Anda di halaman 1dari 9

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KORUPSI

Disusun Oleh:

WISNU ADI SETYANTO (37)

NPM: 1401160293

7A – D IV AKUNTANSI ALIH PROGRAM

Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Seminar Anti Korupsi

2017
Abstrak

Wisnu Adi Setyanto, Faktor-Faktor Penyebab Korupsi

Manusia memiliki keinginan yang tidak terbatas, dalam upaya pemenuhan keinginan tersebut
manusia menggunakan berbagai macam cara baik cara yang legal maupun illegal seperti
korupsi. Korupsi merupakan masalah sosiologis kompleks yang disebabkan oleh banyak
faktor. Faktor yang menyebabkan korupsi bisa muncul dari dalam individu tersebut maupun
dari lingkungan dan masyarakat sekitar. Korupsi sendiri masih marak terjadi di Indonesia, salah
satu penyebab hal tersebut adalah penerapan strategi pemberantasan korupsi yang dinilai masih
lemah dan belum tepat.

Kata kunci: korupsi, faktor, kesempatan, gaya hidup, strategi.

1
1. Landasan Teori
Manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan dasar dan berusaha untuk
memenuhinya seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam
menentukan kebutuhan hidupnya, manusia selalu dipengaruhi oleh preferensi dalam
bentuk informasi yang jelas tentang apa yang diinginkan, kebebasan dari
kekuatan/kekuasaan yang ada di sekitarnya, serta kepentingan pihak lain. Sedangkan
dalam upaya pemenuhan kebutuhannya, manusia harus mempertimbangkan tindakan
yang rasional dan yuridis yang harus ditempuh. Namun karena berbagai faktor, baik
dari internal maupun eksternal, terkadang manusia mengambil langkah-langkah yang
tidak baik atau melanggar norma dan hukum yang ada untuk pemenuhan kebutuhan
tersebut. Salah satunya dengan melakukan tindakan korupsi.
Secara etimologi, kata korupsi berasal dari bahasa Latin, yaitu corruptus yang
merupakan kata sifat dari kata kerja corrumpere yang bermakna menghancurkan
(com memiliki arti intensif atau keseungguh-sungguhan, sedangkan rumpere memiliki
arti merusak atau menghancurkan. Dengan gabungan kata tersebut, dapat ditarik sebuah
arti secara harfiah bahwa korupsi adalah suatu tindakan menghancurkan yang dilakukan
secara intensif. Dalam dictionary.reference.com, kata corruption diartikan
sebagai to destroy the integrity of; cause to be dishonest, disloyal, etc., esp. by bribery.
Secara umum para ahli telah mendefinisikan pengertian dari korupsi. Nye, J.S.
(1967) dalam “Corruption and political development” mendefinisikan korupsi sebagai
prilaku yang menyimpang dari aturan etis formal yang menyangkut tindakan seseorang
dalam posisi otoritas publik yang disebabkan oleh motif pertimbangan pribadi, seperti
kekayaan, kekuasaan dan status. Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah
laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan
pribadi, merugikan kepentingan umum.
Menilik dari beberapa pendapat ahli tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa
korupsi adalah suatu tindakan yang menyimpang yang dilakukan seseorang untuk
memenuhi kebutuhan kebutuhan atau keinginan yang seseorang miliki. Berdasarkan
UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 tindakan menyimpang yang dapat
dikategorikan sebagai tindakan korupsi antara lain merugikan keuangan Negara, suap-
menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan
kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.

2
2. Pembahasan
2.1. Faktor Umum Penyebab Korupsi
Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku koruptif pada
masyarakat, namun secara umum ada tiga faktor utama penyebab tindakan korupsi
yaitu kesempatan, budaya kerja dan cara pandang masyarakat.
Tindak pidana korupsi dapat terjadi bila terdapat kesempatan serta kekuasaan
yang dimiliki oleh seseorang yang memungkinkannya melakukan korupsi.
Penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan ini tidak hanya terjadi di tingkat atas
namun bisa muncul juga di tingkat menengah maupun bawah. Apabila seseorang
memiliki suatu kuasa untuk mengatur atau meregulasi suatu hal, maka ada
kecenderungan seseorang itu untuk memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya tersebut
digunakan untuk keuntungan pribadi.
Budaya lokal juga menjadi akar dari tumbuhnya korupsi. Budaya yang dianut
dan diyakini masyarakat kita telah sedikit banyak menimbulkan dan membudayakan
terjadinya korupsi. Budaya kerja yang sangat menonjolkan hubungan atasan-bawahan
dibandingkan hubungan antar rekan sejawat memicu tindakan-tindakan yang
melanggar etika dan cenderung koruptif karena atasan cenderung mementingkan
kepentingan pribadinya dan bawahan akan bekerja “asal bapak senang”.
Di lain pihak, dominasi perilaku masyarakat yang mendewakan materi,
kekayaan, dan perilaku konsumtif cenderung mendorong tindakan korupsi. Cara
pandang masyarakat umum tersebut secara langsung maupun tidak juga berakibat
menciptakan sistem politik yang mendewakan materi (Yamamah: 2009). Dengan
kondisi itu hampir dapat dipastikan seluruh pejabat kemudian “terpaksa” korupsi kalau
sudah menjabat. Cara pandang yang salah terhadap kekayaan tersebut akan
mengakibatkan cara pandang yang salah pula dalam hal mengakses atau memperoleh
kekayaan.
Korupsi merupakan peristiwa sosiologis yang terjadi karena adanya keinginan
dari dalam diri individu dan didukung dengan situasi lingkungan yang kondusif untuk
melakukan korupsi. Dengan demikian, secara umum faktor penyebab korupsi bisa
berasal dari internal dan eksternal seseorang.
Faktor penyebab orang melakukan korupsi dari internal biasanya berkaitan
dengan karakter dan gaya hidup orang tersebut. Pada dasarnya setiap orang memiliki
keinginan yang tidak ada batasnya, hanya moral dan nalar yang rasional saja lah yang

3
dapat membatasi keinginan tersebut menjadi suatu hal yang dibutuhkan atau hanya
keinginan saja.
Koruptor merupakan orang yang bersifat rakus dan tamak serta mengabaikan
nalarnya dengan melakukan korupsi demi memenuhi keinginannya. Selain itu ada
kaitannya pula dengan masalah moral. Seseorang dengan moral yang kuat tentu akan
tahan terhadap dengan godaan untuk melakukan korupsi. Dan hal yang paling sering
menjadi penyebab korupsi adalah gaya hidup. Seseorang dengan gaya hidup yang
konsumtif dan hedonis namun tidak memiliki pendapatan yang memadai tentu akan
mendorong orang tersebut melakukan berbagai cara untuk memenuhinya, salah satunya
dengan korupsi.
Faktor eksternal dari lingkungan sekitar juga bisa mendorong seseorang
melakukan tindakan korupsi. Masyarakat yang cenderung bersikap permisif dan
menganggap wajar suatu tindakan korupsi tentu akan semakin menyuburkan praktek
korupsi. Kemudian pola pandang masyarakat yang begitu mengagungkan status sosial
yang dilihat dari kekayaan yang dimiliki seseorang akan membuat orang-orang
berlomba-lomba mengumpulkan pundi kekayaannya, meski terkadang melalui cara
yang illegal seperti korupsi.
Untuk korupsi yang bersifat institusional dan terstruktur, terdapat beberapa
faktor utama penyebabnya antara lain kurang adanya keteladanan dari pemimpin, tidak
adanya kultur organisasi yang anti korupsi, kurang memadainya akuntabilitas, dan
lemahnya sistem pengawasan.
Secara umum faktor penyebab korupsi dapat terjadi karena faktor politik,
hukum dan ekonomi, sebagaimana dalam buku berjudul Peran Parlemen dalam
Membasmi Korupsi (ICW : 2000) yang mengidentifikasikan empat faktor penyebab
korupsi yaitu faktor politik, faktor hukum, faktor ekonomi dan faktor organisasi.
Korupsi bisa dipicu oleh lingkungan politik yang tidak sehat. Lingkungan
politik yang tidak sehat ini terlihat dari adanya instabilitas politik, kepentingan politis
para pemegang kekuasaan dan menghalalkan segala cara dalam meraih atau
mempertahankan kekuasaan.
Dalam praktek politik yang terjadi para pemangku kepentingan saling bersaing
untuk mendapatkan dan memperluas kekuasaannya baik dengan cara legal maupun
illegal. Contoh korupsi politik misalnya perilaku curang (politik uang) pada pemilihan
anggota legislatif ataupun pejabat-pejabat eksekutif, dana illegal untuk pembia-yaan

4
kampanye, penyelesaian konflik parlemen melalui cara-cara ilegal dan teknik lobi yang
menyimpang (De Asis : 2000).
Selain itu pelembagan politik eksklusif dimana kompetisi politik dibatasi hanya
pada kelompok elit tertentu yang didasarkan kedekatan personal semata dan tidak
mengedepankan isu kebijakan akan memunculkan suatu sistem politik yang cenderung
koruptif (Mochtar Mas’oed: 1994).
Peraturan hukum mengenai korupsi saat ini yang substansinya masih saling
tumpang tindih, kontradiktif, multi tafsir, serta pelaksanaan dan penegakan yang lemah
juga menjadi salah satu penyebab munculnya korupsi.
Penyebab dari lemahnya aturan hukum mengenai korupsi ini bisa dijabarkan
menjadi dua hal. Pertama, peraturan perundang-undangan merupakan produk dari para
politisi yang dalam penyusunannya terdapat proses tawar menawar berkaitan dengan
kepentingan golongan sehingga memunculkan aturan yang bias dan kontradiktif. Kedua
adalah masih maraknya politik uang berupa suap yang digunakan untuk memuluskan
suatu aturan, terutama aturan di bidang ekonomi dan bisnis.
Faktor ekonomi juga merupakan salah satu penyebab terjadinya korupsi. Hal itu
dapat dijelaskan dari pendapatan atau gaji yang tidak mencukupi kebutuhan. Namun
hal tersebut menjadi tidak relevan dan kontradiktif menilik para pelaku korupsi yang
cenderung sudah memiliki pendapatan yang cukup dan berpendidikan tinggi. Penyebab
utama mereka melakukan korupsi adalah adanya keinginan untuk memenuhi gaya
hidup yang konsumtif dan hedonis. Dari hal tersebut disimpulkan bahwa faktor
ekonomi sudah bukan lagi menjadi faktor utama penyebab korupsi.
Organisasi juga memiliki andil dalam munculnya korupsi. Organisasi yang
menjadi korban korupsi atau di mana korupsi terjadi biasanya memberi andil terjadinya
korupsi karena membuka peluang atau kesempatan untuk terjadinya korupsi (Tunggal
2000). Munculnya korupsi di suatu organisasi disebabkan oleh kurang adanya teladan
dari pemimpin, kultur organisasi yang buruk, rendahnya sistem akuntabilitas, dan
kecenderungan manajerial yang menutup-nutupi tindakan korupsi.
2.2. Penyebab Korupsi Secara Teoretis
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan penyebab korupsi. Pertama teori
Cultural Determinisme yang dicetuskan oleh Fiona Robertson Snape. Teori ini
menjelaskan mengenai kultural praktek korupsi dihubungkan dengan kebiasaan-
kebiasaan yang dilakukan masyarakat Jawa kuno. Namun teori ini dianggap kurang

5
sesuai karena pada hakikatnya korupsi merupakan sebuah fenomena sosiologis yang
memiliki implikasi sosial dan ekonomi.
Teori kedua adalah teori means-ends scheme yang diperkenalkan oleh Robert
Merton. Dalam teori yang ditokohi oleh Robert Merton ini sebagaimana dikutip
Handoyo (2009: 55) ini dinyatakan bahwa korupsi merupakan suatu perilaku manusia
yang diakibatkan oleh tekanan sosial, sehingga menyebabkan pelanggaran norma-
norma. Dalam teori ini dijelaskan bahwa suatu sistem sosial pasti memiliki tujuan dan
telah menetapkan cara-cara yang telah disepakati bersama untuk mencapai tujuan
tersebut. Dalam pencapaian tujuan tersebut tentu ada pembatasan yang mengakibatkan
beberapa individu tidak bisa mencapai tujuan dengan cara yang legal. Mereka
melakukan cara-cara illegal untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, salah
satunya dengan korupsi.
Teori lainnya adalah teori solidaritas sosial yang dikembangkan oleh Emily
Durkheim (1858-1917). Menurut pandangan teori ini masyarakat mempunyai pengaruh
yang lebih besar dalam membentuk perilaku individu daripada lingkungannya. Dalam
konteks korupsi, itu berarti dalam masyarakat yang sistem budaya dan lembaganya
korup akan membentuk individu yang korup seberapa besarpun kesalehan individu.
Teori yang paling relevan dan dirasa tepat untuk menjelaskan penyebab korupsi
dihadirkan oleh Jack Bologne (Bologne: 2016), yang dikenal secara luas dengan istilah
teori GONE. Dalam teori ini digambarkan bahwa penyebab korupsi adalah Greed
(keserakahan), Opportunity (Kesempatan), Need (Kebutuhan), dan Exposure
(Pengungkapan).
Di ilustrasikan bahwa para koruptor sejatinya adalah orang yang rakus dan
serakah, yang mempunyai kesempatan untuk melakukan korupsi karena sistem yang
ada mendukung perilaku korup, yang seakan memiliki kebutuhan tiada habisnya karena
tuntutan gaya hidup dan pengungkapan berupa hukuman yang diberikan kepada pelaku
korupsi tidak dapat menimbulkan efek jera.
2.3. Kelemahan Strategi Pemberantasan Korupsi
Meskipun Indonesia sudah memiliki Undang-undang Anti Korupsi sejak 1999
dan memiliki KPK sejak 2002, korupsi masih marak terjadi. Penyebab hal tersebut
disebabkan belum maksimalnya strategi pemberantasan korupsi yang sudah ada, antara
lain:
 Subyek pelaku korupsi yang masih terbatas pada penyelenggara negara dan
tindakan yang merugikan negara
6
 Aturan hukum yang masih tumpang tindih dan ada langkah sistemik untuk semakin
melemahkan
 Pemberantasan korupsi masih berfokus pada penindakan
 Hukuman yang diberikan kepada koruptor belum memberikan efek jera
 Belum ada upaya atau program yang benar-benar berdampak pada pencegahan
korupsi
 Kurangnya partisipasi masyarakat dan instansi lain dalam kegiatan pemberantasan
dan pencegahan korupsi

3. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas kesimpulan yang bisa diambil:
 Korupsi merupakan suatu tindakan yang dilakukan seseorang demi memenuhi
keinginan yang dimiliki baik yang berasal dari diri sendiri maupun karena
tuntutan pihak luar dengan cara yang menyimpang atau illegal.
 Secara umum ada tiga penyebab munculnya korupsi di masyarakat yaitu
kesempatan, budaya kerja dan cara pandang yang salah mengenai kekayaan.
 Ditinjau dari sumber penyebabnya, korupsi disebabkan oleh dua faktor yaitu
internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan karakter, moral dan
gaya hidup seseorang. Sedangkan faktor eksternal berupa sikap permisif
masyarakat dan status sosial.
 ICW menyebutkan bahwa faktor penyebab korupsi terdiri dari faktor politik,
hukum, ekonomi dan organisasi.
 Banyak terdapat teori yang menjelaskan penyebab korupsi, salah satunya dan
yang dirasa paling tepat adalah teori GONE oleh Jack Bologne.
 Masih marak terjadi korupsi di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh
beberapa kelemahan strategi pemberantasan korupsi seperti: Aturan hukum
yang lemah, hukuman yang belum menghasilkan efek jera, masih berfokus pada
penindakan, belum ada upaya pencegahan yang benar-benar berhasil.

7
Daftar Resensi

Handoyo, Eko (2009) Pendidikan Anti Korupsi, Semarang: Widyakarya Press


ICW (2000) Peran Parlemen dalam Membasmi Korupsi Jakarta: ICW
Jack Bologna, Tommie Singleton. (2006), Fraud Auditing And Forensic Accounting New
Jersey : John Wiliey & Sons Ink
T. Puspito, Nanang, dkk. (2011). Pendidikan Anti Korupsi Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi