Anda di halaman 1dari 44

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA SDR.

I DENGAN GANGGUAN

PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENGLIHATAN DI RUANG

SAMBA RSJD DR. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA

Oleh:

Kelompok 5

1. Warsikah (017901038)
2. Widya Saraswati Nurida (017901039)
3. Wulan Puji Astutik (017901040)
4. Trisna Kusuma D. (015901049)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES INSAN CENDEKIA HUSADA

BOJONEGORO

2017

LEMBAR PENGESAHAN
“LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA

SDR. I DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI:

HALUSINASI PENGLIHATAN DI RUANG SAMBA

RSJD DR. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA”

Telah disahkan pada:

Hari :

Tanggal :

Tempat: Ruang Samba

Mengetahui,
Perceptor Akademik, Perceptor Klinik

(Moh. Roni Al-Faqih, S.Kep., Ns) (Joko SP., S.Kep., Ns)

Kepala Ruang Samba,

(Joko SP., S.Kep., Ns)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT pencipta manusia dan alam semesta.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkkan kepada Rasul Muhammad SAW.
Dari keteladanannya kita mendapatkan nilai-nilai acuan bagaimana berinteraksi
dengan secara manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

ii
Penulisan asuhan keperawatan ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian
persyaratan guna memeneuhi tugas stase Keperawatan Jiwa program studi Ners
dan penelitiannya bertujuan untuk mengetahui, menganalisa suatu asuhan
keperawatan jiwa yang diangkat dalam penyusunan asuhan keperawatan jiwa ini
dan mengambil manfaat dari hasil kesimpulannya.

Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada:


1. Hasan Bisri, SE., MSA selaku Ketua STIKes Icsada.
2. Ns. Ferawati, S.Kep., M.Kep selaku Ketua Program Studi S1 Ilmu
Keperawatan.
3. Ns. Ikha Ardianti, S.Kep., M.Kep selaku Koordinator Ners.
4. Joko SP., S.Kep., Ns selaku preceptor klinik yang banyak memberikan
petunjuk yang berguna dalam penyelesaian asuhan keperawatan jiwa ini.
5. Ns. Moh. Roni Al-Faqih, S.Kep selaku preceptor akademik yang banyak
memberikan petunjuk yang berguna dalam penyelesaian asuhan
keperawatan jiwa ini.
6. Para Rekan-rekan, dan semua pihak yang telah memberikan berbagai
bentuk bantuan dalam proses penyusunan asuhan keperawatan jiwa ini.
7. Ucapan terima kasih untuk lahan.
8. Orang tua dan saudara-saudara kami tercinta yang telah memberikan
dorongan semangat dan bantuan lainnya yang sangat berarti bagi penulis.
9. Juga pihak lain yang terkait dalam penulisan asuhan keperawatan jiwa ini.

Akhirnya, sebagai hamba yang lemah, penulis menyadari bahwa asuhan


keperawatan jiwa ini tidak luput dari berbagai kelemahan dan kekurangan. Untuk
itu, penulis harapkan saran dan kritik dari pembaca. Dan semoga asuhan
keperawatan jiwa ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis
sendiri.

Surakarta, 2 Desember 2017

Tim penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………. i

LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………….. ii

iii
KATA PENGANTAR ………...………………………………………… iii

DAFTAR ISI …………………..………………………………………… iv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………. 2

1.3 Tujuan ………………………………………………………… 3

1.4 Manfaat ………………………………………………………. 3

BAB 2 LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

2.1 Masalah Utama ………………………………………………. 4

2.2 Kajian Teori …………………………………………………. 4

2.3 Pohon Masalah …….………………………………………… 9

2.4 Masalah Keperawatan dan Data yang Harus Dikaji ………… 10

2.5 Diagnosa Keperawatan ………………………………………. 11

2.6 Rencana Keperawatan …….…………………………………. 11

2.7 Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Halusinasi …… 14

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

3.1 Pengkajian …………………………………………………… 22

3.2 Analisa Data ………………………………………………… 32

3.3 Daftar Masalah/Diagnosa Keperawatan …………………..… 33

3.4 Pohon Masalah ……………...……………………………….. 33

3.5 Prioritas Diagnosa Keperawatan …..………………………… 33

3.6 Intervensi Keperawatan ………………………………………. 34

3.7 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ……………………. 35

BAB 4 PEMBAHASAN ……………………………………………..….. 39

iv
BAB 5 PENUTUP ……………………………………………………….. 42

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 43

LAMPIRAN

v
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Halusinasi yaitu individu yang menginterpretasikan sesuatu yang tidak

ada stimulus dari lingkungan. Halusinasi merupakan gangguan persepsi

dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada (Depkes RI,

2000).

Gangguan jiwa menjadi masalah serius di seluruh dunia. Menurut data

WHO tahun 2001, di dunia terdapat paling tidak satu dari empat orang di

dunia atau sekitar 450 juta orang terganggu kesehatan jiwanya (Walujani,

2007). Prevalensi skizofrenia secara umum di dunia antara 0,2%–2% populasi

(Walujani, 2007). Skizofrenia ditemukan 7 per 1.000 orang dewasa dan

terbanyak usia 15-35 tahun (Hidayat, 2005). Halusinasi merupa-kan salah satu

gejala yang sering ditemukan pada pasien dengan gangguan jiwa, dimana

halusinasi sering diidentikkan dengan skizo-frenia. Dari seluruh skizofrenia,

70% diantaranya mengalami halusinasi (Purba, Eka, Mahnum, Hardiyah,

2009). menurut Stuart dan Sundeen (1995), 70% pasien mengalami jenis

halusinasi audiotorik, 20% halusinasi visual, 10% halusinai pengecapan, taktil

dan penciuman. Pasien merasakan halusinasi sebagai sesuatu yang amat nyata,

paling tidak untuk suatu saat tertentu (Kaplan, 1998).

Data Medical Record Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Surakarta

menunjukkan bahwa jumlah pasien skizofrenia cukup tinggi pada tiga tahun

terakhir. Jumlah pasien skizofrenia yang dirawat inap, pada tahun 2012

sebanyak 2.230 orang, tahun 2013 meningkat menjadi 2.569 orang, dan tahun

1
2014 sebanyak 2.364 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah pasien

halusinasi cukup tinggi. Data bulan Januari Sampai April tahun 2015 dari

semua ruangan rawat inap menunjukkan bahwa pasien halusinasi sekitar 43 -

77% dari jumlah pasien skizofrenia.

Intervensi yang diberikan pada pasien halusinasi bertujuan menolong

mereka meningkatkan kesadaran tentang gejala yang mereka alami dan

mereka bisa membedakan halusinasi dengan dunia nyata dan mampu

mengendalikan atau mengontrol halusinasi yang dialami. Thought stopping

(penghentian pikiran) merupakan salah satu contoh dari teknik psikoterapi

kognitif behavior yang dapat digunakan untuk membantu klien mengubah

proses berpikir.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis ingin menyusun asuhan

keperawatan jiwa dengan judul “Asuhan Keperawatan Jiwa pada Sdr. I dengan

Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Penglihatan di Ruang Samba RSJD

Dr. Arif Zainudin Surakarta.”

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan jiwa pada Sdr. I dengan Gangguan Persepsi

Sensori: Halusinasi Penglihatan di Ruang Samba RSJD Dr. Arif Zainudin

Surakarta?

2
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum, tujuan dari asuhan keperawatan jiwa ini yaitu

memberikan pengetahuan mengenai gangguan persepsi: halusinasi

penglihatan dan juga intervensi yang dapat diberikan kepada klien

halusinasi penglihatan.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui masalah utama dari halusinasi.

b. Untuk mengetahui kajian teori dari halusinasi.

c. Untuk mengetahui pohon masalah dari halusinasi.

d. Untuk mengetahui masalah keperawatan dan data yang harus dikaji.

e. Untuk mengetahui diagnose keperawatan.

f. Untuk mengetahui rencana keperawatan.

g. Untuk mengetahui strategi pelaksanaan tindakan keperawatan.

h. Untuk mengetahui asuhan keperawatan jiwa pada klien halusinasi.

1.4 Manfaat

Penyusunan asuhan keperawatan jiwa ini diharapkan dapat menambah

pengetahuan mengenai pemberian asuhan keperawatan jiwa pada klien

gangguan persepsi sensori: halusinasi penglihatan serta dapat dijadikan

sebagai bahan acuan untuk proses pembelajaran selanjutnya.

3
BAB 2

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

2.1 Masalah Utama


Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi

2.2 Kajian Teori


2.2.1 Pengertian
Halusinasi yaitu individu yang menginterpretasikan sesuatu

yang tidak ada stimulus dari lingkungan. Halusinasi merupakan

gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang

sebenarnya tidak ada (Depkes RI, 2000).


Menurut Otong (1995) mendefiniskan halusinasi sebagai

kesalahan sensori persepsi dari satu atau lebih indra pendengaran,

penglihatan, taktil, atau penciuman yang tidak ada stimulus eksternal

(Fitria, 2009).
Sedangkan menurut Cook dan Fontaine (1987) perubahan

persepsi sensori: halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa

dimana klien mengalami perubahan persepsi sensori, seperti

merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan,

perabaan, atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya

tidak ada (Fitria, 2009).

2.2.2 Jenis-Jenis Halusinasi


1. Halusinasi pendengaran/auditorik: Mendengar suara orang,

sederhana, kompleks, membicarakan dirinya, memerintah sesuatu.


2. Halusinasi penglihatan/visual: Pancaran cahaya, gambaran

geometric, karton, panaroma luas atau kompleks, menyenangkan

atau menakutkan.

4
3. Halusinasi penghidu/olfaktori: Bau busuk, amis, harum,

menjijikkan.
4. Halusinasi pengecapan/gusfaktori: Merasa sesuatu yang busuk,

amis, menjijikkan.
5. Halusinasi perabaan/tactile: Merasa/mengalami rasa sakit, tak enak,

ada sensasi dari tanah, benda, orang lain.


6. Halusinasi sinestetik: Merasakan gerakan-gerakan organ yang ada

ditubuhnya merasakan aliran darah.


7. Halusinasi visceral: Perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya.
8. Halusinasi hipnagnik: Halusinasi ini adakalanya pada orang yang

normal, tetapi sebelum tidur persepsi sensori bekerja salah.


9. Halusinasi hipnopompik: Hampir sama dengan halusinasi

hipnagnik tetapi terjadi tepat sebelum terbangun sama sekali dari

tidurnya.
10.Halusinasi histerik: Timbul pada nerosa histerik karena konflik

emosional.

2.2.3 Tanda dan Gejala


Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan

halusinasi adalah sebagai berikut:


1. Bicara sendiri, senyum sendiri, ketawa sendiri.
2. Menggerakkan bibir tanpa suara.
3. Penggerakkan mata yang cepat.
4. Respon verbal yang lambat.
5. Menarik diri dari orang lain.
6. Berusaha untuk menghindari orang lain.
7. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
8. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan

darah.
9. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa

detik.
10. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
11. Sulit berhubungan dengan orang lain.
12. Ekspresi muka tegang.
13. Mudha tersinggung, jengkel dan marah.
14. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.

5
15. Tampak tremor dan berkeringat.
16. Perilaku panik, agitasi dan kataton.
17. Curiga, ketakutan dan bermusuhan.
18. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.
19. Tidak dapat mengurus diri.
20. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
2.2.4 Faktor Presipitasi
1. Biologis: Proses pengolahan informasi berlebihan, mekanisme

penghantaran listrik abnormal.


2. Stres lingkungan: Ambang toleransi menurun pada stres

lingkungan.
3. Gejala pemicu mal-adaptif: aspek kesehatan, lingkungan, sikap,

dan perilaku individu.

2.2.5 Faktor Predisposisi


1. Genetik: Diturunkan dari keluarga.
2. Neurobiologik: Terjadi gangguan pada area prefrontal dan limbic

dari otak.
3. Neurotransmitten: Abnormalitas pada dopamine, serotonin, dan

glutamat.
4. Virus: Adanya paparan virus pada otak.
5. Psikologis: Ibu pencemas, over proteksi, ayah yang tidak peduli.

2.2.6 Rentang Respon Neurobiologis


Respon Adaptif Respon mal-adaptif

Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguan isi


Persepsi akurat Ilusi pikir/waham.
Emosi konsisten Menarik Diri Halusinasi
Perilaku sesuai Emosi tidak stabil Sulit berespon emosi
Hubungan sosial Perilaku tidak biasa Perilaku disorganisasi
harmonis. Isolasi Sosial

2.2.7 Fase-fase Halusinasi


1. Fase I: comforting, ansietas sedang, menyenangkan.
a. Perasaan mendalam (ansietas, kesepian, rasa bersalah, takut,

berfokus pada fikiran senang).


b. Mengenali pikiran dan perasaan serta pengalaman sensori

dalam kendali kesadaran (non psikotik).

6
c. Tanda-tanda: tersenyum, tertawa, menggerakkan bibir tanpa

bersuara, gerak mata cepat, respon verbal lambat, diam dan

asyik sendiri.
2. Fase II: condemning, ansietas berat, menjijikkan.
a. Pengalaman sensorik menjijikkan, menakutkan, mulai lepas

kendali, mengambil jarak dengan sumber yang dipersepsikan,

merasa dipermalukan, menarik diri (psikotik ringan).


b. Tanda-tanda: meningkatnya tanda system otonom akibat

ansietas (nadi, nafas, tensi) rentang perhatian menyempit, asyik

pada pengalaman sensorik, hilang kemampuan, membedakan

realitas.
3. Fase III: controlling, ansietas berat, pengalaman sensori berkuasa.
a. Berhenti melawan/menyerah pada halusinasi. Kesepian bila

halusinasi berhenti. Isi halusinasi menarik (psikotik).


b. Tanda-tanda: kemampuan dikendalikan/mengikuti halusinasi,

kesukaran berhubungan dengan orang lain, rentang perhatian

beberapa detik/menit tanda fisik ansietas berat (berkeringat,

tremor, tak mampu mematuhi perintah).


4. Fase IV: tonguering, pahit, melebur dalam halusinasinya dan

mengancam.
a. Berhenti melawan/menyerah pada halusinasi, ada perintah

halusinasi mengancam, halusinasinya terjadi beberapa hari/jam

bilamana taka da intervensi (psikotik berat).


b. Tanda-tanda: perilaku terror, kemauan dikendalikan/mengikuti

halusinasi, potensi kuat suicide/homicide, kesukaran berrespon

lebih dari 1 orang/perintah kompleks, aktifitas fisik refleksikasi,

isi halusinasi (perilaku kekerasan, manarik diri, agitasi,

kataton).

2.2.8 Mekanisme Koping

7
1. Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
2. Proyeksi: menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha

untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.


3. Menarik diri: Sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan

stimulus internal (Stuart, 2007).

2.3 Pohon Masalah


Resiko menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori: Halusinasi

Isolasi Sosial
2.4 Masalah Keperawatan dan Data yang Harus Dikaji
1. Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan
Data Subyektif:
a. Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
b. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika

sedang kesal atau marah.


c. Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Obyektif:
a. Mata merah, wajah agak merah.
b. Nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai: berteriak, menjerit,

memukul diri sendiri/orang lain.


c. Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
d. Merusak dan melempar barang-barang.
2. Perubahan sensori perseptual: halusinasi
Data Subyektif:
a. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan

stimulus nyata.
b. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata.
c. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.
d. Klien merasa makan sesuatu.
e. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.
f. Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar.
g. Klien ingin memukul /melempar barang-barang.

Data Obyektif:
a. Klien berbicara dan tertawa sendiri.
b. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.
c. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu.
d. Disorientasi.
3. Isolasi sosial: menarik diri
Data Subyektif:

8
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,

bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap

diri sendiri.
Data Obyektif:
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih

alternative tindakan, ingin menciderai diri/ingin mengakhiri hidup,

apatis, ekspresi sedih, komunikasi verbal kurang, aktivitas menurun,

posisi janin pada saat tidur, menolak berhubungan, kurang

memperhatikan kebersihan.

2.5 Diagnosa Keperawatan


1. Perubahan sensori persepsi: halusinasi.
2. Isolasi sosial: menarik diri.

2.6 Rencana Keperawatan


1. Diagnosa I: Perubahan persepsi sensori: Halusinasi.
Tujuan Umum: Klien tidak menciderai diri sendiri, orang lain dan

lingkungan.
Tujuan Khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk

kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.


Tindakan:
1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
2) Perkenalkan diri dengan sopan.
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai.
4) Jelaskan tujuan pertemuan.
5) Jujur dan menepati janji.
6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7) Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar

klien.
b. Klien dapat mengenal halusinasi.
Tindakan:
1) Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap.
2) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara

dan tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ke

depan seolah-olah ada teman bicara.


c. Klien dapat mengontrol halusinasinya.

9
Tindakan:
1) Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika

terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri, dll).


2) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat

beri pujian.
3) Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya

halusinasi:
 Katakan “saya tidak mau dengar”.
 Menemui orang lain.
 Membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
 Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien

tampak bicara sendiri.


4) Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasinya

secara bertahap.
5) Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih.
6) Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil.
7) Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi realita, stimulasi

persepsi.
d. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol

halusinasinya.
Tindakan:
1) Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami

halusinasi.
2) Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat

kunjungan rumah):
 Gejala halusinasi yang dialami klien.
 Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus

halusinasi.
 Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah,

diberi kegiatan, jangan biarkan sendri, makan bersama,

bepergian bersama.
 Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat

bantuan: halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai

diri atau orang lain.


10
e. Klien memanfaatkan obat dengan baik.
Tindakan:
1) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi

dan manfaat minum obat.


2) Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan

merasakan manfaatnya.
3) Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek

samping minum obat yang dirasakan.


4) Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi.
5) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 6 benar.

2.7 Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Halusinasi


Klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi
2.7.1 Proses Keperawatan
1. Kondisi klien
a. Petugas mengatakan bahwa klien sering menyendiri di kamar.
b. Klien sering ketawa dan tersenyum sendiri.
c. Klien mengatakan sering mendengar suara-suara yang
membisiki dan isinya tidak jelas serta melihat setan-setan.
2. Diagnosa keperawatan: Gangguan persepsi sensori: halusinasi
dengar.
3. Tujuan Khusus
TUK 1 :
a. Klien tampak mengenal halusinasi.
b. Klien dapat menghardik halusinasi.
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengidentifikasi jenis halusinasi
b. Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
c. Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien.
d. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien.
e. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi.
f. Mengidentifikasirespon pasien terhadap halusinasi
g. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi.
h. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi
dalam jadwal kegiatan harian.

2.7.2 Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan

cara-cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol

halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi.

11
ORIENTASI: ”Selamat pagi bapak, Saya Mahasiswa keperawatan

STIKES ICSADA BOJONEGORO yang akan merawat bapak Nama

Saya nurhakim yudhi wibowo, senang dipanggil yudi. Nama bapak

siapa?Bapak Senang dipanggil apa”


”Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apa keluhan bapak saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang

selama ini bapak dengar tetapi tak tampak wujudnya? Di mana kita

duduk? Di ruang tamu? Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit”


KERJA: “Apakah bapak mendengar suara tanpa ada ujudnya?Apa

yang dikatakan suara itu?”


“Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang

paling sering D dengar suara? Berapa kali sehari bapak alami? Pada

keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu sendiri?”


“Apa yang bapak rasakan pada saat mendengar suara itu?”
“Apa yang bapak lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan

cara itu suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara

untuk mencegah suara-suara itu muncul?” bapak , ada empat cara

untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan menghardik

suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat

minum obat dengan teratur.”


“Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan

menghardik”.
“Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung bapak

bilang, pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu

suara palsu. Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi.

Coba bapak peragakan! Nah begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus

bapak D sudah bisa”

12
TERMINASI: “Bagaimana perasaan D setelah peragaan latihan

tadi?” Kalau suara-suara itu muncul lagi, silakan coba cara tersebut !

bagaimana kalu kita buat jadwal latihannya. Mau jam berapa saja

latihannya? (Saudara masukkan kegiatan latihan menghardik

halusinasi dalam jadwal kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita

bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengendalikan suara-suara

dengan cara yang kedua? Jam berapa ?Bagaimana kalau dua jam lagi?

Berapa lama kita akan berlatih? Dimana tempatnya”


“Baiklah, sampai jumpa.”

SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara

kedua:bercakap-cakap dengan orang lain.


ORIENTASI : “Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari

ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai

cara yang telah kita latih?Berkurangkan suara-suaranya Bagus !

Sesuai janji kita tadi saya akan latih cara kedua untuk mengontrol

halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Kita akan

latihan selama 20 menit. Mau di mana? Di sini saja?”


KERJA : “Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang

lain adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau

bapak mulai mendengar suara-suara, langsung saja cari teman untuk

diajak ngobrol. Minta teman untuk ngobrol dengan bapak Contohnya

begini; … tolong, saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan

saya! Atau kalau ada orang dirumah misalnya istri,anak bapak

katakan: bu, ayo ngobrol dengan bapak sedang dengar suara-suara.

Begitu bapak Coba bapak lakukan seperti saya tadi lakukan. Ya,

begitu. Bagus! Coba sekali lagi! Bagus! Nah, latih terus ya bapak!”

13
TERMINASI : “Bagaimana perasaan bapak setelah latihan ini? Jadi

sudah ada berapa cara yang bapak pelajari untuk mencegah suara-

suara itu? Bagus, cobalah kedua cara ini kalau bapak mengalami

halusinasi lagi. Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal

kegiatan harian bapak. Mau jam berapa latihan bercakap-cakap? Nah

nanti lakukan secara teratur serta sewaktu-waktu suara itu muncul!

Besok pagi saya akan ke mari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara

yang ketiga yaitu melakukan aktivitas terjadwal? Mau jam berapa?

Bagaimana kalau jam 10.00? Mau di mana/Di sini lagi? Sampai besok

ya. Selamat pagi”.

SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara

ketiga:melaksanakan aktivitas terjadwal.


ORIENTASI : “Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari

ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai

dua cara yang telah kita latih ? Bagaimana hasilnya ? Bagus ! Sesuai

janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk mencegah

halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau di mana kita

bicara? Baik kita duduk di ruang tamu. Berapa lama kita bicara?

Bagaimana kalau 30 menit? Baiklah.”


KERJA : “Apa saja yang biasa bapak lakukan? Pagi-pagi apa

kegiatannya, terus jam berikutnya (terus ajak sampai didapatkan

kegiatannya sampai malam). Wah banyak sekali kegiatannya. Mari

kita latih dua kegiatan hari ini (latih kegiatan tersebut). Bagus sekali

bapak bisa lakukan. Kegiatan ini dapat bapak lakukan untuk

14
mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain akan kita latih

lagi agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.


TERMINASI : “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-

cakap cara yang ketiga untuk mencegah suara-suara? Bagus sekali!

Coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk mencegah suara-

suara. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian

bapak Coba lakukan sesuai jadwal ya!(Saudara dapat melatih aktivitas

yang lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas

dari pagi sampai malam) Bagaimana kalau menjelang makan siang

nanti, kita membahas cara minum obat yang baik serta guna obat. Mau

jam berapa? Bagaimana kalau jam 12.00 pagi?Di ruang makan ya!

Sampai jumpa.”

SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur.


ORIENTASI: “Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari

ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai

tiga cara yang telah kita latih ? Apakah jadwal kegiatannya sudah

dilaksanakan ? Apakah pagi ini sudah minum obat? Baik. Hari ini kita

akan mendiskusikan tentang obat-obatan yang bapak minum. Kita

akan diskusi selama 20 menit sambil menunggu makan siang. Di sini

saja ya bapak?”
KERJA: “Bapak adakah bedanya setelah minum obat secara teratur.

Apakah suara-suara berkurang/hilang ? Minum obat sangat penting

supaya suara-suara yang bapak dengar dan mengganggu selama ini

tidak muncul lagi. Berapa macam obat yang bapak minum ? (Perawat

menyiapkan obatpasien) Ini yang warna orange (CPZ) 3 kali sehari

jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam gunanya untuk

15
menghilangkan suara-suara. Ini yang putih (THP)3 kali sehari jam nya

sama gunanya untuk rileks dan tidak kaku. Sedangkan yang merah

jambu (HP) 3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk pikiran biar

tenang. Kalau suara-suara sudah hilang obatnya tidak boleh

diberhentikan. Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus

obat, bapak akan kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan

semula. Kalau obat habis bapak bisa minta ke dokter untuk

mendapatkan obat lagi. bapak juga harus teliti saat menggunakan

obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya bapak harus

memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya bapak Jangan

keliru dengan obat milik orang lain. Baca nama kemasannya. Pastikan

obat diminum pada waktunya, dengan cara yang benar. Yaitu diminum

sesudah makan dan tepat jamnya bapak juga harus perhatikan berapa

jumlah obat sekali minum, dan harus cukup minum 10 gelas per hari”
TERMINASI : “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-

cakap tentang obat? Sudah berapa cara yang kita latih untuk mencegah

suara-suara? Coba sebutkan! Bagus! (jika jawaban benar). Mari kita

masukkan jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan bapak Jangan

lupa pada waktunya minta obat pada perawat atau pada keluarga

kalau di rumah. Nah makanan sudah datang. Besok kita ketemu lagi

untuk melihat manfaat 4 cara mencegah suara yang telah kita

bicarakan. Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 10.00. sampai

jumpa.”

16
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA SDR. I DENGAN GANGGUAN

PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI DI RUANG SAMBA RSJD DR. ARIF

ZAINUDIN SURAKARTA
3.1 Pengkajian
Tanggal MRS : 18-10-2017
Tanggal Dirawat di Ruang : 18-10-2017
Tanggal Pengkajian : 20-11-2017
Ruang Rawat : Ruang Samba

3.1.1 Identifikasi Klien

Inisial : Sdr. I Agama :Islam


Umur : 26 th. Status :Belum Menikah
Alamat : Simo- Pekerjaan :Petani
Boyolali Jenis Kelamin :Laki-laki
Pendidikan : SLP No. CM :035xxx

3.1.2 Alasan Masuk


1. Data Primer: Klien mengatakan masuk RSJ dibawa polisi dari

rumah ke RSJ, polisinya diberi tahu tetangga klien yang iri.


2. Data Sekunder: Klien tampak berbicara sendiri, jarang

berkomunikasi dengan orang lain, bicara lambat dan pelan.


3. Keluhan Utama Saat Pengkajian: Melihat Bayangan.

3.1.3 Faktor Presipitasi (Riwayat Penyakit Sekarang)


Klien mengatakan masuk RSJ di bawa polisi yang dilapori tetangganya.

Klien mengatakan saat di rumah obat selalu diminum tapi bayangannya

17
masih ada. Klien sering berbicara sendiri saat sendirian di kamar, jarang

berinteraksi dengan pasien lain.

3.1.4 Faktor Predisposisi (Riwayat Penyakit Dahulu)


Klien mengatakan sudah 7 kali masuk RSj awal masuk tahun 2013 di

antar Pak’ne dan Mak’ne. Klien juga mengatakan saat itu bayangan

membisiki ada tetangga yang iri padanya. Klien mengatakan sebelum

masuk ke RSJ dia kerja di Jakarta di pabrik wafer 3 bulan, lalu berhenti

dan pulang karena tidak bekerja dia di suruh pergi Mak’ne lalu klien

pergi ke Surabaya kerja di bengkel selama 3 minggu lalu berhenti dan

pulang, di rumah tidak bekerja.


1. Pernah melakukan upaya/percobaan bunuh diri
Jelaskan: Klien mengatkan tidak pernah.
2. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Jelaskan: Klien mengatakan pernah bekerja lalu terkena mesin

pengepakan barang dan jari kelingkingnya di potong.


3. Pernah mengalami penyakit fisik: Tidak pernah.
4. Riwayat penggunaan NAPZA: Tidak pernah.
5. Upaya yang telah dilakukan tentang kondisi di atas dan hasilnya:
Jelaskan: Klien mengatakan langsung dibawa ke RSJ sampai

sekarang.
6. Riwayat Penyakit Keluarga: Klien mengatakan tidak ada keluarga

yang pernah dirawat di RSJ.

3.1.5 Pengkajian Psikososial (Sebelum dan Sesudah Sakit)


1. Genorgram

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Garis Pernikahan
: Garis Keturunan
: Satu rumah
: Garis Kedekatan
: Klien

18
Jelaskan: Klien Mengatakan dekat dengan Pak’ne. Klien juga

mengatakan anak pertama dari 3 bersaudara. Dia memiliki adik

perempuan dan laki-laki.


a. Pola Asuh : Klien mengatakan dibesarkan oleh kedua orang

tuanya.
b. Pola Komunikasi: Pola komunikasi terbuka dalam keluarga.
c. Pola Pengambilan Keputusan: Klien mengatakan yang

menentukan keputusan di keluarganya adalah Pak’ne.


2. Konsep Diri:
a. Citra Diri: Klien mengatakan suka dengan semua anggota

tubuhnya tapi malu dengan jari kelingkingnya yang terpotong.

Dibuktikan dengan menyembunyikan jari kelingkingnya.


b. Identitas: Klien mengatakan bernama Sdr. I umur 26 tahun,

alamat Simo-Boyolali. Klien mengatakan dirinya laki-laki dan

merasa puas sebagai seorang laki-laki.


c. Peran:
Di rumah: Klien mengatakan dirumah sebagai anak dan

dirumah membantu orang tua di sawah.


Di RSJD: Klien mengatakan di rumah sakit jiwa ini sebagai

orang yang dirawat.


d. Ideal Diri: Klien mengatakan ingin cepat pulang dan bekerja

membantu orang tua di sawah.


e. Harga Diri: Klien mengatakan malu dengan dirinya. Dibuktikan

klien sering menunduk, kontak mata kurang, dan saiam sejenak

sebelum menjawab pertanyaab, klien sering menyendiri di

kamar.
Diagnosa Keperawatan: Gangguan konsep diri: Harga diri rendah.
3. Hubungan Sosial:
a. Orang yang berarti/terdekat:
Klien mengatakan di rumah dekat dengan Pak’ne dan di rumah

sakit klien tidak ada teman dekat di RSJ, semua sama.

b. Peran Serta dalam Kegiatan Kelompok/Masyarakat:

19
Di rumah: Klien mengatakan di rumah saja, ke masjid lalu

pulang.
DI RSJD: Klien mengatakan ikut berjoget saat di rehab.
c. Hambatan dalam Berhubungan dnegan Orang Lain:
Klien mengatakan takut berkenalan dan bicara dengan orang

lain. Klien jarang ikut berinteraksi dengan praktikan, klien

tampak sering menyendiri, dan sering tiduran di kamar. Kontak

mata selama interaksi kurang, tangan di tangkupkan, kaki

dirapatkan. Kepala sering menunduk. Klien tidak mau

berkenalan dengan praktikan lain.


Diagnosa Keperawatan: Isolasi Sosial: Menarik Diri.
4. Spiritual:
a. Nilai dan Keyakikan: Klien mengatakan beragama islam.
b. Kegiatan Ibadah: Klien mengatakan di rumah dan di RSJ sholat

5 waktu. Klien tampak sholat dzuhur di ruang perawatan.

3.1.6 Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum: Keadaan umum klien cukup, rambut bersih, hitam,

pendek, kuku pendek, keulit kering, pakaian bersih dan sesuai

(sergam klien RSJD), memakai gelang identitas, memakai sandal.


2. Kesadaran (Kuantitas): Compos mentis, GCS: Eye 4 Verbal 5

Motorik 6.

3. Tanda-tanda Vital: TD: 140/100 mmHg Suhu: 36,70C


N: 88 x/menit RR: 20 x/menit.
4. Ukur: BB 68 kg TB 168
5. Keluhan Fisik: Tidak ada.

3.1.7 Status Mental


1. Penampilan (Penampilan usia, cara berpakaian, kebersihan)
Penampilan klien sesuai dnegan usia, cara berpakaian klien sesuai

yakni mamakai seragam RSJD, klien tampak bersih, rambut

terpotong pendek, sikap klien sopan, gaya berjalan normal, kepala

20
sedikit menunduk, saat berjalan, ekspresi wajah datar, kontak mata

kurang.
2. Pembicaraan:
Cara bicara lambat, sedikit gagap yakni diam sejenak sebelum

menjawab pertanyaan, volume suara pelan, bahasa yang digunakan

bahasa jawa krama.


3. Aktifitas Motorik:
Aktifitas klien hipoaktivitas, klien tampak sesekali menggerakkan

kaki seperti menjahit.


4. Mood dan Afek:
a. Mood: Cemas, klien mengatakan cemas dengan orang tuanya di

rumah takut kalau disakiti tetangganya.


b. Afek: Tumpul, klien memberikan respon yang lambat saat diajak

bergurau.
5. Interaksi Selama Wawancara:
Selama wawancara, klien kooperatif, kontak mata kurang, selama

wawancara klien menjawab dengan nada pelan dan sebelum

menjawab diam sejenak sambil menunduk.


6. Persepsi-Sensorik:
a. Halusinasi: Penglihatan dan pendengaran
b. Ilusi: Tidak ada
Jelaskan: Klien mengatakan melihat bayangan dan berbicara dengan

bayangan tersebut. Bayangannya bernama Pak Henderson muncul

24 jam, klien tampak berbicara sendiri, sering diam dan menyendiri.


7. Proses Pikir:
a. Arus Pikir: Koheren.
b. Isi Pikir: Fantasi, klien mengatakan bisa bertemu dan berbicara

dengan cara membayangkan maka banyangannya muncul sesuai

dengan orang yang dibayangkan.


c. Bentuk Pikir: non realistic, klien mengatakan rumahnya akan di

rusak oleh tetangganya.


8. Tingkat Kesadaran:
a. Orientasi Waktu: Orientasi klien baik, klien mengatakan

sekarang siang dan sudah waktunya sholat dzuhur.

21
b. Orientasi Tempat: Orientasi klien baik, klien mengatakan

sekarang dirinya ada di RSJ Surakarta di ruang Samba.


c. Orientasi Orang: Orientasi klien baik, klien ingat nama teman-

temannya di bangsal. Klien juga ingat nama perawat.


9. Memori:
a. Jangka Panjang (< 1 bulan).
Klien mampu menceritakan awal masuk RSJ dan riwayat kerja

sebelum masuk RSJ.


b. Jangka Pendek (1-30 hari).
Klien mampu menyebutkan kegiatan di rehab kemarin. Klien,

“Kemarin saya main karaoke, ikut joget.”


c. Saat ini (10 detik-15 menit).
Klien mampu menyebutkan nama perawat di akhir komunikasi.
10. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung:
a. Konsentrasi: Klien dapat berkonsentrasi selama wawancara dan

dapat focus pada pembicaraan.


b. Berhitung: Klien mampu berhitung dengan baik dibuktikan klien

mampu menghitung jumlah rakaat sholat 5 waktu.


11. Kemampuan Penilaian
Klien mengatakan mandi terlebih dahulu sebelum makan.
12. Daya Tilik Diri
Klien tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa

tapi klien sadar bahwa klien sedang di rawat di RSJ.


3.1.8 Kebutuhan Persiapan Pulang
1. Makan
Klien mampu makan sendiri dan ambil makan sendiri (mandiri).
2. BAB/BAK
Mandiri dibuktikan dengan klien mampu BAK di WC tanpa arahan.
3. Mandi
Klien mandiri dibuktikan dengan klien setiap pagi mandi di kamar

mandi tanpa arahan. Klien, “Saya mandi di kamar mandi pakai

sabun, gosok gigi dan keramas.”


4. Berpakaian atau Berhias
Mandiri. Dibuktikan dengan klien mampu berpakaian tanpa arahan

perawat.
5. Istirahat dan Tidur
Tidur siang, lama: 11.00 s/d 11.30 WIB
Tidur malam, lama: 21.00 s/d 04.30 WIB.

22
Aktifitas sebelum/sesudah tidur: Nonton TV.
6. Penggunaan Obat
Bantuan minimal, dibuktikan dengan klien minum obat dibantu

perawat.
7. Pemeliharaan Kesehatan
Perawatan lanjutan: Ya, dengan system pendukung keluarga.
8. Aktifitas dalam Rumah
Klien mampu merapikan tempat tidurnya secara mandiri.
9. Aktifitas diluar Rumah
Klien mengatakan ke masjid lalu pulang lagi.

3.1.9 Mekanisme Koping

Adaptif Mal-adaptif
Bicara dengan orang lain. Minum alkohol.
Mampu menyelasaikan masalah. Reaksi lambat/berlebihan.
Teknik Relaksasi. Bekerja berlebihan.
Aktifitas konstruktif. √ Menghindar.
Olah raga. Menciderai diri.
Lain-lain. Lain-lain.
Jelaskan: Klien mengatakan jika ada masalah menghindar.

3.1.10 Masalah Psikososial dan Lingkungan


1. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifiknya: tidak terkaji.
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan spesifiknya: klien

mengatakan ada tetangga yang iri pada klien.


3. Masalah dengan pendidikan, spesifiknya: tidak ada.
4. Masalah dengan pekerjaan, spesifiknya: Klien pernah kecelakaan

saat bekerja, jari kelingkingnya terkena mesin pengepakan barang

dan harus dipotong.


5. Maslaah dengan perumahan, spesifiknya: tidak ada.
6. Masalah dengan ekonomi, spesifiknya: klien tidak bekerja.
7. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya: Tidak ada

masalah.
8. Masalah lainnya, spesifiknya: tidak ada masalah.

3.1.11 Pengetahuan Kurang Tentang


Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan

yang kurang tentang suatu hal?


(√) Gangguan jiwa.
Jelaskan: Klien tidak menyadari keadaan jiwanya.

23
3.1.12 Apex Medis
Diagnosa Medis: F20.3 (Skizofrenia tak terinci).
Terapi Medik:
1. Antasid 3x1 tab 1-1-1
2. Rimpenidon 2x3 mg 1-0-1
3. Hexyamin 2x2 mg 1-0-1
4. Clazym 1x2 mg 1-0-0

3.2 Analisa Data

No. Data Diagnosa


Dx Keperawatan
1. DS: Gangguan Persepsi
Klien mengatakan melihat bayangan dan berbicara Sensori: Halusinasi
dnegan bayangan tersebut. Bayangannya bernama pak Penglihatan.
Henderson muncul 2 jam saat sendiri.
DO:
- Klien tampak berbicara sendiri.
- Klien sering diam dan menyendiri.
- Kontak mata kurang.
- Mood klien cemas.
- Afek klien tumpul.
2. DS: Harga Diri Rendah
Klien mengatakan malu dengan dirinya dan jari
kelingkingnya yang terpotong.
DO:
- Klien tampak jarang berinteraksi.
- Kontak mata kurang.
- Klien sering menunduk.
- Cara bicara lambat,
- Sedikit gagap yakni diam sejenak sebelum
menjawab pertanyaan,
- volume suara pelan.
3. DS: Isolasi Sosial: Menarik
Klien mengatakan takut berkenalan dan bicara dengan Diri.
orang lain.
DO:
- Klien tampak jarang berinteraksi dengan orang lain.
- Klien tampak sering menyendiri dan tiduran di
kamar.
- Kontak mata kurang.
- Klien sering menunduk.
- Cara bicara lambat,
- Sedikit gagap yakni diam sejenak sebelum
menjawab pertanyaan,
- volume suara pelan.
4. DS: Gangguan Isi Pikir:

24
Klien mengatakan bisa bertemu dan berbicara dengan Waham.
orang yang dibayangkan.
DO:
- Arus pikir koheren.
- Isi pikir fantasi.
- Bentuk pikir non realistic.
- Mood klien cemas.
- Afek klien tumpul.

3.3 Daftar Masalah/Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi penglihatan.
2. Harga diri rendah.
3. Isolasi sosial: Menarik diri.
4. Gangguan Isi Pikir: Waham.

3.4 Pohon Masalah

Resiko menciderai diri, orang lain, lingkungan. Effect


Gangguan isi piker: Waham

Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Penglihatan Core Problem


Isolasi Sosial: Menarik Diri
Cause
3.5 Prioritas DiagnosaHarga Diri Rendah
Keperawatan
Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Penglihatan.
3.6 Intervensi Keperawatan
INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama mahasiswa : Widya Saraswati Nurida Nama Klien : Sdr. I
NIM : 017901039 Bangsal : Samba
Institusi : STIKes ICsada Bojonegoro
Diagnosa Tujuan dan
Hari/Tgl Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Senin, Gangguan Tujuan: Setelah SP I:
20-11- Persepsi dilakukan 4x 1. Membina hubungan saling percaya.
2017 Sensori: interaksi klien 2. Mengidentifikasi jenis Halusinasi klien.
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi klien.
Halusinasi dapat mengontrol
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi
Penglihatan. halusinasi yang
klien.
dialaminya. 5. Mengidentifikasi situasi yang
Kriteria Hasil:
menimbulkan halusinasi.
1. Klien dapat
6. Mengidentifikasi respons klien terhadap
membina
halusinasi.
hubungan saling 7. Mengajarkan klien menghardik halusinasi
percaya. dengan teknik tought stoping.
2. Klien dapat 8. Menganjurkan klien memasukkan cara
mengenal menghardik halusinasi dengan teknik
halusinasinya.

25
3. Klien dapat tought stoping dalam jadwal kegiatan
mengontrol harian.
halusinasinya.
4. Klien SP II:
memanfaatkan 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
obat dengan klien.
2. Melatih klien mengendalikan halusinasi
baik.
dengan cara bercakap-cakap dengan orang
lain.
3. Mengajarkan klien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.

SP III:
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien.
2. Melatih klien mengendalikan halusinasi
dengan melakukan kegiatan (kegiatan
yang biasa dilakukan klien di rumah).
3. Menganjurkan klien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.

SP IV:
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien.
2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang
penggunaan obat secara teratur.
3. Menganjurkan klien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.

3.7 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
Nama mahasiswa : Widya Saraswati Nurida Nama Klien : Sdr. I
NIM : 017901039 Bangsal : Samba
Institusi : STIKes ICsada Bojonegoro
Hari,
Implementasi Evaluasi Paraf
Tgl
Senin, Data: S: Klien mengatakan masuk RSJ
20-11- DS: Klien mengatakan melihat karena dilaporkan tetangganya
2017 bayangan dan berbicara dengan yang iri, saya diberitahu bayangan
bayangan tersebut. Bayangannya
pak Henderson, mbaknya nggak
bernama pak Henderson muncul 24
jam saat sendiri. bisa lihat bayangannya.
DO: O: Kontak mata klien kurang,
- Klien tampak berbicara sendiri. klien tampak berbicara sendiri,
- Klien sering diam dan klien sering diam dan menyendiri,
menyendiri. Mood klien cemas, afek klien
26
- Kontak mata kurang. tumpul, pembicaraan non
- Mood klien cemas. realistik.
- Afek klien tumpul. A: Halusinasi penglihatan masih
Diagnosa Keperawatan: Gangguan tampak.
Persepsi Sensori: Halusinasi P: Lanjutkan SP II
Penglihatan. - Evaluasi jadwal kegiatan
Tindakan Keperawatan: harian klien.
SP I: - Anjurkan klien menghardik
1. Membina hubungan saling percaya. halusinasi dengan teknik
2. Mengidentifikasi jenis Halusinasi
tought stoping.
klien.
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi
klien.
4. Mengidentifikasi frekuensi
halusinasi klien.
5. Mengidentifikasi situasi yang
menimbulkan halusinasi.
6. Mengidentifikasi respons klien
terhadap halusinasi.
7. Mengajarkan klien menghardik
halusinasi dengan teknik tought
stoping.
8. Menganjurkan klien memasukkan
cara menghardik halusinasi dengan
teknik tought stoping dalam jadwal
kegiatan harian.
RTL: SP II
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian klien.
2. Melatih klien mengendalikan
halusinasi dengan cara bercakap-
cakap dengan orang lain.
3. Mengajarkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
Selasa, Data: S: Klien mengatakan bayangan itu
21-11- DS: Klien mengatakan melihat bilang rumahnya di rusak sampai
2017 bayangan dan berbicara dnegan bengkok oleh polisi yang disuruh
bayangan tersebut. Bayangannya
tetangganya. Bayangannya masih
bernama pak Henderson muncul 2
jam saat sendiri. ada 24 jam.
DO: O: Kontak mata klien kurang,
- Klien tampak berbicara sendiri. klien tampak berbicara sendiri,
- Klien sering diam dan klien sering diam dan menyendiri,
menyendiri. Mood klien cemas, afek klien
- Kontak mata kurang. tumpul, pembicaraan non
- Mood klien cemas.

27
- Afek klien tumpul. realistik.
Diagnosa Keperawatan: Gangguan A: Halusinasi penglihatan masih
Persepsi Sensori: Halusinasi tampak.
Penglihatan. P: Lanjutkan SP III
Tindakan Keperawatan: - Evaluasi jadwal kegiatan
SP II harian klien.
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan - Anjurkan klien menghardik
harian klien. halusinasi dengan teknik
2. Melatih klien mengendalikan tought stoping.
halusinasi dengan cara bercakap-
cakap dengan orang lain.
3. Mengajarkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
RTL: SP III
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian klien.
2. Melatih klien mengendalikan
halusinasi dengan melakukan
kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan klien di rumah).
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
Rabu, Data: S: Klien mengatakan masih ada
22-11- DS: Klien mengatakan melihat tapi kalau klien sendirian.
2017 bayangan dan berbicara dnegan O: Kontak mata klien kurang,
bayangan tersebut. Bayangannya klien tampak berbicara sendiri,
bernama pak Henderson muncul 2
klien sering diam dan menyendiri,
jam saat sendiri.
DO: Mood klien cemas, afek klien
- Klien tampak berbicara sendiri. tumpul, pembicaraan non
- Klien sering diam dan realistik.
menyendiri. A: Halusinasi penglihatan mulai
- Kontak mata kurang. berkurang.
- Mood klien cemas. P: Lanjutkan SP IV
- Afek klien tumpul. - Evaluasi jadwal kegiatan
Diagnosa Keperawatan: Gangguan harian klien.
Persepsi Sensori: Halusinasi Anjurkan klien menghardik
Penglihatan. halusinasi dengan teknik tought
Tindakan Keperawatan: stoping.
SP III
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian klien.
2. Melatih klien mengendalikan
halusinasi dengan melakukan
kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan klien di rumah).
28
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
RTL:
SP IV
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian klien.
2. Memberikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara
teratur.
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
Kamis, Data: S: Klien mengatakan bayangan
23-11- DS: Klien mengatakan melihat datang saat klien ngelamun dan
2017 bayangan dan berbicara dnegan hilang saat saya tidak mau
bayangan tersebut. Bayangannya
melihatnya.
bernama pak Henderson muncul 2
O: Kontak mata klien membaik,
jam saat sendiri.
DO: klien tampak berbicara sendiri,
- Klien tampak berbicara sendiri. klien mulai mau berinteraksi
- Klien sering diam dan dengan orang lain, Mood klien
menyendiri. cemas, afek klien tumpul,
- Kontak mata kurang. pembicaraan non realistik.
- Mood klien cemas. A: Halusinasi penglihatan mulai
- Afek klien tumpul. berkurang
Diagnosa Keperawatan: Gangguan P: Lanjutkan SP IV
Persepsi Sensori: Halusinasi - Evaluasi jadwal kegiatan
Penglihatan. harian klien.
Tindakan Keperawatan: - Anjurkan klien menghardik
SP IV halusinasi dengan teknik
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
tought stoping.
harian klien.
2. Memberikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara
teratur.
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
RTL:
SP IV
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian klien.
2. Memberikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara
teratur.
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.

29
BAB 4
PEMBAHASAN
Judul Jurnal : Pengaruh Terapi Tought Stopping Terhadap Kemampuan

Mengontrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia.


Penulis : Retno Twistiandayani dan Amila Widati.
Korespondensi : retnotwist@gmail.com
Publikasi oleh : Prosiding Konferensi Nasional PPNI Jawa Tengah 2013.
Resume Jurnal :
Masalah kesehatan jiwa atau gangguan jiwa masih menjadi masalah kesehatan di

Indonesia. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan

Kementrian Kesehatan pada tahun 2007, sedangkan prevalensi gangguan jiwa

berat yakni psikosis sekitar 0,46% dari jumlah penduduk Indonesia sekitar

24.708.000 jiwa. Halusinasi merupakan Salah satu bentuk gangguan jiwa yang

sering terjadi di masyarakat. Kemampuan mengontrol halusinasi merupakan

kesanggupan (potensi) menguasai persepsi sensori secara langsung, atau

merupakan hasil latihan atau praktek. Salah satu terapi yang digunakan untuk

penanganan halusinasi adalah terapi thought stopping. Desain yang digunakan

”Quasi experimental pre-post test with control group”. Penetapan sampel dengan

purposive sampling sebanyak 30 pasien rawat jalan di Poli Jiwa RS Kabupaten

Gresik. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel independen: terapi thought

stopping dan variable dependen: kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi.

Pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi dan wawancara

terstruktur. Analisa data dengan menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dengan

p=0,000 dan taraf signifikansi level 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.

Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh terapi thought stopping terhadap

kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien schizofrenia di Poli Jiwa RS

Kabupaten Gresik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat di simpulkan

30
bahwa terapi thought stopping mampu meningkatkan kemampuan mengontrol

halusinasi pada pasien skizofrenia. Perawat di Poli Jiwa sebaiknya membuat

implementasi asuhan keperawatan pasien halusinasi serta mempunyai alat ukur

untuk menilai keberhasilan dari kegiatan yang dilakukan sehingga dapat diketahui

kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi.


4.1 Analisa Pengaruh Terapi Tought Stoping Terhadap Halusinasi

Penglihatan pada Sdr. I di Ruang Samba RSJD Dr. Arif Zainudin

Surakarta.
Keadaan klien sebelum dilakukan terapi atau intervensi masih

mengalami halusinasi penglihatan dalam fase III: controlling, ansietas berat,

pengalaman sensori berkuasa. Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh data

bahwa halusinasi klien muncul selama 24 jam dalam bentuk bayangan dan

klien dapat berkomunikasi dengan halusinasinya. Halusinasi semakin tampak

saat klien sendiri. Klien belum tahu cara mengontrol halusinasi. Klien tidak

mengalami gangguan komunikasi verbal dan dalam keadaan sadar penuh,

sehingga memenuhi kriteria untuk dilakukan terapi tought stoping untuk

mengontrol halusinasi.
Terapi tought stoping dimasukkan dalam SP I pada poin 7 (menghardik

halusinasi) dan 8 (memasukkan dalam jadwal kegiatan harian klien). SP I

dilakukan pada interaksi pertama. Klien diajarkan tentang mengontrol

halusinasi dengan tought stoping yakni dengan cara menghardik halusinasi,

mengatakan stop dan mengusir halusinasi tersebut. Dasar dari teknik ini

adalah secara sadar memerintah diri sendiri, “stop!”, saat mengalami

pemikiran negatif berulang, tidak penting, dan distorted. Kemudian mengganti

pikiran negatif tersebut dengan pikiran lain yang lebih positif dan realistis.

Klien dapat mengikuti intruksi perawat sampai selesai. Sebelum mengakhiri

31
interaksi klien diminta mencatat cara mengontrol halusinasi dalam kertas

jadwal kegiatan harian klien.


Pada interaksi kedua dilakukan evaluasi tentang cara mengontrol

halusinasi dengan tought stoping apakah klien masih ingat cara

melakukannya. Serta dilanjutkan pada SP II, halusinasi klien masih tampak 24

jam dan klien tidak ingat cara mengontrol halusinasi dengan tought stoping,

sehingga perawat mengulang kembali untuk mengajarkan mengontrol

halusinasi.
Pada interaksi ke 3 halusinasi klien mulai berkurang dan klien dapat

mempraktikkan cara mengontrol halusinasi dengan teknik tought stoping.

Dilanjutkan pada pertemuan ke 4 halusinasi klien mulai berkurang

ditunjukkan dengan klien mengatakan bayangan datang saat klien ngelamun

dan hilang saat klien tidak mau melihatnya.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi tought stoping dapat

diterapkan dalam mengontrol halusinasi klien. Selain itu, teknik ini tidak

memerlukan biaya dan alat dalam melakukan terapi ini serta teknik yang tidak

jauh beda dari cara mengontrol halusinasi pada umumnya.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Teknik mengontrol halusinasi pada klien dapat dilakukan dengan berbagai

cara salah satunya terapi tought stoping yang memberikan cara mengontrol

halusinasi dengan beberapa tahapan yang dapat dipraktikan oleh klien dengan

mudah. Terapi ini memberikan pengaruh pada pengontrolan halusinasi seperti

pada kasus Sdr. I dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi penglihatan

yang mulai berkurang setelah dilakukan kali interaksi dengan menggunakan

teknik mengontrol halusinasi tought stoping.

32
DAFTAR PUSTAKA

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan

dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta:

Salemba Medika.
Tarwoto dan Wartonah. 2009. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses

Keperawatan, Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Medika.


Perry dan Potter. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Twistiandayani, Retno dan Amila Widati. 2013. Pengaruh Terapi Tought Stoping

Terhadap Kemampuan Mengotrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia.

Diterbitkan oleh: Prosiding Konferensi Nasional PPNI Jawa Tengah 2013.

33
Lampiran 1.
FORMAT ANALISA PROSES INTERAKSI
Inisial Klien : Sdr. I Nama Mahasiswa : Widya Saraswati Nurida
Status Interaksi : Pengkajian Tanggal : 20 November 2017
Lingkungan : Ruang perawatan Samba Waktu : 12.15-12.30 WIB
Deskripsi Klien : Klien tampak berbicara sendiri, Tempat/Bangsal : Ruang Samba
jarang berkomunikasi dengan orang lain.
Tujuan : Bina Hubungan Saling Percaya
KOMUNIKASI KOMUNIKASI NON ANALISA BERPUSAT ANALISA BERPUSAT
RASIONAL
VERBAL VERBAL PADA PERAWAT PADA KLIEN
P: “Assalammu’alaikum, P: Kontak mata menatap Saat awal interaksi Klien menjawab salam Pertama dengan kita
mas.” klien sambil tersenyum. perawat yakin bisa perawat. melakukan BHSP agar
K: “Wa’alaikumsalam.” K: Menatap perawat dan berinteraksi dengan klien. klien mau memberikan
tersenyum. Perawt berusaha informasi dengan mudah
mengajak ngobrol agar kepada perawat untuk
klien terbuka. dilakukan pengkajian.
P: “Perkenalkan nama P: Perawat berjabat Bersikap empati terhadap Klien menjawab dengan Memperkenalkan diri
saya widya, saya tangan. klien dan berusaha agar suara sedikitt pelan, jelas akan memberikan
praktikan dari K: Klien mau berjabat klien mau berbicara dan tenang. stimulus rasa lebih dekat
Bojonegoro. Nama mas tangan. dengan perawat. dan dapat memberikan
siapa?” kesan akrab untuk
K: “Ichsanudin, dipanggil interaksi selanjutnya.
Ichsan.”
P: “Bagaimana Kalau P: Perawat mengajak Mendorong klien agar Klien mau menceritakan Kontak mata akan
ngobrol sambil duduk di klien duduk di depan mau bercerita tentang tentang dirinya. memberikan kesan pada
sana?” kamar klien. dirinya. klien bahwa dirinya
K: “Iya, mbak.” K: Klien mengikuti dihargai, karena
perawat. pendapatnya dibutuhkan.
P: “Mas I, rumahnya P: Kontak mata menatap Memperoleh alamat dan Klien mau menjawab Menanyakan alamat
dimana?” klien sambil tersenyum. mendorong klien agar pertanyaan perawat. rumah memberikan
K: “Simo-Boyolali.” K: Diam dulu sejenak, mau bercerita tentang informasi tentang daya
menatap perawat dan dirinya. ingat dalam jangka waktu
menjawab. lama.
P: “Mas I, sudah disini P: kontak mata menatao Bersikap empati terhadaoKlien mampu mengingat Menanyakan lama dirwat
berapa hari?” klien sambil tersenyum. klien dan berusaha agar lama dia di rawat di memberkan informasi
K: “Kurang lebih 1 K: Diam dulu sejenak klien mau berbicara
RSJD. tentang orientasi waktu
bulan.” menatap perawat dan dengan perawat dan klien.
menjawab. melihat daya ingat klien.
P: “Mas I, dirumah P: Kontak mata menatap Mendorong klien untuk Klien mampu bercerita Memberikan informasi
tinggal dengan siapa?” klien sambil tersenyum. berbicara tentang tentang keluarganya. tentang latar belakang
K: “Pak’ne dan Mak’ne.” K: Menatap perawat dan keluarganya. keluarga klien.
menjawab.
P: “Punya Saudara?” P: Kontak mata menatap Mendorong klien untuk Klien mampu bercerita Memberikan informasi
K: “Punya 2, 1 klien sambil tersenyum. berbicara tentang tentang keluarganya. tentang latar belakang
perempuan sudah K: Menatap perawat dan keluarganya. keluarga klien.
menikah, 1 laki-laki menjawab.
bekerja, saya pertama.
P: “Mas, I, sudah P: Kontak mata menatap Mencari problema dari Klien menunjukkan Memberikan informasi
menikah?” klien sambil tersenyum. hubungan sosial klien. perasaan takut untuk tentang pemenuhan peran
K: “Belum, nggak berani K: Menatap perawat dan menikah. dalam usia produktif yang
mbak.” menjawab sambil biasanya sudah menikah.
menangkupkan tangan
menggelengkan kepala.
P: “Mas I, sebelum P: Kontak mata menatap Mendorong klien Klien mau bercerita Memberikan informasi
masuk sini di rumah klien sambil tersenyum. bercerita tentang dengan runtut dan jelas. tentang pemenuhan peran
bekerja?” K: Diam dulu sejenak kehidupannya sebelum dalam usia produktif yang
K: “Pernah kerja di lalu menjawab pertanyan. masuk RSJD. biasanya sudah bekrja.
Jakarta 3 bulan di pabrik
wafer terus pulang, tidak
bekerja dimarahi Mak’ne,
terus saya ke Surabaya
bekerja 3 minggu, pulang,
bantu di sawah.”
P: “Mas I, bisa masuk P: Kontak mata menatap Bersikap empati dan Klien mau bercerita tapi Mencari informasi
sini kenapa?” klien sambil tersenyum. mendorong klien mulai tidak focus. penyebab klien
K: “gara-gara tetangga K: Kepala sedikit berbicara alasan klien dimasukkan RSJD dan
yang iri karena besekkan, menunduk, mata sesekali pertama masuk RSJD. awal gangguan jiwanya.
saya dilaporkan polisi dan melihat ke bawah.
dibawa kesini. Beritahu
saya kalau saya ambil
besekan saya dibawa
kesini.”
P: “Sebelumnya sudah P: Kontak mata menatap Bersikap empati dan Klien kembali focus dan Menilik kembali riwayat
pernah kesini?” klien, sambil tersenyum. mendorong klien mau bercerita riwayatnya. gangguan jiwa yang
K: “Sudah, 7 kali, tahun K: Sudah tiadk menunduk berserita tentang riwayat dialami klien.
2013 itu pertama kali.” mata menatap perawat gangguan jiwa yang
dan menjawab. dialami.
P: “Sudah dulu ya, besok P: Kontak mata menatap Mengakhiri interaksi dan Klien mau mengakhiri Mengakhiri interaksi
ngobrol lagi.” klien dan berjabat tangan. kontrak waktu interaksi dapat membatasi interaksi
K: “Iya mbak, saya mau K: Klien mau berjabat selanjutnya. dan mencegah klien
sholat dulu.” tangan. bosan.
Kesan Perawat: Perawat menganalisis bahwa dalam pertemuan pertama berhasil mencapai BHSP dengan klien dalam interaksi pertama
ditandai dengan klien mau berkenalan dan bercerita tentang dirinya, keluarga klien, serta riwayat gangguanjiwanya. Hasil Interaksi
menunjukkan klien mengalami halusinasi penglihatan dan berbicara dengan halusinasinya.
Lampiran 2.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA

Hari/Tanggal : Senin, 20 November 2017.


Waktu : 15 menit
Pertemuan ke: I (TUK I).

I. PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi Klien: Penampilan klien cukup, pakaian lengkap atasan dan celana
seragam RSJ (sesuai), klien duduk di kamar mendengarkan temannya
ngobrol.
b. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi
Penglihatan.
c. Tujuan Khusus: Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan
perawat.
d. Tindakan Keperawatan:
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Mengidentifikasi jenis Halusinasi klien.
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi klien.
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi klien.
5. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi.
6. Mengidentifikasi respons klien terhadap halusinasi.
7. Mengajarkan klien menghardik halusinasi dengan teknik tought
stoping.
8. Menganjurkan klien memasukkan cara menghardik halusinasi dengan
teknik tought stoping dalam jadwal kegiatan harian.

II. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINADAKAN


KEPERAWATAN.
a. Orientasi
1. Salam terapeutik: “Assalammualaikum, perkenalkan nama saya widya
saya praktikan dari STIKes ICsada Bojonegoro. Nama Mas siapa?
Senang dipanggil siapa? Mau ngobrol di depan sambil duduk?”
2. Evaluasi (Pertemuan Sebelumnya): -
3. Kontrak:
Topik: “Boleh saya ngobrol dengan mas I?”
Waktu: “Bagaimana kalau ngobrol-ngobrol selama 15 menit?”
Tempat: “Bagaimana kalau ngobrol sambil duduk di luar?”
b. Kerja
1. “Assalammu’alaikum mas namanya siapa? Suka dipanggil siapa?”
“Ichsanudin, bisa dipanggil Ichsan.”
2. “Mas I, rumahnya dimana?” “Simo-Boyolali.”
3. “Masnya disini sudah berapa hari?” “Kurang lebih 1 bulan.”
4. “Masnya di rumah tinggal dengan siapa?” “Pak’ne dan Mak’ne.”
5.
6. “Punya saudara?” “Punya 2, 1 perempuan sudah menikah, 1 laki-laki
bekerja, saya pertama.”
7. “Masnya saudah menikah?” “Belum, nggak berani mbak.”
8. “masnya sebelum masuk sini, dirumah bekerja?” “Pernah kerja di
jakartadi pabrik wafer 3 bulan, terus pulang, lalu pergi kerja ke
Surabaya 3 minggu pulang di rumah bantu Pak’ne di sawah.”
9. “Masnya bisa masuk sini kenapa?” “gara-gara tetangga yang iri karena
besekkan saya dilaporkan polisi dan dibawa polisi ke sini. Bayangannya
namanya pak Henderson sudah beritahu saya, kalau saya ambil besekan
saya dibawa kesini.”
10. “Sebelumnya sudah pernah kesini?” “Sudah 7 kali, tahun 2013 itu
pertama kali.”
11. Sudah dulu ya, besok kita ngobrol lagi.” “Iya mbak saya mau sholat
dulu.”
c. Terminasi
1. Evaluasi(Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan).
Subyektif: “Klien mengatakan makasih mbak, besok lagi. Saya mau
sholat dulu.”
Obyektif: Klien mampu menceritakan awal masuk dengan kooperatif.
Kontak mata baik. Klien mampu mengikuti obrolan sampai
selesai.
2. Rencana Tindak Lanjut.
“Besok ngobrol-ngobrol lagi ya jam yang sama.”
3. Kontrak yang akan datang.
Topik: “Besok kita ngobrol tentang bayangan yang kamu lihat.”
Waktu: “Bagaimana kalau besok ngobrolnya jam 1 siang.”
Tempat: “Disini tempatnya.”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA

Hari/Tanggal : Selasa, 21 November 2017.


Waktu : 15 menit
Pertemuan ke: II (TUK II).

I. PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi Klien: Penampilan klien cukup, pakaian lengkap atasan dan celana
seragam RSJ (sesuai), klien duduk di kamar mendengarkan temannya
ngobrol.
b. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi
Penglihatan.
c. Tujuan Khusus: Klien dapat mengenal halusinasinya.
d. Tindakan Keperawatan:
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
2. Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain.
3. Mengajarkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
II. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINADAKAN
KEPERAWATAN.
a. Orientasi
1. Salam terapeutik: “Assalammualaikum, bagaimana kabarnya? Masih
ingat nama saya?” “Saya widya praktikan STIKes ICsada Bojonegoro,
yang kemarin ngobrol sama mas I.”
2. Evaluasi (Pertemuan Sebelumnya): “Maaf mbak, saya lupa namane
sampean, perawatnya banyak soalnya.”
3. Kontrak:
Topik: “Boleh saya ngobrol dengan mas I?”
Waktu: “Bagaimana kalau ngobrol-ngobrol selama 15 menit?”
Tempat: “Bagaimana kalau ngobrol sambil duduk di kursi?”
b. Kerja
1. “Assalammu’alaikum bagaimana kabbarnya?” “Baik mbak.”
2. “Masih ingat nama saya?” “Maaf mbak, saya lupa namane sampean,
perawatnya banyak soalnya.”
3. “kenalan lagi, saya widya dari Bojonegoro.” “Iya mbak widay.”
4. “Mas I, sampean masih lihat bayangan?” “Iya mbak, masih
bayangannya 24 jam.”
5. “Mas I, bayangannya cerita apa?” “Dia bilang kalau rumah saya di
rusak dan dibuat bengkok.”
6. “Perasaannya sampean bagaimana?” “Cemas mbak, rumah saya dibuat
bengkok.”
7. “Bagaimana mas I mengatasi atau menghilangkan cemasnya?” “saya
buat tidur mbak.”
8. “temannya mas I ada yang bisa lihat bayangan itu?” “Ada mbak, ada
yang bisa lihat juga.”
9. “Mas I kan bisa lihat, tapi saya nggak bisa melihatnya.” “iya mbaknya
memang nggak bisa lihat karena bayangannya takut sama mbak.”
10. “Mas I bayangan itu Cuma sampan yang bisa lihat, say nggak, perawat
yang lain juga nggak bisa lihat, jadi itu tidak nyata, bisa dihilangkan.”
“Memangnya mbaknya nggak bisa lihat bayangannya.”
11. “Ya sudah, sampai sini dulu kita ngobrolnya, besok lagi ya, jam yang
sama.”
c. Terminasi
1. Evaluasi(Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan).
Subyektif: “Klien mengatakan memang mbaknya nggak bisa lihat
bayangannya.”
Obyektif: Klien mampu menceritakan isi halusinas, frekuensi dan
waktunya, kontak mata baik. Klien mampu mengikuti
obrolan sampai selesai.
2. Rencana Tindak Lanjut.
“Besok ngobrol-ngobrol lagi ya jam yang sama.”
3. Kontrak yang akan datang.
Topik: “Besok kita ngobrol tentang bayangan yang kamu lihat.”
Waktu: “Bagaimana kalau besok ngobrolnya jam 1 siang.”
Tempat: “Disini tempatnya.”