Anda di halaman 1dari 4

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI PENGAMATAN JAMUR TEMPE

1. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mengamati dan menganalisis morfologi jamur
tempe (Rhizopus oryzae).

2. Pendahuluan

Tempe adalah produk fermentasi yang amat dikenal oleh masyarakat Indonesia dan
mulai digemari pula oleh berbagai kelompok masyarakat Barat. Tempe dapat dibuat
dari berbagai bahan. Tetapi yang biasa dikenal sebagai tempe oleh masyarakat pada
umumnya ialah tempe yang dibuat dari kedelai (Kasmidjo, 1990). Tempe mempunyai
ciri-ciri putih, tekstur kompak. Pada dasarnya cara pembuatan tempe meliputi tahapan
sortasi dan pembersihan biji, hidrasi atau fermentasi asam, penghilangan kulit,
perebusan, penirisan, pendinginan, inokulasi dengan ragi tempe, pengemasan, inkubasi
dan pengundukan hasil (Rahayu, 1988). Tahapan proses yang melibatkan jamur dalam
pembuatan tempe adalah saat inokulasi atau fermentasi. Jamur tempe merupakan
sdalah satu anggota famili Mucoraceae yang memiliki karakteristik utama yaitu
miselliumnya tidak besekat.
Kualitas tempe amat dipengaruhi oleh kualitas starter yang digunakan untuk
inokulasinya. Inokulum tempe disebut juga sebagai starter tempe, dan banyak pula yang
menyebutkan dengan nama ragi tempe. Starter tempe adalah bahan yang mengandung
biakan jamur tempe, digunakan sebagai agensia pengubah kedelai rebus menjadi tempe
akibat tumbuhnya jamur tempe pada kedelai dan melakukan kegiatan fermentasi yang
menyebabkan kedelai berubah sifat/karakteristiknya menjadi tempe (Kasmidjo, 1990).
Fermentasi pada tempe dapat menghilangkan bau langu dari kedelai yang disebabkan
oleh aktivitas dari enzim lipoksigenase. Jamur yang berperanan dalam proses
fermentasi tersebut adalah R. oligosporus. R. oligosporus Saito mempunyai koloni abu-
abu kecoklatan dengan tinggi 1 mm atau lebih. Sporangiofor tunggal atau dalam
kelompok dengan dinding halus atau agak sedikit kasar, dengan panjang lebih dari 1000
m dan diameter 10-18 m. Sporangia globosa yang pada saat masak berwarna hitam
kecoklatan, dengan diameter 100-180 m. (Pitt,1985).
3. Langkah kerja
A. Waktu dan tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut :
Hari/Tanggal : Minggu, 03 Desember 2017
Waktu : 10.30 WIB – Selesai
Tempat :Laboratorium IPA Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Hasyim Asy’ari
B. Alat dan bahan
a. Alat
 Mikroskop
 Kaca preparat
 Kaca penutup
 Pipet tetes
 Pinset
b. Bahan
 Jamur tempe
 Air bersih
C. Prosedur kerja
1) Sediakan jamur tempe
2) Ambil jamur tempe lalu tempelkan di atas kaca preparat
3) Beri sedikit aquades lalu tutup dengan menggunakan kaca penutup
4) Lakukkan pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya
5) Dokumentasikan hasil pengamatan mikroskop tersebut
6) Lakukan identifikasi jamur pada tempe tersebut

4. Hasil
Nama : jamur tempe (Rhizopus oryzae).
Struktur : hifa tidak bersekat
Perbesaran : 10 x 40
5. Pembahasan
Praktikum kali ini mengenai analisis morfologi jamur tempe. Jamur tempe
adalah salah satu mikroorganisme semi anaerob dan organism saprofit. Hal ini dapat
dilihat akan kebutuhan jamur tempe akan udaradan summber makanannya. Jamur
tempe merupakan organism yang membutuhkan sedikit sekali udara dan sumber
makanan yang berasal dari jasad mati, oleh karena itu jamur tempe dapat diissolasi pada
media PDA (Potato Dextros Agar).
Jamur tempe ( Rhizopus oryzae) termasuk ke dalam genus Rhizopus dan Famili
Mucoraceae. Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop dapat
dilihat bahwa misellium dari jamur tempe ini tidak bersekat. Misellium yang tidak
bersekat merupakan cirri utama dari family Mucoraceae. Jamur tempe ini terdiri dari
beberapa bagian utama yaitu misellium atau yang sering disebut stolon jamur,
sporongiophore,sporangium dan spora yang menjadi organ perkembangbiakannya.
Sementara itu hasil pengamatan morfologi fungi pada tempe (Rhizopus Oryzae)
diperoleh bakteri yang berbentuk bacillus. Kapang/Jamur merupakan mikroba dengan
struktur talus berupa benang-benang (hifa) yang terjalin seperti jala (myselium). Hifa
dapat berekat (septat) dengan inti tunggal/ lebih dan hifa tidak bersekat (aseptat).
Penampakan morfologi koloni pada umumnya seperti benang (filamentous) yang
pertumbuhannya membentuk lingkaran. Morfologi koloninya dapat dengan mudah
dibedakan dengan bakteri walaupun ada beberapa jenis bakteri yang koloninya mirip
jamur, seperti dari kelompok Actinomycetes atau Bacillus mycoides. Koloni kapang
memiliki keragaman warna yang muncul dari sporanya.
Dalam mengamati kapang dikarenakan ukurannya yang lebih besar, maka
perbesaran sedang pada lensa obyektif (40x) digunakan. Pada substrat tempe akan
dijumpai Rhizopus oligophorus yang terdiri dari benang-benang hifa yang tidak
bersekat dan membentuk miselium. Hifa tertentu akan mengalami pertumbuhan
membentuk sporangium yang berwarna kehitaman. Hifa penyangga sporangium
merupakan sporangiofor. Kumpulan dari sporangiofor pada pangkalnya didukung oleh
rhizoid yang berfungsi untuk menyerap makanan dan air dari substrat. Hifa yang
terdapat antar dua kumpulan sporangiofor disebut stolon. Sedangkan pada substrat
oncom ditemukan Nemospora sitophyla, yang bereproduksi dengan aseksual yaitu
membentuk konidia, yang dibentuk pada ujung hifa khusus yang ditopang oleh hifa
yang disebut konidiofor, yang seksual dengan membentuk askus.

6. Simpulan
Jamur tempe ( Rhizopus oryzae) merupaakan mikro organism semi anaerob dan
organisme saprofit. Jamur tempe memiliki cirri utama yaitu misellium nya tidak
bersekat yang juga merupakan ciri utama dari family Mucoraceae. Jamur tempe terdiri
dari misellium, sporangiophore, sporangium, dan spora yang menjadi alat
perkembangbiakannya.

7. Daftar pustaka
https://www.scribd.com/doc/205994753/Praktikum-Jamur-Tempe diakses pada
tanggal 12 Desember 2017
https://www.scribd.com/document/339048523/Laporan-Praktikum-Tempe diakses
pada tanggal 12 Desember 2017