Anda di halaman 1dari 18

uji kapang kamir

LABORTATORIUM MIKROBIOLOGI & PARASITOLOGI


DIPLOMA III
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA
KENDARI

LAPORAN MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

ANGKA KAPANG KHAMIR


PADA SEDIAAN
HAND&BODY

OLEH
KELOMPOK : IV
KELAS : C
ASISTEN : NIRWATI RUSLI, S.Si., Apt

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA


KENDARI
2012
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. JUDUL
Angka Kapang Khamir pada sediaan kosmetik (handbody).
I.2. LATAR BELAKANG
Mikrobiologi merupakan bagian ilmu dari biologi, tersusun oleh banyak sub-bidang ilmu.
Pembagian ini tergantung arah atau orientasinya, apakah terhadap taksonomi (susunan dan
pengelempokan mikroba),terhadap habitat (tempat hidup dan perkembangan mikroba) atau
terhadap problema-problema (permasalahan yang ada atau ditimbulkan akibat mikroba).
Penemu mikroba pertama adalah Antony Van Leeuwenhoek (1632-1723). Penemuan ini
diawali oleh penemuaan mikroskop. Lensa mikroskop buatannya masih sangat terbatas,
perbesarannya (200-300 kali). Leeuwenhoek sebenarnya adalah seorang pedagang Belanda, tidak
pernah mengeyam pendidikan formal, dan hanya tahu tentang bahasa Belanda saja. Sekalipun
demikian, hasil penemuaannya membuka cakrawala baru tentan adanyamikroorganisme.
Mikroba, di alam terdapat hampir disemua tempat. Di udara mulai dari permukaan tanah
sampai pada lapisan atsmosfer yang paling tinggi. Dilaut terdapat sampai pada dasar laut yang
paling dalam. Didalam air, seperti sungai, selokan, kolam atau air sawah. Pada tanah yang subur,
kira-kira terdapat 50 juta bakteri per gram tanah.
Mikroba terdapat ditempat dimana manusia hidup. Terdapat pada udara yang kita hirup,
pada makanan yang kita makan, juga terdapat pada permukaan kulit, pada jari tangan, pada
rambut, dalam rongga mulut, usus dalam saluran pernapasan dan pada seluruh permukaan tubuh
yang terbuka dan dianggap sebagai flora normal. Akan tetapi, untunglah hanya sebagian kecil
dari mikroba itu yang dapat menimbulkan penyakit (pathogen). Pada setiap cm2 kulit terdapat
sekitar 10.000 sampai 100.000 bakteri.
Peran mikroba dalam lingkungan hidup pada saat ini yang telah dikembangkan antara
lain adalah sebagai jasad yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi lingkungan.
Disamping itu, peran jasad renik dapat secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh
lingkungan, sehingga pengembangan penggunaan mikroorganisme sebagai jasad parameter
alami (indicator alami) terhadap perubahan dalam linhkungan, mulai banyak digunakan. Hal
tersebut khususnya akibat adanya pencemaran dosmetik (dari rumah tangga) atau non domestic
(dari pabrik, industry, pertanian, dan lain sebagainya).

I.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah :
1. Untuk mengetahui kadar dan prinsip uji angka khapang khamir dalam sediaan kosemtik
(handbody).

I.4. PRINSIP
1. Penentuan angka kapang kamir berdasarkan perhitungan jumlah koloni yang berwarna hitam,
putih, dan warna lainnya yang tumbuh dipermukaan media PDA (Potato Dextrose Agar).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. TEORI UMUM


Kapang adalah mikroorganisme yang termaksud dalam anggota Kingdom Fungi yang
membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi yang resmi, sehingga anggota-
anggota dari kapang tersebar ke dalam filum Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota.

Kapang (Inggris: mold) merupakan anggota regnum Fungi ("Kerajaan" Jamur) yang
biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak diolah.
Sebagian besar kapang merupakan anggota dari kelas Ascomycetes. Kapang bereproduksi
dengan menggunakan spora. Spora kapang terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora
aseksual. Spora aseksual dihasilkan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak
dibandingkan spora seksual. Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil (diameter 1-10 μm) dan
ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara pasif menggunakan aliran udara. Apabila
spora tersebut terhirup oleh manusia dalam jumlah tertentu akan mengakibatkan gangguan
kesehatan.

Kapang adalah mikroba yang memiliki lebih dari satu sel berupa benang benang halus
yang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, dan berkembang biak dengan spora. Khamir
adalah mikroba bersel tunggal berbentuk bulat lonjong dan memperbanyak diri dengan cara
membentuk tunas (askospora), tetapi tidak membentuk miselum

Kapang merupakan multiseluler yang bersifat aktif karena merupakan organisme saprofit
dan mampu memecah bahan – bahan organic kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana. Di
bawah mikroskop dapat dilihat bahwa kapang terdiri dari benang yang disebut hifa, kumpulan
hifa ini dikenal sebagai miselium.

Kapang Monascus purpureus sudah digunakan sebagai bumbu masakan oriental sejak
berabad silam. Kapang ini menjadi sumber berbagai senyawa penting, seperti pigmen biotek,
toksin dan penghambat enzim. Kapang Monascus purpureus ini dapat berfungsi sebagai pewarna
alami dan penghambat aktivitas biologi. Terdapat 14 senyawa monacolin yang terdapat dalam
kapang merah ini, antara lain Monacolin K,J,L,M,X dan bentuk asam hidroksinya.

Angkak atau beras merah merupakan produk olahan dari beras yang difermentasikan oleh
kapang Monascus purpureus. Manfaat dari angkak adalah sebagai pengawet atau pewarna
makanan yang alami serta sebagai bahan alami yang terbukti efektif untuk mereduksi kadar
kolesterol dalam darah. Berkat berbagai senyawa itu angkak dapat dipakai untuk obat
memperbaiki peredaran darah sampai meredakan sakit lambung, mengobati memar, gangguan
pencernaan dan mulas pada bayi.

Prinsip uji angka Kapang pada makanan dan minuman sesuai metode analisis
mikrobiologi (MA PPOM 62/MIK/06) yaitu pertumbuhan kapang/khamir setelah cuplikan
diinokulasikan pada media yang sesuai dan diinkubasi pada suhu 20-25°C. Pada uji ini
digunakan Pepton Dilution Fluid (PDF) dan Air Suling Agar 0,05 % (ASA) sebagai larutan
pengencer, Potato Dextrose Agar (PDA) yang ditambahkan kloramfenikol (100 mg/l) (0,01%)
sebagai media pertumbuhannya.
Prosedur pengujian angka Kapang pada makanan dan minuman sesuai metode analisis
mikrobiologi (MA PPOM 62/MIK/06) yaitu dengan cara aseptik ditimbang 25 g atau dipipet 25
ml sampel ke dalam kantong plastic stomacher steril. Ditambahkan 225 ml PDF, dihomogenkan
dengan stomacher selama 30 detik sehingga diperoleh suspense dengan pengenceran 10-1 sesuai
Disiapkan 3 buah tabung yang masing-masing telah diisi 9 ml ASA. Dari hasil homogenisasi
pada penyiapan sampel yang merupakan pengenceran 10-1, dipipet 1 ml ke dalam tabung ASA
pertama, dikocok homogen hingga diperoleh pengenceran 10-2.

Dibuat pengenceran selanjutnya hingga 10-3. Dari masing-masing pengenceran dipipet 0,5
ml, dituangkan pada permukaan PDA yang sudah ditambahkan kloramfenikol segera digoyang
sambil diputar hingga suspense tersebar merata dan dibuat duplo. Untuk mengetahui sterilitas
media dan pengencer, dilakukan uji blangko. Pada satu lempeng PDA yang sudah ditambahkan
kloramfenikol diteteskan 0,5 ml pengencer dan disebaratakan dan untuk uji media digunakan
satu lempeng PDA + kloramfenikol. Seluruh cawan petri diinkubasi pada suhu 20-25° C dan
diamati pada hari ke tiga sampai ke lima.

Koloni kapang seperti kapas atau bulat dengan berbagai warna, permukaan kasar dan
koloni khamir memiliki bentuk bulat kecil putih, hampir menyerupai bakteri. Jumlah koloni yang
tumbuh diamati dan dihitung. Hasil pengamatan dan perhitungan yang diperoleh dinyatakan
sesuai persyaratan berikut, dipilih cawan petri dari salah satu pengenceran yang menunjukkan
jumlah koloni antara 50-150. Jumlah koloni dari kedua cawan dihitung lalu dikalikan dengan
faktor pengencerannya. Bila pada cawan petri dari dua tingkat pengenceran yang berurutan
menunjukkan jumlah antara 50 - 150, maka dihitung jumlah koloni dan dikalikan faktor
pengencerannya, kemudian diambil rata-rata.
Hasil dinyatakan sebagai angka kapang.dalam tiap gram atau tiap ml sampel. Untuk
beberapa kemungkinan lain yang berbeda dari pernyataan diatas, maka diikuti petunjuk sebagai
berikut :
a) Bila hanya salah satu diantara kedua cawan petri dari pengenceran yang sama menunjukkan
jumlah antara 10-150 koloni dihitung dari jumlah koloni dari kedua cawan dan dikalikan dengan
faktor pengencerannya.
b) Bila dari dua tingkat pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni lebih besar dari dua
kali jumlah koloni pada pengenceran dibawahnya, maka dipilih tingkat pengenceran terendah .
Bila pada pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni kurang dari dua kali jumlah
koloni pengenceran dibawahnya, maka diambi langka rata-rata dari jumlah koloni dari kedua
pengenceran tersebut. Hasil dinyatakan sebagai angka kapang dalam tiap gram sampel
c) Bila dari seluruh cawan petri tidak ada satupun yang menunjukkan jumlah antara 10-150 koloni,
maka dicatat angka sebenarnya dari tingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai angka
kapang perkiraan.
d) Bila tidak ada pertumbuhan pada semua cawan dan bukan disebabkan karena faktor inhibitor,
maka angka kapang dilaporkan sebagai kurang dari satu dikalikan dengan faktor pengenceran
terendah ( < 1 x factor pengenceran terendah) (BBPOM RI,2006).

Beberapa kapang dapat langsung bersifat patogenik dan menyebabkan penyakit pada
manusia dan tanaman. Beberapa kapang merupakan penyebab berbagai infeksi pernafasan dan
kulit pada manusia. Beberapa jenis lain selama proses pembusukan pangan atau pertumbuhannya
dalam bahan pangan dapat memproduksi racun yang dikenal sebagai mikotoksin. Sebagai suatu
kelompok zat, mikotoksin dapat menyebabkan gangguan hati, ginjal dan susunan syaraf pusat
dari manusia maupun hewan ( Winarno, 1980 ).

Kapang adalah multiseluler, terdiri dari berbagai sel yang bergabung jadi satu. Di bawah
mikroskop dapat dilihat bahwa kapang terdiri dari benang yang disebut hifa, kumpulan hifa ini
dikenal sebagai miselium. Kapang tumbuh dengan cara memperpanjang hifa pada ujungnya,
dikenal sebagai pertumbuhan apical atau pada bagian tengah hifa yang disebut pertumbuhan
iterkalar. Hifa pada beberapa kapang mempunyai penyekat melintang atau septa dan adanya
septa ini dipergunakan untuk identifikasi. Hifa tersebut memanjang di atas atau tembus melalui
medium di mana kapang itu tumbuh (Soekarto, 2008).
Dalam laboratorium, sterilisasi media menggunakan otoklaf yang menggunakan tekanan
yang disebabkan uap air, sehngga suhunya mencapai 1210C. Sterilisasi terlaksana bila mencapai
tekanan 15 lbs dan suhu 1210C selama 15 menit.
Secara kimiawi, media biakan dipilah menjadi media sintetik dan media non sintetik. Pada
media sintetik, kandungan dan isi bahan yang ditambahkan diketahui secara terperinci. Media
sintetik sering digunakan untuk mempelajari sifat faali dan genetika mikroba. Media nonsintetik
menggunakan bahan yang terdapat dari alam; bahan-bahan ini biasanya tidak diketahui
kandungan kimiawinya secara rinci. Media nonsintetik sering digunakan dalam laboratorium
mikrobiologi karena mudah disiapkan dan harganya lebih murah dibanding media sintetik. Selain
itu media ini dapat digunakan untuk membiakan berbagai macam mikroba.

II.2. URAIAN MIKROBA


II.2.1. KLASIFIKASI MIKROBA
Klasifikasi adalah suatu istilah yang berkaitan dan seringkali digunakan atau
dipertukarkan dengan taksonomi. Taksonomi adalah ilmu mengenai klasifikasi atau penataan
sistematik organisme kedalam kelompok atau kategori yang disebut taksa (tunggal : takson).
Tetapi penyusunan tasonomi mikroorganisme mensyaratkan diidentifikasi sebagaimana mestinya
dan diberi nama. Kegiatan secara keseluruhan, yakni tentang pengklasifikasian, penamaan dan
pengidentifikasian mikroorganisme, disebut sebagai sistematika mikroba.
Setelah Leeuwehoek menyelami dunia mikroorganisme, sarjana zooloi seperti Muller
(1773) dan Ehenberg (1838) menggoongkan bakteri pada protozoa. Pada tahun 1872, Cohn
sarjana botani bangsa jerman, mengetahui adanya cirri-ciri yang menyebabkan ia lebih condong
menggolongkan bakteri (salah satu mikroorganisme) kepada tumbuhan. Klasifikasi bakteri
secara agak lengkap pada tahun 1875, dan sejak itu diadakan penyempurnaan secara berangsur-
angsur sampai sekarang.
Criteria dalam klasifikasi berbeda dengan mengklasifikasikan tumbuhan tingkat
tinggi dan hewan tingkat tinggi, yang didasarkan utama pada sifat-sifat morfologinya.

Klasifikasi Kapang
Berdasarkan bentuk kapang yang memiliki lebih dari satu sel berupa benang benang
halus yang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, dan berkembang biak dengan spora.
Khamir adalah mikroba bersel tunggal berbentuk bulat lonjong dan memperbanyak diri dengan
cara membentuk tunas (askospora), tetapi tidak membentuk miselum. Adapun klasifikasi dari
kapang adalah sebagai berikut :

Klasifikasi Kapang, Fungi tergolong Eumycetes, terdiri dari 4 kelas :


1) Phycomycetes
2) Ascomycetes
3) Basidiomycetes
4) Deuteromycetes (Rahmawan, 2010).

II.3. MORFOLOGI MIKROBA


 Morfologi Kapang
Kapang Fungi multiseluler mempunyai miselium atau filament, dan pertumbuhannya
dalam bahan makanan mudah sekali dilihat, yakni seperti kapas. Pertumbuhan fungi mula-mula
berwarna putih, tetapi bila telah momproduksi spsra maka akan terbentuk berbagai warna
tergantung dari jenis kapang. Sifat-sifat kapang baik penampakan mikroskopik ataupun
makroskopik digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi kapang.

Kapang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifa, yaitu hifa
tidak bersekat atau nonseptat dan hifa bersekat atau septet yang membagi hifa dalam mangan-
mangan, dimana setiap mangan mempunyai inti satu atau lebih,.dinding penyekat pada kapang
disebut dengan septum yang tidak bertutup rapat sehingga sitoplasma masih dapat bebas
bergerak dari satu ruang keruang lainnya.

Kapang tidak berseptat intinya tersebar disepanjang septa.


Koloni kapang seperti kapas atau bulat dengan berbagai warna, permukaan kasar dan koloni
khamir memiliki bentuk bulat kecil putih, hampir menyerupai bakteri memiliki lebih dari satu sel
berupa benang benang halus yang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, dan
berkembang biak dengan spora. Khamir adalah mikroba bersel tunggal berbentuk bulat lonjong
dan memperbanyak diri dengan cara membentuk tunas (askospora), tetapi tidak membentuk
miselum
II.4. URAIAN SAMPEL
 HAND&BODY LOTION (CITRA)
Whitening Hand Body Lotion dengan Extra Parfum dan Kandungan Vitamin C dan E,
Memberikan Kesegaran dan Melembutkan serta Mencerahkan Kulit. Vitamin E bermanfaat
Melembabkan Kulit.Tidak Lengket dan Mudah Diserap Kulit, Cocok untuk anda yang sering
beraktifitas, kulit lebih Cerah, Putih, Halus dan Lembut.
Pemerian : cairan, kental dan bau aromatik
Netto : 120 mL
Komposisi :

 Water
 stearid acid
 sopropyl palmitate
 glyceryl stearate
 mineral oil
 ethyihexyl methoxycinnamate
 Niacinamide
 Glycerin
 Perfume
 Dimethicone
 butyl methoxydibenzoylmethane
 Phenoxyethanol
 potassium hydroxide
 Carbomer
 titanium dioxide
 glutamid acid
 cetyl alcohol
 Methylparabe
 sodium PCA
 Propylparaben
 Mica
 sodium hydroxide
 disodium EDTA
 pearl powder
 BHT

Gambar :

BAB III
METODE PRAKTIKUM

III.1. ALAT DAN BAHAN


III.1.1. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN

1. Autoklaf
2. Cawan petri
3. Bunsen
4. Erlenmeyer 250 ml, 500 ml
5. Gelas kimia
6. Incubator
7. Kapas
8. Kasa
9. Lampu spiritus
10. Mikro pipet dan tip
11. Oven
12. Rak tabung
13. Spoit
14. Tabung reaksi
15. Timbangan digital
III.1.2. BAHAN YANG DIGUNAKAN
1. Sediaan kosmetik (handbody citra)
2. Media
a. PDA (Potato Dekstrose Agar)
b. NaCl fisiologi (sterilisasi)

III.2. CARA KERJA


III.2.1. PENYIAPAN SAMPEL
a. STERILISASI ALAT
1. Cawan petri dan tabung reaksi dibersihkan, dengan menggunakan air. Kemudian dikeringkan.
Setelah itu dibungkus.
2. Sebelum tabung reaksi dibungkus, tabung disumbat dengan menggunakan kasa.
3. Setelah tabung reaksi dan cawan petri dibungkus, kemudian masukkan kedalam oven dengan
suhu 1800C selama 1 jam untuk disterilisasikan
4. Setelah 1 jam, tabung reaksi dan cawan petri yang dibungkus tersebut dikeluarkan dari oven.

b. PEMBUATAN MEDIA
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Ditimbang PDA sebanyak 9,375 gram pada pada gelas kimia. Kemudian masukkan kedalam
Erlenmeyer 250 ml.
3. Dipipet aquades sebanyak 250 ml masukkan dalam Erlenmeyer kemudian tutup dengan kapas
dan kocok homogeny (duplo).
4. Kemudian PDA dipanaskan sampai mendidih hingga media larut dan homogeny
5. Setelah dipanaskan, disterilisasi dengan autoklof dengan suhu 1210C selama 15 menit.
Kemudian didinginkan, masukkan kedalam kulkas.
6. Media yang sudah padat dipanaskan kembali hingga mencair, dinginkan.
7. Media siap digunakan.

III.2.2. PENGUJIAN SAMPEL


1) Ditimbang 10 gram sampel (handbody) dalam gelas Erlenmeyer steril, kemudian tutup dengan
kapas.
2) Kemudian dilarutkan dengan LB sebanyak 90 mL dan dikocok homogen
3) Disiapkan 6 buah tabung, beri label 10-2 sampai 10-7, kemudian masukkan 9 ml LB kedalam
tabung reaksi satu persatu.
4) Kemudian dilakukan pengenceran sampel :
 Dimasukkan 1 mL sampel kedalam tabung reaksi pertama
 Dikocok homogen.
 Kemudian dipipet 1 mL dari tabung reaksi pertama ketabung reaksi kedua, kocok homogeny.
 Dipipet 1 mL dari tabung reaksi kedua ke tabung reaksi ketiga, kocok homogen.
 Dipipet 1 mL dari tabung reaksi ketiga ke tabung reaksi keempat, kocok homogen.
 Dipipet 1 mL dari tabung reaksi keempat ke tabung reaksi kelima, kocok homogen.
 Dipipet 1 mL dari tabung reaksi kelima ke tabung reaksi keenam, kocok homogen.
5) Media PDA dimasukkan kedalam cawan petri sebanyak 15-20 mL dengan menggunakan spoit.
6) Kemudian, diamkan hingga mengeras (menjadi agar).
7) Dipipet 0,5 mL sampel dari tabung reaksi masing-masing kedalam cawan petri, dengan pipet
mikro.
8) Kemudian, diratakan sampel dengan cawan, dan diputar-putar
9) Setelah selesai dibungkus kembali cawan petri dengan kertas
10) Kemudian di inkubasi selama 5 x 24 jam
11) Setelah itu, dihitung koloni dari dalam cawan petri masing-masing.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1. HASIL PENGAMATAN


I. Tabel pengamatan
Dalam percobaan AKK dengan sampel jamu, gorengan dan handbody dapat ditemukan koloni
yang tumbuh dalam cawan petri, dapat dilihat pada tabel berikut :

a Percobaan AKK
Jumlah koloni g/ pengenceran tingkat
Hari/ IV.2.
Kelompok Sampel
Tanggal Blanko 10-2 10-3 10-4 10-5 10-6 10-7 GA
MBA
Kamis, Hand
IV 7 6 4 3 3 3 6 R
26/4/2012 &body
PEN
Kamis, GAM
VI Gorengan 9 2 2 2 2 6 6 ATA
26/4/2012
N
Kamis,
I Jamu 8 4 2 2 4 3 4 a. Tabu
26/4/2012 ng
Reaks
i

b. cawan petri (blanko)

b Cawan Petri 10-2


c Cawan Petri 10-3

d Cawan Petri 10-4

e Cawan Petri 10-5


f Cawan Petri 10-6

g Cawan Petri 10-7

IV.3. PERHITUNGAN
Ket :
Pada hasil pengamatan ini, jumlah koloni tidak dapat dihitung karena tidak mencukupi
range yaitu 10-150 . dan syarat yang menyatakan jumlah koloni dapat dihitung adalah
apabila jumlah koloni memenuhi ketentuan pencapaian range yakni antara 10-150.

BAB V
PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini yaitu Angka kapang khamir (AKK) dalam sebuah sampel
handbody. Dimana tujuan dari percobaan (praktikum) kali ini adalah untuk mengetahui jumlah
kadar dan prinsip uji Kapang Khamir pada sediaan Handbody yang berupa padatan. Semua
tekhnik atau prosedur pengejaan praktikum dilakukan dengan teknik aseptik. Baik pada alat-alat
yang digunakan maupun pada bahan-bahan yang akan dipakai dalam praktikum.
Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah cawan petri
lampu spiritus, autoklaf, oven, incubator, Erlenmeyer 250 mL dan 500 mL, tabung reaksi, spoit,
mikropipet, tip, timbangan digital dan gelas kimia. Serta bahan yang digunakam adalah
Handbody, chloramphenicol, NaCl fisiologi dan media yang digunakan adalah media PDA
(potato Dekstro Agar). Alat-alat yang akan digunakan terlebih dahulu disterilkan/ disterilisasi
dengan menggunakan alat autoklaf pada suhu 1210C dengan tekanan selama 15 menit.
Tujuannya untuk mencegah adanya kontaminasi biakan murni dari mikroorganisme luar. Adapun
alat-alat yang disterilkan adlah cawan petri, tabung reaksi, dan Erlenmeyer. Kemudian alat
tersebut dibersihkan dengan menggunaka air dan kemudian dikeringkan. Setelah itu dibungkus
dengan menggunakan kertas. Lalu dimasukkan dalam oven dengan suhu i800C selama 1 jam.
Setelah 1 jam cawan petri tersebut dikeluarkan dari oven.
Pada proses pembuatan Media, Media yang digunakan adalah Media PDA (potato
Dekstrose Agar). PDA ditimbang sebanyak 9,375 gram pada gelas kimia dan dimsukkan
kedalam Erlenmeyer 250 mL kemudian larutkan dengan aquadest.
PDA kemudian dipanaskan sampaui mendidih dan setelah itu diangkat kemudian
didinginkan sampai memadat hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah media
yang akan digunakan benar-benar siap digunakan pada saat media akan digunakan, media
tersebut dipanaskan kembali sampai mencair. Proses pemanasan ini dilakukan pada suhu yang
tidak terlalu panas agar media padat akan cepat membeku.
Dalam percobaan ini, prosedur kerja uji Angka Kapang Kamir, sampel yang ditimbang
adalah Handbody sebanyak 10 gram kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer steril, lalui
dilarutkan dengan LB 90 mL dan dikocok sampai homogeny. Kemudian siapkan tabung reaksi
yang telah disterilkan sebanyak 6 buah. Kemudian masing-masing diberi label 10-2 sampai 10-
7
kemudian dimasukkan LB sebanyak 9 mL. . Suspensi 10-1 di Erlenmeyer dipipet 1 mL,
kemudian pindahkan ketabung reaksi yang berisi 9 mL pengenceran NaCl fisiologi. Diperoleh
pengenceran 10-2 dan dilakukan sampai 10-7 .sebanyak 1 mL, kemudian tuangkan PDA dan TTC
pada cawan petri. Proses pemindahan media ketabung reaksi dilakukan secara aseptic agar
mendapatkan hasil yang baik.
Setelah itu, media di pindahkan ke cawan petri. Media kemudian di sebar secara merata
dengan cara di goyang-goyangkan, dan tunggu sampai Media benar-benar memadat. Setelah
media memadat, cawan petri dibungkus kembali dengan menggunakan kertas dan di inkubasi
pada suhu 200C sampai 250C selama 5 hari dengan posisi cawan petri tidak terbalik. Setelah itu,
dilakukan pengamatan dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh, yaitu koloni yang berwarna
hitam ataupun putih.
Kemudian didapat tabel hasil pengamatan pada sampel handbody pada hari kamis,26
April 2012 pada pukul 04.00 yakni, sebagai berikut :

 Tabel pengamatan AKK :


No. Hasil Pengenceran Jumlah koloni yang tumbuh

1. Blanko 7
2. 10-2 6
3. 10-3 4
4. 10-4 3
5. 10-5 3
6. 10-6 3
7. 10-7 6

Range : 10 – 150
Jumlah koloni pada hasil pengenceran 10-2 sampai 10-7 tidak ada yang mendekati range.

Pada hasil pengenceran tersebut, jumlah koloni yang tumbuh tidak beraturan. Untuk
pengenceran 10-2 sampai 10-6 sudah tepat karena hasil praktikum menunjukkan bahwa jumlah
koloni yang tumbuh pada media PDA semakin sedikit pada pengenceran yang semakin tinggi.
Hal ini disebabkan oleh konsentrasi sampel yang semakin berkurang. Akan tetapi, pada
pengenceran10-7 koloninya justru semakin meningkat. Hal ini tidaklah tepat karena pada
pengenceran 10-7 seharusnya jumlah koloninya akan semakin berkurang. Hal ini terjadi karena
disebabkan adanya kontaminasi denga lingkungan sekitarnya atau pada saat pengocokannya
kurang homogen dan [ada saat cawan petri digoyangkan, suspense tidak tersebar merata
sehingga jumlah kolon yang tumbuh tidak sesuai pada prosedur yang yang diinginkan.
Pada hasil pengamatan ini pula, koloni yang tumbuh tidak dapat dihitung dengan
mengalikan pada faktor pengenceran. Karena jumlah koloni yang tumbuh tidaklah mencapai
range yakni antara 10 – 150. Sedangkan yang menyatakan bahwa koloni dapat dihitung apabila
jumlah koloni memenuhi ketentuan jumlah koloni 10 – 150.

BAB VI
PENUTUP

VI.1. KESIMPULAN
Kapang (mould/filamentous fungi) merupakan mikroorganisme anggota Kingdom Fungi
yang membentuk hifa Dari hasil praktikum yang dijalani penulis dapat menyimpulkan beberapa
hal yaitu sampel handbody pada hari kamis,26 April 2012 pada pukul 04.00 yakni, sebagai
berikut :
 Tabel pengamatan AKK :
No. Hasil Pengenceran Jumlah koloni yang tumbuh

1. Blanko 7
2. 10-2 6
3. 10-3 4
4. 10-4 3
5. 10-5 3
6. 10-6 3
7. 10-7 6

Pada hasil pengamatan ini, koloni yang tumbuh tidak dapat dihitung dengan mengalikan
pada faktor pengenceran. Karena jumlah koloni yang tumbuh tidaklah mencapai range yakni
antara 10 – 150. Sedangkan yang menyatakan bahwa koloni dapat dihitung apabila jumlah koloni
memenuhi ketentuan jumlah koloni 10 – 150.

VI.2. SARAN
Adapun saran yang ingin diajukan dalam pelaksanakan praktikum ini adalah diharapkan
semua praktikan lebih serius dan disiplin lagi dalam melakukan praktikum berikutnya. Dan
sebaiknya para praktikan sebelum melakukan sterilisasi harus melakukan berdasarkan prosedur
tehnik pengerjaan yakni pengerjaan atau prosedur kegiatan di laboratorium mikrobiologi harus
dikerjakan secara aseptic. Dengan tujuan untuk mencegah adanya kontaminasi silang atau
tercemarnya biakan murni dari mikroorganisme luar baik melalui kontak langsung dengan
permukaan atau tangan sekaligus melindungi diri dari infeksi dan orangorang yang berada di
dalam laboratorium.