Anda di halaman 1dari 45

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan. secara umum adalah segala

upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu,

kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang

diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan. Dan batasan

ini tersirat unsur-unsur input (sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses

(upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output

(melakukan apa yang diharapkan).Hasil yang diharapkan dari suatu

promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau

perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif

oleh sasaran dari promosi kesehatan. (Notoadmojo, 2012) dan pendidikan

kesehatan akan berhasil bila pesan atau informasi yang akan disampaikan

kepada komunikan disusun dengan terencana, efektif dan efisien dengan

metoda yang tepat. (Notoadmojo,2005)

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan Kesehatan

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pendidikan kesehatan dapat

mencapai sasaran (Saragih, 2010) yaitu :


a. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap

informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan bahwa

semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin mudah seseorang

menerima informasi yang didapatnya.

b. Tingkat Sosial Ekonomi

Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin mudah pula

dalam menerima informasi baru.

c. Adat Istiadat

Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap adat

istiadat sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan.

d. Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh

orang-orang yang sudah mereka kenal, karena sudah ada kepercayaan

masyarakat dengan penyampai informasi.

e. Ketersediaan waktu di masyarakat

Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat aktifitas

masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat dalam

penyuluhan
3. Metode Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoadmojo (2012), berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin

dicapai, penggolongan metode pendidikan ada 3 (tiga) yaitu:

a. Metode berdasarkan pendekatan perorangan

Metode ini bersifat individual dan biasanya digunakan untuk membina

perilaku baru, atau membina seorang yang mulai tertarik pada suatu

perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakannya pendekatan

individual ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang

berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru

tersebut.

Ada 2 bentuk pendekatannya yaitu :

1) Bimbingan dan penyuluhan (Guidance and Counceling)

2) Wawancara

b. Metode berdasarkan pendekatan kelompok

Penyuluh berhubungan dengan sasaran secara kelompok. Dalam

penyampaian promosi kesehatan dengan metode ini kita perlu

mempertimbangkan besarnya kelompok sasaran serta tingkat

pendidikan formal dari sasaran.

Ada 2 jenis tergantung besarnya kelompok, yaitu :

1) Kelompok besar

2) Kelompok kecil
c. Metode berdasarkan pendekatan massa

Metode pendekatan massa ini cocok untuk mengkomunikasikan pesan-

pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Sehingga sasaran

dari metode ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan

umur, jenis kelamin, pekerjaan, status social ekonomi, tingkat

pendidikan,dan sebagainya, sehingga pesan-pesan kesehatan yang

ingin disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat

ditangkap oleh massa.

4. Media Pendidikan Kesehatan

Ada beberapa bentuk media penyuluhan antara lain (Notoadmojo, 2012) :

a. Berdasarkan stimulasi indra

1) Alat bantu lihat (visual aids) yang berguna dalam membantu

menstimulasi indra penglihatan

2) Alat bantu dengar (audio aids) yaitu alat yang dapat membantu

untuk menstimulasi indra pendengar pada waktu penyampaian

bahan pendidikan/pengajaran

3) Alat bantu lihat-dengar (audio visual aids)

b. Berdasarkan pembuatannya dan penggunaannya

1) Alat peraga atau media yang rumit, seperti film, film strip, slide,

dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor

2) Alat peraga sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan-

bahan setempat
c. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur media kesehatan

1) Media Cetak

a) Leaflet

Merupakan bentuk penyampaian informasi kesehatan melalui

lembaran yang dilipat. Keuntungan menggunakan media ini

antara lain : sasaran dapat menyesuaikan dan belajar mandiri

serta praktis karena mengurangi kebutuhan mencatat, sasaran

dapat melihat isinya disaat santai dan sangat ekonomis, berbagai

informasi dapat diberikan atau dibaca oleh anggota kelompok

sasaran, sehingga bisa didiskusikan, dapat memberikan

informasi yang detail yang mana tidak diberikan secara lisan,

mudah dibuat, diperbanyak dan diperbaiki serta mudah

disesuaikan dengan kelompok sasaran, Sementara itu ada

beberapa kelemahan dari leaflet yaitu : tidak cocok untuk

sasaran individu per individu, tidak tahan lama dan mudah

hilang, leaflet akan menjadi percuma jika sasaran tidak

diikutsertakan secara aktif, serta perlu proses penggandaan yang

baik.

b) Booklet

Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan

kesehatan dalam bentuk tulisan dan gambar. Booklet sebagai

saluran, alat bantu, sarana dan sumber daya pendukungnya


untuk menyampaikan pesan harus menyesuaikan dengan isi

materi yang akan disampaikan.

booklet memiliki beberapa kelebihan yaitu:

(1) Dapat dipelajari setiap saat, karena disain berbentuk buku.

(2) Memuat informasi relatif lebih banyak dibandingkan

dengan poster.

c) Flip chart (lembar balik)

Media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam

bentuk buku di mana tiap lembar berisi gambar peragaan dan

lembaran baliknya berisi kalimat sebagai pesan kesehatan yang

berkaitan dengan gambar. Keunggulan menggunakan media ini

antara lain : mudah dibawa, dapat dilipat maupun digulung,

murah dan efisien, dan tidak perlu peralatan yang rumit.

Sedangkan kelemahannya yaitu terlalu kecil untuk sasaran yang

berjumlah relatif besar, mudah robek dan tercabik.

2) Media Elektronik

a) Video dan film strip

Keunggulan penyuluhan dengan media ini adalah dapat

memberikan realita yang mungkin sulit direkam kembali oleh

mata dan pikiran sasaran, dapat memicu diskusi mengenai sikap

dan perilaku, efektif untuk sasaran yang jumlahnya relatif

penting dapat diulang kembali, mudah digunakan dan tidak

memerlukan ruangan yang gelap. Sementara kelemahan media


ini yaitu memerlukan sambungan listrik, peralatannya beresiko

untuk rusak, perlu adanya kesesuaian antara kaset dengan alat

pemutar, membutuhkan ahli profesional agar gambar

mempunyai makna dalam sisi artistik maupun materi, serta

membutuhkan banyak biaya.

b) Slide

Keunggulan media ini yaitu dapat memberikan berbagai realita

walaupun terbatas, cocok untuk sasaran yang jumlahnya relatif

besar, dan pembuatannya relatif murah, serta peralatannya

cukup ringkas dan mudah digunakan. Sedangkan kelemahannya

memerlukan sambungan listrik, peralatannya beresiko mudah

rusak dan memerlukan ruangan sedikit lebih gelap.

B. Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa, dan raba. Sebagian pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2012).

2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo

(2012) mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya.Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari

atau rangsangan yang telah diterima.Oleh sebab itu, tahu ini adalah tingkat

pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang

tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dapat menyebutkan,

menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini

dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,

metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis

ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan,

membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.

3. Proses Perubahan Pengetahuan

Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru), maka harus tahu

terlebih dahulu arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau

keluarganya. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perihal yang

didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak

didasari oleh pengetahuan. (Notoatmodjo, 2012)

4. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), ada dua faktor yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor

internal meliputi status kesehatan, intelegensi, perhatian, minat, dan bakat.

Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, masyarakat, dan metode

pembelajaran.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut

Wawan dan Dewi (2010) antara lain :


a. Faktor internal

1) Tingkat pendidikan

Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang terhadap

perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang

menentukan manusia untuk berbuat untuk mencapai keselamatan dan

kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi

yang akhirnya dapat mempengaruhi seseorang. Pada umumnya makin

tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi

2) Pekerjaan

Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga

3) Umur

Semakin cukup umur individu, tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja

4) Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak

akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas.

b. Faktor Eksternal

1) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia

dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan

perilaku orang atau kelompok.

2) Sosial budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi

dari sikap dalam menerima informasi

5. Cara Mengukur Pengetahuan

Menurut Riyanto (2011) untuk mengukur pengetahuan dapat menggunakan

angket, atau kuesioner dan interview atau wawancara. Menurut

Notoatmodjo (2012) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang diukur

dari subjek penelitian atau responden. Penilaian yang digunakan peneliti

adalah dengan menggunakan nilai murni hasil pengisian kuesioner untuk

menentukan pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan

kesehatan dengan rentang 0-100.

Rumus Hitung Skor Pengetahuan


Jumlah Benar
X 100
Jumlah Soal

C. Sikap

1. Pengertian Sikap

Sikap merupakan kumpulan gejala atau sindroma dalam merespon stimulus

atau suatu objek, sehingga melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala

kejiwaan lainnya (Wawan dan Dewi, 2010).Sikap merupakan reaksi atau

respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau

objek. Sikap merupakan sesuatu yang tidak dapat langsung dilihat tetapi

hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap
secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian rekasi terhadap

stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang

bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Menurut Newcomb dalam

Notoadmojo (2012), sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk

bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum

merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi

tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan

merupakan reaksi terbuka.

2. Komponen Sikap

Menurut Allport (1954) dalam Notoadmojo (2012) menjelaskan bahwa sikap

itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu ;

a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek

b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh

(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,

keyakinan dan emosi memegang peranan yang penting.

3. Tingkatan Sikap

Ada beberapa tingkatan dari sikap yaitu :

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek) .

b. Merespons (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan

tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Sebab dengan

seseorang mengerjakan suatu pekerjaan terlepas dari pekerjaan itu benar

atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

c. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan

segala risiko merupakan merupakan sikap yang paling tinggi.

4. Proses Pembentukan dan Perubahan Sikap

Menurut (azwar, 2011) Sikap dapat terbetuk atau berubah melalui empat

macam:

a. Adopsi

Kejadian- kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang

dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri

individu dan memengaruhi terbentuknya suatu sikap.

b. Diferensiasi

Dengan berkem bangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan

dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap

sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap

objek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula.

c. Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan

berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tentu sehingga

akhirnya terbentuk sikap menegenal hal tersebut.

d. Trauma

Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang

meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan.

Pengalaman-pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan

terbentuknya sikap.

5. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Sikap

Menurut Anwar (2005) dalam buku Notoadmodjo (2012) ada beberapa

faktor yang mempengaruhi sikap terhadap obyek sikap antara lain :

a. Pengalaman pribadi, untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap,

pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu,

sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut

terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting, pada umumnya individu

cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang

dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh

keinginan untuk menghindari konflik dengan orang penting tersebut.

c. Pengaruh kebudayaan, tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan

garis yang mengarahkan sikap kita terhadap berbagai masalah.

Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena


kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu

masyarakat asuhannya.

d. Media massa, dalam pemberitaan surat kabar meupun radio atau media

komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara

obyektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya

berpengaruh terhadap sikap konsumennya.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama, konsep moral dan ajaran dari

lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem

kepercayaan, tidak mengherankan jika pada gilirannya konsep tersebut

mempengaruhi sikap.

f. Faktor Emosional, kadang kala suatu bentuk merupakan pernyataan yang

disadari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau

pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

6. Cara Mengukur Sikap

Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu

mengenai objek sikap yang hendak diungkap. Pernyataan sikap dapat bersisi

hal yang positif mengenai objek sikap, yaitu kalimatnya bersifat mendukung

atau memihak pada objek sikap (favourable). Dan mungkin pula berisi hal

negative mengenai objek sikap yang bersifat tidak mendukung maupun

kontra terhadap objek sikap (unfavourable). Suatu skala sikap sedapat

mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favourable dan tidak

favourable dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian pernyataan yang

disajikan tidak semua positif dan tidak semua negative yang seolah-olah isi
skala memihak atau tidak mendukung sama sekali objek sikap. (Azwar, 2005

dalam A. Wawan dan Dewi M, 2011). Beberapa cara yang dapat dilakukan

untuk mengukur sikap adalah sebagai berikut :

a. Skala Likert

b. Skala Guttman

c. Rating Scale

d. Semantic Deferential

Keempat jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran sikap akan

mendapatkan data interval atau rasio, (Sugiyono,2011).

Pendekatan yang dilakukan peneliti untuk mengukur sikap adalah dengan

menggunakan skala Guttman, yaitu “setuju-tidak setuju” untuk mendapatkan

jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan dalam bentuk pernyataan

dengan menggunakan lembar checklist, jawaban dapat dibuat skor tertinggi 1

dan terendah 0. Hasil ukur sikap diberi skor dengan cara menjumlahkan total

skor dari tiap jawaban reponden (Sedarmayanti dan Hidayat, 2011) dan untuk

menentukan sikap baik dan kurang baik peneliti mengadopsi cara pengukuran

sikap dengan metode penskalaan Thrustone yang sering disebut sebagai

metode interval tampak setara, menurut (Azwar,S 2011) untuk menentukan

skor sikap responden, Nilai skala seluruh pernyataan yang disetujui oleh

responden kemudian dijadikan dasar pemberian skor, melalui perhitungan

median atau mean nilai-nilai skala tersebut. Skor responden yang telah

dihitung lewat cara komputerisasi mean atau komputerisasi median

merupakan representasi sikap responden. Jadi, suatu skor sikap responden


yang > mean / median menunjukkan adanya kecenderungan bersikap positif

dan < mean / median menunjukan adanya kecenderungan sikap negatif.

D. Usia Sekolah Dasar

Usia Sekolah Dasar disebut juga periode intelektualitas, atau periode

keserasian bersekolah. Pada umur 6-7 tahun seorang anak dianggap sudah

matang untuk memasuki sekolah. Periode Sekolah Dasar terdiri dari periode

kelas-kelas rendah, dan periode kelas tinggi.

Pada kelas-kelas rendah (umur 6-9 tahun), seorang anak biasanya memiliki ciri:

1. Adanya korelasi positif yang cukup tinggi antara kondisi fisik dan prestasi.

2. Tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang ada dalam dunianya.

3. Cenderung memuji diri sendiri.

4. Seringkali membandingkan dirinya dengan temannya.

5. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak

penting.

6. Pada periode ini (utamanya usia 6-8 tahun), seorang anak menghendaki nilai

rapor yang baik, tanpa melihat nilai rapornya.

Adapun pada kelas-kelas yang lebih tinggi (10-12 tahun) ini yang merupakan

masa remaja sebab menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18

tahun (Soetjiningsih, 2004). Remaja tersebut memiliki ciri :

1. Punya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkrit.

2. Realistik, ingin tahu dan ingin belajar.


3. Menjelang akhir periode (lulus SD) mulai terlihat minat kepada hal-hal atau

mata pelajaran khusus sebagai tanda mulai menonjolnya bakat – bakat

khusus pada diri seorang anak.

4. Sampai usia 11 tahun, seorang anak membutuhkan guru atau orang dewasa

lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas

usia ini pada umumnya anak mulai mempunyai keterampilan untuk

menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa tergantung bantuan orang lain.

5. Anak memandang angka rapor sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi

sekolahnya.

6. Mulai senang membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama,

sekaligus membuat peraturan sendiri, yang berbeda dari aturan yang

sebelumnya (Kemenkes RI, 2008)

E. Fase Usia Sekolah Dasar

1. Perkembangan Intelektual

Pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan

intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut

kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti : membaca,

menulis, dan menghitung).

Sebelum masa ini, yaitu masa prasekolah, daya pikir anak masih bersifat

imajinatif, berangan-angan (berkhayal), sedangkan pada usia SD daya

pikirnya sudah berkembang ke arah berpikir konkret dan rasional (dapat

diterima akal). Piaget menamakannya sebagai masa operasi konkret, masa


berakhirnya berpikir khayal dan mulai berpikir konkret (berkaitan dengan

dunia nyata).

Periode ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru, yaitu

mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, atau mengasosiasikan

(menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan.

Kemampuan yang berkaitan dengan perhitungan (angka), seperti

menambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Disamping itu, pada

akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah

(problem solving) yang sederhana. Kemampuan intelektual pada masa ini

sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang

dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah

dapat diberikan dasar-dasar keilmuan, seperti membaca, menulis dan

berhitung. Di samping itu, kepada anak diberikan juga pengetahuan-

pengetahuan tentang manusia, hewan, lingkungan alam sekitar dan

sebagainya. Untuk mengembangkan daya nalarnya dengan melatih anak

untuk mengungkapkan pendapat, gagasan atau penilaiannya terhadap

berbagai hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa yang terjadi di

lingkungannya. Misalnya, yang berkaitan dengan pelajaran, tata tertib

sekolah, pergaulan yang baik dengan teman sebaya atau orang lain dan

sebagainya. Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak, maka

sekolah dalam hal ini guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada

anak untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau

pendapatnya tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan guru,


membuat karangan, menyusun laporan (hasil study tour atau diskusi

kelompok).

2. Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian

ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan

dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan

menggunakan kata-kata, kalimat byunyi, lambang, gambaran atau lukisan.

Dengan bahasa, semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia,

alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.

Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan

mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal

masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir

(usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata (Abin

Syamsuddin M, 1991; Nana Syaodih S, 1990). Dengan dikuasainya

keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah

gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis (tentang

perjalanan/petualangan, riwayat para pahlawan, dsb). Pada masa ini tingkat

berpikir anak sudah lebih maju, dia banyak menanyakan soal waktu dan

sebab akibat. Oleh sebab itu, kata tanya yang dipergunakannya pun yang

semula hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan : “dimana”,

dari mana”, “kemana”, “mengapa” dan “bagaimana”.

Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa,

yaitu sebagai berikut.


a. Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang

(organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.

b. Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk

berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi

atau meniru ucapan atau kata-kata yang di dengarnya. Kedua proses ini

berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak, sehingga pada usia anak

memasuki sekolah dasar, sudah sampai pada tingkat ; (1) dapat

membuat kalimat yang lebih sempurna, (2) dapat membuat kalimat

majemuk, (3) dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.

Di sekolah, diberikan pelajaran bahasa yang dengan sengaja menambah

perbendaharaan katanya, mengajar menyusun struktur kalimat, peribahasa,

kesusastraan dan keterampilan mengarang. Dengan dibekali pelajaran

bahasa ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai dan

mempergunakannya sebagai alat untuk :

a. Berkomunikasi dengan orang lain,

b. Menyatakan isi hatinya (perasaannya),

c. Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya,

d. Berpikir (menyatakan gagaan atau pendapat),

e. Mengembangkan kepribadiannya, seperti menyatakan sikap dan

keyakinannya.

3. Perkembangan Sosial

Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam

hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk


menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisidan moral

(agama). Perkembangan sosial pada anak-anak sekolah dasar ditandai

dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dia

mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman

sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas.

Pada usia ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-sendiri

(egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentis

(mau memperhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat

terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat

keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang), dia merasa

tidak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.

Berkat perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan

kelompok teman sebaya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Dalam proses belajar disekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat

dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok,

baik yang membutuhkan tenaga fisik (seperti, membersihkan kelas dan

halaman sekolah), maupun tugas yang membutuhkan pikiran (seperti

merencanakan kegiatan camping, membuat laporan study tour).

Tugas-tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada setiap

peserta didik untuk menunjukan prestasinya, tetapi juga diarahkan untuk

mencapai tujuan bersama. Dengan melaksanakan tugas kelompok, peserta

didik dapat belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling

menghormati, berteggang rasa dan bertanggung jawab.


4. Perkembangan Emosi

Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi

secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu, dia mulai

belajar mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan

mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan

(pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orangtua dalam

mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak

dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang suasana emosionalnya

stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Akan tetapi,

apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil

dan kurang kontrol (seperti, melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif,

mudah mengeluh, kecewa atau pesimis dalam menghadapi masalah), maka

perkembangan emosi anak cenderung kurang stabil. Emosi-emosi yang

secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah

marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan

kegembiraan (rasa senang, nikmat,atau bahagia).

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku

individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif

seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu akan

mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas

belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif dalam

berdiskusi, mengerjakan tugas, dan disiplin dalam belajar. Sebaliknya,

apabila yang menyertai proses itu emosi negatif, seperti perasaan tidak
senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami

hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk

belajar sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam

belajarnya. Mengingat hal tersebut, maka guru seyogyanya mempunyai

kepedulian untuk menciptakan situasi belajar yang menyenangkan atau

kondusif bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang menyenangkan atau

kondusif bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif. Upaya yang

dapat dilakukan, antara lain : (1) mengembangkan iklim kelas yang bebas

dari ketegangan (seperti, guru bersikap atau tidak judes); (2)

memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri

(seperti, tidak menganaktirikan atau menganakemaskan anak, tidak

mencemooh anak, dan menghargai pendapat anak); (3) memberikan nilai

secara objektif, (4) menghargai hasil karya peserta didik, dan sebagainya.

5. Perkembangan Moral

Anak mulai mengenal konsep moral (mengenal benar salah atau baik-buruk)

pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak

mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan memahaminya.

Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini (prasekolah) merupakan

hal yang seharusnya, karena informasi yang diterima anak mengenai benar-

salah atau baik-buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya

dikemudian hari.

Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntutan

dari orangtua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah
dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu,

anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep

benar-salah atau baik-buruk. Misalnya, dia memandang atau menilai bahwa

perbuatan nakal, berdusta,dan tidak hormat kepada orangtua merupakan

suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap

hormat kepada orangtua dan guru merupakan suatu yang benar/baik.

6. Perkembangan Penghayatan keagamaan

Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan

ciri-ciri sebagai berikut :

a. Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai dengan pengertian

b. Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional

berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indikator

alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya

c. Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan

ritual diterimanya sebagai keharusan moral (Abin Syamsuddin M,

1996).

7. Perkembangan Motorik

Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka

perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap

gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini

ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh

karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan
yang berkaitan dengan motorik ini, seperti menulis, menggambar, melukis,

mengetik (komputer), berenang, main bola, dan atletik.

Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu

kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetauan maupun

keterampilan. Oleh karena itu, perkembangan motorik sangat menunjang

keberhasilan belajar peserta didik. Pada masa usia sekolah dasar

kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya dicapainya, karena

mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan.

Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan

sangat tepat diajarkan :

a. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar

b. Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olah raga (menerima,

menendang, dan memukul)

c. Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dan sebagainya

d. Baris berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, dan

kedisiplinan.

F. Diare

1. Definisi Diare

Menurut WHO (2009) diare merupakan salah satu penyakit sistem

pencernaan yang sering dijumpai dimasyarakat yaitu penyakit yang

ditandai dengan buang air besar encer lebih dari tiga kali dalam sehari.

Menurut Depkes (2009), diare adalah penyakit yang terjadi ketika

terdapat perubahan konsistensi feses dan frekuensi buang air besar.


Seseorang dikatakan diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau

buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar berair tapi tidak

berdarah dalam waktu 24 jam.

Menurut Ayu Putri (2016), diare adalah penyakit yang ditandai dengan

meningkatnya frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari disertai

perubahan konsistensi tinja (menjadi lebih cair atau setengah padat)

dengan atau tanpa lendir atau darah.

Menurut Suriadi dkk (2010), diare adalah kehilangan cairan dan

elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuuensi satu kali atau

lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa diare adalah

buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam sehari dengan

konsistensi feses lembek atau cair.

2. Etiologi Diare

Menurut Ayu Putri (2016) penyebab diare yaitu :

a. Faktor infeksi

1) Infeksi enteral

Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan

penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi :

a) Infeksi bakteri : Vibrio, Escheria Coli, Salmonella Typii,

shigella, Campylobacter Jejuni,

b) Infeksi virus : Rotavirus, Adenovirus, Enterovirus,

Astrovirus, Minirotavirus, Calicivirus.


c) Infeksi parasit : Cacing ( Ascaris, Trichiuris, Oxyyuris,

Strongloides), Protozoa (Entamoeba Histolytica, Giardia

Lamblia, Trichomonas Hominis), Jamur (Candida Albicans).

2) Infeksi parenteral

Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat

pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA),

Tonsolofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis, dan

sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak

berumur di bawah 2 tahun.

b. Faktor malabsorbsi :

1) Malabsorbsi karbohidrat (intoleransi laktosa)

2) Malabsorbsi lemak

3) Malabsorbsi protein dan

4) Malabsorbsi asam empedu

c. Faktor makanan dan minuman yang dikonsumsi makanan basi,

beracun, alergi terhadap makanan. Kontak antara sumber dan host

dapat terjadi melalui air, terutama air minum yang tidak dimasak

dapat juga terjadi sewaktu mandi dan berkumur. Kontak kuman pada

kotoran dapat berlangsung ditularkan pada orang lain apabila

melekat pada tangan dan kemudian dimasukkan kemulut dipakai

untuk memegang makanan. Kontaminasi alat makan dan dapur.

d. Faktor terhadap laktosa (susu kaleng) tidak memberikan ASI secara

penuh selama 6 bulan pertama kehidupan. Pada bayi yang tidak


diberi ASI resiko untuk menderita diare lebih besar daripada bayi

yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat

juga lebih besar. Menggunakan botol susu akan memudahkan

pencemaran oleh kuman sehingga menyebabkan diare. Dalam ASI

mengandung antibosi yang dapat melindungi

3. Klasifikasi Diare

a. Berdasarkan Tingkat Dehidrasi

Semua anak dengan diare, harus diperiksa apakah menderita

dehidrasi dan klasifikasi status dehidrasi sebagai dehidrasi berat,

dehidrasi ringan atau sedang atau tanpa dehidrasi dan beri

pengobatan yang sesuai. Menurut World Health Organization /

WHO, (2009) klasifikasi diare pada anak berdasarkan derajat

dehidrasi yaitu :

Bagan 2.1
Klasifikasi Tingkat Dehidrasi Anak dengan Diare
Klasifikas Tanda-tanda atau Gejala Pengobatan
Dehidrasi Berat Terdapat dua atau lebih  Beri cairan
dari tanda dibawah ini : diare
 Letargis atau dengan
tidak sadar dehidrasi
 Mata cekung berat.
 Tidak bisa
minum atau
malas minum
 Cubitan kulit
perut kembali
sangat lambat (≥
2 detik)
Dehidrasi Ringan / Terdapat dua atau lebih  Beri anak
Sedang dari tanda dibawah ini : cairan dan
 Rewel, Gelisah, makan
Mata Cekung, untuk
Minum dengan dehidrasi
lahap, Haus, ringan.
Cubutan kulit  Setelah
kembali lambat. rehidrasi,
segera
nasihati ibu
untuk
penanganan
dirumah
dan kapan
kembali
segera.
 Kunjungan
ulang dalam
waktu 5
hari jika
tidak
membaik.
Tanpa Dehidrasi Tidak terdapat cukup  Beri cairan
tanda untuk dan makan
diklasifikasikan sebagai untuk
dehidrasi ringan atau menangani
berat. diare
dirumah.
 Nasihati ibu
kapan
kembali
segara.
 Kunjungan
ulang dalam
waktu 5
hari jika
tidak
membaik.

b. Berdasarkan Lama Waktu Diare

1) Diare akut (berlangsung kurang dari 2 minggu)

Diare akut yaitu buang air besar dengan frekuensi yang

meningkat dan konsistensi tinja yang lembek atau cair dan


bersifat mendadak datangnya dan berlangsung dalam waktu

kurang dari 2 minggu.

2) Daier Persisten (berlangsung selama 2-4 minggu)

Diare persisten adalah diare akut dengan atau tanpa diertai darah

dan berlanjut sampai 14 hari atau lebih. Jika terdapat dehidrasi

sedang atau berat, diare persisten diklasifikasikan sebagai berat.

Jadi diare persisten adalah bagian dari diare kronik yang

disebabkan oleh berbagai penyebab.

3) Diare kronik (berlangsung lebih dari 4 minggu)

Diare kronik ditetapkan berdasarkan kesepakatan, yaitu diare

yang berlangsung lebih dari 4 minggu. Diare kronik memiliki

yang berpariasi dan tidak seluruhnya diketahui.

4. Mafestasi Klinis

Manifestasi klinis bergantung kepada lokasi anatomis dan agen

penyebab. Infeksi di usus halus biasanya tidak invasif, sementara

infeksi di kolon bersifat invasif. Diare karena kelainan usus halus

biasanya banyak, cair, sering beruhubungan dengan malababsorpsi

pereduksi kemungkinan positif, leukosit serum normal, dan leukosit

feses <5/lapangan pandang kecil (Cristanto, 2014).

5. Patofisiologi

Menurut Cristanto (2014) patofisiologi terdiri dari, yaitu :

a. Diare osmotik
Jika bahan makanan tidak dapat diabsorpsi dengan baik

di usus halus, maka tekanan osmotik intralumen meningkat

sehingga menarik cairan plasma ke lumen. Jumlah cairan yang

bertambah melebihi kemampuan reabsorpsi kolon menyebabkan

terjadinya diare yang cair. Diare akan berhenti bila pasien puasa.

Penyebabnya bisa intoleransi laktosa, konsumsi laksatif atau

antasida yang mengandung magnesium. Diare osmotik

ditegakkan bila osmotic gap feses > 125 mosmol/kg (normal <

50 mosmol/kg). Osmotic gap dihitung dengan cara osmolaritas

serum (290 mosmol/kg) – [(2 x (konsentrasi natrium + kalium

feses)].

b. Diare sekretorik

Akibat gangguan transpor elektrolit dan cairan melewati mukosa

enterokolon, menyebabkan sekresi berlebihan atau absorpsi

berkurang. Penyebabnya bisa toksin bakteri (misal kolera),

penggunaan laksatif non-osmotik, reaksi usus, penyakit mukosa

usus, dan lainnya. Karakteristiknya berupa feses cair, banyak,

tidak nyeri, dan tidak ada mukus maupun darah. Diare tetep

berlangsung walaupun pasien tetap puasa.

c. Diare eksudat/inflamatorik

Terjadi akibat inflamasi dan kerusakan mukosa usus. Diare

dapat disertai malabrorpsi lemak, cairan dan elektrolit serta

hipersekresi dan hipermotilitas. Penyebab akibat pelepasan


sitokin pro inflamasi. Penyebab nya 1) infeksi bakteri yang

bersifat invasi seperti Campylobacter Jejuni, Shiglle, Salmonella

Yersinia enterocolica, Enteroinvasive Eschericia coli (EIEC),

Enterohemorrhagic Escherica coli (EHEC), Clostridium difficile

atau infeksi amuba. 2) non-infeksi berupa gluten sensitive

enteropathy, inflammatory bowel disease, atau radiasi.

Karakteristik berupa feses dengan pus, mukus, atau darah karena

kerusakan mukosa. Analisis feses menunjukkan leukosit, fecal

lactoferrin, dan calciprotein positif. Gejala biasanya disertai

tenesmus, nyeri, dan demam.

d. Diare dismotilitas

Disebabkan dismotilitas usus sehingga waktu transit di usus

memendek dan absorpsi berkurang, atau disebabkan

neuromiopati yang menyebabkan statis atau overgrowth bakteri.

Karakteristiknya mirip feses sekretorik, namun dapat disertai

steatorrhea ringan. Penyebab bisa hipertiroidisme, sindrom

karsinoid, obat-obatan prokinetik, diabetes melitus, atau irritable

bowel syndrome.

6. Diagnosis

Menurut Cristanto (2014) diagnosis yang dapat dilakukan adalah

sebagai berikut :
a. Anamnesis

Tanyakan konsistensi, volume dan frekuensi BAB,

adakan steatorrhea, pus, mukus atau darah segar pada feses

atau melena. Eksplorasi gejala penyerta seperti mual, muntah,

nyeri perut, demam, dan tenesmus. Muntah paling sering

ditemukan pada infeksi virus, sementara demam >38.5°C

menunjukkan proses inflamasi yang dapat disebabkan bakteri

invasi, sitotoksin, amuba, virus, kolitis, divertikulitis atau IBD.

Tiga penyebab terakhir biasanya disertai nyeri perut yang

dominan.

Tanyakan pula mengenai awitan, durasi gejala dan

apakah gejala seperti ini sering berulang sebelumnya. Durasi

lebih dari beberapa hari cenderung menyingkirkan infeksi virus,

karena infeksi virus biasanya berlangsung singkat. Nilai

penurunan berat badan untuk mengetahui derajat dehidrasi

sekaligus adanya tanda bahaya. Indikator dehidrasi lain adalah

rasa haus, volume, dan kapan terakhir kali buang air kecil, dan

penurunan kesadaran.

Terakhir, tanyakan faktor risiko seperti konsumsi makanan

yang tidak dimasak dengan baik, riwayat berpegian ke daerah

endemis, berenang di danau atau terminum airnya, keadaan

immunokompromais, penggunaan obat-obatan yang dapat


memicu diare, riwayat kontak dengan orang lain yang diare

serta tinggal di rumah penampungan atau perawatan rumah sakit.

b. Pemeriksaan fisis

Nilai tanda vital dan derajat dehidrasi pasien. Keberadaan

bercak-bercak di kulit, ulserasi mulut, pembesaran tiroid, mrnginitis,

artritis, asites, massa abdomen, tenderness dan defens muskular

abdomen serta bising usus harus dilakukan untuk membantu

menegakkan diagnosis dan menilai adanya komplikasi. Bila tidak

yakin mengenai adanya darah di feses atau diare berdarah pada

pasien > 50 tahun, lakukan pemeriksaan colok dubur

c. Pemeriksaan penunjang

Analisis feses rutin pada setiap kasus bila sumber daya

tersedia. Analisis feses pada diae inflamatorik akan menunjukan

peningkatan jumlah leukosit feses, tes darah samar tinja positif,

laktoferin dan calciprotein positif. Pemeriksaan telur dan parasit

diindikasikan pada diare > 14 hari, refrakter terhadap terapi

antibiotik, atau pasien imunokompramais.

Keltur feses perlu dilakukan pada pasien dengan dehidrasi, demam

>38.5°C, diare berdarah, nyeri abdomen pada pasien usia >50 tahun,

pasien usia >70 tahun, imunodefisiensi, atau setelah 3 hari

pengobatan dengan antibotik tidak terjadi perbaikan klinis.

Pemeriksaan terhadap shiga toxin harus dilakukan pada pasien

dengan riwayat hospitalisasi dan penggunaan antibiotik.


Pasien dengan dehidrasi juga memerlukan pemeriksaan

darah, urine, kimia darah seperti ureum, kreatinin, elektrolit, gula

darah, serum transaminase dan bila diperlukan, analisa gas darah.

Anemia mungkin disebabkan perdarahan akut, kronis atau

malabsorpsi besi, folat atau vitamin B12, leukositosis merupakan

tanda inflamasi pada analisis feses tanpa infeksi yang mendasari

sugesti terhadap IBD.

Kolonoskpi/sigmoidoskopi harus dilakukan pada pasien dengan

diare berdarah namun analisis dan kultur feses tidak berhasil

menemukan penyebabnya untuk evaluasi neoplasma atau kolitis.

7. Penatalaksanaan Medis

Menurut Widoyono, (2005) pengobatan diare berdasarkan derajat

dehidrasinya.

a. Tanpa dehidrasi dengan terapi A

Pada keadaan ini, buang air besar terjadi 3-4 kali sehari atau disebut

mulai mencret. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan

masih mau makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan

di rumah oleh ibu atau anggota keluarga lainnya dengan memberikan

makanan dan minuman yang ada dirumah seperti air kelapa, larutan gula

garam (LGG), air tajin, air the, maupun oralit. Isitlah pengobatan ini

adalah dengan menggunakan terapi A.

Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan dirumah.

a. Memberikan anak lebih banyak cairan.


b. Memberikan makanan terus-menerus.

c. Membawa kepetugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam tiga

hari.

b. Dehidrasi ringan atau sedang, dengan terapi B

Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai

5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan

cairan 6-10% dari berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada

derajat dehidrasi ringan atau sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai

berikut:

Bagan 2.2
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan
Umur <1 Tahun 1-4 Tahun >5 Tahun

Jumlah Oralit 300 mL 600 mL 1.200 mL

Bagan 2.3
Setelah itu tambalkan setiap kali mencret
Umur <1 Tahun 1-4 Tahun >5 Tahun

Jumlah Oralit 100 mL 200 mL 400 mL

c. Dehidrasi berat, dengan terapi C

Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus menerus,

biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan lebih dari

10% berat badan. Diare ini disertai dengan terpai C yaitu perawatan

dipuskesmas atau rumah sakit untuk di infus RL (Ringer Laktat).


d. Teruskan pemberian makan

Pemberian makanan seperti pemeula diberikan sedini mungkin dan

disesuaikan dengan kebutuhan. Makanan tambahan diperlukan pada

masa penyembuhan. Untuk bayi, ASI tetap diberikan bila sebelumnya

mendapatkan ASI, namun bila sebelumnya tidak mendapatkan ASI

dapat diteruskan dengan memberikan susu formula.

e. Antibiotik bila perlu

Sebagian besar penyebab diare adalah Rotavirus yang tidak memerlukan

antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaat

dan efek sampingnya bahkan merugikan penderita.

8. Pencegahan Penyakit Diare

Menurut Cristanto (2014), pencegahan diare yang dapat dilakukan

adalah :

a. ASI tetap diberikan.

b. Menjaga kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan.

c. Menjaga kebersihan lingkungan. BAB dijamban.

d. Imunisasi campak.

e. Memberikan makanan penyapihan yang benar.

f. Penyediaan air minum bersih, serta.

g. Makanan yang selalu dimasak secara adekuat.

Menurut Manggiasih dkk (2014), pencegahan terhadap diare dapat

dilakukan dengan, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan serta

sesudah BAB dengan benar, mencuci buah dan sayuran sebelum


dikonsumsi, memberikan ASI dengan cara yang benar, memberikan

susu bersih dengan komposisi yang tepat, membersihkan alat makanan

dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah

pada tempatnya.

Menurut Koes Irianto (2012), biasakan minum air yang sudah dimasak

dengan mendidih. Sebaiknya tempat air minum dalam keadaan bersih

dan tidak tercemar. Hindari jajan sembarangan. Kemungkian, jajanan

sembarangan sudah terkena bakteri. Basuhlah tangan dengan sabun dan

air sampai bersih sebelum makan. Tidak buang air besar dimana saja.

Jika ada anggota keluarga yang terkena kolera, hindari minum dan

makan satu mulut dengan orang lain. Buanglah muntah dan kotoran ke

lubang jamban.

Berdasarkan data diatas pencegahan diare yang dapat dilakukan pada

anak sekolah dasar yaitu :

a. Cuci tangan menggunakan sabun

Cuci tangan menggunakan sabun merupakan cara mudah dan tidak

perlu biaya mahal. Karena itu, membiasakan cuci tangan

menggunakan sabun sama dengan mengajarkan anak-anak hidup

sehat sejak dini. Kedua tangan kita adalah salah satu jalur utama

masuknya kuman penyakit kedalam tubuh. Sebab tangan adalah

anggota tubuh yang paling sering berhubungan langsung dengan

mulut dan hidung. Cuci tangan sangat berguna untuk membunuh

kuman penyakit yang ada ditangan. Tangan yang bersih akan


mencegah penularan penyakit seperti diare, kolera disentri, typus

dan kecacingan. Dengan mencuci tangan menggunakan sabun, maka

tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman. Mencuci tangan

sebaiknya dilakukan pada saat sesudah buang air besar, sebelum dan

sesudah makan, setelah memegang hewan, setelah bermain ditanah,

lumpur atau tempat kotor dan setelah bersin atau batuk.

b. Mengkonsumsi jajanan sehat

Makanan jajanan didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang

dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima dijalanan dan

ditempat-tempat keramaian yang langsung dimakan atau dikonsumsi

tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Sedangkan jajanan

sehat dapat diartikan jajanan yang bersih, aman, sehat, bergizi dan

tidak megandung zat-zat berbahaya. Jajanan bagi anak sekolah dapat

berfungsi sebagai upaya untuk memnuhi kebutuhan energi karena

aktivitas fisik yang tinggi disamping itu juga makanan jajanan dapat

mengenyangkan perut untuk sementara. Ada beberapa cara untuk

memilih jajanan sehat diantaranya yaitu :

1) Bersih dan tertutup

2) Jauh dari tempat sampah, got, debu dan asap kendaraan bermotor

3) Tidak bekas dipegang-pegang orang

4) Tidak terlalu manis dan berwarna mencolok

5) Masih segar

6) Tidak digoreng dengan minyak goreng yang sudah keruh


7) Tidak mengandung zat pemanis, zat pengawet, zat penyedap, dan

zat pewarna buatan

8) Bau tidak apek atau tengik

9) Tidak dibungkus dengan kertas bekas atau koran

10) Dikemas dengan plastik atau kemasan lain yang bersih dan aman

11) Lihat tanggal kadaluarsa

c. Jamban Sehat

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas

pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau

tempat duduk dengan leher angsa (cemplung) yang dilengkapi

dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya.

Penggunaan jamban akan bermanfaat untuk menjaga lingkungan

bersih, sehat, dan tidak berbau. Jamban mencegah pencemaran

sumber air yang ada disekitarnya. Jamban juga tidak mengundang

datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit

Diare, Kolera Disentri, Typus, kecacingan, penyakit saluran

pencernaan, penyakit kulit, dan keracunan.

Jamban harus dipelihara supaya tetap sehat. Lantai jamban

hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air. Bersihkan

jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih.

Didalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat, tidak ada serangga

(kecoa, lalat) dan tikus yang berkeliaran. Sediakan alat pembersih

(sabun, sikat dan air bersih) dan bila ada kerusakan, segera perbaiki.
d. Membuang sampah pada tempatnya

Sampah merupakan salah satu penyebab tidak seimbangnya

lingkungan hidup, yang umumnya terdiri dari komposisi sisa

makanan, daun-daun, plastik, kain bekas, karet dan lain-lain.

Pengelolaan sampah yang tidak memadai (pembuangan sampah

sembarang dan tidak terkontrol) dapat menimbulkan berbagai

penyakit sebagai berikut : Diare, Kolera, Typus dan Demam

Berdarah. Berdasarkan asalnya sampah digolongkan dalam dua

bagian yakni sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik

(sampah kering). Sampah organik merupakan jenis sampah yang

terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang

diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan

atau yang lainnya. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses

alami. Sedangakan sampah anorganik merupakan jenis sampah yang

berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan

minyak bumi atau dihasilkan dari proses industri. Beberapa bahan

seperti ini tidak terdapat dialam yaitu plastik dan aluminium.

Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan

oleh alam, sedangkan sebagian yang lain hanya diuraikan secara

lambat. Sampah jenis ini berupa botol, botol plastik, tas plastik,

kaleng dan lain-lain. Kertas, koran dan karton merupakan

perkecualian. Berdasarkan asalnya, kertas, koran dan karton

termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran dan karton


dapat didaur ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas,

kaleng dan plastik) sehingga dapat digolongkan sampah anorganik.

Beberapa cara pembuangan sampah disekolah yang baik dan benar

diataranya yaitu :

1) Memisahkan sampah organik (basah) dengan sampah anorganik

(kering).

2) Buang sampah pada tempatnya baik milik publik atau umum

maupun pribadi.

3) Memberikan sampah yang masih bernilai secara Cuma-Cuma

(geratis) pada tukang beling atau tukang loak barang bekas.

9. Komplikasi

Menurut Ayu Putri (2016), terdapat komplikasi dari diare terdiri atas,

yaitu:

a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau

hipertonik).

b. Syok hipovolemia.

c. Feses berdarah

d. Demam

e. Renjatan hipovolemik

f. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase

karena kerusakan vili mukosa usus halus.

g. Hipokalemia dan hipoglikemia

h. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik


i. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita

juga mengalami kelaparan.


G. Kerangka Teori
Pendidikan kesehatan
Faktor – faktor yang
Metode : mempengaruhi tingkat
1. Pendekatan Perorangan: pengetahuan :
a. Bimbingan Internal
b. Penyuluhan  Tingkat pendidikan
c. Wawancara  Pekerjaan
2. Pendekatan Kelompok:  Umur
a. Ceramah  Informasi
b. Seminar  Fase anak usia sekolah
Media : Pengetahuan dan sikap
Eksternal
pencegahan diare pada anak
1. Media cetak:  Lingkungan
sekolah dasar
a. Leaflet  Sosial budaya
b. Poster
c. Booklet Faktor – faktor yang
d. Flipchart mempengaruhi sikap :
2. Media Elektron ik :  Pengalaman pribadi
a. Slide  Pengaruh orang lain yang
b. Video/film strip dianggap penting
 Pengaruh kebudayaan
 Media massa
 Faktor emosional

Dikutip dan diadaptasi dari : Notoatmodjo 2012