukuran dari waktu yang
potensial.
berbentuk karbon. Ketika berbeda-beda. Fakta lain saat
proses penerimaan polutan ini, energi kinetik di atmosfer
terjadi, terjadi pula pemanasan terus bertambah, khususnya

10 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Salah satu sumber energi yang sangat potensial dari laut adalah angin. Secara ideal,
dalam upaya mitigasi perubahan iklim, potensi energi angin dapat dimanfaatkan kare-
na laut menyerap energi berlebih dari atmosfer.
Sumber energi lainnya berasal dari pemanfaatan perbedaan suhu laut melalui kon-
versi suhu laut atau Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). OTEC memanfaatkan
perbedaan suhu antara permukaan laut dan laut dalam untuk mengalirkan cairan kon-
densor yang dapat menggerakkan turbin daya.
Selain itu, Indonesia memiliki potensi laut yang sangat luas dan berkesempatan untuk
mengambil peran besar dalam menyerap karbon dioksida. Di lain pihak, alga berpo-
tensi untuk dipanen sebagai bahan baku biofuel yang prosesnya memiliki efisiensi 40%
lebih tinggi dibandingkan biofuel dari bahan baku minyak kelapa sawit (CPO).

Riset untuk penemuan dan pemulihannya. mengenai konsekuensi sosio-


Ketahanan Energi Termasuk di dalamnya adalah ekonomi dari pengembangan
teknik konversi energi dan energi komersial yang berasal
Tujuan Riset pengembangan prosedur dari laut.
mitigasi untuk mengatasi
M e m a h a m i a s a l d a n dampak ekologis dan kajian
aksesibilitas sumber energi dan Riset untuk Ketahanan
dampak lingkungan terkait Energi

Tabel 6. Energi yang berasal dari bumi (minyak bumi, gas, dan panas bumi)
Penelitian Manfaat
Riset cekungan yang berpotensi hidrokarbon (minyak Menemukan lokasi baru dari sumber energi
bumi dan gas). Lokasi yang menjadi prioritas adalah di konvensional.
daerah konvergen atau daerah gundukan gunung api
(misalnya Laut Banda, Sulawesi).
Pemetaan resolusi tinggi geologi dasar laut (seabed Mengidentifikasi potensi dan lokasi SDA, termasuk
dan subsea) yang masuk dalam wilayah laut Indonesia.minyak bumi, gas, dan panas bumi.
Pengembangan teknologi eksplorasi dan identifikasi Mengembangkan kemampuan teknologi eksplorasi
energi konvensional di bawah laut. Misalnya dengan yang selama ini sangat tergantung pada teknologi
pengembangan teknik analisis data seismik. dari luar.
Dampak kegiatan eksplorasi pada lingkungan. Meskipun pencemaran yang ditimbulkan kegiatan
eksplorasi tidak seberapa dibandingkan eksploitasi,
dampaknya terhadap lingkungan tetap harus
dikenali.
Mengeksplorasi pengaruh gunung berapi bawah Untuk mengetahui bahwa gunung api tidak semata-
laut pada kekayaan alam (baik energi maupun mata ancaman, tetapi juga menghasilkan kekayaan
keanekaragaman hayati). alam yang bisa dimanfaatkan.
Mengkaji peluang mengeksploitasi energi bawah laut, Rekomendasi kepada pemerintah tentang
misalnya gas metan hidrat yang potensinya sangat eksploitasi energi.
besar di Indonesia, tetapi Indonesia belum memiliki
kemampuan teknologinya.
Mengkaji dampak lingkungan berbagai kegiatan Kegiatan ekploitasi energi konvensional kerap
eksploitasi pada ekosistem. menghasilkan limbah yang membahayakan
keseimbangan ekosistem.

Tantangan Laut Indonesia ... || 11


Tabel 7. Energi Terbarukan Hayati Laut
Penelitian Manfaat
Bioprospeksi terhadap berbagai spesies mikroalga Menentukan alga yang akan diprioritaskan untuk
yang paling potensial sebagai sumber energi. dibudi dayakan sebagai sumber energi.
Konversi mikroalga menjadi energi, misalnya biofuel. Untuk mendapatkan kemampuan konversi yang
efektif dalam berbagai skala produksi.
Budi daya mikroalga. Untuk menghasilkan skala ekonomi yang memadai
bagi produksi energi.

Tabel 8. Energi Terbarukan Non-hayati


Penelitian Manfaat
Memetakan kekuatan angin di Indonesia yang Dapat menjadi informasi bagi pemerintah dan
potensial bagi pembangkitan energi. berbagai pihak lainnya untuk menentukan lokasi
pembangkitan energi bayu.
Memetakan laut yang potensial bagi pembangkitan Dapat menjadi informasi bagi pemerintah dan
energi berdasarkan kekuatan arus, ombak, berbagai pihak lainnya untuk menentukan lokasi
perbedaan suhu, dan pasang surut. pembangkitan energi laut.
Pengembangan teknologi kincir angin yang tahan Teknologi yang dibeli dari luar sering tidak sesuai
terhadap lingkungan pantai, misalnya teknologi dengan kondisi alam Indonesia sehingga cepat
material agar kincir bisa tahan terhadap karat rusak. Ini adalah peluang bagi pengembangan
ataupun terpaan cuaca ekstrem. teknologi di Indonesia.
Pengembangan teknologi pembangkit dalam laut Teknologi yang dibeli dari luar sering tidak sesuai
yang tahan terhadap dinamika sifat fisika dan kimia dengan kondisi alam Indonesia sehingga cepat
dari laut. rusak. Ini adalah peluang bagi pengembangan
teknologi di Indonesia.
Dampak lingkungan dari pembangkitan energi Arus laut merupakan jalur migrasi dari berbagai
dalam laut. ikan dan biota lainnya. Perlu dicari cara agar
pembangkitan energi laut tidak mengganggu jalur
migrasi mereka.

Hal penting: Kita har us mengkaji hingga kerangka membutuhkan data manajemen
mencari tahu terlebih dahulu waktu, dengan kondisi yang yang terintegrasi. Fakta yang
di mana posisi paling optimal, dimiliki saat ini, terutama dari ada saat ini, data Laut Banda
kemudian siapa yang akan segi teknologi, hal tersebut tidak dimiliki oleh industri sehingga
m e n g e k s p l o r a s i . Un t u k mungkin dilakukan. Indonesia basis data yang kuat sangat
diperlukan.

Gas metan hidrat juga menjadi potensi yang sangat besar di Indonesia, terletak 100–200 m
di atas dasar laut. Sesungguhnya terdapat potensi untuk mengonversi metan menjadi energi,
namun sayangnya Indonesia belum memiliki alat dan teknologi untuk mengolah gas metan
tersebut. Hal ini karena jika dibawa begitu saja dengan teknologi konvensional, gas tersebut
justru akan hilang begitu saja.

12 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


3. Pencemaran Laut dampak balik pada manusia. keindahan yang menja d i
Fungsi laut sebagai sumber basis kegiatan dan industri
Pa d a m a s a l a l u k a r e n a
dan pendukung kehidupan pariwisata. Sebagai negara
sedemikian luasnya lautan,
menjadi terganggu. Peran laut kepulauan, pencemaran laut
manusia beranggapan bahwa
bagi Indonesia sangat mendasar, akan berpengaruh besar pada
mereka tidak akan bisa memberi
di samping sebagai penghubung masyarakat Indonesia, terutama
pengaruh yang berarti pada
belasan ribu pulau, laut juga bagi mereka yang mengandalkan
lautan. Saat jumlah manusia
menyediakan bahan hayati mata pencahariannya dari
masih sedikit, dengan sampah
yang dapat dikonsumsi manusia laut, sebagai nelayan, penggiat
dan limbah hampir semuanya
untuk berbagai keperluan, pariwisata, ataupun penduduk
organik, apa yang mereka
mulai dari pangan, obat, sampai yang tinggal di kawasan pesisir.
buang langsung atau tidak
kosmetik. Potensi laut yang Sebagian besar sampah
langsung ke lautan masih
masih belum tereksploitasi juga yang mencemari laut adalah
dalam batas kemampuan alam
masih sangat besar. Akan tetapi, plastik (Thompson, 2017).
menguraikannya. Karena itulah
potensi ini semakin tergerus Plastik sangat meningkatkan
manusia tidak merasakan
oleh laju polutan yang terus kepraktisan pengemasan suatu
atau melihat dampak negatif
meningkat mencemari laut. produk yang memudahkan
dari aktivitas dan keberadaan
mereka pada lautan. Kini, Polutan ini mayoritas suatu produk untuk disimpan,
dengan kemajuan teknologi dan berasal dari aktivitas manusia. didistribusikan dan dibawa
jumlah penduduk yang besar, Industri, transportasi laut, k e m a n a - m a n a . Na m u n ,
apa yang mereka buang ke laut bahkan rumah tangga menjadi kekurangmampuan manusia
sudah melampaui kemampuan pemasok polutan. Aktivitas dalam mendaur-ulang plastik
laut untuk menguraikan dan manusia yang ditujukan daripada memproduksinya serta
melarutkannya. untuk mendukung kehidupan kurang disiplinnya perilaku
manusia juga mengakibatkan manusia dalam membuang
pencemaran yang mengancam sampah justru memperparah
Tantangan laut dan mengurangi jasa laut pencemaran oleh sampah
Dampak negatif pada laut pada manusia, baik sebagai plastik, yang sebagian akhirnya
ini pada gilirannya memberi sumber pangan, sumber mencemari laut juga.

Tantangan Laut Indonesia ... || 13


Penelitian yang harus tidak ada atau jarang dalam alam secara alamiah, namun
dilakukan lingkungan alam, yang ketika intensitasnya akan meningkat
ada dengan tingkat konsentrasi sebagai akibat dari kegiatan
Pencemaran dapat berupa
tertentu dapat mengganggu manusia.
bahan biologis, kimiawi, fisik,
organisme hidup. Beberapa
ataupun energi yang biasanya
jenis pencemaran terdapat di

Tabel 9. Sumber-sumber pencemaran


Penelitian Manfaat
Mengidentifikasi polutan-polutan di muara, pesisir Untuk mensosialisasikan keseriusan masalah pence-
dan laut, baik di sedimen maupun kolom airnya, khu- maran baik pada masyarakat maupun pengambil
susnya yang sudah mulai mengganggu ekosistem. kebijakan.
Melacak asal polutan apakah dari kegiatan rumah Memberi rekomendasi kebijakan penanganan lim-
tangga, industri, pertanian, atau kegiatan manusia di bah di industri, pertanian, rumah tangga, ataupun
laut berdasarkan jenis polutannya. Nutrien yang ter- berbagai kegiatan di laut.
kandung dalam limbah pertanian dan rumah tangga
bisa menjadi makanan yang bermanfaat bagi eko-
sistem, namun dalam jumlah besar menyebabkan al-
gal bloom, yang lalu diikuti penurunan kadar oksigen,
dan sebagian alga ini juga menghasilkan racun yang
bisa membunuh biota lainnya.
Meneliti dampak dari kegiatan pengerukan muara Memberi rekomendasi tentang perlunya kegiatan
dan pantai terhadap pelepasan zat-zat pencemar pengerukan yang tidak memperparah pencemaran
yang mengendap di sedimen. laut.
Pengidentifikasian biomarker dan bioindicator untuk
Bisa dijadikan dasar pengembangan sistem peman-
berbagai jenis polutan. tauan pencemaran secara biologis (bio-monitoring
system).
Pengaruh arus laut pada penyebaran pencemaran di -
Indonesia.

Tabel 10. Dampak pencemaran pada lingkungan dan biota


Penelitian Manfaat
Menguji di laboratorium efek racun dari senyawa Untuk mengantisipasi efek dari pencemaran di lapan-
pencemar, misalnya dengan mengukur LC50, yakni gan.
konsentrasi senyawa kimia yang membunuh 50%
dari biota dalam 96 jam.
Dampak bioakumulasi (akumulasi dalam tubuh bio- Untuk memahami dampak jangka panjang dari pence-
ta) dari senyawa kimia yang tidak beracun terhadap maran pada biota maupun populasi biota.
biota dalam jangka panjang.
Perpindahan senyawa pencemar melalui jejaring Untuk memahami bahwa predator yang hidup di laut
makanan, dari suatu biota ke predatornya, dan lepas, seperti tuna, yang jauh dari lokasi yang konsen-
proses biomagnification yang terjadi. trasi pencemarannya tinggi bisa memiliki kandungan
senyawa pencemar yang tinggi.

14 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Dampak pengaruh pencemaran terhadap tingkat Untuk memahami pengaruh pencemaran terhadap
reproduksi, tingkat kematian, ukuran biota, dan produktivitas perikanan.
variabilitas genetis (yang diakibatkan oleh mat-
inya individu-individu yang tidak toleran terhadap
pencemaran).
Pencemaran nutrien yang berlimpah menyebabkan Algal bloom yang menciptakan zona kematian di ban-
algal bloom yang menurunkan kadar oksigen dalam yak lokasi di dunia ini sulit diatasi. Cara yang efektif
air (hypoxia) dan menghalangi sinar matahari men- adalah mencegah limbah pertanian dan rumah tangga
embuh air laut. Sebagian alga juga mengeluarkan di sumbernya. Ini membutuhkan intervensi pemerin-
racun. Algal bloom ini menciptakan “zona kema- tah yang kuat, baik dalam kebijakan, regulasi dan teru-
tian” (dead zone) bagi biota-biota laut. tama penegakan hukum.
Mengkaji dampak lingkungan dari budi daya peri- Rekomendasi tata kelola budi daya perikanan yang ra-
kanan, misalnya keramba di laut, yang sisa makanan mah lingkungan.
dan kotorannya jika jumlahnya besar bisa meng-
ganggu lingkungan sekitarnya, seperti algal bloom
lokal ataupun menutupi dasar laut; serta kajian ter-
hadap dampak penggunaan antibiotik dan zat anti
parasit terhadap lingkungan sekitarnya.
Dampak sampah laut (marine debris) yang sebagian
besar didominasi plastik pada ekosistem.

Tabel 11. Penanganan Pencemaran


Penelitian Manfaat
Penanggulangan berbagai jenis pencemaran dengan Mengembangkan teknik penanganan pencemaran
bioremediasi, serta kajian terhadap efektivitasnya. yang ramah lingkungan (ecofriendly) dengan meman-
faatkan organisme mikro yang ada di laut.
Mencari berbagai cara untuk mengurangi dampak Mengatasi masalah algal bloom secara biologis dan
algal bloom atau kelebihan nutrien, misalnya den- produktif (karena dengan budi daya yang bernilai
gan budi daya rumput laut atau kerang yang bisa ekonomi).
menyerap N dari air laut, ataupun dengan pemulihan
ekosistem pantai seperti rawa dan gumuk.

4. Keanekaragaman hayati. Sebelumnya, untuk baik kasat mata maupun dengan


Hayati Laut memahami nilai-nilai pada mikroskop. Bagaimanapun,
bidang keanekaragaman kondisi saat ini sudah jauh
Isu dan tantangan hayati atau biodiversitas berbeda. Salah satu yang terbaru
berbasis taksonomi, alfa, beta, adalah melalui DNA Sequencing,
Ilmu pengetahuan berubah gamma, masih banyak yang dan pemahaman terhadap nilai-
sangat cepat, tak terkecuali mengandalkan pada morfologi, nilai sumber hayati ini akan
di bidang keanekaragaman terus berkembang.

Kemampuan membaca biodiversitas akan membuat pemahaman yang lebih baik terhadap
seberapa besar kekayaan sumber daya laut kita. Contoh kasus akibat ketidakmampuan
membaca venom, adanya potensi besar dalam zat ziconotide pada venom, dimana zat ini
1000 kali lebih ampuh dalam menghilangkan rasa sakit dibandingkan dengan morphine, dan
sudah dijual dalam brand Prialt oleh pihak asing. Hal tersebut dikarenakan pihak asing sudah
terlebih dahulu mampu membaca dan memanfaatkan venom tersebut. Produk tersebut
kemudian dijual di pasar dengan harga US$6.500.000 per gram. Pada kenyataannya, hingga
saat ini, sangat disayangkan, Indonesia tidak punya venom library. Padahal venom sendiri
sangat banyak ditemui di laut Indonesia (Sumber: Cone Snail Venom - Medical Uses and Potential
Benefits by Linda Crampton).

Tantangan Laut Indonesia ... || 15


Seorang peneliti asing dari permintaan atas fungisida laut penentuan arah penelitian akan
Clemson University mempelajari turunan pada sektor pertanian sulit dilakukan.
kerang yang menempel pada yang semakin besar. Melihat Ada beberapa tantangan
kapal dan menemukan beberapa peluang besar riset dalam biodiversitas laut.
akumulasi dari organisme pada tersebut, bagaimana riset di Tantangan pertama. Riset
permukaan kapal yang basah bidang biodiversitas laut ini bisa untuk mengeksplorasi biota laut
menjadi bahan baku untuk semakin dikembangkan? baru sangat penting dilakukan
mendesain heavy duty bio- Biodiversitas adalah konsep karena masih banyak biota yang
adhesives untuk medical devices berlapis. Observasi biodiversitas sulit diidentifikasi dan masih
dan advance anti-fouling untuk dapat didefinisikan secara banyak pula biota yang belum
industry naval. konsekuen pada level-level yang ditemukan. Oleh karena itu,
Pada bidang mikroba, berbeda, yakni: aktivitas riset seperti identifikasi
sebagian besar makhluk hidup di 1. Gene Level deskriptor dan indikator, survei
laut berasosiasi dengan mikroba. 2. Species Level dan monitor perubahan pada
Penemuan obat dari mikroba 3. abitat/Ecosystem Level biodiversitas harus didukung
laut merupakan hal yang biasa dengan basis survei yang diakui,
karena lingkungan laut telah Biodiversitas laut baik di Indonesia maupun
menjadi sumber dari 20.000 menekankan aspek spesies global, serta tersedia secara
produk alam inspirasional yang laut, baik gen dan produk gen, gratis dan mudah dalam akses
ditemukan lebih dari 50 tahun maupun habitat pesisir dan basis datanya. Dalam hal ini,
lalu. Untuk level signifikan laut terbuka di mana mereka diperlukan kerangka kerja legal
tertentu, obat-obatan tersebut hidup. Aktivitas tersebut yang cukup untuk memayungi
terbentuk dari kumpulan berkaitan dengan kemampuan tujuan inventarisasi data
invertebrata laut yang sangat mengidentifikasi lokasi di mana biodiversitas sebagaimana yang
banyak dari ekosistem tropis biota-biota tersebut hidup dan ditetapkan untuk kebutuhan
laut dangkal. Baru-baru ini bagaimana jika ingin dilakukan masa depan.
ditemukan bahwa sumber pembuatan produk dengan
Tantangan riset kedua
metabolik sesungguhnya jumlah yang lebih banyak serta
yang cukup penting untuk
berasal dari mikroba laut yang seberapa banyak spesies yang
ditindaklanjuti adalah
berasosiasi dengan invertebrata dimiliki saat ini, dan seberapa
ketercukupan aktivitas survei
laut. diversed.
yang dilakukan, dalam arti,
Dilihat dari potensi ekonomi Observasi biodiversitas laut apakah kita sudah melakukan
biodiversitas Indonesia yang sangat penting dilakukan karena sur vei yang benar untuk
sangat besar, pasar Bioteknologi keanekaragaman laut dapat mendata spesies kita. Sebagai
Laut 2015–2020 pada Laporan dijadikan indikator penting contoh, dalam mengidentifikasi
Bisnis Strategis Global sebagai dampak terjadinya komponen kunci dari jaring-
memprediksi bahwa pasar global berbagai stressor eksternal, seperti jaring makanan yang mendukung
untuk bioteknologi laut pada perubahan iklim, peningkatan spesies penting dari perikanan
2020 dapat mencapai 4,8 juta aktivitas penangkapan ikan, terumbu karang dibutuhkan
US Dollar. Faktor pendorong serta penurunan ikan secara teknik seperti Metabarcoding
global yang dapat menstimulus perlahan akibat eksploitasi. Oleh workflow untuk mengurai gen-
kondisi ini di antaranya karena itu, kejadian-kejadian gen pembentuk yang sesuai
adalah munculnya penerapan tersebut sangat mungkin seperti apa. Ketercukupan data
enzim-enzim baru dari sumber disebabkan oleh pemanfaatan survei biodiversitas juga sangat
daya laut, penggunaan alga yang tidak disertai dengan ilmu ditentukan oleh ketersediaan
laut, penggunaan molekul- pengetahuan. Selain itu, jika alat dan teknologi (under water
molekul laut yang diturunkan, kita tidak mengetahui seberapa vehicles) untuk mengeksplorasi
pertumbuhan kebutuhan terkait banyak biodiversitas maka dan memahami keberagaman
produksi berkelanjutan, dan ekosistem laut dalam yang

16 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


belum pernah diketahui Tantangan lainnya berasal untuk mengetahui dampak dari
sebelumnya. dari pertambahan jumlah gangguan manusia dan alam
Tantangan ketiga berkaitan penduduk yang berdampak tehadap penurunan terumbu
dengan penggunaan metode terhadap degradasi habitat karang dalam kedalaman dan
observasi baru, termasuk untuk sehingga riset di area biodiversitas jarak dari pantai yang berbeda-
mengawasi migrasi hewan ini makin membutuhkan lahan beda.
(tagging dan telemetry) yang eksplorasi baru seperti eksplorasi Tantangan riset selanjutnya
sangat memerlukan ketersediaan laut dalam yang belum banyak berkaitan dengan aspek
teknologi dan protokol. dilakukan. Beberapa lokasi biodiversitas microbial dan
Selain itu, untuk melakukan yang dapat dieksplorasi adalah genetic. Hal ini dikarenakan
obser vasi ini dibutuhkan seperti Laut Sulawesi, Laut belum banyak ditemukannya
animal oceanographers yang Banda, Laut Halmahera, utara teknik sampling yang memadai
mampu mengumpulkan data Pulau Biak, selatan Pulau Jawa dan belum banyak diketahuinya
oseanografi dalam jumlah black box dari deep sea coral. jumlah biodiversitas microbial.
yang memadai. Metode riset Riset di area ini diperlukan, Oleh karena itu, aplikasi
baru ke depan akan semakin terutama untuk mengeksplorasi pengetahuan mengenai DNA
banyak yang memanfaatkan siklus reproduksi, pola dispersal seperti metagenomics mulai dari
aplikasi genetika sebagai alat dan vertical dispersal limitation DNA isolation and purificati
observasi, terutama untuk yang belum diketahui. Selain on→ragmentation→bacterial
mengidentifikasi konektivitas beberapa tantangan tersebut, cloning→sequencing menjadi
populasi dari keragaman spesies aspek interkoneksi antara aktivitas penting dalam riset
laut. daratan dan shallow-water serta genetika.
mesophotic reefs mulai banyak
diamati mengingat pentingnya

Tabel 12. Penelitian keanekaragaman hayati di tiga level


Level Genetik Level Spesies Level Ekosistem
- Elaborasi dan eksplorasi gen-gen - inventarisasi dan identifikasi mik- - penelitian tentang faktor-faktor
penting untuk meningkatkan roorganisme di laut yang menghasilkan, memelihara
produktivitas, baik untuk per- - pengembangan fasilitas ke- dan menguras keanekaragaman
tumbuhan maupun ketahanan amanan keanekaragaman mik- hayati di lingkungan laut
terhadap penyakit roorganisme untuk degradasi - pengetahuan tentang peran ke-
- penyeleksian galur-galur ung- polutan di laut anekaragaman hayati dalam fungsi
gul dengan variasi genetik yang - produksi monograf elektronik ekosistem laut dan dalam menga-
dapat tumbuh dalam berbagai baru atau yang diperbarui pada tur siklus biogeokimia utama laut
dan bumi
kondisi ekstrem salinitas tinggi, semua taksa (berdasarkan du-
kualitas air yang buruk dan lain- kungan kuat untuk keahlian tak-
- pemahaman bagaimana spesies
lain sonomi yang disempurnakan)
dan populasi dapat beradaptasi
- pemanfaatan informasi genetik dan panduan lapangan regional
dengan perubahan lingkungan
untuk identifikasi mikroorgan- yang diperbarui dan lintas batas
laut, dan implikasi dari perubahan
isme yang mampu mendegradasi untuk fauna dan flora
fungsi Samudra dan kesejahteraan
polutan
manusia
- Mengembangkan skenario spatio-
temporal untuk perubahan keanek-
aragaman hayati yang didukung
oleh model ekosistem, sosio-eko-
nomi dan iklim (termasuk asidifi-
kasi air laut) dan menilai implikasi
dari perubahan tersebut
- Memahami hubungan antara ke-
anekaragaman hayati laut dan
layanan ekosistem yang penting
untuk keuntungan masyarakat, ter-
masuk pemetaan interaksi antara
lingkungan terestrial dan laut

Tantangan Laut Indonesia ... || 17


Riset Biodiversitas Laut Ke indikator spesifik, protokol 3. Menyampaikan peluang
Depan pemantauan dan observasi ekonomi melalui
yang tepat, dan target penerapan pengetahuan
Pe n e l i t i a n d i b i d a n g
lingkungan yang terkait yang dihasilkan melalui
keanekaragaman hayati sangat
dengan keanekaragaman penelitian keanekaragaman
bermanfaat, terutama dalam
hayati laut; hayati di berbagai bidang,
mendukung penyediaan data
seperti sains berkelanjutan,
dasar dan informasi hingga 2. M e n c i p t a k a n s i s t e m
nilai yang efektif untuk akuakultur, bioteknologi
pengetahuan yang bermanfaat
memperhitungkan laut, dan ekowisata.
bagi pemangku kepentingan.
Beberapa manfaat bisa dijelaskan penyediaan dan hilangnya Dengan melihat tantangan
sebagai berikut. keanekaragaman hayati riset di atas maka beberapa
laut ser ta barang dan komponen aktivitas yang
1. Mendukung perancangan
jasa ekosistem dan untuk diperlukan untuk mendukung
dan implementasi kebijakan,
mendukung keputusan riset keanekaragaman hayati
termasuk penetapan
manajemen yang efektif; laut di antaranya adalah sebagai
berikut.
Tabel 13. Peluang Riset Keanekaragaman hayati
No. Peluang Komponen Aktivitas
1. Inventarisasi data melalui Pengumpulan sampel
penerapan teknologi baru Observasi berkelanjutan–in situ Labs, instrumen seperti untuk virus
Visualisasi bawah laut–AUV, ROV, Manned submersibles
Observasi global dengan satelit
Molecular taxonomy
2. Konservasi Preservasi habitat dan ekosistem, -Marine Park dan Biosphere
Reserve
Aplikasi Prinsip-prinsip “Precautionary”
Pengembangan program kepedulian global dan kerja sama
3. Pemanfaatan biodiversitas Penerapan Manajemen Baru–Kebijakan dan Aturan
secara berkelanjutan Berbagi pengetahuan
Perjanjian internasional

5. Pengelolaan di wilayah perkotaan (13% masyarakat. Delapan dari


LINGKUNGAN Pesisir dari total populasi perkotaan sepuluh kota terbesar di dunia
dunia) (CIESIN, 2009). Selain dan sebagian besar pariwisata
yang Berkelanjutan itu, zona pesisir juga memiliki dunia yang berperan penting
Tantangan peran dalam penyediaan habitat secara ekonomi terletak di
bagi banyak spesies, beberapa pantai. Dengan pertumbuhan
Wilayah pesisir merupakan di antaranya sudah terancam penduduk saat ini yang
pembatas antara wilayah laut punah. Hal ini menyebabkan mencapai 4 miliar per tahun,
dengan tempat terestrial di mana zona pesisir menjadi habitat tekanan terhadap wilayah pesisir
manusia melakukan aktivitas yang sensitif dan perlu dijaga akan semakin tinggi.
serta tempat terjadinya aktivitas kelestariannya. Layanan
ekonomi yang berkembang Wilayah pesisir dan
ekosistem juga memiliki peranan masyarakat pesisir merupakan
cukup besar. Berdasarkan Mc penting dalam perlindungan
Granahan (2007), low elevation objek yang paling banyak
pesisir, perikanan dan sumber mendapat tekanan dan risiko dari
coastal zone yang mencakup 2% daya hayati lainnya, lahan
dari wilayah bumi merupakan dampak aktivitas di daratan dan
pertanian, area dengan nilai di lautan. Hal ini menjadikan
tempat dari 600 juta orang estetika tinggi, serta memiliki
(10% dari total populasi), dan wilayah pesisir sebagai sistem
nilai tinggi sebagai warisan sosial dan ekologi yang paling
360 juta di antaranya berada

18 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


terancam di muka bumi bergesernya fishing ground. mencapai 30%. Yang menjadi
(Cummins et al. 2014). Dalam Pada dasarnya salah satu hal sektor utama dari kemaritiman
kaitannya dengan ekosistem mendasar dari perubahan adalah perikanan, pariwisata
laut, memahami keterhubungan tersebut adalah pengaruhnya bahari dan transportasi laut.
antara aktivitas di darat dan di terhadap menurunnya produksi Kombinasi dari dampak
laut perlu mendapat perhatian tangkapan ikan. anthropogenic aktivitas manusia
serius karena hal tersebut akan Jika tidak ada pemanfaatan, dan perubahan iklim akan
memberikan pengaruh positif ekosistem sendiri pada menjadi kombinas i yan g
terhadap usaha mereduksi dasarnya tidak memerlukan sangat membahayakan dan
dampak anthropogenic terhadap pengelolaan karena akan memberikan tekanan lebih
ekosistem laut. Indonesia sebagai mendapatkan keseimbangannya besar pada wilayah pesisir. Oleh
negara kepulauan dengan sendiri. Dengan adanya sebab itu, diperlukan strategi
ribuan pulau dan panjang garis pemanfaataan maka yang diperlukan dalam usaha
pantai 95,181 km memiliki diperlukan pengelolaan untuk pengelolaan ekosistem pesisir
proporsi penduduk yang mendapatkan pemanfaatan demi pemanfaatan sumber
tinggal di wilayah pesisir sangat yang berkelanjutan. Potensi daya laut yang berkelanjutan.
tinggi. Hal ini menjadikan ekosistem pesisir Indonesia Lingkungan pesisir secara
wilayah pesisir Indonesia cukup s e n d i r i s a n g a t l a h b e s a r. umum memiliki tiga fungsi,
tertekan. Dampak kerusakan Terumbu karang memiliki luas yaitu:
ekosistem dan sumber daya 75.000 km2, dan mangrove 1. penyedia sumber daya alam,
alam pesisir sudah nyata terjadi, seluas lebih dari 2.5 juta Ha. baik hayati maupun non-
seperti kerusakan mangrove, Sebagian besar coral triangle hayati,
penangkapan ikan secara menjadikan Indonesia sebagai
disruptif, terjadinya abrasi 2. penyedia jasa pendukung
negara dengan potensi sumber kehidupan dan
pantai, serta pencemaran daya kelautan yang sangat besar
limbah. kenyamanan, misalkan
dan keanekaragaman hayati laut sebagai tempat budi daya,
Perubahan iklim juga tertinggi di dunia. Mangrove, perawatan ekosistem yang
memberikan dampak tidak lamun dan terumbu karang baik yang akan membuat
langsung terhadap ekosistem sangat potensial menopang lingkungan yang baik,
pesisir, seperti kenaikan curah 85% kehidupan biota laut pengembahan minawisata
hujan yang berpengaruh tropis. Universitas Miami pada ekosistem,
terhadap debit muara sungai mengatakan bahwa 1 hektare
dan produktivitas perairan mangrove setara dengan 680 3. mitigasi bencana seperti
pesisir. Kenaikan suhu laut kg ikan/tahun dan 3,6 juta perubahan iklim,
akan memberikan pengaruh hektare mangrove setara dengan peningkatan sedimentasi,
terhadap kerusakan terumbu 2.448 juta ton ikan/tahun. banjir, dan lain-lain.
karang serta hilangnya nursery Seluas 1 km2 karang sehat setara Dalam upaya penggunaan
ground ikan dan biota laut. dengan 20.000 kg ikan/tahun. sumber daya wilayah
Dampak arus laut, upwelling Seluas 42.000 km 2 terumbu pesisir yang berkelanjutan,
dan salinitas akan memberikan karang sehat setara dengan 840 diperlukan pertimbangan secara
pengaruh terhadap perubahan juta ton ikan/tahun. Wilayah menyeluruh terhadap fungsi
migrasi ikan. Frekuensi badai pesisir juga menawarkan ekosistem pesisir serta manusia
dan gelombang tinggi akan potensi yang besar terhadap sebagai faktor yang sangat
memengaruhi risiko melaut sektor pariwisata. Dalam memiliki peran di wilayah
dan berpengaruh terhadap dokumen Visi Indonesia 2045 pesisir. Manusia bukan hanya
kesejahteraan masyarakat (BAPPENAS, 2017) tertulis memberikan peran sebagai
pesisir. Kenaikan suhu laut bahwa ditargetkan pada tahun penyebab dari perubahan yang
dan per ubahan kekuatan 2036–2045 sumbangan sektor terjadi pada wilayah pesisir,
upwelling menyebabkan maritim terhadap PDB akan akan tetapi manusia juga

Tantangan Laut Indonesia ... || 19


akan menjadi makhluk yang Hal-Hal yang Harus
merasakan dampak perubahan Dilakukan dalam Riset
yang terjadi pada wilayah pesisir.

Tabel 14. Penelitian bidang Pengelolaan lingkungan pesisir berdasarkan fungsinya


 Fungsi Ekosistem Pesisir
3.       Mitigasi
Bencana seperti
1.       Penyedia Sumber Daya 2.       Penyedia Jasa
perubahan iklim,
Alam baik hayati maupun non Pendukung kehidupan dan
peningkatan
hayati kenyamanan
sedimentasi, banjir,
  dll.
Manusia Sebagai Penyebab perubahan di Wilayah Pesisir
Tingkat tekanan penangkapan
pada spesies komersial,
misalnya spesies yang renatan.
Dinamika populasi spesies
yang dieksploitasi sangat
diperlukan untuk memberikan
informasi yang valid untuk
Overfishing
pengelolaan yang efektif.
Bagaimana tekanan
penangkapan ikan
mempengaruhi ekosistem
pesisir dan bagaimana
ekosistem pesisir merespons
tekanan.  
Spesies kehilangan seluruh  
ekosistem (keanekaragaman  
hayati dan fungsi ekosistem).   Mengembangkan,
menguji dan
Jumlah polutan (termasuk
menerapkan
plastik) yang dilepaskan di
metode yang dapat
lingkungan laut
memprediksi serta
Dampak polutan terhadap
mengurangi dampak
lingkungan dan respon Mengatasi dampak
bahaya dan bencana
kehidupan laut pencemaran laut dan
di pesisir, termasuk
Dampak masukan nutrisi eutrofikasi secara efektif
pendekatan rekayasa
tinggi pada ekosistem laut  
ekologis dan restorasi
Bagaimana dampak  
lingkungan
pemanfaatan lahan untuk budi  
Polusi daya terhadap perubahan
ekosistem pesisir dan
bagaimana ekosistem pesisir
merespon tekanan
Memahami respon ekosistem
pesisir / organisme laut
terhadap laju sedimentasi
yang meningkat?
Geo-engineering:
Sampai sejauh mana
mengendalikan laju
ekosistem pesisir dapat
sedimentasi
mentolerir peningkatan arus
 
sedimen
Excess of Sediment Geo-engineering:
mengendalikan laju
sedimentasi

20 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Perubahan suhu dan salinitas terhadap Nursery dan spawning ground 30 thn
terakhir

Perubahan suhu, perubahan kecepatan n pola arus, kekuatan upwelling terhadap


Pergeseran lokasi dan perubahan musiman fishing ground 30 thn terakhir

Perubahan suhu, salinitas,kekuatan upwelling, produksi primer, ENSO,IOD


terhadap Produksi perikanan tangkap 30 thn terakhir

Perubahan dan Variabilitas Iklim terhadap Dinamika Laut Perairan Indonesia (Pola
arus, eddies, Arlindo)

Perubahan Iklim Perubahan dan Variabilitas Iklim terhadap Kestabilan Perairan Laut Indonesia
(kecepatan vertikal, upwelling, percampuran)

Perubahan dan Variabilitas Iklim terhadap Kesuburan Perairan (Produksi primer,


zooplankton, spawning ground, nursery ground, fishing ground)

Perubahan dan Variabilitas Iklim terhadap Fish Behaviour

Perubahan dan Variabilitas Iklim terhadap Ekosistem Perairan Pesisir

Memahami respon dari organisme laut terhadap perubahan dan variabilitas iklim
yang terjadi

Alat untuk menilai kesehatan


ekosistem pesisir secara
integratif
Mengembangkan teknologi
penginderaan yang inovatif,
termasuk yang berbasis Melakukan restorasi
pada alat molekuler baru, ekosistem mangrove
untuk melakukan proses  
pemantauan dengan biaya  
yang efektif di zona pesisir  
Pendugaan produktivitas,
status kesuburan dan daya  
Mengetahui status dukung perairan  
ekosistem saat ini, Analisis bioaktif endosimbon  
cara mengukur dan spons dan karang lunak  
memperbaikinya. Pengembangan teknologi dalam usaha peningkatan
  produktivitas sumber daya laut di wilayah pesisir,
  diantaranya:
  -          Optimasi teknik produksi senyawa aktif
   
-          Transplantasi sel testicular pada ikan hias dan ikan
   
laut
   
  -          Penentuan marker dan plastisitas genetika karang  
  -          Perbanyakan karang secara genotip  

Tantangan Laut Indonesia ... || 21


Manusia menerima dampak perubahan yang terjadi di lingkungan pesisir

 
Membangun basis data yang baik untuk efektifitas kebijakan local development dan juga mengarahkan
human behavior

Memastikan rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah di wilayah pesisir dengan
mempertimbangkan isu keberlanjutan, misalkan dengan melakukan pemetaan antara type of ecosystem,
type of ecosystem services, sector (fisheries, tourism, manufacture, agriculture, etc) dengan socio-economic
characteristics

Identifikasi sektor yang memiliki dampak positif dan negatif terhadap coastal ecosystem.

Analisis biaya-manfaat dari masyarakat dan kegiatan ekonomi yang bergantung pada ekosistem di zona
pesisir

Menggunakan pemahaman terhadap kompleksitas sistem manusia dan alam di wilayah pesisir terkait
dengan sustainability serta efisiensi alokasi SDA

Kajian terhadap pendekatan kebijakan serta evaluasi penerapannya terkait dengan coastal ecosystem
manajemen, seperti: adaptasi, sustainable sectoral activity (ecotourism, pollution prevention, dll)

Kajian mengenai bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir

Kajian mengenai bagaimana meningkatkan nilai tambah barang dan jasa masyarakat pesisir

Opsi kebijakan untuk mengurangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif (sektoral dan umum)

6. Perubahan Iklim Dukungan pemerintah


dalam menjawab tantangan • Degradasi ekosistem pesisir
Tantangan perubahan iklim nasional dan laut
Indonesia sebagai negara yang selanjutnya diterjemahkan
• Pulau tenggelam
mempunyai hutan hujan tropis dalam beberapa dokumen
seperti Rencana Aksi Nasional • Pengasaman laut (Ocean
yang luas dengan biodiversitas
Adaptasi Perubahan Iklim dan Acidification)
yang besar dan stok karbon
yang banyak mempunyai peran Rencana Aksi Nasional Gas • Perubahan siklus karbon
penting dalam meminimalkan Rumah Kaca serta dituangkan • Ke t i d a k p a s t i a n d a l a m
dampak perubahan iklim global. dalam 1st Nationally Determined aktivitas melaut karena
Namun di sisi lain, Indonesia Contribution meskipun sektor adanya perubahan musim
juga sangat rentan terhadap laut belum dimasukkan. • Timbulnya berbagai jenis
dampak perubahan iklim, Laut menyerap hampir penyakit
terutama dalam hal ketahanan 80% panas di bumi, artinya • Perubahan pola menangkap
pangan, air, dan energi (INDC laut mempunyai peran yang ikan
RI, 2015). Pada tahun 2015 sangat besar dalam adaptasi dan
• Bertambahnya ikan yang
melalui Conference of Parties mitigasi perubahan iklim. Oleh
terdampar
21 Paris (COP 21), Indonesia karena itu, kita perlu memahami
menyatakan akan berkontribusi dampak beragam perubahan • Bertambahnya penyakit
untuk mengurangi emisi sebesar iklim terhadap ekosistem laut ikan
26% (usaha nasional) dan 41% dari berbagai interaksi seperti
(dukungan internasional). berikut ini.

22 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Penelitian yang perlu dan monitoring data terkait monitoring data secara rutin
dilakukan dampak perubahan iklim, serta terkait perubahan iklim, serta
memahami trennya melalui penelitian berupa prediksi/
Untuk memahami dengan
pemodelan yang dibangun. pemodelan terkait perubahan
baik dampak perubahan
Oleh karena itu, perlu dilakukan iklim seperti berikut ini:
iklim, diperlukan pengamatan
riset berupa pengumpulan dan

Tabel 15. Penelitian ke depan bidang Perubahan Iklim


No Climate Variablility Global Warming - Climate change Tools
1 memahami produksi dan mi- memahami antropogenik dan tren melakukan penambahan bouy
grasi perikanan coastal (tinggier res) to offshore
dengan resolusi yang dibutuhkan
satelit, termasuk di dalamnya
pengembangan algoritma
2 memahami air-sea interaction mendetailkan proses dari peta blue melakukan pemodelan coupled
dalam skala MJO carbon yang sudah ada ocean-atmosphere, resolusi, format
data, data assimilation
3 memahami interaksi antara memahami flux antara udara – laut, menggunakan dan mengembang-
monsoon ENSO dan IOD laut – sedimen, antar laut kan paleo sebagai aplikasi proksi
dan pengembangan proksi baru.
4 memahami perubahan pola memahami biogeokimia : river input
dan intensitas curah hujan (kontribusi river input dalam konteks
regional carbon budget)
5 melakukan kuantifikasi ITF memahami ocean acidification
secara detil terkait dengan (monitoring ocean acidification untuk
teleconnection (ENSO dan IOD) memahami variasi dan tren laut In-
donesia, efek biologi, serta calcifica-
tion biota laut penghasil kapur)
6 melakukan kuantifikasi upwel- memahami konektivitas ocean acidi-
ling fication antar lokasi
7 memahami shifting biologi memahami tren nasional mengenai
(shifting plankton) ocean acidification
8 memahami dinamika biogeo- memahami de-oxygenase (monitor-
kimia ing de-oxygenase untuk memahami
variasi dan tren laut Indonesia, serta
efek biologi)
9 memahami konektivitas
de-oxygenase antar lokasi
10 memahami tren nasional mengenai
de-oxygenase
11 memahami cuaca ekstrim dan
tropical cyclone (monitoring cuaca
ekstrim dan tropical cyclone untuk
memahami variasi dan tren laut
Indonesia)
12 sea level rise memahami sea level
rise (monitoring sea level rise untuk
memahami variasi dan tren laut
Indonesia)
13 memahami konektivitas sea level rise
antar lokasi
14 memahami tren nasional mengenai
sea level rise

Tantangan Laut Indonesia ... || 23


24 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035
ANTARA RISET KE DEPAN DAN RISET P2O LIPI:
SEBUAH ANALISIS KESENJANGAN
Analisis kesenjangan (gap analysis) merupakan suatu metode/alat dalam membantu suatu lembaga
membandingkan performa aktual dengan performa potensi. Secara operasional, dalam penentuan riset
atau penelitian ke depan, ada dua pertanyaan penting sebagai berikut: “Dimana kita sekarang?” dan
“Dimana kita menuju?”.
Tujuan analisis kesenjangan adalah untuk mengidentifikasi “jarak” antara alokasi optimis dan
integrasi input, serta ketercapaian saat ini. Analisis gap membantu organisasi/lembaga dalam
mengungkapkan bagian mana yang harus diperbaiki. Proses analisis gap dalam bagian ini mencakup
penelitian apa saja yang sudah dilakukan P2O LIPI selama tujuh tahun terakhir dan prioritas
penelitian apa yang dapat menjadi peluang baru bagi organisasi dalam 15 tahun ke depan.

Analisis Kesenjangan Tema p e n e l i t i a n k e d e p a n i n i tersebut sama sekali baru bagi


Riset Ketahanan Pangan perlu dibandingkan dengan P2O. Selain itu, penting untuk
penelitian yang sudah dilakukan diidentifikasi pengetahuan,
P2O LIPI selama periode kepakaran atau SDM seperti
Un t u k m e l i h a t p r o s p e k 2010–2016. Hal ini untuk apa yang harus dipenuhi P2O
pencapaian pelaksanaan riset mengetahui apakah P2O sudah guna menjalankan penelitian
yang diusulkan pada bagian melakukan penelitian di area tersebut.
sebelumnya, maka analisis yang diusulkan, atau area

Tabel 16. Ketersediaan stok ikan yang sehat


Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Mengembangkan berbagai BME Sosial ekonomi di Mentawai dan Penelitian di area ini sudah
metode pengukuran stok Lingga (pengelolaan terumbu karang dimulai. Tantangannya adalah
biota baik secara langsung, di kawasan Gn. Kijang Bintan) (2011); ada banyak jenis biota dengan
maupun tidak langsung Pengadaan citra resolusi tinggi (Citra berbagai tingkat mobilitasnya.
dengan mengukur luas habi- quickbird untuk penghitungan luasan Semakin tinggi mobilitasnya
tat, ataupun unsur-unsur habitat terumbu karang dan seagrass) semakin sulit pengamatannya
lain dalam ekosistem yang (2011); Reef Health Monitoring (2011); (yang berarti membutuhkan
memengaruhi keberadaan Pola keragaman dan adaptasi biota instrumen penelitian dan dana
biota tersebut. laut di perairan berenergi gelombang yang lebih besar lagi). Prioritas
tinggi (2011, 2012, 2016); Preservasi biota yang hendak diteliti perlu
Biota Laut Komersial Indonesia (2011); ditetapkan, misalnya berdasar-
Pendekatan Genetika untuk Mengiden- kan potensi komersialnya.
tifikasi Stock Populasi Udang Penaid di
Selat Makasar dan Teluk Bone Sulawesi
Selatan (2012);Pertahanan Kepiting
Bakau, Scylla paramamosain: Studi
Kasus di Probolinggo (2013)

Antara Riset ke depan ... || 25


Memahami siklus hidup Penelitian Filogeografi dan pola migrasi Penelitian di area ini sudah dilaku-
dan pola migrasi biota yang ikan sidat tropis (2011-2012); Kondisi kan. Perlu diteliti lebih rinci kaitan
potensial sebagai bahan pan-Perikanan Hiu dan Status Konservasinya antara migrasi dengan siklus hidup
gan atau bahan bermanfaat di Perairan Bengkulu (2013); Mekanisme biota, sehingga bisa ditentukan
lainnya. Rekruitmen Ikan Sidat Tropis di Perairan kapan dan di mana penangkapan
Bengkulu (2013-2014); Kajian Reproduksi bisa dilakukan tanpa mengancam
Ke-kerang-an Ekonomis di Perairan Kepu- eksistensi keseluruhan populasi
lauan Padaido untuk Tujuan Pengelolaan biota. Pemetaan migrasi dan siklus
yang Lestari (2015); Teripang Indonesia: hidup perlu dilakukan pada biota-
Eksplorasi, Pengelolaan dan Keterkai- biota yang menjadi prioritas.
tannya dengan Kondisi Oseanografi di
Perairan Indonesia (2016); Kajian struktur
populasi teripang di Maluku Tenggara
(2016)
Mengenali pengaruh pence- Adaptasi Biota laut di Perairan Teluk P2O sudah melakukan penelitian
maran yang berasal dari ka- Jakarta (setelah terjadinya degradasi tentang hal ini di beberapa tem-
wasan hunian, pertanian dan lingkungan) (2011); Pengaruh Aktivitas pat. Masalah pencemaran cend-
industri terhadap produkti- Antropogenik terhadap Kualitas Hidup erung makin parah dan meluas
vitas penangkapan maupun Ikan Pari (Elasmobranchii) di Teluk ke berbagai wilayah. Perlu dikaji
budi daya ikan/non-ikan. Jakarta (2012, 2014); Identifikasi Kualitas dampak polutan-polutan utama
Lingkungan untuk Menunjang Budi daya terhadap produktivitas biota-biota
Biota Laut di Perairan Lombok Nusa yang menjadi komoditas laut yang
Tenggara Barat (2012); Kajian Kesesuaian penting.
Lahan untuk Kawasan Budi daya Peri-
kanan Ditinjau dari Aspek Plankton,
Kimia, Bakteri, dan Inderaja di Perairan
Bali Utara (2013); Monitoring Kesehatan
Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait
di Wilayah COREMAP-CTI ADM (2014)
Pengembangan cara/teknik Marine Conservation Area (2011); Penelitian di area ini masih
konservasi dan pemulihan Keefektivan Daerah Perlindungan kurang dilakukan. Berbeda den-
habitat untuk mengemba- Padang Lamu di Pulau Bai, Distrik Pa- gan area-area lain yang bersifat
likan atau meningkatkan daido Kabupaten Biak Numfor sebagai pengamatan terhadap fenom-
produktivitas perikanan. Daerah Konservasi dan Pemulihan Stok ena alam, area ini mempelajari
Biota Terancam (2014-2016); Konser- rekayasa terhadap ekosistem. Di
vasi ekosistem pesisir dan rehabilitasi masa depan, kebutuhan untuk
ekosistem terumbu karang di Selat memulihkan ekosistem akan se-
Lembeh dengan transplantasi karang makin mendesak, karena itu P2O
batu (2016) harus mengembangkan kompe-
tensi di bidang ini.

26 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Bioprospeksi terhadap Analisa kandungan bioaktif teripang P2O sudah masuk ke area
biota-biota yang tersedia dan oligosakarida agar Indonesia ini. Bioprospeksi bisa sampai
dalam jumlah cukup berarti. sebagai sumber bahan baku obat dan mengidentifikasi senyawa-
makanan kesehatan (2011); Analisa senyawa yang sudah dikenal
Kandungan Bioaktif Teripang Indonesia manfaatnya, atau bisa sampai
sebagai Bahan Baku Obat dan Makan- melakukan pengujian in vitro,
an Kesehatan (2012); Kajian Awal atau sampai in vivo, atau bahkan
Formulasi Produk Makanan Kesehatan sampai melakukan pengujian
dari Teripang (2013); Optimasi Produksi pre-klinis dan klinis dari senyawa
dan Karakterisasi Senyawa Antibiotik yang diekstrak dari suatu biota.
dari Bakteri Rhodobacteraceae bacte- Penentuan sejauh mana ini akan
rium yang Berasosiasi dengan Spons menentukan pengembangan
Aaaptos spp. (2013-2014); Optimalisasi kepakaran atau rekrutmen SDM
ekstraksi karaginan dari rumput laut baru dari P2O.
Eucheuma cottonii pada lokasi ber-
beda dan konsentrasi NaCl berbeda di
perairan Maluku Tenggaran (2016)
Memahami interaksi unsur- Penelitian suksesi diurnal plankton dan Penelitian di area ini meman-
unsur dalam ekosistem dan kaitannya dengan dinamika lingkungan faatkan pengetahuan tentang
pengaruh intensitas dan di perairan Teluk Jakarta (2011); keanekaragaman hayati yang
cara penangkapan terhadap sudah banyak dan lama diteliti
dinamika dan kerentanan oleh P2O. Penelitian di area ini
ekosistem. ditujukan untuk mendapatkan
model ketahanan ekosistem
terhadap berbagai intensitas
eksploitasi. Dari segi penge-
tahuan, P2O sudah memiliki
dasar pengetahuan yang kuat di
area ini, namun untuk meneliti
berbagai ekosistem di Indonesia,
dibutuhkan peralatan dan dana
yang cukup besar.
Pengaruh spesies yang ter- Kajian Resiko Logam Berat Merkuri dan Kajian ini adalah area penelitian
cemar pada manusia yang Logam Berat Lainnya bagi Masyarakat tentang kesehatan manusia yang
mengkonsumsinya Peisisir Kalimantan Barat (2012-2013) berada di luar bidang penelitian
P2O. Namun, ini perlu ada yang
melakukannya untuk menjamin
bahwa komoditas hayati laut
yang dipromosikan P2O benar-
benar sehat bagi manusia. Basis
ilmunya hampir sama dengan
kegiatan bioprospeksi yang men-
gidentifikasi manfaat senyawa
yang diekstrak dari biota terha-
dap manusia.

Antara Riset ke depan ... || 27


Menjaga stabilitas ket- Pengelolaan sumberdaya kekerangan Kajian ini sudah dilakukan pada
ersediaan stok dengan berbasis masyarakat di Bangka Beli- beberapa beberapa jenis biota.
memasukkan kembali tung (pemulihan populasi di daerah-
spesies-spesies yang mulai daerah kritis) (2011); Evaluasi Teknik
langka (misalnya dengan Transplantasi Karang untuk Kegiatan
menyebarkan kembali telur Wisata Bahari, Rehabilitasi dan Perda-
atau larva). gangan di Bali (2012); Konservasi dan
Pengembangan Koleksi Kultur Mik-
roalga Laut (2015); Kajian Sebaran dan
Penambahan Koleksi Moluska dari
Perairan Nabire Teluk Cendrawasih
– Papua (2015); Pengembangan dan
Pemulihan Alami Teripang (Holothura
idea) di Alam: Seleksi Lokasi Restock-
ing dan Pengembangan Anakan Teri-
pang hasil Budi daya (2015)
Pengaruh perubahan iklim Dampak Fenomena rob terhadap Pesi- Kajian ini masuk pada kajian-
pada ketahanan pangan sir Estuaria dan Ketahanan Pangan di kajian perubahan iklim.
Wilayah Pantura, Propinsi Jawa Timur
(2012);

“Ada banyak biota di laut. Karena terbatasnya jumlah peneliti dan dana penelitian, maka perlu diten-
tukan prioritas biota yang akan menjadi pusat penelitian. Hal ini tidak berarti biota lain diabaikan,
tetapi biota lain diteliti dalam hubungannya dengan biota yang menjadi prioritas. Misalnya peneli-
tian tentang ikan tuna tidak bisa dilepaskan dari penelitian biota-biota lain yang ada dalam jejaring
makanan yang menjadi penopang ikan tuna tersebut. Penentuan biota yang menjadi prioritas ini bisa
berasal dari potensi ekonominya saat ini atau berdasarkan bioprospeksi.”

Tabel 17. Penangkapan biota laut


Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Identifikasi stok biota laut dan Belum ada Topik baru, namun didasarkan pen-
tingkat intensitas penangkapan- getahuan biodiversitas dan migrasi
nya yang sesuai dengan stok untuk biota yang sudah dimiliki P2O.
menjamin kelangsungan usaha
penangkapan ikan/non-ikan.
Pengembangan metode penang- Belum ada Area baru bagi P2O. Lebih
kapan ikan yang efektif dengan menekankan ke teknik dan peman-
menggunakan berbagai teknologi faatan teknologi.
terkini.

28 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Tabel 18. Budi daya biota laut

Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan


Pengembangan teknik budi Budi daya ikan hias di Ternate (2011); P2O sudah memilliki pengalaman
daya biota laut yang memiliki Pengembangan budi daya teripang dalam membudi dayakan beberapa
potensi komersial berdasar- pasir (2015); Kegiatan padat karya jenis biota, serta mendiseminasikan-
kan kajian bioprospeksi, na- budi daya rumput laut dan olahannya nya ke masyarakat. Di area ini, P2O
mun belum menjadi perhatian (2015); Budi daya teripang laut hitam perlu menentukan apakah akan
masyarakat ataupun lembaga (2016); Budi daya lobster (2016) mengembangkan praktik budi daya
lain. yang bisa direplikasi oleh masyara-
kat, atau bahkan oleh industri besar.
Keduanya memiliki teknik dan peng-
gunaan teknologi yang berbeda.
Pengaruh budi daya biota laut Belum ada Penelitian ini merupakan bagian
pada ekosistem di sekitarnya yang tak terpisahkan dari pengem-
bangan budi daya di atas. Meskipun
topik ini tidak ditemukan dalam
proyek penelitian 2011-2016, tetapi
penelitian yang mirip atau dekat
dengan topik ini sudah dilakukan
P2O.
Pemuliaan bibit unggul dan Upaya peningkatan mutu produk Penelitian ini sudah dilakukan untuk
pengembangannya melalui kekerangan siput gonggong dan beberapa jenis biota.
rekayasa genetika. kerang darah (2011); Peningkatan
Produktivitas Benih Abalon Tropis
(2012); Percobaan Pembenihan
Kepiting Scylla spp. (2013-2014); Pem-
benihan Ikan Capungan di Perairan
Ternate (2013); Usaha Pembenihan
Abalon Tropis di Kepulauan Seribu
DKI untuk mendukung Program Re-
stocking di Provinsi Bengkulu (2014)
Memahami proses penyeba- Belum ada Kajian ini merupakan pengemban-
ran penyakit di kawasan budi gan pengetahuan baru bagi P2O
daya dan cara pengelolaan yang tidak bisa diperoleh semata-
penanggulangannya secara mata melalui penelitian di laborato-
kolektif. rium, tetapi harus dengan melibat-
kan diri dalam mengatasi masalah di
dalam sistem sosio-ekologis.

Antara Riset ke depan ... || 29


Pengembangan teknik budi Pendampingan penerapan budi Kajian ini sudah banyak dilakukan
daya biota laut yang efisien daya rajungan dan kepiting di Babel oleh P2O untuk beberapa jenis biota.
dan ramah lingkungan. (memanfaatkan bekas penamban-
gan timah) (2011); Pembesaran Ikan
Sidat (Anguilla spp) di Balai Benih
Ikan Nasal, Kabupaten Kaur Provinsi
Bengkulu (2012-2013); Eksplorasi Mi-
kroalga Pakan dari Perairan Lombok
untuk Mendukung Perikanan Budi
daya (2012); Optimalisasi Scalling Up
Sistem Bakteriofiltrasi Menggunakan
Limbah Sekam Padi untuk Kegiatan
Budi daya Laut (2012); Pember-
dayaan Nelayan Melalui Budi daya
Teripang Pasir (Holothuria Scabra)
di Perairan Pulau Osi Seram Barat
(2012); Kesesuaian Perairan untuk
Budi daya Pembesaran Biota Laut
di Pesisir Kabupaten Kaur (2013-
2014); Usaha Budi daya Pembesaran
Lobster Sistem Resirkulasi di Provinsi
Bengkulu (2014); Usaha Pembesaran
Teripang Pasir di Propinsi Bengkulu
(2014)

Tabel 19. Pengembangan teknologi pascapanen

Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan


Pengembangan teknologi Belum ada Area ini belum dieksplorasi oleh
pengolahan ikan yang terjang- P2O. Tantangannya bukan hanya
kau dan bebas dari bahan- bisa menghasilkan temuan teknologi
bahan berbahaya proses pengolahan, tetapi juga
teknologi proses tersebut cukup
murah sehingga nelayan bisa men-
gadopsinya.
Pengembangan kit untuk Belum ada Kajian ini belum dilakukan, tetapi
mengidentifikasi secara cepat dengan pengetahuan dan peneliti
makanan-makanan yang terce- yang ada, P2O bisa melakukan pene-
mar atau menggunakan bahan litian di area ini.
berbahaya.
Penggunaan bioteknologi un- Pengembangan Produk Sediaan Bioteknologi untuk pengola-
tuk mengembangkan produk- Makanan Kesehatan dari Teripang han produk turunan dari biota laut
produk turunan dari biota (2014-2015); Pengembangan Nutra- adalah bidang yang luas. Kelompok
laut, baik untuk keperluan ceutical dari Teripang dan Ikan Sidat kepakaran di bidang ini bisa dibuat
pangan maupun nonpangan. dengan Evaluasi Substansi Anti- sebesar apapun tergantung dengan
Degenerative (2015); Pengembangan visi yang hendak dicapai P2O.
Formulasi Produk Makanan Kesehat-
an dari Teripang (2016)
Memanfaatkan limbah hasil Belum ada Topik ini belum dilakukan P2O, tetapi
laut sebagai bahan pangan basis pengetahuan yang diperlukan-
fungsional dan farmasi/suple- nya sama dengan untuk pengolahan
men (gelatin, chitin, chitosan) pangan atau nonpangan yang sudah
melalui koordinasi dengan disebut di atas.
instansi terkait.

30 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Analisis Kesenjangan Tema Penelitian Ketahanan Energi

Penelitian di area energi belum banyak diinisiasi oleh P2O, baik mengenai identifikasi sumber
energi konvensional, energi terbarukan hayati dan non hayati. Studi mengenai sumber energi laut
masih mencakup energi arus laut dan metode pengembangan micro algae untuk biodiesel. Peluang
riset ke depan di area energi masih sangat besar dan memiliki prospek strategis untuk mendukung
pemanfaatan sumber energi laut yang belum banyak tergali.
Dengan infrastruktur riset yang dimiliki saat ini, P2O berpeluang untuk menggali penelitian
di area eskplorasi sumber energi dari laut dan pengembangan teknologi.

Tabel 20. Analisis kesenjangan Riset Energi ke depan dan riset P2O LIPI
Penelitian Penelitian Sebelumnya yang relevan
Identifikasi sumber energi dari laut Energi Arus Laut (publikasi)
Bioprospeksi terhadap berbagai spesies • Chaetoceroe Gracilis and Tetraselmis sp. As Biomass and
mikroalga yang paling potensial sebagai Lipid Producer for Biodiesel Production
sumber energi • Transesterification: An Overview Simple Method for Fatty
Acid Methyl Esters (FAME) Preparation from Marine Microal-
gae as A Biodiesel Feedstocks
Konversi mikroalga menjadi energi, Pertumbuhan biomassa kandungan khlorofil-A, lipid dan asam-
misalnya biofuel. asam lemak pada mikroalga, Melosira sp. In Situ Acid-
Budi daya mikroalga Belum ada

Analisis Kesenjangan Tema Penelitian Pencemaran Laut


Lautan Indonesia demikian luas dan sebagian besar tak terawasi. Pencemaran terhadap laut bisa
berasal dari mana-mana, dan kerap sumber-sumbernya berjarak cukup jauh dari laut. Dampak
pencemaran ini bisa jangka pendek, tetapi yang lebih sering bersifat jangka panjang. Karena banyak
orang tinggal jauh dari laut, tidak bersentuhan dengan laut yang tercemar, banyak orang menganggap
enteng persoalan ini.
P2O sudah melakukan penelitian di beberapa jenis persoalan pencemaran di beberapa wilayah.
Namun, persoalannya ada banyak jenis pencemaran dan ada banyak wilayah yang tercemar.
Riset P2O di bidang pencemaran sudah banyak dilakukan, baik untuk mengidentifikasi indikator
pencemar, bioindikator sampai ke bioremediasi. Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan
masih berskala riset, ke depan, manfaat riset di area ini bisa diperluas/diperbesar terutama untuk
skala aplikasi industri.
Berikut ini akan dibandingkan penelitian ke depan yang disarankan dengan penelitian yang
sudah dilakukan P2O sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa tabel berikut.

Antara Riset ke depan ... || 31


Tabel 21. Identifikasi polutan

Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan


Mengidentifikasi polutan-polutan Kajian risiko logam merkuri dan P2O sudah banyak melakukan
di muara, pesisir dan laut, baik di logam berat lainnya masyarakat penelitian di area ini. Tetapi,
sedimen maupun kolom airnya, pesisir selat Karimata (2011); Zonasi penelitian ini perlu dilakukan
khususnya yang sudah mulai perairan Teluk Jakarta berdasarkan terus karena masalah pencema-
mengganggu ekosistem. Karakterisasi Sedimen, Fisika, Os- ran cenderung menjadi parah.
eanografi, Logam Berat kontaminan Yang perlu dilakukan adalah
dan toksistasnya (2011); Kajian Krite- mengarahkan penelitiannya dan
ria Kualitas Air Laut Melalui Monitor- mengemas hasilnya untuk mem-
ing Tingkat Pencemaran dan Uji Bio- peringatkan masyarakat dan
assay, Senyawa Polisiklik Aromatik pemerintah tentang keseriusan
Hidrokarbon (PAH) di Teluk Jakarta persoalan ini. Untuk itu pengem-
(2013); Identifikasi Kualitas Lingkun- bangan indikator pencemaran
gan dan Status Mutu Perairan Akibat dan publikasinya bagi masyara-
Dampak Kegiatan Antropogenik di kat luas perlu dilakukan.
Perairan Pesisir Probolinggo Jawa
Timur (2013); Kajian Sedimentasi
dan Kandungan Palinomorf untuk
Rekonstruksi Kerusakan Wilayah
Pantai di Probolinggo (2013); Potensi
Serapan Karbon di Kawasan Pesisir
Pulau Bintan (2013-2014); Pengem-
bangan Pedoman Kualitas Sedi-
men Laut: Monitoring dan Baseline
Pencemaran Cu dan PAH dalam Sedi-
men dan Uji Toksisitas (Bioassay)
Sedimen Teluk Banten (2016)
Melacak asal polutan apakah dari Belum ada P2O masih belum melakukan ini,
kegiatan rumah tangga, industri, karena area ini merambah ke
pertanian, atau kegiatan manusia kawasan yang menjadi sumber
di laut berdasarkan jenis polutan- pencemaran yang bisa berada
nya. jauh dari laut. Tetapi, untuk
membuat regulasi yang lebih
baik dalam mengatasi pencema-
ran di laut, mengetahui sumber-
sumber pencemaran sangat
diperlukan. Dasar pengetahuan-
nya sudah dimiliki P2O.
Meneliti dampak dari kegiatan Belum ada P2O belum melakukan kegiatan
pengerukan muara dan pantai ter- ini. Tetapi, memiliki dasar penge-
hadap pelepasan zat-zat pencemar tahuan untuk melakukannya.
yang mengendap di sedimen.

32 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Pengidentifikasian biomarker dan Penelitian Amphipod sebagai biota P2O sudah banyak melakukan
bioindicator untuk berbagai jenis uji biologis bahan pencemar (2011); penelitian ini. Sasaran yang perlu
polutan. Pengembangan Biomarker untuk dicapai adalah mengidentifikasi
Memprediksi Asal Pencemaran Fecal biomarker dan bioindicator untuk
dan Mikroorganisme Patogen di setiap polutan, keefektivan-
Lingkungan Pesisir dan Biota Ekono- nya, serta apakah mengalami
mi yang Tercemar (2013); Pengem- perubahan/mutasi dalam proses
bangan Biota Uji untuk Mendeteksi menjadi penanda pencemaran.
Pencemaran di Ekosistem Pesisir
(2014); Respon Biota (Bioindikator)
sebagai Proksi Kesehatan Ekosistem
Laut terhadap Aktivitas Antropoge-
nik (2015-2016);
Pengaruh arus laut pada penyeba- Belum ada P2O belum melakukan peneli-
ran pencemaran di Indonesia. tian di sini. Pemodelan arus laut
sebagai pembawa pencemaran
perlu dilakukan. Ini perlu untuk
keperluan kerja sama internasi-
onal dalam penanganan pence-
maran.

Tabel 22. Dampak pencemaran pada lingkungan dan biota

Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan


Menguji di laboratorium efek racun Belum ada Dari penelitian 2011-2016, tidak dite-
dari senyawa pencemar mukan P2O meneliti mengenai hal ini.
Namun, dengan pengetahuan yang
ada P2O bisa melakukannya.
Dampak bioakumulasi (akumulasi Belum ada P2O belum melakukan penelitian ini.
dalam tubuh biota) dari senyawa Penelitian ini penting, namun secara
kimia yang tidak beracun terhadap teknis sulit dilakukan. Pada penelitian
biota dalam jangka panjang. binatang darat, pemantauan jangka
panjang bisa dilakukan pada individu
binatang. Pada binatang laut, yang pal-
ing mungkin dilakukan adalah peneli-
tian pada sampel dari populasi.
Perpindahan senyawa pencemar Kajian Resiko Logam Merkuri dan Penelitian secara rinci tentang biomag-
melalui jejaring makanan, dari Logam Berat Lainnya Bagi Ma- nification dari mangsa ke predatornya
suatu biota ke predatornya, dan syarakat Pesisir Kalimantan Barat belum pernah dilakukan.
proses biomagnification yang (2012-2013)
terjadi.

Antara Riset ke depan ... || 33


Dampak pengaruh pencemaran Studi Evaluasi Baku Mutu Senya- P2O belum melakukan penelitian
terhadap tingkat reproduksi, wa Organik PAH, PCB, Pestisida pengaruh pencemaran pada sifat-sifat
tingkat kematian, ukuran biota, Organoklorinn (kajian tingkat tertentu dari biota, seperti reproduksi,
dan variabilitas genetis (yang pencemaran dan toksisitas) (2011); mortalitas sampai ukuran fisik.
diakibatkan oleh matinya individu-Hubungan tingkat kecerahan per-
individu yang tidak toleran terha-airan terhadap ekosistem terumbu
dap pencemaran). karang (2011); Identifikasi Kualitas
Lingkungan untuk Menunjang
Budi daya Biota Laut di Perairan
Lombok Nusa Tenggara Barat
(2012); Monitoring Kesehatan
Terumbu Karang dan Ekosistem
Terkait (2013); Pengaruh Aktivitas
Antropogenik terhadap Kualitas
Hidup Ikan Pari di Teluk Jakarta
(2013)
Pencemaran nutrien yang berlim- Kajian fenomena Alga Bloom P2O sudah melakukan penelitian
pah menyebabkan algal bloom (HAB) dalam kaitannya dengan mengenai hal ini. Algal bloom ini masih
yang menurunkan kadar oksigen Sistem Peringatan Dini (2011); Pen- akan menjadi masalah besar di Indone-
dalam air (hypoxia) dan mengha- ingkatan Kesadaran Masyarakat sia karena banyak daerah pemukiman,
langi sinar matahari menembuh air terhadap Fenomena Harmful Algal apa lagi pertanian, tidak memiliki fasili-
laut. Bloom (HAB) di Ambon dan Lam- tas pengolahan limbah. Pencegahan di
pung (2013); Kajian Algal Bloom sumbernya lebih penting. Tetapi, yang
dan Dead Zone dalam Kaitannya lebih dulu perlu dilakukan, mengem-
dengan Sistem Peringatan Dini di bangkan metode penginderaan dini
Perairan Teluk Jakarta(2013); Studi dari algal bloom, dan penanggulangan
Fitoplankton Toksik di teluk Lam- untuk meminimalkan akibatnya.
pung dan Teluk Ambon (2014)
Mengkaji dampak lingkungan dari Belum ada P2O belum melakukan penelitian men-
budi daya perikanan genai hal ini. Budi daya di laut lepas
sudah intensif dilakukan di beberapa
tempat. Kajian dampak lingkungan
perlu dikaji agar tidak merugikan baik
pelaku budi daya maupun ekosistem.
Dampak sampah laut (marine de- Micro plastics in the deep sea sedi- Dari laporan tahunan 2011-2016, tidak
bris) yang sebagian besar didomi- ment of Southwestern (publikasi terlihat P2O melakukan penelitian
nasi plastik pada ekosistem. 2016). tentang hal ini. Plastik berukuran besar
membuat sebagian binatang laut mati
karena masuk dalam plastik dan tak
bisa lepas (entanglement), atau menel-
an (ingestion), atau tercekik sampai
tak bisa nafas (suffocation). Dampak
plastik pada kesehatan ekosistem
dan manusia masih membutuhkan
riset, tetapi dampaknya dalam meru-
sak keindahan pantai, dan kemudian
mengganggu industri pariwisata sudah
bisa dirasakan. Penelitian ini terutama
diperlukan sebagai dasar pengetahuan
bagi tatakelola laut di tingkat interna-
sional.

34 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Tabel 23. Penanganan pencemaran
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Penanggulangan berbagai jenis Uji coba bioremediasi cemaran P2O sudah melakukan penelitian
pencemaran dengan bioremediasi, minyak di pantai berpasir (2011); di area ini. Perlu dieksplorasi
serta kajian terhadap efektivitas- Eksplorasi sumber karbon aternatif bioremediasi untuk berbagai jenis
nya. untuk proses denitrifikasi dalam pencemaran dan efektivitasnya.
sistem resirkulasi untuk kepent-
ingan budi daya (2011); Pengaruh
senyawa Metabolit Sekunder pada
Lobophytum sp. (Alcocyonacea)
terhadap pertumbuhan karang
Acropora Sp. Dan Pocillopora sp.
(Scelaractinia) dan kaitannya terha-
dap Pengaruh Lingkungan (2015);
Pengembangan Teknik Bioremediasi
di Kawasan Minyak Perairan Pesisir
Teluk Jakarta (2016)
Mencari berbagai cara untuk men- Belum ada Penelitian tentang algal bloom
gurangi dampak algal bloom atau dan berbagai pengaruhnya sudah
kelebihan nutrien, misalnya dengan dilakukan P2O, namun belum
budi daya rumput laut atau kerang meneliti bagaimana menanggu-
yang bisa menyerap N dari air langinya. Seiring dengan menin-
laut, ataupun dengan pemulihan gkatnya jumlah “zona kematian”
ekosistem pantai seperti rawa dan akibat algal bloom, maka mencari
gumuk. cara yang efektif untuk mengan-
tisipasi dan menanggulanginya
menjadi sangat penting.

Analisis Kesenjangan Riset Keanekaragaman Hayati Laut


Tabel 24. Analisis Kesenjangan penelitian bidang Keanekaragaman hayati
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Level Genetik Riset 2011: P2O sudah meneliti keanek-
- Elaborasi dan eksplorasi gen • EWIN: Biodiversitas kondisi os- aragaman hayati dari perspektif
-gen penting untuk menin- eanografi di Kepulauan Natuna genetika, yang bisa memberi
gkatkan produktivitas baik • Pola keragaman dan adaptasi gambaran yang lebih kaya
untuk pertumbuhan maupun biota laut di perairan berenergi dibandingkan perspektif mor-
ketahanan terhadap penyakit gelombang tinggi. fologis semata. Ini merupakan
- penyeleksian galur-galur ung- • Penelitian Filogeografi dan pola penelitian frontier yang men-
gul dengan variasi genetik migrasi ikan sidat tropis. gandalkan instrumen pene-
yang dapat tumbuh dalam Keragaman dan Adaptasi Biota Laut litian yang canggih, karena itu
berbagai kondisi ekstrim sa- di Daerah Berenergi Gelombang ketergantungan pada pihak luar
linitas tinggi, kualitas air yang Tinggi (2012 -2016). negeri masih besar. Secara ber-
buruk dan lain-lain • Pendekatan Genetika untuk tahap, ketergantungan ini perlu
- pemanfaatan informasi Mengidentifikasi Stock Populasi dikurangi. Dan pengembangan
genetik untuk identifikasi Udang Penaid di Selat Makasar metodologi penelitan yang lebih
mikroorganisme yang mampu dan Teluk Bone. cepat dan akurat perlu terus
mendegradasi polutan dikembangkan.

Antara Riset ke depan ... || 35


Level spesies : Bioteknologi untuk • Ekspedisi Widya Nusantara P2O sudah sangat banyak
lingkungan laut (EWIN): Integrasi Kajian Karakter melakukan penelitian biodiver-
• inventarisasi dan identifikasi Oseanografi, Geologi, dan Ke- sitas di level spesies. Penelitian
mikroorganisme di laut anekaragaman Biota Perairan Laut masih perlu dilakukan karena
• pencarian informasi terkait Dalam di Laut Sulawesi kekayaan hayati laut Indonesia
mekanisme dalam degradasi • Penelitian Biodiversitas Biota Laut masih belum sepenuhnya terek-
polutan di Perairan Pulau Dullah Laut Kota splorasi, selain itu spesies juga
• pengembangan fasilitas untuk Tual dan sekitarnya terus beradaptasi seiring dengan
keamanan keanekaragaman • Penelitian Keanekaragaman sum- perubahan lingkungan laut.
mikroorganisme untuk degra- ber daya hayati laut di Sulawesi
dasi polutan di laut Utara dan sekitarnya
• Biodiversitas Biota di Ekosistem
Wilayah Pesisir di Minahasa Utara
dan Sekitarnya
• Teripang Indonesia: Eksplorasi,
Pengelolaan dan Keterkaitannya
dengan Kondisi Oseanografi di
Perairan Indonesia

Level ekosistem Biodiversitas Biota di Ekosistem P2O masih harus lebih ban-
- penelitian tentang faktor- Wilayah Pesisir di Minahasa Utara yak lagi melakukan penelitian
faktor yang menghasilkan, dan Sekitarnya (2016), tentang unsur-unsur yang
memelihara dan menguras Studi biodiversitas ekosistem per- berinteraksi dalam ekosistem.
keanekaragaman hayati airan Kepulauan Kei Kecil, Maluku Kelangsungan suatu biota
- pengetahuan tentang peran Tenggara (2011) sangat tergantung pada eko-
keanekaragaman hayati dalam sistem di sekitarnya. Sementara
fungsi ekosistem laut ekosistem juga berubah karena
pencemaran, perubahan iklim
- pemahaman bagaimana maupun kegiatan penangkapan
spesies dan populasi dapat yang mengganggu keseimban-
beradaptasi dengan peruba- gan ekosistem, dan karena itu
han lingkungan laut, mengganggu keanekaragaman
- Memahami hubungan antara hayati juga.
keanekaragaman hayati laut
dan layanan ekosistem

Analisis Kesenjangan Pengelolaan Lingkungan Pesisir yang


Berkelanjutan
Tabel 25. Pengungkapan terhadap fakta-fakta akan pengaruh variabilitas iklim terhadap
ekosistem pesisir
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Perubahan suhu dan salinitas ter- Ada beberapa publikasi 2012 Penelitian tentang perubahan suhu
hadap Produksi primer 30 tahun mengenai fluktuasi harian dan salinitas terhadap produksi
terakhir suhu-salinitas permukaan laut primer sudah pernah dilakukan P2O,
dan kemungkinan penyebabnya namun belum mendalam dan seb-
di perairan Indonesia bagian agai penelitian tersendiri. Jika meli-
Barat tapi belum terkait dengan hat fokus P2O mengenai kesehatan
produksi primer. ekosistem dan biodiversitas, maka
penelitian seperti ini perlu dilakukan
secara penuh sehingga bisa mem-
berikan insight yang lebih dalam
untuk memahami proses ekosistem
khususnya di wilayah pesisir.

36 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Perubahan suhu terhadap Keru- pengembangan sistem infor- P2O sebagai walidata ekosistem
sakan terumbu karang 30 tahun masi dan penelitian kerusakan terumbu karang nasional. Sehingga
terakhir terumbu karang (2012); Survei penelitian terkait terumbu karang
nasional coral reef growth termasuk perubahan suhu yang
(2012); Reef Health Monitor- menyebabkan kerusakannya perlu
ing (2012); Hubungan tingkat ditingkatkan. Termasuk di dalam-
kecerahan perairan terhadap nya update tools dan area yang
ekosistem terumbu karang diperlukan untuk menilai perubahan
(2012); Monitoring Kesehatan suhu terhadap kerusakan terumbu
Terumbu Karang dan Ekosistem karang.
Terkait (2013); Ekspedisi Sail
Komodo (2013); Ekspedisi Widya
Nusantara (2013-2014); Monitor-
ing Kesehatan Terumbu Karang
dan Ekosistem Terkait di Wilayah
COREMAP-CTI ADM (2014);
Monitoring Kesehatan Terumbu
Karang dan Ekosistem Terkait
(2016); Ekspedisi Sabang (2016);
Ekspedisi Widya Nusantara
(2016); Dampak Perubahan Suhu
dan Salinitas terhadap Stress
Karang: Kajian Genetik dalam
Pengelolaan Terumbu Karang
(2015)
Perubahan suhu terhadap frekue- Kajian dampak dan adaptasi P2O sudah melakukan penelitian di
nsi kejadian badai dan gelombang gejala perubahan iklim global area ini. Perlu dieksplorasi Perubah-
tinggi 30 tahun terakhir di wilayah pesisir Pulau Bintan an suhu terhadap frekuensi kejadian
Timur, Kepulauan Riau (2016) badai dan gelombang tinggi di
wilayah lain, khususnya di wilayah
Coremap yang menjadi fokus area
P2O
Perubahan suhu & perubahan ke- Kajian dampak dan adaptasi P2O sudah melakukan penelitian di
cepatan vertikal terhadap kekua- gejala perubahan iklim global area ini. Perlu dieksplorasi Peruba-
tan upwelling 30 tahun terakhir di wilayah pesisir Pulau Bintan han suhu & perubahan kecepatan
Timur, Kepulauan Riau (2016) vertikal terhadap kekuatan upwell-
ing di wilayah lain, khususnya di
wilayah Coremap yang menjadi
fokus area P2O
Perubahan suhu dan salinitas Kajian dampak dan adaptasi P2O sudah melakukan penelitian di
terhadap Nursery dan spawning gejala perubahan iklim global area ini. Perlu dieksplorasi Perubah-
ground 30 tahun terakhir di wilayah pesisir Pulau Bintan an suhu dan salinitas terhadap Nurs-
Timur, Kepulauan Riau (2016) ery dan spawning ground di wilayah
lain, khususnya di wilayah Coremap
yang menjadi fokus area P2O
Perubahan suhu, perubahan ke- Kajian dampak dan adaptasi P2O sudah melakukan penelitian di
cepatan dan pola arus, kekuatan gejala perubahan iklim global area ini. Perlu dieksplorasi Peruba-
upwelling terhadap Pergeseran di wilayah pesisir Pulau Bintan han suhu, perubahan kecepatan
lokasi dan perubahan musiman Timur, Kepulauan Riau (2016) n pola arus, kekuatan upwelling
fishing ground 30 tahun terakhir terhadap Pergeseran lokasi dan
perubahan musiman fishing ground
di wilayah lain, khususnya di wilayah
Coremap yang menjadi fokus area
P2O.

Antara Riset ke depan ... || 37


Perubahan dan Variabilitas Iklim Belum ada Dari laporan tahunan 2011-2016,
terhadap Dinamika Laut Perai- tidak terlihat P2O melakukan peneli-
ran Indonesia (Pola arus, eddies, tian tentang hal ini. Perlu dilakukan
Arlindo) penelitian terkait hal ini khususnya
di wilayah COREMAP.
Perubahan dan Variabilitas Iklim Dari laporan tahunan 2011-2016,
terhadap Kestabilan Perairan Laut tidak terlihat P2O melakukan peneli-
Indonesia (kecepatan vertikal, tian tentang hal ini. Perlu dilakukan
upwelling, percampuran) penelitian terkait hal ini khususnya
di wilayah COREMAP.
Perubahan dan Variabilitas Iklim EWIN: Biodiversitas kondisi os- Dari tahun 2012-2016, P2O melaku-
terhadap Kesuburan Perairan eanografi di Kepulauan Natuna kan penelitian di permaslahan ini.
(Produksi primer, zooplankton, (2012); Ekspedisi Sail Komodo Kesenjangan penelitiannya lebih
spawning ground, nursery ground, (2013); Ekspedisi Widya Nusan- pada area yang dijangkau dalam
fishing ground) tara (2013-2014) penelitian atau survey yang dilaku-
kan selama ini, khususnya untuk
wilayah COREMAP.
Perubahan dan Variabilitas Iklim Penelitian terkait distribusi P2O pada dasarnya sudah melaku-
terhadap Fish Behaviour spasial dan temporal biota laut kan penelitian di area ini namun
sudah dilakukan perlu dilakukan penelitian terkait
dengan kaitan antara perilaku biota
laut dengan perubahan iklim
Perubahan dan Variabilitas Iklim Terdapat publikasi mengenai P2O pada dasarnya sudah melaku-
terhadap Ekosistem Perairan dampak perubahan iklim ter- kan penelitian di area ini namun
Pesisir hadap wilayah pesisir (Wilayah perlu dilakukan penelitian sendiri
Indonesia Barat) (2016), serta ka- untuk mengatasi permasalahan ini.
jian prediksi kerentanan pesisir
terhadap perubahan iklim di Ci-
rebon (2011). Selain itu terdapat
beberapa publikasi yang terkait
dengan dampak perubahan iklim
terhadap lamun (2012),
Memahami respon dari organisme Respon Biota (Bioindikator) seb- P2O sudah melakukan penelitian
laut terhadap perubahan dan vari- agai Proksi Kesehatan Ekosistem di area ini. Perlu dieksplorasi lanjut
abilitas iklim yang terjadi Laut terhadap Aktivitas Antropo- respon dari organisme laut terha-
genik (2016) dap perubahan dan variabilitas iklim
yang terjadi di wilayah khususnya
COREMAP

Tabel 26. Dampak Stressor Lingkungan terhadap Ekosistem Pesisir


Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Kesenjangan
Dampak Overfishing terhadap EWIN: Biodiversitas kondisi os- P2O sudah banyak melakukan
Ekosistem Pesisir eanografi di Kepulauan Natuna penelitian di area ini. Kesenjan-
(2012); Ekspedisi Sail Komodo gan yang ada khususnya dalam
(2013); Ekspedisi Widya Nusantara melakuan pendataan dan model-
(2013-2014) ing dari dampak overfishing yang
selama ini terjadi

38 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Dampak Polusi terhadap Eko- Kajian Resiko Logam Berat Merkuri P2O sudah banyak melakukan
sistem Pesisir dan Logam Berat Lainnya bagi Ma- penelitian ini. Sasaran yang perlu
syarakat Peisisr Kalimantan Barat dicapai adalah mengidentifikasi
(2012) biomarker dan bioindicator untuk
setiap polutan, keefektivannya,
serta apakah mengalami peruba-
han/mutasi dalam proses menjadi
penanda pencemaran.
Dampak excess of sediment Analisis Kondisi Oseanografi dan P2O sudah banyak melakukan
terhadap Ekosistem Pesisir Geologi dalam Kaitannya dengan penelitian ini. Perlu dieksplorasi
Proses Erosi dan Sedimentasi di lebih lanjut mengenai metode,
Kawasan Pesisir Probolinggo Jawa tools dan coverage area dari
Timur (2013); Kajian Sedimentasi kajian ini.
dan Kandungan Palinomorf untuk
Rekonstruksi Kerusakan Wilayah
Pantai di Probolinggo (2013 &
2016); Pengembangan Teknik Bio-
remediasi di Kawasan Minyak Per-
airan Pesisir Teluk Jakarta (2016);
Keefektivan Daerah Perlindungan
Padang Lamu di Pulau Bai, Distrik
Padaido Kabupaten Biak Numfor
sebagai Daerah Konservasi dan
Pemulihan Stok Biota Terancam
2019)

Tabel 27. Metode yang dapat memprediksi serta mengurangi dampak bahaya dan
bencana di pesisir
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Mengembangkan, menguji dan Ujicoba bioremediasi cemaran P2O sudah banyak melakukan
menerapkan metode yang dapat minyak d pantai berpasir (2012); penelitian ini. Sasaran yang perlu
memprediksi serta mengurangi Studi dinamika dan evolusi dicapai adalah mengidentifikasi
dampak bahaya dan bencana di lingkungan pesisir Teluk Jakarta biomarker dan bioindicator untuk
pesisir, termasuk pendekatan (2012); Kajian fenomena Alga setiap polutan, keefektivannya,
rekayasa ekologis dan restorasi Bloom (HAB) dalam kaitannya serta apakah mengalami peruba-
lingkungan. dengan Sistem Peringatan Dini han/mutasi dalam proses menjadi
(2012-2013); Penelitian Amphipod penanda pencemaran.
sebagai biota uji biologis bahan
pencemar (2012); Pengembangan
Biomarker untuk Memprediksi Asal
Pencemaran Fecal dan Mikroor-
ganisme Patogen di Lingkungan
Pesisir dan Biota Ekonomi yang
Tercemar (2013); Strategi Pemban-
gunan Terpadu untuk Kawasan
Pesisir yang Mengalami Erosi:
Studi Kasus di Kawasan Pesisir
Ujung Gebang - Bugel, Indramayu,
Jawa Barat (2016); Kajian Potensi
Pencemaran terhadap kegatan
Transplantasi Terumbu Karang di
Perairan Selat Lembeh (2015)

Antara Riset ke depan ... || 39


Tabel 28. Informasi tentang status ekosistem saat ini serta cara untuk memperbaiki keru-
sakan ekosistem yang telah terjadi
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Kesenjangan
Alat untuk menilai kesehatan eko- Kajian fenomena Alga Bloom (HAB) Sejauh ini P2O sedang mengem-
sistem pesisir secara integratif dalam kaitannya dengan Sistem bangkan Ocean Health Index
Peringatan Dini (2012); Penelitian (OHI). Kajian yang sudah ada
Amphipod sebagai biota uji biologis diupayakan untuk meningkatkan
bahan pencemar (2012); Pengem- kualitas data dan pengukuran
bangan Biota Uji untuk Mendeteksi sehingga dapat menghasilkan pe-
Pencemaran di Ekosistem Pesisir nilaian ekosistem yang integrative.
(2014)
Mengembangkan teknologi Belum ada P2O tidak mengembangkan
penginderaan yang inovatif, teknologi penginderaan yang
termasuk yang berbasis pada alat inovatif namun memanfaatkan
molekuler baru, untuk melakukan teknologi penginderaan untuk
proses pemantauan dengan biaya memantau perubahan ekosistem
yang efektif di zona pesisir khususnya di wilayah pesisir.
Pendugaan produktivitas, sta- Belum ada P2O pada dasarnya sudah melaku-
tus kesuburan dan daya dukung kan penelitian di area ini. Perlu
perairan diupayakan peningkatan kemam-
puan dalam modeling untuk men-
duga produktivitas, status kesub-
uran dan daya dukung perairan.
Analisis bioaktif endosimbon EWIN: Biodiversitas kondisi oseano- P2O sudah pernah melakukan
spons dan karang lunak grafi di Kepulauan Natuna (2012); penelitian di area ini. Perlu diting-
Ekspedisi Sail Komodo (2013); katkan metode dan lokus yang
Ekspedisi Widya Nusantara (2013- menjadi area penelitian.
2014)
Melakukan restorasi ekosistem Kajian mengenai ekosistem man- P2O pada dasarnya melakukan
mangrove grove di pesisir sudah banyak penelitian di area ini. Perlu diek-
dilakukan seperti kajian kerapatan, splorasi mekanisme restorasi
penelitian struktur dan komposisi ekosistem mangrove.
mangrove, dll. Dan kajian ini telah
dilakukan di beberapa wilayah.
Selain itu telah ada publikasi
mengenai analisis pertubuhan bibit
bakau Rhizopora stylosa di kawasan
rehabilitasi Mangrove Tanjung Pasir
Tangerang

Tabel 29. Teknologi dalam usaha peningkatan produktivitas sumber daya laut di wilayah
pesisir
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
Pengembangan teknologi dalam Evaluasi Teknik Transplantasi Karang - Optimasi teknik produksi se-
usaha peningkatan produktivi- untuk Kegiatan Wisata Bahari, nyawa aktif
tas sumber daya laut di wilayah Rehabilitasi dan Perdagangan di Bali
pesisir (2012) - Transplantasi sel testicular pada
ikan hias dan ikan laut

- Penentuan marker dan plastisi-


tas genetika karang

- Perbanyakan karang secara


genotip

40 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Tabel 30. Pemahaman ilmiah yang lebih dalam tentang keterkaitan kompleks antara
sistem manusia dan alam di wilayah pesisir

Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Kesenjangan


Membangun basis data yang baik Kajian Ekosistem Pesisir (2012); P2O merupakan walidata nasional
untuk efektifitas kebijakan local de-
Kondisi Ekosistem Pesisir Perairan untuk padang lamun dan ekosistem
velopment dan juga mengarahkan Kabupaten Kaur (2013); Ekspedisi terumbu karang. Peningkatan
human behavior Sail Komodo (2013); Ekspedisi infrastruktur dan pengembangan
Widya Nusantara (2013); Profil sistem yang terintegrasi merupakan
Pesisir dan Oseanografi Perairan keharusan dalam beberapa tahun
Bengkulu (2013-2014); Pengem- ke depan.
bangan pedoman kualitas sedi-
men laut (2014); Ekspedisi Widya
Nusantara-Perairan Sumba (2016);
Meningkatkan sistem informasi
pengelolaan terumbu karang ter-
masuk pengelolaan akses penggu-
naan dan pelaporan yang berbasis
jaringan internet (2016)
Memastikan rencana tata ruang Studi kelayakan pembangunan P2O sudah banyak melakukan kajian
dan rencana pembangunan daerah dermaga di lingkungan perairan di area ini. Penelitian yang dilakukan
di wilayah pesisir mempertimbang- pantai Kab Subang (2012); Optimal- selama ini pun mengarah pada per-
kan isu keberlanjutan, misalkan isasi Konsep Pengelolaan Wilayah masalahan ini. Tantangannya adalah
dengan melakukan pemetaan Pesisir Teluk Ambon yang Berwa- bagaimana mengembangkan kon-
antara type of ecosystem, type of wasan Lingkungan (2012); Studi sep yang terintegrasi dalam mem-
ecosystem services, sector (fisher- Kelayakan Pembangunan Dermaga berikan masukan pada pemangku
ies, tourism, manufacture, agricul- di Lingkungan Perairan Pantai kepentingan dalam rencana tata
ture, etc) dengan socio-economic Kabupaten Subang dan Karawang ruang dan rencana pembangunan
characteristics (2012); Kajian Lokasi Budi daya dan daerah di wilayah pesisir memper-
Pembesaran Biota Laut di Pesisir timbangkan isu keberlanjutan.
Kabupaten Kaur (2014); Keefek-
tifan Daerah Perlindugan Padang
Lamun di Pulau Pai, Distrik Padaido
Kabupaten Biak Numfor sebagai
Daerah Konservasi dan Pemulihan
Stok Biota Terancam Tahun ke III
(2016)
Identifikasi sektor yang memiliki Dampak Aktivitas Industri, Tam- Penelitian terkait hal ini sudah
dampak positif dan negatif terha- bak, dan Pemukiman terhadap Per- banyak dilakukan oleh P2O. Perlu
dap coastal ecosystem airan Gresik, Jawa Timur (2012) peningkatan dalam hal approach,
metode dan tools dalam mengiden-
tifikasi sektor yang memiliki dampak
positif dan negatif terhadap coastal
ecosystem.
analisis biaya-manfaat dari ma- Dampak Aktivitas Industri, Tam- Perlu peningkatan dalam hal ap-
syarakat dan kegiatan ekonomi bak, dan Pemukiman terhadap proach, metode dan tools dalam
yang bergantung pada ekosistem Perairan Gresik, Jawa Timur (2012); menganalisis biaya-manfaat dari
di zona pesisir Eksplorasi Kondisi Oseanografi masyarakat dan kegiatan ekonomi
dan Ekosistem di Kawasan Pesisir yang bergantung pada ekosistem di
Pangandaran dan Sekitarnya untuk zona pesisir.
Pengembangan Wisasta Edukasi
(2012)

Antara Riset ke depan ... || 41


Tabel 31. Kompleksitas sistem manusia dan alam di wilayah pesisir terkait dengan sustain-
ability serta efisiensi alokasi SDA
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Kesenjangan
Kajian terhadap pendekatan kebi- Peningkatan Kesadaran Masyarakat P2O sudah banyak melakukan kajian
jakan serta evaluasi penerapannyaPesisir terhadap Fenomena Harmful di area ini. Penelitian yang dilakukan
terkait dengan coastal ecosystem Algal Blooms (HABs) sebagai Bencana selama ini pun mengarah pada per-
manajemen, seperti: adaptasi, Lingkungan di Lampung dan Lombok masalahan ini. Tantangannya adalah
sustainable sectoral activity (ecotour-
(2012); Kerentanan Komunitas Pesisir bagaimana mengembangkan konsep
ism, pollution prevention, dll) terhadap Perubahan Iklim di Selayar yang terintegrasi dalam mendukung
(2016) kebijakan yang di ambil pemerintah.
Kajian mengenai bagaimana menin- Telah ada publikasi mengenai eko- Berbagai penelitian P2O dan UPT
gkatkan kesejahteraan masyarakat sistem pesisir untuk mendukung salah satu tujuannya adalah menge-
pesisir pengembangan ekowisata di Pulau nai bagaimana meningkatkan kes-
Bintan (2013), ejahteraan masyarakat pesisir. Tan-
tangannya adalah pendekatan dan
metode agar cara yang selama ini di-
lakukan bisa lebih efektif dalam mem-
bantu masyarakat pesisir.
Kajian mengenai bagaimana menin- Potensi Pesisir Teluk Wondama Papua Upaya penigkatan nilai tambah ba-
gkatkan nilai tambah barang dan Barat (2016) rang dan jasa masyarakat pesisir
jasa masyarakat pesisir ssudah cukup banyak dilakukan oleh
P2O beserta UPT di bawahnya. Kes-
ejanjangan yang ada lebih pada pen-
ingkatan tata kelola atau manajemen
dalam membantu masyarakat me-
manfaatkan sumber daya alam yang
ada di sekitarnya.
Opsi kebijakan untuk mengurangi Belum ada P2O sudah banyak melakukan kajian
dampak negatif dan meningkatkan di area ini. Penelitian yang dilakukan
dampak positif (sektoral dan umum) selama ini pun mengarah pada per-
masalahan ini. Tantangannya adalah
bagaimana mengembangkan konsep
yang terintegrasi dalam mendukung
kebijakan yang di ambil pemerintah.

42 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Analisis Kesenjangan Riset Perubahan Iklim

Tabel 32. Analisis kesenjangan riset Climate Variability


Penelitian ke Depan Penelitian P2O Sebelumnya Analisis Kesenjangan
1. memahami air-sea interaction Belum ada Kajian di bagian ini belum secara
dalam skala MJO intensif dilakukan oleh P2O. Namun
2. memahami interaksi antara mon- demikian dengan pengetahuan dan
soon ENSO dan IOD peneliti yang ada, P2O bisa melakukan
3. memahami perubahan pola dan penelitian di area ini untuk mendukung
intensitas curah hujan area penelitian lainnya seperti untuk
4. melakukan kuantifikasi ITF seca- memahami dampak iklim terhadap
ra detil terkait dengan teleconne- ekosistem pesisir.
ction (ENSO dan IOD) melakukan
kuantifikasi upwelling
memahami shifting biologi (shifting Belum ada Studi ini belum dieksplorasi dengan
plankton) komprehensif, tetapi dengan pengeta-
huan dan peneliti yang ada, P2O bisa
melakukan penelitian di area ini.
memahami dinamika biogeokimia Dampak Perubahan Suhu Penelitian mengenai dinamika biogeo-
dan Salinitas terhadap Stress kimia masih baru di P2O melihat tren
Karang: Kajian Genetik ke depan perlu ditingkatkan penelitian
dalam Pengelolaan Terumbu di area ini.
Karang (2015)

Tabel 33. Analisis kesenjangan riset Global Warming - Climate change


Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
memahami antropogenik dan tren Pengaruh Aktivitas Antropogenik terh- P2O sudah memilliki pen-
adap Kualitas Hidup Ikan Pari (Elasmo- galaman dalam memahami
branchii) di Teluk Jakarta (2012-2013); antropogenik dan tren terkait
Dampak Perubahan Iklim terhadap perubahan iklim. Di area ini,
Perubahan Lingkungan Fisik di Wilayah P2O perlu melakukan pen-
Pesisir Kabupaten Probolinggo (2013); guatan riset untuk mema-
Kajian dampak dan adaptasi gejala pe- hami antropogenik terhadap
rubahan iklim global di wilayah pesisir perubahan iklim khususnya di
Pulau Bintan Timur, Kepulauan Riau wilayah pesisir.
(2015); Respon Biota (Bioindikator)
sebagai Proksi Kesehatan Ekosistem
Laut terhadap Aktivitas Antropogenik
(2015)

Antara Riset ke depan ... || 43


mendetailkan proses dari peta Potensi Serapan Karbon di Kawasan P2O sudah memiliki pen-
blue carbon yang sudah ada Pesisir Pulau Bintan (2013); Potensi getahuan dan pengalaman
Stok dan Serapan Karbon di Kawasan mengenai serapan dan stok
Pesisir Pulau Selayar (2015) karbon di beberapa wilayah
yang menjadi area penelitian
dan monitoring P2O. Untuk itu
perlu menambah penghitun-
gan potensi serapan karbon
di wilayah lain di Indonesia
yang selama ini menjadi area
penelitian khususnya melalui
COREMAP.
- memahami flux antara udara – Kajian di bagian ini belum
laut, laut – sedimen, antar laut secara intensif dilakukan oleh
- memahami biogeokimia : river P2O. Namun demikian dengan
input (kontribusi river input pengetahuan dan peneliti
dalam konteks regional carbon yang ada, P2O bisa melakukan
budget) penelitian di area ini untuk
- memahami ocean acidification mendukung area penelitian
(monitoring ocean acidifica- lainnya seperti untuk mema-
tion untuk memahami variasi hami dampak iklim terhadap
dan tren laut Indonesia, efek ekosistem pesisir.
biologi, serta calcification
biota laut penghasil kapur)
- memahami de-oxygenase
Belum ada
(monitoring de-oxygenase
untuk memahami variasi dan
tren laut Indonesia, serta efek
biologi)
- memahami cuaca ekstrim dan
tropical cyclone (monitoring
cuaca ekstrim dan tropical cy-
clone untuk memahami variasi
dan tren laut Indonesia)
- memahami sea level rise
(monitoring sea level rise
untuk memahami variasi dan
tren laut Indonesia)

Tabel 34. Analisis kesenjangan riset perubahan iklim dengan fokus Tools
Penelitian ke Depan Penelitian Sebelumnya Analisis Kesenjangan
melakukan penambahan Ekspedisi Widya Nusantara-Perairan Sejauh ini bouy yang digunakan
bouy coastal (tinggier res) Sumba (2016); Ekspedisi Sabang (2015); belum yang tinggier res sehingga
to offshore dengan resolusi Ekspedisi Widya Nusantara (2015) perlu diupayakan penggunaan dan
yang dibutuhkan satelit, ter- penambahan buoy yang tinggier res
masuk di dalamnya pengem-
bangan algoritma
melakukan pemodelan Merupakan area yang perlu dikem-
coupled ocean-atmosphere, bangkan oleh P2O. Sejauh ini dalam
belum ada
resolusi, format data, data pemodelan menggunakan pakar dari
assimilation luar
menggunakan dan mengem- P2O telah memiliki kepakaran men-
bangkan paleo sebagai genai paleo. Namun sejauh ini keg-
Belum ada
aplikasi proksi dan pengem- iatan penelitian ini belum dilakukan
bangan proksi baru dalam tingkatan organisasi.

44 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


SINERGI RISET DAN KAPABILITAS ORGANISASI

Dari beberapa tantangan dan 2. Riset yang berfokus pada Selanjutnya, bagaimana
analisis kesenjangan yang telah memahami kapasitas P2O LIPI mampu menjawab
dibahas sebelumnya, dokumen adaptasi dari fungsi sistem tantangan dan permasalahan
ini selanjutnya mengemukakan laut. melalui riset, perlu diidentifikasi
bagaimana sejumlah riset dapat 3. Riset yang dapat mendukung terlebih dahulu seperti apa
menjawab permasalahan yang pengambilan keputusan faktor kunci yang mendorong
ada. Pada akhirnya, agenda mengenai sistem kompleks sistem riset yang dijalankan P2O
riset yang akan dilakukan dan dinamis (evidence based sesuai dengan kapabilitasnya
menggarisbawahi perlunya policy). selama ini.
interkoneksi dan pentingnya 4. Riset yang mengembangkan Kapabilitas riset organisasi
memperbesar skala aktivitas solusi untuk perbaikan dalam hal ini merupakan hasil
bersama (kolaborasi) untuk ekologi dan desain dari beberapa pilar kunci
mencapai tujuan yang akan ekosistem untuk restorasi yang saling berintegrasi, di
ditetapkan. Berdasarkan enam berkelanjutan. antaranya visi organisasi
tantangan riset ke depan dan sebagai lembaga berkelas
analisis kesenjangan yang telah 5. R i s e t y a n g d i d u k u n g
dengan sistem pengukuran dunia, SDM yang unggul,
diuraikan sebelumnya, ada memiliki infrastruktur riset
beberapa komponen utama dan monitoring yang dapat
merekam perubahan dan yang memadai dan kemampuan
untuk mencapai agenda riset dalam menjalin kolaborasi
P2O LIPI 2020–2035. membangun pengetahuan
dasar untuk manfaat nasional dan internasional.
1. Diperlukannya data baseline pengelolaan dan konservasi Pusat Penelitian Oseanografi
kelautan Indonesia sebagai ekosistem. (P2O) LIPI merupakan institusi
referensi dasar yang berisi riset pemerintah yang memiliki
koleksi sumber daya 6. Pe n e r a p a n t e k n o l o g i tugas dan kewenangan untuk
laut, konservasi, dampak cerdas dan inovatif untuk melakukan penelitian di bidang
ancaman/gangguan, mendukung pemahaman kelautan di seluruh wilayah
variabilitas iklim dan mengenai sistem laut dan perairan Indonesia sehingga
perubahannya, serta data bioteknologi kelautan. pilar-pilar telah ditumbuhkan
dan informasi penting dan diperlukan secara terus-
lainnya. menerus. Untuk mendukung

Antara Riset ke depan ... || 45


salah satu kontribusi LIPI memastikan bahwa lulusan menghadapi tantangan yang
sebagai pemegang otoritas ini memiliki keterampilan di lebih besar dalam membangun
keilmuan (scientific authority), bidang sains kelautan yang keterampilan disipliner yang
P2O-LIPI memiliki peranan baru muncul (emerging sciences), kuat sekaligus mendorong
yang besar terhadap penyediaan serta kemampuan untuk bekerja apresiasi dan kompetensi dalam
data dan informasi tentang dalam tim multidisiplin dan bekerja lintas disiplin.
status, kondisi, dan ekosistem interdisipliner dengan bidang
biota yang ada di daratan dan fokus yang jelas.
Kinerja Publikasi P2O
lautan Indonesia. Dalam perencanaan SDM
LIPI: Sebuah
unggul, diperlukan investasi
terpadu dan terkoordinasi Pencapaian
SDM Peneliti P2O LIPI
untuk membuat lokomotif Pa d a t a h u n 2 0 1 7 , Pu s a t
pada Masa 2020–2035
generasi kelautan yang Penelitian Oseanografi LIPI
Kepakaran Unggul Yang layak menjalankan riset dan memiliki 147 peneliti yang
Tumbuh dan Multidisiplin pengembangan di masa depan. terdiri dari beragam jenjang
Beberapa negara maju seperti fungsional peneliti, beragam
Seorang ilmuwan atau peneliti Australia telah menetapkan kepakaran dan tergabung dalam
kelautan berkelas dunia persyaratan dan pendekatan lima kelompok penelitian.
Indonesia adalah kekuatan untuk meningkatkan basis Lampiran 4.1 dan Lampiran
pendorong di balik penerapan keterampilan sains, teknologi, 4.2 memperlihatkan sebaran
agenda riset yang akan teknik dan matematika (science, jenjang kepakaran di setiap
dijalankan. Keterampilan yang technology, engineering, and kelompok penelitian dan
dimiliki saat ini akan sangat mathematics- STEM). Dalam kelompok peneliti. Secara
penting dalam memberikan penerapannya, SDM ini akan umum, sebaran jumlah peneliti
pemahaman tentang tantangan menjadi pelaku utama dalam berdasarkan fungsional pada
kompleks dari laut di masa mendorong kemajuan ilmu kelompok penelitian cukup
depan. pengetahuan dan teknologi ideal. Sedangkan untuk
Di Indonesia, tak kurang di bidang kelautan Indonesia. kelompok peneliti terlihat
dari 1.500 ilmuwan kelautan Tidak hanya STEM, ilmu bahwa jumlah peneliti paling
bekerja di berbagai bidang sosial dan ekonomi juga banyak berada pada zoologi
disiplin dan penelitian. Bahkan, semakin dibutuhkan dalam laut. Beberapa kelompok
banyak pemimpin dunia elemen translasi ilmu kelautan, peneliti hanya terdiri dari 2
mengambil peran di bidang yang termasuk evaluasi risiko triple- hingga 5 peneliti. Ke depan,
relevan, mulai dari oseanografi bottomline dan pengembangan perlu dilakukan penambahan
fisik dan kimia, geologi laut, ilmu pendukung keputusan kuantitas untuk menjalankan
iklim laut, terumbu karang, untuk sistem yang kompleks aktivitas riset yang akan
ekologi laut, perikanan, teknik dan dinamis. ditetapkan.
kelautan, ekologi mikroba dan Terlepas dari apakah lulusan Pemetaan kuantitas dan
genomik. ilmu kelautan masuk ke peran kualitas SDM Peneliti Pusat
Pe n g e t a h u a n d a n penelitian dan pengembangan, Penelitian Oseanografi LIPI
keterampilan yang ada dan atau bekerja untuk industri juga didasarkan pada publikasi
sedang tumbuh saat ini sangat atau pemerintah, keterampilan yang dihasilkan. Akan tetapi,
penting bagi kesuksesan translasi dan kemampuan hanya 54 peneliti yang
pencapaian tujuan ke depan. Di untuk mengomunikasikan terdaftar pada Google Scholar.
samping itu, muncul kesadaran sains ke berbagai khalayak dan Lampiran 4 menunjukkan
bahwa kita perlu melatih dan pemangku kepentingan akan daftar peneliti P2O LIPI
mempertahankan generasi menjadi hal yang penting. Oleh berdasarkan nilai pengukuran
ilmuwan kelautan berikutnya. karena itu, lembaga penelitian kualitas dan kuantitas
Secara khusus, kita perlu dan perguruan tinggi akan publikasi berdasarkan Google

46 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Scholar. Untuk memberikan Potensi Sumberdaya Laut Iklim. Sedangkan untuk keltian
gambaran umum Gambar 3 . memiliki jumlah publikasi Pencemaran dan Bioremediasi
menunjukkan rata-rata jumlah paling tinggi dan dihasilkan oleh serta Keanekaragaman dan
publikasi peneliti P2O pada peneliti utama. Secara umum, Potensi Sumberdaya Laut
setiap kelompok penelitian rata-rata jumlah publikasi memiliki jumlah publikasi
berdasarkan jenjang fungsional meningkat seiring dengan yang relatif tinggi pada jenjang
peneliti. Terlihat bahwa keltian jenjang penelitian, kecuali penata teknis penelitian.
Pencemaran dan Bioremediasi pada kelompok penelitian Artinya kedua keltian ini telah
serta Keanekaragaman dan Oseanografi dan Perubahan memiliki sumber daya peneliti

Gambar 3. Rata-rata jumlah publikasi berdasarkan keltian pada setiap jenjang fungsional peneliti

yang masih muda tetapi sudah sitasi, ukuran lingkaran pada memiliki jumlah sitasi tinggi
cukup berpengalaman dalam grafik menunjukkan h-index seperti Dr Ratih dan Dr Zainal.
penelitian. dari peneliti dan warna Un t u k m e n g e t a h u i
Si t a s i a d a l a h u k u r a n lingkaran menunjukkan keltian sebaran topik riset kelautan,
yang bisa menggambarkan dari peneliti yang bersangkutan. maka analisis dilakukan
kualitas dari sebuah publikasi. Terlihat bahwa jumlah publikasi pada identifikasi kata-kata
Gambar 4 menunjukkan dan jumlah sitasi memiliki yang diekstraksi berdasarkan
pemetaan kuantitas dan kualitas hubungan linier, akan tetapi publikasi yang dihasilkan oleh
peneliti P2O. Pada sumbu x terdapat beberapa peneliti yang peneliti P2O.
menunjukkan jumlah publikasi,
sumbu y menunjukkan jumlah

Antara Riset ke depan ... || 47


Gambar 4. Rata-rata jumlah publikasi dan H-index peneliti P2O berdasarkan keltian

Keterangan : besar lingkaran pada keyword menunjukkan frekuensi dari munculnya kata-kata
tersebut pada publikasi
Gambar 5. Sebaran kata kunci publikasi Google Scholar peneliti P2O LIPI

48 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Benchmarking Publikasi Hanya sedikit yang berada Gambar 7 menunjukan per-
Indonesia Bidang kelautan pada wilayah ”embrionic”. bandingan kinerja publikasi
di Level Internasional Akan tetapi, riset mengenai yang dilakukan oleh Indonesia
marine pollution berada pada dibandingkan dengan global.
Untuk mengetahui
tahapan embrionic, dan marine Pada gambar 7 terlihat bah-
perbandingan publikasi di
debris berada pada tahapan wa pada bidang-bidang riset
bidang kelautan Indonesia
emerging. Sedangkan untuk tertentu Indonesia memiliki
di level global, kajian ini
Marine Biodiversity dan Marine RCA yang sudah cukup baik
menggunakan RCA (Relative
Biota tergolong pada tahapan (RCA>=1), artinya jumlah
Competitive Advantage)
emerging. Hal ini menandakan publikasi Indonesia di bidang
[Informasi lebih lanjut dapat
bahwa secara global, kedua
dibaca di Lampiran 6 . Gambar ini memiliki jumlah yang cu-
bidang tersebut relatif lebih
6 menunjukkan pemetaan kup signifikan dibandingkan
sedikit dibandingkan bidang
jumlah dan pertumbuhan dengan bidang lainnya. Ma-
lainnya. Coastal dan Marine
publikasi yang dihasilkan di rine Biodiversity, Marine Bio-
Ecosystem, Ocean Energy, Deep
seluruh dunia untuk topik riset prospecting, Marine Bioactive,
Sea, Oceanography serta Small
yang dilakukan. Terlihat bahwa Climate Variability, Marine
Island merupakan topik riset
mayoritas berada pada wilayah Culture, Ocean/Marine Gover-
yang cukup popular ditandai
“mature” (jumlah publikasi nance, ocean sovereignty, coastal
dengan jumlah publikasinya
tinggi dan per tumbuhan ecosystem serta small island
yang relatif lebih banyak
rendah) dan wilayah “growing”. merupakan topik yang memi-
dibandingkan bidang lainnya.
liki nilai RCA tinggi.

Gambar 6. Tahapan perkembangan riset topik riset berdasarkan jumlah dan pertumbuhan
publikasi

Antara Riset ke depan ... || 49


Gambar 7 Tahapan perkembangan riset topik riset berdasarkan Pertumbu-
han dan RCA publikasi Indonesia dibandingkan dengan Global

Jika dibanding dengan jika dilihat secara relatif, topik Biotechnology, Oceanography,
beberapa negara Asia Pasifik tertentu memiliki keunggulan, Ocean Warming, Marine/Ocean
seperti Jepang, Korea Selatan, ditunjukkan dengan nilai RCA Safety, Deep Sea masih cukup
China, Singapura dan Thailand, yang tinggi, seperti Marine tertinggal. Sementara itu, topik
jumlah publikasi Indonesia Biodiversity, Coastal Ecosystem, lainnya tergolong pada tahap
di bidang kelautan memang Small Island dan Ocean/Marine perkembangan karena beberapa
masih berada di bawah negara- Governance, sedangkan bidang topik masih dapat bersaing
negara tersebut. Akan tetapi, yang lain seper ti Marine dengan topik dari negara-negara
tersebut.

Tabel 35. Pemetaan RCA topik riset Indonesia dibandingkan dengan negara Asia Pasifik.
TOPIK RISET Global Jepang Korea China Singapura Thailand
marine science rendah rendah rendah rendah tinggi rendah
maritime rendah tinggi rendah rendah rendah rendah
marine biotechnol-
rendah rendah rendah rendah rendah rendah
ogy
marine biodiversity tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi rendah
marine biota rendah rendah tinggi tinggi tinggi rendah
oceanography rendah rendah rendah rendah rendah rendah
marine ecosystems rendah rendah tinggi tinggi tinggi rendah
marine bioprospect-
tinggi tinggi tinggi rendah rendah tinggi
ing
Marine Bioactive tinggi tinggi rendah tinggi rendah tinggi
Climate Variability tinggi tinggi tinggi rendah rendah tinggi
Marine Pollution rendah tinggi tinggi rendah tinggi rendah
Marine Debris rendah rendah rendah tinggi rendah rendah
marine culture tinggi rendah rendah rendah tinggi rendah

50 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


ocean sovereignty tinggi tinggi tinggi tinggi rendah tinggi
marine safety rendah rendah rendah rendah rendah rendah
marine security rendah tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
ocean energy rendah rendah rendah rendah rendah tinggi
coastal ecosystems tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi rendah
deepsea rendah rendah rendah rendah rendah rendah
ocean warming rendah rendah rendah rendah rendah rendah
deep sea rendah tinggi rendah rendah rendah rendah
small island tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
ocean safety rendah rendah rendah rendah rendah rendah
Ocean/Marine Gov-
tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
ernance
Keterangan :
• Tinggi = memiliki keunggulan lebih tinggi dibandingkan pembandingnya
• Rendah = memiliki keunggulan lebih rendah dibandingkan pembandingnya

Benchmarking Publikasi LIPI yang dibandingkan terletak Topik Marine Biodiversity,


Bidang kelautan di Level pada level institusi LIPI, bukan Marine Biota dan Marine
Regional dan Nasional level Pusat Penelitian. Dengan Bioactive merupakan topik-
demikian, selain publikasi yang topik yang sangat mencolok
LIPI sebagai scientific berasal dari P2O juga terdapat dari LIPI dibandingkan topik-
authority di Indonesia, sudah beberapa publikasi yang berasal topik dari institusi riset lain di
sepantasnya untuk diharapkan dari pusat penelitian lain di Asia Pasifik. Topik mengenai
bisa bersaing dengan institusi bawah LIPI selain P2O. Akan Small Island juga cukup banyak
lain di Asia Pasifik. Tabel 36 tetapi, informasi ini juga dilakukan, sedangkan topik
memperlihatkan RCA antara penting karena P2O ataupun Marine Debris dan Ocean
LIPI dengan beberapa institusi LIPI merupakan bagian dari Energy merupakan dua topik
riset terkait bidang Kelautan di keseluruhan pelaku penelitian yang terlihat tertinggal karena
Asia Pasifik. Dalam hal ini perlu di Indonesia. tidak ada RCA yang tinggi
digarisbawahi bahwa sesuatu pada keseluruhan institusi riset
pembanding.

Tabel 36. Pemetaan RCA topik riset Indonesia dibandingkan dengan institusi kelautan glob-
al
  RCA (LIPI vs Institusi Lainnya)
Japan
Malaysia Thailand - Australia - CSIRO Korsel - The Ko-
Agency for
Singapore - Univer- Chulalongkorn Marine and rean Institute of
Keyword Marine-Earth
- NUS siti Sains University Atmospheric Ocean Science
Science and
Malaysia  Thailand Research and Technology 
Technology
Marine Science tinggi rendah tinggi rendah tinggi rendah
Marine Bio-
rendah tinggi rendah tinggi rendah rendah
technology
Marine Biodi-
tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
versity
Marine Biota tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
Oceanography rendah tinggi tinggi rendah rendah rendah
Marine Ecosys-
rendah rendah rendah rendah tinggi rendah
tems

Antara Riset ke depan ... || 51


Marine Bio-
tinggi rendah rendah tinggi tinggi tinggi
prospecting
Marine Bioac-
tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
tive
Climate Vari-
tinggi tinggi tinggi rendah tinggi rendah
ability
Marine Pollu-
rendah rendah rendah tinggi rendah tinggi
tion
Marine Debris rendah rendah rendah rendah rendah rendah
marine culture rendah rendah rendah rendah rendah tinggi
ocean energy rendah rendah rendah rendah rendah rendah
coastal ecosys-
rendah rendah rendah rendah rendah tinggi
tems
ocean warming tinggi tinggi rendah rendah rendah rendah
deep sea tinggi tinggi tinggi tinggi rendah rendah
small island rendah rendah tinggi tinggi tinggi tinggi
Keterangan :
• Tinggi = memiliki keunggulan lebih tinggi dibandingkan pembandingnya
• Rendah = memiliki keunggulan lebih rendah dibandingkan pembandingnya

Selain pemetaan topik mengetahui posisinya di antara riset yang pernah dihasilkan oleh
riset di tingkat global, P2O pelaku nasional seperti apa. LIPI dan beberapa perguruan
sebagai bagian dari LIPI perlu Berikut gambaran topik-topik tinggi kelautan di Indonesia.

Keterangan: Jumlah
publikasi LIPI lebih
banyak daripada be-
berapa institusi lain-
nya
Gambar 8.
Topik penelitian
beberapa insti-
tusi kelautan di
Indonesia

52 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Secara spesifik, bagaimana kinerja publikasi LIPI dalam area topik riset yang khas bisa
ditampilkan sebagai berikut.
Tabel 37. Performa Institusi Indonesia berdasarkan kata kunci spesifik (1)
Rang- marine sci- Jumlah marine biotechnol- Jumlah marine biodi- Jumlah marine Jumlah
king ence publikasi ogy publikasi versity publikasi biota publikasi
Institut Pertanian
1 LIPI 27 4 LIPI 26 LIPI 3
Bogor
Institut
Hasanuddin Universitas
2 24 LIPI 4 13 Pertanian 2
University Diponegoro
Bogor
Institut Universi-
Gadjah Mada Uni- Institut Perta-
3 Teknologi 19 2 11 tas Dipo- 2
versity nian Bogor
Bandung negoro
Hasanud-
Institut Perta- Institut Teknologi Hasanuddin
4 17 2 8 din Univer- 2
nian Bogor Bandung University
sity
Universitas Universitas Dipo- Universitas Telkom
5 17 2 8 2
Diponegoro negoro Udayana University
Indonesia
Nuclear
Sam Ratulan- Universitas Jen- Sam Ratulangi
6 13 2 8 Energy 1
gi University deral Soedirman University
Agency
BATAN
Ministry of National
Universitas University of Brawijaya
7 7 Development Plan- 1 6 1
Indonesia Papua University
ning/BAPPENAS
Agency for Assess-
Sunan Kalijaga Sam
Gadjah Mada ment and Applica-
8 7 1 State Islamic 6 Ratulangi 1
University tion of Technology
University University
BPPT
Syarif Hidayatul- Universi-
Universitas Universitas
9 5 lah State Islamic 1 5 tas Syiah 1
Udayana Indonesia
University UIN Kuala
Universitas Universi-
University of Brawijaya Univer-
10 4 1 Jenderal Soed- 5 tas Mula- 1
Papua sity
irman warman

Tabel 38. Performa Institusi Indonesia berdasarkan kata kunci spesifik (2)
Rang- Jumlah marine ecosys- Jumlah marine bio- Jumlah Jumlah
oceanography marine bioactive
king publikasi tems publikasi prospecting publikasi publikasi
Institut Perta- Universitas Universitas Dipo-
1 LIPI 23 21 3 10
nian Bogor Diponegoro negoro
Institut Perta- Universitas Institut Perta-
2 19 LIPI 15 1 9
nian Bogor Indonesia nian Bogor
Institut
Hasanuddin Institut Perta-
3 Teknologi 17 14 1 LIPI 5
University nian Bogor
Bandung
Institut
Hasanuddin Universitas Gadjah Mada
4 17 10 Teknologi 1 4
University Diponegoro University
Bandung
Badan Peng-
kajian dan Universitas Pat- Universitas Universitas
5 17 7 1 4
Penerapan timura Udayana Andalas
Teknologi

Antara Riset ke depan ... || 53


Institut
Sunan Kalijaga
Teknologi Sam Ratulangi
6 14 State Islamic 7   3
Sepuluh University
University
Nopember
Institut Teknolo-
Universitas Gadjah Mada
7 10 5   gi Sepuluh 3
Diponegoro University
Nopember
Gadjah Mada Universitas Universitas Indo-
8 8 5   2
University Udayana nesia
Brawijaya Sam Ratulangi Brawijaya Uni-
9 7 5   2
University University versity
Badan Pengkaji-
Universitas University of
10 5 4   an dan Penera- 2
Padjadjaran Papua
pan Teknologi

Infrastruktur hari layar untuk kegiatan riset memaksimalkan potensi


hanya 20 hari layar sehingga kelautan Indonesia.
Infrastruktur penelitian sangat
data dan informasi yang bisa
penting untuk mewujudkan Untuk memahami peran
dikumpulkan sangat terbatas.
ilmu pengetahuan dan target penting dari infrastruktur
Oleh karena itu, dukungan
dari sebuah agenda riset. riset di bidang kelautan, LIPI
terhadap kebutuhan alokasi
Infrastruktur ini diperlukan sebagai scientific authority
ini akan sangat menentukan
untuk mendukung pengamatan, perlu menempatkan konsep
kualitas data yang kontinu
studi dan pemantauan rutin dari penyediaan fasilitas nasional
dapat dikumpulkan.
banyak aspek di sektor kelautan, yang dapat diakses secara
dan harus dapat diakses oleh Infrastruktur riset lain yang meluas. Tidak hanya P2O
banyak institusi. tidak kalah penting adalah LIPI yang menjalankan
ketersediaan sistem pengamatan, fasilitas nasional ini, melainkan
Salah satu infrastruktur
baik perangkat pemantauan perlu dukungan komunitas
penting dalam riset kelautan
in situ maupun satelit yang kelautan melalui kolaborasi
adalah kapal riset. Kapal riset
memberikan pengamatan di yang memberikan manfaat
adalah salah satu aset utama
lapangan, fasilitas eksperimen bagi kepentingan nasional
dalam penyelenggaran riset
seperti laboratorium hingga dan internasional. Beberapa
kelautan, seperti eksplorasi
stasiun penelitian. Sampai saat infrastruktur penting lainnya
lautan terbuka di wilayah
ini, P2O LIPI telah dilengkapi yang belum terbangun dengan
perairan Indonesia dan perairan
dengan beberapa fasilitas baik di antaranya adalah sistem
pesisir. P2O LIPI saat ini
laboratorium dan beberapa observasi laut yang terintegrasi.
memanfaatkan Kapal Riset
stasiun yang tersebar di beberapa Sebagai contoh, peningkatan
Baruna Jaya VIII yang berumur
wilayah. integrasi stasiun penelitian akan
lebih dari 16 tahun dari 20 tahun
masa pakai sehingga akan makin Pada tahun 2016, P2O LIPI menyediakan jaringan nasional
berkurang kinerjanya. Akan telah ditetapkan sebagai Wali untuk penelitian estuaria dan
tetapi, pengelolaan kapal riset ini Data bidang ekosistem terumbu pesisir, mengurangi redundansi
memakan biaya yang tinggi dan karang dan ekosistem padang pengeluaran dan penggunaan
dibutuhkan tenaga operasional lamun untuk mendukung infrastruktur, dan memberikan
yang andal. Selain itu, kendala informasi maritim yang akurat pendekatan terkoordinasi bagi
mengenai ketersediaan jumlah sehingga bermanfaat dalam ilmu pengetahuan kelautan,
terutama untuk pemerintah dan
masyarakat lokal.

54 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Laboratorium Riset P2O LIPI
1. Laboratorium Botani Laut
2. Laboratorium Zoologi Laut
3. Laboratorium Genetika Molekuler Kelautan
4. Laboratorium Mikrobiologi Laut
5. Laboratorium Oseanografi Fisika
6. Laboratorium Kimia Laut dan Ekotoksikologi
7. Laboratorium Biogeokimia Laut
8. Laboratorium Geologi dan Geomatika
9. Laboratorium Oseanografi Terapan
10. Laboratorium Plankton Laut
11. Laboratorium Bahan Alam Laut
12. Laboratorium Budi daya Laut

4. Balai Bio Industri Laut Kerja sama dan


Lombok: pemanfaatan Kolaborasi Riset
iptek dan budi daya biota
Balai dan Unit laut (teripang, lobster) Keberhasilan agenda
Pelayanan Teknis 5. UPT Loka Pengembangan riset yang akan dijalankan
(UPT) Kompetensi SDM oleh P2O LIPI juga akan
Sebagai sebuah unit riset Oseanografi Pulau Pari: sangat tergantung dari se-
kelautan, P2O LIPI memiliki diseminasi hasil-hasil berapa kuat dan beragam
unit pendukung dan operasional penelitian dan kajian untuk koordinasi dan kolaborasi
yang terintegrasi dengan alih teknologi ke masyarakat antara peneliti dan lemba-
program dan kegiatan penelitian dan mengembangkan kerja ga penelitian, serta antara
organisasi induknya. Ada lima sama peneliti dan pengguna akhir.
UPT dan balai yang berada di Fasilitas yang disediakan Hal ini sangat penting teru-
bawah koordinasi P2O LIPI: o l e h U P T d a n Ba l a i i n i tama dalam menghadapi
1. UPT Loka Konservasi Biota merupakan ruang mesin untuk kompleksitas tantangan be-
Laut Biak: konservasi dan penelitian, pendidikan dan sar nasional, skala geografis
pengelolaan ekosistem pelatihan agar para peneliti dan keterhubungan sistem
pesisir (lamun, mangrove muda menjadi berpengalaman kelautan, dan sifat sains ke-
dan terumbu karang) bekerja di lingkungan laut. Selain
lautan yang multidisiplin se-
itu, secara kolektif diperlukan
2. UPT Loka Konser vasi hingga tidak akan mungkin
aspek eksperimental dalam
Biota Laut Tual: penelitian satu lembaga dapat melaku-
ilmu pengetahuan kelautan dan
biodiversitas biota laut dan kannya sendiri. Oleh karena
mekanisme untuk membuat
budi daya (rumput laut dan itu, agenda riset tersebut
hasil yang terintegrasi daripada
teripang) harus dijalankan melalui ker-
sekadar memperbanyak jumlah
3. UPT Loka Konservasi Biota bagian-bagiannya. Hal ini ja sama dengan pemerintah
Laut Bitung: penelitian, sangat penting jika organisasi dan industri, baik pada skala
konser vasi, rehabiltasi ingin menciptakan fokus riset nasional, regional maupun
ekosistem pesisir untuk memahami kapasitas global.
adaptif sistem kelautan.

Antara Riset ke depan ... || 55


56 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035
PRIORITAS RISET P2O LIPI 2020-2035:
BEBERAPA REKOMENDASI

Untuk menjawab visi benchmarking di area publikasi pemerintah berharap kontribusi


maritim nasional 2045 dan terpilih dan sharing knowledge LIPI bisa lebih membumi dan
pilar kebijakan maritim yang dengan para peneliti sektor menyentuh masyarakat. Untuk
ditetapkan pemerintah, P2O- kelautan secara intensif. Lebih menjawab hal tersebut maka
LIPI perlu mengupayakan dari itu, kami juga membuka riset yang dilakukan oleh P2O
pencapaian hasil riset yang sesuai ruang-ruang diskusi dengan harus dapat mengarah pada
dengan kebutuhan nasional dan beberapa pakar spesifik di area membangun koneksi antara
mengadaptasi isu global yang riset penting untuk membantu kelautan dengan manusia.
berkembang saat ini dan ke membentuk kerangka pemikiran Oleh karena itu, P2O perlu
depan. Pada dasarnya, P2O- dan memproyeksikan riset ke fokus melakukan kajian dengan
LIPI tidak akan berdiri sendiri depan seperti apa. tiga tahapan periode sebagai
untuk menjawab tantangan Berikut ini rekomendasi berikut.
tersebut, melainkan bersama- penting untuk menjawab isu
sama dengan pemerintah dan a. 5 tahun pertama: Trans-
dan tantangan riset 2020–2035 formasi
industri mengambil inisiatif, yang perlu dilakukan oleh P2O-
berkoordinasi dan berkolaborasi LIPI sebagai institusi yang i. Transformasi ilmu
serta mendedikasikannya untuk memiliki kewenangan dalam penge­tahu­an ke os-
kepentingan nasional. Oleh riset dan pengembangan sektor eanografi operasional
karena itu, dalam berbagai kelautan. dengan output berupa
diskusi dan sharing knowledge kebijakan/manajemen
di area kelautan ini, kebutuhan kelautan
Riset yang berkontribusi
mendasar terletak pada upaya
terhadap Visi Maritim 2045 ii. Tahapan penelitian
membangun dan berbagi data
untuk pencapaian target yang harus dilaku-
laut yang penting sehingga bisa
sektor kelautan hingga 20% kan oleh P2O adalah
dimanfaatkan untuk melengkapi
pada tahun 2035 pengembangan keil-
bukti dalam pengambilan
muan (science de-
keputusan dan mendorong Berdasarkan nomenklatur velopment) melalui
pertumbuhan ekonomi dari yang ada pada nama Pusat pengembangan ilmu
sumber-sumber biodiversitas Oseanografi LIPI, P2O pengetahuan (knowl-
yang sudah diketahui potensi seharusnya mempunyai core edge development)
dan manfaatnya. riset pada tiga area, yaitu fisika menuju pengemban-
Dokumen Foresight laut, kimia laut, dan biologi laut. gan kebijakan (policy
ini menekankan beberapa Tiga area tersebut merupakan development). Aspek
rekomendasi penting yang dapat basic oceanography. Pertanyaan ini menjadi landasan
dijadikan pertimbangan oleh yang penting untuk dijawab utama yang dikenal se-
P2O LIPI berdasarkan berbagai adalah apakah P2O ingin fokus bagai science for policy.
analisis data dari dokumen pada tiga area tersebut atau ingin
nasional/global, diskusi pakar, memperluasnya? Selain itu, iii. Untuk mewujudkan

Prioritas Riset P2O LIPI ... || 57


target tersebut maka pada instiusi yang melaku- tama non-food)
diperlukan pendeka- kan pengambilan data dan ii. Hal ini dilakukan den-
tan vertikal (vertical kurang menjangkau terha- gan menggunakan per-
approach) di mana dap pihak lain yang memi- spektif transformasi
peran pemangku ke- liki kebutuhan yang sama knowledge dan precision
pentingan dalam men- terhadap data yang dikum- kelautan
garahkan agenda riset pulkan.
dipahami dan mampu iii. P2O harus menjadi
Pusat Penelitian frontier di area ini
diterjemahkan dengan Oseanografi – LIPI meru-
baik oleh penelitinya pakan wali data ekosistem d. Target akhir riset P2O
(top down approach). terumbu karang dan menjadi Industrial
b. 5 tahun kedua: Precision padang lamun di Indone- Oceanography
oceanography sia. Dengan predikat terse- Dalam konsep industrial
Precision oceanog- but, P2O LIPI memiliki oceanography, riset kelautan
raphy berbicara mengenai potensi untuk mengem- Indonesia khususnya yang
data yang akurat dan pre- bangkan sistem informasi dilakukan oleh P2O LIPI
sisi terkait kelautan melalui kelautan tidak hanya untuk didorong untuk mendukung
sistem integrasi data dan ekosistem terumbu karang pengembangan industri
sistem interoperabilitas (ko- dan padang lamun saja teta- kelautan demi memenuhi
munikasi data) antar pelaku pi juga memfasilitasi lem- kebutuhan primer dan
riset laut. Selama ini perso- baga riset lain untuk ber- sekunder umat manusia.
alan integrasi dan interop- bagai data melalui sistem Riset kelautan ditargetkan
erabilitas data merupakan yang dibangun oleh P2O. untuk menghasilkan
hal yang sulit dilakukan P2O LIPI dapat berperan berbagai produk dan jasa
antar pelaku riset kelautan sebagai “hub” untuk data yang dapat menjadi substitusi
di Indonesia. Hal ini dik- kelautan Indonesia. Data ataupun alternative produk
arenakan banyaknya pelaku yang dikumpulkan oleh dan jasa yang dihasilkan
Riset belum bermuara pada instansi lain sepeti BMKG, daratan. Perkembangan
pembentukan center of ex- BIG, BPPT, P3GL, KKP, riset bioteknologi
cellent serta belum adanya dan perguruan tinggi bisa kelautan merupakan hal
agenda riset kelautan strat- bermuara di sistem yang yang menjanjikan dalam
egis jangka panjang yang dibangun oleh P2O. Man- membangun industrial
memadai. Sehingga riset faatnya adalah data yang oceanography yang mandiri
kolaboratif lintas pelaku dikumpulkan bisa menin- bagi bangsa Indonesia.
menjadi suatu hal yang ma- gkatkan kualitas data ke- Selain itu masih banyak
hal untuk dilakukan. lautan yang ada sehingga lagi teknologi yang dapat
tingkat akurasi dan presisi dikembangkan untuk
Pelaku riset kelau- bisa meningkat. mendukung kemandirian
tan Indonesia melakukan bangsa dalam memanfaatkan
akuisisi data melalui sur- c. 5 tahun ketiga: Frontier laut untuk memenuhi
vey ataupun riset dengan Oceanography
kebutuhan nasional.
menggunakan buoy, in- i. Melakukan eksplorasi Sejauh ini, P2O LIPI
stallment, radar, satelit dan biomaterial dari laut, telah melakukan berbagai
juga ground check. Namun khususnya laut dalam. kegiatan riset yang
demikian data yang diper- Ini perlu dilakukan mengarah pada konsep
oleh disimpan sendiri oleh mengingat sangat industrial oceanography.
masing-masing institusi tingginya nilai ekonomi P2O LIPI telah melakukan
dan bersifat tidak terbuka. biomaterial baik food kegiatan riset untuk
Penggunaan data terbatas maupun non food (teru- berbagai biota laut yang

58 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


dapat dimanfaatkan untuk dibudi dayakan tetapi pengembangan SDM dan
untuk memenuhi berbagai juga pemanfaatannya tidak penambahan infrastruktur
kebutuhan manusia seperti hanya untuk kebutuhan dapat menjadi salah satu
pangan fungsional dan primer. Biota laut seperti pemain penting untuk
farmasi. Biota laut seperti teripang dan ikan sidat diriset mendukung kemandirian
mikroalga laut, rumput laut, dan dikembangkan untuk industrial oceanography
ikan capungan banggai, ikan menghasilkan obat anti- nasional.
sidat, teripang dan lobster degeneratif. Ke depannya
telah diriset tidak hanya dengan penguasaan metode,

Gambar 9. Tahapan pengembangan riset P2O LIPI 2020 – 2030

Membangun Data kemaritiman, NGO, dan mengembangkan metode


BASELINE dan sistem pihak lainnya untuk ber- baru yang terintegrasi satu
informasi kelautan sama-sama membangun sama lain.
dengan mengembangkan data kelautan Indonesia - Mengembangkan indeks
kolaborasi dengan pihak- yang komprehensif, aku- yang merujuk pada berb-
pihak yang relevan. Basis rat dan berkelanjutan yang agai persoalan kelautan.
data ini menyediakan meliputi: - Menyediakan data yang
informasi tentang aktivitas o Data atau laporan terstandar dan berkualitas
eksplorasi, pemetaan penting mengenai sta- tentang kelautan yang bisa
dan karakterisasi dari tus kondisi lingkungan dirujuk oleh banyak pihak,
lingkungan laut serta aspek laut dan dampak dari baik nasional maupun in-
monitoring-nya. akumulasi tekanan/ ternasional.
Yang perlu dilakukan P2O LIPI pencemaran sehingga
adalah: berpengaruh terhadap
- Mengambil posisi sebagai kepentingan yang leb-
aktor utama dalam ko- ih luas.
laborasi riset dengan pihak - Melakukan analisis
perguruan tinggi, lembaga sistem sosial ekologi serta
riset terkait, kementerian
terkait sektor kelautan dan

Prioritas Riset P2O LIPI ... || 59


Menyediakan Sistem model regional resolusi tinggi bekerja sama dengan lembaga di
Pemodelan Oseanografi pemodelan oseanografi untuk tingkat regional ASEAN atau
Nasional yang akurat dan pendugaan stok ikan IOC WESTPAC. Pengukuran
sesuai dengan kebutuhan pemodelan tingkat pencemaran yang menjadi salah satu aspek
pemangku kepentingan. yang memasuki muara. penting dapat dijembatani
dengan multiclient data
Yang perlu dilakukan P2O LIPI pemodelan kesehatan ekosistem.
management dengan melakukan
adalah: pemantauan stok ikan di public private partnership dan
Mengintegrasikan observasi satu kawasan dan kelayakan kolaborasi dengan berbagai
dan model dalam data asimilasi penangkapannya. lembaga lokal dan internasional
sehingga bermanfaat bagi yang relevan.
layanan operasional, khususnya Menggagas Sistem
terkait real-time dan near real- Observasi Kelautan
time: Pendanaan riset untuk
secara terintegrasi untuk optimalisasi hasil,
• P r o f i l 3 - d i m e n s i mendukung data dan
terutama untuk kebutuhan
biogeokimia laut, informasi tentang kelautan fasilitas riset canggih
• Sebaran stok ikan mulai dari dan penambahan hari
proses rekruitmen sampai
Berpartisipasi aktif dalam layar yang sesuai dengan
dewasa,
pengembangan kapasitas kebutuhan riset per
• Variabilitas potensi daerah SDM yang interdisipliner tahunnya.
tangkapan ikan laut,
dan sesuai dengan
Beberapa hal kritikal kebutuhan pemangku Misalnya Australia dalam
y a n g h a r u s d i p e r s i a p k a n kepentingan yang lebih luas mengoperasikan fasilitas
oleh sebuah institusi riset kelautan nasional seperti
Sebagai contoh dalam Research Vessel Investigator
kelautan adalah membenahi geoscience kelautan, eksplorasi
dan mengintegrasikan data bidang geofisika memerlukan (RV) membutuhkan dana
(observasi, satelit, pemodelan). dukungan untuk meningkatkan untuk melaksanakan kebu-
Berikut beberapa contoh k a p a s i t a s S D M p e n e l i t i , tuhan sampai 300 hari layar
pemodelan penting yang banyak terutama dalam menyusun per tahunnya.
dibutuhkan oleh pemangku model geologi, geodinamika,
kepentingan di Indonesia saat tsunami, gempa dan kejadian
ini dan ke depan: aktif lainnya. Upaya ini dapat
pemodelan pola pertumbuhan, dilakukan dengan aktivitas
migrasi, dan biomassa ikan tuna outreach atau floating school, dan

60 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


REFERENSI PENDUKUNG

1. Anonim. 2014. Foresight 6. Harper, C.,J. (ed.). 003. 17. Laporan Tahunan P2O LIPI
a s a St r a t e g i c L o n g - Vision Document, Eforesee 2010
Term Planning Tool for Malt ICT and Knowledge 18. Laporan Tahunan P2O LIPI
Developing Countries. Futures Pilot. 2011
UNDP Global Centre for 7. Implementation strategy for 19. Laporan Tahunan P2O LIPI
Public Service Excellence the Second International 2012
2. C o u n c i l o f C a n a d i a n Indian Ocean Expedition 20. Laporan Tahunan P2O LIPI
Academies 2013. Ocean 2015- 20 --- 2015 2013
Science in Canada: Meeting 8. I n t e r g o v e r n m e n t a l
the Challenge, seizing the 21. Laporan Tahunan P2O LIPI
Oceanographic Commission 2014
opportunity. (of UNESCO), 2015
3. Cummins, V., Burkett, 22. Laporan Tahunan P2O LIPI
9. Jaya, I., Solihin, I., Adrianto, 2015
J. Day, D. Forbes, B. L., Sondita, F.A., Setiyanto,
Glavovic, M. Glaser, M. D.D., Buchori, D., Aman, A. 23. Laporan Tahunan P2O LIPI
Pelling. LOICZ Signpost: 2016. Arsitektur Akademik 2016
Consultation Document Institut Pertanian Bogor 24. Martin, B. 1995. Foresight
Signalling New Horizons Bidang Kelautan Tropika in Science and Technology.
for Future Earth—Coasts. 2045. Technology Analysis and
LOICZ (2014) http://www. 10. Laporan Kinerja P2O LIPI Strategic Management,
loicz.org/cms02/about_us/ 2015 Vo l . & , No . 2 . d o i :
FEcoasts/index.html. 10.1080/095373295
en.html 11. Laporan Kinerja P2O LIPI 08524202.
2016
4. Eastern Indian Ocean 25. National Marine Science
Upwelling Research 12. Laporan Kinerja P2O LIPI Plan 2015 – 2025: Driving
Initiative (The EIOURI 2013 the development of
sCIENCE Plan) 13. Laporan Kinerja P2O LIPI Australia’s blue economy.
5. G. McGranahan, D. Balk, 2012 26. Policy Brief : Strategi Riset
B. Anderson. The rising 14. Laporan Kinerja P2O LIPI Pe n g e m b a n g a n Po r o s
tide: assessing the risks of 2011 Maritim Dunia
climate change and human 15. Laporan Kinerja P2O LIPI 27. Rudiyanto, A., Adrianto, L.,
settlements in low-elevation 2006 Koropitan, A., Prasetyo, H.,
coastal zones. Environ. 16. Laporan Tahunan P2O LIPI Harjono, H., Suharsono,
Ur b a n i z a t i o n , 1 9 ( 1 ) 2009 Susilohadi Sumirat, F.,
(2007), pp. 17-37 Arifin, Z. 2014. Kerangka

Referensi Pendukung || 61
teknokratis pembangunan 31. Rencana Implementatif 36. X i a n g , J ( e d ) . 2 0 1 5 .
kemaritiman 2015 – P2O LIPI 2015-2019 Versi MARINE Science and
2025. Kementerian PPN/ 2 th 2016 Technology in China: A
BAPPENAS 32. Satu Abad Lebih Peranan Roadmap to 2050. Chinese
28. R a n c a n g a n A w a l Strategis P2O Academy of Sciences.
RPJMN 2015-2019 33. SK Kepala P2O LIPI: Science Press Beijing
Buku III Pembangunan Tupoksi Kelti 2017 37. Visi Maritim Indonesia
Wilayah-2014 34. SK Kepala P2O LIPI: 2045. 2017. Kementerian
29. Rancangan Awal RPJMN Susunan dan tusi PPN/Bappenas.
2015-2019bBuku I Agenda penanggungjawab Lab 38. 2nd International Indian
Pembangunan Nasional Penelitian 2017 Ocean Expedition (IIOE-2)
30. Rencana Implementatif 35. Thompson, R.C. 2017. : A Basin Wide Research
P2O LIPI 2015 -2019 Future of the Sea: Plastic Program – Science Plan
Pollution. London, UK: 2015-2020
Government Office for
Science.

62 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1: Kerangka Foresight

KERANGKA PENGUMPULAN DATA

Referensi Pendukung || 63
Lampiran 2: Hasil workshop Keltian
Workshop Keltian: PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN KELAUTAN

Hal utama pada saat membayangkan lautan di tahun 2030 jumlah Persentase

pencemaran laut 14 11.67%


perubahan iklim 6 5.00%
pencemaran laut oleh sampah 5 4.17%
eksploitasi SDL 5 4.17%
keanekaragaman produk dari sumber laut 5 4.17%
sumber pangan dan obat dari laut 5 4.17%
sumber energi dari laut 4 3.33%
pembangunan berkelanjutan berbasis SDL 4 3.33%
degradasi ekosistem laut 4 3.33%
penurunan keanekaragaman SDL 3 2.50%

Workshop Keltian : TANTANGAN MASYARAKAT INDONESIA 2030

Tantangan terbesar masyarakat Indonesia pada


Jumlah Persentase
tahun 2030
ketahanan pangan 14 12.84%
peningkatan populasi 9 8.26%
ketahanan energi 8 7.34%
pemenuhan kebutuhan dasar 7 6.42%
kerusakan lingkungan 7 6.42%
masalah politik 6 5.50%
persaingan ekonomi global 5 4.59%
peningkatan peran iptek 5 4.59%
rendahnya kualitas SDM 5 4.59%
pengangguran 5 4.59%

Workshop Keltian : Bidang Kepakaran untuk Riset Baru di masa depan

kemampuan bidang riset yang diperlukan di masa yang akan datang jumlah
biomolekuler 5
spatial modeling 4
bioproses 3
biokimia 3

bioteknologi 3

bioinformatika 2

ocean acidification 2

64 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Workshop Keltian : Kendala/Hambatan utama dalam Riset Kelautan

3 permasalahan utama jumlah

anggaran riset 18

sarana/prasarana riset 18

SDM 7

1. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN SAAT INI MENURUT PENELITI P2O


Keltian Keanekaragaman Hayati Dan Pemanfaatan SDL

2. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN KE DEPAN MENURUT PENELITI P2O


Keltian Keanekaragaman Hayati Dan Pemanfaatan Sdl

Referensi Pendukung || 65
3. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN SAAT INI MENURUT PENELITI P2O
KELTIAN Budi daya dan Bioprospeksi Biota Laut

4. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN KE DEPAN MENURUT PENELITI P2O


KELTIAN Budi daya dan Bioprospeksi Biota Laut

5. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN SAAT INI MENURUT PENELITI P2O


KELTIAN Kesehatan Ekosistem Laut

66 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


6. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN KE DEPAN MENURUT PENELITI P2O
KELTIAN Kesehatan Ekosistem Laut

7. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN SAAT INI MENURUT PENELITI P2O


KELTIAN Oseanografi dan Perubahan Iklim Global

Referensi Pendukung || 67
8. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN KE DEPAN MENURUT PENELITI P2O
KELTIAN Oseanografi dan Perubahan Iklim Global

9. PEMETAAN ISU DAN TANTANGAN KE DEPAN MENURUT PENELITI P2O


KELTIAN Pencemaran dan Bioremediasi

68 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Lampiran 3

Hasil Survey Foresight Riset 2017. Terdapat 18 pakar kelautan perempuan dan 44% berjenis
Kelautan Indonesia (Online yang berpartisipasi dalam survei kelamin laki-laki. Sedangkan
Delphi)-Tahap 1 ini. Sebanyak 56% pakar yang mayoritas pakar berasal dari IPB
berpartisipasi berjenis kelamin (41%).
Survey dilakukan secara Online
dalam periode Oktober-November

Survei ini mencoba untuk muncul, yaitu (1) Kelangkaan Baru. Isu Dampak Perubahan
melihat keterkaitan antara riset Sumber Daya, (2) Dampak Iklim merupakan isu yang memiliki
kelautan dengan beberapa isu, Perubahan Iklim, (3) Perubahan keterkaitan paling erat dengan riset
yaitu Isu Global, Isu Masyarakat Demografi, (4) Harapan Hidup kelautan, diikuti oleh Kelangkaan
Indonesia 2035 dan Sustainable Tinggi dan Kualitas Hidup sumber daya dan Harapan hidup
Development Goals (SDGs). yang lebih baik, (5) Pergeseran yang semakin baik.
Terdapat enam isu global yang Kekuasaan Global, (6) Konektivitas

Referensi Pendukung || 69
Tantangan Prioritas menurut pakar kelautan nasional

70 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Kegiatan penelitian dan pengembangan seperti apa untuk menjawab tantangan masyara-
kat Global

Kegiatan penelitian dan pengembangan seperti apa untuk menjawab tantangan masyarakat Global
Tantangan 1: Dampak perubahan iklim
Diperlukan data tren perubahan iklim dan dampaknya pada skala daerah
Mitigasi bencana
Penelitian utk memprediksi jenis dampak yang terjadi dan skala perubahannya
riset kelautan
Tantangan 2: Kelangkaan sumber daya
Carrying capacity dan upaya pemanfaatan
Keberlanjutan sumberdaya melalui ipteks
konservasi untuk kesejahteraan masyarakat
litbang untuk pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, melalui pengembangan teknologi, pengelolaan wilayah perai-
ran, dan penjaminan daya dukung lingkungan dari berbagi tekanan.
Multidisiplin
Penelitian bioteknologi
penelitian jangka panjang dan observasi
Penelitian tanpa diimbangi dengan pendidikan maka akan sulit berkembang. Oleh sebab itu, untuk mendukung riset kelautan
maka langkah pertama adalah memetakan potensi kelautan yg kita miliki dan tantangan pengembangannya, baik dalam skala
lokal, regional maupun global. Selanjutnya, bersamaan dengan penyiapan SDM melalui proses pendidikan, dilakukan riset-
riset dasar dan riset pengembangan dengan memanfaatkan kemitraan nasional maupun internasional.

Penelitian yang mengevaluasi apakah perangkat yang telah ada (misalnya kawasan konservasi) bisa memberikan solusi/dam-
pak terhadap kelangkaan SD. Dibutuhkan juga penelitian inovatif yang dapat memberikan alternatif strategi untuk mengatasi
kelangkaan SD.
Pengembangan sumber daya.
Tantangan 3: Kelangkaan sumber daya dan Dampak Perubahan Iklim
riset terintegrasi multi-disiplin dengan parameter kajian yang jelas yang mengacu pada rekomendasi IPCC Ocean
Riset yang baik untuk menjadi basis pengambilan keputusan kebijakan/program/'proyek yang tepat
Kelangkaan sumberdaya dan perubahan iklim global
Tantangan 4: Pergeseran Kekuasaan Global
Lembaga penelitian dan perguruan tinggi diberi kesempatan mengembangkan topik riset sesuai road map penelitian yang
disusun dalam pengembangan iptek
Kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menjawab tantangan masyarakat Indonesia 2035

Tantangan 1: Kelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem laut


Bagaimana kawasan konservasi bisa melindungi kehati dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat melalui peri-
kanan dan pariwisata laut
Integrasi penelitian lintas institusi dalam rangka percepatan memperoleh informasi terkait komponen tersebut
kawasan konservasi berbasis komunitas
observasi jangka panjang, kawasan konservasi
Tantangan 2: Ketahanan/keamanan pangan terkait kelautan, maritim serta bioekonomi
Bioteknologi Kelautan
Identifikasi kawasan potensi perikanan dan produk alam laut
Kebijakan penangkapan
Langkah pertama adalah memetakan potensi sumber daya pangan berbasis laut. Selanjutnya, dilakukan kajian untuk menen-
tukan apa potensi yang paling baik untuk dikembangkan dilihat dari sisi keberlanjutan, demand, dan ekonomi.
Tantangan 3: Penanganan terhadap perubahan iklim dan lingkungan
Kuantifikasi secara tepat sumberdaya lingkungan laut dewasa ini dan menyusun skenario dampak perubahan iklim terhadap
sumberdaya laut tersebut
pendekatan iptek untuk solusi perubahan iklim
riset kelautan

Referensi Pendukung || 71
Tantangan 1: Pe4anganan terhadap perubahan iklim dan lingkungan dan Ketahanan/keamanan pangan terkait kelautan, mari-
tim serta bioekonomi
Multidisiplin
Ketahanan dan keamanan pangan
Tantangan 5: Penggunaan sumber daya serta bahan baku secara efisien
e.g. Riset dan data tentang population growth; pemodelan stock perikanan yang transparan dan secara keilmuan kuat
(pemodelan bisa tembus jurnal ilmiah yang baik sehingga kita bisa yakin modelnya robust); monitoring berkala untuk memas-
tikan ada data kuat dampak perubahan iklim, etc.
Salah satunya pemanfaatan limbah utk energi alternatif
Survei off shore dan pesisir.
Tidak ada dalam pilihan, karena ketahanan pangan, kesehatan laut dan keanekaragaman hayati, penggunaan sumber daya se-
cara efisien merupakan hal-hal yang saling simultan menjadi isu utama. Selain itu, ketiganya akan sangat dipengaruhi kondisi
perubahan global yang ada, misalnya perubahan iklim, bencana lingkungan, dlsb.

72 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


komponen SDGs di atas manakah yang menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan oleh komunitas
iptek melalui riset kelautan

Kegiatan penelitian dan pengembangan seperti apa untuk menjawab tantangan prioritas kompo-
nen SDGs
TUJUAN 14: Ekosistem laut
Bagaimana melindungi keanekaragaman hayati dan disaat yang sama harus memanfaatkan sumber
daya laut secara lestari untuk kepentingan masyarakat
Komponen Ekosistem Laut terdiri dari biologi, kimi, dan fisik. Bentuk kegiatan penelitian tentu
disesuaikan dengan kondisi ekosistem laut setempat dan hubungannya dengan eksosistem laut yang
lebih luas/besar.
kuantifikasi secara tepat driving forces perubahan iklim di Benua Maritim Indonesia
litbang pada biosfer, sumber daya laut, kesehatan ekosistem, tata kelola laut, perubahan global
(iklim, pengasaman air laut, dlsb).
Multidisiplin
Observasi Laut, Konservasi, Perubahan Iklim
Sudah disebutkan sebelumya: riset dan data berkualitas yang mendukung pemanfaatan sumberdaya
secara efisien
Yg terkait dg health of the ocean
TUJUAN 13: Penanganan perubahan iklim
Penanganan perubahan iklim
Monitoring laju dampak perubahan iklim seperti kenaikan suhu, pengasaman laut dan sea level rise
TUJUAN 3: Kehidupan sehat dan sejahtera
Pemberdayaan masyarakat
social ekonomi masyarakat untuk konservasi
TUJUAN 9: Industri, inovasi dan infrastruktur
Pengembangan sumberdaya sampai ke tahap produk untuk mendukung produk dalam megeri dan
menghentikan import
TUJUAN 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan
Semua lembaga bekerja sama
TUJUAN 6: Air bersih dan sanitasi layak
Penelitian yang terkait peningkatan nilai guna air
TUJUAN 7: Energi bersih dan terjangkau:
riset kelautan untuk pemanfaatan SDL dari laut untuk energi bersih

Referensi Pendukung || 73
Lampiran 4.1
Tabel Pemetaan Jumlah Publikasi Dan Sitasi Berdasarkan Fungsional Peneliti P2O LIPI
Row Labels Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah
Publikasi Publikasi Sitasi Sitasi Peneliti
Budi daya dan Bioprospeksi Biota
Laut
Penata Teknis Penelitian 27 13.5 102 51 2
Peneliti Muda 11 11 4 4 1
Peneliti Madya 119 29.75 1175 293.75 4
Peneliti Utama 46 46 125 125 1
Keanekaragaman dan Potensi Sum-
berdaya Laut
Penata Teknis Penelitian 20 10 46 23 2
Peneliti Pertama 17 5.667 15 5 3
Peneliti Muda 41 8.2 77 15.4 5
Peneliti Madya 71 23.667 540 180 3
Peneliti Utama 94 94 106 106 1
Kesehatan Ekosistem Laut
Peneliti Pertama 3 3 0 0 1
Peneliti Muda 42 21 125 62.5 2
Peneliti Madya 47 23.5 286 143 2
Oseanografi dan Perubahan Iklim
Penata Teknis Penelitian 6 2 1 0.333 3
Peneliti Pertama 29 9.667 48 16 3
Peneliti Muda 82 16.4 108 21.6 5
Peneliti Madya 22 22 131 131 1
Peneliti Utama 27 13.5 88 44 2
Pencemaran dan Bioremediasi
Penata Teknis Penelitian 46 15.333 319 106.333 3
Peneliti Pertama 23 7.667 25 8.333 3
Peneliti Muda 47 11.75 72 18 4
Peneliti Madya 44 22 105 52.5 2
Peneliti Utama 103 103 514 514 1
Grand Total 967 17.907 4012 74.296 54*

Keterangan: data diatas belum mencakup peneliti di UPT dan Balai

Lampiran 4.2
Tabel Pemetaan Jumlah Publikasi Dan Sitasi Berdasarkan Fungsional Peneliti P2O LIPI
Row Labels Jumlah Rata-rata Pub- Jumlah Rata-rata Jumlah Peneliti
Publikasi likasi Sitasi Sitasi
Biogeokimia
Penata Teknis Penelitian 4 4 0 0 1
Peneliti Pertama 18 9 34 17 2
Peneliti Muda 36 18 15 7.5 2
Bioteknologi Laut
Penata Teknis Penelitian 27 13.5 102 51 2

74 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Peneliti Madya 105 35 1150 383.333 3
Budi daya Laut
Peneliti Muda 11 11 4 4 1
Peneliti Madya 14 14 25 25 1
Peneliti Utama 46 46 125 125 1
Ekologi dan Botani Laut
Peneliti Pertama 9 9 8 8 1
Peneliti Muda 35 11.667 153 51 3
Geologi dan Geokimia
Penata Teknis Penelitian 25 25 278 278 1
Geologi dan Geomatika
Peneliti Muda 15 15 29 29 1
Peneliti Madya 22 22 131 131 1
Peneliti Utama 10 10 11 11 1
Mikrobiologi Laut
Penata Teknis Penelitian 1 1 1 1 1
Peneliti Madya 21 21 72 72 1
Oseanografi Fisika
Penata Teknis Penelitian 2 1 1 0.5 2
Peneliti Pertama 9 9 8 8 1
Peneliti Muda 18 18 13 13 1
Oseanografi Fisika
Peneliti Muda 11 11 14 14 1
Oseanografi Terapan
Peneliti Madya 15 15 37 37 1
Pencemaran Laut
Penata Teknis Penelitian 20 20 40 40 1
Peneliti Pertama 16 8 23 11.5 2
Peneliti Muda 36 12 58 19.333 3
Peneliti Madya 23 23 33 33 1
Peneliti Utama 103 103 514 514 1
Plankton Laut
Peneliti Pertama 13 13 14 14 1
Peneliti Muda 10 10 18 18 1
Peneliti Utama 17 17 77 77 1
Zoologi Laut
Penata Teknis Penelitian 20 10 46 23 2
Peneliti Pertama 7 2.333 1 0.333 3
Peneliti Muda 51 12.75 82 20.5 4
Peneliti Madya 103 25.75 789 197.25 4
Peneliti Utama 94 94 106 106 1
Grand Total 967 17.907 4012 74.296 54

Keterangan: data diatas belum mencakup peneliti di UPT dan Balai

Referensi Pendukung || 75
Lampiran 4.3 Sebaran topik penelitian berdasarkan Google Scholar
Topik Penelitian Yang Pernah Dilakukan Oleh Kelompok Penelitian P2O LIPI

Keterangan : Besarnya lingkaran menunjukkan kata kunci yang paling sering digunakan oleh kelompok
penelitian

Topik Penelitian Yang Pernah Dilakukan Oleh Kelompok Peneliti P2O LIPI (berdasarkan Google
Scholar)

Keterangan : Besarnya lingkaran menunjukkan kata kunci yang paling sering digunakan oleh kelompok
peneliti

76 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Lampiran 5 mobil, semikonduktor, tabung bibliometrik. Chen et al. (2010)
vakum, mesin uap, dan teknologi mengeksplorasi pengembangan
S-Curve, Tahapan energi terbarukan (Frank 2004; teknologi energi dan bahan
Perkembangan Teknologi Schilling dan Esmundo 2009). bakar hidrogen dengan analisis
dan Relative Competitive Selain itu, beberapa peneliti paten dan bibliometrik, dan
Advantage (RCA) menggabungkan konsep analisis temuan mereka sesuai dengan
Banyak peneliti menggunakan bibliometrik dan S-Curve karena hasilnya yang diperkirakan
konsep S-Curve untuk dapat menggambarkan tahap oleh S-Curve. Dari tinjauan
menggambarkan tahap pengembangan pengetahuan diatas, konsep S-Cur ve
pengembangan teknologi dan secara spesifik menurut tidak hanya bisa diterapkan
membandingkan dengan data teknologi diajukan berdasarkan untuk mempresentasikan
aktual dengan target, serta beberapa indikator publikasi tahap pengembangan dalam
menggunakan ekstrapolasi untuk dari penulis di spesifik teknologi teknologi tertentu, tetapi juga
memperkirakan perkembangan yang dimaksud. Smith dan untuk mengevaluasi kondisi
teknologi yang tengah terjadi Marinova (2005) menyebutkan perkembangan teknologi saat
(Christensen 1992; Cheng et untuk mendorong lembaga ini dari informasi publikasi
al 2008). Beberapa penelitian penelitian untuk terlibat di literatur. Selain itu, hasil analisis
telah menggunakan konsepnya daerah potensial, Australia dan tahap pengembangan
ini dan berhasil memperlihatkan memutuskan alokasi sumber teknologi dapat dimanfaatkan
pola tersembunyi dari beberapa daya penelitian teknologi dalam merumuskan kebijakan
teknologi seperti disk drive, berdasarkan hasil analisis pengembangan teknologi.

Gambar 1. Tahapan Perkembangan Teknologi (Lee et al. 2012)

S-Curve sendiri merupakan serta membuat pencatatan yang pertumbuhan proyek. Lee et al.
strategic management tools yang baik mengenai proses yang (2012) menggunakan analisis
telah banyak digunakan dalam telah dilalui. Analisis S-Curve bibliometrika dan S-Curve
berbagai bidang. Biasanya memungkin manajer proyek dalam mengidentifikasi
S-Curve digunakan untuk untuk melakukan antisipasi potensi teknologi di Bidang
melakukan pengecekan terhadap terhadap potensi masalah yang Pertanian di Taiwan. Analisis
progres kemajuan suatu proyek, akan muncul, durasi waktu yang tersebut digunakan sebagai
secara visual dari waktu ke waktu berlebih serta mengidentifikasi bagian penting dari Foresight

Referensi Pendukung || 77
yang dilakukan dalam bidang dari tahapan perkembangan level regional atau level benua,
Pertanian di Taiwan. Dalam teknologi, pada sumbu x adalah atau pada level negara untuk
penelitiannya, Lee et al. (2012) volume publikasi dan sumbu membandingkan kompetisi
membangun innovation- y adalah pertumbuhan dari pada level institusi di negara
foresight matrix dengan tahapan publikasi. tersebut. Formulasi dari RCA
pengembangan teknologi di RC A d i u k u r d e n g a n adalah
kolom dan Relative Competitive membandingkan jumlah
Advantage di baris, dengan publikasi di bidang area tentu
empat tahap teknologi yang dihasilkan suatu negara/
perkembangan (embryonic, institusi dengan jumlah
emerging, growing dan mature) publikasi yang dihasilkan secara
serta Relative Competitive total di seluruh dunia. Jika
Advantage (Tinggi, Rendah). nilai RCA lebih besar dari 1, Dimana, adalah index
Akan didapatkan delapan menunjukkan bahwa Negara dari isu atau bidang area yang
kombinasi untuk mengarahkan tersebut telah mempublikasi menjadi perhatian; adalah
arah teknologi per tanian lebih banyak dibandingkan index dari negara/institusi yang
Taiwan masa depan serta negara lainnya di dunia. Hal menjadi perhatian; adalah
merumuskan pembangunan tersebut menunjukkan bahwa jumlah isu dari isu atau bidang
strategi berdasarkan delapan pada bidang area tersebut area yang menjadi perhatian
kombinasi ini untuk dijadikan merupakan bidang area paling pada level negara; N adalah
acuan bagi teknologi pertanian kompetitif pada negara tersebut. jumlah isu dari isu atau bidang
di negara ini (Watts dan Porter RCA sendiri bisa digunakan area yang menjadi perhatian
1997; Moed 2000). Gambar 1 pada level yang berbeda, seperti pada level seluruh dunia.
menunjukkan bentuk visualisasi

Tabel 1. Innovation-Foresight Matrix (Lee et al. 2012)

Tahapan Perkem- Relative Competitive Advantage


bangan Teknologi Tinggi Rendah
Embryonic Most promising. Develop Issue analysis for best niches and

applications and technologies; opportunities, import expert


knowledge and transform it into ap-
quickly convert scientific plicable technologies. International
cooperation important
knowledge into commercial products
Emerging Opportunity. Focus on technology integration, Tightly focused investment on a
transfer and application
specific research issue. Issue analysis
for concrete results in the short to medium term vital
Growing Strategic fundamental research, key Work with other countries, import

knowledge and innovative research methods to tools and knowledge, and move
maintain advantage toward long-term goals
Mature Assess local or regional demands; Explore market niches and funda-
mental research
determine issues with potential for

profit. Key part of country’s development plan

78 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Lampiran 6. Pemetaan Penelitian Bidang Kelautan di Indonesia dan P2o LIPI
Sumber data : Scopus (2006 – 2017) . Berdasarkan 301 Keyword yang dikumpulkan dari Peneliti
Pusat Penelitian Oseanografi LIPI sebanyak (50 orang).

Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Scopus.com yang merupakan database publikasi
terbesar. Pencarian di Scopus menggunakan kata kunci yang tersebut di gambar, seperti ”marine
science”, “coastal”, “maritime”, “marine biotechnology”, “marine biodiversity”, “marine biota”,
“oceanography”, “marine ecosystem”, dll. Pencarian kata kunci tersebut dilakukan pada level dunia
(All) dan pada level negara (Indonesia pada variabel affiliation country). Pencarian dilakukan hanya
pada variabel Judul artikel, Abstrak, Kata Kunci dan Nama Jurnal. Jika kata kunci tersebut muncul pada
salah satu variabel tersebut maka artikel tersebut dimasukkan dalam analisis.

PEMETAAN S-CURVE KELOMPOK PENELITIAN PADA LEVEL GLOBAL

Referensi Pendukung || 79
PEMETAAN S-CURVE KELOMPOK PENELITIAN PADA LEVEL INDONESIA

PEMETAAN RCA KELOMPOK PENELITIAN PERBANDINGAN INDONESIA DAN GLOBAL

80 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


PEMETAAN S-CURVE KELOMPOK PENELITI PADA LEVEL GLOBAL

PEMETAAN S-CURVE KELOMPOK PENELITI PADA LEVEL INDONESIA

Referensi Pendukung || 81
PEMETAAN RCA KELOMPOK PENELITI PERBANDINGAN INDONESIA DAN GLOBAL

Perkembangan Jumlah Publikasi berdasarkan Keyword pada Kelompok Penelitian P2O


LIPI

82 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Perkembangan Jumlah Publikasi berdasarkan Keyword pada Kelompok Peneliti P2O LIPI

Hubungan 10 Besar Institusi dan Keyword

Referensi Pendukung || 83
Hubungan 10 Besar Institusi dan Author Keyword

Hubungan Kelompok Penelitian dan Keyword

84 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Hubungan Kelompok Peneliti dan Keywords

WORD COUNT KELOMPOK PENELITIAN

Keltian Biodiversitas dan Potensi Keltian Budi daya dan Bioprospeksi Keltian Kesehatan Ekosistem Laut
Sumber Daya Laut Biota Laut

Keltian Oseanografi dan Perubahan Keltian Pencemaran Laut dan Biore-


Iklim mediasi

Referensi Pendukung || 85
WORD COUNT KELOMPOK PENELITI

Kelti Biogeokimia Laut Kelti Bioteknologi Laut Kelti Budi daya Laut

Kelti Ekologi dan Botani Laut Kelti Mikrobiologi Laut Kelti Geologi, Geofisik&Geomatika

Kelti Oseanografi Terapan Kelti Zoology Laut Kelti Pencemaran Laut

86 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Lampiran 7. Perbandingan Internasional

Pemetaan RCA Bidang Kelautan Perbandingan Indonesia Dan Jepang

Pemetaan RCA Bidang Kelautan Perbandingan Indonesia Dan Korea Selatan

Referensi Pendukung || 87
Pemetaan RCA Bidang Kelautan Perbandingan Indonesia Dan China

Pemetaan RCA Bidang Kelautan Perbandingan Indonesia Dan Singapura

88 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Pemetaan RCA Bidang Kelautan Perbandingan Indonesia Dan Thailand

Referensi Pendukung || 89
Lampiran 8 Perbandingan Institusi Kelautan Global berdasarkan kata
kunci riset kelautan
DAFTAR 10 BESAR INSTITUSI UNTUK MASING-MASING KATA KUNCI PENCARIAN (1)

marine biotechnol-
no marine science maritime marine biodiversity marine biota oceanography
ogy
1 Chinese Academy Dalian Maritime Chinese Academy CNRS Centre Na- Chinese Academy Woods Hole
of Sciences University of Sciences tional de la Recher- of Sciences Oceanographic
che Scientifique Institution
2 CNRS Centre Universidade de Ocean University of James Cook Univer- Russian Academy Scripps Institution
National de la Lisboa China sity, Australia of Sciences of Oceanography
Recherche Scien-
tifique
3 University of Cape Instituto Superior Ministry of Educa- University of CNRS Centre Na- National Oceanic
Town Tecnico tion China Queensland tional de la Recher- and Atmospheric
che Scientifique Administration
4 National Oceanic CNRS Centre Na- Pukyong National The University of Environment University of Wash-
and Atmospheric tional de la Recher- University British Columbia Canada ington, Seattle
Administration che Scientifique
5 Havforskningsin- Universita degli Consiglio Nazionale Chinese Academy Fisheries and University of Califor-
stituttet Studi di Genova delle Ricerche of Sciences Oceans Canada nia, San Diego
6 University of Norges Teknisk- University of Tokyo Universite Pierre et Alfred-Wegener- Chinese Academy of
Washington, Naturvitenskapeli- Marie Curie Institut Helmholtz- Sciences
Seattle ge Universitet Zentrum für
Polar- und Meeres-
forschung
7 Woods Hole Akademickie National Univer- University of Wash- United States Geo- National Ocean-
Oceanographic Centrum Medycyny sity Corporation ington, Seattle logical Survey ography Centre
Institution Morskiej i Tropi- Tokyo University of Southampton
kalnej Marine Science and
Technology
8 Ocean University Chinese Academy CNRS Centre Na- University of Tas- Norsk institutt for CNRS Centre Na-
of China of Sciences tional de la Recher- mania vannforskning tional de la Recher-
che Scientifique che Scientifique
9 Fisheries and British Antarctic Institute of Ocean- University of Nanjing Institute University of Hawaii
Oceans Canada Survey ology Chinese California, Santa of Geology and at Manoa
Academy of Sci- Barbara Palaeontology
ences Chinese Academy
of Sciences
10 National Taiwan Wuhan University National University Australian Institute University of Tas- Oregon State Uni-
Ocean University of Technology of Singapore of Marine Science mania versity

DAFTAR 10 BESAR INSTITUSI UNTUK MASING-MASING KATA KUNCI PENCARIAN (2)


marine bio- marine bioac-
no marine ecosystems climate variability marine pollution marine debris
prospecting tive
1 CNRS Centre Na- Universitetet i Pukyong Chinese Academy of Chinese Academy CNRS Centre National de
tional de la Recher- Tromso National Uni- Sciences of Sciences la Recherche Scientifique
che Scientifique versity
2 National Oceanic Universidade de Chinese National Oceanic City University of
Alfred-Wegener-Institut
and Atmospheric Aveiro Academy of and Atmospheric Hong Kong Helmholtz-Zentrum für
Administration Sciences Administration Polar- und Meeresforsc-
hung
3 University of Wash- Universidade Consiglio CNRS Centre Nation- Centre for the Envi- United States Geological
ington, Seattle Federal Flumi- Nazionale delle al de la Recherche ronment Fisheries Survey
nense Ricerche Scientifique and Aquaculture
Science
4 The University of Skidaway Scripps Institu- Columbia University National Oceanic National Oceanic and At-
British Columbia Institute of tion of Ocean- in the City of New and Atmospheric mospheric Administration
Oceanography ography York Administration

90 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


5 Chinese Academy Consiglio University of National Center Ocean University of University of Cambridge
of Sciences Nazionale delle California, San for Atmospheric China
Ricerche Diego Research
6 James Cook Univer- University of Ocean Univer- University of Colo- Consiglio Nazionale National Oceanography
sity, Australia California, San sity of China rado at Boulder delle Ricerche Centre Southampton
Diego
7 Oregon State Faculdade CNRS Centre Lamont-Doherty Environment Consiglio Nazionale delle
University de Ciencias, National de Earth Observatory Canada Ricerche
Universidade de la Recherche
Lisboa Scientifique
8 Fisheries and Universidade do Universidade University of Wash- CNRS Centre Na- British Antarctic Survey
Oceans Canada Porto do Porto ington, Seattle tional de la Recher-
che Scientifique
9 University of Danmarks Universita United States Geo- Ministry of Educa- University of Hawaii at
Queensland Tekniske Uni- degli Studi di logical Survey tion China Manoa
versitet Napoli Fed-
erico II
10 Scripps Institution University of Annamalai University of Arizona United States Universitetet i Bergen
of Oceanography Canterbury University Environmental Pro-
tection Agency

DAFTAR 10 BESAR INSTITUSI UNTUK MASING-MASING KATA KUNCI PENCARIAN (3)

marine cul- marine/ocean ocean sover- coastal ecosys-


No marine safety marine security ocean energy
ture governance eignty tems
1 Chinese Wageningen Australian Na- Akademia Mor- The University of Chinese Chinese Acad-
Academy of University and tional University ska w Gdyni British Columbia Academy of emy of Sciences
Sciences Research Centre Sciences
2 CNRS Centre Stockholms uni- University of Ha- Norges Wuhan Univer- Scripps Institu-
CNRS Centre
National de versitet waii at Manoa Teknisk-Natur- sity of Technol- tion of Ocean-National de
la Recherche vitenskapelige ogy ography la Recherche
Scientifique Universitet Scientifique
3 Ocean Univer- James Cook Uni- Dalhousie Uni- Wuhan Univer- University of Woods Hole United States
sity of China versity, Australia versity sity of Technol- Tasmania Oceanographic Geological
ogy Institution Survey
4 University of Dalhousie Uni- The University Dalian Maritime James Cook Uni- University of National Oceanic
California, San versity of Sydney University versity, Australia Washington, and Atmospher-
Diego Seattle ic Administra-
tion
5 Woods Hole The University of Florida State U.S. Coast Guard Chinese Acad- CNRS Centre University of
Oceanograph- British Columbia University emy of Sciences National de Washington,
ic Institution la Recherche Seattle
Scientifique
6 Scripps University of University of Akademia Mor- Ocean University University Oregon State
Institution of California, Santa Victoria ska w Szczecinie of China of Hawaii at University
Oceanogra- Barbara Manoa
phy
7 Alfred-We- University of University of Chinese Acad- Dalian Maritime National James Cook Uni-
gener-Institut Tasmania New Brunswick emy of Sciences University Oceanic and versity, Australia
Helmholtz- Atmospheric
Zentrum für Administration
Polar- und
Meeresforsc-
hung
8 Ministry of University of Wol- University of Harbin Engineer- University of University of Louisiana State
Education longong Canterbury ing University Washington, California, San University
China Seattle Diego
9 Oregon State Universitetet i Royal Holrenda- DNV GL AS Simon Fraser Oregon State The University
University Tromso hay University of University University of British Co-
London lumbia
10 Institute of Duke University Fridtjof Nansens Ministry of Edu- National Oceanic Massachusetts UC Davis
Oceanol- Institutt cation China and Atmospher- Institute of
ogy Chinese ic Administration Technology
Academy of
Sciences

Referensi Pendukung || 91
DAFTAR 10 BESAR INSTITUSI UNTUK MASING-MASING KATA KUNCI PENCARIAN (4)

No ocean warming deep sea small island ocean safety sea warming
1 Chinese Academy of CNRS Centre Na- CNRS Centre Na- Harbin Engineering Rosenstiel School of
Sciences tional de la Recher- tional de la Recher-University Marine and Atmo-
che Scientifique che Scientifique spheric Science
2 National Oceanic and Chinese Academy of Chinese Academy Norges Teknisk- University of Miami
Atmospheric Adminis- Sciences of Sciences Naturvitenskapeli-
tration ge Universitet
3 CNRS Centre National Woods Hole Oceano- University of Ha- Shanghai Jiao Tong CNRS Centre National
de la Recherche Sci- graphic Institution waii at Manoa University de la Recherche Scien-
entifique tifique
4 Alfred-Wegener- Japan Agency for University of Tokyo Dalian University of CSIC - Instituto de
Institut Helmholtz- Marine-Earth Sci- Technology Ciencias del Mar ICM
Zentrum für Polar- ence and Technology
und Meeresforschung
5 University of Wash- National Oceanogra- University of Auck- Ocean University of Universitat de Girona
ington, Seattle phy Centre South- land China
ampton
6 University of Hawaii Russian Academy of University of Otago Ministry of Educa- Met Office
at Manoa Sciences tion China
7 Institute of Atmo- University of Tokyo Russian Academy Delft University of Hellenic Centre for
spheric Physics of Sciences Technology Marine Research
Chinese Academy of
Sciences
8 National Center for Universite Pierre et United States Geo- Chinese Academy University of Reading
Atmospheric Re- Marie Curie logical Survey of Sciences
search
9 GEOMAR - Helmholtz Alfred-Wegener- University of DNV GL AS Smithsonian Tropical
Zentrum für Ozean- Institut Helmholtz- Queensland Research Institute
forschung Kiel Zentrum für
Polar- und Meeres-
forschung
10 Scripps Institution of Scripps Institution of Australian National National Oceanic Consejo Superior
Oceanography Oceanography University and Atmospheric de Investigaciones
Administration

Lampiran 9
Riset kelautan masa depan berdasarkan PERSPEKTIF PENELITI
RESPONDEN
Riset 10-15 TAHUN ke depan Kategori Tema Riset
PENELITI P2O
Peneliti 1 • Konversi biomassa laut (alga dan mikroorganisme) untuk produksi Ketahanan pangan
produk-produk bernilai ekonomi industri. Ketahanan energi
• teknologi penyediaan air bersih dan layak minum dari air laut
budi daya organisme laut bernilai ekonomi tinggi terutama alga (makro
dan mikro) dan mikroorganisme laut
• integrasi pemanfaatan alga sebagai carbon sink untuk reduksi karbon
berlebih di atmosfir
• eksplorasi sumber daya alami laut untuk ketahanan pangan dan energi

Peneliti 2 pengasaman laut, perubahan iklim, carbonate system Perubahan iklim


Peneliti 3 Genetika Biodiversitas
Akustik Perubahan Iklim
Biogeochemistry
Peneliti 4 pencemaran laut Perubahan iklim
mikrobiologi Biodiversitas
interaksi laut dan atmosfer Coastal Management
aquaculture
marine bio-innovation

92 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Peneliti 5 riset dan monitoring laut dalam Ketahanan Energi
Blue economy dan Blue Energy Ketahanan Pangan
Interaksi laut dan ekosistem lain Biodiversitas
Penurunan keanekaragaman hayati dan ancaman ekosistem lainnya
Peneliti 6 jasa ekosistem Perubahan iklim
konservasi Biodiversitas
genetika Kesehatan Ekosistem
pencemaran mikro plastik Laut
perubahan iklim
biodiversitas
carbon budget
Peneliti 7 molecular based aquaculture Biodiversitas
integrated multi trophic aquaculture Perubahan iklim
pemetaan satelit
rekayasa genetika
rekayasa iklim dan cuaca
Peneliti 8 ocean energy Ketahanan Energi
ocean modelling
ocean mixing
air sea coupling research
integrated study between ocean and social
Peneliti 9 fungsi ekosistem jasa ekosistem laut Coastal management
genetika Biodiversitas
biogeography Perubahan iklim
perubahan iklim
Peneliti 10 bioteknologi laut Ketahanan pangan
perubahan iklim Perubahan iklim
advanced marine culture Kesehatan ekosistem
pencemaran laut laut
kebijakan laut
Peneliti 11 studi keberlanjutan ikan Ketahanan pangan
studi dinamika ekosistem Kesehatan ekosistem
produk alam laut laut
pencemaran
Peneliti 12 bioteknologi Ketahanan pangan
modeling oseangrafi, ekologi Perubahan iklim
perubahan iklim
Peneliti 13 Marine Biodiversity Biodiversitas
Marine Biotechnology Kesehatan ekosistem
Marine Environmental Health (Pollution) laut
Marine Ecotourism Ketahanan pangan
Maritime Technology Eco-tourism
Peneliti 14 analisis sistem keberlanjutan pulau-pulau kecil Coastal management
ecotourism Eco-tourism
Peneliti 15 laut dalam Ketahanan energi
energi laut
material tahan laut
Peneliti 16 studi area sumber pangan baru Ketahanan pangan
Peneliti 17 1. Manajemen dan pengelolaan sumberdaya kelautan Ketahanan pangan
2. Bioprospeksi kelautan baik untuk pangan, farmasi dan energi Perubahan iklim
3. Teknologi pasca panen yang mudah diaplikasikan
4. Perubahan iklim global
5. Pencemaran laut
Peneliti 18 micro dan nanoplasticspersistant organic pollutants Kesehatan ekosistem
mollecular toxicology laut
Peneliti 19 Biodiversitas
Genetika, Bioteknologi, Biogeokimia, Budi daya, Bioprospeksi
Ketahanan pangan
Peneliti 20 eksplorasi biodiversitas laut biodiversitas
pemetaan/distribusi habitat
kajian stok di alam
manajemen konservasi
eDNA metabarcoding

Referensi Pendukung || 93
Peneliti 21 Ketahanan pangan
Bioteknologi, global warming, konservasi, biofuel, pangan bahan hasil laut Perubahan iklim
Ketahanan energi
Peneliti 22 Marine debris Perubahan iklim
Pemanasan global
Biota adaptation on climate change
Coral bleaching
Biota loss
Peneliti 23 bioteknologi, budi daya, teknologi pengolahan, transportasi, teknologi Ketahanan pangan
pendukung hankam
Peneliti 24 Terumbu karang, Ikan, Rumput laut, Penanggulangan bencana alam, Ketahanan pangan
perubahan iklim Perubahan iklim
Peneliti 25 Energi terbarukan dari laut dan laut sebagai sumber air baku Ketahanan energi
Peneliti 26 Ketahanan pangan
bioprospecting, ecotourism, advanced marine culture, ecosystem services, Ecotourism
pollution control Kesehatan ekosistem
laut
Peneliti 27 Marine debris Kesehatan ekosistem
Ocean acidification laut
Ocean health Perubahan iklim
HAB
Metabolit dr organisme laut
Peneliti 28 Bioteknologi kelautan, bioactive compound, marine debris Ketahanan pangan
Peneliti 29 bioteknologi kelautan, farmasi dan pangan, bioremediasi, energi, transpor- Ketahanan pangan
tasi laut. Ketahanan energi
Peneliti 30 Ketahanan pangan
Applied marine science, Marine Biogeochemistry, Food safety,
Perubahan iklim
Peneliti 31 1. Antibiotik dari biota laut; 2. Makanan fungsional dari biota laut; 3. Suple- Ketahanan pangan
men makanan dari biota laut; 4. Kosmetik dari biota laut; 5. Budi daya
biota laut komersial
Peneliti 32 Ketahanan energi
riset tentang energi baru, riset bioteknologi kelautan, riset deep sea min-
Ketahanan pangan
ing, climate changes, mariculture
Perubahan iklim
Peneliti 33 Ketahanan energi
Bioactive compound, Biofuel, Bioremediasi, energy dari laut, dan marine Ketahanan pangan
debris Kesehatan ekosistem
laut
Peneliti 34 Infrastruktur laur
glycobiology, marine acoustic, marine law, deep sea ROV, microsensor
Hukum laut
untuk ekologi dan konservasi
Konservasi
Peneliti 35 Kesehatan ekosistem
microplastic, bioremediasi, natural product
laut
Peneliti 36 1. Energi laut Ketahanan energi
2. Pencemaran laut Kesehatan ekosistem
3. Modeling laut
4. Konservasi Perubahan iklim
5. Perubahan iklim
Peneliti 37 Perubahan iklim
Kesehatan ekosistem
biogeokimia, bioremediasi, biomolekuler, nano teknologi, mikroplastik
laut
Ketahanan pangan
Peneliti 38 marine connectivity, deep sea research, roles of marine reserves, genetic Biodiversitas
manipulation, exploration of marine resources for food, medicines, and Ketahanan pangan
alternative energy. Ketahanan energi
Peneliti 39 1. Molecular Biology Biodiversitas
2. Bahan alam laut penghasil obat-obatan Pemodelan Oseanografi
3. Oceanography Modelling
4. Mapping tata ruang laut

94 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Lampiran 10 : PAKAR KELAUTAN NASIONAL
Bidang Kepakaran/Bidang
Nama Pakar Institusi
Riset
Prof. Safwan Hadi Institut Teknologi Bandung oseanografi Fisika
Dr. Ivonne M. Radjawane Institut Teknologi Bandung oseanografi Fisika
Dr. Nining Sari Ningsih Institut Teknologi Bandung oseanografi Fisika
Dr. rer.nat Mutiara Rahmat Institut Teknologi Bandung oseanografi Fisika
Aldrian Damora WWF Indonesia Coastal management
Muhammad Yusuf, M.Si WWF-Indonesia Coastal management
Dr. T. Rameyo Adi Kemenkomar kemaritiman
Dr. Lydia Napitupulu Universitas Indonesia Coastal management
Prof. Melda Kamil Universitas Indonesia hukum
Dr. Alin Halimassadiyah Universitas Indonesia Coastal management
Prof. Dr. Iskhaq Iskandar Universitas Sriwijaya oseanografi Fisika
A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph.D Kementerian Kelautan dan oseanografi Fisika
Perikanan
Dr. Aryo Hanggono Kementerian Kelautan dan Budi daya perikanan dan
Perikanan remote sensing
Dr. Rahmat Mulianda BAPPENAS kemaritiman
Dr. Susilohadi P3GL ocean energy
Prof. Endang Sukara AIPI Biodiversitas
Prof. Jan Sopaheluwakan ICIAR geoscience
Basilius Dias Araujo Kemenkomar kemaritiman
M. Sholeh Nugrahadi Kemenkomar kemaritiman
Prof. Indra Jaya Institut Pertanian Bogor instrumentasi
Dr. Mujizat Kawaroe Institut Pertanian Bogor Biodiversitas
Dr. Alan Koropitan Institut Pertanian Bogor biogeokimia
Dr. Agus Admadipoera Institut Pertanian Bogor perubahan iklim
Prof. Dr. Dietrich Bengen Institut Pertanian Bogor Coastal management
Prof. Nurjanah, MS Institut Pertanian Bogor food science
Dr. Wini Trilaksani Institut Pertanian Bogor food science
Dr. Hawis Madduppa Institut Pertanian Bogor Biodiversitas
Dr. Luky Adrianto Institut Pertanian Bogor Coastal management
Dr. Oni Bibin Bintoro BPPT manajemen
Prof. Edvin Aldrian BPPT oseanografi Fisika
Dr. Aria Rezavidi BPPT ocean energy
Dr. Hananto Nugroho Puslit Geoteknologi LIPI geoscience
Dr. Zainal Arifin Deputi IPK LIPI biodiversitas
Dr. Dirhamsyah Kepala Pusat P2O LIPI Coastal management
Prof. Suharsono P2O LIPI coral reefs
Dr. Intan Suci Nurhati P2O LIPI paleo climate
Dr. A'an Johan Wahyudi P2O LIPI biogeokimia
Dr. Udhi Eko Hernawan P2O LIPI seagrass
Dr. Hagi Yulia Sugeha P2O LIPI genetika
Dr. Dwi Hindarti P2O LIPI toxicology
Dr. Yeti Darmayati P2O LIPI pencemaran
Dr. Bayu Prayudha P2O LIPI oseanografi terapan
Dr. Dewi Surinati P2O LIPI oseanografi Fisika
Dr. Nurul Hikmah P2O LIPI plankton

Referensi Pendukung || 95
Dr. Safar Dody P2O LIPI budi daya biota laut
Dr. Ratih Pangestuti P2O LIPI bioprospeksi
Ana Setyastuti, MSc. P2O LIPI bioprospeksi
Hadiyanto, MSc. P2O LIPI biodiversitas
Dr. Endang Bidayani, Spi, Msi. Universitas Bangka Belitung Budi daya perikanan
Dr. Majariana Krisanti, S.Pi, M.Si Institut Pertanian Bogor Produktivitas sekunder
perairan dan avertebrata
air
Budhi Hascaryo Iskandar Institut Pertanian Bogor Naval Architecture, Ocean
Engineering
M. Dahri Iskandar Institut Pertanian Bogor teknologi kelautan
Dr. Yopi Novita Institut Pertanian Bogor teknologi kelautan
Rahyono, MSc. Universitas Hang Tuah Hidro oseanografi
Sandy Nur Ikfal Rahardjo P2 Politik LIPI Hankam laut

Lampiran 11
Dokumentasi Kegiatan

Keltian Biodiversitas dan Pemanfaatan Sumber daya laut

Keltian Budi Daya dan Bioprospeksi

96 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Keltian Pencemaran dan bioremediasi

Keltian oseanografi dan Perubahan iklim global

Keltian kesehatan ekosistem laut

Referensi Pendukung || 97
FGD pakar kelautan nasional (1)

FGD pakar kelautan nasional (2)

98 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


Panel pakar Biodiversitas dan Kesehatan ekosistem

Panel pakar perubahan iklim

Panel pakar kedaulatan, keamanan dan keselamatan laut

Referensi Pendukung || 99
Panel pakar ketahanan pangan

Panel pakar Ketahanan energi

Panel pakar keseimbangan ekosistem pesisir

100 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035


TIM FORESIGHT PAPPIPTEK LIPI

Referensi Pendukung || 101


Sumber ilustrasi

1. https://www.shutterstock.com/image-photo/cages-fish-farming-347532599
2. Photo by Ulul Ajmi (http://www.panoramio.com/photo/97830555)
3. http://unitedsolarinitiative.org/floating-solar-power-plants-to-become-a-reality/
4. By SUNGROW power supply co : (https://www.designboom.com/technology/sungrow-
floating-solar-plant-huainan-china-05-25-2017/)
5. By Zak Noyle : (https://www.huffingtonpost.com/2013/08/10/trash-waves-
indonesia_n_3736913.html)
6. mit.edu (https://www.marineinsight.com/environment/a-comprehensive-list-of-different-
types-of-sea-waves/)
7. By Rolf S (https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g1071666-d1113463-r116928159-
Living_Colours_Dive_Resort-Bunaken_Island_North_Sulawesi_Sulawesi.html#photos;geo=
1071666&detail=1113463&aggregationId=101)
8. From the movie “Acid Ocean” by 360 Degree films, an activist film company in Australia
9. http://pembahasangeografi.blogspot.co.id/2016/04/sifat-arus-upwelling.html
10. Jason Heller (http://www.divephotoguide.com/underwater-photography-travel/article/
sardine-run-trip/)
11. By arhnue: (https://pixabay.com/en/seahorse-sea-horse-hippocampus-1538013/)
12. Sumber : Global-Ocean-Commission-report-petition-UN-2
13. http://www.alamy.com/stock-photo-plastic-water-bottle-floating-in-pacific-ocean-santa-
monica-california-25196162.html

102 || Foresight Riset Kelautan 2020 – 2035