Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH DIAGNOSA KLINIK PEMERIKSAAN KLINIS PADA SISTEM SARAF HEWAN BESAR

MAKALAH DIAGNOSA KLINIK PEMERIKSAAN KLINIS PADA SISTEM SARAF HEWAN BESAR OLEH : NAMA : MERYSAL MAGDALENA

OLEH :

NAMA

: MERYSAL MAGDALENA SALO

NIM

: 1409010043

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

2016

  • 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Sistem syaraf berfungsi menerima, mengukur, dan mengatur informasi dalam bentuk sinyal melalui jalur sensor kemudian menyimpan, mengolah dan menjalankan informasi tersebut dengan cara mengaktifkan efektor melalui jalur motor. Factor- factor intrinsik sistem syaraf adalah reception,conduction, dan transmisi sinyal. Sistem sensor dan sistem motor bertanggungjawab atas pemeliharaan tegap berddiri atau postur dan gerak langkah normal. Selain daripada kedua sistem tersebut masih disiapkan lagi komponen otonom yang berfungsi mengontrol atau mengendalikan aktivitas otot polos dan kelenjar endokrin dalam mengatur lingkungan internal serta mekanisme umpan balik. Sistem syaraf terdiri atas 2 sistem besar yaitu sistem syaraf pusat (SSP) dan Sistem syaraf perifer(SSPe). Yang pertama terdiri atas otak medulla spinalis, terlindungi oleh tengkorak

atau cranium dan yang terakhir terlindungi oleh columna vertebralis. SSp terdiri atas serebrum, serebellum, brainstem, dan medulla spinalisini tidak dapat diperiksa namun dapat menggunakan alat bantu MRI, CT Scan, kontras neuron, Ultrasonografi, dan Elektroensefalografi. SSPe terdiri atas syaraf kranialis, syaraf spinalis, ganglia, ujung organ, dan sistem syaraf otonom. Pemeriksaan klinis pada sistem syaraf dapat membantu dalam mendiagnosa suatu penyakit. Penyakit fungsional sistem syaraf dapat terjadi secara primer yaitu semua kausanya murni menyerang atau menuju sistem tersebut dapat pula terjadi secara sekunder yaitu dampak dari penyakit sistemik terhadap sistem syaraf.

  • 1.2 Tujuan Mengetahui cara pemeriksaan klnis sistem syaraf pada hewan besar

BAB II

ISI

Pemeriksaan pada sistem syaraf dimulai dengan inspeksi , dilanjutkan dengan palpasi, uji reflex dan teknik pengambilan cairan serebrospinal.

  • 1. Inspeksi Dalam inspeksi sistem syaraf dapat dimulai dengan pengamatan tingkat kesadaran hewan yang dapat berupa alert, berperhatian dan bereaksi saat mendapat sentuhan ringan atau kesadarannya. Pada tingkat spoor yaitu somnolens, bangun dengan sentuhan kontinu. Dalam beberapa kejadian kesadaran hewan dapat berupa stupor yaitu akan bangun setelah sentuhan stimulasi berat berulang dan terakhir dapat dijumpai pada saat inspeksi hewan dalam keadaan koma atau tidak sadarkan diri lagi. Yang membantu dalam inspeksi sistem syaraf dalah perubahan tegap dan gerak langkah hewan. Tegap berdiri atau postur hewan secra normal dicermati dari cara hewan tersebut mengangkat kaki-kakinya secara ringan, simetris, dan dengan kekuatan yangh sama disertai pemosisian kepala,panggul,dan ekor. Perubahan dalam bentuk kelainan tegap berdiri dapat dicermati dari adanya bentukan tulang punggung yang kifosis ( melengkung keatas ), lordosis ( melengkung kebawah ), skoliosis ( meliuk dari poros tulang punggung ), kepala yang menggeleng-geleng, kepala menunduk atau jatuh dan ekor lunglai.

  • 2. Palpasi

Pada

palpasi

keutamaan

kompaksitas pertulangan.

pemeriksaannya

adalah

kesimetrian

otot-otot

dan

  • Kepala

Terhadap kepala, kekuatan efektor dapat dilihat dari pandangan, pendengaran, dan kemampuan membaui. Gerakan bola mata diperiksa dengan mendekatkan benda yang digerak- gerakkan untuk diikuti oleh gerakan mata. Hewan dipanggil namanya dan kemauan menoleh ke arah suara atau panggilan mencerminkan motor pendengar berfungsi dengan baik. Begitu pula kemampuan membaui hewan dapat dipancing dengan makanan beraroma untuk daya membaui.

Otot-otot mengunyah adalah Mm. Tempralis dan Masseter. n. Mandibularis yang menginervasi kedua otot ini. Pada hewan sehat dewasa adalah otot-otot teraba dengan baik, tebal, dan kenyal. Hal ini menunjukan aktivitas mengunyah berfungsi dengan baik. Keadaan patologis dapat dijumpai atrofi atau hipertrofi otot-otot mengunyah. Kemudian bentuk kepala normal adalah simetris. Pada keadaan patologis dijumpai hidrosefalus kongenitus, edema, atrofi, atrofi otot-otot kunyah. Mobilitas kepala berlebihan terjadi pada ataksia kepala dan mioklonus. Hidrosefalus kongenitus memberikangambaran adanya peningkatan tekanan intrakranial yang berpeluang kepada gangguan berupa penurunan kesadaran. Telinga dipalpasi pada kartilago pinnae dan tonus m. Aurikularis yang diinervasi oleh n. Facialis (VII). Pada hewan dengan tegak telinga berdiri kejadian pinnae jatuh dapat terjadi pada paralisis n. Facialis. Otot-otot wajah diinervasi oleh n. Facialis sedangkan m. Lavatori palpebrae superior diinervasi oleh n. Oculomotoris III. Kelainan yang terjadi dari gangguan inervasi adalah hipertonia yang dapat dijumpai pada kasus tetanus, dan mioklonus n. Facialis serta hipotonus otot-otot facialis. Hasil perabaan pada kelainan ini adalah otot-otot tidak lagi kenyal dan tidak tebal.

Gerak bola mata dipengaruhi oleh tonus-tonus mata dan struktur retrobulbi. Seperti dalam inspeksi kelainan yang terlihat dari bola mata adalah posisi bola mata yang tidak simetris atau pandangan bias yang disebut strabismus, dapat unilateral dan bilateral. Kasus lainnya, bola mata selalu bergerak ritmik tidak terkendali atau disebut nistagmus. N. hipoglosus (XII) menginervasi aktivitas lidah. Gangguan inervasi lidah ditunjukkan dengan kejadian lidah hipertrofi, lidah atrofi unilateral dan menjulur ke sisi yang atrofi. Gangguan lainnya dapat berupa hipotonus otot-otot dengan ditandai adanya lidah yang menjulur panjang dan lunglai. Gerakan bola mata mengikuti benda di depannya dapat dinyatakan dengan tes obstakel. Benda atau objek tersebut diayunkan di depan mata kemudian diikuti gerakan bola mata dalam menangkap bayang-bayang benda terayun penglihatan unilateral, caranya sama dengan tes obstakel.

3.

Busur Refleks

Refleks adlah sebuah aktivitas otot atau kelenjar secara involunter atau bukan atas kemauan hewannya sendiri, sebagai tanggap atau balasan atau respon atas sebuah rangsangan atau stimuli. Refleks dapat hilang, berkurang, atau bahkan menjadi belebihan. Sebuah refleks akan berkurang atau hilang bila organ efektor (organ yang akan diaktifkan) sedang mendapat gangguan atau bila busur refleks patah/terputus pada suatu titik (misalnya pada paralisis nukleus atau paralisis infranukleus) atau bila kepekaan refleksnya berkurang (tanpa ada perubahan organis pada busur refleksnya,) misalnya pada kehilangan

kesadaran dan pada keadaan kolaps. Suatu refleks akan menjadi berlebihan atau meningkat bila pekerjaan dari inhibitor dari cerebrum atau hipotalamus ditiadakan atau bila ada iritasi pada busur refleksnya.

  • Refleks Kulit

Pada umumnya pada hewan sehat cubitan atau sentuhan atau tekanan punctum pada kulit menggunakan pensil tumpul akan menghasilkan refleks fleksor atau refleks menarik jika tekanan tersebut oada kulit tertentu atau pada digit. Refleks kulit dapat berupa refleks lipatan interdigit, refleks anus, dan refleks panniculus. Refleks lipatan interdigit disebut pula refleks pedal atau

refleks fleksor dilakukan dengan cara hewan direbahkan ke satu sisi dan dilakukan pencubitan kulit atau penekanan punctum pada interdigitnya. Sebagai balasannya hewan akan menarik kakinya. Refleks anus dan refleks perineal dilakukan dengan cara baik hewan rebahan ke satu sisi atau berdiri dan menyentuh area tersebut baik dengan jari maupun pensil punctum. Respon

yang segera terlihat adalah sfingter ani akan kembali konstriksi. Refleks panniculum dilakukan dengan cara menyentuh atau menekan kulit di pundak sampai dengan punngung dan kulit di belakang scapula.

  • Refleks Tendo

Tendo-tendo di kaki-kaki bertanggung jawab atas tegap berdiri dan gerak langkah. Tendo yang terpenting pada refleks ini adalah refleks scapula dan refleks triceps.

Pada refleks triceps, percuccion hammer dipukulkan atau diketukkan pada tendo otot- otot di proksimal. Hewan rebahan di satu sisi dan kaki ditahan pada region humerus dari bagian median hingga bagian ventral menggantung bebas.

  • Refleks kornea

Bila tepi kornea disentuh secara hati hati atau dengan lembut memakai benang maka hewan akan mengedipkan matanya .

  • Refleks pupil Jalur refleks pupil terletak di n. Opticus (sensor), n. Okulomotorius (constrictor) dan n.Sympathikus servikalis (dilatators). Pada umumnya pupil berdilatasi atau midriasis pada intensitas pencahayaan lingkungan atau ruangan yang rendah atau gelap akan melakukan pengecilan pupil atau berkonstriksi atau miosis pada intensitas pencahayaan tinggi atau terang. Cara melakukan pengujian refleks pupil sehat adalah sebagai berikut : hewan dibawa ke tempat gelap , atau salah satu atau kedua matanya ditutup dengan telapak tangan dan cahaya terang dari sumber cahaya misalkan senter diarahkan kepada salah satu bola matanya. Pupil akan segera berkontriksi secara mendadak ketika cahaya mengenai bola matanya. Pada mamalia, karena adanya penyebrangan dari n. Opticus kiri dan kanan pada chiasma optica, maka reaksi yang sama terjadi pada mata yang satunya lagi. Kontriksi pupil atau disebut miosis yang disertai dengan hilangnya refleks pupil dapat dijumpai pada keracunan pilokarpin, nikotin, morfin, stimulasi pusat okulomotor, bertambahnya tekanan intracranial, penyakit medulla spinalis pars servikalis, penyakit n.Sympathicus,dan kerusakan tulang tengkorak. Dilatasi pupil atau midriasis pada kedaaan seizure dan kehilangan kesadaran, penyakit - penyakit n. Opticusdan atrofi n. Retina , keracunan keracunan atropine, toksin botulinus, dan kerusakan n. Oculomotorius.

  • Refleks tegap Refleks tegap terdiri atas refleks arahan mata dan tonus leher, refleks menumpu dan refleks bangkit

    • 4. Pemeriksaan cairan Serebrospinal Cairan serebrospinal terdapat di ventrikel otak dan di permukaan subarachnoid sumsum tulang, bertindak sebagai media transport antara darah dengan sistem syaraf.

      • Cara mendapatkan cairan serebrospinal:

Siapkan jarum nomor 18 s/d 22 untuk hewan besar

Siapkan anestehesi umum, sekaligus untuk tindakan pembuatan mielografi dengan pemberian contrast media

Penyedotan cairan di cistern magna

Hewan terbius dalam posisi laterolateral , kepala difleksiokan.

Tangan kiri memegang sayap atlas dengan ibu jari memegang Krista occipitalis

Jarum spinal ditusukan di lini tengah antara crista occipitalis dan sayap atlas, tepat depan spina dorsalis tulang servikalis kedua.

  • Komponen cairan serebrospinal :

Fisik : jernih, berat jenis sedikit di atas berat jenis air, tidak berkoagulasi. Sedikit mengandung protein tetapi bebas fibrin.

Kimiawi : kadar chlor = 183-241 mmol/l, glukosa = 2,22-4,44 mmol/l, protein = 120-400 mg/l

  • Pemeriksaan Sistem saraf Dapat pula dilakukan dengan pemeriksaan syaraf pusat yaitu pada 12 saraf :

1)

Syaraf pusat

  • Syaraf I : N. Olfactorius (Pembau), coba dekatkan dengan rumput-rumputan

  • Syaraf II : N. Opticus (penglihatan), coba gerakkan jari telunjuk apakah mata sapi tersebut mengikuti / tidak dan juga periksa dengan opthalmoscop

  • Syaraf III : N. Oculomotorius

  • Syaraf IV: N. Trochlearis

  • Syaraf V : N. Trigeminus, lakukan rangsangan dan perhatikan reaksinya pada otot otot daerah kepala, mata, saliva dan lakrimasi.

  • Syaraf VI : N. Abducens, perhatikan gerakan palpebra atas, bola mata dan pupil.

  • Syaraf VII : N. Facialis (wajah), Perhatikan hewan apakah nampak bodoh (kelumpuhan bilateral) atau muka/bibir menggantung sebelah (perot) pada kelumpuhan unilateral.

  • Syaraf VIII : N. Auditorius (pendengaran/ keseimbangan), Perhatikan apakah hewan miring kesebelah, sempoyongan dan panggil hewan tersebut. Selanjutnya lakukan pemeriksaan dengan otoskop.

  • Syaraf IX : N. Glossopharyngeus, buka mulut, rangsang bagian belakang pharynk

  • Syaraf X : N. Vagus, menginervasi organ organ visceral

  • Syaraf XI : N. Spinalis Accesssorius, perhatikan scapula: pada paralisa unilateral salah satu scapula menggantung (kelumpuhan syaraf yang menginerfasi m. Trapezius/ m. Sternocephalicus).

  • Syaraf XII : N. Hypoglossus, perhatikan lidah menjulur keluar (paralisa bilateral) atau menjulur ke salah satu sisi mulut (paralisa unilateral) (Indarjulianto, 2011).

2) Syaraf perifer Stimulasi dapat dilakukan dengan cara meraba, memijit, menusuk, mencubit dengan jari atau dengan pinset.

  • Reflek superficial

    • Reflek conjunctiva (untuk serabut sensorik dari cabang ophtalmic dan cabang maxillaris syaraf cranial V)

    • Reflek cornea (untuk serabut sensorik dari cabang ophtalmic dan cabang maxillaris syaraf cranial V)

    • Reflek pupil (N. Opticus sensorik, N. Occulomotorius motorik, lakukan dengan cara menutup salah satu mata, buka, dan liat kecepatan reaksi pengecilan pupil

    • Reflek perineal (N. Spinalis), sentuh perineum, perhatikan reaksinya

    • Reflek pedal, sentuh dan pijit pada bagian interdigiti, perhatikan reaksi aecus reflek

      • Reflek profundal (hubungan neuromuscular)

        • Reflek patella, pukul ligamentum patella mediale. Bila reflek bagus m. quadriceps femoris akan berkontraksi mendadak/ tampak menendang.

        • Reflek tarsal, lakukan perkusi pada tendo achilles, bila refleknya baik maka m. gastrocnemicus akan kontraksi (tampak menendang)

          • Reflek organik

            • Reflek menelan, koordinasi neuromuscular didaerah pharynx dan esophagus, gangguan mekanisme ini terjadi pada tetanus, keracunan, paralisis

            • Reflek respirasi, pusat reflek di medulla oblongata, otak, medulla spinalis daerah thorax

            • Reflek defekasi, syaraf yang menginervasi spincter ani (Indarjulianto, 2011).

  • KESIMPULAN

BAB III

PENUTUP

Sistem syaraf berfungsi menerima, mengukur, dan mengatur informasi dalam bentuk sinyal melalui jalur sensor kemudian menyimpan, mengolah dan menjalankan informasi tersebut dengan cara mengaktifkan efektor melalui jalur motor. Factor- factor intrinsik sistem syaraf adalah reception,conduction, dan transmisi sinyal. Sistem sensor dan sistem motor bertanggungjawab atas pemeliharaan tegap berddiri atau postur dan gerak langkah normal. Selain daripada kedua sistem tersebut masih disiapkan lagi komponen otonom yang berfungsi mengontrol atau mengendalikan aktivitas otot polos dan kelenjar endokrin dalam mengatur lingkungan internal serta mekanisme umpan balik.

Pemeriksaan pada sistem syaraf dapat dilakukan dengan inspeksi , dilanjutkan dengan palpasi, uji reflex dan teknik pengambilan cairan serebrospinal, dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan 12 syaraf yang terdapat pada sistem syaraf pusat.

DAFTAR PUSTAKA

Indarjulianto, S. Raharjo, Slamet. Widiyono, Irkham. 2011. Diagnosa Klinik Veteriner. Yogyakarta : Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKH-UGM

McCurnin D.M. 1985. Clinical Textbook for Veterinary Technicians. London : W. B. Saunders

Surono. 2008. Petunjuk Praktikum Diagnosa Klinik Veteriner. Yogyakarta : Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKH-UGM